Manusia terdiri dari unsur jasmani (fisik) maupun rohani (psikis). Agar dapat tercapai suatu perkembangan yang optimal, maka kedua unsur tersebut harus dipelihara dan dipenuhi segala kebutuhannya.
Untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, maka manusia melakukan tindakan seperti makan, minum, berolahraga, tidur/istirahat dan sebagainya. Kebutuhan fisik ini mudah dikenali, karena tubuh/fisik manusia selalu memberi sinyal-sinyal yang memberi semacam peringatan akan kebutuhan fisik macam apa yang harus segera dipenuhi. Sebagai contoh apabila tubuh kekurangan cairan, maka akan muncul suatu sinyal rasa haus, sehingga manusia terdorong untuk minum, dan dengan demikian kebutuhan fisik akan cairan secara otomatis akan terpenuhi. Gejala yang sama dijumpai pada keadaan fisik yang lelah dan memerlukan istirahat. Dalam keadaan seperti ini akan muncul sinyal rasa kantuk, yang menyebabkan manusia terdorong untuk tidur.
Kebutuhan psikis (emosional) jauh lebih sulit untuk dikenali maupun dipenuhi bila dibandingkan dengan kebutuhan fisik, karena kebutuhan psikis itu merupakan sesuatu yang abstrak, tidak tampak secara jelas. Meskipun sulit dikenali, maupun dipenuhi, namun untuk mencapai pertumbuhan psikis yang sehat, maka kebutuhan psikis (emosional) ini harus dipenuhi, seperti juga perlunya memenuhi kebutuhan fisik, untuk mencapai kondisi fisik yang sehat.
Pada masa-masa perkembangan fisik yang pesat, yaitu pada masa anak-anak dan remaja, maka kebutuhan fisik ini juga tinggi. Kurang terpenuhinya kebutuhan fisik pada masa-masa pertumbuhan ini, dapat mengakibatkan adanya "cacat" fisik di kemudian hari. Sebagai contoh anak yang kekurangan gizi pada masa pertumbuhannya, dapat menyebabkan pertumbuhan fisiknya menjadi kurang sempurna.
Apabila pertumbuhan fisik yang paling utama terjadi pada masa anak-anak dan remaja, maka pertumbuhan psikis yang paling utama terjadi pada lima tahun pertama dari perkembangan manusia, karena pada masa itulah peletakan dasar-dasar kepribadian manusia. Rasa percaya diri, dorongan untuk berprestasi, kreativitas, dan sebagainya terutama ditentukan dari seberapa jauh kebutuhan-kebutuhan psikis (emosional) pada masa lima tahun pertama perkembangan anak ini terpenuhi.
Untuk memenuhi kebutuhan emosional dari anak yang masih kecil, yang belum mampu mengutarakan bahkan mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri adalah tidak mudah. Secara umum memang kita telah dapat mengenali kebutuhan emosional manusia seperti kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, perhatian dan sebagainya. Namun untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan rasa cinta, kasih sayang dan perhatian, bukanlah merupakan hal yang mudah. Suatu bentuk larangan misalnya (contoh: orang tua melarang anaknya untuk bermain di jalan), yang sebetulnya merupakan perwujudan rasa sayang orang tua terhadap anak, apabila tidak dikomunikasikan dengan benar, akan dipersepsikan sebagai suatu hal yang negatif oleh anak. Oleh karena itu pengenalan terhadap kebutuhan emosional anak dan cara pemenuhan kebutuhan yang benar, sangat diperlukan untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian yang sehat pada seorang anak, sekaligus untuk membentuk suatu hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.
Tujuh Macam Kebutuhan Emosional Anak
Linzer (dalam Goodman, 1959) menyebutkan bahwa ada tujuh macam kebutuhan emosional anak yang paling mendasar, yaitu kebutuhan akan: (1) cinta; (2) penerimaan; (3) rasa aman; (4) perlindungan--kebebasan; (5) tuntunan beragama; (6) bimbingan, dan (7) pengendalian. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai kebutuhan-kebutuhan tersebut:
Cinta
Cinta merupakan dasar dari perkembangan anak. Setiap anak butuh merasakan bahwa orang tuanya mencintai dan menginginkannya. Wujud cinta dalam kehidupan sehari-hari antara lain ditunjukkan dengan ungkapan kata-kata, seperti panggilan "sayang" kepada anak, ungkapan perilaku seperti memeluk, menggendong, atau ungkapan berupa perhatian terhadap anak.
Penerimaan
Setiap anak membutuhkan keyakinan bahwa orang tua mereka menerimanya seperti apa adanya, menerima tidak hanya bila dia bertindak sesuai dengan keinginan orang tua mereka, tetapi setiap saat. Anak akan merasa diterima bila orang tua dapat menghargai jerih payahnya dan tidak menuntut yang berlebihan kepada anak.
Rasa aman
Setiap anak ingin merasakan bahwa rumah mereka merupakan tempat yang aman, bahwa orang tua mereka mampu menciptakan suasana hati yang tenang dan tenteram, bahwa orang tua mereka siap menjaga, khususnya di saat mereka menghadapi masalah atau menghadapi situasi yang baru.
Perlindungan -- kebebasan
Setiap anak menginginkan agar orang tuanya menjaga dan memberikan perlindungan dari segala macam bahaya, membantunya pada saat anak menghadapi sesuatu yang baru atau sesuatu yang menakutkan. Tetapi di samping itu anak juga menginginkan agar orang tua memberikan kebebasan kepada mereka dalam menemukan hal-hal baru, dan dalam melakukan segala sesuatu bagi dirinya sendiri, sehingga tumbuh rasa percaya dirinya. Kedua unsur ini harus diberikan secukupnya saja dan harus seimbang.
Tuntunan beragama
Setiap anak membutuhkan tuntunan dalam hidup beragama, agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang benar, karena dalam agama sudah ada hukum-hukum moral yang mengatur semua yang ada. Adalah tugas orang tua untuk "menghadirkan" Tuhan dalam kehidupan anak-anaknya dan dalam memberikan
Pulung Gantung: Menyingkap Tragedi Bunuh Diri di Gunung Kidul
Penulis:Darmaningtyas
Penerbit:Yogyakarta, Salwa Press, 2002
SEAKAN meniru jejak antropolog Prancis, Emile Durkheim, yang meneliti fenomena bunuh diri, Darmaningtyas meneliti hal serupa. Durkheim mengerjakan dalam konteks di Prancis, Darmaningtyas menulisnya dalam konteks di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan sang penulis memang menggunakan paradigma Durkheimian dalam karyanya ini.
Emile Durkheim menulis buku Le Suicide (1897) dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris pada 1951 (Suicide: A Study in Sociology). Durkheim mengungkapkan fenomena bunuh diri sebagai gejala kejiwaan individual, psikososial, struktural, dan alam semesta. Ia menggolongkan gejala universal bunuh diri menjadi empat bentuk: egoistik, altruistik, anomik, dan fatalistik.
Tingginya frekuensi bunuh diri di Gunung Kidul, terutama sejak pertengahan tahun 1980-an, membuat orang setempat percaya bahwa pulung gantung terjadi karena sejumlah anggota masyarakat melakukan perilaku yang dipantangkan. Menurut mitos setempat, pulung gantung akan didahului sebuah tanda di langit pada malam hari. Bentuknya adalah cahaya bulat berekor, berwarna kemerahan agak kekuningan dengan semburat biru yang meluncur cepat menuju rumah calon korban.
Berdasarkan data yang dia kumpulkan pada tahun 1980-2001, Darmaningtyas menunjukkan bahwa para pelaku bunuh diri didominasi kaum lelaki berusia 35-50 tahun, miskin, buta huruf, dan terisolasi secara geografis, mobilitas sosialnya rendah dan kabur kanginan (asal-usul dan tujuan tidak jelas). Hampir semua pelaku bunuh diri yang ditelusuri lebih jauh latar belakangnya berasal dari kelompok rentan ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan. Peletup bunuh diri ini adalah depresi panjang karena utang, malu tak tertanggungkan, dan sakit kronis.
Lalu apa yang dilakukan para pejabat setempat? Para pejabat justru bagian dari masalah, karena banyak dari mereka yang tidak bisa memikirkan dengan sungguh-sungguh kehidupan masyarakatnya. Koperasi Unit Desa (KUD) berubah maknanya menjadi "Kuperasi Uang Desa". Para birokrat lebih senang menangguk keuntungan di antara terpuruknya masyarakat. Kajian Darmaningtyas ini menunjukkan potret ketidakberdayaan paling telak dari masyarakat pedesaan di Jawa akibat marginalisasi, involusi, dan korban dari keganasan alam serta keganasan birokrat lokal.
Suryasmoro Ispandrihari
Alumni Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Sabtu (30/9/2023) kemarin, saya menghadiri acara bertajuk "Stop Insecure Yuk Bersyukur" yang diselenggarakan di Nutrihub, Jalan Raden Patah 36 Bandung, oleh Forum Indonesia Muda dan Yayasan Cintai Diri Indonesia, dengan pematerinya Kadek Pramitha, M.Psi., seorang psikolog. Ada dua puluhan peserta yang hadir, umumnya anak muda: pelajar SMA, mahasiswa, juga yang sudah bekerja.
Memasuki ruang acara, di tengah sudah terhampar banyak kartu yang disusun membentuk lingkaran berlapis-lapis. Sebagian besar kartu bertulisan "POINTS OF YOU" di atasnya. Sebagian lagi di lapisan terluar berupa gambar dengan quote. Ada pula yang berupa lingkaran-lingkaran kecil, entah apa yang ada di baliknya. Dua yang belakangan ini tampak digunakan sebagai cadangan, ketika ada yang tidak kebagian kartu utama.
Sebelum menggunakan kartu-kartu tersebut, selazimnya acara, pembukaan diisi dengan sambutan dari perwakilan tiap-tiap penyelenggara: Nutrihub, Forum Indonesia Muda, dan Yayasan Cintai Diri Indonesia.
Tampil Mbak Mitha, yang rupanya sehari-hari bekerja di Jakarta. Beliau membuka materi dengan menerangkan tentang "insecurity", definisi dan gejalanya. Insecurity terkait dengan hierarki kebutuhan menurut Maslow. Tiap-tiap kebutuhan apabila belum terpenuhi dapat memunculkan rasa insecure. Bahkan kelaparan pun termasuk, yaitu insecure akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok.
Peserta diminta membuat definisi "insecure"menurut diri sendiri berikut daftar hal-hal yang menyebabkan perasaan demikian, kemudian beberapa diminta untuk membagikannya.
Definisi saya sendiri--yang secara spontan terpikirkan--adalah perasaan tidak aman dalam situasi tertentu, khususnya dalam relasi dengan orang lain; perasaan rendah diri. Sesaat saya menarik kesimpulan bahwa rasa insecure umumnya berkaitan dengan pencapaian duniawi yang tidak terpenuhi, terlebih kala terpicu oleh pencapaian orang lain sehingga otomatis membanding-bandingkan. Kalau dipikirkan lagi secara luas, misalnya dalam perspektif Maslow, tentu penyebab insecure bukan itu saja.
Sembari memikirkan daftar saya sendiri, yang cenderung abstrak alias tidak spesifik, terlintas lebih jauh: kenapa pula saya harus mencapai hal-hal itu? Ada apa di balik hal-hal itu? Kebutuhan untuk survival? Self-esteem? Bagaimana jika kenyataannya saya masih bisa survive tanpa perlu mencapai apa yang dilalui orang lain? Bagaimana jika self-esteem dapat saya peroleh dengan cara yang unik, alih-alih dengan cara yang sama seperti yang diraih orang lain? Saya duga mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih jauh seperti itu, why and how, dan berusaha menemukan jawabannya bisa meredam rasa insecure yang timbul.
Dari daftar penyebab insecure itu, Mbak Mitha memberikan petunjuk untuk memilih satu yang mau diproses diiringi niat untuk tidak akan memaksakan.
Mbak Mitha.
Dilanjutkan dengan sesi "duduk hening" selama lima menit. Dalam sesi itu, kami diminta memejamkan mata. Ada suara yang mengiringi. Terus terang saya tidak begitu mengindahkan suara yang disetel, saya lebih berfokus pada kesempatan untuk merelakskan diri setelah bersepeda selama setengah jam lebih (mungkin mendekati satu jam) ke lokasi yang pagi itu begitu terik cerahnya. Mbak Mitha bilang, sesi ini bukanlah meditasi. Saya duga ini merupakan mindfulness practice. Saya sendiri lagi berusaha menerapkan ini di sela-sela aktivitas, rebahan dan do nothing walau seringnya malah mindlessly scrolling HP :p
Barulah dimulai sesi utama dengan kartu Points of You. Kartu ini mungkin mengingatkan pada tarot, sebagaimana diungkit sendiri oleh Mbak Mitha. Metodenya: kita mengambil kartu secara acak kemudian menginterpretasikan hasil yang diperoleh, mengaitkannya dengan persoalan yang sedang dialami. Namun, saya pikir, alih-alih untuk meramalkan nasib, Points of You merupakan alat bantu untuk memantik self-awareness dan berfokus pada satu permasalahan.
Lingkaran kartu sebelum dijamah peserta.
Kartu pertama yang diambil adalah yang berada di lapisan-lapisan dalam, bentuknya hampir kotak dan berbintik-bintik. Di balik kartu itu ada gambar disertai tulisan. Mbak Mitha menanyakan mana yang kami tangkap terlebih dahulu, gambar atau tulisan? Manapun, kami diminta mengembangkan narasi terkait persoalan diri dari situ.
Pada kartu yang saya ambil, yang pertama-tama tertangkap oleh penglihatan saya adalah gambar kepala kucing oren yang rupanya lagi berusaha minum dari keran yang mengucurkan sedikit air. Kucing oren itu tampak tak terurus, di mata dan hidungnya ada kotoran. Tulisan yang tertera di bawahnya adalah "Solutions" lengkap dengan terjemahannya, "Solusi". Seketika saya pikir mendapat kartu yang bagus, positif--optimistis. Seketika saya dapat mengaitkan diri. Saya suka jika bisa menjadi solusi. Saya orang yang banyak ide. Saya bahkan bisa mengaitkan diri dengan si kucing oren yang tak terurus itu, apalagi rumah saya sendiri literally rumah singgah bagi kucing-kucing buangan kurang perawatan. Seketika baris-baris puisi Chairil Anwar melintas di benak saya, "Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang," memerikan alur hidup saya yang memang "liar"(?). Mungkin pula dari segi akhlak masih rada barbar, ya persis si kucing oren dalam gambar. Yang tak kalah mengena adalah aliran air yang sedikit saja keluar dari keran itu. Si kucing sedang berusaha menyambung nyawa dengan air yang mengucur kecil. Lagi-lagi persis! Saya pun sedang belajar untuk mensyukuri yang sedikit, yang dapat saya peroleh dengan segenap keterbatasan saya. Dengan apapun itu yang telah tersedia di sekitar saya, saya mesti berusaha untuk menyambung hidup sampai ajal tiba. That dirty orange cat striving for a little water from the rusty tap is my new spirit animal!
Ciluk ...
Merasa dapat kartu bagus, saya lirik kanan-kiri dan membaca kartu milik orang lain. Ada yang dapat "Guilt"/"Bersalah", ada juga yang "Self-pity"/Mengasihani diri sendiri. Ah, bagi saya mah itu sudah lewat. Saya sudah punya "Solusi"!
Setelah sesaat menginterpretasikan perolehan masing-masing, kami diminta mengambil kartu lain yang berada di lapisan setelah kartu yang pertama itu. Kartu yang ini berbentuk persegi panjang tanpa bintik-bintik. Setelah membalik kartu tersebut, saya menghadapi satu kata yang bikin saya tidak merasa begitu "bagus" lagi, yaitu "Penilaian". Ya, tentu saja. Setelah menemukan "Solusi" dan menjalankannya, kita akan berhadapan dengan "Penilaian". Apakah "Solusi" tersebut memang layak untuk dijalankan? Apakah "Solusi" tersebut benar-benar mengatasi permasalahan? Bagaimanakah "Penilaian" orang lain terhadap "Solusi" yang kita jalankan itu? Bagaimanakah "Penilaian" kita terhadap diri sendiri setelah beberapa lama menjalankan "Solusi" tersebut? Apakah ada perubahan? Atau sama saja? Akankah kita terus menjalankan "Solusi" itu setelah mendapat "Penilaian" dari mana-mana? Ini PR yang mesti dipikirkan dengan serius tentu saja, untuk memutuskan apakah hendak bertahan atau meninggalkan dan cari "Solusi" lain.
... baaa!!!
Kartu berikutnya berada di lapisan lebih luar lagi, bentuknya sama persegi panjang tetapi kembali berbintik-bintik. Kartu ini berisi pertanyaan. Saya mendapat: "Apa yang membuatku sempurna?" Seketika saya menjawab dalam hati: "Tentu saja tidak akan bisa mencapai kesempurnaan!" Hanya kalau berhubungan dengan orang lain saja, khususnya dalam berjual beli, kita dituntut untuk "sempurna". Produk atau layanan yang tidak sempurna akan bikin pembeli kecewa malah enggan membeli lagi. Namun di balik kesempurnaan yang dijualkan itu, apakah memang sempurna? Kita memiliki smartphone yang dibuat dengan sempurna, misalnya. Tidak ada cacat, semua fiturnya berfungsi baik, melancarkan segala kebutuhan digital kita, dan seterusnya. Namun, apakah masih sempurna setelah mengetahui bahwa untuk mengisi dayanya kita menggunakan listrik yang berasal dari batu bara yang untuk membuka tambangnya, pabriknya, dan segala-galanya, mesti dengan merusakkan kesempurnaan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Sempurna? So, to hell with "Penilaian?" Di sisi lain, ada baiknya juga untuk bersikap seperti laron yang mengejar bintang alih-alih menabrak lampu langsung mati. Sebagaimana pernyataan yang saya temukan dalam buku The ACT Workbook or Depression and Shame, "You can never reach or achieve a value; rather these are qualities that a person might strive for." Sebagaimana kata mutiara yang konon katanya dari Bung Karno, "Bermimpilah setinggi langit, kalau gagal setidaknya kau jatuh di antara bintang-bintang dan tersedot ke dalam supermassive black hole." Maksudnya, kesempurnaan tetap perlu untuk didefinisikan dan diupayakan sekalipun kita tahu tak akan mencapainya.
Dari urutan kartu yang saya dapatkan, saya menyimpulkan bahwa ini mengenai optimisme, hambatan, dan solusinya. Ya, bahkan "Solusi" pun masih perlu diatasi dengan solusi lain. Seperti yang nanti dikutipkan oleh Mbak Mitha di penghujung acara, "Belajarlah untuk menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaan." Lengkapnya, "Belajarlah untuk siap dalam ketidaksiapan."
Setelah merenungkan makna dari kartu-kartu saya sendiri, saya lirik kanan-kiri lagi dan tentunya menyimak peserta-peserta lain yang membagikan interpretasi terhadap kartu-kartu mereka. Sebagai sampel, peserta lain mendapatkan kombinasi kartu berikut.
Guilt/Bersalah - Kegagalan - Apa yang membuat aku bergairah?
Self-pity/Mengasihani diri sendiri - Permulaan - Apa yang membuatku tertawa?
Calling/Panggilan - Terhenti - Apa yang aku hindari?
Now/Sekarang - Cinta - Di area mana aku pernah sukses?
Selain itu, ternyata ada yang mendapat kartu berisi sama misalnya "Kematian" dan "Cinta". Sebelumnya saya kira semua kartu tersebut isinya berbeda.
Apa yang menentukan kita mendapatkan kombinasi kartu tertentu, sedang orang lain memperoleh kombinasi lainnya? Kebetulan? Takdir? Atau kartu ini memang dirancang untuk memuat persoalan-persoalan pribadi yang pokok dan umum, sehingga mau mendapat kombinasi yang manapun, setiap orang pasti bisa mengaitkan diri dan mengembangkan narasi pribadinya? Melihat kombinasi kartu yang didapatkan orang lain, saya pikir saya bisa mengembangkan narasi pribadi juga dari situ. Ada yang tampaknya sebagai persoalan yang sudah berlalu, tapi jangan-jangan cuma terkubur saja oleh persoalan lain padahal belum benar-benar teratasi. Malah, kita bisa saja "memainkan" kartu ini setiap bulan, misalkan, untuk "mengundi" permasalahan mana yang akan jadi fokus kita selama sebulan ke depan.
Karena kebetulan dalam kesempatan ini saya mendapatkan Solusi - Penilaian - Apa yang membuatku sempurna?, maka saya bisa berfokus pada hal itu untuk sementara waktu. Misalnya, saya pikir telah mendapatkan "Solusi" atas persoalan "insecurity" saya, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menemukan makna dari berbagai penyebab rasa itu; ditambah dengan melakukan pendalaman spiritual untuk menyadarkan diri akan apa yang sejatinya perlu dicapai dalam kehidupan ini. Mengingat mati jadi satu cara untuk tenang. Bukan berarti saya merasa percaya diri telah menyiapkan cukup bekal akhirat, melainkan lebih berupa kelegaan karena serasa dibantu mengerucutkan tujuan sehingga menyingkirkan sekian persoalan lain yang rupanya tidak begitu esensial.
Jadi saya pikir telah menemukannya, meski masih sering teralihkan. Saya hendak menjalani kehidupan dengan jawaban itu, tapi bagaimanakah saya akan menyikapi penilaian dari mana-mana yang akan menyambut dalam perjalanan ini? Penilaian yang munculnya bukan hanya dari orang lain, melainkan juga diri sendiri. Toh penilaian dari diri sendiri bisa saja tidak kalah sadis daripada orang lain. Mungkin penilaian-penilaian itu bukannya untuk ditolak sama sekali, mungkin ada baiknya dipertimbangkan dengan tenang. Manakah yang boleh ditolak dan yang perlu diterima? Saya perlu terus belajar untuk menjadi bijaksana, dapat membedakan mana yang dapat ditoleransi mana yang tidak dan sebatas apa menoleransinya.
The reason we struggle with insecurity is because we compare our behind-the-scenes with everyone else's highlight reel.
- Steven Furtick
Mbak Mitha menanggapi setiap peserta yang telah berbagi seperti memberikan konseling singkat, yaitu dengan mengajukan pertanyaan dan memberikan masukan. Di slide beliau menampilkan types of insecurity, 50 questions to know your deepest insecurities, serta cara-cara untuk coping atau penyelesaian konflik yang saya catat sebagai berikut:
1. Kenali alasan, kenapa dan bagaimana bisa terjadi (mengajukan pertanyaan-pertanyaan),
2. Efeknya pada diri (mengenali jenis-jenis emosi),
3. Ketahui berapa lama telah terjadi,
4. Apa yang perlu dikelola, bagaimana caranya?
Pada akhirnya, kita perlu menentukan tindakan dan melaksanakannya. Tindakan itu dirumuskan secara berkala: apa yang akan dilakukan dalam sehari ke depan, seminggu, sebulan? Contoh yang diberikan di antaranya afirmasi diri dan duduk hening. Cara-cara ini merupakan latihan mental agar tidak terpuruk ketika jatuh lagi.
Kembali pada perumpamaan laron yang mengejar bintang dikombinasikan dengan masukan dari The ACT Workbook for Depression and Shame, setelah menentukan "bintang" (value) yang hendak dicapai, you need to set goals that are in line with them. Value berarti arah yang hendak dituju berdasarkan apa yang dianggap penting, cahaya pemandu untuk mencapai kebermaknaan. Meski begitu, value bersifat abstrak: hanya arahan, bukan instruksi mendetail untuk mencapainya. Detailnya ditetapkan berupa goal yang diiringi intention, yaitu cara untuk mewujudkan value jadi tindakan pada waktu dan tempat tertentu.
Terima kasih untuk Nutrihub, Forum Indonesia Muda, Yayasan Cintai Diri Indonesia, Mbak Kadek Pramitha, dan terutama teman saya (dan temannya) yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti acara ini :)
Belakangan ini saya sedang tidak baik-baik saja (yah, seperti setiap orang di muka bumi ...), dan baru-baru ini ada lagu lama muncul di dalam kepala. Lagu ini sepertinya berasal dari masa SMP-SMA. Saya meraba-raba potongan liriknya yang teringat, memasukkannya ke kolom pencarian di YouTube dan Google. Kata-katanya berupa "pieces", "I am not seeing anything", dan "standing in the dark" atau "standing in the crowd". Samar-samar. Tidak ketemu. Bisa dibilang, ini bukan lagu favorit saya sampai-sampai saya tidak ingat apa judulnya dan siapa penyanyinya. Lantas, kenapa lagu itu mendadak terngiang-ngiang?
Entah bagaimana saya teringat kepada penyanyi yang saya kenal pada masa itu, yaitu David Usher. Cuma dua lagunya yang saya ingat, yaitu "Black Black Heart" dan "LA Blue". Setelah mencarinya di YouTube, ternyata "LA Blue" itu lagunya Joey McIntyre. Bagaimanapun juga, bukan kedua lagu tersebut yang saya cari.
Akhirnya saya memasang External Slim DVD-RW ke notebook dan mengecek beberapa keping CD-R berisi koleksi MP3 yang saya kumpulkan semasa SMA-awal kuliah. Saya melewatkan lagu-lagu yang sudah saya kenal baik dan memutar lagu-lagu yang saya tidak ingat bagaimana bunyinya. Ketemulah lagu yang beberapa lama ini terngiang-ngiang di dalam kepala saya itu. Ternyata penyanyinya memang David Usher, judulnya "Hallucinations", keluaran 2003. Sepertinya lagu ini masuk ke koleksi MP3 saya karena pada waktu itu saya lagi senang-senangnya mengkhayal, dan judul "Hallucinations" tampak relatable. Entahlah. Saya tidak ingat pernah begitu menyukai lagu ini soalnya.
Setelah menemukan nama penyanyi dan judul, saya pun mencari liriknya. Rupanya potongan lirik yang teringat sebelumnya tidak tepat sehingga pantas saja tidak ketemu (:P) "Tidak ada kata "pieces", "I am not seeing anything" harusnya "I am not feeling anything", dan "standing in the dark/crowd" adalah "standing at the top". Dari beberapa hasil pencarian, saya mendapati ada sedikitnya dua versi lirik lagu ini. Berikut ini saya salin dari https://genius.com/David-usher-hallucinations-lyrics yang menurut saya memberikan pengertian lebih jelas.
Breathe hallucinations start to fade All the colours slip back to grey I never understood these things I've hated But now as we all disappear The world becomes quite clearly something I can't live in If I could just get through
Tonight the poisons in my head And I can't feel my legs I'm not feeling anything
I'm standing at the top looking down Thought it'd be so free Floating out in space take a breath Don't you breathe too deep Standing at the top looking down Thought it'd be so damn easy I thought it would be easier
Wait hallucinations back in place I said I'd call if I can't face another day of normal It's what they gave me But now the telephones on fire And I can't seem to dial even though I know you're there To save my soul
Tonight the poisons in my head And I can't feel my legs I'm not feeling anything Anything
I'm standing at the top looking down Thought it'd be so free Floating out in space take a breath Don't you breathe too deep Stepping off the top Feel the wind underneath my feet
Standing at the top looking down Floating out in space there's no sound
Tonight the poisons in my head I can't feel my legs I'm not feeling anything
I'm standing at the top looking down Thought it'd be so free Floating out in space take a breath Don't you breathe too deep Stepping off the top Feel the wind underneath my feet
Standing at the top looking down Floating out in space there's no sound I feel alive I feel alive I feel alive
Dari lirik tersebut, saya menangkap bahwa lagu ini disampaikan dari sudut pandang seseorang yang sedang mengalami masalah kejiwaan sampai-sampai mengalami halusinasi. "The poisons in my head" itu saya duga semestinya "the voices in my head", karena biasanya halusinasi tersebut berupa suara-suara. Orang ini tidak hanya mengalami halusinasi, tapi juga hendak mengakhiri penderitaannya dengan melompat dari tempat tinggi. Mungkin "the poisons in my head" itu benar-benar "poisons", dalam artian dia minum minuman keras dulu untuk menumpulkan indranya ("I can't feel my legs"/"I am not feeling anything") atau untuk memberinya dorongan. Entahlah.
Kata-kata lainnya juga terdengar seperti mengisyaratkan kematian walau sebetulnya itu saya saja yang keliru menangkapnya (bukan English native speaker sih). "Dial" terdengar seperti "die" bahkan "standing at the top" dan "stepping off the top" seperti "sending epitaph" (memangnya dia kurir atau apa?), sedang "epitaph" atau "epitaf" dalam bahasa Indonesia dapat berarti "tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di situ" (menurut aplikasi KBBI V).
Setelah membaca liriknya secara menyeluruh, saya terheran-heran mendapati betapa relevannya lagu ini dengan keadaan yang tengah saya alami. Bukan berarti saya sudah sampai berhalusinasi atau ingin bunuh diri, tapi saya merasa memahami isyarat-isyarat yang disampaikan dalam lagu ini: tidak mengerti akan gangguan-gangguan yang dialami dalam diri, perasaan tidak mampu lagi bertahan hidup di dunia ini, kepala dipenuhi pikiran-pikiran yang beracun, dan seterusnya. Lagu ini seperti katarsis, mengidealkan terjun dari gedung sebagai solusi untuk memperoleh kebebasan dari penderitaan dunia atau cara untuk merasa "hidup" setelah sekian lama tertekan.
Lagu lain yang relevan ada banyak, tapi sebelum ini tidak pernah sekalipun lagu ini melintas. Kenapa setelah sekian lama tahu ada lagu ini, baru kali ini saya memperhatikan dan menyadari maknanya? Kenapa lagu ini terngiang seakan-akan minta dicari dan didengarkan tepat pada saat saya sedang mengalami situasi yang relevan? Kenapa baru sekarang? Saya merasa ingin menyampaikan atau mencatat keanehan ini. Satu pengalaman terkait yang teringat hanya sewaktu SMA saya membuat cerpen tentang seseorang yang mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk terjun dari gedung juga, tapi sepertinya itu bukan karena terinspirasi oleh lagu ini. Jangan-jangan saya sudah tidak baik-baik saja sejak SMA. Ataukah lagu ini terbenam terlalu dalam di alam bawah sadar? Tidak tertangkap wujudnya, tapi sekali-dua kali ruhnya timbul ke permukaan.
Sayangnya, hampir-hampir belum ada yang menguraikan kesan terhadap lagu ini selain segelintir yang sekadar menganggapnya bagus.
Adrien Brody sebagai guru
yang selalu bertampang sedih.
Gambar dari Wikipedia.
Teman chat saya di New York memberi tahu bahwa dia baru saja menonton sebuah film yang dia nikmati. Judulnya Detachment dan film tersebut bisa ditonton gratis di YouTube. Ini baru namanya rekomendasi!
Saya pun mencari informasi tentang film tersebut di Wikipedia. Boleh juga.
Di YouTube memang tersedia filmnya--full movie. Tapi, film tersebut sudah dilengkapi dengan subtitle bahasa Turki yang tidak bisa dihilangkan. Adapun subtitle yang bahasa Inggris auto generated saja. Not bad lah, daripada enggak ada.
Saya pun menanyai dia apakah memang video itu yang dia maksud. Dia memberikan link ke YouTube yang sepertinya tanpa subtitle bahasa Turki. Tapi sayang, saya tidak bisa membukanya.
Maka saya pun menonton yang ada saja. Dia bilang mudah-mudahan yang saya tonton itu audionya berbahasa Inggris. Ya iyalah, kata saya, yang bahasa Turki subtitle-nya doang dan enggak di-dubbling. Oke deh.
Detachment menceritakan tentang kehidupan seorang tokoh yang diperankan Adrien Brody, selama menjadi guru pengganti di sebuah SMA di New York. SMA tersebut bermasalah. Banyak muridnya yang pembangkang atau bikin ulah, entahkah dengan melempar tas guru atau pakai baju super minim. Guru-guru tidak dihormati, mulai dari diabaikan sampai diludahi.
Diperlihatkan secara sekilas-sekilas bagaimana Adrien Brody--eh, nama tokohnya Henry Barthes--serta beberapa rekan guru di sekolahnya dalam mengatasi para murid bengal itu.
Dalam hal ini, sepertinya sudah ada beberapa film yang semacam, misalnya saja Freedom Writers dengan Hillary Swank serta Dangerous Minds (yeah, "Gangsta Paradise"!) dengan Michelle Pfeiffer. Tapi, sebenarnya saya belum menonton kedua film itu jadi tidak bisa membandingkan. (Terus, kenapa disebut-sebut? :v)
Di film ini sendiri, Adrien Brody, eh, Henry Barthes cenderung menggunakan pendekatan yang to the point dan emphatic. Semacam, yah, yah, gue tahu lu punya masalah, gue juga punya, semua orang punya, jadi, nih sekarang gue kasih lu kertas sama pulpen, dan kerjain aja tugasnya, enggak usah banyak cincong lay.
Salah satu tugas yang diberikannya yaitu menulis pikiran atau perasaan orang yang ditinggalkan apabila si penulis telah mati. Ada yang membuat tulisannya secara asal-asalan sehingga mengundang tawa, ada pula yang tampaknya serius dengan menyiratkan bahwa ia hendak mati bunuh diri. Tulisan itu dibuat tanpa nama.
Para guru lain punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi masalahnya. Ada guru yang sepertinya sama sekali enggak bisa berkutik, dan menyalurkan frustrasinya dengan mendorong-dorong pagar. Ada guru yang meminum suatu obat supaya bisa tenang dalam menghadapi murid. Ada guru yang balik marah-marah pada muridnya.
Untuk adegan yang belakangan ini, yang dibawakan oleh Lucy Liu, saya merasakan betapa dalam sesungguhnya kekhawatiran seorang guru pada generasi muda yang benar-benar cuek pada masa depannya. Kayak ngegampangin gitu. Mereka enggak tahu dunia nyata di luar sana, dan enggak mau mendengarkan orang-orang yang berusaha membimbing mereka. Tapi, jangan-jangan, sikap acuh tak acuh ini sekadar hasil dari pola asuh orang tuanya.
Memang tema yang mengemuka dalam film ini, yang saya tangkap, adalah ketidakhadiran orang tua. Hal ini secara jelas tapi implisit (eh, gimana, gimana?) ditunjukkan dalam adegan ketika sekolah tersebut mengadakan acara POMG (alias Pertemuan Orang-tua Murid dan Guru, kalau ada yang belum tahu), dan tidak ada satu pun orang tua yang datang.
Ketidakhadiran orang tua ini juga justru dialami oleh si tokoh utama sendiri, si guru pengganti Henry Barthes. Persoalannya di sekolah silih berganti dengan persoalan pribadinya: hubungan dia dengan kakeknya yang sakit-sakitan di panti jompo, serta cuplikan-cuplikan kenangan akan ibunya yang telah mati bunuh diri. Si kakek tampaknya sangat terpengaruh oleh kematian si ibu, penuh rasa bersalah.
Perhatian: bagian berikutnya mengandung bocoran yang bertubi-tubi.
Sedikit-sedikit diungkapkan fakta-fakta cerita, yang menimbulkan asumsi pada saya, bahwa jangan-jangan si kakek itu sebenarnya ayah Henry. Henry bercerita bahwa ayahnya telah pergi lama sekali, sehingga yang dia ingat dari masa kecilnya hanyalah di rumah selalu hanya ada mereka bertiga: dia, si kakek, dan si ibu. Dan, tiap malam, si ibu menyuruh Henry mengunci pintu kamarnya.
Teman chat saya di New York, oke, sebut saja dia dengan inisialnya, E, tidak sampai berpikir begitu. Menurut dia, si kakek sekadar melakukan pelecehan seksual kepada si ibu.
Mungkin saja mereka orang tua dan anak betulan. Lagi pula, kasus inses ada saja kejadiannya di dunia nyata.
Yang menjadi petunjuk bagi saya bahwa si kakek dan si ibu tidak mesti berhubungan darah, tapi sekadar pria lebih tua dan wanita lebih muda yang tinggal serumah, adalah subplot lainnya dalam film ini, di mana Henry membolehkan seorang pelacur remaja tinggal di rumahnya dan merawat gadis itu. Sebelumnya, gadis itu kerap dilecehkan pria-pria. Tapi Henry memperlakukan dia dengan baik sehingga timbul perasaan khusus pada si gadis.
Henry mau mengajak si gadis tinggal di rumahnya.
Gambar dari blog John Markham.
Kemudian, ada adegan ketika Henry mengobrol dengan kakeknya yang semacam berhalusinasi melihat si ibu. Henry pun berpura-pura menjadi ibunya, dan memanggil si kakek dengan "daddy". Sepintasnya sih begitu. Tapi, jangan-jangan, sebetulnya Henry bersungguh-sungguh ketika menyebut si kakek sebagai "daddy", alih-alih karena bermain peran sebagai ibunya.
Sementara itu, sensitivitas Henry rupanya juga memikat salah seorang siswi di sekolahnya. Ketika siswi yang berjiwa nyeni itu mendekati dia, timbullah kesadaran Henry bahwa dia bisa saja berakhir seperti kakeknya dan ibunya--sebagai pria yang lebih tua menjalin hubungan tertemu dengan wanita yang lebih muda dan seterusnya. Ia tidak mau hal itu sampai berulang, sehingga ia pun menolak siswi tersebut dan menyerahkan si gadis yang tinggal di rumahnya itu kepada panti sosial.
Penolakan itu agaknya memicu angst (?) terpendam siswi tersebut. Sepertinya dialah yang menyiratkan akan bunuh diri pada tugas menulis soal kematian itu. Dalam suatu acara sekolah, ia telah menyiapkan kue-kue. Salah satu kue rupanya mengandung racun, yang dimakannya sendiri sehingga ia seketika tewas terkapar di antara orang-orang lainnya di sekolah.
Setelah menonton film berdurasi sekitar satu setengah jam ini, beberapa orang berkomentar bahwa nuansanya begitu depresif.
Saya sendiri jadi penasaran untuk mengonfirmasikannya pada E, seberapa dekat isi film ini dengan kenyataan yang ada di negaranya. Apalagi, saya baca di salah satu komentar, bahwa SMA yang dipakai dalam film ini berada di New York--tempat si E lahir dan dibesarkan, katanya sih.
Berikut ini "wawancara" saya dengan E, yang sudah ditata dan dibahasaindonesiakan.
S adalah saya, dan E adalah dia.
S: Baru selesai nonton Detachment. Ada yang pengin saya tanyain nih.
E: Nanya apa?
S: Film ini benar-benar menggambarkan kenyataan di sana?
E: Sedikit.
S: Cuma sedikit?
E: Pengalaman saya waktu SMA sih, murid-murid emang enggak baik sama gurunya. Enggak menghormati, gitu. Orang tua bener-bener manjain anaknya, dan menyalahkan guru apa pun kesalahannya. Film ini menunjukkan kenyataan itu dalam situasi yang paling ekstremnya.
S: Paling ekstrem, ya. Biar dramatis, ya, kayaknya, biar menarik.
E: Iya, tapi emang betulan ada sih, hehe.
S: Terus saya baca di komen katanya sekolah di film ini ada di New York?
E: Iya.
S: Ada yang enggak akuratnya, enggak sih (terlepas dari dramatisasinya)?
E: Kalau ada murid yang meludah atau berbuat kekerasan sama guru, bisa dipanggil polisi tuh. Terus biasanya sih enggak ada yang bunuh diri di sekolah. Kemungkinannya orang bunuh diri di rumah, yang jelas enggak di sekolah. Udah gitu, kalau ada murid yang bunuh hewan (ada adegan menonjoki kucing sampai mati di film ini), langsung dibawa ke psikiater.
S: Di sana emang banyak remaja bunuh diri, ya?
E: Di New York? Sejujurnya, enggak juga sih. Sekolah-sekolah yang jelek di New York, kebanyakan muridnya minoritas. Di sini, anggapannya biasanya orang kulit putih yang banyak bunuh diri. Maksudnya, stereotipenya, orang kulit putih yang bunuh diri, kalau minoritas mah enggak. Jadi karena stereotipe itulah, enggak banyak minoritas yang bunuh diri.
S: Tapi itu kan "stereotipenya". Kenyataannya gimana?
E: Di Amerika Serikat, 70% dari yang bunuh diri itu laki-laki kulit putih.
S: Oh, gitu. Jadi, gimana pendapat kamu soal film itu?
E: Saya menikmati. Film itu menunjukkan anggapan umum bahwa guru-guru di Amerika Serikat itu kurang dihargai oleh murid dan orang tua.
S: Saya mendapat kesan bahwa peran orang tua itu kurang. Ada adegan ketika enggak ada orang tua yang datang buat pertemuan dengan guru.
E: Itu juga bener banget.
S: Kamu pernah enggak kepikiran jadi guru?
E: Enggak tuh, hehe. Ngajar itu kayaknya pekerjaan yang sulit dan kurang dihargai.
S: Kecuali kalau guru PNS kali, ya, hehe (seenggaknya di negara saya mereka lumayan lah).
E: Di sini, jadi guru kadang-kadang memuaskan, kadang-kadang enggak. Tergantung juga sih.
S: Oooh.
Demikianlah "wawancara" saya dengan E.
Beberapa orang di sekitar saya berprofesi sebagai guru atau paling tidak punya pengalaman mengajar di berbagai tempat. Kadang-kadang saya mendengar cerita mereka. Keluhan yang terdengar biasanya soal gaji, katrol nilai, dan semacam itu, sedangkan mengenai kekurangajaran murid sepertinya tidak sampai separah seperti yang ditunjukkan dalam film ini.
Selain itu, remaja yang bunuh diri juga merupakan fenomena menarik. Di negara kita pun ada saja kasusnya. Memang saya tidak mengetahui latar belakang setiap pelaku, betapa tidak tertahankannya penderitaan mereka. Hanya saja, sementara ini saya berpikir, sungguh sayang bahwa masa-masa remaja dan dewasa muda yang rawan itu--masa-masa "tumbuh gigi", kalau orang bilang--terhenti begitu saja. Padahal, siapa tahu, seiring dengan bertambahnya umur, akan muncul ketegaran dan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan buruk apa pun.
Di sisi lain, saya menginsafi bahwa tidak adanya dukungan--apa pun bentuknya--bisa menjadi salah satu penyebab keputusasaan yang bisa mendorong pada putusnya nyawa itu. Kalau bukan orang tua sendiri yang memberikan dukungan, siapa lagi? Tidak ada orang tua, guru yang diserahi tanggung jawab. Tapi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam film ini, guru pun bisa jadi tidak berdaya.
Saya kira, film ini bukannya mengajak hopeless sama sekali. Akhir ceritanya tampak cenderung "membahagiakan", menyiratkan harapan. Henry mengunjungi si gadis--yang tadinya tinggal di rumahnya itu--di panti sosial. Keduanya tampak senang, berpelukan. Entah apakah Henry bakal mengajak gadis itu kembali tinggal di rumahnya, kemudian menjalani hubungan seperti si kakek dan ibunya; menjadi sosok orang tua sekaligus kekasih.
Lagu lawas berikut ini sesuai dengan situasi keduanya:
Situasi ini seolah-olah menunjukkan bahwa kalau tidak ada orang tua, tidak ada guru, yang dapat mengarahkan seorang anak, bagaimanapun juga kemungkinannya dia akan menemukan sosok lain--bahkan seorang asing--sebagai pengganti. Syukur-syukur kalau orangnya baik, kalau enggak?
SETIAP orang pada hakikatnya tidak bisa menghindari dari kondisi stres. Stres dapat menjadi salah satu pencetus penyakit gangguan kepanikan, meski pada umumnya serangkaian panik ini tidak terjadi pada stres. Bahkan panik bisa terjadi dalam keadaan di mana pasien tidak dalam kondisi stres. Panik juga bisa muncul seiring dengan atau setelah pasien mengalami gangguan fisik/klinis yang hebat, setelah kecelakaan, atau kematian.
Banyak para pekerja, guru/pendidik, pengusaha, bisnisman, atau eksekutif menderita panic disorder disebabkan oleh kesibukan-kesibukan, rasa was-was, dibayangi oleh setumpuk pekerjaan, perubahan situasi dan kondisi kerja di samping perubahan-perubahan sosial atau keluarga. Tetapi mereka ini hanya sebagian kecil dari lima juta penderita gangguan kepanikan yang sejak tahun 1987-an sudah melanda masyarakat Indonesia, menurut Dr. Yul Iskandar Ph.D dari kelompok studi psikiatri biologik Jakarta.
Serangan panik sebenarnya suatu fakta klinis dan sudah lama diketahui, tetapi gangguan panik (diagnosis klinik) di Indonesia terasa baru. Kepanikan bukan penyakit yang berciri sendiri akibat gangguan psikologis semata, namun juga terkait dengan biologi dan masalah sosial budaya. Oleh karena itu perlu pendekatan, pertimbangan bio-psiko, sosio-kultural untuk penyembuhan.
Gejala Penyebabnya
Gejala serangan panik yang sifatnya somatik seperti sesak napas, dada terasa sakit, perut perih, gemetaran, dan sebagainya. Juga tidak lepas dari pengaruh latar belakang sosial budaya penderitanya, sebab itu diperlukan integrasi pendekatan antara bidang psikiatri biologi dengan bidang yang terkait.
Gangguan panik yang disebabkan oleh faktor biologi menurut Prof. Burrows dari Universitas Melbourne Australia dalam simposium penganggulangan 'anxietas panic disorder' terjadi pada lokus ceuruleus yang mengatur sistem saraf simpatikus di otak atau tempat lain yang mengatur tingkat keasaman dan kebasaan suatu cairan tubuh. Kelainan pada girus parahipocampal di otak (15-25%) dapat terpantau oleh peralatan PET-Scan.
Gejala panik yang khas umumnya berupa ketegangan, kegugupan, dan tingkah laku menghindari atau senang menyendiri. Gejala dapat bervariasi tergantung sosiokulturnya.
Di Indonesia gejala kepanikan prevalensinya sekitar 0,6-3%. Penderita kebanyakan wanita, sekitar 3:1 dengan laki-laki. Serangan pertama umumnya muncul pada usia 20-an.
Sulit dibedakan penyakit (gejala) gangguan kepanikan dengan penyakit jantung koroner. Karena gejala kedua penyakit ini hampir sama, yaitu serangan pertama muncul dengan keluhan nyeri di dada (cepat atau lambat berdebar-debar, sesak napas) dan makin lama makin menghebat dalam waktu 10 menit. Akan tetapi untuk penyakit gangguan kepanikan nyeri di dada hanya berlangsung 20-30 menit yang kemudian intensitasnya akan menurun.
Sedangkan pada penyakit jantung, nyeri di dada makin lama semakin menghebat. Dari hasil penelitian, pasien dengan keluhan nyeri di dada, tanpa ada kelainan arteri koroner, 30%-nya menderita gangguan kepanikan.
Penyakit gangguan kepanikan ini merupakan gangguan biologis yang sifatnya herediter (menurun). Ada 4 reaksi dasar terjadinya gangguan kepanikan tersebut, yaitu: Reaksi fisiologik yang terjadi pada seluruh sistem organ tubuh manusia termasuk sistem kekebalan. Reaksi kognitif, yaitu adanya rasa bahwa seseorang hampir mati atau takut menjadi gila, respon ini paling tidak menyenangkan pada serangan panik. Reaksi behavioral, yaitu segala hal untuk mengembalikan keadaan semula. Suatu reaksi yaitu melarikan diri dari berbagai trauma. Banyak pasien yang menganggap rumah adalah tempat yang aman dan tidak berani keluar rumah, ada pula yang menganggap rumah sakit atau dokterlah yang paling aman.
Kini penangkal penyakit gangguan kepanikan ini telah ada, (seperti 'Alprazolam' yang telah diakui oleh FDA di Amerika. Obat ini mempunyai khasiat khusus anti panik). Stadium stres menurut Prof. Burrows yaitu pertama, mereka akan mengalami/ditandai adanya sering cemas-takut atau was-was. Kedua, tanda-tanda adanya resistensi atau perlawanan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Ketiga, ditandai dengan hilang kontrol diri dan perilaku yang bersifat merusak lingkungan.
Namun demikian kepanikan jangan membuat rendah diri sebab segi positifnya, orang yang tidak pernah mengalami stres, tidak pernah was-was atau cemas, khawatir atau takut, sehingga sulit diharapkan darinya akan produktif atau prestasi terjadinya tinggi. Eksplansinya sangat sederhana terhadap fenomena ini. Kalau orang tidak pernah cemas, khawatir dan seterusnya, berarti memang ia tidak tahu mengenai apa yang harus dikhawatirkan atau dcemaskan. Dengan kata lain sebenarnya ia tidak tahu apa-apa mengenai pekerjaan yang harus dilakukannya.
Kecemasan dan kekhawatiran terhadap apa yang dikerjakan merupakan indikator yang hakikatnya orang yang bersangkutan memahami persoalan pekerjaan yang sedang dihadapinya. Oleh sebab itu stres awal atau tingkat ringan akan membantu, memacu produktivitasnya kerja seseorang. Sebaliknya stres yang berkelanjutan atau yang berat, justru akan menurunkan produktivitas kerja bahkan bisa merusak.
Karena stres berat akan dapat mengganggu mekanisme dan proses kognitif yang ada pada diri seseorang. Untuk mencegahnya dan upaya untuk meringankan efek stres berat tersebut diperlukan penyegaran baik fisik maupun psikis, perlu komunikasi dan iklim yang baik dan hindari pertentangan atau perdebatan sengit. []
Dipl. Ing. Muhtadi Puradinata
Sumber: Panasea Nomor 63 26 Agustus - 8 September 1993
KITA hidup di dalam dunia yang penuh dengan berbagai macam stres. Penyakit, kesedihan, kecemasan, amarah, ketakutan, keputusasaan dan sebagainya lahir dari jiwa yang dilanda stres. Seperti tubuh yang mempunyai mekanisme pertahanan kala terserang penyakit, demikian pula jiwa, bereaksi dengan berbagai cara, memobilisir berbagai macam mekanisme pembelaan diri bila dilanda oleh stres yang dapat mengancam keutuhan kepribadian. Mekanisme pembelaan ini sesungguhnya hanyalah sebuah cara untuk mempertahankan ekuilibrium (keseimbangan) dalam struktur kepribadian, bertujuan menghilangkan atau setidaknya menjinakkan anxietas (kecemasan) yang dihasilkan oleh situasi emosional yang tidak adekuat tadi.
Kecemasan memang dibutuhkan dalam perkembangan kepribadian sebagai alat pembiasaan yang dapat membawa ke arah kematangan kepribadian. Tetapi jika kecemasan berlangsung dalam waktu lama dengan intensitas yang besar, keutuhan kepribadian dapat terancam.
Berbagai macam mekanisme pembelaan diri dapat lahir dari jiwa yang dilanda stres. Ada yang fisiologis (normal) dan ada yang patologis (tidak normal), dengan kata lain mekanisme pembelaan diri itu disebut fisiologis bila kecemasan yang ada berhasil dihilangkan tanpa menyebabkan gangguan yang berarti pada organisasi kepribadian. Sebaliknya bila mekanisme pembelaan mengorbankan integritas kepribadian maka mekanisme pembelaan diri ini disebut patologis.
Berikut adalah contoh dari beragam mekanisme pembelaan psikologik.
Langsung menghadapi dan membuat penyelesaian terhadap permasalahan yang ada. Contohnya: Ria ingin sekali masuk di fakultas ekonomi pada salah satu perguruan tinggi negeri yang terkenal di kotanya. Tetapi pada saat pengumuman Ria ternyata tidak lulus ujian masuk. Keadaan yang tidak menyenangkan ini dihadapinya dengan terus belajar untuk sukses pada tahun mendatang.
Melarikan diri dari permasalahan. Contohnya: Seperti Ria, Tini juga bercita-cita menjadi seorang sarjana ekonomi. Tetapi pada saat pengumuman Tini ternyata tidak lulus ujian masuk. Keadaan ini membuat Tini kecewa dan berusaha melupakan cita-citanya dengan jalan mengalihkan perhatiannya kepada usaha catering yang dikelola oleh keluarganya. Anto juga sama seperti Tini, tetapi kekecewaan karena tidak lulus ujian membuat Anto melupakan cita-citanya dengan jalan mabuk-mabukan dan pelesiran sana-sini.
Mengadakan kompromi dengan permasalahan. Contohnya: Karena gagal menjadi pemenang pertama dalam sebuah pertandingan olahraga, Ari tetap berusaha, tetapi target yang akan dicapai dikurangi. Ari membuat target baru. Tidak untuk menjadi juara tetapi bisa masuk dalam babak final.
Ketiga macam mekanisme pembelaan diri di atas merupakan mekanisme pembelaan yang realistik, yaitu langsung ditujukan kepada penyebab kecemasan. Berikut adalah mekanisme pembelaan diri yang tidak realistik, yaitu yang tidak langsung ditujukan kepada penyebab kecemasan.
Fantasi. Dengan berkhayal seseorang berusaha mencapai kepuasan. Pada keadaan tertentu mekanisme ini dapat menimbulkan motivasi untuk lebih berusaha dalam mencapai tujuan. Tetapi kalau tanpa disertai motivasi seseorang dapat berubah menjadi pemimpi belaka. Contohnya: karena kalah dalam pertandingan olahraga, kemudian berkhayal menjadi seorang juara yang dipuja masyarakat.
Penyangkalan. Tidak mau menerima kenyataan yang mengecewakan atau menakutkan. Mekanisme ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari dan sangat efektif dalam menghilangkan kecemasan. Contohnya orang akan menutup mata saat terjadi keadaan yang menakutkan di depan matanya, seperti ketika menonton adegan seram dalam sebuah film, ketika menyaksikan rumah sendiri dilahap api atau ketka menyaksikan orang yang dicintai mengalami kecelakaan lalu-lintas. Dalam keadaan ekstrim mekanisme pembelaan ini tampak jelas pada orang yang dengan tiba-tiba menjadi buta total (padahal organ penglihatannya sehat) setelah mengalami trauma psikis hebat yang tidak mampu diatasinya. Tetapi pada saat masalahnya teratasi penglihatan akan pulih seketika. Mekanisme ini juga tampak jelas pada orang-orang yang tidak mau mengakui kekurangan dan kelemahan pribadinya padahal kekurangannya sudah tampak begitu jelas. Inilah sisi jelek dari mekanisme pembelaan diri dalam bentuk penyangkalan karena bagaimanapun kenyataan-kenyataan yang tidak menyenangkan, maupun kekurangan-kekurangan pribadi sering bermanfaat untuk dilihat sebagai suatu pelajaran.
Rasionalisasi. Mekanisme pembelaan ini sering dipakai dalam kehidupan jiwa yang normal untuk membebaskan diri dari kecemasan oleh suatu sebab yang dilakukan dengan cara memberikan suatu pernyataan atau alasan untuk membenarkan diri sendiri. Contohnya, Tika kemarin tidak masuk kantor. Ketika ditanya oleh bosnya Tika berusaha memberi alasan yang dapat membenarkan dirinya seperti alasan anak sakit atau badan terasa kurang sehat.
Intelektualisasi. Mekanisme ini hampir sama dengan rasionalisasi tetapi didasarkan pada cara berpikir yang intelek.
Identifikasi. Pada masa perkembangan kepribadian mekanisme ini memegang tempat yang penting sekali, di mana seorang anak laki-laki mengidentifikasikan diri dengan ayahnya, atau dengan orang yang dikaguminya. Kalau pribadi yang diidentifikasi si anak menunjukkan sikap-sikap yang terpuji maka baiklah perkembangan pribadi si anak, celakanya kalau pribadi yang diidentifikasi jelek maka anak akan cenderung menjadi jelek, karena mekanisme ini merupakan mekanisme penyamaan diri dengan orang lain. Tujuan dari mekanisme ini untuk menarik perhatian orang lain, atau untuk menambah harga diri agar menyamai orang yang diidentifikasinya. Meniru gaya rambut, gaya bicara, cara hidup atau cara berpakaian dari orang-orang terkenal karena kurangnya rasa percaya terhadap diri sendiri termasuk dalam mekanisme jenis ini.
Introjeksi. Mekanisme introjeksi penting sekali dalam perkembangan mental anak, karena melalui mekanisme ini anak memasukkan ke dalam dirinya berbagai nilai moral dan kebiasaan baik yang berusaha ditanamkan oleh orangtua atau pendidik. Mekanisme introjeksi adalah mekanisme pembelaan di mana seseorang memasukkan segala kecemasan ke dalam diri-pribadinya, sehingga dapat timbul perasaan diri bersalah, depresi, membenci diri sendiri bahkan dalam bentuk ekstrim orang dapat melakukan bunuh diri.
Projeksi. Kebalikan dari mekanisme introjeksi, mekanisme projeksi merupakan mekanisme pembelaan di mana segala bentuk kecemasan diprojeksikan keluar dari pribadinya. Contohnya karena tidak lulus ujian guru yang dipersalahkan, atau ketika teman-teman kantor bergurau dan tertawa di dekatnya, dia merasa teman-teman kantornya menertawakan dia sehingga timbul perasaan benci terhadap teman-temannya. Dalam bentuk ekstrim mereka yang menggunakan mekanisme projeksi senantiasa menaruh curiga terhadap lingkungannya, jangan-jangan lingkungannya akan berbuat jahat terhadapnya. Keadaan ini disebut paranoid.
Represi. Represi adalah mekanisme pembelaan di mana materi-materi yang dapat menimbulkan kecemasan ditekan dan diendapkan ke alam bawah sadar, sehingga kecemasan tersebut akan dilupakan secara psikologis. Contohnya Mira lupa tanggal berapa ia kawin karena pada saat perkawinannya terjadi sesuatu yang traumatik.
Supresi. Mekanisme pembelaan ini hampir sama dengan represi, tetapi pada supresi materi-materi yang menimbulkan kecemasan itu dengan sadar dan disengajakan berusaha dilupakan oleh individu. Dilihat dari segi timbulnya penyakit gangguan jiwa represi lebih potensial untuk menimbulkan gangguan jiwa daripada supresi. Contoh dari mekanisme pembelaan supresi adalah sebagai berikut. Karena Titi mengalami kegagalan dalam kehidupan berumah tangga, secara sadar dia berusaha melupakan hal tersebut dan mulai memusatkan perhatiannya untuk hidup baru.
Regresi. Sering terlihat pada anak-anak yang baru mendapat adik, mereka berusaha menarik perhatian dan kasih sayang orangtuanya yang dirasa sudah berkurang karena lahirnya adik, dengan cara kembali menjadi seperti adik, misalnya tiba-tiba ngompol lagi padahal biasanya tidak. Atau tidak bisa makan sendiri lagi, jadi harus disuapi, padahal sebelumnya anak tersebut sudah pintar makan sendiri.
Reaksi Formasi. Reaksi formasi merupakan mekanisme pembelaan dengan cara menampilkan perilaku atau sikap yang berlawanan dengan perasaan yang sebenarnya. Contohnya Eni sangat marah dan membenci bosnya karena dirasanya bos tersebut pilih kasih, tetapi dia tidak berdaya karena dia hanya seorang pegawai biasa, oleh karenanya Eni berusaha menutupi perasaan tidak senangnya dengan berpura-pura bersikap manis dan menyukai bosnya (padahal dalam hatinya Eni selalu memaki-maki bos tersebut).
Salah pindah (displacement). Dalam mekanisme ini kecemasan dihilangkan dengan cara memindahkan kecemasan dari objek yang sebenarnya kepada objek lain yang lebih tidak berdaya. Contohnya karena kena teguran atasan di kantor, setelah pulang ke rumah istri dan anak yang kena marah. Atau pada anak-anak, karena dimarahi ibunya, si anak berbalik marah dan memukul adiknya.
Kompensasi. Mekanisme ini sering digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi kecemasan akibat kegagalan untuk mencapai kepuasan dalam suatu bidang tertentu dengan cara mencari objek pemuasan yang lain. Contohnya: karena kurang pandai di sekolah, seseorang akan berusaha mengembangkan kemampuannya dalam bidang lain misalnya musik atau olahraga agar mendapat kepuasan. Mekanisme ini bisa menjadi negatif kalau kompensasinya pada hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat, contohnya karena selalu ditolak pada saat melamar pekerjaan lalu berubah menjadi pencopet atau penipu.
Sublimasi. Dalam mekanisme ini semua dorongan yang kurang baik dialihkan oleh individu kepada suatu aktivitas atau usaha yang berguna.
Pelepasan (undoing). Mekanisme ini merupakan mekanisme melepaskan isi pikiran atau perbuatan yang tidak disetujui oleh orang banyak dengan cara mengakui hal tersebut atau melakukan sesuatu yang memberi kesan bahwa ia sesungguhnya tidak berbuat sesuatu yang tidak dapat diterima oleh orang banyak. Contohnya seorang pejabat melakukan kecurangan keuangan dalam instansinya dan untuk menutupi kecurangannya dari mata banya orang pejabat tersebut memberikan sedekah pada anak-anak yatim piatu. Dalam tata kehidupan yang biasa, meminta maaf juga merupakan manifestasi dari undoing, dengan alasan lebih baik meminta maaf daripada disalahkan atau dijauhi oleh orang banyak.
Isolasi. Mekanisme pembelaan isolasi melakukan sekat emosional sebagai usaha untuk menghilangkan kecemasan. Sebagai contoh, seseorang yang merasa dirugikan berkata biarlah itu sudah nasib saya.
Acting out (pemeranan). Mengurangi kecemasan akibat sesuatu yang mengecewakan dengan cara mengekspresikannya dalam bentuk yang sebenarnya. Contoh: seorang atasan yang kecewa melihat kesalahan anak buahnya, marah dan membentak-bentak anak buah tersebut untuk menyatakan ketidakpuasannya.
Setelah mengenal berbagai mekansme pembelaan psikologis, mungkin Anda akan lebih maklum dengan tingkah laku orang-orang di sekitar Anda yang kadang memusingkan kepala. Satu hal lagi. Mekanisme jenis apakah yang Anda atau pasangan Anda sering gunakan? [] V. Mandagi
Sumber: Panasea Nomor 4 26 Agustus - 8 September 1993
Siang 2 Februari 2020, di Auditorium Rosada Balai Kota Bandung, ada acara talkshow bertajuk "How to Take Care Our Mental Health" yang diselenggarakan Pemuda Peduli Kesejahteraan Sosial Dewan Pimpinan Cabang Bandung. Sembari menunggu acara dimulai, pada layar di depan diputarkan sebuah film yang memotret penderita depresi. Benar saja, film tersebut dapat saya temukan di Youtube.
Film ini menarik sejak awal, karena si penderita depresi bangun tidur dengan riasan yang cukup tebal. Mungkin, saking depresi, ia sampai lupa atau terlalu malas untuk copot bulu mata sebelum tidur.
MC memeriahkan suasana dengan mengajak peserta berbagi pengetahuan mereka soal kesehatan mental. Ada yang berpendapat bahwa masalah kesehatan mental yang marak belakangan ini di antaranya disebabkan oleh media sosial. Ada juga yang menceritakan tentang temannya yang "depresian banget", mudah galau hanya karena hal kecil. Ketika ia berkunjung ke rumah temannya itu, rupanya keluarganya juga sama-sama "sensitif" dalam pengertian suka main bentak. Ia pun mencoba membawa si teman ke lingkungan yang positif, seperti komunitas.
Tujuan acara ini sendiri--menurut MC yang coba saya kemas dalam bahasa sendiri--yaitu hendak mensosialisasikan kepada para pemuda cara-cara untuk mengatasi permasalahan diri berikut upaya preventif terhadap gangguan mental. Memang tampaknya semua peserta yang hadir di ruangan yang hampir penuh ini berusia muda, mahasiswa atau pelajar. Memang pemuda lah yang rentan terkena penyakit mental. Dengar-dengar, kebanyakan orang yang bunuh diri berusia 15-29 tahun. Kesehatan mental itu sendiri diartikan sebagai ketenteraman batin sehingga dapat beraktivitas dengan baik.
Ketiga pembicara mewakili bidang yang berlainan tapi sama-sama mendukung kesehatan mental:
Dr. Sri Maslihah, M.Psi, psikolog
Dorang Luhpuri, SIP, Ph.D, pekerja sosial profesional dan dosen, serta
Nur Hikmah Maulidyah, pegiat komunitas ISmile4You
Jadi, sesungguhnya kesehatan mental itu bukan cuma urusan psikologi dan psikiatri, melainkan berbagai bidang seperti kesejahteraan sosial. Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial atau Politeknik Kesejahteraan Sosial--yang rupanya merupakan perguruan tinggi kedinasan berlokasi di Dago--seolah-olah menjadi "sponsor" acara ini. Ibu Dorang selaku salah satu pembicara adalah dosen di kampus tersebut. Demikian juga dengan mas moderator, yang ternyata duta mahasiswa kampus itu #ehem.
Dari sudut pandang psikologi
Pembicara pertama, Ibu Sri, yang notabene dosen Psikologi UPI, memberikan kuliah berjudul "Kesehatan Mental: Pengertian, Upaya Preventif dan Kuratif Berbasis Masyarakat". Beliau membuka dengan memutar cuplikan film yang cukup menghebohkan belum lama ini, Joker. Alhamdulillah, video tersebut juga bisa saya temukan di Youtube.
Beliau lalu memaparkan tentang permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia, contohnya yaitu banyaknya penderita skizofrenia yang tidak tertampung di rumah sakit jiwa.
Kemudian ada pengertian-pengertian.
"Mental" diartikan sebagai cara berpikir dan berperasaan menurut nurani yang tecermin pada perilaku. Dalam dunia Islam, urusan "mental" ini agaknya menyangkut soal "hati". Kalau dalam istilah Aa Gym, sepertinya kesehatan mental berarti manajemen kalbu.
Penggunaan kata "jiwa" masih banyak digunakan dalam urusan kesehatan mental. Misalkan, kesehatan mental disamakan dengan kesehatan jiwa, psikiater disebut sebagai dokter ahli jiwa, dan seterusnya. Ibu Sri menerangkan bahwa dalam dunia psikologi sendiri istilah "jiwa" sudah tidak digunakan, sebab rupanya "mental" tidak sama dengan "jiwa".
Bagaimanakah orang yang sehat mental atau "normal" itu? Menurut WHO, yang diadaptasi ke dalam undang-undang atau peraturan pemerintah kita, kurang lebih berarti: dapat menyadari kemampuan sendiri, mengelola stres kehidupan yang wajar, bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan dalam komunitas. Dikutip juga pendapat Assagioli (: psikiater Italia yang baru saja saya googling), yang menyatakan bahwa sehat mental berarti memiliki integritas kepribadian, keselarasan jati diri, pertumbuhan ke arah realitas diri, serta hubungan sehat dengan orang lain.
Sebetulnya ada banyak poin menarik lainnya yang hendak dijabarkan, apalagi yang bersifat praktis, seperti upaya keluarga/masyarakat, upaya pencegahan individual, cara yang tepat maupun yang tidak tepat dalam menangani, langkah-langkah untuk membantu, dan sebagainya. Sayang, saya tidak sempat mencatat semuanya. Satu yang paling saya ingat dari upaya pencegahan individual ialah dengan tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan serta melakukan aktivitas yang disenangi.
Dari sudut pandang kesejahteraan sosial
Kalau Ibu Sri cenderung menyorot kesehatan mental secara umum, Ibu Dorang agaknya mengkhususkan pada contoh kasus yang berat, yaitu skizofrenia. Skizofrenia bisa dibilang sebagai jenis penyakit mental paling berat. Penderitanya kerap mendapat julukan "orang gila". Belakangan, pemerintah tampak mulai mensosialisasikan sebutan yang menghaluskan, yaitu Orang dengan Skizofrenia (ODS) atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Sebelum Ibu Dorang memperkenalkan istilah tersebut kepada peserta acara ini, saya sudah pernah mendengar iklan layanan masyarakat di radio mengenai hal itu.
Siapa pun bisa menjadi ODGJ, akibat gaya hidup jaman now yang semakin sulit, sarat akan tekanan dan persaingan. Awalnya cemas, yang bila parah menjadi depresi, kemudian timbul halusinasi, dan akhirnya menderita skizofrenia; dari Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) menjadi ODGJ. Karena itu, Ibu Dorang bilang, unek-unek sekecil apa pun mesti dibuang secara ikhlas--seperti yang kita lakukan kala duduk atau jongkok di kloset. Ya, Ibu Dorang mengibaratkannya kurang lebih begitu--yang dalam tulisan ini saya kemas dalam bahasa sendiri. Memang penampilan pembicara satu ini sangat kocak, bak stand-up comedian.
Seperti yang sudah diangkat sedikit oleh Ibu Sri, banyak ODGJ yang tidak tertampung di rumah sakit jiwa (RSJ). Ada batas waktu mereka boleh berada di sana. Lewat dari itu, mereka dipulangkan ke keluarga masing-masing. Perawatan di RSJ mungkin kondusif bagi si penderita. Tapi, begitu kembali ke keluarga dan lingkungannya semula, kemungkinan ia kambuh. Sebab, boleh jadi penyebab dia mengidap gangguan tersebut adalah keluarga dan lingkungannya sendiri. Apabila keluarga dan lingkungannya tidak berubah, maka kesembuhannya pun sulit diharapkan.
Satu ODGJ dapat melumpuhkan tiga-empat anggota lainnya dalam keluarga. Tidak mungkin seorang ODGJ dapat pergi berobat sendiri, sehingga dia mesti diantarkan oleh anggota keluarganya, katakanlah ibunya. Jika ibunya mesti pergi mengantar si ODGJ, apabila mereka punya anak kecil, siapakah yang mengurusnya? Maka anggota keluarga yang lain mungkin mesti tidak masuk kerja agar bisa mengurus si anak kecil. Kira-kira begitu.
Dengan keadaan begitu, apabila dalam setiap desa terdapat 20-30 ODGJ, bisa dibayangkan dampaknya. Karena itulah, sesungguhnya gangguan mental merupakan fenomena gawat yang mengancam kesejahteraan bangsa.
Kalau psikiater memberikan obat, sedangkan psikolog terapi, maka pekerja sosial ambil bagian dalam aspek sosiologinya. Sayangnya, pekerjaan tersebut tidak dideskripsikan secara terperinci. Saya hanya bisa membayangkan mereka turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan, meninjau lingkungan, dan sebagainya, di samping berhubungan langsung dengan penyintas beserta perawat ODGJ yang memiliki komunitas tersendiri.
Ibu Dorang mencontohkan cara menangani ODGJ secara tepat, menurut yang diberitahukan oleh seorang penyintas kepada beliau. Yang pertama, kita harus memberikan mereka sentuhan, misalkan di bahu. Sentuhan tersebut untuk menyadarkan mereka pada kenyataan. Kita juga perlu memahami dunianya. Menurut penyintas, ODGJ melihat halusinasi berupa sosok-sosok yang mengoceh tidak keruan. Kita bisa berpura-pura ikut melihat halusinasi tersebut, dengan menyuruh sosok-sosok itu pergi atau berhenti mengganggu si ODGJ. Selain itu, kita mesti memastikan ODGJ patuh minum obat. Sering kali terjadi, di bawah kolong tempat tidur ODGJ ditemukan obat-obat yang tidak terminum. Padahal obat itu krusial sekali bagi pengidap skizofrenia, seperti insulin pada penderita diabetes.
Ibu Dorang juga memberikan langkah-langkah praktis lainnya, sebagai berikut:
Menjadi pendengar yang baik.
Menghindari stres, dengan selalu mengekspresikan perasaan kita kepada orang yang tepat.
Menemui orang yang tepat dan mencari bantuan apabila merasa ada tanda-tanda "tidak beres".
Memahami karakteristik ODGJ.
Menghindari stigma, yang sepertinya berarti tidak memberikan label negatif terhadap gangguan tersebut ataupun penderitanya.
Memberikan dukungan dan memenuhi hak penderita secara terkendali.
Dari sudut pandang komunitas
Pembicara berikutnya punya panggilan akrab Teh Umi. Ia pegiat komunitas ISmile4You, yang salah satu misinya (CMIIW) adalah membawa senyum sebagai perubahan positif. Komunitas ini memiliki tim pendengar (listener), yang merupakan orang-orang pilihan. Tim tersebut punya prinsip hear to listen, not listen to answer. Yang saya tangkap, "listen" berarti "memvalidasi emosi". Misalkan, ada orang yang curhat sama kita. Memvalidasi emosi dia berarti kita mengatakan bahwa kita memahami perasaannya, "tapi" ... kita mesti dapat menyertakan saran yang konstruktif.
Apabila ada orang yang mengatakan hendak bunuh diri, kita juga perlu mengenali penyebabnya. Soalnya, bunuh diri itu bisa dikarenakan beberapa faktor, yaitu biologis (yang berarti hormon serotonin di otaknya sedang turun atau tidak ada), psikologis, atau sosial. Dengan mengenai penyebab tersebut, sepertinya kita bisa memikirkan cara penanganan yang tepat. Misal, apabila penyebabnya biologis, boleh jadi dia perlu diberi zat tertentu yang mengandung hormon serotonin dan oleh karena itu membawanya ke psikiater mungkin tindakan yang tepat. Apabila penyebabnya psikologis, psikolog mungkin dapat menjadi sarana yang pas. Apabila penyebabnya sosial, mungkin kita perlu membawa dia ke lingkungan lain yang positif.
Menurut Teh Umi, yang katanya bersumber dari WHO, hanya perlu 40 detik untuk mengalihkan emosi. Misalkan, ada orang yang bilang hendak bunuh diri kepada kita. Dalam 40 detik itu, apabila diberikan cara yang efektif, dia dapat berubah pikiran.
Tidak banyak yang saya catat pada segmen ini, di samping tidak ada slide. Setelah saya googling, tampaknya sudah ada cukup banyak informasi tentang komunitas ISmile4You ini apabila masih penasaran. Sesi tanya jawab Bagaimana cara menangani teman yang punya masalah mental sementara teman-teman lain sudah pada menyerah dengan dia?
Kalau mau menyelamatkan orang lain, kita mesti terlebih dahulu melihat keadaan diri sendiri. Jangan sampai kesehatan mental kita sendiri terancam. Kalau masalahnya serius, sebaiknya langsung saja mendatangi pihak yang profesional. Cuma psikiater yang dapat mendiagnosis apakah seseorang memang mengalami depresi.
Kampus tertentu seperti Universitas Padjajaran (Unpad) dan Politeknik Kesejahteraan Sosial menyediakan layanan konseling. Untuk Unpad yang berada di Jatinangor, layanannya khusus untuk mahasiswa dan tidak berbayar. Layanan dari Unpad yang berbayar tampaknya bisa diakses masyarakat umum, letaknya di Dago, dekat Hotel Jayakarta. Apabila memerlukan psikiater (berbayar), bisa mendatangi Grha Atma di Jalan Riau 11.
Apakah dibentak-bentak dalam masa orientasi siswa baru dapat memengaruhi kualitas mental?
Menurut Teh Umi, tidak ada penelitian bahwa bentakan dapat memberikan manfaat.
Adakah cara coping yang bukan dengan menghindari, melainkan menyelesaikan?
Ada berbagai cara untuk coping, dari mulai berkompromi sampai menarik diri. Bahkan memaafkan pun termasuk cara coping. Satu cara yang baik dicoba adalah assertive training, yang berarti meraih kemampuan untuk menyampaikan secara apa adanya namun proposional dan santun, tanpa merendahkan orang lain ataupun diri sendiri.
Simpulan dan kaitan dengan pengalaman pribadi
Kesehatan mental merupakan isu yang menarik buat saya pribadi. Sebelum isu tersebut ramai di media, saya sudah penasaran untuk mendatangi pihak yang profesional. Ketika saya benar-benar mengalami suatu masalah yang tidak dapat saya tanggung lagi sendiri, saya pun mencoba mencari informasi.
Singkat cerita, dalam kurun waktu tertentu, saya mendatangi dua tempat. Di satu tempat, saya menemui seorang psikolog sampai beberapa kali. Tempat yang lain yaitu Jalan Riau 11. Sewaktu saya masih kecil, lokasi yang kedua ini kerap menjadi bahan olokan anak-anak karena identik dengan "rumah sakit jiwa". Memang, kalau tidak salah, Grha Atma merupakan nama baru untuk menghaluskan stigma yang kurang enak itu.
Di Grha Atma, saya menemui psikiater beberapa kali dan psikolog satu kali. Terus terang, saya tidak meneruskan datang di samping karena keterbatasan biaya, juga karena meragukan efektivitasnya. Sebenarnya, biaya untuk psikiater dan obatnya cukup murah. Obat yang mahal paling-paling yang sejenis mood stabilizer, tapi dalam kunjungan berikutnya resep saya diganti sehingga tidak perlu membelinya lagi. Yang lebih mahal justru psikolognya, untuk terapi, tes, dan segala macam.
Meski begitu, pengalaman tersebut bukan berarti tidak berharga sama sekali. Sedikitnya, saya jadi mendapatkan gambaran akan cara kerja mereka. Saya juga mengamati dan menguping percakapan atau gerak-gerik pasien lain yang cukup "unik". Ada yang bicara sendiri, seolah-olah ada makhluk kecil di depannya. Ada yang sedikit-sedikit meledak sambil memaki-maki. Ada yang mengaku kembali mendengarkan suara-suara setelah lama tidak, dan ia menyebutnya sebagai "suara Tuhan".
Selain itu, obat-obatan yang diberikan psikiater agaknya memang memiliki efek tertentu yang walaupun tidak sesuai dengan harapan, namun secara tidak langsung memberikan hasil yang di luar dugaan. Bingung? Intinya kurang lebih, setelah sekitar dua bulan saya berhenti minum begitu saja, mengalami efek yang luar biasa, sehingga menimbulkan perubahan tertentu dalam hidup saya.
Setelah menceritakan pengalaman ini secara garis besar kepada teman-teman, tidak disangka, ada beberapa di antara mereka yang kemudian bertanya lebih lanjut. Tampaknya diam-diam mereka juga memiliki masalah dan penasaran ingin meminta penjelasan atau bantuan dari pihak lain. Saya hanya bisa memberitahukan tentang tempat-tempat yang pernah saya datangi, serta saran untuk mengunjungi psikolog terlebih dahulu alih-alih langsung ke psikiater. Kepada psikolog, barulah kita bisa menanyakan apakah masalah kita perlu sampai dikontrol oleh obat. Soalnya, kemungkinan psikiater pasti akan memberikan obat yang belum tentu cocok untuk kita. Saya sendiri sempat mengalami semacam efek samping sehingga memeriksakan diri lagi ke puskesmas dan diberikan obat lainnya.
Selain itu, mendatangi pihak yang profesional sudah pasti membutuhkan biaya. Kemungkinan masalah kita tidak akan terpecahkan hanya dengan sekali kunjungan. Boleh jadi mereka akan menganjurkan kunjungan berkelanjutan, yang berarti pengeluaran terus-terusan. Meski begitu, kalau ada rezeki, bisa saja kita coba datang barang sekali-dua kali sekadar untuk memupus penasaran. Hanya saja, persiapkanlah mental yang kuat kalau-kalau tanggapan dari mereka justru malah semakin menjatuhkan alih-alih mengangkat. Aneh, bukan? Kita mendatangi mereka karena merasa mental kita bermasalah, tapi untuk mendatangi mereka kita perlu mental yang kuat.
Nah, pengalaman pribadi saya tersebut adakalanya relevan dengan yang diungkit dalam talkshow ini. Misalnya, ketika Ibu Dorang mengungkapkan bahwa banyak pasien yang tidak berobat karena berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Pihak yang profesional pun tidak memiliki kesempatan untuk mengulik permasalahan kita sampai ke akarnya. Padahal, bisa jadi yang bermasalah itu bukan hanya si penderita, melainkan juga lingkungannya (dan di sinilah peran pekerja sosial).
Atas kenyataan itulah, penting untuk bisa menjaga kesehatan mental pribadi. Tapi, bukan berarti kita hanya mengurus diri sendiri. Secara langsung atau tidak langsung, boleh jadi kita sendiri berperan terhadap kesehatan mental orang lain. Mungkin saja, tanpa disadari, kita memiliki perilaku yang menjadi sumber tekanan batin bagi orang lain. Para pembicara talk show ini pun berpesan agar tidak meninggalkan mereka yang tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri, sebab kitalah harapan mereka. Jadi, sepertinya kita perlu saling menjaga.
Yentl
-
Oleh Isaac Bashevis Singer ISAAC BASHEVIS SINGER, pemenang Nobel Sastra
1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di… Read more Yentl
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan
-
Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk
meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan
berle...