Rabu, 01 April 2026

Tersesat di Jalan yang Benar: Seribu Hari Mengelola Leuser 2005 - 2007

Gambar dari Grobmart.
Penulis : Wiratno dan para sahabat
Penerbit : Gadjah Mada University Press
ISBN : 978-602-386-380-3
Cetakan pertama 2013 oleh UNESCO Jakarta Office 
Cetakan kedua oleh Dir. Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial
Cetakan ketiga oleh KFW
Didigitalisasi Agustus 2023

Taman Nasional Gunung Leuser (selanjutnya TNGL) termasuk kawasan konservasi yang dirambah untuk kepentingan pembangunan. Biasanya pemerintah yang disalahkan atas persoalan efektivitas pengelolaan lahan, sekalipun ada juga faktor-faktor eksternal seperti meluasnya perkebunan ilegal, kebijakan pemerintah setempat yang tidak kondusif, dan sebagainya. Maka buku ini, yang ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi Kepala Balai TNGL selama hampir 1000 hari (2 tahun 8 bulan, 2005 - 2007), merupakan upaya autokritik.

Pembaca sekaligus diingatkan bahwa ada berbagai pihak dalam dunia konservasi. Mitosnya, satu pihak mewakili satu peran saja, misal pemerintah pasti salah, LSM pasti idealis, masyarakat pasti tidak tahu apa-apa, padahal kenyataannya kompleks. Tiap pihak itu merupakan sekelompok individu yang beragam kepentingannya, tidak bisa disamaratakan dan jangan menggeneralisasikan. Pihak pemerintah yang sering menjadi kambing hitam juga terdiri dari beragam individu, memang ada yang pragmatis tapi ada juga yang sungguh mengusahakan perbaikan. Negara-negara maju pun tidak selalu terpuji, banyak media hanya mencari sensasi dan menerapkan prinsip bad news is good news. Satu cara untuk mengatasi masalah intelektual cara berpikir generik ini adalah melihat secara mendetail dan berhati-hati, menghilangkan asumsi-asumsi, tidak bersikap apriori (= berpraanggapan sebelum mengetahui, melihat, menyelidiki, dan sebagainya keadaan yang sebenarnya), dan menyerahkan kepada ahli.
Bagaimana kita harus mencari strategi untuk menyeimbangkan usaha penyelamatan lingkungan untuk kepentingan jangka panjang dan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendesak ekonomi jangka pendek? (halaman xxxviii)

Sepintas, antara membaca-menulis-merenung dan kerja konservasi seperti dua aktivitas yang bertolak belakang. Membaca-menulis-merenung cenderung merupakan aktivitas soliter dalam ruang, walaupun bisa saja dilakukan bersama-sama di luar ruangan, misalnya berupa kegiatan silent reading atau menulis bareng dan berdiskusi (urun pikiran) di tempat terbuka. Sedangkan kerja konservasi identik dengan bergerak di lapangan, bersosialisasi dengan masyarakat, meskipun bisa juga duduk diam seorang diri mengamati satwa. Jadi pekerja konservasi yang juga senang membaca-menulis-merenung seperti memiliki keseimbangan antara aktivitas fisik, sosial, dan soliter. 

Pak Wiratno adalah contoh rimbawan yang menyeimbangkan antara konservasi dan literasi. Begini siklus kerjanya: berdiskusi bersama staf - pergi bersama ke hutan - melihat perbatasan kawasan - berkunjung ke desa-desa - mendapat perspektif berbeda dan informasi berharga dari LSM - berkoordinasi dengan pemerintah setempat - kembali bekerja di kantor - mencatat dan menuliskan pengalaman lapangan - membaca literatur, jurnal-jurnal, peraturan perundangan-undangan - menganalisis pengalaman tertulis bersama staf. 

Beliau mengimbau rekan-rekannya di dunia konservasi untuk banyak menulis juga dan menghimpun tulisan mereka dalam buku-buku yang salah satunya adalah buku Tersesat di Jalan yang Benar ini, dan banyak lagi yang bisa diakses di situs web beliau: https://iw-center.com/. Menurutnya, menulis itu mengasah modal intelektual (ingatan, buku yang pernah dibaca, intuisi, kemampuan analitik) yang dimiliki. Menulis berarti menganalisis, yang adalah usaha investasi pengayaan intelektual sumber daya manusia. Salah satu cara yang paling mudah untuk menumbuhkan karakter pembelajar adalah menuliskan kembali apa yang ditemukan dalam praktik pengelolaan konservasi sehari-hari (halaman 5).

Kontributor dalam buku ini berasal dari beragam latar belakang yang masih ada hubungannya dengan pengelolaan di kawasan Leuser. Mereka bukan hanya pegawai pemerintahan, melainkan ada juga yang aktivis wisata, jurnalis, polisi, wakil LSM, dan lain-lain, sehingga ada banyak perspektif, banyak cerita mengenai permasalahan-permasalahan di seputar kawasan. Ada cerita tentang rehabilitasi orangutan semi-liar, ada sejarah pembangunan kawasan wisata Bukit Lawang, ada gambaran kehidupan warga Tangkahan yang ekonominya bergantung pada perkebunan sawit dan karet serta pariwisata, dan lain-lain. Ada yang seru, dan ada yang haru. Ragam cerita ini menunjukkan kompleksnya permasalahan di lapangan.

Sebagai warga kota, pandangan saya masih sama. Hasil dari pengusahaan hutan di antaranya untuk didistribusikan ke kota-kota dan dikonsumsi oleh kita-kita, sehingga kita-kita yang di kota-kota secara tidak langsung turut memiskinkan orang lain yang hidup di sekitar hutan sekaligus membesarkan potensi bencana alam sebagai konsekuensi dari pembabatan hutan itu. Walau tanggung jawab sebetulnya lebih berat pada pengusaha-penguasa yang memungkinkan itu terjadi, saya kira konsumen sesungguhnya juga memiliki kekuatan untuk melawan, yakni dengan mengendalikan hawa nafsu, mengonsumsi secukupnya (hidup sesederhana mungkin), serta mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif untuk mengurangi kebergantungan pada berbagai hasil dari alih guna hutan. 

Gambar dari Facebook "Rosben untuk Kesehatan Rohani".

Buku ini sempat mengungkit nasib pejuang konservasi yang "sendirian, tanpa imbalan, bertahun-tahun, letih, dan sering kali dicemooh dan diabaikan" (halaman 225). Sementara itu, generasi baru yang militan, idealis, dan bersedia bekerja di bidang konservasi makin langka, kualitas staf yang ada pun lemah dan banyak yang enggan ke lapangan. Berbarengan dengan selesainya saya membaca buku ini, Mongabay mengeluarkan artikel tentang kesehatan mental pekerja konservasi, "Pekerja Konservasi: Profesi yang Dibangun di Atas Harapan, Tertekan oleh Kehilangan". Mereka tak ubahnya pekerja lain di mana pun dengan beban kerja yang melampaui kemampuan, bayaran tak seberapa, tak sempat merawat diri, sembari tak berdaya menyaksikan alam yang mereka perjuangkan malah bertambah rusak. Eco-grief is real. Tapi, sekalipun besok jadwalnya kiamat, kita tetap harus menanam. 

Rabu, 04 Maret 2026

Sepintas tentang Beberapa Cerita Samsoedi

Saya pertama kali mengenal Samsoedi karena bukunya akan dibahas di klub yang saya ikuti, dan tersedia di iPusnas. Buku Samsoedi pertama yang saya baca itu adalah Kisah Si Emed, terjemahan Ajip Rosidi. Aslinya dalam bahasa Sunda, buku ini berjudul Babalik Pikir. Samsoedi (1899-1987) adalah pengarang Sunda yang mengkhususkan pada cerita anak.

Ada minat untuk lanjut belajar bahasa Sunda. Saya kira cara yang paling mudah adalah dengan menyimak. Kalau sering mendengarkan kata-kata tertentu, mungkin lama-lama kita dapat memahami artinya dari konteks, atau untuk lebih memastikan, bertanya ke orang yang paham atau googling atau mencari di kamus. Apalagi sekarang sudah ada SundaDigi, kamus online bahasa Sunda yang bisa dibilang lumayan lengkap. Sebenarnya ada kata-kata Sunda yang saya belum temukan artinya di SundaDigi, tapi secara umum, kamus ini sangat bisa diandalkan daripada buku-buku fisik kamus bahasa Sunda yang tersedia di rumah saya, hehe.

Setelah mencoba berbagai konten bahasa Sunda di YouTube, akhirnya saya menemukan kanal Mang Cecep Gorbachev. Saya merasa cocok dengan kanal ini karena isinya membacakan buku-buku karya sastra Sunda. Memang ada maksud untuk belajar bahasa Sunda dengan menerjemahkan buku-buku ceritanya, apalagi di iPusnas ternyata koleksi bacaan Sundanya banyak, termasuk yang dibacakan dalam kanal Mang Cecep Gorbachev itu. Tapi, selain iPusnas kerap bermasalah, cara membaca-sekalian-menerjemahkan ini teramat sangat lambat. Lebih praktis menyimak yang sudah dibacakan saja, bisa disambi mengerjakan yang lain-lain.

Dua buku Samsoedi, Surat Wasiat dan Budak Minggat, termasuk cerita yang paling awal dibacakan di kanal Mang Cecep Gorbachev. Bagi yang pemahaman bahasa Sundanya ala kadarnya seperti saya, kedua cerita ini relatif mudah dimengerti. Mungkin karena keduanya termasuk bacaan anak, maka bahasanya relatif sederhana meskipun ditulis pada zaman Belanda sehingga ada sejumlah konteks dan istilah yang khas.


Setelah menyimak kedua cerita ini sampai tamat, ternyata ada kemiripan dengan buku Samsoedi yang pertama-tama saya baca, yaitu Kisah Si Emed. Kemiripan yang utama adalah tokoh utamanya remaja laki-laki belasan tahun yang karena berbagai sebab terpaksa meninggalkan rumah. Dalam Kisah Si Emed, tokoh utama diusir ibunya karena selalu menyusahkan sampai terdampar di penjara anak-anak di Semarang. Dalam Surat Wasiat, tokoh utama dikelabui oleh saudara ayah angkatnya hingga merantau ke Yogyakarta. Dalam Budak Minggat, tokoh utama disuruh mencari uang milik ayah tirinya dan malah terjebak menjadi kuli di Deli.

Selama kepergiannya dari rumah itu, tokoh utama menghadapi berbagai kesulitan. Ia harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, bertemu dengan orang-orang jahat, dan tentunya ada pula orang-orang baik yang membantu si tokoh mengangkat dirinya. Orang-orang yang dikenalnya sepanjang perjalanan itu pun memiliki ceritanya sendiri-sendiri, yang mengajarkan sebab-akibat dari berbagai perbuatan. 

Bisa dibilang, plot dalam cerita-cerita Samsoedi ini bertipe coming of age, cerita pendewasaan berisi serangkaian pengalaman dan petualangan jauh dari rumah, yang idealnya dialami seorang remaja laki-laki untuk mematangkan pribadinya, agar mengenal kerasnya dunia, sanggup menjalani kesukaran, sekaligus belajar menjadi orang baik yang dapat mengambil tanggung jawab untuk mengurus orang lain. 

Kiranya perlu ada cara khusus dalam mendidik anak laki-laki. Dalam Kisah Si Emed, tersirat bahwa ibu sebaiknya tidak memanjakan. Ketiga cerita Samsoedi menunjukkan bahwa mesti ada sesuatu yang memaksa remaja laki-laki untuk keluar dari rumah dan mencari sendiri jalannya, kalau bukan karena situasi hidup, atau tradisi (sebagaimana di Sumatra Barat, konon remaja laki-laki tidak lagi tidur di rumah tapi di surau, dan setelah lebih besar lagi, merantau), ya atas inisiatif orang tuanya sendiri seperti yang dilakukan Pak Jaya Setiabudi. Beliau sengaja menitipkan anak lelakinya di pondok-pondok pesantren dan meminta orang lain yang menggembleng.


Melihat di iPusnas, masih ada banyak karya lainnya dari Samsoedi. Entah apakah ceritanya masih semacam ketiga cerita ini. Untuk sementara, dari ketiga cerita ini, yang paling rame menurut saya adalah Budak Minggat, karena latarnya sampai ke luar Pulau Jawa, yaitu beberapa tempat di Sumatra, bahkan cerita mengenai tokoh lain sempat menjangkau sampai ke luar negeri. Penokohannya tidak hanya melibatkan sesama orang Sunda dan sesekali orang Belanda, tetapi ada juga ras Cina, bahkan bangsa hewan pun mendapat peran. Jadi cerita ini lebih panjang, lebih berlika-liku, dan lebih kosmopolitan daripada yang lain-lain. Bukunya pun tidak hanya terdapat di iPusnas (yang pada waktu saya membuat catatan ini masih belum dapat diakses), tetapi ada juga di iJogja.

Minggu, 04 Januari 2026

Tempo Nomor 27/XXXI/2-8 September 2002

ISSN : 0126-4273
Rp 14.700

Biasanya saya gagal paham bila membaca rubrik "Ekonomi & Bisnis". Tapi di Tempo edisi ini ada dua cerita menarik terkait bisnis narkoba dan pertanian. 

Cerita pertama bait-nya terpampang di kover depan: "Tommy Winata di Belakang Bandar Ekstasi Tangerang?" Sebetulnya cerita ini masuk rubrik "KRIMINALITAS". Ada dua judul artikel yang terkait: "Tommy Winata: 'Saya Tak Bersekutu dengan Pembuat Narkoba'" (menampilkan foto yang bersangkutan sedang berkacak pinggang dengan ekspresi menantang) dan "Yang Dikejar Bukti Anyar". Artikel yang pertama itu berisi wawancara dengan Tommy Winata, pengusaha yang dituduh terlibat dalam bisnis ilegal, di antaranya narkoba. Di sini jelas ia menyangkal tuduhan itu serta menyatakan dukungannya dalam mengatasi masalah narkoba. Baru-baru ini saja saya ada ketertarikan pada pelaku bisnis ilegal di Indonesia, sejak menemukan video tentang Freddy Budiman di YouTube (dan katanya ada Freddy lainnya yang belum tertangkap?). Freddy Budiman sudah terlibat dalam bisnis narkoba sejak SMA, kemudian menjadi pengusaha skala internasional, hingga akhirnya dihukum mati, tapi masih sempat bertobat. Omong-omong soal Freddy, The Panas Dalam punya lagu judulnya "Freddy Preman Karbitan". 


Cerita kedua mengenai kasus investasi agrobisnis PT QSAR yang berujung tekor sehingga dirutnya ditahan. Kasus ini sebetulnya sudah diangkat sedari Tempo edisi sebelumnya. Dalam artikel-artikel ini terdapat edukasi mengenai investasi. Saya merasa investasi itu seperti berjudi: mengeluarkan uang untuk mendapatkan lebih banyak uang. Hanya saja: 1) uang yang dikeluarkan itu untuk membiayai usaha orang lain, 2) yang diharapkan hanya keuntungan sedangkan risiko kerugian kurang diperhitungkan, padahal usaha bisa mengalami naik turun. Barangkali dalam Islam, investasi semestinya diniatkan lebih untuk membantu sesama ketimbang untuk meraih keuntungan pribadi (paling-paling, pahala dari Allah); kalaupun mendapatkan keuntungan dari bagi hasil usaha, itu bonus. 

Untuk mendapatkan kepercayaan calon investor, PT QSAR punya trik menggaet pejabat (halaman 105). Sekarang istilahnya endorsement kali ya, yaitu menggaet tokoh/pesohor/orang ternama supaya orang lainnya yang bukan siapa-siapa tertarik untuk melirik produk yang ditawarkan. Khususnya dengan pejabat, keuntungan yang diperoleh pengusaha, selain untuk mendongkrak popularitas yang notabene jalan pintas meyakinkan calon investor, adalah mencari "pengamanan".

Sebenarnya PT QSAR bukan perusahaan bodong. Usahanya riil, dan masih ada orang-orang yang memandangnya secara positif, layak diteruskan. Permasalahannya adalah: dirutnya suka mengibul, dana disalahgunakan untuk investasi lain, dan investor tidak siap menanggung kerugian.

Layanan Rumah Sakit Sint Carolus (halaman 8)

Ini surat dari pembaca yang memuji pelayanan RS St. Carolus. Kiranya sedari dahulu pelayanan rumah sakit ini sudah memberikan kesan positif, simak saja lagu lawas yang judulnya "Berpisah di St. Carolus".


Menurut hasil googling, RS St. Carolus didirikan awal abad 20 oleh biarawati-biarawati Katolik Kongregasi St. Carolus Borromeus. Borromeus itu nama rumah sakit Katolik di Bandung. Ada teman yang juga pernah memuji pelayanan rumah sakit tersebut ketika ayahnya sedang dalam momen kritis. Padahal ayahnya tidak mau meninggal di rumah sakit nonmuslim, tapi setelah mendatangi beberapa rumah sakit, mau tidak mau, di sanalah beliau mengembuskan napas terakhir dikelilingi anak-anaknya yang membimbing untuk mengucapkan syahadat. 

St. Carolus punya cabang juga di Yogyakarta yang kemudian bernama Panti Rapih.

Tentang Seorang (Anak) Lelaki (halaman 125)

Ini ulasan film About A Boy oleh Leila S. Chudori. Film ini berdasarkan novel karya Nick Hornby, dibintangi oleh Hugh Grant, Rachel Weisz, Nicholas Hoult, dan Toni Collette. Lagu soundtrack-nya, "Silent Sigh" oleh Badly Drawn Boy, dulu sering tayang di MTV. Lagu-lagu lainnya dari Badly Drawn Boy enak juga loh.


Beberapa artikel menyangkut sejarah (klik judul untuk membaca salinan artikel): 

"Wangsit", kolom Onghokham mengomentari peristiwa pembongkaran batu tulis oleh Menag.

"Kanguru dalam Permesta", resensi buku Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/Permesta.


Rabu, 24 Desember 2025

Menerjemahkan Affirmations for the Inner Child (Rokelle Lerner, Health Communications, Inc.: 1990)

Gambar dari Amazon.
Baru pada buku ini saya menemukan bahwa ada jenis buku yang isinya kumpulan entri sejumlah hari dalam setahun. Sejak buku ini, saya pun penasaran mencari lebih banyak buku sejenis untuk dibaca satu entri per hari. Malah timbul ide untuk menerjemahkan buku ini satu entri per hari--jadi latihan terjemah harian. Seperti yang sudah diuraikan pada catatan pembacaan buku ini (20 November 2019), sebagian isinya ada yang relatable buat saya. Ada kalimat-kalimat yang bagus dan mengena. Maka posting terjemahan buku ini pun dijadwalkan untuk mengisi sepanjang 2022. 

Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai menerjemahkan buku ini, bisa saja tidak lama setelah tamat membacanya, awal 2020 barangkali, setiap hari satu entri mulai 1 Januari 2020. Atau 2021? 2022? 

Pendeknya, penerjemahan buku ini terputus-putus, berlarut-larut, sampai baru pada akhir 2025 ini akhirnya selesai juga .... Bertahun-tahun saya bertahan dengan buku ini (dan masih ada beberapa "proyek" lain yang juga sudah mengiringi saya bertahun-tahun lamanya entah kapan selesainya wkwkwk).

Total entri dalam buku ini mestinya ada 365 (tidak mencakup 29 Februari), tapi total yang sudah saya terjemahkan ternyata hanya sampai 358, yang berarti ada 7 entri yang saya lewatkan. Memang itu disengaja karena saya merasa tidak sreg dengan isi entri tersebut, terutama bila menyinggung seksualitas dan keyakinan. 

Betapapun bagusnya kalimat-kalimat afirmasi, ternyata tidak sebaiknya kita mempraktikkan itu mentah-mentah. Khususnya bila kita mengaku sebagai orang yang beriman kepada Tuhan. Penguatan-penguatan itu tidak cukup hanya mengandalkan diri sendiri, tapi mesti melibatkan Tuhan sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Buku ini pun kadang-kadang menyertakan "The Higher Power", seakan-akan insaf bahwa kekuatan diri sendiri saja tidak cukup. 

Jumat, 19 Desember 2025

Politik Ekologi: Pengelolaan Taman Nasional Era Otda

Gambar dari
Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Penulis : Herman Hidayat, John Haba, Robert Siburian
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan LIPI Press, 2011
ISBN : 978-979-461-792-2

Buku ini kumpulan hasil penelitian lapangan tentang dinamika beberapa Taman Nasional di Indonesia oleh tim LIPI selama 2005-2009. Fokusnya menganalisis kebijakan pemerintah, serta persepsi pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan) dan daerah (Provinsi dan Kabupaten) atas Taman Nasional, juga program kemitraan antara berbagai stakeholders.

"Bab I. Politik Ekologi: Taman Nasional dalam Era Otda" menyampaikan gambaran yang tampaknya umum terjadi di Taman-taman Nasional di Indonesia sejak era Otonomi Daerah. Selama Orde Baru, Pemerintah Pusat mengatur secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat setempat. Akibatnya, setelah Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah mengalami kendala untuk membangun daerahnya sendiri-sendiri, sebab ada daerah-daerah yang lahannya banyak diduduki oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kehutanan, dengan menetapkannya sebagai Taman Nasional. Dengan potensi kawasan pelestarian alamnya itu, Indonesia mempunyai peran penting di dunia internasional untuk mengatasi masalah pemanasan global. Konflik ini tidak hanya antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tetapi juga melibatkan pengusaha, masyarakat adat yang sudah turun-temurun menghuni kawasan, masyarakat pendatang, sampai LSM domestik dan internasional. 

Yang paling memprihatinkan bagi saya adalah masyarakat asli, yang dirampas haknya sekalipun hanya untuk hidup subsistence (sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari). Saya membayangkannya bagaimana jika kita sekeluarga sudah turun-temurun hidup di suatu tempat, mencari makan, membangun rumah, dan sebagainya, dengan mengambil dari hutan dan sekitarnya secara cuma-cuma, lalu datang sekelompok orang yang menyuruh pergi, membatasi akses ke hutan, yang kemudian dikuasai oleh pendatang, diporak-porandakan untuk jadi perkebunan, pertambangan, dan sebagainya, sementara kita jadi harus melakukan berbagai usaha lain untuk mendapatkan uang untuk menebus kebutuhan sehari-hari yang semula dapat diambil secara cuma-cuma secukupnya itu. Bahkan kita tidak lagi memiliki rasa cukup; kebutuhan yang semula sekadar untuk makan-minum, menutup aurat, memiliki naungan, dan selebihnya bersosialisasi serta menyembah entitas gaib Penguasa Alam Semesta, kini bertambah-tambah jadi harus mengirimkan anak ke sekolah dengan membayar segala kelengkapannya, memiliki rumah bata dan kendaraan bermotor, memasang listrik, mengantongi handphone, ... mengejar standar hidup ala masyarakat nun jauh di sana. Perubahan ini mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat asli, akibat dari melihat pendatang mengeksploitasi alam seluas-luasnya, mereka jadi ikut-ikutan. Mau bagaimana lagi, kalau tidak begitu, rugi dong! Mereka pun tidak lagi ramah, murah hati, menghormati alam sedemikian sehingga untuk menebang satu pohon saja harus mengadakan upacara, sebagai gantinya tumbuh jiwa komersial yang melihat pohon hanya sebagai sumber uang. Pepatah luar mengatakan bahwa uang tidak tumbuh dari pohon, tapi di negeri kita, nyatanya uang mengalir ke kantong-kantong dengan menebangi pohon-pohon.


Masyarakat asli tidak lagi boleh memanfaatkan tempat tinggal mereka turun-temurun sekadar untuk kebutuhan sederhana, sebab kawasan hanya boleh dikuasai oleh pihak-pihak bermodal, untuk memproduksi barang-barang untuk dijual, yang keuntungannya lebih banyak kembali kepada pihak-pihak bermodal itu. Kita-kita juga yang membantu memodali pihak-pihak tersebut dengan menaruh uang kita di bank. Kita-kita juga yang turut mengonsumsi produk dari mengubrak-abrik alam itu, menikmati hasil dari menghilangkan penghidupan masyarakat lain.

Misi konservasi tidak murni untuk mengonservasi, tetapi disisipi kepentingan pihak yang hendak menguasai kawasan, dengan menyisakan sebagiannya untuk diproteksi dengan menyingkirkan masyarakat yang semula hidup subsistence di dalamnya, mem-"beradab"-kan mereka agar turut menjadi konsumen dari produk-produk hasil eksploitasi itu. Ekowisata jadi satu kompensasi yang ditawarkan, tetapi yang dapat menikmatinya pun hanya sekalangan orang beruang yang mampu membayarnya, dan penduduk setempat mesti jadi pelayan bagi mereka.


Atau, barangkali ini hanya ide liar belaka untuk karangan fiksi spekulatif 🙃

Bab 2 sampai Bab 9 melaporkan keadaan di sejumlah Taman Nasional di Indonesia yaitu: Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Baluran, Bali Barat, Tanjung Puting, Kutai, Rawa Aopa Watumohai, Bogani Nani Wartabone; ada yang di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi--cukup mewakili nusantara dari sebelah barat, tengah, sampai wilayah timur. Satu bab menyoroti satu Taman Nasional. 

Selain permasalahan yang tampak umum terjadi di setiap Taman Nasional era Otda itu, di buku ini akan kita temukan pula praktik adat yang khas di kawasan-kawasan tertentu di Indonesia dalam berinteraksi dengan alam. Sebagai contoh, di Bali, sebenarnya adat agama Hindu di sana mengatur tata lingkungan. Terdapat Kawasan Radius Kesucian Pura (KRKP), artinya alam di sekitar pura merupakan kawasan yang mesti dilindungi untuk mendukung kesucian tempat ibadah. Akan tetapi, agaknya aturan itu tidak ditaati sepenuhnya, termasuk yang berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (halaman 132).

Minggu, 14 Desember 2025

Menulis Secara Populer

Penulis : Ismail Marahimin
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Edisi Revisi, Cetakan ketiga, 2001
ISBN : 979-419-126-4
"... orang yang belajar menulis itu memang harus rela dipermalukan. Tidak ada jalan lain." (halaman 6)
Dipermalukan, atau mempermalukan diri dengan membiarkan dibaca orang.

Katanya, dalam menuntut ilmu, yang mula-mula harus dipelajari adalah adab. Demikian halnya dengan menulis. Buku panduan menulis ini diawali dengan semacam "pelajaran adab sebagai penulis", antara lain harus rela dipermalukan, sabar, rendah hati, dan rajin berlatih.

Ini asumsi pribadi saja yang mungkin berubah: tampaknya tradisi/tren/seni tulis-menulis itu mencapai puncaknya pada era blog. Setelah itu, sejak internet makin mudah diakses dan bermunculan platform-platform audio-visual seperti Instagram, YouTube dan lain-lain, banyak yang beralih media. Konten atau vlog di IG/YT yang berwarna-warni, bergerak cepat, diiringi musik yang asyik, lebih memanjakan indra daripada dinding-teks. Tentu masih ada saja yang suka menulis dan suka membaca. Masih banyak media yang mempublikasikan tulisan. Saya pun masih berusaha untuk mempertahankan kegiatan ini, walau lebih untuk pribadi, dan sudah tidak mengikuti perkembangan dunia tersebut.

Karena itu, buku ini saya pandang lebih sebagai bunga rampai ragam bentuk tulisan yang dilengkapi dengan penjelasan. Bentuk-bentuk tulisan yang disertakan dalam buku ini adalah: deskripsi, narasi, eksposisi, dan artikel. Tiap-tiap bentuk itu ada lagi jenis-jenisnya. Deskripsi bisa dikembangkan menurut tempat, waktu, dan kesan. Narasi bisa berupa dongeng, cerpen, dan novel. Eksposisi bisa menjadi dasar untuk menulis pidato dan karya ilmiah, atau sekadar latihan berpikir logis dan sistematis. Artikel ada banyak lagi ragamnya. Kendati ada nama untuk berbagai bentuk tulisan, dalam penerapannya tidak mesti baku. Contohnya, narasi tidak hanya berupa karya fiksi, tetapi dapat ditemukan juga dalam artikel nonfiksi. 

Beberapa tulisan mengandung ide yang sama, tapi dikembangkan secara berbeda-beda oleh tiap-tiap penulis. Sebagian penulis adalah peserta mata kuliah Penulisan Populer yang diampu oleh penulis buku ini (Ismail Marahimin). Ada pula karya yang sudah diterbitkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Anak Kuliah (Gramedia, 1989). Itu mengingatkan pada masa kuliah saya sendiri, ketika lagi ranjing-ranjingnya menulis, dan saya bersyukur telah mempergunakan masa itu untuk berkreasi, ketika baik otak maupun fisik masih lincah dan banyak energi. Seandainya saya membaca buku ini semasa kuliah, sepertinya semangat saya akan bertambah-tambah lagi. Buku ini mengingatkan saya bahwa menulis pernah begitu mengasyikkan, terutama dalam bentuk cerpen dan satire.

Ada beberapa model tulisan dalam buku ini yang memancing komentar agak panjang. (Memang jauh lebih gampang sekadar mengomentari tulisan daripada mengerjakan latihan-latihan menulis itu sendiri heuheuheu.)

MODEL 6: DESKRIPSI BANYAK PERISTIWA DALAM WAKTU YANG LAMA (I) "GEMPA BUMI" (Jack London)

Deskripsi ini mengenai gempa dan kebakaran yang melanda San Fransisco, 18-20 April 1906. Pada waktu saya membaca tulisan ini, sedang ramai berita kebakaran di perumahan selebritas Hollywood. Banyak yang menganggap itu sebagai azab atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Terlepas dari soal azab yang sejatinya sekehendak Tuhan mau menimpakannya ke manusia mana, kapan dan di mana, rupanya kawasan barat Amerika Serikat situ memang rawan bencana dari masa ke masa. Pada saat terjadinya bencana di San Fransisco, 1906 ini, perumahan orang kaya juga terkena, meskipun ada juga yang buruh.

MODEL 15: DIA TERAMAT MALANG II "IBU" (Tina Savitri)

Mengenai tulisan ini, Pak IM mengkritisi adanya kejanggalan dalam usia para tokoh yang berkaitan dengan latar masa pendudukan Belanda persis sebelum Jepang masuk (halaman 151). Menurut saya, tidak ada yang salah. Selisih usia antara kakak dan adik bisa sampai hampir 20 tahun (contohnya antara bapak saya dan kakak pertamanya), dan perempuan masih bisa melahirkan pada usia 40-an tahun. Jadi seandainya tokoh utama berusia 20-an tahun pada 1980-an, maka dia lahir pada 1960-an, sehingga ibunya mungkin lahir pada 1920-an, sedangkan Jepang masuk pada 1940-an. Jadi mungkin saja ibunya masih sempat bersekolah di MULO persis sebelum Jepang masuk.

MODEL 26: EKSPOSISI IV "ADOPSI ANAK INDONESIA OLEH ORANG ASING, MENGAPA TIDAK?" (Suryanti Winata)

Sepertinya gara-gara model ini saya akhirnya terpantik untuk mengeklik satu dokumenter Al-Jazeera English yang terkait (sudah beberapa lama muncul terus thumbnail-nya di beranda), ”Adopted from Indonesia to the Netherlands: A Dutch family's reckoning”, tentang satu anak Jawa yang diadopsi orang tua Belanda tapi malah problematik. Sebagai model eksposisi, tulisan ini berargumen membela praktik adopsi, membuat saya berpikir, benar juga, itu mengurangi beban negara mengurus rakyat yang sudah terlalu banyak. Namun dokumenter Al-Jazeera tersebut justru membukakan mata bahwa anak adopsi yang dibesarkan di negara yang tampak lebih sejahtera itu ternyata belum tentu bahagia, malah menyimpan luka mendalam. 

Ada hal-hal yang kalau dipikir secara rasional saja, kenapa tidak? Satu contoh lain adalah soal poligami. Kenapa itu tidak dilihat sebagai keuntungan bagi perempuan? Berkurang beban kewajiban terhadap suami; kalau lagi malas melayani, suruh saja dia pergi ke istri lainnya. Lebih banyak me-time. Beban pertanggungjawaban suami justru makin banyak, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau dipikir secara rasional, poligami justru meringankan perempuan dan memberatkan laki-laki dong. Tapi, kenyataannya, kalau dilihat dari kacamata syahwat, poligami itu malah pencapaian bagi laki-laki. Kalau pakai perasaan, ikut perih dan sesak  mendengar suara hati istri-istri yang suaminya berpaling ke pelukan wanita lain, risih juga bila ustad-ustad menjadikan poligami sebagai bahan candaan di majelis pengajian.

Maka soal adopsi juga, bila dipikir saja, tanpa dirasakan sendiri, sekilas tampak sebagai solusi bagi masalah demografi. Padahal dari sudut pandang anak adopsi sendiri, alih-alih senang dengan segala fasilitas negara "maju", malah terus bergulat dengan kebingungan, keterasingan, yang tidak enak juga. Pada waktu membaca/menonton soal adopsi internasional ini, saya juga lagi membaca novel Robert Anak Surapati, tentang keturunan pribumi nusantara yang diadopsi pasangan Belanda. Walau orang tua Belanda itu amat memanjakannya, pada akhirnya, Robert tak terhindarkan juga dari masalah kebingungan/keterasingan antara beralih ke pihak ayahnya yang pribumi atau tetap bersama Belanda sekalipun sudah jahat kepadanya.

Ibarat kata, pikiran bilang kenapa tidak, sedangkan perasaan lain lagi. Perasaan tidak suka/tidak enak itu pun dapat bertumpuk-tumpuk hingga lama-kelamaan tak terbendung lagi, menggelapkan pikiran dan mendorong pada perbuatan reaktif, atau menjadi penyakit.

Begitulah hidup. Orang bisa saja dibesarkan orang tua kandung di negeri sendiri, tidak pula dipoligami, dan tetap tertimpa oleh berbagai masalah jenis lainnya :v

MODEL 27: EKSPOSISI V "TINJU PROFESIONAL: PERWUJUDAN NALURI PRIMORDIAL MANUSIA" (Tina Savitri)

Sebagaimana disinggung dalam paragraf pembuka analisis mengenai tulisan ini, dari waktu ke waktu, ada saja yang anti pertandingan tinju dan menyampaikannya lewat tulisan, baik itu surat pembaca, artikel, maupun puisi seperti yang pernah dibuat oleh Taufiq Ismail dan terdapat dalam bukunya Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Yang anti-tinju memandang pertandingan itu tidak ubahnya menyabung ayam, seperti gladiator versi modern, di mana orang senang melihat orang lain menyakiti sesamanya. 

MODEL 30: ARTIKEL III "PERAN GANDA ATAU BEBAN GANDA?" (Avianti) & MODEL 31: ARTIKEL IV "INI CITA-CITA KARTINI?" (Najah Farhati)

Keduanya sama-sama ditulis oleh pengikut mata kuliah Penulisan Populer, 1989/90, menunjukkan bahwa masalah wanita karier yang tetap harus menjalani peran ibu rumah tangga sepenuhnya, suami yang tidak mau membantu, perempuan yang enggan menikah karena tahu betapa beratnya beban ganda itu dan lebih penting mencari uang untuk diri sendiri, laki-laki yang ingin agar perempuan dapat mengerjakan segala-gala tapi tetap tunduk kepadanya, sudah dipersoalkan sejak era generasi milenial baru lahir. Tentunya perlu diingat bahwa bukan berarti sama sekali tidak ada laki-laki yang mengerjakan segala-gala dan lebih banyak berkorban daripada istrinya, ataupun pasangan-pasangan yang mampu saling pengertian. 

MODEL 46: FEATURE/FICER II "DUNIA DALAM TAHUN 1986" (Aldous Huxley)

Ramalan Huxley dari tahun 1961 yang memproyeksikan tahun 1986 ini kalau menurut Pak IM banyak yang tidak menjadi kenyataan. Saya yang membacanya pada 2025 justru merasa relevan. Barangkali ramalan itu belum relevan 25 tahun setelah ditulis, tapi baru pada 60-an tahun kemudian, persisnya mengenai pengembangan obat-obat kejiwaan, banyaknya waktu luang, gerakan DIY, dan automasi. 

Pengembangan obat kejiwaan telah mewujud dengan membesarnya industri kesehatan mental, barangkali perlu ditunjang oleh industri media sosial/digital yang pada 1986 belum sampai pada taraf sedemikian rupa. Orang-orang perlu terlebih dahulu dibuat kacau kejiwaannya dengan media sosial/digital, agar membutuhkan produk dan jasa yang disediakan industri kesehatan mental. 

Memang ada sejumlah pekerjaan yang tidak dapat digantikan oleh robot, tapi sebagian lagi sudah dengan banyaknya PHK di mana-mana. Akibatnya banyak orang memiliki banyak waktu luang, sehingga pelariannya entahkah ke obat kejiwaan/industri kesehatan mental (karena stres menganggur), atau ke candu digital (scrolling media sosial untuk melupakan beban), atau ke kegiatan produktif (DIY, mendayagunakan apa pun yang tersedia di sekitar).

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain