Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

Lawatan YouTube Mei 2026

Business Insider


Masih tentang usaha pengolahan limbah, kali ini bukan cuma di India, melainkan juga Sierra Leone, Argentina, dan Indonesia. Mungkin saja kelak ketika yang kita punya kebanyakan tinggal limbah dan pengangguran, akan bermunculan banyak usaha kecil pengolahan limbah agar kembali dapat digunakan, dan melibatkan banyak pekerja.


Baru tahu ada yang namanya curling. Itu sejenis olahraga yang masuk ke olimpiade. Sepenglihatan di video sih, cara mainnya yaitu dengan memegangi batu yang meluncur, lalu batu itu disundul-sundul pakai tongkat, malah ada juga yang seperti menyikat-nyikat di depannya(?). Yah, ada video lain yang menerangkan cara bermainnya, tapi tetap saja ada komentar-komentar yang mengatakan bahwa ini sport yang weird dan stupid.


Wasabi, semacam lobak hijau asli Jepang, ternyata punya syarat tumbuh yang sangat khusus sehingga sulit dibudidayakan. Persisnya, tumbuhan ini cocok di tempat teduh berbatu-batu yang dialiri air. Sudah mah rasanya tidak enak, menumbuhkannya sulit, pemanfaatannya tidak tahan lama pula, wkwkwk. Setelah diparut, wasabi harus langsung dikonsumsi atau cita rasanya bakal berubah. Tapi, katanya wasabi yang asli rasanya beda daripada yang buatan--yang umumnya beredar karena lebih mudah diproduksi. Wasabi yang asli lebih bisa dinikmati kali ya, katanya sih ada manis-manisnya.


Kerja tambang sulfur di Kawah Ijen ini sepertinya sudah banyak yang meliput di YT. Ini pekerjaan yang sangat berisiko tapi bayarannya relatif lebih tinggi daripada pekerjaan-pekerjaan lain yang tersedia, makanya ada saja orang yang mau melakoninya. Membaca komentar-komentar, banyak yang bersimpati, tapi ada juga yang menyayangkan karena sebetulnya bisa saja dibikin cara yang efisien untuk menambang dan mengangkut sulfur tanpa harus menggunakan tenaga manusia yang mengorbankan diri mereka sendiri. Apalagi narasi di video pun bilang bahwa kebanyakan sulfur bisa diekstrak dari hasil tambang lainnya dengan cara yang lebih aman, sehingga praktik ala Kawah Ijen ini tidak perlu dilanjutkan. Perusahaan yang mempekerjakan mereka juga menolak untuk diwawancara.

Mungkin, karena SDM di Pulau Jawa melimpah, maka praktik ini kendati berbahaya tetap saja ada yang mau melakukannya, asal bayarannya sepadan. Kalau segala harus dibikin serba efisien, dengan peralatan canggih sampai kecerdasan buatan, kelimpahan SDM ini mau diberdayakan bagaimana? Biarlah itu kerja yang berbahaya atau tidak efisien sekalipun, asal kerja, asal menunjukkan guna sebagai manusia. Berani mati, takut lapar, kata penambang yang diwawancara di video. Adakah yang berani mati akibat kelaparan?

Film Dracula: Dead and Lovin' It


Lucu-lucu horor, cuma agak saru karena banyak "balon" dan desahan. Lega ketika pada akhirnya si Dracula mati. Seperti film Leslie Nielsen lainnya, Naked Gun 2 1/2, di puncak masalahnya terselesaikan secara tak terduga dan "bodoh"--saking bodohnya sampai-sampai menggelikan.

Seputar Afrika Barat dan Sahara


Dokumenter ini saya sudah pernah menonton sebelumnya, mungkin empat tahun lalu ketika baru keluarnya--mungkin karena YouTube jadi suka merekomendasikan untuk menonton ulang setelah empat tahun. Bagaimanapun, saya menyukai dokumenter ini. Isinya tentang bagaimana pekerjaan, cara hidup, ilmu pengetahuan, dan tradisi diwariskan dari generasi tua ke generasi muda, hingga saya berpikiran pantas kalau dahulu orang tua sangat dihormati, karena orang tua menjadi sumber pengetahuan yang utama tentang cara bertahan hidup termasuk cara bersenang-senang, sebagaimana ditunjukkan melalui lomba balap unta dan lomba-lomba lainnya di ujung video. Di video ini pun tidak tampak perangkat elektronik, yang bagi anak muda perkotaan zaman sekarang telah menjadi sumber informasi utama, dan orang tua menjadi pihak yang inferior karena cenderung lambat menguasai teknologi terbaru, sehingga anak menjadi lebih tahu dan bersikap superior, kurang penghormatan kepada orang tua. Tapi, saya mencatat tentang video ini sambil menimbang-nimbang apakah perlu membeli tablet baru, dan lagi pula saya bisa menonton itu juga kan lewat tablet. Ah, bagai buah simalakama.


"Tenere", kata yang saya kenal dari judul lagu Tinariwen, "Amassakoul 'N Tenere", artinya kurang lebih kekosongan karena di kawasan Sahara bagian situ benar-benar tidak ada apa-apa, padahal tidak juga. Ada lukisan dinding kuno sebagaimana ditunjukkan di dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Karena lukisan itu menampakkan gambar hewan-hewan yang tinggal di kawasan Afrika yang lebih hijau, mungkin juga ada bukti-bukti lain, maka konon Sahara dulunya merupakan kawasan hijau. 

Kawasan yang "kosong" itu juga nyatanya "jalan tol" bagi karavan yang bisa terdiri dari ratusan ekor unta dalam barisan panjang, berpapasan dengan satu sama lain, demikian dokumenter ini ditutup.

Touareg adalah nama suku yang menguasai kawasan itu. Kalau ingin melintasi Sahara, baiknya minta ditemani oleh mereka. Kalau tidak, bisa-bisa dianggap melanggar wilayah dan dibantai; kejadian ini pernah menimpa rombongan ekspedisi Perancis-Aljazair pada 1880. Tinariwen adalah grup musik Touareg.

Jadi dokumenter ini isinya kurang lebih mirip dengan dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Ada bule minta ditemani warga lokal melintas Sahara. Warloknya saleh, yang dalam perjalanan tidak lupa salat. Bedanya, di dokumenter kali ini tidak melibatkan jin, dan warloknya bukan cuma satu orang. Malah dalam dokumenter ini mereka rombongan agak banyak dengan beberapa mobil jip. Sedangkan di dokumenter sebelumnya berdua saja pakai unta. 


Setelah menonton sedikitnya tiga dokumenter tentang kehidupan di Sahara, saya merasa isinya secara pokok kurang lebih persis: melintasi padang yang sejauh mata memandang kebanyakan hanya pasir, panas, kering, dan ekstrem, bersama unta hewan ajaib yang tahan tidak minum sampai lama, sanggup membawa beban berat juga. Di tengah perjalanan ada lukisan dinding gambar jerapah dan hewan-hewan lainnya. Di ujung akhirnya bertemu "peradaban" lagi--kawasan hunian manusia.

Bedanya, di dokumenter kali ini, tidak ada bule yang menemani, atau mereka mungkin hanya memfilmkan tapi tidak ikut tampil di depan kamera. Dokumenter ini lebih berfokus pada segi-segi kehidupan Touareg yang meliputi persiapan melepas karavan, mulai dari bekal apa saja yang harus dibawa, festival pelepasan, jenis-jenis pekerjaan lainnya dalam masyarakat Touareg yang masih berkaitan dengan perjalanan karavan (contoh: pandai besi untuk membuat senjata, penggali sumur untuk persediaan air), serta cara hidup wanita-wanitanya yang saling bantu, bekerja secara berkelompok, mulai dari mengolah makanan sampai mendirikan rumah yang berpindah-pindah, dan memasang tempat tidur portabel. Wanita sangat dihormati dalam masyarakat Touareg yang monogami. Jika bercerai, harta benda jadi milik istri. Yang menutupi wajah justru pria--sedangkan wanita hanya mengenakan kerudung--tapi sepertinya ini lebih untuk perlindungan dari cuaca terik sementara mereka pergi jauh sih. Umumnya orang Touareg muslim, menunaikan salat dan menghafal Al-Qur'an, tapi juga masih ada kepercayaan lama.

Persamaan video kedua dan ketiga adalah sama-sama mengikuti perjalanan karavan ke Bilma, tempat penghasil garam. Di sana mereka bertukar komoditi. Timbangan tidak ada, sehingga untuk menakar mereka menggunakan mangkok yang diisi penuh-penuh. Sangat sederhana. Air begitu terbatas. Listrik juga tidak pakai sepertinya. Namun mereka mampu bertahan sebegitu lama hidup di kawasan itu, tidak kebat-kebit bila mati listrik. Dan, apakah mereka mandi? 

Video ketiga ini tampak lebih lengkap menyajikan kehidupan masyarakat Touareg, sedangkan kedua video sebelumnya lebih kayak menemani bule penasaran jalan-jalan melintasi Sahara.

Buku Audio Days at the Morisaki Bookshop


Ceritanya tampak sederhana, tipe slice of life? Pada awalnya cukup menikmati. Saya lumayan relate karena pernah bantu-bantu di toko buku kecil yang juga menjual buku-buku bekas, dan yang berkunjung kadang hanya untuk mengobrol, juga penting untuk selalu bersikap baik, ramah, dan mengenal sebanyak-banyaknya orang. 

Cerita dimulai dengan si tokoh utama putus hubungan dari pacarnya sampai resign kerja karena mereka sekantor. Selagi depresi dan menganggur, dia ditawari bekerja di toko buku milik keluarga yang dikelola oleh pamannya. Dia ambil tawaran itu. Setelah bekerja di toko buku, dia mulai membangun hubungan-hubungan baru, walaupun belum untuk menggantikan hubungan cinta kepada kekasih. Dalam bagian pertama cerita ini dia banyak bercerita tentang pamannya yang sempat mempunyai istri, tapi istrinya kabur. Si tokoh utama tidak seterusnya bekerja di toko buku. Dia melamar pekerjaan lain, diterima, dan pindah.

Di bagian kedua, istri si paman kembali. Si tokoh utama menyempatkan untuk mampir ke toko buku. Selain membangun hubungan dengan istri si paman, dia juga menyambung hubungan dengan tokoh-tokoh lain yang telah muncul di bagian pertama. Di bagian ini, saya sudah kurang menikmati cerita. 

Entahlah, rasanya cheesy? corny? jasukey? Cerita ini mungkin dimaksudkan untuk memberikan perasaan enak dan tenang bagi yang membaca, dengan menempatkan diri dalam posisi si tokoh utama, yang setelah mengalami kejadian pahit, lantas mengambil jeda untuk tidur, membaca buku sebanyak-banyaknya, menjalin hubungan kasual dengan orang-orang, serta berjalan-jalan ke alam--kesempatan yang mungkin tidak dapat dialami setiap orang yang kepengin karena kehidupannya penuh tuntutan, sehingga sedikitnya mencicipi lewat novel.

Saya juga merasa aneh dengan cara para tokoh menunjukkan afeksinya. Pertama, ketika si paman bilang "I love you" ke tokoh utama sembari minum minuman beralkohol, berdua saja di kamar. Otak saya mungkin sudah banyak kemasukan berita-berita akhir zaman, sehingga adegan ini terasa rada-rada. Lalu, ada adegan ketika si tokoh utama dengan istri pamannya itu berpelukan sambil telanjang di pemandian air panas. Yah, di Jepang mandi bugil bersama mungkin biasa saja, termasuk sambil pelukan dengan sesama jenis. Tapi di budaya saya tidak ada yang begitu. 

Kalau saya baca sendiri buku ini sampai tuntas, mungkin saya kasih bintang satu atau dua di Goodreads.

Trio NPD


Bila konten Kak Kev muncul di Instagram, muncul dilema: enggak ditonton, penasaran, setelah ditonton, kok geli. Lalu entah bagaimana dia berkolaborasi sama sepupu Raisa bikin trio yang lagunya memuja-muja diri. Ketika mereka tampil di acara yang tidak biasanya saya tonton, saya klik. Acara ini pecahnya di ujung, ketika Andre berusaha mengimbangi kegaulan Mario dengan celetukan-celetukan Inggris yang enggak nyambung.

Lagu MBG


Biasanya saya tidak suka yang AI-AI, tapi sepertinya satu Indonesia lagi kejangkitan wabah terngiang-ngiang sama lagu ini. (*menulis ini sambil terdengar anak-anak lewat jalan depan rumah menyanyikannya)

Kamis, 07 Mei 2026

Video-video Panjang yang Tamat Disimak Selama April 2026

Dengan adanya Instagram, menamatkan video panjang di YouTube jadi memerlukan ketabahan sebagaimana dalam menamatkan buku, kecuali kalau isinya benar-benar menarik/mengalir, atau lagi ada energi lebih untuk fokus sampai tuntas. Sebagaimana waktu membaca buku, kadang-kadang pikiran dengan sendirinya merumuskan isi video dan timbul kesan-kesan tertentu.

Film King of Comedy


Dari cuplikan-cuplikan Shaolin of Soccer, jadi menonton satu film full Stephen Chow, King of Comedy. Dari segi alur cerita, film ini banyak naik-turunnya; kayak, dikira setelah ini situasi tokohnya bakal membaik, ternyata enggak jadi, terus membaik lagi, begitu seterusnya. Romance berlangsung terlalu cepat dengan pemeran perempuan yang sangat cantik sekali banget. Yah, namanya juga film: durasi terbatas, harus menjual visual, sekaligus relatable bagi banyak pejuang kehidupan.

Dokumenter Sahara: Wilayah Para Jin


Menonton ini atas rekomendasi seseorang. Sepanjang menonton, saya bertanya-tanya, Mana penampakan jinnya? Jin itu sepertinya mewujud dalam kepercayaan warga lokal yang akan menemani si pembuat dokumenter melintasi Sahara. Kendati rajin salat dan berzikir, anak-anaknya pun penghafal Al-Quran, ia membawa si pembuat film ke "orang pintar" untuk meminta semacam pelindung sebelum memulai perjalanan.

Dokumenter ini lebih merupakan rekaman perjalanan melintasi Sahara, persisnya rute yang hampir-hampir tidak pernah dilalui manusia. Sebenarnya ada satu perhentian di mana mereka menemukan jejak manusia berupa lukisan gua. 

Dokumenter ini juga mengenai keajaiban unta yang di samping kerelaannya melayani manusia menanggung banyak beban berat dalam perjalanan panjang, juga bisa mencari makan sendiri dan tahan tidak minum sampai sebulan lebih. 

Tentunya dokumenter ini membawa kita mengalami (meski secara virtual saja) suasana di gurun pasir yang betapa luas tetapi juga serba terbatas dan sering amat sangat panas. Panorama di sekitar Ka'bah boleh jadi berubah-ubah seiring dengan waktu bertambah-tambah mewah, tapi di gurun pasir serupa ini, agaknya begitu-begitu saja sedari masa nabi-nabi (enggak tahu deh waktu Sahara katanya pernah berupa hutan)--tempat mereka menerima wahyu dari Penguasa Semesta Alam. Dalam kekosongan yang mahaluas di gurun pasir, Yang Maha Esa mengumumkan keberadaan diri-Nya; sedangkan dalam hutan tropis yang rimbun penuh distraksi aneka rupa flora dan suara satwa, tumbuh kepercayaan terhadap berbagai entitas gaib. Yang di gurun mengangankan surga sebagaimana alam tropis, sedangkan yang di kawasan tropis mesti menempuh perjalanan sebegitu jauh dan mahal untuk sampai ke titik syiar wakil-wakil Yang Maha Esa.

Perjalanan di kawasan gurun ini membuat saya ingin mendengarkan lagi lagu-lagu dari album Putumayo Presents Mali. Sedikitnya ada dua lagu favorit saya dari album tersebut, yaitu 

"Bana" (Issa Bagayogo) 


dan "Amassakoul 'N'Tenere" (Tinariwen). 


Kedua lagu ini vibe ngegurunnya kerasa banget, membawa seolah-olah lagi naik jip melintasi perkampungan di Afrika, persisnya Mali kali ya. 

Kebetulan saya lagi membaca buku Mansa Musa: The Most Famous African Traveler to Mecca, sambil googling-googling karena sedikitnya yang saya ketahui mengenai peradaban yang pernah ada di sana. Ternyata kawasan tersebut tidak hanya memiliki raja paling kaya, tetapi juga pernah menjadi pusat keilmuan paling maju, dan sampai sekarang masih ada beberapa penyalin yang berusaha melestarikan naskah-naskah kuno dari masa kejayaan Islam itu.


Dokumenter Business Insider


Berbagai produk makanan yang beredar di pasaran, contohnya madu, vanila, wasabi, sirup mapel, keju, kaviar, dan lain-lain, ternyata banyak yang bukan 100% asli. Soalnya, produk-produk tersebut sulit dihasilkan dalam skala besar, antara lain karena sumber dayanya dari alam kurang, sementara permintaan banyak, maka dibikinlah produk buatan yang kadar keasliannya cuma sekian persen.


Masih terkait sumber daya alam sebagai bahan baku produk-produk keperluan manusia, dokumenter dari seri World Wide Waste ini meliput berbagai usaha pengolahan sampah di India menjadi produk baru, walaupun tampaknya sampah sumbernya itu mengandung racun atau logam berat berbahaya, contohnya: dupa dari limbah bunga yang disemprot pestisida, boneka yang kapas isiannya dari bekas puntung rokok, dan seterusnya. Di satu sisi, ini riskan. Di sisi lain, ini tampak sebagai solusi sementara atas permasalahan sampah sekaligus membuka lapangan pekerjaan; lagi pula, kalau bahan baku harus 100% baru dan aman, sebagaimana yang ditunjukkan pada dokumenter pertama, ketersediaannya di alam mungkin terbatas, atau dapat menjadi eksploitasi baru sementara alam yang tersisa mungkin tinggal yang harus dipreservasi saja. Jadi, manfaatkan yang ada dulu, risikonya tanggung sendiri-sendiri nanti-nanti 🫤

Novel Bentang Lapangan


Melihat dari kovernya saja, saya menduga ini novel untuk anak remaja, mungkin tentang anak remaja yang berbakat bermain sepak bola kemudian menjadi juara, semacam Kapten Tsubasa versi Sunda. Ternyata, memang di dalamnya ada tokoh anak remaja berbakat, tapi bukan dia tokoh utamanya. Naratornya sudah bapak-bapak, adapun tokoh utamanya sepertinya adalah Basri yang usianya sudah sekitar seperempat abad, mempunyai istri, dan bekerja di kantor, sedangkan bermain sepak bola profesional adalah sampingan. Rupanya novel ini menceritakan dunia sepak bola profesional dan pengarangnya sendiri--yakni Rachmatullah Ading Affandie-- berpengalaman menjadi komentator siaran sepak bola di RRI serta Ketua Komisi Teknik Persib. Ceritanya, selain kental dengan sudut pandang dan istilah persepakbolaan, juga menyoroti kejiwaan para pemain, seperti kepercayaan diri, kemampuan bekerja sebagai tim, kesombongan, hingga integritas, yang sepertinya bisa ditarik ke ranah apa saja. Itu kondisi-kondisi yang mungkin berkembang dalam jiwa setiap manusia di mana pun ia berkiprah.

Banyak lagi video yang diputar sampai selesai, tapi hanya didengar sambil mengerjakan hal lain, terputus-putus, dengan konsentrasi timbul tenggelam, dan tidak selalu mengenai topik yang benar-benar diminati atau dipahami, sehingga tidak terumuskan isinya juga kurang menimbulkan kesan tertentu.

Jumat, 23 Juni 2023

kiamat kepagian

dalam benakku,
kiamat sudah terjadi,
padang mahsyar sudah ditapaki.
apa sebab,
segala sendiri-sendiri,
aku tak terkecuali.
dunia ini cuma pemanasan.
sebelum ke surga atau ke neraka,
bikin surga sekarang,
bikin neraka sekarang.


Di tepi jalan, si miskin menjerit
Hidup meminta dan menerima
Yang kaya tertawa, berpesta pora
Hidup menumpang di kecurangan

Sadarlah kau cara hidupmu
Yang hanya menelan korban yang lain
Bintang jatuh hari kiamat
Pengadilan yang penghabisan

Itulah hidup, semakin biasa
Seakan tak perdulikan lagi
Tiada kasih bagi yang lemah
Disiram banjiran air mata

Sadarlah kau cara hidupmu
Yang hanya menelan korban yang lain
Bintang jatuh hari kiamat
Pengadilan yang penghabisan

(https://liriklagukenangan.blogspot.com/2020/06/lirik-lagu-black-brothers-hari-kiamat.html)


Sepertinya air tak basah lagi
Rasa api tak panas lagi
Hari ke hari penuh kepalsuan
Kehidupan seperti sedang perang

Sudah kucoba dengan kejujuran
Kenyataan ternyata berlawanan
Tak jelas lagi segala batasan
Entah siapa musuh atau teman

(Ini cuma kehidupan) Ini cuma permainan
(Tetap harus dijalankan) kumainkan huo.oo..

(Masih ada banyak cara) mencari s’percik harapan
(Masih ada banyak cara) wujudkan satu impian
(Masih ada banyak peran) yang bisa kita mainkan
(Masih ada banyak peran) wujudkan satu impian

Saat diriku temui jalanku
Waktu diriku mainkan sebuah peran
Ku takut t’rima dengan kedamaian
Kugantungkan semua harapan...

(https://lirikraja.blogspot.com/2016/02/andy-liany-masih-ada.html)

Selasa, 20 Juni 2023

Sudahkah kamu menangis pagi ini?












Tiap kali makan gorengan (dari kelapa sawit) atau pakai perangkat listrik (dari batu bara), ingatlah kezaliman yang secara tidak langsung tanpa disadari telah kita perbuat pada orangutan di menit 2:59 - 3:06 video ini.


Ini baru satu contoh.

Gambar diambil dari situs Hati Senang.

Did you ever stop to noticeAll the blood we've shed before?Did you ever stop to noticeThis crying Earth, these weeping shores?

(Salah satu video klip yang bikin mewek.
Tidak pernah tahan menontonnya sampai selesai.)

Masih senang hidup di muka bumi ini? Masih mau terus mengonsumsi tanpa menelusuri potensi kerusakan yang ditimbulkan sepanjang rantai produksi dan distribusinya? Masih mau menambah kerusakan dengan tidak mengambil tanggung jawab atas sisa konsumsi? 

Terasa beratnya beban sebagai rahmatan lil alamin.

Gambar dari situs Brainly.

Gambar dari Facebook.

Gambar dari Flickr.

Senin, 26 September 2022

#20030929 (puisi tanpa judul dan beberapa lagu favorit waktu itu)

Mungkin itu sudah berlalu.
Saat-saat susah yang ingin kutemui kembali.
Yang terekam dalam pita kaset abu-abu.
Buram. Ingin kunikmati lagi.


Rabu, 21 September 2022

#20030721 (puisi tanpa judul dan beberapa lagu favorit waktu itu)



Kenang lagu kenangan
Lagu lama,
Lagu ingat masa lalu
Banyak sekali
Betapa semuanya membekas dan berlalu
Mengapa terasa cepat sekali


Rabu, 02 Maret 2022

Halusinasi David Usher

Belakangan ini saya sedang tidak baik-baik saja (yah, seperti setiap orang di muka bumi ...), dan baru-baru ini ada lagu lama muncul di dalam kepala. Lagu ini sepertinya berasal dari masa SMP-SMA. Saya meraba-raba potongan liriknya yang teringat, memasukkannya ke kolom pencarian di YouTube dan Google. Kata-katanya berupa "pieces", "I am not seeing anything", dan "standing in the dark" atau "standing in the crowd". Samar-samar. Tidak ketemu. Bisa dibilang, ini bukan lagu favorit saya sampai-sampai saya tidak ingat apa judulnya dan siapa penyanyinya. Lantas, kenapa lagu itu mendadak terngiang-ngiang?

Entah bagaimana saya teringat kepada penyanyi yang saya kenal pada masa itu, yaitu David Usher. Cuma dua lagunya yang saya ingat, yaitu "Black Black Heart" dan "LA Blue". Setelah mencarinya di YouTube, ternyata "LA Blue" itu lagunya Joey McIntyre. Bagaimanapun juga, bukan kedua lagu tersebut yang saya cari.

Akhirnya saya memasang External Slim DVD-RW ke notebook dan mengecek beberapa keping CD-R berisi koleksi MP3 yang saya kumpulkan semasa SMA-awal kuliah. Saya melewatkan lagu-lagu yang sudah saya kenal baik dan memutar lagu-lagu yang saya tidak ingat bagaimana bunyinya. Ketemulah lagu yang beberapa lama ini terngiang-ngiang di dalam kepala saya itu. Ternyata penyanyinya memang David Usher, judulnya "Hallucinations", keluaran 2003. Sepertinya lagu ini masuk ke koleksi MP3 saya karena pada waktu itu saya lagi senang-senangnya mengkhayal, dan judul "Hallucinations" tampak relatable. Entahlah. Saya tidak ingat pernah begitu menyukai lagu ini soalnya.

Setelah menemukan nama penyanyi dan judul, saya pun mencari liriknya. Rupanya potongan lirik yang teringat sebelumnya tidak tepat sehingga pantas saja tidak ketemu (:P) "Tidak ada kata "pieces", "I am not seeing anything" harusnya "I am not feeling anything", dan "standing in the dark/crowd" adalah "standing at the top". Dari beberapa hasil pencarian, saya mendapati ada sedikitnya dua versi lirik lagu ini. Berikut ini saya salin dari https://genius.com/David-usher-hallucinations-lyrics yang menurut saya memberikan pengertian lebih jelas.  

Breathe hallucinations start to fade
All the colours slip back to grey
I never understood these things I've hated
But now as we all disappear
The world becomes quite clearly something I can't live in
If I could just get through

Tonight the poisons in my head
And I can't feel my legs
I'm not feeling anything

I'm standing at the top looking down
Thought it'd be so free
Floating out in space take a breath
Don't you breathe too deep
Standing at the top looking down
Thought it'd be so damn easy
I thought it would be easier

Wait hallucinations back in place
I said I'd call if I can't face another day of normal
It's what they gave me
But now the telephones on fire
And I can't seem to dial even though I know you're there
To save my soul
Tonight the poisons in my head
And I can't feel my legs
I'm not feeling anything
Anything

I'm standing at the top looking down
Thought it'd be so free
Floating out in space take a breath
Don't you breathe too deep
Stepping off the top
Feel the wind underneath my feet

Standing at the top looking down
Floating out in space there's no sound

Tonight the poisons in my head
I can't feel my legs
I'm not feeling anything

I'm standing at the top looking down
Thought it'd be so free
Floating out in space take a breath
Don't you breathe too deep
Stepping off the top
Feel the wind underneath my feet
Standing at the top looking down
Floating out in space there's no sound
I feel alive
I feel alive
I feel alive

Dari lirik tersebut, saya menangkap bahwa lagu ini disampaikan dari sudut pandang seseorang yang sedang mengalami masalah kejiwaan sampai-sampai mengalami halusinasi. "The poisons in my head" itu saya duga semestinya "the voices in my head", karena biasanya halusinasi tersebut berupa suara-suara. Orang ini tidak hanya mengalami halusinasi, tapi juga hendak mengakhiri penderitaannya dengan melompat dari tempat tinggi. Mungkin "the poisons in my head" itu benar-benar "poisons", dalam artian dia minum minuman keras dulu untuk menumpulkan indranya ("I can't feel my legs"/"I am not feeling anything") atau untuk memberinya dorongan. Entahlah.

Kata-kata lainnya juga terdengar seperti mengisyaratkan kematian walau sebetulnya itu saya saja yang keliru menangkapnya (bukan English native speaker sih). "Dial" terdengar seperti "die" bahkan "standing at the top" dan "stepping off the top" seperti "sending epitaph" (memangnya dia kurir atau apa?), sedang "epitaph" atau "epitaf" dalam bahasa Indonesia dapat berarti "tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di situ" (menurut aplikasi KBBI V).

Setelah membaca liriknya secara menyeluruh, saya terheran-heran mendapati betapa relevannya lagu ini dengan keadaan yang tengah saya alami. Bukan berarti saya sudah sampai berhalusinasi atau ingin bunuh diri, tapi saya merasa memahami isyarat-isyarat yang disampaikan dalam lagu ini:  tidak mengerti akan gangguan-gangguan yang dialami dalam diri, perasaan tidak mampu lagi bertahan hidup di dunia ini, kepala dipenuhi pikiran-pikiran yang beracun, dan seterusnya. Lagu ini seperti katarsis, mengidealkan terjun dari gedung sebagai solusi untuk memperoleh kebebasan dari penderitaan dunia atau cara untuk merasa "hidup" setelah sekian lama tertekan.

Lagu lain yang relevan ada banyak, tapi sebelum ini tidak pernah sekalipun lagu ini melintas. Kenapa setelah sekian lama tahu ada lagu ini, baru kali ini saya memperhatikan dan menyadari maknanya? Kenapa lagu ini terngiang seakan-akan minta dicari dan didengarkan tepat pada saat saya sedang mengalami situasi yang relevan? Kenapa baru sekarang? Saya merasa ingin menyampaikan atau mencatat keanehan ini. Satu pengalaman terkait yang teringat hanya sewaktu SMA saya membuat cerpen tentang seseorang yang mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk terjun dari gedung juga, tapi sepertinya itu bukan karena terinspirasi oleh lagu ini. Jangan-jangan saya sudah tidak baik-baik saja sejak SMA. Ataukah lagu ini terbenam terlalu dalam di alam bawah sadar? Tidak tertangkap wujudnya, tapi sekali-dua kali ruhnya timbul ke permukaan.

Sayangnya, hampir-hampir belum ada yang menguraikan kesan terhadap lagu ini selain segelintir yang sekadar menganggapnya bagus.

Senin, 08 Februari 2021

"Saat Harapan Tiba", tapi baru sepertiga lagu

Pantai suram membentang

Cah'ya tak tampak berkedip

Kelam terasa menyentuh surya hidupku


Sepi aku menanti

Ombak yang akan berlabuh

Tenang berayun, beriak menghibur hatiku


Inikah sisa hidupku

Diriku hanya menanti

Kubiarkan semua mendera jiwaku ....


Kulihat bintang muncul bersinar

Namun mengapa kerlipnya menyiksa diriku ....


Kamis, 28 Mei 2020

Kenapa Mendengarkan Lagu-lagu Nike Ardilla Itu Berbahaya

Kita tahu, she's a legend. Ia memiliki banyak fans setia, yang terus mendoakannya walaupun sudah seperempat abad meninggalkan dunia. Tapi apakah kita pernah benar-benar mendengarkan lagunya?

Saya tidak benar-benar tahu lagu-lagu Nike Ardilla sampai belakangan ini. Ada begitu banyak lagu yang dapat kita dengarkan di mana-mana, kenapa harus dia? Lagi pula, dengan begitu banyak fans yang masih mengelu-elukannya sampai sekarang, she sounds so mainstream, mr8?

Tapi sekarang ini saya lagi mengeksplorasi dunia '90-an. Mulai dari membaca majalah-majalah sampai menemukan lagu-lagu hip-hop yang hip pada masa itu. Pikiran untuk meninjau Nike Ardilla baru muncul belakangan. Pada awalnya saya agak malas, menunda-nunda.

Sampai tiba juga dorongan itu. Saya memutarnya di YouTube. Ada beberapa album kompilasi lagunya--ciptaan penggemarnya, sepertinya.

Lagu demi lagunya masuk ke telinga. Ada beberapa yang saya merasa familier. Saya teringat pada seorang mbak yang pernah bekerja di rumah saya, dari saya SD sampai SMA. Sepertinya mbak itu penggemar Nike Ardilla juga dan pernah menyanyikan lagu-lagunya ...?

Lagu-lagunya, kalau boleh saya nilai (padahal tahu apa saya soal musik!?), sebenarnya sederhana dan kemelayu-melayuan. Dari segi instrumen tidak istimewa, dibandingkan dengan musik Italia era '60-'70-an yang saya suka dengarkan (njir, berasa snob padahal enggak seorang pun tahu musik yang saya maksud). Dari segi lirik, begitu-begitu saja: semacam curhat cecintaan yang sama sekali tidak relatable buat saya, malah cenderung memelas dan cengeng.

Contohnya saja dalam lagu "Mama, Aku Ingin Pulang". Lagu ini tampaknya bercerita tentang seorang gadis belia lagi naif yang dijebak pacarnya agar mau kawin lari. Mamanya sudah memperingati dia, tapi apa daya bujuk rayu lelaki itu lebih membuai. Akhirnya, benarlah, disia-siakanlah dia. Simak saja liriknya:

Cincin emas melingkar, ia berikan dulu
Untuk apa, kalau ia tak cinta ....
("Mama, Aku Ingin Pulang")


Untuk apa? Ya, untuk mengisap madumu, Neng. Sudah begitu, habis manis sepah dibuang. Begitulah laki-laki, bak udang di balik batu, pasti ada maunya *eh kok kayak curcol.

Ketika saya tanyakan kepada teman yang lahir pada 1975 (alias sebaya dengan almarhumah), dia bukan penggemar NA tapi tahu bahwa lagu-lagunya kerap mengandung kata "sinar", "kehidupan", semacam itu. Saya tambahkan lagi, "iman".

Anyway.

Entah dalam sekali atau beberapa kali dengar saja (pokoknya enggak sampai banyak), beberapa lagunya sudah terngiang-ngiang di kepala saya sampai tahu-tahu saja saya menyanyikannya sepenggal-sepenggal--khususnya bagian-bagian yang catchy banget.

Malam-malam aku sendiri, 
tanpa cintamu lagi ... ooo ....
("Bintang Kehidupan")


Aku bagai nelayan ...
Yang kehilangan arah ....
("Tinggallah Ku Sendiri")


Tidak cukup, timbul hasrat untuk mengajak teman ke tempat karaoke sehingga saya bisa berteriak-teriak sepuasnya membawakan lagu-lagu itu. Tapi, entah suara saya akan sampai atau enggak dan pastinya mereka bakal takjub. Entahkah ada di antara mereka yang akrab dengan lagu-lagunya atau enggak.

Lagian, sementara ini masih dalam pandemi. Hasrat karaoke mau tidak mau dipenuhi dengan memutar lagu-lagu Teh Nike yang cantik jelita di Spotify atau YouTube saja, yang subhanallah dilengkapi dengan lirik berjalan! Hanya saja, sambil lirih-lirih karena malu kalau kedengaran sama orang rumah apalagi tetangga 

Meski telah lama tiada, bagi penggemarnya, ia terus hidup melalui lagu-lagunya. Bahkan sekarang ia hidup juga di dalam kepala saya, sampai kadang-kadang sulit sekali menyuruhnya berhenti menjerit-jerit. Memang tidak semua lagunya enak, dan sebenarnya belum semuanya pula saya dengarkan. Tapi, untuk beberapa lagu, betapa mudahnya menempel dan kuatnya melekat bak tumbuhan liar yang tak dikehendaki tapi muncul lagi muncul lagi.

Betapa sayang ia telah pergi dalam usia sebelia itu. Semoga hidupnya tenang di alam sana. Aamin.

Dan serta-merta, timbul ide cerita tentang seorang pemuda penggemar Nike Ardilla yang tanpa sadar lalu menjadi cowok seperti yang diceritakan dalam lagu-lagu Nike Ardilla bagi ceweknya, sehingga ceweknya itu membatin,

Ku tak akan bersuara,
walau dirimu kekurangan,
hanya setiamu itu kuharapkan ....
("Ku Tak Akan Bersuara") 



sampai,

Bosan, mungkin itu sifatmu!
Benci, bila ingat dirimu!
("Sandiwara Cinta")


Senin, 13 April 2020

Pergumulan yang Tak Pernah Tuntas

Jazz sudah lama dikenal di Indonesia. Namun, perkembangannya lamban, karena keterbatasan sarana dan fasilitas, termasuk juga maesenas. Demikian ditulis Deded ER Moerad, wartawan MATRA, dalam bukunya Jazz: 100 Tahun New Orleans-Jakarta yang bakal diluncurkan oleh Majalah MATRA bekerja sama dengan PT Matra Multi Media awal Februari 1995. Berikut nukilan buku tersebut.

SUATU HARI PADA AWAL TAHUN 1980-AN, SEBUAH PERTUNJUKAN MUSIK JAZZ disuguhkan di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. Malam itu Ireng Maulana dan kawan-kawan tampil. Setelah memainkan beberapa instrumentalia yang disambut dingin oleh penonton, tibalah giliran menampilkan Ermy Kullit.

Saat sang penyanyi muncul di atas pentas, penonton pun berteriak mencemooh: "wadam, wadam turun ...." Ejekan itu kemudian disambut tawa riuh penonton lainnya. "Dangdut, dangdut saja," teriak yang lain menimpali.

Teriakan itu tentu amat menyakitkan, terutama bagi Ermy Kullit, Ireng Maulana, dan rekan-rekannya. Penonton yang datang ke Ancol, khusus untuk menkmati jazz, tentu ikut pula merasakan kepedihan yang dialami para artis jazz di panggung itu.

Untung tidak terjadi huru-hara. Misalnya, pelemparan batu, botol, dan benda-benda keras lainnya ke atas panggung. Ermy dan Ireng cepat membaca situasi hingga langsung mengalunkan irama "Bosanova". Musik Latin Jazz itu agak akrab dengan telinga penonton. Ditambah syair lagu dalam bahasa Indonesia.

Ternyata kiat Ireng dan Ermy cukup ampuh. Setelah tiga lagu, keadaan pun berbalik. Penonton mulai menunjukkan simpatinya. Tepuk tangan meriah diberikan khusus buat Ermy Kullit yang memang memiliki suara yang enak untuk didengarkan.

Para "jazz lover" pasti trenyuh jika menyaksikan pianis kondang seperti Bubi Chen atau Hendra Wijaya bermain hanya sebagai penggembira dalam suatu pesta perkawinan. Atau, seorang Abda Soesman bersama kelompoknya memainkan musik populer di klub-klub malam dan panggung-panggung pertunjukan. Bahkan, seorang Maryono, saxophonis piawai itu, pernah bergabung dengan sandirawa lawak Srimulat.

Untuk memenuhi keinginan produser dan pasar, Ireng Maulana terpaksa membuat rekaman dalam irama "Bosanova" bersama Ermy Kullit dan beberapa penyanyi lain--tanpa berani memasang label jazz. Merekam irama yang populer dan komersial memang mendatangkan uang. Produser sendiri mengaku lebih mudah memasarkan musik yang berirama sedikit populer, ketimbang membuat rekaman murni jazz. 

Lalu, adakah musik jazz Indonesia? Jawabannya ada. Buktinya, siapa yang menyangkal kehadiran Nick Mamahit, Mus Mualim, Tjok Sinsoe, dan Jack Lesmana. Belum lagi sederetan musisi muda seperti Indra Lesmana, Idang Rasjidi, Gilang Ramadhan, Cendy Randus Luntungan yang masih setia berkiprah sampai hari ini.

Adakah penonton atau penikmat jazz? Tentu saja banyak. Namun, apakah mereka memang apresiatif terhadap jazz, itulah persoalannya. Kalau melihat suatu pentas musik jazz, jumlah penontonnya memang datang berduyun-duyun. Bahkan kerap kali ada yang tidak kebagian karcis. Apalagi bila yang tampil musisi ternama seperti Bob James dan Lee Ritenour. Meski ada pula satu-dua orang yang datang masih hanya sebatas ingin tahu.

Pesta jazz sering diselenggarakan, memang. Banyak musisi dan penyanyi jazz kaliber dunia rutin naik ke panggung-panggung pertunjukan di Indonesia. Acara apresiasi jazz sering diadakan di kampus-kampus. Misalnya, Kampus Universitas Indonesia, Universitas Trisakti, dan Universitas Gadjah Mada. Napas jazz, rasanya ada di mana-mana.

Memang, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, secara bergantian musisi jazz senior dan junior ikut serta dalam festival kelas dunia di North Sea Jazz Festival di Belanda. Memang, bahwa Ireng Maulana sudah empat kali menyelenggarakan festival internasional, dengan judul: Jakarta Jazz Festival--yang kemudian lebih dikenal Jak-Jazz.

Namun, fakta itu belum menunjukkan kehidupan jazz di Indonesia sudah cerah dan menggembirakan. Masih banyak musisi jazz yang memainkan musik populer atau bergabung dengan kelompok pengisi rekaman musik pop. Nick Mamahit yang bermain piano tunggal di sebuah hotel berbintang di Jakarta, mau tak mau harus melantunkan lagu-lagu populer. Meski ia toh memberikan sedikit napas jazz. Ada pula musisi jazz yang terjun ke dalam bisnis entertainment seperti Sadikin Zuhra. Sedangkan Chandra Darusman, saat buku ini disusun, sedang sibuk mengurus ke lembaga hak cipta penulis lagu ketimbang memainkan pianonya. Margie Segers, sang juara jazz vokal pada 1970-an, bagaikan lenyap ditelan bumi. Inilah tragedi musik jazz Indonesia.

TAK DIRAGUKAN LAGI BAHWA JACK LESMANA adalah seorang musisi jazz yang idealis. Dia pernah mengumpulkan sejumlah anak muda hanya untuk bermain jazz. "Jazz saja," tuturnya suatu ketika.

Dua kata itu pula yang kemudian menjadi judul sebuah pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tahun 1970-an. Jack yang sempat mendirikan sekolah musik, mendapat dukungan dari bekas murid-muridnya. Antara lain, Abadi Soesman, Benny Likumahua, Chandra Darusman, dan anaknya sendiri Indra Lesmana.

Jack Lesmana pernah merasa tidak dihargai sebagai musisi jazz di negerinya sendiri. Berbagai upaya yang dilakukan sia-sia. Seperti "patah arang", ia lalu menjual rumahnya dan keluarganya ke Australia, menyusul Indra yang sedang mendalami musik di sebuah konservatori di sana.

Selama lima tahun mereka menetap di Negeri Kangguru, Jack belajar sambil bekerja. Untuk mengasapi dapur rumah tangga, ia keluar masuk bar dan restoran. Di sana, Jack sempat pula menggalang pergaulan dengan para musisi jazz setempat, sambil asah terampil.

Bak pepatah Melayu, sejauh-jauh bangau terbang, balik ke kubangan jua. Ia pun kembali ke Indonesia, setelah Indra tamat belajar musik. Karena tak punya rumah, ia tinggal beberapa bulan di Hotel Sahid Jaya. Sementara, untuk membayar sewa kamar hotel, ia melakukan semacam barter dengan memainkan musik jazz di bar hotel tersebut.

Kini Jack Lesmana telah tiada. Sementara di Indonesia, jazz sudah berkembang dan semakin marak. Klub-klub jazz bermunculan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sejak tahun 1985, sejumlah musisi jazz Indonesia silih berganti berangkat mengikuti festival internasional di Belanda. Setiap minggu, musisi jazz dari mancanegara tampil di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Jack tak sempat merasakan bahwa kini orang sudah bisa bergembira-ria menikmati permainan jazz. Pertanyaannya adalah apakah jazz seperti itukah yang dicita-citakan oleh Jack Lesmana?

Namun, apa pun yang terjadi hari ini, para seniman, pejuang, para idealis, dan pencinta jazz mengakui banyak jejak yang ditinggalkan Jack dalam perkembangan jazz di Indonesia. Bahkan, lebih dari itu, kita semua sepakat bahwa Jack Lesmana adalah salah satu tonggak yang mendukung perjalanan musik jazz modern di Indonesia.

Berbagai peristiwa musik jazz bersifat apresiatif pernah diselenggarakan Jack. Baik di panggung pertunjukan, layar televisi, rekaman, dan acara musik. Jack juga membuka sebuah sekolah pendidikan musik jazz.

Menyebut nama Jack dan Bill bukan untuk mengecilkan musisi jazz lain.
Namun, karena mereka cukup fenomena sebagai orang terdepan jazz di Indonesia.

Unik dan penuh tantangan melihat seorang otodidak seperti Jack menyelenggarakan pendidikan musik. Bahkan Jack pernah dengan bangga mengatakan: teori yang diajarkan adalah metode yang diciptakannya sendiri.

Jack bertangan dingin, memang. Dari dia lahir banyak musisi jazz berbakat dan punya masa depan cerah. Misalnya, Benny Likumahua, Abadi Soesman, Chandra Darusman, Jeffry Tahalele, tak malu-malu menyebut diri mereka sebagai murid Jack.

Tokoh jazz lainnya adalah Amir "Bill" Saragih. Setelah kepergian Jack, putra Batak yang semula ingin menjadi seorang ahli hukum kini merupakan satu dari sekian musisi jazz paling depan di Indonesia. Seperti halnya Jack, Bill saat ini identik dengan jazz. Dia begitu terampil memainkan sejumlah alat musik. Antara lain, flute, saxophone, trompet, vibra phone, dan piano.

Bill juga seorang entertainer profesional, seorang penghibur yang handal. Penampilannya memikat, guyonan dan joke yang dilontarkan selalu segar. Bill bisa memukau penonton di tempat duduk hingga pertunjukannya usai.

Seorang musisi juga dituntut menguasai teknologi. Ia harus terus menimba ilmu. "Bila tidak, suatu saat kita akan kepentok. Dan kita tidak tahu lagi apa yang akan kita perbuat," ujar Bill Saragih dalam sebuah percakapan.

Kesadaran akan pentingnya intelektualitas dalam diri seorang seniman sudah merasyuk dalam diri Amir Saragih sejak muda belia. Karena itu, jangan heran bila Bill pergi "membuang" diri, pergi melanglangbuana. Dia mengunjungi berbagai negeri yang memiliki tradisi jazz. Juga ke beberapa negara tetangga dan akhirnya ke Australia.

Di negeri orang, Bill menimba ilmu. Tak hanya musik, tapi juga kebudayaan setempat. Dia berguru pada siapa saja sepanjang pengembaraannya itu. Selama itu pula ia keluar masuk tempat-tempat hiburan dan main jazz.

Dia "ngamen" di panggung-panggung klub malam, bar, dan restoran. Di Bangkok, Manila, Hongkong, Saigon, sampai ke Jerman. Bill juga berkenalan dengan musisi-musisi jazz dunia. Dia sempat bermain bersama Lionel Hampton, vibrafonis jazz ternama AS, ketika singgah di Bangkok.

Padahal, ketika berangkat meninggalkan kampung halamannya di Simelungun ke Jakarta, cita-citanya adalah menjadi seorang sarjana hukum. Bill malah sempat masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Rupanya panggilan dunia seni lebih besar, sehingga bangku kuliah ditinggalkannya.

Para "jazz lover" pasti trenyuh jika menyaksikan musisi jazz kondang
bermain hanya sebagai penggembira dalam suatu pesta perkawinan.

Akhirnya, Bill berlabuh di Australia. Tinggal di sana bersama istrinya, seorang wanita asal Inggris, dan anak-anaknya. Dia secara tetap main jazz di berbagai klub malam ternama di situ. "Orang bule sempat tak percaya kalau awak ini yang kulitnya berwarna memiliki kemampuan main musik," tutur Bill suatu ketika.

Namun, sebagai orang Batak yang "tebal muka", Bill terus menunjukkan dirinya. Hingga orang mulai melirik dan mengakui keberadaannya. "Kiat lain, jangan pula gampang tersinggung, lalu berhenti main musik, hanya gara-gara disepelekan orang," katanya terbahak.

Dengan modal keterampilan itu sebuah klub jazz di sana bersedia menerimanya. Meski harus bekerja tujuh hari seminggu, Bill tak menyia-nyiakan lowongan kerja itu. "Soalnya awak kan butuh makan," katanya. Di situ Bill bekerja selama tujuh tahun. Namanya mulai dikenal. Sehingga akhirnya ia termasuk dalam kategori musisi jazz yang diperhitungkan di Australia.

Akhir 1980-an, Bill pun pulang kampung. Mulailah ia menapak dari awal. Keluar masuk bar dan restoran. Main dari satu kota ke kota lain. Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dijajaki ketika itu. Turun naik panggung bagai tak kenal lelah. "Menghibur sambil memberikan apresiasi musik jazz adalah amal," katanya dengan raut muka bangga.

Menurut Bill, banyak sudah anak muda suka memainkan musik jazz. "Ini harus dipertahankan dan dipupuk terus," ujarnya. Di Jakarta, Bill mendirikan sebuah kelompok. Dengan modal itulah, ia bermain di pub, restoran, dan hotel-hotel di berbagai kota. Selain itu ia juga mengisi acara khusus jazz di televisi dan radio-radio swasta. Niatnya kini adalah mendirikan sebuah sekolah musik.

Ilustrasi di atas adalah sebuah potret perjalanan jazz di Indonesia. Sebuah gambaran pahit getirnya perjuangan para musisi jazz yang idealis, baik secara individual maupun secara berkelompok. Menyebut nama Jack dan Bill bukan bermaksud mengecilkan musisi jazz lainnya yang tak kalah gigih berjuang.

Pilihan kedua tokoh ini tak lain karena mereka cukup fenomenal. Jack memainkan jazz sejak muda usia, jauh hari sebelum Indonesia merdeka. Dia berangkat dari Jember, sebuah kota kecil di Jawa Timur, lalu menjadi orang terdepan dan terus berkecimpung di jazz hingga akhir hayatnya.

Perbuatan dan kesadaran ini juga berlaku pada Bill Saragih. Padahal, kita semua tahu, di satu sisi musisi jazz dituntut mengembangkan dirinya, sementara di sisi lain ia dituntut pada soal ekonomi untuk menghidupi keluarga.

Karena itu, bukan sesuatu yang mengherankan jika seorang musisi jazz, sering tampil bermain musik pop di panggung atau dalam rekaman. Ini memang untuk memenuhi selera pasar, dan berbarengan dengan itu untuk menghidupi diri si-musisi sendiri.

Barangkali lantaran bercabang dan beragam kegiatan individu para musisi jazz itulah, jazz sulit berkembang. Jazz seolah-olah sulit digali secara intens, tuntas, dan mendalam. Tak ada waktu untuk mencari ilmu dan jurus-jurus baru. Atau, setidaknya, menggali potensi diri sendiri. Itu jugalah yang membuat kita kehilangan kesempatan untuk menangkap suatu yang paling esensial yang oleh para jazz lover disebut sebagai "roh" jazz.

M



Sumber: Matra Nomor 102, Januari 1995

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain