![]() |
| Gambar dari Goodreads. |
Memang ini buku Yukio Mishima pertama yang saya baca disebabkan ukurannya yang paling kecil. Sudah begitu, saya membaca dulu keterangan mengenai cerita ini di Wikipedia dan menonton sepotong-sepotong versi filmnya di YouTube. Benar-benar enggak ada unsur kejutan jadinya.
Dibilang indah dalam pembacaan saya sendiri pun sesungguhnya bahasa Inggris saya enggak memadai. (Bahasa selalu menjadi alasan :p) Namun tetap ada hal-hal yang bikin saya takjub selama pembacaan, di antaranya pandangan unik mengenai bunuh diri serta penampilan Reiko sebagai istri idaman para lelaki ( ... sepertinya).
The last moments of this heroic and dedicated couple were such as to make the gods themselves weep.
What he was about to perform was an act in his public capacity as a soldier, something he had never previously shown his wife. It called for a resolution equal to the courage to enter battle; it was a death of no less degree and quality than death in the front line. It was his conduct on the battlefield that he was now to display.
Reiko sebagai istri Letnan Shinji di sini digambarkan sungguh ideal secara patriarkis: berusia lebih muda, sigap melayani suami sepulang kerja, minta izin suami terlebih dahulu termasuk ketika hendak menyusul bunuh diri, berias untuk suami, gesit melayani usaha suami termasuk ketika dalam proses bunuh diri, dan seterusnya dan sebagainya .... Coba konteksnya diganti jadi bukan persiapan dan proses bunuh diri, melainkan, misalnya, Perang Badar. Jadi ceritanya Letnan Shinji sedang gamang antara terus berjihad bersama kaum muslim atau melawan keluarga dan teman-temannya yang masih kafir. Kemudian, Reiko, dengan segala baktinya sebagaimana dijabarkan dalam cerpan ini, mendukung suaminya untuk mati dalam jihad fi sabilillah. Kurang islami apa, Reiko? Boleh jadi, Reiko adalah tipikal istri yang ikhlas-ikhlas saja dipoligami.
Bagian ketika Letnan Shinji mengurai isi perut juga menakjubkan. Ya, bacanya sambil ngeri-ngeri bagaimana lah, sekaligus membangkitkan penasaran: Apakah deskripsi ini murni imajinasi ataukah si pengarang meriset lebih dahulu, misalkan dengan membaca buku tentang proses seppuku atau jangan-jangan ia pernah menyaksikan langsung orang yang melakukannya?
Yang lebih mengherankan, sekalipun si pengarang sendiri telah mendeskripsikan proses kematian dengan cara itu yang begitu beratnya, namun pada akhirnya, beberapa tahun setelah cerita ini diterbitkan dan kemudian difilmkan, ia sungguh-sungguh mempraktikkan yang ditulisnya itu dengan cara yang amat disayangkan. Maksudnya, memang pengarang itu sebaiknya mempraktikkan sendiri nilai-nilai yang diidealkannya, tetapi, ya enggak begini juga sih.
Adapun narasinya mengingatkan saya pada cerpen Fumiko Enchi di Words Without Borders, "The Metamorphosis", yang mana pengarang bisa bergonta-ganti sudut pandang seenaknya dari paragraf ke paragraf. Dalam cerpan Yukio Mishima ini contohnya bisa dilihat di agak akhir, ketika Letnan Shinji berdiam diri sejenak sebelum memulai seppuku. Soalnya, sebelum ini beberapa kali saya diberi tahu bahwa dalam narasi kita mesti kukuh dengan satu sudut pandang saja. Kalau mau ganti sudut pandang, maka lakukanlah di bagian yang baru. Tetapi, dalam dua contoh narasi ini, aturan itu tidak ditaati. Pengarang luwes saja keluar masuk tokoh-tokohnya dalam satu bagian: paragraf pertama sudut pandang tokoh A, paragraf kedua tokoh B, paragraf ketiga tokoh C, paragraf pertama kembali ke tokoh B, dan seterusnya, enggak mesti dalam urutan yang sama.
Tampaknya enggak ada juga aturan "tip of the iceberg", "minimalism", atau apalah. Narasinya lepas saja, kayak enggak ada yang ditahan-tahan, dengan menggunakan baik showing maupun telling. Tetapi, meski semuanya dipaparkan secara gamblang, terperinci, sedemikian rupa apalah, tetap ada hal-hal yang bisa dipelajari lebih lanjut mengenai latar budaya, politik, sejarah, dan sebagainya. Dalam cerpan Yukio Mishima ini contohnya, ya, tentang pandangan unik mengenai bunuh diri serta gambaran istri ideal itu tadi--yang intinya memahamkan akan suatu pandangan dunia orang Jepang, sekalipun bisa saja cuma milik Yukio Mishima seorang, tetapi, toh, dari membaca dan menonton sumber-sumber lain, tampaknya sih cukup umum pada masa tertentu.
Dengan gaya penceritaan seperti itu, secara keseluruhan, kalau sekadar mengikuti ceritanya saja sih, ini bukan bacaan yang sulit. Yang sulit itu kalau mau mempelajari wacana-wacana di baliknya, tentu saja, tetapi itu mah porsinya calon sarjana sastra Jepang :p

Tidak ada komentar:
Posting Komentar