Sabtu, 28 September 2019

Habibie & Ainun

Gambar dari Goodreads
Baru-baru ini, setelah Pak Habibie menyusul Bu Ainun ke "alam dan dimensi baru", ibu saya membawa pulang buku ini dari perpustakaan sekolah tempatnya bekerja. Saya takjub karena mengira ibu saya sebetulnya sudah punya buku ini. Saya merasa sudah pernah membacanya--seperti baru kemarin. Tapi ibu saya menyangkal, sehingga saya pikir sepertinya dulu saya membaca buku ini dari meminjam punya teman kampus. Mestilah waktu itu sekitar tahun 2010 atau mungkin juga 2011, ketika Bu Ainun belum lama meninggal dan buku ini baru terbit. Saya enggak ingat kesan pembacaan saya waktu itu, dan malas mengubrak-abrik kardus untuk mencari catatannya. Saya pun memutuskan untuk membaca ulang buku ini.


Lagi pula, ketika mendengar berita bahwa Pak Habibie telah dipanggil pulang untuk selama-lamanya, entah kenapa saya merasa sedih. Saya merasa tidak pernah secara pribadi mengidolakan beliau. Saya tidak berminat pada industri kepesawatterbangan karena menghasilkan banyak jejak karbon. Namun beliau seperti legenda, mungkin juga akibat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan Joshua pada era '90-an lampau diam-diam terpatri di alam bawah sadar saya: "Cita-citaku ... uwu uwu ... pengin jadi profesor ... bikin pesawat terbang ... seperti Pak Habibie." Sehari setelah berita tersebut, saya lihat, baik di halaman depan rumah saya maupun tetangga, terpasang bendera setengah tiang: seorang pahlawan telah pergi.

Baru bab-bab awal, saya sudah mendapat kesan bahwa membaca buku ini seperti bermimpi. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kedua mendiang, kehidupan yang ditampilkannya sungguh glamor dan romantis. Terus terang, rasanya seperti membaca novel Wattpad. Tapi nilai plus dari buku ini adalah: ini riil. Yang menulis bukan remaja ababil, melainkan seorang pakar dan pemimpin besar yang kualitasnya benar-benar diakui dunia internasional.

Perasaan saya berkecamuk, lebih karena berperang dengan daya kritis saya sendiri ketimbang akibat larut dalam cerita Pak Habibie. Saya pikir tidak sepantasnya saya menggunakan daya kritis saya terhadap buku ini. Yah, sebetulnya, ketika menghadapi novel-novel dream-like di platform-platform kepenulisan digital pun saya sudah sadar bahwa tidak ada gunanya mengusik mimpi indah orang lain. Tapi, khusus untuk buku ini, alasannya lebih karena beliau adalah tokoh nyata yang sepantasnya dihormati--seolah-olah beliau sungguh-sungguh hadir di hadapan saya menceritakan isi buku ini secara langsung kepada saya sementara saya membacanya. Apa pun yang dikatakan orang tua, saya yang masih tergolong muda sudah sepatutnya mendengarkan saja dan cukuplah mengambil nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan saya sendiri, tanpa membanding-bandingkan kenyataan bahwa latar belakang beliau (berikut Bu Ainun) lain daripada kebanyakan orang.

Selain itu, sudah sepatutnya terhadap orang yang meninggal kita hanya membicarakan kebaikannya saja.

Karena saya perempuan, nilai-nilai positif tersebut cenderung diambil dari sosok Bu Ainun sebagaimana digambarkan oleh Pak Habibie. Kecantikan, kecerdasan, dan keluarga asal Bu Ainun (yang tentunya berperanan dalam mengarahkan nasib beliau sejak lahir hingga menikah dengan Pak Habibie) kiranya merupakan privilese--pemberian Tuhan khusus bagi orang tertentu--yang tak bisa diganggu gugat. Terlepas dari itu, paling tidak ada beberapa hal yang masih dapat diupayakan oleh perempuan kebanyakan.

1. Menjadi istri yang berbakti, mendukung karier suami dan mengutamakan kepentingannya, selalu memberikan senyum, menguatkan, melayani, dan bersabar apa pun yang terjadi.
2. Sangat religius, banyak membaca Alquran dan berdoa.
3. Selfless, berjiwa sosial tinggi--yang sepertinya faktor bawaan juga sih; ada sebab-sebabnya beliau berminat menjadi dokter anak.

Kebetulan, sebelum buku ini, saya membaca buku The Good Father: Kiat Lengkap Menjadi Ayah Teladan. Isinya, secara garis besar, memaparkan pentingnya peran ayah dalam keluarga, baik secara fisik maupun emosional. Sehubungan dengan buku tersebut, dalam bukunya, Pak Habibie mengungkapkan kurangnya waktu beliau untuk keluarga. Meski begitu, sebagai seorang teknorat kelas dunia, agaknya beliau benar-benar ahli dalam menggunakan sumber daya--termasuk waktu--seefektif dan seefisien mungkin. Betapapun sedikitnya waktu beliau untuk keluarga, bisa jadi kualitasnya sungguh maksimal. Wallahualam.

Akibatnya, saya jadi berpikir ulang mengenai alokasi waktu orang tua untuk anak. Hal-hal yang dilakukan Pak Habibie dan Bu Ainun semasa hidup mereka sepertinya dibaktikan untuk kepentingan negara, atau mungkin istilahnya for the greater good, bahkan hampir-hampir dengan mengorbankan kesehatan sendiri. Hal ini mengingatkan saya pada jihad, meski beliau sama sekali tidak menggunakan istilah tersebut dalam buku ini. Ketika tiba panggilan jihad, semua-muanya harus rela dikorbankan, termasuk harta dan keluarga. Tapi kan beliau tidak berkekurangan harta. Rasulullah SAW sendiri besar tanpa kehadiran orang tua kandung, meskipun beliau sepertinya memiliki sosok-sosok lain sebagai pengganti dan keadaan pendidikan anak pada masa itu kiranya berbeda dengan masa belakangan. Kalau gegabah, bisa-bisa kita berpikiran bahwa alokasi waktu untuk anak mungkin tidak penting amat apabila orang tuanya bekerja untuk "kepentingan yang lebih besar". Atau malah, jangan-jangan, sentimentalitas hubungan orang tua dengan anak itu hanya propaganda Yahudi agar orang pada mengabaikan "kepentingan yang lebih besar". Adakalanya suatu hal tidak bisa ditentukan secara mutlak, atau akibatnya berbeda-beda bagi tiap-tiap orang.

Bab-bab yang menarik bagi saya dalam buku ini di antaranya yang menunjukkan bahwa Pak Habibie ternyata bisa lugu juga--khususnya ketika beliau masih muda. Contohnya yaitu ketika teman-teman Bu Ainun berkelakar bahwa Pak Habibie memikat Bu Ainun dengan "cara Jerman", dan Pak Habibie baru paham maksudnya ketika anak pertama mereka lahir. Contoh lain yaitu ketika beliau meminta kenaikan gaji dari DM 1.300 menjadi DM 1.500, padahal untuk posisinya beliau sepantasnya mendapat DM 2.500.

Yang enggak kalah menggelikan adalah ketika beliau bertemu dengan Presiden Soeharto pada 1974--45 tahun yang lalu. Keduanya saling menyampaikan aspirasi mengenai pembangunan Indonesia--utamanya SDM--yang sedihnya, hingga kini sepertinya masih menjadi wacana; begitu pula soal citra buruk kaum muslim sebagai mayoritas di negara ini--malah kini ada istilah "sumbu pendek" untuk menyebut sekumpulan orang berkedok religius yang suka mengacau. Yang sungguh lucu, di penghujung pertemuan mereka, ada kalimat begini:
Setelah menyampaikan butir-butir tersebut, Pak Harto bersikap rileks dan santai, seakan-akan melepaskan beban kepada generasi yang akan datang. (halaman 87)
Entah apakah di sini Pak Habibie sedang mengeluarkan sisi lugunya, atau diam-diam menyindir. Soalnya, saya jadi ingat pada bencana karhutla yang akhir-akhir ini melanda sejumlah daerah dan mengakibatkan banyak korban. CMIIW, lahan gambut yang sebaiknya tidak diutak-atik pada masa Orde Baru malah dibuka dengan nama Proyek Lahan Gambut Satu Juta Hektar. Agaknya itu salah satu penyebab kebakaran saat musim kering, karena rentannya kandungan gambut. (Maaf, saya kurang tahu ilmunya.)

Buku ini ditutup dengan bagus, menurut saya, dengan penjelasan mengenai relativitas waktu, bagaimana kehidupan di dunia ini ternyata sungguh singkat saja dibandingkan dengan "waktu" Tuhan. Di sini baru saya bisa relate.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain