LAINNYA

Jumat, 28 Februari 2014

Di Balik Penerjemahan “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” (Cerpen Mark Twain, 1891)

Kapok menerjemahkan gegara “Solid Object” (Virginia Woolf), tapi satu dari empat hal untuk menjadi penulis hebat menurut Eka Kurniawan adalah menerjemahkan. Haruki Murakami pun melakukannya. Demi menjaga interaksi dengan bahasa Inggris biar tidak semakin asing, dan kemampuan merangkai kata karena saya masih gamang untuk menulis karangan saya sendiri, saya mencoba untuk mengakali daftar (diurut berdasarkan jumlah dan nomor halaman dalam antologi cerpen Harper, 1991) dengan menerjemahkan cerpen-cerpen yang relatif simpel. Hasilnya bisa dilihat di sini, sini, dan sini. Ada satu-dua cerpen lagi yang saya terjemahkan, namun saya ragu untuk memajangnya di blog karena tidak menemukan versi digitalnya yang bisa diakses secara cuma-cuma. Namun ketika saya lagi-lagi menghadapi cerpen-sulit, “My Man Bovanne” dari Toni Cade Bambara, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Afro-Amerika yang jauh dari gramatikal pun kata-kata di dalamnya belum tentu terdapat dalam kamus Echols-Shadily, saya mengakali daftar lagi dan mencoba “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” dari Mark Twain.

source
Tiga paragraf pertama bahasanya masih “normal”. Tapi dalam tiga paragraf berikut saya mulai puyeng karena beberapa kata tidak terdapat dalam kamus, di samping tidak gramatikal. Ada beberapa kata yang ejaannya melenceng dari yang lazimnya kita ketahui semisal “fellow” jadi “feller”, “catch” jadi “ketch”, “risk” jadi “resk”, “chew” jadi “chaw”, dan seterusnya. Terbayang lagi kesulitan saat menghadapi “Solid Object” karena kalimat-kalimatnya yang panjang, serta kata-kata yang biarpun baru bagi saya tapi setidaknya masih bisa ditemukan di kamus (kan?). Kalau kamus yang dimiliki tidak bisa diandalkan, saya pun beralih ke Google. Selain mencari kata-kata “eksotik” macam “summerset”, “hysted”, “hefted”, “yaller”, dan sebagainya, menarik pula membaca ulasan-ulasan mengenai cerpen itu sendiri.

Kenapa bahasanya tahu-tahu jeblok begitu, ialah karena cerpen ini bentuknya berbingkai. Ada cerita di dalam cerita. Masing-masing dibawakan oleh penutur yang berbeda. Alkisah, narator disurati kawannya untuk menanyakan tentang Rev. Leonidas W. Smiley kepada orang yang bernama Simon Wheeler. Narator pun menemui Wheeler dan terjebak untuk mendengarkan lelaki tua itu mengoceh panjang-lebar. Alih-alih Rev. Leonidas W. Smiley, Wheeler malah bercerita tentang Jim Smiley si gila-taruhan. Selama masih punya uang, dan selama ada orang yang bisa digaet, apa saja bakal dia jadikan objek taruhan. Mulai dari anjing, kucing, atau ayam yang lagi bertengkar (mana yang menang?), dua ekor burung yang lagi menclok di pagar (mana yang terbang duluan?), sampai kumbang yang lagi jalan (ke mana dia menuju?, berapa lama?). Cerita dari Wheeler yang makan hampir tiga halaman ini terdiri dari paragraf-paragraf yang berisi kalimat langsung—bahasa cakapan. Karena kejadian dalam cerpen ini berlangsung pada abad ke-19 di kamp pertambangan Angel yang terletak di bagian barat Amerika Serikat (AS), maka mafhumlah apabila bahasa yang digunakan pun menyesuaikan. Dalam hal ini penulis sangat realis. Perbedaan bahasa ini konon menunjukkan bagaimana pada masa itu terdapat kesenjangan di AS. Bagian barat negara tersebut (yang menjadi latar cerpen ini) belumlah semaju bagian timur (yang disebut di awal cerpen ini sebagai asal kawan yang menyurati narator). Bisa dibilang bahasa menunjukkan budaya, bahkan tingkat pendidikan/intelektual. Selain itu, teknik ini agaknya digunakan untuk menimbulkan kesan lucu. Menurut Melvin Helitzer dalam Comedy Writing Secret (2nd edition), orang tertawa karena merasa superior. Jika pembaca adalah orang dengan kemampuan berbahasa yang cukup baik, ia mungkin geli-geli kesal dengan orang yang bahasanya kacau dan tingkahnya seperti Wheeler. Yang menceritakan lain dari yang ditanyakan. Sudah begitu ocehannya panjang pula! Sial benar si narator. Bukankah kesialan biasa menjadi suguhan utama dalam komedi?

Ini juga salah satu kiat melucu dari Mark Twain. Menurutnya, kelucuan justru terasa ketika si penutur tidak menyadari kalau apa yang diceritakannya itu lucu. Seperti Wheeler yang mengisahkan kekonyolan Smiley ini dengan mimik serius.

Simon Wheeler backed me into a corner and blockaded me there with this chair, and then sat down and reeled off the monotonous narrative which follows this paragraph. He never smiled, he never frowned, he never changed his voice from the gentle-flowing key to which he tuned his initial sentence, he never betrayed the slightest suspicion of enthusiasm: but all through the interminable narrative there ran a vein of impressive earnestness and sincerity, which showed me plainly that, so far from his imagining that there was anything ridiculous or funny about his story, he regarded it as a really important matter, and admired its two heroes as men of transcendent genius in finesse.

(paragraf tiga “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” – Mark Twain)

Elemen menarik lainnya adalah bagaimana Smiley menamai anjing dan katak piaraannya dengan nama tokoh-tokoh ternama AS pada masa itu yaitu Andrew Jackon dan Daniel Webster. Andrew Jackson (1767-1845) adalah presiden AS ketujuh dan merupakan pemimpin pertama yang dipilih dari negara bagian sebelah barat. Ia dianggap mewakili kalangan orang biasa sehingga kemenangannya melambangkan kemenangan rakyat. Sebaliknya, Daniel Webster (1782-1852) adalah nama senator AS yang mewakili kalangan elitis. Kegigihan anak anjing bull piaraan Smiley yang dinamai Andrew Jackson saat bertarung dengan lawan-lawannya—kendati kelihatannya tidak jagoan—agaknya menggambarkan pandangan penulis terhadap presiden tersebut. Demikianpun “katak lompat kesohor dari Calaveras” yang dinamai Dan’l Webster dan dilatih oleh Smiley agar mampu lompat lebih tinggi dari katak manapun barangkali menggambarkan kecenderungan tokoh yang dirujuk. Asosiasi dengan para politikus menjadikan cerpen ini bukan saja bernuansa humor, tapi juga satir.

source
“The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” mula-mula diterbitkan dengan judul “Jim Smiley and His Jumping Frog” pada tahun 1865. Cerpen ini kemudian dipercantik terus oleh penulisnya dan diterbitkan lagi dengan judul lain, “The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County” (1865), barulah “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” (1891). Pada 1872, cerpen ini diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis namun Mark Twain tidak senang dengan hasilnya. Ia pun menerjemahkan balik cerpen itu ke dalam bahasa Inggris yang hasilnya sangat berbeda dibandingkan teks aslinya. Kalau Mark Twain mengerti bahasa Indonesia dan membaca hasil terjemahan saya yang cuma amatir ini, kemungkinan dia bakal menggerundel juga hahaha… Mau bagaimana lagi. Menurut kawan yang tengah menempuh pendidikan S2 di Sastra Kontemporer UNPAD, penerjemahan itu bisa disesuaikan dengan budaya (bahasa) asli atau budaya sasaran. Saya cenderung pada yang kedua. Yang terpenting ialah bagaimana saya, yang kiranya dapat mewakili pembaca awam Indonesia, dapat mengerti jalannya cerita tersebut dan mempelajari sesuatu darinya.[]

untuk menambah pemahaman:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar