Tampilkan postingan dengan label proyek nyonya teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label proyek nyonya teladan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2019

Oseng-oseng Tahu Tempe Sambal

That time of the year has come. Adakalanya saya ditinggal sendirian di rumah selama berhari-hari, bersama makanan sisa serta bahan masakan di kulkas yang setengah membusuk. Inilah waktu bagi saya untuk mengasah skill memasak.

Kali ini saya ditinggalkan bersama setengah bakul nasi, tujuh potong tempe goreng tepung, serta lima potong tahu goreng polos dari semalam. Kiat andalan saya dalam "menyulap" gorengan lepek begini agar menggugah selera untuk menghabiskannya adalah meng-oseng-oseng-nya bersama sambal.

Omong-omong, pada saat menulis ini, saya tidak menemukan kata oseng-oseng baik di https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/oseng-oseng maupun di https://kbbi.web.id/. Why, KBBI, whyyy??? Padahal itu suatu istilah yang sudah sangat memasyarakat sekali, bukan?

Karena tidak tersedia cabe dan hijau-hijauan (: seledri dan atau bawang daun) di kulkas, maka saya pun pergi ke warung terdekat. Saya membeli setengah ons cabe merah keriting dengan harga Rp 2.500 serta bawang daun seharga Rp 2.000 (entah berapa ons itu). Seledri tidak ada.

Di rumah, mulailah saya memotong-motong gorengan. Tempe kira-kira sebesar korek api--sebenarnya berkali-kali lipat lebih besar. Sedangkan untuk tahu, asal kecil saja--mungkin sebesar satu ruas jari. Sisihkan.

Lalu saya menyiapkan bumbu-bumbu. Karena total jumlah gorengan adalah 12 potong atau 1 lusin, maka saya menyiapkan 12 siung bawang merah. Untuk bawang putih, tadinya mau 12 juga--biar adil sama rata, gitu lo. Tapi, setelah membersihkan 6 siung bawang putih, tampaknya sudah cukup. Untuk cabe, dari 1/2 ons itu rupanya saya mendapatkan 26 buah. Dua lusin saya bersihkan, sedangkan sisanya untuk masak lain kali. 

Setelah mencuci semua bumbu yang diperlukan, mulailah saya membuat sambal. Jauh lebih praktis kalau ada blender. Karena tidak ada blender yang masih berfungsi, saya pun menggunakan cara tradisional yaitu dengan cobek dan muntu. Saya tambahkan juga garam dan merica--sekitar 1/2 sampai 1 sendok.

Lalu saya menyiapkan wajan. Saya masukkan 2 sendok makan minyak goreng bekas yang ada di rantang. Lalu saya masukkan sambal. Oseng-oseng sampai keluar aromanya. Kemudian saya masukkan potongan tempe dan tahu. 

Di sela-sela mengaduk bahan dan bumbu, saya tambahkan sekitar 1 sendok gula serta memotong-motong bawang daun untuk ditambahkan terakhir.

Jadilah!

Hasilnya kira-kira bisa untuk empat kali makan.

Bayangkan! Empat kali berturut-turut makan yang itu melulu!

Hari itu, saya memakan masakan tersebut dengan nasi untuk siang dan malam. Setelah makan malam, sisa masakan dan nasi masing-masing saya pindahkan ke wadah terpisah untuk dimasukkan ke freezer. Kalau tidak begitu, saya khawatir besok keadaannya sudah kurang layak makan.

Keesokan paginya, saya mengeluarkan kedua wadah itu untuk memanaskan isinya. Untuk nasi, saya bermaksud memasaknya jadi nasi goreng. Ketika dibuka, oseng-oseng-nya agak beku, but it's okay. Untuk nasi, ... jadi es dong. Masing-masing saya bagi menjadi dua. Sebagian untuk sarapan, sebagian lagi untuk makan siang.

Saya membaca petunjuk di bagian belakang kemasan bumbu nasi goreng instan rasa pedas. Setelah menyiapkan wajan, saya pun memasukkan 1 sendok makan minyak goreng. Setelah itu, giliran oseng-oseng terlebih dahulu baru kemudian nasi. Untuk nasi, keadaannya sudah bergumpal-gumpal dan beku. Sehingga, sembari mencampurkannya dengan oseng-oseng, saya mesti sambil memecahkan gumpalan-gumpalan itu.

Sebetulnya oseng-oseng itu sendiri karena mengandung sambal sudah cukup untuk menjadi bumbu nasi goreng. Tapi, saya tambahkan juga sedikit bubuk bumbu nasi goreng instan itu. Lagian, itu sisa--bukannya saya sengaja membuka kemasan yang baru.

Nasi pun bisa terurai dan bercampur baik dengan oseng-oseng. Saya memakannya bersama kerupuk. Rasanya? Tidak begitu buruk, mengingat prinsipnya sekadar mengolah makanan sisa agar menggugah selera untuk menghabiskannya--supaya tidak mubazir.

Karena memasak sambil memotret setiap langkahnya itu ripuh (kecuali ada asisten), maka saya cuma menghadirkan hasil akhirnya.

Merah kuning hijau cokelat di wajan yang perak.

Selasa, 13 Agustus 2019

Pelajaran Memasak Dahulu, Pesta Daging Kemudian

Pada hari tasyrik pertama, saya menaiki kereta Bandung Raya kelas ekonomi jurusan Cicalengka pukul 7.15 WIB dengan membawa ransel berisikan dua wadah, yang masing-masingnya memuat daging-sapi-mentah serta enam ketupat-agak-kecil siap-santap. Selain itu, saya juga membawa daging-sapi yang sudah diolah dan dikemas dalam bentuk Royco 

Menanggapi momen Idul Adha, hari itu memang ada rencana untuk bikin sate di rumah seorang kawan di Cicalengka. Akan ada seorang kawan lagi yang membawa daging. Karena freezer di rumah saya sendiri penuh oleh daging, maka saya pun hendak menyumbang sedikit.

Kami baru memulai kira-kira pukul sepuluh lewat seperempat pagi-menjelang-siang, setelah membeli nanas (dua puluh ribu tiga ukuran kecil sudah dikupas) di pinggir jalan, bumbu-bumbu (cabai rawit, cabai merah besar, ketumbar bubuk, tomat) dan suatu sayuran (yang saya kira bernama loncang tapi setelah saya googling barusan ternyata bukan!--jadi entah apa namanya tapi pokoknya hijau dan panjang seperti daun bawang tapi mengerucut ke atas dan di ujungnya itu ada semacam bunga yang juga berwarna hijau tapi lebih muda) di pasar, serta Aice rasa coffee crispy dari warga setempat sebab hari mulai panas.

Pertama-tama, daging dibersihkan. Untuk membersihkan daging sampai air bilasannya benar-benar bening sungguh akan membuang-buang air. Mungkin persis seperti membersihkan beras: kalau air bilasannya sampai bening berarti sarinya sudah hilang. Maka daging dibersihkan secukupnya saja, setelah itu dipotong sesuai dengan selera. Karena rencananya mau bikin sate, maka daging dipotong kecil-kecil. Tapi karena saya menyumbang daging dan akibatnya jadi banyak, maka sebagian dipotong dalam ukuran lebih besar untuk dijadikan rendang, dedeng, atau apalah terserah tuan rumah, hehe.

Pada awalnya, saya kebagian tugas menghaluskan bumbu: tujuh siung bawang putih, tujuh siung bawang merah, serta secukupnya ketumbar, lada, dan garam yang semuanya berupa bubuk.

Setelah itu, saya membantu memotong daging. Daging yang bisa dipotong kecil untuk sate, saya potong kecil untuk sate. Daging yang sulit dipotong kecil, saya potong sebisa-bisanya untuk jadi rendang atau semacamnya itu. Biasanya terdapat lapisan putih pada daging yang sulit dipotong--entah apa namanya.

Daging yang telah dipotong kemudian dimarinasi dengan bumbu halus. Jangan ragu-ragu menggunakan kedua belah tangan untuk mengaduk potongan daging dengan bumbu halus, hingga semuanya terbalur secara sempurna. Jangan ragu-ragu juga untuk menambahkan ketumbar, lada, garam, dan semacamnya seolah-olah semakin banyak bumbu akan menjadikan daging semakin bercita rasa--meski memang begitulah nantinya.

Kami juga menambahkan parutan nanas sebagai bumbu. Teman saya bilang: selain untuk mengurangi bau dan menyegarkan, nanas juga dapat melunakkan daging. Anyway, pada tahap ini kami mendapat pelajaran penting bahwa cara menghaluskan nanas itu bukan dengan diparut, melainkan diblender atau lebih praktis lagi dilumatkan sekalian di cobek bersama bumbu-bumbu lainnya.

Sembari menunggu bumbu meresap ke daging, teman saya memotong bahan-bahan yang lain (: cabai rawit, cabai merah besar, tomat, dan sepertinya nanas juga, dan mungkin juga perasan jeruk nipis, dan saya sarankan untuk memanfaatkan sisa sayuran-yang-saya-kira-loncang-tapi-ternyata-bukan itu sekalian, dan entah apa lagi) untuk membuat sambal dabu-dabu khas Manado. Untuk menjadikannya sambal, potongan bahan itu dicampur dengan minyak di atas wajan yang dipanaskan (: ditumis). Silakan googling untuk mengetahui resep sambal dabu-dabu yang terstandardisasi.

Tibalah saat menyiapkan sate. Komposisi sate terdiri dari: potongan sayuran-yang-mudah-mudahan-nanti-saya-tahu-namanya, daging, serta nanas. Cara memasukkan bahan-bahan ini ke tusuk kayu rupanya tidak sembarangan.

1. Bagian tengah biasanya lebih cepat matang. Taruhlah daging di tengah sedang sayur dan nanas di bagian ujung.
2. Tusukkan daging secara memanjang agar seluruh permukaannya dapat terkena oleh api.

Poin kedua ini cukup sulit lo.

Sementara saya menyiapkan sate sampai semua tusuk kayu yang bisa-digunakan habis, kedua teman saya menyiapkan alat pembakaran di teras. Rupanya kedua teman saya tidak memiliki alat pembakaran yang proper. (Saya pun tidak.) Saya pikir, supaya praktis, sate dibakar langsung di atas kompor saja. Tapi teman saya bilang rasanya akan berbeda. Kami sudah punya arang. Untuk tempat arang, kotak kaleng persegi panjang bekas kue akan digunakan. Untuk penyangga tempat meletakkan sate, akhirnya tuan rumah mendapat pinjaman dari tetangganya. Untuk menyangga penyangga, digunakan potongan bata (pada dasarnya: ada gunanya juga kita menyimpan berangkal di rumah). Tetangga-tuan-rumah juga berjasa dalam menyalakan arang.

Saya yang pada dasarnya pesimistis sementara hari sudah melewati zuhur dan saya ingin pulang sebelum sore terus berpikiran soal membakar sate langsung di atas kompor saja. Alat pembakaran ini tidak meyakinkan. Dikipasi bagaimanapun, apinya tetap redup dan tidak mau menyebar. Kapan satenya akan matang? Tapi teman-teman saya rupanya adalah orang-orang yang positif dan tidak cepat menyerah. Mereka terus mengipas, sampai ada ide untuk mengolah sisa daging-untuk-sate jadi tumis. Sementara teman yang paling andal dalam urusan memasak ke dapur untuk mewujudkan ide tersebut, teman yang satu lagi terus mengipas sedangkan saya mengatur letak sate pada penyangga sambil sesekali mengoleskan ramuan mentega campur kecap pada permukaan daging dengan sendok.


Tampaknya saya harus belajar untuk bersikap gigih seperti teman-teman saya. Berangsur-angsur, api dapat membesar dan menyebar. Satu demi satu sate yang dikira-kira telah matang (bahkan gosong!) dipindahkan ke piring, dan digantikan oleh yang baru. Proses yang tadinya terasa begitu lambat kini menjadi cepat. Malah, tetangga ikut membakar satenya di situ.

Semua sate pun telah dibakar, siap untuk disantap biarpun beberapa sudah saya lahap sedari tadi. Bumbu apa pun yang telah diberikan teman saya tadi telah membuat sate sungguh berasa. Malah, nanas yang sewaktu dicicipi ketika baru dipotong berasa kecut, setelah dibakar justru menjadi sangat manis!

Di dapur, sambal dabu-dabu telah jadi sementara teman saya itu mengaduk-aduk tumis daging berikut sisa potongan nanas dan sayur-ya-ampun-apa-sih-namanya hingga lebih menyerupai semur--yang justru enggak kalah menggairahkan. Dia bilang terlalu banyak menambahkan kecap. Tapi toh kelihatannya tetap enak.


Untuk minuman, kami menyeduh satu kantung teh hijau yang diimpor dari Jepang dan setengah potong buah lemon besar. Pahit amis asam, tinggal ditambah gula akan semakin ramai rasanya.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu tiba. Karena sudah mencicipi sate, saya langsung menuangkan semur daging dan sambal dabu-dabu di atas potongan ketupat lantas melahapnya. Saya sampai lupa mengambil kerupuk karena begini saja sudah nikmat: didominasi manis, yang justru saya suka!

Kamis, 24 Desember 2015

Guacamole Seadanya Ala Indonesia

Guacamole itu sambal Meksiko berbahan dasar alpukat, kata adik. Memanfaatkan separuh buah alpukat sisa bikin jus dengan mengikuti petunjuk resep dari http://id.m.wikihow.com/Membuat-Guacamole dan memanfaatkan bahan yang tersedia di dapur, terciptalah ini:

image
(Maaf, kameranya enggak bagus.)

Penyesuaian yang dilakukan sebagai berikut. Takarannya dikira-kira saja atau sesuai selera.

1. Bawang bombay diganti bawang merah. Iris tipis-tipis.

2. Cabai jalapeno diganti cabai keriting merah. Iris tipis-tipis.

3. Daun ketumbar diganti seledri. Iris tipis-tipis.

4. Bawang putih iris tipis-tipis.

5. Semua bahan yang telah diiris tipis-tipis itu dilumatkan di molcajete alias cobek.

6. Iris dan kerok daging alpukat dari kulitnya mengikuti petunjuk dari Wikihow. Campurkan dengan bahan lainnya di cobek.

7. Lemon diganti jeruk nipis. Tambahkan perasan jeruk nipis ke cobek.

8. Tambahkan garam ke cobek.

9. Lumatkan semua bahan di cobek.

10. Tambahkan potongan tomat ke cobek. Aduk-aduk hingga tercampur.

11. Siap disajikan dan dimakan dengan keripik apa pun yang bisa dianggap sebagai pengganti tortilla yang tersedia di rumah.

Sepintas sambal ini terlihat seperti sambal hijau. Padahal hijau tersebut berasal dari alpukat yang nuansa rasanya cenderung tawar namun segar. Saya suka campuran bawang merah, seledri, air jeruk nipis, dan tomat dalam sambal ini, menambah kesegaran dan sensasi tersendiri.

Jumat, 16 Agustus 2013

Resep hari ini: Telur matahari ubur-ubur

I
"Mau dibikinin telur matahari?"
"Telur matasapi!"
"Bukan, matahari. Sapi matanya enggak kuning."

II
"Kok telurnya dikasih bihun?"
"Biar kayak ubur-ubur. Nih, tambah nasi sama kecap, ya."

Telur matahari ubur-ubur. Hidangkan hangat-hangat dengan nasi dan kecap. source

make your own meme here

Minggu, 14 April 2013

(tidak-begitu-)bening bayam dan orak-arik-atau-isi-pepes-padahal-sambal-goreng ayam-tahu

Sembari menciduk air untuk membersihkan sayur dan umbi, aku bertanya-tanya kenapa aku harus memasak. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat? Supaya suamiku kelak tidak menyesal? Sepertinya karena sudah buntu dengan menulis.

Nyonya Teladan lagi tidak ada. Setelah lama tidak masak, kali ini aku merasa bagai kali pertama. Aku harus mulai dari yang sederhana.

Belakang aku terbayang-bayang bayam. Tidak kusangka akan kutemukan di kulkas. Googling dengan kata kunci “bening bayam”.

Papa merebus potongan daging ayam. Kutanya buat apa. Sebagian untuk sop, sebagian untuk digoreng. Ketimbang diolah tanpa kreativitas, aku putuskan sebagian untuk sambal goreng. Googling dengan kata kunci “sambal goreng” sekalian.

Untuk bening bayam, kurang jagung dan temu kunci.

Untuk sambal goreng, kurang kentang, daun salam, serai, lengkuas, cabai rawit, gula merah, asam jawa, cabai keriting, merica, terasi…

Tidak masalah. Bening bayam bisa tanpa jagung dan temu kunci. Sambal goreng, minimal cabai keriting. Bukan pertama kali aku bikin bening bayam dan sambal goreng. Pada pengalaman-pengalaman sebelumnya pun aku tidak selalu patuh pada resep alias jalan dengan bahan seadanya.

Bening bayam

Mestinya ini bayam dari Carrefour. Walau jarang mengolah sayur, aku tahu macam apa bayam yang buruk. Barangkali karena bayam ini sudah beberapa hari di kulkas—aku tidak ingat kapan terakhir Papa belanja.

Aku petiki jua helai demi helai dua ikat bayam itu, jumlah yang pas dengan resep. Kukuliti bawang merah. Kuambil wortel seperlunya, tanpa timbang-timbang, kupotong ujung-ujungnya, kubersihkan permukaannya. Bersama sebutir tomat, kucuci mereka tiga kali.

Bawang merah kuiris-iris. Resep bilang wortel dipotong miring, aku lupa, biarlah. Aku belah tomat beberapa bagian, untung tidak hancur.

Aku takar air 250 ml, kutuang ke panci. Terlalu sedikit…! Aku tengok resep, ternyata 2.500 ml, ganti panci. Aku biarkan panci berisi air itu pada kompor menyala hingga muncul gelembung-gelembung kecil. Aku tidak sabar untuk memasukan potongan-potongan bawang…

Kupandangi potongan-potongan kecil tak keruan itu, semula terpuruk di dasar lantas terangkat perlahan-lahan ke permukaan. Menari-nari digerakkan gelegak air. Rebus sampai harum, kata resep. Haruskah kucium? Barangkali temu kunci yang bikin harum, aku lebih ingin temu kangen… Air semakin mendidih. Berikutnya lingkaran-lingkaran oranye yang berterbangan di ceruk panci.

Masak sampai empuk, kata resep. Beberapa lama. Kuambil satu potongan dengan pisau. Kubelah di talenan. Kuicip panas-panas. Masih keras. Kuamati lagi potongan-potongan wortel yang berloncatan beberapa lama. Kuambil lagi sepotong. Kubelah. Kuicip. Rasa wortelnya masih kentara. Sekali lagi. Belum. Kutinggal deh. Berikutnya wortel sudah sangat empuk.

Sesuai resep aku cemplungkan satu sendok teh gula, aku suka manis, aku lebihkan, satu lagi, lalu, semoga resep ini tidak salah, 5 ½ sendok teh garam, sepertinya kebanyakan, jadi tidak pakai ½, aku tambahkan lagi gula, terakhir potongan tomat.

Warna-warni berdansa-dansi di kawah panci. Masak sampai mendidih, kata resep. Sudah mendidih dari tadi, batinku. Kumasukkan helai-helai bayam. Masak sampai matang, kata resep. Memang aku tahu bayam yang matang seperti apa? Wortel sudah sangat empuk tadi. Aku bolak-balik isi panci dengan pisau, sampai kira-kira dedaunan itu cukup lemas.

Aku cicipi sedikit kuah bening yang tidak begitu bening itu. Sepertinya keasinan. Mungkin aku memang sudah ingin kawin...

Sambal goreng

Di warung hanya tersedia cabai keriting, merica bubuk, dan terasi. Ada cabai merah besar, tapi melihat mereka aku tidak selera. Harus pilah-pilih lagi. Sudah siang saat itu, masak sempat ditunda karena ada urusan di luar rumah yang bikin buruk suasana hatiku. Aku singgah sebentar di Alfamart untuk beli es krim Sponge Bob, tidak dicantumkan dalam resep, aku hanya ingin ngemil.

Ayam sudah dibumbui, tinggal digoreng. Aku berencana untuk mengganti kentang dengan tahu.

Aku malas, jadi tidur dulu dalam buaian Unknown Mortal Orchestra dan Tame Impala, sampai seekor kucing masuk dari jendela. Mau tidak mau aku bangun untuk membukakan pintu kamarku, sehingga dia bisa keluar untuk menyusui anak-anaknya.

Setelah galau sebentar aku pun menuju dapur.

Ada enam sayap di panci, selebihnya cakar. Aku ambil tiga, karena aku suka keseimbangan, untuk digoreng dengan minyak yang sudah terpakai sebelumnya, karena aku suka hemat. Aku jauh dari wajan padahal, sembari mengurus bumbu halus, tapi letupan minyak panas tetap mencipratiku.

Setelahnya aku goreng tiga kotak besar tahu—menyesuaikan dengan jumlah sayap, juga mencuci bahan-bahan untuk bumbu halus. Resep bilang tambahkan garam dan merica bubuk saat bumbu halus sudah ditumis, tapi aku butuh pelicin untuk menggilas di cobek, jadi sekalian saja. Biar dikata bumbu halus, tapi kupikir tidak perlu halus amat, lagipula aku bukan orang Minang.

Mensuwir-suwir ayam cukup menyenangkan, sesekali aku menyuap potongan kering kulit ke mulut. Aku membuat kesalahan dengan tahu. Sekiranya tahu, apalagi sebesar itu, dipotong kecil-kecil sejak sebelum digoreng. Memotong tahu kecil-kecil setelah digoreng bikin potongan tidak rapi, apalagi dalamnya masih rada lunak. Setelah dicampur dengan bumbu halus nanti pasti hancur. Biarlah.

Sisa minyak untuk menggoreng ayam dan tahu di wajan kukembalikan ke rantang, lalu aku ambil lagi beberapa sendok teh untuk menumis. Sebentar saja minyak panas. Aku masukkan bumbu halus, kubuyarkan dengan spatula kayu sampai lumayan harum. Aku tumpahkan potongan-potongan daging-kulit-mungkin-sedikit-tulang ayam dan tahu ke wajan.

Hm… sudah tampak oke. Sambal goreng yang pernah kubikin biasanya berhenti sampai tahap mencampur bumbu halus dengan potongan lauk, tapi kali ini aku ingin mencoba hal baru, yang memang dititahkan oleh resep, yaitu menambahkan santan…

…yang ternyata menghancurkan segalanya.

Di resep tertera 300 ml. Aku hanya akan menuangkan 90 ml saja, sesuai yang tersedia di kulkas. Tidak kuduga 90 ml sedemikian kental. Suwiran ayam bertabur butiran-butiran isi tahu yang dilumuri dengan sobekan-sobekan merah nan seksi dari kulit cabai keriting mendadak bak isi lambung yang tidak tercerna.

Aku lari keluar dapur untuk mengambil segelas air dari dispenser, untuk kutuangkan ke adonan lembek itu. Masukkan air asam jawa. Masak sampai meresap. Bagaimana dengan air mineral? Aku biarkan sampai meresap bagaimanapun juga.

Tergugu aku di muka wajan yang meruapkan panas.

Air santan mineral itu benar-benar meresap. Aku perhatikan lingkaran oranye kemerah-putihan itu perlahan menyurut, hingga adonanku hampir persis seperti mula tapi sayangnya tetap rada lembek. Aku aduk terus sambil bertanya-tanya, kapan kering, kapan kering, bisa enggak kering? Ingin kulakukan terus sampai tercium gosong, tapi kucukupkan jua. Adikku sudah masuk dan menanyakan kapan masakanku jadi, ingin segera makan dan memang nyaris tidak ada lauk di meja makan.

Aku tuangkan “sambal goreng” rupa-rupa itu ke mangkok. “Jangan lihat bentuknya,” kataku pada adikku, tapi lihatlah dari rasanya yang sepertinya juga meragukan. Bagaimanapun aku belum makan nasi dengan lauk sedari bangun pagi itu. Nasi masih panas, “sambal goreng” masih panas. Ketika mamaku bertanya masakan apa itu, aku ingin menjawab, pepes ayam-tahu tapi isinya doang. Gundukan itu juga tampak seperti orak-arik, padahal aku tidak membubuhkan telor setetespun. Ah entahlah.

Keliatan kayak nasi goreng... :-?

Santan kental membuat orak-arik-atau-isi-pepes-padahal-sambal-goreng itu terasa terlalu gurih, tapi sepadan jika dilahap bersama gumpalan nasi yang manis-manis tawar. Enak juga, walau keasinan, tapi enak kok, cuman keasinan. Tapi aku cukup puas.

Aku lanjutkan dengan menyendok bening bayam bikinanku sendiri, yang sempat aku tidak berselera untuk memakannya. Adikku yang lain lagi bilang kalau rasa masakanku tersebut biasa, yang malah kusyukuri, ketimbang “keasinan”, atau “enggak enak”, atau “memuakkan”, ya kan? Setelah kucicipi sendiri ternyata rasanya tidak seasin yang kukira. Cukup. Walau tidak manis juga. Tapi cukup.

Wah... (pas mau ambil ternyata) tinggal dikit! Sepertinya lumayan laku...

Lumayan, untuk ukuran orang yang biasa makan seadanya.

Ingin kuteriakkan, (calon) ibu rumah tangga, BISA! Tapi sepertinya perjalanan masih jauh.

Jumat, 21 September 2012

While There’s Still Time (A. Rahartati Bambang)


                Dani menggelengkan kepala. Tulisan dalam poster di atas boks Tata sungguh mengundang tanya. Apa maksudnya? While there’s still time… Senyampang ada waktu.
                Kendati telah membacanya berulang kali, dan menerjemahkannya di dalam hati, Dani masih juga tak mengerti. Apa kaitan poster itu dengan kepulangannya dari rumah bersalin? Mengapa pula secara khusus Suryo meletakkannya di sana, di atas boks Tata? Ia yakin Suryo memilih benda itu bukan karena latar belakangnya—lukisan setangkai anterium warna magenta—melainkan karena rangkaian kata-katanya.
                While there’s still time… Senyampang ada waktu…
                “Yok?” Dani berteriak memanggil suaminya.
                Ia baru sadar begitu mendengar suara mobil yang semakin menjauh. Ah, ya. Suryo harus segera ke apotek…
                Diam-diam ia merasa kecewa. Mengapa pada hari seistimewa hari itu—hari pertama kehadirannya bersama Tata, anak pertama mereka—Suryo tidak menyambutnya dengan hadiah yang lebih semarak, misalnya karangan bunga anyelir warna merah muda kesukaannya?
                Dengan hati-hati ia membaringkan Tata yang masih nyenyak di tempat tidur. Ia sendiri lalu bergolek di sampingnya.
                While there’s still time… Gumamnya berulang kali. Senyampang masih ada waktu…
                Ya? Senyampang masih ada waktu. Bukankah cuma seperti itu artinya? Tak ada yang luar biasa. Tak ada istimewanya.
                Diam-diam Dani menyesali ketidakmampuan suaminya dalam memberikan “isyarat”. Ah! Suryo memang tak seromantis Mas Ardi, kakak sulungnya. Pada hari ulang tahun perkawinan pertama, ia menghadiahkan sebuah buku mungil berjudul Bloom where you are planted, kepada Mbak Peni, istrinya, berisi kata-kata mutiara yang sangat mengena, khusus bagi pasangan-pasangan muda. Tetapi poster itu… While there’s still time… Bah!
                Ia lalu berusaha menghilangkan kekecewaannya dengan berkata kepada dirinya sendiri bahwa kecakapan dalam memilih hadiah memang bukan milik setiap orang. Seperti Martina, teman sekantornya. Ia yakin atasan tak akan berani lagi menugasi rekannya itu untuk mencari hadiah bagi siapapun. Selera Martina memang aneh. Gara-gara anehnya selera Martina, hubungan mereka sampai merenggang selama beberapa waktu.
                Peristiwa itu terjadi ketika Retno—teman satu departemen—akan menikah. Diputuskan, kantor akan memberikan hadiah lemari es. Karena kebetulan Dani tahu warna ubin di dapur Retno—terracotta—ia menjerit kecil ketika Martina bersikeras memilih warna biru. Apa mau dikata. Barangkali karena merasa diri sebagai si pembuat keputusan, Martina sama sekali tidak mempedulikan saran Dani. Baru ketika hadiah dibuka di depan karyawan—termasuk atasan—diam-diam semua mengulum senyum. Karena merasa ikut terpojok, Dani akhirnya keceplosan. “Coba kita ambil yang tadi, ya, Tien…”
                Oleh Martina kalimat tersebut rupanya dianggap sebagai ajakan bermusuhan. Selama berminggu-minggu ia membiarkan Dani menegur angin. Bahkan berpapasan pun ia enggan…
                Rangkaian kata di poster kembali mengganggu pikirannya. Apa sebenarnya maksud Suryo?
                “Melamun ya?” tiba-tiba ia mendengar pintu dibuka. Suryo masuk sambil tertawa-tawa. “Mana anakku?”
                “Psst!” jawab Dani sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya. “Jangan keras-keras. Dia tidur!”
                Tanpa mempedulikan larangan istrinya, Suryo naik ke tempat tidur dan menyelujurkan tubuhnya di samping si bayi mungil untuk menciumi pipinya. Cukup lama ia menunggu kedatangannya. Wajah dan matanya menyiratkan kebahagiaan.
                “Lihat, Dan!” ujarnya sambil menggamit istrinya. “Kakinya cuma segini…,” ujarnya sambil merentangkan ibu jari dan telunjuknya. “Cuma segini, Dan!”
                Ia terkejut ketika menyadari bahwa Dani tetap menengadahkan kepala, tak menoleh ke arahnya.
                “Sakit?”
                Dani tidak menjawab. Ia hanya mengetuk bibir berulang kali dengan ujung telunjuknya.
                Suryo tertawa, lalu menciumi bibir istrinya.
                “Maaf! Sampai lupa. Kau punya saingan, sekarang. Oh, ya, Dan. Kau sudah lihat itu?” ujarnya sambil menunjuk poster.
                Dani mengangguk.
                “Suka?” tanya suaminya.
                Dani kembali mengangguk.
                “Itu artinya kau kurang suka,” lanjut lelaki itu. “Buktinya kau cuma mengangguk.”
                “Suka,” ujar Dani kemudian, “Tapi terang saja aku tidak tahu maksudnya. While there’s still time…”
                “Siapa sih, guru bahasa Inggrismu dulu? Pakai bakiak barangkali ya?” kata Suryo sambil terbahak.
                “Psst! Nanti Tata terbangun!” kata Dani sambil menyodok dada suaminya. “Tentu saja aku tahu artinya… Senyampang ada waktu… Ya, ‘kan?” Tapi apa maksudnya? Apa kaitannya dengan kedatangan Tata dan kepulanganku dari Ibunda?”
                “Makanya, Non. Punya IQ tinggian dikit, dong. Jangan cuma sekadarnya. Sekarang coba lagi utak-atik maknanya. While there’s still time… Kauterjemahkan apa tadi?”
                “Senyampang ada waktu…”
                “Apa? Senyampang? Bukan! Mumpung…” sergah suaminya.
                “Huh. Itu sulitnya punya suami aji mumpung. Ada padanan lain yang lebih canggih, Bung! Senyampang… atau selagi kebetulan. Lihat saja di kamus…”             
                “Oke. Senyampang ada waktu…. Bagus, ‘kan?”
                “Apa bagusnya?”
                “Payah banget, sih! Dulu kupikir kau ini cuma pura-pura bodo, Dan. Ternyata beneran. Jangan-jangan ijazah sarjanamu juga aspal. Aduh!” Suryo menjerit ketika Dani mencubit pinggangnya. “Sekarang dengar. Senyampang ada waktu…”
                “Diulang-ulang terus. Bosen!” ujar Dani sambil memberengut. “Senyampang ada waktu kau mau ngapain?”
                “Nah! Kau sudah jawab sendiri. Kau mau ngapain senyampang ada waktu?”
                “Mau baca… Mau masak… Mau apa saja bisa: Senyampang ada waktu.”
                “Nah! Senyampang ada waktu, aku mau mencintai suamiku…”
                “Males! Senyampang ada waktu, aku mau meracun suamiku… Au!” Giliran Dani menjerit ketika Suryo mendekapnya kuat-kuat.
                “Maaf, Non. Lupa. Masih rapuh, sih, ya. Habis, baru lulus jadi Ibunda… Makanya serius dikit, dong. Senyampang ada waktu, aku mau merawat Tata sebaik-baiknya…
                “Senyampang ada waktu, aku mau mengajaknya bermain-main… Senyampang ada waktu, aku mau… Apa saja, deh. Kau selalu bisa membubuhkan kata-kata itu di depan semua rencanamu. Yang baik, tentunya.”
                “Hih! Aku jadi ngeri. Bukankah ungkapan semacam itu seolah mengingatkan bahwa waktuku tak banyak lagi, seolah sebentar lagi aku ma…”
                “Psst!” ujar Suryo sambil membungkam mulut istrinya, “Berpikirlah positif, Non! Kalau kau selalu menambahkan While there’s still time pada setiap kegiatanmu, rencanamu, kau pasti akan melakukannya dengan sebaik-baiknya. Itu pasti. Karena kau merasa dikejar waktu. Karena kau merasa waktumu tak banyak lagi… Begicu…
                “Jijay! Kaya bencong!”
                “Bencong? Lalu itu apa, dong?” ujarnya sambil menunjuk Tata yang masih lelap dan menepuk dadanya berulang-ulang…
                “Oke. Sekarang aku tak tahu apa maksudmu. Dan kau sendiri bagaimana? Tentu sangat tidak adil kalau kau tidak menerapkannya…”
                “Siapa bilang? While there’s still time, aku mau menikmati keberadaan Tata dengan sejenak tidur-tiduran di sampingnya… While there’s still time, aku juga ingin mencium ibunya anakku puas-puas… Wow! Sudah dulu, ya. Aku mau ke kantor lagi…”

*

                Malam itu, dengan hati-hati Dani membaringkan tubuh di samping anaknya. Esok pagi, Tata akan merayakan ulang tahun yang keenam. Semua telah siap. Termasuk kotak-kotak dari kertas chrome-coated putih bertuliskan, Tata, 6 tahun, yang akan dibagikan di sekolah. Tinggal memasukkan isinya…
                Dani tersenyum. Di mata seorang ibu, anak adalah malaikat, seberapapun bengalnya. Dan kini, malaikat kecilnya yang bengal sedang lelap tidur. Dengan hati haru Dani mengamati setiap sudut wajah buah hatinya, sambil membelai jari-jari tangan dan kakinya yang mungil. Ketika sambil lalu ia merentangkan ibu jari dan kelingkingnya untuk mengukur kaki bidadarinya, ia terhenyak. Pada usianya yang keenam, panjang kaki Tata tepat sejengkal tangannya…
                Ah! Bukankah seperti baru kemarin Suryo menggamit lengannya sambil merentangkan telunjuk dan ibu jari untuk memperlihatkan “ukuran” telapak kaki Tata?
                Ia menjerit dalam hati. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Karena kesibukannya, banyak hal terabaikan. Pertumbuhan Tata telah luput dari perhatiannya. Hari ini panjang telapak kaki Tata tepat sejengkal tangannya. Sebentar lagi ia pasti akan bertambah sebuku jari, dan sebuku lagi… Hingga suatu hari Tata tak akan membutuhkan dirinya lagi. Ia tidak akan merengek-rengek lagi meminta cerita pengantar tidur. Ia akan malu bermanja-manja. Ia tak akan mengganggunya lagi dengan seribu macam pertanyaan yang terkadang menjengkelkan. Ia akan memiliki sahabat, teman akrab, bahkan kekasih. Ia akan memiliki dunianya sendiri… Dan, ah! Poster itu… Ia bahkan tidak menyadari kapan Tata tak tidur lagi dalam boksnya…
                Mendadak ia begitu merindukan anaknya. Ah! Bukankah Tata sedang terlelap di sampingnya?
                Dengan penuh kasih ia lalu membelai rambut anaknya, sementara bibirnya menggumam janji…
                Senyampang ada waktu akan kubuka lebar mataku untuk melihat pertumbuhannya… Senyampang ada waktu akan kudengarkan dan kunikmati “gangguan” pertanyaannya… Senyampang ada waktu akan kuhayati setiap detik masa kanak-kanaknya… Senyampang ada waktu akan kuresapi setiap detik keibuanku…
                “Ibu!” bisik anak itu sambil menggeliat. Belaian Dani membangunkannya tiba-tiba. “Ceritain, dong!” ujar gadis kecil itu masih dengan mata mengantuk.
                Hampir saja Dani memberikan jawaban klisenya, ‘Ih! Ibu ‘kan capek!’ Untung kepalanya bereaksi lebih cepat. “Mau cerita apa, Ta?”
                Anak itu kini benar-benar membuka matanya. “Ibu punya waktu?” tanyanya heran.
                “Punya, Ta. Banyak sekali…”

Untuk Rita dan Jane Oetoro
(Sarinah, No. 306, 11-24 Juli 1994)


NB: Ini cerpen yang paling menyentuhku di antara cerpen-cerpen lainnya dalam “ApresiasiCerpen Indonesia Mutakhir” (Korrie Layun Rampan: Bukupop, Jakarta, 2009). Kupersembahkan untuk para calon ibu maupun yang sudah ibu. :)

Rabu, 21 Desember 2011

Bekal Membina Keluarga Sejahtera


Judul : Resep Masakan dan PKK
Penulis : Ny. Wulandari
Penerbit : Aneka Ilmu, Semarang, 1987 (cet. 9)


Eyang putri akan menertawakan dia yang memasak menggunakan resep. Sebab yang eyang putri butuhkan hanya feeling. Afektif. Sedang ketangkasan merajang bawang atau kekuatan dalam memarut kepala merupakan aspek psikomotorik. Namun pendidikan tak akan lengkap tanpa kehadiran satu aspek lagi: kognitif. Untuk itulah sebuah buku semacam ini ditulis.

Manfaatnya secara kognitif memang ada, antara lain, saya mendapatkan pengetahuan baru mengenai 4 bumbu yang paling sering digunakan dalam memasak aneka sayur. Dari 11 resep sayur yangtersaji, semuanya menggunakan garam, 10 di antaranya menggunakan bawang merah, 9 resep menggunakan bawang putih, sedang ketumbar digunakan dalam 6 resep. Jenis lain yang cukup banyak digunakan adalah terasi, cabe merah, gula merah, dan salam.

Dalam memasak sayur, sayur harus dibersihkan dulu. Kita biasa memasak sayur dalam kuah. Perkara sayur dimasukkan lalu direbus atau dimasukkan setelah mendidih, itu tergantung jenis sayurnya. Sawi bisa langsung ditumis. Bayam adalah sayur yang rentan sehingga biasanya dimasukkan terakhir. Daging, kacang, nangka, atau kluwih harus direbus dulu.

Bumbu biasanya dimasukkan setelah sayur lalu dimasak sampai air mendidih lagi. Jenis bumbu yang digunakan untuk satu menu adalah beragam. Semuanya bisa dimasukkan secara bersamaan, atau bergiliran. Ada yang diiris dulu lalu ditumis, langsung dimasukkan begitu saja, dihaluskan dulu baru ditumis, dihaluskan saja lalu dimasukkan, maupun diiris lantas dimasukkan.

Selain sayur, buku kecil nan tipis ini juga memuat seratusan resep lain. Ada macam-macam masakan nasional lain seperti sop, acar, mie, sambal, gulai, sate, nasi, soto, pergedel, sambal goreng, lauk-pauk, gudeg, ca, serta tahu dan tempe. Belum lagi kue nasional: kue kering, kue basah, roti, cake, dan hidangan segar. Wow, ternyata bukan hanya tembang saja yang nasional, tapi juga makanan dan kue. Hebat.

Bukan sekadar resep masakan, buku ini dilengkapi juga dengan pendidikan kesejahteraan keluarga alias PKK. Ada sepuluh pokok PKK yakni: hubungan intern dan antar keluarga, bimbingan anak, makanan, pakaian, perumahan, kesehatan keuangan, tata laksana rumah tangga, keamanan lahir batin, serta perencanaan sehat.

Hubungan intern keluarga merupakan bahan yang bagus untuk dijadikan novel. Bagi warga kota yang individualis-apatis-materialistis, secara nyata nilai-nilai kekeluargaan telah pudar. Kapan terakhir kali seluruh anggota keluarga bisa kumpul, makan malam bersama, bercanda ringan sesudahnya, dan masing-masing menceritakan pengalaman-pengalaman dan kesulitan-kesulitannya? Rekreasi maupun melakukan pekerjaan rumah bersama-sama merupakan aktivitas sederhana namun hal-hal yang demikian ini justru mempertebal ikatan batin sehingga tumbuh rasa kasih sayang. (hal. 102)

Hubungan antar keluarga alias dengan tetangga juga patut diperhatikan demi ketenteraman batin. Saya hidup di lingkungan di mana suatu rumah kerampokan dan tetangganya tidak ada yang tahu. Pun saya tidak hapal wajah tetangga saya. Namun saya juga hidup di lingkungan di mana hampir tiap hari mau tidak mau saya harus senyum, bahkan mengucap sedikit kata, karena bertukar pandang dengan tetangga. Dua lingkungan yang berbeda, tentu, sebab hidup saya saat ini semi-nomaden. Mending yang mana?

Membimbing anak merupakan suatu hal nan teramat vital. Belum jadi orangtua saja saya sudah mengerti kalau ini tidak mudah. Menurut penulis buku ini, tidak jarang terjadi, banyak di antara keluarga kurang berhasil dalam membimbing putra-putrinya, hanya karena kurang sebab diperhatikannya masalah-masalah yang berhubungan dengan perkembangan jiwa anak-anak. Pada hakekatnya, membimbing anak adalah menyiapkan anak-anak untuk dapat menjadi matang, dewasa dalam segala hal, dewasa dalam tingkah dan perbuatan, dan lain-lain. (hal. 104)

Ada beberapa contoh yang diberikan buku ini untuk mewujudkan keadaan demikian, antara lain: orangtua harus dapat menunjukkan kerja sama yang baik, arif bijaksana dalam mengatasi segala hal, menanamkan tata tertib kehidupan pada anak-anak sejak kecil, serta tidak memaksakan kehendak pada anak-anak—karena ini tidak didasari asas-asas kejiwaan. (hal. 105)

Untuk pemenuhan segi makanan, tentu kita ingat slogan 4 Sehat 5 Sempurna. Pada segi pakaian, setiap keluarga diharapkan untuk mampu membuat pakaian sendiri khususnya pakaian sehari-hari. Sedang pada segi perumahan dan kesehatan, marilah kita peduli pada yang serba sehat dan ramah lingkungan. Tata laksana rumah tangga berarti kita memiliki inisiatif untuk menjadikan rumah kita—luar-dalam—enak dipandang. Ketenteraman lahir batin memang merupakan satu kebutuhan penting—kebutuhan akan rasa aman (safety needs)—menurut teori Abraham Maslow.

Keuangan dan perencanaan sehat sebetulnya hampir mirip. Dalam penjelasannya, yang dimaksud perencanaan sehat adalah perencanaan keuangan untuk jangka panjang. Menurut penulis, pada hakekatnya penghasilan dengan pengeluaran harus sama besar. Makanya ada peribahasa “besar pasak daripada tiang”, pengeluaran jangan lebih besar dari penghasilan—alias boros. Namun menurut saya, tak selalu adil jika penghasilan harus sama besar dengan pengeluaran. Jika penghasilan besar, berarti pengeluaran harus besar pula, tapi harus dilihat dulu untuk apa pengeluaran ini. Jika semata demi menyamakan besar penghasilan lantas menghamburkannya untuk membeli mobil mewah, ini malah jadi masalah.

Baru 5 Desember 2011 lalu, Pikiran Rakyat meneropong perilaku hidup mewah di kalangan pejabat. Rusmin Effendy, melalui artikelnya yang bertajuk Budaya Hedonisme Versus Politik Asketik, menganjurkan asketisme alias paham yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran, hidup serba kekurangan, kontemplasi untuk menuju jiwa yang sempurna dan kerelaan berkorban.

Artikel lainnya, Hidup Sederhana Itu Indah, menampilkan kebersahajaan Rasulullah SAW. Meski istrinya, Siti Khadijah, kaya, rumah Rasulullah sederhana. Ia tidur hanya beralas pelepah daun kurma. Pada sore hari, hatinya tidak tenang apabila di rumahnya masih ada sisa makanan sehingga ia akan membagi-bagikannya pada jamaah, demikian menurut H. R. Bukhari.

Menurut Dr. H. Hazrul Azwar MM, penulis artikel ini, dengan kaya kita bisa bersedekah dan membiayai perjuangan umat. Namun menjadi kaya tidak harus hedonis, berkelimpahan yang takabur dan suka pamer, apalagi kikir. Hidup sederhana harus merupakan kesadaran ingin mencari makna hidup yang tinggi. Hidup sederhana mendorong kepekaan terhadap lingkungan, suka berbagi, membantu yang lemah, serta peduli terhadap sesama. Dengan gaya hidup seperti ini, kita akan lebih ingat pada Allah dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Ia berikan.

Dari pendidikan memasak hingga keteladanan Rasulullah, bekal untuk mengarungi kehidupan rumah tangga itu sendiri ternyata tak sederhana. Insya Allah pembelajaran akan terus dilangsungkan. Semoga pada saatnya nanti kognisi, afeksi, dan psikomotorik dapat berpadu menghasilkan generasi madani. Amin ya Allah. Mari Ibu-ibu, kita nyanyikan Mars PKK…

Senin, 19 Desember 2011

kunghu dang atau kung, hudang! - oseng-oseng kangkung berkarakter


para pembaca nan budiman, sebelum kita mulai panduan memasak bersama nyonya teladan kali ini, terlebih dulu saya sajikan sebuah pesan dari sponsor.

silahkan buka link ini


lalu sukailah (klik "like") tulisan yang ada di sana. partipasi anda sangat berarti. :)
dan kalau lagi tidak ada kerjaan, bolehlah pula buka yang ini

terima kasih.

jadi nyonya teladan telah resmi mengangkat saya sebagai juru ketiknya. namun tentu saya tidak akan menggunakan gaya bahasanya yang amat nyonya-nyonya itu.

bersama nyonya teladan, menu garapan kami pagi ini adalah sebuah oseng-oseng sederhana. anda hanya membutuhkan tiga bahan saja.

satu, seplastik irisan tahu. harganya seribu di tukang tahu yang biasa lewat samping rumah dengan motornya pagi-pagi. irisan tahu bukan berasal dari tahu kotak kuning meski teksturnya serupa. irisan tahu tanpa perwarna dan bentuknya tak beraturan.

dua, seplastik pindang jajar genjang. harganya dua ribu di warung terdekat. kata teteh yang jual, berat pindang kotakan ini satu ons.

tiga, seikat kangkung. ini juga dapat dibeli di warung terdekat. tidak bonus ulat. nyonya teladan tidak tahu berapa harganya, yang beli bukan beliau.

bumbu yang digunakan pun simpel saja. yang dicuci dan dipotong/diiris (selain kangkung) hanyalah tiga siung bawang merah, satu batang cabe merah besar, dan setengah butir bawang bombay.

sebelum dioseng dengan kangkung, tahu dan pindang harus digoreng setengah matang terlebih dulu. konon, pindang tidak lebih cepat masak dari tahu sehingga keduanya tidak digoreng bersamaan. kami menggoreng tahu terlebih dulu, baru pindang. setelah pindang disisihkan, bumbu ditumis sampai harum. namun waspadalah. harum tidak harum, begitu bumbu mulai gosong, bahan-bahan lain harus lekas dimasukkan. masukkan pindang, tahu, dan biarkan kangkung jadi yang terakhir. aduk-aduk sampai kangkung layu. tambah air secukupnya agar wajan tidak seret. masakan ini muat dalam satu piring biasa.

kangkung-tahu-pindang, nyonya teladan ingin menamakan masakan ini "kunghu dang" atau "kung, hudang!". Dari dua versi penulisan tersebut, nyonya teladan bilang versi pertama digunakan ketika masakan ini disuguhkan pada orang China, sedang versi kedua adalah untuk orang Sunda.

kehadiran pindang sungguh menambah cita rasa dalam sajian perkangkungan. aroma gurihnya bagai sanguinis-koleris di tengah gerombolan plegmatis. kehadiran tahu juga tidak boleh dilewatkan meski ia sekadar penggembira. ialah plegmatis-sanguinis dalam arak-arakan ini. sedang kangkung nan bersahaja tetaplah koleris-melankolis. ini bukan oseng-oseng kangkung biasa. biarkan lidah anda mengenali setiap karakter yang berbaur dengan manja. coba deh!

Minggu, 18 Desember 2011

sayur kare


halo lagi. aduh, nyonya teladan ke mana lagi ya? waha. beliau lagi sibuk studi banding pkk ke mana-mana.

jadi pagi ini kami memasak sayur kare.

dari resep yang ada, kami melakukan beberapa inovasi.

2 ons daging tetelan bertulang diganti satu wadah styrofoam tulang ayam
1/4 butir kelapa diganti santan satu kotak
3 ikat soun diganti sebungkus bihun yang masih tersisa di pantri
10 biji jintan tiada ditemukan di warung terdekat, pun keberadaan tukang sayur putar-putar, jadi tak kami pakai
4 sendok minyak goreng diganti minyak goreng setumpahnya
1 sendok makan garam diganti garam sekira-kiranya bisa bikin calon hidangan lebih berasa

lainnya tetap sesuai resep.

selain yang sudah disebutkan,

untuk bahan, kami menggunakan: 1/2 ons buncis, 1 ons kentang, 1 ons wortel, 4 helai kol

sedang untuk bumbu: 5 siung bawang putih, 5 siung bawang merah, 3 biji cabe merah, 1/2 sendok teh ketumbar, 1 ruas jari kunyit, 1/2 ruas jari jahe, 1 ruas jari laos, 1 batang sereh, 1 helai daun salam, 1 buah kemiri, 1/2 sendok teh terasi, 1 sendok makan gula merah, dan 1 sendok makan asam

beginilah cara membuatnya, semoga anda penasaran:

tulang ayam direbus hingga kaldu terbenam.
sayuran macam wortel, kol, buncis, dan kentang dipotong-potong lalu dicuci. rendam kentang supaya tidak hitam.
bihun juga direndam.
haluskan semua bumbu selain daun salam, sereh, gula, asam. seduh asam dengan air panas dalam gelas kecil, lalu aduk-aduk sampai jadi air asam.

bumbu yang telah dihaluskan kemudian ditumis, tambahkan sereh.
tumisan dimasukkan ke dalam rebusan tulang alias kaldu. masukkan pula daun salam yang tadi lupa ikut ditumis. rebus sampai mendidih.

wortel dan kentang kemudian dimasukkan.
giliran selanjutnya adalah buncis, santan, kol, bihun, gula merah, lalu asam yang dicairkan.
pancimu sudah penuh. aduk terus dan dapati lemak dari tiga sumber bergumpal-gumpal di permukaan.
siap disajikan.

panas lebih nikmat. dan sebaiknya ini dimakan dengan keripik jamur yang sangat asin serta rasa syukur atas segala daya upaya hingga ada sesuatu yang bisa dimakan.

Sabtu, 17 Desember 2011

sayur bening


biasanya kalau urusan masak, nyonya teladan yang tampil di hadapan. namun kali ini beliau berhalangan. jadi saya menggantikan.

kali ini kita memasak sesuatu yang mudah: sayur bening. definisi sayur bening adalah sayur yang kuahnya bening. biasanya yang jadi sayur pengisi adalah bayam. bahan lain untuk memasak sayur ini juga mudah didapat.

secara sederhana, demikianlah komposisi sayur bening yang kami buat pagi ini.

- dua ikat bayam
- satu batang wortel
- tiga lembar daun salam
- dua siung bawang merah
- setengah sendok bulat garam
- satu sendok bulat gula pasir
- air secukupnya
- seperempat butir tomat

hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan bayam. ada bagian tertentu yang harus dibuang, yaitu pengikat dan tangkai yang agak besar. setelah itu bayam dicuci tiga kali.

wortel juga dicuci. buang ujung-ujungnya. kerok lapisan terluar, lalu potong bulat-bulat.

iris bawang tipis-tipis. bentuknya tidak mesti seragam, toh setelah dimasak nanti sama saja.

bersihkan tomat. buang bagian yang kotor.

panaskan air. masukkan salam ("assalamualaikum..."). setelah air mendidih, masukkan bawang. aduk-aduk sedikit. beri garam dan gula. aduk-aduk. setelah rasanya pas, masukkan wortel. makin mendidih, bayam boleh dimasukkan. aduk-aduk sampai layu dan merata dengan bahan-bahan yang sudah dimasukkan sebelumnya. tomat dimasukkan terakhir. hidangkan.

sebelum memasukkan bayam, pastikan kalau wortel sudah cukup empuk. tapi tergantung selera juga, barangkali anda suka wortel yang keras.

biarpun kurang menggugah selera, yang penting gizinya. dan niat.

Jumat, 17 Juni 2011

Belimbing Lumur Cokelat

Kamu ingin menghemat uang makan malam, anakkuuuuu? Itu mudah saja! Salah satu caranya adalah dengan menghampiri tetangga yang memiliki pohon belimbing di halaman depan rumahnya... Iya, lo, Sayang, karena dia sudah bosan dengan belimbing, makanya dia kasih nyonya teladan sekantong keresek belimbing dengan cuma-cuma dan senang hati! 

Namun sayang, anakku, nyonya teladan tidak punya gula apalagi garam untuk menjadikan belimbing hibah ini sebagai kudapan semacam rujak... Tapi... Kita tidak boleh hilang akal, Sayang, karena kalau begitu artinya kita sudah tidak waras dong ah... Maka, nyonya teladan keluarkan se-sachet susu kental manis rasa cokelat!

Untuk mewujudkan resep spesial nyonya teladan kali ini pun caranya mudah saja...
  1. Cuci mangkok, pisau, dan garpu yang akan digunakan
  2. Cuci belimbing yang akan dimakan
  3. Bersihkan tepi ujung-ujung si buah bintang ini...
  4. Buang yang bagian menghitam. Kalau kata tetangga nyonya teladan sih, itu bukan karena terlalu matang, melainkan karena ulat! Tapi tetangga nyonya teladan yang lain bilang kalau buah ada ulatnya berarti buah itu bebas pestisida yang berarti aman dimakan! Ah, ulatnya kemakan pun jadi protein kan ya... Hohohoho...
  5. Iris si buah bintang meski bentuknya sudah tidak terlalu mirip bintang lagi saking banyaknya bagian yang kebuang...
  6. Hasil irisan belimbing dimasukkan ke dalam mangkok. Menurut pengalaman nyonya teladan, sebuah mangkok dapat menampung sampai tiga buah belimbing.
  7. Gunting ujung sachet susu kental manis rasa cokelat dan biarkan aliran lavanya melumuri sekujur bintang-bintang kehijauan nan matang ini...

    Selamat menikmati, Sayang... Kalau susu kental manis rasa cokelatnya masih sisa, bisa kamu guling-gulingkan kukis D'asse kesukaan Nona Dayeuh di sana. Cara lain makan D'asse yang lebih nikmat loh, ternyata...

    Salam bintang!
    ***********

    Jumat, 26 November 2010

    SELAI PISANG COKLAT!

    Haloooooooo Sayangku, Anakku, Manisku, muah, muah, muah! Tidak hanya kamu yang manis, tapi juga sesuatu yang telah Nyonya Teladan ciptakan baru-baru ini. Oh, apakah itu, kamu pasti mau tahu... Dimulai dari kedatangan Nyonya Teladan ke rumah Bude Nyonya Teladan lagi... Ketika Nyonya Teladan hendak pulang, Bude mengoleh-olehi Nyonya Teladan sebungkus biskuit Danish. Namun sayang, setelah hari berganti hari hingga minggu diganti minggu, biskuit itu remuk bukan buatan! Olala... Sudah tidak menguar selera untuk memakannya lagi, Sayangku, Anakku, bagi siapapun yang melihatnya... Kebetulan juga Nyonya Teladan saat itu memiliki beberapa buah pisang ambon yang sedang berada di ambang kematangan. Maka...

    Kamu hanya membutuhkan
    - sebungkus biskuit remuk
    - 2 sachet susu kental manis rasa coklat
    - sebuah pisang ambon yang amat matang
    - air secukupnya
    untuk dipadukan di atas sebidang piring sehingga menjadi sesuatu yang Nyonya Teladan namakan SELAI PISANG COKLAT.

    Mau tahu bagaimana cara Nyonya Teladan membuatnya? Pertama, Nyonya Teladan remukkan keseluruhan biskuit dalam plastik untuk kemudian dituangkan di atas piring. Tuangkan susunya satu sachet dulu, aduk-aduk... Kurang, Nyonya... Oke. Tambahkan satu sachet lagi. Aduk-aduk lagi. Tambahkan air secukupnya agar semua bahan dapat tercampur dengan merata. Sudah? Oke. Mari kita masukkan sensasi pamungkas kita, sang primadona ambon manise matenge... the banana in the tropical jungle... Dilumat hingga bersatu dengan adonan sebelumnya ya, Anakku, Sayangku...

    Nah, sudah jadi adonan selai kita. Agar lebih menggugah selera, pindahkanlah ia ke wadah yang cukup aman untuk dimasukkan ke dalam kulkas bersama. Sembari menunggu semalaman, kamu dapat membeli sebungkus roti sandwich susu spesial merek BE LIVING BREAD di toko terdekat. Maka, kamu akan mendapati cerahnya esok pagi dengan beberapa lembar roti lapis selai buatan sendiri cap nyonya teladan! Salam manis!

    Rabu, 03 November 2010

    orak arik telor sambel ebi


    halo sayang... kali ini nyonya teladan melaporkan dari dapur budhe di Jogja! jangan dulu banyak ekspektasi anakku, sayangku... karena nyonya teladan tak hendak masak gudeg! tidak ada itu di kulkas budhe pada malam di saat nyonya teladan hendak memasak! maka nyonya teladan harus kreatif dengan bahan-bahan yang tersedia... apalah itu... oh, sini nyonya teladan beritahu... untuk mendapatkan sebuah makan malam yang nikmat, selain lapar yang menggelora, kamu hanya butuh sebutir telur, sambal sisa bikinan budhe dengan dua butir cabe rawit saja, sebungkus ebi, dan sejumput garam!

    beginilah budhe memberi petuah sebelum menyantap ebi, sayangku, anakku... ebi itu harus direndam air panas dulu supaya empuk. setelah dirasa cukup, cucilah sebelum kamu sertakan dalam kocokan telur.

    ya! kamu tentu tahu nyonya teladan amat piawai dalam menggarap yang serba hancur, sebutlah itu orak-arik, oseng-oseng, pokoknya yang tak butuh tataan rapi di wajan. maka pada kocokan telur tersebut, selain ebi empuk, nyonya teladan campurkan juga bahan-bahan lainnya sebelum sang spatula beraksi di atas wajan!

    sepiring nasi hangat secukupnya, sebungkus kerupuk, sebundel koran untuk pemecah konsentrasi, dan segelas coklat van houten kental dapat menjadi teman yang membikin suasana makan malam makin bernuansa. pesan nyonya teladan hanya satu: van houten itu mahal, setelah kamu membikinnya, langsunglah diminum supaya tidak disemuti!

    Sabtu, 16 Oktober 2010

    sambal penyet TBT!

    nyonya teladan harus memendam kecewa ketika nona asisten kembali dari warung tanpa membawa apa-apa. baris-baris teratas dalam daftar belanja tidak ditemukannya di sana, sehingga nona asisten terlalu bingung untuk melanjutkan. jadi ia tidak membeli apa-apa.

    namun nyonya teladan tak habis akal! meski hanya terhasil satu piring, nyonya teladan tetap harus urun dalam mengentas lapar di muka lantai rumah! dengan bahan-bahan seadanya, nyonya teladan ciptakan varietas baru dalam dunia persambalan: SAMBAL PENYET TBT.

    kalau sayangku, anakku pernah bertandang ke Yogyakarta (ah, ya, kota nan semarak dengan seni dan budaya itu!), akan tersua banyaknya warung penyet. ada tempe penyet, tahu penyet, ayam penyet, telor penyet, segala macam penyet! o, tidak, tidak, tidak, jangan dibayangkan sebuah sajian serba gepeng anakku, sayangku, sebab yang dipenyet bukanlah lauknya, melainkan sambalnya! macam tipu-tipu saja ini, aduhai Yogyakarta, kota seribu plesetan! tak doyan nyonya teladan dengan aksi tipu-tipu, maka kali ini nyonya teladan persembahkan penyetan yang sesungguhnya! tapi tidak semua bahan dalam menu ini dipenyet sayangku, anakku. haruslah kita pandai memilah dan memilih. dan, terlebih dulu gorenglah apa yang hendak kau penyet.

    nyonya teladan menggunakan sisa tempe dalam edisi kemarin sebagai bahan utama. digorenglah dulu mereka. masih dengan minyak yang sama, setelah para tempe disisihkan, cemplungkan 6 buah cengek, 1 buah cabe hijau jumbo, 2 butir bawang merah, 1 siung bawang putih, dan 1 buah tomat. semua bahan ini mudah didapat bukan? sebagiannya adalah sisa dari acara masak-memasak edisi kemarin, hohohohohoho... setelah cukup digoreng, sisihkan pula mereka. satukan dengan para tempe goreng di atas cobek dan... HANCURKAAAAN...!

    sementara kau lumat mereka habis-habisan, jangan lupa tambahlah garam, sedikit air, dan mungkin 1/2 sendok teh gula pasir (yang mana nyonya teladan tak melakukannya karena lupa!) mintalah nona asisten untuk membantumu mengkukus bayam--1 ikat saja, karena lagi-lagi merupakan sisa dari edisi kemarin--dan menggoreng segenggam teri. mudah bukan?

    tahap berikutnya tidak kalah mudah, sayangku, anakku, karena setelah kau lumatkan itu semua yang ada di atas cobek, kau masukkanlah kukusan bayam dan gorengan teri, lalu aduk-aduklah dengan sendok bersih hingga distribusi masing-masing setiap bahan merata.

    nyonya teladan tak maksud tipu-tipu, tapi janganlah kau tertipu akan penampilan hasil karyamu yang akan menyerupai lotek.



    harus kau peringatkan mereka yang beranggapan demikian, anakku, sayangku. katakanlah pada mereka bahwa ini adalah sebuah penganan yang enak dimakan dengan nasi panas dan bernama, sekali lagi, SAMBAL PENYET TEBETE alias Tempe Bayam Teri!



    Rasanya, sangat amat tempe sekali...!

    Jumat, 15 Oktober 2010

    tahu tempe dadar bumbu geje orak-arik!

    hai cinta.. apa kabar dunia? dunia pasti tambah baik, karena nyonya teladan kembali dengan sajian sederhana dengan rasa yang tak kira-kira akan setia menghempas lapar dari lambungmu!

    nyonya teladan coba untuk lebih sabar. tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini nyonya teladan menggarap satu per satu menu yang akan ditampilkan. kamu mau tahu macam mana itu anakku, sayangku? baiklah, jangan ditunda-tunda lagi ya...

    yang pertama ialah TAHU TEMPE BUMBU GEJE. untuk membuat sajian ini, yang kamu butuhkan adalah 2 kotak tahu dan sejumlah tempe yang diperkirakan memadai untuk sejumlah bumbu. sejumlah bumbu macam apa itu, nyonya teladan? macam ini, anakku, sayangku... macam 8 butir bawang merah dan 3 siung bawang putih yang dipotong kecil-kecil dulu sebelum dihaluskan, 2 buah cabe hijau berukuran jumbo, 2 buah tomat yang konon mahal harganya, 2 lembar daun jeruk penggugah aroma, 3 sendok makan kecap manis, dan kaldu secukupnya.

    pertama, untuk membuat kaldu, nyonya teladan merebus 2 lembar daging dalam rantang. ragam bawang yang telah dihaluskan kemudian ditumis sampai harum. potongan cabe hijau, tomat, dan daun jeruk kemudian dilemparkan ke dalamnya. diaduk-aduk sampai merata. menyusul kemudian untuk ditaruh dalam wajan ialah kecap serta komunitas tahu dan tempe yang telah matang direbus hingga rantang yang mewadahinya gosong! aduk-aduk lagi ya, sayangku, anakku. setelah itu, barulah bisa kamu campurkan kaldunya. eh, awas, dagingnya jangan sampai kebawa--karena akan kita pakai dalam menu berikutnya! nah, setelah semua bahan bersatu dalam wajan, masaklah mereka sampai kuah kaldunya mengental. mudah kan?

    beginilah ia menjadi...

    tampak jauh...



    ...dan tampak dekat...



    siap beralih ke menu selanjutnya? baiklah, mari-mari-mari...! nyonya teladan perkenalkan dirimu pada DADAR ORAK-ARIK. lho, dadar apa orak-arik? ketahuilah anakku, sayangku, bahwasanya lapisan bawah ialah dadar sedang lapisan atas ialah orak-arik. hal penamaan memang berkaitan dengan persoalan teknis yang terjadi, tapi yang penting perutmu kenyang kan? ohohohohohoh...

    ketahuilah pula, bahwa menu kita kali ini sungguh ramai isinya! nih ya, nyonya teladan sebutkan: 1 bawang bombay cincang, 2 buah kentang dipotong dadu, 4 butir telur, 1 ikat bayam, dan 2 lembar daging sapi yang tadi dipakai untuk membuat kaldu--dipotong dadu juga ya.

    beginilah sistematika pembuatannya. perhatikan ya... pertama, kamu panaskan mentega dalam wajan. gunanya ialah untuk mensetengahmasakkan kesemua dadu kentang yang telah nona asisten potong, beserta hasil cincangan abstrak nyonya teladan! sudah setengah matang belum? kalau sudah, sisihkan dulu pekerjaan itu, sayangku, anakku. karena sekarang kita fokus pada adonan telur, bayam, daging, serta tumisan bawang bombay-kentang. jangan lupa merica dan garamnya ya, supaya ada rasa! sudah tercampur semua? baiklah... nah, sekarang panaskan lagi mentega dalam wajan, lalu, cemplungkan segala yang sudah kamu campur itu, oke? nah, terserah sekarang, kamu hendak menjadikannya dadar, orak-arik, atau dadar orak-arik. nona asisten memilih yang terakhir! hm, memang pantang menyerah ia! inilah buah semangatnya...



    aduh, aduh, nyonya teladan cukup puas dengan pekerjaan hari ini. belum lagi jika ditambah dengan perkedel tahu serta perkedel tempe buatan nona asisten yang gurih punya...



    papa nyonya teladan memberi nyonya teladan nilai 70 untuk tahu tempe bumbu geje! ohohohohohoho... meski akibat banyaknya tomat terkandung di dalamnya mengingatkan nyonya teladan akan kangkung rica-rica pada edisi lalu.

    kepada yang berulang tahun di rumah nyonya teladan hari itu, nyonya teladan persembahkan dadar orak-arik untuknya (karena memang hanya itu yang masih tersisa!). nyonya teladan katakan itu adalah pizza!--topping-nya. temukanlah potongan daging, kentang, dan bayam di dalamnya...



    cobalah memakannya dengan sambal, nyamnyamnyam!

    Banyak Dibuka

    Pembaruan Blog Lain