Sabtu, 06 Juni 2026

Lawatan YouTube Mei 2026

Business Insider


Masih tentang usaha pengolahan limbah, kali ini bukan cuma di India, melainkan juga Sierra Leone, Argentina, dan Indonesia. Mungkin saja kelak ketika yang kita punya kebanyakan tinggal limbah dan pengangguran, akan bermunculan banyak usaha kecil pengolahan limbah agar kembali dapat digunakan, dan melibatkan banyak pekerja.


Baru tahu ada yang namanya curling. Itu sejenis olahraga yang masuk ke olimpiade. Sepenglihatan di video sih, cara mainnya yaitu dengan memegangi batu yang meluncur, lalu batu itu disundul-sundul pakai tongkat, malah ada juga yang seperti menyikat-nyikat di depannya(?). Yah, ada video lain yang menerangkan cara bermainnya, tapi tetap saja ada komentar-komentar yang mengatakan bahwa ini sport yang weird dan stupid.


Wasabi, semacam lobak hijau asli Jepang, ternyata punya syarat tumbuh yang sangat khusus sehingga sulit dibudidayakan. Persisnya, tumbuhan ini cocok di tempat teduh berbatu-batu yang dialiri air. Sudah mah rasanya tidak enak, menumbuhkannya sulit, pemanfaatannya tidak tahan lama pula, wkwkwk. Setelah diparut, wasabi harus langsung dikonsumsi atau cita rasanya bakal berubah. Tapi, katanya wasabi yang asli rasanya beda daripada yang buatan--yang umumnya beredar karena lebih mudah diproduksi. Wasabi yang asli lebih bisa dinikmati kali ya, katanya sih ada manis-manisnya.


Kerja tambang sulfur di Kawah Ijen ini sepertinya sudah banyak yang meliput di YT. Ini pekerjaan yang sangat berisiko tapi bayarannya relatif lebih tinggi daripada pekerjaan-pekerjaan lain yang tersedia, makanya ada saja orang yang mau melakoninya. Membaca komentar-komentar, banyak yang bersimpati, tapi ada juga yang menyayangkan karena sebetulnya bisa saja dibikin cara yang efisien untuk menambang dan mengangkut sulfur tanpa harus menggunakan tenaga manusia yang mengorbankan diri mereka sendiri. Apalagi narasi di video pun bilang bahwa kebanyakan sulfur bisa diekstrak dari hasil tambang lainnya dengan cara yang lebih aman, sehingga praktik ala Kawah Ijen ini tidak perlu dilanjutkan. Perusahaan yang mempekerjakan mereka juga menolak untuk diwawancara.

Mungkin, karena SDM di Pulau Jawa melimpah, maka praktik ini kendati berbahaya tetap saja ada yang mau melakukannya, asal bayarannya sepadan. Kalau segala harus dibikin serba efisien, dengan peralatan canggih sampai kecerdasan buatan, kelimpahan SDM ini mau diberdayakan bagaimana? Biarlah itu kerja yang berbahaya atau tidak efisien sekalipun, asal kerja, asal menunjukkan guna sebagai manusia. Berani mati, takut lapar, kata penambang yang diwawancara di video. Adakah yang berani mati akibat kelaparan?

Film Dracula: Dead and Lovin' It


Lucu-lucu horor, cuma agak saru karena banyak "balon" dan desahan. Lega ketika pada akhirnya si Dracula mati. Seperti film Leslie Nielsen lainnya, Naked Gun 2 1/2, di puncak masalahnya terselesaikan secara tak terduga dan "bodoh"--saking bodohnya sampai-sampai menggelikan.

Seputar Afrika Barat dan Sahara


Dokumenter ini saya sudah pernah menonton sebelumnya, mungkin empat tahun lalu ketika baru keluarnya--mungkin karena YouTube jadi suka merekomendasikan untuk menonton ulang setelah empat tahun. Bagaimanapun, saya menyukai dokumenter ini. Isinya tentang bagaimana pekerjaan, cara hidup, ilmu pengetahuan, dan tradisi diwariskan dari generasi tua ke generasi muda, hingga saya berpikiran pantas kalau dahulu orang tua sangat dihormati, karena orang tua menjadi sumber pengetahuan yang utama tentang cara bertahan hidup termasuk cara bersenang-senang, sebagaimana ditunjukkan melalui lomba balap unta dan lomba-lomba lainnya di ujung video. Di video ini pun tidak tampak perangkat elektronik, yang bagi anak muda perkotaan zaman sekarang telah menjadi sumber informasi utama, dan orang tua menjadi pihak yang inferior karena cenderung lambat menguasai teknologi terbaru, sehingga anak menjadi lebih tahu dan bersikap superior, kurang penghormatan kepada orang tua. Tapi, saya mencatat tentang video ini sambil menimbang-nimbang apakah perlu membeli tablet baru, dan lagi pula saya bisa menonton itu juga kan lewat tablet. Ah, bagai buah simalakama.


"Tenere", kata yang saya kenal dari judul lagu Tinariwen, "Amassakoul 'N Tenere", artinya kurang lebih kekosongan karena di kawasan Sahara bagian situ benar-benar tidak ada apa-apa, padahal tidak juga. Ada lukisan dinding kuno sebagaimana ditunjukkan di dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Karena lukisan itu menampakkan gambar hewan-hewan yang tinggal di kawasan Afrika yang lebih hijau, mungkin juga ada bukti-bukti lain, maka konon Sahara dulunya merupakan kawasan hijau. 

Kawasan yang "kosong" itu juga nyatanya "jalan tol" bagi karavan yang bisa terdiri dari ratusan ekor unta dalam barisan panjang, berpapasan dengan satu sama lain, demikian dokumenter ini ditutup.

Touareg adalah nama suku yang menguasai kawasan itu. Kalau ingin melintasi Sahara, baiknya minta ditemani oleh mereka. Kalau tidak, bisa-bisa dianggap melanggar wilayah dan dibantai; kejadian ini pernah menimpa rombongan ekspedisi Perancis-Aljazair pada 1880. Tinariwen adalah grup musik Touareg.

Jadi dokumenter ini isinya kurang lebih mirip dengan dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Ada bule minta ditemani warga lokal melintas Sahara. Warloknya saleh, yang dalam perjalanan tidak lupa salat. Bedanya, di dokumenter kali ini tidak melibatkan jin, dan warloknya bukan cuma satu orang. Malah dalam dokumenter ini mereka rombongan agak banyak dengan beberapa mobil jip. Sedangkan di dokumenter sebelumnya berdua saja pakai unta. 


Setelah menonton sedikitnya tiga dokumenter tentang kehidupan di Sahara, saya merasa isinya secara pokok kurang lebih persis: melintasi padang yang sejauh mata memandang kebanyakan hanya pasir, panas, kering, dan ekstrem, bersama unta hewan ajaib yang tahan tidak minum sampai lama, sanggup membawa beban berat juga. Di tengah perjalanan ada lukisan dinding gambar jerapah dan hewan-hewan lainnya. Di ujung akhirnya bertemu "peradaban" lagi--kawasan hunian manusia.

Bedanya, di dokumenter kali ini, tidak ada bule yang menemani, atau mereka mungkin hanya memfilmkan tapi tidak ikut tampil di depan kamera. Dokumenter ini lebih berfokus pada segi-segi kehidupan Touareg yang meliputi persiapan melepas karavan, mulai dari bekal apa saja yang harus dibawa, festival pelepasan, jenis-jenis pekerjaan lainnya dalam masyarakat Touareg yang masih berkaitan dengan perjalanan karavan (contoh: pandai besi untuk membuat senjata, penggali sumur untuk persediaan air), serta cara hidup wanita-wanitanya yang saling bantu, bekerja secara berkelompok, mulai dari mengolah makanan sampai mendirikan rumah yang berpindah-pindah, dan memasang tempat tidur portabel. Wanita sangat dihormati dalam masyarakat Touareg yang monogami. Jika bercerai, harta benda jadi milik istri. Yang menutupi wajah justru pria--sedangkan wanita hanya mengenakan kerudung--tapi sepertinya ini lebih untuk perlindungan dari cuaca terik sementara mereka pergi jauh sih. Umumnya orang Touareg muslim, menunaikan salat dan menghafal Al-Qur'an, tapi juga masih ada kepercayaan lama.

Persamaan video kedua dan ketiga adalah sama-sama mengikuti perjalanan karavan ke Bilma, tempat penghasil garam. Di sana mereka bertukar komoditi. Timbangan tidak ada, sehingga untuk menakar mereka menggunakan mangkok yang diisi penuh-penuh. Sangat sederhana. Air begitu terbatas. Listrik juga tidak pakai sepertinya. Namun mereka mampu bertahan sebegitu lama hidup di kawasan itu, tidak kebat-kebit bila mati listrik. Dan, apakah mereka mandi? 

Video ketiga ini tampak lebih lengkap menyajikan kehidupan masyarakat Touareg, sedangkan kedua video sebelumnya lebih kayak menemani bule penasaran jalan-jalan melintasi Sahara.

Buku Audio Days at the Morisaki Bookshop


Ceritanya tampak sederhana, tipe slice of life? Pada awalnya cukup menikmati. Saya lumayan relate karena pernah bantu-bantu di toko buku kecil yang juga menjual buku-buku bekas, dan yang berkunjung kadang hanya untuk mengobrol, juga penting untuk selalu bersikap baik, ramah, dan mengenal sebanyak-banyaknya orang. 

Cerita dimulai dengan si tokoh utama putus hubungan dari pacarnya sampai resign kerja karena mereka sekantor. Selagi depresi dan menganggur, dia ditawari bekerja di toko buku milik keluarga yang dikelola oleh pamannya. Dia ambil tawaran itu. Setelah bekerja di toko buku, dia mulai membangun hubungan-hubungan baru, walaupun belum untuk menggantikan hubungan cinta kepada kekasih. Dalam bagian pertama cerita ini dia banyak bercerita tentang pamannya yang sempat mempunyai istri, tapi istrinya kabur. Si tokoh utama tidak seterusnya bekerja di toko buku. Dia melamar pekerjaan lain, diterima, dan pindah.

Di bagian kedua, istri si paman kembali. Si tokoh utama menyempatkan untuk mampir ke toko buku. Selain membangun hubungan dengan istri si paman, dia juga menyambung hubungan dengan tokoh-tokoh lain yang telah muncul di bagian pertama. Di bagian ini, saya sudah kurang menikmati cerita. 

Entahlah, rasanya cheesy? corny? jasukey? Cerita ini mungkin dimaksudkan untuk memberikan perasaan enak dan tenang bagi yang membaca, dengan menempatkan diri dalam posisi si tokoh utama, yang setelah mengalami kejadian pahit, lantas mengambil jeda untuk tidur, membaca buku sebanyak-banyaknya, menjalin hubungan kasual dengan orang-orang, serta berjalan-jalan ke alam--kesempatan yang mungkin tidak dapat dialami setiap orang yang kepengin karena kehidupannya penuh tuntutan, sehingga sedikitnya mencicipi lewat novel.

Saya juga merasa aneh dengan cara para tokoh menunjukkan afeksinya. Pertama, ketika si paman bilang "I love you" ke tokoh utama sembari minum minuman beralkohol, berdua saja di kamar. Otak saya mungkin sudah banyak kemasukan berita-berita akhir zaman, sehingga adegan ini terasa rada-rada. Lalu, ada adegan ketika si tokoh utama dengan istri pamannya itu berpelukan sambil telanjang di pemandian air panas. Yah, di Jepang mandi bugil bersama mungkin biasa saja, termasuk sambil pelukan dengan sesama jenis. Tapi di budaya saya tidak ada yang begitu. 

Kalau saya baca sendiri buku ini sampai tuntas, mungkin saya kasih bintang satu atau dua di Goodreads.

Trio NPD


Bila konten Kak Kev muncul di Instagram, muncul dilema: enggak ditonton, penasaran, setelah ditonton, kok geli. Lalu entah bagaimana dia berkolaborasi sama sepupu Raisa bikin trio yang lagunya memuja-muja diri. Ketika mereka tampil di acara yang tidak biasanya saya tonton, saya klik. Acara ini pecahnya di ujung, ketika Andre berusaha mengimbangi kegaulan Mario dengan celetukan-celetukan Inggris yang enggak nyambung.

Lagu MBG


Biasanya saya tidak suka yang AI-AI, tapi sepertinya satu Indonesia lagi kejangkitan wabah terngiang-ngiang sama lagu ini. (*menulis ini sambil terdengar anak-anak lewat jalan depan rumah menyanyikannya)

Senin, 18 Mei 2026

Catatan Diskusi Buku Hernadi Tanzil

Sebagai pengguna Goodreads yang mewajibkan diri untuk menulis review setamat membaca buku, saya melihat akun htanzil sebagai sosok legendaris. Jadi saya datang ke acara peluncuran buku kumpulan resensi beliau, (R)esensi Maniak.

"Hernadi Tanzil adalah peresensi yang disukai penulis, disayangi penerbit," demikian kata Muhidin M. Dahlan. Resensi Pak Tanzil merupakan contoh yang baik dan sopan karena tidak pernah menyinggung siapa-siapa, padahal kata Anwar Holid--pembahas dalam acara ini--kebanggaan peresensi adalah bila menemukan bahan untuk dikritik. Resensi Pak Tanzil juga terasa santai, tidak ada kesan tergesa-gesa, seakan-akan ditulis oleh yang sungguh menikmati dan memuliakan buku. Tapi resensinya juga bukan yang teramat serius hingga menyertakan teori-teori. Beliau tidak memiliki latar belakang tulis-menulis. Kemampuannya menulis resensi diperbaiki sambil jalan. 

Ada ratusan resensi yang telah ditulis Pak Tanzil. Selain Goodreads, resensinya terdapat di blog: https://bukuygkubaca.blogspot.com/. Resensi yang dipilih untuk diterbitkan dalam (R)esensi Maniak ini ditulis dalam rentang 2005-2019, mencakup buku dari tiga kategori: buku tentang buku/metabuku (8), sastra Indonesia (7), dan sastra terjemahan (22). Tujuh resensi pernah dimuat di media massa, antara lain Ruang Baca Koran Tempo

Saya belum membaca benar-benar buku (R)esensi Maniak, baru melihat-lihat isinya. Dari pemindaian sekilas, tampak bahwa resensi yang dibuat Pak Tanzil merupakan artikel utuh, yang menyarikan buku secara menyeluruh. Resensi yang sungguh-sungguh ini dibandingkan dengan "resensi" lainnya yang banyak terdapat di Goodreads, serta "resensi" yang dewasa ini populer di media sosial. Kebanyakan "resensi" di Goodreads mungkin bukan benar-benar resensi, melainkan hanya komentar. Hanya sedikit yang membuat ulasan panjang mencakup keseluruhan buku, selebihnya hanya satu-dua paragraf. Sedangkan "resensi" di media sosial berkesan tergesa-gesa, kurang kedalaman, kadang-kadang lebai, tapi justru itu yang efektif bagi generasi muda kiwari yang suka apa-apa serbacepat. Sementara generasi lama yang tumbuh bersama media cetak, blog, dan Goodreads yang mungkin lebih bisa menikmati resensi berupa tulisan panjang.

Tidak semua buku layak atau sempat dibaca. Harga buku bisa terasa mahal, waktu untuk membacanya pun terbatas. Maka peran peresensi bagi calon pembaca atau pembeli adalah membantu supaya lebih selektif dalam menentukan buku yang betul-betul perlu dibaca atau dibeli. Bagi penerbit, lebih baik buku dijelek-jelekkan oleh peresensi daripada tidak ada resensi sama sekali. Demikian pentingnya peran resensi dalam industri penerbitan dan ekosistem literasi. 

Kamis, 07 Mei 2026

Video-video Panjang yang Tamat Disimak Selama April 2026

Dengan adanya Instagram, menamatkan video panjang di YouTube jadi memerlukan ketabahan sebagaimana dalam menamatkan buku, kecuali kalau isinya benar-benar menarik/mengalir, atau lagi ada energi lebih untuk fokus sampai tuntas. Sebagaimana waktu membaca buku, kadang-kadang pikiran dengan sendirinya merumuskan isi video dan timbul kesan-kesan tertentu.

Film King of Comedy


Dari cuplikan-cuplikan Shaolin of Soccer, jadi menonton satu film full Stephen Chow, King of Comedy. Dari segi alur cerita, film ini banyak naik-turunnya; kayak, dikira setelah ini situasi tokohnya bakal membaik, ternyata enggak jadi, terus membaik lagi, begitu seterusnya. Romance berlangsung terlalu cepat dengan pemeran perempuan yang sangat cantik sekali banget. Yah, namanya juga film: durasi terbatas, harus menjual visual, sekaligus relatable bagi banyak pejuang kehidupan.

Dokumenter Sahara: Wilayah Para Jin


Menonton ini atas rekomendasi seseorang. Sepanjang menonton, saya bertanya-tanya, Mana penampakan jinnya? Jin itu sepertinya mewujud dalam kepercayaan warga lokal yang akan menemani si pembuat dokumenter melintasi Sahara. Kendati rajin salat dan berzikir, anak-anaknya pun penghafal Al-Quran, ia membawa si pembuat film ke "orang pintar" untuk meminta semacam pelindung sebelum memulai perjalanan.

Dokumenter ini lebih merupakan rekaman perjalanan melintasi Sahara, persisnya rute yang hampir-hampir tidak pernah dilalui manusia. Sebenarnya ada satu perhentian di mana mereka menemukan jejak manusia berupa lukisan gua. 

Dokumenter ini juga mengenai keajaiban unta yang di samping kerelaannya melayani manusia menanggung banyak beban berat dalam perjalanan panjang, juga bisa mencari makan sendiri dan tahan tidak minum sampai sebulan lebih. 

Tentunya dokumenter ini membawa kita mengalami (meski secara virtual saja) suasana di gurun pasir yang betapa luas tetapi juga serba terbatas dan sering amat sangat panas. Panorama di sekitar Ka'bah boleh jadi berubah-ubah seiring dengan waktu bertambah-tambah mewah, tapi di gurun pasir serupa ini, agaknya begitu-begitu saja sedari masa nabi-nabi (enggak tahu deh waktu Sahara katanya pernah berupa hutan)--tempat mereka menerima wahyu dari Penguasa Semesta Alam. Dalam kekosongan yang mahaluas di gurun pasir, Yang Maha Esa mengumumkan keberadaan diri-Nya; sedangkan dalam hutan tropis yang rimbun penuh distraksi aneka rupa flora dan suara satwa, tumbuh kepercayaan terhadap berbagai entitas gaib. Yang di gurun mengangankan surga sebagaimana alam tropis, sedangkan yang di kawasan tropis mesti menempuh perjalanan sebegitu jauh dan mahal untuk sampai ke titik syiar wakil-wakil Yang Maha Esa.

Perjalanan di kawasan gurun ini membuat saya ingin mendengarkan lagi lagu-lagu dari album Putumayo Presents Mali. Sedikitnya ada dua lagu favorit saya dari album tersebut, yaitu 

"Bana" (Issa Bagayogo) 


dan "Amassakoul 'N'Tenere" (Tinariwen). 


Kedua lagu ini vibe ngegurunnya kerasa banget, membawa seolah-olah lagi naik jip melintasi perkampungan di Afrika, persisnya Mali kali ya. 

Kebetulan saya lagi membaca buku Mansa Musa: The Most Famous African Traveler to Mecca, sambil googling-googling karena sedikitnya yang saya ketahui mengenai peradaban yang pernah ada di sana. Ternyata kawasan tersebut tidak hanya memiliki raja paling kaya, tetapi juga pernah menjadi pusat keilmuan paling maju, dan sampai sekarang masih ada beberapa penyalin yang berusaha melestarikan naskah-naskah kuno dari masa kejayaan Islam itu.


Dokumenter Business Insider


Berbagai produk makanan yang beredar di pasaran, contohnya madu, vanila, wasabi, sirup mapel, keju, kaviar, dan lain-lain, ternyata banyak yang bukan 100% asli. Soalnya, produk-produk tersebut sulit dihasilkan dalam skala besar, antara lain karena sumber dayanya dari alam kurang, sementara permintaan banyak, maka dibikinlah produk buatan yang kadar keasliannya cuma sekian persen.


Masih terkait sumber daya alam sebagai bahan baku produk-produk keperluan manusia, dokumenter dari seri World Wide Waste ini meliput berbagai usaha pengolahan sampah di India menjadi produk baru, walaupun tampaknya sampah sumbernya itu mengandung racun atau logam berat berbahaya, contohnya: dupa dari limbah bunga yang disemprot pestisida, boneka yang kapas isiannya dari bekas puntung rokok, dan seterusnya. Di satu sisi, ini riskan. Di sisi lain, ini tampak sebagai solusi sementara atas permasalahan sampah sekaligus membuka lapangan pekerjaan; lagi pula, kalau bahan baku harus 100% baru dan aman, sebagaimana yang ditunjukkan pada dokumenter pertama, ketersediaannya di alam mungkin terbatas, atau dapat menjadi eksploitasi baru sementara alam yang tersisa mungkin tinggal yang harus dipreservasi saja. Jadi, manfaatkan yang ada dulu, risikonya tanggung sendiri-sendiri nanti-nanti 🫤

Novel Bentang Lapangan


Melihat dari kovernya saja, saya menduga ini novel untuk anak remaja, mungkin tentang anak remaja yang berbakat bermain sepak bola kemudian menjadi juara, semacam Kapten Tsubasa versi Sunda. Ternyata, memang di dalamnya ada tokoh anak remaja berbakat, tapi bukan dia tokoh utamanya. Naratornya sudah bapak-bapak, adapun tokoh utamanya sepertinya adalah Basri yang usianya sudah sekitar seperempat abad, mempunyai istri, dan bekerja di kantor, sedangkan bermain sepak bola profesional adalah sampingan. Rupanya novel ini menceritakan dunia sepak bola profesional dan pengarangnya sendiri--yakni Rachmatullah Ading Affandie-- berpengalaman menjadi komentator siaran sepak bola di RRI serta Ketua Komisi Teknik Persib. Ceritanya, selain kental dengan sudut pandang dan istilah persepakbolaan, juga menyoroti kejiwaan para pemain, seperti kepercayaan diri, kemampuan bekerja sebagai tim, kesombongan, hingga integritas, yang sepertinya bisa ditarik ke ranah apa saja. Itu kondisi-kondisi yang mungkin berkembang dalam jiwa setiap manusia di mana pun ia berkiprah.

Banyak lagi video yang diputar sampai selesai, tapi hanya didengar sambil mengerjakan hal lain, terputus-putus, dengan konsentrasi timbul tenggelam, dan tidak selalu mengenai topik yang benar-benar diminati atau dipahami, sehingga tidak terumuskan isinya juga kurang menimbulkan kesan tertentu.

Selasa, 28 April 2026

Peranan Sultan dan Raja dalam Sejarah Konservasi Alam Indonesia

Gambar dari Scribd.
Penyusun : Pandji Yudhistira Kusumasumantri
ISBN : 978-623-5273-02-0
Penerbit : Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
Cetakan pertama, Maret 2022
Buku dapat diunduh di situs Inung Wiratno Center

Saya penasaran dengan topik yang diangkat buku ini dari waktu membaca buku Konservasi Alam dalam Islam. Buku lainnya terkait sejarah konservasi alam Indonesia yang saya sudah tamat baca baru Semerbak Bunga di Bandung Raya dan Priangan. Namun kedua buku itu agaknya sebatas wilayah Jawa Barat, persisnya seputaran Bandung/Priangan.

Menurut buku ini, dalam sejarah kerajaan nusantara memang tidak banyak arsip tertulis mengenai kebijakan konservasi alam. Wujudnya lebih berupa pola perilaku masyarakat turun-temurun, seperti kepercayaan mistis, penabuan/larangan untuk memasuki tempat atau melakukan perbuatan tertentu, ritual penghormatan terhadap penguasa gaib, pemanfaatan alam yang sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga ke penamaan tempat-tempat, pepatah dan peribahasa, dan semacamnya yang berkaitan dengan benda-benda alam. Catatan paling tua mengenai konservasi alam yang ditemukan adalah Prasasti Malang bertahun 1395 (masa kerajaan Majapahit), isinya mengenai pencegahan kebakaran padang alang-alang.

Kemudian orang Eropa masuk sekitar masa kerajaan-kerajaan Islam di nusantara. Diterangkan mengenai tradisi perburuan di Eropa ketika itu (persisnya di Inggris dan Jerman), yang juga terdapat di nusantara (persisnya Aceh dan Jawa). Sama seperti di Inggris kala itu, perburuan biasanya dilakukan oleh kalangan aristokrat untuk bersenang-senang. Malah, perburuan semula dipandang sebagai cara mendekatkan diri dengan alam alih-alih merusaknya. Hingga pada abad 18, di Eropa berkembang aliran romantisme yang memunculkan naturalis-naturalis, di antaranya Charles Darwin dengan karya Origin of Species yang mengangkat gagasan akan kekerabatan manusia dengan satwa liar, sehingga mulai ada perubahan pandangan terhadap perburuan. Pengkajian terhadap alam ini pun berkaitan dengan eksploitasi dan ekspansi ke wilayah tropis yang alamnya eksotik.

Bagian yang paling meresahkan untuk dibaca adalah tradisi berburu dan mengadu hewan pada masa kerajaan-kerajaan Islam. Hewan diburu sebanyak-banyaknya demi kesenangan raja-raja, untuk unjuk kekuatan dan kekuasaan, dan diadu sebagai pertunjukan. Gongnya, adu harimau dilakukan dalam perayaan Idul Fitri. Harimau disimbolkan sebagai dosa yang harus ditumpas. (Rasanya ironis. Baru saja membersihkan dosa-dosa selama bulan puasa, langsung dikotori lagi dengan dosa menyiksa hewan 🙄 Kalau mau membantai hewan kan ada waktunya, Idul Adha, dan cukup dengan jenis-jenis herbivora yang mudah dikembang-biakkan seperti kambing, sapi, dan sebagainya, dan ada caranya tersendiri yang bukan dengan mengadu sampai mati 🤦🏽‍♀️)

Memang tradisi mengadu hewan sampai mati di mana-mana ada, bukan hanya di nusantara oleh raja-raja Islam. Masuknya Islam ke nusantara tidak lantas meniadakan praktik-praktik tersebut yang antara satu sama lain kiranya bertolak belakang. Padahal, sepembacaan saya terhadap Al-Quran (disclaimer: saya hanya orang awam), terdapat isyarat dalam cerita tentang Bani Israil yang tidak boleh menangkap ikan pada hari Sabtu, tentang umat Nabi Saleh yang harus berbagi sumber air dengan unta betina, serta larangan berburu dalam perjalanan haji, bahwa kelimpahan sumber daya alam itu tidak mesti untuk dimanfaatkan sebanyak-banyaknya, tetapi justru ujian bagi sifat tamak manusia. 

Sampai sekarang pun banyak pemimpin di Indonesia yang beragama Islam tapi tidak lantas berarti mengamalkan nilai-nilai Islam. Mungkin sekarang sudah berkurang praktik perburuan hewan secara besar-besaran dan mengadu harimau untuk kesenangan (lagian, apa yang mau diadu? Di Jawa harimau sudah punah, di Sumatra juga menuju punah). Gantinya, para penguasa mengeluarkan izin pembukaan lahan besar-besaran yang berdampak pada berkurangnya habitat satwa liar. Satwa yang tersingkir pun secara tidak langsung "diadu" dengan warga sekitar hutan yang sama-sama susah cari makan.

Masih terkait Islam, buku ini menyoroti bahwa dengan menyebarnya agama tersebut, umat Hindu di Tengger dan suku Badui di Banten berpindah ke pegunungan dan membuka lahan. Dahulu penduduk belum banyak, sehingga bukan masalah. Tapi lama-kelamaan makin banyak pembukaan karena pertumbuhan penduduk, usaha pemerintah, dan lain-lain. Islam berkembang pesat di dataran rendah yang banyak air karena air sangat diperlukan untuk berwudu. Perkembangan Islam tersendat-sendat di daerah yang susah air (seperti NTT dan Timor Timur), juga pedalaman/pegunungan yang sumber airnya jauh dari pemukiman dan dingin. Ini juga ironi lainnya: umat Islam sebegitu membutuhkan air, tapi banyak tempat yang menjadi reservoir air justru diubrak-abrik.

Orang-orang Eropa yang kemudian datang, mendirikan pemerintahan kolonial dan membuat peraturan-peraturan perlindungan alam, seakan-akan menjadi pahlawan. Padahal mereka juga yang mula-mula membuka hutan-hutan rimba untuk dijadikan perkebunan, dieksploitasi besar-besaran yang hasilnya untuk didistribusikan ke tempat-tempat jauh, dan keuntungannya barangkali lebih banyak untuk pemiliknya daripada warga setempat. Tengoklah Priangan yang dahulu kekayaan sumber daya alamnya begitu dipuja-puji oleh Andries D. Wilde, sekarang menjadi wilayah yang tingkat penganggurannya tinggi. Barangkali warga asli telah begitu terbiasa dengan kelimpahan itu sehingga tinggal mengambil saja yang ada, rela saja berbagi dengan pendatang. Tapi kelimpahan itu rupanya bukan tak ada batasnya. Yang datang ternyata kemaruk, akibatnya pribumi terpuruk.

Peraturan-peraturan perlindungan alam mulanya dibuat karena cenderawasih jadi langka akibat perburuan, padahal perdagangan bulunya sangat menguntungkan. Penangkapan cenderawasih pun dibatasi; tidak dilarang total, karena akan mengakibatkan penyelundupan. Peraturan-peraturan itu kemudian juga menetapkan kawasan-kawasan konservasi, dan "peranan sultan dan raja dalam sejarah konservasi alam Indonesia" adalah mendukung keputusan tersebut.
Konsep konservasi alam di Indonesia selama beberapa dekade banyak dipengaruhi oleh pemikiran dan ide-ide konservasi dari Eropa yang berangkat dari logika preservasi, mengawetkan alam untuk dinikmati oleh kalangan aristokrat seperti halnya yang terjadi pada kerajaan-kerajaan di Jawa untuk tradisi dan kesenangan dalam berburu. Dalam prakteknya, konservasi alam kemudian kurang memperhatikan kearifan lokal dan masyarakat adat yang telah melekat dan merupakan menjadi tradisi selama ratusan tahun. (halaman 69)
Pemerintah kolonial sudah lama angkat kaki, tapi cara-caranya masih berlaku termasuk dalam dunia konservasi. Kawasan-kawasan konservasi ditetapkan, dengan mementingkan siapa yang mampu bayar antara lain melalui wisata juga valuasi jasa ekosistem, serta membatasi akses warga sekitar yang sebelumnya telah biasa mengambil hasil hutan secara cuma-cuma untuk kebutuhan sehari-hari; sebagaimana dahulu Kota Bandung dibangun dengan konsep yang kedengaran begitu bagus dan indah--kota taman--tapi di area tertentu terpampang tulisan: "Verboden voor honden en inlanders".

Kamis, 09 April 2026

Randa Bengsrat (spoiler Roman Sunda)

Randa Bengsrat, menurut kamus SundaDigi, artinya janda perawan. Janda kok perawan? Rupanya, setelah dinikahkan dengan Udi, Esih tidak mau bercampur, karena terganjal oleh pemikiran bahwa pernikahan hanya sebentuk penindasan kepada perempuan. Ia tidak mau terkungkung di rumah dan diperintah laki-laki. 

Udi yang padahal pria baik-baik dan berpunya itu tidak bisa memaksakan. Ia pulang ke rumah orang tuanya, sementara Esih merantau ke ibukota, pengin jadi career woman. Esih menumpang di rumah sepupunya, seorang single mother yang telah berperan dalam menjejali kepala Esih dengan ide-ide kesetaraan gender dan women empowerment

Esih pun bekerja untuk bos chindo. Tapi di tempat kerjanya itu ada om gadun yang menginginkan dia jadi ani-ani. Esih pun resign. Mau cari kerja lagi, tidak dapat-dapat. Esih malah berkenalan dengan seorang pria Manado yang sudah mah ganteng, old money pewaris perusahaan pula. Esih merasa klik dengan pria tersebut. Lagi jobless, ada yang mengajak pelesir ke sana kemari, membayari ini itu. Enak juga ya ternyata kalau ada yang mengasihi, tidak mesti punya uang sendiri.

Menikah tidak mau, seks bebas hayuk. Esih hamidun, lantas menuntut pertanggungjawaban Kohar, kekasihnya itu. Namun Kohar tidak mau buru-buru menikah. Sebabnya, dia ternyata nonis dan tidak hendak menikah pakai hukum Islam mengikuti kepercayaan Esih. Karena Esih malu terus menumpang hidup sama saudaranya--sudah mah tidak berkontribusi secara finansial, lama-lama bakal melendung pula--setidaknya Kohar mau menyediakan tempat tinggal. Mereka pun living together sementara Esih yang telah menyadari dosa-dosanya seketika menjadi "ustazah" yang mendakwahkan ajaran Islam kepada Kohar. 

Esih pulang kampung sendirian, kepayahan menanggung akibat dari polah tingkahnya sendiri. Syukurlah pada akhirnya Kohar mendapatkan hidayah, log in, dan mau menikahi Esih. Happy ending.

Roman Sunda karangan Yus Rusamsi ini mula-mula diterbitkan dalam Mingguan Sunda pada 1965. 

Seru, karena pemikiran-pemikiran Esih yang feminis abis itu masih marak di media sosial kiwari. Malah tampaknya makin banyak Esih-Esih baru bermunculan, yakni wanita-wanita muda yang lebih mementingkan jadi independen daripada menikah. Sepertinya karena perkembangan zaman juga yang sudah lain daripada 60 tahun lalu (zamannya Esih). Sekarang lapangan pekerjaan bagi perempuan sudah makin terbuka lebar. Malah katanya perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada laki-laki. Dan, bagi banyak perempuan, bekerja mencari uang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan, keterpaksaan, karena tidak bisa semata-mata mengandalkan laki-laki di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lagian, Esih, sama saja, mau jadi karyawan bakal diperintah atasan, mau jadi pengusaha harus menyesuaikan dengan keinginan pelanggan, mau hidup semaunya saja pun ternyata lagi diperbudak hawa nafsu. Kemerdekaan apa yang kau cari, Esih??? Bukankah kita semua hanya terombang-ambing dalam permainan tipu daya dunia?!??!

Lucu, karena gagasan-gagasan feminisme yang semula menggebu-gebu melalui sudut pandang Esih ditutup oleh pernyataan yang mengukuhkan patriarki, diucapkan oleh tokoh yang sama-sama perempuan tapi usianya jauh lebih tua, "... dawuhan Pangeran oge awewe mah kudu dipingpin ku lalaki." Sebelum itu pun, malah sedari awal cerita, tokoh-tokoh yang mengonfrontasi pandangan Esih adalah sesama perempuan tapi lebih tua, seakan-akan, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kebijaksanaan perempuan ditandai dengan penyerahan diri kepada laki-laki.

Sekiranya tokoh utama adalah perempuan yang seumur hidupnya benar-benar menderita karena patriarki dan sampai akhir cerita teguh menjaga kesucian di hadapan laki-laki mau seganteng-sekaya-sepemurah apa pun, gagasan-gagasan feminisme itu akan lebih beralasan--pembaca mungkin masih lebih memberikan respek kepada tokoh utama sekalian dengan pandangan feminisnya itu. 

Tapi ternyata karakter Esih tidak sekuat itu. Ia wanita yang masih belia, betul-betul cantik, dan latar keluarganya berkecukupan, sehingga masih ada keleluasaan bagi dia untuk mengeksplorasi paham-paham dan pilah-pilih laki-laki. 

Memang gagasan-gagasan feminisme itu dikuatkan oleh kenyataan yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Tapi, dengan posisinya yang lain daripada perempuan-perempuan itu, bisa jadi Esih mendapatkan pengalaman yang beruntung bahkan memanfaatkan privilesenya untuk membantu mengangkat derajat rekan-rekannya sesama perempuan, alih-alih mengorbankan kesempatannya sendiri hingga terjerembap jadi sama-sama serbasusah. 

Sungguh Esih banyak terpengaruh oleh prasangkanya tapi tak kuasa mengingkari fitrah untuk menjadi penerima nafkah. Di awal saja garang, ujungnya luluh juga sama pria pujaan. Pengarang seakan-akan memahami benar gejolak jiwa perempuan muda semacam Esih, sebelum kemudian meledeknya. 

Barangkali yang namanya anak muda memang mesti merasai langsung salah mengambil jalan akibat dikuasai gejolak-gejolak nafsunya dan pengaruh-pengaruh dari luar, lebih suka mengikuti kata hatinya sendiri daripada mengikuti nasihat orang-orang tua yang belum tentu benar juga sih.

Selain itu, love interest Esih adalah pria tampan serbaada yang pengasih lagi penyayang dan mau jadi muslim taat, perempuan mana yang tidak memasrahkan diri sama pria begitu! Coba lelakinya yang tipe Karnadi di Rasiah Goreng Patut, wajarlah kalau Esih pilih jadi independent woman. Malah istri Karnadi saja masih bela-belain jual ayam ke tetangga supaya bisa kasih uang ke suami yang padahal lagi menipunya.

Randa Bengsrat dapat diakses di iPusnas (versi Balai Pustaka yang dilengkapi dengan ringkasan cerita dalam bahasa Indonesia) juga disimak di kanal YouTube Mang Cecep Gorbachev (dibacakan dari terbitan Kiblat). Karangan ini saya rasa layak untuk diangkat, selain karena isunya senantiasa relevan, ada unsur wishful thinking-nya pula. Memancing pemikiran sekaligus menghibur.

Senin, 06 April 2026

Loneliness in Japan (spoiler Dokumenter Aljazeera)



Dokumenter berdurasi sekitar 3/4 jam ini mengikuti dua orang Jepang yang kesepian, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki suka memiara hewan, mengalami masalah dalam pekerjaan hingga dipecat, kemudian mendaftar untuk memperoleh tunjangan karena tidak ada anggota keluarga yang dapat menopangnya. Yang perempuan suka bermain musik, lalu bertemu kawan perempuan, dan ujungnya tampil di konser kecil. Keduanya pengguna layanan A Place for You, suatu tempat curhat, tapi ada petugas betulan yang membalas chat mereka alih-alih AI bot. Selain itu, di Jepang ada kementerian yang menangani masalah kesepian, seperti di Inggris. 

Tidakkah mengherankan, orang sebegitu banyak, laki-perempuan pada melajang, masing-masing, seperti muspra bagi sesama, padahal tidak juga. Menurut pendeta Buddha yang kerap didatangi si lelaki dalam dokumenter ini, sebetulnya kita tetap saling terhubung. Nyatanya, apa-apa yang kita pakai adalah hasil jerih payah orang lain, jadi secara tidak langsung kita berguna bagi satu sama lain. Meski demikian, kerap kali kita juga tidak merasa terhubung dengan orang lain. Seakan-akan rasa keterhubungan itu harus kita hidupkan sendiri, barangkali dengan apresiasi dan imajinasi bahwa di balik setiap hal kecil yang kita pakai, ada seseorang. 

Selama menonton, saya bertanya-tanya mengenai proses pemfilmannya. Apa mereka sebetulnya aktor dengan skrip? Bagaimana si pembuat film mengetahui akhirannya akan seperti itu dan mendapatkan alurnya? Atau ia hanya mengikuti kehidupan dua orang yang punya problem sampai memperoleh suatu alur, seperti satu kiat dalam buku mengenai teknik menulis nonfiksi kreatif, You Can't Make This Up?

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain