LAINNYA

Minggu, 02 Maret 2014

Trotoar Gelap Jalan Ganesa

Kamis (27/2/14) sekitar pukul tujuh malam saya berjalan beriringan bersama seorang kenalan menyusuri Jalan Ganesa—dari Masjid Salman menuju Jalan Ir. H. Juanda. Kenalan saya enggan menapak trotoar karena takut. Saya yang heran pun bertanya apa gerangan dia pernah mengalami kejadian tertentu di trotoar tersebut. Saya perhatikan penerangan di trotoar sisi kanan kami itu hanya berasal dari deretan rumah di sampingnya. Itupun tidak terang amat namun tentu aneh kalau saya menyebutnya “peredupan” apalagi “penggelapan”—konteksnya sudah berbeda. Adapun sisi lain trotoar, berbatasan dengan jalan raya, rimbun oleh jalur hijau mulai dari tanaman hias sampai pepohonan yang berpotensi menambah kesan seram. Namun trotoar itu juga tidak sepi amat. Tidak sedikit orang yang melintas di sana, juga duduk-duduk di bangku yang tersedia. Mungkin kenalan saya itu takut diganggu entah siapa. Saya sendiri biasanya melalui trotoar itu tiap ke/dari Masjid Salman/ITB apabila dari/menuju Jalan Ir. H. Juanda, dan selama ini aman saja entah sedang terang atau sudah gelap. Mengenai gangguan di ruang publik ini saya teringat pengalaman saya kala bertemu ekshibisionis di Taman Balaikota beberapa minggu lalu. Waktu itu siang benderang, saya dan kawan mengobrol sembari lesehan beralaskan rerumputan di salah satu sisi taman. Saking asyiknya bicara, entah setelah berapa lama saya baru menyadari kalau bapak-bapak yang duduk beberapa meter jauhnya sedang mempertontonkan “jamur merah”-nya ke arah kami. Hiii… Kontan saya mengajak kawan saya itu untuk pindah pelan-pelan. Kembali pada situasi di malam Jumat, saya pun bisa mafhum ketakutan kenalan saya itu akan gangguan yang mungkin terjadi di tempat gelap semacam trotoar Jalan Ganesa itu. Maka kami berjalan di jalan aspal. Posisi kenalan saya di sebelah kanan, dekat jalur hijau yang memagari trotoar, sedang saya di kiri, dekat kendaraan yang sesekali berdesing melaju melawan arah kami. Kecepatan rata-rata kendaraan lumayan juga karena jalanan cukup lowong. Sempat dari arah berlawanan tersebut datang motor yang digas kencang-kencang. Saya pun bilang pada kenalan saya itu, “Saya malah lebih takut kalau jalan di sini.” “Kenapa gitu?” tanggapannya. “Soalnya ini jalan kendaraan.” Rentan keserempet. Dia tampaknya mesem-mesem saja. Untung kami sudah dekat dengan belokan yang menjadi titik perpisahan kami—dia hendak menyetop angkot sedang saya terus ke kanan hendak ke kawasan Jalan Merdeka. Segera saya menjejakkan kaki di bebatuan yang mengalasi trotoar. Leganya kembali ke jalan yang benar! []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar