LAINNYA

Senin, 17 November 2014

Science Film Festival 2014 (+): Perdana di YPBB Bandung

Untuk kesepuluh kalinya Science Film Festival (SFF) diselenggarakan di dunia, kelima kalinya di Indonesia, dan pertama kalinya di Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) Urban Centre, Bandung.

Science Film Festival merupakan salah satu program Goethe Institut selaku pusat kebudayaan Jerman untuk mengenalkan budaya ilmiah ke seluruh dunia. Sasarannya terutama pelajar muda, sehingga mereka tertarik pada sains dan teknologi dan mengarahkan pilihan karier pada bidang tersebut. Di Indonesia festival ini akan dilangsungkan pada 13-28 November 2014 di 37 kota. Di Bandung pemutaran film-film festival diadakan pada 17-22 November 2014 di YPBB Urban Centre dan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta pada 24-28 November 2014 di Institut Fran├žais Indonesia (IFI).

Film-film dalam festival ini diproduksi oleh berbagai negara, sebut saja Jerman, Prancis, Brazil. Chili, bahkan Filipina dan Indonesia, dan dibuat khusus dengan tema tertentu. Untuk tahun 2014, temanya adalah Teknologi Masa Depan. Durasi tiap-tiap film pendek saja, bahkan ada yang cuma dua menit. Film-film yang terkumpul lalu diseleksi oleh juri regional untuk keperluan pemutaran di negara masing-masing. Komposisi juri bukan saja profesional dalam perfilman, tapi ada juga yang pelajar SD dan SMA. Film-film itu lalu dialihsuarakan sehingga dapat dimengerti oleh masyarakat setempat. Di Indonesia terpilih total 15 film yang akan diputar secara bergantian dan berulang di masing-masing tempat penayangan. Sayangnya, film-film ini tidak diperjualbelikan kepada umum. Film-film yang telah diputar pada festival sebelumnya tidak boleh dipertunjukkan lagi, begitupun film-film pada festival tahun ini tidak akan dapat dipertontonkan lagi pada kesempatan lain. Karena itu, jangan sampai ketinggalan deh!

Selain itu, di SFF kita tidak cuma menonton. Setelah pemutaran film, ada kakak-kakak relawan dari Goethe Institut yang akan mengajak peserta untuk bereksperimen sederhana. Bagi yang telah berpartisipasi, ada hadiah menarik yang akan diberikan.

Hari pertama Science Film Festival 2014 di YPBB Urban Centre

Di YPBB Urban Centre yang berlokasi di Jalan Sidomulyo 21, Bandung, pemutaran film dilakukan dalam dua sesi yaitu pukul 10-12.00 dan 13-15.00 WIB.

Pada hari pertama pemutaran (17/11), acara dibuka dengan sambutan dari Kang Entis dan Bapak David dari YPBB serta Ibu Sulastri dari Goethe Institut.

Peserta kebanyakan anak-anak setingkat sekolah dasar dan balita. Sebagian didampingi orangtuanya. Ada yang bersekolah di rumah (homeschooling) sehingga bisa datang pada sesi pertama, banyak juga yang dari sekolah umum sehingga baru datang setelah siang dan akibatnya suasana Urban Centre pun menjadi meriah.

Kakak-kakak relawan diajari yel-yel dalam bahasa sunda:
"Abdi resep, anjeun resep, sadayana resep!"
Sebelum pemutaran film, terlebih dulu peserta diajari yel-yel dengan gerakan tangan yang mudah sekali diikuti: “Science Film Festival Indonesia 2014, saya suka, kamu suka, semua suka!” Selain itu, ada suguhan gratis dari HiLo bagi peserta.

Sesi pertama

Pada sesi pertama, ada empat film yang diputar, yaitu The Show with the Mouse: Synthetic Wood-Plastic, I Got it! Windmills, Chasing the Cardinal Direction, dan Cartoon Away.

The Show with the Mouse: Synthetic Wood-Plastic menunjukkan bagaimana pabrik di Jerman membuat plastik dari limbah kayu. Plastik itu kemudian dijadikan suling. Bunyinya ternyata berbeda dari suling yang dibuat dari kayu betulan.

I Got it! Windmills merupakan film produksi Filipina yang menjelaskan mengenai kincir angin. Aktor pemainnya bertingkah sangat kocak, sampai-sampai yang menonton pun mesem-mesem.

Kita boleh bangga dalam festival bertaraf internasional ini ada film produksi dalam negeri yang turut diputar, yaitu Chasing the Cardinal Direction alias Mengejar Mata Angin. Film ini memberi kita berbagai tips untuk mengetahui arah mata angin saat berada di perjalanan. Kadang tips yang diberikan terasa lucu, semisal bertanya pada orang di jalan, memerhatikan arah kuburan, mencari masjid dan menemukan kiblatnya, sampai menyetel GPS di smartphone karena toh kini kita hidup pada era teknologi. Tapi ada juga cara-cara yang natural, semisal memerhatikan matahari yang terbitnya di di timur dan terbenamnya di barat, atau letak lumut pada pohon yang pertumbuhannya mengarah ke terbitnya matahari.

Film selanjutnya dari Brazil dan berjudul Cartoon Away tidak kalah lucu, menceritakan tentang karakter animasi yang bandel dan tidak mau diam di kertas. Penonton pun terus mesem-mesem.

Eksperimen yang dilakukan kemudian masih berhubungan dengan film-film yang sebelumnya ditonton. Terlebih dulu kakak-kakak relawan menunjukkan cara kerja eksperimen, lalu mempersilakan adik-adik peserta mencobanya. Barangsiapa yang berhasil menyelesaikan tantangan lebih cepat daripada yang lainnya, ialah pemenangnya.

Padamkan saja apinya, biar dapat hadiah
menarik dari kakak relawan, hihihi
Eksperimen pertama dinamakan Balon Pemadam Api. Peserta diminta memilih botol yang telah ditutupi balon kempes. Ada botol yang besar, ada yang kecil dan telah dilubangi. Peserta lalu diminta menggembungkan balon pada botol itu bagaimanapun caranya. Lalu bagaimanapun caranya juga, peserta harus memadamkan api pada lilin di depannya dengan udara dari balon hasil tiupan itu. Nah, manakah di antara kedua botol itu yang dapat digunakan untuk memadamkan api?

Tiup sedotannya sampai bunyi!
Adapun pada eksperimen kedua, yaitu Sedotan Bersiul, peserta disediakan sedotan, gunting, dan segelas air. Bagian tengah sedotan digunting sebagian, tapi jangan sampai terpotong. Tekuk bagian yang hampir terpotong itu, masukkan ke dalam air, lalu tiup sampai terdengar bunyi siulan. Kok bisa, ya?

Jawabannya dapat diterangkan dengan sains!

Sesi kedua

Pada sesi kali ini, film yang diputar, yaitu Global Ideas: What is Your Personal CO2 Balance?, The Show with the Mouse: Children Imagine the Future, Nine-and-a-Half: A Life without Plastic, serta Quark!

Kedua film yang pertama, kendati berdurasi singkat saja—masing-masing tidak lebih dari lima menit—tampaknya membuat sebagian besar peserta yang notabene anak-anak terpukau, sebab disajikan dengan teknik animasi dan visual yang beragam. Film pertama memberitahu tentang berapa sedikitnya emisi karbon yang dapat  dihasilkan seorang manusia agar bumi terjaga dari kerusakan. Adapun film kedua berisi imaji-imaji mengenai kemungkinan kecanggihan teknologi pada masa depan.

Film ketiga menunjukkan bagaimana Johannes, seorang pemuda dari Jerman, berusaha hidup tanpa plastik. Dimulai dengan menyingkirkan benda apapun yang terbuat dari plastik dari dalam kamarnya, termasuk sikat gigi, koleksi CD dan DVD, pakaian yang mengandung poliester, alat-alat kebersihan, sampai laptop dan ponsel. Kamarnya pun menjadi nyaris kosong-melompong. Setelah itu, ia pergi berbelanja makanan dan minuman apapun yang kemasannya tidak terbuat dari plastik. Tidak banyak. Makan malamnya hanya roti kering dilapisi mentega, ditambah pisang. Susu tidak jadi diminumnya karena rupanya pelapisnya saja yang terbuat dari kertas, kemasan di baliknya tetap plastik. Ia juga mencari beberapa perabotan di berbagai toko, mulai dari alat-alat kebersihan sampai sikat gigi. Kesimpulannya, hidup tanpa plastik tidak mudah dan lebih mahal. Padahal selama ini pembuatan plastik—seperti dikatakan Bapak David sewaktu akhir sesi pertama—telah menghabiskan banyak sekali energi yang tidak dapat diperbarui, yaitu minyak bumi. Coba bayangkan bagaimana jadinya bila kita terus-menerus melestarikan penggunaan plastik, dan tidak ada lagi minyak bumi yang tersisa untuk keturunan kita? Selain itu, plastik tidak selalu berdampak positif bagi kehidupan manusia karena sulit terurai dan lain-lain. Johannes juga mengajak kita untuk memikirkan barang alternatif apalagi yang kira-kira bisa digunakan untuk menggantikan fungsi plastik.

Film terakhir sangat imajinatif. Bayangkan ada seorang anak yang dapat membesar hingga melampaui jagat raya. Teman-temannya menyuruhnya agar terus membesar dan membesar hingga mereka dapat meneliti partikel di kakinya. Kejadian ini jelaslah menghebohkan umat manusia, maka mereka bergembira saat anak itu menyusut kembali. Lucu.

Peserta yang jumlahnya berlipat dibandingkan pada sesi pertama tampaknya ketagihan menonton film. Namun mereka juga antusias dengan eksperimen. Kakak relawan sampai menyuruh mereka mengacung cepat-cepat, lalu memilih tiga saja di antaranya.

Eksperimen yang diberikan mula-mula Balon Meraung dan Cincin Tolak-tolakan.

Putar-putar balonnya, tapi tidak perlu sampai dijilat,
apalagi dicelupin!
Pada Balon Meraung, peserta diminta memilih antara mur dan kelereng, lalu memasukkannya ke dalam balon yang kemudian ditiup dan diikat. Ketika balon yang terisi oleh mur diputar-putar, terdengar suara seperti raungan sepeda motor. Adapun pada balon yang terisi oleh kelereng, tidak terdengar apa-apa. Menurut kakak relawan, bentuk mur menyebabkan adanya gesekan dengan permukaan balon yang lantas menjadi getaran. Dari getaran tersebut timbullah bunyi. Kalau kita memegang leher sembari bersuara, akan terasa pula adanya getaran dari pita suara. Adapun bentuk kelereng yang bulat licin tidak menghasilkan gesekan sebesar mur.  

Ini dia, juara pertama Cincin Tolak Angin
Pada Cincin Tolak-tolakan, dalam sekali percobaan peserta diminta menyusun tiga buah magnet cincin melalui sedotan yang ditancapkan pada plastisin. Magnet cincin ini tidak boleh saling menempel, atau percobaan harus diulang. Salah satu peserta berhasil menyelesaikan tantangan lebih cepat daripada yang lainnya. Rupanya ia sudah mengenal konsep magnet dan menguji magnet-magnet cincin itu terlebih dulu sebelum dimasukkannya pada sedotan.

Tidak puas dengan dua eksperimen, para peserta meminta lagi. Akhirnya kakak relawan memberikan satu eksperimen lagi, yaitu Terompet Sedotan. Cara kerjanya gampang saja. Gunting sedotan. Pada ujungnya buat bentuk V yang pipih, lalu tiup. Kalau benar caranya, potongan sedotan itu akan mengeluarkan bunyi seperti terompet. Makin panjang ukuran potongannya, makin rendah nada yang dihasilkan. Suara terompet dapat dibuat lebih keras dengan memasukkan kertas yang telah dibentuk menjadi corong ke sisi potongan sedotan yang bukan berbentuk V.

Menonton film, bereksperimen, sekalian belajar sadar lingkungan di YPBB

Sampahnya dibuang ke wadah yang mana, ya?
YPBB merupakan organisasi yang memiliki misi memahamkan gaya hidup organis pada masyarakat, misalnya pemilahan sampah, minimalnya membuang sampah pada tempatnya. Di YPBB ada banyak tempat sampah yang ditandai berdasarkan jenis sampah yang hendak dibuang, misalnya sampah organik, sampah kertas, sampah plastik, sampah logam, dan sebagainya. Bahkan menurut salah satu stafnya, keberadaan tempat sampah ini sebetulnya “terpaksa” karena akan lebih baik lagi kalau kita tidak menghasilkan sampah sama sekali alias menerapkan gaya hidup zero waste. Benda apapun yang dikatakan “sampah” sebaiknya dapat dimanfaatkan kembali melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Karena itulah, di YPBB juga tersedia keranjang takakura untuk mengolah sampah organik secara mandiri. Selain itu, YPBB berusaha memanfaatkan sumber-sumber dari alam untuk memenuhi keperluan sehari-hari, misalnya tenaga surya untuk menyalakan senter, pot tanah liat untuk menyaring air mentah sehingga layak diminum, dan sebagainya.

Maka seusai acara, anak-anak pun diarahkan untuk belajar membuang kotak susu dari sponsor pada tempat yang tepat, sedangkan orangtua dapat melihat-lihat beberapa alternatif gaya hidup yang barangkali dapat diterapkan di rumah sendiri. Demikian untuk masa depan yang lebih baik, tidak hanya dengan mengenal sains dan teknologi, tapi juga dengan mengamalkan gaya hidup ramah lingkungan sedari dini.[]



Kontak Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB)
Alamat Jl.Sidomulyo No. 21 Bandung 40123 |Phone | 022-2506369-082218731619 |Email |ypbb@ypbb.or.id Facebook YPBB Bandung |Twitter @ypbbbdg |Yahoo Messenger ypbb_humas |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar