Tampilkan postingan dengan label Jelajah Ujung Kulon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah Ujung Kulon. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Agustus 2023

Menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon

Penulis : T. Bachtiar
Penerbit : PT Kiblat Buku Utama, Bandung
Cetakan ke-1, Menembus Belantara Ujung Kulon, 1985
Cetakan ke-2, 2007
Edisi Kiblat Buku Utama Cetakan ke-1, Oktober 2018
ISBN 978-979-8004-20-9

Buku ini ditulis pada zaman PELITA III, mula-mula terbit pada 1985 dan meraih penghargaan Yayasan Buku Utama tahun itu juga. Isinya merupakan kombinasi antara pelajaran IPA dan catatan perjalanan yang dikemas secara naratif (dengan tokoh-tokoh dan serangkaian peristiwa walaupun "cerita" baru benar-benar terjadi di dua bab terakhir). Sebagai bacaan untuk anak muda (hanya 97 halaman), buku ini dilengkapi dengan banyak amanat yang kadang-kadang religius serta bumbu romance yang tipis-tipis saja. 

Dalam buku ini, penulis menjadi dirinya sendiri yang ceritanya sedang mengantar sekelompok remaja menjelajahi Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya TNUK) dalam liburan sekolah. Para remaja itu adalah Nesi, Deti, Giri, dan Andri (yang disebut juga sebagai Pak Kopral Adun,); mereka memanggil penulis sebagai Kang Bach. Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama serbatahu, karena ia bisa mengetahui juga apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh remajanya.

Setiba di TNUK, mereka ditemani oleh Pak Wawan insinyur lulusan Fakultas Kehutanan IPB (mulai bab 1 dst). Kemudian ada Pak Karman (bab 2), lalu Pak Usup (mulai bab 3 dst). 

Tiap bab diakhiri dengan rencana perjalanan selanjutnya. Bahkan di ujung bab terakhir pun ada rencana untuk kembali ke TNUK tahun depannya.

1. MENUJU UJUNG KULON
Mereka memasuki TNUK melalui jalur laut, menggunakan perahu selama 6 jam dari Labuan (letak kantor Sub-Balai Kawasan Pelestarian Alam Ujung Kulon tempat mengurus izin dsb) ke Pulau Handeuleum kemudian menginap semalam di sana sebelum memulai perjalanan. 

2. MENYUSURI CI GENTER
Sebelum memulai perjalanan menyusuri Sungai Cigenter, Pak Wawan menjelaskan sejarah Taman Nasional Ujung Kulon (halaman 22). Perjalanan susur sungai dilakukan dengan perahu dari dermaga Pulau Handeuleum; Pak Karman turut sebagai jurumudinya. Saat menyusuri sungai melalui hutan bakau (halaman 26), sempat terjadi ketegangan karena bertemu buaya (halaman 28). Mereka berhenti di sebuah padang penggembalaan atau tegalan yang ada menara pengintai. Dari menara itu, mereka dapat meneropong babi hutan yang rupanya memiliki peran penting dalam ekosistem (halaman 30). Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Pulau Peucang.melewati Teluk Selamat Datang dan Tanjung Alang-alang.

3. PESONA LAUT DANGKAL PULAU PEUCANG
Di Pulau Peucang, mereka dapat menyelam dengan scuba (scuba diving) dan menikmati keindahan dan kekayaan panorama bawah laut (halaman 37).

4. MENEMBUS BELANTARA UJUNG KULON
Di pesanggrahan, mereka bertemu dan berkenalan dengan rombongan Pecinta Alam dari Jurusan Geografi IKIP Bandung yaitu JANTERA. (Nantinya mereka muncul lagi di belakang). Mereka lalu kembali menaiki perahu ke Ujung Kulon, tepatnya hutan Cikuya. Memasuki hutan Ujung Kulon, ada etiketnya. Orang tidak boleh berbicara sembarangan, dan mesti dengan suara pelan (halaman 48). Selain itu, ada tip umum dalam melakukan perjalanan di alam yaitu membungkus barang-barang dengan plastik agar tidak kebasahan kalau-kalau nanti tercebur ke sungai (halaman 51). 

Bab ini adalah yang paling panjang karena di dalam hutan ada banyak hal yang ditemui dan dengan begitu memantik untuk menjelaskan banyak hal pula. Mereka bertemu jejak ajag dan badak (halaman 53 dan halaman 54), kotoran macan tutul (halaman 56), kera-kera, kura-kura (halaman 61), pemburu sarang burung walet (halaman 64), melewati pandan dan kelapa yang merupakan vegetasi khas pantai selatan Ujung Kulon, dan seterusnya. 

Di Pantai Cibunar mereka bermalam dengan membuat bivak dari dahan dan ranting. Giri dan Andri mendapat giliran berjaga pertama dan terpengaruh oleh cerita-cerita horor yang banyak beredar di kawasan Ujung Kulon. Terdengar suara aneh yang merupakan foreshadowing bagi peristiwa yang akan terjadi di bab berikutnya.

5. PARA PENCURI PENYU HIJAU
Setelah bab-bab sebelumnya sarat oleh perjalanan dan pelajaran, baru di bab inilah "cerita" benar-benar terjadi. Bab ini termasuk paling panjang, walau tidak sepanjang bab sebelumnya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pantai dari Cibunar ke Ciramea yang merupakan area penyu bertelur. Mereka melewati Sang Hyang Sirah yang berhawa mistis. Namun, setiba di Ciramea, Giri menyadari teropongnya tertinggal di Cibunar sehingga ingin balik ke sana dan Andri memutuskan untuk menemaninya. 

(SPOILER.) Sepeninggal keduanya, Pak Usup mendapat giliran berjaga pertama. Ia memergoki pencuri telur penyu, diculik oleh mereka, dan disekap di gua Sang Hyang Sirah. Giri dan Kopral yang memutuskan untuk kembali segera--setelah mengambil teropong di Cibunar--melewati tempat itu dan menemukan Pak Usup. Mereka tergesa-gesa kembali ke Ciramea untuk melapor kepada Kang Bach dan Pak Wawan. Kang Bach dan Pak Wawan pun ke Sang Hyang Sirah untuk menyelamatkan Pak Usup, tetapi malah ikut disekap setelah pencuri telur penyu kembali dengan membawa lebih banyak orang. Giri cs yang berjaga di Ciramea lalu kedatangan rombongan JANTERA. Mendengar peristiwa itu, mereka bersama-sama ke Sang Hyang Sirah (khususnya yang laki-laki, sedang yang perempuan tetap di Ciramea) untuk meringkus para pencuri. Suara aneh yang terdengar di bab sebelumnya ternyata suara perahu para pencuri. Dengan perahu itu, para pencuri yang telah ditaklukkan dibawa ke Taman Jaya.

6. PERJALANAN PULANG YANG MENYENANGKAN
Setelah terjadinya huru-hara di bab sebelumnya, mereka pulang ke arah barat dan mendapat reward berupa perjumpaan dengan badak. Mereka mengamati dari atas pohon supaya tidak mengganggu si badak. Selain itu, karena telah membantu meringkus penjahat, mereka mendapat undangan untuk datang lagi ke TNUK tahun depan--gratis!

Dengan adanya peristiwa di bab 5 itu, timbul kesan bahwa pada masa itu TNUK masih kekurangan tenaga patroli dan fasilitasnya belum memadai (di antaranya belum dibangun pos ronda dan shelter di Cibunar dan Ciramea, halaman 94). Entah sekarang.

.

Sepanjang perjalanan menjelajahi TNUK ini, banyak pengetahuan dan amanat terkait hal-hal yang ditemui para tokohnya. Pengetahuan itu berdasarkan pada buku, majalah, dan surat kabar (halaman 95, "DAFTAR PUSTAKA"). Banyak pengetahuan yang berupa teori tetapi ada juga yang praktis, misalnya ditunjukkan caranya melakukan penelitian dengan mengukur suhu air laut dan membuat dokumentasi (halaman 37), menyensus badak di antaranya dengan mengukur panjang jejaknya (halaman 54), serta mencari tahu pakan macan tutul dengan mengambil kotorannya kemudian mencucinya sehingga tertinggal sisa-sisa hewan yang dimakannya (halaman 56). Sekalian disisipkan kritik akan kurangnya praktik, khususnya dalam pelajaran biologi, sehingga yang banyak meneliti sumber daya alam Indonesia justru pihak asing bukannya bangsa sendiri. 

Karena buku ini mula-mula terbit pada 1985, saya jadi membayangkan Deti diperankan oleh Desy Ratnasari (yang tenyata baru lh. 1973 sehingga pada waktu itu usianya kurang lebih masih 12 tahun, wkwk) sedang Nesi oleh Paramitha Rusady (lh. 1966 berarti kurang lebih 19 tahun, cocok lah).

Rabu, 15 Juni 2011

Catatan Perjalanan Pulang

Catatan ini ditulis dalam bis jurusan Labuan-Kalideres, 9 Juni 2011
  
[setengah duaan siang] 

Yah, enggak kesampaian, ngirim postingan terakhir dari kantor BTNUK.

[Jalan tol Serang timur, macet, 16.43]

Enggak terasa dua minggu hampir telah berlalu.

Petang ini, lewat sms, saya dan Rifda berkhayal merencanakan piknik di dermaga. Mulanya Rifda mengabarkan Bunda sedang masak ikan pindang. Wah, ngabibita wae ti isuk. Ya udah, saya ajak saja dia untuk bawa itu masakan pakai rantang, jangan lupa tikar juga, terus kita makan-makan di dermaga deh. Sambil nunggu sunset. Tapi Kang Ican (Cah) masih di kamar mandi, Bos Koki (Rijal) masih ganti baju karena mau ketemu pahe—perawan herang—(Teh Desi), another sunset  in his heart, halah, dan pisgor yang Teh Rifda masak tadi pagi dibawa juga saja. Enggak apa-apa dingin juga, seadanya aja, Bos Koki udah enggak sabaran pingin ketemu nih… Hehehe.

[17.14]

Sejak meninggalkan Tamjay kemarin pagi, dalam smsan saya dengan Bunda dan Rifda terdapat poin-poin yang akan menjadi daftar hal-hal yang bakal saya coba, saya lakukan, kalau kembali lagi ke sana.

Masih terbayang-bayang halaman rumah Bunda dengan pagar dua rangkap, dinding kuning, kusen putih, dan deretan panjang sofanya. Lukisan Abah dan almarhumah Umi juga terpajang di sana. Kesan homy teruar selalu setiap kali saya melihatnya meski hanya dalam kepala.

Seminggu memang bukan waktu yang cukup, baik bagi kami sebagai regu Tamjay maupun Bunda sekeluarga, untuk mengenal satu sama lain secara mendalam. Namun apa yang tampak selama seminggu itu saja sudah bisa menjadi suatu pelajaran berharga bagi saya. Kekeluargaan dan cara bermasyarakat.

Bagaimana Abah ikut mengasuh orang-orang yang padahal bukan anak-anak kandungnya sendiri. Bagaimana Bunda menerima kami dengan antusias dan bagaimana caranya mendidik anak-anaknya agar mengerti susahnya mencari duit. Bagaimana Bapak enggak tegaan sama orang yang jualan cumi. Bagaimana Bang Haris memerhatikan kami. Bagaimana relanya Teh Rifda mengantar kami ke mana pun kami ingin… Dan seterusnya.

Tidak cukup hanya dengan membuat kami merasa bagai di rumah selama pengambilan data di daerah Tamjay ini, pada malam terakhir kami disuguhi perpisahan dan kenang-kenangan yang membikin kami merasa berarti. Tidak ada yang bisa kami berikan saat itu untuk membalas mereka selain meninggalkan bahan makanan yang kami bawa dari Jogja dan Labuan serta momen-momen bersama yang kami harap akan selalu ada dalam memori mereka.

Saya sedikit belajar bagaimana bersikap seperti mereka dari keluarga saya sendiri. Maka mereka adalah sosok-sosok yang menginspirasi saya untuk dapat menerapkan kebaikan serupa dengan cara saya sendiri. Bagaimanapun juga, prinsip saya adalah jika saya senang dengan cara seseorang memperlakukan saya, maka saya ingin bisa memperlakukan orang lain dengan cara seperti itu juga. Mungkin tidak bisa sama persis jadinya, tapi saya harap saya bisa melipatgandakan kebaikan yang telah saya peroleh dari mereka.

Seminggu yang berarti itu telah berlalu. Melihat Bapak duduk di kusen jendela, senyum Abah, kecantikan Teh Rifda, mendengar ocehan Bunda dan celetukan Bang Haris yang kadang mengundang senyum, mengingat setiap sudut rumah mulai dari bagian belakang yang dulunya bagian depan rumah, kamar Teh Rifda yang saya dan Desta tiduri setiap malam dan di waktu-waktu lelah, ruang berkarpet abu-abu di mana kami menonton TV, makan, dan mengobrol bersama, area cuci piring cuci baju, sepasang kamar mandi yang diwarnai insiden-insiden kecil, dapur, hingga teras tempat kami pertama bersua Bapak dan Abah… Ah, jangan lupa juga dengan kenesnya duo racun, Fitri dan Atia, yang kadang menemani saya cuci piring, menagih hutang pada Rijal, sigap bergerak kala kami membutuhkan…

Minggu, 05 Juni 2011

H6-9JUK: Ini Praktek Jurusan Apa KKN?

Pada hari Kamis kami pulang siang dan kami nyaris tidak melakukan kegiatan terkait praktek lagi sampai Jumatan esok harinya. Dalam waktu itu, dan mungkin sempat pada sebelumnya, saya beberapa kali merasa ragu apakah yang sedang kami jalani ini praktek jurusan atau... "Kayak lagi survei KKN," kata Cah.

Sehabis tepar pada Kamis itu, saya mandi. Sehabis mandi, sementara yang lain ganti bertepar ria, saya malah ngeberesin becek di depan kamar mandi, nimba air untuk bak kamar mandi, menyapu juga mungkin, mencuci baju, sampai akhirnya diajakin makan sawo berlanjut makan siang bareng Fitri dan Atia (bagaimana cara menuliskan namanya yang benar ya?).

Fitri dan Atia adalah dua gadis cilik Taman Jaya yang diperbantukan di rumah Bunda. Rumah Fitri dekat pantai sementara rumah Atia dekat bangunan untuk burung walet dekat rumah. Fitri kelas 1 SMP sementara Atia kelas 5 SD. Mereka berdua adalah murid mengaji Abah--bapaknya Bunda. Mereka selalu berdua ke mana-mana. Bunda menjuluki mereka duo racun.

Sempat ada rencana, agenda setelah survei adalah evaluasi hasil survei lalu ke rumah kepala desa malamnya. Namun sore itu hujan lebat sehingga pemandangan bocah-bocah Taman Jaya bermain bola di bawahnya di area kosong depan rumah Bunda jadi kenikmatan tersendiri. Tidak jadi lihat matahari terbenam di dermaga deh. Petang, kami malah beli dagangannya Vicky. Bocah ini tiap sore terdengar suaranya menjajakan donat dan gorengan keliling kampung. Kelas 1 SMP juga. Saya bayangkan ia sebagai pengusaha sukses di kemudian hari.

Akhirnya juga kami tidak jadi ke rumah kepala desa meski malam sebelumnya kami sudah diperkenalkan oleh Bapak pada keluarga kepala desa (orangnya sendiri sedang tidak ada). Rijal dan Cah tampaknya memanfaatkan waktu untuk merumuskan kembali metode penelitian mereka tapi yang lainnya GJ.

Pada petang itu pula kami untuk pertama kalinya bertemu Bunda secara langsung. Beliau tiba ketika saya sedang menemani Rifda--putri sulung Bunda--masak telor di dapur. Rifda sudah tiba duluan dari Labuan saat hari masih agak terang dengan elf yang memuat barang-barang titipan warga sini. Selama beberapa hari sebelumnya Rifda mengikuti SNMPTN sehingga Bunda menemaninya.

Malam itu pada jam sembilanan malam saja saya sudah lelap. Jam satu dini hari terbangun dan mendapati insiden setelahnya. Lalu saya bangun lagi pukul empat untuk memulai aktivitas. Tapi yang lain baru bangun jam setengah enaman... Malu juga sama yang punya rumah. Saya hanya bisa bantu menyapu sementara itu.

Setelah Rijal dan Desta bangun, akhirnya ada juga yang membantu Bunda masak. Sementara mereka mengurus cumi dan ikan, saya mengurus blog saya, haha, sampai muncul keinginan Cah untuk jalan-jalan pagi. Bapak malah meminjamkan kami kunci motor. Namun akhirnya saya, Cah, dan Soni jalan kaki sampai dermaga. Tujuan kami adalah, selain mengecek dan mengambil ikat pinggang Ucok yang mungkin tertinggal di sana, juga mencari informasi tentang cara berkunjung ke kantor seksi III Sumur. Syukur-syukur kami bisa diantar mobil patroli, he.

Kami melewati penginapan Sunda Jaya saat menuju dermaga dan melihat bule serta mungkin rombongan wisatawan lain di sana. Selama saya menelusur informasi di Google terkait Taman Nasional Ujung Kulon pra perjalanan, saya kira penginapan satu ini cukup terkenal--bahkan mungkin satu-satunya yang ada di Taman Jaya.

Di dekat dermaga, di tepi pantai yang rupanya sedang pasang, sementara saya dan Cah berdiskusi soal misteri penciptaan, rombongan wisatawan di penginapan tadi lewat di belakang kami. Saat kami menemui Pak Otong yang sedang mencabuti rumput halaman kantor seksi, rombongan wisatawan itu tengah menunggu kapal di ujung dermaga. Mungkin mereka mau ke Pulau Peucang.

Ternyata benar ikat pinggang Ucok ada di kantor seksi. Alhamdulillah Pak Otong menyimpankannya. Kami mengobrol ala kadarnya sebagai pengantar untuk membicarakan tujuan kami. Pak Otong harus bersiap karena sebentar lagi ia bakal pergi.

Sebelum minggat, ada seseorang menghampiri Pak Otong. Rambutnya dicukur sedemikian rupa sehingga yang panjang hanya di bagian belakang kepala saja. Pakaiannya agak compang-camping tapi masih agak menutup aurat. orang tersebut melapor pada Pak Otong kalau ada orang tertembak kakinya dan bla bla bla. Widih. Cah menyodorkan ponselnya pada saya. Di sana ia mengetikkan kata "gila". O. Ujung-ujungnya, orang tersebut minta rokok sama Pak Otong dan seterusnya. Selepas kepergiannya, Pak Otong cerita kalau orang tersebut sebetulnya punya perusahaan di Serang. Orang berpunya. Lalu mengapa ia bisa sampai berkeliaran di sini? "Stres," kata Pak Otong. Padahal istri-anaknya sudah menjemput, tapi ia tidak mau. Orang itu kemudian nongkrong di dermaga. Ke sana jualah kami menuju.

Di dermaga, kami melihat ada dua orang ABG memancing hanya dengan kail. Salah seorang anak mendapat seekor ikan bertubuh panjang dengan moncong panjang pula--serta bergigi tajam. Sementara saya memerhatikan rombongan yang sepertinya terdiri dari sebuah keluarga besar dan sepasang bule bulan madu, mereka mendapatkan seekor ikan yang sama lagi. Ikan kacangan, kata Cah.

Sms Rijal datang. Kami disuruh cepat kembali untuk ikut beres-beres rumah, haha. Jadi Jumat itu agenda kami yang terkait praktek baru dimulai sehabis Jumatan. Kami kembali ke sumber air panas Cibiuk dan di sana kami membuat plot untuk Cah sekaligus untuk saya dan Soni. Setelahnya, kami berjalan sejauh kira-kira 200 meteran ke atas untuk membikin plot untuk saya dan Soni. Hari semakin senja. Sms Bunda mengingatkan kami untuk tidak pulang kesorean. Kami sampai kembali di persawahan menjelang magrib. Kami berhenti dulu di sana, di pinggir kali kecil, untuk mencuci bot dan celana sembari menikmati keindahan senja di angkasa. Hari makin gelap tapi kami masih berfoto sementara Kang Pudin tidak terlihat. Rupanya ia menunggu kami di pinggir jalan menuju pemukiman. Ia selalu berjalan lebih cepat, jauh di depan, tapi kami selalu ditungguinya.

Di rumah Bunda, kalau tidak salah saat makan malam, Abah menasihati kami agar tidak pulang kemalaman dari hutan. Beliau cerita kalau dulu pernah ada petugas kehutanan tersesat berhari-hari di sana. Ada semacam tumbuhan hutan yang kalau dilangkahi bakal membikin kita hanya berputar-putar tanpa bisa menemukan jalan ke luar. Petugas kehutanan tersebut bisa melihat tim pencari tapi tim pencari tidak bisa melihatnya. Lo, kok akhirnya bisa ditemukan? "Ya mungkin udah capek juga kali yang nahan," kata Abah. Abah melanjutkan dengan cerita asal-usul kata "pamali". Muasal kata tersebut adalah dari bahasa Arab yang menyatakan kegiatan yang sudah lampau. Saya lupa apa istilahnya. Suatu pamali muncul sebagai pelajaran dari akibat buruk yang didapat karena telah melakukan sesuatu. Sembari cerita begitu, Bapak menyetel serangkaian video karya tugas akhir seorang mahasiswa DKV ITB tentang pamali. Video berbahasa Sunda semacam iklan layanan masyarakat ini membikin kami terpingkal-pingkal sampai Abah sendiri tersenyum dibuatnya. Pesan utamanya adalah: "makanya, nurut ka kolot!"

Setelah itu, kalau enggak salah kami berkunjung ke rumah kepala desa. Bunda, Bapak, dan Rifda menemani kami. Di sana, topik utama perbincangan kami adalah tentang keterlibatan masyarakat Desa Taman Jaya dengan Taman Nasional Ujung Kulon. Kata Bapak, "Pihak taman nasional biasanya sekadar ngasih materi atau ceramah... Bla bla bla bla, kasih duit, bla."

Esoknya, kami kembali mengambil data di hutan dari pagi hingga siang. Pulangnya, kami sempat mampir di suatu warung untuk beli pop ice dan camilan. Saya tidur bersandar pada tiang sambil menunggu pop ice jadi. Sesampainya di rumah, saya sempat mengaso di teras sebelum kemudian mandi, dan seterusnya, sampai tahu-tahu ikut mengudap rujak bersama ibu-ibu di dapur hingga mendengarkan Bunda yang kuat bicara dari ashar sampai menjelang magrib.

Kami menjelajahi hutan Resort Taman Jaya hingga cukup jauh (masuk Cimenteng... Cilimus juga enggak ya?) dengan medan yang relatif wow hari itu sehingga pada sisa hari itu saya merasa amat mengantuk. Hujan turun dengan lebat namun pada malamnya kami ikut Bunda dan Bapak ke Penginapan Sunda Jaya untuk bertemu Pak Komar selaku pengurus koperasi KAGUM. Koperasi ini dirintis oleh Pak Oyok dan Pak Komar sebagai bentuk kerja sama antara masyarakat desa Taman Jaya, WWF, dan Taman Nasional Ujung Kulon. Potongan kecil sampeu nan keemasan menemani malam kami nan rintik itu...

Minggu, kami berangkat lebih siang, menjelang jam sembilan pagi, untuk kembali mengambil data di hutan. Kami ditemani oleh Rifda dan saudara kecilnya, Mutia. Sementara kami plus Kang Pudin memakai bot seperti biasa, dua gadis ini hanya pakai sandal vinil. Cah jadi merasa ada yang salah. Hari ini kami sempat melewati rute berbeda lagi, yaitu ke bawah pohon di mana kami melihat primata bergelantungan pada hari pertama kami singgah ke shelter. Di perjalanan pulang, Cah mengajari saya memakai ikat pinggang Ucok padahal saya akhirnya sudah menemukan ikat pinggang di Desa Taman Jaya dan membelinya... Agak alay tapi saya ingin berbesar hati menganggapnya sebagai oleh-oleh. Cah sendiri mengidam sirsak Taman Jaya sejak kemarin.

Sesampainya di rumah, lagi-lagi saya merasa amat lelah sehingga menjelang sore saya tidur dalam kepanasan. Namun saya betah tidur cukup lama karena dalam beberapa kali kesempatan terbangun saya mendengar suara hujan. Momen yang sangat mendukung untuk melanjutkan tidur. Menjelang magrib, setelah mandi, kami plus Rifda main ke dermaga. Beni, Haris, dan sepupunya sempat menyusul kami tapi mereka tahu-tahu hilang. Lagi-lagi kesempatan sunset Taman Jaya hilang karena mendung menggantung. Awan, menyingkir dong...

Dibandingkan kelompok Legon Pakis yang mendapat tempat menginap di kantor resort ditemani para petugas, harus menginap di saung untuk dapat mengamati owa jawa di pagi dan sore hari sekali karena letak hutan yang jauh dari kantor resort, dan jauh-jauh ke Taman Jaya hanya untuk fotokopi... kami di Taman Jaya ini merasa amat beruntung. Tanpa menafikan plus-minus dari masing-masing keadaan, kami hampir selalu makan cumi di rumah Bunda. Kami dibelikan kangkung, dibikinkan rujak, diberdayakan untuk mengurus foto ijazah para murid Bapak (hanya Soni, Rijal, dan Cah sih), ditemani ke rumah kepala desa dan pengurus koperasi KAGUM, diperkenalkan dengan para tetangga, makan bersama hampir setiap malam dengan wadah-wadah makanan plus piring-sendok-dan sebagainya dibawakan ke ruang kami berkumpul dan seringnya Bunda yang memasakkan kami makanan dengan bumbu cinta (kayaknya karena tahu kami hanya bawa makanan instan), dan masih banyak lagi... pokoknya kami difasilitasi sedemikian rupa sehingga kami merasa banyak makan dan banyak tidur dan sedang di rumah. Wah. Beberapa kali pula kami kecolongan cucian perabot makan. Sebagai balas budi, seharusnya kami yang membersihkan seabrek perabot tersebut--toh kami juga yang bikin kotor. Tapi tahu-tahu saja tumpukannya sudah tidak ada.

Keraguan apakah saya lagi praktek jurusan apa KKN ini sampai bikin saya menelpon Nur di Bandung hingga pulsa telepon tinggal tiga ribu rupiah (enggak tahu juga sih sebelumnya berapa). Yang saya khawatirkan adalah jika keadaan ini sampai bikin kami terlena, jadi tamu yang tidak tahu diri, dan dibantai dosen-dosen di kampus saat presentasi hasil karena kami lebih banyak sosialisasi dengan masyarakat ketimbang praktek--meski yang pertama itu bagus juga kan... Mau dibilang praktek jurusan, kok bercampur dengan masyarakat sampai sebegininya, tapi dibilang KKN juga kita enggak bikin program dan koordinasi dengan LPPM. Sebenarnya ada sebab kegalauan lain sih, tapi demi kemaslahatan diri saya insya Allah tidak akan mengungkapkannya secara gamblang di sini, waha.

Beberapa kali Fitri dan Atia mengajak saya "maraton" (= habis subuh jalan-jalan ke Pantai Paniis atau manalah pokoknya jalan-jalan pagi!) tapi sampai saat saya menulis ini hal itu belum terjadi. Katanya mereka susah bangun subuh. Mereka cerita kalau ada kolam renang bagus di dekat Paniis, namanya Argasari. Namun petang ini Rifda bilang kalau masyarakat sini menyebut "irigasi" dengan "argasi". Jadi? Rifda juga cerita tentang fenomena pinguin bersarung di pinggir pantai Taman Jaya. "Maklumlah, belum semua penduduk di sini punya kamar mandi," katanya.

Begitulah hari-hari kami di Taman Jaya. Begitu bisanya mereka membuat kami merasakan suasana kekeluargaan di rumah yang serasa sudah rumah sendiri padahal baru beberapa hari kami di sini. Semoga kami bisa membalas segala budi mereka. Sebetulnya cerita tentang keluarga ini bisa dijadikan satu tulisan sendiri. Saya membayangkan sosok Pak Oyok atau Bunda atau Abah masuk dalam rubrik SOSOK di koran cetak KOMPAS. Namun kiranya pikiran ini sedang begitu rumit sementara waktu juga sempit untuk merangkaikan kata-kata yang oke.

Sabtu, 04 Juni 2011

Cerita dari Kamar Mandi Rumah Bunda

Kamar mandi di rumah Bunda ada dua. Luas dan layout-nya sama, yaitu sebuah jamban jongkok yang tertutup bak persegi panjang di sampingnya, serta sebuah jendela menghadap kebun. Kedua kamar mandi ini berdempetan kiri dan kanan. Sudah ada beberapa kisah lucu terkait kami dan sepasang kamar mandi ini, terutama kamar mandi sebelah kiri.


Saya dan Cah

Saya perhatikan, saya dan Cah sama-sama suka menggunakan kamar mandi sebelah kiri. Padahal kamar mandi sebelah kiri ini dibandingkan kamar mandi sebelahnya:
  • jendelanya hanya berupa kawat kotak-kotak sehingga tidak tertutup benar dan sangat memungkinkan bagi seseorang untuk mengintip dari kebun
  • airnya terlihat lebih jernih
  • ada bangkai cicak tergantung di atas pintu--kiranya sudah jadi tengkorak
  • lebih tidak banyak barang
  • pintunya tidak bisa dikunci
Yeah, kamar mandi yang amat rawan insiden penglihatan tak senonoh. Namun kalau kedua kamar mandi sedang kosong, saya lebih suka memilih kamar mandi sebelah kiri. Salah satunya juga mungkin karena saya bisa mandi sambil menikmati sekelumit pemandangan di kebun... :p

Dan insiden memang terjadi.

Kamis sehabis survei, saya hendak memasuki kamar mandi tersebut. Saya lihat pintunya terbuka sedikit. Saya kira tidak ada orang. Begitu saya buka, saya dengar suara Cah dan saya lihat kepala hingga punggungnya--berpakaian lengkap sih, tapi dia ternyata lagi... kencing.

Untung posisinya membelakangi saya.

Buru-buru saya tutup pintu sambil istigfar. Salah dia juga sih, pintunya enggak ditutup rapat...


Saya dan Desta

Jumat petang sehabis dari mengambil data dari hutan, saya dan Desta hendak mandi. Desta mempersilahkan saya mandi duluan. Saat itu kamar mandi yang kosong hanya yang sebelah kiri.

Tidak lama, kamar mandi sebelah kanan kosong juga. Desta pun masuk ke dalamnya. Tidak lama pula, terdengar suara Abah, "Yang sebelah kanan kosong enggak?"

Wah. Refleks saya menjawab, "ada," pada pria yang saya segani itu.

Abah pun menjawab lagi, "Itu mah yang sebelah kiri."

Desta buru-buru bersuara untuk menandakan kehadirannya dalam kamar mandi sebelah kanan.


Rijal

Pada suatu pagi yang harinya Rijal ingin melupakannya, Rijal lagi b*k*r di kamar mandi sebelah kiri. Lalu terdengar suara Bapak (pakai ngetok-ngetok enggak ya?), "Di dalam ada orang enggak?"

Rijal menjawab, "Tidak."

Karena dijawab begitu, Bapak membuka pintu kamar mandi dan menemukan kepala Rijal di balik bak.

Kalau enggak salah, Rihal lalu minta maaf tapi Bapak bilang, "O ya, enggak apa-apa," sambil menutup pintu.


Sekian dulu. Haha...

Jumat, 03 Juni 2011

H7JUK: Kejadian di Dini Hari

Saya terbangun pukul satu dini hari. Kemudian saya terpikir untuk melanjutkan ketikan catatan harian saya. Maka saya ke luar kamar untuk mengambil laptop. Di luar kamar hanya ada Cah. Posisinya tidur menyamping menghadap jendela. Sebelah tangannya menyentuh kibor laptopnya, seakan tahu-tahu tertidur saat sedang mengetik. Saya matikan TV, mengambil laptop, dan kembali ke kamar.

Keinginan untuk mengetik pudar. Saya jadi ingin lanjut tidur saja. Sayup-sayup, saya mendengar suara-suara yang membuat saya mengira Cah sudah terbangun. Terdengar dehamannnya. Belum lama saya terlelap, ada yang mengetuk pintu. Siapa? Buka tidak ya? Saya akhirnya bangkit, memakai baju lengan panjang dan kerudung, dan ketika membuka pintu saya dapati Cah.

Dia tanya apakah saya sudah mengambil laptop saya. Saya iyakan. Lalu saya lupa dia tanya apa lagi. Lalu dia menyuruh saya duduk di hadapannya, beberapa kali, sampai saya menurut. Dia tanya apa saya sudah cukup sadar dan bisa berpikir. "Ya, ada apa?" kata saya akhirnya. Dia menunjuk jendela di seberang kami. "Kamu tahu kenapa itu gordennya kayak gitu?" Gorden di seberang kami agak masuk ke dalam kusen, memperlihatkan sebagian pemandangan kolam eceng gondok di luar. Lalu dia menunjuk jendela satunya. Gordennya tertutup saja. Saya lupa dia ngomong apa. Tapi kemudian perut saya jadi mulas sementara dada berdebar. Saya pindah duduk ke dekatnya.

Lalu dia bercerita. "Tadi ada yang nyemplung kolam." Orang. Lalu dia berdeham. Orang itu kabur. "Tadinya mau kukejar. Tapi enggak enak sama yang punya rumah." Saya hanya bisa tertegun. Perasaan takut bercokol. Ketidaknyamanan kian mencengkeram. Saya sarankan Cah untuk bilang sama pemilik rumah. "Ya, nanti pagi," jawabnya.

Kembali saya ke tempat tidur. Sembari terbaring, saya merindukan saat di mana saya membuka lembaran novel dan menyantap dunia fiksi di dalamnya. Lalu mengguratkan fiksi saya sendiri setelahnya. Dunia saya sebenarnya. Saya kangen rumah. TV kabel yang menayangkan serial 30 Rock di mana saya bisa belajar membuat komedi. Adik-adik saya. Semuanya.

Imaji beralih ke sekarang. Tidak lama lagi saya harus menyeruak kerimbunan rimba Ujung Kulon di mana kemarin saya temukan ulat-ulat bertebaran. Aduh. Dan segala kerepotan lain yang melingkupinya. Tapi semuanya harus saya tempuh atau saya tidak akan mendapatkan apa-apa padahal sudah jauh-jauh ke mari...

Padahal alhamdulillah kami telah mendapatkan tumpangan yang amat homy. Pemilik rumah dan orang-orang di sekitarnya begitu baik pada kami. Meski hawa yang selalu bikin badan lengket tak bisa dipungkiri. Meski pikiran bagaimana meninggalkan kesan baik bagi orang-orang baik ini harus terus digeluti. Dan sebagainya.

Petualangan di alam. Padahal ini dulu yang amat saya idam-idamkan. Setelah berkecimpung di dalamnya, kok? Apa kondisi saya saja yang sedang tidak baik sehingga saya enggan menghadapinya? Ah. Semoga saja lekas lalu dan saya bisa bekerja profesional serta berbaik laku pada orang-orang sini dengan teman-teman saya ini

Pagi, Cah bilang sama Bapak soal kejadian pada dini hari ini. Kata Bapak, itu Agus yang suka bongkar rumah. Nyuri maksudnya. Kok dibiarkan saja? Kata Cah, "Enggak tau. Udah bosen ngasih taunya kali." Ha.

Saya juga mendapat versi lengkap dari cerita ulang Cah pada orang-orang lain. Rupanya bagian bawah gorden bisa berbentuk seperti itu karena tangan si oknum memang sempat masuk berkat jendela yang tidak terkunci. "Mau ngajak salaman kali," ada yang nyeletuk.

Kamis, 02 Juni 2011

H5-6JUK: Selamat Datang di Taman Jaya!

pantainya pas di pinggir jalan
Kegundahan tertepis begitu memasuki Taman Jaya. Seperti memandangi desktop komputer. Segala mual lenyap seiring dengan bergantinya kegersangan dengan hamparan pantai tepat di pinggir jalan. Gerinjil bebatuan dan seliweran debu menggantikan aspal nan mulus namun berkelok-kelok. Mengingatkan pada jalanan di Getas namun yang ini tidak lebih parah. Ah. Jadi ingin menceritakan hebohnya kami saat menjajaki jalanan tersebut dengan truk tapi kapan ya? Oase yang sesungguhnya terhampar di depan kantor seksi II Handeuleum.

Sebelumnya, kami berangkat dari kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon pukul tujuh pagi ++ dengan elf Pak Muhammad. Ia ditemani oleh seorang kenek. Diiringi lagu-lagu lawas (Panbers, "Kemesraan", lagu-lagu dari bikinan orang sekampung Ucoklah!), kami melewati SPBN (terletak di pinggir perairan dan fungsinya untuk mengisi solar pada perahu), spanduk penawaran kerja jadi PRT dan baby sitter di Jakarta, Pasar Panimbang, dan seterusnya...

Saya sempat ingin beli ikat pinggang di pasar. Pak Muhammad mengizinkan. Tapi teman-teman ingin cepat sampai. Ucok menawarkan ikat pinggang miliknya yang kemudian ia berikan dan saya tinggalkan di kantor seksi. Heu. Ucok, maaf.

Di kantor seksi, kami disambut oleh Pak Otong. Wajahnya mengingatkan saya pada seorang teman sekelas saya waktu SMP, Luthfi. Saya kira bapaknya tapi mestinya bukan karena keterangan Pak Otong tentang keluarganya tidak mengindikasikan demikian. Karena Pak Otong ada tamu, maka kami dilepas ke dermaga (sebenarnya ia hanya menyuruh kami istirahat dulu sih).

salah satu sisi halaman depan kantor seksi



Yeah. Tepat di depan kantor seksi adalah dermaga. Yang memisahkan adalah hamparan rumput serata padang golf dengan kambing-kambing berkejaran. Sebelah kiri adalah pemukiman penduduk yang dirimbuni vegetasi, sebelah kanan adalah bangunan lain kantor seksi dan mungkin hutan pantai (saya tak memerhatikan), dan di tepi bentang daratan nan menenteramkan hati ini adalah sebuah dermaga. Lokasi kantor seksi II Handeuleum Taman Nasional Ujung Kulon adalah lokasi yang bakal diinginkan siapa pun untuk jadi tempat tinggalnya!

Jangan bayangkan dermaga kumuh dengan kapal-kapal besar karatan berjejer di tepinya. Tidak ada pula riuh calon maupun mantan penumpang berwajah lusuh. Hanya ada satu dermaga berkayu yang dibangun di atas hamparan separuh pasir putih dengan karang dan koral mati berserakan serta air bening yang menampakkan ikan-ikan kecil berkeliaran...

ternyata suka ada buayanya lo...
Jalan berkayu ini bercabang. Kedua cabang menghadapkan kami pada jalur hijau berkelok yang membentang di sepanjang pantai hingga menjelma siluet. Seketika hati menjadi lapang. Awan begitu baik menghalangi mentari menyampaikan teriknya. Di ujung cabang kanan, saya merebahkan diri. Memejamkan mata. Membukanya lagi. Mereka-reka seperti inikah rasanya surga. Udara sedang tak begitu panas pula. What a... Subhanallah. Alhamdulillah.

Lalu teman-teman semakin banyak yang berdatangan. Dan foto-foto. Dan ada kapal kecil menepi lalu menurunkan para penumpang yang pada kelihatan seperti kiai (mungkin mereka peziarah Sang Hyang Sirah). Saya biarkan insting kewartawanan saya tumpul dengan tidak menanya-nanyai siapapun dari kapal itu. Lalu kami kembali ke kantor seksi. Bikin minum. Bercengkerama dengan Pak Otong nan gokil di teras kantor sembari minum-minum dan satu per satu kami bergiliran solat zuhur.

Singkat cerita, kelompok Resort Legon Pakis dibawa mobil patroli ke Legon Pakis sementara beberapa orang dari kelompok satunya disuruh Pak Otong sowan ke rumah penduduk tempat kami akan menumpang selama kurang lebih seminggu. Jadilah saya dan Rijal yang menunaikannya. Pak Otong menyuruh Teh Desi dan Teh Lilis mendampingi kami. Mereka berdua adalah penduduk Taman Jaya yang dipekerjakan pihak taman nasional untuk urusan penerimaan pengunjung.


Rumah Bunda

Tahun lalu, sekelompok mahasiswa UGM KKN di kawasan Ujung Kulon. Kalau tidak salah, masing-masing sub unit ditempatkan di Cigorondong, Legon Pakis, dan Taman Jaya. Kiranya sebelumnya sudah ada yang KKN di desa ini dari perguruan tinggi-perguruan tinggi lain, namun menurut Bapak--suami Bunda, pemilik rumah--yang dari UGM-lah yang paling berkesan. Saya mengenal sebagian dari para anggota sub unit Taman Jaya tersebut. Salah satunya adalah kakak angkatan sejurusan saya, Mas Yunan.

Baru beberapa hari lalu Mas Yunan dan teman-teman KKN-nya itu main ke desa ini. Bersama beberapa warga, mereka tamasya ke Pulau Peucang. Sebelum kembali ke Jogja, Mas Yunan menitipkan kami pada Bu Euis dan Pak Oyok. Bu Euis inilah yang disebut Bunda oleh sekian banyak orang yang dikenalnya.

Mulanya, Mas Yunan mengirim sms pada kami bahwa kami--kelompok yang kebagian Resort Taman Jaya--sudah ia titipkan pada Bu Euis dan Pak Oyok. Saya kaget saat Senin pagi sebuah nomor tak dikenal menelepon saya. Malah saya reject. Panggilan kedua baru saya angkat. Ternyata Bunda langsung menghubungi saya.

Setelah ditelepon, saya jadi amat terkesan dengan sikapnya itu. Kami yang butuh, kok malah beliau yang menghampiri dulu. Setelah itu, sesekali saya dan beliau smsan. Katanya, "orang sana" itu sukanya menelepon. Sementara ponsel suka saya silent. Jadilah beberapa kali panggilan Bunda saya lewatkan.

Saya baru bertemu Bunda langsung pada petang ini. Sebelumnya, beliau mengantar putri sulungnya SNMPTN dan mengurus berbagai hal di Labuan. Biar berperawakan kecil, Bunda enerjik dan dikenal orang-orang di sekitarnya sebagai wanita yang periang dan kocak. Saya kagum bagaimana seseorang bisa dikenal begitu menyenangkan.

Pertama kali melintas di depan rumah Bunda dengan elf yang membawa kami ke kantor seksi, saya sudah merasakan kesan homy. Bagian depannya penuh dengan berbagai tanaman meski kebunnya sendiri terletak di samping. Dinding bagian depan rumahnya dicat kuning. Pagar kayu bagian depan dicat putih.

Pertama kali kami menginjakkan kaki ke terasnya, kami disambut oleh Bapak. Perkenalan. Mengobrol ke sana ke mari. Lalu kami kembali ke kantor seksi untuk mengambil barang-barang sekaligus para anggota lain kelompok kami. Ganti Abah--bapaknya Bunda--yang menyambut kami. Hari pertama di Taman Jaya kemudian kami habiskan dengan istirahat di rumah ini sedang malamnya sowan ke rumah kepala desa. Sehabis sowan, saya tepar.


Hutan Ujung Kulon

Rijal sudah menghubungi Pak Edi, kepala resort Taman Jaya. Yang ditelepon menitipkan kami pada Pak Heri atau Pak Pudin.

Sekitar pukul sembilan pagi, kami ke kantor Resort Taman Jaya yang lokasinya ternyata tidak jauh dari rumah Bunda. Kami langsung bertemu Pak Pudin yang sedang menyapu kebun.

Kami kemudian mengobrol di teras kantor resort yang tampaknya berupa bangunan semi permanen--sebagian kayu sebagian dinding. Di samping kantor resort yang kiranya hanya terdiri dari 3-4 ruangan kecil ini, terdapat bangunan serupa. Di samping lainnya, ada bangunan krem yang di pinggirnya terdapat mesin pembuat biodiesel dari nyamplung. Beberapa lama, datanglah Pak Heri dengan motornya yang weow. Di luar singletnya, Pak Heri memakai jaket cukup tebal yang bikin saya heran karena udara yang panas.

Dari Pak Heri, kami mendapat keterangan lebih banyak tentang Resort Taman Jaya karena Pak Pudin cukup pendiam. Kami juga mendapat laporan bulan Februari dan Mei tahun ini yang sepertinya bakal sangat berguna. Dalam laporan tersebut, ada data perjumpaan dengan owa jawa yang memang jadi target penelitian kami. Beberapa tempat seperti Cilimus, cimenteng, atau Ciburuluk terlalu jauh untuk ditempuh sehingga hari itu kami minta diantar Pak Pudin ke Cibiuk saja.

Untuk menuju ke sana, kami melewati permukiman penduduk lalu persawahan yang jadi kenikmatan sendiri saat melihatnya. Umumnya rumah penduduk terbuat dari kayu atau bambu. Sebagian rumah memiliki kolong di bawahnya tapi ada juga yang tidak. Pada beberapa rumah yang kami lewati biasanya sedang ada ibu-ibu menyusui, anak-anak kecil, dan atau nenek-nenek di "teras" rumah. Teras yang saya maksud di sini umumnya semacam bale-bale atau panggung dan terbuat dari bambu. Setiap melihatnya membuat saya jadi ingin merebahkan diri. Iri sekali setiap melihat ada kucing mengaso di sana. Setiap melewati warga juga kami berusaha bersikap seramah mungkin. Mereka juga ramah dan sering kami ditanyai mau ke mana. Ada juga sih rumah tembok dengan teras terbuat dari keramik.

Di sini kami lebih banyak menemui kambing daripada anjing. Kucing yang saya temui umumnya bermotif hitam-putih seperti sapi atau hitam saja. Tapi ternyata ada juga yang bercampur oranye atau bermotif lurik-lurik.

Lepas dari pemukiman, kami menyusuri kali dengan lebih banyak batu ketimbang air di sisi kanan sedang di sisi kiri seingat saya ada kali juga sih dan bambu. Ada ibu-ibu mencuci di kali sebelah kiri. Lalu sampailah kami ke persawahan. Tepat di persimpangan, kami menemukan pal batas kawasan. O o, kiranya persawahan ini juga masuk ke dalam kawasan...

Sebelumnya, sewaktu masih di kantor resort, Pak Heri sudah bercerita mengenai kegiatan pemasangan pal batas yang baru-baru ini dilakukan. Bukannya belum ada pal batas sebelumnya. Pal batas yang lama banyak digeser, dirobohkan, atau hilang dan ditengarai pelakunya adalah masyarakat. Pemasangan pal batas pun kembali dilakukan dengan pal batas baru berukuran lebih besar dan terbuat dari beton. Perbandingannya lumayan juga.

bercermin di air sawah
Pemandangan di persawahan luar biasa cantiknya. Bagai lukisan. Bayangkan, sebuah saung di tengah hamparan sawah hijau. Latarnya adalah rimbun hutan dengan siluet perbukitan di atasnya. Rumpun bambu menjadi bingkai yang menambah tentram suasana hati kala melihatnya. Rasanya saya belum pernah melihat sawah dengan air sebening itu. Kalau biasanya jalanan sawah hanya berupa gundukan tanah sehingga mempertaruhkan keseimbangan kala menapakinya, jalanan kali ini cukup lebar sehingga kalau mau berlari pun aman saja. Tapi sesekali kami harus menginjak pipa karena jalanan tahu-tahu putus oleh aliran air yang bermuara pada bening yang menggoda diri untuk mencebur.

Sampailah kami ke perbatasan antara persawahan dengan hutan. Biar ada jalan setapak, namun hutan yang kami masuki begitu rimba. Beberapa hari sebelum perjalanan ini, di kos, saya sempat ada perasaan gentar kalau harus memasuki hutan. Entah mengapa. Padahal harusnya sudah biasa ya. Kegentaran ini menyesap lagi. Tapi saya harus terus berjalan. Belum berapa lama berjalan, rombongan yang dituntun oleh Pak Pudin ini berhenti di dekat sebuah shelter kayu bercat hijau. Tercium bau solokan dan memang ada semacam solokan tepat di depan shelter. Seseorang menyadarkan saya bahwa yang kami hirup adalah bau belerang dan "solokan" di depan kami adalah SUMBER AIR PANAS CIBIUK. Wew.

yak, beginilah kondisi sumber air panasnya...
Sejak sebelum perjalanan, dalam bayangan kami sumber air panas Cibiuk adalah sebuah kolam yang cukup besar bagi para pengunjung untuk mandi di dalamnya dengan diamati owa jawa-owa jawa dari balik pepohonan. Ternyata. Kendati airnya bening, namun dasarnya tampak buluk seperti limbah solokan. Ya mungkin itu belerangnya. Heran juga, katanya "Pegunungan" (sebetulnya lebih tepat disebut perbukitan) Honje tidak aktif. Lalu mengapa tahu-tahu ada belerang? Sumber air panas? Bagaimanapun juga, tangan tercelup untuk merasakan nikmatnya air panas. Biarpun udara begitu membikin tubuh lengket, namun hasrat untuk mandi air panas muncul jua. Sepertinya bakal segar sekali... Tapi kalau sumber air panasnya hanya sebesar ini... Hm.

ngaso dulu di shelter
Owa jawa diketahui ramai beraktivitas saat pagi dan sore. Saat kami ke sana, hari sudah menjelang siang. Meski demikian, dari shelter kami ternyata masih bisa melihat primata beraktivitas di kejauhan--pada tajuk sebuah pohon yang tampaknya berbunga-bunga pink. So langsung jongkok menghadap sana sambil pegang binokuler. Rijal mereka-reka potensi wisata apa yang ada di sekitar sini. Desta... istirahat. Pak Pudin menunggui kami tidak jauh dari shelter. Saya enggak jelas. Hanya Cah yang sampai agak jauh mengamati jenis-jenis pohon yang ada. Sesekali ia bertanya pada Pak Pudin mengenai nama-nama pohon yang ditemukannya. Yang dicarinya adalah pohon yang menghasilkan buah untuk pakan owa.

perkenalkan, si kodok mancung!
Lama-lama menghirup bau belerang tidak baik. Untung ransel saya dibawa dan ada masker bekas erupsi Merapi November lalu di dalamnya. Desta ternyata membawa lebih banyak masker--bersih pula. Saya, Desta, dan Rijal malah foto-foto enggak jelas kemudian. So entah ngapain. Cah, si pawang herpetofauna, menemukan seekor kodok mancung yang kemudian kami jadikan objek foto kami.

Setelah Cah mendapatkan beberapa jenis untuk dilacak lagi status perlindungannya, kami turun. Sempat ada rencana ke Pantai Paniis, tapi katanya jauh. Saat sudah memasuki permukiman penduduk lagi, rombongan kami sempat terpisah. Saya tertarik memotret sebuah tempat penyimpanan kayu bakar tapi tidak tahu bagaimana mengembalikan mode kamera saku Desta dari video ke kamera--tadi Cah sempat bikin video-videoan. Rijal menunggui saya dan Desta. Lalu kami bertiga kembali ke kantor resort yang tertutup. Lama menunggu, kami bertiga memutuskan kembali ke rumah Bunda duluan. Tepar.

Selasa, 31 Mei 2011

Jadi pingin jadi pustakawan lagi...

Potensi. Ini adalah salah satu kata yang paling saya suka. Terutama kalau tidak diembeli dengan "jasa lingkungan", "keanekaragaman hayati", "ekosistem", dan semacamnya hahahaha... Potensi yang saya maksud di sini adalah terkait potensi diri. Saking sukanya saya pada kata ini, saya sampai bikin tiga novel untuk mengeksplorasinya ;)

Pada pagi menjelang siang hari ini saya mengatakan pada teman-teman yang ada di dalam perpustakaan kantor balai, "Kayaknya habis lulus kuliah entar saya mau kerja jadi pustakawan aja deh!" Siapa ya itu yang bilang cocok?

salah satu sisi perpustakaan kantor balai TNUK
Saya lagi enggak ingin menceritakan bagaimana pergaulan intens saya dengan buku, keterlibatan saya dalam aktivitas keperpustakaan sejak SD hingga kini, dan berbagai perpustakaan yang telah saya akrabi hingga teman-teman suka tanya atau minta bantuan saya untuk mencarikan buku. Saya hanya ingin mengungkapkan rasa senang karena bisa memberi manfaat sesuai dengan potensi yang saya miliki. (Dan potensi di sini bukan potensi biasa, saya kira. Tidak semua orang memilikinya. Sesuatu yang bikin saya terkesan punya keunggulan dibanding orang lain.)

Lina ngumpet terus di balik laptop
Meski hari ini hanya Lina yang mengatakannya. Dia kiranya merasa terbantu karena kecepatan saya dalam mendapatkan dokumen-dokumen yang kami butuhkan. Sebenarnya ini juga karena saya lihat daftar pustaka laporan magang para kakak angkatan di Taman Nasional Ujung Kulon tahun lalu plus bantuan dari Cah. Saya hanya menyerahkannya dengan segera ke dekat Lina. Kemarin juga saya yang berinisiatif minta katalog ke petugas untuk memudahkan saya dan teman-teman menelusuri judul-judul yang diinginkan.

Meski demikian, saya memang telah sadar bahwa potensi saya dalam hal kepustakawanan memang ada. Setidaknya saya ada minat besar ke sana.

Hari ini saya ingin bekerja di perpustakaan dan terus mengarang. Bekerja di perpustakaan, apalagi kalau koleksinya selengkap Perpustakaan Nasional, pasti bakal sangat membantu kepengarangan saya. Mari bermimpi... :D

H3JUK: Pekerjaan Dimulai!

Saya lupa pernah baca di mana: orang autis suka mengumpulkan informasi tapi tidak tahu cara mengolahnya. Hari ini saya merasa demikian. Saya dihadapkan pada rak-rak berisi berbagai data tentang flora, fauna, sosial-ekonomi, jasa lingkungan, handbook, RPTN, rencana, dan lain sebagainya terkait Ujung Kulon maupun taman nasional-taman nasional lainnya. Namun saya bingung apa yang harus saya lakukan pada mereka kemudian. Cek? Telaah? Analisis? Tapi ini begitu banyak! Apa saja yang harus ditampilkan dalam laporan nanti? Dueng!

Praktek jurusan yang kami lakukan ini mencakup enam aspek: manajemen kawasan, flora, fauna, jasa lingkungan, masyarakat, dan wisata alam--yang masing-masingnya diampu satu orang. Kelompok saya jumlahnya lima orang dengan saya pada mulanya memilih aspek manajemen kawasan sebagai fokus kajian. Namun ada yang bilang, entah siapa, kalau sebaiknya saya memilih jasa lingkungan (karbon) saja sedang aspek manajemen kawasan dikerjakan bersama-sama karena aspek ini kiranya yang paling harus dipahami oleh kami semua.

Aspek jasa lingkungan, yaitu karbon, ternyata merupakan yang paling simpel di antara yang lain. Melihat laporan-laporan praktek jurusan pada gelombang sebelumnya, rumus yang digunakan itu-itu saja. Memang proses selanjutnya tidak sesimpel itu juga, namun kita lewat saja bagian ini.

(Mungkin) karena simpelnya aspek karbon yang jadi beban saya dibanding aspek-aspek lainnya, maka sayalah yang akhirnya "dipasrahi" teman-teman sekelompok untuk menggarap aspek manajemen kawasan--ditambah pada awalnya saya memang hendak mengambil aspek ini. Ketua kelompok saya, terutama, yang suka lupa kalau aspek ini sebetulnya tanggung jawab bersama.

Maka pada hari ini, di mana agendanya adalah pencarian data sekunder, sayalah yang mencurahkan pikiran untuk aspek ini. Lagipula memang penelitian tentang karbon belum pernah dilakukan sama sekali di TNUK. Ucok, dari kelompok satunya, yang sama-sama mengampu aspek karbon berfesbuk ria hampir sepanjang hari.

Untung saja ada Lina. Kelompok satunya berjumlah enam orang sehingga ada satu orang yang bisa fokus pada aspek manajemen kawasan. Ya Lina tu. Berkat sharing dengannya, plus kinerjanya yang memang mengagumkan, saya sangat terbantu. Meski kami sudah berbagi tugas, namun dia bisa lebih mengkoordinir teman-teman yang dapat membantu pengumpulan data yang jadi jatah saya, waha. Dia juga bantu merumuskan apa yang harus saya lakukan dengan data yang melimpah ini. Katanya, "Cari data yang bener-bener kamu butuhin aja..." Meski demikian, berhalaman-halaman daftar data yang harus saya kumpulkan yang saya tulis lagi di notes hijau ternyata berguna juga sih.

tampak dari tepi Jalan Raya Labuan...
Sebetulnya saya ingin membuat rangkuman hasil pengumpulan data yang saya lakukan sepanjang hari ini, semacam laporan ala kadarnya begitulah. Namun, entah nanti sempat atau tidak, saya mau merekam hari ini dulu--hari ketiga di kantor BTNUK.

Saya kira saya berhasil tidur sebelum pergantian hari semalam. Saya bangun jam empat tepat padahal enggak pakai alarm dan padahal saya nyetelnya jam tiga juga. Di luar sana ramai suara tilawah penyambut subuh yang mungkin berasal dari berbagai penjuru tanah Banten. Sementara Lina sahur, saya mandi dan mencuci sedikit pakaian. Saya menunggu azan subuh sambil mengetik tulisan untuk blog. Sehabis itu dan solat subuh, saya sempat kepikiran untuk tidur lagi. Namun akhirnya saya beli sarapan murah untuk teman-teman sekebelasan bareng Cah, Vina, Gilang, ... Desta juga enggak ya? Lalu kami sarapan nasi bungkus di rumah Pak Arif dan setelahnya bergegas menyiapkan diri untuk memulai aktivitas di kantor balai.

duduk manis di ruang depan
Sesampai di kantor balai, para cewek menunggu di kursi depan sementara para cowok pada narsis di halaman. Setelah senyum-senyum, salaman, dan atau kenalan sama beberapa orang petugas balai yang lalu lalalng, pak kepala balai akhirnya muncul juga ke hadapan. Saat giliran saya untuk salaman dan kenalan dengannya, saya malah jadi gagap. Maksud ingin membantu Desta menyebut namanya (karena dia enggak begitu saat pak kepala balai bertanya), saya malah berucap, "Des... Des... Des... D***!" Aih, grogian.

formasi lengkap
Kami lalu berkumpul di semacam ruang rapat. Grup Legon Pakis di sisi kiri pak kepala balai sementara grup Taman Jaya di sisi kanannya. Kami juga ditemani oleh beberapa petugas balai lain seperti Pak Luki, Pak Firmanto, Pak Indra, Bu Desy, Pak Mumu, Pak Edy, dan ...siapa lagi ya? He. Cah sampai membuat ilustrasi di notes birunya untuk mempermudahnya mengingat mereka semua. Satu per satu kami memperkenalkan diri.

pak kepala balai...
Pak kepala balai, yang saya kira lazimnya orang Sunda sebagaimana yang Om Maman S. Mahayana pernah bilang dalam salah satu bukunya yang memuat kritik cerpen penulis Sunda, ternyata suka heureuy. Sebelum mulai, beliau meminta salah seorang dari kami untuk menampilkan lagu terlebih dulu. Memang di salah satu sudut ruangan ada seperangkat alat musik seperti kibor, alat musik tabuh, dan entah apa lagi. Beliau menunjuk Cah, mungkin karena rambutnya gondrong jadi dikira nyeni kali ya. Cah menghindar dengan mengatakan kalau dia mahasiswa Seni Rupa (bukan seni rupa musik). Yeah, seni rupa-rupa.

...dan para stafnya
Banyak lagi kami tertawa dibuatnya, Misal ketika Soni memperkenalkan diri dan mengatakan dirinya berasal dari Nganjuk, kata beliau, "Tau enggak, nganjuk dalam bahasa Sunda artinya apa? Artinya ngutang!" Derai tawa. Saya sudah pernah bilang ini sebelumnya pada Soni. Entah dia ingat apa enggak. Soni tampaknya jadi favorit pak kepala balai. Mungkin karena nama yang tertera di baju lapangan Getasnya hanya "SO", jadi mudah memanggilnya. Selama beberapa lama kemudian Soni jadi populer dipanggil "So" oleh kami. Sonilah yang pertama ditanya pak kepala balai. Beliau tanya soal satwa di TNUK. Tepat--memang Soni yang pegang aspek fauna di kelompok kami. Saya kira saya tidak akan bisa menjawab lebih baik dari Soni. Saya khawatir kalau-kalau saya jadi sasaran pak kepala balai selanjutnya, alhamdulillah tidak.

berfoto bersama Bang Manurung
(yang baju putih di tengah)
Oh senangnya jika saya bisa menuliskan pengalaman saya selanjutnya dengan lebih rinci, namun apa daya waktu sudah hampir menunjukkan jam sepuluh malam saat saya menulis ini. Mata sudah berat. Sejak azan isya waktu Indonesia bagian Labuan, kami menghabiskan waktu di Kedai 13 dengan seorang alumni FKT UGM yang kini bekerja untuk WWF, Timer Manurung. Lina mempertemukan kami dengan abang satu ini antara lain karena Putro butuh mewawancarai LSM untuk penelitiannya. Terimakasih, Bang, telah menghemat uang makan malam kami... :)

Jadi, ini adalah poin hal-hal yang terjadi mulai dari habis overview dari pihak balai sampai pertemuan dengan Bang Timer...

- kumpul di perpustakaan kantor balai, cari data
- jam satu lebih, saya bareng Cah, Putro, Vina, Desta, dan Fajar beli es doger depan kantor balai, naruh data seabrek di fotokopian terdekat, makan di Minang Saiyo (Cah bilang harganya pasti, pasti MAHAL), balik ke kantor balai untuk solat zuhur, nungguin fotokopian, balik ke kantor balai lagi untuk wawancara Bu Desy bareng Cah, Soni, Gilang, dan Vina, lalu nimbrung Cah dan Gilang di ruang Pak Haryono, nongkrong sama teman-teman di ruang depan di kala kantor sudah mau tutup, nemenin Lina menghadap Pak Indra, balik ke rumah Pak Arif, mandi, nyuci, dan seterusnya deh...

Alhamdulillah, tidak seperti kemarin-kemarin yang saya keluhkan di sini, saya rasakan badan sudah mulai berteman dengan udara. Mungkin karena seharian saya banyak menghabiskan waktu di ruangan ber-AC kali ya, jadi keringetannya enggak begitu heboh. Sesekali gerah terasa bet, saat AC mati, saat ke luar cari makan... Namun selebihnya saya merasa tidak terlalu mengeluarkan keringat. Apalagi sore sempat hujan gerimis yang lantas jadi deras dan bikin saya panik seketika kala ingat jemuran.

Ya sudah begini saja dulu.
(selesai diketik pada 5.27, tanggal 31 Mei 2011)

Senin, 30 Mei 2011

Udara Panas...

Sejak masuk kereta Progo, saya hampir tidak pernah tidak berkeringat. Kalau naik kereta dari Jogja ke Bandung, memang pada mulanya saya gerah di awal--biasalah, udara Jogja--tapi harus siap-siap bersidekap untuk mengumpulkan hangat begitu menjelang pagi. Kali ini, membawa baju lapangan untuk tujuan itu jadi sia-sia--meski nantinya terpakai juga sih.

Tidak seperti Kahuripan yang makin menuju Bandung penumpangnya makin sedikit, Progo sepertinya tidak mengalami pengurangan penumpang yang cukup signifikan. Angin yang menyembur dari jendela terasa tidak berguna. Hawa tetap saja panas. Duduk saya tetap mepet jendela. Kasihan Vina, yang duduk di sebelah saya, terjepit antara saya dengan seorang mas-mas padahal kapasitas bangku yang kami duduki hanya dua orang.

Memasuki Bekasi dan seterusnya, tetap tidak terasa hawa sejuk yang berarti. Begitu turun di Stasiun Jatinegara pun panas tetap melingkupi tubuh.

Belum lagi saat menaiki bis Kalideres-Labuan. Panas sempat terusir dengan kencangnya angin yang masuk dari pintu. Memang saya duduk di deretan bangku paling belakang. Namun begitu bis tidak lagi berjalan kencang, panasnya menggila. Ketidaknyamananan ini ditambah dengan posisi duduk terus-menerus di atas bangku yang tidak ergonomis--begini juga pas di Progo.

Lepas dari Tangerang, pemandangan agak gersang di luar makin "memanasi" suasana.

Kami turun di terminal Labuan, di mana sempat terjadi kericuhan kecil antara beberapa pria di sana. Memperebutkan kami? Entahlah. Pada akhirnya kami mencarter sebuah angkot untuk kami bersebelas ditambah segala bawaan kami. Kalau satu orang membawa dua-tiga barang besar (carrier, ransel, maupun kotak alat atau dus makanan), bisa dibayangkan betapa sesaknya di dalam. Saya lihat Putro, yang duduk di pojok, bercucuran keringat deras sekali bagai habis disirami air dari depan.

Untunglah penderitaan kami tidak lama. Setelah sampai di kantor balai, kami mendapat ruang yang jauh lebih leluasa untuk bergerak. Salah satu ruang yang dibuka untuk kami berhawa cukup sejuk.

Memang ada kala saya tidak berkeringat, seperti saat di kamar dengan jendela terbuka dan berkaos lengan pendek, atau saat pagi hari. Ini membikin saya senang. Tapi lepas dari itu, saya tampaknya harus bertoleransi dengan hawa panas yang membekap. Syukur saya tidak seperti Lina dan Vina yang sepertinya mengalami alergi karena tidak cocok dengan udara dan air di sini. Sejauh ini saya tidak mengalami masalah berarti. Paling-paling hanya tidak betah dengan udara panas (dan berdebu) saja. Plus kecemasan terpendam karena membawa sandang terbatas. Harus ada yang bertoleransi dengan bau juga nih nantinya...

Saya bertanya-tanya apakah ini derita yang akan dialami oleh tiap orang yang telah mendiami daerah berhawa sejuk selama kurang lebih 16 tahun. Gerah sedikit tidak betah. Gerah selalu apalagi. Secara saya masih dua minggu kurang di sini, untuk hari-hari ke depan saya harus menyesuaikan diri dengan udara yang ada. Jadi ingin di Bandung saja. Kalau untuk sementara begini, apa boleh buat. Kalau ditanya di kota mana kelak saya ingin berdomisili, saya akan menunjuk kota-kota berhawa sejuk.

-diketik 5.11 di rumah Pak Arif, diunggah di perpustakaan kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon

Sabtu, 28 Mei 2011

H1JUK: Misteri Kokoleceran Telah Terkuak

Carilah gambar Vatica bantamensis di Google. Sampai tanggal 14 Mei 2011, gambar yang saya temukan untuk artikel tentang kokoleceran melalui penelusuran via Google malah gambar saudaranya, Vatica rassak. Artikel yang membahas kokoleceran sedemikian rupa--tidak sekedar menampilkan morfologi atau taksonomi atau semacamnya saja--pun sekiranya hanya yang dilansir dalam laman ini saja. Bahkan penulis artikel tersebut pun mengatakan bahwa dirinya sendiri belum pernah menjumpai flora ini.

Kokoleceran konon merupakan flora endemik yang hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon saja. Entah mengapa perseberannya sedemikian terbatas. Flora ini masuk dalam redlist IUCN alias terancam punah.

Dari berbagai sumber yang saya temukan mengenai flora di Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya TNUK), yang mencantumkan kokoleceran dalam daftar hanya dalam laman ini saja.

Sedemikian langkanya flora ini, saya mensugesti Cah untuk menjadikan kokoleceran sebagai objek penelitiannya saja. Namun keraguan apakah jenis ini berada atau tidak di resort tujuan kami serta kegunaannya yang belum jelas membuat gagasan ini tidak jadi dijalankan.

pohon kokoleceran di depan kantor kepala balai
Siang ini, kami akhirnya sampai di kantor Balai TNUK. Dalam bincang-bincang awal dengan Mas Andri (salah satu petugas PEH TNUK alias Pengendali Ekosistem Hutan alias forest-bender menurut Putro--yang banyak membantu kami sejak sebelum keberangkatan), saya iseng menanyakan tentang kokoleceran kepanya. Dia bilang kokoleceran banyak ditemukan di Semenanjung Ujung Kulon--entah di Resort Taman Jaya. Flora ini ditanam juga dii depan kantor kepala balai.

Malamnya, Desta menyerahkan sebuah jilidan pada saya. Katanya itu dari Mas Andri. Wow. Informasi tentang kokoleceran! Penelitian mengenai keberadaan kokoleceran akhirnya dilakukan juga pada tahun 2010. Mas Andri mengizinkan kami memfotokopi jilidan tersebut. Katanya, ini merupakan satu-satunya informasi yang ada--belum diperbanyak.

Menurut hasil skimming saya, sebagaimana keterangan Mas Andri, kokoleceran yang ditemukan pada penelitian ini berada di Semenanjung Ujung Kulon saja. Mengenai keberadaannnya di bagian TN lain, saya belum membacanya secara detil. Penemuan yang didapat tidak hanya satu-dua saja, tapi banyak! Bahkan salah satu penemuan dikatakan fenomenal karena pohon kokoleceran yang ditemukan berdiameter besar dan memiliki ribuan anakan tersebar di bawahnya.

Anakan kokoleceran saat ini sedang dibudidayakan di Kebun Raya Bogor. Oh ya, memang jenis ini juga konon ditemukan di sana juga--tapi mungkin merupakan hasil konservasi eks situ. Kegunaan dari flora ini memang dicantumkan belum jelas.

Saya tidak sabar memperbanyak hasil penelitian ini--salah satunya untuk pribadi. Memang misteri flora ini akhirnya terkuak, namun entah mengapa daya tarik akibat kemisteriusannya itu masih menyisa dalam diri saya, waha.

Insya Allah hasil penelitian ini akan saya sarikan dan publikasikan di blog kalau ada kesempatan.

-ditulis di pinggir lapangan bulu tangkis kantor balai sambil sesekali melihat teman-teman yang sedang main

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain