Sabtu, 11 Mei 2019

Crescent in the Sky (The Mechanical Sky # 1)

Gambar dari Goodreads.
Dari
"The Case for Fictional Islam" saya mengetahui novel ini dan mulai membacanya dalam rangka Ramadan, juga karena ukurannya yang relatif kecil. Tetapi, tentu saja ini bukan bacaan kecil. Jarang-jarang saya membaca fiksi sains. Ketertarikan pada fiksi sains yang satu ini pun karena dunianya dibangun berdasarkan referensi keislaman oleh penulis yang--menurut ulasan lain di sini--nonmuslim. 

Sebelum memulai cerita, penulis mengutip Alquran Surah Al-Jinn ayat 8. Membaca terjemahan dari ayat tersebut, novel ini seolah-olah menjadi suatu bentuk tafakur imajinatif. Membandingkan novel ini dengan novel-novel berkategori spiritual di Storial dan Wattpad, yang acap menyelipkan ayat-ayat Alquran di tengah-tengah narasi, menjadi perenungan akan perbedaan level tafakur imajinatif antara bapak-bapak bule dari AS yang sudah makan asam garam dan gadis-gadis Indonesia yang masih bau telon. Hal ini penting untuk dicermati mengingat perintah untuk memikirkan ayat-ayat Alquran beserta membaca ayat-ayat Allah yang tidak akan habis ditulis oleh tinta sebanyak lautan di bumi sekalipun: hasilnya mau berupa novel fiksi sains futuristik atau novel romance dengan narasi cair dan pin up model pria tampan kearab-araban? Keduanya sama-sama ngimpi tetapi dalam level yang sangat berbeda.

Karena saya tidak familier dengan fiksi sains, ditambah pemahaman bahasa Inggris yang kurang, maka pembacaan novel ini cukup sulit. Banyak bagian yang luput dari penangkapan. Meski begitu, sesekali terselip humor yang dapat sedikit menyegarkan pembacaan.

Beginilah kurang lebih garis besar ceritanya: Islam telah menguasai seluruh Bumi, bahkan sampai mendirikan koloni di Mars. Akan tetapi, pemerintahan di Mars kacau balau gara-gara pemimpinnya--yang disebut Emir--haus kekuasaan. Para masa itu, teknologi kloning sudah maju sehingga manusia dapat membuat binatang-binatang aneh yang sesuai dengan kondisi di Mars. Kloning manusia juga sudah dilakukan, tetapi sepertinya terbatas hanya untuk mengganti bagian tubuh yang rusak. Kloning manusia secara utuh agaknya hanya dilakukan oleh Emir, tetapi masih belum sempurna. Hasil kloning Emir, walaupun secara fisik menyerupai, tetapi secara mental seperti bayi yang baru lahir saja.

Untuk melanggengkan kekuasaan, Emir yang menua suka mengganti tubuhnya dengan hasil kloning yang lebih muda. Akan tetapi, suatu ketika, saat dilakukan operasi terbuka--yang berarti dapat ditonton orang banyak--terjadi serangan teroris. Operasi itu pun terhenti dan kepala Emir yang tadinya hendak dipasangkan dengan tubuh baru jadi tidak jelas nasibnya. Emir pun digantikan oleh hasil kloningnya yang utuh: Bobo. Karena tingkah Bobo yang masih seperti anak kecil, ia didampingi oleh pejabat-pejabat atau semacam itu. Di antara penasihatnya, ada orang jahat bernama Ismail yang menyugestikan Bobo agar menghukum orang-orang yang tidak ia senangi.

Tokoh utama novel ini seorang pemuda-belum-tiga-puluh-tahun bernama Hamid Jones, yang bekerja sebagai teknisi kloning. Sejak operasi Emir yang gagal itu, bosnya dilenyapkan, dan entah bagaimana kemudian ia terlibat dalam intrik politik atau semacam itu, gara-gara kegemarannya mencari-cari kesempatan untuk menarik perhatian putri si bos. Hamid Jones pun mengalami pasang-surut, mulai dari naik jabatan, dapat pembantu yang mencurigakan, dijebak melalui putri si bos, kabur dengan kuda Emir, bertemu koloni Badui, ditangkap dan dijebloskan ke penjara, hingga akhirnya diselamatkan oleh seorang ambasador untuk suatu misi, yang akan diuraikan pada novel kedua.

Menarik bahwa dalam kekuasaan Islam ini teknologi kloning justru maju. Padahal, menurut yang sedikit saya ketahui, bukankah teknologi kloning merupakan isu kontroversial yang bertentangan dengan agama? Dari sedikit hasil penelusuran saya, dalam Islam agaknya halal-haramnya kloning--khususnya terhadap manusia--masih belum tentu.

Kembalinya kejayaan Islam merupakan impian para aktivis dakwah, diusung dengan berbagai istilah: "negara Islam", "khilafah", apalah. Novel ini seolah-olah hendak mewujudkan impian utopis itu, yang ternyata, menurut novel ini sih, tidak ideal amat--setidaknya begitulah penangkapan saya. Singkatnya: kejayaan Islam boleh kembali, tetapi manusia tetaplah manusia; ada saja yang licik, rasis, menyebalkan, serbakomersial, haus kekuasaan, dan sebagainya. Malah, semestinya kita berefleksi: memang apa sebabnya sih sampai peradaban Islam yang pernah emas sebelumnya sampai runtuh? Sepertinya bukan semata karena faktor eksternal seperti serangan bangsa kafir. Penulis yang nonmuslim bisa saja memendam maksud tertentu terhadap Islam, tetapi bisa juga novel ini dijadikan bahan renungan oleh umat muslim.

Minggu, 05 Mei 2019

Orang Arab di Nusantara

Gambari dari Goodreads.
Bisa dibilang judul buku ini agak menyesatkan karena memberikan kesan bahwa orang Arab yang diceritakannya merupakan orang Arab pada umumnya, yang mencakup kawasan Timur Tengah yang luas. Padahal kajian ini mengkhususkan pada orang Arab yang berasal dari Hadramaut. Pada judul aslinya sendiri yang (sepertinya) berbahasa Perancis terdapat kata "Le Hadhramout". Apa judul Indonesia yang spesifik akan semakin mengurangi minat calon pembaca? Kesannya jadi seolah-olah orang Arab Hadramaut dapat mewakili orang Arab secara keseluruhan. Atau memang populasi orang Arab di nusantara kebanyakan datang dari Hadramaut?

Isinya sendiri sangat mendetail, khususnya mengenai perjalanan dari satu tempat ke tempat lain di seputar Hadramaut sampai menyebutkan berapa kilometer ke arah mana, yang bisa jadi membosankan bagi pembaca masa kini yang untuk mengetahui keadaan geografis suatu tempat tinggal buka Google Map.

Selanjutnya merupakan kajian sosiologis menarik tentang kesederhanaan hidup masyarakat Hadramaut yang bisa dibilang semuanya muslim. Meski demikian, penyimpangan selalu ada. Orang-orang Hadramaut yang merantau ke nusantara kemungkinan yang hidupnya kurang nyaman di kampung halaman. Niat mereka di nusantara pun belum tentu untuk menyebarkan misi keagamaan. Malah ada di antara mereka yang menjadi penjahat, termasuk pelaku riba yang selangit. Latar keislaman maupun keturunan Nabi Muhammad SAW (sayid) juga tidak menjamin hilangnya superioritas ras. Seolah-olah, riba dan rasisme merupakan karakteristik Arab yang tidak akan lekang sejak zaman jahiliyah sampai berabad-abad kemudian.

Setidaknya, demikianlah pandangan penulis yang orang Belanda. Perlu diperhatikan bahwa buku ini terbit pada 1886. Pada waktu itu rasisme di tanah jajahan lebih kental daripada sekarang. Maka bisa dikatakan sudut pandang penulis sendiri terpengaruh oleh zamannya.

Secara keseluruhan terjemahan buku ini sangat lancar, sampai saya lupa bahwa konteksnya tahun 1886 ke bawah alih-alih belakangan. Tapi adakalanya saya menemukan kalimat terlalu panjang.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain