![]() |
| Gambar dari jaklitera. |
Buku ini rupanya lebih pada eksplorasi penghayatan kemahakuasaan Allah yang sarat keajaiban, seolah-olah pembaca masih perlu diyakinkan bahwa Allah itu akan mengabulkan segalanya, maka sembahlah Allah! Enggak memungkiri, sebagian orang memang perlu digugah keyakinannya dengan cara begitu.
Tetapi, memang ada satu endorsement yang menyesatkan karena mengatakan bahwa Senad melakukan perjalanan "tanpa uang dan perbekalan sama sekali".
Nyatanya Senad bukannya "tanpa uang dan perbekalan sama sekali", melainkan membawa bendera, map, air, cokelat, dan ... uang. Malah dikatakan bahwa ia membagi-bagikan sebagian cokelat kepada anjing-anjing yang menemaninya di jalan, juga uangnya kepada fakir miskin (padahal sebelumnya diceritakan bahwa ia kelaparan sampai pingsan, dan bagaimana ia bisa pulang setelahnya?!?!?!).
Selain itu, kalau Senad enggak bawa uang sama sekali, bagaimana ia mengganti sepatu serta menyewa losmen (lihat halaman 111)?
"Tanpa uang" di sini maksudnya uang untuk kendaraan kali, ya.
Mungkin tidak perlu sampai menjadi kumpulan tip dan trik, namun kurangnya detail dan teknis perjalanan serta banyaknya bagian yang sepertinya karangan dalam buku ini membuatnya jadi terasa enggak realistis. Misalnya, saya penasaran akan detail seperti pertimbangan Senad dalam menyusun perbekalan serta apakah sebelum memulai perjalanan ia menghubungi media massa lebih dahulu? Pemberitaan ini penting karena kadang Senad mendapatkan rezekinya selama perjalanan dari orang-orang yang telah mengetahui tentang dia melalui media massa (contoh di halaman 78, 84, 88, dan 90).
Saya juga penasaran dengan siapa yang mengambil foto-foto Senad selama di perjalanan.
Alih-alih detail yang informatif dan meyakinkan, penulis malah bermain-main dengan detail yang entah bagaimana bukan fiktif karena buku ini labelnya nonfiksi. Contoh paling jelas langsung disuguhkan kepada pembaca di awal buku, ketika Senad hendak berpisah dengan keluarganya, dan masih akan ditemui di akhir.
Coba bandingkan buku ini The Man Who Quit Money Mark Sundeen yang menceritakan tentang Daniel Suelo, warga Amerika Serikat yang bertahun-tahun hidup tanpa uang. Daniel Suelo juga seorang spiritualis dan mengakui ada kekuatan-kekuatan gaib yang menyampaikan rezeki kepadanya, namun cara penceritaannya lebih dapat dipercaya alih-alih seperti kisah nabi-nabi yang lengkap dengan mukjizat dan azab--doanya segera dikabulkan sedang orang yang berbuat buruk kepadanya segera mendapat petaka. Bukannya saya memungkiri kisah nabi-nabi, tetapi ini tentang manusia pada zaman modern.
Terlepas dari kadar kemungkinan fiktif dalam buku ini, saya percaya bahwa beliau naik haji jalan kaki dari Bosnia sampai Arab Saudi itu fakta yang sungguh-sungguh terjadi, merupakan perjalanan berat namun worth it baik dari segi spiritual maupun environmental. Apalagi selama beliau terlunta-lunta di Arab Saudi yang sungguh tepat dijadikan sebagai klimaks dari seluruh perjalanan.
Mau buku ini dibilang menginspirasi pun saya merasa tanggung. Okelah, kita enggak harus meneladani Senad secara mentah-mentah (: naik haji jalan kaki). Kita teladani saja kekuatan iman beliau dalam menghadapi setiap tantangan, dalam jalan hidup kita masing-masing, enggak harus secara harfiah berupa jalan setapak menuju Mekah, sembari terus menabung supaya kelak bisa naik haji pakai Garuda dengan segala akomodasi telah diurus biro dan pemerintah.
Sepertinya ada baiknya jika di kata pengantar penulis mengungkapkan proses penulisan buku ini seperti penulis di buku lain yang saya baca berbarengan--Entrepreneur Organik Faiz Manshur--mengungkapkan bahwa beliau menghabiskan waktu tiga bulan di Alamendah untuk riset. Adapun dalam buku ini yang saya temukan hanya penulis dibantu penerjemah Serbia serta Kedubes Bosnia, tetapi apakah beliau sampai bertemu dengan Senad sendiri? Lagi pun buku ini sepertinya bukan terjemahan. Ada baiknya juga penulis menyebut referensi selain Kompas dan Wikipedia ....
Memang di akhir buku ada ucapan terima kasih Senad kepada beberapa orang yang telah membantunya selama perjalanan. Baru di sini terungkap. Kenapa tidak dipaparkan secara mendetail saja di sepanjang buku sih mengenai peran mereka-mereka ini?!?!?
Saya bisa maklum sih sekiranya detail-detail yang saya harapkan itu sulit untuk ditentukan, kemungkinan adanya keterbatasan, dan kenapa enggak Senad menulis sendiri autobiografinya menyangkut perjalanan ini (atau mungkinkah itu malah akan mengurangi keikhlasan/kerendahan hatinya)?
Sebetulnya saya enggak puas dengan buku ini, entah kalau pembaca lain. Paling tidak, buku ini menginspirasi atau memberi ide untuk meneliti lebih jauh dalam hal-hal seperti:
1. Petunjuk melakukan perjalanan haji dengan berjalan kaki dan tanpa atau dengan sedikit uang.
2. Dampak lingkungan atau perbandingan carbon footprint dalam perjalanan haji ditinjau dari berbagai kendaraan yang digunakan jemaah: jalan kaki, unta, mobil, kapal laut, pesawat, dan sebagainya, dalam hubungannya dengan perintah Allah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi serta Alquran Surat Al-Hajj ayat 27 mengenai orang-orang yang berhaji dengan jalan kaki dan naik unta.
Buku ini juga layak dimiliki bagi yang bercita-cita menjadi editor, karena ada banyak bagian yang dapat dijadikan sebagai bahan latihan. Selain memuat banyak typo, contoh lain ada di halaman 75. Paragraf berikut dapat ditulis ulang supaya tidak redundant:
Hari itu Senad baru saja menginjakkan kaki di kota Memci, kota indah yang kini gersang dan tandus karena sudah bertahun-tahun lamanya hujan tak turun di bumi. Senad memasuki kota kecil itu dengan penuh tanda tanya, sepanjang mata memandang dia hanya menyaksikan kegersangan dan kekeringan. Masyarakat merasakan kesulitan setiap bersentuhan dengan kebutuhan air. Sehingga menyebabkan mereka berusaha bertahan hidup dengan kondisi apa adanya.
Ketika Senad memasuki kota ini, saat itu penduduk Memci sedang dirisaukan dengan keringnya tanah dan susahnya air akibat kemarau panjang yang melanda. Bukit pun terlihat gersang dan tumbuh-tumbuhan mulai layu karena kekurangan air. Seorang imam sebuah masjid di Memci berinisiatif untuk mengumpulkan masyarakat daerah tersebut ke sebuah bukit yang gersang untuk berdoa kepada Allah agar mereka dikaruniai hujan yang selama ini tidak mereka dapatkan.
Ada berapa kata "gersang" dalam dua paragraf saja?
Contoh lain di halaman 157-158:
Kota ini telah mengantarkan Senad bertemu dengan seorang laki-laki yang mempunyai lima orang anak. Isterinya menceritakan cerita yang sangat menakjubkan yakni ketika ia pernah mengidap penyakit kanker ganas dan menurut vonis dokter dia akan meninggal.
Ia kemudian meninggalkan segala pikiran negatif mengenai penyakitnya dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Dia meminta ampun kepada Allah dan memohon agar penyakitnya disembuhkan. Selama berbulan-bulan dia melakukan itu sampai akhirnya Allah menyembuhkan penyakitnya dan kanker itu benar-benar bersih dari tubuh anaknya.
Jadi siapa yang kena kanker?
Bagi yang tidak bercita-cita menjadi editor, buku ini lumayan sebagai bacaan ringan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar