Ruang
Sabtu, 13 September 2025
Mengapa Pengunjung Tempat-tempat Hiburan Makin Bertambah? -- Kisah Kesaktian PP 10 dan Dampaknya
Senin, 01 September 2025
Bila Loakan Mengganggu Pasar
Jangan Kirim Hanya Kata-kata
![]() |
| Nokia 7650 Gambar dari Amazon.co.uk. |
![]() |
| Sony Ericsson T68I Gambar dari Xperia Blog. |
![]() |
| Sony Ericsson P800 Gambar dari IMEI24. |
Minggu, 22 Juni 2025
Dua Timbangan Buku Sang Mahasiswa dan Sang Wanita: Dasacarita dari Hungaria Terjemahan Prof. Dr. Fuad Hassan
Sabtu, 05 April 2025
Memenuhi Kebutuhan Emosional Anak
Manusia terdiri dari unsur jasmani (fisik) maupun rohani (psikis). Agar dapat tercapai suatu perkembangan yang optimal, maka kedua unsur tersebut harus dipelihara dan dipenuhi segala kebutuhannya.
Untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, maka manusia melakukan tindakan seperti makan, minum, berolahraga, tidur/istirahat dan sebagainya. Kebutuhan fisik ini mudah dikenali, karena tubuh/fisik manusia selalu memberi sinyal-sinyal yang memberi semacam peringatan akan kebutuhan fisik macam apa yang harus segera dipenuhi. Sebagai contoh apabila tubuh kekurangan cairan, maka akan muncul suatu sinyal rasa haus, sehingga manusia terdorong untuk minum, dan dengan demikian kebutuhan fisik akan cairan secara otomatis akan terpenuhi. Gejala yang sama dijumpai pada keadaan fisik yang lelah dan memerlukan istirahat. Dalam keadaan seperti ini akan muncul sinyal rasa kantuk, yang menyebabkan manusia terdorong untuk tidur.
Kebutuhan psikis (emosional) jauh lebih sulit untuk dikenali maupun dipenuhi bila dibandingkan dengan kebutuhan fisik, karena kebutuhan psikis itu merupakan sesuatu yang abstrak, tidak tampak secara jelas. Meskipun sulit dikenali, maupun dipenuhi, namun untuk mencapai pertumbuhan psikis yang sehat, maka kebutuhan psikis (emosional) ini harus dipenuhi, seperti juga perlunya memenuhi kebutuhan fisik, untuk mencapai kondisi fisik yang sehat.
Pada masa-masa perkembangan fisik yang pesat, yaitu pada masa anak-anak dan remaja, maka kebutuhan fisik ini juga tinggi. Kurang terpenuhinya kebutuhan fisik pada masa-masa pertumbuhan ini, dapat mengakibatkan adanya "cacat" fisik di kemudian hari. Sebagai contoh anak yang kekurangan gizi pada masa pertumbuhannya, dapat menyebabkan pertumbuhan fisiknya menjadi kurang sempurna.
Apabila pertumbuhan fisik yang paling utama terjadi pada masa anak-anak dan remaja, maka pertumbuhan psikis yang paling utama terjadi pada lima tahun pertama dari perkembangan manusia, karena pada masa itulah peletakan dasar-dasar kepribadian manusia. Rasa percaya diri, dorongan untuk berprestasi, kreativitas, dan sebagainya terutama ditentukan dari seberapa jauh kebutuhan-kebutuhan psikis (emosional) pada masa lima tahun pertama perkembangan anak ini terpenuhi.
Untuk memenuhi kebutuhan emosional dari anak yang masih kecil, yang belum mampu mengutarakan bahkan mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri adalah tidak mudah. Secara umum memang kita telah dapat mengenali kebutuhan emosional manusia seperti kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, perhatian dan sebagainya. Namun untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan rasa cinta, kasih sayang dan perhatian, bukanlah merupakan hal yang mudah. Suatu bentuk larangan misalnya (contoh: orang tua melarang anaknya untuk bermain di jalan), yang sebetulnya merupakan perwujudan rasa sayang orang tua terhadap anak, apabila tidak dikomunikasikan dengan benar, akan dipersepsikan sebagai suatu hal yang negatif oleh anak. Oleh karena itu pengenalan terhadap kebutuhan emosional anak dan cara pemenuhan kebutuhan yang benar, sangat diperlukan untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian yang sehat pada seorang anak, sekaligus untuk membentuk suatu hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.
Tujuh Macam Kebutuhan Emosional Anak
Linzer (dalam Goodman, 1959) menyebutkan bahwa ada tujuh macam kebutuhan emosional anak yang paling mendasar, yaitu kebutuhan akan: (1) cinta; (2) penerimaan; (3) rasa aman; (4) perlindungan--kebebasan; (5) tuntunan beragama; (6) bimbingan, dan (7) pengendalian. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai kebutuhan-kebutuhan tersebut:
Cinta
Cinta merupakan dasar dari perkembangan anak. Setiap anak butuh merasakan bahwa orang tuanya mencintai dan menginginkannya. Wujud cinta dalam kehidupan sehari-hari antara lain ditunjukkan dengan ungkapan kata-kata, seperti panggilan "sayang" kepada anak, ungkapan perilaku seperti memeluk, menggendong, atau ungkapan berupa perhatian terhadap anak.
Penerimaan
Setiap anak membutuhkan keyakinan bahwa orang tua mereka menerimanya seperti apa adanya, menerima tidak hanya bila dia bertindak sesuai dengan keinginan orang tua mereka, tetapi setiap saat. Anak akan merasa diterima bila orang tua dapat menghargai jerih payahnya dan tidak menuntut yang berlebihan kepada anak.
Rasa aman
Setiap anak ingin merasakan bahwa rumah mereka merupakan tempat yang aman, bahwa orang tua mereka mampu menciptakan suasana hati yang tenang dan tenteram, bahwa orang tua mereka siap menjaga, khususnya di saat mereka menghadapi masalah atau menghadapi situasi yang baru.
Perlindungan -- kebebasan
Setiap anak menginginkan agar orang tuanya menjaga dan memberikan perlindungan dari segala macam bahaya, membantunya pada saat anak menghadapi sesuatu yang baru atau sesuatu yang menakutkan. Tetapi di samping itu anak juga menginginkan agar orang tua memberikan kebebasan kepada mereka dalam menemukan hal-hal baru, dan dalam melakukan segala sesuatu bagi dirinya sendiri, sehingga tumbuh rasa percaya dirinya. Kedua unsur ini harus diberikan secukupnya saja dan harus seimbang.
Tuntunan beragama
Setiap anak membutuhkan tuntunan dalam hidup beragama, agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang benar, karena dalam agama sudah ada hukum-hukum moral yang mengatur semua yang ada. Adalah tugas orang tua untuk "menghadirkan" Tuhan dalam kehidupan anak-anaknya dan dalam memberikan
Lihat halaman VIII kol. 4
Sumber: Suara Karya, 11 November 1994
Sabtu, 01 Maret 2025
Minggu, 02 Februari 2025
Korban Dua Keganasan
Senin, 16 Desember 2024
Mati Satu, Muncul Seribu
Selasa, 27 Agustus 2024
Arie Hanggara di Ipusnas
Lagi
membaca Tempo No. 22/XXXI/28 (atau 29?) Juli – 4 Agustus 2002, di halaman 20 menemukan kolom “ARSIP” dengan
kover Tempo tempo doeloe yang mengangkat kasus Arie Hanggara. Tak ingat
mula-mula tahu tentang Arie Hanggara dari mana, dulu pernah sempat menonton
filmnya di YouTube tapi tidak meneruskan, mungkin karena keburu meneteskan air
mata :’{ Film ini menampilkan Dedi Mizwar sebagai ayah Arie Hanggara, ketika
itu usianya mungkin baru sekitar 30-an tahun, sedang saya baru “mengenal”-nya (tidak
secara personal, hanya melalui televisi) setelah menjadi Pak Haji di Lorong
Waktu dan membintangi iklan obat sakit mag.
![]() |
| Klik gambar agar huruf terbaca jelas. |
Di Ipusnas ada dua “buku”
mengenai Arie Hanggara, tepatnya dua kumpulan
artikel Tempo (disusun oleh Pusat Data dan Analisa Tempo, diterbitkan
oleh TEMPO Publishing), masing-masing berjudul Kisah Arie Hanggara dan
Kekerasan terhadap Anak dan Kisah Arie Hanggara yang Terkapar di Tangan
Machtino. Buku pertama terbit 2019 total 111 halaman, sedang buku kedua
2023 60 halaman. Setelah dicek, rupanya buku kedua hanya menerbitkan ulang
sebagian artikel yang ada di buku pertama. Sudah begitu, halaman yang terisi
dalam buku kedua itu cuma sampai nomor 40 dan selebihnya kosong.
![]() |
| Gambar screenshot dari Ipusnas. |
Tewas di Tangan Ayah
Kandung (17 November 1984)
Artikel ini menyampaikan
secara detail bagaimana Arie Hanggara didisiplinkan oleh orang tuanya, yaitu
ayah kandungnya, Machtino, dan ibu tirinya, Santi. Arie dihajar dengan tangan
dan gagang sapu, ditempeleng, diguyur air, diacung-acungi pisau. Kepalanya
dibenturkan ke tembok. Sampai akhirnya Arie meninggal dunia. Jasadnya yang
penuh memar dicurigai pihak rumah sakit, sehingga polisi dihubungi.
Kasus ini dilatari
permasalahan rumah tangga Machtino-Santi. Konon Santi yang galak sebab harus
membiayai Machtino yang mengganggur beserta ketiga anaknya. Machtino sendiri
katanya cukup sabar, penyayang dan pengalah.
Pemicu dihajarnya Arie sampai
tewas adalah karena ditemukannya uang yang cukup besar pada waktu itu (8000
atau 8500) dalam tas anak tersebut. Arie mengatakan bahwa uang itu dicurinya dari anak SMA
di yayasan tempatnya bersekolah. Namun, setelah pihak sekolah memeriksanya,
tidak ada yang mengaku kehilangan uang.
Ketika berita ini diturunkan,
Arie baru dimakamkan sekitar seminggu sebelumnya yaitu 9 November setelah pada
8 November dini hari diantarkan ke rumah sakit.
Yang Terkapar di Tangan
Machtino (24 November 1984)
Membayangkan beban ekonomi
keluarga Arie, saya berpikiran wajar kalau Santi menderita stres. Machtino pun
bukannya lelaki dengan penampilan dan kepribadian yang sama sekali buruk, ia
punya beberapa kualitas. Namun, kenyataannya, yang dipentingkan dari laki-laki terutama
adalah kemampuan untuk menghasilkan secara mapan. Laki-laki tidak bisa sekadar
menjadi bapak rumah tangga yang baik, tetapi mungkin stres dari mencari
kerja/tidak memberikan nafkah, apalagi dengan beberapa anak, dapat memengaruhi
caranya mendidik. Sama halnya dengan perempuan yang menjadi ibu rumah tangga, apabila suaminya kurang berpenghasilan sementara ia pun belum dapat menunjang ekonominya sendiri, mungkin mengalami stres hingga melampiaskan kepada anak-anaknya (bahkan ada yang pernah sampai membunuh).
Membuka video-video tentang
Arie Hanggara di YouTube dan membacai komentar-komentarnya, ada yang
mengatakan bahwa ia menjadi “masokis” sebab sebagai anak tengah sebetulnya
sedang mencari perhatian orang tuanya. Orang tuanya sendiri “kreatif” dalam
menghukum Arie, bukan cuma secara fisik, melainkan juga psikis misalkan dengan
menulis kalimat yang sama berulang-ulang. Ada pula yang berkomentar bahwa
pemberitaan Arie Hanggara sempat efektif menyadarkan orang tua pada masa itu
agar tidak terlalu keras kepada anaknya. Walaupun pedih, ada hikmahnya. (Walaupun,
sekitar empat puluh tahun sejak kasus ini terjadi yaitu sekarang ini, masih ada
saja kasus penganiayaan/pembunuhan anak?)
Benarkah Kita Tidak Kejam?
(1 Desember 1984)
Kasus Arie Hanggara hanyalah
gunung es dari banyaknya kasus kejahatan orang tua kepada anak. Memang tidak
persis sama, tapi tak kalah keji. Ada anak-anak perempuan yang dicabuli ayah
kandungnya sendiri—apalagi ayah tiri—sampai hamil. Ada anak-anak lelaki yang
mencari perhatian, tapi malah dihukum dengan kekerasan fisik sehingga lari dan menjadi
pencuri untuk bertahan hidup sampai menjadi tahanan. Ada pula yang setelah
dewasa menjadi kriminal.
Ini 40 tahun lalu, sudah ada
istilah “child abuse” dan akibat dari kasus Arie Hanggara adalah
diangkatnya perhatian pada pendidikan anak, serta “warisan” atau istilahnya
sekarang mungkin “generational trauma”, yakni orang tua memperlakukan
anaknya sedemikian karena sekadar meneruskan perlakuan orang tuanya sendiri
terhadap dirinya. Menurut Singgih Gunarsa (guru besar Fakultas Psikologi UI
yang bersama istrinya pada tahun ’80-an menerbitkan serangkaian buku psikologi
anak, remaja, dan keluarga), orang tua yang menghukum untuk mendidik (tidak
menyakiti) itu cuma 5%. Selebihnya yang 95% itu memukul anak karena tidak
pandai mengendalikan emosi. Maka fenomena ini umum sekali … sampai sekarang.
Malah sekarang tampak kian kompleks saja, dengan munculnya fenomena childfree
juga marriage is scary, saking takutnya mewariskan luka batin
pengasuhan orang tua kepada generasi selanjutnya serta saling menyakiti dengan
pasangan akibat luka-luka itu.
Menariknya, para ayah yang
disorot dalam artikel ini pada pensiunan polisi/tentara. Ada juga yang tahanan
politik.
Artikel ini menyebut judul
artikel lain yang sepertinya terkait, “Tidak Hanya di Sini”, tapi sayang tidak
disertakan ke dalam buku ini, apa karena tidak secara langsung berhubungan
dengan Arie Hanggara? Dari judulnya jangan-jangan mengangkat tentang kasus
kejahatan kepada anak di negara-negara lain?
Petaka Usia Tujuh Tahun (1
Desember 1984)
Artikel ini tampak mencoba
memahami sudut pandang Machtino, ayah Arie Hanggara, dengan menelusuri sebab-sebabnya
sampai tega menghabisi nyawa anaknya. Ketika kurang lebih seusia dengan
Arie, pada usia 7 tahun, ia sendiri mengalami “petaka”, berupa perceraian orang
tuanya. Ayah Machtino anggota DPR/MPR yang memulai kehidupannya dari bawah
sekali, dan mendidik anak-anaknya dengan hukuman disiplin. Disiplin ayahnya ini
hendak ditiru Machtino.
Adapun mantan istri Machtino
alias ibu kandung Arie Hanggara, yaitu Dahlia, adalah anak mayor. Walau
keduanya anak orang punya jabatan, mereka sama-sama memiliki banyak saudara dan
itu juga tidak menjamin kemulusan dalam pendidikan dan pekerjaan. Baik Machtino
maupun Dahlia sama-sama tidak menyelesaikan pendidikan. Machtino pun sulit
mempertahankan pekerjaan.
Memang kasus kejahatan orang
tua kepada anak tidak hanya dipengaruhi oleh masalah emosi orang tua tetapi
juga keadaan ekonominya. Namun, melihat latar belakang Machtino dan Dahlia yang
sepertinya bukan bawah amat, tampak kedudukan orang tua tidak menjamin kesuksesan
anak.
Setelah Arie, Siapa Lagi
(15 Desember 1984)
Artikel ini mengangkat kasus-kasus pembunuhan anak akibat penganiayaan orang tua yang rupanya terjadi tidak hanya kepada Arie di Jakarta, tetapi juga di tempat-tempat
lain di Indonesia seperti Tangerang dan Jayapura. Yayasan
Perguruan Cikini (tempat Arie dan ayahnya sama-sama pernah bersekolah) menanggapi kasus Arie dengan
mengadakan seminar yang dihadiri ratusan peserta. Dalam diskusi ini,
dibicarakan mengenai hubungan orang tua-anak, bagaimana orang tua tidak mau
mendengarkan anak, dan bagaimana peran anak dalam keluarga yang cenderung
dianggap sebagai pelampiasan, perpanjangan cita-cita orang tua, serta sarana
produksi (membantu pekerjaan orang tua untuk menambah pendapatan). Padahal anak
punya hak-hak tersendiri, tapi masih rancu juga batasan usia yang disebut
sebagai anak itu; ada yang mengatakan sampai usia 14 tahun, ada juga yang 18
malah 21, selama belum kawin.
Mengetahui banyaknya
kekerasan terhadap anak-anak, dalam hal ini anak-anak Generasi X (tahun ’80-an) yang sekarang pun sudah memiliki
anak-anak yang disebut sebagai Generasi Z, jadi bertanya-tanya, apakah generasi
muda dewasa ini acap disebut-sebut “lembek” karena orang tuanya yang segenerasi
dengan Arie Hanggara itu tidak hendak mengulangi cara orang tua mereka yang
dianggap terlalu keras? Arie telah menjadi martir bagi anak-anak Generasi X
Indonesia, dan mereka paham tidak ada anak yang minta dilahirkan, sehingga
berusaha memberikan kehidupan yang sebaik mungkin bagi anak mereka sendiri, Generasi
Z, walaupun jadinya dianggap terlalu memanjakan ….
Arie, Sebuah Simbol (12
Januari 1985)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) ketika itu, Nugroho Notosusanto, punya ide membuat patung Arie Hanggara sebagai simbol ketiadaan kasih sayang orang tua. Rencananya, patung ini akan ditaruh di depan museum pendidikan Dep. P & K. Maka ditugaskanlah seorang dosen patung ISI Yogyakarta untuk mengerjakannya. Namun timbul kontroversi. Patung itu dirasa menyinggung keluarga Arie, seperti hendak menghukum mereka tujuh turunan. Arie mungkin cuma model, tetapi bagi keluarganya tetap ada kesan personal.
![]() |
| Gambar screenshot dari Ipusnas. |
Siapa Bertanggung Jawab Bila …. (26 Januari 1985)
“Bukankah sikap dan perilaku seseorang terbentuk dalam rumah tangga dan lingkungan tempat ia dibesarkan. Mungkin orang tua yang suka memukul anak-anaknya dulu dibesarkan dalam suasana rumah tangga yang membuat mereka mudah bersikap kasar.” (halaman 75)
Artikel ini menyorot persidangan Machtino-Santi, yang penontonnya membeludak melebihi kapasitas ruangan, terutama oleh ibu-ibu dan anak sekolah. Masyarakat mudah menghujat, apalagi kalau sudah sampai jadi berita. Tapi, Tempo tidak berhenti di sana, terus mengusut sebab-sebab terjadinya kasus demikian, sampai menelisik latar belakang/masa lalu para pelaku menurut psikologi.
Pasangan model Machtino-Santi agaknya kian jamak sekarang ini: lelaki friendly tapi kurang pekerja keras bertemu wanita mandiri tapi kurang kasih sayang orang tua. Machtino sendiri memiliki ayah yang sangat sukses dan sudah berdikari sejak usia belia. Namun efek kesuksesan ayahnya padanya hanyalah sebagai angan-angan, sulit diteladani oleh dirinya. Kesuksesan sang ayah itu pula agaknya membuat terlalu sibuk, sehingga pertemuan mereka kurang berkualitas untuk membina karakter.
Simbol Itu Dibatalkan (26 Januari 1985)
Kembali menyoal patung Arie Hanggara, gagasan Menteri P & K dibatalkan sebab menuai protes masyarakat. Beliau berjiwa besar dengan menerima protes itu. Tapi pematungnya ternyata bikin patung lain yang semiabstrak. Kalau menteri setuju, patung itu yang akan diberikan kepada Dep. P & K. Ada pula yang mengusulkan di Kompas: kalau ingin bikin monumen peringatan anak, mending modelnya anak-anak pekerja di jalanan, sebab itu “masalah kita semua, lebih dari kasus Arie”.
Bila Rumah Bukan Lagi Tempat …. (26 Januari 1985)
Artikel ini mengumpulkan kasus anak dari berbagai kalangan: ada yang kecanduan narkotika, ada yang berbuat kriminal, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Rupanya ini karena ada beda persepsi antara orang tua, guru, dan anak. Orang tua dan/atau guru cenderung memaksakan kehendak sendiri, tidak membuka dialog dengan anak. Kalau orang tua kurang berperhatian, terlalu mengekang, atau terlalu keras, lalu anak memberontak, itu tampak wajar. Ada juga yang di rumah tak ada masalah, orang tuanya tanggap, tapi di sekolah si anak bikin masalah melulu karena berkonflik dengan guru.
Pelajaran untuk Orang Tua (13 April 1985)
Isinya berita tentang pernikahan resmi Machtino-Santi, serta Dahlia mengambil kembali saudara-saudara Arie yang padahal sudah diserahkannya kepada Machtino.
Simpulan:
Masalah emosi dan ekonomi orang tua dapat memengaruhi kesejahteraan anak. Tapi, walaupun keadaan ekonomi orang tua baik-baik saja, bahkan termasuk golongan berkedudukan, kalau kesibukan dari aktivitas ekonomi dan kedudukannya itu sampai berakibat pada kurangnya perhatian, tetap saja tidak menguntungkan anak. Mau begini atau begitu, sama-sama berpotensi menimbulkan masalah.
Sekalipun orang tua
sudah berusaha membesarkan anaknya dengan baik, masalah tetap bisa datang dari
luar (guru, teman-teman, lingkungan pergaulan, elite kapitalis global, dan
seterusnya).
Mungkin memang ada
pihak-pihak yang bersalah dan harus berikhtiar untuk memperbaiki segala
sesuatunya, tapi ujungnya adalah soal qada dan kadar, bahwa memang dunia ini
tempatnya cobaan/ujian dan manusia tempatnya salah/dosa. Terima bahwa begitulah
hidup: masalahnya tiada akhir.
Kedua buku ini mengandung banyak tipo dan ada detail yang membingungkan (sekolah penerbangan yang sempat diikuti Machtino itu di Curug atau Belgia?)
Senin, 15 April 2024
Teknik Membaca yang Baik
Selasa, 13 Februari 2024
Ihwal Perklipingan (2)
![]() |
| Gambar dari Instagram. |
Workshop kliping kemarin menunjukkan bahwa mengkliping secara digital rupanya tidak sesederhana itu, mengkliping ternyata dapat dilakukan secara profesional, dan mengkliping memang memiliki arti penting.
Workshop ini menunjukkan hal-hal teknis, langkah-langkah yang dilakukan untuk mengkliping secara digital. Halaman yang mau dikliping di-scan lalu di-crop dan diberi nama. Dalam penamaan, yang pasti harus ada tanggal, bulan, dan tahun. Nomor halaman diperlukan bagi yang mau membuat tulisan ilmiah. Tentukan kategorinya. Lalu, buat metadata yang isinya di samping data artikel juga paragraf yang berupa intisari artikel mengandung kata-kata kunci agar kelak mudah dicari ketika dibutuhkan.
Secara sederhana, ini dapat dilakukan dengan mengandalkan HP sebagai pengganti gunting dan scanner. Demikianlah yang dilakukan para peserta kemarin.
Pekerjaan ini dapat melatih cara berpikir supaya rapi dan sistematis. Pekerjaan ini juga memerlukan stamina fisik sehingga mengimbanginya dengan olahraga itu penting.
Gus Muh sendiri, alias Muhidin M. Dahlan selaku pengampu workshop, mengerjakan kliping secara profesional, melakukannya seharian setiap hari, dan menjadikannya usaha komersial di antaranya berupa warungarsip.co.
Artikel-artikel yang diklipingnya, yang berhubungan dengan tema acara selanjutnya, ada pula yang dipamerkan kala itu, dicetak pada kertas-kertas panjang yang berjuntaian mengitari ruangan. Di antara kertas panjang itu ada yang menyatakan fungsi dari kliping: "merawat ingatan, memperdalam pemahaman tentang hal-hal lampau, agar hari ini tidak mengalami amnesia".
![]() |
| Gambar dari Instagram. |
Sebetulnya, dalam acara ini tersirat suatu maksud sehubungan dengan agenda politik yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Malah judul dari workshop kliping itu sendiri adalah: "Kliping sebagai Kerja Politik di Zaman Digital". Demikian acara ini memberikan konteks khusus akan guna dari kliping, yaitu memulihkan ingatan masyarakat akan sesuatu hal yang imbasnya dapat membantu mereka membuat keputusan yang akan menentukan masa depan bangsa (ih, dahshiaaat~). Cara efisien dalam pendokumentasian sebagaimana ditunjukkan Gus Muh dalam workshop di muka adalah untuk memudahkan dalam memanggil artikel-artikel terkait jika sewaktu-waktu diperlukan dalam momen seperti ini. Dengan begitu, kliping adalah kerja untuk kepentingan publik.
Walau demikian, yang menjadi inspirasi Gus Muh justru kerja individual sebagaimana dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya Pram). Gus Muh membuka workshop dengan menceritakan kegiatan mengkliping Pram, terutama selama menjadi tahanan rumah. Pram sang "pendekar gunting" tiap hari membeli 6 surat kabar. Namun, yang diklipingnya hanya 2 tema: desa dan dirinya sendiri. Hasil mengkliping selama 30 tahun itu disusun dalam jilid-jilid berukuran A5 bersampul oranye yang seluruhnya mencapai 17 meter (Gus Muh mengukurnya sendiri pakai penggaris 30 cm). Sepintas, pekerjaan ini tampak untuk kepentingan pribadi (kalaupun ada Pusat Dokumentasi Arsip Pramoedya Ananta Toer atau semacamnya, saya belum dengar sebagaimana halnya dengan Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin yang kerap diberitakan itu). Namun, sepertinya ini juga yang menyokong Pram sehingga dapat menghasilkan karya-karya sastra yang begitu berharga. Ujungnya untuk khalayak juga.
Mengkliping sebagaimana yang dilakukan Gus Muh adalah usaha mengumpulkan dan merapikan informasi, menyediakannya kepada siapa saja yang berkepentingan untuk mengolahnya. Seiring dengan kemajuan zaman dan pengarsipan yang makin baik ini, penulis sekarang mesti berhadapan dengan makin banyak data, sehingga makin dituntut untuk memiliki daya analitis yang makin tinggi pula sembari menghadirkan kebaruan--kerja yang makin pelik. Di kubu lain, orang makin tak peduli, makin tak membaca, makin tak beraturan, terhanyut dalam cara pikir yang makin-instan/mau-cepat saja; atau, kalaupun masih ada kepedulian, keinginan, kurang ada keleluasaan untuk melakukannya secara berkelanjutan. Di antara dua kubu itu, ada pula yang berusaha agar aktivitas membaca dan menulis senantiasa tertahankan meskipun ....
Banyak Dibuka
-
Penulis : Gol A Gong Penerbit : Gong Publishing, Banten ISBN : 978-602-9117-24-0 (kover), 978-602-9117-25-7 (KDT) Cetakan pertama dan kedua,...
-
“ Du ” (“ You ” dalam bahasa Inggris) adalah lagu yang dibawakan oleh Peter Maffay, seorang musisi Jerman. Lagu ini menjadi hit terbesar d...
-
jika mana jutaan orang memenuhi selatan kraton masing-masing menggenggam kitiran mengacungkannya menghunjamkannya kuat-kuat dengan karet ke ...
-
Judul : Olenka Pengarang : Budi Darma Penerbit : Balai Pustaka, 2009 Paragraf pertama dalam kata pengantar novel peraih SEA Write A...
-
Tersebutlah kisah sepasang suami istri. Sang suami dikenal sebagai seorang suami yang berperasaan. Dia mau membantu istrinya mengerjakan ...
-
Baru-baru ini saya dikenalkan oleh adik saya dengan acara Horrible Histories di saluran Discovery Kids. Format acara ini semacam kumpulan s...
-
Sudah lebih dari seminggu sejak aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Pekerjaan pertamaku dan satu-satunya yang datang padaku tanpa aku me...
-
( i believe in the kingdom come/ then all the colors will bleed into one/ bleed into one, but yes i’m still running/ you broke the bonds and...
-
Ini adalah pengalamanku saat libur kenaikan kelas ke 5 SD. Seperti biasa, kalau sudah waktunya liburan, orangtuaku pasti menawarkanku untuk ...
-
Kali ini penjelajahan saya diwarnai oleh Juhe. Dia adalah teman sekelas saya di SMA. Dia orang penting di BEM UNPAD dan belum termotivasi un...
Pembaruan Blog Lain
-
Rasiah Nu Goreng Patut (1 - 2) (Soekria/Joehana, 1927) - Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan pe...1 minggu yang lalu
-
Yentl - Oleh Isaac Bashevis Singer ISAAC BASHEVIS SINGER, pemenang Nobel Sastra 1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di… Read more Yentl10 bulan yang lalu
-
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan - Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan berle...6 tahun yang lalu






















.png)
.png)