Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juni 2023

Sudahkah kamu menangis pagi ini?












Tiap kali makan gorengan (dari kelapa sawit) atau pakai perangkat listrik (dari batu bara), ingatlah kezaliman yang secara tidak langsung tanpa disadari telah kita perbuat pada orangutan di menit 2:59 - 3:06 video ini.


Ini baru satu contoh.

Gambar diambil dari situs Hati Senang.

Did you ever stop to noticeAll the blood we've shed before?Did you ever stop to noticeThis crying Earth, these weeping shores?

(Salah satu video klip yang bikin mewek.
Tidak pernah tahan menontonnya sampai selesai.)

Masih senang hidup di muka bumi ini? Masih mau terus mengonsumsi tanpa menelusuri potensi kerusakan yang ditimbulkan sepanjang rantai produksi dan distribusinya? Masih mau menambah kerusakan dengan tidak mengambil tanggung jawab atas sisa konsumsi? 

Terasa beratnya beban sebagai rahmatan lil alamin.

Gambar dari situs Brainly.

Gambar dari Facebook.

Gambar dari Flickr.

Selasa, 30 Mei 2023

Belalang Sahabat Ilalang--Reeds' Friend Grasshopper

Gambar di-screenshot dari Ipusnas.
Penulis : Bambang Joko Susilo
Cetakan I : Maret 2010
ISBN : 978-979-063-153-3
Penerbit : Bestari Kids, Jakarta

Menemukan buku ini ketika lagi mencari tentang pestisida di Ipusnas. Buku ini merupakan bacaan untuk anak-anak yang ditulis dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris), dilengkapi dengan ilustrasi berwarna-warni, dan tebalnya hanya 25 halaman sehingga dapat ditamatkan dalam sekejap. 

Yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah amanatnya yang dari membaca sinopsisnya saja sebetulnya sudah langsung tertangkap. Amanat ini mengajarkan realita mengenai kodrat kehidupan di dunia. Tuhan memang tidak menciptakan kesia-siaan, tapi sudah kodratnya pula bahwa sesama makhluk mesti saling memangsa, saling menyerang, saling mengancam kehidupan satu sama lain meskipun di sisi lain di antara mereka juga ada yang saling melindungi, saling bermanfaat. 

Sebetulnya saya tidak ada catatan khusus untuk buku ini, hanya ingin merekamnya di sini karena amanatnya saya sukai. Seperti mengajarkan untuk tegar saja dengan kenyataan hidup, terima saja karena demikianlah siklus alam. Kamu hanya bagian kecil dari padanya, berbuat sekadar menuruti kodratmu. Kalau patah, tumbuhkanlah lagi. Kalau hilang, nanti ada yang menggantikan. Sepintas tampak tak berarti, tapi kemestian eksistensi tak dapat diingkari. Kita semua ada gunanya dalam kehidupan ini, dengan berbagai cara walau tak semua punya keluasan pandang untuk dapat memahaminya.

Minggu, 11 September 2022

Sebuah Pengingat

Di buku Cognitive Behavioural Therapy for Dummies (oleh Rob Willson dan Rhena Branch, John Wiley & Sons, Ltd, 2006), ada bab yang berjudul "Spotting Errors in Your Thinking". Satu cara untuk mengetahui adanya kekeliruan dalam berpikir adalah dengan menulis catatan harian kemudian membacanya disertai dengan kesadaran. Tentu sebaiknya terlebih dahulu kita sudah mengetahui tentang tipe-tipe kekeliruan dalam berpikir itu agar dapat mengenalinya. 

Sebenarnya bukannya saya hafal semua tipe kekeliruan berpikir menurut buku CBT for Dummies itu. Jadi saya perlu menengok lagi isi bab "Spotting Errors" tersebut, dan sepertinya kekeliruan yang saya temukan berikut ini termasuk ke tipe "fortune-telling". 

01 Juni '03
Dan kayaknya besok, besok, dan seterusnya nggak akan jadi hari yang baik. Sampai tiba kelas 2, dan keadaannya nggak ada yang berubah. Selalu kayak gitu. Bosen, kan? Seandainya SMP-ku ini lebih nyenengin atau lebih gimanaaa gitu. Firasatku, sih, kayaknya sampai kelas 3 pun, aku nggak bakal punya temen deket di SMP. Menyedihkan banget. Aku mesti bersabar sampai SMA yang keadaannya mungkin nggak jauh beda. Atau sampai perguruan tinggi?

Saya telah tamat membaca semua diary SMP saya dan menemukan bahwa yang saya ramalkan pada kelas 1 itu tidaklah benar. Di kelas 2, keadaan berangsur-angsur berubah. Walau kadang-kadang masih merasa kesepian, pada akhirnya saya bisa memiliki teman(-teman) curhat di samping untuk jalan-jalan. Malah di kelas 3 saya punya sekelompok teman yang bisa dibilang cukup dekat bahkan kami menjalankan suatu hobi kreatif bersama-sama. Terjadi momen-momen nikmat yang masih dapat menghibur saya sekarang ini ketika membacanya. Firasat saya tidak terbukti. Keadaan tidak melulu membosankan lagi menyedihkan, walau tidak mungkin juga untuk selalu menyenangkan. Namanya juga hidup :v

Keadaan di SMA dan perguruan tinggi pun berbeda. Saya tidak lagi sepasif di SMP. 

Nyatanya, sampai sekarang ini, hampir dua dekade setelah saya menulis catatan itu, hidup masih berlangsung dengan sewajarnya: ada hari-hari baik dan ada juga hari-hari buruk. Dari waktu ke waktu, ada saja orang yang bisa dianggap sebagai "teman" untuk diajak/mengajak mengobrol termasuk curhat intens entahkah dengan bertemu langsung atau lewat chatting dan telepon. Saya belajar bahwa teman tidak mesti orang yang itu-itu saja yang bertahan dalam jangka waktu lama, mereka bisa siapa saja yang datang dan pergi kapan saja. 

Keberadaan teman supaya hidup lebih menyenangkan dan tidak senantiasa membosankan lagi menyedihkan itu tentunya tidak lepas dari upaya-upaya dari dalam diri, misalnya dengan:
1. Berinisiatif mengajak orang lain berkenalan terlebih dahulu ketimbang menunggu didekati,
2. Unjuk kemampuan sebagai umpan yang menarik orang untuk mau berinteraksi, 
3. Mengikuti kursus-kursus memungkinkan untuk memperoleh teman untuk keep contact setelahnya, apalagi jika ternyata memiliki kemiripan nasib #eh,
4. Sengaja mencari di aplikasi chatting, misalnya Bottled.

Tentunya dengan mengingat bahwa sesungguhnya tiada daya upaya selain karena Allah :v 

Kalau dari sudut pandang tazkiyatunnafs, sepenggal catatan di atas mungkin merupakan perwujudan dari penyakit "berprasangka buruk kepada Allah" serta "berpanjang angan-angan (buruk)". Timbulnya ramalan buruk itu sepertinya karena situasi hidup saya waktu itu yang agak gonjang-ganjing. Namun bukannya optimistis dengan berdoa kepada Allah meminta teman dekat serta berusaha berperilaku yang manis kepada anak-anak di sekitar (eh, sebetulnya saya tidak ingat bagaimana persisnya saya menanggapi mereka) diiiringi dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan saya terus nelangsa begitu, saya malah pesimistis dengan membayangkan situasi akan berlangsung permanen tanpa perubahan entahkah dari luar atau dari dalam diri. Kalaupun ada satu sifat positif yang bisa saya temukan, ialah kesadaran untuk bersabar ._.

Yah, bisa dimaklumi yang namanya ABG itu suka bersikap lebay. Entri tersebut mungkin sekadar ekspresi kelebayan saya yang baru saja mengenal dunia, belum banyak mempelajari bagaimana harus menyikapi yang memang memerlukan waktu serta percobaan dan pengalaman. 

Anyway, baru-baru ini, saya membaca suatu komentar di YouTube bahwa menjadi pesimis itu sesungguhnya menguntungkan dari kedua sisi, sebab entahkah pemikiran buruk itu benar (ada kesenangan dalam merasa benar), atau, kalaupun kenyataan yang terjadi sebaliknya (yang datang malah kebaikan), maka itu bakal menjadi kejutan yang tidak kalah menyenangkan. Memang, menyadari bahwa kenyataan yang terjadi tidaklah seburuk yang dibayangkan itu lumayan menyenangkan sih, wkwkwk.

Tentunya, di samping meramalkan yang buruk-buruk, pada waktu itu juga saya banyak mengkhayalkan yang muluk-muluk. Alih-alih merasa anjlok gegara pada enggak kesampaian, itu malah jadi bahan tertawaan saya ketika membacanya sekarang semacam momen gile-lu-ndro! begitulah XD Yah, mungkun pada waktu mengkhayalkannya pun saya sudah sadar bahwa itu enggak bakal kesampaian, dan karena itulah saya hanya bisa mengkhayalkannya untuk sedikit menghibur diri, huhuhu.

Jadi, memang pada akhirnya banyak di antara bayangan-bayangan yang muncul--entahkah buruk ataupun muluk--tetap menjadi sekadar bayangan. Dan, hal apa pun itu bisa dijadikan bahan untuk bersyukur, termasuk tabiat negatif di masa lalu yang menggelikan kalau dimiliki seorang ABG (contoh lainnya seperti dalam serial Diary of A Wimpy Kid dan Lupus ABG) tapi jadi komedi suram kalau masih ada pada seorang "dewasa", wkwkwk. Kalau dipandang secara serius, sepertinya itu tanda bahwa masih ada ABG di dalam jiwa yang memerlukan pembinaan. Hmmmhhh ....

Minggu, 20 September 2020

Mendidik Jiwa Lewat Berkebun

Sebagai orang kota, dalam pertumbuhannya saya tidak begitu akrab dengan alam. Alam sekadar pohon-pohon perindang di tepi jalan, taman, halaman rumah, dan semacamnya, sekadar latar bagi kehidupan yang cenderung berorientasi pada bangunan buatan manusia: rumah, sekolah, mal ....

Berkebun yang baru saya coba tahun-tahun ini, pada usia yang dikatakan sudah dewasa, saya rasakan sebagai suatu pendidikan karakter. Terus terang, berkebun saya rasakan lebih sebagai suatu kewajiban ketimbang passion. Ibarat anak kecil yang mesti terus-menerus didorong untuk bangun pagi, makan teratur, bobo siang, sikat gigi sebelum tidur, dan sebagainya, berkebun memaksa saya untuk belajar membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. 

1. Bersyukur

Tuhan melimpahkan nikmat kepada manusia, dan manusia mesti mensyukurinya. Bagaimanakah caranya? Di antaranya dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk kepentingan hidupnya.

Hasil panen kompos pertama,
belum terurai dengan baik.
Saya punya waktu luang. Saya tinggal di rumah dengan balkon-balkon dan halaman yang cukup luas. Saya punya sedikit uang untuk membeli media tanam dan biji tanaman. Malah, biji bisa diperoleh secara cuma-cuma dari bahan masakan sehari-hari (misalnya cabai, kacang, dan sebagainya). Air untuk siram-siram pun ada. Sampah terus menerus dihasilkan; yang organik bisa dijadikan pupuk, sedangkan sebagian yang plastik untuk wadah tanaman  Inspirasi untuk berkebun berdatangan dari mana-mana. Sayang kalau semua itu tidak dimanfaatkan ....

2. Disiplin dan bertanggung jawab

Rutin menyiram tanaman setiap hari adalah pencapaian tersendiri. Betapa tidak. Adakalanya kemalasan menyerang. Kalau tidak berhasil mengalahkannya, bisa-bisa tanaman pada mati kekeringan. 

Tiap kali kemalasan melanda, saya mengingatkan diri bahwa tanaman itu sudah dikasih nyawa. Kamu sudah menumbuhkannya, dengan menanamnya dan menyiraminya pada waktu kamu lagi semangat-semangatnya berkebun. Sekarang kamu malas, dan ingin membiarkannya begitu saja? Rasa-rasanya seperti kamu memutuskan untuk punya anak sehingga hamil dan lalu melahirkan. Tapi sudah begitu bayi itu kamu diamkan saja, tidak disusui atau apa. Kan tega amat, tidak bertanggung jawab. Menyirami tanaman tiap hari merupakan tindak lanjut paling minimal. Paling, karena sebetulnya mesti diberi pupuk dan diawasi dari hama juga.

3. Menghargai

Hasil panen minggu ini.
Mungkin ini kedengaran aneh. Orang berkebun biasanya senang ketika akhirnya bisa panen dan menikmati hasil menanam sendiri. Saya justru malas, baik dalam memanen maupun memakan atau mengolah hasilnya. Padahal proses sampai bisa panen itu telah memakan pengorbanan tersendiri, mulai dari menyiapkan media dan wadah tanam, menyeret diri agar rutin menyiram, dan seterusnya. Akibat kemalasan itu, sebagian tanaman pun keburu dilalap hama. Yah, bisa saja menganggapnya sebagai sedekah, sengaja menanam untuk memberi makan makhluk-makhluk lain sesama ciptaan Tuhan. Tapi, please deh! Setidaknya sisihkan sebagian besarnya sebagai reward atas usahamu selama ini. Toh katanya sebaik-baik rezeki adalah hasil jerih payah sendiri, bukan?

Tentunya ini bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan, yang telah menjadikan tanaman itu tumbuh sampai layak panen. Bahkan, sesungguhnya nikmat tersebut bukan hanya berupa tanaman yang sengaja ditanam melainkan juga tumbuhan liar yang ternyata dapat dimakan. Contohnya, di sekitar rumah saya, tumbuh sirih cina dan mengkudu tanpa ada yang sengaja menanamnya.

4. Proporsional

Saya tidak begitu yakin akan mana istilah yang tepat untuk yang satu ini. Intinya sih menyangkut pengendalian hama. Saya pernah mendengar bahwa hama itu dikendalikan, bukan dibasmi. Hama pun berhak atas yang kita tanam, asal tidak kebanyakan. Ibarat kita bekerja atau berbisnis, lalu uang yang kita hasilkan dari situ mesti disisihkan untuk zakat dan pajak. Lebih dari itu boleh saja, dianggap sebagai sedekah. 

Hasil panen ecoenzyme.
Karena aromanya kurang sedap,
sepertinya akan dijadikan
pupuk dan pestisida saja. 

Namun agama juga mengajarkan supaya tidak terlalu mengulurkan tangan atau kita akan merugi. Begitupun dalam berkebun. Bersedekah untuk hewan-hewan kecil itu boleh saja, tapi rugi dong kalau semuanya habis sama mereka? Perhatikanlah dirimu sendiri, yang sebetulnya poin 3.

Nah, untuk menjaga supaya bagian kita tidak dijarah oleh yang kurang berhak, kita mesti rajin-rajin memantau dan tentunya mengambil tindakan dengan menyemprotkan pestisida. Pestisida yang digunakan tentu saja yang ramah lingkungan. Ibarat ada peminta-minta dan kita tidak hendak memberi dia uang, maka sebaiknya kita tidak menghardik tapi menolak dengan halus dan tidak menyakitkan(?)

.

Begitu dulu yang terpikirkan oleh saya. Berkebun lebih dari sekadar untuk ketahanan pangan, yang sepertinya sebatas pada fisik. Berkebun bukan sekadar memupuk tanah untuk menyuburkan tanaman, melainkan juga memupuk jiwa untuk menyehatkan pribadi. Walau katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar, saya merasa sayang baru menyadari hal tersebut sekarang ini. Seandainya saja sedari kecil saya sudah dididik untuk menghayati sikap-sikap tersebut dengan cara berkebun ....

Selasa, 25 Agustus 2020

Mau Jadi SJW? Tonton Dulu Film Ini!

Sepintas saya melihat cuplikan thumbnail film ini di layar HP. Biasanya saya abaikan saja rekomendasi dari YouTube itu. Tapi, kemudian sebuah pesan datang dari teman chat saya di AS. Dia berbagi sebuah link, yang dia peroleh dari teman chat-nya yang lain dari Indonesia. Teman chat-nya itu tinggal di Wonogiri dan bilang bahwa film itu menggambarkan kehidupan di tempatnya, khususnya budaya menjenguk orang yang sakit.

Teman chat saya membocorkan bahwa film ini dimulai dengan pergosipan, suatu topik yang pernah kami bicarakan dan dia ingat bahwa saya tidak menyukainya. Untuk menghargai teman chat saya itu, saya pun mengeklik link tersebut dan terbukalah film ini di YouTube.  Wow, tak kusangka rupanya berjodoh dengan yang tadinya cuma terlihat sambil lalu dan tertepikan. Malah, akhirnya saya membagikan link film ini ke beberapa teman lain.


Film ini menjadi istimewa buat saya karena beberapa hal berikut:

Latarnya di Jogja, sehingga nostalgia

Dialog yang hampir semuanya berbahasa Jawa, plat truk yang ternyata AB, pelang yang menunjukkan bahwa mereka baru keluar dari Bantul, dan detail lainnya, membangkitkan suasana yang pernah familier buat saya. Maklum saja, dulu saya kuliah di Jogja.

Sudah begitu, tampang tokoh-tokoh utamanya sendiri entah kenapa kok mirip dengan beberapa orang yang saya kenal di kampus. Akting mereka pun terasa natural, meyakinkan.

Genrenya yang komedi satire, kesukaan saya

Sepanjang cerita, ada saja hal yang bikin saya ketawa. Seiring dengan bergulirnya dialog, saya merasakan bahwa film ini bukan sekadar hiburan melainkan potret perilaku manusia. Kemasannya sih sederhana. Peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak begitu luar biasa, malah mungkin sangat akrab bagi masyarakat dari latar tertentu. Dialog yang lebih banyak bermain dengan tajamnya, membungkus konflik yang sesungguhnya pelik.

Rumusnya: Lucu, tapi menyentil. Sederhana, tapi pelik. 

Apanya yang menyentil sekaligus pelik?

Seperti yang telah dibocorkan teman chat saya, film ini dibuka dengan pergosipan. Sekelompok ibu-ibu berjilbab sedang dalam perjalanan di atas truk untuk menengok Bu Lurah yang dirawat di rumah sakit. Dalam situasi itu, si tokoh "jahat", sebut saja Bu Tejo karena memang demikian nama perannya, mengisi waktu dengan menggosipkan Dian--kembang di kampung mereka. Seorang ibu-ibu lain, Yu Ning, tampak gerah mendengarnya. Berkali-kali Yu Ning menimpali agar Bu Tejo tidak asal membicarakan orang, karena bisa saja itu fitnah.

Jilbab termasuk ucapan-ucapan religius yang menyelip di percakapan mereka menunjukkan bahwa mereka umat Islam. Seorang muslim yang cukup belajar agama tentu tahu bahwa gibah dan fitnah merupakan dosa. Maka sikap Yu Ning terhadap Bu Tejo bisa dianggap merupakan amar ma'ruf nahi munkar (: menyuruh kepada kebaikan, dan mengajak menjauhi keburukan).

Tapi kemudian terkupas bahwa tiap-tiap karakter itu mungkin punya motif tersembunyi. 

AWAS SPOILER!!!

Suami Bu Tejo rupanya hendak mengajukan diri sebagai lurah. Mungkin dia menjelek-jelekkan Dian--yang notabene punya hubungan dengan Bu Lurah--untuk menyingkirkan pesaing.

Yu Ning sendiri rupanya masih bersaudara jauh dengan Dian. Jadi, apakah dia murni ber-amar ma'ruf nahi munkar atau sekadar menyelamatkan muka keluarganya?

Truk yang mereka tumpangi pun akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. Mereka disambut oleh Dian, yang dari tadi jadi bahan gosip itu. Selain itu, ada Fikri--anak Bu Lurah. 

Dian dan Fikri lalu menjelaskan bahwa Ibu Lurah belum bisa dijenguk karena masih dirawat di ruang ICU.

Ibu-ibu pun pada kecewa.

Yu Ning merasa bersalah karena dia lah yang mengusulkan untuk menjenguk Bu Lurah.

Untuk mengobati kekecewaan ibu-ibu, Bu Tejo mengajak agar mereka sekalian jalan-jalan ke Pasar Beringharjo.

Ibu-ibu pun pergi. Namun cerita belum berakhir. Film ditutup dengan adegan singkat yang menunjukkan bahwa ... Dian memang seperti yang digosipkan oleh Bu Tejo itu.

Akhir yang menghentak, menurut saya. Seketika, timbul di pikiran saya, jangan-jangan film ini beramanat agar:

JANGAN JADI SJW.

SJW atau Social Justice Warrior adalah istilah yang kerap saya temukan di internet belakangan ini. Istilah ini merujuk pada orang-orang yang doyan "membela kebenaran dan keadilan", eh, maksudnya, mendesakkan standar moral mereka kepada orang lain. Dalam film ini, tokoh Yu Ning bertindak sebagai SJW dengan berkali-kali menegur Bu Tejo yang demikian asyik bergosip. Belum cukup, setelah truk mereka sempat mogok, Yu Ning menyinggung Bu Tejo yang tidak ikut mendorong kendaraan bersama ibu-ibu lain. Bagi yang memahami kacamata Yu Ning, tentu mudah mengklaim Bu Tejo sebagai tokoh antagonis yang kerap didentikkan dengan sifat jahat. 

Namun cerita malah diakhiri dengan memberikan kemenangan kepada Bu Tejo, baik yang disadari maupun tidak. 

Yang disadari adalah ketika ternyata Yu Ning juga termasuk pemberi kabar yang "enggak jelas", seperti menjilat ludah sendiri. Maksudnya, tidak jelas apakah Bu Lurah yang sakit itu sudah bisa dijenguk atau belum. Semestinya Yu Ning mengonfirmasikan terlebih dahulu bahwa Bu Lurah memang sudah siap untuk dijenguk. Tapi, yah, HP-nya juga kehabisan baterai dalam perjalanan. Apes. Kemenangan itu ditegaskan Bu Tejo dengan memanfaatkan situasi, mengambil hati ibu-ibu lewat usul jalan-jalan ke Pasar Beringharjo.

Yang tidak disadari, yaitu bahwa Dian memang berkencan dengan laki-laki yang jauh lebih tua. Seandainya Bu Tejo tahu, tentu dia jauh lebih senang lagi--merasakan kemenangan ganda.

Kaitan dengan bacaan

23 Agustus tampaknya hari adab amar ma'ruf nahi munkar sedunia. Paginya, saya membaca tafsir Quran Surat Al-Baqarah ayat 44. Siangnya, saya membaca The Daily Stoic: 366 Meditations on Wisdom, Perseverance, and the Art of Living (Ryan Holiday dan Stephen Hanselman, Portfolio, 2016) entri 23 Agustus. Malamnya, saya menonton film ini. Semuanya ternyata berkaitan.

Al-Baqarah ayat 44 berbunyi sebagai berikut:
"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?"
Saya membaca tafsirnya di aplikasi yang memuat versi Kemenag RI dan Ibnu Katsir. Tafsir tersebut menjelaskan latar belakang turunnya ayat ini, yaitu mengecam perilaku beberapa orang Yahudi yang menasihati keluarga dan kerabatnya agar tetap memeluk agama Islam, namun mereka sendiri tidak mengamalkannya. Dengan begitu mereka telah merugikan diri sendiri. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa mereka seolah-olah tidak berakal. Sebab, masakkah orang berakal tidak mengamalkan ilmu pengetahuannya? Ayat ini agar menjadi pelajaran bagi setiap bangsa, bukan hanya Bani Israil yang pembaca Taurat.

Lebih jauh, tafsir Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan perintah amar ma'ruf nahi munkar. Menyuruh kepada kebaikan dan mengajak menjauhi keburukan merupakan kewajiban bagi setiap orang yang berilmu, tapi lebih wajib lagi bagi dia untuk mengamalkannya.

Selanjutnya, seperti biasa, pembacaan tafsir jadi membingungkan karena ditampilkan berbagai pendapat ulama, di antaranya:
Malik ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'id ibnu Jubair berkata, "Seandainya seseorang tidak melakukan amar ma'ruf, tidak nahi munkar karena diharuskan baginya bersih dari hal tersebut, niscaya tidak seorang pun yang melakukan amar ma'ruf, tidak pula nahi munkar." Malik berkata, "Dan memang benar, siapakah orangnya yang bersih dari kesalahan?"
Masuk akal memang.

Tapi sepertinya itu menunjukkan kealiman yang belum paripurna. Namanya orang berilmu, mestinya dia mengetahui akibat dari meninggalkan ketaatan dan mengerjakan kemaksiatan. Orang cerdas mana yang mau merugikan diri sendiri? Tafsir ini secara keseluruhan cenderung pada pendapat bahwa amar ma'ruf nahi munkar wajib dilakukan dengan juga mengamalkannya secara pribadi.

Selanjutnya ditambahkan hadis-hadis yang menggambarkan kejamnya siksaan di akhirat terhadap para tukang ceramah di dunia yang tidak mengamalkan seruannya sendiri, padahal mereka membaca Quran!

Lewat Quran, Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca dan berpikir--menyempurnakan akal. Dengan begitu, manusia dapat memperoleh ilmu yang dapat menghindarkan dirinya dari kerugian. The Daily Stoic seperti motivasi harian untuk menjalankan ibadah itu, khususnya untuk entri 23 Agustus yang seperti perpanjangan dari Al-Baqarah ayat 44.

Entri ini berjudul "IT'S IN YOUR SELF-INTEREST", yang kalau boleh saya terjemahkan secara bebas, berarti "DEMI KEPENTINGANMU SENDIRI". Entri ini mengilhamkan bahwa dalam melakukan "amar ma'ruf nahi munkar" (tentu saja mereka tidak menggunakan istilah itu), daripada menceramahi atau mengkhotbahi atau menguliahi atau menggurui (meski ada juga sih orang-orang yang senang mendengarkannya), mengatakan bahwa "itu dosa" atau "buruk", berkoar-koar soal moral ... lebih baik jelaskan akibat, dampak, konsekuensi dari perbuatan tersebut, bagaimana itu akan merugikan kepentingan mereka sendiri pada akhirnya.
And what happens when you apply this way of thinking to your own behavior?
Nah, pada akhirnya, kembali pada diri sendiri terlebih dahulu. Keburukan-keburukan apakah yang masih kita lakukan? Apakah akibat, dampak, konsekuensinya di kemudian hari? Bacalah, pikirkanlah, jadilah orang berilmu yang dapat menghindarkan diri dari akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan itu, dan sampaikanlah dengan cara yang "aman". Rumusnya:
  1. Amalkan sendiri terlebih dahulu selama beberapa waktu.
  2. Amati, resapi, dan renungkan yang dialami.
  3. Bagikan pengalaman tersebut kepada orang lain, dengan nada bercerita dan reflektif alih-alih menasihati. Kita tidak menyeru dia agar harus begini atau jangan begitu, tidak. Kita hanya "curhat", atau menceritakan pengalaman seseorang yang sebut saja namanya Mawar supaya tidak dikira membongkar aib sendiri. Biar orang itu sendiri yang menarik pelajaran tersirat. Biarkan dia sendiri yang memberdayakan akalnya. Itu tanggung jawabnya sebagai manusia.
Kembali kepada Yu Ning

Film ini tidak menunjukkan apakah Yu Ning pernah menghadiri pengajian yang membahas tafsir Al-Baqarah ayat 44, juga tidak ada adegan dirinya membaca The Daily Stoic entri 23 Agustus. Malah, kita tidak bisa yakin apakah Yu Ning memang amar ma'ruf nahi munkar dengan menghardik orang bergibah, karena terungkap bahwa dia ternyata masih saudara jauh Dian.

Bagaimanapun juga, seandainya Yu Ning memang punya niat tulus, murni, ikhlas, sekadar hendak amar ma'ruf nahi munkar, film ini menunjukkan contoh pengamalannya yang tidak efektif.

Ketidakefektifan ini bukan murni kesalahan Yu Ning. Bukan karena dia tidak membaca The Daily Stoic, melainkan ada faktor-faktor lainnya seperti latar sosial (oke, bagaimana sekelompok ibu-ibu yang ditunjukkan "ndeso" itu bisa menalar akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan dari bergibah?) dan faktor X--keXilafan (ih, maksa).

Kata peribahasa: sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga.

Bagaimanapun kita berusaha untuk menjadi SJW yang efektif, akan ada kemungkinan suatu saat baterai HP kita mati di perjalanan sehingga tidak bisa dihubungi untuk mengklarifikasi kabar.

Di samping Stoikisme, sepertinya Absurdisme menarik juga untuk ditilik.

Kamis, 23 Juli 2020

Melepas Kebergantungan pada Lampu Meja/Remang-remang

Di blog ini, saya merekam kesan tertentu yang ditimbulkan beberapa benda terhadap diri saya, mulai dari laptop Axioo, kue D'asse, seblak Umi Keriting, sampai scanner Canon. Benda-benda itu hanya cuilan remah dari semesta nikmat dunia yang tidak dapat saya peroleh lagi, entah karena sudah tidak berfungsi, jarang dijual, atau apa. Sepertinya ini menunjukkan kelekatan saya terhadap materi, di samping yang berupa kebutuhan pokok--pastinya. Maksudnya, benda-benda yang saya sebut itu sepertinya tergolong pada kebutuhan sekunder, malah mungkin tersier? Yang tanpa itu, saya masih dapat bertahan hidup serta menemukan alternatif, entahkah dalam bentuk barang lagi atau aktivitas lain.

Baru-baru ini, saya kehilangan nikmat atas satu barang lagi, yaitu lampu meja atau lampu remang-remang. Maksudnya adalah lampu yang ditaruh di meja dan dapat menyalakan cahaya remang-remang. Lampu ini berguna saat malam. Misalnya, apabila lampu yang ada di langit-langit dirasakan terlalu terang untuk beraktivitas dan setelahnya mengakibatkan sulit tidur. Misalnya lagi, saat entah kenapa rasanya takut tidur dalam kegelapan total. Misalnya lagi, sebagai peralihan dari lampu langit-langit ke gelap total atau sebaliknya; sebab tanpa peralihan itu, mata bakal kaget dari terang banget ke gelap sekali atau sebaliknya.

Lampu meja yang saya gunakan bukan saya sendiri yang membeli. Ayah saya membelinya untuk ditaruh di setiap meja yang ada di setiap kamar di rumah. Namun, lampu-lampu itu kemudian jarang difungsikan dan hanya menjadi penadah debu.

Saya ingat mulai bergantung pada lampu meja saat kuliah. Saat itu saya menumpang tinggal di rumah bulik. Di kamar yang disediakan buat saya, terdapat lampu yang dipasang di atas meja. Lampu itu saya nyalakan untuk menemani tidur. Sebab entah kenapa saya merasa takut tidur dalam kegelapan total di kamar itu.

Kebiasaan ini berlangsung hingga saya pindah tinggal di kos. Saya minta dibawakan salah satu lampu meja yang ada di rumah. Sejak itu, rasa-rasanya saya selalu tidur dengan lampu meja menyala. Sepertinya, kebiasaan takut tidur dalam kegelapan total terbawa sampai ke kamar kos itu.

Kemudian, saya pindah tinggal lagi ke rumah bude. Nah, pada waktu ini, saya meninggalkan kebergantungan pada lampu meja. Kondisi rumah bude membuat saya tidak merasa takut tidur tanpa lampu meja. Malah, saya selalu tidur dengan pintu kamar terbuka lebar. Yah, begitulah.

Setelah menyelesaikan kuliah, saya kembali tinggal di rumah bersama orang tua. Saya mulai menggunakan lampu meja lagi, tapi kali ini seperlunya saja. Saya mulai berani tidur dalam kegelapan total, padahal kamar saya letaknya di sudut--lantai dua pula. Malah, cahaya sedikit saja rasanya mengganggu. Lampu meja saya nyalakan hanya ketika tidak bisa tidur saat malam dan ingin menulis sejenak sebelum mencoba tidur kembali.

Di samping itu, ada pikiran untuk menghemat energi. Tidur dalam kegelapan total sepertinya lebih baik daripada dalam keremangan. Selain diri dapat beristirahat total, juga tidak keluar biaya listrik alias hemat energi. Kan.

Beberapa tahun ini, lampu meja sangat saya andalkan untuk mengatasi susah tidur saat malam. Adakalanya saya terus beraktivitas saat malam diterangi lampu langit-langit yang sangat terang itu. Dugaan saya, lampu yang sangat terang itu bikin diri ini terkondisikan untuk terus aktif. Akibatnya, saya terus terjaga sepanjang malam sampai lelah dan baru tidur saat pagi. Itu pola hidup yang tidak saya kehendaki. Untuk mengubah pola itu, begitu hari gelap, saya nyalakan saja lampu remang-remang. Aktivitas pun biasanya sekadar membaca dan menulis diterangi lampu itu.

Belakangan, ketika entah kenapa saya mulai kembali tidak nyaman tidur dalam kegelapan total, lampu remang-remang itu terus saya nyalakan sepanjang malam. Baru hari-hari ini saya mematikannya lagi saat hendak tidur karena terpikir soal listrik.

Nah, pada subuh kemarin, ketika saya baru bangun dan hendak menyalakan lampu itu, tiba-tiba saja seperti ada yang meledak(?). Lampu menyala cuma sekejap, setelah itu ngejepret (saya enggak tahu bagaimana mengatakannya secara baku, wkwk) dan aliran listrik di rumah pun padam total. Saat itu juga ayah saya baru bangun dan menyalakan kembali pusat listrik(?) (ah, enggak tahu lagi apa istilahnya!) di rumah sehingga kembali ada cahaya tapi tidak dengan lampu saya. Saya mencoba mencolokkannya berkali-kali ke lubang listrik, tapi tidak ada hasil. Jangan-jangan bohlamnya sudah isdet? Saya menggantinya dengan yang baru; hasilnya sama saja.

Pagi ini, saya mencari lampu meja lainnya di rumah. Mudah-mudahan masih ada yang berfungsi. Tapi, dari beberapa yang ada, tidak satu pun yang dalam kondisi baik. Ada yang kabelnya sudah putus. Ada yang dudukan bohlamnya entah ke mana.

Saya menemukan satu yang tampaknya masih baik, walaupun ukurannya jauh lebih besar daripada yang ada di meja kamar saya. Saya pun mencobanya, dan, ... lagi-lagi ngejepret. Saya mencoba menyalakannya beberapa kali lagi dengan menggonta-ganti lampu, tanpa sadar bahwa aliran listrik di rumah sudah kembali padam total .... Saya baru menyadarinya ketika ibu saya mengeluh mati lampu.

Saya curiga, setelah ngejepret itu, kejadian lampu ini sama dengan lampu di kamar saya, yaitu sudah tidak bisa dinyalakan lagi. Ada sesuatu yang salah di dalamnya, yang tidak saya mengerti. Mungkin lampu ini sudah mencapai batas masa pakainya, seperti yang terjadi dengan scanner Cannon waktu itu. Saya ingin memeriksakannya ke tempat servis barang elektronik terdekat, tapi belum ada biaya. Haha.

Maka, saya berpikir bahwa sebetulnya ini bukanlah urusan yang urgen. Untuk membaca sebelum tidur, saya bisa menggunakan lampu yang ada saja--yaitu lampu langit-langit. Memang rasanya terlalu terang, tapi toh sebetulnya membaca dalam penerangan remang-remang itu, apalagi kalau berupa majalah lawas yang huruf-hurufnya kecil padat, adakalanya bikin sakit mata. Cuma saya berharap penggunaan lampu langit-langit ini tidak akan menggeser pola tidur saya lagi.

Yang jadi persoalan adalah apabila saya mau yoga dulu sebelum tidur. Gerakan-gerakan yoga sebelum tidur itu banyak rebahannya, sehingga mata terarah pada lampu langit-langit yang menyilaukan itu. Enggak rileks dong, malah mengingkari tujuan dari melakukan yoga itu sendiri. Maka semalam saya coba melakukannya dalam kegelapan total saja. Tapi, saya melakukan yoga dengan panduan video YouTube. Walaupun tingkat kecerahan tablet sudah saya turunkan sampai mentok, tetap saja cahayanya menyengat mata.

Yah, begitulah. Saya menyadari bahwa ini keluhan yang teramat sepele (kayak enggak ada masalah yang lebih berat aja dalam hidup lu), yang sekaligus menunjukkan kebergantungan saya pada suatu benda materi nonesensial. Kalau ingat pada tren minimalisme yang lagi hip belakangan, bolehlah dengan tidak berfungsinya lampu meja ini menjadi kesempatan bagi saya untuk melepaskan kelekatan pada suatu benda atau istilah kerennya: decluttering. Seorang minimalis (tingkat advance) tentunya tidak akan memandang lampu meja sebagai kebutuhan yang hakiki, bukan? Dan ia akan fine-fine saja yoga dalam kegelapan total.

Eh, tapi kalau suatu saat ada rezeki, tetap saja saya penasaran membawa lampu meja ini ke tempat servis barang elektronik terdekat.

Senin, 28 Oktober 2019

Lagu Peduli Gelandangan

Di komputer rumah sewaktu saya SMP ada satu folder khusus musik, terdiri dari banyak folder yang isinya entahkah album atau kompilasi lagu-lagu sejenis. Salah satu folder itu berisikan musik yang saya kira dari jenis R&B dan hiphop. Itu bukan jenis musik kesukaan saya. Tapi kadang-kadang saya mendengar musik begitu--termasuk yang lawas-lawas--diputar di radio. Kalau enggak salah di radio Ardan, 105.9 FM Bandung, waktu itu ada segmen khusus musik tersebut sore-sore. Dari situ saya tahu bahwa musik begitu ada peminatnya sendiri, dan saya bukan di antaranya.

Saya baru bisa mengapresiasi folder itu belakangan, awalnya hanya lagu-lagu yang eye-catchy dari era '90-an seperti "Have Fun, Go Mad" (Blair), "Cantaloop (Flip Fantasia)" (US3), "Attenti al Lupo" (Lucio Dalla), "Perdono" (Tiziano Ferro), hingga "Sex Bomb" (Tom Jones). (Yah, memang mungkin enggak semuanya tergolong R&B dan hiphop; enggak tahu juga kenapa ditaruh di folder itu.) Lama-kelamaan saya mulai berpikiran bahwa mendengar folder itu secara keseluruhan rasanya kok bikin segar, entah kenapa, mungkin karena beat-nya. Baru belakangan, ketika timbul keinginan untuk memutar isi folder ini secara acak di Winamp, saya menemukan lagu-lagu "baru" yang ternyata asyik juga. Cari di Youtube, setel, Auto Play, lantas dihadirkanlah "Mr. Wendal" Arrested Development ke pendengaran saya. Eh, kayak yang pernah denger. Selain--mungkin--pernah diputar di radio dulu, lagu ini memang ada di folder itu.


Arrested Development sendiri saya kenal sejak SMP, lewat lagunya, "Honeymoon Day", yang pada waktu itu sering diputar di radio (dan menerbitkan rasa penasaran cowok-cowok). Selain yang itu, saya tidak tahu lagunya yang lain dan tidak berminat menelusurinya.

Yang menempel di ingatan dari "Mr. Wendal" sebenarnya cuma bagian "he-he-he-he"-nya. Lagu ini hampir seluruhnya terdiri dari rap sehingga kurang kena di telinga saya. Saya tidak bisa serta-merta menangkap ini lagu tentang apa, "Mr. Wendal" itu siapa, saya enggak peduli.

Lantas, kemarin, ketika "he-he-he-he" itu mengiang di benak, saya iseng mencarinya di Youtube, mendengarkannya sembari men-scroll komentar (yang biasanya membandingkan kualitas lagu antara masa itu dan masa sekarang--lagu ini rilis pada 1992, omong-omong), dan menemukan liriknya yang ternyata ... wah.

Berikut saya copas-kan lirik yang saya temukan, yang dibagikan oleh akun Dezmo59,
Here, have a dollar,/ in fact, no brother-man here, have two/ Two dollars means a snack for me,/ but it means a big deal to you/ "Be strong, serve God only,/ know that if you do, beautiful heaven awaits"/ That's the poem I wrote for the first time/ I saw a man with no clothes, no money, no plate/ Mr. Wendal, that's his name,/ no one ever knew his name cause he's a no-one/ Never thought twice about spending on a ol' bum,/ until I had the chance to really get to know one/ Now that I know him, to give him money isn't charity/ He gives me some knowledge,/ I buy him some shoes/ And to think blacks spend all that money on big colleges,/ most of y'all come out confused 
[CHORUS:] Go ahead, Mr.Wendal (2x) 
Mr.Wendal has freedom,/ a free that you and I think is dumb/ Free to be without the worries of a quick to diss society/ for Mr.Wendal's a bum/ His only worries are sickness/ and an occasional harassment by the police and their chase/ Uncivilized we call him,/ but I just saw him/ eat off the food we waste/ Civilization, are we really civilized, yes or no?/ Who are we to judge?/ When thousands of innocent men could be brutally enslaved/ and killed over a racist grudge/ Mr. Wendal has tried to warn us about our ways/ but we don't hear him talk/ Is it his fault when we've gone too far,/ and we got too far, cause on him we walk 
Mr.Wendal, a man, a human in flesh,/ but not by law/ I feed you dignity to stand with pride,/ realize that all in all you stand tall
Saya membaca lirik tersebut sembari mendengarkan lagunya, seakan-akan untuk mengecek apakah memang seperti yang tertera. Dan, ternyata iya. (Ya, iyalah.)

Memang isu homelessness jadi perhatian saya akhir-akhir ini. Kita tahu, generasi kiwari semakin susah punya rumah. Memang kekhawatiran "jadi-gelandangan" sepertinya belum melanda anak-anak muda di Indonesia, yang di samping karena sifat optimistis--keyakinan pada Tuhan YME yang membudaya bahwa ketakwaan akan membawa solusi bagi setiap permasalahan--juga hubungan kekeluargaan di sini masih rada erat dibandingkan dengan di negara-negara tertentu. Maksudnya, masak tega membiarkan saudara jadi gelandangan? Ditampunglah, walaupun diam-diam dipisuhi.

Tapi, di negara individualis seperti Amerika Serikat, tampaknya gelandangan membeludak. Paling tidak, itu kesan yang saya dapatkan dari menonton video-video di Youtube. Ada channel yang khusus menyoroti masalah ini, dengan menampilkan video-video wawancara terhadap para gelandangan di berbagai daerah di Amerika Serikat (walau sesekali ada juga di negara Barat lain seperti Inggris), yaitu Invisible People. Di channel-channel lain, bisa kita temukan juga video tentang gelandangan di Inggris, Jepang, Jerman, dan mana pun lagi.
"The song is not based on a person named Mr. Wendal at all, but it is based on some experiences that I have had in Atlanta, which is where I live, and sung to the homeless people that I had become friends with here, and just their way of looking at it. Some of them were more like hobos where they purposely were wanting to be homeless, they didn't want to play to the way society was going, and they just decided to go off another beaten path. Others were hungry, had a run of bad luck, and just couldn't survive with the competition of the real world. So they were out there. One of the people that I look to the most as the real Mr. Wendal, to me, died the year that that song came out. So he never got to hear the song and the tribute to him. We gave half of the proceeds of that song to the National Coalition For the Homeless in the United States, because of how closely all of us felt to the cause of the homeless, and the fact that everybody, whether they're homeless or not, there's some times in all of our lives when we need some help, we need a boost." (Kutipan wawancara dengan Speech, vokalis utama Arrested Development yang menulis lagu ini, diambil dari Songfacts.)
Saya pikir, lirik lagu ini memang patut untuk dijadikan bahan renungan. Paling tidak, untuk mengingatkan pada kesombongan kita, yang boleh jadi menganggap rendah gelandangan--menyematkan prasangka bahwa mereka hanyalah orang-orang yang malas bekerja, dan seterusnya. (Beberapa orang bilang "sombong" itu berarti merendahkan orang lain.) Walaupun tidak dikatakan, sepertinya ada baiknya kita menghapuskan perasaan itu sama sekali dari hati kita. Seperti yang dianjurkan dalam lirik lagu ini, ada baiknya kita mulai mengangkat harkat mereka. Siapa tahu, biarpun amit-amit, kelak kita yang ada di posisi mereka. Malah, kalau boleh utak-atik gathuk, "Wendal" itu bunyinya dekat dengan "we all" (#maksa).

Rabu, 02 Oktober 2019

Cara supaya Ikhlas, Sehat Raga serta Sosial, dan Sebagainya


Atas dorongan teman-teman--walaupun yang bisa hadir hanya satu orang--saya pun datang ke acara ini. Baru ketika berada di lantai dua Masjid Agung Trans Studio Bandung--atau kita singkat saja menjadi Masjid TSM--saya mengecek kebenaran kata teman yang menginformasikan tentang acara ini: banyak video dr. Aisyah Dahlan, CHt. di Youtube. 

Melihat penampilannya di Masjid TSM pada hari itu, yang kurang lebih sekitar dua jam, menarik untuk melihat yang lain-lainnya lagi di Youtube. Bukan hanya dakwah berbalut pengetahuan ilmiah yang beliau sampaikan, melainkan juga caranya yang humoris dan relatable bagi penonton yang kebanyakan ibu-ibu. (Ada juga laki-laki yang hadir, tapi jumlahnya mungkin hanya sekitar dua puluhan orang--sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah perempuan, walaupun tidak sampai menyesaki kedua lantai masjid, seperti kalau Ustad Evie Effendi yang jadi pembicara.) 

Teman yang jadi motivasi utama saya ikut acara ini menambahkan bahwa Bu Dokter juga kerap tampil di TV. Saya baru tahu sebab hampir tidak pernah menonton TV lagi, dan di Youtube pun yang saya tonton adalah banyak video lain.

Acara dibuka dengan memperkenalkan sosok Bu Dokter yang luar biasa. Bukan hanya karena profesinya sebagai dokter berikut keaktifannya menjadi ketua di sana-sini--terutama di lembaga-lembaga yang mengurus soal kecanduan narkoba--beliau juga seorang ibu lima anak yang sebagian di antaranya pada kuliah kedokteran (sebagian lagi masih pelajar dan ada kemungkinan ketika kuliah akan di kedokteran juga #soktahu. Lagi pula kedua orang tua mereka sama-sama dokter.) Enggak heran bila beliau memperoleh penghargaan sebagai wanita inspiratif. Sudah begitu, beliau juga humble dengan mengungkapkan pengalaman belajarnya sendiri.

Masuk ke materi, ada hal-hal menarik (menurut saya) yang saya catat. 

Yang pertama-tama adalah singkatan: SEHAT berarti SEnang HATi sedangkan SAKIT berarti SAlah KIT-a. Entah kenapa itu menarik. Kata Bu Dokter, walaupun Anda menderita hipertensi, tapi hati harus tetap senang. Dan, segala kesakitan yang kita alami boleh jadi akibat perbuatan kita sendiri. Ini mengingatkan saya pada teman saya yang pernah mengatakan tentang isi doa tobat. 

Gambar diambil dari artikel Yufidia, "Doa Taubat dari Maksiat".
Frasa "menganiaya diri kami sendiri" agak sulit saya cerna.
Ketika Bu Dokter bertanya kepada hadirin apa yang terpikir ketika mendengar kata "emosi" (atau kurang lebih begitu, saya enggak ingat persis redaksinya), kebanyakan pada menyamakannya dengan "marah". Padahal tidak. Emosi itu beragam. 

Kata "emosi" berasal dari bahasa Latin "movere" yang berarti "menggerakkan" atau "bergerak". Awalan "e" ditambahkan untuk memberikan arti "bergerak menjauh". (Menjauh dari mana? Entah sih.)

Lalu dimulailah pelajaran Biologi yang bikin melongo.

Beliau menerangkan tentang letak bagian yang mengatur emosi dalam otak, yaitu sistem limbik, juga pentingnya minum banyak air saat lagi banyak pikiran. Air memberikan energi bagi jalannya otak.

Yang menarik ketika beliau menerangkan tentang level emosi. Bentuknya berupa tangga. Anak tangga terbawah diiisi oleh "Apatis" sedangkan yang teratas adalah "Damai". Sayangnya, ketika gooling, saya belum menemukan gambar yang persis sehingga saya coba untuk menjelaskannya dengan kata-kata saja.

Menurut beliau, ada sembilan level emosi. Berikut urutannya dari bawah ke atas.

Apatis
Sedih
Takut
Rakus 
(atau Terburu-buru/Lust)
Marah
Sombong 
(atau Bangga/Pride)
Semangat
Menerima
Damai

Enam emosi terbawah (dari Apatis sampai Bangga) memiliki energi negatif. Tiga emosi terbawah termasuk dalam nafs lawwamah, sedangkan tiga emosi berikutnya merupakan nafs amarah. Barulah tiga emosi teratas yang memiliki energi positif atau nafs muthaminnah, di sinilah Zona Ikhlas.

Emosi-emosi ini berperan dalam naik-turunnya keimanan kita. Jika kita sedang berada di level bawah, entahkah Sedih atau Takut, menurut Bu Dokter tidaklah tepat untuk meminta agar emosi tersebut dihilangkan. Yang tepat adalah meminta agar emosi kita dialihkan atau diangkat, atau istilahnya yang kekinian: move on.

Bu Dokter mencontohkan peralihan emosi ini dari tahap ke tahap dengan cara yang mudah dimengerti, yaitu ketika beliau menghadapi sahabatnya yang baru ditinggal suami ke alam baka. 

Dimulai dari Sedih, sahabatnya menangis. Dalam mendampingi orang menangis, jangan memberikannya tisu karena itu seperti memberi dia tanda untuk berhenti. Padahal mungkin saja dia butuh mengeluarkan emosinya dengan menangis. Tanggapi saja dengan memeluknya dan mengatakan betapa kita turut bersedih. 

Setelah beberapa waktu, emosi sahabatnya naik, dari Sedih menjadi Takut. Sahabatnya takut akan masa depan tanpa suami, padahal anak mereka masih pada kecil. Bu Dokter bilang, di sini justru kita harus merasa senang karena emosinya telah naik.

Emosinya pun naik lagi ke Marah. Sahabatnya marah kepada mendiang suaminya karena dilarang bekerja.

Lalu sahabatnya mulai merasa Sombong, atau lebih tepatnya Bangga, dengan mengatakan bahwa sesungguhnya dia sarjana dari PTN ternama. Maksudnya, dia punya nilai yang membuatnya layak untuk bekerja.

Muncullah Semangat. Sahabatnya meminta untuk dicarikan pekerjaan.

Perkara Sombong atau Bangga ini memang rancu. Baik kata Bu Dokter ini maupun kata Dedy Susanto yang Kuliah Psikologinya di Youtube kadang saya dengarkan, Bangga itu boleh. Bangga berarti menunjukkan keunggulan diri. Yang tidak boleh itu Sombong, sebab berarti mengunggulkan diri dengan merendahkan orang lain. Bagaimanapun juga, kerap kali orang yang membanggakan diri--walaupun tanpa membandingkan dengan orang lain--berkesan sombong. Di sisi lain, saya mengakui bahwa penghargaan diri itu naluriah dan penting untuk self esteem, biar orang enggak merasa dirinya useless amat. 

Tiadanya penghargaan diri bisa bikin orang terpuruk dalam level emosi yang rawan, yaitu Apatis. Apatis itu lebih daripada Sedih. Kalau Sedih, orang masih bisa menangis. Ketika Apatis, dia sudah tidak bisa lagi menangis. Dia cuma diam, tidak berhasrat ingin melakukan apa-apa, merasa tidak berguna, dan ujung-ujungnya ingin mati saja. Kalau sudah terjungkal dari level emosi terbawah begitu, namanya Depresi yang bisa mengakibatkan bunuh diri.

Contoh dari Bu Dokter dalam menghadapi sahabatnya yang sedang beremosi buruk menunjukkan bahwa dalam membantu orang--agar dia senang--kita mesti mengikuti setiap tahapan. Jangan terburu-buru menyuruh dia agar sabar, ikhlas, dan semangat. Ikuti perkembangan emosinya dan perlakukan secara tepat menurut setiap tahapan. Baru ketika dia sampai pada Semangat, kita bisa mengambil tindakan.

Dalam mengatasi emosi sendiri, cara yang paling umum adalah dengan menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Tapi cara ini rupanya tidak lebih efektif daripada melafalkan istigfar. Menurut Bu Dokter, pertukaran udara dalam bernapas dalam-dalam hanya 3 L, sedangkan istigfar mengandung huruf-huruf yang mengeluarkan lebih banyak karbondioksida sehingga akan menarik lebih banyak oksigen sampai 5 L. Untuk bernapas biasa saja hanya 1 L. 

Rupanya pelafalan ini memiliki efek yang berbeda ketimbang sekadar mengucapkan dalam hati, sebab melibatkan fungsi fisiologis. Ketika hanya berucap dalam hati, mungkin napas kita biasa saja. Ketika melafalkannya, ada tarikan napas yang berbeda, getaran suara, dan sebagainya. Ucapkan istigfar berkali-kali hingga level emosi terasa naik.

Menaikkan level emosi penting agar kita ikhlas dalam mengerjakan segala sesuatu. Tanda keikhlasan adalah munculnya senyum. Kalau di akhirat kelak amal perbuatan dinilai menurut keikhlasan maka sepertinya kita perlu melafalkan istigfar banyak-banyak.

Selama ini kita mungkin hanya bisa meraba-raba pengertian ikhlas, seperti tokoh utama dalam film Kiamat Sudah Dekat. Kita bisa mensugesti diri atau mengatakan bahwa kita ikhlas (pakai "insya Allah"), padahal hati masih mengomel. Melalui pemaparan soal tingkatan emosi ini dan posisinya dalam mencapai keikhlasan memberikan perspektif baru. Paling tidak sekarang kita tahu langkah praktis untuk mengupayakan keikhlasan.

Gambar diambil dari sini. Redaksinya enggak persis dengan
yang ditampilkan di layar proyektor saat acara.
Ini kurang lebihnya saja.
Kembali ke soal pelafalan. Bukan cuma istigfar yang penting untuk dilafalkan, tapi juga perkataan sehari-hari yang biasa kita lafalkan pun sebaiknya kita perhatikan. Contohnya dalam menanggapi suami dan mendidik anak. 

Dalam menanggapi suami, misalnya, istri mesti memerhatikan nada. Jangan bernada dingin karena akan mengurangi ketertarikan suami. Istri yang menyenangkan adalah yang bernada centil dan manja, tapi lakukan ini hanya kepada suami--jangan kepada lelaki lain. Lelaki juga perlu untuk selalu dibela, tapi bukan juga sampai mengompor-ngompori.

Dalam mendidik anak, ibu tidak boleh mengatakan yang buruk-buruk. Misalkan, anak lelet dalam mengerjakan PR atau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain gim. Ibu mesti bijak dalam memilih kata-kata. Ibu tidak boleh mengatakan hal seperti, "Ngerjain PR aja lama!" atau "Jangan main gim melulu!" bahkan bernada sarkastis, "Main aja terus!" Sebab, secara tidak sadar, anak bisa merekam itu sebagai perintah. Ia akan terus lelet dalam mengerjakan PR. Ia akan terus bermain gim lama-lama. Apalagi kalau ibu sampai mengatakan keburukan anak pada orang lain--entahkah suami atau tetangga---hingga terdengar oleh anak itu sendiri.

Ada istilah "bukan salah ibu mengandung", tapi mungkin "salah ibu ngomong".

Persoalan ini menurut Bu Dokter merupakan ilmu neuroparenting--bisa jadi kata kunci bila ingin menelusuri lebih jauh.

Kalau istigfar berdampak pada diri sendiri, perkataan sehari-hari pada orang-orang di sekitar kita, adapun doa, katakanlah (dalam bahasa saya sendiri), pada semesta alam--hingga ada istilah "Semesta Mendukung". Yang menarik, Bu Dokter mengatakan bahwa bangunan dapat menghambat sinyal-sinyal doa. Really? Apakah kita harus lari ke hutan kemudian teriakkan doa kita? Entahlah soal itu.

Yang jelas, pembicaraan merembet ke berbagai hal yang intinya adalah: kita harus mengusahakan yang terbaik, mulai dari emosi hingga perkataan sehari-hari--inner dan outer--agar kebaikan pun datang kepada kita. Emosi mendapat sorotan penting agar apa pun yang kita keluarkan (outer), entahkah perkataan atau perbuatan, dilandasi dengan keikhlasan yang tentunya bernilai tertentu di mata Tuhan. Tidak hanya itu, menjaga level emosi agar tetap di atas juga penting untuk menghindarkan dari gangguan psikosomatik.

Islam telah memberikan banyak tuntunan. Khususnya hadis--rekaman segala perkataan dan perbuatan Rasulullah salallahu alaihi wassalam--yang setelah diteliti ternyata memang berdampak baik. Tidak hanya anjuran untuk berkata baik atau diam (mengingat bahasan tentang neuroparenting tadi), tapi juga hingga cara beliau membersihkan diri lewat wudu--jika dilakukan dengan sebenarnya-benarnya (: dengan membasuh, bukan sekadar mengalirkan air)--berdampak baik terhadap saraf. Segala tuntunan dari beliau adalah demi kebaikan kita sendiri.

Sebagian orang sami'na wa ato'na, tapi ada juga sebagian lain yang baru yakin akan kebenaran dan kebaikan itu setelah mendapatkan pemaparan ilmiah (biarpun memusingkan) semacam ini. Yang disebut belakangan ini menurut saya sejalan dengan hubungan antara iman dan ilmu yang seyogianya saling melengkapi. Belum lagi memang ada perintah bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Minggu, 29 September 2019

Matinya Seekor Anak Kucing (3)

Lagi? (Kamu mungkin mau baca cerita sebelumnya di sini dan di sini.)

Tentu saja saya berharap enggak akan ada lagi.

Tapi, begitulah yang terjadi.

Jadi, ada seekor kucing. Warnanya putih dengan corak hitam. Ukurannya agak besar; kalau dalam tahap perkembangan manusia mungkin dia kucing ABG. Tidak ada fitur yang menarik, sehingga kemungkinan dia kucing kampung biasa.

Kucing ini muncul begitu saja. Kalau menurut ibu saya, sempat ada satu kucing lagi yang serupa dia tapi lalu menghilang sehingga tinggal dia saja. Kami mengira mereka (atau dia) milik tetangga, tapi suka menongkrong di halaman kami dan lama-lama jadi hampir menetap bahkan hingga masuk ke rumah.

Dia jinak, seperti berharap dianggap sebagai piaraan. Tapi kami sudah punya 2-3 kucing lain yang "wajib" diberi makan, sehingga kami anggap dia sebagai kucing liar (atau milik tetangga?) lainnya yang menumpang makan di garasi kami.

Hingga suatu hari dia tampak lesu, enggak bernafsu makan. Dia mungkin sakit. Tapi kami biarkan saja. Kami anggap dia akan sembuh sendiri, seperti yang pernah terjadi pada kucing-kucing lain.

Kami biarkan dia hingga berhari-hari. Ibu saya berkali-kali memberi dia makan dengan daging ikan, tapi enggak diambil. Saya juga pernah memberi dia segumpal Whiskas basah, yang didiamkan saja.

Hingga suatu hari dia tampak mengenaskan. Sudah mah semakin kurus, kini kotor pula. Rupanya dia pilek. Badannya bebercak-bercak kuning oleh ingus.

Kalau saya pilek, ingus yang berwarna dan kental menandakan bahwa pilek akan segera berakhir (yah, enggak tahu kalau kata dokter). Tapi, tidak bagi kucing.

Karena badannya sudah ringsek begitu, ibu saya pun berinisiatif membawa dia ke dokter hewan. Mau enggak mau, saya menemani. Ketika kami hendak memasukkannya ke keranjang, dia sempat menghilang. Tapi lalu saya menemukan ekornya menjulur dari mesin di kolong mobil, yang memang sehabis digunakan oleh ibu saya dan baru dimasukkan ke garasi. Agaknya dia mencari kehangatan.

Dia begitu kotor, hingga ibu saya mengambilnya dengan perantaraan kertas. Keranjang berisi dia diletakkan di bagasi, sekadar ruang di balik jok belakang. Baunya di bagasi tercium sampai ke hidung kami yang duduk di jok depan.

Sore itu, klinik hewan yang biasa kami kunjungi lengang. Tidak ada pasien lain. Tukang parkir bilang agar mengetuk pintu dahulu. Setelah mengisi daftar dan mengetuk pintu, oleh yang berada di baliknya kami diminta menunggu sebentar. Sepertinya para dokter sedang mengadakan rapat.

Kami pun dibolehkan masuk, ke ruangan paling ujung.

Kucing dikeluarkan dari keranjang. Dokter takjub dengan keadaannya. Saya pun salut si dokter tidak menggunakan pelindung apa-apa seperti masker dan sarung tangan, sebab si kucing begitu bau dan kotor.

Kami menerangkan bahwa dia hanya kucing yang entah siapa pemiliknya, yang biasa menumpang makan di garasi kami dan belakangan tampak sakit hingga menjadi parah, dan seterusnya, dan sebagainya .... Apologi.

Dokter itu mengambil sisir logam, lalu membersihkan gumpalan-gumpalan ingus yang menempel di tubuh kucing. Saya mengamatinya sambil menjaga jarak dan merasa malu sekaligus kagum akan ketelatenan dan kasih sayang si dokter. Mungkin ini suuzon atau refleksi saya atas diri kami sendiri: saya menduga si dokter diam-diam mencibir betapa tidak welas asihnya kami hingga si kucing dibiarkan dalam keadaan begitu. Selain membersihkan, dia juga memberikan infus dan beberapa suntikan, serta mencekokkan daging ke mulut si kucing sambil bertanya, "Nanti bisa enggak kasih makannya?"

Si kucing lalu dimasukkan ke kontainer untuk diuapi. Dokter itu berlalu, digantikan dokter lain yang memberikan obat dan menerima pembayaran. Total Rp 120.000.

Dokter sempat berpesan agar besok si kucing dibawa lagi untuk diinfus.

Tampaknya ibu saya juga menyadari akan sikap si dokter. Dia bilang, sebenarnya kucing itu bisa kami bersihkan sendiri. Tapi--mungkin juga apologi--saya mengingatkan bahwa kami enggak bermaksud memelihara kucing itu melainkan sekadar memberi dia makan. Ibu saya membenarkan, bahwa kebetulan saja kucing itu sakit di garasi kami sehingga terlihat oleh kami dan daripada mengganggu pemandangan mending coba dibawa ke dokter hewan siapa tahu masih bisa diselamatkan (lalu setelah pulih dibuang).

Tapi, sebenarnya saya juga malu. Tiap kali kami ke klinik itu--yang saya sampai hafal muka dan pembawaan setiap dokternya--sementara orang lain pada membawa hewan ras yang bagus-bagus dan begitu menyayangi piaraan mereka, kami membawa kucing liar yang parah keadaannya sampai-sampai kami sendiri ogah menyentuhnya.

Setibanya di rumah, mau enggak mau saya membersihkan kamar mandi belakang di lantai dua yang biasa menjadi ruang karantina bagi kucing sakit. Kamar mandi ini belum dibersihkan sejak terakhir kali ibu saya memungut dua ekor anak kucing--yang satu lalu mati, dan yang lain akhirnya dibuang. Kertas-kertas koran melekati lantai, sepertinya akibat dulu basah oleh kencing. Butir-butir pasir toilet berserakkan. Belum lagi gumpalan-gumpalan tahi yang sudah mengering. Dengan sarung tangan dan lipatan kain menutupi sebagian muka, saya memasukkan koran-koran najis itu ke dalam plastik, menyapu lantai, lalu mengepelnya dengan Wipol sembari menggosok-gosok untuk menyingkirkan sisa-sisa koran dan kotoran. Setelah lantai agak kering, ibu saya menutupinya lagi dengan lembaran-lembaran koran lalu memasukkan kardus agak besar untuk tempat tidur kucing serta kotak pasir untuk toiletnya--yang akhirnya tidak sempat terisi.

Malam itu kami mencoba memberi makan si kucing dengan alat yang diberikan dokter, berupa suntikan tanpa jarum. Caranya: daging basah (kami biasa membeli Whiskas) dimasukkan ke dalam suntikan lalu ditembakkan ke mulut si kucing. Subuh esoknya, daging diganti dengan telur mentah.

Karena hari itu ibu saya bekerja, saya ditugaskan untuk memberi makan si kucing sendirian tiap beberapa jam sekali. Sampai ibu saya pulang selepas asar, saya memberi makan si kucing dua kali: sekitar pukul setengah sembilan dan sekitar pukul satu. Kali ini saya tidak sok-sokan pakai sarung tangan, tapi tetap menutupi separuh muka dengan kain.

Belajar dari si dokter, saya mencoba untuk menjadi perawat yang welas asih. Sebelum memberi makan, saya bersihkan dulu moncong si kucing dengan tisu yang dibasahi. Saya juga bersabar ketika si kucing melepeh daging yang telah saya tembakkan ke mulutnya, yang saya pungut lagi, masukkan lagi ke dalam suntikan, dan tembakkan lagi. Begitu berkali-kali, sampai kurang lebih satu sendok daging habis. Sesudahnya, saya bersihkan lagi moncong si kucing. Saya juga membuang lembaran koran yang sudah diceceri tahi encer.

Ibu saya pulang. Sore itu, kami hendak memberi makan si kucing lagi bersama-sama, sekalian memberikan obat. Ibu saya memegangi si kucing, sedangkan saya yang menembakkan makanan. Tapi, si kucing sesekali memberontak. Mulutnya sedikit-sedikit terbuka, seperti yang mencari udara atau hendak mengeluarkan suara tapi tak bisa. Ibu saya menginstruksikan agar saya memasukkannya pelan-pelan, ditambah air.

Tapi, berangsur-angsur kami jadi tidak tega. Keadaan dia sudah begitu menyedihkan. Begitu kurus, begitu kotor, begitu lemah, seperti yang sebentar lagi akan mati. Saya yakin ketika sebelumnya saya memberi dia makan, sudah ada daging yang masuk ke perutnya. Tapi, kok sepertinya tidak berpengaruh?

Ibu saya meminta maaf pada si kucing karena telat membawanya ke dokter. Yah, lagi-lagi telat, karena kami selalu berpikir--berharap--si kucing akan sembuh sendiri. Sebagian kucing memang bisa sembuh sendiri, tapi untuk sebagian lagi sudah terlambat.

Kami ingat pesan dokter agar dia dibawa lagi untuk diinfus. Saat itu sudah sekitar pukul setengah enam sore, sementara pendaftaran ditutup pukul enam. Kami pun mengebut berganti pakaian dan menyiapkan si kucing untuk dibawa lagi ke klinik hewan.

Memang klinik tersebut tidak begitu jauh di rumah. Kami tiba sebelum pukul enam. Kali ini, ada dua pasien lain yang telah lebih dahulu menunggu. Dua-duanya kucing. Yang satu belek dan pilek, sedangkan yang satu lagi sepertinya tidak bergairah setelah melahirkan satu anak yang lalu mati. Sembari menunggu, kami bertukar sedikit informasi tentang hewan bawaan masing-masing.

Setelah kami, ada dua pasien lagi yang datang. Keduanya anjing. Anjing yang pertama sangat besar, tidak mau diam, dan menarik perhatian: golden retriever. Saya mencuri dengar obrolan si pemilik dengan beberapa penunggu lain mengenai perawatan si anjing. Anjing juga memikat untuk dipelihara, tapi kami muslim dengan pengetahuan bahwa hewan itu bernajis berat. Seandainya anjing enggak senajis kucing dan ibu saya tergerak untuk memeliharanya juga, enggak terbayang kerepotan yang bakal menyerta. Apalagi kalau anjingnya segede manusia, seperti golden retriever itu. Kalau dia mati, mau dikubur di mana? Mencari tempat mengubur hewan yang relatif kecil seperti kucing saja kami kebingungan.

Lewat azan magrib, tibalah giliran kami. Kali ini kami mendapat meja pemeriksaan di depan dan dokter yang lain lagi. Melihat keadaan si kucing, si dokter terperenyak (oke, lebay). Dia bilang napas kucing ini sudah satu-satu, tapi, "enggak apa-apalah, ikhtiar," sambil memberikan suntikan. Dia juga mengukur suhu tubuh si kucing dan mengatakan bahwa hasilnya sudah di bawah normal.

Napas satu-satu + Suhu tubuh di bawah normal = Sakratulmaut

Sementara si kucing diinfus, kami duduk diam dan saya mencari-cari apa lagi yang bisa dibicarakan selain bahwa kemungkinan besar hewan itu akan mati. Salah satu pembicaraan adalah tentang cara memberi makan si kucing. Benar kata ibu saya, bahwa makanan harus diberikan pelan-pelan. Kalau dipaksakan, kata si dokter, kondisi kucing yang sudah pengap itu malah akan drop. Timbul rasa bersalah saya. Jangan-jangan, ketika memberi makan si kucing itu sendirian, saya terlalu kasar dan malah mengakibatkan turunnya kondisi dia sepanjang hari itu.

Di samping itu, sebelumnya ada sedikit persoalan. Ibu saya akan keluar kota beberapa hari pada akhir pekan, sehingga saya mesti memberi makan dan obat pada kucing itu sendirian. Awalnya saya berkeberatan sehingga ibu saya hendak memanggil pulang adik saya yang kuliah di luar kota untuk membantu saya. Tapi, setelah mencoba memberi makan kucing itu sendirian dan ternyata bisa, saya berpikiran bahwa bantuan adik saya mungkin tidak diperlukan. Meski begitu, jangan-jangan si kucing sempat mendengar persoalan itu, jadi enggak bersemangat untuk bertahan hidup, dan hendak cepat mati saja biar enggak merepotkan saya.

Itu, dan hal-hal lain yang masih menyangkut perkucingan dan sebagainya bikin mood saya jatuh sepulang dari klinik hewan. Setelah mandi dan mengejar kesempatan salat magrib di waktu yang sudah mepet isya, saya tiduran saja di kamar yang remang-remang--seolah-olah tidak mau beraktivitas lagi selain terlelap.

Beberapa kali ibu saya datang, mengabarkan keadaan si kucing. Dia bilang kucing itu sudah dingin, kaku. "Kayaknya udah mati deh. Mau dikubur sekarang atau besok?"

"Ya, besoklah. Masak ngubur malam-malam?" tukas saya sebal. Saya baru mandi, dan malam itu waktunya beristirahat.

Pagi esoknya, saya tidak bersemangat bangun sementara begitu terang ibu saya langsung mencari tempat di halaman. Mau enggak mau, saya turun juga untuk membantu ibu saya menggali tanah yang keras dengan peralatan seadanya. Lubang yang bisa kami buat pun enggak dalam dan lebar, padahal kucing itu mati dalam keadaan memanjang--ukurannya sudah agak besar ketimbang kucing-kucing lain yang pernah kami kubur sebelumnya di halaman. Malah, ujung ekornya sempat enggak tertutup oleh tanah, saking kurang dalam dan lebarnya lubang itu. Saya membolehkan ibu saya menambahkan tanah dari pot-pot bekas hasil percobaan saya berkebun yang lagi-lagi terbengkalai. Saya meratakannya dengan bagian bawah sekop lalu pergi, tidak hendak melihatnya lagi.

Simpulan

Sikap orang terhadap kucing kurang lebih ada tiga:
  • Benar-benar sayang. Tidak sekadar memberi makan, tapi juga merawat dan membersihkannya. Bahkan rela mengeluarkan uang untuk mengebirinya agar tidak ada lagi generasi baru anak-anak kucing yang telantar.
  • Sekadar suka memberi makan, tapi enggan mengurusnya lebih lanjut. Tidak rela mengeluarkan uang untuk mengebiri. Masih punya ketegaan membuang kucing ke tempat jauh, atau, istilah yang lebih "enak": melepasliarkan--seperti yang LSM-LSM lakukan pada hewan-hewan seperti orangutan, macan, dan sebagainya ke hutan, sehingga mereka bisa mencari makan sendiri dan berinteraksi dengan sesamanya secara alamiah.
  • Enggak suka sama sekali. Langsung mengusir begitu didekati. Bahkan ada yang sampai melempari dengan batu atau menyiram dengan air panas.
Sebagai golongan menengah atau nanggung, sikap kami terhadap kucing mungkin antara guilty pleasure dan buah simalakama. Enggak diberi makan, kasihan. Diberi makan, hitung-hitung sedekah tapi malah mengakibatkan kebergantungan.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain