Tampilkan postingan dengan label rimbawan kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rimbawan kota. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Agustus 2018

Mengurbankan Kemerdekaan

Kemarin pagi saya mengidam gorengan. Setelah membeli sebungkus gorengan seharga sepuluh ribuan di depan Alfamart dekat rumah, dalam perjalanan pulang tahu-tahu terbayang oleh saya masyarakat adat yang tersingkir dari kampung tempat mereka mencari penghidupan sehari-hari, anak orangutan yang kehilangan induknya, jutaan burung yang kelabakan mencari sarang baru, serta sekian spesies yang punah. Semua demi menghasilkan aneka produk kelapa sawit, yang di antaranya berupa minyak goreng, agar saya bisa menikmati sebungkus gorengan pada pagi nan cerah yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Bukan hanya perkebunan kelapa sawit, tetapi juga pertambangan batu bara dan sebagainya menggantikan hutan alam demi memenuhi konsumsi manusia modern. Batu bara merupakan sumber utama energi listrik (baca di sini). Berkat listrik, kita dapat memainkan gadget seharian. Sudah menjadi topik yang klise betapa hidup manusia sekarang ini sangat bergantung pada teknologi--gadget. Agaknya listrik sudah termasuk kebutuhan primer dalam hidup kita, mendampingi pangan, sandang, dan papan.

Merayakan kemerdekaan dengan berkurban.
(Bukan ikut promosi. Biar ada ilustrasi saja.)
sumber
Dalam rangka mensyukuri hari kemerdekaan, biasanya kita disuruh untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan yang telah bertempur melawan kompeni bersenjatakan bambu runcing. Tetapi rupanya ada lebih banyak nyawa yang harus dikorbankan agar sebagian manusia dapat menikmati gorengan dan gadget dengan merdeka bangsa yang merdeka ini dapat melangsungkan pembangunan.

Sebetulnya saya cuma ingin berbagi rasa terusik saya setelah membaca dua artikel ini di Mongabay:

Community vs. company: A tiny town in Ecuador battles a palm oil giant
Bornean villagers who fought off a mine prepare to do battle again

Selain itu, saya pernah membaca hadis yang mengatakan bahwa sesuap yang kita makan pun akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat. Lalu bagaimanakah pertanggungjawaban kita jika segenggam gadget yang kita pakai sehari-hari ternyata mengakibatkan terzaliminya suatu suku di pedalaman Papua?

Sesampai saya di rumah, setelah makan beberapa bala-bala dan cireng lalu merasa mual, saya melempar topik ini ke suatu grup WA serta memikirkan langkah-langkah yang dapat saya lakukan untuk mengurangi rasa bersalah saya.


  • Berhenti makan gorengan sama sekali. Batasi makanan hanya berupa buah, sayuran, serta apa pun yang direbus dan dikukus, dan beli dari warung, pasar tradisional, atau pedagang kecil.
  • Berhenti minum minuman sachet sekalian. Toh kamu malas mendaur ulang sampahnya, ya kan? Minum air putih saja. Kalau ingin minum yang berasa, alternatifnya: air + madu, air + perasan jeruk nipis atau lemon + madu, kunyit asam, serta aneka minuman herbal lain yang dibuat sendiri dan bahan-bahannya dibeli di warung, pasar tradisional, atau pedagang kecil.
  • Batasi penggunaan gadget. Kalau malam, daripada menyalakan lampu kamar dan menyendiri sambil menyetel musik supaya ada "suara-suara", lebih baik menggunakan lampu ruang tengah bersama-sama anggota keluarga yang lain. Toh mereka juga bersuara.
  • Cari tahu tentang sumber energi alternatif.


Ow, really?!

Gagasan-gagasan di atas sama sekali tidak menyenangkan, dan banyak alasan untuk tidak melakukannya. Kan enggak tiap hari makan gorengan, sekali-sekali enggak apa-apa lah, dan lagi bala-bala itu enak banget. Memeras jeruk nipis atau lemon tiap pagi sangat merepotkan dan makan waktu, begitu pula dengan memasak herba-herbaan. Belajar bahasa asing lewat Duolingo, Youtube, dan berbagai sarana lain di internet lebih menyenangkan daripada lewat buku cetak yang hampir-hampir tidak ada gambarnya. Mencuci piring, menyetrika, menyapu dan mengepel lantai terasa membosankan tanpa mendengarkan jaz. Berkumpul bersama di ruang keluarga sangat canggung dan tidak semua orang ingin menonton siaran Asian Games di televisi. Bahkan bergaul pun hampir-hampir tidak mungkin dilakukan tanpa gadget. Zaman sekarang, ketika kita ingin menemui seseorang kita mesti menghubungi dia lebih dulu lewat WA atau apalah, alih-alih menelepon atau mendatangi langsung ke rumah dan memanggil-manggil namanya dari balik pagar seperti dahulu kala. Begitu pula dengan bekerja. Bahkan peternak pun menggunakan aplikasi untuk menyebarkan pelet dalam dosis yang tepat. Pekerjaan apa yang tidak menggunakan teknologi dewasa ini? Yah, ada saja sih dan mungkin bisa dihitung dengan jari, tetapi apa mau bekerja seperti itu? Selain itu, belajar tentang sumber energi alternatif pasti memusingkan! Ada alasannya saya enggak memilih ITB jurusan teknik menjelang lulus SMA.

Kebetulan tahun ini hari kemerdekaan berdekatan waktunya dengan Idul Adha, yang identik dengan kurban. Ternyata keduanya punya keterkaitan makna juga. Kita bisa merdeka berkat pengorbanan para pahlawan, masyarakat adat, orangutan, burung, dan aneka spesies lain. Pengorbanan berarti kita lepas, bebas, merdeka dari keterikatan dengan sesuatu yang kita dikasihi, disayangi demi sesuatu yang Tinggi, seperti pembangunan perkebunan dan pertambangan demi menunjang ekonomi bangsa seperti Nabi Ibrahim As yang hendak menyembelih putranya semata-mata karena perintah Allah Swt.

Mengurbankan kemerdekaan
(Bukan ikut promosi. Biar ada ilustrasi saja.)
sumber
Kalau sebagian nyawa rela atau terpaksa berkorban agar kita bisa memperoleh kemerdekaan dalam hal-hal tertentu, sudikah kita melakukan sebaliknya demi kebaikan yang lain? Maksudnya, kan bisnis muncul karena ada permintaan. Perkebunan dan pertambangan terus dibuka menggantikan hutan karena konsumsi masyarakat atas produk dari jenis usaha tersebut meningkat. Bisa saja perkebunan dan pertambangan itu setelah tidak digunakan lagi direhabilitasi agar kembali menjadi hutan, tetapi akankah dapat menghidupkan lagi spesies yang telanjur punah? Akankah itu memulihkan luka emosional serta perubahan mental dan gaya hidup suatu kaum yang telah mengalami marginalisasi selama bergenerasi-generasi? Sudikah kita mengorbankan gorengan? Sudikah kita mengorbankan minuman sachet? Sudikah kita mengorbankan waktu bermain gadget demi melakukan aktivitas lain yang lebih aktif, bersosialisasi secara nyata? Sudikah kita membersihkan rumah dan segala isinya tanpa sambil menyalakan radio? Sudikah kita mengorbankan waktu untuk melacak sumber listrik PLN, berkelanjutan atau tidak, dan kalau tidak lantas berhenti berlangganan serta mencari dan memasang alternatifnya? Sudikah kita mengorbankan segala kenyamanan hidup ini? Pasti sulit, ya, dan penderitaan yang kita rasakan ketika harus berpisah dari hal-hal itu apakah sebanding dengan yang dialami masyarakat adat yang tersingkir dari kampungnya, anak orangutan yang terpisah dari induknya, jutaan burung yang hancur sarangnya, serta sekian spesies yang tidak dapat lagi berkembang biak? Bagaimana pula dengan penderitaan kita di neraka akibat secara tidak sadar menzalimi makhluk hidup lain? Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, tetapi kita terus berbuat kerusakan di muka bumi dengan ketergantungan kita pada gorengan, gadget, listrik, bahkan baju baru yang limbahnya mencemari Sungai Citarum. Tapi, tapi, tapi, gimana nasib penjual gorengan, gadget, PLN, pedagang baju di Pasar Baru, serta karyawan batu baru dan kelapa sawit kalau kita berhenti membeli barang mereka??? Gimana dengan laju ekonomi bangsa??? Uuugh, stres akutu.

Sementara itu, teman-teman dari grup WA mengingatkan saya untuk tidak berpikir terlalu jauh. Tanggapan mereka juga mengingatkan saya pada orang-orang yang kemudian depresi, paranoid, dan sebagainya akibat memikirkan betapa kekuatan asing telah menguasai Indonesia atau dahsyatnya siksa neraka. Tidak lupa, ada cerpen Ursula Le Guin, "The Ones who Walk Away from Omelas" (versi bahasa Indonesia coba-coba di sini) yang seakan-akan menyiratkan bahwa begitulah kehidupan manusia: demi kebahagiaan suatu kaum, ada pihak lain yang harus menderita. Pada akhirnya, semakin berumur kita akan menjadi semakin pemilih: mana yang harus dipedulikan dan mana yang sebaiknya diabaikan. Agaknya orang memang perlu cuek supaya tetap waras. Hidup sungguh bagai makan buah simalakama. Tapi tapi tapi apa enggak buah lain yang enak dimakan?

Marilah berbagi kemerdekaan, sepertinya.
(Bukan ikut promosi. Biar ada ilustrasi saja.)
sumber
Jadi, apa sih kemerdekaan itu jika sampai harus mengorbankan hajat hidup makhluk lain? Memang sih, siapa juga yang sudi berkorban demi kepentingan penjajah? Tetapi, bagaimana jika setelah penjajah itu pergi, kitalah yang ganti menduduki posisinya dan menjajah bangsa sendiri, tanpa kita menyadarinya? Bisakah kita merdeka dari berbuat salah dan dosa? Bisakah kita hidup tanpa berbuat kerusakan di muka bumi? Mengapa begitu banyak kesenangan dunia yang mesti dikorbankan demi kebaikan akhirat?

Keep istigfar, tobat dan belajar zuhud, sepertinya.

Senin, 10 Maret 2014

Pada Sebuah Kota


Membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya kuncennya Bandung, (alm.) Haryoto Kunto (PT Granesia, Bandung, cetakan kesatu, April 1986), timbul rasa penasaran untuk menapaktilasi tempat-tempat yang disebutkan, membandingkan foto tempo doeloe yang terpajang di buku dengan keadaan pada zaman sekarang. Misalnya saja Penjara Banceuy yang menjadi tempat Presiden Soekarno menyusun pidato pembelaannya, “Indonesia Menggugat”. Dalam foto di halaman 878 bentuk penjara tersebut masih berupa bangunan panjang dengan pintu-pintu sel berderet di satu sisinya, sedang kini yang tersisa hanya satu sel saja yaitu sel nomor 5 yang dulu dihuni Soekarno, sedang sekelilingnya sudah berupa bangunan-bangunan pertokoan menjulang. Sebut juga monumen “pantat bugil” di Tjitaroem Plein alias Taman Citarum yang penampakannya hanya bisa dilihat di halaman 346, lokasi tersebut kini sudah berganti rupa menjadi Masjid Istiqamah.

Dengan gaya ilmiah-populer yang amat cair, malah seringkali terasa kedodoran karena pembahasan yang merembet ke mana-mana, buku ini sebenarnya cukup ringan untuk dibaca. Banyak pengetahuan menarik yang bisa menambah pemahaman kita akan suatu kota. Misalnya saja, istilah “alun-alun” menurut Prof. Ir. V. R. van Romondt, guru besar Sejarah Arsitektur Indonesia di ITB pada 1960-an, berasal dari kata “alun” yang berarti ombak lautan”. Apa hubungannya “ombak lautan” dengan lahan terbuka di tengah kota? Pada mulanya adalah tradisi “rampogan” di Alun-alun Mataram, di mana ribuan prajurit bertombak mengepung harimau lapar dan ditonton oleh masyarakat. Ketika harimau itu lepas, kocar-kacirlah para penonton hingga tampaknya seperti gerakan ombak di lautan…

Nah, siapa sangka kalau Daendels ternyata berperan dalam menentukan letak alun-alun yang notabene pusat Kota Bandung sekarang? Tahun 1810, Daendels sedang melaksanakan pembangunan Grote Postweg alias Jalan Raya Pos sepanjang 1000 km yang menghubungkan Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan raya ini melewati kota-kota yang antara satu sama lain berjarak 15-60 km. Pengaturan jarak tersebut berdasarkan sistem “kereta-pos” yang tiap jarak tertentu harus berhenti untuk mengganti kuda yang kecapekan, sehingga dibangun pula pos-pos pemberhentian sebagai tempat bermalam para penumpang kereta-pos. Ketika pembangunan mencapai kawasan Bandung, rupanya letak ibukota kelewat jauh dari patok rencana jalan. Daendels pun menitahkan agar bupati Bandung kala itu memindahkan ibukota dari Dayeuh Kolot ke lokasi yang akan dilewati jalan raya pos. Maka setelah hitung-hitungan teknis dan mistis, terpilihlah lokasi pusat kota yang sekarang ini.

Namun pada masa itu sebagian kawasan Bandung terutama bagian selatan masih berupa rawa-rawa yang jarang ditumbuhi pepohonan. Gundul, gersang, dan tidak sehat untuk dihuni. Bupati Bandung pada masa itu, R. A. A. Martanegara (yang kini namanya diabadikan menjadi nama jalan di dekat rumah saya) membangun saluran irigasi serta mengeringkan lahan untuk mengatasi buruknya lingkungan. Menyongsong abad 20, barulah Belanda melihat sisi Bandung yang potensial untuk dijadikan kota koloni. Konsep pembangunan Kota Bandung dipengaruhi oleh konsep “Garden City” dari Ebenezer Howard yang disesuaikan dengan iklim tropis. Maka jadilah Bandung pada masa itu hijau lestari karena ditata oleh orang-orang Eropa yang gandrung akan taman, dengan bangunan-bangunan yang berwajah Eropa sehingga dijuluki Parijs van Java. Tapi namanya juga kota koloni. Biarpun presentase pemukim Eropa di Bandung hanya 12 % (tertinggi di antara kota-kota lainnya di Nusantara), namun 52 % dari luas kota diperuntukkan bagi mereka saja.

Pendudukan Jepang pada 1940-an menyingkirkan koloni Belanda, disusul oleh kemerdekaan Indonesia, dan kota pun menjadi milik pribumi sepenuhnya (benarkah?). Bukan hanya Belanda yang minggat, taman-taman pun ikut “lewat”. Lahan-lahan hijau yang dulu dibikin Belanda untuk menyegarkan kota satu per satu dikorbankan demi pem”bangunan”—pendirian bangunan-bangunan apapun fungsinya hingga berjejal dan menjadikan kota terasa sesak. Masalah lingkungan pun bertambah-tambah. Dari banjir sampai polusi. Kesadaran lingkungan yang hinggap pada segelintir orang seolah tiada artinya dibandingkan ketidakpedulian kebanyakan warga. Wajah dan tubuh nan molek-rupawan melenggang di jalanan kota yang ditebari oleh sampah—alangkah kontrasnya! Tapi itulah pemandangan sehari-hari di Kota Bandung.

Maka buku ini mengandung pula kritikan bagi warga kota yang masih tidak acuh pada lingkungan di sekitarnya. Patutlah dibaca oleh siapapun pemangku kepentingan di Kota Bandung, mulai dari walikota, pegawai pemerintahan, sampai mahasiswa. Tebal buku yang mencapai 1.116 halaman memang bisa bikin keder. Daftar kepustakaannya saja sepanjang enam belas halaman dan meliputi judul-judul berbahasa Indonesia, Inggris, Belanda, serta sedikit Jerman dan Sunda. Saya pun membacanya dengan mencicil satu bab per hari. Setelah khatam, rasanya jadi ingin tumpengan.

Sayangnya buku ini terbilang langka sehingga tidak siapapun bisa mengaksesnya. Penulisnya pun sudah meninggal. Padahal saya berandai-andai buku ini dicetak ulang karena informasi-informasi di dalamnya masih menarik dan relevan kendati sudah tiga puluh tahun berlalu. Tentunya dengan penyesuaian-penyesuaian semisal pada penjabaran mengenai rencana induk Kota Bandung yang pada masa itu baru sampai pada 2005.

Seumur hidup saya baru menemukan buku ini sebanyak tiga biji: di stan Lawang Buku kala Pesta Buku Bandung; di rumah seorang kawan; dan di lemari yang menyimpan koleksi buku Mama. Tapi agaknya lebih langka lagi buku pendahulunya yakni Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Selain di stan Lawang Buku pada Pesta Buku Bandung entah berapa tahun lalu, saya baru melihatnya sebagai properti Komunitas Aleut yang dibawa-bawa acap kali rute ngaleut mencakup kawasan kota. Maklum, yang pertama disebut diterbitkan pada 1986 sedangkan yang satunya pada 1984. Semerbak Bunga di Bandung Raya tampak jauh lebih tebal ketimbang buku sebelumnya. Saya tidak memiliki apalagi pernah membaca Wajah Bandoeng Tempo Doeloe sehingga tidak bisa membandingkan isi kedua buku tersebut. Namun buku yang pertama terbit sering kali disebut-sebut sebagai referensi dalam buku yang selanjutnya. Dengan begitu, bolehlah dikira bahwa buku yang kedua merupakan pemaparan yang lebih komprehensif mengenai sejarah Kota Bandung.

Dari judul, bahkan warna kover, dan tinjauan isi buku secara umum, bolehlah diduga kalau Semerbak Bunga di Bandung Raya mengulas sejarah Kota Bandung khusus dari aspek lingkungan hidup. Padahal tidak begitu juga. Dari dua puluh satu bab, saya menandai hanya sepuluh bab yang bahasannya mendekati bidang perhutanan kota yaitu bab V–bab X dan bab XIV–VII. Lainnya walaupun tidak menjurus langsung dengan perhutanan kota, namun masih berhubungan dengan alam yaitu bab IV dan bab XVIII yang membahas tentang air serta bab II mengenai aspek geologi dan prasejarah. Selebihnya meninjau sejarah kota dari aspek kultural seperti bab III yang mengeksplorasi khazanah legenda serupa Sangkuriang di berbagai daerah lainnya di dunia, serta bab XI–XII yang mengusut muasal alun-alun sejak zaman Mataram sampai pemerintahan Daendels. Bab XIII mengangkat secara khusus kekayaan kuliner di Kota Bandung yang pada “zaman normal” bisa dinikmati hingga larut malam. Adapun pada bab-bab terakhir dibicarakan masalah penataan kota yang sejak tiga puluh tahun lalu saat buku ini ditulis sampai sekarang masih saja semrawut!

Sungguhpun begitu, dengan pembenahan-pembenahan di seantero kota yang mulai tampak sejak terpilihnya walikota yang baru, didukung oleh komunitas-komunitas yang makin hidup geliatnya, mudah-mudahan Bandung menjadi makin nyaman untuk ditinggali dan sejahtera pula warganya.[]

Minggu, 02 Maret 2014

Trotoar Gelap Jalan Ganesa

Kamis (27/2/14) sekitar pukul tujuh malam saya berjalan beriringan bersama seorang kenalan menyusuri Jalan Ganesa—dari Masjid Salman menuju Jalan Ir. H. Juanda. Kenalan saya enggan menapak trotoar karena takut. Saya yang heran pun bertanya apa gerangan dia pernah mengalami kejadian tertentu di trotoar tersebut. Saya perhatikan penerangan di trotoar sisi kanan kami itu hanya berasal dari deretan rumah di sampingnya. Itupun tidak terang amat namun tentu aneh kalau saya menyebutnya “peredupan” apalagi “penggelapan”—konteksnya sudah berbeda. Adapun sisi lain trotoar, berbatasan dengan jalan raya, rimbun oleh jalur hijau mulai dari tanaman hias sampai pepohonan yang berpotensi menambah kesan seram. Namun trotoar itu juga tidak sepi amat. Tidak sedikit orang yang melintas di sana, juga duduk-duduk di bangku yang tersedia. Mungkin kenalan saya itu takut diganggu entah siapa. Saya sendiri biasanya melalui trotoar itu tiap ke/dari Masjid Salman/ITB apabila dari/menuju Jalan Ir. H. Juanda, dan selama ini aman saja entah sedang terang atau sudah gelap. Mengenai gangguan di ruang publik ini saya teringat pengalaman saya kala bertemu ekshibisionis di Taman Balaikota beberapa minggu lalu. Waktu itu siang benderang, saya dan kawan mengobrol sembari lesehan beralaskan rerumputan di salah satu sisi taman. Saking asyiknya bicara, entah setelah berapa lama saya baru menyadari kalau bapak-bapak yang duduk beberapa meter jauhnya sedang mempertontonkan “jamur merah”-nya ke arah kami. Hiii… Kontan saya mengajak kawan saya itu untuk pindah pelan-pelan. Kembali pada situasi di malam Jumat, saya pun bisa mafhum ketakutan kenalan saya itu akan gangguan yang mungkin terjadi di tempat gelap semacam trotoar Jalan Ganesa itu. Maka kami berjalan di jalan aspal. Posisi kenalan saya di sebelah kanan, dekat jalur hijau yang memagari trotoar, sedang saya di kiri, dekat kendaraan yang sesekali berdesing melaju melawan arah kami. Kecepatan rata-rata kendaraan lumayan juga karena jalanan cukup lowong. Sempat dari arah berlawanan tersebut datang motor yang digas kencang-kencang. Saya pun bilang pada kenalan saya itu, “Saya malah lebih takut kalau jalan di sini.” “Kenapa gitu?” tanggapannya. “Soalnya ini jalan kendaraan.” Rentan keserempet. Dia tampaknya mesem-mesem saja. Untung kami sudah dekat dengan belokan yang menjadi titik perpisahan kami—dia hendak menyetop angkot sedang saya terus ke kanan hendak ke kawasan Jalan Merdeka. Segera saya menjejakkan kaki di bebatuan yang mengalasi trotoar. Leganya kembali ke jalan yang benar! []

Minggu, 11 Maret 2012

Ngubek Baksil: SERU(!) (Bagian 2-Tamat)

Sisi lain PT EGI di mata sang ahli tumbuhan

Tak jadi kembali melewati rute yang sama karena ada pria tak berbusana, kami mendaki jalan setapak yang membelah lembah. Sampailah kami di jalan relatif mendatar yang dulunya beraspal. Namun dalam rangka persiapan konferensi internasional Tunza 27 September-1 Oktober 2011 lalu, aspal yang menutupi jalan sepanjang 900 meter tersebut dikelupas untuk kemudian ditanami anak-anakan pohon oleh para partisipan konferensi.

Dulunya area ini beraspal

Kami melewati dua pria yang tengah mencabuti tumbuhan liar di sekitar anakan. Mumpung. Akhirnya kami terlibat obrolan dengan mereka, khususnya saya dengan pria bernama Pak Tatang.

Setiap hari, Pak Tatang berangkat dari rumahnya di Lembang pukul setengah tujuh pagi dan kembali dari Baksil pukul empat petang. Ia libur hanya ketika ia sakit. Semula ia bekerja untuk Dinas Kehutanan di kawasan Tangkuban Perahu hingga PT EGI “meminjam”nya untuk merawat Baksil. Ia telah bekerja selama lima bulan ketika kontraknya diperpanjang hingga tiga puluh lima tahun kemudian karena dedikasinya—padahal menurut media kontrak PT EGI dengan pemerintah kota hanya tiga puluh tahun lo. Jadi sejak mula hingga kini, ia telah bekerja di Baksil selama kurang lebih setahun. Sudah ada dua kali pergantian pekerja sebelum ia ditugaskan ke sini.

Pak Tatang yang berbaju hijau, bukan oren

Pemerintah kota memang telah mempercayakan PT EGI untuk pengelolaan Baksil dan PT EGI mempercayakan orang seperti Pak Tatang untuk menjaga kawasan tersebut. Pengalaman Pak Tatang bekerja di hutan membuatnya hapal akan beragam jenis tumbuhan, tidak hanya morfologi, tapi juga kegunaan!

Buah bulat berwarna biru keunguan yang banyak saya dan kawan-kawan temukan di dalam hutan Baksil misalnya, itu adalah ganitri yang berkhasiat mengobati luka. Buah bulat kecil merah yang suka digunakan anak-anak untuk merekayasa dirinya seolah berdarah-darah ternyata mengandung racun. Dan rerumputan yang kita pijak ternyata bukan sekadar rumput. Setiap bentuk daun rumput mengindikasikan jenis yang berbeda.

Kenalkan, aku gani tree, pohonnya si gani!

Pengetahuan Pak Tatang mencakup 1150-an jenis tumbuhan dan itu sudah diuji, akunya. Ia telah diminta beberapa kali, oleh mahasiswa misalnya, untuk bantu mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan yang ada di Baksil yang jumlah mencapai ratusan! Menurut Pak Tatang, jenis tumbuhan yang ada di kota umumnya bisa pula ditemukan di kampung meski penyebutannya menggunakan nama berbeda. Metode belajarnya adalah mengajak orang tua ke kebun lalu ia minta diterangkan mengenai jenis-jenis tumbuhan yang ditemui. Ia akan mencatatnya. Berkat keahliannya tersebut, ia suka diminta menangani pemilihan jenis tumbuhan di mana-mana, sebut saja Medan, Riau, Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, sampai Baksil. Kini ia menjadi rebutan antara Dinas Kehutanan dan PT EGI.

Selain Pak Tatang dan seorang rekannya, PT EGI juga memanfaatkan jasa keamanan dari pihak yang disebut Pak Tatang sebagai GMBI. Menurutnya, apabila kita hendak mengadakan aktivitas tertentu di Baksil, sebaiknya kita lapor dulu pada GMBI. Saya sendiri belum mengecek di mana persisnya letak pos GMBI. Dari sini, mereka akan melaporkan pada atasan mereka tersebut. Namun jika kita hanya sekadar ingin jalan-jalan, rekreasi, dan semacamnya, silahkan saja. Pelaporan adalah supaya antar pengunjung dan penjaga Baksil bisa saling tahu sehingga hal-hal tak diinginkan bisa dihindari. PT EGI ingin anak-anakan pohon yang sudah ditanam di Baksil terpelihara dengan baik sehingga Baksil tidak makin rusak. Lalu bagaimana dengan “para penghuni” Baksil? “…suka kucing-kucingan…” tanggap Pak Tatang.

Ketika saya menyinggung isu rencana pembangunan rumah makan di Baksil oleh pemerintah kota dan PT EGI, Pak Tatang mengatakan bahwa hal tersebut entah jadi diwujudkan apa tidak. Menurutnya, yang hendak dibangun adalah rumah makan saja di tapak bekas rumah makan yang lama. Namun hingga kini pengkajian mengenai pohon mana yang mesti dilindungi dan mana yang boleh ditebang yang tumbuh di sana masih dilakukan.

Tidak dipungkiri bahwa ada pihak-pihak yang menentang rencana tersebut. Meski banyak yang menganggap “majikan”nya rewel, Pak Tatang mengaku tidak pernah diomeli sang majikan. Ia hanya menjalankan tugasnya yaitu merawat tanaman di Baksil dan ia menyukainya. Ia sendiri berharap supaya Bandung tidak semakin gundul dan kawasan hijau yang ada di Bandung bisa lestari.

Yang ia tidak suka adalah ketika ada orang-orang yang menggunakan Baksil secara tidak semestinya, seperti bermesum-mesuman, mabuk-mabukan, apalagi buang limbah sepelemparannya. Banyak pengunjung yang suka membuang sampah dari jembatan sehingga bagian bawah jembatan pun dicemari sampah. Adapun sampah tersebut, menurut Pak Tatang, adalah wewenang Dinas Kebersihan untuk membereskannya.

Salah satu titik persebaran sampah

Botol arak yang terdampar di lapangan adu domba

Volume suara Pak Tatang yang rendah bikin saya harus menjaga jarak supaya telinga saya bisa menangkap perkataannya. Sempat ada pikiran, jangan-jangan ia tidak ingin pembicaraan ini terdengar orang lain. Namun bagaimanapun, apa yang Bapak sampaikan ini menarik, Pak, jadi saya sampaikan lagi apa adanya di blog saya ya, Pak, hehehe.

Ketika saya membuka kedok saya sebagai mahasiswi di Fakultas Kehutanan, ia malah merendah dengan mengakui bahwa ia lulus SMP pun tidak. Namun itu malah bikin saya malu karena pengetahuan saya tentang tetumbuhan jelas amat minim jika dibandingkan dengan pengetahuannya.

Sayang sekali saya tidak membawa perekam untuk mendokumentasikan transfer wawasan yang berharga ini. Bagaimanapun ini momen tak direncanakan.

Saya pun undur diri dari hadapannya karena kawan-kawan sudah meninggalkan kami sejak puluhan menit lalu. Jika kami bersua lagi, ia bilang ia akan memberikan nomor ponselnya sehingga saya bisa menghubunginya ketika saya memerlukan. Dengan terbuka, ia bersedia untuk menemani sembari memperkenalkan ragam tumbuhan di Baksil pada saya apabila lain kali saya menginginkan demikian. Begitupun kamu yang membaca. Cari saja pria bernama Pak Tatang. Dengan rendah hati, ia akan membagikan pengetahuannya yang bermanfaat asalkan kita tak bermaksud tak senonoh di Baksil.

Penutup

Selepas dari Pak Tatang, saya menuju Mitra Art Space (selanjutnya MAS) untuk menyusul Rizkita dan Eva. Saat saya mampir, mereka tengah berbincang dengan seorang pria tambun berkumis. Mereka lupa tanya siapa namanya, mereka hanya tahu kalau pria tersebut adalah pengelola tempat tersebut.

Menurut Eva, sedari mula pria itu menceritakan pengalaman dan pandangannya. Salah satunya, banyak yang memesan lukisan kaligrafi kepadanya untuk menangkal makhluk kasat mata di rumah. Masih banyak muslim yang memercayai hal-hal mistis rupanya. Yang bikin takjub, lukisan kaligrafi yang berdiri di seberang kami dibuat oleh seorang nonmuslim.

Siapa saja yang mau belajar melukis secara cuma-cuma, silahkan datang ke MAS kapanpun. Namun yang mengajari bisa tidak pasti alias ganti-ganti. Umumnya, yang datang untuk belajar sekali atau beberapa kali, kemudian tidak datang lagi. Umumnya pula, orang lebih memilih belajar di Sanggar Olah Seni (SOS) kendati konon tidak gratis. SOS yang terletak di samping MAS menempati lahan lebih luas, menghimpun lebih banyak seniman, serta aktif dalam menanggapi isu rencana pembangunan Baksil sejak tahun 2002 hingga belakangan ini—sementara MAS nyaris tak teridentifikasi dalam pemberitaan perkara ini di media.

Sayang sekali, saya tidak sempat mengorek informasi mengenai MAS terhadap isu tersebut karena ayam di saku celana pria itu keburu berkokok. Sementara ia menjawab panggilan, kami pun undur diri.

Kami sempat menghampiri tapak bekas rumah makan namun tidak berlama-lama di sana. Lokasi tersebut menguar bau tak sedap. Ini adalah sisi hutan yang lain dari Baksil, sama tak terawatnya.

Tapak bekas Rumah Makan Babakan Siliwangi

Bagaimanapun, hari ini telah menjadi momen yang mengasyikkan bagi kami. Menjelajah “alam” (baca: alam buatan di tengah hingar bingar kota di akhir minggu) hingga berbagi dengan orang-orang baru adalah hal-hal yang patut kami syukuri. Namun tak akan lekang pula dari ingatan akan hal-hal yang patut disesali. Ruang terbuka hijau kami ternyata layak huni dan itu menjadikannya belum sungguh layak dikunjungi. Lalu kita apakan ini hati nurani?***

Sabtu, 10 Maret 2012

Ngubek Baksil: SERU(!) (Bagian 1)


Terwujud juga keinginan saya untuk menjelajah bagian dalam Baksil (baca: Babakan Siliwangi) pada Sabtu (10/04/12). Saya jadi lebih memahami arti keberadaan sebuah hutan yang sebagiannya dikepung bangunan ITB ini. 

Hutan ini sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai lokasi outbond bagi anak-anak SD. Sekadar tracking saja sudah seru, apalagi sambil mengenali jenis-jenis tumbuhan yang ada. Topografinya beragam, landai hingga curam, sebagaimana pengertian dari penamaannya. Dalam bahasa Sunda, “babakan” berarti lembah. Tegakannya tidak begitu rapat sehingga menyediakan beberapa ruang terbuka namun tetap ternaungi tajuk. Ditambah banyak jalur setapak nan mengundang untuk ditelusuri, aneka jenis dan warna tetumbuhan, mata air, arena adu domba yang bisa dijadikan arena mengaso, dan lain-lain… tempat ini menurut saya benar-benar asyik!

Arena devide et impera. Di sini para raja kita diadu Belanda.

Ada banyak akses untuk merambah Baksil. Dari Jalan Taman Sari, kita bisa melalui gerbang yang langsung menuju Sabuga, pagar yang bolong, jembatan dekat tempat penyimpanan sepeda, gerbang yang langsung menuju Saroga, maupun dari dalam Saroga itu sendiri! Akses yang terakhir tepatnya melalui belakang kantin Saroga, dekat terowongan menuju kompleks kampus ITB. Ada lembah di belakang kantin tersebut—itu Baksil! Kita naiki saja jalan setapak atau lembah kecil berumput yang relatif landai itu dan sampailah kita pada zona yang patut dijelajahi :D. Saya bertanya-tanya apakah ada mahasiswa ITB yang suka melakukannya. Kalau saya mahasiswa ITB, ini adalah tempat yang akan cukup sering saya kunjungi di sela perkuliahan yang padat untuk melepas penat.

Anak ITB, main ke atas sini yuk...

Sungguh Baksil merupakan oase di tengah bising kota, meski kita tidak bisa sama sekali menafikan kehadiran berbagai aktivitas manusia di sekitarnya. Meski tidak renggang amat, jarak antar pohon memungkinkan kita untuk melihat lalu lalang kendaraan di jalan di atas lembah. Sudah begitu, arena adu domba rupanya titik yang amat memadai untuk mengintip aktivitas di kolam renang di bawahnya, apalagi kalau pakai binokuler. Padahal dari kolam renang saya hanya bisa lihat “rimbun”nya hutan saja, tanpa menyadari bahwa ke”rimbun”an itu masih memungkinkan siapapun di dalamnya untuk menyaksikan saya berbaju renang. Bukan panorama indah sih. Tapi secara saya pernah tahu ada bule pakai bikini di kolam renang itu… ya… lumayan juga…

Ternyata selama ini aku bisa diintip dari sini... 

Kami juga menemukan banyak anakan pohon dengan label berlogo P*rt*m*n*, plus Dinas Pemakaman dan Pertamanan, yang bisa ditemukan pula di TPU Pandu dekat Pasteur. Menurut Pak Tatang, perawat tanaman di Baksil, penanaman anak-anakan pohon ini dilakukan beberapa bulan lalu oleh anak-anak. Pemeliharaan tanaman di Baksil kemudian diserahkan pada PT EGI.

Salah satu contoh label yang ternyata ada di mana-mana...

Pada salah satu ruang terbuka, ada beberapa tumpuk gelondong kayu yang mengingatkan saya pada perencekan yang biasa dilakukan masyarakat desa-hutan ataupun penimbunan kayu ala Perhutani. Saya belum mencari tahu tumpukan gelondongan kayu ini untuk dimanfaatkan suatu pihak menjadi sesuatu atau sekadar perapihan dari aktivitas pemeliharaan hutan ini.

Mending ini dimanfaatkan jadi apa ya? (#polapikiranakkehutanan)

Meski penjelajahan saya, Rizkita, dan Eva dari sekitar menjelang jam sembilan hingga menjelang jam sebelas itu cukup meriakan dan bikin keringatan, namun ada beberapa hal yang sangat kami sayangkan dari Baksil nan wow ini.

Saat kami menyusuri jembatan, ada dua titik tempat sampah yang tidak enak dilihat karena titik di sini berarti titik ceceran sampah. Jembatan pun tampak kusam. Mengingat cerita tentang pondasi jembatan yang mulai rawan karena dibikin hanya dalam waktu singkat sebagaimana Sangkuriang bikin danau untuk Dayang Sumbi, mendengar suara “gretek, gretek” saat melangkah di jembatan jadi sensasi tersendiri.

Ngeunah teu ningalina? (baca: enak enggak liatnya?)

Ceceran sampah tidak hanya ditemukan di jembatan, tapi juga di beberapa titik di kawasan di bawahnya. Bahkan ada satu tempat di mana kata “tercecer” jadi semakin tidak tepat untuk digunakan. Ukuran benda-benda yang dianggap sampah itu lebih besar, lebih banyak, dan sepertinya memang sengaja ditaruh di sana. Entahlah.

Mata air merupakan titik yang paling saya incar dalam penjelajahan ini. Syahdan, bertemulah kami dengan dua titik mata air yang terletak berseberangan antar satu sama lain. Keunikan di lokasi tersebut adalah adanya pancang-pancang dengan pesan lingkungan yang konon pembuatannya diselenggarakan oleh Sanggar Olah Seni (SOS). Mereka bertebaran di sekeliling mata air.

Salah satu titik mata air. Arti tulisan di papan: "jangan buang sampah di sini dong."

Namun tidak hanya itu yang kami temukan, melainkan pula seorang wanita berusia lanjut yang hanya mengenakan bra dan rok dalam. Ia sedang mencuci pakaian. Sumber air yang ia gunakan memancar melalui pipa kecil yang kemudian ditampung dalam bak persegi panjang. Air dalam bak tersebut jernih sedang air yang telah digunakan melimpas ke sebuah kolam dan tampak kekuningan. Kami sempat bertukar cakap dengan wanita itu. Ia mengaku berasal dari Kebumen, bekerja di sebuah badan negara atau apa, sedang suaminya sudah meninggal… saya tidak menangkapnya dengan jelas. Berhubung Rizkita dan Eva sudah ingin meninggalkan tempat tersebut, sedang saya sendiri risi berbincang dalam situasi seperti ini, kami pun pamit. Sebetulnya saya ingin memotret sumber air tersebut secara keseluruhan, tapi tidak etis kalau saya membiarkan wanita itu dalam keadaan demikian masuk dalam jepretan saya.

Jadi kami kembali ke lokasi tersebut setelah berkeliaran hingga ujung hutan, dan, pemandangan yang kami temui di sana lebih bikin kaget lagi. Kami buru-buru balik kanan begitu penglihatan kami menangkap sosok pria muda sedang jongkok di tepi kolam dalam keadaan bugil. Buset dah.

Akhirnya bisa kepotret juga setelah tiga kali melewati tempat ini. Berasa sumber airnya lagi didemo yak.

Penjelajahan kami kiranya menimbulkan ketidaknyamanan antara kami sebagai pengunjung dengan orang-orang yang kami tengarai sebagai penghuni kawasan tersebut, maupun dengan orang-orang yang hendak melakukan perbuatan yang kami tidak ingin ketahui.

Saat kami memasuki arena adu domba, ada sepasang pria-wanita duduk di pojok salah satu bangunan untuk penonton. Tak lama di situ, mereka pergi.

Ada jemuran dan gerobak menutup ruang di bawah bangunan tersebut. Mulanya kami lihat seorang pria tua, lalu seorang pria muda, lalu seorang wanita muda, lalu seorang berjilbab merah yang kami tengarai sebagai wanita pencuci pakaian di sumber air tadi. Ketika kami berada di sekitar sana, maupun sekadar lewat, yang tua melongok-longok ke arah kami sedang yang muda cuek saja.

Perhatikan: ada secuil jemuran dalam foto ini

Ini mengingatkan saya pada beberapa berita mengenai Baksil mulai tahun 2008. Aparat pemerintah kota memang pernah melakukan pembersihan semak dan sampah sekaligus penertiban gubuk liar di kawasan ini. Jadi saya kira dulu ada lebih banyak orang seperti mereka menempati lebih banyak gubuk di Baksil. Di taman kota-taman kota lain di Kota Bandung, pemandangan semacam ini juga umum ditemui. Enak ya mereka, tinggal bersinggungan dengan alam. J

Sewaktu Baksil baru diresmikan sebagai Hutan Kota Dunia oleh UNEP PBB, di dekat tempat penyimpanan sepeda (fungsi lain: tempat pantat mendarat) ada tulisan “.bdg” biru besar (#apanamanyayainstalasikah?). Tapi sudah berbulan-bulan ini entah ke mana rimbanya ia, mungkin bersama orang yang telah beri alamat palsu pada Ayu Ting Ting. 


...selanjutnya adalah pertemuan saya dengan seorang perawat tanaman Baksil, mangga juga ditengok pengalaman saya dengan Baksil sebelumnya di sini dan di sini :)

Kamis, 06 Oktober 2011

Suatu Jalan-jalan Ali dan Zia (bagian 4 dari 4)

****

dari Taman Tegallega sampai Jalan Lodaya

Meski ada yang bilang penutupan tajuk pepohonan ini kurang rindang, namun Ali merasa apa yang ada sudah cukup bagi para pengunjung untuk dapat beraktivitas secara nyaman di bawahnya. Ketika melihat beberapa pasangan sedang bermesraan di bawah pohon, ia jadi merasa malu entah mengapa. Mungkin karena Zia sedari tadi berada di dekatnya. Ah, lebih baik ia mengamati yang sedang tiduran saja.

Ali merasa tenteram berada di bawah naungan pohon siang-siang begini. Terhindar dari sinar matahari, jelas. Apalagi kalau ada angin sepoi-sepoi disertai gemerisik dedaunan. Kalau saja pohon-pohon yang ditanam di sini menghasilkan bebuahan, pasti akan menyenangkan sekali jika yang sudah matang boleh diambil untuk dinikmati. Tapi mungkin akan ada orang-orang yang mengambili bebuahan tersebut untuk dijual demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ali kemudian larut dalam kelanjutan pengandai-andaiannya itu. Akhirannya sungguh pelik.

“Sayang juga kalau tempat seenak ini cuman dimanfaatin buat tiduran, pacaran, atau bahkan—“ Mereka baru saja melewatinya, “pijat-pijat. Kalau emang kebutuhan akan ruang publik di kota ini masih kurang, kenapa enggak manfaatin ruang di bawah teduhan ini aja?” celoteh Zia tiba-tiba.

“Pertama, masuk sini harus bayar. Kedua, enggak semua orang mau duduk-duduk di atas sampah—“

“Mereka kan bisa bawa tikar!”

“Kayaknya itu enggak praktis banget deh.”

“Kan bisa ada penyewaan tikar?”

"Itu bapaknya ngapain ya, Li?"
“Ketiga, mungkin aja ada yang sudah manfaatin tempat ini jadi tempat kumpul-kumpul, kayak mereka,” Ali mengerling ke Laskar Ramli. “Tapi mereka lagi enggak ke sini aja. Lagian kayaknya taman ini juga udah cukup dimanfaatkan kok.” Ali mengambil nafas sejenak. “Dan di sini harusnya kan enggak boleh jualan. Apalagi nyewain tikar.”

“Ah iya! Tapi aku liat banyak orang yang jualan tuh.”

“Iya. Ada peraturan dilarang buang sampah pun tetep aja ada yang buang sampah sembarangan.”

Mereka melewati sebuah bangunan prisma dengan atap limas cokelat lagi. “Aku penasaran yang atas itu toilet juga apa bukan. Kayaknya mah bukan,” kata Zia. Ali penasaran juga sebetulnya.

Di sisi area berpohon tampak jalan beraspal yang sesekali melebar lalu menyempit lagi menjadi jalan. Zia berjalan ke arah sana untuk dapat melihat area tersebut dengan lebih jelas. Ada yang membawa motor ke sana.

“Itu apa sih, tempat parkir ya?”

Ali heran mengapa kendaraan bisa sampai masuk ke sana. Bukannya sudah ada tempat parkir di luar? Ia mengira tempat itu mungkin dimanfaatkan untuk event-event tertentu. Senam bersaman atau gig, misal.

Ali baru menyadari kalau mereka berdua terpisah agak jauh dari rombongan di depan mereka. Makanya Zia mengoceh terus padanya. Ia sendiri jarang sekali memasuki taman ini—mungkin baru kali ini ia memutarinya meski sepertinya ia baru separuh jalan. Jauh juga jarak yang harus mereka tempuh untuk dapat mengelilingi taman tersebut. Dan gerak Zia yang cukup aktif membuatnya agak kewalahan ketika hendak mengikuti gadis itu ke mana ia melangkah. Ketika melihat ada tandon air, gadis itu mendekat. Ketika ada pohon dengan banyak buah, gadis itu berjalan ke bawahnya. Belum lagi kalau kucing melintas.

Mereka melihat plastik-plastik hitam gembung bergelimpangan jauh di kiri sana. Lantas Zia menghampiri. Ali mengikuti. Sampai di dekat salah satu plastik, mereka tahu kalau plastik tersebut gembung oleh daun-daun kering dan rumput. “Ini pasti buat kompos deh!” sahut Zia. Selalu saja Ali kalah cepat darinya jika ingin berkomentar tentang sesuatu. “Yang manfaatin ini siapa ya?”

"Ali, tau enggak itu buah apa?"
Mereka berjalan lagi. Zia mendekati sebuah bangunan kotak dengan mural warna-warni menghiasi setiap sisinya. Ternyata itu gardu listrik. Ketika mereka berjalan lebih jauh, sisi taman yang mereka lewati dibatasi oleh bangunan-bangunan dari seng dan anyaman bambu. “Itu apa ya?” Zia berbalik arah.

“Eh, udah entar aja liatnya sekalian balik dari sini,” cegah Ali yang sebetulnya sudah merasa lelah. Keliling taman ini seperti tiada habisnya—sama seperti Jalan Terusan Pasir Koja.

“Yaaah…”

“Kamu ke luar cuman pingin liat itu aja kan? Entar masuknya harus bayar lagi.”

“Ribet ih.” Zia berbalik arah lagi.

Tapi setidaknya mereka jadi tahu kalau lintasan beraspal yang sesekali melebar itu ternyata dipergunakan untuk latihan sepatu roda pelatda Jabar. Ali jadi ingin melihat latihan tersebut kapan-kapan.

Naungan yang mereka tapaki kemudian tampak lebih gelap dari yang sebelum-sebelumnya. Lebih banyak sampah juga. Ali menemukan satu WC umum lagi. Ia memalingkan pandangannya dari seorang pria tua dengan celana kedodoran. Area berpohon ini melingkari jalan beraspal di mana Ali melihat mulai ada beberapa orang yang memanfaatkannya untuk lari-lari. Ali pikir asik juga kalau kapan-kapan ia joging di sini namun kemudian ia ingat kalau ia bukan orang yang suka berolahraga.

Ali memerhatikan terus area terbuka di sebelah kanan. Ia penasaran monumen apa sebenarnya yang ada di tengah itu. Ia sempat melewati sebuah plang putih bertulisan “Blok B” warna biru. O, pantas saja di sini dibikin blok-blok… Ali teringat area di mana ada banyak label pohon itu.

Sisi area berpohon kini berupa pagar yang berbatasan dengan semacam lapangan—entah lapangan parkir atau lapangan olah raga, Ali tak yakin. Ramai anak-anak SMA juga di sana. Sepertinya itu area yang ia kunjungi dengan mamanya di waktu lampau. Ia belum tahu kalau ternyata di kawasan ini berjualan itu dilarang.

Mereka belok kiri dan melintasi semacam jalur dengan tanaman hias di tengahnya. Waktu itu banyak yang berjualan di tepi jalur ini. Zia membawanya ke area berpohon di seberang yang pernah ia hindari. Jalanan di situ tampak gelap, sama seperti saat ia masuki dulu, namun kali ini kering. Dan tidak ada cacing maupun lintah, Ali bersyukur.

Sekali lagi Ali menemukan WC umum. Namun yang kali ini tampaknya kurang terawat. Dan ternyata ada beberapa bangunan terbengkalai lainnya yang mereka temukan. Ada yang tidak jelas berupa apa. Ada kandang besar berbentuk telur dengan perumahan burung di dalamnya—namun tak ada seekor burung pun di sana. Zia menghampiri sisi lain jalan. Ada sebuah jembatan beton beberapa belas meter jauhnya dari tempat mereka berpijak. Di bawah jembatan tersebut ada semacam saluran selebar lebih kurang dua meter. Tapi tidak ada air di sana, melainkan hanya sampah, sersah, dan tumbuhan bawah.

Berjalan lebih jauh lagi, mereka sudah melihat jalanan dan lahan parkir. Tampaknya mereka sudah mencapai hampir satu putaran. Mereka kembali berjalan dekat area kelapa sawit. De bergabung dengan mereka karena ia tertinggal dari rombongan. Gadis itu dan Zia kembali mengobrol.

“Aku punya banyak literatur tentang partisipasi masyarakat terhadap RTH di perkotaan, tapi itu semua terasa cuman teori. Yang kita butuhin aksi.”

“Aksi membersihkan ceceran sampah, dan menanamkan pengertian pada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak buang sampah di mana saja tentu saja, bukan cuman buat mereka yang terpelajar, tapi buat siapapun yang ngegunain taman ini,” tambah Ali. Seperti tidak ada gunanya plang hijau bertulisan “BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA” yang ia sempat temui tadi. Atau mungkin persepsi si pembuang sampah, tempat yang dimaksud adalah seluruh taman ini—Ali jadi ingat seloroh Acil.

Perjalanan keliling taman ini jadi menuai minatnya terhadap ruang terbuka hijau di perkotaan—di kotanya sendiri khususnya, Bandung. Ia banyak menemukan ketidaksesuaian antara peraturan dengan kenyataan. Mungkin ia bisa membuat artikel tentang ini. Ia ingin mengonfirmasi permasalahan ini ke pihak yang berwenang. Selain itu, tadi ia sempat dengar dari salah satu anak Laskar Ramli kalau kawasan konservasi sebenarnya bisa dikelola bersama masyarakat—namanya pengelolaan kolaboratif. Ia ingin tahu apakah model tersebut sudah atau hendak diterapkan untuk taman ini. Dan yang terutama adalah, bagaimana tanggapan dari pihak yang berwenang itu sendiri akan pengelolaan taman ini—mulai dari sejarah, pembangunan, pemeliharaan, hingga keterlibatan masyarakat.

Dan tentu saja ia hapal setiap celotehan Zia tadi terkait taman ini. Itu akan masuk daftar pertanyaannya juga. Seperti biasa, daya kritis Zia jadi sumber inspirasinya. Seandainya saja gadis itu bisa lebih mengendalikan diri, mungkin ia bisa bertahan lebih lama di persma.

De bergabung lagi dengan kawanannya. Mereka hendak memunguti sampah. Namun Ali hendak pamit. Ia melirik arlojinya berkali-kali sepanjang jalan tadi. Sudah jam setengah tiga sekarang. Ia ragu bisa sampai Jatinangor tepat waktu meskipun ngebut. Dan lagi, ia malah bertanya pada Zia apakah gadis itu mau sekalian diantar pulang atau tinggal. Zia memilih untuk ikut Ali. Entah mengapa Ali merasa maklum Zia tidak mau ikut mengambili sampah.

Sampai di dekat motor, Zia berkata pada Ali, “Untuk apa aku bayar retribusi kalau nyatanya tempat ini kayak yang enggak terpelihara gini?”

“Ya, kita mesti ngecek berapa banyak yang diperoleh dari retribusi pengunjung ke taman ini, lalu digunakan buat apa uang milik para pengunjung itu.”

“Tapi agak aneh enggak sih? Rumputnya kayaknya lumayan terpelihara. Tapi kenapa mereka enggak mungutin sampah sekalian?”

Mungkin mereka lelah, sama lelahnya sebagaimana ia sekarang, pikir Ali. Tubuhnya sudah keringatan entah sejak kapan. Salahnya juga mungkin karena tidak melepas jaketnya yang hitam. “Mau keliling taman dulu?”

Zia mengangguk. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab. Bangunan dari seng dan bilik bambu yang tadi mereka lihat ternyata merupakan tempat penjualan tanaman hias. Ada plang putih dengan tulisan yang sudah tidak jelas di situ. Zia hanya bisa menangkap tulisan “KOPERASI” lalu “TANAMAN HIAS” di bawahnya, dan bahwa tempat itu dibina oleh Yayasan Berhiber. Padahal mulanya Zia mengira itu kebun pembibitan untuk taman di baliknya. Sebelum tempat tersebut adalah Kolam Renang Tirtalega yang dikelola oleh Dinas Pemakaman dan Pertamanan. Ia penasaran seperti apa kolam renang tersebut—apakah ada waktu khusus perempuan? Setelah Taman Tegallega habis dilewati, mereka melihat ada tempat pengumpulan sampah.

“Baguslah ada taman di deketnya. Seharusnya bau sampahnya jadi keredam, ya enggak sih… Eh, anterin aku ke rumah Kang Lutung aja. Masih inget kan?”

“Yang deket BSM tea? Oke…”

Ali memutuskan untuk lewat Kalapa lalu tembus ke Jalan Burangrang. Melihat pepohonan pengisi jalan yang tumbuh rimbun di kawasan sana mungkin bisa sedikit mengusir penatnya. Sudah memasuki Jalan Lodaya ketika ia merasa sesuatu menyentuh punggungnya. Jantungnya jadi berdebar kencang. “Zia, jangan tidur,” katanya sembari menggoyangkan punggung agar kepala Zia pergi dari sana. Tampaknya Zia lekas sadar lantas mengangkat kepala.

Perasaannya lagi-lagi tak karuan. Zia, gadis yang menggemari apapun yang berbau anti kemapanan, informal, dan di luar kotak. Ia ingin bisa menggenggam isi kepala gadis itu dan memilikinya. Aduh. Ali merasa harus menjauhi gadis itu lagi supaya bisa mendapatkan kestabilan hatinya lagi. Seharusnya tadi ia tidak usah bawa helm dua. Seharusnya tadi ia tidak membiarkan gadis itu menumpang. Seharusnya ia tidak usah mengikuti gadis itu ke mana ingin pergi. Semakin dekat jam tiga sekarang. Ia masih tidak mengerti mengapa kekuatan asmara membuat kepentingan lain jadi terasa tidak lebih berarti.

-dan ngebolang hari ini pun selesai-

Suatu Jalan-jalan Ali dan Zia (bagian 3 dari 4)

***

dari Jalan Terusan Pasir Koja ke Taman Tegallega

Zia turun lagi dari motor. “Bentar ya.” Seperti dugaan Ali, Zia menyetop sebuah angkot Elang-Gedebage hanya untuk menanyakan ke mana arah Tegallega. Setelah angkot itu berlalu, kata Zia, “Kata mangnya, angkot tadi yang ke arah sebaliknya lewat Tegallega.”

“Oke, berarti kita muter lagi ya…” Ali tidak mengerti mengapa ia masih bertahan dengan mau gadis ini. “Jadi ikutin angkot biru tadi?”

“He-eh!”

Mereka kembali menyusuri jalan yang sudah mereka lewati, namun dengan arah berbeda, cukup jauh juga ternyata. Ketika lewat Jalan Astana Anyar, angkot biru yang ia ikuti tidak berbelok ke sana melainkan lurus terus. Dekat ITC, angkot itu belok kanan. Ali baru ngeh jalan yang dimasuki kemudian adalah Jalan Otista. Rasanya ia sering ke jalan ini. Kok ia bisa sampai tidak hapal ya? Pasti karena pikirannya ke mana-mana…

Tahu-tahu angkot biru di depannya berhenti. Terdengar suara riang Zia, “Akhirnya sampai juga…” Namun Ali menjalankan motornya terus sampai ke gerbang yang kiranya bisa dimasuki kendaraan—gerbang yang mereka lewati barusan tampaknya hanya dibuka untuk pejalan kaki. Ia akhirnya menemukan gerbang dengan celah sedikit terbuka. Ketika ia hampiri, penjaga tersebut membukakan pintu gerbang agar motornya bisa masuk. Mengapa tidak semua pintu gerbang dibuka ya? Mungkin karena hari ini hari kerja jadi tidak banyak pengunjung, pikir Ali.

Untuk memasuki area Taman Tegallega ternyata tidak gratis. Untuk pejalan kaki saja dikenakan retribusi Rp 1.000,-. Ali jarang memasuki area ini. Ia terperangah melihat lahan parkir yang amat luasnya. Zia sudah turun sedari tadi sementara ia bingung hendak parkir motor di mana. Di mana wae-lah! Setelah memarkir motor, ia mendekati Zia sambil menerka-nerka berapa banyak mobil yang bisa muat di lahan berumput ini. Jenis tumbuhan yang jadi pagar antara lahan tersebut dengan area di dalamnya pun membuatnya bertanya-tanya.

“Itu salak ya?”

“Itu kelapa sawit!”

Tadi ada yang keliatannya kayak salak. Kelapa sawit… Kok berasa di Kalimantan atau Sumatra gini… Ia cukup rajin mengikuti berita tentang konversi lahan di kedua pulau tersebut. Ali mendongak untuk mengetahui apa yang sedari tadi diamati Zia.

Papan besar dengan latar berwarna kuning pudar itu memuat foto pejabat pemerintah dengan judul “KETENTUAN-KETENTUAN DAN TATA TERTIB MEMASUKI KAWASAN KONSERVASI TAMAN TEGALLEGA.” Skimming, Ali menyorot kata kunci dari setiap poin aturan. Pemungutan retribusi ternyata sesuai dengan Perda nomor 11 tahun 2008. Pengunjung wajib menjaga kawasan tersebut, dilarang kasih makan hewan, dilarang bertempat tinggal dan bermalam, dilarang berjualan—hei, ia pernah menemani mamanya jalan-jalan ke area ini menjelang Lebaran tahun lalu. Bukankah waktu itu banyak yang berjualan di sini? Mamanya waktu itu membeli banyak makanan untuk adik-adik Ali. Ali sendiri penasaran dengan yang jualan golok sebab ia ingin tahu golok khas Tasik itu rupanya seperti apa. Mamanya lalu mengajaknya masuk ke dalam area yang banyak pohonnya. Tapi baru jalan beberapa meter, Ali sudah tidak betah karena ia menemukan banyak cacing, atau mungkin lintah, menggeliat di permukaan jalan yang basah.

Ali mengusir ingatan yang kurang menyenangkannya itu. Ia lanjut membaca. Taman Tegallega ternyata sebuah kawasan konservasi. Taman ini dibuka dari jam 6 sampai 18 dan ditutup untuk umum tiap Senin kecuali untuk acara pemerintah. Ali berasumsi jangan-jangan tiap Senin adalah waktunya pemeliharaan taman.

“Aku baru tahu loh ada kawasan konservasi di tengah kota. Aku kira adanya cuman di pedalaman aja, kayak taman nasional atau cagar alam gitu,” sahut Zia.

Ali juga baru tahu. Ia kira yang hijau di area tersebut hanya kelapa sawit saja. Setelah masuk lebih dalam, ia bertemu sehamparan lahan dengan beragam jenis pohon. Bahkan ada bambu segala! Barisan kelapa sawit itu sendiri mengisi kanan-kiri jalan untuk pengunjung yang dilapisi paving block. Penutupan tajuk itu cukup rapat sehingga begitu teduh untuk berjalan di bawahnya.

Mereka melalui jalan di mana terdapat lapangan sepak bola di sini kanannya. Sepertinya lapangan itu sedang digunakan untuk latihan klub sepak bola anak-anak. Ketika berbelok ke kiri, masih di sisi kiri adalah area berpohon sedang di sisi kanan adalah lapangan dengan tiang di tengahnya. Sisi lapangan tersebut ramai oleh remaja-remaja berseragam hijau. Entah dari sekolah mana, tampaknya mereka sedang ada pelajaran Olahraga. Nun beberapa puluh meter jauhnya di depan sana ada semacam monumen yang dalam pandangan Ali terlihat seperti kobaran api.

Ali berhenti bengong ketika mendengar sorakan Zia kala bertemu kawan-kawannya. Ia merasa kenal dengan wajah salah satu di antara mereka yang berjumlah empat orang. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Yang ia merasa kenal adalah yang rambutnya keriting megar lebat sekali, matanya agak sipit, dan mulutnya tampak selalu terbuka—laki-laki. Laki-laki yang lain bertubuh lebih kecil dan bertampang lugu seperti anak dari daerah. Perempuan yang satu bertubuh agak tinggi dengan rambut lurus sampai sedikit di bawah bahu dan berkacamata. Perempuan yang satu lagi berjilbab dan tingginya hampir sama dengan Zia.

“Ali, ini Acil dari SMA kita juga loh…” Tangan Zia mengarah ke yang berambut keriting. Tampaknya anak itu memang adik kelasnya dulu saat SMA. Ali menjabat tangannya lalu yang lainnya sambil kenalan. Kata Zia lagi, “Mereka ini LASKAR RAMLI…”

Perempuan yang berkacamata tergelak. Melihat tampangnya, tampaknya ia paling tua di antara lain—paling stabil. Mungkin satu angkatan, sangka Ali. Tangan Zia mengarah juga ke perempuan tersebut disertai komentar, “Ini Candra. Udah punya cowok tapi…”

Ali melirik Zia dengan isyarat tertentu namun Zia tidak melihat. Transaksi buku antara Zia dengan Acil sudah mulai. Zia ternyata punya ketertarikan juga terhadap lingkungan hidup, pikir Ali ketika melihat judul buku di tangan Zia. Ah, Zia kan tertarik sama apa aja tapi enggak ada yang ditekunin bener-bener…

Sementara Zia mengobrol dengan Acil, Ali menegur para anggota laskar yang lain. “RAMLI itu RAMah LIngkungan bukan?” tebaknya.

“Haha, bener banget,” Candra kembali tergelak. Ketiga orang itu mulai meributkan siapa yang memberi nama.

“Eh, biasanya kalian berlima. Ke mana si Monang?” tanya Zia sembari mengunci ranselnya lagi.

“Tadi sih pergi sama pacarnya ke stasiun. Enggak tahu jadi mau nyusul apa enggak ke sini,” jawab Acil.

Kawanan tersebut tampaknya hendak bergerak lagi. “Kita ikut mereka jalan-jalan yuk,” ajak Zia. “Sayang udah bayar retribusi enggak dimanfaatin.”

“Setuju banget,” sambut Ali. Mereka berdua mengekor kawanan tersebut. Ali menangkap pembicaraan mereka.

“Heran deh ya, kawasan konservasi kok diisi sama kelapa sawit. Padahal fungsi ekologisnya kan enggak lebih baik dari pohon,” kata Candra.

“Yaa… Biar estetis aja kali,” jawab Acil.

“Emang kelapa sawit itu bukan pohon ya?” tanya Ali.

“Bukan. Kalau pohon itu mengalami pertumbuhan sekunder, tumbuhan kayak kelapa sawit enggak. Dia masuknya herba,” kata Candra.

“Pertumbuhan sekunder emang apa?” Ali tidak mengerti.

“Jadi simpelnya sih pohon itu mengalami pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Kita bisa bilang pertumbuhan primer itu pertumbuhan meninggi sementara pertumbuhan sekunder itu pertumbuhan melebar. Diameter pohon bisa bertambah karena ada sel kambium kan…”

“Emang kelapa sawit tumbuhnya enggak melebar juga?”

“Bedaa…”

Ali ingin bertanya lebih jauh tapi perhatian Candra keburu teralih. Kali ini Tatang, laki-laki selain Acil, yang bicara, “Pohon-pohon di sini kayaknya ditanamnya bersamaan ya?”

Ali jadi mendongak ke atas. Naungan area berpohon terasa tidak lebih gelap ketimbang naungan kelapa sawit. Kata De, perempuan yang berjilbab, “Penutupan tajuknya belum terlalu rapat.”

“Aku penasaran taman ini dulunya apa sebelum jadi kayak gini,” kata Zia pada Ali yang sebetulnya sedang serius menyimak pembicaraan Laskar Ramli.

“Tapi tumbuhan bawahnya cuman rumput ini aja yah. Rapi juga, kayak rajin dipangkas.”

“Cuman sersah sama sampahnya aja ini berceceran.”

“Padahal tempat sampah kayaknya banyak loh.”

Ali jadi ingat. Tadi di muka jalan masuk ia melihat dua buah tempat sampah yang terisi cukup penuh. Di samping tempat sampah tersebut ada tiang biru bertulisan “DILARANG MEMBUANG, MEMBAKAR SAMPAH/KOTORAN DI BADAN JALAN, JALUR HIJAU, TAMAN, DAN TEMPAT UMUM.” Peraturan ini merupakan bagian dari Perda nomor 11 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan. Tertanda: Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung. Tepat di belakang peraturan tersebut, Ali melihat ada tumpukan sampah.

“Ah, itu hanya sekadar tong. Sebenarnya yang dimaksud tempat sampah adalah seluruh taman ini, hahahah…” seloroh Acil.

Canda menggelengkan kepala sambil berdecak-decak. “Miris…”

Beberapa meter jauhnya di depan, Ali melihat ada sehamparan lahan dengan balok-balok bersemen pada jarak tertentu. Semula ia mengira kalau itu adalah nisan—kuburan. Mungkin Taman Tegallega ini sebetulnya Taman Makam Pahlawan juga—kan sama-sama taman, seperti yang ada di Cikutra. Namun ternyata itu bukan. Mereka mendekati salah satu balok. Salah satu permukaannya dilapis ubin hitam dengan tulisan yang menandakan nama lokal dan nama latin jenis pohon yang ada di sampingnya. Juga siapa yang menanam yang sepertinya perwakilan dari negara-negara dunia—ada dari PBB juga. Semua pohon yang ada di area ini dilabeli seperti itu dan tanggalnya sama. Sepertinya pada waktu itu ada penanaman pohon serentak dalam rangka konferensi tingkat dunia. Peringatan KAA yang besar-besaran itu tahun kapan ya? Ali mengingat-ingat.

Bagus juga ada yang seperti ini, untuk edukasi, pikirnya. Ia jadi tahu pohon mahoni, bintaro, dan khaya itu seperti apa—beserta nama latin masing-masing. Selain itu, jika memang pohon-pohon ini ditanam pada waktu yang sama, setiap jenis pohon berarti memiliki kemampuan tumbuh yang berbeda-beda. Ada pohon yang sudah tinggi sekali, tapi masih ada yang cukup rendah.

“Yang ditanam ini jenis fast growing semua bukan sih?” celetuk De.

Fast growing itu artinya cepet tumbuh. Biasanya pohon yang digunain buat penghijauan itu dari jenis yang cepet tumbuh,” terang Candra pada Zia. Rupanya mereka larut dalam obrolan sejak tadi. Ali ikut menyimak. “Tapi biasanya jenis fast growing itu ya fast growong juga—gampang bolong-bolong soalnya kualitas kayunya enggak sebagus yang tumbuhnya lama.”

“Tahu enggak apa yang aku pikir harusnya ditulis di sini?” Zia berjongkok di salah satu balok semen. “RIP. Rest in Peace. Beristirahat dalam damai di sini akar pohon mahoni, Swietenia macrophylla.

Pohon-pohon ini memang tampak damai sekali berdiri di sini, Ali mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Menciptakan kedamaian juga baginya.

Lepas dari area tersebut, ia melihat ada sebuah bangunan tingkat dua yang bentuknya tampak berbentuk prisma. “Itu apa ya?” tanya Ali, berharap Zia menjawab, tapi malah De. Ternyata itu toilet. Banyak juga ternyata WC umum di sini, tadi di dekat jalan masuk juga ada, bersih enggak ya? Dan di muka toilet itu ada seorang ibu-ibu yang tampaknya bukan sekadar menjaga toilet, ada rak berisi makanan dan minuman juga di sana. Sudah jelas itu untuk dijual.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain