Kamis, 09 April 2026

Randa Bengsrat (spoiler Roman Sunda)

Randa Bengsrat, menurut kamus SundaDigi, artinya janda perawan. Janda kok perawan? Rupanya, setelah dinikahkan dengan Udi, Esih tidak mau bercampur, karena terganjal oleh pemikiran bahwa pernikahan hanya sebentuk penindasan kepada perempuan. Ia tidak mau terkungkung di rumah dan diperintah laki-laki. 

Udi yang padahal pria baik-baik dan berpunya itu tidak bisa memaksakan. Ia pulang ke rumah orang tuanya, sementara Esih merantau ke ibukota, pengin jadi career woman. Esih menumpang di rumah sepupunya, seorang single mother yang telah berperan dalam menjejali kepala Esih dengan ide-ide kesetaraan gender dan women empowerment

Esih pun bekerja untuk bos chindo. Tapi di tempat kerjanya itu ada om gadun yang menginginkan dia jadi ani-ani. Esih pun resign. Mau cari kerja lagi, tidak dapat-dapat. Esih malah berkenalan dengan seorang pria Manado yang sudah mah ganteng, old money pewaris perusahaan pula. Esih merasa klik dengan pria tersebut. Lagi jobless, ada yang mengajak pelesir ke sana kemari, membayari ini itu. Enak juga ya ternyata kalau ada yang mengasihi, tidak mesti punya uang sendiri.

Menikah tidak mau, seks bebas hayuk. Esih hamidun, lantas menuntut pertanggungjawaban Kohar, kekasihnya itu. Namun Kohar tidak mau buru-buru menikah. Sebabnya, dia ternyata nonis dan tidak hendak menikah pakai hukum Islam mengikuti kepercayaan Esih. Karena Esih malu terus menumpang hidup sama saudaranya--sudah mah tidak berkontribusi secara finansial, lama-lama bakal melendung pula--setidaknya Kohar mau menyediakan tempat tinggal. Mereka pun living together sementara Esih yang telah menyadari dosa-dosanya seketika menjadi "ustazah" yang mendakwahkan ajaran Islam kepada Kohar. 

Esih pulang kampung sendirian, kepayahan menanggung akibat dari polah tingkahnya sendiri. Syukurlah pada akhirnya Kohar mendapatkan hidayah, log in, dan mau menikahi Esih. Happy ending.

Roman Sunda karangan Yus Rusamsi ini mula-mula diterbitkan dalam Mingguan Sunda pada 1965. 

Seru, karena pemikiran-pemikiran Esih yang feminis abis itu masih marak di media sosial kiwari. Malah tampaknya makin banyak Esih-Esih baru bermunculan, yakni wanita-wanita muda yang lebih mementingkan jadi independen daripada menikah. Sepertinya karena perkembangan zaman juga yang sudah lain daripada 60 tahun lalu (zamannya Esih). Sekarang lapangan pekerjaan bagi perempuan sudah makin terbuka lebar. Malah katanya perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada laki-laki. Dan, bagi banyak perempuan, bekerja mencari uang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan, keterpaksaan, karena tidak bisa semata-mata mengandalkan laki-laki di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lagian, Esih, sama saja, mau jadi karyawan bakal diperintah atasan, mau jadi pengusaha harus menyesuaikan dengan keinginan pelanggan, mau hidup semaunya saja pun ternyata lagi diperbudak hawa nafsu. Kemerdekaan apa yang kau cari, Esih??? Bukankah kita semua hanya terombang-ambing dalam permainan tipu daya dunia?!??!

Lucu, karena gagasan-gagasan feminisme yang semula menggebu-gebu melalui sudut pandang Esih ditutup oleh pernyataan yang mengukuhkan patriarki, diucapkan oleh tokoh yang sama-sama perempuan tapi usianya jauh lebih tua, "... dawuhan Pangeran oge awewe mah kudu dipingpin ku lalaki." Sebelum itu pun, malah sedari awal cerita, tokoh-tokoh yang mengonfrontasi pandangan Esih adalah sesama perempuan tapi lebih tua, seakan-akan, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kebijaksanaan perempuan ditandai dengan penyerahan diri kepada laki-laki.

Sekiranya tokoh utama adalah perempuan yang seumur hidupnya benar-benar menderita karena patriarki dan sampai akhir cerita teguh menjaga harga diri di hadapan laki-laki mau seganteng-sekaya-sepemurah apa pun, gagasan-gagasan feminisme itu akan lebih wajar. Sedangkan Esih hanyalah wanita yang dari segi usia belum begitu banyak makan asam garam, betul-betul cantik, dan latar keluarganya berkecukupan, sehingga ada keleluasaan bagi dia untuk mengeksplorasi paham-paham dan pilah-pilih laki-laki. Memang gagasan-gagasan feminisme itu dikuatkan oleh kenyataan yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Tapi, dengan posisinya yang lain daripada perempuan-perempuan itu, bisa jadi Esih mendapatkan pengalaman yang beruntung bahkan memanfaatkan privilesenya untuk membantu mengangkat derajat mereka, alih-alih terjerembap jadi serbasusah. Sungguh Esih banyak terpengaruh oleh prasangkanya tapi tak kuasa mengingkari fitrah untuk menjadi penerima nafkah. Di awal saja garang, ujungnya luluh juga sama pria pujaan. Pengarang seakan-akan memahami benar gejolak jiwa perempuan muda semacam Esih, sebelum kemudian meledeknya.

Selain itu, love interest Esih adalah pria tampan serbaada yang pengasih lagi penyayang dan mau jadi muslim taat, perempuan mana yang tidak memasrahkan diri sama pria begitu! Coba lelakinya yang tipe Karnadi di Rasiah Goreng Patut, wajarlah kalau Esih pilih jadi independent woman. Malah istri Karnadi saja masih bela-belain jual ayam ke tetangga supaya bisa kasih uang ke suami yang padahal lagi menipunya.

Randa Bengsrat dapat diakses di iPusnas (versi Balai Pustaka yang dilengkapi dengan ringkasan cerita dalam bahasa Indonesia) juga disimak di kanal YouTube Mang Cecep Gorbachev (dibacakan dari terbitan Kiblat). Karangan ini saya rasa layak untuk diangkat, selain karena isunya senantiasa relevan, ada unsur wishful thinking-nya pula. Memancing pemikiran sekaligus menghibur.

Senin, 06 April 2026

Loneliness in Japan (spoiler Dokumenter Aljazeera)



Dokumenter berdurasi sekitar 3/4 jam ini mengikuti dua orang Jepang yang kesepian, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki suka memiara hewan, mengalami masalah dalam pekerjaan hingga dipecat, kemudian mendaftar untuk memperoleh tunjangan karena tidak ada anggota keluarga yang dapat menopangnya. Yang perempuan suka bermain musik, lalu bertemu kawan perempuan, dan ujungnya tampil di konser kecil. Keduanya pengguna layanan A Place for You, suatu tempat curhat, tapi ada petugas betulan yang membalas chat mereka alih-alih AI bot. Selain itu, di Jepang ada kementerian yang menangani masalah kesepian, seperti di Inggris. 

Tidakkah mengherankan, orang sebegitu banyak, laki-perempuan pada melajang, masing-masing, seperti muspra bagi sesama, padahal tidak juga. Menurut pendeta Buddha yang kerap didatangi si lelaki dalam dokumenter ini, sebetulnya kita tetap saling terhubung. Nyatanya, apa-apa yang kita pakai adalah hasil jerih payah orang lain, jadi secara tidak langsung kita berguna bagi satu sama lain. Meski demikian, kerap kali kita juga tidak merasa terhubung dengan orang lain. Seakan-akan rasa keterhubungan itu harus kita hidupkan sendiri, barangkali dengan apresiasi dan imajinasi bahwa di balik setiap hal kecil yang kita pakai, ada seseorang. 

Selama menonton, saya bertanya-tanya mengenai proses pemfilmannya. Apa mereka sebetulnya aktor dengan skrip? Bagaimana si pembuat film mengetahui akhirannya akan seperti itu dan mendapatkan alurnya? Atau ia hanya mengikuti kehidupan dua orang yang punya problem sampai memperoleh suatu alur, seperti satu kiat dalam buku mengenai teknik menulis nonfiksi kreatif, You Can't Make This Up?

Rabu, 01 April 2026

Tersesat di Jalan yang Benar: Seribu Hari Mengelola Leuser 2005 - 2007

Gambar dari Grobmart.
Penulis : Wiratno dan para sahabat
Penerbit : Gadjah Mada University Press
ISBN : 978-602-386-380-3
Cetakan pertama 2013 oleh UNESCO Jakarta Office 
Cetakan kedua oleh Dir. Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial
Cetakan ketiga oleh KFW
Didigitalisasi Agustus 2023

Taman Nasional Gunung Leuser (selanjutnya TNGL) termasuk kawasan konservasi yang dirambah untuk kepentingan pembangunan. Biasanya pemerintah yang disalahkan atas persoalan efektivitas pengelolaan lahan, sekalipun ada juga faktor-faktor eksternal seperti meluasnya perkebunan ilegal, kebijakan pemerintah setempat yang tidak kondusif, dan sebagainya. Maka buku ini, yang ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi Kepala Balai TNGL selama hampir 1000 hari (2 tahun 8 bulan, 2005 - 2007), merupakan upaya autokritik.

Pembaca sekaligus diingatkan bahwa ada berbagai pihak dalam dunia konservasi. Mitosnya, satu pihak mewakili satu peran saja, misal pemerintah pasti salah, LSM pasti idealis, masyarakat pasti tidak tahu apa-apa, padahal kenyataannya kompleks. Tiap pihak itu merupakan sekelompok individu yang beragam kepentingannya, tidak bisa disamaratakan dan jangan menggeneralisasikan. Pihak pemerintah yang sering menjadi kambing hitam juga terdiri dari beragam individu, memang ada yang pragmatis tapi ada juga yang sungguh mengusahakan perbaikan. Negara-negara maju pun tidak selalu terpuji, banyak media hanya mencari sensasi dan menerapkan prinsip bad news is good news. Satu cara untuk mengatasi masalah intelektual cara berpikir generik ini adalah melihat secara mendetail dan berhati-hati, menghilangkan asumsi-asumsi, tidak bersikap apriori (= berpraanggapan sebelum mengetahui, melihat, menyelidiki, dan sebagainya keadaan yang sebenarnya), dan menyerahkan kepada ahli.
Bagaimana kita harus mencari strategi untuk menyeimbangkan usaha penyelamatan lingkungan untuk kepentingan jangka panjang dan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendesak ekonomi jangka pendek? (halaman xxxviii)

Sepintas, antara membaca-menulis-merenung dan kerja konservasi seperti dua aktivitas yang bertolak belakang. Membaca-menulis-merenung cenderung merupakan aktivitas soliter dalam ruang, walaupun bisa saja dilakukan bersama-sama di luar ruangan, misalnya berupa kegiatan silent reading atau menulis bareng dan berdiskusi (urun pikiran) di tempat terbuka. Sedangkan kerja konservasi identik dengan bergerak di lapangan, bersosialisasi dengan masyarakat, meskipun bisa juga duduk diam seorang diri mengamati satwa. Jadi pekerja konservasi yang juga senang membaca-menulis-merenung seperti memiliki keseimbangan antara aktivitas fisik, sosial, dan soliter. 

Pak Wiratno adalah contoh rimbawan yang menyeimbangkan antara konservasi dan literasi. Begini siklus kerjanya: berdiskusi bersama staf - pergi bersama ke hutan - melihat perbatasan kawasan - berkunjung ke desa-desa - mendapat perspektif berbeda dan informasi berharga dari LSM - berkoordinasi dengan pemerintah setempat - kembali bekerja di kantor - mencatat dan menuliskan pengalaman lapangan - membaca literatur, jurnal-jurnal, peraturan perundangan-undangan - menganalisis pengalaman tertulis bersama staf. 

Beliau mengimbau rekan-rekannya di dunia konservasi untuk banyak menulis juga dan menghimpun tulisan mereka dalam buku-buku yang salah satunya adalah buku Tersesat di Jalan yang Benar ini, dan banyak lagi yang bisa diakses di situs web beliau: https://iw-center.com/. Menurutnya, menulis itu mengasah modal intelektual (ingatan, buku yang pernah dibaca, intuisi, kemampuan analitik) yang dimiliki. Menulis berarti menganalisis, yang adalah usaha investasi pengayaan intelektual sumber daya manusia. Salah satu cara yang paling mudah untuk menumbuhkan karakter pembelajar adalah menuliskan kembali apa yang ditemukan dalam praktik pengelolaan konservasi sehari-hari (halaman 5).

Kontributor dalam buku ini berasal dari beragam latar belakang yang masih ada hubungannya dengan pengelolaan di kawasan Leuser. Mereka bukan hanya pegawai pemerintahan, melainkan ada juga yang aktivis wisata, jurnalis, polisi, wakil LSM, dan lain-lain, sehingga ada banyak perspektif, banyak cerita mengenai permasalahan-permasalahan di seputar kawasan. Ada cerita tentang rehabilitasi orangutan semi-liar, ada sejarah pembangunan kawasan wisata Bukit Lawang, ada gambaran kehidupan warga Tangkahan yang ekonominya bergantung pada perkebunan sawit dan karet serta pariwisata, dan lain-lain. Ada yang seru, dan ada yang haru. Ragam cerita ini menunjukkan kompleksnya permasalahan di lapangan.

Sebagai warga kota, pandangan saya masih sama. Hasil dari pengusahaan hutan di antaranya untuk didistribusikan ke kota-kota dan dikonsumsi oleh kita-kita, sehingga kita-kita yang di kota-kota secara tidak langsung turut memiskinkan orang lain yang hidup di sekitar hutan sekaligus membesarkan potensi bencana alam sebagai konsekuensi dari pembabatan hutan itu. Walau tanggung jawab sebetulnya lebih berat pada pengusaha-penguasa yang memungkinkan itu terjadi, saya kira konsumen sesungguhnya juga memiliki kekuatan untuk melawan, yakni dengan mengendalikan hawa nafsu, mengonsumsi secukupnya (hidup sesederhana mungkin), serta mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif untuk mengurangi kebergantungan pada berbagai hasil dari alih guna hutan. 

Gambar dari Facebook "Rosben untuk Kesehatan Rohani".

Buku ini sempat mengungkit nasib pejuang konservasi yang "sendirian, tanpa imbalan, bertahun-tahun, letih, dan sering kali dicemooh dan diabaikan" (halaman 225). Sementara itu, generasi baru yang militan, idealis, dan bersedia bekerja di bidang konservasi makin langka, kualitas staf yang ada pun lemah dan banyak yang enggan ke lapangan. Berbarengan dengan selesainya saya membaca buku ini, Mongabay mengeluarkan artikel tentang kesehatan mental pekerja konservasi, "Pekerja Konservasi: Profesi yang Dibangun di Atas Harapan, Tertekan oleh Kehilangan". Mereka tak ubahnya pekerja lain di mana pun dengan beban kerja yang melampaui kemampuan, bayaran tak seberapa, tak sempat merawat diri, sembari tak berdaya menyaksikan alam yang mereka perjuangkan malah bertambah rusak. Eco-grief is real. Tapi, sekalipun besok jadwalnya kiamat, kita tetap harus menanam. 

Rabu, 04 Maret 2026

Sepintas tentang Beberapa Cerita Samsoedi

Saya pertama kali mengenal Samsoedi karena bukunya akan dibahas di klub yang saya ikuti, dan tersedia di iPusnas. Buku Samsoedi pertama yang saya baca itu adalah Kisah Si Emed, terjemahan Ajip Rosidi. Aslinya dalam bahasa Sunda, buku ini berjudul Babalik Pikir. Samsoedi (1899-1987) adalah pengarang Sunda yang mengkhususkan pada cerita anak.

Ada minat untuk lanjut belajar bahasa Sunda. Saya kira cara yang paling mudah adalah dengan menyimak. Kalau sering mendengarkan kata-kata tertentu, mungkin lama-lama kita dapat memahami artinya dari konteks, atau untuk lebih memastikan, bertanya ke orang yang paham atau googling atau mencari di kamus. Apalagi sekarang sudah ada SundaDigi, kamus online bahasa Sunda yang bisa dibilang lumayan lengkap. Sebenarnya ada kata-kata Sunda yang saya belum temukan artinya di SundaDigi, tapi secara umum, kamus ini sangat bisa diandalkan daripada buku-buku fisik kamus bahasa Sunda yang tersedia di rumah saya, hehe.

Setelah mencoba berbagai konten bahasa Sunda di YouTube, akhirnya saya menemukan kanal Mang Cecep Gorbachev. Saya merasa cocok dengan kanal ini karena isinya membacakan buku-buku karya sastra Sunda. Memang ada maksud untuk belajar bahasa Sunda dengan menerjemahkan buku-buku ceritanya, apalagi di iPusnas ternyata koleksi bacaan Sundanya banyak, termasuk yang dibacakan dalam kanal Mang Cecep Gorbachev itu. Tapi, selain iPusnas kerap bermasalah, cara membaca-sekalian-menerjemahkan ini teramat sangat lambat. Lebih praktis menyimak yang sudah dibacakan saja, bisa disambi mengerjakan yang lain-lain.

Dua buku Samsoedi, Surat Wasiat dan Budak Minggat, termasuk cerita yang paling awal dibacakan di kanal Mang Cecep Gorbachev. Bagi yang pemahaman bahasa Sundanya ala kadarnya seperti saya, kedua cerita ini relatif mudah dimengerti. Mungkin karena keduanya termasuk bacaan anak, maka bahasanya relatif sederhana meskipun ditulis pada zaman Belanda sehingga ada sejumlah konteks dan istilah yang khas.


Setelah menyimak kedua cerita ini sampai tamat, ternyata ada kemiripan dengan buku Samsoedi yang pertama-tama saya baca, yaitu Kisah Si Emed. Kemiripan yang utama adalah tokoh utamanya remaja laki-laki belasan tahun yang karena berbagai sebab terpaksa meninggalkan rumah. Dalam Kisah Si Emed, tokoh utama diusir ibunya karena selalu menyusahkan sampai terdampar di penjara anak-anak di Semarang. Dalam Surat Wasiat, tokoh utama dikelabui oleh saudara ayah angkatnya hingga merantau ke Yogyakarta. Dalam Budak Minggat, tokoh utama disuruh mencari uang milik ayah tirinya dan malah terjebak menjadi kuli di Deli.

Selama kepergiannya dari rumah itu, tokoh utama menghadapi berbagai kesulitan. Ia harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, bertemu dengan orang-orang jahat, dan tentunya ada pula orang-orang baik yang membantu si tokoh mengangkat dirinya. Orang-orang yang dikenalnya sepanjang perjalanan itu pun memiliki ceritanya sendiri-sendiri, yang mengajarkan sebab-akibat dari berbagai perbuatan. 

Bisa dibilang, plot dalam cerita-cerita Samsoedi ini bertipe coming of age, cerita pendewasaan berisi serangkaian pengalaman dan petualangan jauh dari rumah, yang idealnya dialami seorang remaja laki-laki untuk mematangkan pribadinya, agar mengenal kerasnya dunia, sanggup menjalani kesukaran, sekaligus belajar menjadi orang baik yang dapat mengambil tanggung jawab untuk mengurus orang lain. 

Kiranya perlu ada cara khusus dalam mendidik anak laki-laki. Dalam Kisah Si Emed, tersirat bahwa ibu sebaiknya tidak memanjakan. Ketiga cerita Samsoedi menunjukkan bahwa mesti ada sesuatu yang memaksa remaja laki-laki untuk keluar dari rumah dan mencari sendiri jalannya, kalau bukan karena situasi hidup, atau tradisi (sebagaimana di Sumatra Barat, konon remaja laki-laki tidak lagi tidur di rumah tapi di surau, dan setelah lebih besar lagi, merantau), ya atas inisiatif orang tuanya sendiri seperti yang dilakukan Pak Jaya Setiabudi. Beliau sengaja menitipkan anak lelakinya di pondok-pondok pesantren dan meminta orang lain yang menggembleng.


Melihat di iPusnas, masih ada banyak karya lainnya dari Samsoedi. Entah apakah ceritanya masih semacam ketiga cerita ini. Untuk sementara, dari ketiga cerita ini, yang paling rame menurut saya adalah Budak Minggat, karena latarnya sampai ke luar Pulau Jawa, yaitu beberapa tempat di Sumatra, bahkan cerita mengenai tokoh lain sempat menjangkau sampai ke luar negeri. Penokohannya tidak hanya melibatkan sesama orang Sunda dan sesekali orang Belanda, tetapi ada juga ras Cina, bahkan bangsa hewan pun mendapat peran. Jadi cerita ini lebih panjang, lebih berlika-liku, dan lebih kosmopolitan daripada yang lain-lain. Bukunya pun tidak hanya terdapat di iPusnas (yang pada waktu saya membuat catatan ini masih belum dapat diakses), tetapi ada juga di iJogja.

Minggu, 04 Januari 2026

Tempo Nomor 27/XXXI/2-8 September 2002

ISSN : 0126-4273
Rp 14.700

Biasanya saya gagal paham bila membaca rubrik "Ekonomi & Bisnis". Tapi di Tempo edisi ini ada dua cerita menarik terkait bisnis narkoba dan pertanian. 

Cerita pertama bait-nya terpampang di kover depan: "Tommy Winata di Belakang Bandar Ekstasi Tangerang?" Sebetulnya cerita ini masuk rubrik "KRIMINALITAS". Ada dua judul artikel yang terkait: "Tommy Winata: 'Saya Tak Bersekutu dengan Pembuat Narkoba'" (menampilkan foto yang bersangkutan sedang berkacak pinggang dengan ekspresi menantang) dan "Yang Dikejar Bukti Anyar". Artikel yang pertama itu berisi wawancara dengan Tommy Winata, pengusaha yang dituduh terlibat dalam bisnis ilegal, di antaranya narkoba. Di sini jelas ia menyangkal tuduhan itu serta menyatakan dukungannya dalam mengatasi masalah narkoba. Baru-baru ini saja saya ada ketertarikan pada pelaku bisnis ilegal di Indonesia, sejak menemukan video tentang Freddy Budiman di YouTube (dan katanya ada Freddy lainnya yang belum tertangkap?). Freddy Budiman sudah terlibat dalam bisnis narkoba sejak SMA, kemudian menjadi pengusaha skala internasional, hingga akhirnya dihukum mati, tapi masih sempat bertobat. Omong-omong soal Freddy, The Panas Dalam punya lagu judulnya "Freddy Preman Karbitan". 


Cerita kedua mengenai kasus investasi agrobisnis PT QSAR yang berujung tekor sehingga dirutnya ditahan. Kasus ini sebetulnya sudah diangkat sedari Tempo edisi sebelumnya. Dalam artikel-artikel ini terdapat edukasi mengenai investasi. Saya merasa investasi itu seperti berjudi: mengeluarkan uang untuk mendapatkan lebih banyak uang. Hanya saja: 1) uang yang dikeluarkan itu untuk membiayai usaha orang lain, 2) yang diharapkan hanya keuntungan sedangkan risiko kerugian kurang diperhitungkan, padahal usaha bisa mengalami naik turun. Barangkali dalam Islam, investasi semestinya diniatkan lebih untuk membantu sesama ketimbang untuk meraih keuntungan pribadi (paling-paling, pahala dari Allah); kalaupun mendapatkan keuntungan dari bagi hasil usaha, itu bonus. 

Untuk mendapatkan kepercayaan calon investor, PT QSAR punya trik menggaet pejabat (halaman 105). Sekarang istilahnya endorsement kali ya, yaitu menggaet tokoh/pesohor/orang ternama supaya orang lainnya yang bukan siapa-siapa tertarik untuk melirik produk yang ditawarkan. Khususnya dengan pejabat, keuntungan yang diperoleh pengusaha, selain untuk mendongkrak popularitas yang notabene jalan pintas meyakinkan calon investor, adalah mencari "pengamanan".

Sebenarnya PT QSAR bukan perusahaan bodong. Usahanya riil, dan masih ada orang-orang yang memandangnya secara positif, layak diteruskan. Permasalahannya adalah: dirutnya suka mengibul, dana disalahgunakan untuk investasi lain, dan investor tidak siap menanggung kerugian.

Layanan Rumah Sakit Sint Carolus (halaman 8)

Ini surat dari pembaca yang memuji pelayanan RS St. Carolus. Kiranya sedari dahulu pelayanan rumah sakit ini sudah memberikan kesan positif, simak saja lagu lawas yang judulnya "Berpisah di St. Carolus".


Menurut hasil googling, RS St. Carolus didirikan awal abad 20 oleh biarawati-biarawati Katolik Kongregasi St. Carolus Borromeus. Borromeus itu nama rumah sakit Katolik di Bandung. Ada teman yang juga pernah memuji pelayanan rumah sakit tersebut ketika ayahnya sedang dalam momen kritis. Padahal ayahnya tidak mau meninggal di rumah sakit nonmuslim, tapi setelah mendatangi beberapa rumah sakit, mau tidak mau, di sanalah beliau mengembuskan napas terakhir dikelilingi anak-anaknya yang membimbing untuk mengucapkan syahadat. 

St. Carolus punya cabang juga di Yogyakarta yang kemudian bernama Panti Rapih.

Tentang Seorang (Anak) Lelaki (halaman 125)

Ini ulasan film About A Boy oleh Leila S. Chudori. Film ini berdasarkan novel karya Nick Hornby, dibintangi oleh Hugh Grant, Rachel Weisz, Nicholas Hoult, dan Toni Collette. Lagu soundtrack-nya, "Silent Sigh" oleh Badly Drawn Boy, dulu sering tayang di MTV. Lagu-lagu lainnya dari Badly Drawn Boy enak juga loh.


Beberapa artikel menyangkut sejarah (klik judul untuk membaca salinan artikel): 

"Wangsit", kolom Onghokham mengomentari peristiwa pembongkaran batu tulis oleh Menag.

"Kanguru dalam Permesta", resensi buku Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/Permesta.


Rabu, 24 Desember 2025

Menerjemahkan Affirmations for the Inner Child (Rokelle Lerner, Health Communications, Inc.: 1990)

Gambar dari Amazon.
Baru pada buku ini saya menemukan bahwa ada jenis buku yang isinya kumpulan entri sejumlah hari dalam setahun. Sejak buku ini, saya pun penasaran mencari lebih banyak buku sejenis untuk dibaca satu entri per hari. Malah timbul ide untuk menerjemahkan buku ini satu entri per hari--jadi latihan terjemah harian. Seperti yang sudah diuraikan pada catatan pembacaan buku ini (20 November 2019), sebagian isinya ada yang relatable buat saya. Ada kalimat-kalimat yang bagus dan mengena. Maka posting terjemahan buku ini pun dijadwalkan untuk mengisi sepanjang 2022. 

Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai menerjemahkan buku ini, bisa saja tidak lama setelah tamat membacanya, awal 2020 barangkali, setiap hari satu entri mulai 1 Januari 2020. Atau 2021? 2022? 

Pendeknya, penerjemahan buku ini terputus-putus, berlarut-larut, sampai baru pada akhir 2025 ini akhirnya selesai juga .... Bertahun-tahun saya bertahan dengan buku ini (dan masih ada beberapa "proyek" lain yang juga sudah mengiringi saya bertahun-tahun lamanya entah kapan selesainya wkwkwk).

Total entri dalam buku ini mestinya ada 365 (tidak mencakup 29 Februari), tapi total yang sudah saya terjemahkan ternyata hanya sampai 358, yang berarti ada 7 entri yang saya lewatkan. Memang itu disengaja karena saya merasa tidak sreg dengan isi entri tersebut, terutama bila menyinggung seksualitas dan keyakinan. 

Betapapun bagusnya kalimat-kalimat afirmasi, ternyata tidak sebaiknya kita mempraktikkan itu mentah-mentah. Khususnya bila kita mengaku sebagai orang yang beriman kepada Tuhan. Penguatan-penguatan itu tidak cukup hanya mengandalkan diri sendiri, tapi mesti melibatkan Tuhan sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Buku ini pun kadang-kadang menyertakan "The Higher Power", seakan-akan insaf bahwa kekuatan diri sendiri saja tidak cukup. 

Jumat, 19 Desember 2025

Politik Ekologi: Pengelolaan Taman Nasional Era Otda

Gambar dari
Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Penulis : Herman Hidayat, John Haba, Robert Siburian
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan LIPI Press, 2011
ISBN : 978-979-461-792-2

Buku ini kumpulan hasil penelitian lapangan tentang dinamika beberapa Taman Nasional di Indonesia oleh tim LIPI selama 2005-2009. Fokusnya menganalisis kebijakan pemerintah, serta persepsi pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan) dan daerah (Provinsi dan Kabupaten) atas Taman Nasional, juga program kemitraan antara berbagai stakeholders.

"Bab I. Politik Ekologi: Taman Nasional dalam Era Otda" menyampaikan gambaran yang tampaknya umum terjadi di Taman-taman Nasional di Indonesia sejak era Otonomi Daerah. Selama Orde Baru, Pemerintah Pusat mengatur secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat setempat. Akibatnya, setelah Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah mengalami kendala untuk membangun daerahnya sendiri-sendiri, sebab ada daerah-daerah yang lahannya banyak diduduki oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kehutanan, dengan menetapkannya sebagai Taman Nasional. Dengan potensi kawasan pelestarian alamnya itu, Indonesia mempunyai peran penting di dunia internasional untuk mengatasi masalah pemanasan global. Konflik ini tidak hanya antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tetapi juga melibatkan pengusaha, masyarakat adat yang sudah turun-temurun menghuni kawasan, masyarakat pendatang, sampai LSM domestik dan internasional. 

Yang paling memprihatinkan bagi saya adalah masyarakat asli, yang dirampas haknya sekalipun hanya untuk hidup subsistence (sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari). Saya membayangkannya bagaimana jika kita sekeluarga sudah turun-temurun hidup di suatu tempat, mencari makan, membangun rumah, dan sebagainya, dengan mengambil dari hutan dan sekitarnya secara cuma-cuma, lalu datang sekelompok orang yang menyuruh pergi, membatasi akses ke hutan, yang kemudian dikuasai oleh pendatang, diporak-porandakan untuk jadi perkebunan, pertambangan, dan sebagainya, sementara kita jadi harus melakukan berbagai usaha lain untuk mendapatkan uang untuk menebus kebutuhan sehari-hari yang semula dapat diambil secara cuma-cuma secukupnya itu. Bahkan kita tidak lagi memiliki rasa cukup; kebutuhan yang semula sekadar untuk makan-minum, menutup aurat, memiliki naungan, dan selebihnya bersosialisasi serta menyembah entitas gaib Penguasa Alam Semesta, kini bertambah-tambah jadi harus mengirimkan anak ke sekolah dengan membayar segala kelengkapannya, memiliki rumah bata dan kendaraan bermotor, memasang listrik, mengantongi handphone, ... mengejar standar hidup ala masyarakat nun jauh di sana. Perubahan ini mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat asli, akibat dari melihat pendatang mengeksploitasi alam seluas-luasnya, mereka jadi ikut-ikutan. Mau bagaimana lagi, kalau tidak begitu, rugi dong! Mereka pun tidak lagi ramah, murah hati, menghormati alam sedemikian sehingga untuk menebang satu pohon saja harus mengadakan upacara, sebagai gantinya tumbuh jiwa komersial yang melihat pohon hanya sebagai sumber uang. Pepatah luar mengatakan bahwa uang tidak tumbuh dari pohon, tapi di negeri kita, nyatanya uang mengalir ke kantong-kantong dengan menebangi pohon-pohon.


Masyarakat asli tidak lagi boleh memanfaatkan tempat tinggal mereka turun-temurun sekadar untuk kebutuhan sederhana, sebab kawasan hanya boleh dikuasai oleh pihak-pihak bermodal, untuk memproduksi barang-barang untuk dijual, yang keuntungannya lebih banyak kembali kepada pihak-pihak bermodal itu. Kita-kita juga yang membantu memodali pihak-pihak tersebut dengan menaruh uang kita di bank. Kita-kita juga yang turut mengonsumsi produk dari mengubrak-abrik alam itu, menikmati hasil dari menghilangkan penghidupan masyarakat lain.

Misi konservasi tidak murni untuk mengonservasi, tetapi disisipi kepentingan pihak yang hendak menguasai kawasan, dengan menyisakan sebagiannya untuk diproteksi dengan menyingkirkan masyarakat yang semula hidup subsistence di dalamnya, mem-"beradab"-kan mereka agar turut menjadi konsumen dari produk-produk hasil eksploitasi itu. Ekowisata jadi satu kompensasi yang ditawarkan, tetapi yang dapat menikmatinya pun hanya sekalangan orang beruang yang mampu membayarnya, dan penduduk setempat mesti jadi pelayan bagi mereka.


Atau, barangkali ini hanya ide liar belaka untuk karangan fiksi spekulatif 🙃

Bab 2 sampai Bab 9 melaporkan keadaan di sejumlah Taman Nasional di Indonesia yaitu: Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Baluran, Bali Barat, Tanjung Puting, Kutai, Rawa Aopa Watumohai, Bogani Nani Wartabone; ada yang di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi--cukup mewakili nusantara dari sebelah barat, tengah, sampai wilayah timur. Satu bab menyoroti satu Taman Nasional. 

Selain permasalahan yang tampak umum terjadi di setiap Taman Nasional era Otda itu, di buku ini akan kita temukan pula praktik adat yang khas di kawasan-kawasan tertentu di Indonesia dalam berinteraksi dengan alam. Sebagai contoh, di Bali, sebenarnya adat agama Hindu di sana mengatur tata lingkungan. Terdapat Kawasan Radius Kesucian Pura (KRKP), artinya alam di sekitar pura merupakan kawasan yang mesti dilindungi untuk mendukung kesucian tempat ibadah. Akan tetapi, agaknya aturan itu tidak ditaati sepenuhnya, termasuk yang berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (halaman 132).

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain