LAINNYA

Rabu, 12 Maret 2014

Gerakan Indonesia Menulis: Motivasi dan Realita

Kamis, 6/3/14, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (selanjutnya Kemenparekraf) menyelenggarakan semacam seminar mengenai Gerakan Indonesia Menulis di Hotel Golden Flower, Jalan Asia-Afrika (dekat perempatan sekitar Pasar Baru), Bandung. Jumlah peserta hanya sekitar tiga puluhan orang. Publikasi acara ini memang tidak besar-besaran. Para peserta datang karena undangan. Acara serupa sebelumnya telah diadakan di beberapa kota lain. Mendengarkan keterangan dari penyelenggara acara, saya seakan baru ngeh kalau industri kepenulisan itu ternyata masuk juga ke dalam bidang ekonomi kreatif. Maka penulis juga bisa disebut sebagai pekerja kreatif. Wow. Pemerintah ternyata menaruh perhatian juga pada kalangan penulis. (Mudah-mudahan saya tidak terlampau naif.)

Dalam struktur organisasi Kemenparekraf, di ranting dasar terdapat Subdirektorat Pengembangan Tulisan Fiksi dan Nonfiksi, yang bercabang lagi menjadi Seksi Tulisan Fiksi dan Seksi Tulisan Nonfiksi. Bidang ini memang masih baru dan jumlah stafnya pun tidak banyak. Berbeda dari Diknas yang konsentrasinya pada anak-anak sekolah, Kemenparekraf hendak merangkul komunitas-komunitas dan harapannya dapat menjembatani penulis dengan penerbit. Sedikitnya yang mereka lakukan adalah menyelenggarakan acara semacam Gerakan Indonesia Menulis ini, dan kompetisi menulis yang diadakan sejak 2012. (Katanya kompetisi ini akan diadakan lagi April mendatang—coba pantau www.indonesiakreatif.net.) Hasil daripada kompetisi yang berupa buku kumpulan karya kreatif (puisi, cerpen, dan novel) itu dibagi-bagikan dalam acara, namun sepertinya distribusinya terbatas. Kalau dicari di toko buku sepertinya tidak ada. Padahal bisa kerja sama dengan penerbit yang beken ya. Tapi katanya penerbit pun sedih karena hanya sedikit masyarakat yang gemar membeli buku. Tapi bagaimana mau membeli buku, untuk makan sehari-hari saja harus perhitungan. Yang sebenarnya mampu membeli buku, malah mengoleksi baju. Namanya juga ekonomi. Orang harus menentukan pilihan. Kenapa buku mesti lebih menarik ketimbang baju? Persoalannya lantas bukan hanya daya beli (atau kesejahteraan), tapi minat baca pun memprihatinkan.

Acara yang menurut rundown harusnya dibuka pada pukul sembilan pagi ini baru dimulai sekitar sejam kemudian. Terdapat dua sesi yang kalau boleh saya katakan sesi pertama adalah sesi motivasi sedangkan sesi kedua adalah sesi realita.

Sesi pertama dilangsungkan sebelum waktu zuhur alias istirahat-salat-makan, durasinya hampir 1,5 jam. Materi yang diungkapkan dalam sesi ini adalah mengenai manfaat menulis baik secara mental maupun finansial, pentingnya membaca, tips-tips menulis ala Ernest Hemingway dan Paulo Coelho, latihan-latihan yang bisa dikerjakan di rumah, sampai kebajikan dari tokoh samurai Jepang—Musashi. Manfaat menulis secara mental ditunjukkan dari hasil penelitian James W. Pennebaker dari Departemen Psikologi University of Texas, Austin, Amerika Serikat, bahwa kelompok pasien asma yang menulis selama dua puluh menit sehari lebih cepat sembuh ketimbang kelompok yang tidak menulis. (Lalu kenapa para penulis besar seperti Virgina Woolf, Ernest Hemingway, dan Akutagawa Ryunosuke tetap bisa kena depresi dan pada akhirnya bunuh diri?) Menulis pun bisa memberikan keuntungan finansial. Orang umumnya sudah mengetahui bagaimana kesuksesan para penulis kesohor macam JK Rowling, Andrea Hirata, Dewi Lestari, dan sebagainya. (Tapi jumlah mereka berapa persen sih dibandingkan para penulis yang hidupnya morat-marit?).

Namun untuk menggapai keuntungan daripada menulis itu tentunya dibutuhkan laku yang kontinyu atau latihan-latihan-latihan, dan banyak membaca. Membaca yang bukan asal membaca tentunya, yang bukan sekadar menyapu kata-kata dengan mata. Melainkan membaca sambil menganalisis. Ada proses dialog antara pembaca dan teks. Membaca kritis. Membaca membutuhkan keterampilan sendiri yang kiranya tidak diajarkan di semua sekolah di negeri kita, tapi untunglah ada buku-buku mengenai itu yang bisa dipelajari sendiri kalau kita mau blusukan ke rak koleksi luar negeri di perpustakaan universitas-universitas. Sebetulnya ada juga beberapa buku keterampilan membaca dalam bahasa Indonesia namun maaf saya tidak ingat judul-judulnya. Mudah-mudahan mudah pula menemukannya di toko buku.

Yang paling menempel adalah cerita pemateri tentang Musashi, Paulo Coelho, dan orang yang belajar memanah. Musashi yang samurai Jepang itu pada masa mudanya terkenal berangasan, namun setelah berguru pada Biksu Takuan dan dikeram dalam ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku, ia mampu mengendalikan dirinya dan berkembang secara spiritual (atau semacam itu). Sejak itu saya terngiang-ngiang akan buku karangan Eiji Yoshikawa tentang samurai kenamaan itu yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tebal sekali, tampak bersandar di tepi bawah salah satu rak di Bandung Book Centre Palasari bagian dalam—langsung mengadang begitu kita memasuki toko tersebut.

Adapun Paulo Coelho adalah pengarang favorit pemateri sehingga maklum kalau sering disebut-sebut. Begini kutipan dari sang pengarang.

The slightest gesture betrays us, so we must polish everything, think about details, learn the technique in such a way that it becomes intuitive. Intuition has nothing to do with routine, but with the state of mind that is beyond technique.

Terjemahan bebasnya: kalau kita lihat seorang pemanah berlatih, bidikannya tidak mesti tepat mengenai sasaran. Tapi dengan memanah terus-menerus walau tampaknya tidak terarah itu sebenarnya ia sedang melatih intuisi. Saya juga pernah terpikir menulis ibarat belajar berenang. Orang yang baru belajar berenang mulai dari mencipak-cipakkan tangan dan kaki di kolam dangkal, membiasakan tubuhnya dengan air hingga mencapai kelenturan, barulah kemudian ia berhasil mengambang dan meluncur di kolam dalam. Maka saya pikir sebelum orang bisa menghasilkan tulisan yang mendalam, ia mungkin perlu menulis (dan membaca) sebanyak-banyaknya biarpun hasilnya dangkal. Agaknya dengan begitu lama-lama ia berhasil mencapai kedalaman.

Setelah isama, acara memasuki sesi kedua yang durasinya hampir 2,5 jam. Pemateri kali ini aktif dalam dunia digital sehingga beliau bicara banyak mengenai fenomena media sosial. Banyak perkataan menohok yang dilontarkannya. Maklum. Realitanya begitu sih. Sekarang ini orang bisa mempublikasikan apapun tanpa perlu suntingan terlebih dulu. Lantas yang terpenting adalah apakah itu disukai atau tidak, sedang bagus atau jelek urusan belakangan! Dan, “disukai atau tidak” itu tidak mesti ditentukan oleh faktor karya itu sendiri, melainkan bisa jadi lebih karena faktor penulisnya yang memang populer. Maka menjadi penulis bukan semata persoalan menulis, tapi juga bagaimana membangun kepribadian.

Penulis yang berpengaruh belum tentu penulis yang paling banyak dibaca. Pemateri bertanya pada para peserta di dalam ruangan: “Siapa yang kenal Budi Darma?” Yang mengacung bisa dihitung jumlahnya dengan jemari sebelah tangan. Padahal banyak penulis yang mengaku terpengaruh oleh Budi Darma. Contohnya, Djenar Maesa Ayu. Kenyataannya, yang terpengaruhi justru lebih beken dari yang memengaruhi.

Agak ekstrim mungkin ketika dikatakan bahwa penerbitan buku-buku yang tidak bermutu itu secara tidak langsung sebenarnya mendukung perusakan lingkungan hidup. Pohon itu makin langka! Kertas itu mahal! Dengan adanya media digital sebagai alternatif semestinya ada keketatan dalam menyeleksi naskah mana yang benar-benar patut dicetak dan mana yang sepantasnya berdiam di blog saja. Pemateri dalam sesi pertama yang notabene bekerja di penerbitan mengungkapkan bahwa memang ada dilema dalam menentukan naskah yang hendak diterbitkan. Pernah ia diberi naskah fantasi terjemahan yang menurutnya tidak layak. Namun ketika naskah tersebut diterbitkan oleh penerbit lain, hasilnya ternyata best seller.

Selain materi dari dua pembicara, peserta diberikan semacam pre test dan post test. Nomor terakhir dalam post test berisi pertanyaan yang isinya kira-kira begini: “Masalah apa yang dihadapi dalam menulis dan bagaimana solusinya?” Saya pun menjawab: “Masalah: malas dan pesimis. Solusi: Tetap berusaha belajar untuk menulis dengan sebaik-baiknya.” Kalau boleh pinjam istilah Prof. Yohanes Surya, Ph. D. dalam artikelnya tentang "mestakung" (suplemen MUDA, KOMPAS, 20/10/06), saat ini saya merasa berada di "titik point of no return". Ditambah pertanyaan Adele dalam lagu “Chasing Pavements”, “Should I give up or should I just keep chasing pavements, even if it leads nowhere?” Kalau give up, usaha selama ini akan sia-sia. Selama ini.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar