![]() |
| Gambar dari Nabil Foundation. |
Pembacaan sempat menarik ketika sampai pada bagian di mana tentara PETA melihat langsung penderitaan romusa. Akibatnya timbul pemberontakan terhadap orang-orang Jepang yang telah memberikan pendidikan militer kepada mereka.
Menakjubkan juga mengetahui bahwa pada saat itu sudah ada orang-orang Jepang muslim yang dipekerjakan untuk menarik simpati rakyat Indonesia yang rata-rata beragama Islam. Maka itu, desain bendera PETA sendiri bercorak keislaman dengan lambang bulan-bintang. Meski begitu, kekejaman terhadap romusa sepertinya sama sekali bukan bagian dari spirit Islam.
Selain itu, sekarang ini, kalau membaca atau menonton tentang fenomena yang terjadi di Jepang seperti karoshi sepertinya yang terjadi pada romusa itu tidak mengherankan. Semangat "kerja sampai mati" dengan pengorbanan sebesar-besarnya atau setidaknya memaksa orang lain yang berbuat demikian tetap ada hingga zaman sekarang, bahkan terhadap rakyat mereka sendiri.
Di kesimpulan pun dikatakan bahwa pendidikan militer oleh Jepang lebih bersifat inspiratif daripada instruktif, maksudnya mereka lebih memberikan "semangat" ketimbang hal-hal teknis seperti keterampilan dan pengetahuan. Mungkin karena mereka tidak lama juga di sini. Dari pembacaan jejepangan saya yang baru sedikit, memang Jepang terasa memiliki spirit yang khas, suatu sikap berjuang sampai titik darah penghabisan semacam itulah, dan kadang sentimental. Dalam konteks Perang Kemerdekaan atau melawan kezaliman, sikap tersebut tampak romantik dan sepertinya memang diperlukan.
Biarpun mendapati adanya perasaan seperti itu, namun sebagai suatu narasi, pembacaan saya terhadap buku sejarah satu ini tidak sedramatis ketika dengan buku sejarah yang lain seperti Berhaji di Masa Kolonial meskipun ada saja sih ide cerpen yang muncul dari sini. Tentu saja diperlukan pembacaan lebih dari sekali jika hendak benar-benar memanfaatkan buku ini untuk membuat tulisan baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar