Penerbit ITB, 1991
Untuk merayakan hari jadi ITB ke-30, diadakan simposium dengan judul "Menerawang Masa Depan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni" pada 27-28 September 1989. Buku ini merupakan kumpulan makalah yang disampaikan dalam simposium itu, ditambah beberapa makalah susulan.
Ada 16 makalah yang dibagi menjadi tiga tema. Tema pertama cenderung pada ilmu pengetahuan dan teknologi (5 makalah), tema kedua kebudayaan (8 makalah), sedang tema ketiga pendidikan perguruan tinggi (3 makalah). Tidak semuanya ditulis pakar ITB, ada juga yang dari UGM, dan tokoh-tokoh lainnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Daoed Joesoef, L. B. Moerdani, dan Jakob Oetama.
Kalau menurut "Kata Penutup", pokok bahasan daripada buku ini adalah teknologi dalam arti luas, yaitu yang menunjuk juga pada budaya, ilmu pengetahuan, dan dampaknya dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Maksud dari penerbitan buku ini adalah memberikan suatu jalan guna mencari pendekatan dalam memikirkan alam dan substansi teknologi sehingga dapat menempatkan teknologi pada proporsinya, sesuai peranannya demi kesejahteraan dan eksistensi umat manusia masyarakat bangsa Indonesia.
Kalau dalam penangkapan saya: karena konteksnya ITB, sebagai kampus teknik terkemuka di Indonesia, ada ekspektasi untuk membuat Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara maju dalam bidang iptek. Adalah kenyataan bahwa yang maju dalam iptek yang menguasai dunia. Tapi itu perlu diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan akan dampaknya dalam berbagai ranah lain kehidupan, mulai dari lingkungan sampai spiritual-kebudayaan. Kenyataan juga menunjukkan bahwa perkembangan iptek menimbulkan dampak-dampak yang bukannya bikin manusia sejahtera malah tambah sengsara, antara lain individualisme dan kerusakan alam. Tulisan-tulisan dalam buku ini seperti berusaha untuk memahami perjalanan peradaban manusia sampai pada taraf perkembangan teknologi terkini, sebab-sebabnya negara kita susah bersaing dalam bidang ini, serta menyoroti dampak-dampak dari mengekori negara-negara maju.
Secara keseluruhan, buku ini banyak dagingnya tentu saja, sehingga saya memerlukan waktu lama untuk merumuskan. Tentu tidak semuanya bisa diangkat di sini, jadinya yang tertentu saja sepenangkapan saya.
Tulisan yang sepertinya paling menggambarkan judul adalah "Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Dunia dan Indonesia" (Iskandar Alisjahbana). Tulisan ini mengingatkan pada cerita-cerita fiksi ilmiah, karena berisi ide-ide spekulatif mengenai arah perkembangan teknologi dan peradaban manusia. Dengan pengembangan iptek yang telah ada sampai kini (atau lebih dari tiga dekade lalu waktu diterbitkannya buku ini), masih ada potensi untuk dikembangkan lebih jauh lagi, antara lain dalam teknologi nano dan AI. Kiranya dalam kepala para ilmuwan dengan kepakaran mereka mengembangkan iptek, potensi manusia untuk menguasai seluruh alam semesta tiada batasnya; kalau bukan dalam usia mereka, generasi selanjutnya yang akan meneruskan. Malah ada pandangan optimistis bahwa energi yang manusia gunakan sampai waktu ini baru sekitar 1/10.000 dari energi matahari yang diterima bumi. Teknologi nano dapat mendayagunakan energi matahari yang berlimpah, sehingga planet bumi dapat mendukung kehidupan manusia yang lebih kaya daripada yang pernah ada (halaman 43). Itu baru sumber daya sistem solar, belum lagi seluruh galaksi yang punya beberapa ratus miliar matahari.
Namun, tulisan ini justru dibuka dengan pengertian mengenai "dialektika teknologi". Menurut KBBI, salah satu pengertian "dialektika" adalah "ajaran Hegel yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam semesta itu terjadi dari hasil pertentangan antara dua hal dan yang menimbulkan hal lain lagi". Maka "dialektika teknologi" berarti tentang bagaimana teknologi membantu kehidupan manusia, tapi juga dapat membahayakan, contohnya api. Solusinya: 1) berhenti pakai teknologi itu, 2) terus pakai dan terima saja dampaknya, 3) memperbaiki teknologi tersebut untuk mengecilkan dampak yang merugikan meskipun ada kemungkinan teknologi yang baru itu akan menimbulkan dampak yang baru lagi. Ini menjadi "fenomena dialektika", yaitu bagaimana penyelesaian sesuatu persoalan dengan teknologi akan selalu membawa bibit persoalan baru, yang pada suatu waktu juga akan menjadi persoalan utama, yang membutuhkan penyelesaiannya pula. Keuntungan-keuntungan dari penggunaan teknologi pada akhirnya akan menciut, digantikan kerugian-kerugian yang membengkak, sehingga harus ditemukan teknologi baru lagi.
Dari segi sumber daya manusia, di Indonesia kurang dorongan untuk berinovasi dalam budidaya SDA agar mempertinggi nilainya di pasaran. Di ITB sejak 1972 sudah ada usaha membangun entrepreneurship/pelatihan kewirausahaan, yang tamatannya diharapkan mampu mendirikan perusahaan yang berdaya saing dengan luar. Manusia entrepreneurial punya need of achievement dengan ciri selalu ingin mempertinggi prestasi atau standar diri dan selalu ingin menang dalam kompetisi. Namun evaluasinya (sampai waktu keluarnya tulisan ini) belum dapat dilaksanakan karena tiada biaya. Selain itu, agaknya ada hambatan dari budaya kita sendiri yang kurang menggerakkan (yang akan dicari jawabannya dalam tulisan-tulisan belakangan menyangkut kebudayaan). Penulis mengutip pernyataan J. E. Stepanek, "... wasted much time while learning that no amount of capital equipment, no number of enthusiastic government planners, and no team of foreign consultants can compensate for lack of individuals eager and able to seize opportunity to develop." (halaman 54)
Tulisan ini ditutup dengan mengingatkan kembali pada hukum dialektika dengan fenomena ketidakpastian kehidupan dan ketidakpastian setiap usaha manusia di seluruh jagat raya ini, sehingga mengukuhkan kedudukan Tuhan YME yang mengatur segalanya. (halaman 64)
Sementara dalam tulisan barusan ada optimisme seakan-akan potensi eksploitasi alam tak berbatas, tulisan berikutnya "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kelangsungan Hidup Manusia" (J. A. Katili) menyoroti kerusakan yang telah dibuat. Bagian "Sejarah Bumi dan Kisah Perjalanan Hidup Homo Sapiens" (halaman 71-73) menunjukkan perspektif bahwa dalam usianya yang pendek, manusia telah menguras sebagian besar sumber daya alam dalam waktu yang singkat saja. Solusi yang diajukan adalah kembali lagi ke iptek, karena itulah yang bisa dikerjakan ilmuwan, yakni meneliti dan mengembangkan iptek--seakan-akan dengan iptek manusia merusak alam, dengan iptek pula manusia memperbaikinya. Pengembangan iptek mesti diarahkan pada cara-cara menanggulangi kerusakan dan membangun secara berkelanjutan.
Hanya saja, karena sudah diterangkan tentang dialektika teknologi serta ketidakpastian dalam usaha manusia dalam kehidupan, kalau Pak Katili membuka tulisannya dengan QS Ar-Rum: 41, saya ingin mengutip Al-Baqarah: 11, "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.'" Kita tidak bisa memastikan usaha kita benar-benar akan membuahkan perbaikan atau menambah berabe, tapi bagaimanapun kita harus berusaha dengan apa yang kita tahu, bisa, dan punya.
Tulisan selanjutnya dari Daoed Joesoef, "Krisis Metafisis dalam Ilmu Pengetahuan", sepertinya mengenai filsafat ilmu pengetahuan, bagaimana tingkat ketahuan dasar terendah yang berupa informasi beranjak berangsur-angsur menjadi pengetahuan, ilmu pengetahuan, hingga yang tertinggi yaitu kebijaksanaan (praktis dan teoretis). Banjir informasi rupanya sudah terjadi sejak sebelum popularitas internet (halaman 98).
Kalaupun kehadiran ilmu pengetahuan dan semangat ilmiah sangat minim dalam sistem nilai yang kita warisi dari nenek moyang, hal ini kiranya merupakan akibat sampingan dari jalan khas yang telah dipilih oleh para pendahulu kita itu dalam menangani kenyataan hidup sehari-hari yang dianggap tidak memuaskan. Jika sejarah kita telusuri secara analitis akan terlihat bahwa bila makhluk manusia merasa tidak puas dengan kenyataan hidup sehari-hari yang dilihat dan dialaminya, di mana pun dan bilamana pun, dia lalu memimpikan suatu kehidupan yang lebih layak dan indah. Mimpi semacam ini mendorongnya, nenek moyang kita tidak terkecuali, untuk menempuh tiga macam jalan.Pertama, dengan melarikan diri dari kenyataan yang tidak disenanginya itu. Mungkin menjauhinya secara badaniah atau mengingkarinya secara rohaniah (mental-spirituil). Kedua, dengan memperindah kenyataan yang tidak memuaskan itu di dalam angan-angan. Melalui jalan ini manusia menggambarkan kehidupan menurut suatu khayalan indah tentang sesuatu ideal. Jalan ketiga adalah berupa penyempurnaan rasionil terhadap kenyataan hidup yang tidak memuaskan itu. Jadi berupa suatu usaha yang dengan penuh kesadaran dilakukan ke arah perbaikan, perombakan atau pembaruan dari tata kehidupan, tata masyarakat atau tata negara yang dianggap tidak memuaskan itu, berdasarkan nalar.Nenek moyang kita dahulu praktis menempuh jalan pertama dan kedua semata-mata. Apabila jalan pertama yang dipilih, maka usaha mengatasi kenyataan hidup yang tidak memuaskan itu lebih banyak berupa "bertapa", yaitu suatu pelarian jasmaniah, mengasingkan diri ke tempat sunyi selama jangka waktu tertentu--sampai "kesaktian" untuk mengatasi kenyataan telah diperoleh--atau untuk selama-lamanya demi penyempurnaan batin dan kesucian jiwa. Lain halnya dengan jalan pertama, jalan kedua lebih banyak berupa suatu pelarian mental, mengembara dalam angan-angan, menggambarkan hidup dan kehidupan menurut suatu khayalan indah tentang sesuatu ideal. Idealisasi seperti ini adalah jalan yang termudah di antara ketiga jalan yang telah disebut untuk menolak kenyataan hidup yang tidak dikehendaki, tetapi merupakan jalan yang tidak membuat tujuan menjadi lebih dekat pada yang diinginkan.*Di bagian lain dari dunia ini, orang-orang Yunani purba telah memilih jalan ketiga di masa sebelum Masehi, kemudian diulangi kembali secara sadar oleh orang-orang Eropa Barat sejak bagian kedua abad ke-15 dan dengan penuh keyakinan dilakukan pula oleh sejumlah besar orang-orang terpelajar di Inggris di abad ke-17. Dan jalan ketiga ini adalah jalan yang, sebagaimana kita ketahui, telah mengembangkan dalam diri para penempuhnya semangat, sikap dan tingkah laku, yang dituntut oleh perkembangan pengetahuan ilmiah modern.*Walaupun begitu jalan kedua ini akhirnya menghasilkan suatu khasanah nilai-nilai seni, sastra, moral, sosial dan estetis yang serba luhur, didaktis: seperti mitos, epik dan lirik yang bertemakan kepahlawanan, kekesatriaan, kesucian, kebijaksanaan atau nilai-nilai hidup di tengah-tengah alam dan menurut kodrat alam. Hal ini jelas terlihat pada "wayang" suatu karya budaya yang menurut Dr. Stutterheim merupakan "bengkel (arsenaal) dari bentuk-bentuk kehidupan dan kesopansantunan". Maka kalau bangsa kita di kawasan Asia-Pasifik tidak dikenal sebagai bangsa yang di masa silam telah menghasilkan filosofi abstrak yang berat, analitis dan mendalam, berkat jalan kedua yang telah ditempuh oleh nenek moyang kita itu, kini disadari dan diakui bahwa dalam hal seni dan sastra--yaitu penjelmaan kekayaan perasaan dan kesuburan fantasi yang mengubah segala sesuatu menjadi ciptaan yang indah--bangsa kita dapat bertanding dan dipertandingkan dengan bangsa mana pun di muka bumi ini. (halaman 91-92)
Tulisan ini juga menerangkan bagaimana manusia mengadakan usaha perbaikan, perombakan, pembaruan terhadap kenyataan yang tidak disenangi melalui berbagai cara, yang salah satunya berkembang menjadi fisika, yang disebutnya sebagai ilmu yang terunggul di antara ilmu-ilmu kealaman. Karena sedari awal mendapat pelajaran fisika di SMP saya kesusahan, tulisan ini jadi menarik karena memberikan perspektif mengenai apa fisika sebenarnya, krisis dan paradoks yang timbul daripadanya, termasuk dampaknya ke cara pikir yang fragmentaris-individualistis.
Setiap kali para ilmuwan fisika mempertanyakan alam dalam suatu eksperimen atom, alam menjawabnya dengan suatu paradoks dan semakin banyak mereka berusaha menjelaskan keadaan ini, menurut Capra, semakin menonjol jadinya paradoks tersebut. .... Jadi teori kuantum mengungkapkan suatu kesatuan yang begitu mendasar dari alam semesta. Dengan perkataan lain, ia menunjukkan bahwa kita tidak dapat memilah-milah dunia menjadi kesatuan-kesatuan terkecil yang berdiri sendiri-sendiri serta mandiri. (halaman 108-9)
Tulisan ini juga menyoroti keterkaitan antara matematika dan puisi, yang seperti dua kutub berseberangan, karena matematika pasti sedangkan puisi ambigu, tapi keduanya sama-sama suatu abstraksi, pemadatan informasi. Makin jelimet, makin berjarak dari realita. (halaman 115-6)
Tulisan dari pakar UGM yaitu Mubyarto ("Ilmu, Teknologi, dan Pembangunan Manusia") dan Umar Kayam ("Transformasi Budaya Kita") menyoroti keadaan di Jawa sembari membandingkan dengan kawasan-kawasan lain. Menurut Mubyarto, Jawa statis akibat sistem tanam paksa. Tapi kemudian Jawa bisa berkembang dengan intensifikasi, juga meskipun amat tertekan, pertumbuhan penduduknya justru cepat.
Tulisan Umar Kayam seperti menyelami alam pemikiran orang Jawa, sebabnya sampai gagal melakukan dialog budaya dengan Barat/Belanda, tidak seperti Jepang yang lebih siap menerima pengaruh Barat sehingga bisa sejajar, tidak pula sebagaimana Minangkabau yang tradisi birokrasi nyaris tidak dikenal.
Di Jawa transformasi budaya terjadi melewati jalur priayi/elite birokrasi, dan memiliki sistem kerajaan panggung/negara teater yang seperti menjadi penghambat, padahal dengan Hindu, Buddha, dan Islam bisa adaptif. Sementara Hindu, Buddha, dan Islam masuk secara damai lewat perdagangan, Barat agresif dan rakus, ekspansif dan dingin, rasional, sekuler, dan materialistis. Padahal awalnya Barat terinspirasi dari Timur. Namun setelah penumpukan kekayaan dan penemuan ilmiah, ditambah belum rasional, Timur mandek sehingga kalah dari Barat dengan tradisinya yang suka berspekulasi dan bereksperimen dengan berbagai hal (halaman 333-4). Mengutip Weber, transformasi masyarakat Eropa menjadi masyarakat kapitalis karena di dalam tubuh budaya masyarakat Eropa tersebut sudah terkandung bumbu-bumbu budaya yang tidak dapat tidak akan melahirkan "semangat kapitalisme" tersebut (halaman 325).
Diterangkan mengenai kosmologi Jawa (halaman 339), bahwa diri adalah bagian dari satu kosmos/jagad, sehingga keselarasan dan keseimbangan adalah nilai-nilai yang sangat penting untuk mempertahankan jagad. Dalam sistem kerajaan, keharmonisan itu jadi hierarkis. Orang Jawa melihat dan menerima tempat kehidupannya sebagai suatu jagad yang utuh dan berjenjang-jenjang. Tempatnya telah ditentukan pada jenjang-jenjang tersebut dan hanya nasiblah yang akan sanggup menggesernya. Maka baik calon raja maupun calon lurah tempatnya ditentukan bukan oleh terutama pendidikan, kecakapan, dan pengalaman, melainkan oleh "wahyu kedaton", yang dengan sinarnya yang khas akan hinggap pada dirinya.
Dari tema ketiga mengenai pendidikan perguruan tinggi, saya ingin mengutip tulisan S. Budhisantoso, "Pengembangan Perguruan Tinggi dan Kebudayaan di Indonesia":
Masalah lain yang timbul sehubungan dengan perkembangan pendidikan formal ialah bahwa kebanyakan sekolah didirikan berlandaskan pemikiran bahwa penduduk itu merupakan sekumpulan bagian-bagian yang lepas dari suatu masyarakat, tanpa memperhatikan kekhususan dan keterkaitan mereka sebagai komponen yang saling mengisi. Seolah-olah masing-masing orang itu berdiri secara otonom dan berlomba untuk mencapai tujuan dengan segala kemampuan dan motivasi masing-masing. Dengan demikian, pendirian sekolah itu kurang memperhatikan sistem nilai budaya dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Seolah-olah kegiatan pendidikan itu sekadar memberi kesempatan perorangan yang ingin mencapai tujuan sesuai dengan prakarsa dan usaha masing-masing tanpa memperhatikan keterkaitan mereka satu sama lain.Landasan pemikiran sedemikian itu mendorong usaha pendidikan sekadar memberi kesempatan anggota masyarakat untuk belajar lebih banyak dan lebih cepat. Akibatnya, seperti dikatakan oleh Cohen (1971), seolah-olah tidak ada perbedaan antara kegiatan pendidikan dengan industri, yaitu mengejar produksi sebesar-besarnya. Tidaklah mengherankan apabila masyarakat senantiasa menuntut hasil nyata pendidikan dalam bentuk tenaga kerja siap pakai. Akan tetapi, karena perkembangan industri di negara berkembang itu masih muda, maka masyarakatnya juga kurang memperhatikan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mendukung "industri" pendidikan agar menghasilkan output sesuai dengan harapan. (halaman 383)
Buku ini selain memberikan pemahaman-pemahaman baru, selazimnya membaca tulisan terbitan lama, kadang menimbulkan kesan: dari dulu masalahnya udah kayak gitu, seakan-akan tidak ada yang membaca dan membuat perubahan, atau, usaha perbaikan yang dilakukan tidak sebanding dengan laju keparahan. Contohnya antara lain kesenjangan antara universitas dan industri, kurangnya penghasilan dosen sehingga harus menambah sumber pemasukan, serta dilema bahwa pengangguran hanya dapat dipecahkan dengan memacu pertumbuhan ekonomi industri, tapi itu mengakibatkan percepatan kerusakan lingkungan, juga memperbesar kesenjangan antara kaya dan miskin jika tidak disertai usaha pemerataan yang sungguh-sungguh.
Dalam tulisan-tulisan lama sesungguhnya terkandung peringatan-peringatan, tapi kebanyakan dari kita agaknya tidak memiliki kemampuan untuk mengindahkannya sekaligus memikirkan dampak-dampak secara panjang lebar, luas mendalam. Masih dari tulisan S. Budhisantoso, seakan-akan hendak memaklumkan, "... kenyataan selama ini menunjukkan bahwa orang mengembangkan atau menyerap teknologi baru lebih banyak dilandasi oleh prinsip kegunaan praktis (utility) daripada prinsip-prinsip lain yang berlaku dalam proses perkembangan kebudayaan secara menyeluruh (aculturation). Kenyataan tersebut memang sulit untuk dihindarkan, karena prakarsa maupun kreativitas seseorang itu sering kali terdorong oleh kebutuhan praktis daripada pertimbangan yang berbelit-belit. Pada waktu nenek moyang manusia menciptakan kapak batu perimbas sebagai upaya untuk menyambung keterbatasan kemampuan jasmaninya mereka tidak pernah memikirkan tentang dampaknya dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Demikian pula ketika orang menemukan mesin uap yang mendorong perkembangan industri, tidak terpikirkan bahwa ini akan dapat menimbulkan revolusi sosial pada masyarakat Eropa Barat pada waktu itu." (halaman 376)
