Tampilkan postingan dengan label majalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2026

Tempo Nomor 27/XXXI/2-8 September 2002

ISSN : 0126-4273
Rp 14.700

Biasanya saya gagal paham bila membaca rubrik "Ekonomi & Bisnis". Tapi di Tempo edisi ini ada dua cerita menarik terkait bisnis narkoba dan pertanian. 

Cerita pertama bait-nya terpampang di kover depan: "Tommy Winata di Belakang Bandar Ekstasi Tangerang?" Sebetulnya cerita ini masuk rubrik "KRIMINALITAS". Ada dua judul artikel yang terkait: "Tommy Winata: 'Saya Tak Bersekutu dengan Pembuat Narkoba'" (menampilkan foto yang bersangkutan sedang berkacak pinggang dengan ekspresi menantang) dan "Yang Dikejar Bukti Anyar". Artikel yang pertama itu berisi wawancara dengan Tommy Winata, pengusaha yang dituduh terlibat dalam bisnis ilegal, di antaranya narkoba. Di sini jelas ia menyangkal tuduhan itu serta menyatakan dukungannya dalam mengatasi masalah narkoba. Baru-baru ini saja saya ada ketertarikan pada pelaku bisnis ilegal di Indonesia, sejak menemukan video tentang Freddy Budiman di YouTube (dan katanya ada Freddy lainnya yang belum tertangkap?). Freddy Budiman sudah terlibat dalam bisnis narkoba sejak SMA, kemudian menjadi pengusaha skala internasional, hingga akhirnya dihukum mati, tapi masih sempat bertobat. Omong-omong soal Freddy, The Panas Dalam punya lagu judulnya "Freddy Preman Karbitan". 


Cerita kedua mengenai kasus investasi agrobisnis PT QSAR yang berujung tekor sehingga dirutnya ditahan. Kasus ini sebetulnya sudah diangkat sedari Tempo edisi sebelumnya. Dalam artikel-artikel ini terdapat edukasi mengenai investasi. Saya merasa investasi itu seperti berjudi: mengeluarkan uang untuk mendapatkan lebih banyak uang. Hanya saja: 1) uang yang dikeluarkan itu untuk membiayai usaha orang lain, 2) yang diharapkan hanya keuntungan sedangkan risiko kerugian kurang diperhitungkan, padahal usaha bisa mengalami naik turun. Barangkali dalam Islam, investasi semestinya diniatkan lebih untuk membantu sesama ketimbang untuk meraih keuntungan pribadi (paling-paling, pahala dari Allah); kalaupun mendapatkan keuntungan dari bagi hasil usaha, itu bonus. 

Untuk mendapatkan kepercayaan calon investor, PT QSAR punya trik menggaet pejabat (halaman 105). Sekarang istilahnya endorsement kali ya, yaitu menggaet tokoh/pesohor/orang ternama supaya orang lainnya yang bukan siapa-siapa tertarik untuk melirik produk yang ditawarkan. Khususnya dengan pejabat, keuntungan yang diperoleh pengusaha, selain untuk mendongkrak popularitas yang notabene jalan pintas meyakinkan calon investor, adalah mencari "pengamanan".

Sebenarnya PT QSAR bukan perusahaan bodong. Usahanya riil, dan masih ada orang-orang yang memandangnya secara positif, layak diteruskan. Permasalahannya adalah: dirutnya suka mengibul, dana disalahgunakan untuk investasi lain, dan investor tidak siap menanggung kerugian.

Layanan Rumah Sakit Sint Carolus (halaman 8)

Ini surat dari pembaca yang memuji pelayanan RS St. Carolus. Kiranya sedari dahulu pelayanan rumah sakit ini sudah memberikan kesan positif, simak saja lagu lawas yang judulnya "Berpisah di St. Carolus".


Menurut hasil googling, RS St. Carolus didirikan awal abad 20 oleh biarawati-biarawati Katolik Kongregasi St. Carolus Borromeus. Borromeus itu nama rumah sakit Katolik di Bandung. Ada teman yang juga pernah memuji pelayanan rumah sakit tersebut ketika ayahnya sedang dalam momen kritis. Padahal ayahnya tidak mau meninggal di rumah sakit nonmuslim, tapi setelah mendatangi beberapa rumah sakit, mau tidak mau, di sanalah beliau mengembuskan napas terakhir dikelilingi anak-anaknya yang membimbing untuk mengucapkan syahadat. 

St. Carolus punya cabang juga di Yogyakarta yang kemudian bernama Panti Rapih.

Tentang Seorang (Anak) Lelaki (halaman 125)

Ini ulasan film About A Boy oleh Leila S. Chudori. Film ini berdasarkan novel karya Nick Hornby, dibintangi oleh Hugh Grant, Rachel Weisz, Nicholas Hoult, dan Toni Collette. Lagu soundtrack-nya, "Silent Sigh" oleh Badly Drawn Boy, dulu sering tayang di MTV. Lagu-lagu lainnya dari Badly Drawn Boy enak juga loh.


Beberapa artikel menyangkut sejarah (klik judul untuk membaca salinan artikel): 

"Wangsit", kolom Onghokham mengomentari peristiwa pembongkaran batu tulis oleh Menag.

"Kanguru dalam Permesta", resensi buku Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/Permesta.


Selasa, 02 September 2025

Tempo Nomor 26/XXXI/26 Agustus – 1 September 2002

Rp 14.700

ISSN : 0126-4273

Laporan utama dalam Tempo edisi ini mengenai menteri agama ketika itu, Said Agil Husin Al Munawar, yang memerintahkan penggalian harta di bawah prasasti Batu Tulis, Bogor. Ini mengherankan, sebab sang menteri sebelumnya memiliki reputasi bagus, baik dari segi keilmuan agama maupun karakter. Harusnya menegakkan tauhid, kok malah percaya klenik. Memang niatnya untuk membayar utang negara, tapi sayang harta itu tak ditemukan. Presiden menyangkal sudah kasih izin. Masyarakat Sunda marah karena itu tempat yang sakral bagi mereka. Terkait laporan ini, “Jejak Kerajaan dengan 40 Gajah” menceritakan sejarah prasasti tersebut.

Sisipan “iQra” menyajikan cerita kejatuhan keluarga Soeryadjaya. Untuk menyelamatkan usaha yang satu—Bank Summa, dikorbankan usaha yang lain—Astra. Di balik kisah ini, ada drama kasih sayang seorang ayah kepada putra sulungnya.

“Tanpa Kerut di Atas Kening” (halaman 80-81) melaporkan konser The Cranberries di Tennis Indoor Senayan. Sekitaran waktu ini, lagu “Stars” sering ditayangkan di MTV, dan dirilis dalam album Stars: The Best of 1992-2002, yang sering pula saya putar sembari menyendiri di kamar. Artikel ini juga menyoroti sosok sang vokalis, Dolores O’Riordan, yang rupanya memiliki problem konsumsi minuman keras yang berlebihan, bertolak belakang dengan lagunya sendiri, “Salvation”, yang mengimbau bahwa menenggak minuman beralkohol bukan satu-satunya cara keluar dari persoalan hidup. “Entah kenapa, dunia seperti memaafkannya,” kata penulis artikel ini, membuat saya merenung lagi kenapakah musik tak disukai dalam Islam: Itulah kekuatan musik. Kita memaafkan mereka yang mabuk, ngedrugs, berzina, karena telah memberikan hiburan yang nikmat bagi kita.

Jangan Kirim Hanya Kata-kata” (halaman 88-89) berisi “sejarah” perkembangan handphone, yang ketika itu baru, atau sudah?, dapat mengirimkan pesan bergambar dan berwarna (foto, animasi, audio) yang disebut dengan MMS (multimedia messaging service) secara terbatas. Di Indonesia, layanan ini baru bisa dinikmati lewat IM3, dengan harga Rp 1.000 sekali kirim, dan hanya pada HP tertentu, seperti Nokia 7650 serta Sony Ericsson T68I dan P800 yang harganya 4-6,3 juta, dengan kapasitas memori terbatas dan resolusi gambar belum prima. Nokia 7650, contohnya, memiliki memori hanya 3,6 MB atau 32 frame foto. Selain itu ada kendala sinyal operator. Untuk mengunduh, sinyal harus stabil, sedangkan kalau sambil naik mobil atau lift bisa putus. Lah, sampai sekarang—dua puluhan tahun kemudian—mau diam saja di kamar pun, sinyal IM3 tetap putus-putus. Belum lagi, pulsa tiba-tiba terpotong 🙃

(Karena ada trouble untuk login ke Wordpress--setelah sebelumnya kudu via Jetpack dulu--untuk seterusnya catatan pembacaan majalah dilanjutkan di blog ini saja. Catatan pembacaan majalah sebelumnya di: https://berjurnalitan.wordpress.com/category/majalah/.)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain