Tampilkan postingan dengan label kekebun-kebunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekebun-kebunan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juni 2023

Mengenal Tanah

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : Desy A. P.
Penerbit : CV. Graha Printama Selaras
ISBN : 978-602-448-437-8
E-ISBN : 978-602-448-453-8
Cetakan pertama
Tahun terbit : 2019
Tahun terbit digital : 2019

Ada yang menyarankan saya untuk belajar ilmu tanah setelah saya menunjukkan kepadanya aktivitas perkomposan saya. Belakangan saya terilhami untuk mengaitkan pertanahan dengan penyucian jiwa. Konon katanya manusia terbuat dari tanah. Baik tanah maupun jiwa sama-sama mengandung kehidupan yang kaya, bibit-bibit kebaikan dan bibit-bibit keburukan. Barangkali dengan mempelajari tentang tanah dan menginternalisasikannya pada kehidupan batin, entah bagaimana saya bisa lebih peka dengan apa yang berlangsung di dalam jiwa. 

Oke, mungkin itu kejauhan. Selama membaca buku ini, saya sudah lupa untuk mengait-ngaitkannya ke situ :v 

Sekadar ide.

Jadi, saran tersebut saya ikuti dengan mencari buku tentang ilmu tanah di Ipusnas dan memulai dari yang tampaknya paling ringan. Buku ini hanya 64 halaman dan tampaknya ditujukan kepada anak-anak. Let's go!

Tanah berasal dari bahan induk yang mengalami proses pelapukan karena pengaruh panas matahari, hujan, dan angin sebagai tenaga dari luar bumi, atau pelapukan oleh adanya tumbuhan yang menjadi humus melalui proses yang berlangsung dalam waktu yang lama.

Faktor pembentuk tanah yaitu iklim (suhu atau temperatur, curah hujan), organisme (vegetasi, jasad renik/mikroorganisme), bahan induk, topografi/relief, dan waktu. 

Peran organisme dalam membentuk tanah adalah membuat proses pelapukan, membantu proses pembentukan humus, dan memengaruhi sifat tanah (tergantung pada jenis vegetasi serta unsur kimia yang dikandungnya, sebagai contoh rumput membuat tanah menjadi berwarna hitam). Ada dua macam proses pelapukan, yaitu yang bersifat organik dan yang kimiawi. Pelapukan organik dilakukan oleh makhluk hidup, sedang pelapukan kimiawi oleh proses kimawi (seperti gula yang larut oleh air).

Tanah memperlihatkan sifat yang sama dengan bahan induknya. Misal, bahan induk yang berstruktur pasir membentuk tanah dengan kandungan pasir tinggi.

Topografi/relief memengaruhi tebal/tipis lapisan tanah serta sistem drainase atau pengaliran air. Topografi miring dan berbukit membuat lapisan tanah lebih tipis karena tererosi, sedangkan pada daerah yang datar lapisan tanah tebal karena sedimentasi. Drainase yang jelek, misal karena sering jadi genangan air, tanah pun jadi asam.

Menurut waktu pembentukannya, tanah digolongkan menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua. Pada tanah muda, proses pembentukannya masih menampakkan campuran antara bahan organik dan mineral atau struktur bahan induk. Contoh tanah muda adalah jenis aluvial, regosol, dan litosol. Pada tanah dewasa, terjadi proses pembentukan horizon B. Contohnya adalah jenis tanah andosol, latosol, dan grumosol.  Pada tanah tua, terjadi proses perubahan horizon A dan B. Contohnya adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit). 

Sumber bahan induk tanah berupa batuan beku (dari magma yang membeku), sedimen/endapan (batuan beku yang mengalami  pelapukan), serta metamorf/malihan (batuan sedimen yang mengalami perubahan wujud). 

Jenis-jenis tanah yang diterangkan cirinya dalam buku ini adalah organosol/tanah gambut/tanah organik, aluvial (tanah endapan), litosol (tanah berbatu-batu), latosol, grumosol (tanah berat), podsolit, tanah vulkanis (tanah gunung api), tanah laterit, dan tanah humus. 

Organosol berasal dari bahan organik (tumbuhan rawa yang membusuk dan tertimbun bertahun-tahun), bukan pelapukan batuan dan kurang subur. Tanah gambut terdiri dari ombrogen (terdapat di pantai berawa, sangat asam), topogen (di daerah cekungan antara rawa-rawa di dataran rendah dan pegunungan, agak asam), dan pegunungan (di daerah sedang).

Aluvial merupakan hasil erosi di pegunungan dan perbukitan, banyak terdapat di lembar aliran sungai dan dataran rendah. Tanah ini sangat subur untuk pertanian dan perikanan.

Litosol berasal dari batuan beku dan sedimen, belum lapuk sempurna. Tanah ini belum baik untuk tanaman, paling-paling rumput liar dan tanaman keras.

Latosol adalah tanah telah mengalami perkembangan sehingga terdapat perbedaan horizon (cokelat, merah, kuning), dalam, serta bersifat lempung, remah-gumpal, dan gembur.

Grumosol berasal dari batuan kapur dan batuan gunung api, kurang sesuai untuk padi tapi masih bisa untuk palawija, karet, dan jati.

Podsolit berasal dari batuan pasir kuarsa, berwarna merah sampai kuning.

Tanah vulkanis berasal dari abu letusan yang lapuk, mengandung banyak unsur hara tapi rendah bahan organik.

Tanah laterit berwarna kuning sampai merah. Unsur haranya telah hilang karena tercuci oleh air hujan.

Tanah humus berasal dari pembusukan tumbuhan, sangat subur.

Peranan tanah dalam kehidupan manusia di antaranya untuk bercocok tanam serta bahan untuk kerajinan dan bangunan. Meskipun tanah sangat berguna, tapi banyak yang telah mengalami pencemaran dan kerusakan. Salah satu penyebab kerusakan tanah adalah erosi, baik secara alami oleh air hujan, topografi, atau kurangnya vegetasi, maupun oleh manusia. Erosi dapat menurunkan kesuburan tanah karena menghanyutkan partikel tanah, mengubah struktur dan profil tanah, serta menurunkan kapasitas infiltrasi dan penampungan. Kerusakan ini terdapat baik di tempat terjadinya erosi maupun di tempat penerima hasil erosi. Di tempat penerima hasil erosi dapat terjadi polusi sedimen (pengendapan bahan-bahan padat tanah) serta polusi kimia (senyawa-senyawa kimia berupa unsur hara dari pupuk atau sisa-sisa pestisida/herbisida).

Untuk mencegah dan mengatasi pencemaran tanah, ada metode pengawetan tanah secara vegetatif, mekanik, dan kimia. Berbagai metode pengawetan tanah ini sepertinya persis dengan yang pernah saya temukan di peraturan pemerintah mengenai konservasi tanah dan air serta rehabilitasi hutan dan lahan. Kiranya termasuk ke dalam metode itu, khususnya yang secara vegetatif, adalah kesesuaian antara jenis tanaman dan jenis tanah. 

Untuk memproduksi tanaman secara optimum, sebelumnya harus dilakukan:
- pencegahan erosi, 
- perbaikan udara dan air,
- pemeliharaan bahan organik tanah,
- perbaikan kerusakan tanah
- perbaikan drainase tanah,
- pemupukan,
- perbaikan sifat tanah.

Pengelolaan tanah meliputi penyusunan rencana penggunaan tanah, konservasi tanah, pengolahan tanah (pembukaan dan pembersihan lahan), dan pemupukan.

Kesuburan tanah dipengaruhi oleh jenis tanah dan komposisi tanah. Semakin gelap tanah, semakin subur. Perbandingan antara unsur udara, air, anorganik, dan organik normalnya adalah kurang lebih 5%, 5%, 45%, dan 45%.

Buku ini diakhiri dengan pertanyaan "bagaimanakah cara menyeimbangkan antara kebutuhan manusia akan tanah dan kelangsungan keseimbangan ekosistem?" yang dijawab sendiri dengan "capailah keseimbangan dengan mengolah tanah yang ada agar tetap produktif". Selain itu terkandung suatu kearifan mengenai proses alam yang mana untuk membangun perlu merusak terlebih dahulu. Pada tanah, pengrusakan itu terjadi melalui pelapukan dan pembusukan bahan organik baru terbentuklah tanah yang subur.

Walaupun dari kemasannya ini buku pelajaran anak-anak, bukan berarti segala isinya mudah dipahami wkwkwk. Sementara, dari buku ini saja, saya merasa ilmu tanah terlalu luas bagi saya yang barulah pengrajin(?) kompos skala rumahan dengan metode paling malas (masukkan semuanya ke dalam compost bag dan biarkan alam bekerja). Namun buku ini juga kurang menjelaskan hal-hal yang telanjur memantik rasa ingin tahu saya, yaitu mengenai horizon-horizon tanah serta unsur hara dan bahan organik tanah itu berupa apa saja? 

Maka dari buku ini saya mendapati bahwa kompos cuma satu dari sekian bahan penyusun tanah, yang bisa dibilang adalah humus karena berasal dari pembusukan tetumbuhan. Buku ini mengilhami saya untuk berfokus mendalami kompos saja selama masih dikaruniai kesempatan untuk membuatnya.

Minggu, 04 Juni 2023

Profit di Lahan Sempit

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penyusun : Redaksi Trubus
Penerbit : PT. Trubus Swadaya, Depok
Tahun Terbit Digital, 2021
ISBN : 978-623-341-102-8 (PDF)

Buku digital ini dapat diakses di Ipusnas. Tebalnya cuma 44 halaman (termasuk kover) dan dapat ditamatkan dalam kurang dari 1 jam. Isinya 4 artikel yang sebelumnya sudah dimuat di majalah Trubus

"Hidroponik di Serambi" (Imam Wiguna, Majalah Trubus - Februari 2016/XLVII
Artikel ini meliput pehobi bercocok tanam yang di selasarnya menerapkan berbagai macam sistem hidroponik sebagai berikut.

- Deep flow technique (DFT) dengan 54-88 lubang tanam untuk selada, bayam merah, sawi, kangkung, bayam batik, dan kale,
- Sederhana, menggunakan kotak stirifoam bekas kemasan buah impor dan net pot, untuk kemangi dan seledri,
- Dutch bucket, wadah tanam menggunakan kotak bekas es krim yang diisi media tanam hidroton (butiran tanah liat yang sudah dibakar) dan nutrisinya dialihrkan melalui selang, untuk mentimun, melon, dan tomat,
- Pot dengan media tanam pasir malang dan serbuk sabut kelapa (cocopeat), untuk tanaman dengan tajuk lebar dan tinggi seperti kubis, cabai, dan bunga kol.

Perangkat hidroponik itu ditempatkan di atas meja dan rak, sepertinya untuk mendapat pencahayaan yang lebih baik.

Sebelumnya beliau mengikuti pelatihan hidroponik. Beliau mengerjakan kebunnya pada pagi dan sore sebelum dan sesudah kerja. Hasil berkebun masih untuk konsumsi sendiri, kalau ada kelebihannya untuk dibagi-bagikan. Beliau juga memberikan pelatihan di grup.

"Profit di Lahan Sempit" (Muhammad Fajar Ramadhan, Majalah Trubus - November 2015/XLVI)
Fotonya menunjukkan rak bambu yang dibangun di atas saluran air tepi jalan, di atasnya terdapat deretan polybag. Tanamannya adalah kangkung, bayam, selada, cabai, dan pakcoy. Kebun ini dikelola secara bergotong-royong, disponsori oleh Bank Indonesia, Trubus, dan PKK DKI Jakarta.

"Panen Cabai di Halaman" (Muhammad Fajar Ramadhan, Majalah Trubus - Desember 2015/XLVI)
Artikel ini masih mengenai kebun-kebun di seputar Jakarta yang disponsori oleh Bank Indonesia sebagai bentuk corporate social responsibility (CSR) yang didukung oleh Trubus dan PKK DKI Jakarta. Ada keterangan mengenai cara membuat perangkap kuning untuk menjebak lalat buah hama cabai, yaitu dengan memanfaatkan botol bekas minuman kemasan yang dicat kuning kemudian dilumuri lem tikus. Fotonya menampakkan kebun yang diberi atap jaring. Sayang artikelnya terputus (halaman 29).

"Komunitas Jakarta Berkebun Sebarkan Gairah Berkebun" (Muhammad Hernawan Nugroho, Majalah Trubus - Februari 2016/XLVII)
Jakarta Berkebun yang kemudian berkembang menjadi Indonesia Berkebun mempopulerkan konsep kebun komunitas sejak 2011, dengan meminjam lahan menganggur milik pengembang untuk dijadikan kebun sementara. Apa kabarnya, ya, sekarang? Saya cari akun Bandung Berkebun di Instagram, terakhir kali update 2017. 

Dari keempat artikel tersebut, 3 artikel belakangan mengenai kebun komunal. Hasilnya dijual atau memang menghasilkan profit, yang masuk ke kas untuk digunakan sebagai modal berkebun lagi. 

Saya mendapatkan istilah-istilah yang layak untuk ditelusuri lebih lanjut, seperti "vertikultur" (sudah dicek sekilas di YouTube, bisa menggunakan botol bekas) dan "vertigasi". Padanan untuk "urban farming" dalam artikel-artikel ini adalah "pertanian perkotaan".

Gagasan yang bisa diterapkan dari buku ini:
- Cari/beli meja/rak/perangkat hidroponik yang tinggi untuk diletakkan di balik dinding balkon.
- Belajar cara membuat pupuk organik cair/nutrisi tanaman untuk dicampurkan ke air penyiram.
- Memanfaatkan botol bekas kemasan untuk 1) vertikultur, 2) perangkap kuning.
- Cari informasi dan berpartisipasi lagi dalam acara/komunitas berkebun di area sekitar tempat tinggal.
- Cari tahu lebih lanjut mengenai vertigasi dan penggunaan atap jaring.

Senin, 29 Mei 2023

Pestisida Organik--Langkah Mudah Meramu Pestisida Organik Sendiri

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penyusun : Winarti dan Tim Redaksi Cemerlang
Penerbit : Lily Publisher (imprint Penerbit ANDI), Yogyakarta
Edisi I, 2015
ISBN : 978-979-29-4709-0, (E) 978-979-29-8359-3

Sebelum masuk ke bagian paling penting (yang saya cari dan perlukan), buku ini didahului dengan uraian ringkas mengenai pertanian organik, prinsip-prinsipnya, serta deskripsi tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan bahan pestisida organik. 

Di halaman 4, disebutkan mengenai sebuah mode pengembangan pertanian yang dikenal sebagai metode bertani "tanpa bekerja" yang dikembangkan oleh seorang petani di Jepang yang berlatar belakang mikrobiologi (mantan ilmuwan laboratorium) dengan empat asas sebagai berikut.

1. Tanpa pengolahan, yaitu tanpa membajak atau membalik tanah,
2. Tanpa pupuk kimia atau kompos yang dipersiapkan,
3. Tanpa menghilangkan gulma dengan pengerjaan tanah/herbisida,
4. Tidak tergantung dari bahan-bahan kimia.

Sayang, tidak ada penjelasan lebih lanjut lagi panjang lebar mengenai metode yang kedengaran sangat menarik ini. Bahkan nama sang petani Jepang saja tidak dicantumkan atau dari mana tepatnya sumber rujukan informasi ini, supaya saya dapat menelusurinya sendiri. Mungkin memang sebaiknya mendalami metode yang lebih dahulu saya dengar, yaitu permakultur dan "lazy gardening".

Nah, bagian paling penting ada di "BAB 5. PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK". Dalam catatan ini, supaya kelak mudah mencarinya ketika mau mempraktikkan, saya hendak menyalin resep pestisida organik dengan bahan yang paling mudah ditemukan yaitu daun pepaya, bawang putih, dan cabai rawit. 

Bawang putih biasanya selalu tersedia di dapur, sedangkan pepaya dan cabai biasanya sangat mudah tumbuh di sekitar rumah. Bahkan sering kali ketika saya hendak menanam cabai, misalnya, yang tumbuh malah pepaya. Rupanya biji-biji pepaya yang masuk ke compost bag tidak terurai. Setelah kompos yang dihasilkan digunakan sebagai media tanam, biji-biji pepaya itu pada bertumbuhan. Kalau doyan sayur daun pepaya, sebetulnya itu lumayan lo. Kini melalui buku ini saya mengetahui bahwa daun pepaya dapat dimanfaatkan juga sebagai pestisida. 

PESTISIDA DAUN PEPAYA (halaman 72)
Kegunaan 1 : Mengendalikan ulat dan hama pengisap.
Cara membuat 1 :
a. Rajang 0,5 kg daun pepaya segar.
b. Daun pepaya yang telah dirajang kemudian direndam dalam 5 liter air, 1 sendok makan minyak tanah, dan 25 gr detergen selama semalam.
c. Saring larutan hasil perendaman dengan kain halus.
d. Larutan hasil penyaringan disemprotkan ke pertanaman.

Kegunaan 2 : Membasmi kutu daun, rayap, hama-hama ukuran kecil termasuk ulat bulu.
Cara membuat 2 :
a. Ambil daun pepaya sebanyak 0,5 kg.
b. Lumatkan (bisa diblender/ditumbuk) dan dicampurkan dalam 0,5 liter air.
c. Biarkan selama kurang lebih satu jam.
d. Langkah berikutnya disaring, lalu ke dalam cairan daun pepaya hasil ditambah lagi 2 liter air dan 1 sendok teh sabun.
e. Semprotkan cairan ini pada hama-hama yang mengganggu tanaman.
f. Semprotkan pestisida air pepaya dan sabun ini pada pertanaman.

PESTISIDA BAWANG PUTIH (halaman 90)
Kegunaan : Untuk segala jenis hama tanaman.
Cara membuat :
a. Parut 50 gr bawang putih, campur dengan 1/4 liter air, 5 gr detergen, dan 1 sendok teh minyak mineral(?).
b. Diamkan selama 24 jam, lalu disaring dengan kain halus.
c. Larutan hasil penyaringan diencerkan hingga volumenya 10 kali dan semprotkan ke tanaman.

PESTISIDA CABAI (halaman 95)
Kegunaan : Efektif mencegah timbulnya cendawan.
Cara membuat :
a. Tumbuk/ulek halus 50 gr cabai (rawit hijau tapi ada juga yang merah sedikit) dan rendam dalam 0,5 liter air selama 24 jam.
b. Cairan hasil rendaman disaring dengan kain halus.
c. Semprotkan cairan hasil penyaringan tanaman.

Dalam catatan ini juga saya hendak mendaftar tumbuhan lain yang dapat dijadikan bahan pembuatan pestisida organik. Siapa tahu kelak saya ada rezeki/kesempatan untuk membeli/mencoba menanamnya di sekitar rumah. 

Untuk perincian kegunaan dan cara membuatnya, berikut gambar-gambarnya (meskipun tidak untuk semuanya), boleh download buku ini lagi di Ipusnas :D

- Biji jarak
- Daun dan biji sirsak
- Dlingo
- Pacar cina
- Daun tembakau
- Daun sirih
- Umbi gadung
- Daun/biji mimba
- Srikaya (biji)
- Daun gamal
- Bunga piretrum (serbuk)
- Kayu pinus (serbuk)
- Buah picung/keluak
- Lengkuas dan jahe
- Daun mindi
- Tagetes
- Buah jengkol
- Daun sengon buto
- Tuba (akar dan kulit kayu)
- Batang serai wangi
- Daun dan bunga kemangi
- Biji pinang
- Daun kayu putih
- Daun pandan
- Daun kacang babi
- Bengkuang

Dalam bab lima ini selanjutnya ada resep-resep yang lebih rumit, maksudnya yang menggunakan lebih banyak bahan dalam satu ramuan yang tiap-tiapnya memiliki kegunaan spesifik misalnya khusus tanaman yang terkena hama serangga, khusus tanaman yang terkena wereng batang cokelat, lembing batu, ulat grayak, dan ulat hama putih palsu, khusus untuk pengendalian hama ulat daun pada tanaman perkebunan dan holtikultura, dan masih banyak lagi. 

Dalam catatan ini saya hendak menyalin resep yang paling mudah saja yaitu nomor 13 yang DIGUNAKAN UNTUK PENGENDALI SERANGGA, JAMUR, DAN PENOLAK HAMA (halaman 109).

Bahan : bawang putih 6 buah, cabai (rawit hijau tapi ada juga yang merah sedikit) 2 genggam, dan sabun balok 1/2 butir.
Alat : blendek/ulekan dan panci.
Cara membuat : 
a. Campurkan 6 buah bawang putih yang sudah dikupas dengan 2 genggam cabai.
b. Setelah itu, bahan diblender/ulek.
c. Selanjutnya, rebuslah dalam sepanci air bahan hasil blender/ulekan tadi.
d. Tambahkan 1/2 balok sabun, aduk rata dan biarkan selama sehari.
e. Saring cairan itu dan gunakan 4 cangkir larutan tersebut untuk 2 kali penyemprotan.

Buku ini dilengkapi dengan analisis usaha mulai dari perhitungan sampai peluangnya. Buat saya, untuk sementara ini, belajar mempraktikkan mulai dari yang termudah dahulu dan menerapkannya secara konsisten untuk mengetahui keefektifannya. Namun yang lebih penting lagi adalah: tanam dulu bayamnya, caisimnya, seledrinya, dst ... -_-"

Selasa, 21 Februari 2023

Hama, Penyakit, dan Gulma pada Cabai

Gambar di-screenshot 
dari Ipusnas.
Penyusun : Tim Penulis Agriflo
Penerbit : Penebar Swadaya, Depok
Tahun terbit digital : 2021
E-ISBN : 000-000-000-000-0

Lanjut belajar tentang cabai-cabaian (tentu saja bukan yang cewek-cewek bonceng tiga itu).

Buku ini cuma 34 halaman, ringkas dalam menerangkan gejala serangan dari tiap-tiap jenis hama, penyakit, dan gulma disertai foto berwarna yang menampakkan kerusakannya atau pelaku kejadiannya (tapi tidak untuk semuanya).

Hama terdiri dari: thrips, kutu daun, kutu kebul, lalat buah, ulat grayak, tungau, dan ulat tanah.

Penyakit terdiri dari: layu bakteri, bercak daun, busuk buah, antranoksa, layu fusarium, penyakit mosaik virus, gugur daun, dan penyakit daun keriting kuning.

Gulma terdiri dari: gulma daun lebar, teki, dan gulma rumput.

Untuk hama dan penyakit dilengkapi dengan tabel cara pengendalian. Masing-masing ada tiga tipe pengendalian. Untuk hama: mekanik, nabati, dan teknik kultur. Untuk penyakit: mekanik, kimiawi, dan kultur teknis. Tampak bahwa hama masih dapat dikendalikan dengan bahan nabati yang bisa dibuat sendiri sekiranya memang sudah tersedia. Sedangkan kalau cabai sudah kena penyakit, disarankan untuk menggunakan bahan kimia yang mesti dibeli. Lalu bedanya "teknik kultur" dengan "kultur teknis" apa, ya? 🤔

(Catatan untuk diri sendiri:
1. Amati masalah pada tanaman cabai, 
2. Cocokkan dengan keterangan dalam buku ini untuk mengidentifikasi jenis gangguannya,
3. Optimalkan cara mekanik dan teknik kultur teknis terlebih dahulu,
4. Baru cari bahan nabati/kimia yang dibutuhkan di Sh*p**).

Untuk gulma, pengendaliannya cukup dengan rajin menyiangi atau bisa juga menggunakan herbisida tapi mesti berhati-hati agar cabainya tidak ikut musnah. Lumayan juga sih sekiranya di antara gulma tersebut ada yang edible, berkhasiat tertentu atau bisa dimanfaatkan. Mari selanjutnya cari tahu tentang itu!

Jumat, 10 Februari 2023

Kutu Putih Mati Kutu

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : Redaksi Trubus
Penerbit : PT. Trubus Swadaya
Tahun Terbit Digital : 2021
ISBN Elektronis : 978-623-341-196-7 (PDF)

Dalam berkebun, kutu putih adalah hama yang ujungnya selalu ada lagi ada lagi. Penasaran apakah di Ipusnas ada buku mengenai makhluk ini. Sementara, cuma ada buku ini. Tebalnya cuma 36 halaman. Isinya terdiri dari empat artikel yang sebelumnya pernah diterbitkan di majalah Trubus Januari 2019 dan Februari 2020. 

Namun ternyata kutu putih hanya diangkat pada artikel pertama, sedang selebihnya mengenai penyakit yang disebabkan oleh:
- cendawan Fusarium oxysporum (gejala: daun dan batang menguning, layu ketika terpapar sinar matahari),
- cendawan Colletotrichum capsici atau disebut juga patek atau antranoksa (gejala: bercak hitam kecokelatan melingkar pada buah yang lalu busuk, mengering, dan jatuh).

Dua penyakit tersebut merupakan momok utama bagi petani cabai.

Memang cabai adalah jenis wajib-selalu-tanam di sekitar rumah, karena:
- sering kali diperlukan sebagai bumbu masakan,
- apalagi kalau mau nyambel (kadang-kadang),
- bijinya mudah diperoleh dan mudah pula tumbuhnya.

Bagi pekebun amatiran yang menanam sedikit-sedikit di polybag malas-malasan pula (hadeeeh), buku ini tidak begitu membantu kecuali pengetahuan mengenai jenis dan gejala hama penyakit yang dapat menjangkiti cabai berikut cara pencegahan yang disesuaikan saja dengan keadaan seperti:
- menggunakan benih tahan penyakit,
- sanitasi kebun, meliputi pengendalian gulma serta pembersihan sampah di sekitar kebun,
- proteksi dari luar,
- penggunaan pestisida tepat guna.

Di samping itu, ada perlakuan terhadap tanaman yang sudah telanjur kena penyakit misalnya dengan memisahkan dan membakarnya supaya tidak tersebar.

Bagi konsumen cabai yang masih bergantung pada warung atau tukang sayur, buku kecil ini pastinya sangat informatif. Kita bisa mengetahui proses yang mungkin dilakukan petani sehingga menghasilkan cabai mulus-mulus bebas hama penyakit untuk kita konsumsi. Untuk menjalankan proses itu, petani mesti punya disiplin dan presisi--telaten pokoknya.

Jika punya pengalaman menanam, tentu tahu betapa repotnya ketika hama penyakit telah bermunculan. Dengan pengalaman itu, saya memaklumi penggunaan zat kimia dalam pertanian skala besar yang sampai berhektar-hektar untuk memenuhi kebutuhan umum. Orang pada umumnya tentu ingin produk berkualitas sebagus-bagusnya tanpa mesti tahu segala kepayahan di baliknya. Jika ingin mengonsumsi tanaman yang bebas zat kimia sama sekali atau sepenuhnya organik, kita sendiri yang mesti menanggung segala kepayahan itu dengan menanam-merawatnya sendiri atau membelinya dari sumber lain dengan harga lain pula.

Sebetulnya buku ini juga mengajukan alternatif yang tampak lebih ramah lingkungan seperti penggunaan ekstrak biji srikaya untuk mengendalikan kutu putih pada pepaya, juga pemanfaatan kitosan (banyak terdapat pada hewan yang memiliki cangkang seperti rajungan, udang, kepiting, dan bekicot--halaman 25) sebagai biofungisida untuk menangkal antranoksa pada jagung dan cabai.

Selasa, 24 Januari 2023

Mengenal Hama dan Penyakit Tanaman

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : Nurulita Candra Dewi
Penerbit : PT. Intan Pariwara, Klaten
Tahun terbit digital : 2019
e-ISBN : 978-979-28-2495-7

Masih penasaran dengan hama dan penyakit tanaman. 


Yang paling kelihatan yaitu kalau buku Trubus tebal dan full color, buku ini tipis dan tidak full color. Karena tipisnya, buku ini tidak memberikan informasi sebanyak buku Trubus. Namun ada hal-hal atau informasi-informasi dalam buku ini yang tidak terdapat di buku Trubus. Misalnya saja, buku ini menyediakan eksperimen untuk memahami bagaimana unsur abiotik atau faktor lingkungan berpengaruh pada tanaman. Selain itu, menambah informasi mengenai jenis-jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Buku ini adalah suplemen setelah membaca buku Trubus. 

Memang buku ini tampaknya ditujukan kepada anak-anak atau pelajar, sedangkan buku Trubus kiranya mencakup pula petani/pekebun skala besar. Keduanya sama-sama sarat akan materi "hafalan" ala buku pelajaran Biologi. Ketebalan buku Trubus (300-an halaman) mungkin overwhelming, tapi full color-nya bikin menarik. Buku ini gambar-gambarnya kurang jelas karena tidak full color, tapi ketebalannya yang tidak seberapa (cuma 66 halaman) membuatnya jadi bacaan informatif yang ringkas dapat lekas dituntaskan.

Kalau buku Trubus memulai dengan memperkenalkan gejala baru kemudian jenis-jenis hama dan penyakit sekalian penanganannya, buku ini kebalikannya. Buku ini langsung mengenalkan pada jenis hama menurut kelas-kelasnya (nematoda, mollusca, insekta, dan seterusnya), termasuk gejala dan bentuk penyerangan, sedangkan buku Trubus menurut cara perusakannya. 

Yang menarik, sementara buku Trubus banyak merekomendasikan penggunaan pestisida kimia berikut tabel yang memerinci zat-zatnya, buku ini kurang menyarankannya kendati mengakui keampuhannya. Pada bagian mengenai pengendalian hama secara kimiawi, buku ini hanya menguraikan berbagai efek sampingnya tanpa menyebut contoh merek--zat aktifnya pun tidak! Menurut buku ini, pestisida mesti jadi alternatif terakhir hanya kalau gangguan sudah tidak terkendali lagi. 

Contoh-contoh tumbuhan untuk pestisida nabati di buku ini tidaklah begitu umum (yakni mimba, serei wangi, piretrum, bakung, sirih, mindi, dan cengkih) tapi disertakan langkah-langkah pemanfaatannya. Sedangkan di buku Trubus contoh-contohnya lebih mudah ditemukan (seperti bawang putih, pepaya, cabai, jahe, tomat, dan merica) tapi tidak ada petunjuk pembuatannya.

Pengendalian hama terpadu yang dianjurkan dalam buku ini yaitu dengan budidaya tanaman sehat dan pendayagunaan musuh alami. Budidaya tanaman sehat yaitu melalui pengolahan tanah yang baik, pemilihan bibit unggul, pengairan teratur, pemupukan berimbang, serta pengendalian gulma.

Sabtu, 07 Januari 2023

Hama dan Penyakit Tanaman: Kenali dan Atasi

Gambar di-screenshot 
dari Ipusnas.
Penulis : Argohartono Arie Raharjo

Penerbit : PT. Trubus Swadaya, Depok

Cetakan : Pertama, Juni 2017

Ukuran : viii + 320 halaman, 25 cm

ISBN : 978-602-9407-33-4, (E) 978-602-9407-63-1


Menurut kata pengantar dalam buku ini, Indonesia memang surganya hama dan penyakit tanaman. Petani mengalokasikan 70% pengeluaran untuk pestisida, penyemprotannya selang sehari atau gagal panen. Musim kemarau banyak hama, musim hujan banyak penyakit. Hama terdiri dari pemakan daun, penggerek, pengisap, pengorok daun, pembentuk puru daun, penggulung dan pelipat daun, thrips dan tungau, serta lalat buah tephritidae. Penyakit terdiri dari protozoa, chromista/stratmenopiles, cendawan, bakteri, virus, alga, dan nematoda. 

Buku ini memperkenalkan aneka hama dan penyakit tanaman itu pertama-tama melalui gejalanya. Banyak gejala yang tampak serupa, padahal jenis penyebabnya berbeda-beda. Setelah memperlihatkan beragam gejala kerusakan pada tanaman, bagian selanjutnya dalam buku ini yaitu mengenal lebih jauh tentang organisme-organisme penyebabnya, mulai dari nama, asal mulanya, siklus hidupnya, sampai pengendaliannya, yang meliputi cara-cara mekanis, kimiawi, dan budidaya. Mekanis, secara kasar, bisa diartikan sebagai bunuh, buang, musnahkan langsung. Kimiawi menggunakan zat-zat pabrikan yang mesti dibeli. Budidaya kurang lebih berarti perlakuan pada tanah, misalnya dengan membalikkannya supaya kena matahari sehingga organisme-organisme pengganggu yang bernaung di dalamnya pada mati. Kehadiran mereka dipengaruhi faktor-faktor berupa: kondisi lingkungan, kesehatan tanaman, populasi, serta pengaruh manusia. 

Membaca buku ini terasa seperti suatu terapi bagi saya agar berani menghadapi hewan semacam ulat dan sebagainya dari dekat. Soalnya buku ini dilengkapi dengan gambar bermacam-macam ulat yang walaupun cuma 2D tapi gede dan full color, bo! Horrifyingly educative, lol. Saya sudah mengantisipasi gambar hewan menggeuleuhkan lain seperti bekicot, keong, dan siput, besar-besar dari dekat, tapi herannya, tidak ada.

Tak sekadar menakutkan, tapi juga sesungguhnya menarik mengetahui wujud hewan-hewan itu secara saksama. Kutu putih pseudococcidae, misalnya, sebetulnya jamak ditemukan pada tanaman, tapi ketika diperbesar saya baru ngeh kelihatannya kayak cireng yang belum digoreng (laper, bu?). Ulat penggulung daun pisang juga bentuknya literally kayak pisang dong! Dan, ternyata, apel juga bisa kudisan lo!!! (halaman 94).

Ada pula di antara beberapa organisme ini yang perilakunya tampak menarik. Contohnya kutu bor Asterolecaniidae (halaman 159), berikut saya kutipkan beberapa fakta hidupnya:

Serangga yang tergolong kutu sisik ini terkenal malas bergerak. Ia "mengurung" diri dalam kerak tembus pandang atau sisik yang datar. .... Kutu itu hanya bergerak untuk kawin, di luar itu hanya diam di tempat. Jantan dewasa memang bisa terbang tapi tidak bisa makan, sehingga hidupnya tidak lama. Jika tidak segera menemukan pasangan, ia akan mati sebelum menghasilkan keturunan. .... Betina tidak bersayap; hanya diam menunggu datangnya pejantan.

Astaga, betapa nolep dan menyedihkannya suratan hidup yang digariskan pada spesies ini. Dah lah.

Aphid betina adalah spesies yang independent woman, karena mampu menghasilkan keturunan tanpa kehadiran pejantan dan umumnya dapat menarik semut untuk melindunginya karena cairan manis (halaman 160). You go, girl! Predator alaminya yaitu kepik ladybug dan belalang sembah, yah, mungkin mereka itu semacam emak-emak tradisional dan pemuka agama bagi para feminis liberal ini #eh. Selain aphid betina, ada kutu persik betina (perusak daun Muzus persicae/aphis tembakau) yang mampu menghasilkan keturunan tanpa pejantan. Mereka mungkin dapat berteman baik dengan tungau perusak Acarina (halaman 187) yang mana telurnya "yang tak dibuahi menjadi pejantan haploid yang tetap bekemampuan menghasilkan generasi biseksual" :v 

Membaca buku ini seperti belajar Biologi lagi, membuat takjub dan mengapresiasi jerih payah para peneliti sehigga bisa terhimpun pengetahuan mengenai banyaknya spesies pengganggu tanaman. Mengetahui jumlah mereka yang demikian banyaknya pun memahamkan bahwa bercocok tanam itu sesungguhnya rumit, apalagi kalau skala besar. Sebagian media cenderung memperlihatkan hasil yang bagus-bagus saja untuk memotivasi orang berkebun dengan mengoptimalkan sumber-sumber daya yang tersedia, di sisi lain ada juga berita-berita mengenai derita petani yang gagal panen dan sebagainya. Memang tiap-tiap kerusakan yang dibuat hama penyakit itu ada pengendaliannya, tapi orang mesti tekun melakukannya atau mengalami kerugian. Bahkan virus penyebab penyakit ada yang tidak bisa dihilangkan, tapi menetap tersembunyi dalam tanah menanti inang untuk dijangkiti.

Kalau boleh saya kaitkan dengan penyucian jiwa, mengibaratkan tanaman sebagai manusia sedang hama penyakit berupa pikiran toxic, hasrat buruk, emosi negatif, dan sifat jahat lainnya, maka hal-hal tersebut ada juga pengendaliannya mau dengan cara agamis atau sekuler sebagaimana ada cara mekanis, kimiawi, dan budidaya. Kalau dalam buku mengenai cognitive behavioural therapy, istilahnya adalah psychological gardening. Namun manusia itu sendiri sebagai yang dijangkiti sekaligus yang harus menjadi avatar pengendali kudu awas sewaktu-waktu, aktif menerapkan berbagai cara yang ada itu. Jangan sampai lalai. Berkebun luar dalam.Yah, berkebun hanya satu dari beberapa aktivitas lain yang bisa menjadi refleksi dalam mengelola kehidupan batin. Dengan menjahit, misalnya, belajar pula menambal lubang-lubang di hati, membuatnya tetap fungsional bahkan lebih menarik seperti patchwork, eaaa ....

Juga, gambar hama penyakit yang berupa bercak-bercak atau bintil-bintil kadang mengingatkan pada karya manusia yang suka menghias-hias, misalkan membuat motif atau pola pada suatu bidang, menempel-nempelkan stiker kecil di permukaan apa, dan seterusnya. Gejala atau kerusakan yang ditimbulkan hama penyakit ini pun tampak sebagai suatu karya seni, contoh jelasnya mungkin dapat berupa ulat dengan bulu warna-warni yang mentereng atau motif "batik" pada permukaan daun, padahal itu sebetulnya mengganggu produktivitas tanaman. Demikian karya seni buatan manusia ada yang lahir dari jiwa rusak dan terganggu. Atau, orang lebih memilih untuk menekuni seni ketimbang menghasilkan buah cipta lain yang manfaatnya lebih jelas. Eh, entah apa memang boleh dimaknai demikian atau asal main kait saja ini :v Namun itulah alam. Mungkin kita tidak bisa membasminya sampai habis sama sekali, hanya bisa mengendalikannya agar tidak melampaui ambang batas. Biarkanlah ada sedikit ruang untuk "seni", tapi utamakan produktivitas yang jelas-jelas bermanfaat.

Dipikir lagi, memang tidak bisa secara membabi buta mengaitkan pengendalian hama penyakit tanaman dengan kelola batin. Penyakit hati seperti sombong, misalnya, mesti diberantas habis sebab setitik saja jadi penghalang ke surga. Barulah yang seperti iri, masih diperbolehkan dengan memperhatikan "ambang batas" yaitu hanya iri kepada orang-orang tertentu sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya membaca buku ini di Ipusnas, tidak ada TOC per bagian. Rasanya lebih enak dan nyaman jika memiliki versi fisik buku ini supaya mudah membukai halamannya langsung ke indeks mencari sesuai keperluan. Namun sepertinya buku ini baru betul-betul berguna bagi yang giat, tekun, dan serius berkebun aneka macam tanaman apalagi kalau berskala besar. Karena saya berkebun masih skala kecil-kecilan (lebih tepatnya lagi, mini-minian), maka saya hanya mencatat petunjuk-petunjuk praktis serta gangguan-gangguan yang relevan atau telah saya temukan dalam pengalaman saya yang masih sangat terbatas, yang kiranya masih dapat ditangani dengan cara-cara sederhana berupa perangkap kuning serta pestisida nabati buatan sendiri dari bahan-bahan yang mudah ditemukan (: bawang putih, cabai, jahe, daun dan buah muda pepaya, merica, daun tomat). Namun buku ini masih memberi saya "PR" untuk mencari sendiri cara-cara membuatnya. 

Minggu, 20 September 2020

Mendidik Jiwa Lewat Berkebun

Sebagai orang kota, dalam pertumbuhannya saya tidak begitu akrab dengan alam. Alam sekadar pohon-pohon perindang di tepi jalan, taman, halaman rumah, dan semacamnya, sekadar latar bagi kehidupan yang cenderung berorientasi pada bangunan buatan manusia: rumah, sekolah, mal ....

Berkebun yang baru saya coba tahun-tahun ini, pada usia yang dikatakan sudah dewasa, saya rasakan sebagai suatu pendidikan karakter. Terus terang, berkebun saya rasakan lebih sebagai suatu kewajiban ketimbang passion. Ibarat anak kecil yang mesti terus-menerus didorong untuk bangun pagi, makan teratur, bobo siang, sikat gigi sebelum tidur, dan sebagainya, berkebun memaksa saya untuk belajar membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. 

1. Bersyukur

Tuhan melimpahkan nikmat kepada manusia, dan manusia mesti mensyukurinya. Bagaimanakah caranya? Di antaranya dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk kepentingan hidupnya.

Hasil panen kompos pertama,
belum terurai dengan baik.
Saya punya waktu luang. Saya tinggal di rumah dengan balkon-balkon dan halaman yang cukup luas. Saya punya sedikit uang untuk membeli media tanam dan biji tanaman. Malah, biji bisa diperoleh secara cuma-cuma dari bahan masakan sehari-hari (misalnya cabai, kacang, dan sebagainya). Air untuk siram-siram pun ada. Sampah terus menerus dihasilkan; yang organik bisa dijadikan pupuk, sedangkan sebagian yang plastik untuk wadah tanaman  Inspirasi untuk berkebun berdatangan dari mana-mana. Sayang kalau semua itu tidak dimanfaatkan ....

2. Disiplin dan bertanggung jawab

Rutin menyiram tanaman setiap hari adalah pencapaian tersendiri. Betapa tidak. Adakalanya kemalasan menyerang. Kalau tidak berhasil mengalahkannya, bisa-bisa tanaman pada mati kekeringan. 

Tiap kali kemalasan melanda, saya mengingatkan diri bahwa tanaman itu sudah dikasih nyawa. Kamu sudah menumbuhkannya, dengan menanamnya dan menyiraminya pada waktu kamu lagi semangat-semangatnya berkebun. Sekarang kamu malas, dan ingin membiarkannya begitu saja? Rasa-rasanya seperti kamu memutuskan untuk punya anak sehingga hamil dan lalu melahirkan. Tapi sudah begitu bayi itu kamu diamkan saja, tidak disusui atau apa. Kan tega amat, tidak bertanggung jawab. Menyirami tanaman tiap hari merupakan tindak lanjut paling minimal. Paling, karena sebetulnya mesti diberi pupuk dan diawasi dari hama juga.

3. Menghargai

Hasil panen minggu ini.
Mungkin ini kedengaran aneh. Orang berkebun biasanya senang ketika akhirnya bisa panen dan menikmati hasil menanam sendiri. Saya justru malas, baik dalam memanen maupun memakan atau mengolah hasilnya. Padahal proses sampai bisa panen itu telah memakan pengorbanan tersendiri, mulai dari menyiapkan media dan wadah tanam, menyeret diri agar rutin menyiram, dan seterusnya. Akibat kemalasan itu, sebagian tanaman pun keburu dilalap hama. Yah, bisa saja menganggapnya sebagai sedekah, sengaja menanam untuk memberi makan makhluk-makhluk lain sesama ciptaan Tuhan. Tapi, please deh! Setidaknya sisihkan sebagian besarnya sebagai reward atas usahamu selama ini. Toh katanya sebaik-baik rezeki adalah hasil jerih payah sendiri, bukan?

Tentunya ini bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan, yang telah menjadikan tanaman itu tumbuh sampai layak panen. Bahkan, sesungguhnya nikmat tersebut bukan hanya berupa tanaman yang sengaja ditanam melainkan juga tumbuhan liar yang ternyata dapat dimakan. Contohnya, di sekitar rumah saya, tumbuh sirih cina dan mengkudu tanpa ada yang sengaja menanamnya.

4. Proporsional

Saya tidak begitu yakin akan mana istilah yang tepat untuk yang satu ini. Intinya sih menyangkut pengendalian hama. Saya pernah mendengar bahwa hama itu dikendalikan, bukan dibasmi. Hama pun berhak atas yang kita tanam, asal tidak kebanyakan. Ibarat kita bekerja atau berbisnis, lalu uang yang kita hasilkan dari situ mesti disisihkan untuk zakat dan pajak. Lebih dari itu boleh saja, dianggap sebagai sedekah. 

Hasil panen ecoenzyme.
Karena aromanya kurang sedap,
sepertinya akan dijadikan
pupuk dan pestisida saja. 

Namun agama juga mengajarkan supaya tidak terlalu mengulurkan tangan atau kita akan merugi. Begitupun dalam berkebun. Bersedekah untuk hewan-hewan kecil itu boleh saja, tapi rugi dong kalau semuanya habis sama mereka? Perhatikanlah dirimu sendiri, yang sebetulnya poin 3.

Nah, untuk menjaga supaya bagian kita tidak dijarah oleh yang kurang berhak, kita mesti rajin-rajin memantau dan tentunya mengambil tindakan dengan menyemprotkan pestisida. Pestisida yang digunakan tentu saja yang ramah lingkungan. Ibarat ada peminta-minta dan kita tidak hendak memberi dia uang, maka sebaiknya kita tidak menghardik tapi menolak dengan halus dan tidak menyakitkan(?)

.

Begitu dulu yang terpikirkan oleh saya. Berkebun lebih dari sekadar untuk ketahanan pangan, yang sepertinya sebatas pada fisik. Berkebun bukan sekadar memupuk tanah untuk menyuburkan tanaman, melainkan juga memupuk jiwa untuk menyehatkan pribadi. Walau katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar, saya merasa sayang baru menyadari hal tersebut sekarang ini. Seandainya saja sedari kecil saya sudah dididik untuk menghayati sikap-sikap tersebut dengan cara berkebun ....

Rabu, 20 Mei 2020

Jurnal Ngebun: Buletin Pak Tani Digital Edisi 10 - Bercocok Tanam dari Rumah di Tengah Pandemi (1)

Di Instagram, saya mengikuti akun @paktanidigital sehingga mengetahui adanya buletin ini. Edisi 10 ini yang pertama saya lihat, dan judulnya pun pas dengan situasi sekarang. Seketika saja saya langsung tertarik untuk mengunduhnya, bahkan membagikan informasi ini kepada teman-teman di Instagram.


Edisi 10 ini yang paling baru (pada saat saya baru mengetahui tentang adanya buletin ini). Dari 9 edisi sebelumnya, hanya 2 yang saya unduh juga. Soalnya, dari judulnya, yang lain-lainnya itu tampaknya mencakup skala yang sepertinya masih terlalu besar buat saya.

Dari 5 judul yang ditampilkan di kover edisi 10, 4 di antaranya menarik buat saya. Cuma satu yang saya tidak begitu tertarik, yaitu "Cara Menanam Basella di Pekarangan Rumah"--lebih karena saya belum mengetahui basella itu jenis tanaman yang bagaimana.

Dalam edisi setebal (tipis kok!) 66 halaman ini terdapat 12 artikel. Delapan di antaranya tampak menarik untuk langsung dipraktikkan. Sedangkan yang lain-lain, karena sebagian menyangkut tanaman buah yang berukuran cukup besar, sepertinya nanti dulu deh.

Kedua belas artikel tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Budidaya bawang merah dalam pot
  2. Menanam jeruk dalam pot
  3. Menanam kangkung di pot atau polybag
  4. Budidaya alpukat di dalam pot
  5. Menanam jahe di dalam pot
  6. Budidaya bawang putih di pekarangan rumah
  7. Budidaya buah naga di dalam pot
  8. Menanam basella di pekarangan
  9. Budidaya caisim di pekarangan rumah
  10. Budidaya jambu kristal di dalam pot
  11. Menanam sayur di rumah dengan urban gardening
  12. 10 tanaman cepat panen

Tiap artikel hanya 3-4 halaman. Isinya berupa deskripsi tanaman (misalnya berupa kandungan nutrisinya) serta petunjuk teknis penanaman, perawatan, dan seterusnya.

Petunjuk teknis yang terperinci sesungguhnya penting agar tanaman tumbuh optimal (yah, percaya saja deh this is based on science.) Hanya saja, bagi pekebun pemula yang notabene pemalas seperti saya, bisa-bisa instruksi yang demikian menjelimet itu bikin keder duluan  Rasanya ingin asal tanam saja, tanpa mesti begitu ribet soal komposisi media tanam dan sebagainya. Siapa tahu saja bisa tetap tumbuh--terlepas dari optimal atau enggaknya, ya.

Tapi beberapa informasi teknis saya dapati benar-benar berguna, apalagi menyangkut tanaman yang sudah saya miliki atau kebetulan saya baru beli bijinya.

Misalnya, caisim harus disemai dulu sampai muncul 3-4 daun baru kemudian dipindahkan ke wadah dengan ruang 10 x 15 cm. Memanennya pun harus dengan mencabutnya sampai akar.

Selada bisa ditumbuhkan kembali dari bonggolnya, yang bisa kita beli dari warung, pasar, supermarket, atau whichever you like lah. Ketinggian wadah tanamnya mesti 20 cm, dan pengetahuan ini pun seketika menyingkirkan sebagian wadah yang kemarin sudah saya kumpulkan dan maksudkan untuk jenis ini, hahahaha. Selada bisa tumbuh di tempat teduh, sehingga balkon bisa dimanfaatkan untuk itu.

Cabai butuh wadah berketinggian 45 cm.

Kaleng bekas bisa digunakan untuk menanam sayuran. Sebelumnya saya khawatir apakah wadah jenis kaleng aman digunakan untuk tanaman pangan, sebab nanti akan muncul karat. Memang tidak ada penjelasan soal pengaruh karat pada kandungan tanaman, tapi dengan sebaris pernyataan itu saja seolah-olah sudah mengonfirmasikan bahwa kaleng itu aman. Entah kenapa.

Khususnya untuk jeruk, ada beberapa petunjuk yang selama ini bisa dibilang hampir-hampir tidak pernah saya amalkan.

  • Bibit yang bagus adalah hasil okulasi, sedangkan saya sekadar coba-coba menumbuhkan dari biji sisa buah yang dimakan.
  • Ada waktu-waktu untuk memupuk, sedangkan saya kapan pun merasa kasihan pada tanaman itu.
  • Ada waktu-waktu penyiraman, sedangkan saya baru melakukannya kapan pun merasa perlu-- terutama ketika melihat permukaan tanah di pot tampak kering.
  • Tumbuhan liar perlu dicabuti, sedangkan saya cenderung membiarkannya sampai baru-baru ini.
  • Untuk mencegah hama, infus dengan Teramycin--yang setelah saya cari tahu di internet, rupanya ... obat mata yang selama ini saya pakai untuk kucing?!?! Sayangnya, dari hasil pemindaian sekilas, saya belum menemukan cara menginfuskannya.
  • Rajin memangkas daun dan ranting, yang baru saya lakukan kemarin-kemarin.

Pantas saja tanaman jeruk saya tidak kunjung berbuah padahal sudah bertahun-tahun, sedangkan artikel ini mengatakan bahwa semestinya dalam 8 bulan sudah bisa panen!

Artikel yang tidak kalah berguna tentu saja daftar tanaman untuk urban gardening lagi cepat panen. Berikut jenis-jenis tersebut.

  1. Buncis
  2. Tomat, terutama yang cherry
  3. Selada
  4. Mentimun
  5. Cabai
  6. Bayam
  7. Kecambah (dari kacang hijau)
  8. Kangkung
  9. Sawi hijau
  10. Daun bawang
  11. Kacang polong
  12. Bit
  13. Arugula
  14. Okra

Beberapa jenis di atas sudah ada di rumah saya (walaupun sebagian di antaranya masih berupa biji yang belum diapa-apakan dan sebagian lagi dalam bentuk bahan masakan di kulkas :v). Yang belum ada ingin saya coba, setelah semua biji yang ada sekarang sudah habis ditanam (dan uang sudah turun lagi dari langit).

Betapapun terperincinya petunjuk teknis dalam artikel-artikel ini, rupanya tidak mesti lengkap. Contohnya dalam petunjuk tentang alpukat. Saya pernah mencoba menumbuhkan alpukat dari biji dengan menggunakan tusuk gigi dan toples kaca kecil--mengikuti yang saya lihat di Pinterest. Tapi pada waktu itu saya tidak menambahkan gula pasir ke dalam air, tidak seperti petunjuk dalam artikel buletin ini. Biji itu memang menumbuhkan akar dan daun, dan saya girang. Saya lalu memindahkannya ke tanah dalam suatu wadah, dan menaruhnya di halaman. Beberapa waktu kemudian, tanaman itu saya tamatkan riwayatnya sejak memunculkan ulat-ulat bulu kecil yang meng-geuleuh-kan. Padahal alpukat terkenal karena ulat-ulatnya itu. Karena itulah, cara mengatasinya tentu penting untuk dikemukakan. Tapi kenapa artikel ini tidak mengungkitnya sama sekali?

Contoh lainnya yaitu petunjuk tentang jahe. Disebutkan bahwa media tanamnya menggunakan campuran abu gosok dengan sekam, tapi tidak diperinci sampai perbandingannya.

Betapapun dapat memuyengkan dan kurang lengkap, secara keseluruhan buletin ini layak dibaca dan dapat menambah pengetahuan. Misalnya untuk mengatasi hama ulat kubus yang juga kerap melanda caisim, ada sejenis tawon bernama Diadegma semicalusum. Untuk mencegah jamur pada media tanam, kita bisa menggunakan kapur dolomit.

Saya merasa pekebun atau petani--apalagi yang multijenis--itu menyerupai dokter. Mereka sama-sama harus dapat men-"diagnosis" penanganan yang tepat terhadap tiap-tiap individu. Kalau dokter menangani manusia, pekebun atau petani pada tanaman. Sebagaimana dokter yang mesti hafal gejala tiap-tiap penyakit dan cara mengobatinya, pekebun atau petani juga perlu "hafal" syarat tumbuh dan pemeliharaan yang tepat untuk tiap-tiap jenis tanaman.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain