Sabtu, 06 Juni 2026

Lawatan YouTube Mei 2026

Business Insider


Masih tentang usaha pengolahan limbah, kali ini bukan cuma di India, melainkan juga Sierra Leone, Argentina, dan Indonesia. Mungkin saja kelak ketika yang kita punya kebanyakan tinggal limbah dan pengangguran, akan bermunculan banyak usaha kecil pengolahan limbah agar kembali dapat digunakan, dan melibatkan banyak pekerja.


Baru tahu ada yang namanya curling. Itu sejenis olahraga yang masuk ke olimpiade. Sepenglihatan di video sih, cara mainnya yaitu dengan memegangi batu yang meluncur, lalu batu itu disundul-sundul pakai tongkat, malah ada juga yang seperti menyikat-nyikat di depannya(?). Yah, ada video lain yang menerangkan cara bermainnya, tapi tetap saja ada komentar-komentar yang mengatakan bahwa ini sport yang weird dan stupid.


Wasabi, semacam lobak hijau asli Jepang, ternyata punya syarat tumbuh yang sangat khusus sehingga sulit dibudidayakan. Persisnya, tumbuhan ini cocok di tempat teduh berbatu-batu yang dialiri air. Sudah mah rasanya tidak enak, menumbuhkannya sulit, pemanfaatannya tidak tahan lama pula, wkwkwk. Setelah diparut, wasabi harus langsung dikonsumsi atau cita rasanya bakal berubah. Tapi, katanya wasabi yang asli rasanya beda daripada yang buatan--yang umumnya beredar karena lebih mudah diproduksi. Wasabi yang asli lebih bisa dinikmati kali ya, katanya sih ada manis-manisnya.


Kerja tambang sulfur di Kawah Ijen ini sepertinya sudah banyak yang meliput di YT. Ini pekerjaan yang sangat berisiko tapi bayarannya relatif lebih tinggi daripada pekerjaan-pekerjaan lain yang tersedia, makanya ada saja orang yang mau melakoninya. Membaca komentar-komentar, banyak yang bersimpati, tapi ada juga yang menyayangkan karena sebetulnya bisa saja dibikin cara yang efisien untuk menambang dan mengangkut sulfur tanpa harus menggunakan tenaga manusia yang mengorbankan diri mereka sendiri. Apalagi narasi di video pun bilang bahwa kebanyakan sulfur bisa diekstrak dari hasil tambang lainnya dengan cara yang lebih aman, sehingga praktik ala Kawah Ijen ini tidak perlu dilanjutkan. Perusahaan yang mempekerjakan mereka juga menolak untuk diwawancara.

Mungkin, karena SDM di Pulau Jawa melimpah, maka praktik ini kendati berbahaya tetap saja ada yang mau melakukannya, asal bayarannya sepadan. Kalau segala harus dibikin serba efisien, dengan peralatan canggih sampai kecerdasan buatan, kelimpahan SDM ini mau diberdayakan bagaimana? Biarlah itu kerja yang berbahaya atau tidak efisien sekalipun, asal kerja, asal menunjukkan guna sebagai manusia. Berani mati, takut lapar, kata penambang yang diwawancara di video. Adakah yang berani mati akibat kelaparan?

Film Dracula: Dead and Lovin' It


Lucu-lucu horor, cuma agak saru karena banyak "balon" dan desahan. Lega ketika pada akhirnya si Dracula mati. Seperti film Leslie Nielsen lainnya, Naked Gun 2 1/2, di puncak masalahnya terselesaikan secara tak terduga dan "bodoh"--saking bodohnya sampai-sampai menggelikan.

Seputar Afrika Barat dan Sahara


Dokumenter ini saya sudah pernah menonton sebelumnya, mungkin empat tahun lalu ketika baru keluarnya--mungkin karena YouTube jadi suka merekomendasikan untuk menonton ulang setelah empat tahun. Bagaimanapun, saya menyukai dokumenter ini. Isinya tentang bagaimana pekerjaan, cara hidup, ilmu pengetahuan, dan tradisi diwariskan dari generasi tua ke generasi muda, hingga saya berpikiran pantas kalau dahulu orang tua sangat dihormati, karena orang tua menjadi sumber pengetahuan yang utama tentang cara bertahan hidup termasuk cara bersenang-senang, sebagaimana ditunjukkan melalui lomba balap unta dan lomba-lomba lainnya di ujung video. Di video ini pun tidak tampak perangkat elektronik, yang bagi anak muda perkotaan zaman sekarang telah menjadi sumber informasi utama, dan orang tua menjadi pihak yang inferior karena cenderung lambat menguasai teknologi terbaru, sehingga anak menjadi lebih tahu dan bersikap superior, kurang penghormatan kepada orang tua. Tapi, saya mencatat tentang video ini sambil menimbang-nimbang apakah perlu membeli tablet baru, dan lagi pula saya bisa menonton itu juga kan lewat tablet. Ah, bagai buah simalakama.


"Tenere", kata yang saya kenal dari judul lagu Tinariwen, "Amassakoul 'N Tenere", artinya kurang lebih kekosongan karena di kawasan Sahara bagian situ benar-benar tidak ada apa-apa, padahal tidak juga. Ada lukisan dinding kuno sebagaimana ditunjukkan di dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Karena lukisan itu menampakkan gambar hewan-hewan yang tinggal di kawasan Afrika yang lebih hijau, mungkin juga ada bukti-bukti lain, maka konon Sahara dulunya merupakan kawasan hijau. 

Kawasan yang "kosong" itu juga nyatanya "jalan tol" bagi karavan yang bisa terdiri dari ratusan ekor unta dalam barisan panjang, berpapasan dengan satu sama lain, demikian dokumenter ini ditutup.

Touareg adalah nama suku yang menguasai kawasan itu. Kalau ingin melintasi Sahara, baiknya minta ditemani oleh mereka. Kalau tidak, bisa-bisa dianggap melanggar wilayah dan dibantai; kejadian ini pernah menimpa rombongan ekspedisi Perancis-Aljazair pada 1880. Tinariwen adalah grup musik Touareg.

Jadi dokumenter ini isinya kurang lebih mirip dengan dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Ada bule minta ditemani warga lokal melintas Sahara. Warloknya saleh, yang dalam perjalanan tidak lupa salat. Bedanya, di dokumenter kali ini tidak melibatkan jin, dan warloknya bukan cuma satu orang. Malah dalam dokumenter ini mereka rombongan agak banyak dengan beberapa mobil jip. Sedangkan di dokumenter sebelumnya berdua saja pakai unta. 


Setelah menonton sedikitnya tiga dokumenter tentang kehidupan di Sahara, saya merasa isinya secara pokok kurang lebih persis: melintasi padang yang sejauh mata memandang kebanyakan hanya pasir, panas, kering, dan ekstrem, bersama unta hewan ajaib yang tahan tidak minum sampai lama, sanggup membawa beban berat juga. Di tengah perjalanan ada lukisan dinding gambar jerapah dan hewan-hewan lainnya. Di ujung akhirnya bertemu "peradaban" lagi--kawasan hunian manusia.

Bedanya, di dokumenter kali ini, tidak ada bule yang menemani, atau mereka mungkin hanya memfilmkan tapi tidak ikut tampil di depan kamera. Dokumenter ini lebih berfokus pada segi-segi kehidupan Touareg yang meliputi persiapan melepas karavan, mulai dari bekal apa saja yang harus dibawa, festival pelepasan, jenis-jenis pekerjaan lainnya dalam masyarakat Touareg yang masih berkaitan dengan perjalanan karavan (contoh: pandai besi untuk membuat senjata, penggali sumur untuk persediaan air), serta cara hidup wanita-wanitanya yang saling bantu, bekerja secara berkelompok, mulai dari mengolah makanan sampai mendirikan rumah yang berpindah-pindah, dan memasang tempat tidur portabel. Wanita sangat dihormati dalam masyarakat Touareg yang monogami. Jika bercerai, harta benda jadi milik istri. Yang menutupi wajah justru pria--sedangkan wanita hanya mengenakan kerudung--tapi sepertinya ini lebih untuk perlindungan dari cuaca terik sementara mereka pergi jauh sih. Umumnya orang Touareg muslim, menunaikan salat dan menghafal Al-Qur'an, tapi juga masih ada kepercayaan lama.

Persamaan video kedua dan ketiga adalah sama-sama mengikuti perjalanan karavan ke Bilma, tempat penghasil garam. Di sana mereka bertukar komoditi. Timbangan tidak ada, sehingga untuk menakar mereka menggunakan mangkok yang diisi penuh-penuh. Sangat sederhana. Air begitu terbatas. Listrik juga tidak pakai sepertinya. Namun mereka mampu bertahan sebegitu lama hidup di kawasan itu, tidak kebat-kebit bila mati listrik. Dan, apakah mereka mandi? 

Video ketiga ini tampak lebih lengkap menyajikan kehidupan masyarakat Touareg, sedangkan kedua video sebelumnya lebih kayak menemani bule penasaran jalan-jalan melintasi Sahara.

Buku Audio Days at the Morisaki Bookshop


Ceritanya tampak sederhana, tipe slice of life? Pada awalnya cukup menikmati. Saya lumayan relate karena pernah bantu-bantu di toko buku kecil yang juga menjual buku-buku bekas, dan yang berkunjung kadang hanya untuk mengobrol, juga penting untuk selalu bersikap baik, ramah, dan mengenal sebanyak-banyaknya orang. 

Cerita dimulai dengan si tokoh utama putus hubungan dari pacarnya sampai resign kerja karena mereka sekantor. Selagi depresi dan menganggur, dia ditawari bekerja di toko buku milik keluarga yang dikelola oleh pamannya. Dia ambil tawaran itu. Setelah bekerja di toko buku, dia mulai membangun hubungan-hubungan baru, walaupun belum untuk menggantikan hubungan cinta kepada kekasih. Dalam bagian pertama cerita ini dia banyak bercerita tentang pamannya yang sempat mempunyai istri, tapi istrinya kabur. Si tokoh utama tidak seterusnya bekerja di toko buku. Dia melamar pekerjaan lain, diterima, dan pindah.

Di bagian kedua, istri si paman kembali. Si tokoh utama menyempatkan untuk mampir ke toko buku. Selain membangun hubungan dengan istri si paman, dia juga menyambung hubungan dengan tokoh-tokoh lain yang telah muncul di bagian pertama. Di bagian ini, saya sudah kurang menikmati cerita. 

Entahlah, rasanya cheesy? corny? jasukey? Cerita ini mungkin dimaksudkan untuk memberikan perasaan enak dan tenang bagi yang membaca, dengan menempatkan diri dalam posisi si tokoh utama, yang setelah mengalami kejadian pahit, lantas mengambil jeda untuk tidur, membaca buku sebanyak-banyaknya, menjalin hubungan kasual dengan orang-orang, serta berjalan-jalan ke alam--kesempatan yang mungkin tidak dapat dialami setiap orang yang kepengin karena kehidupannya penuh tuntutan, sehingga sedikitnya mencicipi lewat novel.

Saya juga merasa aneh dengan cara para tokoh menunjukkan afeksinya. Pertama, ketika si paman bilang "I love you" ke tokoh utama sembari minum minuman beralkohol, berdua saja di kamar. Otak saya mungkin sudah banyak dicemari oleh berita-berita akhir zaman, sehingga adegan ini terasa rada-rada. Lalu, ada adegan ketika si tokoh utama dengan istri pamannya itu berpelukan sambil telanjang di pemandian air panas. Yah, di Jepang mandi bugil bersama mungkin biasa saja, termasuk sambil pelukan dengan sesama jenis. Tapi di budaya saya tidak ada yang begitu. 

Kalau saya baca sendiri buku ini sampai tuntas, mungkin saya kasih bintang satu atau dua di Goodreads.

Trio NPD


Bila konten Kak Kev muncul di Instagram, muncul dilema: enggak ditonton, penasaran, setelah ditonton, kok geli. Lalu entah bagaimana dia berkolaborasi sama sepupu Raisa bikin trio yang lagunya memuja-muja diri. Ketika mereka tampil di acara yang tidak biasanya saya tonton, saya klik. Acara ini pecahnya di ujung, ketika Andre berusaha mengimbangi kegaulan Mario dengan celetukan-celetukan Inggris yang enggak nyambung.

Lagu MBG


Biasanya saya tidak suka yang AI-AI, tapi sepertinya satu Indonesia lagi kejangkitan wabah terngiang-ngiang sama lagu ini. (*menulis ini sambil terdengar anak-anak lewat jalan depan rumah menyanyikannya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain