Tampilkan postingan dengan label kliping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kliping. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 September 2025

Mengapa Pengunjung Tempat-tempat Hiburan Makin Bertambah? -- Kisah Kesaktian PP 10 dan Dampaknya

Oleh : TATI HENDARYATI (WARTAWATI "PR")

SEMBILAN bulan sudah Peraturan Pemerintah No. 10 tentang izin perkawinan dan perceraian bagi pegawai negeri sipil berlaku di negara kita, peraturan tersebut ditetapkan dan berlaku sejak April 1983 atau tepatnya 21 April 1983.

Mengapa peraturan tersebut harus ditujukan bagi pegawai negeri sipil? Tujuannya tak lain agar para pegawai negeri memberikan contoh yang baik di masyarakat dan menjadi teladan bagi lingkungannya terutama dalam menyelenggarakan kehidupan berkeluarga.

Dalam penjelasan PP 10 tahun 1983 tersebut dikatakan bahwa pegawai negeri sipil merupakan unsur aparat negara, abdi negara, dan juga abdi masyarakat. Mereka itu harus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat dalam tingkah laku tindakan, dan ketaatan kepada peraturan perundangan yang berlaku. Untuk dapat melaksanakan kewajiban/tugasnya dengan baik tentu saja harus ditunjang dengan kehidupan berkeluarga yang baik dan serasi sehingga mereka tidak banyak terganggu oleh masalah-masalah keluarga.

Tidak bisa dipungkiri lagi persoalan yang terjadi dalam keluarga kadang-kala mengganggu konsentrasi kerja, pekerjaan menjadi gagal karena konsentrasi terpecah belah. Manusia sering kali dipenuhi dengan emosi sehingga suasana yang tidak menyenangkan di rumah akan berpengaruh juga terhadap hasil pekerjaan di kantor.

Seperti contoh yang dialami oleh Drs H (38 th) karyawan salah satu instansi pemerintah. Dalam kariernya sebagai pegawai negeri ia ditempatkan di bagian keuangan, karena kebetulan ia lulusan fakultas ekonomi. Ia mengakui mengandalkan gaji sebagai pegawai negeri hidupnya akan pas-pasan, padahal ia ingin sekali membahagiakan istri dan empat orang anaknya.

Istrinya memang berasal dari keluarga yang berada, sedangkan Pak H dari keluarga biasa. Tidak heran kalau Ny. H (36 th) yang sudah biasa dengan hidup mewah sukar melepaskan kebiasaannya walaupun ia telah menjadi istri Drs H.

H yang begitu sayang pada istrinya masih bisa memenuhi permintaan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan gajinya, entah dari mana H masih bisa mendapatkan uang dari luar gajinya itu. Tetapi kehidupan makin lama makin susah, H akhirnya berterus terang kepada istrinya yang ia sayangi untuk mengurangi kebiasaan hidup mewah, demikian juga terhadap anak-anaknya.

Entah apa yang kemudian dikerjakan oleh Ny. H yang jelas ia tidak pernah mengeluh kekurangan walaupun H tidak menambah lagi uang belanjanya. Hanya perubahan yang terjadi ia sering keluar rumah, kalau ditanya ia akan menjawab arisan atau bisnis. H yang juga sibuk dengan pekerjaannya tidak memusingkan hal itu.

Tetapi lama kelamaan perubahan itu makin terasa, istrinya makin sering meninggalkan rumah. Acap kali H pulang dari kantor, makanan belum tersedia. Keempat anaknya yang masih kecil sudah terbiasa mengalami keadaan seperti itu. Sepulang sekolah mereka hanya mendapatkan secarik kertas dan sejumlah uang di meja makan untuk pembeli lauk pauk.

Tiba saatnya H bertindak, istrinya yang baru datang ia tanyai. Namun dengan manis Ny H menjawab, langganan bisnisnya makin banyak sehingga ia harus mengantar dagangan ke rumah orang-orang itu. "Lihat nih hasilnya!" kata Ny. H sambil mengeluarkan setumpuk uang dari dalam tasnya. Ternyata H tidak bisa berbuat apa-apa mendapat jawaban dari istrinya itu.

Hari terus berlalu, Ny. H masih terus sibuk dengan urusan bisnisnya. H sendiri sibuk dengan urusan kantornya. Pekerjaannya itu membutuhkan ketelitian karena H setiap harinya bertugas menghitung keluar masuknya uang.

Yang mengherankan bagi H, akhir-akhir ini sering datang tamu yang tak dikenal menanyakan istrinya. Mereka tidak saja datang ke rumah tetapi juga ke kantor H. Tamu-tamu tersebut bermuka masam bila tidak berhasil bertemu Ny. H. Seringnya menghadapi suasana seperti ini H cepat bertindak, ia paksa istrinya untuk mengakui apa yang dilakukan selama ini.

Bagai disambar petir rasanya ketika H mendengar pengakuan dari istrinya bahwa tamu-tamu tersebut adalah orang-orang yang menagih utang. "Mereka menagih haknya karena mereka mendapatkan arisan, sedangkan uangnya sudah saya pakai untuk keperluan lain. Untuk membeli perhiasan dan berjudi," kata H menirukan jawaban istrinya.

Entah bagaimana kisah H selanjutnya, yang jelas barang-barang mewah di rumah H sudah berpindah tangan, istri meninggalkan rumah, tetapi anak-anak masih tinggal bersamanya. H masih dipenuhi emosi. Ia segera mengajukan cerai tetapi istrinya ogah dicerai.

Kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu namun istrinya belum saja insaf akan perbuatannya. Setiap ekonomi rumah tangganya mulai membaik, setiap kali itulah ia mengulangi perbuatannya.

Kekesalan H mulai memuncak. Awal Desember yang lalu ia datang ke kantor Depag mengadukan persoalannya. Ia ingin menceraikan istrinya tetapi atasannya tidak mengizinkan. Karena ia tdak memperoleh surat izin cerai, maka Pengadilan Agama pun menolak permintaan H.

"Apa yang harus saya lakukan. Kalau begini terus saya tidak sanggup. Keluarga saya tidak bisa dipertahankan lagi!" katanya dengan iba.

Waktu ditanya "PR" tentang alasan atasannya tidak mengizinkan H bercerai, mengatakan kemungkinan ia terpaku pada PP 10. "Ia tidak mau menanggung risiko kalau memberikan izin bercerai," kata H.

Benarkah tindakan atasan Tuan H itu? Benarkah dengan memberi izin kepada bawahan untuk bercerai akan mempengaruhi kondite sang atasan?

Kepala Kanwil Departemen Kehakiman Jabar Soehendro Hendarsin SH yang sempat dihubungi "PR" mengatakan, tindakan atasan H seperti itu bisa saja dibenarkan. Pihak atasan tidak boleh mendengar alasan dari satu pihak saja, bisa saja H mengemukakan alasan yang dibuat-buat. Mungkin izin tidak diberikan karena atasan belum mendengar keterangan dari Ny. H sendiri. Ketentuan tersebut sudah ada di PP 10 pasal enam.

Ka Kanwil Departemen Kehakiman itu menolak adanya faktor subjektivitas dari atasan yang tidak mengizinkan bawahannya untuk bercerai walaupun alasannya bisa diterima. "Kalau memang ada atasan yang begitu, atasan yang lebih tinggi lagi bisa menegurnya," katanya.

PP 10 memang cukup ampuh, begitu pendapat banyak orang. Tidak ada yang berani melanggarnya karena hukumannya cukup berat, di samping mendapat hukuman kurungan yang lamanya lima tahun juga sang pelanggar akan dipecat dari jabatannya. Wah siapa yang mau!

Seorang pejabat di salah satu departemen di Jabar mengatakan, PP 10 betul-betul sakti. Ia dibuat sesuai dengan ketentuan agama. Sebetulnya dalam hukum-hukum agama, ketetntuan seperti itu pun sudah ada. Tapi masih ada yang berani melanggar.

Dalam PP 10 peranan atasan cukup mempunyai arti yang penting. Ia wajib mengetahui kehidupan anak buahnya, karena kehidupan keluarga yang sejahtera juga akan mempengaruhi pada hasil pekerjaan.

Ada lagi yang berpendapat setelah dikeluarkannya PP 10 itu jumlah tamu yang berkunjung ke tempat-tempat hiburan makin bertambah. Entah apa hubungannya. Yang jelas seorang ahli berpendapat manusia sifatnya mencari kesenangan, dan menjauhi apa yang tidak menyenangkan. Untuk mendapatkan apa yang disukainya, ia akan berusaha dengan berbagai daya meskipun ada hambatan yang dihadapinya. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 27 Januari 1984



Senin, 01 September 2025

Bila Loakan Mengganggu Pasar

Setiap bulan, ratusan kontainer pakaian bekas menyerbu pasar dalam negeri. Sandang murah yang bisa berbuah petaka.

JUMAT siang yang terik di kawasan kaki lima Senen, pekan lalu. Sekelompok remaja tanggung berdesakan di depan sebuah lapak pakaian bekas. Tak peduli sengatan matahari atau keringat yang bercucuran, mereka sibuk mengaduk tumpukan pakaian itu. "Aha, gue dapat!" teriak seorang pemuda. Sepotong kaus baseball bermerek FUBU segera berpindah pemilik hanya dengan beberapa lembar ribuan kumal.

"Kalau enggak dari sini, ya cuma di mimpi gue bisa beli," kata Andri, si pemuda itu, yang berayah seorang sopir. Kaus yang tengah digilai remaja itu dijual di pusat-pusat pertokoan dengan harga Rp 300 ribu-an. Bedanya, barang-barang bermerek itu dijual dalam keadaan wangi dan tentu saja masih baru. Di Senen, meski tidak bau, kaus itu sebenarnya barang bekas.

Keberadaan lapak "seken" (dari kata second) seperti ini mungkin membantu orang seperti Andri mewujudkan impiannya. Tapi, bagi pejabat Departemen Perdagangan, itu bisa membuyarkan tugas mereka mengembangkan industri dalam negeri. Hal ini dikeluhkan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Sudar S. A. "Intensitasnya sudah masuk kategori sangat-sangat serius," ujarnya.

Berapa banyak? Menurut catatan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Lili Asdjudiredja, tak kurang dari 1.500 kontainer sempat masuk ke seluruh wilayah Indonesia dalam kurun tiga bulan. Jumlah ini di luar 40 ribu bal (kira-kira 4.000 ton) per bulan yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Balai--180 kilometer dari Medan. Melalui pelabuhan ini, setiap Senin dan Kamis ribuan bal pakaian diturunkan dari kapal-kapal pengangkut asal Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, bahkan Eropa dan Amerika. Sebelumnya, kapal sudah singgah di Singapura karena sebuah perusahaan di sana akan memilah, menyucihamakan, serta mengepaknya ke dalam jenis-jenis tertentu.

Pakaian yang berkualitas masih bagus tapi harganya sungguh miring itu jelas bukan saingan industri garmen dalam negeri. Karena itulah, Sudar merasa perlu mengirim surat kepada Dirjen Bea Cukai tentang masalah ini. Surat tertanggal 13 Agustus itu menegaskan tentang masih berlakunya larangan impor pakaian bekas di seluruh wilayah Indonesia.

Apa boleh buat, selama ini aturan tersebut seperti macan ompong. Bisnis pakaian impor bekas adalah usaha yang gurih. Demand begitu tinggi. Meski harganya murah, bila kuantitasnya berjibun, ya pedagang untung juga. Inang Situmorang di Monginsidi Plaza, Medan, misalnya, bisa mengantongi Rp 8 juta tiap bulannya, hasil dari penjualan 12 bal pakaian impor bekas. Selain Senen dan Monginsidi Plaza, pasar serupa kini tersebar di berbagai kota: Cimol di Bandung, Helvetia di Medan, Pasar Baru di Karimun, Jalan Veteran di Banjarmasin, Jalan Jeruju di Pontianak, atau gerai-gerai factory outlet di tiap kota yang ternyata lebih tepat disebut second factory outlet.

Dirjen Sudar pantas merasa kesal. Ada sederet aturan yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk menangkal invasi pakaian loak impor. "Semuanya larangan yang tegas dan masih tetap berlaku," katanya. Ada Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 229 Tahun 1997, SK Menperindag No. 172 Tahun 2001, dan Surat Direktur Jenderal PLN No. 71 Tahun 2002.

Lalu, mengapa bocor? "Banyak sekali cara memasukkan barang," bisik Usman, pedagang di Karimun. Salah satunya dengan memalsukan dokumen impor. Pemalsuan inilah yang sempat dipersoalkan Lili Asdjudiredja tahun lalu. Saat itu Lili mengaku pihaknya hanya perlu membayar Rp 7,5 juta untuk memperoleh dokumen impor sesuai dengan yang diinginkan. "Bayangkan kerugian negara ketika importir yang seharusnya bayar Rp 100 juta hanya perlu menyuap petugas Rp 7,5 juta per kontainer," katanya. Dirjen Bea Cukai Permana Agung, yang dimintai konfirmasi, belum memberikan jawabannya hingga tulisan ini turun, walaupun kata stafnya surat permintaan wawancara sudah dibacanya. 

Soal ini jelaslah tak bisa didiamkan berlama-lama. Konsumen mungkin senang, pedagang pun pasti untung, tapi kerugian negara akibat bangkrutnya industri garmen dan pemalsuan dokumen impor pasti lebih besar dari kesenangan mereka.

Darmawan Sepriyossa, Bambang Soedjiartono (Medan), dan Rumbadi Dalle (Karimun)



Sumber: Tempo No. 26/XXXI/26 Agustus - 1 September 2002



Jangan Kirim Hanya Kata-kata

Layanan pengiriman pesan multimedia sudah bisa dinikmati di Indonesia. Akan meledak seperti SMS?

KATAKANLAH dengan bunga, kata mereka yang muak dengan kata-kata. Tapi, karena populasi bunga kian terbatas, nasihat sepele ini kerap sulit dijalankan. Agar lebih mudah dan murah, barangkali tips itu harus sedikit diubah: katakanlah dengan gambar, grafik, atau mungkin juga isyarat.

Di dunia yang kebanjiran kata-kata, gambar bisa menjadi oase yang menyehatkan--dan karena itu, lahan bisnis yang menguntungkan. Boleh jadi pemikiran seperti ini pula yang ada di otak para pembuat telepon tanpa kabel alias telepon seluler. Setelah berhasil menciptakan alat yang bisa mentransmisikan suara, tulisan, dan data, kini mereka membuat telepon yang mampu mengirimkan gambar.

Transmisi gambar melalui "telepon angin" memang bukan berita baru, di luar negeri. Tapi di Indonesia layanan ini baru bisa dinikmati sejak dua pekan lalu melalui operator telepon seluler PT Indosat Multimedia Mobile (IM3). Dengan layanan yang disebut pengiriman pesan singkat multimedia alias MMS (multimedia messaging service) ini, pelanggan bisa saling mengirim gambar berwarna, foto, animasi, audio, dan suatu saat nanti mungkin juga gambar bergerak alias video.

Teknologi pengiriman pesan multimedia ini pertama kali digagas dan dirancang oleh komunitas industri seluler generasi ketiga, dua tahun lalu. Untuk pertama kalinya, pabrik pesawat telepon Swedia, Ericsson, memamerkan kecanggihan teknologi ini dalam pameran dagang CeBIT di Hannover, Jerman, Maret tahun lalu.

MMS--barangkali lebih sexy kalau kita sebut "Memes"--merupakan kelanjutan teknologi layanan pengiriman pesan singkat (SMS) dan pesan singkat bergambar (EMS). Dengan cepat, Memes memikat semua "makhluk" penghuni komunitas seluler, mulai dari pabrik pembuat pesawat ponsel, pengelola jaringan (operator), hingga para pelanggan di seluruh dunia.

Asosiasi industri seluler, Global Mobile Suppliers Association, memperkirakan bisnis Memes akan meledak. Dalam dua tahun ke depan, asosiasi itu menaksir akan ada 20 miliar pesan singkat multimedia yang bakal terkirim saban bulan di seluruh jagat. Jika ongkos sekali pengiriman Rp 1.000, akan ada bisnis senilai Rp 240 triliun per tahun. Sebuah taksiran yang amat menggiurkan. Tapi jangan gembira dulu: riset Wireless World Forum (W2F) menunjukkan bahwa bisnis ini hanya menjala Rp 5 triliun per tahun.

Sesungguhnya dasar teknologi Memes tak berbeda dengan SMS. Jika telepon penerima sedang tak aktif atau di luar jangkauan sinyal, pesan akan tetap tersimpan di server operator. Kelebihannya, selain mengirim teks, pemakai bisa menambahkan musik atau gambar. Huruf, ukuran, dan gaya teksnya pun bisa dibuat bervariasi. Bisa pula mengirim tabel, diagram, peta, juga sketsa. Menurut pengamat multimedia Roy Suryo, Memes bisa dikirim ke pesawat seluler yang berbeda merek karena standar teknologinya seragam.

Dengan Memes, seorang wartawan media dotcom yang tengah meliput aksi unjuk rasa, misalnya, bisa memotret dorong-dorongan polisi dan mahasiswa dengan pesawat telepon genggamnya, memberi sedikit teks, lalu langsung mengirimkannya ke kantor redaksi agar bisa segera dimuat di situs internet, dalam hitungan menit. Sangat praktis dan mudah. Ia tak perlu membawa kamera dan mencari koneksi internet.

Nokia 7650
Gambar dari Amazon.co.uk.
Dari sisi teknologi, pesan multimedia tak punya keterbatasan ukuran. Foto digital sebesar apa pun bisa dikirimkan. Yang menjadi kendala justru pesawat teleponnya: kapasitas memorinya terbatas dan resolusi gambarnya juga belum prima. Nokia 7650, misalnya, hanya memiliki memori 3,6 megabyte, ini setara dengan 32 frame foto.

Selain kelemahan pesawat, ada juga kelemahan pada operator. Ketika menerima pesan Memes, sinyal harus stabil. Ini membuat telepon genggam yang mestinya bisa mobile alias bergerak menjadi seperti telepon biasa (fixed telephone). "Kalau sambil naik mobil atau lift," kata Roy, "proses download sering terputus."

Sony Ericsson T68I
Gambar dari Xperia Blog.
Di Indonesia, ada beberapa pesawat telepon angin yang sudah punya layanan pesan multimedia (disebut MMS-enabled). Di luar Nokia 7650 yang sudah disebut, ada pula Sony-Ericsson T68I dan P800. Harganya Rp 4 juta hingga Rp 6,3 juta. Beberapa pabrikan lain seperti Motorola dan Siemens dipastikan segera menyusul sebentar lagi.

Sony Ericsson P800
Gambar dari IMEI24.
Menurut Roy, bisnis Memes mungkin bisa merebak jika banyak operator yang menyediakan layanan multimedia. Ini persis seperti dulu, ketika layanan SMS meledak lantaran bisa dilakukan lintas operator. Agaknya, jalan menuju "dunia tanpa minikata" masih panjang.

Wicaksono



Sumber: Tempo No. 26/XXXI/26 Agustus - 1 September 2002



Minggu, 22 Juni 2025

Dua Timbangan Buku Sang Mahasiswa dan Sang Wanita: Dasacarita dari Hungaria Terjemahan Prof. Dr. Fuad Hassan

Dasacarita dari Hungaria Terjemahan Fuad Hassan 
Sang Mahasiswa dan Sang Wanita

Oleh: JAKOB SUMARDJO

SETIDAK-TIDAKNYA ada dua orang menteri RI yang pernah menerjemahkan karya-karya sastra asing selama jabatannya sebagai menteri negara, yaitu Prof Dr Priyono yang pada tahun 1964 telah menerbitkan "Kisah-kisah dari Rumania" (Balai Pustaka, 1964), dan kini pada tahun 1985 Prof. Dr. Fuad Hassan juga telah menerbitkan "Sang Mahasiswa dan Sang Wanita", Dasacarita dari Hungaria (Grafitti Pers, 1985).

Kebetulan cerpen-cerpen pilihan mereka menyangkut dua negara Eropa Timur yang terabaikan dalam kancah terjemahan sastra di Indonesia. Tidak mengherankan kalau banyak nama-nama pengarang yang sangat baru bagi kita, lantaran belum pernah kita dengar namanya dalam pembicaraan sastra dunia di Barat.

Membicarakan kumpulan cerpen dari suatu negara/bangsa yang telah tua usianya dalam sastra, tentu tidak pada tempatnya kita hanya melihat sepuluh cerpen dari sepuluh pengarangnya. Bahkan dari sumber aslinya dari mana 10 cerpen ini diambil, yaitu "44 Hungarian Short Stories" yang diterbitkan oleh Unesco, masih belum bisa dikatakan mewakili sastra cerita pendek negeri itu. Jadi paling kita hanya menilai 10 cerpen itu tanpa mengaitkannya dengan kehungariaannya. Hanya secara kebetulan 10 cerpen yang dipilih memang dari pengarang Hungaria modern.

Sepuluh cerpen yang dipilih oleh Fuad Hassan dalam bukunya ini meliputi karya-karya cerpen yang terbit dari tahun 1910 sampai 1966. Jadi kalau dibandingkan dengan Indonesia, barangkali sejajar dengan cerpen yang ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo sampai pada zamannya Wildan Yatim. Dan itu hanya dipilih cerpennya saja dari 10 pengarangnya.

Ciri menonjol dari sepuluh kumpulan cerpen ini adalah sifat puitik cerpen-cerpennya, penuh simbol-simbol berbentuk cerita; sifat lekatnya pada alam dan cuaca yang mementingkan kepolosan, keluguan, kemurnian, dan spontanitas; serta pemaparan cerpen yang banyak merenung daripada pemaparan plot yang manis. 

Mutu puitik ini hampir menonjol di sepuluh cerpen. Namun yang kiranya murni puisi dalam bentuk prosa adalah cerpen-cerpen "Hari Cerah di Musim Semi" yang menceritakan keasyikan seorang anak yang bercengkerama di hutan dengan penuh keriangan dan terganggu oleh kehadiran orang lain yang berasa telah "berdosa" telah menodai kemurnian hubungan alam antara hutan dan si anak. Saya katakan "puitik" karena cerpen ini berbicara banyak di luar ceritanya, ada sesuatu yang terasa di luar cerita yang disajikannya, ia berkembang dan multitafsir bagi pembacanya. Adalah rasa, suasana, makna kemurnian hubungan alam dan manusia murni (kanak-kanak) yang dimunculkan dari balik cerita.

Cerita puitik yang lain adalah "Ciuman Anna Szegi" yang mengisahkan percintaan mendalam antara seorang pemuda desa dengan gadis desa yang sebentar akan kawin. Perkawinan ternyata tidak membuat cinta si wanita lenyap. Si pemuda "bunuh diri" hilang di telaga cinta, dan kemudian wanita mengikutinya. Gambaran yang disajikannya begitu rupa menyatu dengan lukisan alam Hungaria sehingga peristiwa cinta di sana adalah peristiwa alami, wajar, tumbuh, dan sehat tanpa norma-norma. Bahkan norma perkawinan bikinan manusia tak kuasa menghapus makna percintaan mereka.

Jenis ini pula adalah "Orang-orang Nazi" yang melukiskan dua petani desa dan dua prajurit Nazi yang terlibat dalam percakapan. Petani tua dan anak-anak laki-laki yang merupakan cucunya berusia 8 tahun tengah membelah kayu di hutan, dan dalam percakapan Nazi-Nazi berusaha menekankan kebenarannya sendiri dengan memaksa si anak memanggil kambing sebagai anjing. Mungkin banyak simboliknya daripada puisinya, namun saya kira suasana juga yang menonjol dalam cerpen ini, suasana tekanan antara kebenaran alami dan kebenaran politik.

Begitu pula "Sang Mahasiswa dan Sang Wanita" dapat bercerita tentang gejolak suasana hati seorang wanita kesepian yang mula-mula bersikeras menolak permintaan ciuman dari mahasiswa yang belia namun akhirnya tak kuasa menahan gejolak rasa dari dalam yang alami. Bukan saja si wanita memberikan ciuman, tetapi lebih dari itu dalam amukan badai perasaannya.

Contoh simbolisme dalam cerpen-cerpen Hungaria dapat dibaca dalam "Sekitar Perapian Keluarga" yang mengisahkan campur tangan koperasi Sosialis dalam urusan hubungan suami istri. Seorang suami mencurigai istrinya yang selalu ditinggalkannya bekerja, pada suatu sore berdandan tidak seperti biasanya. Kontan sang suami mencurigai penyelewengan istrinya. Sang suami mendesak pada sang istri siapa lelaki terkutuk itu. Karena tidak mengaku maka sang suami mengamuk dan menggegerkan tetangganya. Pada saat itulah datang pengurus koperasi Petofi yang mengancam sang suami untuk tidak meneruskan menyiksa istrinya.

Karena keperluan istri selama ini dipenuhi oleh koperasi dan istri milik koperasi. Barang siapa mengganggu ketenangan istri, meskipun itu suaminya sendiri, maka koperasi akan bertindak. Ini memberikan gambaran bagaimana sistem politik mereka telah terlalu jauh mengurusi urusan yang amat emosional dan personal itu. Barangkali karya ini memang berisi kritik, namun jelas memberikan gambaran sasaran protes yang hidup dalam masyarakat Hungaria.

Cerpen "Hari Minggu yang Damai" juga lebih bersifat simbolik daripada puitik. Cerpen ini juga berisi kritik sistem kepegawaian di negeri Sosialis itu.

Sebagai cerpen plot kiranya patut diajukan "Petualangan Berpakaian Seragam". Cerpen semacam ini banyak dijumpai di Indonesia pada zaman majalah Kisah dahulu. Sebab cerpen yang lancar, jelas jalan ceritanya, mengandung tegangan yang konsisten, dan diakhiri dengan suatu kejutan.

Cerpen "Petualangan" ini mengisahkan seorang anak muda golongan terpelajar di Hungaria yang memasuki dinas militer sukarela. Sebenarnya hanya untuk gagah-gagahan belaka agar dia dikenal sebagai pemuda yang membela tanah air pula, meskipun ia hanya boleh memakai seragam militernya dua kali dalam seminggu. Dengan modal pakaian seragam, dia memancing cinta gadis-gadis pembantu rumah tangga. Dan seorang gadis rumah tangga yang polos dan manis dari sebuah desa mencintai dan membelanya sebagai kekasih. Ternyata gadis pembantu itu adalah pekerja pada rumah kawan mahasiswanya yang adiknya malah pernah pacaran dengannya. Si gadis desa dengan sembunyi-sembunyi memasukkan si pemuda ke dalam kamarnya yang sempit lewat pintu samping. Padahal pemuda kenal betul dan dihormati di rumah itu, karena diharapkan ia dapat menikahi anak putri tuan rumah. Begitulah hubungan mereka berlangsung sampai suatu kali dalam kepolosan gadis desanya ia mulai bicara soal nikah dan bayi. Maka si pemuda menjadi panas dingin dan mencoba membuka kedoknya, namun tak sampai hati. Sampai pada suatu hari tuan rumah mengundangnya dalam suatu pesta. Dalam pesta itulah ia menjumpai si gadis tuan rumah, dan keluarganya terang-terangan mengharapkan pertunangan anak gadisnya. Dan pada saat itulah gadis pembantu masuk dan mengetahui segalanya. Maka kontan ia menyatakan diri keluar dari pekerjaannya dan mengembalikan uang gajinya .... 

Cerpen ini berbicara soal kemurnian hubungan manusia dan sistem sosial. Sistem sosial dan kelas sosial telah merusak kemurnian kemanusiaan. Gara-gara ada pembedaan "golongan" antara kelas jembel dari desa yang hina dan kelas terpelajar yang kaya dan sombong, maka percintaan murni itu telah lenyap dengan mengorbankan golongan kecil. 

Persoalan serupa dapat dijumpai dalam cerpen pertama yang berjudul "Omelette a Woburn" yang mengisahkan bagaimana seorang mahasiswa yang baru pulang belajar dari luar negeri dengan uang pas-pasan, harus menempuh petualangan untuk memenuhi hasrat ingin tahunya pada negeri lain, dan terjerumus ke dalam restoran kelas tinggi. Padahal si mahasiswa amat lapar dan ingin membelanjakan uangnya yang sedikit dengan makanan kelas mahasiswa yang murah dan banyak. Ternyata cara makan dan budaya makan kelas atas di restoran itu amat berbeda dengan budaya makan mahasiswa. Pesanan mahasiswa apa yang dinamakan Omelette a Woburn tak lain hanya telur dadar biasa yang amat tipis dan tak mungkin memenuhi hasrat kelaparannya. Maka dengan ketegangan tinggi ia menanti bayaran untuk telur dadar tipis itu. Ternyata uangnya masih cukup untuk dibayarkan. Neraka restoran itu ia tinggalkan dengan kebahagiaan besar, bukan karena kenyang tapi karena lepas dari budaya makan orang kaya yang mementingkan kehormatan makan daripada isi makanannya.

Begitulah cerpen-cerpen Hungaria ini telah disampaikan kepada kita dalam bahasa yang lancar dan enak dibaca dan dengan peristilahan yang benar pula, misalnya untuk "roti komuni" dalam misa agama Katolik (Ortodoks)?***

Sumber: Pikiran Rakyat, 10 Desember 1985




Rahasia Sukses Hongaria

Judul Buku : Sang Mahasiswa dan Sang Wanita
Penerbit : PT Grafiti Pers, Jakarta, Cetakan II, 1986
Halaman : 106 halaman 
Oleh : Prof. Dr. Fuad Hassan (Pengalih bahasa)

JUDUL kumpulan cerpen yang dialih-bahasakan oleh Mendikbud Prof. Dr. Fuad Hassan ini diangkat dari cerpen "Sang Mahasiswa dan Sang Wanita", karya pengarang Hongaria terkenal Lazlo Kamondy, yang hidup tahun 1928 - 1972.

Sebagaimana yang diakuinya sendiri--karena alih bahasa yang dilakukan adalah alih bahasa yang kedua, yaitu setelah karya aslinya dalam bahasa Hongaria ke dalam bahasa Inggris--maka hasil terjemahan ini oleh pengalih bahasa dikatakan tidak sempurna.

Agaknya dalam hal ini Fuad Hassan menyadari bahwa menerjemahkan bukanlah suatu pekerjaan yang terlampau gampang, apalagi menerjemahkan karya sastra di mana penerjemah mau tak mau dihadapkan pada kenyataan sukar untuk mentransformasikan ide, suasana, peristiwa, tokoh, serta gaya bercerita ke dalam bahasanya sendiri.

Tetapi dalam dasacarita (sepuluh cerita - Red.) pilihan pengalih bahasa dari kumpulan cerpen bunga rampai terbitan UNESCO, 44 Hungarian Short Stories (1979) ini diusahakan dalam terjemahannya tidak sampai mengubah arti dan maksud pengarang semula, apalagi mengubah suasana yang hendak ditampilkan oleh pengarangnya.

Kita barangkali bertanya-tanya mengapa Hongaria yang berpenduduk tak lebih dari sepuluh juta jiwa itu begitu terkenal. Bahkan bagi kebanyakan orang, termasuk Indonesia, negeri itu masih tetap merupakan sebuah misteri. Bagaimana tidak! Karena Hongaria begitu banyaknya menghasilkan manusia-manusia maestro.

Bila ingin mengambil contoh sarjana-sarjana kelas wahid, ambillah dari Hongaria. Tak berlebihan, sebab kenyataan membuktikan bahwa John von Neumann, Eugene Wigner, Albert Szent, Gyorgyi, Edmund Teller, Leo Szilard, adalah nama ilmuwan terkenal kelas dunia; bahkan dua di antaranya pernah meraih hadiah Nobel. 

Tak hanya berhenti di situ keunggulan Hongaria. Di bidang Ekonomi dan Film, misalnya, mereka sangat unggul. Siapa yang tidak mengenal aktor Leslie Howard yang selama bertahun-tahun lamanya mendominasi film-film di Inggris? Apalagi tentang sastra yang memberikan gambaran suatu masyarakat, Hongaria telah banyak melahirkan pengarang internasional yang terkumpul sekitar berkala Nyugat, yang berhaluan menentang tradisi-tradisi sastra konservatif.

Demikian bermutunya cerpen-cerpen dalam antologi ini, sehingga CP Snow dalam kata pengantarnya untuk edisi UNESCO Collection of Representative Work European Series mengatakan bahwa cerpen-cerpen ini akan mengajarkan sesuatu kepada kita, sesuatu yang sangat penting, tentang suatu negeri yang hebat dan suatu kesusasteraan yang hebat pula.

Sebagamana sub judulnya, antologi cerpen ini mengetengahkan sepuluh cerita yang ditulis sepuluh pengarang terkenal. Antara lain Dezo Kosztolanyi, Jozsi Jenoi Tersanzky, Sandor Hunyadi, Pal Szabo, Emil Kolozsvari Grandpierre, Gabor Goda, Imre Dobozy, Endre Fejes, Ferenc Santa, dan Laszio Kamondy.

Dengan segala talenta yang ada pada dirinya masing-masing pengarang menampilkan coraknya sendiri. Saya begitu terpukau ketika mengikuti cerpen ini satu demi satu, dan tak ingin berhenti sebelum ceritanya tamat. Tentu saja itu disebabkan karena tajamnya pengarang memantau setiap persoalan dan situasi manusia serta menggarap di dalam bentuk kesusasteraan yang sangat bermutu.

Timbul pertanyaan: Apakah hanya orang yang pernah tinggal di Hongaria dan mengerti seluk-beluk negeri itu saja yang dapat menikmati, meresapi, dan memiliki antologi cerpen ini? Tidak! Kendatipun ide-ide ceritanya sendiri mengambil kejadian, tokoh, situasi dan tempat di Hongaria; akan tetapi tidaklah mengubah suasana penghayatan kita, asalkan membacanya secara tepat.

Buku ini tak ayal lagi telah menjadi best-seller. Terbukti hanya dalam kurun waktu setahun saja sudah mengalami cetak ulang untuk yang kedua kalinya. Para kritisi sastra, sastrawan, dosen/guru sastra, mahasiswa/siswa, dan masyarakat sastra seyogianya memiliki sendiri buku ini.

Di samping itu bila ada yang ingin mencari jawab teka-teki keberhasilan Hongaria yang telah dan sedang menghasilkan tokoh unggul yang sama sekali tidak sebanding dengan jumlah penduduknya, maka buku ini adalah penuntun ke arah jawaban teka-teki itu. 

['SIM'/R. Masri Sareb Putra]

Sumber: 'SIM', 14 Desember 1986

Sabtu, 05 April 2025

Memenuhi Kebutuhan Emosional Anak

Manusia terdiri dari unsur jasmani (fisik) maupun rohani (psikis). Agar dapat tercapai suatu perkembangan yang optimal, maka kedua unsur tersebut harus dipelihara dan dipenuhi segala kebutuhannya.

Untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, maka manusia melakukan tindakan seperti makan, minum, berolahraga, tidur/istirahat dan sebagainya. Kebutuhan fisik ini mudah dikenali, karena tubuh/fisik manusia selalu memberi sinyal-sinyal yang memberi semacam peringatan akan kebutuhan fisik macam apa yang harus segera dipenuhi. Sebagai contoh apabila tubuh kekurangan cairan, maka akan muncul suatu sinyal rasa haus, sehingga manusia terdorong untuk minum, dan dengan demikian kebutuhan fisik akan cairan secara otomatis akan terpenuhi. Gejala yang sama dijumpai pada keadaan fisik yang lelah dan memerlukan istirahat. Dalam keadaan seperti ini akan muncul sinyal rasa kantuk, yang menyebabkan manusia terdorong untuk tidur.

Kebutuhan psikis (emosional) jauh lebih sulit untuk dikenali maupun dipenuhi bila dibandingkan dengan kebutuhan fisik, karena kebutuhan psikis itu merupakan sesuatu yang abstrak, tidak tampak secara jelas. Meskipun sulit dikenali, maupun dipenuhi, namun untuk mencapai pertumbuhan psikis yang sehat, maka kebutuhan psikis (emosional) ini harus dipenuhi, seperti juga perlunya memenuhi kebutuhan fisik, untuk mencapai kondisi fisik yang sehat.

Pada masa-masa perkembangan fisik yang pesat, yaitu pada masa anak-anak dan remaja, maka kebutuhan fisik ini juga tinggi. Kurang terpenuhinya kebutuhan fisik pada masa-masa pertumbuhan ini, dapat mengakibatkan adanya "cacat" fisik di kemudian hari. Sebagai contoh anak yang kekurangan gizi pada masa pertumbuhannya, dapat menyebabkan pertumbuhan fisiknya menjadi kurang sempurna.

Apabila pertumbuhan fisik yang paling utama terjadi pada masa anak-anak dan remaja, maka pertumbuhan psikis yang paling utama terjadi pada lima tahun pertama dari perkembangan manusia, karena pada masa itulah peletakan dasar-dasar kepribadian manusia. Rasa percaya diri, dorongan untuk berprestasi, kreativitas, dan sebagainya terutama ditentukan dari seberapa jauh kebutuhan-kebutuhan psikis (emosional) pada masa lima tahun pertama perkembangan anak ini terpenuhi.

Untuk memenuhi kebutuhan emosional dari anak yang masih kecil, yang belum mampu mengutarakan bahkan mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri adalah tidak mudah. Secara umum memang kita telah dapat mengenali kebutuhan emosional manusia seperti kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, perhatian dan sebagainya. Namun untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan rasa cinta, kasih sayang dan perhatian, bukanlah merupakan hal yang mudah. Suatu bentuk larangan misalnya (contoh: orang tua melarang anaknya untuk bermain di jalan), yang sebetulnya merupakan perwujudan rasa sayang orang tua terhadap anak, apabila tidak dikomunikasikan dengan benar, akan dipersepsikan sebagai suatu hal yang negatif oleh anak. Oleh karena itu pengenalan terhadap kebutuhan emosional anak dan cara pemenuhan kebutuhan yang benar, sangat diperlukan untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian yang sehat pada seorang anak, sekaligus untuk membentuk suatu hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.

Tujuh Macam Kebutuhan Emosional Anak

Linzer (dalam Goodman, 1959) menyebutkan bahwa ada tujuh macam kebutuhan emosional anak yang paling mendasar, yaitu kebutuhan akan: (1) cinta; (2) penerimaan; (3) rasa aman; (4) perlindungan--kebebasan; (5) tuntunan beragama; (6) bimbingan, dan (7) pengendalian. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai kebutuhan-kebutuhan tersebut:

Cinta

Cinta merupakan dasar dari perkembangan anak. Setiap anak butuh merasakan bahwa orang tuanya mencintai dan menginginkannya. Wujud cinta dalam kehidupan sehari-hari antara lain ditunjukkan dengan ungkapan kata-kata, seperti panggilan "sayang" kepada anak, ungkapan perilaku seperti memeluk, menggendong, atau ungkapan berupa perhatian terhadap anak.

Penerimaan

Setiap anak membutuhkan keyakinan bahwa orang tua mereka menerimanya seperti apa adanya, menerima tidak hanya bila dia bertindak sesuai dengan keinginan orang tua mereka, tetapi setiap saat. Anak akan merasa diterima bila orang tua dapat menghargai jerih payahnya dan tidak menuntut yang berlebihan kepada anak.

Rasa aman

Setiap anak ingin merasakan bahwa rumah mereka merupakan tempat yang aman, bahwa orang tua mereka mampu menciptakan suasana hati yang tenang dan tenteram, bahwa orang tua mereka siap menjaga, khususnya di saat mereka menghadapi masalah atau menghadapi situasi yang baru.

Perlindungan -- kebebasan

Setiap anak menginginkan agar orang tuanya menjaga dan memberikan perlindungan dari segala macam bahaya, membantunya pada saat anak menghadapi sesuatu yang baru atau sesuatu yang menakutkan. Tetapi di samping itu anak juga menginginkan agar orang tua memberikan kebebasan kepada mereka dalam menemukan hal-hal baru, dan dalam melakukan segala sesuatu bagi dirinya sendiri, sehingga tumbuh rasa percaya dirinya. Kedua unsur ini harus diberikan secukupnya saja dan harus seimbang.

Tuntunan beragama

Setiap anak membutuhkan tuntunan dalam hidup beragama, agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang benar, karena dalam agama sudah ada hukum-hukum moral yang mengatur semua yang ada. Adalah tugas orang tua untuk "menghadirkan" Tuhan dalam kehidupan anak-anaknya dan dalam memberikan


Lihat halaman VIII kol. 4


Sumber: Suara Karya, 11 November 1994


Minggu, 02 Februari 2025

Korban Dua Keganasan

Pulung Gantung: Menyingkap Tragedi Bunuh Diri di Gunung Kidul
Penulis: Darmaningtyas
Penerbit: Yogyakarta, Salwa Press, 2002

SEAKAN meniru jejak antropolog Prancis, Emile Durkheim, yang meneliti fenomena bunuh diri, Darmaningtyas meneliti hal serupa. Durkheim mengerjakan dalam konteks di Prancis, Darmaningtyas menulisnya dalam konteks di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan sang penulis memang menggunakan paradigma Durkheimian dalam karyanya ini. 

Emile Durkheim menulis buku Le Suicide (1897) dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris pada 1951 (Suicide: A Study in Sociology). Durkheim mengungkapkan fenomena bunuh diri sebagai gejala kejiwaan individual, psikososial, struktural, dan alam semesta. Ia menggolongkan gejala universal bunuh diri menjadi empat bentuk: egoistik, altruistik, anomik, dan fatalistik.

Tingginya frekuensi bunuh diri di Gunung Kidul, terutama sejak pertengahan tahun 1980-an, membuat orang setempat percaya bahwa pulung gantung terjadi karena sejumlah anggota masyarakat melakukan perilaku yang dipantangkan. Menurut mitos setempat, pulung gantung akan didahului sebuah tanda di langit pada malam hari. Bentuknya adalah cahaya bulat berekor, berwarna kemerahan agak kekuningan dengan semburat biru yang meluncur cepat menuju rumah calon korban.

Berdasarkan data yang dia kumpulkan pada tahun 1980-2001, Darmaningtyas menunjukkan bahwa para pelaku bunuh diri didominasi kaum lelaki berusia 35-50 tahun, miskin, buta huruf, dan terisolasi secara geografis, mobilitas sosialnya rendah dan kabur kanginan (asal-usul dan tujuan tidak jelas). Hampir semua pelaku bunuh diri yang ditelusuri lebih jauh latar belakangnya berasal dari kelompok rentan ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan. Peletup bunuh diri ini adalah depresi panjang karena utang, malu tak tertanggungkan, dan sakit kronis.

Lalu apa yang dilakukan para pejabat setempat? Para pejabat justru bagian dari masalah, karena banyak dari mereka yang tidak bisa memikirkan dengan sungguh-sungguh kehidupan masyarakatnya. Koperasi Unit Desa (KUD) berubah maknanya menjadi "Kuperasi Uang Desa". Para birokrat lebih senang menangguk keuntungan di antara terpuruknya masyarakat. Kajian Darmaningtyas ini menunjukkan potret ketidakberdayaan paling telak dari masyarakat pedesaan di Jawa akibat marginalisasi, involusi, dan korban dari keganasan alam serta keganasan birokrat lokal.

Suryasmoro Ispandrihari
Alumni Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta



Sumber: Tempo No. 25/XXXI/19-25 Agustus 2002



Klik gambar agar terlihat lebih jelas.

Senin, 16 Desember 2024

Mati Satu, Muncul Seribu

Setelah Napster mati, penyedia program pertukaran dokumen musik bermunculan. Industri rekaman kewalahan.

GAJAH mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Napster tutup? Penyedia layanan pertukaran dokumen musik ini meninggalkan sekitar 20 juta pengguna. Selama tiga tahun beroperasi, situs yang didirikan Shawn Fawning itu bagaikan surga bagi para penggemar musik. Di situ mereka dengan gampang bisa saling tukar dokumen musik dengan pengakses lainnya. Punya satu bisa mendapat seribu.

Terang, pesta itu membuat para bos industri rekaman di Amerika Serikat berang. Tergabung dalam Recording Industry Association of America (RIAA), mereka lalu menghantamnya dengan tuduhan mematikan: penyebar wabah pelanggaran hak cipta.

Tukar-menukar dokumen musik identik dengan penggandaan. Ini menabrak pasal dalam undang-undang hak atas kekayaan intelektual. Setelah melewati proses hukum yang panjang, pengadilan federal akhirnya melarang Napster beroperasi lagi. Dan sejak akhir Juli lalu, situs kondang itu benar-benar tutup layar.

Selesai? Belum. Tak lama kemudian, bermunculan situs sejenis dengan layanan berbeda-beda. Malah tiga situs paling populer saat ini, Kazaa, Grokster, dan Morpheus, diminati lebih banyak orang. Totalnya sekitar 70 juga pengguna aktif. Ketiga situs itu hampir sama dengan Napster, hanya teknologinya lebih canggih, sehingga secara hukum sulit dijegal. Mereka tak hanya menyediakan layanan tukar-menukar dokumen musik, tapi juga videogame, foto, program aplikasi, dan film layar lebar yang sedang diputar di bioskop. Semua kenikmatan tersebut bisa didapat secara gratis.

Pengurus RIAA, yang mewakili delapan raksasa industri rekaman, pun gerah lagi. Demikian pula asosiasi perfilman Amerika (MPA), yang mewakili 19 studio. Munculnya situs pengganti Napster membuat angka penjualan cakram padat (CD) produk mereka di seluruh dunia anjlok lima persen. Sebaliknya, angka penjualan CD kosong meningkat pesat, bahkan untuk pertama kalinya melampaui CD rekaman. 

Mereka lalu menggugat pemilik ketiga situs tersebut. Tuduhannya sama: pelanggaran hak cipta. "Kami tak punya pilihan," kata Cary Sherman, penasihat hukum RIAA, "Kalau kami tidak menggugat, ribuan situs seperti mereka akan terus muncul dan mengganggu bisnis kami."

Hanya, pengelola ketiga situs itu punya argumen kuat. Mereka mengaku tak punya kontrol apa pun pada pemakaian layanan yang mereka sediakan. Pengelola juga tak mengetahui siapa saja yang menggandakan dan menukar dokumen, entah itu lagu milik Eminem, entah resep masakan kalkun panggang ala Seattle, lewat jaringan mereka. Pemilik situs Kazaa, Grokster, dan Morpheus memang agak sulit disalahkan. Soalnya, cara kerja mereka berbeda dengan Napster. Ketiganya mendesentralisasi sistem server-nya. Mereka hanya menyediakan programnya, sedangkan server-nya berupa komputer milik pengakses yang jumlahnya puluhan juta itu. Dulu Napster gampang disalahkan karena menggunakan server sentral yang bisa melacak dan mengontrol transfer dokumen di antara sesama penggunanya.

Gugatan RIAA pun kedodoran. Dalam memo rahasia yang bocor ke mana-mana, tim pengacara lembaga ini terus terang mengakui bahwa gugatan mereka sebetulnya tak sekuat ketika menghadapi Napster. Karena itu, mereka tak yakin bakal memenangkan gugatan.

Secara teknis, sulit juga menghentikan pertukaran dokumen musik atau film lewat program yang disediakan ketiga situs itu. Kata Niklas Zennstrom, pendiri Kazaa, satu-satunya jalan menghentikan pemakaian layanan situsnya adalah memerintahkan agar semua pengakses mematikan program di komputernya. Ini sesuatu yang mustahil.

Kalaupun semua situs ini ditutup karena perintah pengadilan atau alasan lainnya, belasan situs serupa telah siap menggantikannya. Soalnya, "Situs-situs itu sekadar alar," kata seorang penggemar Kazaa kepada majalah Fortune, "Kalau industri rekaman menutup mereka, saya bisa mencari gantinya di tempat lain." Begitu juga para penggemar lainnya. 

Wicaksono



Sumber: Tempo Nomor 24/XXXI/12-18 Agustus 2002



Selasa, 27 Agustus 2024

Arie Hanggara di Ipusnas

Lagi membaca Tempo No. 22/XXXI/28 (atau 29?) Juli – 4 Agustus 2002, di halaman 20 menemukan kolom “ARSIP” dengan kover Tempo tempo doeloe yang mengangkat kasus Arie Hanggara. Tak ingat mula-mula tahu tentang Arie Hanggara dari mana, dulu pernah sempat menonton filmnya di YouTube tapi tidak meneruskan, mungkin karena keburu meneteskan air mata :’{ Film ini menampilkan Dedi Mizwar sebagai ayah Arie Hanggara, ketika itu usianya mungkin baru sekitar 30-an tahun, sedang saya baru “mengenal”-nya (tidak secara personal, hanya melalui televisi) setelah menjadi Pak Haji di Lorong Waktu dan membintangi iklan obat sakit mag.

Klik gambar agar huruf terbaca jelas.
Tempo edisi Arie Hanggara diangkat dalam Tempo edisi 28/29 Juli – 4 Agustus 2002 sepertinya untuk meramaikan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli. Dalam Tempo edisi akhir Juli 2002 ini pula terdapat selingan yang menyoroti eksploitasi anak, baik di masyarakat bawah maupun di dunia hiburan.

Di Ipusnas ada dua “buku” mengenai Arie Hanggara, tepatnya dua  kumpulan artikel Tempo (disusun oleh Pusat Data dan Analisa Tempo, diterbitkan oleh TEMPO Publishing), masing-masing berjudul Kisah Arie Hanggara dan Kekerasan terhadap Anak dan Kisah Arie Hanggara yang Terkapar di Tangan Machtino. Buku pertama terbit 2019 total 111 halaman, sedang buku kedua 2023 60 halaman. Setelah dicek, rupanya buku kedua hanya menerbitkan ulang sebagian artikel yang ada di buku pertama. Sudah begitu, halaman yang terisi dalam buku kedua itu cuma sampai nomor 40 dan selebihnya kosong.

Gambar screenshot
dari Ipusnas.
Catatan ini meringkas artikel-artikel dalam kedua buku tersebut, disertai komentar kalau ada.

Tewas di Tangan Ayah Kandung (17 November 1984)

Artikel ini menyampaikan secara detail bagaimana Arie Hanggara didisiplinkan oleh orang tuanya, yaitu ayah kandungnya, Machtino, dan ibu tirinya, Santi. Arie dihajar dengan tangan dan gagang sapu, ditempeleng, diguyur air, diacung-acungi pisau. Kepalanya dibenturkan ke tembok. Sampai akhirnya Arie meninggal dunia. Jasadnya yang penuh memar dicurigai pihak rumah sakit, sehingga polisi dihubungi.

Kasus ini dilatari permasalahan rumah tangga Machtino-Santi. Konon Santi yang galak sebab harus membiayai Machtino yang mengganggur beserta ketiga anaknya. Machtino sendiri katanya cukup sabar, penyayang dan pengalah.

Pemicu dihajarnya Arie sampai tewas adalah karena ditemukannya uang yang cukup besar pada waktu itu (8000 atau 8500) dalam tas anak tersebut. Arie mengatakan bahwa uang itu dicurinya dari anak SMA di yayasan tempatnya bersekolah. Namun, setelah pihak sekolah memeriksanya, tidak ada yang mengaku kehilangan uang.

Ketika berita ini diturunkan, Arie baru dimakamkan sekitar seminggu sebelumnya yaitu 9 November setelah pada 8 November dini hari diantarkan ke rumah sakit.

Yang Terkapar di Tangan Machtino (24 November 1984)

Membayangkan beban ekonomi keluarga Arie, saya berpikiran wajar kalau Santi menderita stres. Machtino pun bukannya lelaki dengan penampilan dan kepribadian yang sama sekali buruk, ia punya beberapa kualitas. Namun, kenyataannya, yang dipentingkan dari laki-laki terutama adalah kemampuan untuk menghasilkan secara mapan. Laki-laki tidak bisa sekadar menjadi bapak rumah tangga yang baik, tetapi mungkin stres dari mencari kerja/tidak memberikan nafkah, apalagi dengan beberapa anak, dapat memengaruhi caranya mendidik. Sama halnya dengan perempuan yang menjadi ibu rumah tangga, apabila suaminya kurang berpenghasilan sementara ia pun belum dapat menunjang ekonominya sendiri, mungkin mengalami stres hingga  melampiaskan kepada anak-anaknya (bahkan ada yang pernah sampai membunuh).

Membuka video-video tentang Arie Hanggara di YouTube dan membacai komentar-komentarnya, ada yang mengatakan bahwa ia menjadi “masokis” sebab sebagai anak tengah sebetulnya sedang mencari perhatian orang tuanya. Orang tuanya sendiri “kreatif” dalam menghukum Arie, bukan cuma secara fisik, melainkan juga psikis misalkan dengan menulis kalimat yang sama berulang-ulang. Ada pula yang berkomentar bahwa pemberitaan Arie Hanggara sempat efektif menyadarkan orang tua pada masa itu agar tidak terlalu keras kepada anaknya. Walaupun pedih, ada hikmahnya. (Walaupun, sekitar empat puluh tahun sejak kasus ini terjadi yaitu sekarang ini, masih ada saja kasus penganiayaan/pembunuhan anak?)

Benarkah Kita Tidak Kejam? (1 Desember 1984)

Kasus Arie Hanggara hanyalah gunung es dari banyaknya kasus kejahatan orang tua kepada anak. Memang tidak persis sama, tapi tak kalah keji. Ada anak-anak perempuan yang dicabuli ayah kandungnya sendiri—apalagi ayah tiri—sampai hamil. Ada anak-anak lelaki yang mencari perhatian, tapi malah dihukum dengan kekerasan fisik sehingga lari dan menjadi pencuri untuk bertahan hidup sampai menjadi tahanan. Ada pula yang setelah dewasa menjadi kriminal.

Ini 40 tahun lalu, sudah ada istilah “child abuse” dan akibat dari kasus Arie Hanggara adalah diangkatnya perhatian pada pendidikan anak, serta “warisan” atau istilahnya sekarang mungkin “generational trauma”, yakni orang tua memperlakukan anaknya sedemikian karena sekadar meneruskan perlakuan orang tuanya sendiri terhadap dirinya. Menurut Singgih Gunarsa (guru besar Fakultas Psikologi UI yang bersama istrinya pada tahun ’80-an menerbitkan serangkaian buku psikologi anak, remaja, dan keluarga), orang tua yang menghukum untuk mendidik (tidak menyakiti) itu cuma 5%. Selebihnya yang 95% itu memukul anak karena tidak pandai mengendalikan emosi. Maka fenomena ini umum sekali … sampai sekarang. Malah sekarang tampak kian kompleks saja, dengan munculnya fenomena childfree juga marriage is scary, saking takutnya mewariskan luka batin pengasuhan orang tua kepada generasi selanjutnya serta saling menyakiti dengan pasangan akibat luka-luka itu.

Menariknya, para ayah yang disorot dalam artikel ini pada pensiunan polisi/tentara. Ada juga yang tahanan politik.

Artikel ini menyebut judul artikel lain yang sepertinya terkait, “Tidak Hanya di Sini”, tapi sayang tidak disertakan ke dalam buku ini, apa karena tidak secara langsung berhubungan dengan Arie Hanggara? Dari judulnya jangan-jangan mengangkat tentang kasus kejahatan kepada anak di negara-negara lain?

Petaka Usia Tujuh Tahun (1 Desember 1984)

Artikel ini tampak mencoba memahami sudut pandang Machtino, ayah Arie Hanggara, dengan menelusuri sebab-sebabnya sampai tega menghabisi nyawa anaknya. Ketika kurang lebih seusia dengan Arie, pada usia 7 tahun, ia sendiri mengalami “petaka”, berupa perceraian orang tuanya. Ayah Machtino anggota DPR/MPR yang memulai kehidupannya dari bawah sekali, dan mendidik anak-anaknya dengan hukuman disiplin. Disiplin ayahnya ini hendak ditiru Machtino.

Adapun mantan istri Machtino alias ibu kandung Arie Hanggara, yaitu Dahlia, adalah anak mayor. Walau keduanya anak orang punya jabatan, mereka sama-sama memiliki banyak saudara dan itu juga tidak menjamin kemulusan dalam pendidikan dan pekerjaan. Baik Machtino maupun Dahlia sama-sama tidak menyelesaikan pendidikan. Machtino pun sulit mempertahankan pekerjaan.

Memang kasus kejahatan orang tua kepada anak tidak hanya dipengaruhi oleh masalah emosi orang tua tetapi juga keadaan ekonominya. Namun, melihat latar belakang Machtino dan Dahlia yang sepertinya bukan bawah amat, tampak kedudukan orang tua tidak menjamin kesuksesan anak.

Setelah Arie, Siapa Lagi (15 Desember 1984)

Artikel ini mengangkat kasus-kasus pembunuhan anak akibat penganiayaan orang tua yang rupanya terjadi tidak hanya kepada Arie di Jakarta, tetapi juga di tempat-tempat lain di Indonesia seperti Tangerang dan Jayapura. Yayasan Perguruan Cikini (tempat Arie dan ayahnya sama-sama pernah bersekolah) menanggapi kasus Arie dengan mengadakan seminar yang dihadiri ratusan peserta. Dalam diskusi ini, dibicarakan mengenai hubungan orang tua-anak, bagaimana orang tua tidak mau mendengarkan anak, dan bagaimana peran anak dalam keluarga yang cenderung dianggap sebagai pelampiasan, perpanjangan cita-cita orang tua, serta sarana produksi (membantu pekerjaan orang tua untuk menambah pendapatan). Padahal anak punya hak-hak tersendiri, tapi masih rancu juga batasan usia yang disebut sebagai anak itu; ada yang mengatakan sampai usia 14 tahun, ada juga yang 18 malah 21, selama belum kawin.

Mengetahui banyaknya kekerasan terhadap anak-anak, dalam hal ini anak-anak Generasi X (tahun ’80-an) yang sekarang pun sudah memiliki anak-anak yang disebut sebagai Generasi Z, jadi bertanya-tanya, apakah generasi muda dewasa ini acap disebut-sebut “lembek” karena orang tuanya yang segenerasi dengan Arie Hanggara itu tidak hendak mengulangi cara orang tua mereka yang dianggap terlalu keras? Arie telah menjadi martir bagi anak-anak Generasi X Indonesia, dan mereka paham tidak ada anak yang minta dilahirkan, sehingga berusaha memberikan kehidupan yang sebaik mungkin bagi anak mereka sendiri, Generasi Z, walaupun jadinya dianggap terlalu memanjakan …. 

Arie, Sebuah Simbol (12 Januari 1985)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) ketika itu, Nugroho Notosusanto, punya ide membuat patung Arie Hanggara sebagai simbol ketiadaan kasih sayang orang tua. Rencananya, patung ini akan ditaruh di depan museum pendidikan Dep. P & K. Maka ditugaskanlah seorang dosen patung ISI Yogyakarta untuk mengerjakannya. Namun timbul kontroversi. Patung itu dirasa menyinggung keluarga Arie, seperti hendak menghukum mereka tujuh turunan. Arie mungkin cuma model, tetapi bagi keluarganya tetap ada kesan personal.

Gambar screenshot
dari Ipusnas.

Siapa Bertanggung Jawab Bila …. (26 Januari 1985)

Bukankah sikap dan perilaku seseorang terbentuk dalam rumah tangga dan lingkungan tempat ia dibesarkan. Mungkin orang tua yang suka memukul anak-anaknya dulu dibesarkan dalam suasana rumah tangga yang membuat mereka mudah bersikap kasar.” (halaman 75)

Artikel ini menyorot persidangan Machtino-Santi, yang penontonnya membeludak melebihi kapasitas ruangan, terutama oleh ibu-ibu dan anak sekolah. Masyarakat mudah menghujat, apalagi kalau sudah sampai jadi berita. Tapi, Tempo tidak berhenti di sana, terus mengusut sebab-sebab terjadinya kasus demikian, sampai menelisik latar belakang/masa lalu para pelaku menurut psikologi.

Pasangan model Machtino-Santi agaknya kian jamak sekarang ini: lelaki friendly tapi kurang pekerja keras bertemu wanita mandiri tapi kurang kasih sayang orang tua. Machtino sendiri memiliki ayah yang sangat sukses dan sudah berdikari sejak usia belia. Namun efek kesuksesan ayahnya padanya hanyalah sebagai angan-angan, sulit diteladani oleh dirinya. Kesuksesan sang ayah itu pula agaknya membuat terlalu sibuk, sehingga pertemuan mereka kurang berkualitas untuk membina karakter.

Simbol Itu Dibatalkan (26 Januari 1985)

Kembali menyoal patung Arie Hanggara, gagasan Menteri P & K dibatalkan sebab menuai protes masyarakat. Beliau berjiwa besar dengan menerima protes itu. Tapi pematungnya ternyata bikin patung lain yang semiabstrak. Kalau menteri setuju, patung itu yang akan diberikan kepada Dep. P & K. Ada pula yang mengusulkan di Kompas: kalau ingin bikin monumen peringatan anak, mending modelnya anak-anak pekerja di jalanan, sebab itu “masalah kita semua, lebih dari kasus Arie”.

Bila Rumah Bukan Lagi Tempat …. (26 Januari 1985)

Artikel ini mengumpulkan kasus anak dari berbagai kalangan: ada yang kecanduan narkotika, ada yang berbuat kriminal, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Rupanya ini karena ada beda persepsi antara orang tua, guru, dan anak. Orang tua dan/atau guru cenderung memaksakan kehendak sendiri, tidak membuka dialog dengan anak. Kalau orang tua kurang berperhatian, terlalu mengekang, atau terlalu keras, lalu anak memberontak, itu tampak wajar. Ada juga yang di rumah tak ada masalah, orang tuanya tanggap, tapi di sekolah si anak bikin masalah melulu karena berkonflik dengan guru.

Pelajaran untuk Orang Tua (13 April 1985)

Isinya berita tentang pernikahan resmi Machtino-Santi, serta Dahlia mengambil kembali saudara-saudara Arie yang padahal sudah diserahkannya kepada Machtino.

Simpulan:

Masalah emosi dan ekonomi orang tua dapat memengaruhi kesejahteraan anak. Tapi, walaupun keadaan ekonomi orang tua baik-baik saja, bahkan termasuk golongan berkedudukan, kalau kesibukan dari aktivitas ekonomi dan kedudukannya itu sampai berakibat pada kurangnya perhatian, tetap saja tidak menguntungkan anak. Mau begini atau begitu, sama-sama berpotensi menimbulkan masalah.

Sekalipun orang tua sudah berusaha membesarkan anaknya dengan baik, masalah tetap bisa datang dari luar (guru, teman-teman, lingkungan pergaulan, elite kapitalis global, dan seterusnya). 

Mungkin memang ada pihak-pihak yang bersalah dan harus berikhtiar untuk memperbaiki segala sesuatunya, tapi ujungnya adalah soal qada dan kadar, bahwa memang dunia ini tempatnya cobaan/ujian dan manusia tempatnya salah/dosa. Terima bahwa begitulah hidup: masalahnya tiada akhir.

Kedua buku ini mengandung banyak tipo dan ada detail yang membingungkan (sekolah penerbangan yang sempat diikuti Machtino itu di Curug atau Belgia?)

Senin, 15 April 2024

Teknik Membaca yang Baik

Judul buku : Cara Membaca Buku dan Memahaminya
Pengarang : Mortimer J. Adler dan Charles van Doren
Penyadur : Drs. Budi Prayitno
Penerbit : PT Pantja Simpati, Jakarta, 1986
Tebal : 127 halaman.

Langkanya minat membaca masyarakat kita menjadi momok yang tidak berujung pangkal, ditengarai (disinyalir) bukan hanya terjadi di kalangan orang kebanyakan, tetapi sudah meluas sampai tingkat universitas. Artinya, para mahasiswa dan para dosen tergolong kelas pembaca yang rendah.

Membaca dalam arti sebenarnya tidak hanya membaca, tetapi membutuhkan tujuan untuk mengerti yang dibaca. Untuk itu diperlukan teknik membaca, teknik memahami bahan bacaan. Bagaimana teknik membaca yang baik, buku ini dapat menjelaskannya.

JENIS MEMBACA

Buku ini dibagi menjadi empat bab, yang aslinya berjudul 'How to Read a Book'. Menurut pengantarnya, lektur ini pernah mencapai sukses pemasaran. Itulah agaknya yang menyebabkan penyadur berusaha menerbitkannya dalam bahasa Indonesia, agar dapat dijadikan buku pintar bagi yang membutuhkannya.

Membuka buku ini, kita pertama-tama diperkenalkan pada jenis-jenis membaca. Oleh penulis, membaca dikategorikan ke dalam dua kelompok. Yang pertama membaca untuk memperoleh informasi seperti membaca surat kabar, majalah, dan sejenisnya. Kedua, membaca untuk meningkatkan pemahaman. Membaca jenis terakhir ini lebih sulit dibandingkan dengan jenis pertama.

Di samping itu, membaca dapat pula digolong-golongkan menjadi jenis membaca tingkat dasar, membaca tingkat ini bertujuan hanya sekedar dapat membaca. Tingkat ini diikuti oleh membaca inspeksional. Dalam tingkat ini orang tidak lagi baca asal baca, tetapi sudah mengacu untuk meneliti sifat-sifat umum bahan bacaannya. Tingkat selanjutnya ialah tingkat membaca analisis, kemudian tingkat terakhir ialah membaca sintopikal. Tingkat sintopikal ialah tingkat membaca perbandingan. Artinya, orang membaca tidak hanya satu buku, melainkan banyak buku. Gunanya untuk mencari hubungan antara buku satu dengan isi buku lainnya. 

Patokan yang dianjurkan untuk membaca antara lain, lihatlah halaman-halaman awal buku yang akan dibaca. Bila ada pengantarnya, jangan dilewatkan begitu saja. Pelajari daftar isi buku. Gunanya untuk mendapatkan gambaran umum tentang penyusunan buku tersebut. Bila ada daftar indeksnya, periksalah daftar indeksnya itu. Dari daftar indeks, si pembaca dapat mencari persoalan-persoalan yang ingin dicari dari buku itu.

Mungkin di antara beberapa tingkat membaca, tingkat membaca analisis memiliki karakteristik tersendiri. Membaca jenis ini, pembaca harus mengetahui jenis buku yang akan dibaca; misalnya buku yang akan dibaca fiksi ataukah nonfiksi. Setelah mengetahui jenisnya, lalu pembaca menyusun kesatuan isinya dalam beberapa kalimat. Kemudian dalam membaca analisis ini, catatlah bagian-bagian yang penting dari buku itu. Jangan lupa sebutkan masalah apa yang ingin dipecahkan penulis dalam buku tersebut. Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membaca analisis.

Masih segudang tersedia tata cara membaca yang baik dari lektur ini. Tidak dilewatkan begitu saja, bagaimana mempergunakan buku-buku referensi. Cara menggunakan kamus dan ensiklopedia turut ditayangkan dalam buku ini. Bagi yang membutuhkan tata cara membaca yang baik, buku ini cukup memadai untuk dimanfaatkan. (miska m. amien) .-



Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal



Selasa, 13 Februari 2024

Ihwal Perklipingan (2)

Gambar dari Instagram.
Ada motivasi kuat untuk menghadiri acara workshop kliping beberapa waktu lalu (Minggu, 11 Februari 2024, lantai 3 Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung). Soalnya, di rumah ada koleksi kliping artikel sejarah milik Mama yang banyaknya lumayan. Selain itu, ada bertumpuk-tumpuk majalah lawas dsb yang kadang-kadang memuat artikel menarik lainnya. Karena hobi Mama mengkliping itu, selazimnya anak suka meniru perilaku orang tua, saya pun punya hasrat untuk menyimpan/merekam dan mengelompokkan apa-apa--salah satunya teks--yang menarik, apalagi kini ketika terbitan lawas sudah menjadi semacam barang langka, unik, bahkan antik. Timbul keinginan untuk berbagi dengan siapa saja, walaupun tidak secara fisik tapi melalui layar saja. Satu inisiatif yang saya coba adalah mendigitalisasikannya di blog, mana tahu ada yang mau ikut baca. Namun sepertinya istilah "mendigitalisasikan" terlalu keren. Sebab, yang saya lakukan sebetulnya hanyalah mengetik ulang artikel-artikel itu, sekalian membacanya secara lambat (dengan asumsi pengetahuan di dalamnya bakal rada menempel ketimbang kalau membaca secara biasa--yang, setelah bertahun-tahun melakukannya, ternyata enggak juga sih ... :p). 

Workshop kliping kemarin menunjukkan bahwa mengkliping secara digital rupanya tidak sesederhana itu, mengkliping ternyata dapat dilakukan secara profesional, dan mengkliping memang memiliki arti penting. 

Workshop ini menunjukkan hal-hal teknis, langkah-langkah yang dilakukan untuk mengkliping secara digital. Halaman yang mau dikliping di-scan lalu di-crop dan diberi nama. Dalam penamaan, yang pasti harus ada tanggal, bulan, dan tahun. Nomor halaman diperlukan bagi yang mau membuat tulisan ilmiah. Tentukan kategorinya. Lalu, buat metadata yang isinya di samping data artikel juga paragraf yang berupa intisari artikel mengandung kata-kata kunci agar kelak mudah dicari ketika dibutuhkan. 

Secara sederhana, ini dapat dilakukan dengan mengandalkan HP sebagai pengganti gunting dan scanner. Demikianlah yang dilakukan para peserta kemarin. 

Pekerjaan ini dapat melatih cara berpikir supaya rapi dan sistematis. Pekerjaan ini juga memerlukan stamina fisik sehingga mengimbanginya dengan olahraga itu penting.

Gus Muh sendiri, alias Muhidin M. Dahlan selaku pengampu workshop, mengerjakan kliping secara profesional, melakukannya seharian setiap hari, dan menjadikannya usaha komersial di antaranya berupa warungarsip.co

Artikel-artikel yang diklipingnya, yang berhubungan dengan tema acara selanjutnya, ada pula yang dipamerkan kala itu, dicetak pada kertas-kertas panjang yang berjuntaian mengitari ruangan. Di antara kertas panjang itu ada yang menyatakan fungsi dari kliping: "merawat ingatan, memperdalam pemahaman tentang hal-hal lampau, agar hari ini tidak mengalami amnesia". 

Gambar dari Instagram.
Hasil lain dari pekerjaannya mengkliping adalah buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998. Buku tebal seharga Rp 150.000 ini (didiskon jadi Rp 120.000 selama acara) adalah kliping yang dibukukan, berisi artikel-artikel dalam tema sebagaimana judulnya. Acara berikutnya, setelah workshop, membicarakan isu-isu yang diangkat dalam buku tersebut, dengan menghadirkan lebih banyak pembicara yang keren-keren pesertanya pun membeludak. Arti penting kliping diuraikan lebih lanjut dalam acara ini. 

Sebetulnya, dalam acara ini tersirat suatu maksud sehubungan dengan agenda politik yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Malah judul dari workshop kliping itu sendiri adalah: "Kliping sebagai Kerja Politik di Zaman Digital". Demikian acara ini memberikan konteks khusus akan guna dari kliping, yaitu memulihkan ingatan masyarakat akan sesuatu hal yang imbasnya dapat membantu mereka membuat keputusan yang akan menentukan masa depan bangsa (ih, dahshiaaat~). Cara efisien dalam pendokumentasian sebagaimana ditunjukkan Gus Muh dalam workshop di muka adalah untuk memudahkan dalam memanggil artikel-artikel terkait jika sewaktu-waktu diperlukan dalam momen seperti ini. Dengan begitu, kliping adalah kerja untuk kepentingan publik.

Walau demikian, yang menjadi inspirasi Gus Muh justru kerja individual sebagaimana dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya Pram). Gus Muh membuka workshop dengan menceritakan kegiatan mengkliping Pram, terutama selama menjadi tahanan rumah. Pram sang "pendekar gunting" tiap hari membeli 6 surat kabar. Namun, yang diklipingnya hanya 2 tema: desa dan dirinya sendiri. Hasil mengkliping selama 30 tahun itu disusun dalam jilid-jilid berukuran A5 bersampul oranye yang seluruhnya mencapai 17 meter (Gus Muh mengukurnya sendiri pakai penggaris 30 cm). Sepintas, pekerjaan ini tampak untuk kepentingan pribadi (kalaupun ada Pusat Dokumentasi Arsip Pramoedya Ananta Toer atau semacamnya, saya belum dengar sebagaimana halnya dengan Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin yang kerap diberitakan itu). Namun, sepertinya ini juga yang menyokong Pram sehingga dapat menghasilkan karya-karya sastra yang begitu berharga. Ujungnya untuk khalayak juga.

Mengkliping sebagaimana yang dilakukan Gus Muh adalah usaha mengumpulkan dan merapikan informasi, menyediakannya kepada siapa saja yang berkepentingan untuk mengolahnya. Seiring dengan kemajuan zaman dan pengarsipan yang makin baik ini, penulis sekarang mesti berhadapan dengan makin banyak data, sehingga makin dituntut untuk memiliki daya analitis yang makin tinggi pula sembari menghadirkan kebaruan--kerja yang makin pelik. Di kubu lain, orang makin tak peduli, makin tak membaca, makin tak beraturan, terhanyut dalam cara pikir yang makin-instan/mau-cepat saja; atau, kalaupun masih ada kepedulian, keinginan, kurang ada keleluasaan untuk melakukannya secara berkelanjutan. Di antara dua kubu itu, ada pula yang berusaha agar aktivitas membaca dan menulis senantiasa tertahankan meskipun ....

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain