Sabtu, 24 Oktober 2026

Politik Lingkungan: Pengelolaan Hutan Masa Orde Baru dan Reformasi

Gambar dari situs
Kementerian Pekerjaan Umum
Penulis : Herman Hidayat
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan Ngrumat Bondo Utomo, 2011 (cetakan kedua; cetakan pertama, 2008)
ISBN : 978-979-461-688-8
Edisi 2

Buku ini dari disertasi penulis di Universitas Tokyo, diselesaikan akhir 2004, dengan judul Dynamism of Forest Policy in Indonesia: Focusing on the Movement and Logic of Stakeholders under the Soeharto Regime and Reformation Era.

Isinya sedikit nyambung dengan buku Sukarno, Ratna Sari Dewi, dan Pampasan Perang, karena sama-sama mengangkat kontribusi Jepang dalam membangun industri di Indonesia, malah mungkin hampir-hampir seperti lanjutannya tapi lebih spesifik dalam bidang lingkungan. Kalau SRSDPP mendata segala usaha Jepang di Indonesia pada Orde Lama, buku ini terutama mengenai industri kayu pada Orde Baru, yang mana memang Jepang berkontribusi besar dalam kerusakan hutan di Indonesia.

Disclaimer: Membaca buku ini memantik pemenungan-pemenungan pribadi yang mungkin terlalu menyederhanakan, atau hanya menguatkan asumsi yang sudah terbentuk sebelumnya. 

Dari sekitar lulus kuliah, sejak membaca buku The Moneyless Man yang ketika itu kerap dipajang di obralan, saya jadi penasaran dengan kisah-kisah orang yang bereksperimen hidup tanpa uang, atau gerakan-gerakan yang menghendaki sistem ekonomi tanpa uang. Saya sendiri berusaha mengambil sikap moderat, yaitu tidak antiuang tapi juga sebisa mungkin mengurangi kebergantungan pada uang. Membaca buku ini, saya merasa menemukan satu alasan sebabnya segelintir orang sampai bersikap antiuang. Ada korelasi dekat antara krisis lingkungan di negara-negara berkembang dan bantuan dari lembaga-lembaga keuangan internasional (halaman 19). Atau, contoh lain yang lebih familiar bagi penganut Islam adalah gerakan antiriba, anti bekerja di lembaga keuangan.

Dengan utang dari lembaga-lembaga keuangan, negara-negara pada membangun peradaban menurut standar yang diciptakan Barat. Satu-dua generasi masih dapat membangun kehidupan dengan standar tersebut. Tapi generasi muda sekarang telah merasakan sulitnya mencapai standar kehidupan generasi sebelumnya, mungkin karena standar tersebut memang tidak sustainable. Makin besar utang pembangunan ke lembaga keuangan, makin banyak pohon ditebang untuk ekspor ke negara pengutang (contohnya Jepang) atau untuk membayar utang tersebut. 

Deforestasi juga dapat terjadi karena transmigrasi (yang dapat menimbulkan konflik dengan masyarakat setempat) serta ekspansi komoditi perkebunan seperti kopi. Kalau terkait lembaga keuangan ada ajaran antiriba, ekspansi sepertinya dapat dikaitkan dengan dalil untuk berhijrah, mengelana di bumi Allah yang luas untuk mencari rezeki, ditambah anjuran untuk menikah dan beranak-pinak. Bisa dipahami bahwa ajaran ini hendak memastikan kehidupan manusia terus berjalan dan menyebarkan nilai-nilai Islam. Tapi ada satu konsekuensi yang jarang terdengar dibahas, yaitu pertambahan populasi artinya memerlukan pertambahan hunian dan lahan pencaharian, yang mungkin mendorong pada perambahan kawasan yang mestinya dilindungi. Bagaimana ulama memecahkan persoalan ini, adakah yang peduli? Hidup manusia berikut kesejahteraannya itu nomor satu, yang lainnya nanti dulu. Adakalanya teguran bahwa manusia telah merambah ke tempat yang salah itu tampak langsung diberikan, seperti di halaman 260, ketika terjadi banjir yang menewaskan 17 orang, menghancurkan pondok dan area tanaman, pada 7 Februari 2003, dan kebanyakan korban adalah orang yang menanam kopi dan mendirikan pondok di kawasan itu. Ada juga yang sukses-sukses saja dari hasil perdagangan kopi sehingga dapat berhaji. Jadi manusia diberikan perintah untuk menikah, beranak-pinak, dan mencari rezeki dalam keluasan bumi Allah secara trial & error yang konsekuensinya ditanggung sendiri-sendiri dalam bentuk yang berbeda-beda, secara langsung atau ditangguhkan sampai entah kapan. 

Mungkin agar bumi ini cukup bagi semua orang, memang manusia semestinya hidup sederhana saja--yang dikaruniai bakat kaya wajib berbagi kepada yang dibatasi rezekinya--dan menerima bahwa perang dan penyakit merupakan bentuk pengendalian populasi manusia. Bagaimanapun kita berusaha menjaga perdamaian dan memajukan kesehatan, perang dan penyakit tetap terjadi dalam berbagai cara. Meski tidak ada perang, manusia tetap bunuh-membunuh, kadang karena perkara yang tampak sepele. Suami membunuh istri karena ditolak berhubungan badan. Istri membunuh suami karena diselingkuhi. Anak membunuh orang tua karena terlalu dikekang. Orang tua membunuh anak karena takut miskin. Teman membunuh teman karena ditagih bayar utang. Orang membunuh dirinya sendiri karena merasa putus asa. Beberapa penyakit telah dapat diatasi sehingga usia harapan hidup meningkat, tapi penyakit-penyakit baru terus bermunculan dan menyebar. Di antaranya adalah penyakit-penyakit yang membuat orang karena satu dan lain hal tidak bereproduksi--ujungnya penurunan populasi juga.

Membaca tentang bagaimana hutan dirusak keperawanannya, dilacurkan dalam bentuk hutan tanaman industri, untuk menghasilkan pulp, yang salah satu produk akhirnya adalah buku dan majalah yang di rumah menumpuk-numpuk banyak belum terbaca, jadi menimbulkan rasa bersalah. Makin banyak produk hasil HTI yang dipunya, secara tidak langsung berarti makin besar kontribusi dalam alih guna hutan dari hetero ke homo, dan ekosistem pada tegakan yang hetero lebih sehat daripada yang homo (halaman 119). Beralih dari media cetak ke media digital juga tidak lebih baik, karena perangkat dan listriknya diperoleh dari tambang--hasil pembongkaran hutan, pembantaian massal terhadap flora dan fauna, dan penindasan hak asasi manusia yang telah turun-temurun hidup secara langsung dari sana tapi tak dianggap oleh pemerintah karena cara hidup tanpa uang begitu artinya tidak bayar pajak. Memang ada usaha-usaha untuk memulihkan lahan yang sudah diobrak-abrik itu, tapi laju pengrusakan masih lebih cepat daripada pemulihan dan barangkali ada spesies-spesies yang sudah telanjur punah. Dan, barangkali kemudian kita tetap tidak punya pilihan untuk tidak membeli apa pun produk hasil deforestasi yang bakal mereka tawarkan--bahkan paksakan, sebagaimana sekarang tiap-tiap kita mau tidak mau harus memiliki smartphone yang se-up-to-date mungkin untuk bisa menggunakan layanan umum, belajar dan bergaul, mencari uang supaya bisa makan karena lahan untuk bercocok tanam sendiri makin terbatas, dan lain sebagainya. Ya kali mau selamanya hidup di zaman batu, dan kebakaran hutan dan lahan di mana-mana adalah harga yang harus kita bayar untuk itu.

Kamis, 22 Oktober 2026

Kategorisasi Bacaan

Mulai 2019, saya mencoba membaca buku secara teratur: ada target waktu harian, pasang timer, sambil membuat catatan random tulis tangan yang ujungnya dirumuskan, dirapikan, dan diarsipkan di platform pribadi. Saya juga berusaha menyeimbangkan kategori buku: antara buku cetak dan buku digital, non-fiksi dan fiksi, hingga belakangan ini terpikir menurut tema, agar menjadi pribadi yang holistis dan well-rounded (@n7@y).


Untuk menyederhanakan, kategorisasi tema ini mengacu pada pelajaran sekolah di samping keperluan praktis, kurang lebih sebagai berikut.


AGAMA/habluminallah 


subjek utama: ketuhanan, agama, sistem kepercayaan, spiritualitas, entitas gaib


subjek terkait:

akidah akhlak 

fikih

quran hadis 

sejarah kebudayaan islam

dan semacamnya


Karena saya muslim, maka yang diutamakan adalah mendalami agama sendiri, walau tidak menutup kemungkinan untuk membaca tentang yang lain-lain juga sebatas keperluan.


IPA/habluminalalam


subjek utama: alam, flora dan fauna, benda abiotik dan biotik makhluk selain manusia, lingkungan hidup, sains dan teknologi


subjek terkait:

biologi

fisika

kimia

ekologi

kehutanan

panduan bercocok tanam, mendaur ulang, gaya hidup hijau

dan semacamnya


IPS/habluminannas


subjek utama: kemanusiaan


subjek terkait:

auto/biografi, memoar

self-care/development/improvement/help

psikologi 

ekonomi

sosiologi

dan semacamnya


RUANG & WAKTU


subjek utama: mengenai wilayah atau masa tertentu yang masih menyangkut aktivitas manusia


subjek terkait:

majalah

sejarah 

geografi

panduan beres-beres dan bersih-bersih rumah

dan semacamnya


Kategori ini dibuat karena saya bingung majalah masuknya ke mana, khususnya yang isinya gado-gado, meskipun banyak juga majalah yang condong ke bidang tertentu, contohnya National Geographic ke sains, Trubus ke pertanian, Horison ke sastra, Matabaca ke literasi, dan lain-lain. Bagaimanapun, kalau majalah itu tidak mengenai bidang tertentu, membacanya seperti menaiki mesin waktu, atau merupakan jendela untuk melihat masa lalu, mulai dari gaya hidup hingga isu-isu yang lagi ramai masa itu. Supaya isinya tidak hanya majalah yang notabene media cetak--ada keseimbangan dengan yang digital--sekalian saja dimasukkan subjek-subjek lainnya itu.


BAHASA & SASTRA


subjek utama: seputar aktivitas literasi, keterampilan berkomunikasi (membaca, menulis, menyimak, berbicara), dan hasil karya cipta manusia


subjek terkait:

apresiasi dan kritik sastra/seni

media dan komunikasi

tata bahasa

perbukuan

panduan menulis

dan semacamnya 


FIKSI & PUISI


subjek utama:

subjek terkait:

komik

kumpulan cerpen

novel

kumpulan puisi

dan semacamnya


Dengan kategorisasi begini, tampak non-fiksi jauh lebih dominan daripada fiksi dan puisi. Memang makin ke sini, makin lebih meminati non-fiksi, seakan-akan fiksi dan puisi lebih memikat semasa juvenil. Tapi, sebenarnya, untuk menerjemahkan, saya masih lebih menyukai fiksi, dan sambil mengerjakan aktivitas-aktivitas yang mindless, kadang-kadang saya mendengarkan karya fiksi yang dibacakan di YouTube (beberapa channel andalan: PERMATA TV untuk cerita silat, Mang Cecep Gorbachev untuk fiksi Sunda, dan hetvertellen untuk fiksi Jepang dan lain-lainnya). Saya juga masih berusaha untuk menulis fiksi, dan kadang-kadang menyimak tontonan yang notabene cerita fiksi. Jadi persentuhan dengan fiksi tetap lumayan banyak, hanya saja dengan cara atau melalui media lain.


Memang kadang-kadang rada susah menentukan satu buku masuk ke kategori mana. Misalnya buku tentang sejarah taman, itu masuknya ke IPA/habluminalalam (karena menyangkut pertanaman) atau RUANG & WAKTU? Contoh lain, buku kumpulan puisi yang disertai pembahasan, masuknya ke BAHASA & SASTRA (apresiasi dan kritik) atau FIKSI & PUISI? Atau buku tentang kisah hidup nabi, masuknya ke AGAMA atau IPS/habluminannas (biografi)? Dalam kasus-kasus begini, mungkin pakai feeling, atau isinya secara keseluruhan lebih berat ke mana, atau lihat slot mana yang lebih banyak kosong wkwk.


Di sisi lain, waktu membaca buku mesti dibatasi sehingga tidak bisa sering-sering menamatkan. Jadi, untuk menyelesaikan satu putaran seluruh kategori ini, entah bakal makan waktu berapa lama 🙃


walaupun punya seribu buku,

tapi tak dibaca, apa gunanya 

walaupun baca seribu buku,

tapi tak beramal, apa gunanya

Minggu, 11 Oktober 2026

Kisah-kisah Tak Penting

Gambar dari Bacabuku.com.
Penulis : Matdon
Penerbit : Langgam Pustaka, Tasikmalaya
Cetakan pertama, Juni 2021
xii + 78 halaman, 13 x 20 cm
ISBN : 978-623-7461-78-4
Tersedia di iPusnas

Buku ini dibacakan pada acara tadarus Asian African Reading Club, 7 Oktober 2026, yang notabene side event pameran Milestone Kota Bandung. Karena isinya kumpulan cerita yang pendek-pendek (sekira 2-3 halaman), masing-masing peserta kebagian baca 1 cerita bergiliran. Ternyata ceritanya kebanyakan lucu-lucu, jadi bahan untuk ketawa bareng. Tapi ada juga beberapa cerita yang sedih.

Cerita-cerita dalam buku ini tampak seperti pengalaman pribadi penulis kisaran tahun 1990-an sampai 2010-an zaman sudah ada BBM. Banyak yang menyangkut pekerjaan penulis sebagai wartawan, juga kiprahnya sebagai pendiri dan penyair Majelis Sastrawan Bandung. Dalam cerita-ceritanya itu, penulis tidak selalu menjadi pelaku, kadang-kadang sebagai pengamat saja. Jadi buku ini seperti suatu memoar. Bagi warga Kota Bandung, banyak nama tempat yang disebutkan dalam cerita-ceritanya sudah familier. 

Cerita-cerita lucunya kurang lebih bisa digolongkan sebagai berikut.

- Pengalaman-pengalaman sebagai wartawan, baik yang dialami penulis sendiri maupun orang lain, baik ketika baru memulai maupun sudah lebih berpengalaman. Contohnya di cerita "Mayat Itu Bukan Manusia", "Untung Mati", "Laskar Panggung Bandung", "Perihal Email", "Tukang Ojeg Teroris", "Ditilang Polisi", "Yuda dan Kunci Kamar".

- Kelakuan rekan sesama wartawan, terutama Abah Opik yang sudah menjadi semacam recurring character dalam rangkaian cerita ini saking seringnya muncul. Abah Opik seorang pemabuk, dan ada-ada saja kelakuannya baik ketika mabuk maupun tidak; kisahnya terdapat di "Beli Kangkung Sebecak", "Bah Opik dan Botol Bir Kemasan", "Ditraktir", "Naik Haji", "Makan Mie". Wartawan lainnya yang suka mabuk juga diceritakan dalam "Bencong Ahg!" dan "Ajo Mabuk".

- Kesalahpahaman-kesalahpahaman, seperti dalam "Trafficking Menyehatkan?" (seorang ibu rumah tangga calon legislatif Kota Bandung salah mengira trafficking sebagai trekking kali, ya), "Wartawan dan Jurnalis" (petugas berseragam tidak tahu bahwa "jurnalis" sama saja artinya dengan "wartawan"), "Baca Puisi dan Hujan" (kesetrum mik dikira bagian dari pertunjukan), "Dari Wartawan Republika sampai Matdon Band" (dari acara ke acara, penulis disangka sebagai wartawan dari sana-sini padahal hanya pernah menulis di situ, bahkan dikira nama group band).

- Tipu-menipu, mengerjai atau mengelabui, seperti dalam "Berita Bahaya", "Wawancara", "Perkara Nama", "Jodoh di Angkot", "Buku Telepon", "Pertemuan Sastrawan dan Ijazah", "Calon Walikota", "Pengganti Dekan", "Melaporkan Teroris".

Sebagian dari cerita lucu ini tidak benar-benar menggelikan, tapi memiriskan, karena diam-diam memberikan pengertian bahwa dunia ini memang penuh tipu daya dan betapa banyak fitnah berseliweran. Entahkah karena sifat pekerjaan itu sendiri yang harus cepat-cepat menaikkan berita sehingga tidak sempat memeriksa fakta, atau karena kejahilan orang-orangnya sendiri yang suka mengelabui sesama. Kejahilan itu mungkin dimaksudkan untuk becanda saja, tapi dampaknya bisa jadi serius. 

Contohnya dalam "Berita Bahaya", seorang wartawan mengerjai sesamanya yang telat datang dengan berbagi hasil liputan terhadap mantan wakil presiden Try Soetrisno; katanya Pak Try menyampaikan bahwa sudah saatnya rezim Orde Baru diganti dan seterusnya ... yang kalau pernyataan itu sampai benar-benar dimuat, akan berisiko tinggi menimbulkan perpecahan di masyarakat. 

Dalam "Wawancara" dan "Pengganti Dekan", narasumber yang tampil di suatu program acara ternyata bukan orang yang sebenarnya melainkan orang lain yang pura-pura saja. 

Dalam "Melaporkan Teroris", penulis harus melaporkan kejadian penangkapan teroris di Bandung, padahal beliau sedang ada liputan lain di Bali, sehingga meminta data dari teman-temannya via BBM tetapi mengaku tengah berada di lokasi penangkapan. 

Walaupun program acara atau pekerjaan akhirnya terselesaikan, kalau tahu cara kerja di baliknya seperti itu, apa bukan suatu bentuk pengelabuan terhadap orang awam atau masyarakat? Maka di kata pengantar oleh Bode Riswandi terdapat peringatan begini: "... jika ia politisi, buku ini pasti jadi babon cara efektif kelabu mengelabui" (halaman ix). Ini baru kisah-kisah pada masa media cetak dan radio masih berjaya, belum lagi setelah internet berkuasa dan arus informasi membanjiri kita senantiasa, suka atau tidak. Informasi sesat selalu ada, media tidak pasti dapat dipercaya.

Cerita-cerita sedih terdapat pada judul "Sedang Hamil Jadi PSK" (wanita yang terpaksa bekerja sebagai PSK walaupun sedang hamil 5 bulan, digermoi suaminya), "Cinta di Usia Senja" (kakek yang patah hati setelah bertemu lagi dengan pujaan hati), "Melamar Jadi Wartawan" (lulusan SD yang tidak lancar menulis mau jadi wartawati), "Lamaran Kerja" (Majelis Sastra Bandung dikira perusahaan besar yang merekrut karyawan sehingga banyak yang melamar pekerjaan), "Anak Kecil dan Boneka" (jadi maling boneka demi menyenangkan anak), "Ibu yang Malang" (ibu kesepian yang ingin mengangkat penulis sebagai anak tapi selalu ditolak secara halus). 

Selasa, 06 Oktober 2026

CARA MENCARI ARTI DARIPADA KATA-KATA BELANDA

Masing-masing perkataan Bahasa Belanda yang digunakan dalam buku ini hanya satu kali saja diberikan terjemahan Bahasa Indonesia-nya, yaitu pada permulaan kali digunakannya kata-kata itu. Oleh karena itu tentu sukar bagi pelajar untuk mengingat selanjutnya.

Jika ditemui kata-kata yang pernah diberikan tetapi lupa artinya maka dengan pertolongan daftar-daftar yang ada pada akhirnya dalam buku ini dapat segera diketemukan kembali artinya.

Untuk itu disajikan dua buah daftar yang tersusun menurut abjad.

Yang pertama adalah Daftar Umum di mana dapat diketemukan kata-kata dan istilah-istilah yang telah diberikan dalam buku ini disertai dengan terjemahan Bahasa Indonesia-nya dan nomor pelajaran di mana untuk pertama kali kata-kata dan istilah itu dipergunakan. Untuk 'kata benda' diberikan pula kata depan dan bentuk jamaknya.

Tetapi perlu pula pembaca ketahui, bahwa heeft harus dicari pada hebben, is pada zijn, kwam pada komen, tellen op pada optellen, staat op pada opstaan dsb.

Untuk hal-hal ini hendaknya dipergunakan daftar kedua (Daftar Bentuk). Dalam daftar ini dicantumkan bentuk-bentuk kata kerja kuat, kata kerja yang tak teratur dan kata-kata kerja majemuk dengan ditunjukkan kata asalnya.

Dalam Daftar Bentuk tersebut tidak tercantum: bentuk waktu lampau yang teratur dari kata-kata kerja lemah seperti: kende dari kennen, legde dari leggen dsb. dan demikian pula kata kerja bagian yang telah selesai seperti: 'gegeven' dari 'geven', 'gelopen' dari 'lopen', 'ondergegaan' dari 'ondergaan' dsb.

Senin, 05 Oktober 2026

DARI HAL CARA MENGUCAPKAN KATA-KATA BELANDA

I. Huruf hidup dapat dibagi dalam:

a) huruf hidup yang nyaring;

b) huruf hidup yang pekak, dan

c) huruf hidup tak berbunyi.



a) Huruf hidup yang nyaring: aa-ee-ie-oo-uu-oe-eu

Dalam 'maar' huruf aa berbunyi seperti dalam kata 'Sjarif', 'lapar' (jadi bukan seperti dalam: 'gelap').

Dalam 'meer' ee itu berbunyi seperti dalam 'perlénté', 'kedelé'.

Dalam 'mier' ie itu berbunyi seperti 'kitab', 'gila', 'lagi'.

Dalam 'moor' oo itu berbunyi seperti dalam 'bodoh', 'kolam', 'orang'.

Dalam 'muur' uu itu berbunyi seperti di antara i dalam 'biru' dan u dalam 'buru' (atau dalam kata Perancis: 'futur' dan Jerman 'Frühling').

Dalam 'moer' oe itu berbunyi seperti u dalam 'pulang', 'lupa', 'sudah'. 

Dalam 'deur' eu itu tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Berbunyi seperti dalam kata Jerman 'König".

Perhatian:

Huruf-huruf aa, ee, oo, uu dalam suku-suku kata yang terbuka ditulis dengan satu huruf saja (yakni: suku-kata terbuka yang berakhir dengan huruf hidup, misalnya: ha-ren, he-ren, hu-ren). Tetapi bunyinya tetap nyaring.



b) Huruf hidup yang pekak: a-e-i-o-u

a dalam 'pad' berbunyi seperti dalam 'ahli', 'hak'
e dalam 'pet' berbunyi seperti dalam 'korèk', 'pèl'.
i dalam 'pit' berbunyi seperti dalam 'pil', 'adik'.
o dalam 'pot' berbunyi seperti dalam 'botol', 'kotor'.
u dalam 'put' berbunyi hampir seperti e dalam 'senang', 'benang'.

Perhatian: 

Istilah 'berbunyi seperti' berarti: 'berbunyi kira-kira seperti' dan istilah 'berbunyi hampir seperti' berarti 'berbunyi kira-kira hampir seperti'.

Huruf-huruf hidup yang nyaring dalam kata-kata Belanda berbunyi agak lebih panjang daripada dalam kata-kata Indonesia.

Huruf-huruf hidup yang pekak dalam kata-kata Belanda berbunyi agak lebih pendek daripada dalam kata-kata Indonesia.

Maka dari itu perhatikanlah betul-betul tentang perbedaan dalam ucapan antara huruf hidup yang nyaring dalam baris pertama dan huruf hidup yang pekak dalam baris kedua.

1) paden; he-ten; nie-ten; bo-ten; hu-ren;
2) pad-den; pet-ten; pit-ten; pot-ten; dun-ne.



c) Huruf hidup yang tak berbunyi: e

'De', 'je', 'beloven', 'geloven'.

Dalam sejumlah besar kata-kata Belanda huruf e mempunyai bunyi kira-kira seperti dalam 'kenal', 'gelap'.

Alhasil huruf e dapat berbunyi tiga macam:

'les' berbunyi pekak seperti dalam 'korek'

'Leren' (le-ren) nyaring seperti dalam kedelé', 'tempé', 'ber-télé-télé'.

'De' berbunyi seperti dalam 'senang', 'menang', 'beras', 'melati'.



II. Huruf-huruf mati (konsonan)

Dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia ucapan kata-kata hanya sedikit saja perbedaannya, yaitu mengenai huruf-huruf: b, d, f (dalam kata-kata Arab asli), misalnya: 'filsafat', 'Arifin'.

j. k (seperti dalam 'kurang', 'kutang', 'kotor'), l, m, n, p (misalnya: dalam 'patjul', 'padang'), r, s, t, w, ng (dalam bahasa Belanda ng tidak pernah ditulis pada permulaan kata, melainkan di tengahnya, atau pada akhirnya: 'zingen', 'lang').

Tentang huruf-huruf mati yang lain dapat dijelaskan sebagai berikut: 

c berbunyi seperti k di depan konsonan, misalnya: 'clown', 'club', 'clerus', dan di depan a, o, u, misalnya: 'cacao', 'coöperatie', 'cursus'.

Di depan huruf i dan e berbunyi seperti s, misalnya: 'cilinder', 'cent'.

ch berbunyi hampir seperti dalam kata-kata Arab asli: 'chabar', 'chalajak', misalnya: 'lach'.

Tetapi pada awal kata-kata, di depan huruf hidup, maka ch berbunyi seperti sj, misalnya: 'chauffeur', 'China', 'chef'.

g berbunyi seperti ch yang bersuara lembut, misalnya: 'da-gen', dibanding dengan g dalam 'la-chen'. 

Pada akhir kata-kata, maka g berbunyi seperti ch dalam 'chabar': 'lig', 'lag'.

h pada awal kata-kata Belanda dan di depan huruf hidup berbunyi seperti orang kehabisan napas: 'hals', 'hier', 'hart'.

qu hanya terdapat pada permulaan kata-kata asing dan berbunyi seperti kw, misalnya 'qualiteit', 'quantiteit'.

v berbunyi seperti f yang bersuara lembut: 'val', 'ven', 'vel'.

z berbunyi seperti s yang bersuara lembut: 'zo', 'zon', 'zoon'.

Perhatian: 

'Hebt, 'tobt' diucapkan seperti: 'hept', 'topt'.

'Had', 'pad' diucapkan seperti: 'hat', 'pat'.

'Houdt', 'baadt' diucapkan seperti: 'hout', 'baat'.



III. Huruf majemuk:

ei dan ij berbunyi hampir seperti antara e  dalam 'karet' dan ai dalam 'kain',

ou dan au berbunyi kira-kira ao dalam 'kaos', 'Laos'.

ieu berbunyi kira-kira seperti iu  dalam 'siul'.

aai berbunyi kira-kira seperti ai dalam 'kain'

eeu berbunyi kira-kira seperti ew  dalam 'mewah', 'lewat'.

ooi berbunyi kira-kira seperti oi dalam 'amboi', 'mojang'.

oei berbunyi kira-kira seperti ui (uj) dalam 'buih', 'bujung'.

ui berbunyi kira-kira seperti eu (tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Kira-kira hampir seperti eu dalam bahasa Jerman: 'neu', 'heute').

Rabu, 30 September 2026

KATA PENGANTAR DAN PETUNJUK PENGGUNAAN

Pembaca tentu mengharapkan manfaat dan cara pemakaian yang setepatnya dari buku ini. Oleh karenanya di bawah ini dikemukakan dengan singkat dan saksama apa yang menjadi tujuan, bagaimana mencapai tujuan itu, dan apa yang perlu dilakukan untuk memperoleh faedah yang sebsar-besarnya dari buku ini.

Tujuan

Dengan sendirinya bahasa asing akan lebih mudah dipelajari dengan pimpinan seorang pengajar ahli. Tetapi oleh karena tidak selalu bisa didapatkan pengajar yang demikian, maka penulis dalam buku ini mencoba menjadikan cara belajar tanpa guru.

Buku ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan pasif yang memungkinkan membaca dan mengerti Bahasa Belanda. Dengan demikian lebih mudah dipelajari daripada belajar bercakap-cakap Bahasa Belanda tanpa pengajar. Mengingat kata-kata dan kalimat-kalimat jauh lebih mudah daripada mengunakannya. Jadi tujuan buku ini terutama hanyalah memberikan kemampuan kepada yang mempelajarinya untuk dapat membaca serta mengerti tulisan-tulisan (karangan-karangan) dalam bahasa Belanda. Meskipun demikian hal ini tak akan merintangi mereka yang dengan kemauan keras juga hendak belajar bercakap-cakap Bahasa Belanda.

Metode

Sebagaimana bahasa-bahasa lain, Bahasa Belanda memiliki banyak sekali kata-kata. Sebagian dari kata-kata itu sering, bahkan amat sering, dipergunakan, sedangkan puluhan ribu lainnya jarang-jarang hingga amat jarang dipergunakan.

Dalam metode buku ini dipergunakan kata-kata yang lazim dipakai karena kata-kata inilah yang lebih berguna (mempunyai nilai pakai).

Karena kata-kata itu selalu dipakai dalam kalimat maka di sini pun kata-kata itu dikemukakan dengan mencantumkannya dalam kalimat-kalimat. Untuk memudahkan pelajar mengingat dan mengerti kata-kata yang telah dipelajari, kata-kata itu senantiasa diulangi dalam halaman-halaman berikutnya. Juga bentuk-bentuk kalimat yang berbelit-belit pada dasarnya berasal dari bentuk-bentuk kalimat asal yang sederhana. Dengan lambat laun diperkenalkan kepada pembaca ragam dan keruwetan-keruwetan daripada kata-kata. 

Tugas pelajar

Seseorang yang belajar sendiri tanpa guru, harus pula mengawasi diri sendiri. Ia harus keras terhadap dirinya sendiri dan harus dapat menentukan apakah pelajaran-pelajaran telah dimengertinya benar-benar. Dapat dianjurkan: hendaknya jangan melanjutkan pelajaran yang berikutnya sebelum benar-benar memahami pelajaran sebelumnya. 

Selanjutnya: belajarlah teratur tetapi jangan berturut-turut terlalu lama.

Dalam tiap-tiap pelajaran, kata-kata yang belum dikenal dicetak dengan huruf miring dan terjemahan diberikan di sampingnya. Jika ada kata-kata yang telah diberikan tetapi lupa, carilah kembali pada pelajaran-pelajaran yang mendahului atau dalam daftar kata-kata pada akhir buku ini. 

Akhirnya diucapkan, selamat belajar.

Sebagai penutup penulis menyatakan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan, terutama kepada Sdr. I. F. M. Salim yang telah sudi membantu hingga buku ini tersusun. Demikian pula kepada Sdr. Esmet Sapari dari Sekolah Indonesia di Nederland yang sekadar telah membaca dan memeriksa rencana naskah buku ini.

Minggu, 30 Agustus 2026

Jalan Damai Alam Bersama Gajah

Tim Penyusun Litbang Kompas
Penerbit Buku Kompas, 2021
ISBN 978-623-346-278-5 (PDF)
Tebal 50 halaman
Tersedia di iJogja

Buku ini terdiri dari lima artikel yang sebelumnya diterbitkan di harian Kompas. Kelima artikel tersebut mengenai upaya "berdamai" dengan gajah di Sumatra, mulai dari Taman Nasional Way Kambas sampai Leuser.

Di TN Way Kambas, warga desa penyangga membentuk pam swakarsa untuk menghalau gajah dari merusak ladang mereka. Tiap hari ada saja satu-dua kejadian konflik dengan gajah. Bantuan dari pemerintah, selain memberikan uang lelah untuk pam swakarsa dan membangun tanggul (yang gajah cukup pintar untuk melintasinya), juga memfasilitasi kegiatan ekonomi baru agar beralih dari pertanian dekat perbatasan dengan TN ke usaha kreatif. ("Ketika Warga 'Berdamai' dengan Gajah", Kompas, 4 November 2011)

Di Jambi, petani sawit baru mengetahui bahwa lahan mereka ternyata ruang jelajah gajah. Hampir tiap hari ada konflik. Pemerintah kabupaten tidak responsif. Warga dibantu LSM mendirikan pagar kawat tegangan rendah untuk mencegah gajah masuk. Kalau tegangannya tinggi, satwa bisa tewas. Akar konflik sebetulnya pembukaan hutan menjadi area transmigrasi tanpa didahului penelitian tentang keberadaan satwa liar setempat. ("Jalan Damai Masyarakat-Gajah", Kompas, 16 Desember 2011)

Di TN Gunung Leuser, Conservation Rescue Unit didirikan oleh Lembaga Fauna dan Flora Internasional bersama BKSDA Aceh pada 2008, untuk menanggulangi konflik antara gajah dan warga peladang, patroli terhadap pembalakan liar dan pemburuan ilegal, serta ekowisata. Sempat ada tentangan dari warga karena komunikasi antara dua pihak kurang baik. Namun, karena konflik dengan gajah menjadi-jadi, CRU diaktifkan lagi dengan pendekatan baru, dari sosialisasi teoretis ke ekowisata yang memadukan antara wisata dan edukasi. Perekonomian warga pun terangkat karena mereka bisa menjajakan dagangan. Ekowisata menjadi upaya mendekatkan gajah dengan manusia, serta membantu ekonomi warga sekitar agar mendukung pelestarian alam. ("Gajah dan Mahot Bersama Amankan Hutan", Kompas, 25 Maret 2015; "Bermain dan Menjaga Alam Bersama Gajah", Kompas, 7 September 2016)

Terdapat pula Forum Konservasi Leuser yang merupakan kelompok patroli hutan. Tugasnya yaitu membongkar jerat serta membujuk pemburu liar/pembalak ilegal agar berhenti. ("'Ranger', Garda Depan Penjaga Leuser", Kompas, 31 Mei 2017)

Sabtu, 15 Agustus 2026

Ibnu Khaldun: Kehidupan dan Karyanya

Penulis : Muhammad Abdullah Enan
Penerjemah : Machnun Husein
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya
Edisi Elektronik, 2019
ISBN 978-623-221-404-0 (PDF)

Buku terbitan Pustaka Jaya yang saya temukan di iPusnas ini, tidak ada gambar sampulnya ketika di-googling, sehingga saya potret saja :v 

Buku digital ini banyak tiponya, terutama pada nama-nama orang dan tempat. Dengan mengesampingkan kekurangan tersebut, secara keseluruhan, buku ini memberikan cukup gambaran mengenai ketokohan Ibnu Khaldun dan isi karyanya. 

Beliau hidup pada masa kejatuhan peradaban Islam. Wilayah Islam di Eropa sudah pada diambil kerajaan Kristen. Kendati banyak cendekiawan dan sastrawan--menandakan intelektualitas yang menjamur--politiknya tidak stabil. Dalam pemerintahan Islam sekalipun ada perebutan kekuasaan di sana-sini.

Beliau disebutkan sebagai pribadi yang ambisius, oportunistis, bahkan narsisistik. Namun, dikatakan, bahwa ini sifat-sifat yang wajar pada orang genius berprestasi hebat, yang seakan-akan tahu benar akan kapasitas dirinya dan ingin agar orang-orang mengetahuinya juga. Mungkin juga karena berasal dari keluarga tua yang terkenal, terpelajar, terhormat, beliau merasa berhak atas jabatan penting dalam kenegaraan hingga menjelang akhir hayatnya. 

Selama karier politiknya di Tunisia, beliau mengalami jatuh bangun, bahkan pernah dimasukkan ke penjara. Akibat gangguan-gangguan di negerinya, dengan dalih akan menunaikan ibadah haji, beliau pindah ke Kairo. Di sana karyanya sudah tenar. Beliau diamanahi jabatan, tapi karena pada dasarnya orang dari luar, banyak yang mendengki kepadanya.

Bagaimanapun, Ibnu Khaldun membuktikan kapasitasnya baik dalam kenegaraan maupun kecendekiawanan, antara lain dengan menghasilkan sejumlah karya tulis, salah satunya adalah Muqaddimah, yang sampai sekarang masih menjadi bahan kajian. Jadi beliau tidak sekadar mengamati, memikirkan, dan menuliskan, melainkan mengalami sendiri berbagai intrik politik dalam perannya sebagai pejabat negara itu.  

Kehidupan rumah tangganya tidak banyak diceritakan. Bagaimanapun, menyangkut keluarga, beliau mengalami dua tragedi besar. Yang pertama, banyak orang terdekatnya--termasuk kedua orang tua dan guru-gurunya--tewas akibat wabah dari Eropa. Yang kedua, istri dan anak-anaknya hendak menyusulnya ke Mesir, tapi tenggelam dalam perjalanan dengan kapal laut.

Lebih dari cerita kehidupan dan kepribadian Ibnu Khaldun, buku ini membahas isi karyanya yang terkemuka itu, Muqaddimah, menyajikan ringkasan beserta kritik terhadapnya. Yang membedakan Ibnu Khaldun dari sejarawan-sejarawan muslim pendahulunya adalah beliau tidak sekadar mencatat cerita-cerita masa lalu, tetapi juga menggunakan metode penjelasan dan penalaran yang baru. Refleksi dan kajiannya mendorongnya untuk membentuk sejenis filsafat sosial. Namun, karya ini tidak terlepas dari bias. Pertama, Ibnu Khaldun cenderung tunduk kepada penguasa, ada nafsu pribadi, sehingga ada keberpihakan. Kedua, Ibnu Khaldun termasuk ras Barbar yang dibesarkan dalam lingkungan Barbar, dan orang Barbar memandang bangsa Arab sebagai penjajah, sehingga karyanya ini mengandung sentimen berlebihan yang tidak sesuai dengan fakta terhadap bangsa Arab.

Bab 10, "ILMU POLITIK DAN LEMBAGA-LEMBAGA KERAJAAN SEBELUM IBNU KHALDUN", mempertanyakan apakah Ibnu Khaldun perintis Sosiologi, dengan meneliti karya-karya para pemikir muslim sebelumnya mengenai politik, kerajaan, dan kemasyarakatan, dan akhirnya dapat dikatakan bahwa beliau memang perintis bukan hanya dalam tradisi Islam melainkan juga selainnya. 

Berabad-abad lamanya Ibnu Khaldun sempat dilupakan, tidak ada yang meneruskan, hingga kemudian ditemukan, diangkat dan ditinggikan sebagai filsuf sosial dan sejarah oleh para pemikir Eropa. Pemikirannya mendahului para pemikir Eropa, salah satunya Machiavelli. Bab 13, "IBNU KHALDUN DAN MACHIAVELLI" secara khusus membandingkan kedua pemikir yang masing-masing asalnya dari Afrika Utara dan Italia itu, karena ada kemiripan, mulai dari pemikiran hingga keadaan politik semasa hidup mereka.

"APENDIKS: TINJAUAN BIOGRAFIK KARYA SEJARAH IBNU KHALDUN, KITAB AL'IBAR" menerangkan bagaimana karya Ibnu Khaldun ditemukan dan diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain seperti Perancis, Turki, dan Jerman.

Senin, 03 Agustus 2026

Potongan Kompas, 19 Juni 1995



sales engineer
mesin
robot
baby face
first class hotel in jakarta
sales/public relations manager

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain