Tampilkan postingan dengan label bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bebas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juni 2023

kiamat kepagian

dalam benakku,
kiamat sudah terjadi,
padang mahsyar sudah ditapaki.
apa sebab,
segala sendiri-sendiri,
aku tak terkecuali.
dunia ini cuma pemanasan.
sebelum ke surga atau ke neraka,
bikin surga sekarang,
bikin neraka sekarang.


Di tepi jalan, si miskin menjerit
Hidup meminta dan menerima
Yang kaya tertawa, berpesta pora
Hidup menumpang di kecurangan

Sadarlah kau cara hidupmu
Yang hanya menelan korban yang lain
Bintang jatuh hari kiamat
Pengadilan yang penghabisan

Itulah hidup, semakin biasa
Seakan tak perdulikan lagi
Tiada kasih bagi yang lemah
Disiram banjiran air mata

Sadarlah kau cara hidupmu
Yang hanya menelan korban yang lain
Bintang jatuh hari kiamat
Pengadilan yang penghabisan

(https://liriklagukenangan.blogspot.com/2020/06/lirik-lagu-black-brothers-hari-kiamat.html)


Sepertinya air tak basah lagi
Rasa api tak panas lagi
Hari ke hari penuh kepalsuan
Kehidupan seperti sedang perang

Sudah kucoba dengan kejujuran
Kenyataan ternyata berlawanan
Tak jelas lagi segala batasan
Entah siapa musuh atau teman

(Ini cuma kehidupan) Ini cuma permainan
(Tetap harus dijalankan) kumainkan huo.oo..

(Masih ada banyak cara) mencari s’percik harapan
(Masih ada banyak cara) wujudkan satu impian
(Masih ada banyak peran) yang bisa kita mainkan
(Masih ada banyak peran) wujudkan satu impian

Saat diriku temui jalanku
Waktu diriku mainkan sebuah peran
Ku takut t’rima dengan kedamaian
Kugantungkan semua harapan...

(https://lirikraja.blogspot.com/2016/02/andy-liany-masih-ada.html)

Jumat, 08 Februari 2019

Pilih Petualanganmu

Ketika melintas kata "petualangan", serta-merta saya membayangkan Indiana Jones, atau Alfred Russel Wallace dalam Kepulauan Nusantara. Saya bukan penggemar fiksi petualangan, baik sebagai pembaca, penonton, apalagi pengarang. Saya cenderung mendefinisikan diri sebagai manusia gua yang menanti stegodon datang sendiri, dalam keadaan sudah diiris-iris dan diasapi. Kehidupan saya cenderung monoton, toto tenterem kerto rahajo gemah ripah loh jinawi apalah--setidaknya untuk sementara ini.

Saya tidak bisa menulis tentang petualangan.

Sampai hari ini ketika adik saya sedang di rumah untuk entah berapa hari, meninggalkan sejenak kehidupannya sebagai mahasiswi di Bogor. Adik saya itu yang mengenalkan Terlalu Tampan kepada saya beberapa tahun lalu sewaktu sedang bengong di rumah nenek saat Lebaran. Saya langsung menyukai komik webtoon itu dengan segala kehiperbolaannya. Lama saya tidak mengikutinya, tahu-tahu muncul trailer versi live action komik tersebut di Youtube. Serta-merta saya ingin menontonnya. Tetapi, sejak premiernya pada 31 Januari sampai kemarin, saya belum sempat menonton film itu di bioskop terdekat dan termurah. Maka, pagi ini, ketika mendapati adik saya benar-benar pulang, saya berpikiran untuk mengajaknya menonton film tersebut. Tetapi, ketika mengecek jadwal tayangnya di bioskop terdekat dan termurah, ternyata film itu sudah tidak ada.

Oh, sedihnya. Aku sedih sekali.



Saya mencoba mencari film itu di bioskop mana pun di Bandung yang masih menayangkannya. Pilihan jatuh pada Festival Citylink yang sepertinya relatif dekat--dibandingkan dengan bioskop-bioskop lain--dari rumah saya dengan waktu pemutaran pukul 14.20 WIB dan harga tiket Rp 30.000.

Namun ternyata adik saya sudah menonton film itu dengan temannya di Bogor. Apa boleh buat, kalau saya benar-benar bertekad menonton Terlalu Tampan di bioskop sesegera mungkin, saya mesti pergi sendiri.

Tetapi, saya bukan pengendara mobil ataupun motor. Karena hanya manusia gua yang tabletnya masih terbuat dari batu asahan, saya juga tidak bisa mengandalkan ojek daring. Untuk mencapai tempat yang kurang familier itu, saya mesti naik angkot atau sepeda. Masalahnya, saya mesti mencari tahu angkot jurusan mana saja atau rute terbaik untuk dilewati sepeda. Katakanlah saya ingin menghemat, maka sepeda menjadi opsi satu-satunya.

Tetapi, mengarungi jalan besar menuju Festival Citylink merupakan tantangan tersendiri.

Memang dalam beberapa tahun ini saya telah berani bersepeda di jalan raya dan mencapai berbagai tempat di Kota Bandung. Tetapi, untuk melalui jalan sebesar Jalan Pelajar Pejuang, Jalan BKR, dan Jalan Peta, jujur saja saya malas. Kalau sekadar menyusuri pinggir jalan dan tinggal belok sih tidak apa-apa. Tetapi kalau mesti menyeberang atau berganti jalur, saya mesti ekstra berhati-hati karena di jalan semacam itu kendaraan bermotor cenderung melaju dengan beringas.

Seketika itulah saya menyadari bahwa jika sehabis jumatan ini saya mencoba naik sepeda ke Festival Citylink demi menonton Terlalu Tampan, kemudian pulangnya supaya tidak harus menyeberangi jalan besar saya mencari jalan alternatif, melewati gang-gang yang serupa labirin dengan risiko kesasar dan kehujanan--padahal masih di dalam kota--bukankah itu suatu petualangan?

Malah, bukan hanya itu:

Jika saya tidak punya uang dan mesti bertahan hidup dengan mengandalkan atau mencari apa pun yang bisa didapat secara cuma-cuma, bukankah itu petualangan?

Jika saya membacai tulisan-tulisan--terutama fiksi yang sampai kini masih cenderung lebih saya sukai untuk diterjemahkan--yang ada di situs Words Without Borders, yang diterjemahkan dari berbagai bahasa yang ada di seluruh dunia, meliputi aneka budaya, pengalaman, dan situasi hidup, dan berusaha mentransformasikannya ke dalam kata-kata saya sendiri kemudian menampilkannya dalam bentuk yang bisa dinikmati sesama pembaca bahasa Indonesia, bukankah itu suatu petualangan--lebih tepatnya, pengalaman batin?

Dan, dalam petualangan batin, bukan hanya fiksi dunia, melainkan juga segala buku yang tersedia cuma-cuma baik di rumah maupun perpustakaan-perpustakaan umum yang kini cukup banyak tersebar di seantero Kota Bandung, segala orang yang ditemui dan berinteraksi dengan kita baik yang baru maupun yang sehari-hari namun ada saja polah tingkahnya, bukankah itu juga suatu petualangan?

Maka, petualangan tidak mesti diartikan sebagai pencarian harta karun di hutan belantara, ataupun melancong ke berbagai negara dengan menguras uang, tenaga, dan bahan bakar fosil, tetapi segala sesuatu yang menantang, yang baru, yang seru, yang asing, yang pada intinya mengundang daya tarik sekaligus mengandung risiko, yang sudah tersedia di sekitar kita.

Maka, akankah sehabis jumatan ini saya jadi bersepeda ke Festival Citylink hanya demi menonton Terlalu Tampan kemudian langsung pulang melewati jalan-jalan kecil dengan risiko kesasar dan kehujanan?

Akankah saya berhasil memenuhi angan-angan muluk saya menjelajahi setiap pelosok Kota Bandung dengan sepeda?

Ide menulis diambil dari 365 Days of Writing Prompts (oleh The Editors WordPress.com, hak cipta © 2013 oleh The Daily Post) tanggal 6 Februari.

Jumat, 01 Februari 2019

Apa itu "flangiprop"?

Paddle Pop varian pelangi yang populer di masyarakat.
(sumber)
Setelah menelusuri kata ini di Google dan membaca sekilas beberapa hasil pencarian, saya berpendapat kata ini mungkin semacam "alamakjang", "hwarakadah", dan sebagainya dalam bahasa Indonesia--kata-kata yang mungkin sebetulnya tidak ada artinya tetapi sengaja diciptakan untuk membuat ungkapan baru dan tiap orang mungkin punya definisi bervariasi sampai dibakukan oleh KBBI ...? Beberapa hasil pencarian itu mencoba untuk membedah "flangiprop" dari kemungkinan asal katanya, yang mungkin hanya menarik bagi peminat linguistik. Ada juga yang mencoba untuk menguraikan kesan yang diperolehnya akan kata itu. Bagi penutur asli bahasa Inggris, "flangiprop" mungkin cukup mengena, sedangkan saya penutur asli bahasa Indonesia yang lebih akrab dengan ungkapan seperti "bujubuneng". Kalau kata ini pertama kali saya ketahui bukan dari membaca melainkan mendengar, saya mungkin akan menangkapnya sebagai "pelangi pop" atau "Paddle Pop, kali?"

Mario suka jamur karena dapat
membuatnya tumbuh besar.
Makanlah jamur.
(sumber)
Seandainya suku kata yang terakhir itu "pop", bukannya "prop", maka kata ini mengesankan sesuatu yang muncul tiba-tiba, yang sebetulnya arti dari kata "pop" itu sendiri. Adapun "flangi", selain mirip "pelangi", juga seperti ketika orang Indonesia mencoba mengucapkan "fungi" sebagai "fangi" sebelum mengetahui bahwa penutur asli bahasa Inggris mengucapkannya sebagai "fangjai". Maka dari sini "flangiprop" atau "fungipop" itu mungkin semacam jamur yang muncul tiba-tiba seperti dalam permainan Mario Bros.

Sebagian jamur baik diolah
sebagai masakan menyehatkan.
(sumber)
"Pop" juga dapat berarti sesuatu yang populer, sehingga boleh jadi "fungipop" berarti jamur yang populer di masyarakat seperti jamur tiram, jamur kancing, dan jamur shiitake.

Fungipop juga dapat berarti suatu genre musik pada tahun 1960-1970-an yang mana para musisinya dalam berproses kreatif mengandalkan jamur adiktif seperti jamur tahi sapi (contohnya dalam cerpen "Johnny Mushroom" karangan Zaky Yamani, tetapi sepertinya itu bukan cerpen soal musik) sehingga karya yang dihasilkan bernuansa psychedelic atau apalah, sehingga genre ini lebih tepatnya disebut sebagai psychedelic funk-y-pop.

Akan tetapi, mengonsumsi jamur adiktif
dapat mengakibatkan vertigo.
(sumber)
Kesimpulannya, "flangiprop" merupakan nomina yang memiliki definisi sebagai berikut:
  1. Ungkapan untuk membikin lawan bicaramu mengernyit.
  2. Paddle Pop pelangi.
  3. Jamur dalam permainan Mario Bros.
  4. Segala jamur yang populer di masyarakat sebagai bahan masakan.
  5. Genre musik tahun 1960-1970-an yang dihasilkan dari penggunaan jamur adiktif.
  6. Kata yang sengaja diciptakan siapa pun itu di balik The Daily Post untuk memancing partisipan mengarang bebas.
Ide menulis diambil dari 365 Days of Writing Prompts (oleh The Editors WordPress.com, hak cipta © 2013 oleh The Daily Post) tanggal 1 Februari.

Rabu, 04 Juni 2014

Satu hal yang kau pelajari dari hubungan antara orangtua dan orangtuanya orangtua

Kalau kau tidak memberi cukup perhatian kepada anakmu, maka boleh jadi merekapun tidak akan cukup peduli kepadamu ketika kau sudah renta dan tidak berdaya. Bagaimanapun wajibnya berbakti kepada orangtua, akan sulit apabila tidak didahului dengan berbakti kepada anak.

Jumat, 23 Mei 2014

Cerita yang Tak Kunjung Ditulis

Dari kapan aku ingin menulis novel—novel-novelan sih karena tidak akan diterbitkan—tentang seorang anak SMA ganteng yang stres kalau naik angkot. Dia lalu minta dibelikan sepeda oleh ibunya. Hobinya adalah bikin roti. Sebetulnya dia dulu ikut klub tinju, tapi sejak suatu insiden yang membikin wajahnya babak-belur dan giginya rompal, ibunya melarangnya untuk melanjutkan. Mungkin takut anaknya tidak ganteng lagi. Dia membawa ransel besar ke sekolah tapi tidak sebesar carrier yang biasa digendong para penjelajah alam. Selain buku-buku pelajaran dan buku tulis untuk setiap buku pelajaran dan alat tulis lengkap dan PDA (karena waktu itu masih tahun 2006) untuk mengatur agenda yang padat, dia mengisi ransel tersebut dengan bekal roti lapis buatannya sendiri dan botol minum 1L karena dia banyak beraktivitas dan dengan demikian banyak berkeringat. Kadang dia membawa tas sepatu kalau harinya ekskul sepak bola. Dia terlalu ganteng untuk membiarkan cinta-cintaan melemahkannya sehingga banyak cewek yang menangis putus asa karenanya. Singkat cerita: Dia baru naik ke kelas dua—atau sebelas. Karena posisi menentukan prestasi, dia memilih untuk duduk di samping seorang anak perempuan pemalu, tepat di depan meja guru. Mereka menjadi kawan baik dalam konteks tidak saling mengganggu selama jam pelajaran. Sesekali mereka mengobrol sewaktu jam istirahat. Dipikirnya teman sebangkunya itu sangat rajin, tekun, dan berkomitmen terhadap tugas-tugas sekolah. Dia senang sekali dengan orang yang seperti itu. Karena dia KM, dia punya wewenang untuk memercayakan jabatan penting di kelas pada anak perempuan itu. Karena sebagai siswa berprestasi dia juga sibuk di luar kelas maupun di luar sekolah, dia melimpahkan tugas yang cukup banyak. Namun ada hal yang tidak diketahui atau mungkin tidak disadari olehnya  mengenai anak perempuan itu. Anak perempuan yang pada mulanya menyanggupi tawarannya, namun kemudian melalaikan kepercayaan yang diberikan olehnya. Anak SMA ganteng yang berhati keras itu lalu menuntut pertanggungjawaban. Akan dikejarnya anak perempuan itu sampai dia mendapat penjelasan, akan ada yang marah-marah dan akan ada yang menangis, akan ada yang memaksa dan akan ada yang defensif, tapi tidak akan ada romansa sama sekali di antara mereka. Kalaupun ada romansa, kejadiannya bukan di antara mereka. Apa cerita tentang remaja mesti ada cinta-cintaannya? Bosen, keles. Mungkin karena konsepnya begini makanya tidak jadi-jadi ya. Hahaha. Kangen ih menulis novel sekadar untuk bersenang-senang. Novel nu kumaha aing we lah!

Jumat, 09 Mei 2014

1
Sewaktu sedang dilaksanakan salat berjamaah di masjid, terdengar tangisan anak kecil.

"Bu, tolong anaknya di-silent dulu."


8-5-14




2
Membaca buku semacam Mendalami P4, UUD 1945 dan GBHN tampaknya akan seperti membaca catatan harian. Di catatan harian aku menulis banyak hal yang ingin kulakukan tapi nantinya tidak kukerjakan.



3
Ma, ayo kita belanja buku, lalu kita sumbangkan buku-buku yang ternyata kita sudah punya di rumah.



4
Sumber daya alam menipis. Gunakan air dengan sebijak mungkin. Mandilah paling sering dua hari sekali sebab mandi dua kali sehari itu pemborosan. Tingkatkan toleransi pada keberagaman bau badan.



5
Aku bekerja sangat keras, baru tidur ketika lelah. Tapi aku gampang merasa lelah, jadi sebagian besar waktu kuhabiskan untuk tidur.

Minggu, 04 Mei 2014

Kecoak, Tisu, dan Tamborin

Embul senang berburu kecoak. Kalau malam kadang aku mendapati dia duduk di karpet depan kamar mandi, mungkin sedang menunggu kemunculan kecoak. Dia mengejar-ngejar kecoak seakan serangga itu mainan yang bergerak. Dia akan menangkapnya dengan sebelah kaki, menjepitnya dengan mulut, lalu membawanya sambil berlari-lari dan menjatuhkannya kembali. Kecoak itu akan berusaha kabur namun Embul selalu berhasil menangkapnya lagi. Begitu terus sampai dia bosan.

Pernah Embul menangkap seekor kecoak hingga sebelah sayap serangga itu tercabut. Dengan sayapnya yang tinggal separuh kecoak yang terbaring telentang itu berusaha kabur, tapi tidak bisa. Sebelah sayapnya terus bergetar-getar, membuatnya berputar-putar bagai gasing. Embul kembali dan memainkannya.

Aku senang melihatnya mengejar kecoak karena dia punya hiburan, tidak melulu kesepian. Selain itu aksinya mengurangi populasi kecoak di rumah kami. Untung rumah kami kotor sehingga stok mainan untuk Embul tidak ada habisnya.

Beruntunglah mereka yang memilikinya.
Gambar diambil dari sini.
Selagi mengamati Embul berakrobat dengan kecoak, aku teringat komik berjudul Si Cerdik Michael. Isinya berupa cerita serupa sketsa mengenai interaksi antara kucing dan manusia, ada saja di antaranya yang membuatku terkakak-kakak. Semisal ada cerita tentang pasangan yang mendapat kucing yang entahkah dulunya dipelihara bule atau berasal dari luar negeri, dan mereka bingung apa mesti dalam bahasa Inggris kalau ingin berbicara dengan kucing itu; apa dia mengerti bahasa mereka. Aku jadi bertanya-tanya apa si pengarang pada mulanya juga suka mengamati perilaku kucing dan akibatnya tergugah untuk menuangkannya dalam komik. Ada satu ceritanya yang berkaitan dengan kesukaan kucing memain-mainkan makhluk tangkapannya. Perilaku yang sadistis sebetulnya. Namun makhluk dalam cerita itu bukan kecoak, melainkan lalat berwajah manusia dan berkumis. Sayang komik itu tampaknya sudah lenyap dari peredaran, dulupun aku mendapatkannya hanya dari taman bacaan.

Pernah aku membayangkan Embul menghampiriku dengan mulut memagut kecoak, menjatuhkannya di depanku seolah itu hadiah. Betapa manisnya. Tapi dia akan mengambilnya kembali, memain-mainkannya lagi. Di Si Cerdik Michael pun ada cerita tentang seorang gadis yang membayangkan kucing idaman. Kucing yang bisa buang air di kloset lalu menggelontornya sendiri. Lebih manis lagi kalau-kalau suatu saat aku menangis dia mendekatiku dengan mulut menjepit tisu. Tapi mudah-mudahan bukan tisu dari tempat sampah.
***

Satu malam aku melihat Embul mengorek-ngorek plastik tempat sampah. Aku berusaha menjauhkannya beberapa kali, tapi dia selalu kembali. Aku pun membiarkanya.

Adikku sedang menonton TV. Embul menghampirinya dengan mulut memagut tisu yang ringsek. Aku bilang pada adikku kalau Embul baru saja dari tempat sampah. Adikku menghindarinya. Embul menjatuhkan tisu di mulutnya yang ternyata terdiri dari dua gumpalan. Salah satunya berupa gulungan dengan ujungnya berwarna kekuningan. Tisu bekas ingus adikku.

Adikku sudah beberapa lama ini mengidap pilek. Dia suka menggulung tisu lalu memasukkannya ke dalam lubang hidung untuk menyumbat ingus.

Embul seolah ingin menunjukkan pada adikku, “Nih, tisu bekas ingus kamu yaa.”

Aku menyuruh adikku untuk mengembalikan tisu gulung-kuning itu ke tempat sampah karena itu bekas ingusnya. Tapi menurut dia, Embul yang harus mengembalikannya karena kucing itu yang membawanya. Aku terus merongrong adikku yang juga bersikukuh. Akhirnya dia mengangkat Embul di bagian perut dengan sebelah tangan. Lalu dia menyuruh kucing itu untuk memungut kembali tisu yang telah dijatuhkannya. Setelah tisu itu terambil entah oleh mulut atau kaki depan Embul, adikku membawanya ke atas tempat sampah lalu membuat kucing itu menjatuhkan tisu itu kembali. Masih tersisa satu remukan tisu. Adikku pun kembali dengan kucing itu, menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama. Dan seterusnya.
***

Sebelum itu aku dan adikku yang lain mengamati Embul yang bermain-main. Sesekali dia telungkup dengan bokongnya menggepeng lalu aku menepuk-nepuk sisi kanan dan kiri bergantian hingga berbunyi “Pok. Pok. Pok.” Adikku bilang dia bukan Kucing Biola. Ya, kataku, dia Kucing Tamborin.

Selasa, 18 Maret 2014

LEMBAM

Terlalu banyak duduk itu tidak baik. Sesekali selingilah dengan berbaring.

Rabu, 05 Maret 2014

Ketika Teman-temannya Adik (yang Cowok) Datang ke Rumah

Siang itu, Senin (3/4/14), hujan deras. Saya baru pulang dari kantin di dekat rumah, menenteng bungkusan sayur-lauk untuk teman nasi. Saya sudah hampir mencapai gerbang rumah, ketika di kejauhan tampak dua remaja laki-laki berpakaian serba putih—kemeja lengan pendek dan celana panjang—menjelang. Yang satu cukup tambun sedang yang lain agak ramping mengenakan topi berwarna gelap—sepertinya topi SMP. Jangan-jangan yang agak ramping itu adik saya baru pulang dari sekolah dengan membawa seorang temannya. Tapi tidak biasanya dia punya gestur selincah itu. Meloncat-loncat di bawah gempuran peluru air. Sempat dia berbalik dan tampak ranselnya yang merah. Ransel adik saya berwarna hitam dan itu satu-satunya yang dia miliki. Mereka sama sekali tidak menjunjung payung. Kasihan jadinya basah kuyup begitu.

Tidak lama setelah saya menutup pintu gerbang, dua remaja laki-laki itu ternyata menghampiri. Terdengar mereka menyebut nama adik saya. “Loh, pulangnya enggak barengan?” tanya saya. “Katanya udah ada di rumah,” ujar mereka. Saya pun menyuruh mereka segera masuk. Mereka menunggu di tengah garasi sementara saya menutup pintu gerbang yang satu lagi. Saya pun melewati mereka, masuk ke dalam rumah, dan menemukan adik saya tengah tiduran dengan enaknya di seberang TV sembari memangku kucing. Lalu saya menyuruh teman-teman adik saya masuk lagi. Bertemulah ketiganya. Saya ingin meminjamkan handuk pada mereka. Saya juga menyuruh adik saya untuk meminjamkan pakaiannya yang kering, dan menyuguhkan minuman. Adik saya satu ini tidak pernah menyuguhkan minuman acap kali ada temannya yang main di rumah. Ketika saya cek ke tempat di mana handuk biasa disimpan, ternyata hanya tersedia selembar waslap kecil. Saya kembali dengan tangan kosong dan lagi-lagi menyuruh adik saya itu untuk meminjamkan pakaiannya dan menyuguhkan minuman—yang tidak dia lakukan.

Setelah memindahkan sayur-lauk dari plastik ke mangkuk-mangkuk, saya menyuruh adik saya untuk mengajak teman-temannya makan. Adik saya mendekat dan bilang kalau mereka sudah membeli mi dan hendak memasaknya. Saya ingat melihat plastik bergambar lebah Alfamart dijinjing salah satu dari teman adik saya itu. Saya lanjut ke dapur untuk menyiapkan makanan bagi kucing yang sudah menuntut-nuntut. Namun rupanya adik saya dan teman-temannya itu pun sudah hendak menyerbu dapur. Saya pun bergegas. Setelah menaruh wadah berisi nasi campur ikan-asin di dekat tangga, saya ke belakang rumah untuk mencuci tangan. Adik saya bertanya air yang mana yang untuk dipakai memasak. Memang di bagian belakang rumah tersedia air dalam berbagai wadah. Air untuk mencuci (entahkah sekadar tangan, anggota tubuh untuk berwudu, atau seluruh anggota tubuh sekalian kala mandi) ditampung di ember, sedangkan air untuk memasak di gentong. Temannya yang tambun lewat sembari memboyong wajan. “Masaknya pakai apa?” katanya. Adik saya mengangkat panci dengan satu pegangan yang memang biasa dipakai untuk memasak mi. Saya menunjukkan pada anak itu di mana ia bisa menaruh wajan kembali. Saya tinggalkan mereka.

Di kamar saya dengar anak-anak itu begitu berisik. Di samping gemericik air dari langit yang menghunjam bumi berkali-kali, terdengar pula gemericik minyak… Entah mereka sedang menggoreng apa. Menyadari kalau mereka hanyalah cowok-cowok kelas tiga SMP yang kemungkinan sedang belajar memasak bersama-sama, mendadak saya tergeli-geli. Saya sempat keluar dari kamar (lalu terdengar celetukan, “Ibu kamu udah pulang?”) dan melihat si tambun berkeliaran di rumah dengan hanya mengenakan singlet. Ia senang sekali tertawa. Sedang yang satu lagi, tidak hanya posturnya yang mirip adik saya tapi juga suaranya dan kalemnya. Namun saya masih bisa membedakan suaranya dengan suara adik saya yang tengah meladeni teman-temannya itu.

Setelah mereka pergi dari rumah, saya mampir ke dapur. Tiga piring dengan potongan-potongan sayur mini menumpuk di satu sisi. Di atas kompor masih terdapat panci berisi air keruh, potongan-potongan mi kering, dan wajan dengan minyak bekas pakai yang warnanya masih kuning. Wadah minyak terpisah dari tutupnya.

Adik saya dan teman-temannya juga pernah jalan bareng ke mal. Di sana adik saya membeli senter kecil bertenaga surya. Tapi sebelum kunjungan ramai-ramai ke mal itu, mereka pernah pergi ke tempat yang agak tidak terduga. Saking menarik sampai adik saya yang perempuan dan lebih besar menggoda adik kami yang bungsu itu, “Tebak, cowok-cowok kalau jalan bareng pada ke mana?” Mal? Jawaban paling standar itu. Tapi tidak. Mereka pergi ke kebun binatang dengan membawa bekal masing-masing.[]

Kamis, 05 September 2013

Beberapa aforisme (Cungkilan cacatan harian sebulanan ini—Agustus ’13 [yang bisa juga cungkilan dari buku lain—metacungkilan!])

1
Bergaul dan bekerja itu kudu beriringan, sebab pekerjaan itu me­nopang pergaulan.

2
Dari bab tentang Victor Frankl, Karakter-karakter yang Meng­gu­gah Dunia (John Mc Cain dan Mark Salter, terjemahan T. Her­maya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009, cet. 2):

Nietzsche: Manusia yang punya alasan untuk hidup akan dapat menanggung hampir setiap cara hidup. (hal. 46)

... kesalahan mereka ialah mengharap sesuatu dari hi­dup, dan ketika hidup tidak memberi apapun kecuali ke­kejaman, mereka menyerah. Ketahanan hidup ber­gan­tung pada pemahaman dan penerimaan atas ha­rap­an hidup; dengan melakukannya, kita menemukan mak­na hidup bahkan di dalam penderitaan yang ter­bu­ruk, dan menikmati beberapa harta yang masih kita mi­liki: keramahan mengejutkan dari orang lain, keindahan ma­tahari terbit, keanggunan pohon yang tumbuh di mu­sim semi. (hal. 47)

... makna hidup dapat dicapai dengan tiga cara: "de­ngan menciptakan karya atau melakukan tindakan, de­ngan mengalami... dan dengan sikap yang kita ambil da­lam menghadapi penderitaan yang tak terelakkan." (hal. 48)

3
Setelah mengetahui betapa rumitnya bahasa Jerman di­ban­ding­kan bahasa Inggris, barangkali selanjutnya pembelajaran ba­hasa Inggris akan terasa lebih mudah.

4
angst (jerman, belanda) = hariwang (sunda)

5
Dari Muslim Menemukan Eropa (Bernard Lewis, terjemahan Ah­mad Niamullah Muiz, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1988, cet. 1):

… semua orang sama sebagai manusia sebagaimana ma­nusia lainnya, tak seorang pun memiliki kelebihan, atau kebaikan. Setiap pribadi mengatur dirinya dan me­lang­kahkan kehidupannya dalam dunia ini dengan sen­di­rinya. Dalam keimanan yang sia-sia serta pandangan yang tak masuk akal itu aliran pikiran baru ini mem­ba­ngun prinsip baru berikut hukumnya serta me­lem­ba­ga­kan apa yang dibisikkan oleh setan kepada mereka, meng­hancurkan sendi-sendi agama, membuat dasar hu­kum untuk segala apa yang diharamkan, dan meng­ha­lalkan setiap hasrat yang dikehendaki nafsunya. Me­re­ka membujuk masyarakat umum dengan pikiran tak su­sila itu. Di antara mereka yang menjadi gila me­ne­bar­kan kedurhakaan terhadap agama…

Dengan buku-buku yang berisi kebohongan dan ke­sa­lah­an berpikir yang dibuat logis… (hal. 176)

6
Dari Mimpi-mimpi Einstein (Alan Lightman, terjemahan Yusi Avi­anto Pareanom, Kepustakaan Populer Gramedia, 2004, cet. 8):

Inilah dunia impuls. Dunia kesungguhan hati. Dunia di ma­na tiap kata yang meluncur hanya untuk saat itu, se­ti­ap tatapan sekilas hanya memiliki satu makna, setiap sen­tuhan tidak mempunyai masa depan atau pun masa si­lam, setiap ciuman adalah ciuman yang spontan. (hal. 30)

9
Ketiak basah seperti rambutan cokelat.

10
Imajinasi + Kemampuan = Karya
Imajinasi – Kemampuan = Mimpi

11
Dari bab “Adler: Psikologi Individual” dalam Teori Kepribadian Edi­si 7 Buku 1 (Jess Feist & Gregory J. Feist, terjemahan Han­dri­atno, Penerbit Salemba Hu­ma­ni­ka, Jakarta, 2010):

Individu yang tidak sehat secara psikologis akan ber­ju­ang untuk superioritas pribadi, sedangkan individu yang sehat secara psikologis mencari keberhasilan un­tuk semua umat manusia. (hal. 82)

12
Menurut kamu, kamu cantik enggak?
Tergantung sama pencahayaannya. Tergantung juga lagi ada siapa di deketku.

13
Dipikir-pikir aku ini enggak pernah SMA, tapi cuman kursus sing­kat mengerjakan soal UN/UM/USM/SPMB.

Minggu, 07 Juli 2013

Sedikit tentang seseorang dalam kepalaku

Saat aku kelas dua SMP (atau tiga? Masa-masa itulah), ada telenovela anak berjudul Alegrijes y Rebujos tayang di RCTI. Aku suka dengan antagonisnya yang bernama Ricardo, diperankan oleh Diego Gonzales Bonetta. Sampai-sampai aku ingin menyimpannya dalam kepala. Dan itulah yang terjadi. Ia menjadi semacam aktor untuk cerita-cerita yang kukarang, sampai sekarang. Bahkan kadang karakter rekaan orang lain pun aku bayangkan diperankan oleh "aktor" ini. Baru-baru ini aku iseng mencari-cari tentangnya, Diego Gonzales Bonetta, di Google. Ia sedang menapaki karier di AS. Aku takjub ketika melihat wajahnya, ternyata tidak persis dengan si “aktor” dalam kepalaku. Setelah hampir satu dekade bersama, si “aktor” seperti membentuk wajahnya sendiri, hingga tidak tampak kelatinannya, malah mungkin nyunda? Yang pasti ganteng. (Nah, itu.) Kalau ketemu orang yang wajahnya benar-benar seperti itu, aku bakal gimana ya? Apa aku bakal langsung mendekatinya dan negur, “Hei, kamu keluar dari kepala aku, ya?” Dia pasti terkejut sekali haha. Tapi bagaimana kalau dia bilang, “Iya, aku pingin jalan-jalan dulu nih.” Lalu setelah itu aku takut dia enggak bakal balik lagi. “Jangan lama-lama ya,” aku pesan gitu aja deh. Kalau dia balik lagi (dan tentu saja aku harap begitu), mungkin dia bakal bawa orang baru. Pacar? Eh tunggu dulu. Yang keluar dari kepalaku yang mana nih? Soalnya ada satu lagi yang wajahnya mirip, dan dia hanya bisa jadi dirinya sendiri. Sedang yang satu lagi lebih bisa berakting, dalam artian, karakternya lebih fleksibel untuk dimasukkan dalam berbagai situasi dengan latar belakang berbeda-beda, mungkin yang inilah “aktor”-ku. Yang hanya bisa jadi dirinya sendiri itulah yang mengangguku dengan segala cerita, curhat, galau, nafsu, dan hasratnya, dan secara kami menjalani alam dengan dimensi ruang dan waktu yang berbeda, aku bisa tahu dia kalau udah jadi om-om kayak gimana. Ternyata bergaul dengan om-om bisa sengeri itu hahahaa…


ditulis dengan tangan 28-6-13

Senin, 01 Juli 2013

Selamat datang Juli! Selamat menulis novel :)

Sebenarnya aku agak trauma menulis novel. Aku sudah menulis tujuh (plus satu yang bersama orang lain), dan semua janggal. Selain itu visiku dalam menulis novel mungkin agak nyeleneh. Tidak bisa diharapkan untuk menjadi karya yang laku. Bagaimanapun semua masih draf pertama, dan aku terlalu malas/pesimis (coret jawaban yang salah) untuk merevisi maupun mengirim ke penerbit. Tiap proyek terasa lebih sebagai monumen untuk momentum demi momentum dalam hidupku. Maka untuk momentum ini, maksudku momentum yang telah kulewati dan momentum yang akan kumasuki, aku merasa perlu untuk merekamnya pula dalam sebentuk novel. (Ditambah "tuntutan" untuk menulis novel yang sesuai umurku.) Aku akan menggarapnya dengan semangat kemalasan akan menghukummu #??? Aku bahkan terlalu malas untuk mengutak-atik alur dan unsur-unsur instrinsik lain. 

Buatku rencana yang ditulis biasanya tidak terwujud. Mari kita lihat sajalah nanti di akhir bulan. 

Bismillah. 

http://www.cavalierhousebooks.com/files/cavalier/2013-Participant-Facebook-Cover.png

Senin, 10 Juni 2013

Putri Duyung telah menjadi soda

Gambarnya kontras sama konten tulisannya tapi enggak apa deh yang penting senyum dulu dong :))

Kamu tahu, Putri Duyung tidak jadi membunuh pangeran. Ia lebih memilih untuk menjadi buih di lautan. Cerita Hans Christian Andersen yang menyedihkan. Ya ceritanya, ya Hans Christian Andersennya. Kamu tahu, aku pernah baca artikel di suatu majalah, yang aku tidak ingat namanya, yang aku temukan di kontrakan temanku, yang mengatakan: kalau saja Hans Christian Andersen hidup di zaman ini, ia akan memproklamirkan dirinya sebagai gay.

Hm.

Kembali ke Putri Duyung. Bagaimana kalau ia bukannya menjadi buih di lautan, tapi di minuman. Ya. Soda. Mungkin kita harus cek arti masing-masing kata di KBBI, "buih" dan "soda". Lalu sang putri ini, yang telah menjadi buih di minuman ini, Coca Cola, Sprite, atau Fanta, atau Tebs, atau squash, atau rootbeer?, disedot oleh mulut kita, mengalir ke dalam tubuh kita, meresapkan segenap kesedihannya, rasa patah hatinya, karena pangerannya lebih memilih perempuan yang setara, sejenis, sedang ia bukan siapa-siapa...

Apa kamu sudah merasa sedih sekarang? Dari tadi kamu terus-terusan menyeruput minumanmu. Kamu pesan apa tadi? Pepsi? Ya. Rasakan kesedihan itu. Kalau tidak sekarang, mungkin efeknya baru terasa nanti, setelah kamu sampai di rumah.

Ya. Minumanku juga bersoda. Aku jarang minum minuman bersoda. Tapi aku sedih sepanjang waktu, patah hati sering sekali.

Aku ingin menjadi buih di lautan, bertemu Putri Duyung.


atau mungkin aku cukup pergi ke Ciliwung
yah sekadar ngerjain prompt dari sini

Kamis, 28 Maret 2013

Terowongan


I'm seeing a tunnel at the end of this light... (Travis - Why Does It Always Rain on Me)

Aku dalam terowongan. Tanpa pelita. Meraba-raba. Kukira hanya ada satu jalan yang lurus. Kadang ku disilaukan semburat, kembali padam. Kadang ku bersinggungan, maka ku tahu ku tak sendiri tapi ku dikatakan, "Cari jalanmu sendiri," entah olehnya entah olehku. Saat dian bungkam maka kutabrak tepian hingga terhuyung, terhempas, terkulai. Kelembapan memuakkan. Kalong-kalong menciprati mukaku dengan guano. Terpeleset, terjerembap. Terjengkang. Aku dalam terowongan. Kuyakin ini jalan yang lurus, walau hembusan di kanan atau di kiri saat ku melaju. Desisan, suitan. Ku berpaling. Kenapa kau terus berjalan. Memang ada apa di ujung selain buram. Akupun sudah tidak melihat apa di pangkal. Ke mana ku melangkah, ke kanan ku terpental, ke kiri ku terjungkal. Kadang aku terlentang, enggan lanjutkan. Menerawang gelap. Dingin. Aku tidak di mana-mana. Pengap. Guano mendarat di dahiku. 



sepuluh menit tepat. coba ngerjain latihan dari sini.

Senin, 25 Februari 2013

Putus Hiatus


Loh. Februari belum habis. Tanggungan akademis belum tuntas. Kok hiatus sudah putus.

Februari tinggal beberapa hari lagi padahal. Namun saya merasa tidak bakal mendapatkan apa-apa kalaupun saya mempertahankan, selain kegelisahan.

Sesungguhnya hiatus sudah kandas sejak awal masanya, walau tidak total. Aktivitas kepengarangan yang diharamkan saat hiatus tetap berjalan, terutama dalam pikiran.

Beginilah saya melaporkan. 

Poin toleransi

1.      Membaca secara random (koran, majalah, tabloid, manapun)

Saya membaca majalah Intisari, majalah C ‘n S, majalah Janna, suplemen KOMPAS, tabloid Peluang Usaha atau Wirausaha—apalah di antara dua itu, dan lain-lain. Tidak tahan untuk tidak membaca sama sekali, seolah tidak tahu apa lagi yang bisa dikerjakan. Pelan-pelan, lalu bertubi-tubi.

2.     Mencatat ilham untuk dikembangkan jadi sesuatu lain kali

Tentu saja saya lakukan. Kembali ke masa di mana saya cuman bisa mencatat gagasan, tapi tidak tahu bagaimana mengembangkannya menjadi tulisan layak tayang.

3.     Menulis catatan harian apabila mendesak

Tentu saja saya lakukan. Semula saya mengeluarkan pikiran sepatah demi sepatah, karena sejak (katakanlah semacam) mental breakdown di awal Desember 2012 saya mewanti-wanti pikiran agar tidak beranak-pinak. Lama-lama toh deras jua.

4.     Menghadiri forum komunitas

Hadir sekali di Sabtu sore bersama Komunitas Bawah Pohon.

5.     Mengulas karya milik orang lain yang dikirim ke e-mail, apalagi kalau memang diminta

Jangankan yang dikirim ke e-mail, yang dipajang di Kekom pun saya lahap. Seyogianya Kekom tercantum dalam larangan selama hiatus.

Poin larangan

1.      Tidak memperbarui blog

Berhasil, sampai hari ini. Sesekali saya tetap buka blog sih, cuman untuk mengetahui jumlah pengunjung, komentar, pembaruan dari daftar bacaan, dan lain-lain.

2.     Tidak membaca materi terkait dari manapun

*ahahaha…
…tidak intensif kok.

3.     Tidak mengulas cerpen di Harper maupun manapun

Yang di Harper sih tidak. Yang di Kekom… itu poin 1000++ dapat dari mana ya?

FYI. Sekali komentar di Kekom dapat poin 5.

Hei. Bagaimanapun Kekom mengakomodasi kebutuhan saya untuk berinteraksi!, dan itu bisa dikatakan Poin Toleransi nomor 4 loh *maksa.

4.     Tidak mengerjakan latihan dari sumber belajar manapun

Berhasil, sampai dorongan untuk melanggar hiatus kian tak tertahankan. Kemarin malam saya kerjakan prompt dari Write 4 Ten. Cuman menulis bebas tentang bebas, termasuk ke Poin Toleransi nomor 3 dong. Saya juga mampir ke tantangan terbaru dari terribleminds, dan mentok ketika harus bikin cerita dengan subgenre Zombie Apocalypse, yang berlatar di prom SMA, dan berkaitan dengan sebuah lukisan yang hilang. Masya Allah!

5.     Tidak meminjam buku dari perpustakaan maupun orang lain, apalagi mengulasnya

Dari perpustakaan di rumah saya menamatkan Kebudayaan Indis - dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Saya lupa berapa jumlah buku yang saya pinjam dari perpustakaan pusat UGM, sedang yang saya tamatkan antara lain cuman Novel Voices, Gadis Tangsi, dan Digitarium. Dari perpustakaan kota Jogja saya pinjam cuman empat, yaitu Norwegian Wood, Sepiring Nasi Garam, Hubbu, dan Kun… Fayakun: semua tamat. Sebagian besar saya bikin ulasannya, walau acak-acakan dan cuman ditulis tangan. Soalnya sayang kan kalau kita sudah menghabiskan waktu untuk membaca buku, tapi tidak bisa mengapresiasi maupun menarik pelajaran darinya. 

6.     Tidak menulis cerpen

Suatu pagi saya mendengarkan lagu One Day I’ll FlyAway dari Randy Crawford, dan terbayang suatu situasi yang bikin saya menangis. Malam tiba, saya dengarkan lagu tersebut berulang kali. Menangis terus-terusan. Saya menerka-nerka apa sebabnya adalah karena serangan pikiran-pikiran negatif (sebelum-sebelumnya begitu), tapi kiranya bukan. Ini luar biasa. Saya merasa harus mengeluarkan apa yang batin saya alami, walau raga cuman tiduran. Jadilah cerpen ini. Beberapa hari kemudian saya “dapet”. Agaknya PMS bukan mitos. Susah jadi perempuan.

7.      Tidak menulis novel

Suatu pagi jelang siang di ruang sirkulasi suatu perpustakaan saya duduk. Seharusnya saya mengetik revisi daripada tanggungan akademis saya, alih-alih fiksi dengan khayalan dan adegan jorok. Adapun yang saya ketik tersebut bisa dikata sebagai satu dari rangkaian scene yang ingin saya wujudkan menjadi novel. Tidak dimaksudkan sebagai erotis kok, cuman dewasa-muda yang mengalami angst.

***

Sesungguhnya ada tujuan yang ingin saya capai selama hiatus, yaitu:

·         menyelesaikan tanggungan akademis;

Ujian saya sudah tempuh, mandek di revisi. Sebulan lebih lalu. Tiap pagi saya mencorat-coret kertas, tapi tidak mendapatkan paragraf-paragraf untuk diketikkan. Tiap malam saya kalut memikirkan ini. Saya hiatus demi fokus pada ini, tapi ketika saya tidak bisa mengerjakan ini saya tidak tahu apa lagi yang saya bisa kerjakan selain tidur.

·         dan mempelajari keterampilan baru.

Saya berkenalan dengan bahasa Jerman melalui buku Siapa pun Bisa Bahasa Jerman, mentok di Topik 12: “PERUBAHAN TENSES”. Saya juga sempat mengoperasikan vacuum cleaner selama beberapa jam di suatu pagi. Saya tidak cukup giat untuk lanjut berlatih harmonika dan menggambar, maupun mengerjakan latihan bahasa Inggris dan mempelajari buku tentang komedi.

***

Ada The Heath Guide to Literature yang ingin saya tekuni. Ada novel yang perlu saya ulas. Ada draf yang hendak saya revisi. Ada ratusan cerpen yang menanti untuk dibaca. Ada beberapa event menulis-novel-bareng yang menarik untuk diikuti. Ada berbagai sumber latihan dari internet yang menggoda untuk dikerjakan. Ada tanggungan akademis yang harus saya tuntaskan, dan inipun perkara menulis. Ada-ada saja yang menghadang di jalan ini.

Demikian hiatus saya putus. 

Senin, 05 November 2012

****


Aku akan kembali ke daerahmu untuk meneruskan nasibku. Mendadak teringat kamu. Ingin tanya kabarmu. Alhamdulillah yah, katamu. Masih begini saja, tapi kamu sedang di pelosok. Hati-hati di jalan, katamu. Naik kereta atau bis. Ah kamu tidak baca pesanku sebelumnya. Tapi aku tetap membalas. Kamu tidak.

Sesaat aku hangat. Aku ingin ketemu temanku, menyanyikan “Kuring Bogoh ka Manehna”[1] untuknya. Terbayang-bayang ikut kemanapun kamu, walaupun anak kita akan besar di hutan. Pertanyaanmu untuk membuatku berpikir, sedang aku ingin langsung kamu katakan apa inginmu. Kamu keras, kamu juga lembut. Percikan-percikan di antara kita. Ternyata kita sama. Menangguhkan lainnya demi meraup yang satu. Wajah menyeramkan. Jika bisa bersamamu aku akan bersemangat. Jikapun aku tetap sedih, aku ingin sedih di pangkuanmu. Tapi segera setelah ini aku akan melupakanmu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik.


Lodaya pagi, 311012



[1] Lagunya Jafunisun.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain