Semasa kuliah, saya berpikiran untuk meneruskan berlatih menggambar. Bukan berarti sebelumnya saya pernah rutin berlatih menggambar sih. Cuma sewaktu SMP sepertinya saya cukup sering menggambar, sampai berangan-angan muluk jadi mangka yang bekerja di Jepang.
Tapi rupanya saya enggak punya cukup passion dalam kegiatan ini sehingga bisa konsisten mencoba atau mencari sebanyak-banyaknya referensi. Saya menggambar sesekali atau sesukanya saja.
Ketika kuliah timbul pikiran untuk memulai lagi, saya mencari panduan, mulai dari internet (waktu itu Youtube belum sepopuler sekarang) hingga Buku Besar Menggambar terbitan Erlangga, meniru model di majalah, juga membeli buku gambar A3 beserta berbagai alat mewarnai.
Tapi, panduan yang saya peroleh agaknya kurang menarik atau terlalu kompleks. Saya pikir saya bisa mulai menggambar dan mewarnai asal saja. Saya pun mencoba. Karena hasilnya jelek, saya tidak tertarik untuk meneruskan.
Di samping itu, sepertinya saya enggak memiliki tujuan yang cukup kuat untuk menjaga kegiatan itu agar terus berlangsung. Sepertinya tujuan saya menggambar hanya untuk bersenang-senang. Tapi, kita tahu, betapapun banyaknya kesenangan di dunia ini, sesungguhnya semua itu fana. (#apasih)
Baru-baru ini, lama setelah saya bukan lagi mahasiswi, timbul kembali pikiran untuk kembali menggambar--belajar menggambar. Kali ini, saya punya tujuan--please, jangan ketawa: bikin kover buku sendiri. Memang, enggak semuluk jadi mangaka yang bekerja di Jepang. Soalnya, platform kepenulisan digital sekarang ini menuntut penulis untuk sekaligus menjadi desainer grafis.
Maksudnya, kalau kita mau memajang tulisan di platform semacam itu, sebaiknya kita menampilkan kover yang menarik pengunjung untuk mengeklik. Don't judge book by its cover itu bullshit. Beberapa teman telah mengajukan beberapa masukan soal kover. Tapi saya merasa tidak bisa mengandalkan aplikasi ataupun membayar orang untuk itu. Ekspektasi saya membubung: kalau saya mesti merancang kover sendiri, maka kover itu mestilah meaningful--paling enggak, dapat memberikan gambaran mengenai isi cerita, bukan soal estetika semata. Aplikasi paling-paling memberikan gambar yang begitu-begitu saja, sementara saya segan meminta bantuan orang lain agar dapat memenuhi selera saya (rewel sih).
Resolusi: sebaiknya saya belajar mendesain kover sendiri.
Oke, mungkin itu gagasan yang konyol.
Tapi, di samping tujuan praktis sebagaimana di atas, ada motivasi lain, sehubungan dengan cerita yang lagi berkembang di dalam kepala saya, yang sudah saya utarakan di sini. Saya pikir, untuk mendalami seseorang yang suka menggambar, sebaiknya saya juga menggambar, apalagi dulu memang saya pernah suka menggambar. Jadi, ini sekadar melanjutkan hobi yang tersendat-sendat.
Ditambah lagi, waktu saya leluasa. Karena menggambar merupakan kegiatan hidup yang enggak penting amat (paling enggak, bagi saya yang baru memulai dan sama sekali bukan profesional), maka saya menempatkan waktunya di akhir hari--satu jam sebelum tidur.
Jadi, mulai dari mana?
Di Youtube ada banyak video yang menerangkan tentang dasar-dasar menggambar dan mewarnai. Saya bisa memutar satu video sehari, lalu mempraktikkan yang ditunjukkan. Tapi, rekomendasi video di Youtube cenderung random, iya enggak sih?
Sejak kapan beberapa teman telah merekomendasikan aplikasi Ipusnas kepada saya, namun baru belakangan ada sesuatu dari dalam diri saya sendiri (#apasih) yang mendorong saya untuk memanfaatkannya. Iseng saya masukkan kata kunci 'menggambar' di kolom pencarian dan menemukan daftar buku terkait. Memindai judul-judulnya, saya pun mengeklik buku teratas yang kiranya paling mudah untuk dipraktikkan.
Buku ini ditulis oleh Inda Nashira, diberi ilustrasi oleh Pandu Dharma, dan diterbitkan Penerbit Zikrul Hakim Lini Gurita cetakan 1, Maret 2014. Karena labelnya "Usia 3+ Tahun", bukan "Usia 3-7 Tahun" atau semacam itu, maka enggak apa-apa dong yang 2*sensor* tahun memanfaatkan buku ini juga?
Saya pun mengunduhnya. Setelah melihat-lihat isinya, perkiraan saya tepat. Buku ini menunjukkan langkah yang sesimpel-simpelnya untuk menggambar aneka hewan, dimulai dari bentuk geometris dasar seperti lingkaran, segitiga, atau persegi panjang, kemudian tambahkan garis-garis lainnya hingga dalam beberapa tahap saja sudah menyerupai wujud yang dimaksudkan.
Karena pada awalnya saya belum siap menggunakan pewarna (tadinya saya ingin belajar menggunakan cat air saja), saya pun mengikuti setiap langkah hanya dengan pensil dan notebook (yang belum saya isi lagi sejak SMA) sebagai berikut.
Tidak disangka, saya merasakan nikmat dalam menarik setiap garis. Kalau tanpa panduan, saya mungkin akan cepat menyerah karena hasilnya akan terlalu abstrak. Dengan panduan, walaupun hasilnya enggak mirip amat dengan yang dicontohkan, sedikit kemiripan rupanya cukup untuk menerbitkan kebanggaan tersendiri.
Saya pun mulai memerhatikan tulisan pada "Kata Pengantar" dan "Petunjuk Orang Tua".
Rupanya kegiatan menggambar ini memiliki beberapa manfaat:
melatih kelenturan otot jari tangan dan koordinasi motorik halus, serta
membantu mengembangkan imajinasi dan otak.
Hei, tapi kan itu untuk anak-anak TK dan PAUD.
Tapi, tapi, tapi, apakah saya sebagai orang "dewasa" yang berusia sekitar tujuh kali lipat dari anak-anak TK dan PAUD tidak boleh terus melatih kelenturan otot jari tangan dan koordinasi motorik halus serta mengembangkan imajinasi dan otak? Apakah saya tidak berhak terus mengembangkan aspek-aspek kemampuan saya?
Apalagi ini didukung oleh Undang-undang, Pasal 31 (sebelum amandemen) Ayat (1): Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Setelah amandemen, kata "pengajaran" diganti dengan "pendidikan", dengan alasan bahwa pengertian yang pertama lebih sempit daripada yang kedua, tapi toh khusus untuk hal ini saya lebih suka kata yang pertama--"pengajaran" menggambar!
Di "Petunjuk Orang Tua", rupanya alat yang disarankan untuk menggambar adalah krayon.
Sebetulnya saya enggak suka krayon, karena rujit. Selain itu, saya enggak begitu terbiasa menggunakannya sehingga sepertinya hasilnya enggak bakal tampak indah. Tapi apa boleh buat. Lagi pula di rumah tersedia banyak krayon bekas yang campur aduk dari berbagai merek: Crayola, Faber Castell, Pentel .... Ada yang berukuran besar, ada pula yang kecil. Saya memilih krayon yang berukuran kecil saja.
Karena menggambar dengan menggunakan krayon sepertinya memerlukan kertas tebal, maka saya pun menggunakan buku sketsa A5 Kiky isi 50 lembar yang--alhamdulillah--juga sudah tersedia beberapa secara cuma-cuma di rumah. Buku tersebut bekas adik saya sehingga sebagian besar halamannya sudah terisi oleh coretan pensil keababil-ababilan, namun masih terdapat beberapa yang kosong dan layak untuk dimanfaatkan daripada mubazir--iya enggak, iya enggak?
Seperti sebelumnya, saya memulai sesuai dengan urutan halaman, yang dimulai dari ayam jago.
Karena masih enggak yakin dengan krayon, untuk membuat garis luar pada awalnya saya menggunakan spidol hitam untuk papan tulis.
Ternyata kertas buku sketsa enggak cukup tebal karena warna masih bisa tembus ke baliknya.
Ketika menggambar ayam jago ini, saya mendengar penggalan lagu yang berhubungan. Untuk meramaikan pemandangan, saya tuliskan saja liriknya. Walau sedang belajar mengembangkan media yang berbeda (visual), rupanya saya masih belum bisa jauh-jauh dari kata (verbal).
Mendengar penggalan lagu yang berhubungan rupanya terus terjadi sementara saya menggambar binatang yang lain. Terus saya tuliskan liriknya yang saya ingat.
Karena spidol hitam-untuk-papan-tulis yang tersedia di meja saya sudah menipis, maka saya berpikiran untuk menggunakan spidol biasa warna-warni--bekas--yang juga tersedia banyak di rumah.
Maka beginilah pemandangan saya setiap malam belakangan ini. Untuk menghindari kesulitan tidur, sudah lama, setelah magrib, saya hanya menyalakan lampu meja yang remang-remang. Memang akibatnya kadang-kadang tidak begitu mudah membedakan warna--terutama warna-warna gelap atau yang terlalu cerah seperti kuning--juga tidak awas terhadap garis. Tapi keuntungannya: enggak terang amat kalau hasilnya jelek.
Spidol di kanan. Krayon di kiri. Tablet yang memuat buku digital sebagai panduan.
Buku sketsa di tengah-tengah.
Pada awalnya saya sekadar memberikan warna, mau bagaimanapun caranya. Tapi kemudian saya berpikir bahwa jangan-jangan ada petunjuk tentang cara menggunakan krayon yang baik dan benar, alih-alih asal mewarnai. Practice makes perfect, they say. But improper way of practice would lead you nowhere(seperti yang telah terjadi dengan menulis).
Maka saya pun memulai slot yang satu jam dengan menonton satu video Youtube tentang cara menggunakan krayon, atau belakangan sekadar memandangi tangan orang melukis pemandangan dengan oil pastel (yang selama ini saya anggap sama saja dengan krayon). Saya baru mengetahui bahwa ternyata krayon perlu ditekan kuat-kuat, jangan sampai menyisakan yang "putih-putih", dan arah goresan sebaiknya konsisten. Di samping itu, ada trik-trik untuk mencampur warna-warni krayon agar terlihat halus, misalkan dengan menggunakan cotton bud yang telah dibasahi baby oil atau lipatan tisu, juga cara membersihkan hasil dari residu krayon dengan alat tertentu.
Sementara ini, yang saya praktikkan baru menyingkirkan residu dengan tisu dan menekan krayon kuat-kuat ternyata perlu tenaga ekstra!
Soal mewarnai, saya hampir-hampir enggak pernah tertarik untuk membeli buku mewarnai ala-ala mandala yang katanya terapeutik itu. Buat saya, sepertinya buku semacam itu malah bakal berefek sebaliknya: menjengkelkan. Soalnya, saya tahu saya enggak pandai mewarnai. Sebelum ini, bertahun-tahun lalu, ketika orang tua masih berlangganan Pikiran Rakyat yang mengandung Peer Kecil setiap Minggu, saya pernah mencoba mewarnai gambar yang tersedia untuk diwarnai dan dikirimkan ke redaksi (tentu saja saya enggak mengirimkannya, gile lu, Ndro!). Saat itu saya menggunakan pensil warna dan hasilnya sungguh tidak memuaskan, meskipun sampai sekarang masih saya pajang di dinding kamar. Saya enggak suka mewarnai karena bingung memilih/memadumadankan warna. Maka dalam kegiatan ini, saking enggak kreatifnya saya, setiap warna yang saya bubuhkan pada gambar mengikuti saja yang dicontohkan dalam buku.
Di sisi lain, saya suka bahwa saya mesti menggambar dulu untuk bisa mewarnai. Betapapun enggak kreatifnya saya sesudah itu, paling tidak saya masih dapat terlibat dalam suatu "aspek penciptaan". Saya mungkin tidak kreatif dalam memadumadankan warna, tapi sepertinya saya suka dapat menciptakan bentuk--atau malah pada dasarnya adalah konsep, seperti sewaktu saya mengusulkan format buku tahunan untuk kelas saya saat SMA tapi mengenai isinya bagaimana saya serahkan kepada yang lain-lain.
Hence, with this book, drawing and coloring have never been so fun! Namanya pemula yang tidak tahu arah, cara paling aman adalah dengan menirukan saja, tapi buku ini menginstruksikan agar tetap ada kesempatan untuk mencipta sendiri.
Iya, iya, harusnya "cicak".
Omong-omong, saya enggak selalu menemukan lagu pengiring untuk setiap binatang yang saya gambar.
Adakalanya saya berpikir, "Anak TK aja masih bisa lebih bagus daripada ini." Tapi, hei, saya enggak lagi mengikuti lomba menggambar dan mewarnai bareng anak-anak TK. Lagi pula, buku ini menyarankan agar orang tua memberikan pujian pada anak jika dapat menyelesaikan latihannya dengan baik. Dengan baik, kan, bukan dengan bagus. (#ngeles) (Walau entah juga pengertian baik itu yang bagaimana.)
Tapi anak yang satu ini skeptis bila dipuji.
Lagu pengiring yang saya dengar enggak selalu memuat binatang yang bersangkutan dalam lirik. Contohnya untuk beruang. Saya hanya ingat di videoklip The Dears, "22 The Death of All The Romance" sepertinya ada (boneka) beruang. Karena enggak ada lirik yang berhubungan, maka saya cantumkan saja kata atau frasa yang melintas bak meteor.
Lagi-lagi, lagu yang disambung-sambungin aja.
Sampai pada suatu waktu, saya berpikir, daripada mendengarkan musik yang katanya haram (#eh) kenapa enggak mendengarkan kajian saja? Atau apalah, pokoknya yang ada orang bicara memberikan pengetahuan. Sepertinya itu akan menjadikan aktivitas menggambar lebih berfaedah. Maka saya pun menyetel video-video dari channel Kuliah Psikologi. Rupanya ada perbedaan suasana yang signifikan. Terus terang, saya merasa lebih asyik dan imajinasi saya lebih "main" (padahal cuma meniru persis seperti yang ada di buku) saat mendengarkan lagu ketimbang kuliah. Mendengarkan kuliah tidak memunculkan apa-apa di kepala saya yang dapat saya tambahkan di kertas.
Di satu sisi, kegiatan ini mengasyikkan, seperti membiarkan inner child saya keluar dan berekspresi, tanpa khawatir atau takut akan salah atau diejek. Di sisi lain, keasyikan tersebut agaknya ternyata guilty pleasure; di saat orang-orang "dewasa" sebaya saya, pada waktu yang sama, tengah mengganti popok anak bayinya, atau menghitung cash flow usaha daringnya, saya malah melakukan aktivitas yang "tidak produktif" (entahkah secara finansial ataupun seksual, dua hal yang sepertinya, selayaknya, mengisi kehidupan seorang dewasa "normal"). Nah, I am mere a girl inside and girls just wanna have fun!
Tapi, tapi, tapi, seandainya pada usia ini saya sudah punya anak usia TK atau PAUD, tentunya saya tidak akan melakukan aktivitas ini sendirian; tentu mengasyikkan sekaligus edukatif jika kami bisa menggambar sekalian menyanyi bersama-sama (dan kalau ternyata gambar dia lebih bagus saya enggak bakal mengambek sambil menjejak-jejakkan kaki). Maybe I am just nurturing a child that should have been there.
Sayangnya, untuk lagu tentang katak (sebenarnya "kodok) yang muncul di kepala saya, saya tidak bisa menemukannya di Youtube. Kalau enggak salah, lagu itu dinyanyikan seorang penyanyi anak-anak tahun '90-an bernama Sofi (entah benar cara menuliskannya atau enggak).
Katak adalah binatang terakhir dalam buku ini. Di halaman berikutnya ada latihan dengan petunjuk agar memberikan tanda centang pada binatang berkaki dua dan tanda silang pada binatang berkaki empat.
Jadi, berapa banyakkah binatang yang ada dalam buku ini? Mana yang berkaki dua dan mana yang berkaki empat?
Saya senang bisa mengerjakan semua latihan--kecuali yang terakhir, tentu saja--dalam buku ini. Kalau ada rezeki, sepertinya lebih baik memiliki buku cetaknya daripada meminjam versi digital di aplikasi Ipusnas. Pertimbangan:
Ukuran buku ini sampai 80 MB, jauh lebih besar daripada buku-buku lainnya di Ipusnas. Makan waktu agak lama untuk mengunduh dan membukanya.
Waktu peminjaman terbatas. Setelah tiga hari, buku ini akan menghilang dan perlu diunduh ulang yang butuh kesabaran lagi.
Kalau saya punya anak, sepertinya sebisa mungkin saya ingin menjauhkan dia dari paparan media digital (yang adiktif itu!) pada tahun-tahun awalnya.
Karena untuk kepentingan sendiri, saya cukup puas dengan yang disediakan Ipusnas. Terima kasih Ipusnas. Saya siap memanfaatkanmu untuk seterusnya, hihihi. Untuk sementara, dalam belajar menggambar dan mewarnai dengan memanfaatkan sarana ini, sepertinya saya akan meminjam buku-buku yang simpel semacam ini dulu (: untuk anak TK dan PAUD) baru beranjak ke buku-buku yang mulai kompleks.
Suatu ketika pada 2003 di sebuah SMP di Kodya Bandung …
Ketika kembali duduk di
bangkunya, Fazaha memerhatikan di kolong ada buku lumayan besar dengan sampul
berwarna. Fazaha menarik keluar buku dalam plastik bersegel itu.
Ia membuka segel. Rupanya ada
dua buku: volume satu dan volume dua. Ketika membalik sampul buku volume
pertama, Fazaha menemukan secarik kertas bertulisan:
JAHE-CHAN
BAIKAN YUK
^_^
Fazaha gondok. Ia menoleh ke
seberang kelas 1A. Alfian melambaikan tangannya dengan girang. Fazaha mendesah.
Ia kembali pada buku itu. Namun guru keburu datang. Cepat-cepat ia menutup dan
mendorong buku itu ke kolong.
Alfian seakan-akan sudah tahu
Fazaha akan menghampirinya sepulang sekolah.
“Ini apa?” Fazaha masih belum
mau tersenyum. Ia menyorongkan plastik berisi dua volume buku itu.
“Buku.
“Iya, tahu, ini buku!” sahut
Fazaha. “Maksudnya apa?”
“Buat kamu.”
“Beneran?”
Alfian mengangguk-angguk.
Fazaha mengeluarkan buku
volume pertama. Ia membuka sampul belakangnya lalu memperlihatkan halaman
terakhir. Sebuah tanda tangan dengan pulpen memenuhi hampir seluruh halaman
itu. Di bawahnya ada nama: Risky.
“Ini punya orang?”
“Oh!” Alfian terkejut,
seakan-akan baru mengetahui adanya tanda tangan itu. “Iya, memang asalnya itu
punya Kak Iki. Tapi katanya boleh buat kamu.”
“Heh?”
“Sekarang kita baikan, kan,
Jahe-chan?”
“Entar dulu! Kenapa aku
dikasihnya buku bekas?”
“Tapi kan masih bagus? Itu
Kak Iki belinya masih baru lo!”
Benar kata Alfian. Kondisi
buku itu memang seperti yang belum pernah disentuh, walaupun tidak terbungkus ketat seperti di toko.
Namun Fazaha tidak secepat
itu percaya. “Bener, dikasih buat aku?”
“Beneran! Kata Kak Iki
boleh!”
“Jangan-jangan kamu ngambil
enggak bilang-bilang!”
“Eeeh, enak aja!”
Fazaha bimbang. Ia baru
sekilas melihat-lihat isi buku itu. Kelihatannya isinya keren dan sesuai dengan
yang ia perlukan. Ia ingin membaca buku itu betul-betul dengan leluasa. Tetapi,
bisakah Alfian dipercaya? Mengingat ulah cowok itu sebelumnya ….
Ketika itu, Fazaha keluar
dari ruang mading sekolah sambil menahan tangis. Ia lalu terduduk di balik
bangunan sekolah yang sepi. Di tempat itu kadang-kadang ia melewati jam
istirahat berdua dengan Alfian sambil makan jajanan. Ketika Fazaha sedang
mengusap air mata, Alfian muncul.
“Jahe-chan! Kamu kenapa? Kamu
habis dijahatin orang?!”
Sambil menahan isak, Fazaha
bercerita, “Komik aku dibilang jelek.” Lalu tangisnya keluar lagi.
“Siapa?!”
“Ya, enggak tahu!" Gulungan-gulungan kertas itu masuk ke kotak saran mading tanpa diberi nama. "Terus, yang ngomen bukan cuma dia aja ….” Fazaha menangkupkan
kepalanya ke pangkuan. “Aku enggak bisa bikin komik ….”
“Jahe-chan, kamu jangan patah
semangat. Komik kamu baru pertama kali dimuat di mading, kan?”
Tangis Fazaha bertambah
kencang. Walaupun komiknya baru sekali itu tampil di mading sekolah, gambarnya
telah berkali-kali terbit di Bobo
serta memenangkan lomba. Tetapi, rupanya, menggambar komik sama sekali berbeda
dari gambar anak-anak yang biasa dibuatnya. Ketika menggambar komiknya yang
akhirnya dicela orang itu, tidak terhitung berapa kali Fazaha menghapus dan
menggambar ulang. Selain itu, ia harus mencari cerita yang menarik. Karena
tenggat waktu, memang kemarin ia asal saja mencomot dari cerpen di majalah
remaja milik kakaknya.
Pokoknya bikin komik itu
rumit sekali!
“Jahe-chan, jangan menyerah.
Nanti kalau bikin komik lagi, lihatin ke aku dulu aja.”
Fazaha tahu Alfian suka
membaca komik. Mungkin Alfian memang bisa membantu Fazaha untuk membuat komik
yang lebih baik.
Beberapa minggu kemudian, Fazaha selesai membuat komik baru. Kali ini jumlah halamannya lebih banyak. Ia menyerahkan komik itu kepada Alfian.
“Aku bawa pulang, ya.”
Fazaha mengangguk.
Besoknya Fazaha menanyakan
komiknya kepada Alfian. Alfian bilang ia belum selesai memperbaiki komik
Fazaha.
“Apanya yang perlu
dibenerin?”
“Ada deh! Pokoknya nanti
komik kamu jadi lebih menarik.”
Fazaha mengerutkan kening.
Hari demi hari Fazaha lalui
tanpa absen menanyakan komiknya kepada Alfian. Alasan lainnya, “Entar tunggu kakak
aku pulang. Aku mau lihatin komik kamu ke Kak Iki. Kak Iki baru pulang Sabtu.”
Fazaha menunggu.
Ketika hari yang dinantikan
tiba, Fazaha menangis lagi melihat komiknya. Alfian ternyata telah
mengacak-acak komiknya! Setiap muncul karakter perempuan dalam komik itu,
Alfian menghapus bagian dada dan paha ke bawah, kemudian menggambarnya ulang.
Dadanya menjadi lebih besar. Rok atau celana ditinggikan sehingga pahanya
menjadi terbuka.
Komik itu sampai ringsek
karena digulung Fazaha kemudian dipakai untuk menggebuki Alfian sekuat-kuatnya.
Fazaha tidak mau berbicara
kepada Alfian lagi.
Sampai Alfian memasukkan
kedua volume buku itu ke kolong bangkunya.
Fazaha sangat menginginkan
buku itu. Kalau ia beli sendiri, sepertinya harganya cukup mahal.
“Ya udah, aku pinjam dulu,
ya.”
“Kan memang buat kamu.”
“Ih, aku enggak percaya sama
kamu!”
“Eh!? Tapi kita udah baikan,
kan? JAHE-CHAAAN!”
Fazaha berlari
secepat-cepatnya dari Alfian.
Begitu sampai di rumah, di
kamarnya, Fazaha langsung mengeluarkan buku dari plastik. Kedua buku itu
masing-masing tebalnya hanya delapan puluhan halaman dan terdiri dari empat
bab.
Dua bab awal dalam volume pertama
mengajarkan cara menggambar kepala dan wajah serta tubuh dan gerakan. Rupanya
untuk membuat bagian-bagian tubuh itu diperlukan sketsa lebih dahulu. Kalau
begitu, Fazaha membayangkan, nantinya tetap saja akan banyak menghapus juga.
Tetapi, cara ini mestilah akan membuat gambarnya menjadi lebih rapi.
Buku itu mendetail sekali
dengan menunjukkan cara menggambar kepala dan wajah dari berbagai sudut: depan,
samping, ¾ depan, ¾ belakang, ¾ atas, ¾ depan atas, ¾ depan bawah, termasuk
tentang pergerakan mulut dan perbedaan bentuk mata dari sudut yang berlainan
itu. Belum lagi cara menggambar tiap-tiap objek wajah: mata, hidung, bibir dan
mulut, rambut, sampai ke perubahannya agar menghasilkan beragam ekspresi.
Terungkap pula rahasia
menggambar tubuh yang ternyata dengan lebih dahulu membuat kerangka seperti
layangan kemudian bentuk-bentuk seperti tabung, kubus, bola, dan sebagainya.
Sebelum mencoba membuat komik, Fazaha lebih terpaku kepada kepala dan wajah
saja sebab itulah yang paling menarik. Ia terkesan dengan mata ala komik-komik
serial cantik Jepang yang besar berbinar-binar, juga senang bermain-main dengan
gaya rambut. Tetapi, ketika membuat komik, ternyata ia kesulitan meneruskan dari
bagian kepala itu ke bawah. Sudah rapi-rapi di bagian atas, eh, tubuhnya tidak
sesuai.
Apalagi ketika ia ingin
menggambar gerakan tangan. Kalau di gambar anak-anak yang biasa dibuatnya,
dengan mudah ia menggambar lekukan-lekukan jari yang kadang jumlahnya hanya
empat pada satu tangan. Tetapi, dalam komik gaya Jepang ini, tangan mesti
digambar dengan mendetail. Ia ingin membuat jari-jari yang lentik seperti yang
betulan, tetapi betapa susahnya! Ternyata, menggambar telapak tangan, juga
kaki, memerlukan sketsa lebih dahulu juga.
Ada perbedaan dalam
menggambar tiap-tiap bagian tubuh cowok dan cewek, yang disesuaikan lagi dengan
usia karakternya. Buku itu juga menujukkan cara menggambar karakter chibi serta pakaian yang ternyata
bergantung kepada jenis kain, pergerakan badan, bahkan pengaruh angin!
Kemudian ada yang dinamakan inking atau meninta dan tracing atau menjiplak. Dalam membuat
komik kemarin, Fazaha hanya mengandalkan kertas, pensil, penghapus, dan
penggaris. Rupanya bagi komikus profesional, ada peralatan lain yang harus
dimiliki. Mulai dari kertas, pena, sampai tinta, ada banyak macam dengan
kegunaan masing-masing. Tidak hanya itu, ada juga peralatan besar seperti meja tracing, mesin fotokopi, bahkan
komputer!
Menyusun cerita pun ternyata
tidak sembarangan. Ada tema, gaya cerita, dan plot yang mesti ditentukan.
Menyusun panel ada triknya tersendiri. Ada berbagai cara membuat latar belakang
serta bentuk balon kata dengan efek yang berbeda-beda pula. Membuat komik
sebaiknya direncanakan dulu di kertas lain!
Fazaha menutup volume pertama
dengan kewalahan.
Setelah diam sejenak, ia
menguatkan diri untuk membuka volume kedua.
Sepintas, isi bab kesatu volume
kedua sepertinya tidak begitu berbeda dengan yang ada di volume pertama. Baru
Fazaha menyadari bahwa gaya dalam komik Jepang itu berbeda-beda. Ada yang
simpel, ada yang realistis dengan lebih banyak detail, dan lain-lainnya.
Padahal sebelum ini ia memandang komik Jepang dalam satu gaya saja, ya … gaya
Jepang.
Kemudian ada latar belakang!
Sebelumnya Fazaha hanya berfokus pada manusia. Rupanya apa yang ada di belakang
tokoh juga harus diperhatikan! Buku itu memberi petunjuk menggambar objek-objek
alam seperti batu, pohon, rumput dan tanah, sampai bangunan dengan menggunakan
perspektif. Kebetulan Fazaha sudah mendapatkan sedikit materi menggambar
perspektif dalam pelajaran Seni.
Ada cara yang lebih gampang
untuk membuat latar belakang daripada dengan menggambar perspektif, yaitu
dengan menjiplak foto atau gambar di majalah. Tetapi, cara itu memakan banyak
modal. Malah, kalau mau lebih canggih lagi, komputer dan scanner diperlukan. Menghasilkan gambar menggunakan komputer sama
sekali tidak terbayang oleh Fazaha sebelumnya.
Penggunaan komputer dibahas
lebih lanjut di bab ketiga. Buku itu bilang, penggunaan komputer tidaklah
harus. Malah, keahlian menggambar lebih terasah jika semuanya dikerjakan dengan
tangan. Tetapi, penggunaan komputer dapat menyingkat waktu dan menyediakan
efek-efek yang berbeda. Kalau menggunakan komputer dan scanner, Fazaha mesti mempelajari software-software, misalnya Adobe Photoshop.
Fazaha membuka bab terakhir
dalam buku itu, lalu tersadar. Tidak saja harus menguasai aneka cara menggambar
baik dengan tangan maupun komputer, ia juga mesti pintar mengkhayal untuk
membuat kisah yang mengasyikkan. Ketika menggambar, tentu saja Fazaha sambil
mengkhayal yang kemudian ia tuangkan di kertas dengan pensil, spidol, atau
krayon dan sebagainya. Tetapi khayalannya tidak bergerak ke mana-mana, tidak
menjadi cerita!
Buku ini juga menjelaskan
cara-cara untuk membuat kisah yang menghibur. Cerita harus unik, masuk akal,
rapi, jelas, tidak membingungkan, menampilkan tokoh-tokoh yang persis dengan
orang-orang di kehidupan nyata, mengandung banyak kejutan, hingga membikin
pembaca penasaran dan geregetan.
Sebelum diwujudkan menjadi
komik, cerita sebaiknya dituliskan lebih dahulu untuk menjelaskan isi tiap-tiap
panel. Peletakkan panel-panel tersebut dalam satu halaman mestilah memudahkan
orang untuk membacanya. Mangaka harus pintar memainkan sudut pandang dalam
tiap-tiap panel karena suasana yang ditampilkan juga akan berbeda-beda.
Fazaha menutup buku dengan
puyeng.
Tuh, kan, bikin komik itu memang rumit! Tetapi, setidaknya buku ini telah memecah kerumitan itu menjadi penjelasan-penjelasan yang terperinci. Orang yang tidak berbakat sekalipun bisa saja membuat komik asalkan mau mengikuti petunjuk buku ini dengan sungguh-sungguh dan bertekad keras.
Tiap halaman dari kedua
volume buku ini membutuhkan latihan tersendiri. Entah berapa lama waktu yang mesti dihabiskan sampai Fazaha dapat menguasai setiap keterampilan yang diperlukan untuk
membuat komik yang baik. Fazaha tidak bisa sekadar meminjam buku ini. Ia harus
memilikinya.
Kalau beli sendiri, harganya berapa,
ya?
Mama mau membelikan tidak,
ya?
Kalau pakai uang saku
sendiri, Fazaha khawatir tidak bisa jajan untuk beberapa lama.
Tetapi, bukankah Alfian
bilang buku ini memang untuk dia?
Fazaha merasa masih belum
bisa memercayai anak itu. Ia tidak mau diberikan barang curian.
Terlintas gagasan di
benaknya.
Ah, tidak, tidak, itu pasti
memalukan!
Tetapi ….
Keesokan harinya di kelas, Fazaha
menghampiri Alfian.
“Aku mau ketemu sama kakak
kamu.”
“Eh, kenapa?”
“Pengin mastiin bukunya
memang buat aku.”
Alfian manyun seraya semakin
menyipitkan matanya. “Kamu masih enggak percaya sama aku.”
“Gimana?” kejar Fazaha.
Alfian mengembuskan napas. “Ya
udah ….”
“Ya udah apa!?”
“Ya entar aku bilang sama
kakak aku.”
“Bener, ya!?”
“… iya ….”
“Aku enggak mau percaya sama
kamu sampai kamu bener-bener ngebuktiin …” Fazaha mengguncang-guncang kerah
seragam Alfian.
“... iyaaa …”
Sulit memulai pembacaan buku ini tanpa ikut mencorat-coret sketsa -_1
... bersambung ke NaNoWrimo 2019, kalau Allah menghendaki.
Alkisah, seorang calon mahasiswi berprestasi UNPAD bernama Juhe harus mengerjakan sebuah karya tulis ilmiah (selanjutnya KTI). Untuk melengkapi KTI-nya itu, dia meminta seorang kawan SMA-nya untuk membikinkan komik (strip). Wah, rupanya terakhir kali kawan SMA-nya itu berlaga dalam dunia perkomikkan sudah cukup lama--sejak erupsi Merapi tahun lalu! Namun itu tidak membuatnya lupa bagaimana cara mengomik. Inilah yang harus dipersiapkan:
1. LKJ
Dari segi ukuran, LKJ amat efisien untuk menggambar komik strip. Tentu saja yang digunakan adalah bagian putihnya! LKJ bisa didapat secara cuma-cuma kalau orangtuamu seorang guru.
2. Pulpen STANDARD AE-7
Pilihlah yang tidak mblebler. Bisa FINE atau ALFA TIP 0.5. Ini adalah jenis pulpen favorit para mahasiswa!
Selain dua alat utama di atas, diperlukan juga beberapa alat tambahan antara lain pensil, penghapus, penggaris, spidol hitam, dan tipe-X. Penggaris digunakan sebagai alat bantu untuk membuat panel sedangkan pensil untuk bikin sketsa, ya panel, ya isi panel. Sekeliling panel ditebalkan terlebih dulu dengan spidol hitam. Baru deh enak untuk mencorat-coret bagian dalamnya. Sketsa yang telah dibuat kemudian ditebalkan oleh pulpen. Kalau salah menggurat, tipe-X pun bekerja. Dalam komik ini si kawan SMA cukup banyak menggunakan tipe-X...
Setelah bagian putih LKJ kelar digambari, yang harus dilakukan selanjutnya adalah mencari pemindai gratis. Karena si kawan SMA tidak berada di rumahnya sendiri, dia nebeng Lab Biometrik kampusnya ("terima kasih, Pak Bambang... :D", kata si kawan SMA). Setelah dipindai, komik diedit dengan menggunakan Paint karena si kawan SMA tidak tahu cara menggunakan aplikasi lainnya... Komik diubah formatnya jadi monokrom. Itulah yang dilakukannya juga pada diari grafis yang dia buat saat erupsi Merapi tahun lalu.
Si kawan SMA pun menggambar mulai dari sekitar pukul delapan malam hingga satu pagi. Yah, meski gambarnya kayak anak TK, setidaknya dia sudah mencoba...
Ini komiknya yang pertama...
Dan ini yang kedua...
Versi 1:
Versi 2:
Sebenarnya si kawan SMA masih punya satu konsep komik lagi. Namun daya matanya sudah melemah. Akhirnya dia tidur.
Keesokan paginya, si kawan SMA menghadiri kuliah. Bukannya mendengarkan dosen bicara, dia malah menyelesaikan komiknya yang satu lagi itu. Komik yang ini selesai tidak lama setelah kuliah usai.
Versi 1:
Versi 2:
Diskleimer: itu yang panel 3 dalam komik 3 versi 2 merupakan versi monokrom dari lukisan The Scream-nya Edvard Munch--lukisan favorit si kawan SMA.
Dengan demikian, selesailah tugas si kawan SMA. Dia lega karena telah membantu temannya yang akan melawat ke Jerman selama 20 hari sejak 7 Mei mendatang. Semoga lancar, hati-hati di jalan, ya, Ju... Dan selamat ganti umur hari ini, moga Allah SWT selalu membimbingmu ke jalan yang benar, amiiin... :)
Imran, teman sekelas di mata kuliah Pengukuran Sumber Daya Hutan
Manda
Majid
Zia lagi
Buku catatan kuliah saya pada semester 7 2010/2011 adalah buku ajar Dasar-dasar Manajemen Hutan dengan kertas buram, jadi halaman di baliknya masih kosong. Sampulnya warna hijau. Di dalamnya, selain catatan kuliah, kadang saya isi juga dengan penggalan curahan hati dan sketsa wajah-wajah yang mengisi kepala saya. Mereka adalah di antaranya.
Yentl
-
Oleh Isaac Bashevis Singer ISAAC BASHEVIS SINGER, pemenang Nobel Sastra
1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di… Read more Yentl
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan
-
Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk
meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan
berle...