LAINNYA

Minggu, 22 April 2012

Setengah Hati di Gua Pawon


Pelataran situs yang dimanfaatkan
sebagai tempat jemuran oleh warga
Kawasan Cagar Budaya Gua Pawon tampak sepi pada Sabtu (21/4/12) menjelang siang. Seorang bocah duduk di tengah kepungan tampah-tampah berisi hamparan beras. Beberapa warga berkeliaran, namun bilik dengan petunjuk bertuliskan “Tempat Daftar Pengunjung” tidak dijaga siapapun. Nomor telepon seseorang bernama Hendi tertera pada petunjuk tersebut.

Rombongan yang terdiri dari saya; Tanti, Ika, Ani, dan Mehul dari Kimia UPI; serta Arif dari UNINUS pun menuruni beberapa anak tangga yang menuju ke Bale Riung. Ada kotak kaca berisi maket master plan objek wisata Gua Pawon di bagian tengah bangunan dari kayu dan bambu tersebut.

The Bale Riung
Kami mendekati seorang pria berperawakan kurus yang sedang berdiri di luar bangunan. Ternyata pria itulah yang bernama Hendi. Ia merupakan salah seorang juru pelihara di situs ini. Ia bersedia menemani kami dalam melakukan peninjauan. Menjelang siang hingga menjelang sore, ia bercerita banyak kepada kami.

sampai!
Semerbak kotoran kalong menyerta, begitu kami mendekati Gua Pawon. Merekalah pemukim gua tersebut, sejak entah berapa ribu tahun. Mereka bercokol pada langit-langit gua selama bulan belum tampak. Kotoran mereka berceceran di permukaan bawah gua. Aromanya mungkin gangguan bagi pengunjung, namun bagi warga itu adalah berkah. Warga memanfaatkan kotoran kalong alias guano untuk memupuki tanaman mereka, ketimbang beli.

Sesungguhnya kalau hendak sekadar meninjau Gua Pawon, pengunjung tidaklah mesti diiringi pemandu, pun membawa senter. Pencahayaan memadai pada jam kerja matahari.

Dinding hijau yang bikin sejuk
Gua Pawon adalah sebuah bukit kapur dengan lubang serta lorong di mana-mana. Gua Pawon juga bagai sebuah rumah besar yang terdiri dari ruang-ruang dengan panorama berbeda antar satu sama lain. Di ruang depan, langit-langit amat tinggi dan bolong di puncaknya. Di ruang yang lain, langit-langit mengagumkan untuk dinikmati karena berupa stalaktit. Dinding pada ruang tertentu dilapisi dengan lumut. Ada tiga jendela besar di bagian belakang rumah, dengan beberapa anak tangga besar yang mengitari semacam taman.

Hawa adem yang terasa dalam naungan lubang di bukit kapur ini menurut Pak Hendi justru kondusif untuk belajar. Hendaknya anak sekolahan datang ke mari untuk membaca buku.

Pak Hendi
Lantai rumah memang cukup terjal, baik itu tanah maupun batu. Setelah pendakian sekejap, atap rumah menawarkan pemandangan Desa Gunung Masigit yang dikeliling perbukitan. Sebagian bukit tampak rimbun, sedangkan sebagian lagi memperlihatkan lapisan putih kekuningan—kapur. Pada lapisan itu warga menggantungkan hidup.

Kerangka di sebuah rumah
Pada sebuah ruangan, sesosok kerangka meringkuk. Dalam kondisi seperti itulah ia ditemukan, penemuan yang mengungkap kehidupan manusia purba. Dinding yang melatarinya dihiasi grafiti kontemporer, kendati ada pagar tinggi dengan kawat berduri yang membatasi pengunjung dengan replika tersebut. Sosok aslinya, beserta barang-barang yang ditemukan bersamanya, telah disimpan di Museum Sri Baduga.

Ada kawasan karst juga di Pacitan. Ada fosil manusia purba juga ditemukan di sana. Apakah memang ada kaitan antara manusia purba dengan daerah berkapur—hunian favorit pada masa itu, misalnya?

Menurut Pak Hendi, pemerintah mulai mengurus situs Gua Pawon sejak awal dekade 1990-an. Sebelum itu, situs Gua Pawon telah terkenal di mancanegara. Seorang asing datang untuk meninjau lalu tercengang karena situs tersebut tak terawat.

Ada empat yang seperti ini
tanpa jelas apa fungsinya
Kini sejumlah fasilitas seperti plang-plang, tempat daftar pengunjung, balai riung, toilet, musala, dan museum melengkapi Gua Pawon sebagai sebuah objek wisata, tapi sejumlah keanehan pun tampak. Ada plang yang menunjukkan lokasi situs pada gapura di tepi jalan raya, tapi jalan menuju ke situs sangat tidak ramah kendaraan. Plang penunjuk jalan baru ditemukan lagi setelah kami berjalan cukup jauh, jadi sebelumnya kami harus aktif bertanya pada warga. Plang lama tidak dicopot meski plang baru sudah berdiri di depannya. Toilet dilumuri dengan bercak-bercak cokelat yang sudah bikin bergidik sejak dilihat dari jauh. Tidak ada area wudu yang memadai di sekitar musala. Ada penunjuk arah ke museum, namun menurut Pak Hendi tidak ada koleksi apapun di museum tersebut. Grafiti kontemporer mewarnai dinding gua, dan tidak ada satupun peringatan—agar pengunjung memelihara—terpampang di sekitar situs. Ada semacam display di beberapa titik, tapi tidak ada informasi apapun terpajang di dalamnya.

Menilik desa di mana situs ini berada pun bagai melakukan survei KKN. Pemerintah pernah bermaksud menjadikannya sebagai kampung budaya, namun sejumlah masalah perlu untuk lebih dulu diatasi.

Berada di daerah berkapur membuat desa ini bermasalah dengan air. Pak Hendi mengatakan kalau warga biasanya memiliki banyak poci. Air ditampung lalu dibiarkan mengendap dalam poci yang satu, sementara air yang siap diminum sudah berada lebih lama dalam poci yang lain.

Musala mengintip dari balik semak
Kendati ada dua toren di dekat musala, tak satupun mengucurkan air. Toilet di samping Bale Riung terlalu mengenaskan untuk dimasuki. Untuk berwudu kami harus menempuh jarak yang lumayan dari musala ke sumber air bersama milik warga. Air dari mata air di bagian bawah desa itu mengalir ke bak penampungan besar, yang konon tak pernah habis. Sampai di sana, kami bersua dengan warga yang habis mandi maupun tengah mencuci perabotan makanan dan pakaian. Kami juga menemukan beberapa jerigen dalam perjalanan antara musala dengan sumber air tersebut.

Selain air, perkara penambangan di kawasan karst Citatah mengancam sumber nafkah warga.

Salah satu rumah warga
Padahal desa yang berada di bawah situs Gua Pawon ini memiliki potensi untuk menyokong maupun disokong status Gua Pawon sebagai objek wisata. Rumah-rumah warga masih berupa rumah panggung dengan bilik bambu, suatu kearifan lokal karena sifat tanah yang dipijak tak stabil. Tanaman jambu biji tumbuh di mana-mana, melalui PKK warga telah dapat mengolahnya menjadi dodol. Fungsi Gua Pawon sebagai sarana edukasi masyarakat dioptimalkan dengan memasang pesan-pesan pelestarian maupun melabeli tetumbuhan di sekitar situs. Pokdarwis alias Kelompok Sadar Wisata bisa dibentuk agar penghasilan warga bertambah melalui ragam jasa wisata, baik dengan menjadi pemandu, menjajakan oleh-oleh dodol jambu khas Desa Gunung Masigit, mendirikan warung bagi pengunjung yang lapar dan haus, maupun menyediakan tempat bagi pengunjung yang hendak bermalam.

Pembinaan menjadi angan-angan. Kita mungkin tahu apa masalahnya, lalu di mana dan mengapa pembinaan harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, tapi kita terantuk pada bagaimana itu akan dilakukan—kapan, siapa yang mau melakukan?***


N. B.

Situ Ciburuy
Gua Pawon berlokasi di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.  Akses menuju lokasi ini sesungguhnya mudah. Kita dapat menaiki Damri yang menuju Ciburuy dari Alun-alun Kota Bandung. Perjalanan seharga Rp 4.000,- saja ini memakan waktu sekitar 1,5 – 2 jam. Setelah sampai di Situ Ciburuy, kita lanjutkan perjalanan dengan menaiki angkutan pedesaan dengan ongkos Rp 2.000,- saja. Angkutan pedesaan serupa angkot pada umumnya dengan keunikan yaitu pintu masuknya di belakang. Di seberang gapura berplang “SELAMAT DATANG DI KAWASAN CAGAR BUDAYA GUA PAWON” kita berhenti. Kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, tidak sampai satu jam. Beberapa persimpangan akan kita temukan, jadi jangan malu bertanya pada warga.

4 komentar:

  1. Tulisannya bagus, mau koreks lokasi Guha Pawon
    Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
    Setelah Situ Ciburuy Padalarang itu sudah masuk wilayah Kecamatan Cipatat, bukan Padalarang.
    Teima kasih, sukses selalu

    kresna bhayu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas Kresna :-)
      Dengan demikian kesalahan sudah diperbaiki.

      Hapus
  2. Sama-sama, sukses selalu

    Mau Promosi sedikit, coba jalan-jalan ke area Citarum Purba.
    coba search Sanghyang Tikoro, Sanghyang Kenit atau sanghyang Poek
    ada Geotrek yang lumayan bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berbagi referensi, Kang Kresna.
      Mudah2an saya berkesempatan mengunjungi tempat2 tersebut dan berbagi pengalaman lagi, hehe :-)

      Hapus