LAINNYA

Senin, 07 Maret 2011

Sebuah tinjauan awal: Peran stakeholders* dalam perhutanan kota

Saya suka memburu jurnal-jurnal tentang perhutanan kota di Science Direct. Kebanyakan jurnal yang saya dapatkan mengambil studi kasus di negara-negara Eropa. Ada sebuah jurnal berjudul A decade of urban forestry in Europe, malahan. Tampaknya isu perhutanan kota di negara-negara Eropa sudah sangat berkembang, eh, maju.

Saya coba memasukkan kata kunci "urban forestry indonesia". Hm, tak satupun penelitian tentang perhutanan kota di Indonesia telah sampai ke ranah internasional sepertinya. Penelitian tentang perhutanan kota di kota-kota di Indonesia bukannya sepi. Saya banyak lihat skripsi tentang itu di perpustakaan fakultas, meski masih sedikit yang berkaitan dengan masyarakat. Jurnal-jurnal berbahasa Indonesia pun saya sudah punya beberapa, tapi masak masuk Science Direct juga?

Pada minggu pertama Maret ini, saya coba mempelajari jurnal berjudul Communication between science, policy, and citizens in public participation in urban forestry—Experiences from the Neighbourwoods project. Jurnal ini memaparkan tentang sebuah penelitian yang dilakukan di hutan/kawasan berpohon dalam kota (urban woodland) di enam negara Eropa pada tahun 2007. Penelitian yang dinamakan proyek NeighbourWoods (NBW) ini ditujukan untuk mengembangkan dan menguji alat-alat kebijakan (policy tools) yang digunakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencaanaan hutan/kawasan berpohon dalam kota. Proyek ini adalah mengenai bagaimana pembuat kebijakan bekerja sama dengan ilmuwan (sebagai fasilitator) dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Dari jurnal ini, saya jadi tahu kalau di negara-negara Eropa sana komunikasi antara pembuat kebijakan dengan masyarakat dalam pengelolaan perhutanan kota sudah demikian terfasilitasi. Ada banyak alat kebijakan yang dipakai, mulai dari newsletter, website, public events, survei dan wawancara, pelibatan anak-anak dan remaja, pemetaan, dan lain-lain. Memang setiap alat memiliki kekuatan dan kekurangannya masing-masing. Komunikasi antara pembuat kebijakan dengan fasilitatornya pun tak luput dari berbagai hambatan. Tapi setidaknya ada bermacam pengerahan upaya, yang tentu saja, ada hasilnya.

Saya coba mengingat-ingat keadaan serupa di kota yang saya tinggali, Bandung atau Jogja. Di Bandung kiranya ada LSM atau perkumpulan mahasiswa yang suka mengadakan acara-acara terkait. Ada semacam car free day juga di Dago setiap Minggu pagi. Di Jogja ada baliho bergambar petinggi kota sedang naik sepeda. Mungkin juga pernah ada program penanaman sekian pohon oleh pemerintah. Lalu? Ah, saya mungkin belum jadi orang yang begitu perhatian. Ini harus diteliti lagi—upaya para stakeholder dalam penghijauan kota, bukan mengapa saya begitu tidak perhatian.

Ada pikiran, negara-negara Eropa mungkin bisa begitu perhatian pada hijaunya kota karena mereka sudah maju. Kita? Sebagai negara yang terus berkembang (ibarat anak rakus yang tubuhnya makin gemuk dari waktu ke waktu sampai-sampai jalan pun susah--tidak kunjung bergerak maju!), masih banyak hal lebih penting yang perlu kita urus. Kemiskinan. Pengangguran. Korupsi. Cabe—eh, sudah lewat ya, sekarang harga apa yang sedang naik?

Namun pikiran ini lekas tergusah pikiran lain. Ah, kita kan punya banyak SDM. Kiranya populasi kita masih masuk lima besar dunia? Sudah banyak pula yang jadi sarjana. Untuk hal-hal semacam yang saya sebut tadi itu, tentu sudah banyak pula yang lebih berkapasitas untuk memikirkannya. Berapa banyak anak muda yang berlomba-lomba masuk FISIPOL, Fakultas Ekonomi, dan fakultas dengan disiplin ilmu lain yang spesifikasinya memang untuk memikirkan masalah-masalah itu, setiap tahunnya? Jauh lebih banyak ketimbang yang sudi masuk Fakultas Kehutanan kan?

Baiklah, penghijauan kota mungkin tidak mesti dikaitkan dengan Fakultas Kehutanan, meski perhutanan kota iya. Dan apapun disiplin ilmunya, pemberdayan masyarakat adalah tanggung jawab setiap makhluk berakal—sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Dan hari begini, dengan semakin maraknya isu lingkungan hidup, adanya radio tentang gaya hidup hijau di Jakarta, maupun banyaknya teman yang membeli tas yang memuat pesan senada (untuk dipakai kuliah, untuk belanja mungkin masih tetap minta plastik meski plastiknya bisa terurai dalam waktu mingguan, katanya), siapa sih yang masih tidak peduli akan hijaunya kota?

(Ssst, tapi mengapa mereka masih lebih memilih memakai kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum? Padahal melimpahnya kendaraan pribadi di jalanan kan bakal menginspirasi pemerintah untuk membuat proyek pelebaran jalan? Kalau jalan dilebarkan, siapa yang berkorban? Mengapa juga mereka masih membuang sampah sembarangan? Memangnya mengapa kalau mereka menaruh sampah mereka dalam tas dulu kalau belum menemukan tempat sampah terdekat? Dan mengapa mereka masih membiarkan charger hp menancap di stop kontak padahal batere hp mereka sudah penuh? Mengapa? Mengapa? Mengapa?)

Kembali ke jurnal dan partisipasi segala stakeholder dalam perhutanan kota (setelah dipikir lagi, istilah "penghijauan kota" bisa rancu karena ini bisa diartikan dengan mengecat semua dinding bangunan kota dengan warna hijau). Memang saya masih perlu meneliti lebih lanjut soal peran pemerintah dan ilmuwan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perhutanan kota ini. Saya bayangkan suatu saat proyek NBW bisa pula diterapkan di kota-kota di Indonesia—kalau para pembuat kebijakan dan ilmuwan sudah begitu perhatiannya.


*) belum menemukan padanan yang pas untuk istilah ini, dan banyak istilah lain yang bertebaran dalam tulisan ini


Tidak ada komentar:

Posting Komentar