Tampilkan postingan dengan label Babakan Siliwangi dan sekitarnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Babakan Siliwangi dan sekitarnya. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2013

Menemani Orang Jogja Jalan-jalan di Bandung

Wilujeng sumping di Bandung,” kusalami Ncan. Dia sampai di Stasiun Kiaracondong sekitar ¾ jam lalu. Hujan deras yang turun sejak semalam baru reda sekitar jam enam pagi itu. Dia bertolak dari Jogja sekitar pukul tujuh malam dengan menggunakan kereta ekonomi AC Kahuripan—harga tiket Rp 100.000. Tidurnya tidak nyaman semalaman karena sandaran kursi yang begitu lurus.

“Udah liat itu?” Kutunjuk jembatan layang dengan latar kelabu di kejauhan. Aku sangat ingin Ncan melihat panorama tersebut, dan barangkali kekumuhan di bawahnya. Dia mau.

Maka Ncan terpukau menyaksikan hujan merembes dari jalan layang, hingga pasar, manusia, dan kendaraan yang berjejalan di sebidang jalan sempit. Aku membeli empat serabi oncom seharga masing-masing seribu, bonus satu. Sejak kami masih di Jogja aku sudah membicarakan serabi oncom yang kupikir penganan khas Bandung. Dia cuman makan satu.

Tidak banyak lagi yang bisa dilihat, tapi cukup banyak yang bisa aku ceritakan tentang Kiaracondong. Hampir tiap pagi selama tiga tahun aku melewati kawasan tersebut untuk menuju ke SMP yang berlokasi cukup jauh dari rumahku. Aku merekam dengan inderaku jembatan layang yang dari tiada menjadi ada. Sampah menumpuk hingga dasar jembatan, lalat besar bermata hijau mengerubunginya, dan jarakku yang duduk di dalam angkot dengan gunungan hama tersebut tidak sampai semeter.

Ketimbang menunggu angkot sembari berdiri di bawah rintik, kami lanjut berjalan ke utara. Ncan menangkap seekor kodok, yang juga bisa ditemukan di solokan samping Graha Sabha Pramana UGM. Kami mampir ke pom bensin terdekat, sehingga Ncan bisa mencuci tangannya yang bekas pegang kodok dengan air berkarat. Kami menembus kerumunan karyawati pabrik tekstil di bawah payung-payung mereka.

“Pagi-pagi tekanannya udah tinggi,” komentar Ncan. Aku mesem membayangkan suasana pagi di Jogja yang agaknya ayem saja.

Seperti aku lahir dan besar di Bandung, Ncan juga lahir dan besar di Jogja. Dia ke Bandung baru sekitar dua kali: saat SMP mengunjungi Sabuga serta Museum Geologi dan sekitarnya; saat Kuliah Lapangan beberapa tahun lalu mengunjungi sentra oleh-oleh yang seperti Malioboro tapi dia tidak ingat namanya. Denganku pada Sabtu nan berhujan itu, tiga bulan setelah usiaku 22 tahun atau dua bulan sebelum usianya 24 tahun, perjalanannya di Bandung kali ini memberikan kesan yang menurutnya seru ketimbang di kota-kota lain.

Dengan angkot Riung-Dago aku membawanya ke sekitar Monumen Pancasila. Bandung masih rintik dan kelabu. Dia pegang payung biru ukuran sedang berlogo UGM milikku, tidak ingin bajunya basah. Sesekali aku memegangkan payung untuknya, untuk DSLR miliknya, ketika dia ingin memotret. Kami menyusuri pulau demi pulau taman yang menghubungkan monumen dengan lapangan Gasibu, yang menurutnya mirip boulevard (di UGM). Dia melihat rongsokan besi yang ternyata bangku karatan. Dia ragu ada ikan di kolam bulat yang berair hijau itu, tapi kok banyak orang yang memancing. Dia senang berjalan di atas bebatuan kecil untuk pijat-pijat kaki. Dia pikir orang bakal celaka kalau lari-lari di lapangan Gasibu—lihat permukaan sirkuitnya yang pecah-pecah. Kami berbagi nasi tim ayam Sizi di pinggir Gedung Sate. Kami jalan-jalan sebentar di Taman Lansia di mana dia kecewa karena tidak menemukan kodok di habitat sepas itu. Dia tidak menemukan taman seperti Taman Lansia di Jogja, dan kutunjukkan bahwa taman itu juga rumah bagi gelandangan. Dia mengenang kunjungannya dahulu di Museum Geologi. Aku membelikannya kue cubit yang menurutnya enak tapi dia tidak makan banyak. Dia ingin menyingkirkan sampah yang dia lewati di jalan tapi tidak tahu ke mana, jalan tersebut sepertinya sudah merupakan tempat sampah besar. Dia duduk di depan pagar Monumen Pancasila dan tertegun ketika seorang cewek berdandan menarik melintas.

Baru sekitar tiga jam sejak aku menggiringnya menapaki jalanan Bandung. Dia sudah melihat kontradiksi antara penampilan orang Bandung yang menurutnya wah, dengan lingkungan sekitarnya yang berserakkan sampah. “Seperti yang hanya memedulikan penampilan sendiri, tapi cuek sama sekitarnya ya?” simpulku. Dia bandingkan dengan orang Jogja dan lingkungan di sana yang menurutnya selaras saja.

Kami melewati UNPAD di mana trotoar bukannya berada di sisi jalan melainkan diapit oleh deretan warung dan solokan, barangkali menakjubkan juga bagi Ncan. Kami melalui RS Borromeus yang kukatakan sebagai Panti Rapihnya Bandung. Kami singgah di Masjid Salman, yang kukatakan dirancang oleh pemilik radio KLCBS—Ardianya Bandung, di mana ia menemukan colokan. Aku mengajaknya ke Ijzerman Park (cmiiw) di mana ia menemukan kodok kemerahan di kolam, papan identifikasi burung di kawasan tersebut, dan tentu saja becek, gelandangan, dan sampah. Di bagian atas taman kutunjukkan plat yang memberikan informasi mengenai gunung-gunung yang mengitari Bandung di selatan.

Dia terkesan dengan bangunan ITB yang unik, yang kukatakan sebagai peninggalan Belanda dan rancangannya menyesuaikan beberapa bangunan adat di Indonesia. Hari itu bertepatan dengan wisuda sehingga kami bisa menyaksikan kehebohan mahasiswa ITB menyambut wisudawan/watinya dengan arak-arakan, dia tampak iri. Dia memotret Indonesia Tenggelam dan beberapa objek lain di tengah kampus. Di Tokema dia melihat-lihat suvenir khas ITB sementara aku menunggunya di luar sambil makan Sariroti isi cokelat dan menjaga DSLR. Kami menuju Saraga dengan melewati terowongan Sunken. Dia mengeluarkan Rp 15.000 untuk setengah jam renang di kolam standar olimpiade di lantai dua dengan panorama tajuk pepohonan di Babakan Siliwangi, sementara aku menungguinya di seberang musala sambil berusaha menulis. Setelah salat kami minum susu murni di gerbang Saraga, lalu dia melahap lumpia basah sementara aku coba memotret kucing bercorak unik dengan DSLR. Perjalanan dilanjutkan dengan aku mendongeng Babakan Siliwangi, namun sayang dia tidak tertarik untuk menjelajahi kawasan tersebut keseluruhan. Dia lebih tertarik pada variasi mural di dinding seng yang mengitari hutan mini itu.

Kami lanjut menyusuri Sabuga—dia mencicipi donat Polandia isi keju, BATAN, Pasar Seni dan Kebun Binatang, di tempat pembuangan sampah dia memotret manuk japati dan burung gereja yang mencari makan, kutunjukkan bagaimana pemukiman padat nan kumuh, hotel-mal-apartemen, dan hutan berdampingan dari tepi jalan tersebut, kami mengaso sebentar di dekat Bappeda sembari minum kelapa muda campur susu.

Dia tertarik dengan jembatan Pasopati, sementara aku takjub akan lapangan di bawah jembatan tersebut. Bagian bawah jembatan Pasopati juga berisi area parkir, area street soccer yang disponsori berbagai pihak, dan ornamen-ornamen yang tidak terbengkalai. Kami turun terus hingga mencapai taman yang terawat cukup baik, dan membatasi kami dari aliran deras Sungai Cikapundung yang mengingatkanku akan iklan susu Milo.

Tujuan selanjutnya adalah Taman Cikapayang dengan instalasi D, A, G, dan O besar, di mana orang-orang suka bermain skateboard di depannya, “di tempat sekotor ini?” tanggapannya mulai sinis. Beberapa saat kemudian dia malah geli karena melihat mbak-mbak cantik memasuki angkot. "Mau dandan mau lusuh, sama-sama naik angkot," komentarnya. Kami lalu menyeberang ke instalasi lain, lalu titik henti kami selanjutnya adalah Dukomsel, Dago Plaza, dan Gramedia, sebelum mencapai masjid di samping Balaikota untuk salat ashar.

Sepanjang hari itu hujan sesekali rintik sesekali mendung saja, dan jelang petang itu rintik lagi. Masih sekitar empat jam sebelum Kahuripan yang akan membawa Ncan kembali ke Jogja datang, tapi malam Minggu yang berpotensi macet bikin aku khawatir kalau kami menjelajahi Braga dan sekitarnya dulu tidak bakal keburu. Lagipula Ncan sepertinya sudah sangat capek.

Aku tidak tahu angkot mana dari sekitar Balaikota yang sekali jalan ke Kiaracondong. Jadi aku mengajak Ncan naik angkot St. Hall-Gedebage di dekat Bank Indonesia, untuk disambung dengan angkot Kalapa-Caheum di sekitar Jalan Martanegara. Dengan angkot St. Hall-Gedebage kami tetap bisa melewati objek menarik seperti bangunan tua ala Pecinan hingga Alun-alun—yang berkali-kali Ncan singgung seharian itu. Masih Ncan tertegun-tegun ketika melihat cewek-cewek berkulit, istilahnya, “transparan”, yang kukira istilah yang lebih lazim adalah “bening”. Dia heran kenapa kulitku tidak transparan seperti cewek-cewek di Bandung yang dia lihat. Hei, bukankah iklan pencerah kulit di TV sudah mengajarkan kalau yang terang memang yang lebih terlihat? Banyak juga kok cewek berkulit cokelat di Bandung. Setelah kutunjukkan Alun-alun beserta masjid agung, Ncan terkantuk-kantuk.

Kami makan nasi, “pecel” lele, dan kol goreng di warung tenda di Jalan Turangga yang sudah dekat rumahku sebetulnya, tapi aku tidak mungkin mengajaknya bertandang. Hujan deras kembali. Magrib lewat. Angkot Kalapa-Caheum pun kami naiki, yang selanjutnya bikin Ncan was-was sepanjang jalan. Berkali-kali sopir angkot yang berkacamata itu (sopirnya, bukan angkotnya) menginjak rem sampai bikin laju kendaraan tersentak-sentak. Jalanan gelap bergelimang air dan remang-remang cahaya. Kutunjukkan gemerlap kawasan Trans Studio, kali ini Ncan tidak lantas tertidur.

Bagian depan Stasiun Kiaracondong begitu ramai malam itu. Ncan mengajakku duduk dulu di bangku yang tersisa. Kami mengobrol ditimpali deras hujan. Lagipula penumpang Kahuripan belum diperbolehkan memasuki peron.

Sesekali suara keras seorang pria muncul seakan memberikan pengumuman, tapi tidak jelas. “Kenapa enggak pake speaker aja sih?” keluhku. “Tahu tuh, kotamu,” sahut Ncan. Aku pun geli. Sejak pagi aku menyarankan Ncan untuk menuliskan kesannya atas kota ini di kertas, lalu aku akan memasukkannya di KOTAK ASPIRASI di Balaikota—ketimbang jadi wadah debu saja. Padahal baru sedikit dari sekian titik di Kota Bandung yang kami susuri seharian itu, yang sepertinya sudah cukup membikin Ncan mensyukuri Jogjanya.

Sekitar pukul setengah delapan malam akhirnya penumpang Kahuripan diperbolehkan memasuki peron. Aku mengantarnya sampai ke meja pengecapan tiket. Sebelum berlalu dia menyalamiku. “Sampai ketemu di Jogja.”

Minggu, 02 September 2012

Domba-domba Saling Tanduk di Babakan Siliwangi


Duak!
Pikap-pikap berbaris di tepi Jalan Siliwangi pada Sabtu (01/09/12). Butiran-butiran hitam--kotoran domba--berceceran di bak. Gempita musik Jaipongan teredam tajuk pepohonan Babakan Siliwangi. Rupanya pertunjukan seni ketangkasan domba Garut tengah berlangsung. Cuaca cerah mendukung 92 pasang domba asal Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cianjur, hingga Sukabumi untuk saling menghantamkan kepala pada satu sama lain.

Di satu panggung nayaga menyemarakkan suasana. Sesekali beberapa orang naik ke depan panggung lalu menggerakkan tubuh mereka sesuai irama. Domba-domba yang menanti giliran maupun sudah anteng atau gelisah pada patoknya masing-masing di luar tribune, dengan atau tanpa alas. Banyak lelaki berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala batik berkeliaran di sekitar domba-domba. Tribune yang mengelilingi lapangan diisi oleh pengunjung  lain yang tidak sedikit jumlahnya, tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan, dewasa hingga anak-anak. Para pedagang, mulai dari pedagang kupat tahu, nasi kuning, siomay, cendol, boneka domba, hingga asongan menempati posnya masing-masing.

Mengantri giliran di atas singgasana
Lagu berganti seiring dengan sepasang demi sepasang domba berlaga di lapangan. Seorang wasit berpeluit memberi aba-aba bagi pasangan domba yang akan bertanding. Masing-masing domba mundur seraya ambil ancang-ancang, lalu menyerbu bagian depan kepala satu sama lain. Duak! Satu tandukan. Keduanya lekas mundur lagi, melaju lagi, dan duak! Dua tandukan. Dan seterusnya hingga 20 kali tandukan, atau salah satu domba semaput. Tiap domba di lapangan didampingi oleh sedikitnya seorang lelaki. Kadang seusai menyeruduk lawan, domba dipijat oleh pendampingnya masing-masing sebelum melakukan tandukan berikutnya. Lecet di dahi domba adalah hal biasa, bisa pulih lagi.

Keriuhan di lapangan
Usia domba yang ditandingkan berkisar antara 3 - 6 tahun. Pasangan domba ditentukan sejak sebelum pendaftaran oleh pemilik domba itu sendiri. Begitu sampai di lokasi pemilik domba mencari pemilik domba lain yang hendak dijadikan lawan bagi dombanya, lalu kedua domba tersebut didaftarkan pada panitia.

Domba tidak akan ditandingkan lagi dalam waktu pertunjukan yang sama, meskipun telah mengungguli lawannya. Domba dinilai berdasarkan beberapa kriteria. Domba yang mendapat skor paling besar menjadi pemenang.

Mobil, domba, orang, motor campur aduk di jalan

Sebagian masyarakat masih memiliki persepsi yang negatif terhadap seni ketangkasan domba Garut, atau lazimnya dikenal dengan "adu domba". Padahal domba yang diadukan masih bisa hidup hingga sepuluh tahun lagi. Benturan antara kepala domba tidak menyebabkan gegar otak, sebab struktur tengkorak domba tidak sebagaimana milik kita. Terdapat semacam pegas pada bagian depan tengkorak domba, sedang otak domba terletak di bagian belakang tengkorak. Adapun domba yang semaput dikarenakan arah tandukan domba lawan tidak mengenai bagian yang tepat. Kemampuan domba berlaga di lapangan juga meningkatkan nilai jual domba itu sendiri, yang dengan demikian menguntungkan peternaknya.

Seni ketangkasan domba Garut mulai berkembang pada awal abad 20 di Jawa Barat, sempat terhenti pada masa perang kemerdekaan Indonesia, dan berlanjut lagi pada tahun 1950-an. Hingga kini Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Jawa Barat rutin menyelenggarakan seni ketangkasan domba Garut sebagai ajang silaturahmi bagi para pemilik domba.

Suasana di Babakan Siliwangi, 01/09/12
Cabang HPDKI di Kota Bandung melangsungkan latbar atau latihan berhadiah  tiap minggu, sedangkan kontes tidak tentu. Saat latbar jumlah domba bisa mencapai 100 pasang, sedangkan saat kontes 150-250 pasang. Informasi acara bisa dilihat setiap Rabu di Galamedia. Blok pamidangan (lapangan adu domba) di Babakan Siliwangi biasanya digunakan pada minggu pertama tiap bulan, sedang pada minggu-minggu berikutnya dilangsungkan di blok pamidangan lain di Cilimus, Moh. Toha, dan Arcamanik.

Adapun blok pamidangan  di Babakan Siliwangi dibangun setelah Otje Djoendjoenan menjabat sebagai walikota, yaitu tahun 1977. Semula blok pamidangan berada di area yang kini merupakan kolam renang, sebelum dipindahkan ke area yang lebih tinggi.***

Jumat, 16 Maret 2012

beri tahu aku bagaimana rasanya renang di saroga


semula tak begini rasanya
kau protes karena tak ada atap
harga tiket nan dua kali lipat biasa
titip barang ke orang harus bayar pula

sebandingkah dengan luas kolam renang skala olimpiade?

panorama 
langit nan tak pernah tak kelabu
bersanding dengan rimbun hutan yang mengklamufase arena tarung domba

sekaligus kau icip
sensasi berenang
di bawah hujan
di bawah guntur bersambar-sambar

lain kali begitu cerah
dengan angin sekali-sekali menghempas
kau rasa arungi samudera
saat meluncur memanjang

saat tiba nafasmu terengah-engah
kau topang kepala pada tepian
dan tengadah
saksikan panorama
tubuhmu mengambang
dimain-mainkan gelombang
bergoyang tenang dalam kebeningan...

lalu
dengan mulia
kau evakuasi serangga demi serangga
yang terapung

saking kau semangat
hingga ingusmu melesat
namun tak seorang pun lihat
maka tak usahlah kau merasa jahat
tularkan virus, tak secuil pun niat

sebenarnya kau belum terlampau lelah
namun kau cukupkan sudah

ketika kau lucuti pakaianmu di bilik
kau dapati tubuhmu belang bak tapir

=8, 15 Maret 2012=

Minggu, 11 Maret 2012

Ngubek Baksil: SERU(!) (Bagian 2-Tamat)

Sisi lain PT EGI di mata sang ahli tumbuhan

Tak jadi kembali melewati rute yang sama karena ada pria tak berbusana, kami mendaki jalan setapak yang membelah lembah. Sampailah kami di jalan relatif mendatar yang dulunya beraspal. Namun dalam rangka persiapan konferensi internasional Tunza 27 September-1 Oktober 2011 lalu, aspal yang menutupi jalan sepanjang 900 meter tersebut dikelupas untuk kemudian ditanami anak-anakan pohon oleh para partisipan konferensi.

Dulunya area ini beraspal

Kami melewati dua pria yang tengah mencabuti tumbuhan liar di sekitar anakan. Mumpung. Akhirnya kami terlibat obrolan dengan mereka, khususnya saya dengan pria bernama Pak Tatang.

Setiap hari, Pak Tatang berangkat dari rumahnya di Lembang pukul setengah tujuh pagi dan kembali dari Baksil pukul empat petang. Ia libur hanya ketika ia sakit. Semula ia bekerja untuk Dinas Kehutanan di kawasan Tangkuban Perahu hingga PT EGI “meminjam”nya untuk merawat Baksil. Ia telah bekerja selama lima bulan ketika kontraknya diperpanjang hingga tiga puluh lima tahun kemudian karena dedikasinya—padahal menurut media kontrak PT EGI dengan pemerintah kota hanya tiga puluh tahun lo. Jadi sejak mula hingga kini, ia telah bekerja di Baksil selama kurang lebih setahun. Sudah ada dua kali pergantian pekerja sebelum ia ditugaskan ke sini.

Pak Tatang yang berbaju hijau, bukan oren

Pemerintah kota memang telah mempercayakan PT EGI untuk pengelolaan Baksil dan PT EGI mempercayakan orang seperti Pak Tatang untuk menjaga kawasan tersebut. Pengalaman Pak Tatang bekerja di hutan membuatnya hapal akan beragam jenis tumbuhan, tidak hanya morfologi, tapi juga kegunaan!

Buah bulat berwarna biru keunguan yang banyak saya dan kawan-kawan temukan di dalam hutan Baksil misalnya, itu adalah ganitri yang berkhasiat mengobati luka. Buah bulat kecil merah yang suka digunakan anak-anak untuk merekayasa dirinya seolah berdarah-darah ternyata mengandung racun. Dan rerumputan yang kita pijak ternyata bukan sekadar rumput. Setiap bentuk daun rumput mengindikasikan jenis yang berbeda.

Kenalkan, aku gani tree, pohonnya si gani!

Pengetahuan Pak Tatang mencakup 1150-an jenis tumbuhan dan itu sudah diuji, akunya. Ia telah diminta beberapa kali, oleh mahasiswa misalnya, untuk bantu mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan yang ada di Baksil yang jumlah mencapai ratusan! Menurut Pak Tatang, jenis tumbuhan yang ada di kota umumnya bisa pula ditemukan di kampung meski penyebutannya menggunakan nama berbeda. Metode belajarnya adalah mengajak orang tua ke kebun lalu ia minta diterangkan mengenai jenis-jenis tumbuhan yang ditemui. Ia akan mencatatnya. Berkat keahliannya tersebut, ia suka diminta menangani pemilihan jenis tumbuhan di mana-mana, sebut saja Medan, Riau, Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, sampai Baksil. Kini ia menjadi rebutan antara Dinas Kehutanan dan PT EGI.

Selain Pak Tatang dan seorang rekannya, PT EGI juga memanfaatkan jasa keamanan dari pihak yang disebut Pak Tatang sebagai GMBI. Menurutnya, apabila kita hendak mengadakan aktivitas tertentu di Baksil, sebaiknya kita lapor dulu pada GMBI. Saya sendiri belum mengecek di mana persisnya letak pos GMBI. Dari sini, mereka akan melaporkan pada atasan mereka tersebut. Namun jika kita hanya sekadar ingin jalan-jalan, rekreasi, dan semacamnya, silahkan saja. Pelaporan adalah supaya antar pengunjung dan penjaga Baksil bisa saling tahu sehingga hal-hal tak diinginkan bisa dihindari. PT EGI ingin anak-anakan pohon yang sudah ditanam di Baksil terpelihara dengan baik sehingga Baksil tidak makin rusak. Lalu bagaimana dengan “para penghuni” Baksil? “…suka kucing-kucingan…” tanggap Pak Tatang.

Ketika saya menyinggung isu rencana pembangunan rumah makan di Baksil oleh pemerintah kota dan PT EGI, Pak Tatang mengatakan bahwa hal tersebut entah jadi diwujudkan apa tidak. Menurutnya, yang hendak dibangun adalah rumah makan saja di tapak bekas rumah makan yang lama. Namun hingga kini pengkajian mengenai pohon mana yang mesti dilindungi dan mana yang boleh ditebang yang tumbuh di sana masih dilakukan.

Tidak dipungkiri bahwa ada pihak-pihak yang menentang rencana tersebut. Meski banyak yang menganggap “majikan”nya rewel, Pak Tatang mengaku tidak pernah diomeli sang majikan. Ia hanya menjalankan tugasnya yaitu merawat tanaman di Baksil dan ia menyukainya. Ia sendiri berharap supaya Bandung tidak semakin gundul dan kawasan hijau yang ada di Bandung bisa lestari.

Yang ia tidak suka adalah ketika ada orang-orang yang menggunakan Baksil secara tidak semestinya, seperti bermesum-mesuman, mabuk-mabukan, apalagi buang limbah sepelemparannya. Banyak pengunjung yang suka membuang sampah dari jembatan sehingga bagian bawah jembatan pun dicemari sampah. Adapun sampah tersebut, menurut Pak Tatang, adalah wewenang Dinas Kebersihan untuk membereskannya.

Salah satu titik persebaran sampah

Botol arak yang terdampar di lapangan adu domba

Volume suara Pak Tatang yang rendah bikin saya harus menjaga jarak supaya telinga saya bisa menangkap perkataannya. Sempat ada pikiran, jangan-jangan ia tidak ingin pembicaraan ini terdengar orang lain. Namun bagaimanapun, apa yang Bapak sampaikan ini menarik, Pak, jadi saya sampaikan lagi apa adanya di blog saya ya, Pak, hehehe.

Ketika saya membuka kedok saya sebagai mahasiswi di Fakultas Kehutanan, ia malah merendah dengan mengakui bahwa ia lulus SMP pun tidak. Namun itu malah bikin saya malu karena pengetahuan saya tentang tetumbuhan jelas amat minim jika dibandingkan dengan pengetahuannya.

Sayang sekali saya tidak membawa perekam untuk mendokumentasikan transfer wawasan yang berharga ini. Bagaimanapun ini momen tak direncanakan.

Saya pun undur diri dari hadapannya karena kawan-kawan sudah meninggalkan kami sejak puluhan menit lalu. Jika kami bersua lagi, ia bilang ia akan memberikan nomor ponselnya sehingga saya bisa menghubunginya ketika saya memerlukan. Dengan terbuka, ia bersedia untuk menemani sembari memperkenalkan ragam tumbuhan di Baksil pada saya apabila lain kali saya menginginkan demikian. Begitupun kamu yang membaca. Cari saja pria bernama Pak Tatang. Dengan rendah hati, ia akan membagikan pengetahuannya yang bermanfaat asalkan kita tak bermaksud tak senonoh di Baksil.

Penutup

Selepas dari Pak Tatang, saya menuju Mitra Art Space (selanjutnya MAS) untuk menyusul Rizkita dan Eva. Saat saya mampir, mereka tengah berbincang dengan seorang pria tambun berkumis. Mereka lupa tanya siapa namanya, mereka hanya tahu kalau pria tersebut adalah pengelola tempat tersebut.

Menurut Eva, sedari mula pria itu menceritakan pengalaman dan pandangannya. Salah satunya, banyak yang memesan lukisan kaligrafi kepadanya untuk menangkal makhluk kasat mata di rumah. Masih banyak muslim yang memercayai hal-hal mistis rupanya. Yang bikin takjub, lukisan kaligrafi yang berdiri di seberang kami dibuat oleh seorang nonmuslim.

Siapa saja yang mau belajar melukis secara cuma-cuma, silahkan datang ke MAS kapanpun. Namun yang mengajari bisa tidak pasti alias ganti-ganti. Umumnya, yang datang untuk belajar sekali atau beberapa kali, kemudian tidak datang lagi. Umumnya pula, orang lebih memilih belajar di Sanggar Olah Seni (SOS) kendati konon tidak gratis. SOS yang terletak di samping MAS menempati lahan lebih luas, menghimpun lebih banyak seniman, serta aktif dalam menanggapi isu rencana pembangunan Baksil sejak tahun 2002 hingga belakangan ini—sementara MAS nyaris tak teridentifikasi dalam pemberitaan perkara ini di media.

Sayang sekali, saya tidak sempat mengorek informasi mengenai MAS terhadap isu tersebut karena ayam di saku celana pria itu keburu berkokok. Sementara ia menjawab panggilan, kami pun undur diri.

Kami sempat menghampiri tapak bekas rumah makan namun tidak berlama-lama di sana. Lokasi tersebut menguar bau tak sedap. Ini adalah sisi hutan yang lain dari Baksil, sama tak terawatnya.

Tapak bekas Rumah Makan Babakan Siliwangi

Bagaimanapun, hari ini telah menjadi momen yang mengasyikkan bagi kami. Menjelajah “alam” (baca: alam buatan di tengah hingar bingar kota di akhir minggu) hingga berbagi dengan orang-orang baru adalah hal-hal yang patut kami syukuri. Namun tak akan lekang pula dari ingatan akan hal-hal yang patut disesali. Ruang terbuka hijau kami ternyata layak huni dan itu menjadikannya belum sungguh layak dikunjungi. Lalu kita apakan ini hati nurani?***

Sabtu, 10 Maret 2012

Ngubek Baksil: SERU(!) (Bagian 1)


Terwujud juga keinginan saya untuk menjelajah bagian dalam Baksil (baca: Babakan Siliwangi) pada Sabtu (10/04/12). Saya jadi lebih memahami arti keberadaan sebuah hutan yang sebagiannya dikepung bangunan ITB ini. 

Hutan ini sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai lokasi outbond bagi anak-anak SD. Sekadar tracking saja sudah seru, apalagi sambil mengenali jenis-jenis tumbuhan yang ada. Topografinya beragam, landai hingga curam, sebagaimana pengertian dari penamaannya. Dalam bahasa Sunda, “babakan” berarti lembah. Tegakannya tidak begitu rapat sehingga menyediakan beberapa ruang terbuka namun tetap ternaungi tajuk. Ditambah banyak jalur setapak nan mengundang untuk ditelusuri, aneka jenis dan warna tetumbuhan, mata air, arena adu domba yang bisa dijadikan arena mengaso, dan lain-lain… tempat ini menurut saya benar-benar asyik!

Arena devide et impera. Di sini para raja kita diadu Belanda.

Ada banyak akses untuk merambah Baksil. Dari Jalan Taman Sari, kita bisa melalui gerbang yang langsung menuju Sabuga, pagar yang bolong, jembatan dekat tempat penyimpanan sepeda, gerbang yang langsung menuju Saroga, maupun dari dalam Saroga itu sendiri! Akses yang terakhir tepatnya melalui belakang kantin Saroga, dekat terowongan menuju kompleks kampus ITB. Ada lembah di belakang kantin tersebut—itu Baksil! Kita naiki saja jalan setapak atau lembah kecil berumput yang relatif landai itu dan sampailah kita pada zona yang patut dijelajahi :D. Saya bertanya-tanya apakah ada mahasiswa ITB yang suka melakukannya. Kalau saya mahasiswa ITB, ini adalah tempat yang akan cukup sering saya kunjungi di sela perkuliahan yang padat untuk melepas penat.

Anak ITB, main ke atas sini yuk...

Sungguh Baksil merupakan oase di tengah bising kota, meski kita tidak bisa sama sekali menafikan kehadiran berbagai aktivitas manusia di sekitarnya. Meski tidak renggang amat, jarak antar pohon memungkinkan kita untuk melihat lalu lalang kendaraan di jalan di atas lembah. Sudah begitu, arena adu domba rupanya titik yang amat memadai untuk mengintip aktivitas di kolam renang di bawahnya, apalagi kalau pakai binokuler. Padahal dari kolam renang saya hanya bisa lihat “rimbun”nya hutan saja, tanpa menyadari bahwa ke”rimbun”an itu masih memungkinkan siapapun di dalamnya untuk menyaksikan saya berbaju renang. Bukan panorama indah sih. Tapi secara saya pernah tahu ada bule pakai bikini di kolam renang itu… ya… lumayan juga…

Ternyata selama ini aku bisa diintip dari sini... 

Kami juga menemukan banyak anakan pohon dengan label berlogo P*rt*m*n*, plus Dinas Pemakaman dan Pertamanan, yang bisa ditemukan pula di TPU Pandu dekat Pasteur. Menurut Pak Tatang, perawat tanaman di Baksil, penanaman anak-anakan pohon ini dilakukan beberapa bulan lalu oleh anak-anak. Pemeliharaan tanaman di Baksil kemudian diserahkan pada PT EGI.

Salah satu contoh label yang ternyata ada di mana-mana...

Pada salah satu ruang terbuka, ada beberapa tumpuk gelondong kayu yang mengingatkan saya pada perencekan yang biasa dilakukan masyarakat desa-hutan ataupun penimbunan kayu ala Perhutani. Saya belum mencari tahu tumpukan gelondongan kayu ini untuk dimanfaatkan suatu pihak menjadi sesuatu atau sekadar perapihan dari aktivitas pemeliharaan hutan ini.

Mending ini dimanfaatkan jadi apa ya? (#polapikiranakkehutanan)

Meski penjelajahan saya, Rizkita, dan Eva dari sekitar menjelang jam sembilan hingga menjelang jam sebelas itu cukup meriakan dan bikin keringatan, namun ada beberapa hal yang sangat kami sayangkan dari Baksil nan wow ini.

Saat kami menyusuri jembatan, ada dua titik tempat sampah yang tidak enak dilihat karena titik di sini berarti titik ceceran sampah. Jembatan pun tampak kusam. Mengingat cerita tentang pondasi jembatan yang mulai rawan karena dibikin hanya dalam waktu singkat sebagaimana Sangkuriang bikin danau untuk Dayang Sumbi, mendengar suara “gretek, gretek” saat melangkah di jembatan jadi sensasi tersendiri.

Ngeunah teu ningalina? (baca: enak enggak liatnya?)

Ceceran sampah tidak hanya ditemukan di jembatan, tapi juga di beberapa titik di kawasan di bawahnya. Bahkan ada satu tempat di mana kata “tercecer” jadi semakin tidak tepat untuk digunakan. Ukuran benda-benda yang dianggap sampah itu lebih besar, lebih banyak, dan sepertinya memang sengaja ditaruh di sana. Entahlah.

Mata air merupakan titik yang paling saya incar dalam penjelajahan ini. Syahdan, bertemulah kami dengan dua titik mata air yang terletak berseberangan antar satu sama lain. Keunikan di lokasi tersebut adalah adanya pancang-pancang dengan pesan lingkungan yang konon pembuatannya diselenggarakan oleh Sanggar Olah Seni (SOS). Mereka bertebaran di sekeliling mata air.

Salah satu titik mata air. Arti tulisan di papan: "jangan buang sampah di sini dong."

Namun tidak hanya itu yang kami temukan, melainkan pula seorang wanita berusia lanjut yang hanya mengenakan bra dan rok dalam. Ia sedang mencuci pakaian. Sumber air yang ia gunakan memancar melalui pipa kecil yang kemudian ditampung dalam bak persegi panjang. Air dalam bak tersebut jernih sedang air yang telah digunakan melimpas ke sebuah kolam dan tampak kekuningan. Kami sempat bertukar cakap dengan wanita itu. Ia mengaku berasal dari Kebumen, bekerja di sebuah badan negara atau apa, sedang suaminya sudah meninggal… saya tidak menangkapnya dengan jelas. Berhubung Rizkita dan Eva sudah ingin meninggalkan tempat tersebut, sedang saya sendiri risi berbincang dalam situasi seperti ini, kami pun pamit. Sebetulnya saya ingin memotret sumber air tersebut secara keseluruhan, tapi tidak etis kalau saya membiarkan wanita itu dalam keadaan demikian masuk dalam jepretan saya.

Jadi kami kembali ke lokasi tersebut setelah berkeliaran hingga ujung hutan, dan, pemandangan yang kami temui di sana lebih bikin kaget lagi. Kami buru-buru balik kanan begitu penglihatan kami menangkap sosok pria muda sedang jongkok di tepi kolam dalam keadaan bugil. Buset dah.

Akhirnya bisa kepotret juga setelah tiga kali melewati tempat ini. Berasa sumber airnya lagi didemo yak.

Penjelajahan kami kiranya menimbulkan ketidaknyamanan antara kami sebagai pengunjung dengan orang-orang yang kami tengarai sebagai penghuni kawasan tersebut, maupun dengan orang-orang yang hendak melakukan perbuatan yang kami tidak ingin ketahui.

Saat kami memasuki arena adu domba, ada sepasang pria-wanita duduk di pojok salah satu bangunan untuk penonton. Tak lama di situ, mereka pergi.

Ada jemuran dan gerobak menutup ruang di bawah bangunan tersebut. Mulanya kami lihat seorang pria tua, lalu seorang pria muda, lalu seorang wanita muda, lalu seorang berjilbab merah yang kami tengarai sebagai wanita pencuci pakaian di sumber air tadi. Ketika kami berada di sekitar sana, maupun sekadar lewat, yang tua melongok-longok ke arah kami sedang yang muda cuek saja.

Perhatikan: ada secuil jemuran dalam foto ini

Ini mengingatkan saya pada beberapa berita mengenai Baksil mulai tahun 2008. Aparat pemerintah kota memang pernah melakukan pembersihan semak dan sampah sekaligus penertiban gubuk liar di kawasan ini. Jadi saya kira dulu ada lebih banyak orang seperti mereka menempati lebih banyak gubuk di Baksil. Di taman kota-taman kota lain di Kota Bandung, pemandangan semacam ini juga umum ditemui. Enak ya mereka, tinggal bersinggungan dengan alam. J

Sewaktu Baksil baru diresmikan sebagai Hutan Kota Dunia oleh UNEP PBB, di dekat tempat penyimpanan sepeda (fungsi lain: tempat pantat mendarat) ada tulisan “.bdg” biru besar (#apanamanyayainstalasikah?). Tapi sudah berbulan-bulan ini entah ke mana rimbanya ia, mungkin bersama orang yang telah beri alamat palsu pada Ayu Ting Ting. 


...selanjutnya adalah pertemuan saya dengan seorang perawat tanaman Baksil, mangga juga ditengok pengalaman saya dengan Baksil sebelumnya di sini dan di sini :)

Senin, 23 Januari 2012

Rebut Ruang(publik)mu!

Setelah kejadian tak terduga, yang bikin Nur harus “mengusir” Haryo secara halus dan saya jadi gaul secara tak sengaja, jadi juga kami melaju ke Common Room Minggu petang itu, 22 Januari 2012. Selain Nur, Rizka dan Rizkita juga menyerta. Kami adalah yang tersisa dari gerombolan anak belakang angkatan enam sebuah SMP di Kota Bandung.

Tak ada satupun dari kami yang sudah pernah ke Common Room. Setelah memarkir motor di tempat yang lebih benar di depan tempat gaul tersebut, kami bersua rombongan dari ST INTEN yang berjumlah tiga orang—satu cowok dua cewek. Siapa sangka maksud kami sama! Karena pada sungkan, akhirnya saya jadi yang terdepan. Pemuda dari ST INTEN yang jalan di belakang saya bilang kalau dia ke sini mau beli ayam.

Kami melewati kumpulan pria berpakaian dominan hitam sebelum kami benar-benar memasuki bangunan yang menyerupai rumah tersebut. Ada semacam ruang pamer yang kami lalui pula sebelum kami benar=benar berjumpa keramaian. Tentu saja acara sudah dimulai! Nur dan Rizkita masih saja menyimpan sungkan, sedang saya dan Rizka sudi tersedot animo.

Setelah galau beberapa saat yang diakhiri dengan registrasi melalui laptop, Nur dan Rizkita malah cari tempat solat. Saya dan Rizka ikut anjuran untuk duduk di atas rerumputan yang tertimpa block. Tiga muda/i dari ST INTEN mengekor.

Tak afdol kalau disuguhi materi menarik namun tak mengikatnya dalam catatan. Tapi yang saya bawa hanya jaket Nur dan penampilan, ponsel pun tidak! Alhamdulillah Rizka bawa pulpen, tapi tidak sesuatu yang pantas ditulisi. Untung Nur menyimpan bungkus bekas permen karet di kantong jaketnya.

Jadi daripada tidak ada foto saat kejadian untuk mewarnai tulisan ini, saya sajikan saja apa yang menarik saya lantas menarik teman-teman untuk datang ke mari. Gambar ini saya peroleh dari dinding komunitas Aleut di Facebook.


Pembicara pertama berasal dari Keukeun. Dengan tajuk “the spice of space”, kami kira Keukeun ini semacam komunitas yang kegiatannya masak-masak di ruang publik. Karena kami telat, sayang sekali kami tidak mendapatkan materi dari awal. Ketika kami datang, pembicara sedang menerangkan jenis ruang publik yaitu ruang publik terbuka dan ruang publik tertutup. Karena saat itu kami masih mengondisikan diri, maka kami kurang menyerap materi.  

Setelah penjelasan mengenai ruang publik, pembicara menceritakan bagaimana Keukeun memanfaatkan ruang publik yang ada untuk acara komunitas tersebut. Acara yang dihelat entah kapan itu, maklum saat itu konsentrasi belum penuh, tidak hanya melibatkan Keukeun sebagai penyelenggara, melainkan juga warga Cikapundung, pemerintah kota, dan Museum Konferensi Asia Afrika.

Selama lima bulan, Keukeun melakukan pendekatan dengan pihak-pihak lain, terutama warga Cikapundung. Bagi warga, sering ada acara di wilayah mereka namun mereka sendiri kurang menikmati acara tersebut karena tidak diajak. Nah Keukeun ingin menarik partisipasi sebesar mungkin dalam acara yang bakal memindahkan dapur keluar rumah ini.

Acara yang terwujud kemudian tidak sekadar masak-masak di Jalan Cikapundung, tapi juga ada pertunjukan musik dan lain-lain. Menonton video dokumentasi acara tersebut bikin kami penasaran untuk ikut mencicip makanan yang diproses di ruang terbuka.

Ada sebuah kunci yang pembicara berikan:

good ideas x well documented x networking
powerful epidemic

Keukeun berencana untuk bikin acara lagi Februari mendatang. :D

Setelah pembicara pertama undur diri, kami disuguhi sebuah video dari TED. TED sendiri adalah penyelenggara acara ini. TED adalah singkatan dari Technology Entertainment (and) Design. Sebetulnya, selengkapnya adalah TEDX. X di atas berarti independently apa begitu… he he… intinya sih EO yang secara independen menyelenggarakan acara-acara TED.

inilah High Line...!
Video menampilkan seorang pembicara yang menceritakan sebuah rel kereta api mati, dikenal sebagai High Line, di New York. Pemerintah berencana untuk menyingkirkan rel yang telah ditumbuhi rerumputan liar tersebut, namun sang pembicara dengan temannya memiliki gagasan lain.

Mereka merancang agar rel tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik. Jadi rel tersebut akan dibikin jadi semacam jalan layang—bukan untuk kendaraan melainkan agar masyarakat bisa berjalan-jalan! Tumbuhan akan mengisi bagian tengah jalan yang dikeliling gedung-gedung tersebut. Bagian tepi diisi dengan bangku-bangku sehingga para pengunjung bisa duduk dan bercengkerama, selebihnya dihiasi tanaman pula. Kerangka billboard ditaruh di sisi luar jalan bukan untuk memajang iklan melainkan membingkai para pengunjung yang berada di baliknya.

Setelah video mengenai gagasan nan menakjubkan itu, seorang pembicara yang konon “tamu misterius” tampil di depan kami. Dia adalah Gadis, siswi kelas dua SMAN 19 Bandung, yang sudah aktif berkomunitas sejak kelas tiga SMP. Dia merupakan salah satu penggagas Hayu Ulin di Baksil! (HUB).

Baksil alias Babakan Siliwangi adalah hutan kota di dekat ITB yang pernah hendak dibangun jadi kondominium dan macam-macam, namun kelompok-kelompok masyarakat gigih mempertahankannya sebagai ruang terbuka hijau.

Apa yang dia sampaikan berhubungan dengan video TED sebelumnya. Bermula dari kesukaan bersepeda di Baksil, ditambah maraknya isu pembangunan Baksil, Gadis dan teman-temannya membuat video mengenai aktivitas bersepeda di Baksil. Setelah diunggah di media sosial, video ini rupanya menarik penontonnya untuk bersepeda juga di Baksil.

Namun tentu saja aktivitas yang bisa dilakukan di Baksil bukan hanya bersepeda. Gagasan ini mewujud jadi gerakan HUB. Sejumlah komunitas telah beraktivitas di sini. Tanpa komunitas pun, kita sebetulnya bisa meramaikan Baksil dengan mengajak teman-teman nongkrong di jembatannya. Jembatan yang dirancang mahasiswa Teknik Arsitektur UGM ini membelah hutan tersebut sehingga memberikan kesan Baksil sebagai hutan yang terbuka.

suhuf yang terkumpul selama acara... (catatan materi)
Ada sebuah kutipan milik ketua Walhi dalam presentasi Gadis, “Satu-satunya cara mempertahankan Baksil adalah dengan meramaikannya.”

Setelah mensosialisasikan HUB melalui berbagai media, keinginan Gadis cs selanjutnya adalah membuat buku kecil mengenai panduan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di Baksil. Baksil bisa kok jadi tempat main yang asyik! Baksil juga bisa jadi tempat belajar yang menyenangkan. Ada beberapa spesies menarik di Baksil, seperti pohon cokelat dan pohon yang bagiannya bisa dimanfaatkan jadi minuman cola. Jika pembangunan benar-benar terjadi, sayang sekali kalau spesies-spesies tersebut harus menyingkir…

Setelah Gadis, kami disajikan kembali video dari TED. Pembicara dalam video itu menyajikan lagi video yang membantunya menerangkan bagaimana membuat suatu “gerakan”.

Dalam video yang berlatar sebuah ruang terbuka dengan rerumputan dan orang-orang yang sedang leyeh-leyeh di atasnya, seseorang mendadak berdiri lalu berjoget. Satu-dua orang mengikuti. Beberapa orang menyusul. Dalam waktu singkat, jumlah orang yang berjoget jadi semakin banyak dan terus bertambah. Bagaimana tidak, kalau kamu tidak ikut, kamu mungkin akan diolok-olok karena tidak menjadi bagian dari sesuatu yang wow. Sesuatu itu mulanya berbeda, namun ketika banyak orang melakukannya, maka mereka yang tidak ikutlah yang berbalik menempati posisi “beda”.

Menurut sang pembicara, sebenarnya yang berperan penting dalam suatu gerakan adalah pengikut pertama. Dialah yang mengubah orang sinting jadi pemimpin. Dia yang bikin orang lain jadi lebih tertarik untuk mengikuti juga.

Pembicara dari Aleut pun ditampilkan. Dengan materi bertajuk “Apresiasi Kota untuk Mencintai Tempat Tinggal Kita”, pembicara menjelaskan apa itu Aleut dan kegiatan apa saja yang dilakukannya. Komunitas ini berupaya mencintai kota dengan jalan-jalan. Yeah. Tentu tak sekadar jalan-jalan. Sambil jalan-jalan, ada saja cerita yang dibagi mengenai apapun yang ada di sekitar mereka. Cerita itu bisa berupa sejarah sebuah bangunan, informasi sebatang pohon, pembangunan sebuah saluran, dan lain-lain. Apresiasi menghasilkan penghargaan dan penghargaan membuahkan cinta.

Aleut sendiri konon berasal dari kata dalam bahasa Sunda, “ngaleut”, yang artinya jalan-jalan. Komunitas ini mengadakan kegiatan setiap Minggu. Siapapun bisa gabung. Menurut Rizka, yang pernah ikut acara Aleut saat SMA—kakaknya pun pernah aktif di komunitas ini, biasanya anak-anak Aleut kumpul di Jalan Sumur Bandung. Waktu, biaya, dan rute atau lokasi jalan-jalan sudah ditentukan sejak hari sebelumnya.

Kalau belum jadi anggota tapi ingin ikut kegiatan Aleut, minta saja jadi teman Aleut di Facebook lalu pantau dindingnya menjelang Minggu untuk mengetahui agenda terdekat. Itulah yang dilakukan Reza, pemuda dari ST INTEN. Saya juga tahu acara di Common Room ini pas iseng buka dinding Aleut. Sepanjang acara, sedikit-sedikit Reza jadi teman bercanda saya dan Rizka.

Sebelum penyerahan kaktus pada para pembicara, acara diakhiri dengan pembagian goodie bag dan sosialisasi dari Taman Foto Bandung. Komunitas ini terbilang baru tapi sudah ramai peminat. Misinya adalah untuk pemanfaatan ruang publik juga, terutama taman. Ada enam ratusan taman di Kota Bandung, meski yang berukuran besar dan layak jadi tempat jalan-jalan mungkin hanya belasan. Nah, intervensi yang dilakukan TFD adalah melalui fotografi.

Sekitar jam lima, setelah acara benar-benar dibubarkan, anak-anak Aleut kumpul di depan Common Room untuk koordinasi. Jumlah mereka kiranya separuh dari jumlah peserta acara sebelumnya. Malam itu, mereka hendak ke Pecinan. Mereka berencana kumpul di Jalan Sumur Bandung dulu pada jam tujuh lalu berangkat ke tujuan jam delapan. Sambil pegang kaktus ke mana-mana, pembicara dari Aleut menyambut dengan sangat terbuka kami yang ingin gabung.

Semula, saya dan tiga sekawan ingin ikut jalan-jalan bareng Aleut. Namun malamnya acara dan tanggungan Nur untuk memeriksa hasil ujian praktikum bikin kami urung. Jadi kami pamit pada Reza dan kawan-kawan. Semula Nur dan Rizkita yang mengajak mereka berkenalan, baru saya dan Rizka mengikuti dan mengetahui bahwa bocah yang tadi asyik sama kami ternyata bernama Reza. Dan mahasiswa angkatan 2010 itu pun melepas kepergian kami dengan tatapan kehilangan wa ha ha…

Nur dan Rizkita, plus pembonceng masing-masing, pun kembali ke masjid UNPAD karena Rizka hendak solat. Saat Nur dan Rizkita sedang berlalu, saya dan Rizka membahas acara barusan.

Menurut Rizka, acara ini jadinya sekadar promosi komunitas-komunitas. Bagi saya hal ini bukan masalah dan merasa kata “sosialisasi” lebih tepat ketimbang “promosi”. Namun kami menyadari bahwa kiranya kebanyakan peserta berasal dari komunitas-komunitas yang dipaparkan tadi—sebagian mungkin panitia.

Sosialisasi memang layak dilakukan pada sebanyak-banyaknya orang. Namun, kiranya lagi, akan lebih baik apabila sosialisasi dilakukan pada orang-orang non komunitas ketimbang pada orang-orang yang sudah berkomunitas. Bisa dimaklumi mengapa yang hadir adalah orang-orang dari komunitas itu juga, toh publikasi ditaruh di media komunitas tersebut. Bukan karena penyelenggara tidak perhatian sama orang-orang non komunitas juga kan, mereka toh sudah mempublikasikan acara ini di media-media yang tersedia dan tidak menghalangi siapapun untuk menghadirinya. Masalahnya, jika arti komunitas itu begitu penting, bagaimana cara menarik orang-orang non komunitas agar mau berkomunitas?

Siapapun berhak memanfaatkan ruang publik. Ruang publik bukan sekadar milik komunitas. Ruang publik juga milik pejalan kaki yang lagi galau dan kesepian, pun individu-individu yang sekadar lagi cari inspirasi. Namun seperti yang dikatakan pembicara dalam salah satu video, ruang publik memungkinkan kita saling bergandengan tangan di tengah hiruk-pikuk kota besar. Barangkali aktivitas di ruang publik berpotensi untuk meminimalisir fenomena renggangnya kohesi sosial— keterasingan—antar warga perkotaan? 

Jumat, 20 Januari 2012

(...just another story of a city-explorer)

Kali ini penjelajahan saya diwarnai oleh Juhe. Dia adalah teman sekelas saya di SMA. Dia orang penting di BEM UNPAD dan belum termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsinya.

Semula rencana rute kami adalah Museum Geologi – Museum Pos – Taman Lansia – Masjid Istiqamah – Timbel Istiqamah – Perpustakaan Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung. Mari ikuti kebersamaan kami dan ketahuilah bahwa ada perubahan pada rencana tersebut, yeah!

Dikenali mang angkot

Saya dan Juhe janjian ketemu di sekitar Gedung Sate (di mana di sekitarnya terdapat tiga tujuan pertama kami) pukul sembilan. Karena Juhe ketinggalan bis, pun saya telat bangun, maka kami baru bersua sekitar pukul sepuluh seperempat.

tampak belakang mang angkot
Angkot pertama yang saya naiki dari dekat rumah adalah jurusan 01. Ada yang ngetem di seberang jalan, saya masuki saja. Belum ada seorang penumpang pun. Begitu saya duduk, mang angkot bertanya pada saya. Yang saya dengar secara jelas hanya kata “sekolah”. Saya menyanggah. Saya bilang saya mau jalan-jalan. Saya mau ke Jalan Supratman.

Setelah menyebut “Jalan Pahlawan”, saya ngeh kalau rupanya mang angkot ingat saya sering naik angkotnya saat saya masih SMP. Letak SMP saya kan di Jalan Pahlawan. “Meni masih inget atuh Mang, kan udah bertahun-tahun lalu,” kata saya.

“Ya iya, da sering liat.”

Hebat nian mang angkot ini. Namun setelah kami mengarungi Jembatan Kiaracondong, saya disuruh pindah ke angkot lain.

Demo Hizbut Tahrir

Saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot jurusan 09. Angkot ini berwarna cokelat dan bolak-balik Caheum – Ciwastra. Sopirnya seorang tambun putih sipit berambut lurus panjang. Begitu hendak memasuki Jalan Diponegoro, di depan Pusdai nan ramai pedagang Jumatan, angkot memutar. Setelah mendekati Gedung Sate, barulah saya tahu kalau halaman Gedung Sate tengah ramai. Dari kejauhan, saya sudah bisa mendengar ada yang berkoar, “…penguasa itu laknat!” atau kalimat lain semacam itu.

Saya langsung menyeberang jalan. Gedung Sate berseberangan dengan Gasibu. Gasibu adalah sebuah lapangan bundar besar yang biasa digunakan untuk berolahraga maupun berjualan. Biasanya Gasibu ramai pedagang saat ada event atau tiap Minggu pagi—semacam Sunday Morning di Jogja.

Para pedagang asongan, maupun orang-orang yang tak terlihat bak pedagang asongan tapi sama penasaran, duduk di tangga Gasibu. Mereka mengamati demonstrasi dari sana. Saya bergabung dengan mereka sejenak.

gedung sate. satu tusuk harganya 6 juta gulden.
Demonstrasi yang bagus menurut saya. Bukan karena isi orasinya, melainkan lebih karena ketertibannya. Polisi berjaga di kedua sisi barisan demonstran. Perempuan dan laki-laki berbaris rapi dalam dua kubu yang dipisahkan sebuah mobil pick up. Di mobil pick up itulah berdiri pria-pria berpakaian rapi. Merekalah sumber keramaian. Setelah munculnya seorang ustadz di tengah mereka, saya meninggalkan mereka. Kasihan lihat anak-anak diajak ikut demo, bukannya saat itu masih jam sekolah...

Area misterius

Tadinya saya mau mengelilingi Gasibu sekaligus bernostalgia. Waktu SD, beberapa kali guru Olahraga saya mengajak murid-muridnya ke mari. Namun area di sebelah kiri Gasibu, dari arah Gedung Sate, lebih menarik perhatian saya.

tidak jelas apa ini fungsinya
Area milik pemprov Jabar itu luasnya sekitar 1,8 atau 1,9 ha.  Sekelilingnya dipagari. Bagian tengahnya berupa danau yang dari kejauhan berwarna hijau. Tepi danau berupa lahan terbuka berisi tanah, rumput, gerombolan pohon di satu sudut, tumpukan ban di sudut lain, sampah, bangunan kecil tak jelas, dan manusia. Ada sepasang manusia yang sepertinya sedang memancing, seorang manusia yang jelas-jelas sedang mandi dan kiranya tak berpakaian sehelai pun, serta manusia-manusia lain yang tak jelas sedang ngapain. Area ini adalah sebuah misteri yang patut disyukuri karena belum tertutup bangunan.

Yang menakjubkan, setelah dicermati, solokan di pinggir area ini berisi banyak ikan kecil berwarna hitan. Konon mereka dinamai inpun.

Museum Geologi

Saya bertemu Juhe di tepat di tengah pelataran Gasibu. Beberapa minggu lalu, lengan kirinya Juhe dioperasi karena kista ganglion (benar cara menuliskannya?). Karena masih menyebabkan bengkak, Juhe menggantung lengannya.

Diiringi musik kolosal dari arah gelombang massa, kami pun menuju Museum Geologi. Bangunan tersebut berada tidak tepat di seberang Taman Lansia, tapi tepat di Jalan Diponegoro yang diteduhi pepohonan rindang di sepanjang dua ruas jalan. Setelah kami susuri sampai ujung, tidak ada satupun gerbang yang terbuka. Pintu museum pun tertutup. Kami kembali ke gerbang yang ada penjaganya. Kami berselisih jalan dengan rombongan Hizbut Tahrir yang sudah kelar dengan aksi mereka. 

Seorang penjaga tengah mengamati arus demonstran tersebut. Bertanyalah kami padanya sehingga kami mengetahui bahwa kami bisa menjumpai rangka dinosaurus di dalam museum tiap hari, kecuali hari di mana ada Jumatan. Senin hingga Kamis, museum dibuka pukul 8 – 16, sedang untuk Sabtu dan Minggu adalah pukul 8 – 14.

Museum Pos

Sepulang sekolah saat kelas 4 SD, saya dan teman suka mengunjungi Taman Lansia meski hanya bagian luarnya. Saat itu ada seorang mas-mas berambut lurus panjang yang berjualan perangko dalam kios. Sejak tempat jualan pindah ke mobil, saya tidak pernah beli perangko lagi untuk koleksi karena memang sudah tidak minat.

selamat datang dan selamat keluar!
Museum Pos terletak di samping kantor pos. Keduanya satu kompleks dengan Gedung Sate. Masih, saat dunia saya sedang dekat dengan benda-benda pos, saya rajin mengunjungi Museum Pos sepulang sekolah. Mulanya, teman-teman saya ke sana dan pulang mendapat notes. Saya juga ingin. Tapi tiap kali ke sana, saya tidak mendapatkan apa-apa. Ini adalah sebuah pelajaran.

Sekarang, yang bisa kita ambil dari museum ini adalah berbagai macam brosur atau leaflet—semacam itu, foto (asal bawa kamera), dan pelajaran bagi mereka yang berpikir.

salah satu deretan koleksi perangko
Museum ini berisi berbagai benda pos. Sebut saja, berbagai varian bis surat, atau penampung bentuk kiriman lainnya, berdasarkan zaman dan kegunaan. Pusaka zadul berupa mesin hitung, mesin ketik, alat timbang, alat cap, hingga perkembangan mode pakaian pengantar pos jelas tersedia. Ada pula deretan panjang beberapa tipe lemari untuk memamerkan koleksi perangko dari berbagai negara dan berbagai seri. O tentu ini referensi berharga bagi para kolektor.

Pada mulanya, biaya pos dikenakan pada penerima kiriman. Suatu kali seorang gadis tidak mau membayar biaya pengiriman surat dari kekasihnya dengan alasan tidak punya uang. Rupanya tanpa membuka surat, gadis tersebut sudah bisa mengetahui isi surat melalu kode-kode yang hanya bisa dipahami ia dan kekasihnya. Dinas pos pun merugi. Adalah Sir Rowland Hill yang mencetuskan gagasan mengenai perangko.

Proses pembuatan perangko melibatkan pelukis yang mula-mula menciptkan desain perangko dalam ukuran besar. Desain tersebut kemudian dimasukkan dalam mesin dan dicetak. Haha. Maklum, gambar-gambar yang menunjukkan proses pembuatan perangko sudah buram, tidak dilengkapi keterangan, bahkan nomor urut gambar sekalipun!

Selain itu, ada pula koleksi yang tidak diberi keterangan sama sekali. Pengunjung jadi tidak mengetahui apa fungsi benda-benda yang dipajang ini. Beberapa aktivitas pos, seperti serah terima kiriman, diperagakan oleh patung-patung dengan wig yang bikin muka mengernyit.

Pos pernah sangat berjaya. Pos adalah komunikasi tercanggih pada suatu masa. Saking vitalnya peran komunikasi, sekian nyawa melayang demi pembangunan Jalan Pos Raya dari Anyer sampai Panarukan. Kendaraan pos bukan hanya sepeda onthel, tapi juga kereta, speedboat, bahkan kapal khusus untuk keperluan tersebut.

the story of mas soeharto

Museum ini pun pernah sangat terkenal. Ada beberapa rak yang khusus untuk memuat kenang-kenangan dari berbagai sekolah yang pernah berkunjung ke mari. Tegal, Cirebon, Yog yakarta… semua pernah mampir dan diamati siswa-siswi dari berbagai daerah tersebut dengan tak sabar karena ingin cepat-cepat belanja ke Cihampelas.

Memaklumi pos sebagai salah satu mata rantai perkembangan komunikasi, memaklumi pula jika bentuk komunikasi ini kini tergerus oleh bentuk-bentuk lain yang lebih wew. Mungkin beberapa puluh tahun lagi akan berdiri pula Museum Facebook atau Museum Twitter. Tapi apa yang mau dimuseumkan ya? Kan semua ada dalam komputer… Oh ya, museum on line tentu saja. Cukup jemari saja yang jalan-jalan di atas kibor. Bulu-bulu hidung pun tak usah siaga menyambut debu.

Museum Pos menggunakan sistem satu pintu. Artinya, pengunjung masuk dan keluar dari pintu yang sama.

Taman Lansia

berisi dan bergizi. sizi.
Sudah pukul sebelas waktu itu. Saya sarapan hanya beberapa lembar roti. Kami sepakat makan nasi tim ayam SIZI. Saya belum pernah menemukan tenda hijau dengan tulisan yang memiliki font khas “SIZI” di kota lain jadi saya kira SIZI khas Bandung. Saya sudah mengonsumsinya sejak SD.

Nasi tim ayam ini berupa setangkup nasi dengan suir-suir cokelat ayam plus seiris telur di puncaknya. Dilengkapi semangkok kecil kuah bening berhiaskan serpihan seledri, nasi ini disajikan dalam wadah khusus. Harganya 9K rupiah. Dengan jeruk hangat seharga 5K rupiah, terasa pentingnya membawa botol minum sendiri dari rumah.

Diskusi intens saya dengan Juhe dimulai sambil makan. Hal seperti ini sejatinya menakjubkan karena melebarkan cakrawala, apalagi dengan orang seperti Juhe.

mana kotaknya?
Dan Taman Lansia adalah tempat yang bagus, sebetulnya, untuk melanjutkan diskusi. Menurut Perda Kota Bandung no. 25 tahun 2009 tentang Hutan Kota, taman ini tergolong hutan kota.Hampir seluruh permukaan taman tertutupi rimbunnya tajun. Bagian tengah taman dibelah kali berwarna putih, hijau pucat, dan sampah. Fasilitas yang tersedia di sini antara lain toilet, bangku, dan tempat sampah yang tidak selalu mudah ditemukan. Beberapa titik hamparan rumput mengundang pula untuk diduduki. Dan taman ini begitu kondusif bagi para pria yang bolos Jumatan.

kata juhe, kalau ada angin benda ini terbang
Sayangnya, kenyamanan taman ini terusik dengan kehadiran orang-orang yang mencurigakan. Memang belum tentu orang tersebut akan mengapa-apakan kita, namun penampakkannya membuat kita kadung waspada. Semoga kamu paham maksud saya.

Saya pun pernah kena. Suatu kali saya duduk sendiri. Saya merasakan seorang pria duduk di tanah di belakang saya. Lalu dia bicara mengenai fakir miskin yang tak kunjung disantuni, padahal sedang Ramadhan, dan ujungnya dia mengatakan Nabi Muhammad itu pembohong. Saya kabur.

Perpustakaan Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung

Informasi mengenai perpustakaan paguyuban ini saya dapatkan ketika saya sedang menambah bahan dari internet. Di sini konon ada sebuah laporan mengenai Babakan Siliwangi dari segi politik dan kebudayaan yang dihasilkan oleh Sanggar Olah Seni. Perpustakaan ini satu kompleks dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat yang terletak di Jalan R. E. Martadinata a.k.a. Jalan Riau, nomornya 209.

ini perpustakaannyaa...
Tidak sesuai dengan bayangan saya, perpustakaan yang dimaksud adalah ruangan berukuran sekitar 3 x 3 m atau lebih, pokoknya kotak, dalam bangunan art deco. Apa ya art deco itu? Mas penjaga ruangan ini yang bilang begitu. Dia berkulit terang, berbadan tinggi besar, dan menjawab “assalamualaikum” ketika menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.

Saya bilang saya mau cari laporan penelitian tentang Babakan Siliwangi. Selama dia mencari, saya dan Juhe melihat-lihat apapun yang bisa dilihat-lihat di sekitar kami. Dia tidak berhasil menemukannya. Sepertinya buku tersebut masih dipinjam. Dia malah menawarkan untuk mencatat nomor saya sehingga dia bisa memberitahu saya kalau buku tersebut sudah kembali. Sayangnya itu tak terjadi.

Saya tanya kalau-kalau ada pustaka lain tentang Baksil. Saya sebutkan juga Haryoto Kunto. Dia pun memberi saya setumpuk buku. Selain judul yang sudah saya sebut dan Wajah Bandung Tempo Doeloe, Haryoto Kunto juga menulis buku-buku lain tentang Bandung sehingga dia dijuluki kuncennya Bandung. Buku-buku Haryoto Kunto yang diberikan pada saya adalah buku mengenai Preanger (nama hotel di Jalan Tamblong, Bandung) dan bangunan-bangunan pemerintahan di Kota Bandung.

Dia menemani kami sebentar sebelum kembali ke pekerjaannya semula di komputer. Ramah lo. Sayangnya, dia kenal kami sebagai mahasiswa mana, mengapa lengan Juhe digantung begitu, dan rencana skripsi saya, tapi kami nihil informasi tentangnya. Saya sesalkan kami tidak tukaran nama, jadi dengan terpaksa di sini saya menyebutnya dengan Mas Okedeh.

Soal informasi tentang Baksil, saya mendapatkannya sedikit dari Album Bandoeng Tempo Doeloe buah karya Sudarsono Katam dan Lulus Abadi (NAVAPRESS Indonesia, Bandung, 2005). Foto terkait Baksil yang saya temukan di Semerbak Bunga di Bandung Raya buah karya Haryoto Kunto (PT Granesia, Bandung, 1986) saya temukan juga di buku bersampul hitam tersebut. Ada sepucuk villa putih di atas hamparan lembah bernama Lebak Gede—yang berarti Lembah Besar. Villa tersebut milik seorang Tionghoa pedagang beras pada tahun 1930-an. Villa bergaya art deco tersebut bernama Villa Mei Ling dan pernah beberapa kali digunakan Belanda saat kedatangan Jepang. Villa ini baru tertutup pepohonan cemara tahun 1970-an. Sebelumnya kita bisa melihatnya dengan leluasa dari kejauhan. Sekarang villa tersebut jadi Dinas Psikologi Angkatan Darat (kalau tak salah) dan terletak di tepi Jalan Ir. H. Juanda.

Dalam pengembangannya kemudian, Lembah Gede dipadati bangunan komersil dan menyisakan sepetak hutan kota yang ternyata baru ada setelah tahun 90-an. Jadi begini kronologinya.

1920-an : Belum ada satu bangunan pun
1930-an : Persawahan
1940-an : Muncul perumahan penduduk di barat
1970-an : Muncul kompleks seni dan budaya dan restoran di utara
1990-an : Mulai tertutup bangunan, terutama kompleks SABUGA dan SAROGA, lalu siapa yang menanam hutan kota? Apakah merupakan bagian dari pembangunan kompleks tersebut?

Mas Okedeh menyarankan saya ke DPKLTS. Anak-anak WALHI suka kumpul di sana. Ada perpustakaan juga. Barangkali saya bisa mendapat data sekaligus bertemu langsung pelakunya.

Sementara saya mencatat informasi tentang Baksil, dari pengarang buku yang sama—Sudarsono Katam—Juhe membaca buku tebal yang mengulas sejarah Bandung berdasarkan perangko. Judul buku itu saya lupa secara persis, saya hanya ingat kata “filatelis”. Secara kami baru dari Museum Pos dan membicarakan filateli sebelumnya, rasanya jadi sesuatu.

Setelah Mas Okedeh selesai dengan pekerjaannya, dia bergabung kembali dengan kami. Kami membicarakan pembangunan di Kota Bandung yang kerap mengingkari kebijakan yang sudah ada.

Pukul dua siang, saya dan Juhe undur diri. O tentu saja kami boleh ke mari lagi. Kamu juga. Perpustakaan ini bisa disambangi Senin – Sabtu. Senin – Jumat pukul 9 – 16 sedang Sabtu pukul 10 – 15. Wow kok beda sama informasi di internet ya. Peminjaman pustaka bisa dilakukan asal kamu anggota.

musola di kompleks ini lega beud!
Tiap Sabtu pukul sepuluh pagi, Heritage berkumpul dalam ruangan ini. Mas Okedeh mengajak kami, barangkali kami mau gabung. Mereka sedang mengerjakan pemetaan Kota Bandung, tepatnya: menyesuaikan tata ruang sekarang dengan tata ruang buatan Belanda. Tata ruang buatan Belanda sebenarnya sudah bagus sekali tapi begitulah. Tampaknya masih kurang pusat perbelanjaan di kota ini.

Tiap bulan pula ada forum terkait. Malam ini pukul tujuh di Braga Permai, forum membicarakan tentang penemuan bangunan megalithikum di Gunung Padang, Cianjur.

Cizz

versi alay dari cheese
Cizz adalah sebuah kafe mungil yang menjual cheesecake dan kawan-kawannya. Letaknya dekat dengan kantor Perhutani yang jualan madu dan ekowisata serta jasa lingkungan lainnya. Kami jalan kaki ke sana dari kompleks Disparbud.

Biarpun mungil, kafe ini tidak pernah kosong dari pembeli. Setidaknya begitulah selama saya dan Juhe di dalam sana dan sekitarnya. Menurut Juhe, yang lebih berpengalaman dengan kafe ini, kafe ini sudah ramai sejak buka. Cabangnya ada di mana-mana meski saya tahunya hanya di jalan ini saja.

Awalnya saya tidak mau beli. Ketika saya mencicipi cheesecake rasa jeruk punya Juhe, saya jadi kian tergoda untuk mencoba pengalaman baru. Akhirnya saya minta diambilkan Chocolate Mousse pada yang berwenang. Kudapan saya termasuk yang termurah, hanya 14K rupiah. Rata-rata harga cheesecake di sini adalah 17K rupiah.

dasar penggoda!
Sesuap, dua suap, pahitnya cokelat, tekstur nan lembut, kudapan ini luar biasa. Suapan-suapan berikutnya, saya eneg. Porsi ini terlalu banyak meski besarnya hanya satu cup!

Keluar dari Cizz, kami menunggu DAMRI. Dapat yang AC. 5K rupiah sampai Jatinangor. Saya hanya sampai perempatan Jalan Pelajar Pejuang jadi kondektur mengembalikan uang Juhe sebesar 2K rupiah.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain