Selasa, 06 Oktober 2026

CARA MENCARI ARTI DARIPADA KATA-KATA BELANDA

Masing-masing perkataan Bahasa Belanda yang digunakan dalam buku ini hanya satu kali saja diberikan terjemahan Bahasa Indonesia-nya, yaitu pada permulaan kali digunakannya kata-kata itu. Oleh karena itu tentu sukar bagi pelajar untuk mengingat selanjutnya.

Jika ditemui kata-kata yang pernah diberikan tetapi lupa artinya maka dengan pertolongan daftar-daftar yang ada pada akhirnya dalam buku ini dapat segera diketemukan kembali artinya.

Untuk itu disajikan dua buah daftar yang tersusun menurut abjad.

Yang pertama adalah Daftar Umum di mana dapat diketemukan kata-kata dan istilah-istilah yang telah diberikan dalam buku ini disertai dengan terjemahan Bahasa Indonesia-nya dan nomor pelajaran di mana untuk pertama kali kata-kata dan istilah itu dipergunakan. Untuk 'kata benda' diberikan pula kata depan dan bentuk jamaknya.

Tetapi perlu pula pembaca ketahui, bahwa heeft harus dicari pada hebben, is pada zijn, kwam pada komen, tellen op pada optellen, staat op pada opstaan dsb.

Untuk hal-hal ini hendaknya dipergunakan daftar kedua (Daftar Bentuk). Dalam daftar ini dicantumkan bentuk-bentuk kata kerja kuat, kata kerja yang tak teratur dan kata-kata kerja majemuk dengan ditunjukkan kata asalnya.

Dalam Daftar Bentuk tersebut tidak tercantum: bentuk waktu lampau yang teratur dari kata-kata kerja lemah seperti: kende dari kennen, legde dari leggen dsb. dan demikian pula kata kerja bagian yang telah selesai seperti: 'gegeven' dari 'geven', 'gelopen' dari 'lopen', 'ondergegaan' dari 'ondergaan' dsb.

Senin, 05 Oktober 2026

DARI HAL CARA MENGUCAPKAN KATA-KATA BELANDA

I. Huruf hidup dapat dibagi dalam:

a) huruf hidup yang nyaring;

b) huruf hidup yang pekak, dan

c) huruf hidup tak berbunyi.



a) Huruf hidup yang nyaring: aa-ee-ie-oo-uu-oe-eu

Dalam 'maar' huruf aa berbunyi seperti dalam kata 'Sjarif', 'lapar' (jadi bukan seperti dalam: 'gelap').

Dalam 'meer' ee itu berbunyi seperti dalam 'perlénté', 'kedelé'.

Dalam 'mier' ie itu berbunyi seperti 'kitab', 'gila', 'lagi'.

Dalam 'moor' oo itu berbunyi seperti dalam 'bodoh', 'kolam', 'orang'.

Dalam 'muur' uu itu berbunyi seperti di antara i dalam 'biru' dan u dalam 'buru' (atau dalam kata Perancis: 'futur' dan Jerman 'Frühling').

Dalam 'moer' oe itu berbunyi seperti u dalam 'pulang', 'lupa', 'sudah'. 

Dalam 'deur' eu itu tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Berbunyi seperti dalam kata Jerman 'König".

Perhatian:

Huruf-huruf aa, ee, oo, uu dalam suku-suku kata yang terbuka ditulis dengan satu huruf saja (yakni: suku-kata terbuka yang berakhir dengan huruf hidup, misalnya: ha-ren, he-ren, hu-ren). Tetapi bunyinya tetap nyaring.



b) Huruf hidup yang pekak: a-e-i-o-u

a dalam 'pad' berbunyi seperti dalam 'ahli', 'hak'
e dalam 'pet' berbunyi seperti dalam 'korèk', 'pèl'.
i dalam 'pit' berbunyi seperti dalam 'pil', 'adik'.
o dalam 'pot' berbunyi seperti dalam 'botol', 'kotor'.
u dalam 'put' berbunyi hampir seperti e dalam 'senang', 'benang'.

Perhatian: 

Istilah 'berbunyi seperti' berarti: 'berbunyi kira-kira seperti' dan istilah 'berbunyi hampir seperti' berarti 'berbunyi kira-kira hampir seperti'.

Huruf-huruf hidup yang nyaring dalam kata-kata Belanda berbunyi agak lebih panjang daripada dalam kata-kata Indonesia.

Huruf-huruf hidup yang pekak dalam kata-kata Belanda berbunyi agak lebih pendek daripada dalam kata-kata Indonesia.

Maka dari itu perhatikanlah betul-betul tentang perbedaan dalam ucapan antara huruf hidup yang nyaring dalam baris pertama dan huruf hidup yang pekak dalam baris kedua.

1) paden; he-ten; nie-ten; bo-ten; hu-ren;
2) pad-den; pet-ten; pit-ten; pot-ten; dun-ne.



c) Huruf hidup yang tak berbunyi: e

'De', 'je', 'beloven', 'geloven'.

Dalam sejumlah besar kata-kata Belanda huruf e mempunyai bunyi kira-kira seperti dalam 'kenal', 'gelap'.

Alhasil huruf e dapat berbunyi tiga macam:

'les' berbunyi pekak seperti dalam 'korek'

'Leren' (le-ren) nyaring seperti dalam kedelé', 'tempé', 'ber-télé-télé'.

'De' berbunyi seperti dalam 'senang', 'menang', 'beras', 'melati'.



II. Huruf-huruf mati (konsonan)

Dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia ucapan kata-kata hanya sedikit saja perbedaannya, yaitu mengenai huruf-huruf: b, d, f (dalam kata-kata Arab asli), misalnya: 'filsafat', 'Arifin'.

j. k (seperti dalam 'kurang', 'kutang', 'kotor'), l, m, n, p (misalnya: dalam 'patjul', 'padang'), r, s, t, w, ng (dalam bahasa Belanda ng tidak pernah ditulis pada permulaan kata, melainkan di tengahnya, atau pada akhirnya: 'zingen', 'lang').

Tentang huruf-huruf mati yang lain dapat dijelaskan sebagai berikut: 

c berbunyi seperti k di depan konsonan, misalnya: 'clown', 'club', 'clerus', dan di depan a, o, u, misalnya: 'cacao', 'coöperatie', 'cursus'.

Di depan huruf i dan e berbunyi seperti s, misalnya: 'cilinder', 'cent'.

ch berbunyi hampir seperti dalam kata-kata Arab asli: 'chabar', 'chalajak', misalnya: 'lach'.

Tetapi pada awal kata-kata, di depan huruf hidup, maka ch berbunyi seperti sj, misalnya: 'chauffeur', 'China', 'chef'.

g berbunyi seperti ch yang bersuara lembut, misalnya: 'da-gen', dibanding dengan g dalam 'la-chen'. 

Pada akhir kata-kata, maka g berbunyi seperti ch dalam 'chabar': 'lig', 'lag'.

h pada awal kata-kata Belanda dan di depan huruf hidup berbunyi seperti orang kehabisan napas: 'hals', 'hier', 'hart'.

qu hanya terdapat pada permulaan kata-kata asing dan berbunyi seperti kw, misalnya 'qualiteit', 'quantiteit'.

v berbunyi seperti f yang bersuara lembut: 'val', 'ven', 'vel'.

z berbunyi seperti s yang bersuara lembut: 'zo', 'zon', 'zoon'.

Perhatian: 

'Hebt, 'tobt' diucapkan seperti: 'hept', 'topt'.

'Had', 'pad' diucapkan seperti: 'hat', 'pat'.

'Houdt', 'baadt' diucapkan seperti: 'hout', 'baat'.



III. Huruf majemuk:

ei dan ij berbunyi hampir seperti antara e  dalam 'karet' dan ai dalam 'kain',

ou dan au berbunyi kira-kira ao dalam 'kaos', 'Laos'.

ieu berbunyi kira-kira seperti iu  dalam 'siul'.

aai berbunyi kira-kira seperti ai dalam 'kain'

eeu berbunyi kira-kira seperti ew  dalam 'mewah', 'lewat'.

ooi berbunyi kira-kira seperti oi dalam 'amboi', 'mojang'.

oei berbunyi kira-kira seperti ui (uj) dalam 'buih', 'bujung'.

ui berbunyi kira-kira seperti eu (tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Kira-kira hampir seperti eu dalam bahasa Jerman: 'neu', 'heute').

Rabu, 30 September 2026

KATA PENGANTAR DAN PETUNJUK PENGGUNAAN

Pembaca tentu mengharapkan manfaat dan cara pemakaian yang setepatnya dari buku ini. Oleh karenanya di bawah ini dikemukakan dengan singkat dan saksama apa yang menjadi tujuan, bagaimana mencapai tujuan itu, dan apa yang perlu dilakukan untuk memperoleh faedah yang sebsar-besarnya dari buku ini.

Tujuan

Dengan sendirinya bahasa asing akan lebih mudah dipelajari dengan pimpinan seorang pengajar ahli. Tetapi oleh karena tidak selalu bisa didapatkan pengajar yang demikian, maka penulis dalam buku ini mencoba menjadikan cara belajar tanpa guru.

Buku ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan pasif yang memungkinkan membaca dan mengerti Bahasa Belanda. Dengan demikian lebih mudah dipelajari daripada belajar bercakap-cakap Bahasa Belanda tanpa pengajar. Mengingat kata-kata dan kalimat-kalimat jauh lebih mudah daripada mengunakannya. Jadi tujuan buku ini terutama hanyalah memberikan kemampuan kepada yang mempelajarinya untuk dapat membaca serta mengerti tulisan-tulisan (karangan-karangan) dalam bahasa Belanda. Meskipun demikian hal ini tak akan merintangi mereka yang dengan kemauan keras juga hendak belajar bercakap-cakap Bahasa Belanda.

Metode

Sebagaimana bahasa-bahasa lain, Bahasa Belanda memiliki banyak sekali kata-kata. Sebagian dari kata-kata itu sering, bahkan amat sering, dipergunakan, sedangkan puluhan ribu lainnya jarang-jarang hingga amat jarang dipergunakan.

Dalam metode buku ini dipergunakan kata-kata yang lazim dipakai karena kata-kata inilah yang lebih berguna (mempunyai nilai pakai).

Karena kata-kata itu selalu dipakai dalam kalimat maka di sini pun kata-kata itu dikemukakan dengan mencantumkannya dalam kalimat-kalimat. Untuk memudahkan pelajar mengingat dan mengerti kata-kata yang telah dipelajari, kata-kata itu senantiasa diulangi dalam halaman-halaman berikutnya. Juga bentuk-bentuk kalimat yang berbelit-belit pada dasarnya berasal dari bentuk-bentuk kalimat asal yang sederhana. Dengan lambat laun diperkenalkan kepada pembaca ragam dan keruwetan-keruwetan daripada kata-kata. 

Tugas pelajar

Seseorang yang belajar sendiri tanpa guru, harus pula mengawasi diri sendiri. Ia harus keras terhadap dirinya sendiri dan harus dapat menentukan apakah pelajaran-pelajaran telah dimengertinya benar-benar. Dapat dianjurkan: hendaknya jangan melanjutkan pelajaran yang berikutnya sebelum benar-benar memahami pelajaran sebelumnya. 

Selanjutnya: belajarlah teratur tetapi jangan berturut-turut terlalu lama.

Dalam tiap-tiap pelajaran, kata-kata yang belum dikenal dicetak dengan huruf miring dan terjemahan diberikan di sampingnya. Jika ada kata-kata yang telah diberikan tetapi lupa, carilah kembali pada pelajaran-pelajaran yang mendahului atau dalam daftar kata-kata pada akhir buku ini. 

Akhirnya diucapkan, selamat belajar.

Sebagai penutup penulis menyatakan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan, terutama kepada Sdr. I. F. M. Salim yang telah sudi membantu hingga buku ini tersusun. Demikian pula kepada Sdr. Esmet Sapari dari Sekolah Indonesia di Nederland yang sekadar telah membaca dan memeriksa rencana naskah buku ini.

Minggu, 30 Agustus 2026

Jalan Damai Alam Bersama Gajah

Tim Penyusun Litbang Kompas
Penerbit Buku Kompas, 2021
ISBN 978-623-346-278-5 (PDF)
Tebal 50 halaman
Tersedia di iJogja

Buku ini terdiri dari lima artikel yang sebelumnya diterbitkan di harian Kompas. Kelima artikel tersebut mengenai upaya "berdamai" dengan gajah di Sumatra, mulai dari Taman Nasional Way Kambas sampai Leuser.

Di TN Way Kambas, warga desa penyangga membentuk pam swakarsa untuk menghalau gajah dari merusak ladang mereka. Tiap hari ada saja satu-dua kejadian konflik dengan gajah. Bantuan dari pemerintah, selain memberikan uang lelah untuk pam swakarsa dan membangun tanggul (yang gajah cukup pintar untuk melintasinya), juga memfasilitasi kegiatan ekonomi baru agar beralih dari pertanian dekat perbatasan dengan TN ke usaha kreatif. ("Ketika Warga 'Berdamai' dengan Gajah", Kompas, 4 November 2011)

Di Jambi, petani sawit baru mengetahui bahwa lahan mereka ternyata ruang jelajah gajah. Hampir tiap hari ada konflik. Pemerintah kabupaten tidak responsif. Warga dibantu LSM mendirikan pagar kawat tegangan rendah untuk mencegah gajah masuk. Kalau tegangannya tinggi, satwa bisa tewas. Akar konflik sebetulnya pembukaan hutan menjadi area transmigrasi tanpa didahului penelitian tentang keberadaan satwa liar setempat. ("Jalan Damai Masyarakat-Gajah", Kompas, 16 Desember 2011)

Di TN Gunung Leuser, Conservation Rescue Unit didirikan oleh Lembaga Fauna dan Flora Internasional bersama BKSDA Aceh pada 2008, untuk menanggulangi konflik antara gajah dan warga peladang, patroli terhadap pembalakan liar dan pemburuan ilegal, serta ekowisata. Sempat ada tentangan dari warga karena komunikasi antara dua pihak kurang baik. Namun, karena konflik dengan gajah menjadi-jadi, CRU diaktifkan lagi dengan pendekatan baru, dari sosialisasi teoretis ke ekowisata yang memadukan antara wisata dan edukasi. Perekonomian warga pun terangkat karena mereka bisa menjajakan dagangan. Ekowisata menjadi upaya mendekatkan gajah dengan manusia, serta membantu ekonomi warga sekitar agar mendukung pelestarian alam. ("Gajah dan Mahot Bersama Amankan Hutan", Kompas, 25 Maret 2015; "Bermain dan Menjaga Alam Bersama Gajah", Kompas, 7 September 2016)

Terdapat pula Forum Konservasi Leuser yang merupakan kelompok patroli hutan. Tugasnya yaitu membongkar jerat serta membujuk pemburu liar/pembalak ilegal agar berhenti. ("'Ranger'", Garda Depan Penjaga Leuser", Kompas, 31 Mei 2017)

Sabtu, 15 Agustus 2026

Ibnu Khaldun: Kehidupan dan Karyanya

Penulis : Muhammad Abdullah Enan
Penerjemah : Machnun Husein
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya
Edisi Elektronik, 2019
ISBN 978-623-221-404-0 (PDF)

Buku terbitan Pustaka Jaya yang saya temukan di iPusnas ini, tidak ada gambar sampulnya ketika di-googling, sehingga saya potret saja :v 

Buku digital ini banyak tiponya, terutama pada nama-nama orang dan tempat. Dengan mengesampingkan kekurangan tersebut, secara keseluruhan, buku ini memberikan cukup gambaran mengenai ketokohan Ibnu Khaldun dan isi karyanya. 

Beliau hidup pada masa kejatuhan peradaban Islam. Wilayah Islam di Eropa sudah pada diambil kerajaan Kristen. Kendati banyak cendekiawan dan sastrawan--menandakan intelektualitas yang menjamur--politiknya tidak stabil. Dalam pemerintahan Islam sekalipun ada perebutan kekuasaan di sana-sini.

Beliau disebutkan sebagai pribadi yang ambisius, oportunistis, bahkan narsisistik. Namun, dikatakan, bahwa ini sifat-sifat yang wajar pada orang genius berprestasi hebat, yang seakan-akan tahu benar akan kapasitas dirinya dan ingin agar orang-orang mengetahuinya juga. Mungkin juga karena berasal dari keluarga tua yang terkenal, terpelajar, terhormat, beliau merasa berhak atas jabatan penting dalam kenegaraan hingga menjelang akhir hayatnya. 

Selama karier politiknya di Tunisia, beliau mengalami jatuh bangun, bahkan pernah dimasukkan ke penjara. Akibat gangguan-gangguan di negerinya, dengan dalih akan menunaikan ibadah haji, beliau pindah ke Kairo. Di sana karyanya sudah tenar. Beliau diamanahi jabatan, tapi karena pada dasarnya orang dari luar, banyak yang mendengki kepadanya.

Bagaimanapun, Ibnu Khaldun membuktikan kapasitasnya baik dalam kenegaraan maupun kecendekiawanan, antara lain dengan menghasilkan sejumlah karya tulis, salah satunya adalah Muqaddimah, yang sampai sekarang masih menjadi bahan kajian. Jadi beliau tidak sekadar mengamati, memikirkan, dan menuliskan, melainkan mengalami sendiri berbagai intrik politik dalam perannya sebagai pejabat negara itu.  

Kehidupan rumah tangganya tidak banyak diceritakan. Bagaimanapun, menyangkut keluarga, beliau mengalami dua tragedi besar. Yang pertama, banyak orang terdekatnya--termasuk kedua orang tua dan guru-gurunya--tewas akibat wabah dari Eropa. Yang kedua, istri dan anak-anaknya hendak menyusulnya ke Mesir, tapi tenggelam dalam perjalanan dengan kapal laut.

Lebih dari cerita kehidupan dan kepribadian Ibnu Khaldun, buku ini membahas isi karyanya yang terkemuka itu, Muqaddimah, menyajikan ringkasan beserta kritik terhadapnya. Yang membedakan Ibnu Khaldun dari sejarawan-sejarawan muslim pendahulunya adalah beliau tidak sekadar mencatat cerita-cerita masa lalu, tetapi juga menggunakan metode penjelasan dan penalaran yang baru. Refleksi dan kajiannya mendorongnya untuk membentuk sejenis filsafat sosial. Namun, karya ini tidak terlepas dari bias. Pertama, Ibnu Khaldun cenderung tunduk kepada penguasa, ada nafsu pribadi, sehingga ada keberpihakan. Kedua, Ibnu Khaldun termasuk ras Barbar yang dibesarkan dalam lingkungan Barbar, dan orang Barbar memandang bangsa Arab sebagai penjajah, sehingga karyanya ini mengandung sentimen berlebihan yang tidak sesuai dengan fakta terhadap bangsa Arab.

Bab 10, "ILMU POLITIK DAN LEMBAGA-LEMBAGA KERAJAAN SEBELUM IBNU KHALDUN", mempertanyakan apakah Ibnu Khaldun perintis Sosiologi, dengan meneliti karya-karya para pemikir muslim sebelumnya mengenai politik, kerajaan, dan kemasyarakatan, dan akhirnya dapat dikatakan bahwa beliau memang perintis bukan hanya dalam tradisi Islam melainkan juga selainnya. 

Berabad-abad lamanya Ibnu Khaldun sempat dilupakan, tidak ada yang meneruskan, hingga kemudian ditemukan, diangkat dan ditinggikan sebagai filsuf sosial dan sejarah oleh para pemikir Eropa. Pemikirannya mendahului para pemikir Eropa, salah satunya Machiavelli. Bab 13, "IBNU KHALDUN DAN MACHIAVELLI" secara khusus membandingkan kedua pemikir yang masing-masing asalnya dari Afrika Utara dan Italia itu, karena ada kemiripan, mulai dari pemikiran hingga keadaan politik semasa hidup mereka.

"APENDIKS: TINJAUAN BIOGRAFIK KARYA SEJARAH IBNU KHALDUN, KITAB AL'IBAR" menerangkan bagaimana karya Ibnu Khaldun ditemukan dan diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain seperti Perancis, Turki, dan Jerman.

Senin, 03 Agustus 2026

Potongan Kompas, 19 Juni 1995



sales engineer
mesin
robot
baby face
first class hotel in jakarta
sales/public relations manager

Sabtu, 06 Juni 2026

Lawatan YouTube Mei 2026

Business Insider


Masih tentang usaha pengolahan limbah, kali ini bukan cuma di India, melainkan juga Sierra Leone, Argentina, dan Indonesia. Mungkin saja kelak ketika yang kita punya kebanyakan tinggal limbah dan pengangguran, akan bermunculan banyak usaha kecil pengolahan limbah agar kembali dapat digunakan, dan melibatkan banyak pekerja.


Baru tahu ada yang namanya curling. Itu sejenis olahraga yang masuk ke olimpiade. Sepenglihatan di video sih, cara mainnya yaitu dengan memegangi batu yang meluncur, lalu batu itu disundul-sundul pakai tongkat, malah ada juga yang seperti menyikat-nyikat di depannya(?). Yah, ada video lain yang menerangkan cara bermainnya, tapi tetap saja ada komentar-komentar yang mengatakan bahwa ini sport yang weird dan stupid.


Wasabi, semacam lobak hijau asli Jepang, ternyata punya syarat tumbuh yang sangat khusus sehingga sulit dibudidayakan. Persisnya, tumbuhan ini cocok di tempat teduh berbatu-batu yang dialiri air. Sudah mah rasanya tidak enak, menumbuhkannya sulit, pemanfaatannya tidak tahan lama pula, wkwkwk. Setelah diparut, wasabi harus langsung dikonsumsi atau cita rasanya bakal berubah. Tapi, katanya wasabi yang asli rasanya beda daripada yang buatan--yang umumnya beredar karena lebih mudah diproduksi. Wasabi yang asli lebih bisa dinikmati kali ya, katanya sih ada manis-manisnya.


Kerja tambang sulfur di Kawah Ijen ini sepertinya sudah banyak yang meliput di YT. Ini pekerjaan yang sangat berisiko tapi bayarannya relatif lebih tinggi daripada pekerjaan-pekerjaan lain yang tersedia, makanya ada saja orang yang mau melakoninya. Membaca komentar-komentar, banyak yang bersimpati, tapi ada juga yang menyayangkan karena sebetulnya bisa saja dibikin cara yang efisien untuk menambang dan mengangkut sulfur tanpa harus menggunakan tenaga manusia yang mengorbankan diri mereka sendiri. Apalagi narasi di video pun bilang bahwa kebanyakan sulfur bisa diekstrak dari hasil tambang lainnya dengan cara yang lebih aman, sehingga praktik ala Kawah Ijen ini tidak perlu dilanjutkan. Perusahaan yang mempekerjakan mereka juga menolak untuk diwawancara.

Mungkin, karena SDM di Pulau Jawa melimpah, maka praktik ini kendati berbahaya tetap saja ada yang mau melakukannya, asal bayarannya sepadan. Kalau segala harus dibikin serba efisien, dengan peralatan canggih sampai kecerdasan buatan, kelimpahan SDM ini mau diberdayakan bagaimana? Biarlah itu kerja yang berbahaya atau tidak efisien sekalipun, asal kerja, asal menunjukkan guna sebagai manusia. Berani mati, takut lapar, kata penambang yang diwawancara di video. Adakah yang berani mati akibat kelaparan?

Film Dracula: Dead and Lovin' It


Lucu-lucu horor, cuma agak saru karena banyak "balon" dan desahan. Lega ketika pada akhirnya si Dracula mati. Seperti film Leslie Nielsen lainnya, Naked Gun 2 1/2, di puncak masalahnya terselesaikan secara tak terduga dan "bodoh"--saking bodohnya sampai-sampai menggelikan.

Seputar Afrika Barat dan Sahara


Dokumenter ini saya sudah pernah menonton sebelumnya, mungkin empat tahun lalu ketika baru keluarnya--mungkin karena YouTube jadi suka merekomendasikan untuk menonton ulang setelah empat tahun. Bagaimanapun, saya menyukai dokumenter ini. Isinya tentang bagaimana pekerjaan, cara hidup, ilmu pengetahuan, dan tradisi diwariskan dari generasi tua ke generasi muda, hingga saya berpikiran pantas kalau dahulu orang tua sangat dihormati, karena orang tua menjadi sumber pengetahuan yang utama tentang cara bertahan hidup termasuk cara bersenang-senang, sebagaimana ditunjukkan melalui lomba balap unta dan lomba-lomba lainnya di ujung video. Di video ini pun tidak tampak perangkat elektronik, yang bagi anak muda perkotaan zaman sekarang telah menjadi sumber informasi utama, dan orang tua menjadi pihak yang inferior karena cenderung lambat menguasai teknologi terbaru, sehingga anak menjadi lebih tahu dan bersikap superior, kurang penghormatan kepada orang tua. Tapi, saya mencatat tentang video ini sambil menimbang-nimbang apakah perlu membeli tablet baru, dan lagi pula saya bisa menonton itu juga kan lewat tablet. Ah, bagai buah simalakama.


"Tenere", kata yang saya kenal dari judul lagu Tinariwen, "Amassakoul 'N Tenere", artinya kurang lebih kekosongan karena di kawasan Sahara bagian situ benar-benar tidak ada apa-apa, padahal tidak juga. Ada lukisan dinding kuno sebagaimana ditunjukkan di dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Karena lukisan itu menampakkan gambar hewan-hewan yang tinggal di kawasan Afrika yang lebih hijau, mungkin juga ada bukti-bukti lain, maka konon Sahara dulunya merupakan kawasan hijau. 

Kawasan yang "kosong" itu juga nyatanya "jalan tol" bagi karavan yang bisa terdiri dari ratusan ekor unta dalam barisan panjang, berpapasan dengan satu sama lain, demikian dokumenter ini ditutup.

Touareg adalah nama suku yang menguasai kawasan itu. Kalau ingin melintasi Sahara, baiknya minta ditemani oleh mereka. Kalau tidak, bisa-bisa dianggap melanggar wilayah dan dibantai; kejadian ini pernah menimpa rombongan ekspedisi Perancis-Aljazair pada 1880. Tinariwen adalah grup musik Touareg.

Jadi dokumenter ini isinya kurang lebih mirip dengan dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Ada bule minta ditemani warga lokal melintas Sahara. Warloknya saleh, yang dalam perjalanan tidak lupa salat. Bedanya, di dokumenter kali ini tidak melibatkan jin, dan warloknya bukan cuma satu orang. Malah dalam dokumenter ini mereka rombongan agak banyak dengan beberapa mobil jip. Sedangkan di dokumenter sebelumnya berdua saja pakai unta. 


Setelah menonton sedikitnya tiga dokumenter tentang kehidupan di Sahara, saya merasa isinya secara pokok kurang lebih persis: melintasi padang yang sejauh mata memandang kebanyakan hanya pasir, panas, kering, dan ekstrem, bersama unta hewan ajaib yang tahan tidak minum sampai lama, sanggup membawa beban berat juga. Di tengah perjalanan ada lukisan dinding gambar jerapah dan hewan-hewan lainnya. Di ujung akhirnya bertemu "peradaban" lagi--kawasan hunian manusia.

Bedanya, di dokumenter kali ini, tidak ada bule yang menemani, atau mereka mungkin hanya memfilmkan tapi tidak ikut tampil di depan kamera. Dokumenter ini lebih berfokus pada segi-segi kehidupan Touareg yang meliputi persiapan melepas karavan, mulai dari bekal apa saja yang harus dibawa, festival pelepasan, jenis-jenis pekerjaan lainnya dalam masyarakat Touareg yang masih berkaitan dengan perjalanan karavan (contoh: pandai besi untuk membuat senjata, penggali sumur untuk persediaan air), serta cara hidup wanita-wanitanya yang saling bantu, bekerja secara berkelompok, mulai dari mengolah makanan sampai mendirikan rumah yang berpindah-pindah, dan memasang tempat tidur portabel. Wanita sangat dihormati dalam masyarakat Touareg yang monogami. Jika bercerai, harta benda jadi milik istri. Yang menutupi wajah justru pria--sedangkan wanita hanya mengenakan kerudung--tapi sepertinya ini lebih untuk perlindungan dari cuaca terik sementara mereka pergi jauh sih. Umumnya orang Touareg muslim, menunaikan salat dan menghafal Al-Qur'an, tapi juga masih ada kepercayaan lama.

Persamaan video kedua dan ketiga adalah sama-sama mengikuti perjalanan karavan ke Bilma, tempat penghasil garam. Di sana mereka bertukar komoditi. Timbangan tidak ada, sehingga untuk menakar mereka menggunakan mangkok yang diisi penuh-penuh. Sangat sederhana. Air begitu terbatas. Listrik juga tidak pakai sepertinya. Namun mereka mampu bertahan sebegitu lama hidup di kawasan itu, tidak kebat-kebit bila mati listrik. Dan, apakah mereka mandi? 

Video ketiga ini tampak lebih lengkap menyajikan kehidupan masyarakat Touareg, sedangkan kedua video sebelumnya lebih kayak menemani bule penasaran jalan-jalan melintasi Sahara.

Buku Audio Days at the Morisaki Bookshop


Ceritanya tampak sederhana, tipe slice of life? Pada awalnya cukup menikmati. Saya lumayan relate karena pernah bantu-bantu di toko buku kecil yang juga menjual buku-buku bekas, dan yang berkunjung kadang hanya untuk mengobrol, juga penting untuk selalu bersikap baik, ramah, dan mengenal sebanyak-banyaknya orang. 

Cerita dimulai dengan si tokoh utama putus hubungan dari pacarnya sampai resign kerja karena mereka sekantor. Selagi depresi dan menganggur, dia ditawari bekerja di toko buku milik keluarga yang dikelola oleh pamannya. Dia ambil tawaran itu. Setelah bekerja di toko buku, dia mulai membangun hubungan-hubungan baru, walaupun belum untuk menggantikan hubungan cinta kepada kekasih. Dalam bagian pertama cerita ini dia banyak bercerita tentang pamannya yang sempat mempunyai istri, tapi istrinya kabur. Si tokoh utama tidak seterusnya bekerja di toko buku. Dia melamar pekerjaan lain, diterima, dan pindah.

Di bagian kedua, istri si paman kembali. Si tokoh utama menyempatkan untuk mampir ke toko buku. Selain membangun hubungan dengan istri si paman, dia juga menyambung hubungan dengan tokoh-tokoh lain yang telah muncul di bagian pertama. Di bagian ini, saya sudah kurang menikmati cerita. 

Entahlah, rasanya cheesy? corny? jasukey? Cerita ini mungkin dimaksudkan untuk memberikan perasaan enak dan tenang bagi yang membaca, dengan menempatkan diri dalam posisi si tokoh utama, yang setelah mengalami kejadian pahit, lantas mengambil jeda untuk tidur, membaca buku sebanyak-banyaknya, menjalin hubungan kasual dengan orang-orang, serta berjalan-jalan ke alam--kesempatan yang mungkin tidak dapat dialami setiap orang yang kepengin karena kehidupannya penuh tuntutan, sehingga sedikitnya mencicipi lewat novel.

Saya juga merasa aneh dengan cara para tokoh menunjukkan afeksinya. Pertama, ketika si paman bilang "I love you" ke tokoh utama sembari minum minuman beralkohol, berdua saja di kamar. Otak saya mungkin sudah banyak kemasukan berita-berita akhir zaman, sehingga adegan ini terasa rada-rada. Lalu, ada adegan ketika si tokoh utama dengan istri pamannya itu berpelukan sambil telanjang di pemandian air panas. Yah, di Jepang mandi bugil bersama mungkin biasa saja, termasuk sambil pelukan dengan sesama jenis. Tapi di budaya saya tidak ada yang begitu. 

Kalau saya baca sendiri buku ini sampai tuntas, mungkin saya kasih bintang satu atau dua di Goodreads.

Trio NPD


Bila konten Kak Kev muncul di Instagram, muncul dilema: enggak ditonton, penasaran, setelah ditonton, kok geli. Lalu entah bagaimana dia berkolaborasi sama sepupu Raisa bikin trio yang lagunya memuja-muja diri. Ketika mereka tampil di acara yang tidak biasanya saya tonton, saya klik. Acara ini pecahnya di ujung, ketika Andre berusaha mengimbangi kegaulan Mario dengan celetukan-celetukan Inggris yang enggak nyambung.

Lagu MBG


Biasanya saya tidak suka yang AI-AI, tapi sepertinya satu Indonesia lagi kejangkitan wabah terngiang-ngiang sama lagu ini. (*menulis ini sambil terdengar anak-anak lewat jalan depan rumah menyanyikannya)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain