Kamis, 07 Mei 2026

Video-video Panjang yang Tamat Disimak Selama April 2026

Dengan adanya Instagram, menamatkan video panjang di YouTube jadi memerlukan ketabahan sebagaimana dalam menamatkan buku, kecuali kalau isinya benar-benar menarik/mengalir, atau lagi ada energi lebih untuk fokus sampai tuntas. Sebagaimana waktu membaca buku, kadang-kadang pikiran dengan sendirinya merumuskan isi video dan timbul kesan-kesan tertentu.

Film King of Comedy


Dari cuplikan-cuplikan Shaolin of Soccer, jadi menonton satu film full Stephen Chow, King of Comedy. Dari segi alur cerita, film ini banyak naik-turunnya; kayak, dikira setelah ini situasi tokohnya bakal membaik, ternyata enggak jadi, terus membaik lagi, begitu seterusnya. Romance berlangsung terlalu cepat dengan pemeran perempuan yang sangat cantik sekali banget. Yah, namanya juga film: durasi terbatas, harus menjual visual, sekaligus relatable bagi banyak pejuang kehidupan.

Dokumenter Sahara: Wilayah Para Jin


Menonton ini atas rekomendasi seseorang. Sepanjang menonton, saya bertanya-tanya, Mana penampakan jinnya? Jin itu sepertinya mewujud dalam kepercayaan warga lokal yang akan menemani si pembuat dokumenter melintasi Sahara. Kendati rajin salat dan berzikir, anak-anaknya pun penghafal Al-Quran, ia membawa si pembuat film ke "orang pintar" untuk meminta semacam pelindung sebelum memulai perjalanan.

Dokumenter ini lebih merupakan rekaman perjalanan melintasi Sahara, persisnya rute yang hampir-hampir tidak pernah dilalui manusia. Sebenarnya ada satu perhentian di mana mereka menemukan jejak manusia berupa lukisan gua. 

Dokumenter ini juga mengenai keajaiban unta yang di samping kerelaannya melayani manusia menanggung banyak beban berat dalam perjalanan panjang, juga bisa mencari makan sendiri dan tahan tidak minum sampai sebulan lebih. 

Tentunya dokumenter ini membawa kita mengalami (meski secara virtual saja) suasana di gurun pasir yang betapa luas tetapi juga serba terbatas dan sering amat sangat panas. Panorama di sekitar Ka'bah boleh jadi berubah-ubah seiring dengan waktu bertambah-tambah mewah, tapi di gurun pasir serupa ini, agaknya begitu-begitu saja sedari masa nabi-nabi (enggak tahu deh waktu Sahara katanya pernah berupa hutan)--tempat mereka menerima wahyu dari Penguasa Semesta Alam. Dalam kekosongan yang mahaluas di gurun pasir, Yang Maha Esa mengumumkan keberadaan diri-Nya; sedangkan dalam hutan tropis yang rimbun penuh distraksi aneka rupa flora dan suara satwa, tumbuh kepercayaan terhadap berbagai entitas gaib. Yang di gurun mengangankan surga sebagaimana alam tropis, sedangkan yang di kawasan tropis mesti menempuh perjalanan sebegitu jauh dan mahal untuk sampai ke titik syiar wakil-wakil Yang Maha Esa.

Perjalanan di kawasan gurun ini membuat saya ingin mendengarkan lagi lagu-lagu dari album Putumayo Presents Mali. Sedikitnya ada dua lagu favorit saya dari album tersebut, yaitu 

"Bana" (Issa Bagayogo) 


dan "Amassakoul 'N'Tenere" (Tinariwen). 


Kedua lagu ini vibe ngegurunnya kerasa banget, membawa seolah-olah lagi naik jip melintasi perkampungan di Afrika, persisnya Mali kali ya. 

Kebetulan saya lagi membaca buku Mansa Musa: The Most Famous African Traveler to Mecca, sambil googling-googling karena sedikitnya yang saya ketahui mengenai peradaban yang pernah ada di sana. Ternyata kawasan tersebut tidak hanya memiliki raja paling kaya, tetapi juga pernah menjadi pusat keilmuan paling maju, dan sampai sekarang masih ada beberapa penyalin yang berusaha melestarikan naskah-naskah kuno dari masa kejayaan Islam itu.


Dokumenter Business Insider


Berbagai produk makanan yang beredar di pasaran, contohnya madu, vanila, wasabi, sirup mapel, keju, kaviar, dan lain-lain, ternyata banyak yang bukan 100% asli. Soalnya, produk-produk tersebut sulit dihasilkan dalam skala besar, antara lain karena sumber dayanya dari alam kurang, sementara permintaan banyak, maka dibikinlah produk buatan yang kadar keasliannya cuma sekian persen.


Masih terkait sumber daya alam sebagai bahan baku produk-produk keperluan manusia, dokumenter dari seri World Wide Waste ini meliput berbagai usaha pengolahan sampah di India menjadi produk baru, walaupun tampaknya sampah sumbernya itu mengandung racun atau logam berat berbahaya, contohnya: dupa dari limbah bunga yang disemprot pestisida, boneka yang kapas isiannya dari bekas puntung rokok, dan seterusnya. Di satu sisi, ini riskan. Di sisi lain, ini tampak sebagai solusi sementara atas permasalahan sampah sekaligus membuka lapangan pekerjaan; lagi pula, kalau bahan baku harus 100% baru dan aman, sebagaimana yang ditunjukkan pada dokumenter pertama, ketersediaannya di alam mungkin terbatas, atau dapat menjadi eksploitasi baru sementara alam yang tersisa mungkin tinggal yang harus dipreservasi saja. Jadi, manfaatkan yang ada dulu, risikonya tanggung sendiri-sendiri nanti-nanti 🫤

Novel Bentang Lapangan


Melihat dari kovernya saja, saya menduga ini novel untuk anak remaja, mungkin tentang anak remaja yang berbakat bermain sepak bola kemudian menjadi juara, semacam Kapten Tsubasa versi Sunda. Ternyata, memang di dalamnya ada tokoh anak remaja berbakat, tapi bukan dia tokoh utamanya. Naratornya sudah bapak-bapak, adapun tokoh utamanya sepertinya adalah Basri yang usianya sudah sekitar seperempat abad, mempunyai istri, dan bekerja di kantor, sedangkan bermain sepak bola profesional adalah sampingan. Rupanya novel ini menceritakan dunia sepak bola profesional dan pengarangnya sendiri--yakni Rachmatullah Ading Affandie-- berpengalaman menjadi komentator siaran sepak bola di RRI serta Ketua Komisi Teknik Persib. Ceritanya, selain kental dengan sudut pandang dan istilah persepakbolaan, juga menyoroti kejiwaan para pemain, seperti kepercayaan diri, kemampuan bekerja sebagai tim, kesombongan, hingga integritas, yang sepertinya bisa ditarik ke ranah apa saja. Itu kondisi-kondisi yang mungkin berkembang dalam jiwa setiap manusia di mana pun ia berkiprah.

Banyak lagi video yang diputar sampai selesai, tapi hanya didengar sambil mengerjakan hal lain, dengan konsentrasi timbul tenggelam, dan tidak selalu mengenai topik yang benar-benar diminati atau dipahami, sehingga tidak terumuskan isinya juga kurang menimbulkan kesan tertentu.

Selasa, 28 April 2026

Peranan Sultan dan Raja dalam Sejarah Konservasi Alam Indonesia

Gambar dari Scribd.
Penyusun : Pandji Yudhistira Kusumasumantri
ISBN : 978-623-5273-02-0
Penerbit : Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
Cetakan pertama, Maret 2022
Buku dapat diunduh di situs Inung Wiratno Center

Saya penasaran dengan topik yang diangkat buku ini dari waktu membaca buku Konservasi Alam dalam Islam. Buku lainnya terkait sejarah konservasi alam Indonesia yang saya sudah tamat baca baru Semerbak Bunga di Bandung Raya dan Priangan. Namun kedua buku itu agaknya sebatas wilayah Jawa Barat, persisnya seputaran Bandung/Priangan.

Menurut buku ini, dalam sejarah kerajaan nusantara memang tidak banyak arsip tertulis mengenai kebijakan konservasi alam. Wujudnya lebih berupa pola perilaku masyarakat turun-temurun, seperti kepercayaan mistis, penabuan/larangan untuk memasuki tempat atau melakukan perbuatan tertentu, ritual penghormatan terhadap penguasa gaib, pemanfaatan alam yang sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga ke penamaan tempat-tempat, pepatah dan peribahasa, dan semacamnya yang berkaitan dengan benda-benda alam. Catatan paling tua mengenai konservasi alam yang ditemukan adalah Prasasti Malang bertahun 1395 (masa kerajaan Majapahit), isinya mengenai pencegahan kebakaran padang alang-alang.

Kemudian orang Eropa masuk sekitar masa kerajaan-kerajaan Islam di nusantara. Diterangkan mengenai tradisi perburuan di Eropa ketika itu (persisnya di Inggris dan Jerman), yang juga terdapat di nusantara (persisnya Aceh dan Jawa). Sama seperti di Inggris kala itu, perburuan biasanya dilakukan oleh kalangan aristokrat untuk bersenang-senang. Malah, perburuan semula dipandang sebagai cara mendekatkan diri dengan alam alih-alih merusaknya. Hingga pada abad 18, di Eropa berkembang aliran romantisme yang memunculkan naturalis-naturalis, di antaranya Charles Darwin dengan karya Origin of Species yang mengangkat gagasan akan kekerabatan manusia dengan satwa liar, sehingga mulai ada perubahan pandangan terhadap perburuan. Pengkajian terhadap alam ini pun berkaitan dengan eksploitasi dan ekspansi ke wilayah tropis yang alamnya eksotik.

Bagian yang paling meresahkan untuk dibaca adalah tradisi berburu dan mengadu hewan pada masa kerajaan-kerajaan Islam. Hewan diburu sebanyak-banyaknya demi kesenangan raja-raja, untuk unjuk kekuatan dan kekuasaan, dan diadu sebagai pertunjukan. Gongnya, adu harimau dilakukan dalam perayaan Idul Fitri. Harimau disimbolkan sebagai dosa yang harus ditumpas. (Rasanya ironis. Baru saja membersihkan dosa-dosa selama bulan puasa, langsung dikotori lagi dengan dosa menyiksa hewan 🙄 Kalau mau membantai hewan kan ada waktunya, Idul Adha, dan cukup dengan jenis-jenis herbivora yang mudah dikembang-biakkan seperti kambing, sapi, dan sebagainya, dan ada caranya tersendiri yang bukan dengan mengadu sampai mati 🤦🏽‍♀️)

Memang tradisi mengadu hewan sampai mati di mana-mana ada, bukan hanya di nusantara oleh raja-raja Islam. Masuknya Islam ke nusantara tidak lantas meniadakan praktik-praktik tersebut yang antara satu sama lain kiranya bertolak belakang. Padahal, sepembacaan saya terhadap Al-Quran (disclaimer: saya hanya orang awam), terdapat isyarat dalam cerita tentang Bani Israil yang tidak boleh menangkap ikan pada hari Sabtu, tentang umat Nabi Saleh yang harus berbagi sumber air dengan unta betina, serta larangan berburu dalam perjalanan haji, bahwa kelimpahan sumber daya alam itu tidak mesti untuk dimanfaatkan sebanyak-banyaknya, tetapi justru ujian bagi sifat tamak manusia. 

Sampai sekarang pun banyak pemimpin di Indonesia yang beragama Islam tapi tidak lantas berarti mengamalkan nilai-nilai Islam. Mungkin sekarang sudah berkurang praktik perburuan hewan secara besar-besaran dan mengadu harimau untuk kesenangan (lagian, apa yang mau diadu? Di Jawa harimau sudah punah, di Sumatra juga menuju punah). Gantinya, para penguasa mengeluarkan izin pembukaan lahan besar-besaran yang berdampak pada berkurangnya habitat satwa liar. Satwa yang tersingkir pun secara tidak langsung "diadu" dengan warga sekitar hutan yang sama-sama susah cari makan.

Masih terkait Islam, buku ini menyoroti bahwa dengan menyebarnya agama tersebut, umat Hindu di Tengger dan suku Badui di Banten berpindah ke pegunungan dan membuka lahan. Dahulu penduduk belum banyak, sehingga bukan masalah. Tapi lama-kelamaan makin banyak pembukaan karena pertumbuhan penduduk, usaha pemerintah, dan lain-lain. Islam berkembang pesat di dataran rendah yang banyak air karena air sangat diperlukan untuk berwudu. Perkembangan Islam tersendat-sendat di daerah yang susah air (seperti NTT dan Timor Timur), juga pedalaman/pegunungan yang sumber airnya jauh dari pemukiman dan dingin. Ini juga ironi lainnya: umat Islam sebegitu membutuhkan air, tapi banyak tempat yang menjadi reservoir air justru diubrak-abrik.

Orang-orang Eropa yang kemudian datang, mendirikan pemerintahan kolonial dan membuat peraturan-peraturan perlindungan alam, seakan-akan menjadi pahlawan. Padahal mereka juga yang mula-mula membuka hutan-hutan rimba untuk dijadikan perkebunan, dieksploitasi besar-besaran yang hasilnya untuk didistribusikan ke tempat-tempat jauh, dan keuntungannya barangkali lebih banyak untuk pemiliknya daripada warga setempat. Tengoklah Priangan yang dahulu kekayaan sumber daya alamnya begitu dipuja-puji oleh Andries D. Wilde, sekarang menjadi wilayah yang tingkat penganggurannya tinggi. Barangkali warga asli telah begitu terbiasa dengan kelimpahan itu sehingga tinggal mengambil saja yang ada, rela saja berbagi dengan pendatang. Tapi kelimpahan itu rupanya bukan tak ada batasnya. Yang datang ternyata kemaruk, akibatnya pribumi terpuruk.

Peraturan-peraturan perlindungan alam mulanya dibuat karena cenderawasih jadi langka akibat perburuan, padahal perdagangan bulunya sangat menguntungkan. Penangkapan cenderawasih pun dibatasi; tidak dilarang total, karena akan mengakibatkan penyelundupan. Peraturan-peraturan itu kemudian juga menetapkan kawasan-kawasan konservasi, dan "peranan sultan dan raja dalam sejarah konservasi alam Indonesia" adalah mendukung keputusan tersebut.
Konsep konservasi alam di Indonesia selama beberapa dekade banyak dipengaruhi oleh pemikiran dan ide-ide konservasi dari Eropa yang berangkat dari logika preservasi, mengawetkan alam untuk dinikmati oleh kalangan aristokrat seperti halnya yang terjadi pada kerajaan-kerajaan di Jawa untuk tradisi dan kesenangan dalam berburu. Dalam prakteknya, konservasi alam kemudian kurang memperhatikan kearifan lokal dan masyarakat adat yang telah melekat dan merupakan menjadi tradisi selama ratusan tahun. (halaman 69)
Pemerintah kolonial sudah lama angkat kaki, tapi cara-caranya masih berlaku termasuk dalam dunia konservasi. Kawasan-kawasan konservasi ditetapkan, dengan mementingkan siapa yang mampu bayar antara lain melalui wisata juga valuasi jasa ekosistem, serta membatasi akses warga sekitar yang sebelumnya telah biasa mengambil hasil hutan secara cuma-cuma untuk kebutuhan sehari-hari; sebagaimana dahulu Kota Bandung dibangun dengan konsep yang kedengaran begitu bagus dan indah--kota taman--tapi di area tertentu terpampang tulisan: "Verboden voor honden en inlanders".

Kamis, 09 April 2026

Randa Bengsrat (spoiler Roman Sunda)

Randa Bengsrat, menurut kamus SundaDigi, artinya janda perawan. Janda kok perawan? Rupanya, setelah dinikahkan dengan Udi, Esih tidak mau bercampur, karena terganjal oleh pemikiran bahwa pernikahan hanya sebentuk penindasan kepada perempuan. Ia tidak mau terkungkung di rumah dan diperintah laki-laki. 

Udi yang padahal pria baik-baik dan berpunya itu tidak bisa memaksakan. Ia pulang ke rumah orang tuanya, sementara Esih merantau ke ibukota, pengin jadi career woman. Esih menumpang di rumah sepupunya, seorang single mother yang telah berperan dalam menjejali kepala Esih dengan ide-ide kesetaraan gender dan women empowerment

Esih pun bekerja untuk bos chindo. Tapi di tempat kerjanya itu ada om gadun yang menginginkan dia jadi ani-ani. Esih pun resign. Mau cari kerja lagi, tidak dapat-dapat. Esih malah berkenalan dengan seorang pria Manado yang sudah mah ganteng, old money pewaris perusahaan pula. Esih merasa klik dengan pria tersebut. Lagi jobless, ada yang mengajak pelesir ke sana kemari, membayari ini itu. Enak juga ya ternyata kalau ada yang mengasihi, tidak mesti punya uang sendiri.

Menikah tidak mau, seks bebas hayuk. Esih hamidun, lantas menuntut pertanggungjawaban Kohar, kekasihnya itu. Namun Kohar tidak mau buru-buru menikah. Sebabnya, dia ternyata nonis dan tidak hendak menikah pakai hukum Islam mengikuti kepercayaan Esih. Karena Esih malu terus menumpang hidup sama saudaranya--sudah mah tidak berkontribusi secara finansial, lama-lama bakal melendung pula--setidaknya Kohar mau menyediakan tempat tinggal. Mereka pun living together sementara Esih yang telah menyadari dosa-dosanya seketika menjadi "ustazah" yang mendakwahkan ajaran Islam kepada Kohar. 

Esih pulang kampung sendirian, kepayahan menanggung akibat dari polah tingkahnya sendiri. Syukurlah pada akhirnya Kohar mendapatkan hidayah, log in, dan mau menikahi Esih. Happy ending.

Roman Sunda karangan Yus Rusamsi ini mula-mula diterbitkan dalam Mingguan Sunda pada 1965. 

Seru, karena pemikiran-pemikiran Esih yang feminis abis itu masih marak di media sosial kiwari. Malah tampaknya makin banyak Esih-Esih baru bermunculan, yakni wanita-wanita muda yang lebih mementingkan jadi independen daripada menikah. Sepertinya karena perkembangan zaman juga yang sudah lain daripada 60 tahun lalu (zamannya Esih). Sekarang lapangan pekerjaan bagi perempuan sudah makin terbuka lebar. Malah katanya perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada laki-laki. Dan, bagi banyak perempuan, bekerja mencari uang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan, keterpaksaan, karena tidak bisa semata-mata mengandalkan laki-laki di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lagian, Esih, sama saja, mau jadi karyawan bakal diperintah atasan, mau jadi pengusaha harus menyesuaikan dengan keinginan pelanggan, mau hidup semaunya saja pun ternyata lagi diperbudak hawa nafsu. Kemerdekaan apa yang kau cari, Esih??? Bukankah kita semua hanya terombang-ambing dalam permainan tipu daya dunia?!??!

Lucu, karena gagasan-gagasan feminisme yang semula menggebu-gebu melalui sudut pandang Esih ditutup oleh pernyataan yang mengukuhkan patriarki, diucapkan oleh tokoh yang sama-sama perempuan tapi usianya jauh lebih tua, "... dawuhan Pangeran oge awewe mah kudu dipingpin ku lalaki." Sebelum itu pun, malah sedari awal cerita, tokoh-tokoh yang mengonfrontasi pandangan Esih adalah sesama perempuan tapi lebih tua, seakan-akan, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kebijaksanaan perempuan ditandai dengan penyerahan diri kepada laki-laki.

Sekiranya tokoh utama adalah perempuan yang seumur hidupnya benar-benar menderita karena patriarki dan sampai akhir cerita teguh menjaga kesucian di hadapan laki-laki mau seganteng-sekaya-sepemurah apa pun, gagasan-gagasan feminisme itu akan lebih beralasan--pembaca mungkin masih lebih memberikan respek kepada tokoh utama sekalian dengan pandangan feminisnya itu. 

Tapi ternyata karakter Esih tidak sekuat itu. Ia wanita yang masih belia, betul-betul cantik, dan latar keluarganya berkecukupan, sehingga masih ada keleluasaan bagi dia untuk mengeksplorasi paham-paham dan pilah-pilih laki-laki. 

Memang gagasan-gagasan feminisme itu dikuatkan oleh kenyataan yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Tapi, dengan posisinya yang lain daripada perempuan-perempuan itu, bisa jadi Esih mendapatkan pengalaman yang beruntung bahkan memanfaatkan privilesenya untuk membantu mengangkat derajat rekan-rekannya sesama perempuan, alih-alih mengorbankan kesempatannya sendiri hingga terjerembap jadi sama-sama serbasusah. 

Sungguh Esih banyak terpengaruh oleh prasangkanya tapi tak kuasa mengingkari fitrah untuk menjadi penerima nafkah. Di awal saja garang, ujungnya luluh juga sama pria pujaan. Pengarang seakan-akan memahami benar gejolak jiwa perempuan muda semacam Esih, sebelum kemudian meledeknya. 

Barangkali yang namanya anak muda memang mesti merasai langsung salah mengambil jalan akibat dikuasai gejolak-gejolak nafsunya dan pengaruh-pengaruh dari luar, lebih suka mengikuti kata hatinya sendiri daripada mengikuti nasihat orang-orang tua yang belum tentu benar juga sih.

Selain itu, love interest Esih adalah pria tampan serbaada yang pengasih lagi penyayang dan mau jadi muslim taat, perempuan mana yang tidak memasrahkan diri sama pria begitu! Coba lelakinya yang tipe Karnadi di Rasiah Goreng Patut, wajarlah kalau Esih pilih jadi independent woman. Malah istri Karnadi saja masih bela-belain jual ayam ke tetangga supaya bisa kasih uang ke suami yang padahal lagi menipunya.

Randa Bengsrat dapat diakses di iPusnas (versi Balai Pustaka yang dilengkapi dengan ringkasan cerita dalam bahasa Indonesia) juga disimak di kanal YouTube Mang Cecep Gorbachev (dibacakan dari terbitan Kiblat). Karangan ini saya rasa layak untuk diangkat, selain karena isunya senantiasa relevan, ada unsur wishful thinking-nya pula. Memancing pemikiran sekaligus menghibur.

Senin, 06 April 2026

Loneliness in Japan (spoiler Dokumenter Aljazeera)



Dokumenter berdurasi sekitar 3/4 jam ini mengikuti dua orang Jepang yang kesepian, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki suka memiara hewan, mengalami masalah dalam pekerjaan hingga dipecat, kemudian mendaftar untuk memperoleh tunjangan karena tidak ada anggota keluarga yang dapat menopangnya. Yang perempuan suka bermain musik, lalu bertemu kawan perempuan, dan ujungnya tampil di konser kecil. Keduanya pengguna layanan A Place for You, suatu tempat curhat, tapi ada petugas betulan yang membalas chat mereka alih-alih AI bot. Selain itu, di Jepang ada kementerian yang menangani masalah kesepian, seperti di Inggris. 

Tidakkah mengherankan, orang sebegitu banyak, laki-perempuan pada melajang, masing-masing, seperti muspra bagi sesama, padahal tidak juga. Menurut pendeta Buddha yang kerap didatangi si lelaki dalam dokumenter ini, sebetulnya kita tetap saling terhubung. Nyatanya, apa-apa yang kita pakai adalah hasil jerih payah orang lain, jadi secara tidak langsung kita berguna bagi satu sama lain. Meski demikian, kerap kali kita juga tidak merasa terhubung dengan orang lain. Seakan-akan rasa keterhubungan itu harus kita hidupkan sendiri, barangkali dengan apresiasi dan imajinasi bahwa di balik setiap hal kecil yang kita pakai, ada seseorang. 

Selama menonton, saya bertanya-tanya mengenai proses pemfilmannya. Apa mereka sebetulnya aktor dengan skrip? Bagaimana si pembuat film mengetahui akhirannya akan seperti itu dan mendapatkan alurnya? Atau ia hanya mengikuti kehidupan dua orang yang punya problem sampai memperoleh suatu alur, seperti satu kiat dalam buku mengenai teknik menulis nonfiksi kreatif, You Can't Make This Up?

Rabu, 01 April 2026

Tersesat di Jalan yang Benar: Seribu Hari Mengelola Leuser 2005 - 2007

Gambar dari Grobmart.
Penulis : Wiratno dan para sahabat
Penerbit : Gadjah Mada University Press
ISBN : 978-602-386-380-3
Cetakan pertama 2013 oleh UNESCO Jakarta Office 
Cetakan kedua oleh Dir. Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial
Cetakan ketiga oleh KFW
Didigitalisasi Agustus 2023

Taman Nasional Gunung Leuser (selanjutnya TNGL) termasuk kawasan konservasi yang dirambah untuk kepentingan pembangunan. Biasanya pemerintah yang disalahkan atas persoalan efektivitas pengelolaan lahan, sekalipun ada juga faktor-faktor eksternal seperti meluasnya perkebunan ilegal, kebijakan pemerintah setempat yang tidak kondusif, dan sebagainya. Maka buku ini, yang ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi Kepala Balai TNGL selama hampir 1000 hari (2 tahun 8 bulan, 2005 - 2007), merupakan upaya autokritik.

Pembaca sekaligus diingatkan bahwa ada berbagai pihak dalam dunia konservasi. Mitosnya, satu pihak mewakili satu peran saja, misal pemerintah pasti salah, LSM pasti idealis, masyarakat pasti tidak tahu apa-apa, padahal kenyataannya kompleks. Tiap pihak itu merupakan sekelompok individu yang beragam kepentingannya, tidak bisa disamaratakan dan jangan menggeneralisasikan. Pihak pemerintah yang sering menjadi kambing hitam juga terdiri dari beragam individu, memang ada yang pragmatis tapi ada juga yang sungguh mengusahakan perbaikan. Negara-negara maju pun tidak selalu terpuji, banyak media hanya mencari sensasi dan menerapkan prinsip bad news is good news. Satu cara untuk mengatasi masalah intelektual cara berpikir generik ini adalah melihat secara mendetail dan berhati-hati, menghilangkan asumsi-asumsi, tidak bersikap apriori (= berpraanggapan sebelum mengetahui, melihat, menyelidiki, dan sebagainya keadaan yang sebenarnya), dan menyerahkan kepada ahli.
Bagaimana kita harus mencari strategi untuk menyeimbangkan usaha penyelamatan lingkungan untuk kepentingan jangka panjang dan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendesak ekonomi jangka pendek? (halaman xxxviii)

Sepintas, antara membaca-menulis-merenung dan kerja konservasi seperti dua aktivitas yang bertolak belakang. Membaca-menulis-merenung cenderung merupakan aktivitas soliter dalam ruang, walaupun bisa saja dilakukan bersama-sama di luar ruangan, misalnya berupa kegiatan silent reading atau menulis bareng dan berdiskusi (urun pikiran) di tempat terbuka. Sedangkan kerja konservasi identik dengan bergerak di lapangan, bersosialisasi dengan masyarakat, meskipun bisa juga duduk diam seorang diri mengamati satwa. Jadi pekerja konservasi yang juga senang membaca-menulis-merenung seperti memiliki keseimbangan antara aktivitas fisik, sosial, dan soliter. 

Pak Wiratno adalah contoh rimbawan yang menyeimbangkan antara konservasi dan literasi. Begini siklus kerjanya: berdiskusi bersama staf - pergi bersama ke hutan - melihat perbatasan kawasan - berkunjung ke desa-desa - mendapat perspektif berbeda dan informasi berharga dari LSM - berkoordinasi dengan pemerintah setempat - kembali bekerja di kantor - mencatat dan menuliskan pengalaman lapangan - membaca literatur, jurnal-jurnal, peraturan perundangan-undangan - menganalisis pengalaman tertulis bersama staf. 

Beliau mengimbau rekan-rekannya di dunia konservasi untuk banyak menulis juga dan menghimpun tulisan mereka dalam buku-buku yang salah satunya adalah buku Tersesat di Jalan yang Benar ini, dan banyak lagi yang bisa diakses di situs web beliau: https://iw-center.com/. Menurutnya, menulis itu mengasah modal intelektual (ingatan, buku yang pernah dibaca, intuisi, kemampuan analitik) yang dimiliki. Menulis berarti menganalisis, yang adalah usaha investasi pengayaan intelektual sumber daya manusia. Salah satu cara yang paling mudah untuk menumbuhkan karakter pembelajar adalah menuliskan kembali apa yang ditemukan dalam praktik pengelolaan konservasi sehari-hari (halaman 5).

Kontributor dalam buku ini berasal dari beragam latar belakang yang masih ada hubungannya dengan pengelolaan di kawasan Leuser. Mereka bukan hanya pegawai pemerintahan, melainkan ada juga yang aktivis wisata, jurnalis, polisi, wakil LSM, dan lain-lain, sehingga ada banyak perspektif, banyak cerita mengenai permasalahan-permasalahan di seputar kawasan. Ada cerita tentang rehabilitasi orangutan semi-liar, ada sejarah pembangunan kawasan wisata Bukit Lawang, ada gambaran kehidupan warga Tangkahan yang ekonominya bergantung pada perkebunan sawit dan karet serta pariwisata, dan lain-lain. Ada yang seru, dan ada yang haru. Ragam cerita ini menunjukkan kompleksnya permasalahan di lapangan.

Sebagai warga kota, pandangan saya masih sama. Hasil dari pengusahaan hutan di antaranya untuk didistribusikan ke kota-kota dan dikonsumsi oleh kita-kita, sehingga kita-kita yang di kota-kota secara tidak langsung turut memiskinkan orang lain yang hidup di sekitar hutan sekaligus membesarkan potensi bencana alam sebagai konsekuensi dari pembabatan hutan itu. Walau tanggung jawab sebetulnya lebih berat pada pengusaha-penguasa yang memungkinkan itu terjadi, saya kira konsumen sesungguhnya juga memiliki kekuatan untuk melawan, yakni dengan mengendalikan hawa nafsu, mengonsumsi secukupnya (hidup sesederhana mungkin), serta mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif untuk mengurangi kebergantungan pada berbagai hasil dari alih guna hutan. 

Gambar dari Facebook "Rosben untuk Kesehatan Rohani".

Buku ini sempat mengungkit nasib pejuang konservasi yang "sendirian, tanpa imbalan, bertahun-tahun, letih, dan sering kali dicemooh dan diabaikan" (halaman 225). Sementara itu, generasi baru yang militan, idealis, dan bersedia bekerja di bidang konservasi makin langka, kualitas staf yang ada pun lemah dan banyak yang enggan ke lapangan. Berbarengan dengan selesainya saya membaca buku ini, Mongabay mengeluarkan artikel tentang kesehatan mental pekerja konservasi, "Pekerja Konservasi: Profesi yang Dibangun di Atas Harapan, Tertekan oleh Kehilangan". Mereka tak ubahnya pekerja lain di mana pun dengan beban kerja yang melampaui kemampuan, bayaran tak seberapa, tak sempat merawat diri, sembari tak berdaya menyaksikan alam yang mereka perjuangkan malah bertambah rusak. Eco-grief is real. Tapi, sekalipun besok jadwalnya kiamat, kita tetap harus menanam. 

Rabu, 04 Maret 2026

Sepintas tentang Beberapa Cerita Samsoedi

Saya pertama kali mengenal Samsoedi karena bukunya akan dibahas di klub yang saya ikuti, dan tersedia di iPusnas. Buku Samsoedi pertama yang saya baca itu adalah Kisah Si Emed, terjemahan Ajip Rosidi. Aslinya dalam bahasa Sunda, buku ini berjudul Babalik Pikir. Samsoedi (1899-1987) adalah pengarang Sunda yang mengkhususkan pada cerita anak.

Ada minat untuk lanjut belajar bahasa Sunda. Saya kira cara yang paling mudah adalah dengan menyimak. Kalau sering mendengarkan kata-kata tertentu, mungkin lama-lama kita dapat memahami artinya dari konteks, atau untuk lebih memastikan, bertanya ke orang yang paham atau googling atau mencari di kamus. Apalagi sekarang sudah ada SundaDigi, kamus online bahasa Sunda yang bisa dibilang lumayan lengkap. Sebenarnya ada kata-kata Sunda yang saya belum temukan artinya di SundaDigi, tapi secara umum, kamus ini sangat bisa diandalkan daripada buku-buku fisik kamus bahasa Sunda yang tersedia di rumah saya, hehe.

Setelah mencoba berbagai konten bahasa Sunda di YouTube, akhirnya saya menemukan kanal Mang Cecep Gorbachev. Saya merasa cocok dengan kanal ini karena isinya membacakan buku-buku karya sastra Sunda. Memang ada maksud untuk belajar bahasa Sunda dengan menerjemahkan buku-buku ceritanya, apalagi di iPusnas ternyata koleksi bacaan Sundanya banyak, termasuk yang dibacakan dalam kanal Mang Cecep Gorbachev itu. Tapi, selain iPusnas kerap bermasalah, cara membaca-sekalian-menerjemahkan ini teramat sangat lambat. Lebih praktis menyimak yang sudah dibacakan saja, bisa disambi mengerjakan yang lain-lain.

Dua buku Samsoedi, Surat Wasiat dan Budak Minggat, termasuk cerita yang paling awal dibacakan di kanal Mang Cecep Gorbachev. Bagi yang pemahaman bahasa Sundanya ala kadarnya seperti saya, kedua cerita ini relatif mudah dimengerti. Mungkin karena keduanya termasuk bacaan anak, maka bahasanya relatif sederhana meskipun ditulis pada zaman Belanda sehingga ada sejumlah konteks dan istilah yang khas.


Setelah menyimak kedua cerita ini sampai tamat, ternyata ada kemiripan dengan buku Samsoedi yang pertama-tama saya baca, yaitu Kisah Si Emed. Kemiripan yang utama adalah tokoh utamanya remaja laki-laki belasan tahun yang karena berbagai sebab terpaksa meninggalkan rumah. Dalam Kisah Si Emed, tokoh utama diusir ibunya karena selalu menyusahkan sampai terdampar di penjara anak-anak di Semarang. Dalam Surat Wasiat, tokoh utama dikelabui oleh saudara ayah angkatnya hingga merantau ke Yogyakarta. Dalam Budak Minggat, tokoh utama disuruh mencari uang milik ayah tirinya dan malah terjebak menjadi kuli di Deli.

Selama kepergiannya dari rumah itu, tokoh utama menghadapi berbagai kesulitan. Ia harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, bertemu dengan orang-orang jahat, dan tentunya ada pula orang-orang baik yang membantu si tokoh mengangkat dirinya. Orang-orang yang dikenalnya sepanjang perjalanan itu pun memiliki ceritanya sendiri-sendiri, yang mengajarkan sebab-akibat dari berbagai perbuatan. 

Bisa dibilang, plot dalam cerita-cerita Samsoedi ini bertipe coming of age, cerita pendewasaan berisi serangkaian pengalaman dan petualangan jauh dari rumah, yang idealnya dialami seorang remaja laki-laki untuk mematangkan pribadinya, agar mengenal kerasnya dunia, sanggup menjalani kesukaran, sekaligus belajar menjadi orang baik yang dapat mengambil tanggung jawab untuk mengurus orang lain. 

Kiranya perlu ada cara khusus dalam mendidik anak laki-laki. Dalam Kisah Si Emed, tersirat bahwa ibu sebaiknya tidak memanjakan. Ketiga cerita Samsoedi menunjukkan bahwa mesti ada sesuatu yang memaksa remaja laki-laki untuk keluar dari rumah dan mencari sendiri jalannya, kalau bukan karena situasi hidup, atau tradisi (sebagaimana di Sumatra Barat, konon remaja laki-laki tidak lagi tidur di rumah tapi di surau, dan setelah lebih besar lagi, merantau), ya atas inisiatif orang tuanya sendiri seperti yang dilakukan Pak Jaya Setiabudi. Beliau sengaja menitipkan anak lelakinya di pondok-pondok pesantren dan meminta orang lain yang menggembleng.


Melihat di iPusnas, masih ada banyak karya lainnya dari Samsoedi. Entah apakah ceritanya masih semacam ketiga cerita ini. Untuk sementara, dari ketiga cerita ini, yang paling rame menurut saya adalah Budak Minggat, karena latarnya sampai ke luar Pulau Jawa, yaitu beberapa tempat di Sumatra, bahkan cerita mengenai tokoh lain sempat menjangkau sampai ke luar negeri. Penokohannya tidak hanya melibatkan sesama orang Sunda dan sesekali orang Belanda, tetapi ada juga ras Cina, bahkan bangsa hewan pun mendapat peran. Jadi cerita ini lebih panjang, lebih berlika-liku, dan lebih kosmopolitan daripada yang lain-lain. Bukunya pun tidak hanya terdapat di iPusnas (yang pada waktu saya membuat catatan ini masih belum dapat diakses), tetapi ada juga di iJogja.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain