Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Agustus 2019

Menghabiskan Siang di Indahnya UI (yang Lagi Relatif Sepi)

Dua hari lalu, pada sekitar jam yang sama dengan sewaktu saya mulai menulis ini, saya menemui seorang teman. Sudah dua tahun kami tidak berjumpa. Dia menunggu saya di area lobi perpustakaan Universitas Indonesia, tempat meja-meja yang masing-masingnya dilengkapi dua kursi dan di atasnya terdapat rak kecil berisi aneka majalah.

Pertemuan kami bisa dibilang mendadak, baru ditentukan pada hari itu juga. Pagi itu saya diajak ayah saya mengantar adik saya ke kampusnya--UI. Kami berangkat sekitar pukul delapan pagi. Belum jauh dari rumah, ayah saya mengingatkan saya pada teman saya yang mahasiswi UI. Dua tahun lalu, ketika adik saya baru menjadi mahasiswa, saya ikut mengantar juga sekalian bertemu dengan teman saya itu. Saya pun segera menghubungi dia lewat e-mail. Alhamdulillah dia cepat membalas dan memang hari itu dia hendak ke kampusnya, seperti biasa. Kami pun lanjut berhubungan lewat WA.

Saat itu baru memasuki zuhur sekaligus waktu makan siang ketika kami tiba di UI. Saya diturunkan di pinggir jalan menuju perpustakaan, sementara adik saya dan ayah saya lanjut ke Fakultas Teknik. Dua tahun lalu, saya dan teman saya itu juga bertemu di perpustakaan, tapi hanya di pelatarannya dan kami enggak masuk ke bangunan. Kali ini, saya masuk dan terkesima biarpun sudah sedari dua tahun lalu saya tahu bahwa bangunan itu dari luar lebih menyerupai mal dengan kafe-kafe.

Gambar sebelah luar Perpustakaan Pusat UI 
dari artikel "4 Fasilitas di Perpusat UI Ini Bikin 
Melewati kafe-kafe (atau semacamnya) barulah saya melihat bahwa bangunan ini benar-benar perpustakaan, khususnya dengan ruangan sangat luas berisi banyak barisan komputer yang mengingatkan saya pada ruangan yang sering saya masuki dulu--sewaktu mengerjakan skripsi di perpustakaan pusat UGM. Setelah itu, ada banyak sofa hitam mengitari dinding yang meliuk-liuk--sangat menggoda untuk diduduki ataupun ditiduri.

Saya pun menemukan teman saya. Saya menanyai dia apakah mau makan siang. Dia bilang harus makan siang karena penyakit mag dia sudah kambuh. Ups. Saya enggak tahu apa-apa soal tempat makan di UI, selain kantin asrama yang menyajikan banyak pilihan makanan sekaligus banyak pula kucing buta-kurus-enggak-terawat (tapi itu dua tahun lalu, mudah-mudahan sekarang keadaan kucing-kucing di sana telah baik). Jadi saya bilang pada teman saya itu, "Asal affordable. Maksimal dua puluh ribuan lah."

Maka si teman membawa saya ke kantin Fasilkom atau Fakultas Ilmu Komputer. Dia mendekati gerobak yang menyediakan menu sate dan sop. Saya melihat daftar harga dan takjub: delapan tusuk sate ayam (atau bahasa Jepangnya "yakitori with peanut sauce") plus nasi sama dengan sepuluh ribu! Saya mau itu. Kami mengantre di dekat gerobak. Setelah menyerahkan uang, si penjual mengerjakan pesanan. Lalu kita mencari meja sembari membawa makanan pilihan kita.

Gambar lapak sate di Fasilkom UI
dari artikel "Seperti Apa 
Rasanya Menjadi Mahasiswa 
Fasilkom UI?"
Memang ukuran satenya agak lebih kecil daripada yang biasa kami beli di dekat rumah. Tapi, delapan tusuk itu sangat cukup untuk memadamkan lapar. Demikian pula porsi nasinya, yang bisa ditambahi kuah tanpa harus menambah rupiah. Di samping itu, ada bonus berupa semut-semut kecil berkeliaran di tepi piring, yang dapat menjadi sedikit asupan protein(?!?!).

Sementara teman saya mulai makan, saya masih berkeliaran. Saya hendak mencari minuman botol, supaya bisa dibawa ke mana-mana. Tapi rupanya yang menjual minuman botol sedang tidak ada--kulkasnya digembok. Saya mencari sampai ke Yoshinoya. Tapi melihat harga sebotol teh luar biasa mahalnya, saya pun urung. Akhirnya saya pesan segelas es sirup markisa seharga lima ribu.

Setelah makan, kami salat zuhur di masjid. Yang paling saya soroti dari masjid ini adalah toiletnya yang bersih dan dilengkapi dengan sabun batang.

Dari masjid, teman saya mengajak jalan kaki ke hutan. Oh, ini yang saya idam-idamkan sejak pertemuan kami dua tahun lalu!

Kami pun melewati fakultas demi fakultas. Teman saya sempat menunjukkan shelter sepeda dan skuter yang untuk meminjamnya harus mengunduh aplikasi dulu. Ah, merepotkan! Bagaimana kalau kapasitas HP sudah penuh, tidak ada kuota/wifi, atau baterainya lagi sekarat/mati? Lebih praktis kalau tinggal meninggalkan kartu identitas, seperti di UGM--paling enggak seperti itulah pada tahun-tahun terakhir saya di sana, 2012-2013. Betapa irinya melihat para mahasiswa/i mengendarai skuter!

Gambar Jembatan TekSas UI dari Mapio.
Toh kami terus melangkahkan kaki. Setiba di Fakultas Ilmu Budaya, kami melalui jembatan untuk menyeberang ke Fakultas Teknik. Di bawahnya ada danau yang cukup lebar. Namanya Danau Mahoni. Pemandangannya sangat indah--so Instagramable!

Di Fakultas Teknik, saya menemukan mobil keluarga diparkir. Saya sempat duduk dan menghubungi ayah saya, hingga teman saya mengingatkan bahwa sebenarnya kami sedang dalam perjalanan ke hutan. Oh, iya. Lagi pula ternyata ayah saya dan adik saya tengah berada di asrama dan baru akan kembali ke fakultas pukul setengah empat sore. Saya dan teman saya pun melanjutkan perjalanan.

Sudah lama saya tidak memasuki hutan. Rasanya kangen. Hutan kampus ini agaknya dibiarkan tumbuh alami. Keseluruhan jalan di dalamnya dilapisi oleh serasah cokelat terang--begitu indah, foto-able--apalagi di area yang cukup terbuka. Ada juga serasah berupa daun-daun hitam, terutama di bagian dalam yang dirindangi tajuk, namun tidak semasif yang cokelat terang. Sesekali ditemukan daun yang cukup parah dimakan ulat--sepertinya.

Sangat tidur-siang-able sekali, bukan?
Sampailah kami di suatu area terbuka, hamparan luas rumput yang agak kering. Terdapat huruf-huruf besar bertulisan: UNIVERSITAS INDONESIA. Di hadapannya ada pulau-pulau tanaman hijau yang membentuk logo universitas. Di seberangnya ada danau. Di atasnya ada jalan raya.

Begitu memasuki area ini, seketika saya ingin merebahkan diri--tidur siang. Apalagi hampir tidak ada orang di sekitar. Kalaupun ada, paling-paling tiga orang laki-laki jauh di seberang danau. Saya pun rebah berbantalkan tas di bawah tajuk lebar, sementara teman saya mencari objek bagus untuk dipotret.

Setelah cukup puas merasakan kedamaian di sekitar waktu asar ini, di tengah alam buatan, baru saya menjelajah. Tempat ini, di samping sangat mendukung untuk tidur siang, juga pas untuk bikin video India-indiaan atau sekadar lari-lari diiringi "Edilizia" Rino de Filippi.


Memasuki waktu asar, kami pun angkat kaki, melewati rute yang sama seperti sebelumnya untuk keluar dari hutan.

Gambar kantin FIB UI dari Deskgram.
Si teman membawa saya ke kantin FIB untuk membeli air minum. Setelah duduk-duduk sembari minum dan mengamat-amati kantin baru yang serupa food court di mal ini, yang mengakibatkan kenaikan harga makanan sebesar 2.000-5.000 rupiah (dengan area makan khusus untuk dosen dan pegawai TU yang menuai protes mahasiswa), kami salat di musala yang ukurannya pas juga kalau dibilang sebagai masjid. Selain itu, di atas area wudu atau cuci tangan disediakan banyak sekali sabun--baik sabun batang maupun sabun cair--seakan-akan satu sabun untuk satu keran. Sudah begitu, ada mesin cucinya pula! Apa boleh mahasiswa menumpang cuci baju di sini? Sepertinya mesin cuci tersebut diperuntukkan bagi pengurus musala. Toiletnya sudah pasti bersih.

Sepanjang perjalanan ini, sesekali kami berpapasan dengan mahasiswa/i yang mengobrol dalam bahasa Korea, juga bule berambut pirang. Enggak heran apabila penampilan salah satu kampus terbaik di Indonesia ini sungguh mentereng: mall-alike, bersih, hijau, tapi masih mengakomodasi mahasiswa missqueen (ingat "yakitori with peanut sauce and rice" seharga ceban plus biaya tinggal di asrama yang sepertinya jauh lebih murah daripada di kos). Semakin menarik ketika teman saya yang mahasiswi sini melengkapinya dengan bumbu berupa isu-isu internal yang berseliweran di balik semua itu ....



Terima kasih kepada Papa yang sudah mengajak.
Terima kasih kepada Adik yang sudah menyetir Bandung-Depok-Bandung.
Terima kasih kepada Teman yang sudah menjadi guide yang baik. (Kunjungi IG dia di @ccpostcard.)
So happy~

Jumat, 22 Februari 2019

Bukit Candi Ketika Sepi

Saya pertama kali diajak ke Bukit Candi ketika sedang ramai-ramainya, yaitu pada Minggu pagi. Sejak turun dari angkot di Alun-alun, banyak orang menyertai kami dengan pakaian olahraga menyusuri jalan menanjak. Tanjakannya tidak curam amat, tetapi cukup bikin terengah-engah bagi yang tidak terbiasa berolahraga. 

Mendekati puncak, keadaan penuh sesak oleh pengunjung dan pedagang. Suasananya kurang lebih seperti Gasibu atau Tegallega pada waktu yang sama.

Di puncak ada lapangan besar dengan dua gawang dari bambu serta area-area gundul lain sebagai spot untuk menikmati pemandangan serupa lukisan di bawahnya. Di sisinya terdapat bukit kecil yang dinamakan Bukit Candi, disebabkan oleh bentuknya yang berundak-undak menyerupai candi.

Pada kesempatan pertama itu, kami tidak sempat naik ke bukit. Banyaknya orang membikin saya tidak berselera untuk berlama-lama ke mana-mana. Kami cuma jajan tahu crispy lalu menyingkir ke area yang sebetulnya tidak sepi amat. Namun di situ kami bisa duduk memakan jajanan sembari menikmati pemandangan kali yang membelah lautan sawah di bawah dan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap anak-anak SMP yang meletakkan sampah mereka begitu saja.

Sepulangnya dari situ, saya berangan-angan untuk suatu saat kembali mengunjungi Bukit Candi ketika sepi sekaligus turun mandi main air di kali seperti bidadari.

Kesempatan itu datang baru-baru ini.

Pada Kamis (22/2/2019) sekitar pukul tujuh pagi kami berangkat. Tidak jauh dari jalan masuk di seberang Alun-alun, kami terhambat oleh pusaran motor. Pengendara datang dari empat penjuru mata angin. Memang di perempatan itu tidak ada lampu lalu lintas dan agak ke atas terdapat beberapa sekolah. Parkir motor untuk siswa SMAN 1 Cicalengka--salah satu sekolah tersebut--sampai memakan beberapa pelataran rumah warga sekitar.

Lepas dari pusaran kemacetan, perjalanan mulai tenang namun bukannya tanpa kegetiran. (#alah) Kami menyaksikan pembangunan di kanan-kiri jalan yang mengkhawatirkan, di antaranya karena tidak kunjung selesai atau lahan yang teramat curam. Banyak juga ditemui titik-titik pembuangan sampah yang mengeluarkan bau sengit.

Segala permasalahan umat manusia tersebut tergusah begitu kami mendekati puncak. Pemandangan kota dari ketinggian memang biasanya menakjubkan. Dari sisi pembatas jalan kami bisa melihat jalan kereta, karena kebetulan sedang ada kereta yang melintas, meliuk-liuk seperti ulat berwarna perak. Padahal itu bukan ulat betulan, cuma ulat besi, kereta yang dari ketinggian tampak menyerupai ulat, tetapi tetap saja saya bergidik jijik. Biar begitu, seandainya saya fotografer dengan kamera canggih, tentu pemandangan kereta yang menyerupai ulat itu akan menjadi objek yang sangat menarik.

Sayang jalan keretanya tidak terlihat
dengan kamera ponsel android saya
yang tipe sangat-sederhana-sekali.
Teman saya yang warga Cicalengka sudah mewanti-wanti bahwa Bukit Candi ketika sepi menjadi ajang pemuda-pemuda setempat untuk indehoi. Tetapi, alhamdulillah, tampaknya pagi itu diberkahi bagi kami, sehingga kami tidak harus menyaksikan kemaksiatan di muka bumi. Saat kami datang, tidak ada orang lainnya di tempat itu. Dalam kesempatan begitu, it's a must untuk menaiki Bukit Candi sampai puncaknya.

Bukit Candi dilihat dari sisi jalan.
Akan tetapi, hujan semalam membuat tanah yang kami pijak menjadi lembap. Sol alas kaki kami menjadi tebal oleh tanah. Memang langkah menjadi agak berat, namun tanggung ah.

Selagi mengarungi lapangan lembap menuju bukit itulah kami mendapat adanya fenomena aneh berupa lingkaran besar di tanah. Lingkaran itu terlihat karena warnanya lebih gelap dibandingkan dengan tanah di sekitarnya. Teman saya bilang itu jejak kendaraan. Tetapi menurut saya itu tidak mungkin sebab kendaraan memiliki beban yang mestilah menimbulkan galur-galur, sementara yang ini rata saja dengan tanah di sekitarnya. Mungkinkah itu sebenarnya ...

... jejak alien?

*selipkan soundtrack The X-Files

Jalan setapak menaiki bukit tampak amat curam tanpa pijakan yang mantap. Kami melangkah dengan merayap menyerupai kera atau malah spiderman sebagai upaya berhati-hati. Sesekali kami meluapkan keraguan, kepanikan, berikut kegentaran, namun secara keseluruhan kami bergembira ria. Maksudnya, sambil tertawa-tawa (atau teriak-teriak).

Akhirnya kami tiba di puncak.

Sudah lama tidak bersinggungan langsung dengan alam liar, saya merasa kegirangan dan mengeksplorasi titik-titik tanpa tumbuhan yang hanya sedikit dibandingkan dengan area yang saking lebatnya oleh tumbuhan sampai-sampai tidak mungkin ditembus tanpa golok. Teman saya bilang dulunya, sekitar sepuluh tahun lalu, ketika terakhir kali ia mendaki ke puncak bukit itu, lahan yang lebat oleh tumbuhan liar itu berupa kebun. Tampaknya sekarang kebun itu telah lama ditelantarkan.

Sambil duduk di sebuah batu lebar, menikmati masing-masing sebutir jeruk entah keprok atau kino, dan menghadap sinar matahari pukul delapan pagi kurang, kami mengkhayalkan dibangunnya tangga yang aman dari bawah ke puncak, ditatanya lahan bekas kebun itu menjadi tempat yang Instagram-able dan seterusnya.

Di sini saya sempat ragu untuk mengambil foto atau menyimpan keindahan pemandangan yang terlihat untuk diri saya sendiri. Saya dan teman membuat pembenaran dengan membahas sedikit tentang "sampah fotografi", yang setelah membaca artikel bersangkutan secara utuh entah apakah memang ada hubungannya.

Meskipun begitu, sesungguhnya pemandangan dari puncak Bukit Candi tidak semuanya indah. Saya mendapati satu titik, di sisi lapangan di bawah, yang berupa jajaran sampah plastik sepanjang entah berapa meter. Walaupun dipikir-pikir lagi, sebetulnya itu indah juga karena berwarna-warni--tidak cuma cokelat dan hijau. Ibarat kata, ada sentuhan modernitas agar seluruh pemandangan ini tidak semata alami. Sebab yang berlebihan itu memuakkan. (#apacoba)

Dari puncak juga terlihat bahwa di lapangan ternyata tidak hanya terdapat satu lingkaran besar, tetapi ada juga dua lingkaran lain yang lebih kecil. Saya menunjukkan kepada teman saya bedanya lingkaran itu dengan galur-galur yang lebih mungkin merupakan jejak kendaraan. Ini menguatkan dugaan saya bahwa lingkaran-lingkaran itu sebenarnya ...

... jejak alien?

*putar lagi soundtrack The X-Files

Setelah "menanam" (baca: melempar ke semak-semak) biji jeruk berikut kulitnya, mengharapkannya agar tumbuh berbuah lebat memberi makan pengunjung dan menjadi amal jariah bagi kami, kami pun menyudahi aktvitas yang sangat menyehatkan itu dan menghadapi masalah berikutnya: mencari jalan turun. Kami menemukan jalan setapak yang kira-kira aman untuk dituruni, dan melaluinya sembari berjongkok. Rasanya memang seperti disetrap atau habis ditangkap polisi, namun kini kami mengerti sebabnya jalan bebek kerap digunakan sebagai hukuman: Ini semata soal survival.

Kami menghabiskan beberapa saat di teras masjid terdekat untuk mencungkili tanah dari sol alas kaki menggunakan ranting atau tongkat yang ditemukan di jalan.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke kali ...

... yang ternyata harus dengan menerobos kebun orang.

Yang dimaksud dengan menerobos ini bukan sekadar lewat di tepiannya, melainkan membelah di tengah-tengahnya, yang membuat kami ragu untuk meneruskan.

Lagi pula arus kalinya sedang deras dan sepertinya tidak aman untuk main air di sana. (#penghiburan)

Jadi kami hanya duduk-duduk di naungan beratapkan lembaran karung pupuk dan berbangkukan bilah-bilah bambu, kemudian turun sedikit dan menghabiskan waktu sejenak di area yang datar (sebelum terhambat oleh kebun orang itu) untuk menikmati pemandangan dan mengambil foto.

Di sini saya menyesal karena tidak mengambil foto sewaktu berada di puncak Bukit Candi. Baru terpikirkan oleh saya untuk memamerkan keindahan pemandangan ini pada teman-teman mengobrol di luar negeri 

(Sekaligus untuk menunjukkan kemungkinan jejak alien, tentunya.)

(*tet not tet not tet nooot ....)

Kali impian yang rupanya belum kondusif untuk dikunjungi.
Melihat jalur cahaya berasa mendengar koor dari langit.
Sumedang di sebelah mana, hayo?
Ini baru yang namanya refreshing! Bukannya menghabiskan seharian di perpustakaan daerah untuk membaca buku yang menjelimet--itu mah repressing.

Merasa cukup bersinggungan dengan alam luas, kami pun pulang dengan melanjutkan khayalan dibangunnya trotoar di sepanjang jalan dari dan ke Bukit Candi supaya kami sebagai pejalan kaki punya jalur yang layak untuk melangkah tanpa harus menghindari becek dan sampah, tanpa mesti sesekali diklakson kendaraan dari belakang.

Begitu sampai di rumah, kami tidak melakukan apa pun lagi sampai setelah zuhur selain menunaikan sunah rasul, yaitu tidur.

Untuk mencapai Bukit Candi langsung dari Kota Bandung (baca: tanpa menumpang lebih dahulu di rumah teman yang warga Cicalengka), kita bisa menaiki KRD jurusan Cicalengka dengan harga tiket untuk saat ini lima ribu rupiah. Dari Stasiun Cicalengka, kendaraan umum berikutnya adalah angkot hijau yang melewati Alun-alun dengan ongkos untuk saat ini dua ribu atau tiga ribu rupiah. Kemudian kita tinggal mengikuti jalan masuk di seberang Alun-alun sampai ke puncak, tanpa harus ripuh oleh belokan mana yang mesti diambil. Perjalanan dengan kaki ini tidak sampai satu jam, mungkin hanya sekitar setengah jam. Selamat refreshing yang sesungguhnya, wahai orang kota!

Selasa, 20 Mei 2014

Napak-tilas Basa Bandung Halimunan: Baca, Jalan, bari Diajar Nyunda!

Ide menarik kadang tercetus dari obrolan pada waktu senggang. Begitulah antara Kang Adew dan Nurul hingga muncul ide untuk menapaktilasi panineungan (:kenangan) H. Us Tiarsa R. dalam buku Basa Bandung Halimunan. Jadi membaca bukan sekadar membaca melainkan sembari mengalami langsung apa yang disuguhkan dalam bacaan. Datangi tempat-tempat yang dirujuk di dalam buku. Bandingkan apa yang tertulis di dalam buku dengan kenyataan yang kita lihat. Metode ini hampir serupa dengan yang dilakukan oleh Komunitas Aleut. Namun komunitas tersebut tidak secara spesifik menyebutnya sebagai “pembacaan”—atau istilah yang lazim kami pakai: “tadarusan”. Buku dipegang sebagai pendukung keterangan dari koordinator atau narasumber, dan jumlahnya bisa lebih dari satu. Adapun Kang Adew mengacu pada hanya satu buku yaitu Basa Bandung Halimunan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan H. Us Tiarsa R. mengenai keadaan Bandung sebagaimana diamatinya pada tahun ’50-’60-an. Tulisan-tulisan tersebut pendek saja, sekitar dua-tiga halaman, dan sebelumnya dimuat di sebuah media berbahasa sunda. Adapun “basa Bandung halimunan” sendiri berarti “sewaktu Bandung berkabut”. Sekarang pun Bandung masih berkabut—oleh polusi.

Kang Adew ini pegiat di Asia-Africa Reading Club (AARC), Museum Konperensi Asia Afrika, yang punya program tadarusan buku tokoh-tokoh Asia-Afrika setiap Rabu, pukul 16.30 – 20.00 WIB. Saya pertama kali mengikuti acara ini sewaktu buku yang ditadaruskan adalah Di Bawah Bendera Revolusi karya bapak proklamator kita, Soekarno. Setelah buku tersebut tamat, tadarusan dilanjutkan dengan buku Nelson Mandela, dan kini, Mochammad Hatta. Saya bukan pengikut setia AARC kendati setiap pulang dari acaranya saya merasa mendapat semacam semangat untuk mulai berpikir besar, berpikir global. Biasanya tadarusan dilakukan di salah satu ruangan di Museum. Mereka melakukan napak tilas juga, sesekali. Nah, konsep itu pula yang hendak diterapkan pada Basa Bandung Halimunan, namun kali ini napak tilas sudah pasti dilakukan karena isi buku tersebut memang menyerupai panduan perjalanan (ke masa lalu) dengan deskripsi tempat dan sebagainya—alih-alih pemikiran sebagaimana dalam tadarusan rutin AARC—dan tentunya semangat yang diusung berbeda yakni semangat untuk lebih mengenal kota yang kami tinggali sekalian belajar bahasa sunda—karena dalam bahasa tersebut buku itu ditulis. Konsep “tadarusan” berarti teks dalam buku itu dibacakan keras-keras oleh seseorang atau bergantian, lalu yang mengerti bahasa sunda akan mengartikan kata-kata tertentu sehingga yang tidak begitu mengerti bahasa tersebut (seperti saya) dapat memahami apa yang diceritakan. Harapannya, pembacaan napak-tilas ini dapat memantik teman-teman yang mengikutinya untuk menuangkan warna-warni kehidupan kota, realitasnya, menjadi sebentuk karya—karya apapun—seperti yang dicontohkan oleh para penyair, sastrawan

Potret iseng sewaktu Ukeba (pojok kiri)
tampil di IFI dalam rangka Record Shop
Festival (atau semacam itu), Sabtu, 19/4/14

Ide ini tadinya hendak mulai dilaksanakan pada 19/4/14, di sekitar Jalan Wastukencana—sebagaimana yang dirujuk dalam tulisan pertama buku tersebut. Namun karena pada waktu itu Kang Adew ternyata ada jadwal manggung di Institut Français Indonesia aka IFI bersama Komunitas Ukulele Bandung alias Ukeba, maka alih-alih melakukan pembacaan sambil jalan-jalan, kami malah menjadi groupies-nya Kang Adew, eh, Ukeba. Namun sebelum penampilan grupnya, Kang Adew menyempatkan diri untuk memberikan pengantar dan, sesudahnya, melakukan pembacaan bersama tulisan yang tadinya hendak dinapaktilasi itu. Ganjil memang rasanya, mengulas bacaan berbahasa sunda di teritorial Prancis....

Dua minggu kemudian pembacaan napak-tilas benar-benar dilaksanakan sebagaimana diinginkan. Mereka mulai dari tulisan berjudul “Setatsion”—Stasiun. Kumpul pada pukul 13, blusukan, sampai kira-kira pukul 16. Mereka sempat mampir ke UNISBA untuk mencari jejak kuburan Belanda alias kerkop—sundana mah. Sayang pada waktu itu saya tidak bisa ikut.

Dua minggu berikutnya, Sabtu, 18/5/14, akhirnya kesempatan itu datang pada saya. Kami berkumpul di Stasiun Bandung sebelah utara pada pukul 13 Waktu Indonesia Karet. Tulisan yang hendak dinapaktilasi berjudul “Numpak Kapal”, bisa diartikan menjadi “Menaiki Pesawat” karena “Kapal” yang dimaksud adalah “kapal terbang”—sebab keberadaan “kapal laut” di daerah yang tidak punya pantai seperti Bandung itu tidak lazim. Kami pun mencari tempat-tempat yang dirujuk dalam tulisan tersebut, di antaranya Jalan H. Iskat dan susukan Ciguriang.

Kami menduga Jalan H. Iskat terletak di seberang stasiun, namun karena ada banyak jalan di sana dan kami tidak pasti yang mana, kami asal saja memasuki salah satunya, lalu menanyakan pada orang yang lewat di mana lokasi itu persisnya. Seorang ibu-ibu berbaik hati menuntun kami menemukan jalan tersebut, sekalian beliau sendiri menuju rumahnya yang terletak di jalan lain. Kang Adew mengaku kami mencari jalan tersebut untuk menemui saudaranya.

Jalan H. Iskat kini telah menjadi pemukiman. Ada satu hotel yang terselip di antara rumah-rumah. Kami duduk di depan pagar salah satu rumah yang tampak asri. Pembacaan pun dimulai. Sembari mengartikan teks tersebut, Kang Adew menambahkan situasi yang melatarinya.

Pada tahun 1946, masa agresi pertama Belanda, warga Bandung memilih untuk membakar kotanya, tidak seperti warga Surabaya yang melawan agar tidak dijajah kembali. Pemuda Bandung pun dikatai pemuda peuyeum oleh pemuda Surabaya. Peuyeum kan lembek. Bagaimanapun,  strategi itu dipilih karena warga Bandung kekurangan senjata. Nah, kawasan stasiun alias Kebonkawung itu termasuk yang dibakar. Pada tahun 1949, penulis Basa Bandung Halimunan menengok kawasan tersebut dan mendapati bahwa Jalan H. Iskat yang dulunya bernama Gang Litsonlan itu masih berupa kebun yang luas. Bangkai kapal (ingat, yang terbang) dan mobil patihsolengkrah—berserakan, tertutup oleh alimusa, lameta, eurih—semak belukar. Pada permukaan tubuh kendaraan tersebut terdapat lubang-lubang bekas peluru. Agaknya kapal merupakan sisa perang, namun mobil yang ditemukan umumnya mobil sedan seperti Fiat, Buick, dan sebagainya. Anak-anak setempat menjadikannya mainan. Mereka mengaku-ngaku kendaraan-kendaraan itu seolah milik mereka. Yang mobil diakui sebagai milik perorangan, sedangkan yang kapal dipakai ramai-ramai. Ada yang berpura-pura menjadi pilot. Ada yang berpura-pura menjatuhkan bom. Ada yang berpura-pura menembakkan senjata. Bermain serdadu-serdaduan. Masing-masing menirukan bunyi entahkah pesawat, bom, atau senjata, sampai tutup telinga segala seolah kebisingan itu sungguh-sungguh terjadi. Boleh jadi imajinasi mereka memang tinggi. Bisa pula karena mereka mengalami sendiri bagaimana huru-hara perang. Kadang mereka bertemu sinyo yang bisa berbahasa sunda dan mengajak bermain, namun mereka malah malu-malu. Lagipula orangtua mereka menakut-nakuti kalau Belanda itu jahat, suka membunuh, dan sebagainya. Serakan bangkai tersebut kini jelaslah sudah dibersihkan, entah dibawa ke mana…

Jalan H. Iskat sekarang, tampak dari sebelah utara.
Dulunya kebun penuh bangkai kendaraan.

Kalapa cina, salah satu tumbuhan yang
menaungi balong
Nah, masih dalam kawasan tersebut terdapat susukan Ciguriang. Kang Adew menanyakan tempat tersebut kepada warga setempat yang lewat, mengaku sedang mengadakan penelitian. Dalam buku disebutkan bahwa dahulu para warga sok ngajengjehe alias jongkok sorrow di sekitar situ, tahulah sedang apa… Atap bangunan yang diduga berada dalam kompleks GOR Pajajaran sudah terlihat. Kami memasuki jalan kecil beberapa jauh di belakangnya, dan menemukan tempat yang secara menakjubkan kok masih ada di tengah perkotaan macam Bandung ini: balong!—yang diteduhi oleh pepohonan rindang di sekelilingnya, dan di seberangnya terdapat tanah kosong. Menurut buku, tempat semacam itu dihuni banyak ular. Jadi, hati-hati kalau bermain di sana!

Omong-omong soal ngajengjehe, kata ini hanya satu dari berbagai varian “jongkok” dalam bahasa sunda. Istilah lain yang dikenalkan dalam obrolan adalah cineten dan cingogo, dan mungkin ada lagi. Sayang, masing-masing tidak diperagakan dengan jelas. Selama ini saya hanya tahu cingogo, dan posisi jongkok—bagaimanapun variasinya—biasanya diasosiasikan dengan buang air. Selain “jongkok”, terdapat pula variasi untuk “jatuh”, seperti tikusruk, tisoledad, dan sebagainya, yang dalam bahasa Indonesia pun variasinya sebenarnya cukup banyak: “terjungkal”, “terjengkang”, “tersungkur”, “terjerembap”, dan lain-lain. Sungguhpun begitu agaknya bahasa daerah masih jauh lebih kaya, seperti dalam bahasa sunda. Variasi lain dalam bahasa sunda yang saya ketahui adalah untuk kata “liur”, bisa disebut dahdir, jigong, acay, hokcay. Saya pernah punya teman mengumpulkan kata-kata “jorok” dalam bahasa sunda, sebagaimana yang saya sudah sebut tadi, ditambah dengan kata-kata lain seperti leho (ingus), cileuh (belek), dan saya lupa apa lagi, dan mendengar kata-kata tersebut diucapkan saja sudah membuatnya tertawa-tawa seperti kuntilanak karena terasa lucu di telinganya.

Balong yang diduga sisa susukan Ciguriang

Mencegat warga setempat untuk mendapatkan keterangan

Ayam-ayam mengaso di sofa rongsok

Memeragakan posisi ngajengheng

Anyway, pembacaan dilanjutkan di tribune GOR Pajajaran. Kebetulan tulisan berikutnya, yang berjudul “Mandor Atma”, secara khusus bercerita mengenai tempat tersebut. Entahkah para pengunjung lainnya yang membersamai kami pada hari yang mulai redup itu tahu kalau mereka tengah menduduki bekas kerkop alias pekuburan… Biarpun begitu, pada masa lalu kerkop telah menjadi ruang publik tempat warga menghabiskan waktu senggang. Anak-anak bermain, mengambili pecahan marmer untuk dijadikan kelereng atau apa. Ada yang piknik. Ada yang pacaran, mungkin seperti dalam lagu lawas yang dinyanyikan oleh Rien Djamain, “Menanti di Bawah Pohon Kemboja”. Ada juga yang membaca, mungkin patut dicoba oleh pencinta buku. Pada tahun ’60-an, pekuburan itu dijadikan GOR. Sebagian penghuni dibawa pulang kampung oleh keturunannya, sebagian lagi dipindahkan ke Makam Pandu. Adapun Mandor Atma adalah nama kuncen penghuni bedeng di pekuburan tersebut. Pekerjaannya mengusiri orang-orang jahil.

Salah satu sisi GOR Pajajaran. Dulunya pekuburan.
Gedung di seberang adalah gedung KONI Jabar.

Kini kami termasuk orang-orang yang menghabiskan waktu senggang di pekuburan, walau bentuknya sudah berupa GOR. Mereka yang memiliki banyak waktu senggang terkesan menganggur, dan sedihnya itu menjadi stigma. Padahal, Kang Adew bilang, ide-ide besar ada kalanya lahir dari sekumpulan orang yang gemar duduk santai di warung kopi alih-alih dalam situasi formal. Nangkring produktif, istilahnya mungkin begitu. Salah satu upayanya adalah dengan melakukan pembacaan napak-tilas ini, mudah-mudahan. Nah, siapa mau ikut dalam kesempatan selanjutnya? Cung!

Senin, 08 April 2013

Menemani Orang Jogja Jalan-jalan di Bandung

Wilujeng sumping di Bandung,” kusalami Ncan. Dia sampai di Stasiun Kiaracondong sekitar ¾ jam lalu. Hujan deras yang turun sejak semalam baru reda sekitar jam enam pagi itu. Dia bertolak dari Jogja sekitar pukul tujuh malam dengan menggunakan kereta ekonomi AC Kahuripan—harga tiket Rp 100.000. Tidurnya tidak nyaman semalaman karena sandaran kursi yang begitu lurus.

“Udah liat itu?” Kutunjuk jembatan layang dengan latar kelabu di kejauhan. Aku sangat ingin Ncan melihat panorama tersebut, dan barangkali kekumuhan di bawahnya. Dia mau.

Maka Ncan terpukau menyaksikan hujan merembes dari jalan layang, hingga pasar, manusia, dan kendaraan yang berjejalan di sebidang jalan sempit. Aku membeli empat serabi oncom seharga masing-masing seribu, bonus satu. Sejak kami masih di Jogja aku sudah membicarakan serabi oncom yang kupikir penganan khas Bandung. Dia cuman makan satu.

Tidak banyak lagi yang bisa dilihat, tapi cukup banyak yang bisa aku ceritakan tentang Kiaracondong. Hampir tiap pagi selama tiga tahun aku melewati kawasan tersebut untuk menuju ke SMP yang berlokasi cukup jauh dari rumahku. Aku merekam dengan inderaku jembatan layang yang dari tiada menjadi ada. Sampah menumpuk hingga dasar jembatan, lalat besar bermata hijau mengerubunginya, dan jarakku yang duduk di dalam angkot dengan gunungan hama tersebut tidak sampai semeter.

Ketimbang menunggu angkot sembari berdiri di bawah rintik, kami lanjut berjalan ke utara. Ncan menangkap seekor kodok, yang juga bisa ditemukan di solokan samping Graha Sabha Pramana UGM. Kami mampir ke pom bensin terdekat, sehingga Ncan bisa mencuci tangannya yang bekas pegang kodok dengan air berkarat. Kami menembus kerumunan karyawati pabrik tekstil di bawah payung-payung mereka.

“Pagi-pagi tekanannya udah tinggi,” komentar Ncan. Aku mesem membayangkan suasana pagi di Jogja yang agaknya ayem saja.

Seperti aku lahir dan besar di Bandung, Ncan juga lahir dan besar di Jogja. Dia ke Bandung baru sekitar dua kali: saat SMP mengunjungi Sabuga serta Museum Geologi dan sekitarnya; saat Kuliah Lapangan beberapa tahun lalu mengunjungi sentra oleh-oleh yang seperti Malioboro tapi dia tidak ingat namanya. Denganku pada Sabtu nan berhujan itu, tiga bulan setelah usiaku 22 tahun atau dua bulan sebelum usianya 24 tahun, perjalanannya di Bandung kali ini memberikan kesan yang menurutnya seru ketimbang di kota-kota lain.

Dengan angkot Riung-Dago aku membawanya ke sekitar Monumen Pancasila. Bandung masih rintik dan kelabu. Dia pegang payung biru ukuran sedang berlogo UGM milikku, tidak ingin bajunya basah. Sesekali aku memegangkan payung untuknya, untuk DSLR miliknya, ketika dia ingin memotret. Kami menyusuri pulau demi pulau taman yang menghubungkan monumen dengan lapangan Gasibu, yang menurutnya mirip boulevard (di UGM). Dia melihat rongsokan besi yang ternyata bangku karatan. Dia ragu ada ikan di kolam bulat yang berair hijau itu, tapi kok banyak orang yang memancing. Dia senang berjalan di atas bebatuan kecil untuk pijat-pijat kaki. Dia pikir orang bakal celaka kalau lari-lari di lapangan Gasibu—lihat permukaan sirkuitnya yang pecah-pecah. Kami berbagi nasi tim ayam Sizi di pinggir Gedung Sate. Kami jalan-jalan sebentar di Taman Lansia di mana dia kecewa karena tidak menemukan kodok di habitat sepas itu. Dia tidak menemukan taman seperti Taman Lansia di Jogja, dan kutunjukkan bahwa taman itu juga rumah bagi gelandangan. Dia mengenang kunjungannya dahulu di Museum Geologi. Aku membelikannya kue cubit yang menurutnya enak tapi dia tidak makan banyak. Dia ingin menyingkirkan sampah yang dia lewati di jalan tapi tidak tahu ke mana, jalan tersebut sepertinya sudah merupakan tempat sampah besar. Dia duduk di depan pagar Monumen Pancasila dan tertegun ketika seorang cewek berdandan menarik melintas.

Baru sekitar tiga jam sejak aku menggiringnya menapaki jalanan Bandung. Dia sudah melihat kontradiksi antara penampilan orang Bandung yang menurutnya wah, dengan lingkungan sekitarnya yang berserakkan sampah. “Seperti yang hanya memedulikan penampilan sendiri, tapi cuek sama sekitarnya ya?” simpulku. Dia bandingkan dengan orang Jogja dan lingkungan di sana yang menurutnya selaras saja.

Kami melewati UNPAD di mana trotoar bukannya berada di sisi jalan melainkan diapit oleh deretan warung dan solokan, barangkali menakjubkan juga bagi Ncan. Kami melalui RS Borromeus yang kukatakan sebagai Panti Rapihnya Bandung. Kami singgah di Masjid Salman, yang kukatakan dirancang oleh pemilik radio KLCBS—Ardianya Bandung, di mana ia menemukan colokan. Aku mengajaknya ke Ijzerman Park (cmiiw) di mana ia menemukan kodok kemerahan di kolam, papan identifikasi burung di kawasan tersebut, dan tentu saja becek, gelandangan, dan sampah. Di bagian atas taman kutunjukkan plat yang memberikan informasi mengenai gunung-gunung yang mengitari Bandung di selatan.

Dia terkesan dengan bangunan ITB yang unik, yang kukatakan sebagai peninggalan Belanda dan rancangannya menyesuaikan beberapa bangunan adat di Indonesia. Hari itu bertepatan dengan wisuda sehingga kami bisa menyaksikan kehebohan mahasiswa ITB menyambut wisudawan/watinya dengan arak-arakan, dia tampak iri. Dia memotret Indonesia Tenggelam dan beberapa objek lain di tengah kampus. Di Tokema dia melihat-lihat suvenir khas ITB sementara aku menunggunya di luar sambil makan Sariroti isi cokelat dan menjaga DSLR. Kami menuju Saraga dengan melewati terowongan Sunken. Dia mengeluarkan Rp 15.000 untuk setengah jam renang di kolam standar olimpiade di lantai dua dengan panorama tajuk pepohonan di Babakan Siliwangi, sementara aku menungguinya di seberang musala sambil berusaha menulis. Setelah salat kami minum susu murni di gerbang Saraga, lalu dia melahap lumpia basah sementara aku coba memotret kucing bercorak unik dengan DSLR. Perjalanan dilanjutkan dengan aku mendongeng Babakan Siliwangi, namun sayang dia tidak tertarik untuk menjelajahi kawasan tersebut keseluruhan. Dia lebih tertarik pada variasi mural di dinding seng yang mengitari hutan mini itu.

Kami lanjut menyusuri Sabuga—dia mencicipi donat Polandia isi keju, BATAN, Pasar Seni dan Kebun Binatang, di tempat pembuangan sampah dia memotret manuk japati dan burung gereja yang mencari makan, kutunjukkan bagaimana pemukiman padat nan kumuh, hotel-mal-apartemen, dan hutan berdampingan dari tepi jalan tersebut, kami mengaso sebentar di dekat Bappeda sembari minum kelapa muda campur susu.

Dia tertarik dengan jembatan Pasopati, sementara aku takjub akan lapangan di bawah jembatan tersebut. Bagian bawah jembatan Pasopati juga berisi area parkir, area street soccer yang disponsori berbagai pihak, dan ornamen-ornamen yang tidak terbengkalai. Kami turun terus hingga mencapai taman yang terawat cukup baik, dan membatasi kami dari aliran deras Sungai Cikapundung yang mengingatkanku akan iklan susu Milo.

Tujuan selanjutnya adalah Taman Cikapayang dengan instalasi D, A, G, dan O besar, di mana orang-orang suka bermain skateboard di depannya, “di tempat sekotor ini?” tanggapannya mulai sinis. Beberapa saat kemudian dia malah geli karena melihat mbak-mbak cantik memasuki angkot. "Mau dandan mau lusuh, sama-sama naik angkot," komentarnya. Kami lalu menyeberang ke instalasi lain, lalu titik henti kami selanjutnya adalah Dukomsel, Dago Plaza, dan Gramedia, sebelum mencapai masjid di samping Balaikota untuk salat ashar.

Sepanjang hari itu hujan sesekali rintik sesekali mendung saja, dan jelang petang itu rintik lagi. Masih sekitar empat jam sebelum Kahuripan yang akan membawa Ncan kembali ke Jogja datang, tapi malam Minggu yang berpotensi macet bikin aku khawatir kalau kami menjelajahi Braga dan sekitarnya dulu tidak bakal keburu. Lagipula Ncan sepertinya sudah sangat capek.

Aku tidak tahu angkot mana dari sekitar Balaikota yang sekali jalan ke Kiaracondong. Jadi aku mengajak Ncan naik angkot St. Hall-Gedebage di dekat Bank Indonesia, untuk disambung dengan angkot Kalapa-Caheum di sekitar Jalan Martanegara. Dengan angkot St. Hall-Gedebage kami tetap bisa melewati objek menarik seperti bangunan tua ala Pecinan hingga Alun-alun—yang berkali-kali Ncan singgung seharian itu. Masih Ncan tertegun-tegun ketika melihat cewek-cewek berkulit, istilahnya, “transparan”, yang kukira istilah yang lebih lazim adalah “bening”. Dia heran kenapa kulitku tidak transparan seperti cewek-cewek di Bandung yang dia lihat. Hei, bukankah iklan pencerah kulit di TV sudah mengajarkan kalau yang terang memang yang lebih terlihat? Banyak juga kok cewek berkulit cokelat di Bandung. Setelah kutunjukkan Alun-alun beserta masjid agung, Ncan terkantuk-kantuk.

Kami makan nasi, “pecel” lele, dan kol goreng di warung tenda di Jalan Turangga yang sudah dekat rumahku sebetulnya, tapi aku tidak mungkin mengajaknya bertandang. Hujan deras kembali. Magrib lewat. Angkot Kalapa-Caheum pun kami naiki, yang selanjutnya bikin Ncan was-was sepanjang jalan. Berkali-kali sopir angkot yang berkacamata itu (sopirnya, bukan angkotnya) menginjak rem sampai bikin laju kendaraan tersentak-sentak. Jalanan gelap bergelimang air dan remang-remang cahaya. Kutunjukkan gemerlap kawasan Trans Studio, kali ini Ncan tidak lantas tertidur.

Bagian depan Stasiun Kiaracondong begitu ramai malam itu. Ncan mengajakku duduk dulu di bangku yang tersisa. Kami mengobrol ditimpali deras hujan. Lagipula penumpang Kahuripan belum diperbolehkan memasuki peron.

Sesekali suara keras seorang pria muncul seakan memberikan pengumuman, tapi tidak jelas. “Kenapa enggak pake speaker aja sih?” keluhku. “Tahu tuh, kotamu,” sahut Ncan. Aku pun geli. Sejak pagi aku menyarankan Ncan untuk menuliskan kesannya atas kota ini di kertas, lalu aku akan memasukkannya di KOTAK ASPIRASI di Balaikota—ketimbang jadi wadah debu saja. Padahal baru sedikit dari sekian titik di Kota Bandung yang kami susuri seharian itu, yang sepertinya sudah cukup membikin Ncan mensyukuri Jogjanya.

Sekitar pukul setengah delapan malam akhirnya penumpang Kahuripan diperbolehkan memasuki peron. Aku mengantarnya sampai ke meja pengecapan tiket. Sebelum berlalu dia menyalamiku. “Sampai ketemu di Jogja.”

Minggu, 24 Juni 2012

Belajar via Susur Cikapundung van Ngaleut


Cikapundung, Cikapundung, Cikapundung, walungan di Kota Bandung… demikian potongan lirik tembang Bungsu Bandung, “Alim Dicandung”, yang mempopulerkan sungai yang melintasi Jalan Asia-Afrika di Kota Bandung tersebut. Sepenggal wajah Cikapundung telah ditengok pada ngaleut (22/04/12). Pemukiman padat di Cihampelas maupun aktivitas perkotaan lain di sekitarnya mengepung aliran yang harusnya jadi poros kehidupan ini hingga keruh dengan titik sampah di sana-sini.

Minggu (24/06/12), para pegiat Aleut kembali melakukan penyusuran septic tank terpanjang di dunia tersebut dengan rute yang berlawanan dari arah ke Cihampelas, yaitu seberang Sabuga hingga Curug Dago. Medan yang ditempuh pun jauh lebih beragam, tidak sekadar gang-gang melainkan jalan setapak, pematang sawah, komplek perumahan, sampai sungai berbatu! Bisa dibilang ngaleut kali ini lebih menyerupai outbond tanpa pos-pos, game-game, dan kakak-kakak pemandu. Bagaimanapun kami didorong keadaan agar saling bantu demi kelancaran perjalanan. Sangat memberdayakan.

Titik pemberangkatan terletak di rumah seorang dedengkot Aleut di Jalan Sumur Bandung. Menjelang pukul sembilan pagi kami bertolak dari sana, menyusuri tepi Babakan Siliwangi, lalu menyeberang dan memasuki jalan setapak di tepi Sungai Cikapundung. Tetumbuhan di area ini cukup rimbun, hingga sesaat kami merasa tidak di kota.

Gang yang berkelak-kelok dengan rumah-rumah mungil di tepinya—laksana di kawasan Cihampelas—kembali kita temui kemudian. Jampi-jampi pun dirapalkan demi ketenteraman masyarakat di perjalanan: “punten…”

Pot hole. Entah mengapa dasarnya
berwarna kuning.
Sesekali kami berhenti karena adanya bebatuan dengan lubang yang khas, sebuah fenomena geologi. Namun ngaleut laksana rekreasi plus plus, bukan kuliah lapangan, sehingga informasi sahih mengenai ini barangkali bisa ditelusuri baik di internet maupun perpustakaan.

Kami juga melewati sebuah kampung bernama Manteos. Menurut Kang Ayan, seorang pentolan Aleut, Manteos berasal dari nama orang Belanda, “Mathius”, yang pernah memiliki tanah di kawasan tersebut.

Beginilah sempadan sungai yang
baik dan benar
Dengan Sungai Cikapundung sebagai pedoman, kami terbawa hingga ke pedalaman. Ciumbuleit, Dago Bengkok, apapun daerah yang sebenarnya mengitari kami, tidak terasa pasti. Lepas dari gang, alam kembali menghadang. Tidak liar benar, tapi cukup untuk mengasingkan kami dari hiruk-pikuk khas kota besar. Kolam-kolam pemancingan nan kering air, sempadan sungai yang ditumbuhi rumpun bambu dan pisang, petak-petak sawah yang dikira tinggal ada dalam kenangan masa kecil—“Ini masih Bandung loh,” sesekali ada yang mengingatkan seperti itu.

Saluran irigasi peninggalan
Belanda yang plakatnya sudah
hilang.
Selain Manteos, peninggalan Belanda lain yang kami temukan adalah saluran irigasi serta pintu air/waterwang Leuwilimus. Setiap bangunan peninggalan Belanda biasanya disertai plakat, namun kini plakat di atas saluran irigasi tidak ditemukan. “Padahal tahun lalu masih ada,” kata Kang Reza, koordinator Aleut.

Menurut keterangan para pegiat Aleut yang tahun lalu mengikuti ngaleut dengan tema serupa, perubahan telah banyak terjadi di sekitar Sungai Cikapundung. Rute yang kami lalui pun berbeda dengan rute yang telah dilalui sebelumnya, misal karena terhalang oleh bangunan yang tahun lalu belum ada. Kamipun harus mencari jalan lain supaya sampai ke tujuan. Sawah becek sekalipun harus diterjang, biarpun itu bikin kami berlepotan lumpur.

Waterwang Leuwilimus
Kekompakan para pegiat Aleut kian diuji ketika mau tidak mau harus melalui sungai. Setidaknya betis pasti terendam. Beruntung mereka yang pakai sandal lapangan. Yang pakai sepatu harus menjinjing alas kaki mereka itu, sedang permukaan sungai dipenuhi bebatuan tajam atau berlumut. Dangkal-dalamnya sungai pun tak merata.

Kerja sama :')
Rombongan belakang pun menggelar beberapa webbing untuk mempermudah perjalanan. Beberapa cowok memegangi webbing, sedang para cewek dan sisanya menyusuri tali gepeng tersebut agar tidak terhindar dari celaka. Saya termasuk yang ceroboh biarpun pengaman sudah disediakan. Sudah mandi setengah badan dan bikin penolong saya ikut kebasahan, saya menginjak kaki salah seorang cowok.

Webbing tetap berguna biarpun kami sudah tak terendam air, misal saat kami mendaki jalan setapak yang terjal.

Warung yang ditemukan otomatis menjadi titik pemberhentian. Rezeki bagi pemilik warung, berbagai jenis minuman dan snack yang dijajakan jadi incaran.

Meong unyu nan seksi di sekolah alam
Kami sempat berhenti lagi cukup lama di sebuah sekolah alam. Selain mengudap perbekalan, sebagian dari kami menunaikan salat zuhur. Setelah cukup obrol-obrol, kami lanjutkan perjalanan.

Dalam perjalanan menuju prasasti peninggalan raja Thailand, kami bertemu dua orang anak bernama Teguh (kelas 7) dan Emir (kelas 2). Mereka berasal dari Jakarta dan sedang liburan di Bandung. Dari rumah nenek mereka di Dago Selatan, mereka jalan kaki sampai kawasan Curug Dago! Teguh dan Emir pun jadi seleb dadakan di antara kami, mulai dari ditanya ini-itu sampai diajak foto bersama.

Saya pernah mengunjungi Curug Dago saat saya masih kelas 6, bersama seluruh teman seangkatan. Saat itu kami bisa bermain air di curug. Kini saya lihat lanskapnya kok beda. Curug diapit dinding tinggi. Pengunjung hanya bisa sampai tepi salah satu dinding, itupun jelas dibatasi lagi oleh pagar besi berkarat. Dan saya tidak ingat kalau di tepi dinding itu pula ada dua prasasti. Daratan di hamparan curug pun tampak berwarna-warni oleh sampah, jelas bukan tempat yang enak buat main air.

Apa yang saya kunjungi dulu itu sebenarnya bukan Curug Dago, atau memang ada perubahan dalam kurun 10 tahun?

Bangunan berkosen merah melindungi kedua prasasti dari tangan-tangan jahil. Pada kedua prasasti tersebut terdapat torehan dengan aksara yang barangkali aksara Thailand. Konon seorang raja dari Thailand pernah datang ke Curug Dago untuk bersemadi. Peninggalannya berupa batu yang kini jadi prasasti. Entah berapa puluh tahun kemudian, anak dari raja tersebut yang juga telah menjadi raja Thailand mengunjungi bekas semadi ayahnya. Kedatangannya ditandai dengan sebuah prasasti lagi. Kedua prasasti tersebut dipisahkan jarak beberapa meter.

Hulu Sungai Cikapundung bukanlah terletak di Curug Dago, melainkan Lembang. Namun hulu yang harusnya murni konon malah dijadikan tempat pembuangan limbah peternakan sapi. Padahal Curug Dago berada di ketinggian yang lumayan, tapi airnya masih tampak keruh.

Segelintir sampah di badan Sungai
Cikapundung
Perilaku warga yang masih buang limbah ke sungai memang amat menggugah untuk disesali. Lagi-lagi kami diingatkan untuk mengubah mulai dari diri sendiri. Namun agaknya tak cukup itu, berbagai wacana pun muncul dalam sesi sharing.

Isu lingkungan hidup ternyata bukan minat utama saya, tapi melalui komunitas semacam Aleut ini saya jadi tersentil untuk turut memerhatikan. Bagaimanapun Aleut adalah komunitas belajar, bukan sekadar sarana olahraga bareng dan sosialisasi. Maka saya pulang dari ngaleut dengan rasa tergugah untuk lebih aktif dan peduli, baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Semoga rasa itu dapat terus bertahan.***

Senin, 23 April 2012

Cihampelas Nan Nahas


Jika kamu bukan orang Bandung, dan mengikuti wisata berombongan ke Bandung, kiranya Cihampelas merupakan lokasi wajib kunjung. Di sini bismu berhenti, lalu kamu dan kawan-kawanmu berburu kaos yang memuat huruf B, A, N, D, U, dan G untuk oleh-oleh.

Cihampelas bagi saya adalah kawasan di mana banyak toko pakaian, terutama jeans, berjajar. Patung berukuran besar menjadi ikon bagi tiap toko, entah itu gorila, spiderman, atau sopirman. SMAN 2 Bandung terselip di antara makhluk-makhluk itu. Angkot jurusan Cicaheum – Ledeng melintasi kawasan ini. Cihampelas tidak kalah ramai dari Dago—letak kedua kawasan ini berdampingan—bahkan agaknya lebih mengakomodasi kelas menengah ke bawah.

Dulu ada mal bernama Sultan Plaza di Cihampelas. Di lantai tiga Sultan Plaza terdapat food court dan arena bermain anak yang sangat mengasyikkan. Arena tersebut berupa bangunan yang cukup besar, di dalamnya terdapat berbagai ruangan dan lorong yang memenuhi hasrat menjelajah anak-anak: perosotan, mandi bola, ruang kaca, jaring-jaring, lorong dengan samsak di mana-mana, dan masih banyak lagi. Beruntung, saya sempat mencicipi wahana seru itu beberapa kali. Mal tersebut kini tinggal bangunan tanpa fungsi jelas. Pun surga bagi anak-anak dekade 1990-an itu, tinggal kenangan.

Tercengang ketika tahu kalau Sultan Plaza sudah begini keadaannya :0

Sebetulnya Cihampelas bukan kawasan yang kerap saya sambangi. Di masa ini, paling-paling saya lewati kawasan tersebut kalau saya habis dari UPI. Tahu-tahu Cihampelas Walk a. k. a. Ciwalk berdiri. Kunjungan saya ke mal berkonsep unik itu bisa dihitung dengan jari. Tahu-tahu pula Aston Tropicana menjulang di tepi, bikin saya tercengang tak henti. Konon keberadaan hotel tersebut tak ramah bagi pemukiman di sekitarnya, air tanah dan cahaya matahari hanya sampai untuk kepentingan sendiri.

Pada Minggu (22/4/2012), bersama komunitas Aleut saya berkesempatan untuk meninjau bagian dalam Cihampelas. Kawasan ini identik dengan Sungai Cikapundung, yang membelahnya. Sungai Cikapundung konon merupakan sungai terpanjang di dunia, karena melintasi Asia Afrika (yang sebetulnya nama jalan di Kota Bandung :P). Kapundung sendiri berarti nama tumbuhan, seperti Menteng, demikian kata koordinator Aleut.

Dari Jalan Siliwangi kami menuruni jalan di tepi Sungai Cikapundung yang berada di balik Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Saya belum pernah melihat Sungai Cikapundung bagian sini, biasanya bagian yang berada di sekitar Jalan Asia Afrika dan Stasiun Bandung saja.

Bandung menuju metropolitan. Dengan berjubelnya rumah-rumah, sudah mirip Jakarta kan?

Salah satu ikon Kota Bandung ini sering jadi objek acara bertemakan lingkungan hidup. Pembersihan sungai ini sering dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat maupun instansi, namun sampah tetap terlihat di banyak titik. Warna airnya serupa bajigur, namun selera sama sekali tidak terundang. Rumah-rumah dari seng maupun susunan bata yang tidak dicat berjejalan di sepanjang sungai, entah didirikan atas izin pemerintah atau tidak. Ban-ban untuk kukuyaan[1] bertumpuk di beberapa titik, heran jika ada yang berminat, tubuhnya mesti kebal dari gatal-gatal.

Itu tumpukan bannya di dekat jembatan

Melihat sekilas saja, saya agak ngeri membayangkan hidup di bantaran sungai penuh cemaran begini. Apalagi jika air sungai tersebut, sebagai sumber air terdekat, dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, entah mencuci, mandi, apalagi memasak! Apalagi jika limbah rumah tangga dibuang pula di sini. Ada yang bilang kalau masih ada orang yang memfungsikan Cikapundung sebagai kloset. Begitu dekat mereka hidup dengan biang penyakit.

Konon baik-buruknya pengelolaan sebuah kota dilihat dari keadaan sungainya. Jelaslah bagaimana pengelolaan Kota Bandung jika dilihat dari rupa Sungai Cikapundung. Bisa dibayangkan sebuah sungai yang di hulunya terdapat peternakan?

Selain itu, Sungai Cikapundung dengan seabrek polutannya bermuara di Sungai Citarum. Sungai Citarum sendiri telah menjadi isu global. Limbah dari sekian pabrik multi nasional berbaur dalam alirannya, yang berhulu di Gunung Wayang dan bermuara di Laut Jawa. Menurut Kang Jana, pegiat Aleut yang bekerja untuk Greenpeace, sungai di negara semacam China, Thailand, dan sekitarnya juga mengalami nasib serupa. Apa kabar samudra dunia?

Lorong-lorong pemukiman padat nan sempit, berkelok-kelok, serupa jalan tikus. Anak-anak sini harus pandai mencari ruang bermain alternatif. Pada sebuah saluran air mengalir dengan amat deras, bagai salah satu wahana di tempat rekreasi air macam Waterboom atau Waterbyur. Ada yang bercerita kalau seorang anak pernah hanyut di saluran tersebut, saat hujan turun dan air meluap.

Kami berhenti sejenak di Masjid Mungsolkanas. Letaknya di sebuah gang yang jalan masuknya tidak jauh dari jalan raya. Masjid yang dulunya hanya sebuah tajug alias musala ini telah berada di lahan tersebut sejak tahun 1869. Dalam sebuah kotak kaca di lantai dua tersimpan sebuah Alquran yang ditulis dengan tangan.

Mungsolkanas itu ternyata singkatan!

Sayangnya tidak ada informasi mengenai Alquran ini

Bentuk asli masjid ini agaknya sudah tidak tampak. Renovasi terbaru yang dilakukan beberapa tahun lalu menghabiskan dana hingga sekitar dua puluh enam juta rupiah. Atap masjid dilapisi semacam karpet tahan air yang diperkeras. Kami berkesempatan naik ke sana.

Calon apartemen yang memakan lahan begitu luas pun menjadi panorama utama di lantai tiga. Keberadaannya kontras dengan sekitarnya, mengingatkan saya akan Hotel Ibis di Jalan Gatot Subroto. Keberadaannya menambah kegeraman pada penguasa kota, yang mengizinkan perombakan cagar budaya demi cagar budaya demi bangunan komersial. Anak-anak sekolahan kehilangan Centrum, BJ Habibie menangisi peruntuhan SMAK Dago.

Pembangunan apartemen di seberang masjid itu pun mengorbankan sebuah kolam renang yang pernah jadi tujuan pelesir pada zaman pendudukan Belanda. Kolam tersebut didirikan oleh istri pemilik Hotel Savoy Homann. Tamu hotel yang ingin berenang di sana akan diantarkan dengan kereta kuda. Air kolam langsung dialirkan dari mata air. Patung Neptunus di tepi kolam menjadi ikon.

Sejak pembangunan di Cihampelas kian merajalela, aliran dari mata air ke kolam jadi seret. Pengisian kolam jadi makan waktu lebih dari sehari, konon akibat disabotase Ciwalk. Mungkin pula didukung berbagai faktor lain, kolam renang tersebut akhirnya direlakan pemiliknya.

Dari tepi Cihampelas: campur aduk bangunan komersial, pemukiman, dan hutan kota 

Cihampelas yang memelas menjatuhkan iba, sekaligus menuai kemuakan pada yang berwenang. Cihampelas bukan sekadar kawasan wisata, di balik kulitnya yang wah ada sepenggal wajah bumi yang bermuram durja. Berkelanalah di belantara Cihampelas, barangkali tafakurmu akan lebih bermakna. Tata kota yang semrawut, lingkungan yang mengenaskan, masyarakat yang termarjinalkan sekaligus memiriskan, wahai pecinta Kota Bandung, apa yang bisa kita lakukan setelah menyaksikan itu semua secara langsung? ***


padahal selama di jalan aku netral saja, entah mengapa dalam menulis aku jadi terdorong untuk memberi kesan memihak begini


[1] Kukuyaan, menurut interpretasi saya atas penjelasan beberapa orang, adalah semacam rafting individual. Kita bermain di sungai dengan tubuh kita diapungkan oleh ban, atau menyusuri sungai beriak—sesuai arah arusnya—dengan cara itu.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain