LAINNYA

Kamis, 11 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 – Susulan (2-3)


Tulang Miskin: Bawaan Nasib, Keturunan, atau Ulah Kita? – Joseph Landri (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007)

Buku setebal 296 halaman yang ukurannya seperti chiclit ter­bit­an GPU ini mudah dibaca, sehingga aku bisa menamatkannya dalam sehari—beberapa jam doang sebetulnya kalau pem­ba­ca­an tidak dipotong-potong. Gaya bahasanya seperti bertutur, ba­nyak kata yang dimiringkan karena tidak baku.

Bagian utama buku ini adalah 34 cerita mengenai bagaimana orang-orang dengan kekayaannya. Kebanyakan adalah tentang yang gagal, dengan demikian penulis memberikan pelajaran da­ri ketidakberhasilan tersebut yang dirangkum dalam ruang ter­sendiri di tiap akhir cerita. Pelajaran itu ia sebut dengan ilmu KOEDOE, cara menulisnya saja yang zadul padahal pe­nger­ti­an­nya adalah bahasa Sunda dari “harus” (“kudu”). Saya hanya mencatat beberapa pelajaran yang paling terngiang dalam be­nak saya selama membaca, seolah memang hal itu yang paling ditekankan oleh penulis.

Yang pertama, istri jangan bergantung kepada suami. Pe­rem­pu­an pun harus mandiri secara finansial, kalau bisa sejak sebelum menikah, kalau belum bisa ya jangan dulu punya anak. Punya anak nanti saja kalau tabungan sudah cukup, karena butuh bi­a­ya yang tidak sedikit untuk membesarkan anak.

Yang kedua, anak harus dididik dengan ketat supaya disiplin, ra­jin, pintar bergaul, hemat, dan seterusnya… hingga ia bisa mempertanggungjawabkan sendiri hidupnya.

Hlo kok menyerempet parenting? Tengok lagi judul buku ini. Meskipun kukira penulis tidak mendalami psikologi secara men­dalam, namun faktor didikan keluarga menurutnya menentukan apakah seseorang bisa bekerja keras atau tidak supaya kaya. Syukur kalau bisa hidup enak terus, tidak ada rintangan dalam bisnis orangtua, tapi nasib siapa yang bisa menerka sih? Kita bisa sewaktu-waktu bangkrut, dan kita harus selalu punya persiapan untuk itu.

Yang ketiga, perhitungkan setiap risiko. Jangan terlalu percaya saat mengambil suatu keputusan, melainkan harus ada ca­dang­an semisal tabungan, deposito, apalah.

Ujung tombaknya memang kerja keras, tapi pola asuh orangtua juga berpengaruh signifikan. Soal kepuasan sama apa yang su­dah kita miliki itu ya terserah, yang penting kembali ke yang pertama yaitu belajar kerja itu penting.

Selain ilmu KOEDOE, di akhir tiap cerita juga disuguhkan pe­pa­tah China dan kutipan dari orang-orang terkenal. Buku yang ba­ik untuk memperluas wawasan.

Pengantar Teori Fiksi – Pujiharto (Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM dengan Penerbit Elmatera, Yogyakarta, 2010)

Buku ini semacam Teori Fiksi-nya Robert Stanton yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dari segi konten sampai ukuran. Sayang daftar isi dalam buku ini cuman berisi ju­dul bab, tanpa subbab apalagi subsubbab, yang padahal jika le­bih rinci tentu bisa memberi bayangan yang “lebih terbayang” bagi pembaca. Bagaimanapun aku menemukan beberapa istilah baru dari buku ini, yang belum aku dapatkan di buku-buku lain mengenai fiksi.

Dikotomi antara fiksi serius dengan fiksi populer juga dibahas dalam buku ini. Fiksi populer sekadar menceritakan sesuatu, se­dang fiksi serius menceritakan sesuatu dengan menggunakan fakta-fakta dan sarana-sarana yang lebih rumit hingga untuk memahaminya diperlukan analisis yang serius. Fiksi populer menggambarkan tokoh yang stereotipe (pada umumnya), se­dangkan fiksi serius menghadirkan keunikan suatu tipe tokoh.  

Tujuan dari penciptaan fiksi menurut penulis adalah untuk ber­bagi pengalaman kemanusiaan. Bisa saja kita mewawancarai sang pengarang agar berbagi secara langsung, tapi dampak yang ditimbulkan akan berbeda dengan apabila kita memperolehnya melalui karya yang disusun secara estetis. Dengan demikianlah kualitas seorang pengarang diuji.

Fakta cerita adalah hasil tindakan pengarang dalam ber­i­ma­ji­na­si, berupa detail-detail yang diorganisasikan dengan baik. Fakta cerita menurut Stanton (1965) terdiri dari alur, tokoh, dan latar, yang merupakan elemen yang pertama-tama teramati oleh pembaca dalam memahami fiksi. Pembaca kemudian melihat relasi antar fakta, menemukan tema, dan mencermati sarana-sa­rana yang digunakan dalam menyusun fakta, hingga tercapai pola-pola yang bermakna.

Buku ini tidak hanya memberikan penggalan-penggalan cerpen sebagai contoh dari apa yang dijelaskan, tapi juga cerpen utuh seperti Kado Istimewa (Jujur Prananto), Perempuan dari Masa Lalu (Sirikit Syah), Robohnya Surau Kami (AA Navis), dan Di­la­rang Mencintai Bunga-bunga (Kuntowijoyo). Aku paling suka dengan dua cerpen terakhir. Aku coba membandingkan se­ka­li­gus menginterpretasikan keduanya dengan berpatok pada salah satu kriteria dalam menilai fiksi yaitu kejujuran(-koherensi), yang kalau aku rada pintar dan tidak malas mungkin bisa men­jadi esai tersendiri. Kri­teria lain dalam menilai fiksi menurut bu­ku ini adalah kesatuan, orisinalitas, kon­sistensi, dan kom­pleksi­tas. Dari contoh-contoh cerpen yang di­tampilkan, baik utuh maupun penggalan, aku menyadari bah­wa rang­kaian kalimat sederhana sudah mampu menimbulkan suasana tertentu. Jadi ke­napa sih kita harus begitu pu­sing me­mi­kirkan kalimat-kalimat “bagus” untuk dituliskan?

Reporter dan Sumber Berita: Persekongkolan dalam Mengemas dan Menyesatkan Berita – Herbert Strentz terj. …b. Indonesia (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993)

Buku ini cukup tipis dan kecil, harganya pun hanya Rp 6.500, saat diterbitkan. Aku kira kesulitanku dalam pembacaan buku ini—hingga aku pinjam dua kali tapi tidak pernah berhasil me­namatkan—adalah karena bahasa terjemahannya yang tidak simpel. Aku capek membacanya, barangkali karena kalimat-ka­li­matnya kurang pendek—serasa ada banyak gagasan yang hen­dak dimasukkan dalam satu kalimat. Bagaimanapun seharusnya buku ini memberikan ulasan yang bagus mengenai hubungan antara reporter dengan sumber beritanya, sayang aku ter­ken­da­la dengan bahasa. 

Fifty Shades of Grey – EL James (dapet ngunduh di 4shared)

Novel ini adalah novel berbahasa Inggris pertama yang berhasil aku ta­matkan, yang bukan simplified edition. Awal pembacaan aku merasa tepat membaca novel ini, karena mudah dari segi ben­tuk dan isi. Bahkan kukira novel ini masih lebih mudah ke­tim­bang cerpen-cerpen di Harper Anthology of Fiction. Bahasa da­lam novel ini seperti bahasa percakapan. Jumlah halaman yang mencapai 236 dalam format pdf aku lahap dalam sehari saja. Sesekali aku mesti berhenti membaca novel ini karena mataku capek, tapi mungkin juga karena isinya.

Bicara soal isi, menurutku novel ini penuh sensasi. Cewek biasa bertemu cowok wow yang menginginkannya mati-matian—sa­ngat klise. Ingatlah Hana Yori DangoMeteor Garden… Ya na­manya juga novel erotis, ups, tahulah bumbu apa yang wajib dibubuhkan. Dengan tokoh utama perempuan berusia 21 tahun yang baru lulus kuliah, suka baca buku, kebanyakan mikir, tidak percaya diri, naif, dan begitulah, aku merasakan tujuan di­bu­at­nya novel ini memang untuk menyenangkan pembacanya… pa­ra perempuan yang insecure.

Kesenanganku selama pembacaan novel ini lebih karena sem­ba­ri membiasakan diri membaca teks berbahasa Inggris. Ko­sa­ka­ta­ku sedikit demi sedikit bertambah melalui kata-kata yang sering muncul, seperti “murmur”, “mutter”, “shrug”, “enigmatic”, “taciturn”, “navel”, “thight”, aw aw aw… Aku malah merasa plain dengan sensasi-sensasi dalam novel ini. Biar tokoh utama perempuan diberi Mac, Blackberry, Audi, apalah, oleh ke­ka­sih­nya yang waw itu, aku kurang tergugah karena aku mungkin ti­dak be­gitu tertarik dengan materi. Mereka juga terlalu sering begituan, sampai aku berpikir, …enggak capek apa? Sesekali adegan begituan dilakukan melalui prosedur yang cukup rumit karena si pria penggemar BSDM (pengertiannya silahkan googling sendiri), dan aku malas buka kamus sehingga aku tidak begitu terbayang mengenai, ya, ujung-ujungnya intercourse kan, ah sudahlah. Aku memang tersentuh dengan si pria yang begitu perhatian pada tokoh utama, juga kemisteriusannya walau tidak terjawab di jilid ini (yaa novel ini ternyata berlanjut hingga dua jilid berikut!) namun pada satu titik aku jenuh. Pola hubungan di antara mereka begitu terus. Masalah sedikit, begituan. Kalau tidak dengan begituan, si pria memanjakan tokoh utama de­ngan kemewahan. Konflik di antara mereka sekadar pengantar menuju kesenangan berikut. Edan. Sensasi belaka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar