Saya serasa sering melihat novel ini, “The White Tiger” (2010, Yogyakarta: Sheila/Penerbit ANDI), dijual dengan harga begitu murah, antara lain di Togamas Gejayan, Yogyakarta. Saya tidak tahu bahwa novel ini mengandung “sesuatu”, sampai saya tertarik dengan istilah “black comedy”, mencari penjelasan tentang istilah tersebut di Google, dan menemukan bahwa “sesuatu” itu adalah “black comedy”, atau kita padankan saja jadi “komedi suram”.
Pengarang novel ini mampu menampilkan
sisi-sisi buruk negerinya dengan cara yang bikin saya tersenyum bahkan tertawa
kecil.
Satu fakta tentang India adalah: putarbalikkan pernyataan apa pun yang Anda dengar dari perdana menteri kami tentang negara ini dan Anda akan mendapatkan informasi sebenarnya. Nah, Anda sudah mendengar bahwa Ganga disebut sungai emansipasi dan setiap tahun ratusan turis Amerika datang untuk memotret para sadhu telanjang di Hardwar atau Benaras, dan perdana menteri kami pasti menggambarkannya persis seperti itu, lalu membujukmu untuk berendam di sungai tersebut.
Jangan!—Mr. Jiabao, saya sarankan Anda tidak berendam di sungai Ganga kecuali Anda ingin mulut Anda dipenuhi kotoran manusia, jerami, potongan tubuh manusia yang sudah lembek, potongan busuk mayat kerbau, serta tujuh macam limbah industri berbahaya. (hal. 16 – 17)
Anak-anak—terlalu kurus dan pendek untuk umur mereka dan dengan kepala yang terlalu besar serta sorot mata tajam, mereka ibarat perasaan bersalah pemerintah India. (hal.21)
Dokternya tidak datang. Sekitar pukul enam hari itu, seperti yang pastinya tercatat di buku besar pemerintah, ayah saya sembuh dari tuberkulosis, untuk selamanya. (hal. 55)
“…Batu bara bisnis yang kotor.” Dia menguap lagi. “Aku dulu jadi sopir untuk pria yang menjual batu bara. Bisnis yang sangat busuk. Tapi, bosku yang sekarang bisnis baja dan dia membuat semua pebisnis batu bara terlihat seperti orang suci. …” (hal. 135)
Polusinya sangat parah sehingga para pengendara motor dan skuter mengikat sapu tangan untuk menutupi wajah—setiap kali kau berhenti di lampu merah, tampak sederet pria dengan kacamata hitam dan masker penutup wajah, seakan seluruh kota keluar untuk merampok bank hari itu. (hal. 142)
Saya melihat dia mengeluarkan uang seribu rupee, mengembalikannya ke dompet, mengeluarkan uang lima ratus rupee, mengembalikannya ke dompet, lalu mengeluarkan seratus rupee.
Dia memberikannya kepada saya. (hal. 281)
Merasa lucu sekaligus miris atas derita
orang lain, itulah esensi komedi suram.
Secara simpel novel ini menceritakan
kehidupan Balram Halwai, seorang pemuda dari Desa Laxmangarh di Distrik Gaya,
India. Kehidupan di kampung ini tidak mudah. Satu rumah bisa dihuni belasan
orang. Kerbau lebih dimuliakan dari manusia. Pernikahan menjadi ajang keluarga
mempelai pria untuk memeras keluarga mempelai wanita. Orangtua tidak punya
waktu untuk menamai bahkan mencatat tanggal kelahiran anaknya. Jelata mesti
menciumi kaki tuan tanah untuk mendapatkan pekerjaan apa saja. Tiang listrik
tidak berfungsi, keran air rusak. Guru meludahi sudut-sudut kelas dan mencatut
bantuan untuk para murid. Suatu hari Bahram dikeluarkan dari sekolah oleh
keluarganya, supaya ia bisa bekerja di kedai teh dan memenuhi nafkah. Ia juga
sempat bekerja sebagai pemecah batu bara. Nasibnya mulai berubah ketika ia
mengambil kursus menyetir, lalu menjadi sopir bagi Mr. Ashok di Delhi.
Balram memuji dan menyayangi Mr. Ashok, meskipun kadang majikannya tersebut rada tolol. Mr. Ashok adalah anak dari salah seorang tuan tanah di Laxmangarh. Semula ia jujur, setia, idealis, baik hati, dan baru pulang dari Amerika. Tercemplung ke dalam bisnis keluarga lalu pindah ke Delhi malah menimpakan kemalangan baginya. Hubungan Mr. Ashok dengan istrinya rusak, di samping ia harus terus melakukan bisnis yang melawan nuraninya. Perubahan yang dialami Mr. Ashok memengaruhi Balram. Balram belajar bagaimana orang-orang kaya menggunakan cara-cara keji untuk memuluskan urusan mereka. Mr. Ashok hanyalah salah satu dari orang-orang serakah tersebut, yang tidak mampu berbuat lain karena terjebak sistem. Siapapun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya. Tugasnya adalah menyuap orang-orang di pemerintahan agar tidak menarik pajak dari bisnis yang dijalankan keluarganya, padahal pajak merupakan hak kaum kecil seperti Balram. Balram pun menyadari keadaannya yang hanya seorang pembantu di India, dan melakukan upaya untuk melawan takdir.
Spoiler. Balram membunuh Mr. Ashok. Ia lalu mengganti namanya menjadi Ashok Sharma, dan mendirikan bisnis outsourcing dengan uang yang semula hendak dipakai menyuap oleh almarhum majikannya itu. Ia tetap menggunakan cara-cara kotor untuk mencapai tujuannya, seolah memang begitulah prosedurnya di India, sekaligus menerapkan sistem kerja yang lebih manusiawi bagi para anak buahnya.
Balram memuji dan menyayangi Mr. Ashok, meskipun kadang majikannya tersebut rada tolol. Mr. Ashok adalah anak dari salah seorang tuan tanah di Laxmangarh. Semula ia jujur, setia, idealis, baik hati, dan baru pulang dari Amerika. Tercemplung ke dalam bisnis keluarga lalu pindah ke Delhi malah menimpakan kemalangan baginya. Hubungan Mr. Ashok dengan istrinya rusak, di samping ia harus terus melakukan bisnis yang melawan nuraninya. Perubahan yang dialami Mr. Ashok memengaruhi Balram. Balram belajar bagaimana orang-orang kaya menggunakan cara-cara keji untuk memuluskan urusan mereka. Mr. Ashok hanyalah salah satu dari orang-orang serakah tersebut, yang tidak mampu berbuat lain karena terjebak sistem. Siapapun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya. Tugasnya adalah menyuap orang-orang di pemerintahan agar tidak menarik pajak dari bisnis yang dijalankan keluarganya, padahal pajak merupakan hak kaum kecil seperti Balram. Balram pun menyadari keadaannya yang hanya seorang pembantu di India, dan melakukan upaya untuk melawan takdir.
Spoiler. Balram membunuh Mr. Ashok. Ia lalu mengganti namanya menjadi Ashok Sharma, dan mendirikan bisnis outsourcing dengan uang yang semula hendak dipakai menyuap oleh almarhum majikannya itu. Ia tetap menggunakan cara-cara kotor untuk mencapai tujuannya, seolah memang begitulah prosedurnya di India, sekaligus menerapkan sistem kerja yang lebih manusiawi bagi para anak buahnya.
“The
White Tiger” mengusung isu yang besar sekaligus kompleks, namun ditulis
Aravind Adiga dengan gaya yang simpel, ringan, bahkan humoris (baca: satir). Tentu
saja aplaus juga perlu diberikan kepada Rosemary Kesauly (pengarang “Kana di
Negeri Kiwi”, pemenang sayembara menulis teenlit
Penerbit Gramedia Pustaka Utama di tahun yang saya lupa, dan “Mamimoma”, juga teenlit dari penerbit yang sama) selaku
penerjemah novel ini ke dalam bahasa Indonesia.
Novel ini menyinggung bagaimana
kebodohan kaum kecil dimanfaatkan untuk kepentingan politis.
“Masalahnya, dia mungkin pernah… katakanlah dua, tiga tahun bersekolah. Dia bisa membaca dan menulis, tapi tidak memahami apa yang dibacanya. Dia setengah matang. Negara kita penuh orang sepertinya. Sedangkan kita memercayakan demokrasi parlementer kita,”—Mr. Ashok menunjuk saya—“kepada orang-orang seperti ini. …” (hal. 11)
Balram menceritakan bagaimana demokrasi
memberinya tanggal ulang tahun, karena orangtuanya tidak pernah mencatatnya. Ia
diberitahu bahwa ia telah berumur 18 tahun oleh pegawai pemerintah yang
berwenang, sehingga ia bisa memilih.
Umur saya harus delapan belas. Semua orang di kedai teh harus berumur delapan belas, usia legal untuk memilih. Sebentar lagi pemilu dan pemilik kedai teh sudah menjual kami. Dia sudah menjual cap jempol kami—cap jempol bertinta yang dicapkan orang buta huruf ke surat suara untuk menunjukkan pilihannya. … Seharusnya ini pemilihan tertutup; pemilik kedai mendapat harga yang cocok untuk setiap pegawainya dari partai Sosialis Agung. (hal. 105)
Lebih dari sekadar politik sebetulnya,
novel ini juga mengungkit kinerja pegawai pemerintah yang buruk, kontradiksi
kehidupan di kota besar, persinggungan antar kasta maupun agama, sampai nasib
pembantu di India.
Para pembantu di India sangat jujur dan
setia, tapi belum tentu majikan memperlakukan mereka dengan adil. Ketika istri
Mr. Ashok menabrak seorang anak jalanan, Balram diminta untuk menandatangani
surat pernyataan bahwa ialah pelakunya. Balram juga mesti terampil mengemudikan
mobil sembari menuang whisky untuk
penumpangnya. Balram menganalogikan pengabdian pembantu di India dengan
ayam-ayam dalam kandang.
Ayam-ayam dalam kandang mencium bau dari atas. Mereka melihat organ saudara-saudara mereka bertebaran di mana-mana. Mereka tahu merekalah korban berikutnya. Namun, mereka tidak memberontak; tidak berusaha melarikan diri dari kandang. (hal.186)
Mereka tahu bahwa ketika mereka
melalaikan tugas, majikan mereka akan membalas dengan menghancurkan keluarga
mereka. Begitulah.
Saya teringat akan tenaga kerja kita
yang tersebar di daratan Arab, Hongkong, Singapura, maupun Malaysia. Barangkali
pembantu kita diperlakukan secara sewenang-wenang di negara lain, tapi pembantu
di India diperbudak oleh bangsanya sendiri. Saya kira dalam dalam beberapa hal India
dan Indonesia memiliki kesamaan, meskipun dalam beberapa hal pula agaknya
situasi di Indonesia mendingan, atau gambaran dalam novel ini saja yang
terlampau sarkastis, sehingga saya penasaran akan karya semacam ini untuk
konteks di Indonesia.
Hal lain dalam novel ini yang memikat
saya adalah teknik yang dipakai pengarang untuk menyampaikan ceritanya. Sudut
pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama dengan perspektif
Balram. Suatu malam Balram mendengar bahwa perdana menteri China akan
berkunjung ke Bangalore—tempat Balram bermukim saat itu. Sejak malam itu hingga
malam ketujuh, biasanya sudah dini hari, Balram seolah menulis surat pada Mr.
Wen Jiabao (demikian nama perdana menteri China) sekalian menceritakan kisah
hidupnya. Balram mendasarkan penjelasan mengenai dirinya pada poster yang
dipasang polisi untuk mencarinya saat ia menjadi tersangka pembunuhan Mr. Ashok,
yang berhasil menimbulkan keheranan-keheranan yang bakal terjawab di bab
selanjutnya. Seseorang yang konon telah membunuh, kok bisa mengklaim dirinya
sebagai entrepreneur tersukses? Dalam
bab selanjutnya pun Balram masih mengungkapkan sesuatu secara sepintas-sepintas,
yang bakal terjawab di bab berikutnya lagi hingga cerita tuntas. Rupanya entrepreneur adalah orang yang mampu
menangkap pelajaran dari kehidupan, lantas mengubah nasibnya dengan itu tanpa
melupakan sesama, sebagaimana Balram, biarpun ia harus melakukan tindakan yang
frontal.
Adapun “The White Tiger” alias “Harimau Putih” adalah julukan yang
diberikan seorang inspektur kepada Balram, karena ia satu-satunya anak yang
bisa membaca dengan lancar di kelasnya saat itu. Harimau putih konon hanya ada
satu dari setiap generasi. Balram kemudian menggunakan nama tersebut untuk
bisnis outsourcing-nya.
Novel setebal 352 halaman ini saya
tamatkan dalam sehari, selain karena saya memiliki keluangan untuk itu, juga
saya tidak merasakan kejemuan sama sekali selama pembacaan. Saya tidak
menemukan momen dalam novel ini yang mendukung saya untuk mengambil jeda. Saya
tidak menyadari apa yang saya kejar selama pembacaan, melainkan bahwa novel ini
mengangkat persoalan serius dengan gaya yang enak lagi menarik. Sesekali simile
dan ironi di dalamnya bikin saya tersengat. Saya kira saya mengerti kenapa
novel ini memenangkan Man Booker Prize,
entah tahun berapa—tidak disertakan pada kovernya. Novel seperti inilah yang
patut saya baca berulang kali, secara sepintas maupun saksama!***
novelnya asik sepertinya ya. bisa habis dalam sehari. mirip waktu saya baca Perahu Kertasnya Dee, habis dalam sehari, padahal tugas rumah [tangga] seabrek-abreknya. tentu saya harus begadang dan pura-pura lupa belum mencuci baju dan mensetrikanya, hehehe.
BalasHapusDayeuh, enak sekali baca ulasan ini. renyah :)
jadi pengen baca :)
yeah tergantung selera dan ketersediaan waktu sih ya mbak bisa baca cepet atau enggak tuh hehe. Perahu Kertas juga saya tamat semalem, enggak bisa berhenti :D
Hapus=>pura-pura lupa belum mencuci baju dan mensetrikanya,
haha... oke juga nih triknya, "pura-pura", hehehe...