LAINNYA

Senin, 31 Maret 2014

Pembacaan Ernest Hemingway Sejauh(dekat—deng) Ini

Potret Hemingway yang pernah saya
Ernest Hemingway sepertinya salah satu penulis Amerika Serikat paling kesohor, termasuk di Indonesia. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Salah dua di antaranya yang saya sudah baca adalah kumpulan cerpen Salju Kilimanjaro serta novel Pertempuran Penghabisan. Keduanya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, dan boleh dipinjam dari perpustakaan universitas asal kartu anggotanya masih valid. Jujur saja, secara umum pembacaan keduanya tidak membekas bagi saya. Padahal, Hemingway, lo. Pengarang termasyhur! Kurang hebat apa dia? Boleh jadi karena tiga faktor: (1) Gaya penulis; (2) Terjemahan; (3) Dan pastinya, rendahnya daya tangkap pembaca (ehm). Mengenai gaya penulis, Hemingway dikenal dengan gayanya yang objektif serta menerapkan prinsip “gunung es”, yakni: apa yang disuguhkan pada pembaca itu baru 1/8 bagian daripada maksud pengarang—selebihnya ditenggelamkan di bawah permukaan. Pembaca mesti berupaya lebih untuk dapat memahami makna cerita. Mengenai terjemahan, saya tidak hendak mempermasalahkannya sih lagipun dalam catatan saya memang tidak ada keluhan soal itu. Nah, mengenai rendahnya daya tangkap pembaca inilah yang bikin faktor pertama dan kedua jadi tiada artinya, ha-ha-ha. Karena itulah, catatan pembacaan ini ditulis untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. (?)

Sumber
Catatan pembacaan saya atas Salju Kilimanjaro bertanggal “181107”. Terutama saya menyalin ciri-ciri daripada gaya kepenulisan Hemingway (dalam pengantar yang ditulis oleh Melani Budianta) yang saya rasa menggugah. Adapun komentar saya terhadap cerpen-cerpen dalam kumpulan itu sendiri cuman begini:

Cerita-cerita yang di tengah itu kadang agak enggak jelas maksudnya apa, terutama Father and Son.
Salju Kilimanjaro (√)
Tempat yang Bersih dan Tenang (gitu deh)
Sehari Menunggu Maut (ini nih, lucu punya, paling kusuka)
Penjudi, Perawat, dan Radio (lumayan)
Ayah dan Anak (hh)
Di Negeri Asing (hm)
Pembunuh Bayaran (lumayan)
Goncangan Jiwa Seorang Berkas Sedadu (yang mana ya?)
Lima Puluh Ribu Dolar (ah, enggak begitu…)
Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat (butuh banyak lembar untuk membangun suasana, tapi akhirannya oke juga)

Mohon dimaklumi. Pada masa itu saya baru memulai kebiasaan menuliskan pembacaan. Peace.

Kover Pertempuran Penghabisan
(alias A Farewell to Arms edisi
Indonesia) ada beberapa versi.
Sepertinya saya baca yang kovernya
ini. Sumber.
Bagaimanapun dalam catatan pembacaan karya Hemingway berikutnya, Pertempuran Penghabisan, yang bertanggal “051208”, saya mengatakan kalau saya terkesan dengan Salju Kilimanjaro walau ada beberapa cerpen di dalamnya yang saya tidak mengerti, dan akibatnya saya “sempat menjadikan Hemingway sebagai penulis favorit…” (O_o). Tapi setelah Pertempuran Penghabisan, saya “enggak bisa lebih lama mempertahankan itu.” (ah, labil!) Saya menulis: “…ceritanya… kurang gimana gitu. … aku enggak menangkap esensi lain selain perdamaian itu. … bukan novel yang bisa aku rekomendasikan…” Salju Kilimanjaro masih mending.

Begitulah. Lima tahun berselang. Kali ini saya dihadapkan pada cerpen “Hills Like White Elephants” yang dirilis pada 1927. Teks dalam bahasa Inggris bisa diakses di sini. Terjemahan cerpen ini dalam bahasa Indonesia bisa ditemukan dalam buku Antologi Cerpen Nobel (ed. Wendoko) yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang—cetakan yang ada pada saya adalah yang pertama, Mei 2004—juga di Fiksi Lotus. Pertama-tama, saya membaca cerpen ini sekali dalam teks bahasa Inggris. Pembacaan pertama dalam bahasa Inggris biasanya tidak langsung mengena, buat saya. Khusus untuk “Hills Like White Elephants”, kendati bahasanya cukup simpel dan kesannya pun cair karena didominasi oleh percakapan, saya masih belum dapat menangkap seketika masalah apa yang dikemukakan.

Jadi ada sepasang laki-laki dan perempuan di sebuah bar di area stasiun. Mereka tengah menunggu kereta dari Barcelona yang menuju ke Madrid. Yang laki-laki berasal dari Amerika sedang yang perempuan tidak disebutkan dari mana, namun ia dipanggil “Jig” dan tidak mengerti bahasa setempat. Yang laki-laki tampaknya lebih tahu mengenai berbagai hal daripada yang perempuan. Mulai dari minuman, komunikasi dengan wanita setempat, sampai sesuatu mengenai operasi. Cuaca amat panas dan di sekeliling area tersebut terdapat pemandangan alam. Menurut yang perempuan, bukit-bukit di sekitar situ tampak seperti gajah-gajah putih. Namun yang laki-laki tidak begitu terkesan, malahan membujuk yang perempuan untuk mengikuti “operasi”. Yang perempuan merajuk, sementara yang laki-laki terus mengkhawatirkannya. Pada akhirnya yang perempuan mengatakan kalau ia baik-baik saja.

Source

Sampai mata saya menyoroti barisan pertanyaan di sesi TOPICS FOR DISCUSSION AND WRITING. Ada kata “abortion” di sana. Kalau ada istilah momen “AHA”, maka yang saya rasakan pada waktu itu adalah momen “OH”. Jadi ini cerita tentang aborsi. Yang dimaksud yang laki-laki dengan “operation” adalah “abortion”. Yang laki-laki membujuk yang perempuan untuk melakukan aborsi namun yang perempuan keberatan makanya ia seperti merajuk.

Saya kemudian membaca terjemahan versi Antologi Cerpen Nobel. Tentu saja tidak ada barisan pertanyaan sesudahnya. Kalau saya membaca cerpen ini begitu saja dalam buku tersebut tanpa membaca keterangan mengenainya, saya mungkin akan meninggalkannya begitu saja tanpa kesan apa-apa. Tidak ada kata “aborsi”—“abortion”—sama sekali dalam teks. Dan pembaca sebaiknya telah memiliki pengetahuan yang luas mengenai simbol karena petunjuk mengenai aborsi ternyata terpendam dalam kiasan “bukit-bukit bagai gajah putih”. Bahkan judul cerpen itu sendiri sudah mengindikasikan hal tersebut! Dari keterangan soal aborsi itu kita tahu kalau yang perempuan jangan-jangan hamil. Bukit-bukit yang tampak seperti gajah-gajah putih itu diibaratkan sebagai payudara dan atau perut yang membesar (seperti gajah) ketika seorang perempuan hamil. (Apalagi kalau perempuan tersebut adalah seorang kaukasoid—berkulit putih.)

Terjemahan versi Fiksi Lotus agaknya mencoba untuk memperjelas sedikit cara penyampaian dalam cerpen tersebut. (Walau pembubuhan judul yang tidak sesuai dengan pengertian daripada judul aslinya itu jadinya malah mengaburkan “simbol”/”petunjuk” yang padahal sudah diberikan sejak awal sekali.) Ditambah dengan adanya poin-poin diskusi dan beberapa tanggapan, makna cerpen ini pun menjadi lebih jelas lagi.

Yah, orang bisa menginterpretasikan apapun dari detail-detail yang dianggapnya simbol. Itu pulalah yang membantu kita dalam memahami makna cerita.

Hemingway dipuja-puji karena gayanya yang teramat (kalau bukan keterlaluan) efisien ini. Tapi bagi pembaca yang karakternya “malas berpikir” macam saya, hasilnya hampir-hampir tidak menempel. Kurang menyentuh perasaan. Boleh jadi gaya yang “objektif” itu pulalah yang menjadikannya terasa dingin, datar. Konon, Hemingway itu “…tidak suka membuat kalimat atau paragraf yang terlalu panjang karena khawatir pembacanya justru sulit menangkap/mengerti…” (sumber: sini). Selain itu, menurut kutipan dalam pengantar Salju Kilimanjaro, halaman xvii, “…karya Hemingway bisa digolongkan teks yang writersly, yang mengundang pembacanya untuk ikut menulis, mengisi makna dan interpretasi di antara/di balik baris-baris kalimat yang tersedia.” Tapi kok bagi saya kalimat atau paragraf yang panjang itu lebih baik, asal jelas dan bahasanya sederhana, tidak bertele-tele. Selain itu, masalah mengundang-untuk-ikut-menulis-atau-tidak itu relatif sekali dan agaknya saya tidak perlu memperpanjang corat-coretan ini dengan membahas soal itu. Bisa juga karena Hemingway mengusung tema-tema yang tidak dekat dengan kehidupan saya, semisal asmara dan petualangan, makanya saya tidak tergugah olehnya. (kering sekali hidupmu, day.)

Hemingway memenangkan penghargaan Nobel untuk kategori Sastra pada 1954. (Dan tidak semua pemenang Nobel Sastra seterkenal dia, ya toh?) Maka, katanya begitulah yang dinamakan “karya sastra”. Sebentuk tulisan yang digarap dengan “cantik” dan tidak cukup dibaca sekali melainkan harus diiringi dengan perenungan. Tidak hanya harus berpikir ekstra, pembaca kalau perlu juga mencari keterangan dari manapun—komentar, kritik, biografi penulis, dan sebagainya—supaya lebih mudah baginya memahami karya tersebut. Mencerdaskan, atau merepotkan? Kalau ingin cerdas mesti rela repot kali ya… hm…[] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar