LAINNYA

Kamis, 27 Maret 2014

“Kekukuhan” [Virginia Woolf, 1918]

Catatan: Ini lebih tepat disebut "menyederhanakan" ketimbang "menerjemahkan". Kalau pemahamanmu terhadap bahasa Inggris cukup baik, baik, baik sekali, atau sangat baik, saya sarankan untuk membaca teks ini saja. Saya pernah membicarakan cerpen ini sebelumnya di sini. Memang pada awalnya cara pengungkapan dalam cerpen ini terasa mengerikan, namun setelah meniliknya kata demi kata, terasa kepedihannya :-| Mudah-mudahan upaya penyederhanaan ini cukup enak dibaca. 

Tambahan: Atas saran Kang Andika, saya ganti judul cerpen ini, yang asalnya "Benda Pejal", dengan yang rasanya lebih tepat: "Kekukuhan".


Satu-satunya yang bergerak di lingkar pantai itu adalah sebuah titik hitam kecil. Titik itu mendekati rangka sampan yang terdampar. Dari kepekatannya yang merenggang, terlihat bahwa titik itu memiliki empat kaki. Sebentar kemudian, makin tak teragukan lagi bahwa titik itu terdiri dari dua orang pemuda. Bahkan pada bayangan yang melekat di pasir, tampak adanya semangat yang tak tergoyahkan dalam diri mereka. Daya hidup yang tak terperikan dalam ayunan tubuh mereka, walau sedikit, mengejawantah dalam perdebatan sengit yang keluar dari mulut di kepala-kepala bundar kecil itu. Terlihat dalam jarak yang lebih dekat, terjangan yang berulang-ulang dari sebatang tongkat di sisi kanan. ‘Maksudmu… Kamu benar-benar yakin…’ demikian tongkat di sisi kanan dekat ombak itu seolah menegaskan, seraya menyabet pasir hingga membentuk garis-garis lurus nan panjang.

‘Persetan dengan politik!’ keluar dengan jelas dari orang di sisi kiri. Seiring dengan diutarakannya kata-kata itu, mulut, hidung, dagu, tipisnya kumis, topi wol, sepatu bot, mantel berburu, dan kaos kaki dua orang yang bicara itu menjadi semakin jelas saja. Asap dari pipa mereka membumbung ke udara. Tidak ada yang begitu kukuh, begitu hidup, begitu solid, bergejolak dan kuat sebagaimana dua raga tersebut sepanjang mil demi mil lautan dan gunungan pasir.

Mereka mengempaskan diri di dekat sampan. Keduanya tampak menghentikan perdebatan, dan menginsafi suasana; siap membicarakan hal yang baru—apapun itu. Charles, empunya tongkat yang sedari tadi mengiris-iris pantai sepanjang kurang lebih setengah mil, mulai meluncurkan lempengan-lempengan batu ke atas air; dan John, yang tadi menyerukan ‘Persetan dengan politik!’ mulai menggali-gali dengan jemarinya hingga jauh ke dalam pasir. Seiring dengan tangannya yang semakin masuk sampai melewati pergelangan, sehingga ia harus mengangkat lengan bajunya sedikit ke atas, sorot matanya meredup. Pudar segala pikiran dan pengalaman yang membubuhkan nuansa pada mata seorang dewasa, menyisakan pandangan yang polos dan jernih, tak mengungkap suatu apa selain keingintahuan, bagai mata bocah. Tak disangsikan lagi penggalian pasir itu menghasilkan sesuatu. Diingatnya bahwa, setelah menggali sebentar, air memancar mengelilingi jemari; lubang itu kemudian menjadi semacam parit; sumur; mata air; lorong rahasia menuju laut. Selagi menerka-nerka apa yang tengah dibuatnya, masih meraba-raba di dalam air, jemarinya menggenggam sesuatu yang keras—segumpal benda pejal—dan sedikit demi sedikit menarik bongkahan tak beraturan yang besar itu, dan mengangkatnya ke permukaan. Setelah dibersihkan dari pasir yang menyelimutinya, warna hijau terlihat. Benda itu berupa bongkahan kaca, saking tebalnya sehingga hampir tidak tembus cahaya; antengnya lautan telah mengikis sepenuhnya bagian tepi atau bentuk benda itu, sehingga sulit dikatakan apakah dulunya itu botol, gelas atau kaca jendela; bukan apapun melainkan kaca; hampir menyerupai batu mulia. Tinggal direkatkan pada lempengan emas, atau dilubangi dengan kawat, jadilah perhiasan; bagian daripada kalung, atau cahaya hijau majal pada jari. Bagaimanapun juga boleh jadi ini benar-benar permata; dikenakan oleh seorang Putri yang misterius, yang menyeret jarinya di air selagi duduk di buritan sampan dan mendengarkan budak-budaknya menyanyi sembari mendayung melintasi Teluk. Atau ada peti harta karun, dari lambung kapal kayu era Elizabeth yang tenggelam, pecah, dan isinya yang berupa zamrud berguling terus, terus-menerus, sampai akhirnya terdampar di pantai. John memainkan benda itu di tangannya; ia mengarahkannya pada cahaya; ia menggerakkannya hingga agregat yang tak beraturan itu mengaburkan bayangan dan memperpanjang lengan kanan kawannya. Warna hijaunya menipis dan menebal sepintas-sepintas ketika diposisikan pada matahari. Rasanya menyenangkan sekaligus mengherankan; benda itu begitu keras, begitu padat, begitu nyata dibandingkan dengan lautan yang tampak samar maupun pantai yang berkabut.

source
Helaan napas mengusiknya—dalam, penghabisan, menyadarkannya bahwa kawannya Charles telah melemparkan semua batu ceper dalam jangkauannya, atau telah menyimpulkan bahwa membuang-buang waktu saja melemparkan semua  itu. Mereka memakan roti lapis mereka bersisian. Seusai makan, sembari menggerak-gerakkan tubuh dan bangkit, John mengambil bongkahan kaca itu dan memandangnya dalam bisu. Charles mengamatinya juga. Tapi lekas ia melihat bentuknya yang tidak ceper, lalu seraya mengisi pipanya ia berucap dengan semangat untuk mengendurkan tegangnya pikiran nan bebal.

‘Kembali pada yang kukatakan tadi—‘

Ia tidak melihat, atau kalaupun ia melihat ia hampir tidak akan memerhatikan, bahwa John setelah memandang bongkahan itu sesaat, seakan dalam keragu-raguan, menyelipkannya ke dalam saku. Dorongan itu agaknya seperti dorongan yang menggerakkan seorang anak untuk memungut batu kerikil yang bertebaran di jalan, menjanjikannya kehidupan yang hangat dan aman di atas rak perapian di kamar, menikmati kemesraan sekaligus kelembutan daripada perbuatan tersebut, dan memercayai bahwa batu tersebut memiliki hati yang melompat-lompat gembira kala mengetahui dirinyalah yang terpilih dari sejuta yang sepertinya, untuk menikmati kebahagiaan ini daripada kehidupan yang dingin dan basah di jalanan. ‘Dari sekian juta batu bisa saja yang lain yang diambil, tapi toh aku, aku, aku!”

Entahkah pikiran itu ada atau tidak dalam benak John, bongkahan kaca itu telah ditempatkan di atas rak perapian, memberati setumpuk tagihan dan surat, dan tidak saja menjadi pemberat yang baik untuk kertas-kertas, tapi juga sebagai tempat pemberhentian alami bagi mata pemuda itu ketika teralih dari bukunya. Menatapnya lagi dan lagi separuh sadar, sementara benak memikirkan hal lain, bercampur dengan isi pikirannya sehingga bentuk benda itu menjadi lain daripada sebenarnya. Benda itu mengubah sendiri bentuknya, sedikit saja bedanya dari semula, menjadi sempurna, dan menggentayangi otak tanpa sedikitpun diharapkan. Demikian John merasakan dirinya tertarik ke jendela toko barang antik ketika ia sedang keluar berjalan-jalan, semata karena ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada bongkahan kaca tersebut. Apapun selama itu adalah benda yang serupa, lebih kurang bundar bentuknya, boleh jadi dengan nyala yang redup terpendam dalam kompositnya, apapun—porselen, kaca, ambar, batu, marmer—bahkan telur burung prasejarah yang jorong mulus. Ia juga memasang matanya di atas tanah, terutama di sekitar lahan pembuangan sampah rumah tangga. Benda semacam itu sering kali terdapat di sana—dibuang, tak berguna lagi bagi siapapun, tak berbentuk. Dalam beberapa bulan ia telah mengumpulkan empat atau lima spesimen yang ditempatkannya di atas rak perapian. Bagi seorang lelaki yang tengah memiliki kedudukan di Parlemen dan berada di ambang karier yang brilian, benda-benda itu berguna untuk menahan kertas-kertas agar tetap rapi—pidato untuk para pendukung, deklarasi kebijakan, permohonan untuk tanda tangan, undangan makan malam, dan seterusnya.

Satu hari, ketika dalam perjalanan mengejar kereta dari tempat tinggalnya di Temple untuk berpidato pada para pendukungnya, matanya berlabuh pada benda aneh yang setengah tersembul di salah satu pagar rumput yang membatasi halaman sederet bangunan luas. Ia hanya bisa menyentuh benda itu dengan ujung tongkatnya melalui susuran tangga; tapi ia bisa melihat bahwa benda itu berupa sepotong porselen dalam bentuk yang sangat mengagumkan, hampir menyerupai bintang laut—dibentuk, atau secara kebetulan, menjadi lima sudut yang tidak beraturan namun tegas. Warnanya sebagian besar biru, namun dilapisi semacam garis-garis atau titik-titik hijau, dan adanya garis-garis merah tua menambah kesempurnaan serta kilauan yang amat memikat. John tergerak untuk memilikinya; tapi semakin ia berusaha, semakin jauh benda itu mundur ke belakang. Pada akhirnya ia terpaksa kembali ke tempat tinggalnya dan membuat cincin kawat sekadarnya yang dikaitkan dengan ujung tongkat. Dengan amat terampil dan hati-hati, ia berhasil menarik potongan porselen itu ke dalam jangkauan tangannya. Begitu ia dapat meraihnya, ia berseru dalam kemenangan. Pada saat itulah jam berdentang. Tidak mungkin ia dapat memenuhi janjinya. Pertemuan dijalankan tanpa dirinya. Tapi bagaimana bisa sepotong porselen terpecah menjadi bentuk yang semenakjubkan ini? Setelah diamati dengan saksama, pastilah bintang ini terbentuk secara kebetulan, yang justru membuatnya makin unik. Tak mungkin ada yang lainnya dalam kehidupan ini. Ditempatkan di ujung yang berlawanan pada rak perapian dengan bongkahan kaca yang digali dari pasir, benda itu tampak seperti makhluk dari dunia lain—ganjil dan luar biasa warna-warninya. Berputar-putar di angkasa, cahayanya berkedip-kedip bak bintang gemerlap. Kontras antara porselen yang begitu mencolok dan tajam, dan kaca yang begitu hening serta membangkitkan perenungan, memesonakan dirinya. Terheran-heran sekaligus terkagum-kagum ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana keduanya dapat berada di dunia yang sama, apalagi bersanding bersama bebatuan lainnya dalam satu bidang sempit di ruangan yang sama. Pertanyaan itu tak kunjung terjawab.

Kini ia mulai menyambangi tempat-tempat yang paling banyak menyimpan potongan porselen, seperti bagian-bagian daripada lahan pembuangan di antara rel kereta, tapak-tapak rumah yang telah dirobohkan, dan ruang-ruang publik di kawasan London. Namun jarang porselen yang dibuang dari ketinggian tertentu; perbuatan yang paling jarang dilakukan oleh manusia. Kemungkinannya bisa diperoleh apabila di sebuah rumah yang teramat tinggi terdapat wanita yang kelakuannya sembrono serta memiliki prasangka yang menggebu-gebu, menjatuhkan guci atau jambangannya dari jendela tanpa berpikir siapa yang sedang berada di bawah. Cukup banyak potongan porselen yang bisa dijumpai, tapinya pecah akibat kejadian rumah tangga biasa, tanpa maksud atau dasar tertentu. Meskipun begitu, ia sering heran, seiring dengan makin mendalam pertanyaan-pertanyaan yang dipikirkannya, akan banyaknya variasi bentuk yang dijumpai di London saja. Dan masih ada banyak lagi yang menjadi keheranan dan pemikirannya dalam hal kualitas dan pola. Spesimen yang paling baik akan dibawanya pulang dan ditempatkan di atas rak perapiannya, padahal, biarpun begitu, kegunaan mereka lebih seperti hiasan alami belaka, semenjak kertas-kertas yang perlu diberi pemberat telah berkurang jumlahnya dan semakin jarang.

Ia mengabaikan pekerjaannya, boleh jadi, atau menunaikannya dengan lalai. Para pendukungnya kala mengunjunginya tidak begitu terkesan dengan penampakan rak perapiannya. Bagaimanapun ia tidak terpilih menjadi wakil mereka di Parlemen. Kawannya Charles sangat iba dan lantas turut berduka dengannya, mendapatinya dalam kesedihan akibat musibah tersebut, hingga ia hanya bisa menduga bahwa persoalan ini amatlah serius untuk dapat dihadapinya secara mendadak.

Pada kenyataannya, hari itu John pergi ke Barnes Common, dan di bawah semak kekuningan ia menemukan sepotong besi yang sangat mengagumkan. Bentuknya hampir menyerupai kaca, padat dan bundar, namun dingin dan berat, hitam dan menyerupai logam, sehingga rasanya bukan berasal dari bumi melainkan dari salah satu bintang yang telah padam, atau dari kerak bulan. Benda itu memberati sakunya; memberati rak perapian; memancarkan dingin. Sekalipun begitu, meteorit tersebut menempati birai yang sama dengan bongkahan kaca dan porselen yang berbentuk bintang.

Seraya matanya menyorot dari satu ke yang lain, kebulatan tekad untuk memiliki lebih banyak lagi benda-benda tersebut menyengsarakan si lelaki muda. Ia semakin teguh mencurahkan dirinya pada pencarian. Seandainya saja ia tak termakan oleh ambisi dan keyakinan bahwa suatu hari akan ada ganjarannya dalam tumpukan rongsokan yang baru ditemukan, kekecewaan yang ia alami, belum lagi kepenatan dan cemooh, akan membuatnya menyerah dengan perburuan itu. Dilengkapi dengan kantong dan tongkat panjang yang dipasangi kait yang dapat disesuaikan, ia menggedor-gedor setiap lapisan bumi; menggaruk-garuk di bawah semak belukar yang kusut masai; menelusuri seluruh lorong dan celah-celah di antara dinding—berharap dapat menemukan benda-benda semacam itu dibuang di sana. Seiring dengan standarnya yang semakin meningkat dan seleranya yang semakin tinggi, tak terkira banyaknya kekecewaan yang ia dapatkan, namun selalu ada sekilas harapan, sepotong porselen atau kaca yang entahkah sengaja dibentuk atau terpecah, yang menggodanya. Hari demi hari berlalu. Ia tak lagi muda. Kariernya—karier politiknya—sudah lewat. Orang-orang berhenti mengunjunginya. Ia begitu pendiam hingga tak ada gunanya mengundang dirinya ke acara makan malam. Ia tak pernah membicarakan ambisi seriusnya ini pada siapapun; kurangnya pengertian tampak dari tindak-tanduk mereka.

Ia tengah bersandar di kursinya dan mengamati Charles mengangkat batu-batu di rak perapiannya sampai lusinan kali dan menaruh mereka lagi dengan sungguh-sungguh untuk menyatakan apa yang dikatakannya mengenai kepemimpinan di Pemerintahan, tanpa sedikitpun mengindahkan keberadaan mereka.

‘Ada apa sebenarnya, John?” ujar Charles tiba-tiba, berbalik dan menatapnya. ‘Apa yang membuatmu tahu-tahu menyerah seperti itu?’

‘Aku tak menyerah,’ ucap John.

‘Tapi sekarang kau tak punya kesempatan sedikitpun,’ sahut Charles dengan kasar.

‘Aku tak sependapat denganmu,’ kata John dengan yakin. Charles menatapnya dan merasa amat khawatir; kesangsian yang teramat sangat merasukinya; muncul perasaan ganjil bahwa mereka sedang membicarakan hal yang berbeda. Ia mengitarkan pandangan dan mendapati kemuraman yang menggentarkan, namun keadaan ruangan yang kacau malah membuatnya semakin sedih. Tongkat apa itu, juga kantong babut usang yang tergantung di dinding? Dan lalu batu-batu itu? Memandangi John, sesuatu yang kukuh dan asing dalam ekspresinya terasa menakutkan. Jelaslah, bahkan untuk sekadar hadir pada program partai baginya itu mustahil.

‘Batu-batu yang indah,’ ucapnya seringan mungkin; lalu menyampaikan bahwa ada janji yang harus ia tepati, ia tinggalkan John—untuk selamanya.[]

4 komentar:

  1. Dayeuh, aku suka banget blog ini! Aku langganan feed-nya, dan senang baca berbagai ceritamu. Dari soal mahasiswa yang nggak lulus-lulus, kalap di pameran buku, sampai waktu temen-temen adik main ke rumah. Rasanya cerita2 itu dekat sekali denganku. Aku juga naksir pembacaan-pembacaan kamu, seringkali membuatku ingin menbaca juga karya yang kamu bahas. : )

    Ngomong-ngomong ini pertama kalinya aku baca cerpen dan terjemahan cerpen Virginia Woolf. Biasanya aku menghindari tulisannya karena takut akan kalimat-kalimatnya yang panjaang dan kelihatan bertumpuk. Maka aku seneng banget menemukan versi terjemahannya, aku suka cara kamu menyederhanakan kalimat-kalimat panjang jadi kalimat pendek yang mudah kuikuti. Aku yakin menerjemahkannya nggak gampang. Satu hal yang bikin penasaran, mengapa kamu menerjemahkan judul 'Solid Objects' jadi 'Benda Pejal'?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai kang andika, terima kasih sudah mengapresiasi :D mohon maaf kalau sekiranya ada (dan banyak!) bagian dari hasil terjemahan ini yang kurang memuaskan, enggak enak dibaca, atau gimana...
      saya terjemahin jadi "Benda Pejal" karena kalau "Objek Solid", "Objek Padat", "Benda Padat", dsb, rasanya bagi saya enggak enak wahahaha. Ada saran judul yang lebih tepat, mungkin....?
      sekali lagi terima kasih... ini dorongan bagi saya supaya dl percobaan menerjemahkan berikutnya saya lebih hati2...
      aktifin lagi atuh kang blognya, hehehe :)

      Hapus
    2. Nggak perlu minta maaf, hahaha!

      Kupikir judul "Solid Objects" nggak cuma merujuk pada batu-batu yang dikumpulkan oleh John, tapi juga pada obsesinya yang membatu. Kalau 'objects' diterjemahkan menjadi 'benda', aku jadi bertanya apakah obsesi yang membatu bisa juga dihitung sebagai benda.

      Kata 'pejal' sendiri mengingatkanku pada pelajaran Fisika. Nggak suka, hihihi. Tapi setelah kuperiksa di kamus, memang cocok sekali menggambarkan kekerasan batu. Aku lebih suka kata 'kukuh'. Mungkin aku akan menerjemahkan judulnya menjadi, "Hal-Hal yang Kukuh.", "Hal-Hal Kukuh" atau malah sekalian, "Membatu."

      Kupikir ini cuma masalah selera saja. Kalau persoalan makna sudah beres, aku nggak percaya ada terjemahan yang 'lebih tepat' atau 'lebih enak'. Sekali lagi terima kasih untuk terjemahannya. : )

      Hapus
    3. sepakat. penerjemahan judul ga mesti secara harfiah sih... sempet kepikir untuk mempertimbangkan kalo judul pd cerpen ini bukan sekadar soal batu aja... tapi udah kadung lieur ah hahaha (eits, apologi). terima kasih juga udah kasih saran :D tertarik sama penerjemahan juga?

      Hapus