Tampilkan postingan dengan label belajar terjemah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar terjemah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Desember 2025

Menerjemahkan Affirmations for the Inner Child (Rokelle Lerner, Health Communications, Inc.: 1990)

Gambar dari Amazon.
Baru pada buku ini saya menemukan bahwa ada jenis buku yang isinya kumpulan entri sejumlah hari dalam setahun. Sejak buku ini, saya pun penasaran mencari lebih banyak buku sejenis untuk dibaca satu entri per hari. Malah timbul ide untuk menerjemahkan buku ini satu entri per hari--jadi latihan terjemah harian. Seperti yang sudah diuraikan pada catatan pembacaan buku ini (20 November 2019), sebagian isinya ada yang relatable buat saya. Ada kalimat-kalimat yang bagus dan mengena. Maka posting terjemahan buku ini pun dijadwalkan untuk mengisi sepanjang 2022. 

Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai menerjemahkan buku ini, bisa saja tidak lama setelah tamat membacanya, awal 2020 barangkali, setiap hari satu entri mulai 1 Januari 2020. Atau 2021? 2022? 

Pendeknya, penerjemahan buku ini terputus-putus, berlarut-larut, sampai baru pada akhir 2025 ini akhirnya selesai juga .... Bertahun-tahun saya bertahan dengan buku ini (dan masih ada beberapa "proyek" lain yang juga sudah mengiringi saya bertahun-tahun lamanya entah kapan selesainya wkwkwk).

Total entri dalam buku ini mestinya ada 365 (tidak mencakup 29 Februari), tapi total yang sudah saya terjemahkan ternyata hanya sampai 358, yang berarti ada 7 entri yang saya lewatkan. Memang itu disengaja karena saya merasa tidak sreg dengan isi entri tersebut, terutama bila menyinggung seksualitas dan keyakinan. 

Betapapun bagusnya kalimat-kalimat afirmasi, ternyata tidak sebaiknya kita mempraktikkan itu mentah-mentah. Khususnya bila kita mengaku sebagai orang yang beriman kepada Tuhan. Penguatan-penguatan itu tidak cukup hanya mengandalkan diri sendiri, tapi mesti melibatkan Tuhan sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Buku ini pun kadang-kadang menyertakan "The Higher Power", seakan-akan insaf bahwa kekuatan diri sendiri saja tidak cukup. 

Senin, 30 Juni 2014

Beruang yang Apa Adanya (James Thurber, 1940)

Di sebuah hutan di Barat Jauh hiduplah seekor beruang cokelat yang apa adanya. Ia suka pergi ke bar yang menjual mead, minuman fermentasi dari madu, dan hanya minum dua gelas. Lalu ia akan menaruh uangnya di meja dan berkata, "Beri minuman untuk beruang-beruang di belakang sana," dan pulang.

Namun kemudian ia menjadi sering membeli minuman untuk dirinya sendiri. Ia akan terhuyung-huyung pulang pada malam hari, menyepak cantelan payung, menjatuhkan lampu, dan membenturkan sikunya ke jendela. Lalu ia akan roboh di lantai dan tergeletak di sana sampai tertidur. Istrinya sangat sedih sedang anak-anaknya ketakutan.

Akhirnya si beruang menyadari kesalahan dalam tindak-tanduknya itu dan mulai memperbaiki diri. Alhasil ia menjadi seorang antialkohol yang terkenal dan penceramah yang gigih dalam hal berpantang minum minuman keras. Kepada siapapun yang berkunjung ke rumahnya, ia akan menyampaikan efek buruk dari minum-minum. Ia akan membanggakan betapa kuat dan sehat dirinya sejak berhenti menyentuh barang itu. Untuk membuktikannya, ia akan berdiri di atas kepala dan tangannya, bersalto di dalam rumah, menyepak cantelan payung, menjatuhkan lampu, dan membenturkan sikunya ke jendela. Lalu ia akan rebah di lantai, lelah karena gerak badannya yang menyehatkan itu dan tertidur. Istrinya menjadi sangat sedih sedang anak-anaknya ketakutan.

Moral: Apapun yang Anda perbuat, boleh jadi Anda akan tetap jatuh tersungkur.



Alih bahasa dari fabel James Thurber, "The Bear Who Let It Alone" (1940). James Thurber (1894-1961) adalah seorang penulis humor dan kartunis dari Amerika Serikat. Karya-karya James Thurber lainnya yang saya pernah coba terjemahkan bisa dilihat di sini.

Rabu, 25 Juni 2014

Alih Bahasa Cerpen Fernando Sorrentino, "Mere Suggestion"

Jadi, semua ini dimulai ketika saya mencoba untuk menerjemahkan cerpen Jorge Luis Borges, "The Lottery in Babylon" (1941). Upaya yang lagi-lagi berbuah frustasi. Maka saya mengambil buku kumpulan cerpen Inggris dan Amerika dari Longman yang telah disederhanakan. Buku itu dulunya milik Nenek, dan kini penampakannya sudah menghitam akibat debu menahun. Saya pun mulai meninjau, lalu mengecek beberapa cerpen di internet. Biasanya saya tidak akan menerjemahkan cerpen yang sudah pernah diterjemahkan (dan dipublikasikan, tentunya, sehingga saya mengetahuinya) oleh orang lain. Dalam pencarian tersebut, saya sampai ke situs east of the web. Situs ini menyimpan banyak cerpen (berbahasa Inggris, tentunya). Di antaranya berkategori "humour", kesukaan saya. Saya menyadari, lagi-lagi, bahwa belajar menerjemahkan itu sebaiknya dimulai dari teks-teks yang ringan dan pendek dulu, dan lucu. Borges? Mungkin saya perlu 10.000 jam menerjemahkan dulu baru bisa kembali ke sana. (Mudah-mudahan tidak selama itu juga.... Huf!). 

Banyak cerpen dalam daftar "humour" tersebut adalah karangan Fernando Sorrentino (l. 1942). Sama-sama penulis Argentina, setidaknya. Biarpun tidak setermasyhur yang satunya, karya penulis ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Di antara beberapa cerpen pendek yang ditulisnya dan telah diterjemahkan serta dipublikasikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu "There's a Man in the Habit of Hitting Me on the Head with an Umbrella" (judul yang menggugah, bukan?) dan "An Enlightening Book" yang bisa ditemukan dalam buku kumpulan 47 cerpen pendek dari 5 benua, Pagi di Amerika yang diterbitkan oleh Serambi, 2004) (ed. Hikmat Darmawan). (Sial, godaan untuk menghabiskan duit di Palasari lagi, nih!). 

Cerpen pertama beliau yang saya coba terjemahkan adalah cerpen yang paling pendek, hanya satu halaman, yang diterjemahkan oleh Clark M. Zlotchew ke dalam bahasa Inggris dengan judul: "Mere Suggestion". Sebetulnya ada yang sudah menerjemahkan cerpen ini ke dalam bahasa Indonesia, namun karena saya kadung dibikin tertarik sama versi film cerpen ini (tenang, tenang, saya sematkan di bawah sono kok) dan tidak puas dengan terjemahan yang sudah ada, maka saya menerjemahkannya ulang. Mudah-mudahan hasilnya cukup enak dibaca. Silakan apabila ada masukan dikarenakan bagian yang dirasa kurang luwes atau tepat.



Cuma Sugesti 
(Cerpen Fernando Sorrentino)

Teman-temanku bilang aku ini orangnya sangat mudah terpengaruh oleh sugesti. Kurasa mereka benar. Sebagai buktinya, mereka mengungkit-ungkit kejadian kecil yang menimpaku pada Kamis lalu.

Pagi itu aku sedang membaca novel horor. Walaupun pada waktu itu cuaca terang, aku merasa menjadi korban dari kekuatan sugesti dalam cerita itu. Sugesti itu membuatku membayangkan adanya seorang pembunuh haus darah di dapur. Pembunuh haus darah itu mengacungkan belatinya yang besar, menantiku memasuki dapur sehingga dia dapat menyergapku dan menancapkan pisaunya ke punggungku. Walaupun aku duduk tepat di seberang pintu dapur, walaupun senyatanya tak ada seorangpun yang dapat memasuki dapur itu tanpa sepenglihatanku, dan tidak ada akses lain ke dapur kecuali melewati pintu itu; tapi aku sepenuhnya teryakinkan bahwa memang ada pembunuh yang bersembunyi di balik pintu yang tertutup itu.

Jadi karena menjadi korban sugesti itu aku tidak berani untuk memasuki dapur. Aku menjadi cemas. Sebentar lagi waktunya makan siang dan aku perlu ke dapur. Tahu-tahu terdengar dering bel dari pintu depan.

“Silakan masuk!” aku berseru tanpa bangkit. “Pintunya tidak dikunci kok.”

Petugas apartemen masuk. Dia membawakan beberapa surat.

“Kakiku tidak bisa digerakkan,” kataku. “Bisakah tolong ke dapur dan ambilkan segelas air?”

“Tentu,” sahutnya. Dia membuka pintu dapur dan masuk. Lalu aku mendengar jerit kesakitan disusul suara tubuh yang dalam robohnya menjatuhkan pula perabotan. Akupun lompat dari kursiku dan lari ke dapur. Petugas itu, separuh tubuhnya tersangga oleh meja sementara belati yang besar menancap di punggungnya, terbaring tewas. Sekarang, tenanglah. Aku bisa memastikan bahwa tentu saja tak ada pembunuhan di dapur.

Karena logikanya, kejadian itu sebenarnya cuma sugesti.[]




Kamis, 03 April 2014

Terjemah Lebih Mudah dengan Memecah-mecah Kalimat

Yang saya harapkan dari buku berjudul Teknik Membaca Textbook dan Penterjemahan (ya, pakai “t”) tentunya adalah mengenai “penterjemahan”-nya. Karena belakangan ini saya telah mencoba-coba menerjemahkan sejumlah cerpen dengan segenap kesoktahuan dan pemahaman bahasa Inggris yang pas-pasan. Barangkali saya bisa mendapatkan semacam insight (???) yang akan memperbaiki kemampuan saya dalam pratik penerjemahan.

Sebelumnya saya beberkan dulu sedikit mengenai perawakan buku ini: di sudut kanan atas tercatat 6/2-87 dan 1700—kita bisa berasumsi deretan angka yang pertama adalah tanggal sedangkan yang kedua adalah harga; ukurannya sekitar satu senti lebih pendek daripada ukuran buku tulis biasa; tebalnya 83 halaman; diterbitkan oleh Kanisius yang beralamat di Yogyakarta; yang ada pada saya adalah cetakan ketiga, 1986; di balik sampul depan terselip buklet Biro Kursus Tertulis (Bahasa Inggris) “AIDA” yang beralamat di Jakarta; dan kalau bagian tengah sebelah bawah dihirup, ada aroma semacam minyak angin yang entah sudah berapa lama terserap di sana.

Dalam “KATA PENGANTAR”, dikatakan bahwa buku ini ditulis akibat serba keterbatasan yang dialami penulisnya selama mengajar di dua perguruan tinggi negeri di Bandung. Salah satunya adalah: keterampilan membaca dalam bahasa Inggris masih kurang dimiliki oleh para mahasiswa. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi mereka yang ingin meningkatkan “ketrampilan membaca buku maupun majalah, novel yang ditulis dalam bahasa Inggris”. Tapi ternyata penerjemahan teks sastra disinggung hanya sedikit sekali. Hanya satu paragraf! Boro-boro bicara novel…

Begini katanya, di halaman 32, terjemahan teks sastra itu agak sulit dibandingkan teks ilmiah. Dalam teks sastra terdapat ungkapan-ungkapan yang tidak bisa begitu saja diterjemahkan secara harfiah. Kalau dipaksakan, hasilnya, selain tidak lazim dalam bahasa sasaran, juga bisa-bisa memiliki makna yang menyimpang dari maksud bahasa aslinya. Sebagai contoh, kalimat dalam bahasa Inggris “He kicks the bucket” tidak bisa serta-merta diterjemahkan menjadi “Dia menyepak ember”, sebab ungkapan “to kick the bucket” mempunyai pengertian “to die”. Contoh lainnya, ketika mencoba untuk menerjemahkan cerpen “Solid Objects” dari Virginia Woolf, saya menemukan ungkapan “ghost of chance”. Kalau saya terjemahkan sekenanya saja, menjadi “hantu kesempatan, o, tentu ganjil bukan kedengarannya? Untung ada Google—kamus sagala aya!

Nah, adapun jenis teks yang dibicarakan dalam buku Teknik Membaca Textbook dan Penterjemahan ini, ya tentu saja… textbook. Mulai dari bidang CIVIL ENGINEERING, CHEMISTRY, BIOLOGY, sampai LANGUAGE. Masing-masingnya disertai contoh kalimat yang berkaitan dengan bidang ilmu tersebut. Kiat menerjemahkannya yakni dengan memotong-motong kalimat menjadi kelompok-kelompok kata yang dinamakan frasa dan klausa, serta menentukan mana subject, verb, object, adverbial, complement, dan sebagainya. Karena itulah bab mengenai penerjemahan ini didahului oleh bab mengenai tata bahasa Inggris agar pembaca dapat membedakan unsur-unsur kalimat tersebut—lengkap dengan diagram-diagram berisikan pola, rumus, apa yang semacam itu. Masing-masing potongan daripada kalimat itu kemudian diartikan, lalu disambung-sambungkan hingga tersusun menjadi kalimat baru dalam bahasa yang dimengerti oleh pembaca sasaran.

Contohnya begini, saya ambil dari halaman 59 di mana ada kutipan teks dari bidang DENTISTRY.

The exposed part of a tooth is the crown, the concealed part is the root.

Kita cacah-cacah menjadi:

The exposed part of a tooth/ is/ the crown/ the concealed part/ is the root.

Kelompok kata pertama adalah subject. Kelompok kata kedua adalah verb, sedang yang ketiga adalah complement. Urut-urutan ketiganya disebut main clause.  Begitupun urut-urutan kalimat berikutnya, adalah main clause kedua. (Ini contoh kalimat yang mudah. Banyak contoh yang jauh lebih rumit dan panjang dari ini.) Masing-masing kelompok kata tersebut kemudian diartikan.

The exposed part of a tooth = bagian gigi yang terbuka/ is the crown = adalah kepala gigi/ the concealed part = bagian yang terselubung/ is the root = adalah akar/

Disambung menjadi:

Bagian gigi yang terbuka adalah kepala gigi dan bagian yang terselubung adalah akar.

Saya pernah menerapkan cara yang hampir mirip saat mencoba untuk menerjemahkan paragraf-paragraf pertama “Solid Objects” yang keterluan panjangnya. Tapi tidak sampai membedakan ini subject, ini verb, dan seterusnya, melainkan hanya memotong-motongnya jadi kelompok-kelompok kata. Agaknya penulis berbahasa Inggris punya kecenderungan menggemukkan kalimat. Jangan tanggung-tanggung sebagai penulis—jangan pelit kasih informasi! Semisal, tidak cukup Anda mengatakan “The boy is a student”. Perkaya kalimat Anda menjadi “The lazy, dirty, tall boy who came here last night is a student.” (Halaman 18-19)

Sebaliknya dengan bahasa Indonesia. Oleh dosen pembimbing skrispi saya (oh, masa itu sudah lama berlalu…), saya diajarkan untuk menulis dengan kalimat-kalimat sederhana yang bisa berdiri sendiri. (Hindari “ini” atau “itu” sebagai pengganti subjek—subjek harus disebutkan dengan jelas!). Pokoknya strukturnya harus S-P-O-K. Satu kalimat satu gagasan. Hindari kalimat majemuk yang bertingkat-tingkat. Anak kalimat jangan mendahului induk kalimat. Kalau kita lihat karya ilmiah pada umumnya, tentu saja aturan ini tidak mesti berlaku. “Tergantung dosen pembimbing masing-masing,” begitu sering kita dengar di kalangan mahasiswa skrispi.

Dengan memecah-mecah kalimat seperti itu boleh jadi kita agak mudah dalam mencerna teks. Teknik lainnya dalam membaca textbook adalah: Pertama-tama, bacalah sepintas bagian pendahuluan, daftar isi, teks, daftar istilah, daftar pustaka, dan indeks; Kedua, gunakan metode SQ3R alias SURVEY, QUESTION, READ, RECITE, dan REVIEW. SURVEY berarti membaca sepintas (skimming) bagian yang ditugaskan untuk dibaca dengan tujuan menangkap ide dalam teks tersebut. QUESTION berarti mengajukan pertanyaan yang hendak dicari jawabannya di dalam teks. READ berarti membaca lagi untuk menemukan jawaban daripada pertanyaan yang telah dibuat—kalau perlu tandai hasilnya. RECITE berarti mengungkapkan lagi hal-hal yang telah didapatkan dan merenungkannya. Dan REVIEW berarti membuat ringkasan teks secara keseluruhan dengan mengumpulkan ide utama dari tiap bagian. Ada buku tersendiri mengenai metode membaca ini. (Adapun dalam buku ini penjelasannya hanya 1,5 halaman.) Dalam bahasa Indonesia ada buku berjudul Speed Reading, tampaknya sudah dicetak ulang berkali-kali, tapi saya lupa apa saja isinya ha-ha-ha, barangkali ada pula mengenai SQ3R.

Membaca buku ini seperti menyegarkan ingatan akan pelajaran bahasa Inggris. Bagaimanapun pada saat buku ini ditulis kebanyakan textbook yang tersedia ditulis dalam bahasa Inggris. (Sepertinya sekarang pun masih begitu. Kalau dalam bahasa Indonesia, namanya “diktat” dan jauh lebih tipis… atau tebal tapi terjemahan dari bahasa Inggris...) Oleh karena itu penguasaan bahasa Inggris amatlah penting demi transfer ilmu pengetahuan (jyah!). Biarpun begitu, kalau Anda tergolong kaum yang tidak mudah dalam hal mempelajari bahasa, berarti kita bisa saling bersimpati. Dengan membaca teori saja, yang menempel pada ingatan hanya sedikit sekali. Lebih praktis dengan praktik (cuman beda satu huruf di belakang toh… hehe…): Bergabung dengan klub bahasa Inggris di RRI; Menjalankan program Terrible English Journal (eh, betul enggak ya, istilahnya, pokoknya menulis catatan harian dalam bahasa Inggris biarpun hasilnya kacau-balau!); Atau coba-coba menerjemahkan.[]

Kamis, 27 Maret 2014

“Kekukuhan” [Virginia Woolf, 1918]

Catatan: Ini lebih tepat disebut "menyederhanakan" ketimbang "menerjemahkan". Kalau pemahamanmu terhadap bahasa Inggris cukup baik, baik, baik sekali, atau sangat baik, saya sarankan untuk membaca teks ini saja. Saya pernah membicarakan cerpen ini sebelumnya di sini. Memang pada awalnya cara pengungkapan dalam cerpen ini terasa mengerikan, namun setelah meniliknya kata demi kata, terasa kepedihannya :-| Mudah-mudahan upaya penyederhanaan ini cukup enak dibaca. 

Tambahan: Atas saran Kang Andika, saya ganti judul cerpen ini, yang asalnya "Benda Pejal", dengan yang rasanya lebih tepat: "Kekukuhan".


Satu-satunya yang bergerak di lingkar pantai itu adalah sebuah titik hitam kecil. Titik itu mendekati rangka sampan yang terdampar. Dari kepekatannya yang merenggang, terlihat bahwa titik itu memiliki empat kaki. Sebentar kemudian, makin tak teragukan lagi bahwa titik itu terdiri dari dua orang pemuda. Bahkan pada bayangan yang melekat di pasir, tampak adanya semangat yang tak tergoyahkan dalam diri mereka. Daya hidup yang tak terperikan dalam ayunan tubuh mereka, walau sedikit, mengejawantah dalam perdebatan sengit yang keluar dari mulut di kepala-kepala bundar kecil itu. Terlihat dalam jarak yang lebih dekat, terjangan yang berulang-ulang dari sebatang tongkat di sisi kanan. ‘Maksudmu… Kamu benar-benar yakin…’ demikian tongkat di sisi kanan dekat ombak itu seolah menegaskan, seraya menyabet pasir hingga membentuk garis-garis lurus nan panjang.

‘Persetan dengan politik!’ keluar dengan jelas dari orang di sisi kiri. Seiring dengan diutarakannya kata-kata itu, mulut, hidung, dagu, tipisnya kumis, topi wol, sepatu bot, mantel berburu, dan kaos kaki dua orang yang bicara itu menjadi semakin jelas saja. Asap dari pipa mereka membumbung ke udara. Tidak ada yang begitu kukuh, begitu hidup, begitu solid, bergejolak dan kuat sebagaimana dua raga tersebut sepanjang mil demi mil lautan dan gunungan pasir.

Mereka mengempaskan diri di dekat sampan. Keduanya tampak menghentikan perdebatan, dan menginsafi suasana; siap membicarakan hal yang baru—apapun itu. Charles, empunya tongkat yang sedari tadi mengiris-iris pantai sepanjang kurang lebih setengah mil, mulai meluncurkan lempengan-lempengan batu ke atas air; dan John, yang tadi menyerukan ‘Persetan dengan politik!’ mulai menggali-gali dengan jemarinya hingga jauh ke dalam pasir. Seiring dengan tangannya yang semakin masuk sampai melewati pergelangan, sehingga ia harus mengangkat lengan bajunya sedikit ke atas, sorot matanya meredup. Pudar segala pikiran dan pengalaman yang membubuhkan nuansa pada mata seorang dewasa, menyisakan pandangan yang polos dan jernih, tak mengungkap suatu apa selain keingintahuan, bagai mata bocah. Tak disangsikan lagi penggalian pasir itu menghasilkan sesuatu. Diingatnya bahwa, setelah menggali sebentar, air memancar mengelilingi jemari; lubang itu kemudian menjadi semacam parit; sumur; mata air; lorong rahasia menuju laut. Selagi menerka-nerka apa yang tengah dibuatnya, masih meraba-raba di dalam air, jemarinya menggenggam sesuatu yang keras—segumpal benda pejal—dan sedikit demi sedikit menarik bongkahan tak beraturan yang besar itu, dan mengangkatnya ke permukaan. Setelah dibersihkan dari pasir yang menyelimutinya, warna hijau terlihat. Benda itu berupa bongkahan kaca, saking tebalnya sehingga hampir tidak tembus cahaya; antengnya lautan telah mengikis sepenuhnya bagian tepi atau bentuk benda itu, sehingga sulit dikatakan apakah dulunya itu botol, gelas atau kaca jendela; bukan apapun melainkan kaca; hampir menyerupai batu mulia. Tinggal direkatkan pada lempengan emas, atau dilubangi dengan kawat, jadilah perhiasan; bagian daripada kalung, atau cahaya hijau majal pada jari. Bagaimanapun juga boleh jadi ini benar-benar permata; dikenakan oleh seorang Putri yang misterius, yang menyeret jarinya di air selagi duduk di buritan sampan dan mendengarkan budak-budaknya menyanyi sembari mendayung melintasi Teluk. Atau ada peti harta karun, dari lambung kapal kayu era Elizabeth yang tenggelam, pecah, dan isinya yang berupa zamrud berguling terus, terus-menerus, sampai akhirnya terdampar di pantai. John memainkan benda itu di tangannya; ia mengarahkannya pada cahaya; ia menggerakkannya hingga agregat yang tak beraturan itu mengaburkan bayangan dan memperpanjang lengan kanan kawannya. Warna hijaunya menipis dan menebal sepintas-sepintas ketika diposisikan pada matahari. Rasanya menyenangkan sekaligus mengherankan; benda itu begitu keras, begitu padat, begitu nyata dibandingkan dengan lautan yang tampak samar maupun pantai yang berkabut.

source
Helaan napas mengusiknya—dalam, penghabisan, menyadarkannya bahwa kawannya Charles telah melemparkan semua batu ceper dalam jangkauannya, atau telah menyimpulkan bahwa membuang-buang waktu saja melemparkan semua  itu. Mereka memakan roti lapis mereka bersisian. Seusai makan, sembari menggerak-gerakkan tubuh dan bangkit, John mengambil bongkahan kaca itu dan memandangnya dalam bisu. Charles mengamatinya juga. Tapi lekas ia melihat bentuknya yang tidak ceper, lalu seraya mengisi pipanya ia berucap dengan semangat untuk mengendurkan tegangnya pikiran nan bebal.

‘Kembali pada yang kukatakan tadi—‘

Ia tidak melihat, atau kalaupun ia melihat ia hampir tidak akan memerhatikan, bahwa John setelah memandang bongkahan itu sesaat, seakan dalam keragu-raguan, menyelipkannya ke dalam saku. Dorongan itu agaknya seperti dorongan yang menggerakkan seorang anak untuk memungut batu kerikil yang bertebaran di jalan, menjanjikannya kehidupan yang hangat dan aman di atas rak perapian di kamar, menikmati kemesraan sekaligus kelembutan daripada perbuatan tersebut, dan memercayai bahwa batu tersebut memiliki hati yang melompat-lompat gembira kala mengetahui dirinyalah yang terpilih dari sejuta yang sepertinya, untuk menikmati kebahagiaan ini daripada kehidupan yang dingin dan basah di jalanan. ‘Dari sekian juta batu bisa saja yang lain yang diambil, tapi toh aku, aku, aku!”

Entahkah pikiran itu ada atau tidak dalam benak John, bongkahan kaca itu telah ditempatkan di atas rak perapian, memberati setumpuk tagihan dan surat, dan tidak saja menjadi pemberat yang baik untuk kertas-kertas, tapi juga sebagai tempat pemberhentian alami bagi mata pemuda itu ketika teralih dari bukunya. Menatapnya lagi dan lagi separuh sadar, sementara benak memikirkan hal lain, bercampur dengan isi pikirannya sehingga bentuk benda itu menjadi lain daripada sebenarnya. Benda itu mengubah sendiri bentuknya, sedikit saja bedanya dari semula, menjadi sempurna, dan menggentayangi otak tanpa sedikitpun diharapkan. Demikian John merasakan dirinya tertarik ke jendela toko barang antik ketika ia sedang keluar berjalan-jalan, semata karena ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada bongkahan kaca tersebut. Apapun selama itu adalah benda yang serupa, lebih kurang bundar bentuknya, boleh jadi dengan nyala yang redup terpendam dalam kompositnya, apapun—porselen, kaca, ambar, batu, marmer—bahkan telur burung prasejarah yang jorong mulus. Ia juga memasang matanya di atas tanah, terutama di sekitar lahan pembuangan sampah rumah tangga. Benda semacam itu sering kali terdapat di sana—dibuang, tak berguna lagi bagi siapapun, tak berbentuk. Dalam beberapa bulan ia telah mengumpulkan empat atau lima spesimen yang ditempatkannya di atas rak perapian. Bagi seorang lelaki yang tengah memiliki kedudukan di Parlemen dan berada di ambang karier yang brilian, benda-benda itu berguna untuk menahan kertas-kertas agar tetap rapi—pidato untuk para pendukung, deklarasi kebijakan, permohonan untuk tanda tangan, undangan makan malam, dan seterusnya.

Satu hari, ketika dalam perjalanan mengejar kereta dari tempat tinggalnya di Temple untuk berpidato pada para pendukungnya, matanya berlabuh pada benda aneh yang setengah tersembul di salah satu pagar rumput yang membatasi halaman sederet bangunan luas. Ia hanya bisa menyentuh benda itu dengan ujung tongkatnya melalui susuran tangga; tapi ia bisa melihat bahwa benda itu berupa sepotong porselen dalam bentuk yang sangat mengagumkan, hampir menyerupai bintang laut—dibentuk, atau secara kebetulan, menjadi lima sudut yang tidak beraturan namun tegas. Warnanya sebagian besar biru, namun dilapisi semacam garis-garis atau titik-titik hijau, dan adanya garis-garis merah tua menambah kesempurnaan serta kilauan yang amat memikat. John tergerak untuk memilikinya; tapi semakin ia berusaha, semakin jauh benda itu mundur ke belakang. Pada akhirnya ia terpaksa kembali ke tempat tinggalnya dan membuat cincin kawat sekadarnya yang dikaitkan dengan ujung tongkat. Dengan amat terampil dan hati-hati, ia berhasil menarik potongan porselen itu ke dalam jangkauan tangannya. Begitu ia dapat meraihnya, ia berseru dalam kemenangan. Pada saat itulah jam berdentang. Tidak mungkin ia dapat memenuhi janjinya. Pertemuan dijalankan tanpa dirinya. Tapi bagaimana bisa sepotong porselen terpecah menjadi bentuk yang semenakjubkan ini? Setelah diamati dengan saksama, pastilah bintang ini terbentuk secara kebetulan, yang justru membuatnya makin unik. Tak mungkin ada yang lainnya dalam kehidupan ini. Ditempatkan di ujung yang berlawanan pada rak perapian dengan bongkahan kaca yang digali dari pasir, benda itu tampak seperti makhluk dari dunia lain—ganjil dan luar biasa warna-warninya. Berputar-putar di angkasa, cahayanya berkedip-kedip bak bintang gemerlap. Kontras antara porselen yang begitu mencolok dan tajam, dan kaca yang begitu hening serta membangkitkan perenungan, memesonakan dirinya. Terheran-heran sekaligus terkagum-kagum ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana keduanya dapat berada di dunia yang sama, apalagi bersanding bersama bebatuan lainnya dalam satu bidang sempit di ruangan yang sama. Pertanyaan itu tak kunjung terjawab.

Kini ia mulai menyambangi tempat-tempat yang paling banyak menyimpan potongan porselen, seperti bagian-bagian daripada lahan pembuangan di antara rel kereta, tapak-tapak rumah yang telah dirobohkan, dan ruang-ruang publik di kawasan London. Namun jarang porselen yang dibuang dari ketinggian tertentu; perbuatan yang paling jarang dilakukan oleh manusia. Kemungkinannya bisa diperoleh apabila di sebuah rumah yang teramat tinggi terdapat wanita yang kelakuannya sembrono serta memiliki prasangka yang menggebu-gebu, menjatuhkan guci atau jambangannya dari jendela tanpa berpikir siapa yang sedang berada di bawah. Cukup banyak potongan porselen yang bisa dijumpai, tapinya pecah akibat kejadian rumah tangga biasa, tanpa maksud atau dasar tertentu. Meskipun begitu, ia sering heran, seiring dengan makin mendalam pertanyaan-pertanyaan yang dipikirkannya, akan banyaknya variasi bentuk yang dijumpai di London saja. Dan masih ada banyak lagi yang menjadi keheranan dan pemikirannya dalam hal kualitas dan pola. Spesimen yang paling baik akan dibawanya pulang dan ditempatkan di atas rak perapiannya, padahal, biarpun begitu, kegunaan mereka lebih seperti hiasan alami belaka, semenjak kertas-kertas yang perlu diberi pemberat telah berkurang jumlahnya dan semakin jarang.

Ia mengabaikan pekerjaannya, boleh jadi, atau menunaikannya dengan lalai. Para pendukungnya kala mengunjunginya tidak begitu terkesan dengan penampakan rak perapiannya. Bagaimanapun ia tidak terpilih menjadi wakil mereka di Parlemen. Kawannya Charles sangat iba dan lantas turut berduka dengannya, mendapatinya dalam kesedihan akibat musibah tersebut, hingga ia hanya bisa menduga bahwa persoalan ini amatlah serius untuk dapat dihadapinya secara mendadak.

Pada kenyataannya, hari itu John pergi ke Barnes Common, dan di bawah semak kekuningan ia menemukan sepotong besi yang sangat mengagumkan. Bentuknya hampir menyerupai kaca, padat dan bundar, namun dingin dan berat, hitam dan menyerupai logam, sehingga rasanya bukan berasal dari bumi melainkan dari salah satu bintang yang telah padam, atau dari kerak bulan. Benda itu memberati sakunya; memberati rak perapian; memancarkan dingin. Sekalipun begitu, meteorit tersebut menempati birai yang sama dengan bongkahan kaca dan porselen yang berbentuk bintang.

Seraya matanya menyorot dari satu ke yang lain, kebulatan tekad untuk memiliki lebih banyak lagi benda-benda tersebut menyengsarakan si lelaki muda. Ia semakin teguh mencurahkan dirinya pada pencarian. Seandainya saja ia tak termakan oleh ambisi dan keyakinan bahwa suatu hari akan ada ganjarannya dalam tumpukan rongsokan yang baru ditemukan, kekecewaan yang ia alami, belum lagi kepenatan dan cemooh, akan membuatnya menyerah dengan perburuan itu. Dilengkapi dengan kantong dan tongkat panjang yang dipasangi kait yang dapat disesuaikan, ia menggedor-gedor setiap lapisan bumi; menggaruk-garuk di bawah semak belukar yang kusut masai; menelusuri seluruh lorong dan celah-celah di antara dinding—berharap dapat menemukan benda-benda semacam itu dibuang di sana. Seiring dengan standarnya yang semakin meningkat dan seleranya yang semakin tinggi, tak terkira banyaknya kekecewaan yang ia dapatkan, namun selalu ada sekilas harapan, sepotong porselen atau kaca yang entahkah sengaja dibentuk atau terpecah, yang menggodanya. Hari demi hari berlalu. Ia tak lagi muda. Kariernya—karier politiknya—sudah lewat. Orang-orang berhenti mengunjunginya. Ia begitu pendiam hingga tak ada gunanya mengundang dirinya ke acara makan malam. Ia tak pernah membicarakan ambisi seriusnya ini pada siapapun; kurangnya pengertian tampak dari tindak-tanduk mereka.

Ia tengah bersandar di kursinya dan mengamati Charles mengangkat batu-batu di rak perapiannya sampai lusinan kali dan menaruh mereka lagi dengan sungguh-sungguh untuk menyatakan apa yang dikatakannya mengenai kepemimpinan di Pemerintahan, tanpa sedikitpun mengindahkan keberadaan mereka.

‘Ada apa sebenarnya, John?” ujar Charles tiba-tiba, berbalik dan menatapnya. ‘Apa yang membuatmu tahu-tahu menyerah seperti itu?’

‘Aku tak menyerah,’ ucap John.

‘Tapi sekarang kau tak punya kesempatan sedikitpun,’ sahut Charles dengan kasar.

‘Aku tak sependapat denganmu,’ kata John dengan yakin. Charles menatapnya dan merasa amat khawatir; kesangsian yang teramat sangat merasukinya; muncul perasaan ganjil bahwa mereka sedang membicarakan hal yang berbeda. Ia mengitarkan pandangan dan mendapati kemuraman yang menggentarkan, namun keadaan ruangan yang kacau malah membuatnya semakin sedih. Tongkat apa itu, juga kantong babut usang yang tergantung di dinding? Dan lalu batu-batu itu? Memandangi John, sesuatu yang kukuh dan asing dalam ekspresinya terasa menakutkan. Jelaslah, bahkan untuk sekadar hadir pada program partai baginya itu mustahil.

‘Batu-batu yang indah,’ ucapnya seringan mungkin; lalu menyampaikan bahwa ada janji yang harus ia tepati, ia tinggalkan John—untuk selamanya.[]

Jumat, 28 Februari 2014

Di Balik Penerjemahan “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” (Cerpen Mark Twain, 1891)

Kapok menerjemahkan gegara “Solid Object” (Virginia Woolf), tapi satu dari empat hal untuk menjadi penulis hebat menurut Eka Kurniawan adalah menerjemahkan. Haruki Murakami pun melakukannya. Demi menjaga interaksi dengan bahasa Inggris biar tidak semakin asing, dan kemampuan merangkai kata karena saya masih gamang untuk menulis karangan saya sendiri, saya mencoba untuk mengakali daftar (diurut berdasarkan jumlah dan nomor halaman dalam antologi cerpen Harper, 1991) dengan menerjemahkan cerpen-cerpen yang relatif simpel. Hasilnya bisa dilihat di sini, sini, dan sini. Ada satu-dua cerpen lagi yang saya terjemahkan, namun saya ragu untuk memajangnya di blog karena tidak menemukan versi digitalnya yang bisa diakses secara cuma-cuma. Namun ketika saya lagi-lagi menghadapi cerpen-sulit, “My Man Bovanne” dari Toni Cade Bambara, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Afro-Amerika yang jauh dari gramatikal pun kata-kata di dalamnya belum tentu terdapat dalam kamus Echols-Shadily, saya mengakali daftar lagi dan mencoba “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” dari Mark Twain.

source
Tiga paragraf pertama bahasanya masih “normal”. Tapi dalam tiga paragraf berikut saya mulai puyeng karena beberapa kata tidak terdapat dalam kamus, di samping tidak gramatikal. Ada beberapa kata yang ejaannya melenceng dari yang lazimnya kita ketahui semisal “fellow” jadi “feller”, “catch” jadi “ketch”, “risk” jadi “resk”, “chew” jadi “chaw”, dan seterusnya. Terbayang lagi kesulitan saat menghadapi “Solid Object” karena kalimat-kalimatnya yang panjang, serta kata-kata yang biarpun baru bagi saya tapi setidaknya masih bisa ditemukan di kamus (kan?). Kalau kamus yang dimiliki tidak bisa diandalkan, saya pun beralih ke Google. Selain mencari kata-kata “eksotik” macam “summerset”, “hysted”, “hefted”, “yaller”, dan sebagainya, menarik pula membaca ulasan-ulasan mengenai cerpen itu sendiri.

Kenapa bahasanya tahu-tahu jeblok begitu, ialah karena cerpen ini bentuknya berbingkai. Ada cerita di dalam cerita. Masing-masing dibawakan oleh penutur yang berbeda. Alkisah, narator disurati kawannya untuk menanyakan tentang Rev. Leonidas W. Smiley kepada orang yang bernama Simon Wheeler. Narator pun menemui Wheeler dan terjebak untuk mendengarkan lelaki tua itu mengoceh panjang-lebar. Alih-alih Rev. Leonidas W. Smiley, Wheeler malah bercerita tentang Jim Smiley si gila-taruhan. Selama masih punya uang, dan selama ada orang yang bisa digaet, apa saja bakal dia jadikan objek taruhan. Mulai dari anjing, kucing, atau ayam yang lagi bertengkar (mana yang menang?), dua ekor burung yang lagi menclok di pagar (mana yang terbang duluan?), sampai kumbang yang lagi jalan (ke mana dia menuju?, berapa lama?). Cerita dari Wheeler yang makan hampir tiga halaman ini terdiri dari paragraf-paragraf yang berisi kalimat langsung—bahasa cakapan. Karena kejadian dalam cerpen ini berlangsung pada abad ke-19 di kamp pertambangan Angel yang terletak di bagian barat Amerika Serikat (AS), maka mafhumlah apabila bahasa yang digunakan pun menyesuaikan. Dalam hal ini penulis sangat realis. Perbedaan bahasa ini konon menunjukkan bagaimana pada masa itu terdapat kesenjangan di AS. Bagian barat negara tersebut (yang menjadi latar cerpen ini) belumlah semaju bagian timur (yang disebut di awal cerpen ini sebagai asal kawan yang menyurati narator). Bisa dibilang bahasa menunjukkan budaya, bahkan tingkat pendidikan/intelektual. Selain itu, teknik ini agaknya digunakan untuk menimbulkan kesan lucu. Menurut Melvin Helitzer dalam Comedy Writing Secret (2nd edition), orang tertawa karena merasa superior. Jika pembaca adalah orang dengan kemampuan berbahasa yang cukup baik, ia mungkin geli-geli kesal dengan orang yang bahasanya kacau dan tingkahnya seperti Wheeler. Yang menceritakan lain dari yang ditanyakan. Sudah begitu ocehannya panjang pula! Sial benar si narator. Bukankah kesialan biasa menjadi suguhan utama dalam komedi?

Ini juga salah satu kiat melucu dari Mark Twain. Menurutnya, kelucuan justru terasa ketika si penutur tidak menyadari kalau apa yang diceritakannya itu lucu. Seperti Wheeler yang mengisahkan kekonyolan Smiley ini dengan mimik serius.

Simon Wheeler backed me into a corner and blockaded me there with this chair, and then sat down and reeled off the monotonous narrative which follows this paragraph. He never smiled, he never frowned, he never changed his voice from the gentle-flowing key to which he tuned his initial sentence, he never betrayed the slightest suspicion of enthusiasm: but all through the interminable narrative there ran a vein of impressive earnestness and sincerity, which showed me plainly that, so far from his imagining that there was anything ridiculous or funny about his story, he regarded it as a really important matter, and admired its two heroes as men of transcendent genius in finesse.

(paragraf tiga “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” – Mark Twain)

Elemen menarik lainnya adalah bagaimana Smiley menamai anjing dan katak piaraannya dengan nama tokoh-tokoh ternama AS pada masa itu yaitu Andrew Jackon dan Daniel Webster. Andrew Jackson (1767-1845) adalah presiden AS ketujuh dan merupakan pemimpin pertama yang dipilih dari negara bagian sebelah barat. Ia dianggap mewakili kalangan orang biasa sehingga kemenangannya melambangkan kemenangan rakyat. Sebaliknya, Daniel Webster (1782-1852) adalah nama senator AS yang mewakili kalangan elitis. Kegigihan anak anjing bull piaraan Smiley yang dinamai Andrew Jackson saat bertarung dengan lawan-lawannya—kendati kelihatannya tidak jagoan—agaknya menggambarkan pandangan penulis terhadap presiden tersebut. Demikianpun “katak lompat kesohor dari Calaveras” yang dinamai Dan’l Webster dan dilatih oleh Smiley agar mampu lompat lebih tinggi dari katak manapun barangkali menggambarkan kecenderungan tokoh yang dirujuk. Asosiasi dengan para politikus menjadikan cerpen ini bukan saja bernuansa humor, tapi juga satir.

source
“The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” mula-mula diterbitkan dengan judul “Jim Smiley and His Jumping Frog” pada tahun 1865. Cerpen ini kemudian dipercantik terus oleh penulisnya dan diterbitkan lagi dengan judul lain, “The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County” (1865), barulah “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” (1891). Pada 1872, cerpen ini diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis namun Mark Twain tidak senang dengan hasilnya. Ia pun menerjemahkan balik cerpen itu ke dalam bahasa Inggris yang hasilnya sangat berbeda dibandingkan teks aslinya. Kalau Mark Twain mengerti bahasa Indonesia dan membaca hasil terjemahan saya yang cuma amatir ini, kemungkinan dia bakal menggerundel juga hahaha… Mau bagaimana lagi. Menurut kawan yang tengah menempuh pendidikan S2 di Sastra Kontemporer UNPAD, penerjemahan itu bisa disesuaikan dengan budaya (bahasa) asli atau budaya sasaran. Saya cenderung pada yang kedua. Yang terpenting ialah bagaimana saya, yang kiranya dapat mewakili pembaca awam Indonesia, dapat mengerti jalannya cerita tersebut dan mempelajari sesuatu darinya.[]

untuk menambah pemahaman:

Jumat, 27 Desember 2013

"Pesta yang Dicuri" - Liliana Heker [1982]

Begitu sampai, ia langsung ke dapur untuk melihat adakah monyet di sana. Ada: betapa leganya! Ia tidak akan senang kalau ibunya yang benar. Monyet di pesta ulang tahun! Ibunya menyeringai. Yang benar saja, percaya yang aneh-aneh saja macam begitu! Ibunya marah, tapi bukan karena monyet, pikir gadis itu; melainkan karena pestanya.

“Ibu tidak suka kamu pergi,” kata ibunya. “Itu pestanya orang kaya.”

“Orang kaya juga masuk Surga,” imbuh si gadis, yang belajar agama di sekolahnya.

“Surga apaan,” sahut si ibu. “Masalahnya itu kamu, nona muda, kamu itu kalau kentut lebih tinggi dari pantatmu.”

Gadis itu tidak senang dengan cara ibunya bicara. Usianya hampir sembilan tahun, dan ia salah satu anak terbaik di kelasnya.

“Aku kan pergi karena aku diundang,” ujarnya. “Dan aku diundang karena Luciana itu temanku. Begitu.”

“Oh iya, temanmu,” gerutu ibunya. Diam sejenak. “Dengar, Rosaura,” akhirnya ia berkata. “Dia itu bukan temanmu. Kamu sadar kamu ini siapanya mereka? Anak pembantu, itulah kamu.”

Rosaura mengejapkan mata berkali-kali:  ia ingin menangis. Lantas ia memekik: “Ibu diam saja deh! Ibu sendiri tidak punya teman!”

Tiap sore ia ke rumah Luciana. Mereka berdua akan mengerjakan PR mereka sementara ibu Rosaura membersihkan rumah. Sambil mengudap teh di dapur, mereka bertukar rahasia. Rosaura menyukai apapun yang ada di rumah besar itu. Ia juga menyukai orang-orang yang tinggal di sana.

“Pokoknya aku mau pergi, soalnya itu bakal jadi pesta paling menyenangkan di seluruh dunia, Luciana bilang begitu. Bakal ada pesulap, monyet, macam-macam deh.”

Si ibu berpaling supaya bisa menatap anaknya dengan saksama. Dengan angkuh ia tempelkan tangannya ke bibir.

“Monyet di pesta ulang tahun?” ujarnya. “Yang benar saja, percaya yang aneh-aneh saja macam begitu.”

Rosaura amat tersinggung. Ia pikir betapa tidak adil ibunya menuduh orang lain pembohong hanya karena mereka kaya. Rosaura juga ingin kaya, tentu. Kalau suatu hari ia bisa tinggal di istana yang indah, apakah ibunya akan berhenti menyayanginya? Ia merasa amat sedih. Ia menginginkan pesta itu lebih dari apapun di dunia ini.

“Aku bisa mati kalau aku tidak pergi,” lirihnya, bibirnya hampir tidak bergerak.

Ia tidak yakin ibunya dengar. Namun pagi-pagi di hari pesta tersebut, ia lihat ibunya menganji gaun Natalnya. Sorenya, setelah mengeramasi rambutnya, ibunya membilas baju itu dengan cuka apel supaya halus dan berkilauan. Sebelum pergi, Rosaura mengagumi dirinya di cermin dengan gaun putih dan rambut mengilap. Menurutnya ia terlihat amat cantik.

Bahkan Señora Ines pun memerhatikannya. Begitu wanita itu melihatnya, ia berkata:

“Cantik sekali kamu hari ini, Rosaura.”

Rosaura melambaikan sedikit roknya yang berkanji dengan tangan, dan berjalan menuju pesta dengan langkah mantap. Ia ucapkan halo pada Luciana dan menanyakan soal monyet. Dengan tatapan penuh rahasia, Luciana berbisik ke telinga Rosaura: “Dia di dapur. Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, soalnya itu kejutan.”

Rosaura ingin memastikan. Dengan hati-hati, ia masuki dapur. Di sana ia melihatnya: khusyuk termenung dalam kandangnya. Hewan itu tampak begitu lucu sehingga si gadis terpaku di sana beberapa lama, mengamatinya, dan kemudian, sering sekali, ia menyelinap keluar dari pesta diam-diam untuk mengagumi si hewan. Rosaura adalah satu-satunya anak yang diperbolehkan memasuki dapur. Señora Ines yang bilang: “Kamu sih boleh, yang lainnya jangan, mereka terlalu ramai, bisa-bisa ada yang pecah.” Rosaura tidak pernah memecahkan apapun. Bahkan ia yang memegang wadah berisi jus jeruk, membawanya dari dapur ke ruang makan. Ia memegangnya hati-hati dan tidak menumpahkan setetespun. Kata Señora Ines: “Kamu yakin bisa membawa wadah sebesar itu?” Tentu saja bisa. Ia bukan orang yang sering menjatuhkan barang dari pegangannya, seperti anak-anak lainnya. Seperti gadis pirang dengan pita di rambutnya itu. Begitu melihat Rosaura, gadis berpita itu berkata:

“Kalau kamu, kamu siapa?”

“Aku temannya Luciana,” kata Rosaura.

“Bukan,” kata si gadis berpita, “kamu bukan temannya Luciana. Aku sepupunya. Aku kenal semua temannya. Tapi aku tidak kenal kamu.”

“Terus kenapa,” sahut Rosaura. “Aku ke sini tiap sore dengan ibuku. Kami mengerjakan PR sama-sama.”

“Kamu dan ibumu mengerjakan PR sama-sama?” gadis berpita itu tertawa.

“Aku dan Luciana yang mengerjakan PR sama-sama,” tegas Rosaura dengan amat serius.

Si gadis berpita angkat bahu.

“Itu bukan teman namanya,” ujarnya. “Kalian ke sekolah bareng?”

“Tidak.”

“Jadi kamu kenal dia dari mana?” gadis itu mulai tidak sabar.

Rosaura ingat kata-kata ibunya sepenuhnya. Ia menghela napas dalam-dalam.

“Aku anaknya karyawan sini,” ucapnya.

Ibunya telah menyatakannya dengan amat jelas: “Kalau ada yang tanya, bilang saja kamu anaknya karyawan sini, itu saja.’ Ia juga berpesan untuk menambahkan: “Dan aku bangga.” Tapi Rosaura pikir sampai kapanpun dalam hidupnya tidak akan pernah berani ia melontarkan hal semacam itu.

“Karyawan apa?” tanya gadis berpita itu. “Karyawan toko?”

“Bukan,” tukas Rosaura dengan marah. “Ibuku tidak jualan di toko manapun, begitu.”

“Jadi kok bisa ibumu itu karyawan?”cecar si gadis berpita.

Seketika itu Señora Ines muncul sembari mendesis shh shh, dan meminta Rosaura kalau tidak keberatan untuk membantu menyiapkan roti sosis, lagipula ia hapal isi rumah itu ketimbang yang lainnya.

“Lihat kan?” ucap Rosaura pada si gadis berpita. Ketika tidak ada yang melihat, ia tendang tulang kering gadis itu.

Selain daripada si gadis berpita, yang lainnya sangat menyenangkan. Yang paling ia senangi adalah Luciana, dengan mahkota emasnya; lalu para anak lelaki. Rosaura memenangkan balap karung. Tidak seorangpun berhasil menangkapnya ketika mereka bermain kejar-kejaran. Ketika mereka dibagi menjadi dua tim untuk permainan tebak kata, semua anak lelaki menginginkannya berada di tim mereka. Rosaura merasa tidak pernah sebahagia itu dalam hidupnya.

Namun yang paling menyenangkan yaitu setelah Luciana meniup lilinnya. Mula-mula pembagian kue. Señora Ines memintanya untuk membantu mengedarkan kue. Rosaura amat menikmati tugasnya. Semua orang memanggil-manggilnya, menyerukan “Aku, aku!” Rosaura ingat cerita tentang seorang ratu yang memiliki kuasa untuk menentukan hidup dan mati rakyatnya. Ia selalu senang akan hal itu, memiliki kekuasaan atas hidup dan mati. Untuk Luciana dan para anak lelaki, ia berikan potongan yang besar, dan pada si gadis berpita ia berikan seiris tipis sampai-sampai nyaris tembus pandang.

Setelah pembagian kue, muncullah si pesulap, tinggi dan kurus, mengenakan topi merah runcing. Pesulap sungguhan: ia bisa mengurai banyak sapu tangan dengan meniupnya, dan menyambung mata rantai yang tidak ada lubangnya. Ia bisa menebak kartu apa saja yang diambil dari tumpukan, dan si monyet adalah asistennya. Ia menyebut monyetnya “partner”. “Lihat ke sini, partner,” begitulah katanya, “balikkan kartunya.” Dan, “Jangan kabur, partner, sekarang waktunya kerja.”

Permainan yang terakhir amatlah menakjubkan. Salah seorang anak harus menggendong monyet dan si pesulap bilang ia akan membuatnya menghilang.

“Siapa yang hilang, anaknya?” semua berseru.

“Bukan, monyetnya!” si pesulap balik berseru.

Pikir Rosaura ini benar-benar pesta paling lucu sejagat raya.

Si pesulap meminta seorang bocah gemuk untuk membantu, tapi bocah itu ketakutan dan menjatuhkan monyetnya ke lantai. Si tukang sulap mengangkat monyet itu hati-hati, membisikkan sesuatu ke telinganya, dan hewan itu mengangguk-angguk seakan mengerti.

“Kamu kok sangat pengecut sih, teman,” kata si pesulap pada si bocah gemuk.

“Apa itu pengecut?” tanya bocah itu.

Si pesulap berlagak seolah ada mata-mata.

“Banci,” kata si pesulap. “Duduklah.”

Lalu ia menatap satu per satu wajah di depannya. Rosaura merasakan jantungnya berdebar kencang.

“Kamu, yang bermata Spanyol,” kata si pesulap. Semua orang menyaksikannya menunjuk gadis itu.

Ia tidak takut. Sewaktu menggendong si monyet, maupun ketika si pesulap melenyapkannya; bahkan tidak ketika, akhirnya, si tukang sulap menjebloskan topi merahnya ke kepala Rosaura dan mengucapkan kata-kata ajaib… dan si monyet muncul lagi, mengoceh dengan gembira, dalam gendongannya. Anak-anak bertepuk tangan dengan heboh. Sebelum Rosaura kembali ke tempat duduknya, si pesulap berkata:

“Terima kasih banyak, tuan putri.”

Ia begitu senang dengan pujian itu. Ketika ibunya datang menjemputnya, itulah yang pertama-tama ia sampaikan.

“Aku membantu pesulap itu dan dia bilang padaku, ‘Terima kasih banyak, tuan putri.’”

Rasanya aneh karena berikutnya Rosaura sadar kalau ia tadinya marah pada ibunya. Dari awal Rosaura sudah membayangkan berkata pada ibunya: “Monyetnya bukan bohongan kan?” Tapi ia malah terlalu senang sehingga yang ia sampaikan pada ibunya adalah pesulap yang menakjubkan itu.

Ibunya menepuk kepalanya dan berkata: “Jadi sekarang kita ini tuan putri!”

Ia tampak berseri-seri.

Mereka berdua pun berdiri di pintu masuk karena beberapa saat lalu sembari tersenyum Señora Ines berkata: “Tolong tunggu sebentar ya.”

Ibunya mendadak tampak cemas.

“Ada apa ya?” tanyanya pada Rosaura.

“Ada apa kenapa?” ujar Rosaura. “Tidak ada apa-apa kok; beliau cuma ingin kasih hadiah buat yang mau pulang, lihat kan.”

Ia menunjuk si bocah gemuk dan seorang gadis berkucir yang juga menunggu di sana, di samping ibu mereka. Ia jelaskan soal hadiah itu. Ia tahu, karena ia telah mengamati siapa-siapa yang sudah pulang lebih dulu. Ketika salah seorang anak perempuan hendak pulang, Señora Ines akan memberinya sebuah gelang. Kalau anak lelaki, Señora Ines memberinya yoyo. Rosaura lebih memilih yoyo karena benda itu tampak berkilauan, tapi ia tidak memberitahu ibunya. Ibunya mungkin berkata: “Jadi kenapa kamu tidak minta saja, tolol?” Seperti itulah ibunya. Rosaura akan merasa amat malu. Yang ia katakan malah:

“Aku yang sikapnya paling sopan di pesta.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi karena Señora Ines muncul di ruangan dengan dua tas, yang satu jambon dan lainnya biru.

Mula-mula ia menghampiri si bocah gemuk, memberinya sebuah yoyo dari tas yang biru, dan bocah itu berlalu bersama ibunya. Lalu ia mendekati si anak perempuan dan memberinya gelang dari tas yang jambon, dan gadis berkucir itupun pergi.

Akhirnya ia menuju Rosaura dan ibunya. Wajahnya tersenyum lebar, Rosaura menyukainya. Señora Ines menunduk ke arahnya, lalu memandang ibunya, dan kata-katanya membuat Rosaura bangga:

“Putrimu mengagumkan, Herminia.”

Sesaat, Rosaura kira ia akan diberi dua hadiah sekaligus: gelang dan yoyo. Señora Ines membungkuk seakan hendak mencari-cari sesuatu. Rosaura pun condong ke depan, merentangkan lengannya. Namun gerakannya terhenti.

Mata Señora Ines tidak terarah pada tas jambon, tidak juga tas biru. Ia malah mengaduk-aduk dompetnya. Di tangannya ada dua lembar cek.

“Kalian  benar-benar layak menerima ini,” ucapnya seraya menyodorkan cek tersebut. “Terima kasih atas semua bantuanmu, sayangku.”

Rosaura merasakan lengannya menegang, menempel erat ke tubuhnya, lalu ia sadar tangan ibunya melekat di bahunya. Naluriah, ia benamkan dirinya pada tubuh ibunya. Seluruhnya. Kecuali matanya. Tatapannya yang dingin dan tajam terpancang di wajah Señora Ines.

Señora Ines bergeming, bertahan dengan tangan terulur. Seolah tak berani menariknya lagi. Seolah gerak sedikit saja akan mengusik keanggunannya yang tak terperikan.[]


Liliana Heker penulis kelahiran Argentina, 1943. Cerpen ini aslinya berbahasa Spanyol, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari versi bahasa Inggris Alberto Manguel.


Teks dalam bahasa Inggris bisa ditengok di sini


Sabtu, 03 Agustus 2013

Gadis [Jamaica Kincaid, 1978]

Cuci pakaian putih di hari Senin lalu taruh di tumpukan batu; cuci pakaian berwarna di hari Selasa lalu taruh di tali jemuran supaya kering; jangan jalan-jalan tanpa tutup kepala waktu matahari sedang panas-panasnya; goreng kue labu dengan minyak manis-pedas ekstra; rendam pakaianmu yang kecil-kecil segera setelah kamu melepaskannya; waktu beli benang untuk blus yang bagus pastikan tidak ada getah di dalamnya, yang seperti itu tidak akan tahan lama setelah sekali cuci; rendam ikan asin semalaman sebelum kamu memasaknya; benarkah kamu menyanyikan benna[1] di sekolah Minggu?; selalu makanlah dengan cara yang tidak akan bikin orang lain mual; di hari Minggu cobalah berjalan seperti wanita terhormat bukannya lonte kamu suka sekali begitu; jangan nyanyikan benna di sekolah Minggu; kamu tidak boleh ngobrol sama bocah-bocah di dermaga, jangan juga memancing-mancing; jangan makan buah di jalan—lalat akan mengikutimu; tapi aku tidak pernah menyanyikan benna sama sekali di hari Minggu, juga di sekolah Minggu; begini caranya menjahit kancing; begini caranya membuat lubang untuk kancing yang baru kamu jahit; begini caranya mengelim baju kalau kelimannya turun dan juga supaya kamu tidak terlihat seperti lonte aku tahu kamu suka sekali begitu; begini caranya menyetrika kemeja khaki[2] ayahmu supaya tidak ada kerutan; begini caranya menyetrika celana khaki ayahmu supaya tidak ada kerutan; begini caranya kamu menumbuhkan okra[3]—jauh-jauh dari rumah, pohon okra itu sarangnya semut merah; waktu kamu menumbuhkan dasheen[4], pastikan mendapat cukup air kalau tidak tenggorokanmu akan gatal waktu kamu memakannya; begini caranya kamu menyapu pojokan; begini caranya kamu menyapu seluruh rumah; begini caranya kamu menyapu halaman; begini caranya kamu senyum pada orang yang kamu sangat tidak suka; begini caranya kamu senyum pada orang yang kamu tidak suka sama sekali; begini caranya kamu senyum pada orang yang benar-benar kamu suka; begini caranya kamu menata meja untuk minum teh; begini caranya kamu menata meja untuk makan malam; begini caranya kamu menata meja untuk makan malam dengan tamu penting; begini caranya kamu menata meja untuk makan siang; begini caranya kamu menata meja untuk sarapan; begini caranya kamu bersikap pada orang-orang yang tidak begitu kamu kenal, dan dengan begitu mereka tidak akan langsung mengenali lonte yang aku sudah peringatkan kamu jangan begitu; pastikan untuk mencuci tiap hari, bahkan kalaupun dengan ludahmu sendiri; jangan jongkok main kelereng—kamu bukan anak laki-laki, tahu kan; jangan memetik bunga punya orang lain—kamu bisa kena apa-apa; jangan lempar-lempar batu ke burung hitam, bisa jadi itu bukan burung hitam sama sekali; begini caranya membuat puding roti; begini caranya membuat doukona[5]; begini caranya membuat wadah merica; begini caranya membuat obat-obatan yang bagus untuk meriang; begini caranya membuat obat-obatan yang bagus untuk membuang anak bahkan sebelum itu jadi anak; begini caranya menangkap ikan; begini caranya melempar lagi ikan yang kamu tidak suka, dan dengan begitu kamu tidak akan kena sial; begini caranya menggertak laki-laki; begini caranya laki-laki menggertak kamu; begini caranya mengasihi laki-laki, dan kalau tidak berhasil ada banyak cara lainnya, dan kalau tidak berhasil juga jangan sampai menyerah; begini caranya meludah ke udara kalau kamu kepingin, dan begini caranya kamu menghindar supaya tidak kejatuhan; begini caranya kamu menyudahi pertemuan; selalu pijitlah roti untuk memastikannya masih baru; tapi bagaimana kalau tukang rotinya tidak membolehkan aku mencobai rotinya?; maksudmu kamu benar-benar ingin jadi wanita yang tidak akan dibiarkan tukang roti dekat-dekat rotinya?[]


pg. 1190-1191
dari The Harper Anthology of Fiction, ed. Sylvan Barnet, 1991, Harpercollins Publishers Inc.
teks asli bisa dilihat di sini
sebelumnya pernah diomongin di sini



[1] Semacam lagu populer dalam tradisi Antigua-Barbuda yang tidak disenangi para orangtua
[2] Warna cokelat kekuningan
[3] Tumbuhan dari Afrika dengan buah berbentuk menjari (seperti gambas) yang bisa dimanfaatkan sebagai sayuran karena kaya gizi
[4] Talas
[5] Semacam penganan manis

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain