Senin, 30 September 2019

Girls on the Edge: The Four Factors Driving the New Crisis for Girls: Sexual Identity, the Cyberbubble, Obsessions, Environmental Toxins

Gambar dari Goodreads
Saya tahu tentang buku ini dari membaca
Boys Adrift: The Five Factors Driving the Growing Epidemic of Unmotivated Boys and Underachieving Young Men, karena penulisnya sama. Yang satu tentang anak laki-laki, dan yang ini tentang anak perempuan. Keduanya saling melengkapi, malah bisa jadi redundant. Sedikit tentang buku ini sudah ada di Boys Adrift, makanya saya tertarik untuk membacanya. Di buku ini dipaparkan secara panjang lebar hal-hal yang dalam Boys Adrift hanya sepintas lalu. Demikian juga, yang selengkapnya ada di Boys Adrift hanya diangkat sepintas lalu dalam buku ini.

Format kedua buku ini pun mirip. Kalau di Boys Adrift penulis menyebut ada lima faktor yang menyebabkan para pemuda hilang arah, di buku ini hanya ada empat. Sementara anak laki-laki dipengaruhi oleh sistem pendidikan, gim, dan kurangnya kehadiran pria dewasa yang dapat dijadikan contoh, anak perempuan cenderung pada tren masa kini yang menggembar-gemborkan seksualitas perempuan, media sosial, serta obsesi mereka sendiri. Untuk faktor yang disebut belakangan, penulis bilang, anak perempuan cenderung terobsesi pada satu hal, misalkan menjadi gadis paling cantik atau paling pandai di sekolah, prestasi atletik, dan semacamnya, yang jika terjadi kegagalan karena satu dan lain hal maka mereka akan jatuh dan hancur berkeping-keping.

Di samping berbagai faktor yang membedakan kedua jenis kelamin tersebut, ada satu faktor lain yang kurang lebih sama yaitu pengaruh zat-zat kimiawi. Zat-zat sintetis dalam produk kiwari seperti plastik atau susu kemasan rupanya dapat mengutak-atik sifat alami kedua jenis kelamin. Kurang lebih begitu.

Sementara anak laki-laki perlu detoks, anak perempuan mesti menyeimbangkan tiga aspek: mind, body, dan spirit. Tapi secara umum solusi yang ditawarkan dalam kedua buku relatif sama, antara lain:

- mengontrol waktu anak menggunakan media elektronik, misalnya untuk anak laki-laki gim sedangkan anak perempuan media sosial
- menghindari plastik, produk-produk tidak ramah lingkungan, dan semacam itu
- mempertimbangkan sekolah dengan sistem pendidikan yang memisahkan antara anak laki-laki dan anak perempuan
- mengupayakan anak memiliki lingkungan sesama jenis dengan usia beragam, terutama yang lebih tua

Selain itu, yang tidak kalah penting agar semasa kecil (usia TK dan sekitarnya) anak banyak-banyak berinteraksi dengan alam, daripada  dikondisikan untuk duduk rapi dalam kelas belajar calistung.

Konteks buku ini masih sangat Amerika-Serikat, walaupun dibandingkan juga dengan kasus-kasus dari negara Eropa serta Australia. Misalnya saja soal seks bebas serta penggunaan alkohol dan narkoba. Bukannya tidak ada anak Indonesia yang terjerat masalah-masalah itu, tapi mengingat adanya perbedaan budaya dan sebagainya, agaknya yang terjadi di sini tidak semasif di sana. Sedikitnya, kita bisa dibuat mafhum--khususnya dalam bab mengenai spiritualitas--bahwa komunitas agama punya pengaruh dalam menghindarkan dari perilaku semacam itu.

Bisa dibilang, betapapun moderatnya penulis buku ini, ia cenderung ke arah konservatif. Ia begitu menekankan perbedaan gender, sehingga diperlukan perbedaan perlakuan juga terutama dalam pendidikan. Bisa jadi ia terjebak dalam stereotipe gender. Biar begitu, karena saya tidak punya banyak referensi dan nilai-nilai yang disampaikannya adakalanya masuk akal, saya cenderung mengiyakan.

Terlepas dari kesamaan-kesamaan yang menimbulkan kesan redundant itu--masih sama seperti buku yang satunya--buku ini tetap enak dibaca dan relatif mudah bagi pembaca yang bukan penutur asli bahasa Inggris seperti saya.

Sebagai perempuan, mestinya saya bisa lebih relate dengan buku ini ketimbang buku satunya. Dalam beberapa hal mungkin iya, misalkan soal The Great Disappoinment yang biasa melanda pada usia dua puluhan. Paling tidak, buku ini mengilhamkan saya untuk memenungkan lagi soal sense of self dan spiritualitas. Menurut penulis, anak perempuan cenderung termotivasi untuk menyenangkan orang-orang di sekitarnya, sehingga tidak memiliki sense of self yang kuat. Adapun soal spiritualitas, agaknya itu PR seumur hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain