Senin, 18 Mei 2026

Catatan Diskusi Buku Hernadi Tanzil

Sebagai pengguna Goodreads yang mewajibkan diri untuk menulis review setamat membaca buku, saya melihat akun htanzil sebagai sosok legendaris. Jadi saya datang ke acara peluncuran buku kumpulan resensi beliau, (R)esensi Maniak.

"Hernadi Tanzil adalah peresensi yang disukai penulis, disayangi penerbit," demikian kata Muhidin M. Dahlan. Resensi Pak Tanzil merupakan contoh yang baik dan sopan karena tidak pernah menyinggung siapa-siapa. Resensinya juga terasa santai, seakan ditulis oleh yang sungguh menikmati dan memuliakan buku. Adapun kata Anwar Holid--pembahas dalam acara ini--kebanggaan peresensi adalah bila menemukan bahan untuk dikritik. Bagi penerbit, lebih baik buku dijelek-jelekkan oleh peresensi daripada tidak ada resensi sama sekali--sebegitu pentingnya peran resensi dalam industri penerbitan dan ekosistem literasi. 

Peran lain peresensi adalah membantu orang untuk lebih selektif dalam menentukan buku yang betul-betul perlu dibaca atau dibeli. Toh harga buku bisa jadi mahal, kesempatan untuk membacanya juga terbatas.

Ada ratusan resensi yang telah ditulis Pak Tanzil. Selain Goodreads, resensinya terdapat di blog: https://bukuygkubaca.blogspot.com/. Resensi yang dipilih untuk diterbitkan dalam (R)esensi Maniak ini ditulis dalam rentang 2005-2019, mencakup buku dari tiga kategori: buku tentang buku/metabuku (8), sastra Indonesia (7), dan sastra terjemahan (22). Tujuh resensi pernah dimuat di media massa, antara lain Ruang Baca Koran Tempo

Saya belum membaca benar-benar buku (R)esensi Maniak, baru melihat-lihat isinya. Dari pemindaian sekilas, tampak bahwa resensi yang dibuat Pak Tanzil merupakan artikel utuh, yang menyarikan buku secara menyeluruh. Resensi yang sungguh-sungguh ini dibandingkan dengan "resensi" lainnya yang banyak terdapat di Goodreads, serta "resensi" yang dewasa ini populer di media sosial. Kebanyakan "resensi" di Goodreads mungkin bukan benar-benar resensi, melainkan hanya komentar. Hanya sedikit yang membuat ulasan panjang mencakup keseluruhan buku, selebihnya hanya satu-dua paragraf. Sedangkan "resensi" di media sosial berkesan tergesa-gesa, kurang kedalaman, kadang-kadang lebai, tapi justru itu yang efektif bagi generasi muda kiwari yang suka apa-apa serbacepat. Sementara generasi lama yang tumbuh bersama media cetak, blog, dan Goodreads yang mungkin lebih bisa menikmati resensi berupa tulisan panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain