Ruang
Sabtu, 09 Desember 2023
Kamis, 22 Juni 2023
Mengenal Tanah
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Ipusnas. |
Minggu, 04 Juni 2023
Profit di Lahan Sempit
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Ipusnas. |
Senin, 29 Mei 2023
Pestisida Organik--Langkah Mudah Meramu Pestisida Organik Sendiri
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Ipusnas. |
Selasa, 21 Februari 2023
Hama, Penyakit, dan Gulma pada Cabai
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Ipusnas. |
Jumat, 10 Februari 2023
Kutu Putih Mati Kutu
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Ipusnas. |
Selasa, 24 Januari 2023
Mengenal Hama dan Penyakit Tanaman
Sabtu, 07 Januari 2023
Hama dan Penyakit Tanaman: Kenali dan Atasi
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Ipusnas. |
Penerbit : PT. Trubus Swadaya, Depok
Cetakan : Pertama, Juni 2017
Ukuran : viii + 320 halaman, 25 cm
ISBN : 978-602-9407-33-4, (E) 978-602-9407-63-1
Menurut kata pengantar dalam buku ini, Indonesia memang surganya hama dan penyakit tanaman. Petani mengalokasikan 70% pengeluaran untuk pestisida, penyemprotannya selang sehari atau gagal panen. Musim kemarau banyak hama, musim hujan banyak penyakit. Hama terdiri dari pemakan daun, penggerek, pengisap, pengorok daun, pembentuk puru daun, penggulung dan pelipat daun, thrips dan tungau, serta lalat buah tephritidae. Penyakit terdiri dari protozoa, chromista/stratmenopiles, cendawan, bakteri, virus, alga, dan nematoda.
Buku ini memperkenalkan aneka hama dan penyakit tanaman itu pertama-tama melalui gejalanya. Banyak gejala yang tampak serupa, padahal jenis penyebabnya berbeda-beda. Setelah memperlihatkan beragam gejala kerusakan pada tanaman, bagian selanjutnya dalam buku ini yaitu mengenal lebih jauh tentang organisme-organisme penyebabnya, mulai dari nama, asal mulanya, siklus hidupnya, sampai pengendaliannya, yang meliputi cara-cara mekanis, kimiawi, dan budidaya. Mekanis, secara kasar, bisa diartikan sebagai bunuh, buang, musnahkan langsung. Kimiawi menggunakan zat-zat pabrikan yang mesti dibeli. Budidaya kurang lebih berarti perlakuan pada tanah, misalnya dengan membalikkannya supaya kena matahari sehingga organisme-organisme pengganggu yang bernaung di dalamnya pada mati. Kehadiran mereka dipengaruhi faktor-faktor berupa: kondisi lingkungan, kesehatan tanaman, populasi, serta pengaruh manusia.
Membaca buku ini terasa seperti suatu terapi bagi saya agar berani menghadapi hewan semacam ulat dan sebagainya dari dekat. Soalnya buku ini dilengkapi dengan gambar bermacam-macam ulat yang walaupun cuma 2D tapi gede dan full color, bo! Horrifyingly educative, lol. Saya sudah mengantisipasi gambar hewan menggeuleuhkan lain seperti bekicot, keong, dan siput, besar-besar dari dekat, tapi herannya, tidak ada.
Tak sekadar menakutkan, tapi juga sesungguhnya menarik mengetahui wujud hewan-hewan itu secara saksama. Kutu putih pseudococcidae, misalnya, sebetulnya jamak ditemukan pada tanaman, tapi ketika diperbesar saya baru ngeh kelihatannya kayak cireng yang belum digoreng (laper, bu?). Ulat penggulung daun pisang juga bentuknya literally kayak pisang dong! Dan, ternyata, apel juga bisa kudisan lo!!! (halaman 94).
Ada pula di antara beberapa organisme ini yang perilakunya tampak menarik. Contohnya kutu bor Asterolecaniidae (halaman 159), berikut saya kutipkan beberapa fakta hidupnya:
Serangga yang tergolong kutu sisik ini terkenal malas bergerak. Ia "mengurung" diri dalam kerak tembus pandang atau sisik yang datar. .... Kutu itu hanya bergerak untuk kawin, di luar itu hanya diam di tempat. Jantan dewasa memang bisa terbang tapi tidak bisa makan, sehingga hidupnya tidak lama. Jika tidak segera menemukan pasangan, ia akan mati sebelum menghasilkan keturunan. .... Betina tidak bersayap; hanya diam menunggu datangnya pejantan.
Astaga, betapa nolep dan menyedihkannya suratan hidup yang digariskan pada spesies ini. Dah lah.
Aphid betina adalah spesies yang independent woman, karena mampu menghasilkan keturunan tanpa kehadiran pejantan dan umumnya dapat menarik semut untuk melindunginya karena cairan manis (halaman 160). You go, girl! Predator alaminya yaitu kepik ladybug dan belalang sembah, yah, mungkin mereka itu semacam emak-emak tradisional dan pemuka agama bagi para feminis liberal ini #eh. Selain aphid betina, ada kutu persik betina (perusak daun Muzus persicae/aphis tembakau) yang mampu menghasilkan keturunan tanpa pejantan. Mereka mungkin dapat berteman baik dengan tungau perusak Acarina (halaman 187) yang mana telurnya "yang tak dibuahi menjadi pejantan haploid yang tetap bekemampuan menghasilkan generasi biseksual" :v
Membaca buku ini seperti belajar Biologi lagi, membuat takjub dan mengapresiasi jerih payah para peneliti sehigga bisa terhimpun pengetahuan mengenai banyaknya spesies pengganggu tanaman. Mengetahui jumlah mereka yang demikian banyaknya pun memahamkan bahwa bercocok tanam itu sesungguhnya rumit, apalagi kalau skala besar. Sebagian media cenderung memperlihatkan hasil yang bagus-bagus saja untuk memotivasi orang berkebun dengan mengoptimalkan sumber-sumber daya yang tersedia, di sisi lain ada juga berita-berita mengenai derita petani yang gagal panen dan sebagainya. Memang tiap-tiap kerusakan yang dibuat hama penyakit itu ada pengendaliannya, tapi orang mesti tekun melakukannya atau mengalami kerugian. Bahkan virus penyebab penyakit ada yang tidak bisa dihilangkan, tapi menetap tersembunyi dalam tanah menanti inang untuk dijangkiti.
Kalau boleh saya kaitkan dengan penyucian jiwa, mengibaratkan tanaman sebagai manusia sedang hama penyakit berupa pikiran toxic, hasrat buruk, emosi negatif, dan sifat jahat lainnya, maka hal-hal tersebut ada juga pengendaliannya mau dengan cara agamis atau sekuler sebagaimana ada cara mekanis, kimiawi, dan budidaya. Kalau dalam buku mengenai cognitive behavioural therapy, istilahnya adalah psychological gardening. Namun manusia itu sendiri sebagai yang dijangkiti sekaligus yang harus menjadi avatar pengendali kudu awas sewaktu-waktu, aktif menerapkan berbagai cara yang ada itu. Jangan sampai lalai. Berkebun luar dalam.Yah, berkebun hanya satu dari beberapa aktivitas lain yang bisa menjadi refleksi dalam mengelola kehidupan batin. Dengan menjahit, misalnya, belajar pula menambal lubang-lubang di hati, membuatnya tetap fungsional bahkan lebih menarik seperti patchwork, eaaa ....
Juga, gambar hama penyakit yang berupa bercak-bercak atau bintil-bintil kadang mengingatkan pada karya manusia yang suka menghias-hias, misalkan membuat motif atau pola pada suatu bidang, menempel-nempelkan stiker kecil di permukaan apa, dan seterusnya. Gejala atau kerusakan yang ditimbulkan hama penyakit ini pun tampak sebagai suatu karya seni, contoh jelasnya mungkin dapat berupa ulat dengan bulu warna-warni yang mentereng atau motif "batik" pada permukaan daun, padahal itu sebetulnya mengganggu produktivitas tanaman. Demikian karya seni buatan manusia ada yang lahir dari jiwa rusak dan terganggu. Atau, orang lebih memilih untuk menekuni seni ketimbang menghasilkan buah cipta lain yang manfaatnya lebih jelas. Eh, entah apa memang boleh dimaknai demikian atau asal main kait saja ini :v Namun itulah alam. Mungkin kita tidak bisa membasminya sampai habis sama sekali, hanya bisa mengendalikannya agar tidak melampaui ambang batas. Biarkanlah ada sedikit ruang untuk "seni", tapi utamakan produktivitas yang jelas-jelas bermanfaat.
Dipikir lagi, memang tidak bisa secara membabi buta mengaitkan pengendalian hama penyakit tanaman dengan kelola batin. Penyakit hati seperti sombong, misalnya, mesti diberantas habis sebab setitik saja jadi penghalang ke surga. Barulah yang seperti iri, masih diperbolehkan dengan memperhatikan "ambang batas" yaitu hanya iri kepada orang-orang tertentu sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Saya membaca buku ini di Ipusnas, tidak ada TOC per bagian. Rasanya lebih enak dan nyaman jika memiliki versi fisik buku ini supaya mudah membukai halamannya langsung ke indeks mencari sesuai keperluan. Namun sepertinya buku ini baru betul-betul berguna bagi yang giat, tekun, dan serius berkebun aneka macam tanaman apalagi kalau berskala besar. Karena saya berkebun masih skala kecil-kecilan (lebih tepatnya lagi, mini-minian), maka saya hanya mencatat petunjuk-petunjuk praktis serta gangguan-gangguan yang relevan atau telah saya temukan dalam pengalaman saya yang masih sangat terbatas, yang kiranya masih dapat ditangani dengan cara-cara sederhana berupa perangkap kuning serta pestisida nabati buatan sendiri dari bahan-bahan yang mudah ditemukan (: bawang putih, cabai, jahe, daun dan buah muda pepaya, merica, daun tomat). Namun buku ini masih memberi saya "PR" untuk mencari sendiri cara-cara membuatnya.
Minggu, 20 September 2020
Mendidik Jiwa Lewat Berkebun
![]() |
| Hasil panen kompos pertama, belum terurai dengan baik. |
![]() |
| Hasil panen minggu ini. |
![]() |
| Hasil panen ecoenzyme. Karena aromanya kurang sedap, sepertinya akan dijadikan pupuk dan pestisida saja. |
Rabu, 20 Mei 2020
Jurnal Ngebun: Buletin Pak Tani Digital Edisi 10 - Bercocok Tanam dari Rumah di Tengah Pandemi (1)
Edisi 10 ini yang paling baru (pada saat saya baru mengetahui tentang adanya buletin ini). Dari 9 edisi sebelumnya, hanya 2 yang saya unduh juga. Soalnya, dari judulnya, yang lain-lainnya itu tampaknya mencakup skala yang sepertinya masih terlalu besar buat saya.
Dari 5 judul yang ditampilkan di kover edisi 10, 4 di antaranya menarik buat saya. Cuma satu yang saya tidak begitu tertarik, yaitu "Cara Menanam Basella di Pekarangan Rumah"--lebih karena saya belum mengetahui basella itu jenis tanaman yang bagaimana.
Dalam edisi setebal (tipis kok!) 66 halaman ini terdapat 12 artikel. Delapan di antaranya tampak menarik untuk langsung dipraktikkan. Sedangkan yang lain-lain, karena sebagian menyangkut tanaman buah yang berukuran cukup besar, sepertinya nanti dulu deh.
Kedua belas artikel tersebut adalah sebagai berikut.
- Budidaya bawang merah dalam pot
- Menanam jeruk dalam pot
- Menanam kangkung di pot atau polybag
- Budidaya alpukat di dalam pot
- Menanam jahe di dalam pot
- Budidaya bawang putih di pekarangan rumah
- Budidaya buah naga di dalam pot
- Menanam basella di pekarangan
- Budidaya caisim di pekarangan rumah
- Budidaya jambu kristal di dalam pot
- Menanam sayur di rumah dengan urban gardening
- 10 tanaman cepat panen
Tiap artikel hanya 3-4 halaman. Isinya berupa deskripsi tanaman (misalnya berupa kandungan nutrisinya) serta petunjuk teknis penanaman, perawatan, dan seterusnya.
Petunjuk teknis yang terperinci sesungguhnya penting agar tanaman tumbuh optimal (yah, percaya saja deh this is based on science.) Hanya saja, bagi pekebun pemula yang notabene pemalas
Tapi beberapa informasi teknis saya dapati benar-benar berguna, apalagi menyangkut tanaman yang sudah saya miliki atau kebetulan saya baru beli bijinya.
Misalnya, caisim harus disemai dulu sampai muncul 3-4 daun baru kemudian dipindahkan ke wadah dengan ruang 10 x 15 cm. Memanennya pun harus dengan mencabutnya sampai akar.
Selada bisa ditumbuhkan kembali dari bonggolnya, yang bisa kita beli dari warung, pasar, supermarket, atau whichever you like lah. Ketinggian wadah tanamnya mesti 20 cm, dan pengetahuan ini pun seketika menyingkirkan sebagian wadah yang kemarin sudah saya kumpulkan dan maksudkan untuk jenis ini, hahahaha. Selada bisa tumbuh di tempat teduh, sehingga balkon bisa dimanfaatkan untuk itu.
Cabai butuh wadah berketinggian 45 cm.
Kaleng bekas bisa digunakan untuk menanam sayuran. Sebelumnya saya khawatir apakah wadah jenis kaleng aman digunakan untuk tanaman pangan, sebab nanti akan muncul karat. Memang tidak ada penjelasan soal pengaruh karat pada kandungan tanaman, tapi dengan sebaris pernyataan itu saja seolah-olah sudah mengonfirmasikan bahwa kaleng itu aman. Entah kenapa.
Khususnya untuk jeruk, ada beberapa petunjuk yang selama ini bisa dibilang hampir-hampir tidak pernah saya amalkan.
- Bibit yang bagus adalah hasil okulasi, sedangkan saya sekadar coba-coba menumbuhkan dari biji sisa buah yang dimakan.
- Ada waktu-waktu untuk memupuk, sedangkan saya kapan pun merasa kasihan pada tanaman itu.
- Ada waktu-waktu penyiraman, sedangkan saya baru melakukannya kapan pun merasa perlu-- terutama ketika melihat permukaan tanah di pot tampak kering.
- Tumbuhan liar perlu dicabuti, sedangkan saya cenderung membiarkannya sampai baru-baru ini.
- Untuk mencegah hama, infus dengan Teramycin--yang setelah saya cari tahu di internet, rupanya ... obat mata yang selama ini saya pakai untuk kucing?!?! Sayangnya, dari hasil pemindaian sekilas, saya belum menemukan cara menginfuskannya.
- Rajin memangkas daun dan ranting, yang baru saya lakukan kemarin-kemarin.
Pantas saja tanaman jeruk saya tidak kunjung berbuah padahal sudah bertahun-tahun, sedangkan artikel ini mengatakan bahwa semestinya dalam 8 bulan sudah bisa panen!
Artikel yang tidak kalah berguna tentu saja daftar tanaman untuk urban gardening lagi cepat panen. Berikut jenis-jenis tersebut.
- Buncis
- Tomat, terutama yang cherry
- Selada
- Mentimun
- Cabai
- Bayam
- Kecambah (dari kacang hijau)
- Kangkung
- Sawi hijau
- Daun bawang
- Kacang polong
- Bit
- Arugula
- Okra
Beberapa jenis di atas sudah ada di rumah saya (walaupun sebagian di antaranya masih berupa biji yang belum diapa-apakan dan sebagian lagi dalam bentuk bahan masakan di kulkas :v). Yang belum ada ingin saya coba, setelah semua biji yang ada sekarang sudah habis ditanam (dan uang sudah turun lagi dari langit).
Betapapun terperincinya petunjuk teknis dalam artikel-artikel ini, rupanya tidak mesti lengkap. Contohnya dalam petunjuk tentang alpukat. Saya pernah mencoba menumbuhkan alpukat dari biji dengan menggunakan tusuk gigi dan toples kaca kecil--mengikuti yang saya lihat di Pinterest. Tapi pada waktu itu saya tidak menambahkan gula pasir ke dalam air, tidak seperti petunjuk dalam artikel buletin ini. Biji itu memang menumbuhkan akar dan daun, dan saya girang. Saya lalu memindahkannya ke tanah dalam suatu wadah, dan menaruhnya di halaman. Beberapa waktu kemudian, tanaman itu saya tamatkan riwayatnya sejak memunculkan ulat-ulat bulu kecil yang meng-geuleuh-kan. Padahal alpukat terkenal karena ulat-ulatnya itu. Karena itulah, cara mengatasinya tentu penting untuk dikemukakan. Tapi kenapa artikel ini tidak mengungkitnya sama sekali?
Contoh lainnya yaitu petunjuk tentang jahe. Disebutkan bahwa media tanamnya menggunakan campuran abu gosok dengan sekam, tapi tidak diperinci sampai perbandingannya.
Betapapun dapat memuyengkan dan kurang lengkap, secara keseluruhan buletin ini layak dibaca dan dapat menambah pengetahuan. Misalnya untuk mengatasi hama ulat kubus yang juga kerap melanda caisim, ada sejenis tawon bernama Diadegma semicalusum. Untuk mencegah jamur pada media tanam, kita bisa menggunakan kapur dolomit.
Saya merasa pekebun atau petani--apalagi yang multijenis--itu menyerupai dokter. Mereka sama-sama harus dapat men-"diagnosis" penanganan yang tepat terhadap tiap-tiap individu. Kalau dokter menangani manusia, pekebun atau petani pada tanaman. Sebagaimana dokter yang mesti hafal gejala tiap-tiap penyakit dan cara mengobatinya, pekebun atau petani juga perlu "hafal" syarat tumbuh dan pemeliharaan yang tepat untuk tiap-tiap jenis tanaman.
Banyak Dibuka
-
Penulis : Gol A Gong Penerbit : Gong Publishing, Banten ISBN : 978-602-9117-24-0 (kover), 978-602-9117-25-7 (KDT) Cetakan pertama dan kedua,...
-
Gambar dari Goodreads . Buku ini bukan novel melainkan cerpen panjang. Sedari awal kita sudah diberitahukan ringkasan kisahnya dari awal sam...
-
Seorang orientalis dari Amerika bernama Gustave E. von Grunebaum mengatakan bahwa transformasi politik, sosial, dan kebudayaan yang digerakk...
-
“ Du ” (“ You ” dalam bahasa Inggris) adalah lagu yang dibawakan oleh Peter Maffay, seorang musisi Jerman. Lagu ini menjadi hit terbesar d...
-
Deraz membeli bola plastik di warung dekat rumah. Di halaman belakang ia melatih gerakan-gerakan yang diajarkan Pak Guru. Ia juga menirukan ...
-
Carilah gambar Vatica bantamensis di Google. Sampai tanggal 14 Mei 2011, gambar yang saya temukan untuk artikel tentang kokoleceran melalui...
-
Judul : Negeri 5 Menara Pengarang : Anwar Fuadi Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 Sejenis Laskar Pelangi, tapi...
-
Kapok menerjemahkan gegara “ Solid Object ” (Virginia Woolf), tapi satu dari empat hal untuk menjadi penulis hebat menurut Eka Kurniawan a...
-
Dokumenter berdurasi sekitar 3/4 jam ini mengikuti dua orang Jepang yang kesepian, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki suka memiara hewan, ...
-
Hikmat Darmawan, 2023 CV. Garuda Mas Sejahtera, Surabaya Buku Ipusnas setebal 67 halaman ini memuat 5 tulisan. "KETIKA SEKS JADI TEKS: ...
Pembaruan Blog Lain
-
Juru Mandi (2/2) (Ángela Pradelli, 2011) - Ia biarkan kertas itu berada di dasar sakunya. Ia telah menghafal alamat itu di kereta bawah tanah antara Constitucíon dan San Martín: Córdoba 307. Ia berh...5 hari yang lalu
-
Yentl - Oleh Isaac Bashevis Singer ISAAC BASHEVIS SINGER, pemenang Nobel Sastra 1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di… Read more Yentl11 bulan yang lalu
-
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan - Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan berle...6 tahun yang lalu













