Sabtu, 28 Desember 2019

Oseng-oseng Tahu Tempe Sambal

That time of the year has come. Adakalanya saya ditinggal sendirian di rumah selama berhari-hari, bersama makanan sisa serta bahan masakan di kulkas yang setengah membusuk. Inilah waktu bagi saya untuk mengasah skill memasak.

Kali ini saya ditinggalkan bersama setengah bakul nasi, tujuh potong tempe goreng tepung, serta lima potong tahu goreng polos dari semalam. Kiat andalan saya dalam "menyulap" gorengan lepek begini agar menggugah selera untuk menghabiskannya adalah meng-oseng-oseng-nya bersama sambal.

Omong-omong, pada saat menulis ini, saya tidak menemukan kata oseng-oseng baik di https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/oseng-oseng maupun di https://kbbi.web.id/. Why, KBBI, whyyy??? Padahal itu suatu istilah yang sudah sangat memasyarakat sekali, bukan?

Karena tidak tersedia cabe dan hijau-hijauan (: seledri dan atau bawang daun) di kulkas, maka saya pun pergi ke warung terdekat. Saya membeli setengah ons cabe merah keriting dengan harga Rp 2.500 serta bawang daun seharga Rp 2.000 (entah berapa ons itu). Seledri tidak ada.

Di rumah, mulailah saya memotong-motong gorengan. Tempe kira-kira sebesar korek api--sebenarnya berkali-kali lipat lebih besar. Sedangkan untuk tahu, asal kecil saja--mungkin sebesar satu ruas jari. Sisihkan.

Lalu saya menyiapkan bumbu-bumbu. Karena total jumlah gorengan adalah 12 potong atau 1 lusin, maka saya menyiapkan 12 siung bawang merah. Untuk bawang putih, tadinya mau 12 juga--biar adil sama rata, gitu lo. Tapi, setelah membersihkan 6 siung bawang putih, tampaknya sudah cukup. Untuk cabe, dari 1/2 ons itu rupanya saya mendapatkan 26 buah. Dua lusin saya bersihkan, sedangkan sisanya untuk masak lain kali. 

Setelah mencuci semua bumbu yang diperlukan, mulailah saya membuat sambal. Jauh lebih praktis kalau ada blender. Karena tidak ada blender yang masih berfungsi, saya pun menggunakan cara tradisional yaitu dengan cobek dan muntu. Saya tambahkan juga garam dan merica--sekitar 1/2 sampai 1 sendok.

Lalu saya menyiapkan wajan. Saya masukkan 2 sendok makan minyak goreng bekas yang ada di rantang. Lalu saya masukkan sambal. Oseng-oseng sampai keluar aromanya. Kemudian saya masukkan potongan tempe dan tahu. 

Di sela-sela mengaduk bahan dan bumbu, saya tambahkan sekitar 1 sendok gula serta memotong-motong bawang daun untuk ditambahkan terakhir.

Jadilah!

Hasilnya kira-kira bisa untuk empat kali makan.

Bayangkan! Empat kali berturut-turut makan yang itu melulu!

Hari itu, saya memakan masakan tersebut dengan nasi untuk siang dan malam. Setelah makan malam, sisa masakan dan nasi masing-masing saya pindahkan ke wadah terpisah untuk dimasukkan ke freezer. Kalau tidak begitu, saya khawatir besok keadaannya sudah kurang layak makan.

Keesokan paginya, saya mengeluarkan kedua wadah itu untuk memanaskan isinya. Untuk nasi, saya bermaksud memasaknya jadi nasi goreng. Ketika dibuka, oseng-oseng-nya agak beku, but it's okay. Untuk nasi, ... jadi es dong. Masing-masing saya bagi menjadi dua. Sebagian untuk sarapan, sebagian lagi untuk makan siang.

Saya membaca petunjuk di bagian belakang kemasan bumbu nasi goreng instan rasa pedas. Setelah menyiapkan wajan, saya pun memasukkan 1 sendok makan minyak goreng. Setelah itu, giliran oseng-oseng terlebih dahulu baru kemudian nasi. Untuk nasi, keadaannya sudah bergumpal-gumpal dan beku. Sehingga, sembari mencampurkannya dengan oseng-oseng, saya mesti sambil memecahkan gumpalan-gumpalan itu.

Sebetulnya oseng-oseng itu sendiri karena mengandung sambal sudah cukup untuk menjadi bumbu nasi goreng. Tapi, saya tambahkan juga sedikit bubuk bumbu nasi goreng instan itu. Lagian, itu sisa--bukannya saya sengaja membuka kemasan yang baru.

Nasi pun bisa terurai dan bercampur baik dengan oseng-oseng. Saya memakannya bersama kerupuk. Rasanya? Tidak begitu buruk, mengingat prinsipnya sekadar mengolah makanan sisa agar menggugah selera untuk menghabiskannya--supaya tidak mubazir.

Karena memasak sambil memotret setiap langkahnya itu ripuh (kecuali ada asisten), maka saya cuma menghadirkan hasil akhirnya.

Merah kuning hijau cokelat di wajan yang perak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain