LAINNYA

Senin, 17 Maret 2014

Pengantar ke Dunia Sejarah

Buku Sejarah dan Sejarawan yang ditulis oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dan diterbitkan oleh PN Balai Pustaka ini tebalnya hanya 24 halaman. Di halaman paling akhir, terdapat titimangsa: “Jakarta, 28 Oktober 1963”. Pertama kali diterbitkan pada 1964 dan dicetak ulang pada 1984, buku ini tentunya telah mengalami perubahan ejaan dari ejaan lama alias Ejaan Republik (1947) menjadi Ejaan yang Disempurnakan (1972). Ibu saya memperolehnya pada 29 September 1987 dengan harga 675 rupiah saja. Ringan bobotnya, ringan pula penyampaiannya. Ukuran hurufnya pun cukup besar. Sepertinya pas bagi yang baru ingin mendekati sejarah, sebelum mencicipi sejarah itu sendiri.


Jadi apakah sejarah itu? Peristiwa atau kisah? Ilmu atau seni? Apa gunanya? Siapakah sejarawan itu dan mungkinkah ia objektif dalam menuliskan karyanya? Bagaimana peranan sejarawan dalam masyarakat? Penjelasan daripada pertanyaan-pertanyaan tersebut terhimpun dalam lima bab yang saya coba sarikan sebagai berikut.

I.                    Sejarah sebagai Peristiwa dan Sejarah sebagai Kisah

Sejarah bisa berarti kisah tentang masa lampau, dan bisa pula berarti masa lampau itu sendiri (peristiwa). Pada hakikatnya yang kita hadapi adalah sejarah sebagai kisah atau lebih tepatnya sebagai karya orang yang menuliskannya, yakni sejarawan. Sejarawan menyusun karyanya berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh sejarah sebagai peristiwa. Jejak-jejak tersebut dapat berupa benda (bangunan, senjata, patung, dan lain-lain), tulisan (surat, majalah, dokumen, dan lain-lain), dan keterangan lisan.

II.                  Sejarah: Ilmu atau Seni?

Cara menuliskan kisah sejarah sebetulnya tidak seberapa berbeda dengan kisah sastra yang merupakan karya seni. Sungguhpun begitu, kisah sejarah tergolong kisah nyata. Sejarawan menggunakan cara-cara ilmiah dalam menganalisis sumber-sumber yang akan digunakannya. Tiap sumber diteliti sungguh-sungguh sehingga dapat dipercaya lalu dijadikan bahan untuk penulisan sejarah. Namun sejarah barulah disebut sejarah apabila bahan-bahan tersebut telah diolah dan dirangkai secara selaras sehingga menjadi suatu kisah. Adapun apabila hanya berupa daftar tahun dengan keterangan peristiwa di belakangnya, itu bukanlah sejarah melainkan kronik. Walaupun bahan-bahan yang digunakan telah teruji secara imiah, namun penulisannya tidak lepas dari penafsiran sejarawan. Bahan boleh sama, tapi dua orang sejarawan akan menuliskan dua kisah yang berbeda berdasarkan penulisan dan penyimpulan masing-masing. Bisa disimpulkan bahwa dalam taraf penelitian sumber-sumber, sejarah bersifat ilmiah, sedang dalam taraf penyimpulan dan penulisannya, sejarah bersifat seni. Maka sejarawan harus menggabungkan sifat seorang sarjana dan seorang seniman.

III.                Sejarawan dan Subjektivitas Sejarah

Mengapa dua orang sejarawan dapat menuliskan dua kisah yang berbeda mengenai peristiwa yang sama dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti: sikap berat sebelah pribadi, semisal sejarawan bisa saja menyukai tokoh-tokoh tertentu dan membenci yang lain; prasangka kelompok, semisal sejarawan Islam akan mempunyai pandangan yang berbeda dengan sejarawan Kristen mengenai Perang Salib; interpretasi berlainan tentang faktor sejarah, semisal apakah faktor politik internasional, faktor militer, atau faktor ekonomi yang menjadi pengaruh terbesar terhadap terjadinya suatu peristiwa?; dan pandangan dunia yang berbeda-beda, semisal tafsiran sejarawan keagamaan akan berbeda dengan sejarawan Marxis. Oleh sebab itu, objektivitas mutlak di dalam sejarah itu tidak mungkin. Sejarah sebagai kisah pada pokoknya bersifat subjektif, sesuai dengan kepribadian dan pandangan sejarawannya. Sungguhpun begitu, setiap sejarawan tetap harus mengusahakan objektivitas dalam keterbatasannya.

IV.                Apa Guna Sejarah?

Sedikitnya ada tiga manfaat yang bisa kita peroleh dari sejarah, yaitu: memberi pelajaran, memberi inspirasi, dan memberi kesenangan. Dari Perang Kemerdekaan Amerika misalnya, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kemenangan bisa dicapai oleh pihak yang lemah berkat mengombinasikan perang kerakyatan yang gigih dengan diplomasi yang ulung. Dari pelajaran tersebut, kita mungkin terinspirasi dan tergerak jiwanya untuk ikut serta dalam mencetuskan suatu peristiwa besar. Adapun kesenangan dapat kita peroleh dari sejarah apabila kisah tersebut dituliskan dengan bagus sebagaimana sebuah karya sastra. Kita pun merasa dibawa melintasi waktu dan tempat, seolah menyaksikan kejadian-kejadian dalam suasana yang berlainan dengan suasana kita sekarang.

V.                  Peranan Sejarah dalam Masyarakat

Sejarawan seyogianya dapat memenuhi tiga kegunaan sejarah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dalam konteks Indonesia, penulisan sejarah harus diarahkan pada upaya menggapai cita-cita sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Sejarah Indonesia harus menekankan persatuan mengingat rakyat negeri ini yang majemuk. Dalam konteks dunia, sejarah hendaknya dapat menjadi pelajaran untuk menghindarkan malapetaka sejagat. Sungguhpun begitu, bukan berarti sejarawan harus merekayasa kenyataan dengan hanya mengedepankan peristiwa-peristiwa menyenangkan dan menggelapkan peristiwa-peristiwa memalukan.

Masih lebih banyak buku sejarah Indonesia yang ditulis oleh orang luar negeri ketimbang oleh orang Indonesia sendiri. Sebagaimana tertera dalam bab pertama buku ini, “Sudah tiba saatnya orang Indonesia menuliskan sendiri sejarahnya…” (halaman 9).  Terlepas dari masalah perbedaan kualitas penulisan antara “produk luar” dan “produk lokal”, sejarah Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri, dengan keunikan kepribadian dan pandangan yang mewakili bangsanya, sekiranya dapat menjadi sebuah refleksi. Dan refleksi adalah awal dari perubahan. Perubahan ke arah yang baik, mudah-mudahan.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar