Tampilkan postingan dengan label The Harper Anthology of Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Harper Anthology of Fiction. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

Pembacaan Ernest Hemingway Sejauh(dekat—deng) Ini

Potret Hemingway yang pernah saya
Ernest Hemingway sepertinya salah satu penulis Amerika Serikat paling kesohor, termasuk di Indonesia. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Salah dua di antaranya yang saya sudah baca adalah kumpulan cerpen Salju Kilimanjaro serta novel Pertempuran Penghabisan. Keduanya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, dan boleh dipinjam dari perpustakaan universitas asal kartu anggotanya masih valid. Jujur saja, secara umum pembacaan keduanya tidak membekas bagi saya. Padahal, Hemingway, lo. Pengarang termasyhur! Kurang hebat apa dia? Boleh jadi karena tiga faktor: (1) Gaya penulis; (2) Terjemahan; (3) Dan pastinya, rendahnya daya tangkap pembaca (ehm). Mengenai gaya penulis, Hemingway dikenal dengan gayanya yang objektif serta menerapkan prinsip “gunung es”, yakni: apa yang disuguhkan pada pembaca itu baru 1/8 bagian daripada maksud pengarang—selebihnya ditenggelamkan di bawah permukaan. Pembaca mesti berupaya lebih untuk dapat memahami makna cerita. Mengenai terjemahan, saya tidak hendak mempermasalahkannya sih lagipun dalam catatan saya memang tidak ada keluhan soal itu. Nah, mengenai rendahnya daya tangkap pembaca inilah yang bikin faktor pertama dan kedua jadi tiada artinya, ha-ha-ha. Karena itulah, catatan pembacaan ini ditulis untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. (?)

Sumber
Catatan pembacaan saya atas Salju Kilimanjaro bertanggal “181107”. Terutama saya menyalin ciri-ciri daripada gaya kepenulisan Hemingway (dalam pengantar yang ditulis oleh Melani Budianta) yang saya rasa menggugah. Adapun komentar saya terhadap cerpen-cerpen dalam kumpulan itu sendiri cuman begini:

Cerita-cerita yang di tengah itu kadang agak enggak jelas maksudnya apa, terutama Father and Son.
Salju Kilimanjaro (√)
Tempat yang Bersih dan Tenang (gitu deh)
Sehari Menunggu Maut (ini nih, lucu punya, paling kusuka)
Penjudi, Perawat, dan Radio (lumayan)
Ayah dan Anak (hh)
Di Negeri Asing (hm)
Pembunuh Bayaran (lumayan)
Goncangan Jiwa Seorang Berkas Sedadu (yang mana ya?)
Lima Puluh Ribu Dolar (ah, enggak begitu…)
Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat (butuh banyak lembar untuk membangun suasana, tapi akhirannya oke juga)

Mohon dimaklumi. Pada masa itu saya baru memulai kebiasaan menuliskan pembacaan. Peace.

Kover Pertempuran Penghabisan
(alias A Farewell to Arms edisi
Indonesia) ada beberapa versi.
Sepertinya saya baca yang kovernya
ini. Sumber.
Bagaimanapun dalam catatan pembacaan karya Hemingway berikutnya, Pertempuran Penghabisan, yang bertanggal “051208”, saya mengatakan kalau saya terkesan dengan Salju Kilimanjaro walau ada beberapa cerpen di dalamnya yang saya tidak mengerti, dan akibatnya saya “sempat menjadikan Hemingway sebagai penulis favorit…” (O_o). Tapi setelah Pertempuran Penghabisan, saya “enggak bisa lebih lama mempertahankan itu.” (ah, labil!) Saya menulis: “…ceritanya… kurang gimana gitu. … aku enggak menangkap esensi lain selain perdamaian itu. … bukan novel yang bisa aku rekomendasikan…” Salju Kilimanjaro masih mending.

Begitulah. Lima tahun berselang. Kali ini saya dihadapkan pada cerpen “Hills Like White Elephants” yang dirilis pada 1927. Teks dalam bahasa Inggris bisa diakses di sini. Terjemahan cerpen ini dalam bahasa Indonesia bisa ditemukan dalam buku Antologi Cerpen Nobel (ed. Wendoko) yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang—cetakan yang ada pada saya adalah yang pertama, Mei 2004—juga di Fiksi Lotus. Pertama-tama, saya membaca cerpen ini sekali dalam teks bahasa Inggris. Pembacaan pertama dalam bahasa Inggris biasanya tidak langsung mengena, buat saya. Khusus untuk “Hills Like White Elephants”, kendati bahasanya cukup simpel dan kesannya pun cair karena didominasi oleh percakapan, saya masih belum dapat menangkap seketika masalah apa yang dikemukakan.

Jadi ada sepasang laki-laki dan perempuan di sebuah bar di area stasiun. Mereka tengah menunggu kereta dari Barcelona yang menuju ke Madrid. Yang laki-laki berasal dari Amerika sedang yang perempuan tidak disebutkan dari mana, namun ia dipanggil “Jig” dan tidak mengerti bahasa setempat. Yang laki-laki tampaknya lebih tahu mengenai berbagai hal daripada yang perempuan. Mulai dari minuman, komunikasi dengan wanita setempat, sampai sesuatu mengenai operasi. Cuaca amat panas dan di sekeliling area tersebut terdapat pemandangan alam. Menurut yang perempuan, bukit-bukit di sekitar situ tampak seperti gajah-gajah putih. Namun yang laki-laki tidak begitu terkesan, malahan membujuk yang perempuan untuk mengikuti “operasi”. Yang perempuan merajuk, sementara yang laki-laki terus mengkhawatirkannya. Pada akhirnya yang perempuan mengatakan kalau ia baik-baik saja.

Source

Sampai mata saya menyoroti barisan pertanyaan di sesi TOPICS FOR DISCUSSION AND WRITING. Ada kata “abortion” di sana. Kalau ada istilah momen “AHA”, maka yang saya rasakan pada waktu itu adalah momen “OH”. Jadi ini cerita tentang aborsi. Yang dimaksud yang laki-laki dengan “operation” adalah “abortion”. Yang laki-laki membujuk yang perempuan untuk melakukan aborsi namun yang perempuan keberatan makanya ia seperti merajuk.

Saya kemudian membaca terjemahan versi Antologi Cerpen Nobel. Tentu saja tidak ada barisan pertanyaan sesudahnya. Kalau saya membaca cerpen ini begitu saja dalam buku tersebut tanpa membaca keterangan mengenainya, saya mungkin akan meninggalkannya begitu saja tanpa kesan apa-apa. Tidak ada kata “aborsi”—“abortion”—sama sekali dalam teks. Dan pembaca sebaiknya telah memiliki pengetahuan yang luas mengenai simbol karena petunjuk mengenai aborsi ternyata terpendam dalam kiasan “bukit-bukit bagai gajah putih”. Bahkan judul cerpen itu sendiri sudah mengindikasikan hal tersebut! Dari keterangan soal aborsi itu kita tahu kalau yang perempuan jangan-jangan hamil. Bukit-bukit yang tampak seperti gajah-gajah putih itu diibaratkan sebagai payudara dan atau perut yang membesar (seperti gajah) ketika seorang perempuan hamil. (Apalagi kalau perempuan tersebut adalah seorang kaukasoid—berkulit putih.)

Terjemahan versi Fiksi Lotus agaknya mencoba untuk memperjelas sedikit cara penyampaian dalam cerpen tersebut. (Walau pembubuhan judul yang tidak sesuai dengan pengertian daripada judul aslinya itu jadinya malah mengaburkan “simbol”/”petunjuk” yang padahal sudah diberikan sejak awal sekali.) Ditambah dengan adanya poin-poin diskusi dan beberapa tanggapan, makna cerpen ini pun menjadi lebih jelas lagi.

Yah, orang bisa menginterpretasikan apapun dari detail-detail yang dianggapnya simbol. Itu pulalah yang membantu kita dalam memahami makna cerita.

Hemingway dipuja-puji karena gayanya yang teramat (kalau bukan keterlaluan) efisien ini. Tapi bagi pembaca yang karakternya “malas berpikir” macam saya, hasilnya hampir-hampir tidak menempel. Kurang menyentuh perasaan. Boleh jadi gaya yang “objektif” itu pulalah yang menjadikannya terasa dingin, datar. Konon, Hemingway itu “…tidak suka membuat kalimat atau paragraf yang terlalu panjang karena khawatir pembacanya justru sulit menangkap/mengerti…” (sumber: sini). Selain itu, menurut kutipan dalam pengantar Salju Kilimanjaro, halaman xvii, “…karya Hemingway bisa digolongkan teks yang writersly, yang mengundang pembacanya untuk ikut menulis, mengisi makna dan interpretasi di antara/di balik baris-baris kalimat yang tersedia.” Tapi kok bagi saya kalimat atau paragraf yang panjang itu lebih baik, asal jelas dan bahasanya sederhana, tidak bertele-tele. Selain itu, masalah mengundang-untuk-ikut-menulis-atau-tidak itu relatif sekali dan agaknya saya tidak perlu memperpanjang corat-coretan ini dengan membahas soal itu. Bisa juga karena Hemingway mengusung tema-tema yang tidak dekat dengan kehidupan saya, semisal asmara dan petualangan, makanya saya tidak tergugah olehnya. (kering sekali hidupmu, day.)

Hemingway memenangkan penghargaan Nobel untuk kategori Sastra pada 1954. (Dan tidak semua pemenang Nobel Sastra seterkenal dia, ya toh?) Maka, katanya begitulah yang dinamakan “karya sastra”. Sebentuk tulisan yang digarap dengan “cantik” dan tidak cukup dibaca sekali melainkan harus diiringi dengan perenungan. Tidak hanya harus berpikir ekstra, pembaca kalau perlu juga mencari keterangan dari manapun—komentar, kritik, biografi penulis, dan sebagainya—supaya lebih mudah baginya memahami karya tersebut. Mencerdaskan, atau merepotkan? Kalau ingin cerdas mesti rela repot kali ya… hm…[] 

Kamis, 27 Maret 2014

“Kekukuhan” [Virginia Woolf, 1918]

Catatan: Ini lebih tepat disebut "menyederhanakan" ketimbang "menerjemahkan". Kalau pemahamanmu terhadap bahasa Inggris cukup baik, baik, baik sekali, atau sangat baik, saya sarankan untuk membaca teks ini saja. Saya pernah membicarakan cerpen ini sebelumnya di sini. Memang pada awalnya cara pengungkapan dalam cerpen ini terasa mengerikan, namun setelah meniliknya kata demi kata, terasa kepedihannya :-| Mudah-mudahan upaya penyederhanaan ini cukup enak dibaca. 

Tambahan: Atas saran Kang Andika, saya ganti judul cerpen ini, yang asalnya "Benda Pejal", dengan yang rasanya lebih tepat: "Kekukuhan".


Satu-satunya yang bergerak di lingkar pantai itu adalah sebuah titik hitam kecil. Titik itu mendekati rangka sampan yang terdampar. Dari kepekatannya yang merenggang, terlihat bahwa titik itu memiliki empat kaki. Sebentar kemudian, makin tak teragukan lagi bahwa titik itu terdiri dari dua orang pemuda. Bahkan pada bayangan yang melekat di pasir, tampak adanya semangat yang tak tergoyahkan dalam diri mereka. Daya hidup yang tak terperikan dalam ayunan tubuh mereka, walau sedikit, mengejawantah dalam perdebatan sengit yang keluar dari mulut di kepala-kepala bundar kecil itu. Terlihat dalam jarak yang lebih dekat, terjangan yang berulang-ulang dari sebatang tongkat di sisi kanan. ‘Maksudmu… Kamu benar-benar yakin…’ demikian tongkat di sisi kanan dekat ombak itu seolah menegaskan, seraya menyabet pasir hingga membentuk garis-garis lurus nan panjang.

‘Persetan dengan politik!’ keluar dengan jelas dari orang di sisi kiri. Seiring dengan diutarakannya kata-kata itu, mulut, hidung, dagu, tipisnya kumis, topi wol, sepatu bot, mantel berburu, dan kaos kaki dua orang yang bicara itu menjadi semakin jelas saja. Asap dari pipa mereka membumbung ke udara. Tidak ada yang begitu kukuh, begitu hidup, begitu solid, bergejolak dan kuat sebagaimana dua raga tersebut sepanjang mil demi mil lautan dan gunungan pasir.

Mereka mengempaskan diri di dekat sampan. Keduanya tampak menghentikan perdebatan, dan menginsafi suasana; siap membicarakan hal yang baru—apapun itu. Charles, empunya tongkat yang sedari tadi mengiris-iris pantai sepanjang kurang lebih setengah mil, mulai meluncurkan lempengan-lempengan batu ke atas air; dan John, yang tadi menyerukan ‘Persetan dengan politik!’ mulai menggali-gali dengan jemarinya hingga jauh ke dalam pasir. Seiring dengan tangannya yang semakin masuk sampai melewati pergelangan, sehingga ia harus mengangkat lengan bajunya sedikit ke atas, sorot matanya meredup. Pudar segala pikiran dan pengalaman yang membubuhkan nuansa pada mata seorang dewasa, menyisakan pandangan yang polos dan jernih, tak mengungkap suatu apa selain keingintahuan, bagai mata bocah. Tak disangsikan lagi penggalian pasir itu menghasilkan sesuatu. Diingatnya bahwa, setelah menggali sebentar, air memancar mengelilingi jemari; lubang itu kemudian menjadi semacam parit; sumur; mata air; lorong rahasia menuju laut. Selagi menerka-nerka apa yang tengah dibuatnya, masih meraba-raba di dalam air, jemarinya menggenggam sesuatu yang keras—segumpal benda pejal—dan sedikit demi sedikit menarik bongkahan tak beraturan yang besar itu, dan mengangkatnya ke permukaan. Setelah dibersihkan dari pasir yang menyelimutinya, warna hijau terlihat. Benda itu berupa bongkahan kaca, saking tebalnya sehingga hampir tidak tembus cahaya; antengnya lautan telah mengikis sepenuhnya bagian tepi atau bentuk benda itu, sehingga sulit dikatakan apakah dulunya itu botol, gelas atau kaca jendela; bukan apapun melainkan kaca; hampir menyerupai batu mulia. Tinggal direkatkan pada lempengan emas, atau dilubangi dengan kawat, jadilah perhiasan; bagian daripada kalung, atau cahaya hijau majal pada jari. Bagaimanapun juga boleh jadi ini benar-benar permata; dikenakan oleh seorang Putri yang misterius, yang menyeret jarinya di air selagi duduk di buritan sampan dan mendengarkan budak-budaknya menyanyi sembari mendayung melintasi Teluk. Atau ada peti harta karun, dari lambung kapal kayu era Elizabeth yang tenggelam, pecah, dan isinya yang berupa zamrud berguling terus, terus-menerus, sampai akhirnya terdampar di pantai. John memainkan benda itu di tangannya; ia mengarahkannya pada cahaya; ia menggerakkannya hingga agregat yang tak beraturan itu mengaburkan bayangan dan memperpanjang lengan kanan kawannya. Warna hijaunya menipis dan menebal sepintas-sepintas ketika diposisikan pada matahari. Rasanya menyenangkan sekaligus mengherankan; benda itu begitu keras, begitu padat, begitu nyata dibandingkan dengan lautan yang tampak samar maupun pantai yang berkabut.

source
Helaan napas mengusiknya—dalam, penghabisan, menyadarkannya bahwa kawannya Charles telah melemparkan semua batu ceper dalam jangkauannya, atau telah menyimpulkan bahwa membuang-buang waktu saja melemparkan semua  itu. Mereka memakan roti lapis mereka bersisian. Seusai makan, sembari menggerak-gerakkan tubuh dan bangkit, John mengambil bongkahan kaca itu dan memandangnya dalam bisu. Charles mengamatinya juga. Tapi lekas ia melihat bentuknya yang tidak ceper, lalu seraya mengisi pipanya ia berucap dengan semangat untuk mengendurkan tegangnya pikiran nan bebal.

‘Kembali pada yang kukatakan tadi—‘

Ia tidak melihat, atau kalaupun ia melihat ia hampir tidak akan memerhatikan, bahwa John setelah memandang bongkahan itu sesaat, seakan dalam keragu-raguan, menyelipkannya ke dalam saku. Dorongan itu agaknya seperti dorongan yang menggerakkan seorang anak untuk memungut batu kerikil yang bertebaran di jalan, menjanjikannya kehidupan yang hangat dan aman di atas rak perapian di kamar, menikmati kemesraan sekaligus kelembutan daripada perbuatan tersebut, dan memercayai bahwa batu tersebut memiliki hati yang melompat-lompat gembira kala mengetahui dirinyalah yang terpilih dari sejuta yang sepertinya, untuk menikmati kebahagiaan ini daripada kehidupan yang dingin dan basah di jalanan. ‘Dari sekian juta batu bisa saja yang lain yang diambil, tapi toh aku, aku, aku!”

Entahkah pikiran itu ada atau tidak dalam benak John, bongkahan kaca itu telah ditempatkan di atas rak perapian, memberati setumpuk tagihan dan surat, dan tidak saja menjadi pemberat yang baik untuk kertas-kertas, tapi juga sebagai tempat pemberhentian alami bagi mata pemuda itu ketika teralih dari bukunya. Menatapnya lagi dan lagi separuh sadar, sementara benak memikirkan hal lain, bercampur dengan isi pikirannya sehingga bentuk benda itu menjadi lain daripada sebenarnya. Benda itu mengubah sendiri bentuknya, sedikit saja bedanya dari semula, menjadi sempurna, dan menggentayangi otak tanpa sedikitpun diharapkan. Demikian John merasakan dirinya tertarik ke jendela toko barang antik ketika ia sedang keluar berjalan-jalan, semata karena ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada bongkahan kaca tersebut. Apapun selama itu adalah benda yang serupa, lebih kurang bundar bentuknya, boleh jadi dengan nyala yang redup terpendam dalam kompositnya, apapun—porselen, kaca, ambar, batu, marmer—bahkan telur burung prasejarah yang jorong mulus. Ia juga memasang matanya di atas tanah, terutama di sekitar lahan pembuangan sampah rumah tangga. Benda semacam itu sering kali terdapat di sana—dibuang, tak berguna lagi bagi siapapun, tak berbentuk. Dalam beberapa bulan ia telah mengumpulkan empat atau lima spesimen yang ditempatkannya di atas rak perapian. Bagi seorang lelaki yang tengah memiliki kedudukan di Parlemen dan berada di ambang karier yang brilian, benda-benda itu berguna untuk menahan kertas-kertas agar tetap rapi—pidato untuk para pendukung, deklarasi kebijakan, permohonan untuk tanda tangan, undangan makan malam, dan seterusnya.

Satu hari, ketika dalam perjalanan mengejar kereta dari tempat tinggalnya di Temple untuk berpidato pada para pendukungnya, matanya berlabuh pada benda aneh yang setengah tersembul di salah satu pagar rumput yang membatasi halaman sederet bangunan luas. Ia hanya bisa menyentuh benda itu dengan ujung tongkatnya melalui susuran tangga; tapi ia bisa melihat bahwa benda itu berupa sepotong porselen dalam bentuk yang sangat mengagumkan, hampir menyerupai bintang laut—dibentuk, atau secara kebetulan, menjadi lima sudut yang tidak beraturan namun tegas. Warnanya sebagian besar biru, namun dilapisi semacam garis-garis atau titik-titik hijau, dan adanya garis-garis merah tua menambah kesempurnaan serta kilauan yang amat memikat. John tergerak untuk memilikinya; tapi semakin ia berusaha, semakin jauh benda itu mundur ke belakang. Pada akhirnya ia terpaksa kembali ke tempat tinggalnya dan membuat cincin kawat sekadarnya yang dikaitkan dengan ujung tongkat. Dengan amat terampil dan hati-hati, ia berhasil menarik potongan porselen itu ke dalam jangkauan tangannya. Begitu ia dapat meraihnya, ia berseru dalam kemenangan. Pada saat itulah jam berdentang. Tidak mungkin ia dapat memenuhi janjinya. Pertemuan dijalankan tanpa dirinya. Tapi bagaimana bisa sepotong porselen terpecah menjadi bentuk yang semenakjubkan ini? Setelah diamati dengan saksama, pastilah bintang ini terbentuk secara kebetulan, yang justru membuatnya makin unik. Tak mungkin ada yang lainnya dalam kehidupan ini. Ditempatkan di ujung yang berlawanan pada rak perapian dengan bongkahan kaca yang digali dari pasir, benda itu tampak seperti makhluk dari dunia lain—ganjil dan luar biasa warna-warninya. Berputar-putar di angkasa, cahayanya berkedip-kedip bak bintang gemerlap. Kontras antara porselen yang begitu mencolok dan tajam, dan kaca yang begitu hening serta membangkitkan perenungan, memesonakan dirinya. Terheran-heran sekaligus terkagum-kagum ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana keduanya dapat berada di dunia yang sama, apalagi bersanding bersama bebatuan lainnya dalam satu bidang sempit di ruangan yang sama. Pertanyaan itu tak kunjung terjawab.

Kini ia mulai menyambangi tempat-tempat yang paling banyak menyimpan potongan porselen, seperti bagian-bagian daripada lahan pembuangan di antara rel kereta, tapak-tapak rumah yang telah dirobohkan, dan ruang-ruang publik di kawasan London. Namun jarang porselen yang dibuang dari ketinggian tertentu; perbuatan yang paling jarang dilakukan oleh manusia. Kemungkinannya bisa diperoleh apabila di sebuah rumah yang teramat tinggi terdapat wanita yang kelakuannya sembrono serta memiliki prasangka yang menggebu-gebu, menjatuhkan guci atau jambangannya dari jendela tanpa berpikir siapa yang sedang berada di bawah. Cukup banyak potongan porselen yang bisa dijumpai, tapinya pecah akibat kejadian rumah tangga biasa, tanpa maksud atau dasar tertentu. Meskipun begitu, ia sering heran, seiring dengan makin mendalam pertanyaan-pertanyaan yang dipikirkannya, akan banyaknya variasi bentuk yang dijumpai di London saja. Dan masih ada banyak lagi yang menjadi keheranan dan pemikirannya dalam hal kualitas dan pola. Spesimen yang paling baik akan dibawanya pulang dan ditempatkan di atas rak perapiannya, padahal, biarpun begitu, kegunaan mereka lebih seperti hiasan alami belaka, semenjak kertas-kertas yang perlu diberi pemberat telah berkurang jumlahnya dan semakin jarang.

Ia mengabaikan pekerjaannya, boleh jadi, atau menunaikannya dengan lalai. Para pendukungnya kala mengunjunginya tidak begitu terkesan dengan penampakan rak perapiannya. Bagaimanapun ia tidak terpilih menjadi wakil mereka di Parlemen. Kawannya Charles sangat iba dan lantas turut berduka dengannya, mendapatinya dalam kesedihan akibat musibah tersebut, hingga ia hanya bisa menduga bahwa persoalan ini amatlah serius untuk dapat dihadapinya secara mendadak.

Pada kenyataannya, hari itu John pergi ke Barnes Common, dan di bawah semak kekuningan ia menemukan sepotong besi yang sangat mengagumkan. Bentuknya hampir menyerupai kaca, padat dan bundar, namun dingin dan berat, hitam dan menyerupai logam, sehingga rasanya bukan berasal dari bumi melainkan dari salah satu bintang yang telah padam, atau dari kerak bulan. Benda itu memberati sakunya; memberati rak perapian; memancarkan dingin. Sekalipun begitu, meteorit tersebut menempati birai yang sama dengan bongkahan kaca dan porselen yang berbentuk bintang.

Seraya matanya menyorot dari satu ke yang lain, kebulatan tekad untuk memiliki lebih banyak lagi benda-benda tersebut menyengsarakan si lelaki muda. Ia semakin teguh mencurahkan dirinya pada pencarian. Seandainya saja ia tak termakan oleh ambisi dan keyakinan bahwa suatu hari akan ada ganjarannya dalam tumpukan rongsokan yang baru ditemukan, kekecewaan yang ia alami, belum lagi kepenatan dan cemooh, akan membuatnya menyerah dengan perburuan itu. Dilengkapi dengan kantong dan tongkat panjang yang dipasangi kait yang dapat disesuaikan, ia menggedor-gedor setiap lapisan bumi; menggaruk-garuk di bawah semak belukar yang kusut masai; menelusuri seluruh lorong dan celah-celah di antara dinding—berharap dapat menemukan benda-benda semacam itu dibuang di sana. Seiring dengan standarnya yang semakin meningkat dan seleranya yang semakin tinggi, tak terkira banyaknya kekecewaan yang ia dapatkan, namun selalu ada sekilas harapan, sepotong porselen atau kaca yang entahkah sengaja dibentuk atau terpecah, yang menggodanya. Hari demi hari berlalu. Ia tak lagi muda. Kariernya—karier politiknya—sudah lewat. Orang-orang berhenti mengunjunginya. Ia begitu pendiam hingga tak ada gunanya mengundang dirinya ke acara makan malam. Ia tak pernah membicarakan ambisi seriusnya ini pada siapapun; kurangnya pengertian tampak dari tindak-tanduk mereka.

Ia tengah bersandar di kursinya dan mengamati Charles mengangkat batu-batu di rak perapiannya sampai lusinan kali dan menaruh mereka lagi dengan sungguh-sungguh untuk menyatakan apa yang dikatakannya mengenai kepemimpinan di Pemerintahan, tanpa sedikitpun mengindahkan keberadaan mereka.

‘Ada apa sebenarnya, John?” ujar Charles tiba-tiba, berbalik dan menatapnya. ‘Apa yang membuatmu tahu-tahu menyerah seperti itu?’

‘Aku tak menyerah,’ ucap John.

‘Tapi sekarang kau tak punya kesempatan sedikitpun,’ sahut Charles dengan kasar.

‘Aku tak sependapat denganmu,’ kata John dengan yakin. Charles menatapnya dan merasa amat khawatir; kesangsian yang teramat sangat merasukinya; muncul perasaan ganjil bahwa mereka sedang membicarakan hal yang berbeda. Ia mengitarkan pandangan dan mendapati kemuraman yang menggentarkan, namun keadaan ruangan yang kacau malah membuatnya semakin sedih. Tongkat apa itu, juga kantong babut usang yang tergantung di dinding? Dan lalu batu-batu itu? Memandangi John, sesuatu yang kukuh dan asing dalam ekspresinya terasa menakutkan. Jelaslah, bahkan untuk sekadar hadir pada program partai baginya itu mustahil.

‘Batu-batu yang indah,’ ucapnya seringan mungkin; lalu menyampaikan bahwa ada janji yang harus ia tepati, ia tinggalkan John—untuk selamanya.[]

Selasa, 11 Maret 2014

Perempuan Hanya Ingin Bebas, Termasuk dalam Pernikahan

Seorang perempuan bersanggama dengan mantan kekasihnya di rumah, sementara suami dan anaknya terjebak di toko karena badai tengah mengamuk. Cerita yang dijuduli “The Storm” ini ditulis oleh Kate Chopin pada 1898. Konten yang dianggap kontroversial dan “terlalu maju untuk zamannya” itu mengakibatkan cerpen ini baru dipublikasikan pada 1969—berpuluh-puluh tahun setelah penulisnya meninggal. Seorang Norwegia menemukannya di gudang milik cucu sang penulis.

Pada masa cerpen ini ditulis, konon emansipasi perempuan masih menjadi isu yang tabu di Amerika Serikat. Khususnya di Lousiana—koloni Prancis dengan tradisi Katolik—yang katanya acap menjadi latar dalam karya-karya Kate Chopin. Perempuan belum memperoleh kebebasan di luar rumah, terbebani oleh berbagai urusan domestik, dan disia-siakan oleh lelaki. Maka melalui cerpen ini, penulisnya seolah hendak menyelipkan pemikiran bahwa perempuan juga bisa memperoleh kebebasan khususnya dalam perkara seksual.

Ada pandangan bahwa seolah-olah pada masa itu setiap lelaki suka menekan dan setiap istri merasa terkekang. Maka dalam cerpen ini ada dugaan bahwa sosok perempuan yang bernama Calixta tersebut sesungguhnya merasa tertekan dengan tugasnya mengurus rumah tangga. (Tampaknya ini diisyaratkan lewat adegan ia membuka kancing leher bajunya karena merasa gerah.) Saking tekunnya bekerja dengan mesin jahit sampai ia tidak langsung sadar ketika badai tengah menjelang. Lalu datanglah Alcée dengan kudanya. Mereka pernah menjalin hubungan asmara pada masa lalu namun tidak berlanjut karena Calixta menikah dengan Bobinôt sedang Alcée dengan Clarisse. Alcée pada mulanya hendak menumpang berteduh di teras, namun badai makin hebat dan Calixta mengajaknya masuk. Lalu seperti kata Bang Napi, kejahatan terjadi bukan saja karena adanya niat tapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Terjadilah! Calixta merasa terpuaskan oleh Alcée dan, setelah badai reda, melepaskan kepergiannya dengan riang. Padahal dalam cerpen ini tidak ada petunjuk bahwa Bobinôt adalah suami yang sewenang-wenang, malahan sebaliknya. Ia ahli dalam bercakap-cakap dengan putra mereka, Bibi. Ketika terpikir akan Calixta yang sendirian di rumah, mungkin khawatir akan badai serta suami dan anaknya yang tidak bisa segera pulang, ia pun membeli sekaleng udang—makanan favorit  Calixta—yang nantinya diberikan pada istrinya itu. Ketika badai sudah berlalu dan mereka dalam perjalanan pulang, ia menyempatkan diri untuk membersihkan Bibi yang kotor karena lumpur demi menghindari perhatian Calixta yang kadang terlalu cermat. Kurang baik apa coba sosok suami satu ini? Maka perzinaan yang dilakukan Calixta agaknya lebih karena gairah liar, alih-alih pelampiasan dendam karena sikap suami yang jahanam atau semacam itu. Sebenarnya ada cerpen lain yang mendahului cerpen ini. Dalam cerpen berjudul “At the ‘Cadian Ball” (yang saya baru membaca ringkasannya) itu dikisahkan percintaan antara Alcée dengan Calixta pada masa lalu, namun Clarisse berhasil menggaet Alcée menjadi suaminya, sehingga Calixta pun menerima pinangan Bobinôt yang padahal tidak begitu disukainya.

source

Berdasarkan hasil penelusuran saya mengenai pembacaan orang lain terhadap cerpen ini, sampai sekarang pun masih ada yang menganggap kontennya “mengganggu”. Apalagi penyelewengan tersebut seolah tidak berdampak apa-apa. Bobinôt dan Bibi sampai di rumah dengan selamat. Calixta menyambut mereka dengan semringah seolah sebelumnya tidak terjadi peristiwa yang dapat mengancam keutuhan keluarga itu. Alcée sudah pulang ke rumahnya sendiri dan menulis surat pada Clarisse yang sedang tinggal berjauhan agar tidak buru-buru kembali. Seolah menjadi pertanda bahwa kesempatan untuk berselingkuh mungkin saja terjadi lagi. Clarisse pun merasa senang dengan isi surat tersebut seolah sejak menikah baru kali itu ia mendapatkan kebebasannya dari suami.

And the first free breath since her marriage seemed to restore the pleasant liberty of her maiden days. Devoted as she was to her husband, their intimate conjugal life was something which she was more than willing to forego for a while.

Bagian ini seakan memberi kesan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang mengekang. Adapun penyelewengan yang dilakukan Calixta dan Alcée bukanlah hal yang patut diresahkan. Toh badai pasti berlalu dan pada akhirnya semua orang merasa senang-senang saja. So the storm passed and everyone was happy, begitulah kalimat yang menutup cerpen ini. Sayang kita tidak sampai tahu bagaimana reaksi Bobinôt dan Clarisse apabila terungkap kalau pasangan mereka masing-masing ternyata telah berkhianat.

source

Cerpen ini cukup sering digunakan sebagai bahan pengajaran Sastra Inggris di sekolah-sekolah. Penceritaannya tidak neko-neko namun sarat dengan isyarat tersembunyi. Judulnya saja sudah mengandung konflik: “The Storm”—Badai. Kita bisa mengaitkan antara badai sebagai peristiwa alam dengan badai dalam hubungan Bobinôt-Calixta yang diam-diam rentan pengkhianatan. Kedatangan badai sejak paragraf pertama seolah menjadi foreshadowing. Sesuatu yang mencekam tengah mendekat dan sesuatu itu bisa berarti peristiwa yang berpotensi meretakkan keutuhan keluarga. Badai kemudian menyeret para tokoh hingga menuju “klimaks”. Karena badai, Bobinôt dan Bibi tidak bisa segera pulang ke rumah. Karena badai, Alcée hendak berteduh di teras rumah Calixta. Karena badai, Calixta ketakutan sehingga Alcée tergugah untuk menenangkannya yang rupanya membangkitkan kembali hasrat di antara mereka.

Kepiawaian penulis dalam memanfaatkan elemen alam sebagai pendukung makna cerita juga hadir dalam sebentuk pohon chinaberry. Ketika sedang mengawasi amukan badai dari balik jendela, Calixta melihat kilat menghantam pohon chinaberry. Konon dulu kayu chinaberry digunakan sebagai bahan untuk membuat rosario, sebelum digantikan oleh plastik. Dengan begitu kita mungkin bisa melihat kaitan antara pohon chinaberry yang hancur, rosario sebagai atribut keagamaan, dan perzinaan antara Calixta dan Alcée kemudian yang tentunya dipandang amoral dari segi agama. Namun kontras dengan pandangan bahwa perzinaan adalah perbuatan kotor, ketika situasi di antara Calixta dan Alcée memanas, penulis justru mengulang-ulang penggunaan kata “white”—putih yang biasanya melambangkan kesucian. Entah apakah maksudnya cinta Calixta selama ini hanya murni untuk Alcée.

Petunjuk menarik lainnya buat saya adalah perbedaan bahasa yang digunakan oleh Bobinôt, Bibi, dan Calixta, dengan Alcée. Begini contoh kalimat yang dilontarkan masing-masing.

Bobinôt                : “My! Bibi, w’at will yo’ mama say!”
Bibi                        : “No; she ent got Sylvie. Sylvie was helpin’ her yistiday.”
Calixta                  : “Come ‘long in, M’sieur Alcée.”
Alcée                    : “May I come and wait on your gallery till the storm is over, Calixta?”

Bobinôt, Bibi, dan Calixta menggunakan bahasa Inggris yang ejaannya tidak baku, sebaliknya dengan Alcée. Kalimat-kalimat Alcée tertata. Maka saya menduga adanya perbedaan budaya antara Alcée dan Calixta yang menjadi salah satu faktor kenapa mereka tidak begitu saja dapat bersatu walaupun dulunya saling mencintai. Alcée memiliki kuda, sedangkan Bobinôt dan Bibi pulang dengan berjalan kaki. Namun saya belum menemukan pembahasan mengenai ini dalam ulasan-ulasan yang saya baca.

Mana yang baik dipelajari dan mana yang jangan diteladani, mudah-mudahan pembaca dapat menilainya sendiri.[]


teks :

untuk menambah pemahaman:

Jumat, 28 Februari 2014

Di Balik Penerjemahan “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” (Cerpen Mark Twain, 1891)

Kapok menerjemahkan gegara “Solid Object” (Virginia Woolf), tapi satu dari empat hal untuk menjadi penulis hebat menurut Eka Kurniawan adalah menerjemahkan. Haruki Murakami pun melakukannya. Demi menjaga interaksi dengan bahasa Inggris biar tidak semakin asing, dan kemampuan merangkai kata karena saya masih gamang untuk menulis karangan saya sendiri, saya mencoba untuk mengakali daftar (diurut berdasarkan jumlah dan nomor halaman dalam antologi cerpen Harper, 1991) dengan menerjemahkan cerpen-cerpen yang relatif simpel. Hasilnya bisa dilihat di sini, sini, dan sini. Ada satu-dua cerpen lagi yang saya terjemahkan, namun saya ragu untuk memajangnya di blog karena tidak menemukan versi digitalnya yang bisa diakses secara cuma-cuma. Namun ketika saya lagi-lagi menghadapi cerpen-sulit, “My Man Bovanne” dari Toni Cade Bambara, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Afro-Amerika yang jauh dari gramatikal pun kata-kata di dalamnya belum tentu terdapat dalam kamus Echols-Shadily, saya mengakali daftar lagi dan mencoba “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” dari Mark Twain.

source
Tiga paragraf pertama bahasanya masih “normal”. Tapi dalam tiga paragraf berikut saya mulai puyeng karena beberapa kata tidak terdapat dalam kamus, di samping tidak gramatikal. Ada beberapa kata yang ejaannya melenceng dari yang lazimnya kita ketahui semisal “fellow” jadi “feller”, “catch” jadi “ketch”, “risk” jadi “resk”, “chew” jadi “chaw”, dan seterusnya. Terbayang lagi kesulitan saat menghadapi “Solid Object” karena kalimat-kalimatnya yang panjang, serta kata-kata yang biarpun baru bagi saya tapi setidaknya masih bisa ditemukan di kamus (kan?). Kalau kamus yang dimiliki tidak bisa diandalkan, saya pun beralih ke Google. Selain mencari kata-kata “eksotik” macam “summerset”, “hysted”, “hefted”, “yaller”, dan sebagainya, menarik pula membaca ulasan-ulasan mengenai cerpen itu sendiri.

Kenapa bahasanya tahu-tahu jeblok begitu, ialah karena cerpen ini bentuknya berbingkai. Ada cerita di dalam cerita. Masing-masing dibawakan oleh penutur yang berbeda. Alkisah, narator disurati kawannya untuk menanyakan tentang Rev. Leonidas W. Smiley kepada orang yang bernama Simon Wheeler. Narator pun menemui Wheeler dan terjebak untuk mendengarkan lelaki tua itu mengoceh panjang-lebar. Alih-alih Rev. Leonidas W. Smiley, Wheeler malah bercerita tentang Jim Smiley si gila-taruhan. Selama masih punya uang, dan selama ada orang yang bisa digaet, apa saja bakal dia jadikan objek taruhan. Mulai dari anjing, kucing, atau ayam yang lagi bertengkar (mana yang menang?), dua ekor burung yang lagi menclok di pagar (mana yang terbang duluan?), sampai kumbang yang lagi jalan (ke mana dia menuju?, berapa lama?). Cerita dari Wheeler yang makan hampir tiga halaman ini terdiri dari paragraf-paragraf yang berisi kalimat langsung—bahasa cakapan. Karena kejadian dalam cerpen ini berlangsung pada abad ke-19 di kamp pertambangan Angel yang terletak di bagian barat Amerika Serikat (AS), maka mafhumlah apabila bahasa yang digunakan pun menyesuaikan. Dalam hal ini penulis sangat realis. Perbedaan bahasa ini konon menunjukkan bagaimana pada masa itu terdapat kesenjangan di AS. Bagian barat negara tersebut (yang menjadi latar cerpen ini) belumlah semaju bagian timur (yang disebut di awal cerpen ini sebagai asal kawan yang menyurati narator). Bisa dibilang bahasa menunjukkan budaya, bahkan tingkat pendidikan/intelektual. Selain itu, teknik ini agaknya digunakan untuk menimbulkan kesan lucu. Menurut Melvin Helitzer dalam Comedy Writing Secret (2nd edition), orang tertawa karena merasa superior. Jika pembaca adalah orang dengan kemampuan berbahasa yang cukup baik, ia mungkin geli-geli kesal dengan orang yang bahasanya kacau dan tingkahnya seperti Wheeler. Yang menceritakan lain dari yang ditanyakan. Sudah begitu ocehannya panjang pula! Sial benar si narator. Bukankah kesialan biasa menjadi suguhan utama dalam komedi?

Ini juga salah satu kiat melucu dari Mark Twain. Menurutnya, kelucuan justru terasa ketika si penutur tidak menyadari kalau apa yang diceritakannya itu lucu. Seperti Wheeler yang mengisahkan kekonyolan Smiley ini dengan mimik serius.

Simon Wheeler backed me into a corner and blockaded me there with this chair, and then sat down and reeled off the monotonous narrative which follows this paragraph. He never smiled, he never frowned, he never changed his voice from the gentle-flowing key to which he tuned his initial sentence, he never betrayed the slightest suspicion of enthusiasm: but all through the interminable narrative there ran a vein of impressive earnestness and sincerity, which showed me plainly that, so far from his imagining that there was anything ridiculous or funny about his story, he regarded it as a really important matter, and admired its two heroes as men of transcendent genius in finesse.

(paragraf tiga “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” – Mark Twain)

Elemen menarik lainnya adalah bagaimana Smiley menamai anjing dan katak piaraannya dengan nama tokoh-tokoh ternama AS pada masa itu yaitu Andrew Jackon dan Daniel Webster. Andrew Jackson (1767-1845) adalah presiden AS ketujuh dan merupakan pemimpin pertama yang dipilih dari negara bagian sebelah barat. Ia dianggap mewakili kalangan orang biasa sehingga kemenangannya melambangkan kemenangan rakyat. Sebaliknya, Daniel Webster (1782-1852) adalah nama senator AS yang mewakili kalangan elitis. Kegigihan anak anjing bull piaraan Smiley yang dinamai Andrew Jackson saat bertarung dengan lawan-lawannya—kendati kelihatannya tidak jagoan—agaknya menggambarkan pandangan penulis terhadap presiden tersebut. Demikianpun “katak lompat kesohor dari Calaveras” yang dinamai Dan’l Webster dan dilatih oleh Smiley agar mampu lompat lebih tinggi dari katak manapun barangkali menggambarkan kecenderungan tokoh yang dirujuk. Asosiasi dengan para politikus menjadikan cerpen ini bukan saja bernuansa humor, tapi juga satir.

source
“The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” mula-mula diterbitkan dengan judul “Jim Smiley and His Jumping Frog” pada tahun 1865. Cerpen ini kemudian dipercantik terus oleh penulisnya dan diterbitkan lagi dengan judul lain, “The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County” (1865), barulah “The Notorious Jumping Frog of Calaveras County” (1891). Pada 1872, cerpen ini diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis namun Mark Twain tidak senang dengan hasilnya. Ia pun menerjemahkan balik cerpen itu ke dalam bahasa Inggris yang hasilnya sangat berbeda dibandingkan teks aslinya. Kalau Mark Twain mengerti bahasa Indonesia dan membaca hasil terjemahan saya yang cuma amatir ini, kemungkinan dia bakal menggerundel juga hahaha… Mau bagaimana lagi. Menurut kawan yang tengah menempuh pendidikan S2 di Sastra Kontemporer UNPAD, penerjemahan itu bisa disesuaikan dengan budaya (bahasa) asli atau budaya sasaran. Saya cenderung pada yang kedua. Yang terpenting ialah bagaimana saya, yang kiranya dapat mewakili pembaca awam Indonesia, dapat mengerti jalannya cerita tersebut dan mempelajari sesuatu darinya.[]

untuk menambah pemahaman:

Jumat, 27 Desember 2013

"Pesta yang Dicuri" - Liliana Heker [1982]

Begitu sampai, ia langsung ke dapur untuk melihat adakah monyet di sana. Ada: betapa leganya! Ia tidak akan senang kalau ibunya yang benar. Monyet di pesta ulang tahun! Ibunya menyeringai. Yang benar saja, percaya yang aneh-aneh saja macam begitu! Ibunya marah, tapi bukan karena monyet, pikir gadis itu; melainkan karena pestanya.

“Ibu tidak suka kamu pergi,” kata ibunya. “Itu pestanya orang kaya.”

“Orang kaya juga masuk Surga,” imbuh si gadis, yang belajar agama di sekolahnya.

“Surga apaan,” sahut si ibu. “Masalahnya itu kamu, nona muda, kamu itu kalau kentut lebih tinggi dari pantatmu.”

Gadis itu tidak senang dengan cara ibunya bicara. Usianya hampir sembilan tahun, dan ia salah satu anak terbaik di kelasnya.

“Aku kan pergi karena aku diundang,” ujarnya. “Dan aku diundang karena Luciana itu temanku. Begitu.”

“Oh iya, temanmu,” gerutu ibunya. Diam sejenak. “Dengar, Rosaura,” akhirnya ia berkata. “Dia itu bukan temanmu. Kamu sadar kamu ini siapanya mereka? Anak pembantu, itulah kamu.”

Rosaura mengejapkan mata berkali-kali:  ia ingin menangis. Lantas ia memekik: “Ibu diam saja deh! Ibu sendiri tidak punya teman!”

Tiap sore ia ke rumah Luciana. Mereka berdua akan mengerjakan PR mereka sementara ibu Rosaura membersihkan rumah. Sambil mengudap teh di dapur, mereka bertukar rahasia. Rosaura menyukai apapun yang ada di rumah besar itu. Ia juga menyukai orang-orang yang tinggal di sana.

“Pokoknya aku mau pergi, soalnya itu bakal jadi pesta paling menyenangkan di seluruh dunia, Luciana bilang begitu. Bakal ada pesulap, monyet, macam-macam deh.”

Si ibu berpaling supaya bisa menatap anaknya dengan saksama. Dengan angkuh ia tempelkan tangannya ke bibir.

“Monyet di pesta ulang tahun?” ujarnya. “Yang benar saja, percaya yang aneh-aneh saja macam begitu.”

Rosaura amat tersinggung. Ia pikir betapa tidak adil ibunya menuduh orang lain pembohong hanya karena mereka kaya. Rosaura juga ingin kaya, tentu. Kalau suatu hari ia bisa tinggal di istana yang indah, apakah ibunya akan berhenti menyayanginya? Ia merasa amat sedih. Ia menginginkan pesta itu lebih dari apapun di dunia ini.

“Aku bisa mati kalau aku tidak pergi,” lirihnya, bibirnya hampir tidak bergerak.

Ia tidak yakin ibunya dengar. Namun pagi-pagi di hari pesta tersebut, ia lihat ibunya menganji gaun Natalnya. Sorenya, setelah mengeramasi rambutnya, ibunya membilas baju itu dengan cuka apel supaya halus dan berkilauan. Sebelum pergi, Rosaura mengagumi dirinya di cermin dengan gaun putih dan rambut mengilap. Menurutnya ia terlihat amat cantik.

Bahkan Señora Ines pun memerhatikannya. Begitu wanita itu melihatnya, ia berkata:

“Cantik sekali kamu hari ini, Rosaura.”

Rosaura melambaikan sedikit roknya yang berkanji dengan tangan, dan berjalan menuju pesta dengan langkah mantap. Ia ucapkan halo pada Luciana dan menanyakan soal monyet. Dengan tatapan penuh rahasia, Luciana berbisik ke telinga Rosaura: “Dia di dapur. Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, soalnya itu kejutan.”

Rosaura ingin memastikan. Dengan hati-hati, ia masuki dapur. Di sana ia melihatnya: khusyuk termenung dalam kandangnya. Hewan itu tampak begitu lucu sehingga si gadis terpaku di sana beberapa lama, mengamatinya, dan kemudian, sering sekali, ia menyelinap keluar dari pesta diam-diam untuk mengagumi si hewan. Rosaura adalah satu-satunya anak yang diperbolehkan memasuki dapur. Señora Ines yang bilang: “Kamu sih boleh, yang lainnya jangan, mereka terlalu ramai, bisa-bisa ada yang pecah.” Rosaura tidak pernah memecahkan apapun. Bahkan ia yang memegang wadah berisi jus jeruk, membawanya dari dapur ke ruang makan. Ia memegangnya hati-hati dan tidak menumpahkan setetespun. Kata Señora Ines: “Kamu yakin bisa membawa wadah sebesar itu?” Tentu saja bisa. Ia bukan orang yang sering menjatuhkan barang dari pegangannya, seperti anak-anak lainnya. Seperti gadis pirang dengan pita di rambutnya itu. Begitu melihat Rosaura, gadis berpita itu berkata:

“Kalau kamu, kamu siapa?”

“Aku temannya Luciana,” kata Rosaura.

“Bukan,” kata si gadis berpita, “kamu bukan temannya Luciana. Aku sepupunya. Aku kenal semua temannya. Tapi aku tidak kenal kamu.”

“Terus kenapa,” sahut Rosaura. “Aku ke sini tiap sore dengan ibuku. Kami mengerjakan PR sama-sama.”

“Kamu dan ibumu mengerjakan PR sama-sama?” gadis berpita itu tertawa.

“Aku dan Luciana yang mengerjakan PR sama-sama,” tegas Rosaura dengan amat serius.

Si gadis berpita angkat bahu.

“Itu bukan teman namanya,” ujarnya. “Kalian ke sekolah bareng?”

“Tidak.”

“Jadi kamu kenal dia dari mana?” gadis itu mulai tidak sabar.

Rosaura ingat kata-kata ibunya sepenuhnya. Ia menghela napas dalam-dalam.

“Aku anaknya karyawan sini,” ucapnya.

Ibunya telah menyatakannya dengan amat jelas: “Kalau ada yang tanya, bilang saja kamu anaknya karyawan sini, itu saja.’ Ia juga berpesan untuk menambahkan: “Dan aku bangga.” Tapi Rosaura pikir sampai kapanpun dalam hidupnya tidak akan pernah berani ia melontarkan hal semacam itu.

“Karyawan apa?” tanya gadis berpita itu. “Karyawan toko?”

“Bukan,” tukas Rosaura dengan marah. “Ibuku tidak jualan di toko manapun, begitu.”

“Jadi kok bisa ibumu itu karyawan?”cecar si gadis berpita.

Seketika itu Señora Ines muncul sembari mendesis shh shh, dan meminta Rosaura kalau tidak keberatan untuk membantu menyiapkan roti sosis, lagipula ia hapal isi rumah itu ketimbang yang lainnya.

“Lihat kan?” ucap Rosaura pada si gadis berpita. Ketika tidak ada yang melihat, ia tendang tulang kering gadis itu.

Selain daripada si gadis berpita, yang lainnya sangat menyenangkan. Yang paling ia senangi adalah Luciana, dengan mahkota emasnya; lalu para anak lelaki. Rosaura memenangkan balap karung. Tidak seorangpun berhasil menangkapnya ketika mereka bermain kejar-kejaran. Ketika mereka dibagi menjadi dua tim untuk permainan tebak kata, semua anak lelaki menginginkannya berada di tim mereka. Rosaura merasa tidak pernah sebahagia itu dalam hidupnya.

Namun yang paling menyenangkan yaitu setelah Luciana meniup lilinnya. Mula-mula pembagian kue. Señora Ines memintanya untuk membantu mengedarkan kue. Rosaura amat menikmati tugasnya. Semua orang memanggil-manggilnya, menyerukan “Aku, aku!” Rosaura ingat cerita tentang seorang ratu yang memiliki kuasa untuk menentukan hidup dan mati rakyatnya. Ia selalu senang akan hal itu, memiliki kekuasaan atas hidup dan mati. Untuk Luciana dan para anak lelaki, ia berikan potongan yang besar, dan pada si gadis berpita ia berikan seiris tipis sampai-sampai nyaris tembus pandang.

Setelah pembagian kue, muncullah si pesulap, tinggi dan kurus, mengenakan topi merah runcing. Pesulap sungguhan: ia bisa mengurai banyak sapu tangan dengan meniupnya, dan menyambung mata rantai yang tidak ada lubangnya. Ia bisa menebak kartu apa saja yang diambil dari tumpukan, dan si monyet adalah asistennya. Ia menyebut monyetnya “partner”. “Lihat ke sini, partner,” begitulah katanya, “balikkan kartunya.” Dan, “Jangan kabur, partner, sekarang waktunya kerja.”

Permainan yang terakhir amatlah menakjubkan. Salah seorang anak harus menggendong monyet dan si pesulap bilang ia akan membuatnya menghilang.

“Siapa yang hilang, anaknya?” semua berseru.

“Bukan, monyetnya!” si pesulap balik berseru.

Pikir Rosaura ini benar-benar pesta paling lucu sejagat raya.

Si pesulap meminta seorang bocah gemuk untuk membantu, tapi bocah itu ketakutan dan menjatuhkan monyetnya ke lantai. Si tukang sulap mengangkat monyet itu hati-hati, membisikkan sesuatu ke telinganya, dan hewan itu mengangguk-angguk seakan mengerti.

“Kamu kok sangat pengecut sih, teman,” kata si pesulap pada si bocah gemuk.

“Apa itu pengecut?” tanya bocah itu.

Si pesulap berlagak seolah ada mata-mata.

“Banci,” kata si pesulap. “Duduklah.”

Lalu ia menatap satu per satu wajah di depannya. Rosaura merasakan jantungnya berdebar kencang.

“Kamu, yang bermata Spanyol,” kata si pesulap. Semua orang menyaksikannya menunjuk gadis itu.

Ia tidak takut. Sewaktu menggendong si monyet, maupun ketika si pesulap melenyapkannya; bahkan tidak ketika, akhirnya, si tukang sulap menjebloskan topi merahnya ke kepala Rosaura dan mengucapkan kata-kata ajaib… dan si monyet muncul lagi, mengoceh dengan gembira, dalam gendongannya. Anak-anak bertepuk tangan dengan heboh. Sebelum Rosaura kembali ke tempat duduknya, si pesulap berkata:

“Terima kasih banyak, tuan putri.”

Ia begitu senang dengan pujian itu. Ketika ibunya datang menjemputnya, itulah yang pertama-tama ia sampaikan.

“Aku membantu pesulap itu dan dia bilang padaku, ‘Terima kasih banyak, tuan putri.’”

Rasanya aneh karena berikutnya Rosaura sadar kalau ia tadinya marah pada ibunya. Dari awal Rosaura sudah membayangkan berkata pada ibunya: “Monyetnya bukan bohongan kan?” Tapi ia malah terlalu senang sehingga yang ia sampaikan pada ibunya adalah pesulap yang menakjubkan itu.

Ibunya menepuk kepalanya dan berkata: “Jadi sekarang kita ini tuan putri!”

Ia tampak berseri-seri.

Mereka berdua pun berdiri di pintu masuk karena beberapa saat lalu sembari tersenyum Señora Ines berkata: “Tolong tunggu sebentar ya.”

Ibunya mendadak tampak cemas.

“Ada apa ya?” tanyanya pada Rosaura.

“Ada apa kenapa?” ujar Rosaura. “Tidak ada apa-apa kok; beliau cuma ingin kasih hadiah buat yang mau pulang, lihat kan.”

Ia menunjuk si bocah gemuk dan seorang gadis berkucir yang juga menunggu di sana, di samping ibu mereka. Ia jelaskan soal hadiah itu. Ia tahu, karena ia telah mengamati siapa-siapa yang sudah pulang lebih dulu. Ketika salah seorang anak perempuan hendak pulang, Señora Ines akan memberinya sebuah gelang. Kalau anak lelaki, Señora Ines memberinya yoyo. Rosaura lebih memilih yoyo karena benda itu tampak berkilauan, tapi ia tidak memberitahu ibunya. Ibunya mungkin berkata: “Jadi kenapa kamu tidak minta saja, tolol?” Seperti itulah ibunya. Rosaura akan merasa amat malu. Yang ia katakan malah:

“Aku yang sikapnya paling sopan di pesta.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi karena Señora Ines muncul di ruangan dengan dua tas, yang satu jambon dan lainnya biru.

Mula-mula ia menghampiri si bocah gemuk, memberinya sebuah yoyo dari tas yang biru, dan bocah itu berlalu bersama ibunya. Lalu ia mendekati si anak perempuan dan memberinya gelang dari tas yang jambon, dan gadis berkucir itupun pergi.

Akhirnya ia menuju Rosaura dan ibunya. Wajahnya tersenyum lebar, Rosaura menyukainya. Señora Ines menunduk ke arahnya, lalu memandang ibunya, dan kata-katanya membuat Rosaura bangga:

“Putrimu mengagumkan, Herminia.”

Sesaat, Rosaura kira ia akan diberi dua hadiah sekaligus: gelang dan yoyo. Señora Ines membungkuk seakan hendak mencari-cari sesuatu. Rosaura pun condong ke depan, merentangkan lengannya. Namun gerakannya terhenti.

Mata Señora Ines tidak terarah pada tas jambon, tidak juga tas biru. Ia malah mengaduk-aduk dompetnya. Di tangannya ada dua lembar cek.

“Kalian  benar-benar layak menerima ini,” ucapnya seraya menyodorkan cek tersebut. “Terima kasih atas semua bantuanmu, sayangku.”

Rosaura merasakan lengannya menegang, menempel erat ke tubuhnya, lalu ia sadar tangan ibunya melekat di bahunya. Naluriah, ia benamkan dirinya pada tubuh ibunya. Seluruhnya. Kecuali matanya. Tatapannya yang dingin dan tajam terpancang di wajah Señora Ines.

Señora Ines bergeming, bertahan dengan tangan terulur. Seolah tak berani menariknya lagi. Seolah gerak sedikit saja akan mengusik keanggunannya yang tak terperikan.[]


Liliana Heker penulis kelahiran Argentina, 1943. Cerpen ini aslinya berbahasa Spanyol, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari versi bahasa Inggris Alberto Manguel.


Teks dalam bahasa Inggris bisa ditengok di sini


Selasa, 19 November 2013

Kisah Seorang Pemimpi

Pertama kali aku baca karya James Thurber di Buku Sakti Menulis Fiksi ANNIDA, yaitu “dongeng modern”nya yang dialihbahasakan oleh Agus Budiman dengan judul “Unicorn di Taman”. Seketika aku terpukau dengan cerita yang panjangnya kira-kira hanya sehalaman itu, yang seakan “mengolok-olok” pola dongeng tradisional—dibuka dengan “Once upon…” lalu ditutup dengan ”…lived happily ever after”.

“Unicorn di Taman” menceritakan tentang seorang lelaki yang mengatakan pada istrinya kalau ia melihat unicorn di taman. Perempuan yang menganggap suaminya sudah gila itupun menelepon polisi dan dokter jiwa, agar lelaki itu dibawa ke rumah sakit jiwa. Polisi dan dokter jiwa pun datang. Tapi cerita si istri tentang si suami yang melihat unicorn di taman itu malah membuat mereka menganggap kalau perempuan itulah yang tidak waras. Selagi mereka meringkus si istri, si suami datang. Lelaki itu menyangkal kalau ia telah melihat unicorn di taman. Si istri pun dibawa pergi, dan lelaki itu hidup bahagia selamanya.

Selain karena gaya parodinya, cerita itu sendiri membuatku geli. Padahal apa yang lucu dari situasi seperti itu? Hubungan suami-istri yang tidak selaras. Istri yang ingin memasukkan si suami ke rumah sakit jiwa. Suami yang dengan enteng membiarkan si istri dibawa ke rumah sakit jiwa. Bukan situasi yang menyenangkan kalau kita sendiri yang mengalami.

source
The Secret Life of Walter Mitty” adalah karangan James Thurber yang baru-baru ini kubaca. Isinya ternyata tidak jauh beda dari cerita sebelumnya. Hanya lebih panjang. Sekitar empat halaman. (Katanya sih 2000-an kata tapi aku tidak menghitungnya sendiri.) Kesamaan di antara kedua cerita ini adalah adanya tokoh suami pengkhayal dengan istri yang ingin pegang kendali, serta perpaduan antara imajinasi memukau dengan getirnya realita.

Cerita dibuka dengan aksi seorang komandan Angkatan Laut saat mengendalikan kapalnya supaya bisa menerobos badai, dan berhasil, yang ternyata hanya khayalan seorang Walter Mitty, yang terputus karena hardikan istri. Lelaki itu mengemudi terlalu cepat! Kemudian kita tahu bahwa dalam realita ia hanyalah seorang lelaki dengan istri doyan mengatur, dari mulai kecepatan saat mengendarai mobil, barang yang harus dibeli, sampai apa yang harus ia kenakan. Ketidakberdayaannya kala bersinggungan dengan orang lain terus berlanjut. Di lampu merah, ia dihardik polisi. Saat memarkir mobil, ia ditegur petugas parkir. Saat mengingat-ingat apa yang harus ia beli, seorang perempuan menertawakannya karena bicara sendiri, hingga ia memilih untuk pindah saja ke lain toko. Namun dari interaksi sepenggal-penggal yang tidak menyenangkan itu, imajinasinya berkembang. Ia menjadi seorang dokter yang selain menulis buku tentang penyakit, juga sanggup memperbaiki mesin. Ia menjadi seorang terdakwa di pengadilan yang memamerkan kemampuannya dalam mengoperasikan senjata api. Ia menjadi seorang kapten yang dengan berani hendak terbang sendiri dalam menangani musuh di tengah peperangan.

source
Aku heran kenapa dalam Harper cerpen ini tidak dimasukkan dalam tema “ALIENATION”. Padahal jelas sekali keterasingan Walter Mitty dengan dunia di sekitarnya. Keinginannya untuk melarikan diri dari kenyataan dengan menerbangkan imajinasi ke mana-mana. Dalam cerpen ini, dunia di dalam kepala dengan dunia di luar kepala merasuk kesadaran Walter Mitty secara silih berganti—5:4. Dalam imajinasinya, Walter Mitty menjadi sosok yang dihormati dan serba bisa. Berkebalikan dengan bagaimana orang-orang memperlakukannya dalam realita.  

“The Secret Life of Walter Mitty” merupakan cerpen James Thurber paling terkenal sejak diterbitkan pertama kali dalam The New Yorker tahun 1939, dan menjadi yang paling sering dimuat dalam antologi. Bahkan karakter Walter Mitty menjadi arketipe[1]. Seolah menunjukkan bahwa sesungguhnya pribadi yang melarikan diri dari kenyataan melalui imajinasinya itu… jamak! Sangat manusiawi. Bahkan nama “Mitty” menjadi lema baru di kamus, dengan bentuk adjektiva “Mittyesque” atau “Mitty-like”.

Dari pengarang lain yang relatif semasa, kita bisa kaitkan Walter Mitty dengan Miss Brill dari Katherine Mansfield, serta drama Death of a Salesman dari Arthur Miller. “Miss Brill” juga menyampaikan keterasingan manusia dari lingkungannya, dalam cerpen ini ialah perempuan. Bedanya, Miss Brill masih bisa menaruh perhatian keluar dirinya, dan coba memahami dengan caranya sendiri, sedang Mitty nyaris sepenuhnya lari ke dalam benaknya. Sedang dengan Death of a Salesman, Walter Mitty dengan karakter dalam drama itu, yaitu Willy Loman, sama-sama pemimpi. Bedanya, mimpi Mitty imajinatif sedangkan mimpi Loman realistis. Loman bermimpi menjadi salesman sukses sehingga bisa membahagiakan keluarganya. Ia berusaha memenuhi mimpinya, dan ketika keadaan tidak lagi menguntungkan baginya, ia gantungkan mimpi itu pada anaknya. Pada akhirnya ia bunuh diri. Namun itu merupakan cara yang terpikir olehnya untuk memperjuangkan mimpi. Dengan kematiannya itu, keluarganya akan mendapatkan asuransi dan bisa meneruskan hidup dengan layak. Dalam penyampaiannya, ada yang mengatakan, Mitty itu comic sedang Loman itu tragic. Dengan mengesampingkan kreativitas Thurber sehingga cerpen yang konon ditulis ulang sampai lima belas kali ini dianggap kocak, serta pemahamanku yang pas-pasan saat membacanya dalam bahasa asli sehingga cenderung hanya menangkap inti, buatku kisah keduanya sama tragis.  

Pada zaman sekarang, ketika budaya populer sudah demikian berkembang dan membanjiri kita dengan produk-produk yang biasa kita andalkan untuk mengisi kekosongan dalam hidup, kita temukan Walter Mitty di mana-mana. Kita mungkin lebih akrab dengan istilah “Mary Sue”, yaitu karakter fiktif jagoan yang sebenarnya merupakan idealisasi pengarangnya belaka. Esensi keduanya sama menurutku. Satu tokoh yang mencerminkan karakter Walter Mitty dalam produk yang lebih kontemporer adalah Oscar Wao dari novel The Brief Wondrous Life of Oscar Wao—pemuda gembrot yang tidak bisa memikat cewek dan menjalankan pelariannya lewat fiksi ilmiah.

source
Popularitas Walter Mitty sampai ke layar lebar. Pertama kali difilmkan pada tahun 1947, hasilnya tidak memuaskan Thurber. Berdekade-dekade kemudian, rencana untuk memfilmkan Walter Mitty kembali muncul namun tidak terwujud. Barulah pada tahun 2013, Ben Stiller membawa kembali sosok Walter Mitty ke layar lebar, ia tidak hanya menjadi pemeran tapi juga sutradara. Namun jangan bayangkan Walter Mitty dalam film persis dengan yang ada di dalam cerpen. Pembaca cerpen dan penonton film seolah memiliki kebutuhan berbeda. Walter Mitty dalam film mestilah lebih atraktif, mestilah menyuguhkan aksi yang lebih dari sekadar khayalan. Memang aku belum menonton keduanya. Hanya dari ulasan aku tahu kalau adaptasi ke dalam bentuk film malah menghilangkankan ironi yang muncul dalam cerpen, yang justru menunjukkan kekuatan karakter Walter Mitty dan getirnya kehidupan yang ia miliki—di situlah intinya!

Aku mengagumi James Thurber karena imajinasi dan humor yang getir dalam karya-karyanya. Dari kemiripan antara dua karya Thurber, kita bisa menyangka tokoh suami pengkhayal mencerminkan sosok pengarang itu sendiri. Demikian pula menurut artikel-artikel terkait yang kubaca di internet. Serupa dengan Dorothy Parker yang mampu menyisipkan humor dalam kata-katanya, kehidupan pengarang-pengarang yang menggelitik (bikin geli karena dikitik-kitik) ini sesungguhnya diwarnai kepiluan. Ironis. Kukira seseorang dengan sudut pandang suram memang sebaiknya mampu menyamarkan keadaannya itu dengan humor.

“The Secret Life of Walter Mitty” sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Fernando dengan judul “Rahasia Walter Mitty”—dimuat dalam Suara Merdeka, 16 Mei 2010. Belum terjemahan yang enak menurutku, dan kalau kemampuanmu dalam memahami teks bahasa Inggris juga pas-pasan, aku sarankan untuk membaca dalam kedua bahasa itu masing-masing sekali, lalu membandingkan keduanya. Selamat terkekeh sambil meringis![]


NB.
James Thurber tidak hanya menulis cerita, tapi juga membuat ilustrasi. Sekalian kusuguhkan satu karyanya yang dilengkapi ilustrasi. Cerita ini cenderung getir ketimbang lucu.



[1] Mungkin seperti “Lolita”—novel karangan Vladimir Nabokov—diasosiasikan dengan pedofilia, atau “Mrs. Robinson”—film tahun 1960-an yang dibintangi Dustin Hoffman dan makin populer dengan lagu berjudul sama dari Simon & Garfunkel dan berdekade-dekade kemudian dirujuk pula oleh Outcast—dengan… MILF? Ups!

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain