LAINNYA

Senin, 10 Maret 2014

Pada Sebuah Kota


Membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya kuncennya Bandung, (alm.) Haryoto Kunto (PT Granesia, Bandung, cetakan kesatu, April 1986), timbul rasa penasaran untuk menapaktilasi tempat-tempat yang disebutkan, membandingkan foto tempo doeloe yang terpajang di buku dengan keadaan pada zaman sekarang. Misalnya saja Penjara Banceuy yang menjadi tempat Presiden Soekarno menyusun pidato pembelaannya, “Indonesia Menggugat”. Dalam foto di halaman 878 bentuk penjara tersebut masih berupa bangunan panjang dengan pintu-pintu sel berderet di satu sisinya, sedang kini yang tersisa hanya satu sel saja yaitu sel nomor 5 yang dulu dihuni Soekarno, sedang sekelilingnya sudah berupa bangunan-bangunan pertokoan menjulang. Sebut juga monumen “pantat bugil” di Tjitaroem Plein alias Taman Citarum yang penampakannya hanya bisa dilihat di halaman 346, lokasi tersebut kini sudah berganti rupa menjadi Masjid Istiqamah.

Dengan gaya ilmiah-populer yang amat cair, malah seringkali terasa kedodoran karena pembahasan yang merembet ke mana-mana, buku ini sebenarnya cukup ringan untuk dibaca. Banyak pengetahuan menarik yang bisa menambah pemahaman kita akan suatu kota. Misalnya saja, istilah “alun-alun” menurut Prof. Ir. V. R. van Romondt, guru besar Sejarah Arsitektur Indonesia di ITB pada 1960-an, berasal dari kata “alun” yang berarti ombak lautan”. Apa hubungannya “ombak lautan” dengan lahan terbuka di tengah kota? Pada mulanya adalah tradisi “rampogan” di Alun-alun Mataram, di mana ribuan prajurit bertombak mengepung harimau lapar dan ditonton oleh masyarakat. Ketika harimau itu lepas, kocar-kacirlah para penonton hingga tampaknya seperti gerakan ombak di lautan…

Nah, siapa sangka kalau Daendels ternyata berperan dalam menentukan letak alun-alun yang notabene pusat Kota Bandung sekarang? Tahun 1810, Daendels sedang melaksanakan pembangunan Grote Postweg alias Jalan Raya Pos sepanjang 1000 km yang menghubungkan Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan raya ini melewati kota-kota yang antara satu sama lain berjarak 15-60 km. Pengaturan jarak tersebut berdasarkan sistem “kereta-pos” yang tiap jarak tertentu harus berhenti untuk mengganti kuda yang kecapekan, sehingga dibangun pula pos-pos pemberhentian sebagai tempat bermalam para penumpang kereta-pos. Ketika pembangunan mencapai kawasan Bandung, rupanya letak ibukota kelewat jauh dari patok rencana jalan. Daendels pun menitahkan agar bupati Bandung kala itu memindahkan ibukota dari Dayeuh Kolot ke lokasi yang akan dilewati jalan raya pos. Maka setelah hitung-hitungan teknis dan mistis, terpilihlah lokasi pusat kota yang sekarang ini.

Namun pada masa itu sebagian kawasan Bandung terutama bagian selatan masih berupa rawa-rawa yang jarang ditumbuhi pepohonan. Gundul, gersang, dan tidak sehat untuk dihuni. Bupati Bandung pada masa itu, R. A. A. Martanegara (yang kini namanya diabadikan menjadi nama jalan di dekat rumah saya) membangun saluran irigasi serta mengeringkan lahan untuk mengatasi buruknya lingkungan. Menyongsong abad 20, barulah Belanda melihat sisi Bandung yang potensial untuk dijadikan kota koloni. Konsep pembangunan Kota Bandung dipengaruhi oleh konsep “Garden City” dari Ebenezer Howard yang disesuaikan dengan iklim tropis. Maka jadilah Bandung pada masa itu hijau lestari karena ditata oleh orang-orang Eropa yang gandrung akan taman, dengan bangunan-bangunan yang berwajah Eropa sehingga dijuluki Parijs van Java. Tapi namanya juga kota koloni. Biarpun presentase pemukim Eropa di Bandung hanya 12 % (tertinggi di antara kota-kota lainnya di Nusantara), namun 52 % dari luas kota diperuntukkan bagi mereka saja.

Pendudukan Jepang pada 1940-an menyingkirkan koloni Belanda, disusul oleh kemerdekaan Indonesia, dan kota pun menjadi milik pribumi sepenuhnya (benarkah?). Bukan hanya Belanda yang minggat, taman-taman pun ikut “lewat”. Lahan-lahan hijau yang dulu dibikin Belanda untuk menyegarkan kota satu per satu dikorbankan demi pem”bangunan”—pendirian bangunan-bangunan apapun fungsinya hingga berjejal dan menjadikan kota terasa sesak. Masalah lingkungan pun bertambah-tambah. Dari banjir sampai polusi. Kesadaran lingkungan yang hinggap pada segelintir orang seolah tiada artinya dibandingkan ketidakpedulian kebanyakan warga. Wajah dan tubuh nan molek-rupawan melenggang di jalanan kota yang ditebari oleh sampah—alangkah kontrasnya! Tapi itulah pemandangan sehari-hari di Kota Bandung.

Maka buku ini mengandung pula kritikan bagi warga kota yang masih tidak acuh pada lingkungan di sekitarnya. Patutlah dibaca oleh siapapun pemangku kepentingan di Kota Bandung, mulai dari walikota, pegawai pemerintahan, sampai mahasiswa. Tebal buku yang mencapai 1.116 halaman memang bisa bikin keder. Daftar kepustakaannya saja sepanjang enam belas halaman dan meliputi judul-judul berbahasa Indonesia, Inggris, Belanda, serta sedikit Jerman dan Sunda. Saya pun membacanya dengan mencicil satu bab per hari. Setelah khatam, rasanya jadi ingin tumpengan.

Sayangnya buku ini terbilang langka sehingga tidak siapapun bisa mengaksesnya. Penulisnya pun sudah meninggal. Padahal saya berandai-andai buku ini dicetak ulang karena informasi-informasi di dalamnya masih menarik dan relevan kendati sudah tiga puluh tahun berlalu. Tentunya dengan penyesuaian-penyesuaian semisal pada penjabaran mengenai rencana induk Kota Bandung yang pada masa itu baru sampai pada 2005.

Seumur hidup saya baru menemukan buku ini sebanyak tiga biji: di stan Lawang Buku kala Pesta Buku Bandung; di rumah seorang kawan; dan di lemari yang menyimpan koleksi buku Mama. Tapi agaknya lebih langka lagi buku pendahulunya yakni Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Selain di stan Lawang Buku pada Pesta Buku Bandung entah berapa tahun lalu, saya baru melihatnya sebagai properti Komunitas Aleut yang dibawa-bawa acap kali rute ngaleut mencakup kawasan kota. Maklum, yang pertama disebut diterbitkan pada 1986 sedangkan yang satunya pada 1984. Semerbak Bunga di Bandung Raya tampak jauh lebih tebal ketimbang buku sebelumnya. Saya tidak memiliki apalagi pernah membaca Wajah Bandoeng Tempo Doeloe sehingga tidak bisa membandingkan isi kedua buku tersebut. Namun buku yang pertama terbit sering kali disebut-sebut sebagai referensi dalam buku yang selanjutnya. Dengan begitu, bolehlah dikira bahwa buku yang kedua merupakan pemaparan yang lebih komprehensif mengenai sejarah Kota Bandung.

Dari judul, bahkan warna kover, dan tinjauan isi buku secara umum, bolehlah diduga kalau Semerbak Bunga di Bandung Raya mengulas sejarah Kota Bandung khusus dari aspek lingkungan hidup. Padahal tidak begitu juga. Dari dua puluh satu bab, saya menandai hanya sepuluh bab yang bahasannya mendekati bidang perhutanan kota yaitu bab V–bab X dan bab XIV–VII. Lainnya walaupun tidak menjurus langsung dengan perhutanan kota, namun masih berhubungan dengan alam yaitu bab IV dan bab XVIII yang membahas tentang air serta bab II mengenai aspek geologi dan prasejarah. Selebihnya meninjau sejarah kota dari aspek kultural seperti bab III yang mengeksplorasi khazanah legenda serupa Sangkuriang di berbagai daerah lainnya di dunia, serta bab XI–XII yang mengusut muasal alun-alun sejak zaman Mataram sampai pemerintahan Daendels. Bab XIII mengangkat secara khusus kekayaan kuliner di Kota Bandung yang pada “zaman normal” bisa dinikmati hingga larut malam. Adapun pada bab-bab terakhir dibicarakan masalah penataan kota yang sejak tiga puluh tahun lalu saat buku ini ditulis sampai sekarang masih saja semrawut!

Sungguhpun begitu, dengan pembenahan-pembenahan di seantero kota yang mulai tampak sejak terpilihnya walikota yang baru, didukung oleh komunitas-komunitas yang makin hidup geliatnya, mudah-mudahan Bandung menjadi makin nyaman untuk ditinggali dan sejahtera pula warganya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar