LAINNYA

Rabu, 07 November 2012

Bagaimana Meningkatkan Pembacaan dan Kepenulisan Kita



Yang membuat saya memburu buku semacam “Menganalisis Fiksi – Sebuah Pengantar” (ditulis oleh Dr. Furqonul Aziez, M. Pd. dan Dr. Abdul Hasim, M. Pd., 2010, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia) adalah agar saya mengetahui bagaimana cara mengapresiasi fiksi, sekaligus mengetahui seperti apa fiksi yang dianggap berkualitas. Percuma membaca dan menulis banyak karya tanpa bisa memahami maknanya bukan?

Buku ini menurut saya merupakan buku yang baik untuk memulai pelajaran tersebut. Isinya hanya 102 halaman, mengingat kadang kita keder duluan dengan buku yang lebih tebal. Ukuran hurufnya cukup besar. Bahasanya mudah sehingga enak diikuti, meski rada janggal pada terjemahan kutipan yang umumnya berbahasa Inggris. Gagasan dan sistematika buku ini sebagian memang didasarkan pada buku “Studying the Novel” karya Jeremy Hawthon (1986, London: Edward Arnold Publisher Limited), agaknya itu pula yang membuat fiksi yang dimaksud dalam buku ini lebih diarahkan pada novel. Meskipun demikian bentuk fiksi lainnya seperti cerpen dan novela mendapat ulasan sepintas dalam satu bab.

Novel ternyata merupakan genre sastra termuda. Novel merupakan medium yang lebih leluasa jika dibandingkan dengan puisi, drama, cerpen, maupun novela, yang mana jenis karya lainnya tersebut dibatasi oleh aturan-aturan, bentuk, atau ukuran tertentu. Suatu permasalahan bisa digali secara mendalam hingga menyeluruh melalui novel.

Gillie (penulis “Longman Companion to English Literature”, 1972, London: Longman Group) dalam buku ini mengatakan bahwa Inggris merupakan negara yang sering disebut sebagai tanah kelahiran novel pada abad ke-18. Sebetulnya saya pernah baca di Annida (edisi yang saya tidak ingat) mengenai novel pertama di dunia, yang ditulis oleh orang Jepang pada tahun 1300-an dan menceritakan tentang seorang pangeran bernama Genji-apa-gitu. Saya pernah baca juga di Republika (lagi-lagi di edisi yang saya tidak ingat) mengenai ilmuwan muslim pada masa kejayaan Islam (yang berarti hampir semasa abad pertengahan di Eropa ya?) yang telah menghasilkan novel, kalau tidak salah ada kata “Hayy” atau “Hayat” pada judulnya, tentang seseorang yang belajar kehidupan dari membedah rusa-atau-apa. Adapun novel yang dimaksud dalam buku ini adalah yang memiliki kemiripan dengan kehidupan nyata, dibandingkan dengan jenis karya sastra yang muncul sebelumnya seperti roman atau hikayat. Barangkali novel karangan orang Jepang dan ilmuwan muslim tersebut, maupun karya-karya sastra sebelumnya yang bentuknya rada menyerupai novel itu, dalam konteksnya belum sebagaimana novel yang kita kenal sekarang, lengkap dengan aspek sosiologis-industrinya.

Kemunculan novel merupakan akibat dari bangkitnya kelas menengah di Inggris pada masa itu, yang dengan demikian menyediakan publik pembaca yang luas. Jumlah orang yang melek huruf semakin meningkat. Teknologi percetakan telah mampu memproduksi karya dalam jumlah besar, serta memenuhi pasar dengan harga terjangkau. Membaca novel pun menjadi semacam mode di Eropa. Kelas menengah juga merupakan faktor penting bagi kemunculan kapitalisme. Kapitalisme mengakibatkan individualisme, yang sekiranya menciptakan iklim kondusif bagi aspirasi penulisan novel. Novel ditulis seseorang dalam kesendiriannya, dan dibaca orang lain dalam kesendiriannya pula. Walaupun ditulis dan dibaca secara pribadi, produksi dan distribusi novel memerlukan bentuk masyarakat dan industri yang terorganisasi dengan baik. Ralph Fox (penulis buku “The Novel and The People”, 1979, London: Hutchinson) dalam buku ini mengatakan bahwa novel merupakan epik tentang perjuangan individu melawan masyarakat maupun alam, yang mana ia hanya bisa berkembang di tengah masyarakat yang kehilangan keseimbangan antara manusia dan masyarakatnya, dan masyarakat semacam itu adalah masyarakat kapitalis. Adalah menarik, mengetahui bahwa kapitalisme yang dihujat banyak orang ternyata berperan dalam menyuburkan kebudayaan literer—yang justru dipuja banyak orang!

Bagaimanapun juga buku ini memberikan pengetahuan mengenai banyak hal lain seputar fiksi, khususnya novel. Kita bisa mengenal berbagai macam genre yang telah tercipta. Kita bisa menyadari pentingnya mempelajari karya-karya terdahulu agar dapat menciptakan kebaruan. Kita bisa memahami tujuan penciptaan tokoh hingga kecenderungan sebagian besar novelis dalam menulis karya-karyanya. Kita bisa mengidentifikasi teknik-teknik apa saja yang bisa kita gunakan dalam menggarap narasi, penokohan, plot, sampai latar. Kita bisa membedakan realisme dengan modernisme, plot dengan struktur, atau image dengan simbol. Dan yang lebih penting adalah kita bisa mulai menganalisis secara intrinsik serta menggunakan berbagai pendekatan dalam mengkritik suatu karya.

Sayangnya buku ini terlalu merujuk ke literatur Barat. Puluhan novel Barat (yang umumnya sudah zadul banget!) disebut dalam buku ini, sedangkan dari Indonesia hanya dua novel yaitu “Royan Revolusi” (Ramadhan KH) dan “Siti Nurbaya” (Marah Rusli). Saya berharap menemukan lebih banyak buku yang membantu kita mengenal karya fiksi dari negeri kita sendiri—kebudayaan kita sendiri. Lebih baik lagi apabila kita memiliki buku semacam “The Harper Anthology of Fiction” atau “One World of Literature” tapi dikhususkan untuk karya-karya dari Indonesia saja, yaitu berupa kompilasi fiksi pendek yang masing-masingnya dilengkapi dengan daftar pertanyaan, sehingga membantu pembaca mengembangkan analisisnya terhadap suatu karya.

Meskipun demikian sekiranya calon pengarang tidak perlu terpatok dengan kriteria-kriteria dalam buku terkait kritik. Barangkali buku semacam ini bisa memberitahu mana yang bagus dan mana yang buruk dalam cerita kita, maupun teknik apa yang bisa dipakai untuk melancarkan penulisannya, tapi jangan sampai hal-hal tersebut mengebiri proses kreatif kita.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar