Jumat, 08 Maret 2019

Jakarta Undercover

Gambar dari Goodreads.
Dulu saya mengira ini tipe bacaan yang akan membuat panas-dingin. Rasanya takut-takut hendak membacanya. Namun, hingga saya memiliki cukup kekuatan untuk membaca buku ini dari awal sampai akhir, tampaknya saya telah terpapar oleh materi yang lebih parah (?), sehingga buku ini kok terasa membosankan. Tiap bab alurnya begitu-begitu saja walaupun tentu saja ada beberapa hal yang berbeda. Saya sempat membaca sekilas review-review di Goodreads, rupanya ada yang berpendapat begitu juga.

Memang buku ini bacaan khusus dewasa, tetapi bukan pornografi karena tidak mengeksploitasi detail tertentu. Bisa dibilang, penulis masih cukup sopan. Mungkin buku ini dapat memancing pembaca untuk mengembangkan imajinasi sendiri, tetapi boleh jadi itu tergantung pada kadar kebutuhan periodik individual, sudah terpenuhi atau belum.

Buku ini memberikan wawasan dan pengetahuan bahwa hal-hal begituan memang ada juga di Indonesia, khususnya di Jakarta, yang entah kenapa hampir selalu melibatkan warga keturunan (seolah-olah meneguhkan stereotipe tertentu). Kadang rasanya seperti fiksi fantasi. Tetapi, sepertinya memang nyata malah terus terjadi dari masa ke masa. Bab "Bisnis Kolam Susu GM Super", misalnya, mengingatkan pada kasus prostitusi artis yang mencuat baru-baru ini.

Yang paling mengejutkan dari buku ini justru latar belakang penulisnya yang pernah mengenyam ilmu keagamaan, mulai dari pesantren sampai IAIN. Kenyataan tersebut mengesankan seolah-olah pendidikan agama itu enggak lantas menjamin seseorang bebas dari menenggak alkohol atau menikmati aurat perempuan yang bukan mahram. Maksudnya, buku ini kan ditulis berdasarkan observasi partisipatif, kalau semua detail kejadian termasuk yang tidak dieksplisitkan 100% terpercaya.

Yang enggak kalah menarik adalah Kata Pengantar dari Dede Oetomo yang semacam mengglorifikasi seks bagaimanapun bentuknya, semacam menjadi konter bagi sikap sebagian masyarakat yang cenderung menabukan atau menutup-nutupi padahal munafik, yang kalau saya sih lebih suka mengatakannya sebagai "mengendalikan". (Meskipun kalau menikah tujuannya hanya untuk melegalkan seks, menurut saya itu enggak sebanding dengan kewajiban dan tanggung jawab yang mengikutinya.)

Memang si penulis sendiri pada akhir beberapa babnya seolah-olah hendak menggiring opini bahwa segala perilaku seks yang kebablasan berhura-hura dan hedonista itu kesemuan dan kehampaan belaka. Tetapi, toh tetap ada penikmatnya, orang-orang yang merayakannya. Terus saja ada yang begitu.

Buku ini lumayan sebagai pengantar seandainya mau riset tentang dunia begituan. Tetapi, saya kira buku ini hanya seperti yang jalan-jalan kecipak-kecipuk main di permukaan air dangkal, enggak sampai menyelam. Buku ini tidak sampai memikirkan dampak jangka panjang dari perilaku demikian, yang enggak usah sampai ke akhirat lah, di tataran dunia saja dulu, kepada masyarakat luas. Mungkin karena namanya sekadar liputan jurnalistik. Maksudnya, kalau mau mengupas sampai mendalam dengan menelisik akar nafsu-nafsi yang mengakibatkan fenomena seperti dieksplorasi dalam buku ini berikut dampak dan cara-cara menanggulanginya, itu namanya kajian ilmiah yang perlu diulas dalam bentuk buku tersendiri dengan daftar pustaka berhalaman-halaman.

Saya baca buku ini yang edisi Indonesia cetakan kesembilan terbitan April 2003, dibeli dengan harga 45.000 rupiah. Biarpun sudah cetakan kesembilan, typo tersebar di mana-mana. Bukunya setebal 486 halaman dan jilidnya kurang baik, enggak bisa dibuka lebar-lebar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain