LAINNYA

Sabtu, 03 November 2012

Untuk Wanita-wanita Kesepian


Mengenakan fur—semacam penghangat leher yang terbuat dari bulu hewan—merupakan tren bagi wanita pada tahun 1920-an, dan belum dianggap sebagai suatu kejahatan. Miss Brill memiliki sebuah fur yang ia hendak kenakan untuk menonton pertunjukan musik di taman pada suatu Minggu sore.

http://www.hatshapers.com/Old%20Postcards.htm
Tidak biasanya  tempat tersebut ramai dikunjungi orang. Sepasang lansia duduk di bangku “spesial” Miss Brill. Miss Brill yang doyan menguping kecewa karena pasangan tersebut tidak bicara pada satu sama lain, mereka seperti patung. Minggu lalu suami-istri dari Inggris yang berada di tempat tersebut. Istri mengeluh soal kacamata, yang dengan sabar ditanggapi oleh suami. Bukan peristiwa yang mengenakkan juga bagi Miss Brill.

Miss Brill pun mengamati orang-orang lain. Ia melihat orang-orang yang duduk di bangku, tampak sama dari Minggu ke Minggu, aneh, pendiam, hampir semuanya tua, dan dari cara mereka memandang mereka seperti berasal dari ruangan yang gelap dan sempit.

Ia juga melihat bagaimana seorang wanita cantik menjatuhkan bawaannya, yang diambil oleh seorang bocah untuk diserahkan pada wanita itu lagi, tapi wanita itu malah membuangnya seolah barang tersebut telah beracun.

Seorang wanita dengan topi ermine (sejenis cerpelai) mendekati seorang pria. Wanita itu tampak senang dan mengajak pria tersebut mengobrol, tapi sang pria malah mengepulkan asap rokok ke wajah tersebut lantas pergi begitu saja. Wanita itu pun sendirian, tapi ia segera mendekati orang lain dengan lebih ramah.

Miss Brill sangat menikmati mengamati orang-orang, seperti sebuah pertunjukan drama. Semua berada di atas panggung, termasuk dirinya. Ingatannya melayang pada seorang pria yang ia bacakan koran setiap empat sore dalam seminggu, yang kondisinya sudah seperti orang mati. Tapi tiba-tiba pria itu menyadari kalau selama ini wanita yang membacakan koran untuknya adalah seorang aktris!

“Yes, I have been an actress for a long time.”

Seiring dengan band yang terus bermain, Miss Brill membayangkan orang-orang turut bernyanyi.

Sepasang remaja kemudian duduk di bangku “spesial” Miss Brill, menggantikan pasangan lansia yang semula di situ. Sembari masih bernyanyi tanpa suara, Miss Brill mendengarkan percakapan sepasang kekasih tersebut, bagaimana mereka mengolok-olok fur yang ia kenakan.

Di perjalanan pulang Miss Brill biasa membeli cake madu. Kadang ia mendapatkan almond pada irisan cake tersebut, kadang tidak. Keberadaan almond baginya bagai sebuah hadiah kecil, sebuah kejutan. Tapi hari itu ia melewati toko roti begitu saja, langsung menuju kamarnya yang gelap dan sempit seperti lemari. Beberapa lama ia duduk saja, sebelum melepaskan fur-nya dengan cepat, tanpa melihat, lalu mengembalikannya ke kotak. Setelahnya ia seperti mendengar tangisan.  

***

Cerpen karya Katherine Mansfield ini membuat saya ingin memainkan biola terkecil di dunia.


Bagaimanapun cerpen dibuka dengan mood baik Miss Brill, begitu seterusnya meski beberapa kali ia melihat hal yang tidak ia sukai, hingga ia bertemu dengan sepasang kekasih yang membicarakan dirinya. Musik yang dimainkan oleh band di taman tersebut seolah menggambarkan suasana yang berganti-ganti.

Tapi beberapa detail dalam cerpen ini menunjukkan bagaimana Miss Brill sebenarnya merupakan sosok yang kesepian. Ia mengisi kekosongan dari hatinya dengan mengamati orang-orang.

She had become really quite expert, she thought, at listening as though she didn’t listen, at sitting in other people’s lives just for a minute while they talked round her.

Walaupun ia tidak mengenal orang-orang tersebut, sehingga ia mendeskripsikan mereka dari apa yang mereka kenakan.

Ia juga berusaha menyangkal perasaan negatif dalam dirinya.

And when she breathed, something light and sad—no, not sad, exactly—something gentle seemed to move in her bosom.

…and it also explained why she had quite a queer, shy feeling at telling her English pupils how she spent her Sunday afternoons.

And what they played was warm, sunny, yet there was just a faint chill—a something, what was it?—not sadness—no, not sadness—a something that made you want to sing.

Bahkan di akhir cerita pun ia menyangkal kalau ia yang menangis.

But when she put the lid on she thought she heard something crying.

Dan barangkali keberadaan almond dalam cake, yang ia anggap sebagai hadiah/kejutan, merupakan caranya untuk menghibur diri.

Pengarang bahkan tidak menyebutkan nama depan Miss Brill sama sekali di sepanjang cerpen, seolah menunjukkan bahwa Miss Brill tidak memiliki teman yang bakal memanggilnya dengan nama tersebut.

Dengan demikian Miss Brill begitu sayang pada fur-nya, seolah benda tersebut adalah sahabatnya. Ia bahkan memanggil benda tersebut “little rogue”, yang mana kata tersebut merujuk pada orang yang bersikap buruk namun tidak berbahaya, seperti seorang pria. Barangkali Miss Brill merindukan seorang pria.

Miss Brill menolak untuk teridentifikasi dengan orang-orang yang barangkali lebih menyerupai dirinya…

Other people sat on the benches and green chairs, but they were nearly always the same, Sunday after Sunday, and—Miss Brill had often noticed—there was something funny about nearly all of them. They were odd, silent, nearly all old, and from the way they stared they looked as though they’d just come from dark little rooms or even—even cupboards!

(bandingkan dengan penggalan dari paragraf terakhir ini:

But today she passed the baker’s by, climbed the stairs, went into the little dark room—her room like a cupboard—and sat down on the red eiderwood.)

…namun dapat bersimpati dengan wanita bertopi ermine yang bisa jadi seorang pelacur.

Saya coba memahami kenapa Miss Brill tidak senang dengan sepasang lansia yang tidak saling bicara, istri yang rewel sedang suami berusaha menghibur, orang-orang yang duduk di bangku dan diam saja, wanita yang membuang kembali barang yang telah diambilkan seseorang untuknya, serta pria yang tidak mengacuhkan wanita bertopi ermine. Menurut saya alasan Miss Brill lebih dari sekadar yang terkemuka dalam cerpen maupun ulasan-ulasan mengenai karya tersebut yang saya baca. Miss Brill sebagai orang yang sendiri dan kesepian, sedang orang-orang yang ia amati sebagai orang yang memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lainnya, tapi tidak termanfaatkan dengan baik. Barangkali hari Miss Brill bakal lebih indah ketika ada yang mau mengobrol dengannya, sehingga menjadi pengalaman yang berkesan bahkan berarti baginya, dan bukannya malah membicarakannya diam-diam.

***

Cerpen ini menunjukkan bagaimana suatu karakter dapat ditampilkan secara utuh tapi ringkas, walaupun karakter tersebut tidak secara langsung mengungkapkan bagaimana dirinya. Beberapa ulasan yang saya baca mengatakan kalau cerpen ini pun merupakan bahan yang baik untuk mempelajari ironi dan simbolisme. Misal bagaimana Miss Brill mencemooh sosok-sosok yang sebenarnya menyerupai dirinya, juga pada detail-detail yang membantu mengungkap makna seperti “fur”, “rogue”, “nose”, dan sebagainya.

Lucu mengingat bagaimana di awal cerpen Miss Brill memerhatikan fur­-nya yang dilengkapi anggota tubuh hewan itu…

But the nose, which was of some black composition, wasn’t at all firm. It must have had a knock, somehow.

…sementara di akhir ia menyadari kenyataan (getting hit onthe nose) pahit mengenai hidupnya.

Sendiri Itu tidak Indah. Solitude Is not Bliss. Walaupun Sakit Sendiri memang bisa memantik inspirasi. 


Antitesis dan perenungan untuk
Sendiri Itu Indah - Seurieus
Solitude Is Bliss - Tame Impala
Sakit Sendiri - Rumah Sakit


Referensi
Barnet, S. 1991. The Harper Anthology of Fiction. New York: HarperCollins Published Inc. (bisa juga dibaca di sini)
http://www.enotes.com/miss-brill/
http://en.wikipedia.org/wiki/Miss_Brill
http://www.jstor.org/discover/10.2307/373778?uid=3738224&uid=2&uid=4&sid=21101200862223
http://www.helium.com/items/1535684-the-short-fiction-mastery-of-katherine-mansfield-as-seen-in-miss-brill
http://grammar.about.com/od/developingessays/a/brillessay.htm


Tambahan
Cerpen ini pernah diadaptasi menjadi film pendek, dalam versi modern pula. Rada wagu sih, tapi tonton aja deh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar