![]() |
| Gambar dari Goodreads. |
Menurut penulis buku ini, ada lima faktor yang menyebabkan para pemuda terombang-ambing selamanya dalam masa bermain-main.
1. Kurikulum di sekolah
2. Gim
3. Obat-obatan untuk ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau gangguan perhatian)
4. Plastik
5. Kurangnya figur contoh
Karena saya sendiri bukan orang tua atau praktisi pendidikan, maka dalam mengaitkan keadaan-keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam buku ini saya hanya dengan mengira-ngira saja. Mudah-mudahan nanti setelah bertemu teman-teman yang telah menjadi orang tua atau praktisi pendidikan lalu berdiskusi, saya bisa mengembangkan pemahaman atas pengetahuan yang saya dapat dari buku ini.
Kurikulum di sekolah
Sepertinya sekarang ini anak-anak TK sudah pada diajari calistung, ya. Sementara sebelumnya pelajaran tersebut baru didapatkan di bangku SD. Sebagian anak mungkin bisa diajari calistung sejak usia dini. Tetapi, sebagian anak lain masih ingin bermain-main. Percepatan kurikulum ini enggak cocok bagi setiap anak. Anak yang enggak bisa duduk diam untuk belajar calistung dengan manis lantas didiagnosis mengidap ADHD.
Selain itu, di Amerika Serikat, sebagaimana disebutkan oleh penulis buku ini, terdapat femininisasi(?) kurikulum. Maksudnya, kurikulum belakangan (buku ini diterbitkan pada sekitar 2009) kurang mengakomodasi anak yang kompetitif (yang kita ketahui merupakan sifat maskulin) dan lebih mengedepankan perasaan ketimbang aksi (yang juga merupakan sifat maskulin). Anak yang kompetitif pun lari ke gim.
Gim
Penulis buku ini berusaha menyajikan pandangan yang berimbang terhadap gim: apakah lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya? Banyak orang tua yang menyalahkan gim sehingga anak mereka enggak mau berinteraksi dengan dunia nyata. Tetapi, ada juga ahli-ahli yang berpendapat bahwa gim memiliki manfaat tertentu.
Obat-obatan ADHD
Buku ini mengesankan bahwa di Amerika Serikat guru dengan mudahnya menyarankan orang tua untuk membawa anak yang bermasalah ke psikiater, yang lalu mendiagnosis si anak mengidap ADHD dan memberinya obat. Pada awalnya obat-obatan ini ampuh dalam mengubah perilaku anak, tetapi dalam jangka panjang dia menjadi lesu dan pemalas. Padahal masalahnya belum tentu ada pada si anak, tetapi pada persoalan kurikulum yang dipercepat tadi.
Plastik
Ternyata ada juga isu lingkungan hidup yang masuk ke sini. Kita mungkin mengonsumsi banyak minuman dari botol plastik, entahkah air mineral atau yang bersoda. Rupanya plastik bahan botol mengandung zat yang dapat mengubah sifat alami makhluk hidup. Buku ini menyuguhkan kasus-kasus aneh berupa ikan jantan yang tiba-tiba dapat menghasilkan telur, aligator jantan yang organ reproduksinya menyusut, dan lain-lain. Penyebabnya diduga karena sungai tempat hewan-hewan tersebut tinggal tercemar oleh zat pada botol plastik yang keluar akibat terkena panas matahari. Dampaknya terhadap manusia: anak-anak perempuan cepat mengalami pubertas sedangkan anak-anak lelaki menjadi feminin.
Kurangnya figur contoh
Anak-anak jaman now cenderung menjadikan aktor/aktris, penyanyi, YouTuber, dan sebagainya orang-orang di media sebagai figur contoh, ketimbang orang-orang dewasa yang ada di sekitar mereka. Padahal orang-orang yang ada di media itu belum tentu baik untuk dicontoh. Kita tahu bagaimana media cenderung menyajikan angle tertentu saja, padahal dunia nyata itu kompleks.
Penulis menyebutkan betapa puluhan tahun lalu, anak-anak muda belajar langsung mengenai nilai dan keterampilan yang berguna di dunia nyata dari orang-orang yang lebih tua di lingkungan mereka--yang enggak mesti berupa orang tua mereka sendiri. Bahkan dalam kultur-kultur tradisional terdapat upacara-upacara inisiasi atau kedewasaan yang seolah-olah menunjukkan bahwa pendewasaan tidaklah dapat dijalani sendirian oleh seseorang tetapi memerlukan pemaksaan atau dukungan dari lingkungannya.
Solusi
Berikut solusi yang dapat saya tarik dari buku ini:
- Orang tua harus mengenal anaknya: potensi, kebutuhan, kepribadian, dan semacamnya. Orang tua juga harus bijaksana dalam menerapkan standar tertentu kepada anaknya.
- Sekolah yang memisahkan murid lelaki dari murid perempuan mungkin lebih efektif daripada sekolah campur. Misalkan, di sekolah khusus jenis kelamin tertentu, anak dapat fokus pada pengembangan diri tanpa terganggu oleh tekanan untuk mengesankan murid lain yang jenis kelaminnya berbeda.
- Jangan memaksa anak untuk cepat-cepat bersekolah. Masukkanlah anak ke sekolah apabila ia sudah siap. Lebih baik telat daripada anak jadi benci sekolah untuk seterusnya.
- Keseimbangan, entahkah antara gim dan interaksi nyata/aktivitas luaruang, atau antara tahu-bahwa (pengetahuan yang diperoleh dari buku, internet, dan sebagainya) dan tahu-bagaimana (pengetahuan yang didapat dari mengalami atau mengerjakan).
- Hindari plastik dan gunakan material lain misalnya kaca.
- Anak-anak perlu komunitas atau lingkungan yang enggak hanya berisi anak-anak sebayanya tetapi juga orang-orang dewasa yang dapat menjadi contoh.
Sayangnya, buku ini enggak sampai mengulas cara untuk menangani "bocah-bocah" yang telanjur terjebak dalam tubuh orang dewasa. Dalam hal itu, buku ini hanya memberikan kumpulan cerita dari para orang tua, saudara, kekasih, sampai "bocah" itu sendiri--aneka sudut pandang--namun tanpa solusi yang pasti.
Selain itu, boleh jadi ada faktor-faktor penyebab lain yang luput dari perhatian penulis atau malah akan menjadikan fokus buku ini melebar.
Bahasa Inggris buku ini cukup mudah dimengerti sekalipun bukan terjemahan. Penjelasannya terorganisasi dan disertai solusi. Singkatnya: buku ini mudah dibaca, seru dan relatable (paling enggak buat saya, dalam beberapa hal). Saya berharap para orang tua dan praktisi pendidikan di Indonesia juga pada membaca buku ini, barangkali ada yang dapat diterapkan. Mungkin kita sulit atau malah enggak bisa mengubah bocah-bocah-kurang-motivasi yang sudah telanjur gede, tetapi sepertinya ada harapan untuk mencegah agar jumlah mereka enggak tambah membeludak di kemudian hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar