Tampilkan postingan dengan label bahasa rupa-rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa rupa-rupa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2026

Randa Bengsrat (spoiler Roman Sunda)

Randa Bengsrat, menurut kamus SundaDigi, artinya janda perawan. Janda kok perawan? Rupanya, setelah dinikahkan dengan Udi, Esih tidak mau bercampur, karena terganjal oleh pemikiran bahwa pernikahan hanya sebentuk penindasan kepada perempuan. Ia tidak mau terkungkung di rumah dan diperintah laki-laki. 

Udi yang padahal pria baik-baik dan berpunya itu tidak bisa memaksakan. Ia pulang ke rumah orang tuanya, sementara Esih merantau ke ibukota, pengin jadi career woman. Esih menumpang di rumah sepupunya, seorang single mother yang telah berperan dalam menjejali kepala Esih dengan ide-ide kesetaraan gender dan women empowerment

Esih pun bekerja untuk bos chindo. Tapi di tempat kerjanya itu ada om gadun yang menginginkan dia jadi ani-ani. Esih pun resign. Mau cari kerja lagi, tidak dapat-dapat. Esih malah berkenalan dengan seorang pria Manado yang sudah mah ganteng, old money pewaris perusahaan pula. Esih merasa klik dengan pria tersebut. Lagi jobless, ada yang mengajak pelesir ke sana kemari, membayari ini itu. Enak juga ya ternyata kalau ada yang mengasihi, tidak mesti punya uang sendiri.

Menikah tidak mau, seks bebas hayuk. Esih hamidun, lantas menuntut pertanggungjawaban Kohar, kekasihnya itu. Namun Kohar tidak mau buru-buru menikah. Sebabnya, dia ternyata nonis dan tidak hendak menikah pakai hukum Islam mengikuti kepercayaan Esih. Karena Esih malu terus menumpang hidup sama saudaranya--sudah mah tidak berkontribusi secara finansial, lama-lama bakal melendung pula--setidaknya Kohar mau menyediakan tempat tinggal. Mereka pun living together sementara Esih yang telah menyadari dosa-dosanya seketika menjadi "ustazah" yang mendakwahkan ajaran Islam kepada Kohar. 

Esih pulang kampung sendirian, kepayahan menanggung akibat dari polah tingkahnya sendiri. Syukurlah pada akhirnya Kohar mendapatkan hidayah, log in, dan mau menikahi Esih. Happy ending.

Roman Sunda karangan Yus Rusamsi ini mula-mula diterbitkan dalam Mingguan Sunda pada 1965. 

Seru, karena pemikiran-pemikiran Esih yang feminis abis itu masih marak di media sosial kiwari. Malah tampaknya makin banyak Esih-Esih baru bermunculan, yakni wanita-wanita muda yang lebih mementingkan jadi independen daripada menikah. Sepertinya karena perkembangan zaman juga yang sudah lain daripada 60 tahun lalu (zamannya Esih). Sekarang lapangan pekerjaan bagi perempuan sudah makin terbuka lebar. Malah katanya perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada laki-laki. Dan, bagi banyak perempuan, bekerja mencari uang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan, keterpaksaan, karena tidak bisa semata-mata mengandalkan laki-laki di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lagian, Esih, sama saja, mau jadi karyawan bakal diperintah atasan, mau jadi pengusaha harus menyesuaikan dengan keinginan pelanggan, mau hidup semaunya saja pun ternyata lagi diperbudak hawa nafsu. Kemerdekaan apa yang kau cari, Esih??? Bukankah kita semua hanya terombang-ambing dalam permainan tipu daya dunia?!??!

Lucu, karena gagasan-gagasan feminisme yang semula menggebu-gebu melalui sudut pandang Esih ditutup oleh pernyataan yang mengukuhkan patriarki, diucapkan oleh tokoh yang sama-sama perempuan tapi usianya jauh lebih tua, "... dawuhan Pangeran oge awewe mah kudu dipingpin ku lalaki." Sebelum itu pun, malah sedari awal cerita, tokoh-tokoh yang mengonfrontasi pandangan Esih adalah sesama perempuan tapi lebih tua, seakan-akan, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kebijaksanaan perempuan ditandai dengan penyerahan diri kepada laki-laki.

Sekiranya tokoh utama adalah perempuan yang seumur hidupnya benar-benar menderita karena patriarki dan sampai akhir cerita teguh menjaga kesucian di hadapan laki-laki mau seganteng-sekaya-sepemurah apa pun, gagasan-gagasan feminisme itu akan lebih beralasan--pembaca mungkin masih lebih memberikan respek kepada tokoh utama sekalian dengan pandangan feminisnya itu. 

Tapi ternyata karakter Esih tidak sekuat itu. Ia wanita yang masih belia, betul-betul cantik, dan latar keluarganya berkecukupan, sehingga masih ada keleluasaan bagi dia untuk mengeksplorasi paham-paham dan pilah-pilih laki-laki. 

Memang gagasan-gagasan feminisme itu dikuatkan oleh kenyataan yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Tapi, dengan posisinya yang lain daripada perempuan-perempuan itu, bisa jadi Esih mendapatkan pengalaman yang beruntung bahkan memanfaatkan privilesenya untuk membantu mengangkat derajat rekan-rekannya sesama perempuan, alih-alih mengorbankan kesempatannya sendiri hingga terjerembap jadi sama-sama serbasusah. 

Sungguh Esih banyak terpengaruh oleh prasangkanya tapi tak kuasa mengingkari fitrah untuk menjadi penerima nafkah. Di awal saja garang, ujungnya luluh juga sama pria pujaan. Pengarang seakan-akan memahami benar gejolak jiwa perempuan muda semacam Esih, sebelum kemudian meledeknya. 

Barangkali yang namanya anak muda memang mesti merasai langsung salah mengambil jalan akibat dikuasai gejolak-gejolak nafsunya dan pengaruh-pengaruh dari luar, lebih suka mengikuti kata hatinya sendiri daripada mengikuti nasihat orang-orang tua yang belum tentu benar juga sih.

Selain itu, love interest Esih adalah pria tampan serbaada yang pengasih lagi penyayang dan mau jadi muslim taat, perempuan mana yang tidak memasrahkan diri sama pria begitu! Coba lelakinya yang tipe Karnadi di Rasiah Goreng Patut, wajarlah kalau Esih pilih jadi independent woman. Malah istri Karnadi saja masih bela-belain jual ayam ke tetangga supaya bisa kasih uang ke suami yang padahal lagi menipunya.

Randa Bengsrat dapat diakses di iPusnas (versi Balai Pustaka yang dilengkapi dengan ringkasan cerita dalam bahasa Indonesia) juga disimak di kanal YouTube Mang Cecep Gorbachev (dibacakan dari terbitan Kiblat). Karangan ini saya rasa layak untuk diangkat, selain karena isunya senantiasa relevan, ada unsur wishful thinking-nya pula. Memancing pemikiran sekaligus menghibur.

Rabu, 04 Maret 2026

Sepintas tentang Beberapa Cerita Samsoedi

Saya pertama kali mengenal Samsoedi karena bukunya akan dibahas di klub yang saya ikuti, dan tersedia di iPusnas. Buku Samsoedi pertama yang saya baca itu adalah Kisah Si Emed, terjemahan Ajip Rosidi. Aslinya dalam bahasa Sunda, buku ini berjudul Babalik Pikir. Samsoedi (1899-1987) adalah pengarang Sunda yang mengkhususkan pada cerita anak.

Ada minat untuk lanjut belajar bahasa Sunda. Saya kira cara yang paling mudah adalah dengan menyimak. Kalau sering mendengarkan kata-kata tertentu, mungkin lama-lama kita dapat memahami artinya dari konteks, atau untuk lebih memastikan, bertanya ke orang yang paham atau googling atau mencari di kamus. Apalagi sekarang sudah ada SundaDigi, kamus online bahasa Sunda yang bisa dibilang lumayan lengkap. Sebenarnya ada kata-kata Sunda yang saya belum temukan artinya di SundaDigi, tapi secara umum, kamus ini sangat bisa diandalkan daripada buku-buku fisik kamus bahasa Sunda yang tersedia di rumah saya, hehe.

Setelah mencoba berbagai konten bahasa Sunda di YouTube, akhirnya saya menemukan kanal Mang Cecep Gorbachev. Saya merasa cocok dengan kanal ini karena isinya membacakan buku-buku karya sastra Sunda. Memang ada maksud untuk belajar bahasa Sunda dengan menerjemahkan buku-buku ceritanya, apalagi di iPusnas ternyata koleksi bacaan Sundanya banyak, termasuk yang dibacakan dalam kanal Mang Cecep Gorbachev itu. Tapi, selain iPusnas kerap bermasalah, cara membaca-sekalian-menerjemahkan ini teramat sangat lambat. Lebih praktis menyimak yang sudah dibacakan saja, bisa disambi mengerjakan yang lain-lain.

Dua buku Samsoedi, Surat Wasiat dan Budak Minggat, termasuk cerita yang paling awal dibacakan di kanal Mang Cecep Gorbachev. Bagi yang pemahaman bahasa Sundanya ala kadarnya seperti saya, kedua cerita ini relatif mudah dimengerti. Mungkin karena keduanya termasuk bacaan anak, maka bahasanya relatif sederhana meskipun ditulis pada zaman Belanda sehingga ada sejumlah konteks dan istilah yang khas.


Setelah menyimak kedua cerita ini sampai tamat, ternyata ada kemiripan dengan buku Samsoedi yang pertama-tama saya baca, yaitu Kisah Si Emed. Kemiripan yang utama adalah tokoh utamanya remaja laki-laki belasan tahun yang karena berbagai sebab terpaksa meninggalkan rumah. Dalam Kisah Si Emed, tokoh utama diusir ibunya karena selalu menyusahkan sampai terdampar di penjara anak-anak di Semarang. Dalam Surat Wasiat, tokoh utama dikelabui oleh saudara ayah angkatnya hingga merantau ke Yogyakarta. Dalam Budak Minggat, tokoh utama disuruh mencari uang milik ayah tirinya dan malah terjebak menjadi kuli di Deli.

Selama kepergiannya dari rumah itu, tokoh utama menghadapi berbagai kesulitan. Ia harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, bertemu dengan orang-orang jahat, dan tentunya ada pula orang-orang baik yang membantu si tokoh mengangkat dirinya. Orang-orang yang dikenalnya sepanjang perjalanan itu pun memiliki ceritanya sendiri-sendiri, yang mengajarkan sebab-akibat dari berbagai perbuatan. 

Bisa dibilang, plot dalam cerita-cerita Samsoedi ini bertipe coming of age, cerita pendewasaan berisi serangkaian pengalaman dan petualangan jauh dari rumah, yang idealnya dialami seorang remaja laki-laki untuk mematangkan pribadinya, agar mengenal kerasnya dunia, sanggup menjalani kesukaran, sekaligus belajar menjadi orang baik yang dapat mengambil tanggung jawab untuk mengurus orang lain. 

Kiranya perlu ada cara khusus dalam mendidik anak laki-laki. Dalam Kisah Si Emed, tersirat bahwa ibu sebaiknya tidak memanjakan. Ketiga cerita Samsoedi menunjukkan bahwa mesti ada sesuatu yang memaksa remaja laki-laki untuk keluar dari rumah dan mencari sendiri jalannya, kalau bukan karena situasi hidup, atau tradisi (sebagaimana di Sumatra Barat, konon remaja laki-laki tidak lagi tidur di rumah tapi di surau, dan setelah lebih besar lagi, merantau), ya atas inisiatif orang tuanya sendiri seperti yang dilakukan Pak Jaya Setiabudi. Beliau sengaja menitipkan anak lelakinya di pondok-pondok pesantren dan meminta orang lain yang menggembleng.


Melihat di iPusnas, masih ada banyak karya lainnya dari Samsoedi. Entah apakah ceritanya masih semacam ketiga cerita ini. Untuk sementara, dari ketiga cerita ini, yang paling rame menurut saya adalah Budak Minggat, karena latarnya sampai ke luar Pulau Jawa, yaitu beberapa tempat di Sumatra, bahkan cerita mengenai tokoh lain sempat menjangkau sampai ke luar negeri. Penokohannya tidak hanya melibatkan sesama orang Sunda dan sesekali orang Belanda, tetapi ada juga ras Cina, bahkan bangsa hewan pun mendapat peran. Jadi cerita ini lebih panjang, lebih berlika-liku, dan lebih kosmopolitan daripada yang lain-lain. Bukunya pun tidak hanya terdapat di iPusnas (yang pada waktu saya membuat catatan ini masih belum dapat diakses), tetapi ada juga di iJogja.

Minggu, 26 November 2023

Pelajaran Mengarang Cerpen dari Us Tiarsa

Gambar screenshot dari Instagram.
"Perkenalan" saya dengan penulis Us Tiarsa ternyata sudah dimulai sejak cukup lama, yaitu ketika mengikuti acara tapak tilas buku Basa Bandung Halimunan. Hampir sepuluh tahun setelah itu, perkenalan baru dilanjutkan dengan membaca sendiri kumpulan cerpen beliau, Halis Pasir, alhamdulillah sampai tuntas dan dapat menangkap isinya secara garis besar sekalipun saya tidak menguasai bahasa Sunda XD Jadi kuat motivasi saya untuk turut beranjangsana ke rumah beliau bersama Klub Buku Laswi. Posternya menampilkan kedua buku tersebut. Versi cetak Halis Pasir masih tersedia di Toko Buku Bandung depan Perpustakaan Ajip Rosidi, sedangkan Basa Buku Halimunan sudah tidak ada; tapi di Ipusnas keduanya bisa ditemukan.

Beliau bermukim di komplek perumahan wartawan yang ada di Baleendah. Kami bertolak dari Perpustakaan Ajip Rosidi selepas zuhur, merayap dalam kemacetan selama sekitar 1,5 jam; katanya hari itu ada 7 universitas sedang menyelenggarakan wisuda, salah satunya Telkom University yang berlokasi kurang lebih di tengah-tengah perjalanan. Tiba menjelang pukul 2 siang, kami baru kembali dari sana setelah azan magrib. Acara utamanya sendiri hanya sekitar 2 jam, setelah itu keramahan tuan rumah menjamu kami dengan yamin manis. 

Acara berlangsung dalam bahasa Sunda, yang secara umum masih bisa saya pahami walau adakalanya menanyakan arti kata kepada teman di sebelah. Dalam 2 jam itu, tentu banyak poin yang disampaikan oleh Abah Us Tiarsa; beberapa di antaranya dipantik oleh pertanyaan dari kawan-kawan peserta. Kami mendengar tentang riwayat kepenulisan/kewartawanan beliau, proses di balik buku-bukunya, perkara bahasa jurnalistik, anekdot mengenai tokoh-tokoh yang dikenal, masukan dalam menulis, dan sebagainya. 

Poin yang paling menarik bagi saya adalah proses kreatif di balik Halis Pasir, kumpulan cerpen yang sudah dibaca-tuntas-dan-ulas itu. Kebetulan, saya sendiri dalam pergulatan untuk menulis cerpen (atau karangan fiksi apapun) lagi. Berikut beberapa masukan beliau yang tercatat.

Ketika penulis menganggap karyanya yang terdahulu jelek tapi toh diakui media, itu berarti ia telah mengalami kemajuan.

Cerpen-cerpen di Halis Pasir pernah dimuat di Mangle dan mendapat penghargaan. Namun, dengan menyatakan yang di atas itu, apakah beliau punya anggapan sendiri mengenai cerpen-cerpennya itu? Sepertinya saya kurang menangkap penjelasan beliau soal ini. Kalau boleh saya kaitkan dengan pengalaman saya sendiri, selama saya masih menganggap karangan-karangan yang terdahulu rada-rada lumayan, itu berarti saya masih mandek atau bahkan mengalami kemunduran XD

Cerita yang isinya kebetulan belaka tidak bernilai sastra.

Beliau mencontohkan dengan menceritakan suatu kejadian yang menimpa seorang pedagang di pinggir jalan. Pedagang itu diminta pindah lapak ke tanah kosong, karena tempatnya semula dianggap dapat membahayakan. Namun, setelah pindah ke tanah kosong itu, pedagang tersebut malah tewas ditabrak kendaraan yang entah bagaimana menyelonong ke sana. Itu suatu kejadian menarik, tapi berunsur kebetulan yang jika dituliskan menjadi cerpen menurut Abah Tiarsa teu nyastra

Masukkan elemen kejutan (plot twist).

Dapat dilihat contohnya dalam Halis Pasir, banyak cerpen beliau dalam buku tersebut yang mengandung unsur kejutan. 

Setiap unsur dalam cerita harus ada alasannya.

Ini pun dapat dilihat contohnya dalam cerpen-cerpen di Halis Pasir. Dalam cerpen pertama yang sekaligus menjadi judul buku tersebut, "Halis Pasir", diceritakan mengenai seorang ibu yang bungkuk. Ibu tersebut bungkuk bukan asal bungkuk, melainkan akibat dari pekerjaannya membuat batu bata; pekerjaan itu pun punya peran yang kuat dalam menentukan jalan cerita. Dalam "Diantos di Sarayevo", tokoh utama bertemu dengan sesosok "hantu". Namun, hantu itu sebetulnya halusinasi belaka, yang kerap dialami orang dari iklim tropis kala pergi ke tempat dengan iklim ekstrem (dalam cerita ini adalah orang Sunda yang sedang ada hajat ke negara Eropa bersalju). 

Mahasiswa bertanya kepada Abah.
Gunakan kata arkais.

Contohnya, dalam cerpen "Incok", terdapat kata "enggah" yang jadi pertanyaan salah satu peserta yang notabene mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Sunda. Kata ini digunakan oleh kalangan menak untuk menyebut "kakek". Kata ini sudah tidak digunakan karena sejak zaman Revolusi sudah tidak ada kaum menak (kurang lebih begitulah yang saya tangkap). Sisi positif dari penggunaan kata arkais adalah untuk menunjukkan dan melestarikan kekayaan bahasa. Pembaca yang berdedikasi akan menelusuri arti kata yang sebetulnya kuno tapi terasa baru itu untuk menambah perbendaharaannya; apalagi kalau ia sekaligus penulis yang berdedikasi, mungkin akan tergerak untuk menggunakan juga kata tersebut dalam karangannya sendiri.

Dalam mengarang tidak harus menggunakan pengalaman pribadi, tapi lebih mengandalkan pengalaman batin.

Yang dimaksud dengan pengalaman batin sepertinya adalah imajinasi. Pengarang tidak harus mengalami sendiri yang ia tuliskan dalam cerpennya. Maka untuk bisa mengarang imajinasi harus kuat dan kaya, yang itulah problem saya sekarang sehingga susah mengarang fiksi lagi XD Ketika imajinasi tidak lagi muncul secara intuitif, bagaimana memulihkannya? Saya mendengar Abah Tiarsa memberi masukan agar terus membaca dan tidak berhenti menulis. Abah Tiarsa sendiri semasa mudanya giat membaca, menjadi anggota berbagai perpustakaan termasuk perpustakaan keliling. Pekerjaannya sebagai wartawan pun menuntut beliau untuk selalu menulis. Malah sejak kelas 4 SD (tahun 1950-an) beliau sudah menjadi "wartawan" dengan melaporkan suatu peristiwa di tempat tinggalnya (tepatnya, kedatangan pengungsi dari Tasikmalaya ke Kebon Kawung) dalam kartu pos ke Pikiran Rakyat, yang setelah itu menurunkan wartawannya sendiri untuk meliput secara langsung. Buku Basa Bandung Halimunan pun dikatakannya bukan merupakan kumpulan esai atau autobiografi, melainkan suatu karya jurnalistik. 

Tidak ada kata ketuaan.

Ini bukan masukan langsung dari Abah Tiarsa, melainkan saya tarik sendiri dari beberapa cerpennya yang dalam buku Halis Pasir bertanda "2007". Jika beliau lahir pada 1943 (yang sebetulnya 1942, ungkap beliau), itu berarti cerpen-cerpen tersebut ditulis ketika beliau sudah berusia 60-an tahun. Enam puluhan tahun dan imajinasi masih mengalir, bagaimana dengan yang usianya baru sekitar separuh usia Abah Tiarsa waktu itu? XD

(Catatan untuk diri sendiri: Untuk membaca, alhamdulillah sudah bertahun-tahun cukup intens dan konsisten dijalankan; insya Allah ingin dipertahankan sampai akhir hayat. Untuk menulis, mengingat pengalaman selama ini, sepertinya tidak cukup dengan catatan harian, ulasan, dan terjemahan tapi perlu ada sesi khusus membangkitkan imajinasi alias menulis yang semata khayalan yang tidak terputus-putus. Ada olah raga, ada pula olah imajinasi. Olah raga yang terputus-putus kurang efektif, begitu pula dengan olah imajinasi. Stay creative!)

Kamis, 19 Oktober 2023

Bahasa Indonesia, Bahasa Kita: Akan Diganti dengan Bahasa Inggris? -- Sekumpulan Pandangan dan Pendapat

Gambar di-screeshot
dari Ipusnas.
Edisi yang Diperbaharui
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Bandung
Cetakan pertama, November 2001
Cetakan kelima, Desember 2015
Edisi elektronik, 2018
ISBN 978-979-419-545-1 (PDF), 978-979-419-368-6

Di dalam buku ini ada 17 tulisan yang hampir semuanya semula pernah diterbitkan di media cetak (surat kabar, majalah) atau merupakan makalah yang dipersiapkan penulisnya sebagai pembicara. Semuanya bertalian dengan bahasa, jelasnya bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing yang dalam pemakaiannya sehari-hari oleh masyarakat di negara kita terdapat banyak problem. Dalam pengantar untuk edisi yang diperbaharui, sudah dipermaklumkan bahwa dalam tulisan-tulisan ini akan ada pengulangan-pengulangan karena dibuat dalam waktu berlainan untuk keperluan dan publik berlainan. Memang setelah membaca beberapa buku (almarhum) Pak Ajip, banyak ditemukan pengulangan. Tidak apa-apa, Pak, biar tercamkan dalam-dalam di sanubari.

Setelah membaca sebagian besar tulisan, saya menangkap benang merah atau garis besarnya adalah anjuran pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sekalian kritik terhadap pencampuradukkannya dengan bahasa asing serta lunturnya kebanggaan penggunaan bahasa nasional dan terutama bahasa daerah. Persoalan ini kita alami sehari-sehari.

Dalam pengalaman saya sendiri, acap kali saya heran bila menemukan terbitan berbahasa Inggris yang padahal dibuat orang Indonesia untuk orang Indonesia. Terbitan tersebut misalnya konten Instagram, ada pula novel (biasanya yang pop) yang judulnya doang berbahasa Inggris tapi isinya umumnya berbahasa Indonesia--seakan-akan kalau judulnya berbahasa Indonesia tidak akan menarik pembaca. Di sisi lain, saya sendiri termasuk pelaku yang doyan mencampuradukkan berbagai bahasa baik dalam berbicara maupun menulis wkwkwk. Indonesia, Inggris, Sunda adalah komposisi bahasa saya sehari-hari. Saya duga ini problem bagi siapa saja yang sehari-harinya terpapar oleh lebih dari satu bahasa, sehingga timbul kekacauan dalam pikirannya dan ketika mesti mengeluarkan pendapat secara spontan maka terjadilah pencampuradukkan itu. Walau demikian, bagi Pak Ajip tampaknya itu tidak boleh jadi pembenaran. Dalam tulisan "Berbanggalah dengan Bahasa Indonesia", beliau mencontohkan sosok founding father Bung Hatta yang walaupun menguasai berbagai bahasa asing, tetapi dapat mengendalikan kemampuan itu menyesuaikan dengan tempat dan audiensnya; tahu kapan bisa sepenuhnya berbicara dalam bahasa Belanda, tahu kapan mesti sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, tanpa mesti mencampuradukkannya. Pengendalian diri macam itulah yang beliau sarankan. Nasihatnya di halaman 129, "... jangan dibiasakan berpikir dalam bahasa asing kalau sedang berbicara dalam bahasa Idonesia, sehingga tidak memperhatikan aturan kalimat bahasa Indonesia."

Saya menduga Pak Ajip menghendaki prioritas penguasaan bahasa sebagai berikut:
  1. bahasa daerah,
  2. bahasa nasional (Indonesia),
  3. bahasa asing (di antaranya Inggris, yang paling mendominasi). 
Sedangkan di masyarakat kenyataannya berbolak-balik. Bahasa daerah ditinggalkan, bahasa nasional masih acak-acakan sudah keburu dicampuri bahasa asing. Buat saya sendiri, bahasa Indonesia yang pertama, bahasa Inggris kedua, sedang bahasa daerah bagai pengisi latar atau aksen saja (^^;)v Bukannya tidak ada kesadaran untuk mengapresiasi dan mendalami kedaerahan. Cuma, lagi-lagi, kenyataan menunjukkan bahwa penguasaan bahasa daerah tidaklah menjadi keharusan dalam pergaulan sehari-hari apalagi di kota besar tempat saya telah menghabiskan sebagian besar umur. 

Membaca buku ini memantik saya untuk merenungkan lagi pemakaian bahasa saya sendiri. Namun, betapapun penguasaan ketiga macam bahasa di atas tampak merupakan gagasan yang ideal, kenyataannya waktu mulai terasa sempit, tenaga makin terbatas, dan situasi sehari-hari yang sedang dialami pun tidak menjadikan hal tersebut sebagai tuntutan. Apalagi untuk bahasa daerah, sebagaimana yang sudah dimaklumi sendiri oleh Pak Ajip di halaman 46, "... penguasaan bahasa daerah dengan baik tidak mempunyai nilai sosial." Nah! Kecuali kalau kelak di Duolingo ada bahasa Sunda dan/atau bahasa Jawa, tentu dengan senang hati saya akan memainkannya mempelajarinya di sana 😂

Yang saya herankan, sepanjang buku ini, tidak sekali pun saya temukan Pak Ajip mengungkit bahasa Arab. Padahal bahasa Arab kiranya boleh dikatakan termasuk bahasa asing yang mulai menggeser kosakata bahasa nasional, sebagai contoh mas/mbak jadi akh/ukh, pria/wanita jadi ikhwan/akhwat, maaf jadi afwan, terima kasih jadi jazakumullah khairan katsira, berprasangka buruk jadi suuzan, menggunjing jadi gibah, dan masih banyak lagi. Memang sepertinya kosakata bahasa Arab itu baru mulai umum belakangan khususnya di komunitas tertentu, sementara tulisan-tulisan dalam buku ini dibuat sudah belasan tahun lalu bahkan lebih lama lagi sedang kini Pak Ajip sudah tiada. Saya pun jadi bertanya-tanya, seandainya masih hidup dan aktif menulis, bagaimanakah kira-kira sikap Pak Ajip terhadap fenomena ini. Saya pikir, sebagai muslim yang taat, mestilah beliau memaklumi bahwa penguasaan bahasa Arab boleh dianggap penting untuk menunjang ibadah. Namun di sisi lain, sebagaimana terhadap bahasa Inggris, beliau tampak tidak suka bila bahasa daerah/nasional makin terkikis oleh bahasa asing.

Gambar di-screenshot
dari Instagram.
Buku ini dibahas dalam Klub Buku Laswi (bertempat di belakang Toko Buku Bandung yang sekaligus di depan Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut 2, Bandung) pada Rabu, 18 Oktober 2023 kemarin. Di ujung pembahasan ini, Kang Wanggi Hoed memberikan tanggapan menarik yang mengingatkan saya pada ungkapan "bahasa menunjukkan budaya". Kang Wanggi menangkap kekhawatiran Pak Ajip akan fenomena beringgris-ria ini, yang di balik itu sesungguhnya ada suatu kepentingan. Simpelnya: dengan maraknya penginggrisan, tanpa disadari masyarakat pun mengalami pembaratan--jelasnya, mengadopsi nilai-nilai barat yang individualistis, materialistis, dan seterusnya, sehingga menyisihkan nilai-nilai kedaerahan yang mengutamakan gotong-royong, menghargai lingkungan hidup, dan seterusnya, sebagaimana bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tampak memberikan efek psikologis tertentu pada audiensnya, yang entah bagaimana mempersepsikan bahwa kalau dalam bahasa asing itu lebih menarik sedang dalam bahasa sendiri (nasional/daerah) itu inferior. Sayangnya, dampak budaya ini tidak dikupas lebih lanjut dalam tulisan-tulisan Pak Ajip di buku ini. Oke, kita harus melestarikan bahasa daerah, memperbaiki bahasa Indonesia, dan bijaksana dalam mempergunakan bahasa Inggris. Tapi, mengapa harus demikian? Mengapa itu penting? Apa dampaknya dari melakukan atau tidak melakukan? Bagaimana meyakinkan masyarakat akan dampak-dampak yang terluputkan itu? Bagaimana pemahaman itu dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani? Dan, apakah dengan menuliskannya saja cukup? Siapakah yang mau membacanya belum lagi mengamalkannya dalam skala luas? Bukankah Pak Ajip pun sudah banyak menulis tentang hal ini tapi kenyataan makin jauh panggang dari api? Barangkali ini PR bagi penerus Pak Ajip untuk menjawabnya.

(Buku ini ada di Goodreads tapi cuma 1 edisi dan tanpa kover sebagaimana yang saya baca di Ipusnas. Maka saya mengulasnya di blog ini dengan menyertakan kover dari Ipusnas. Namun kopi yang saya baca di Ipusnas ini ada satu halaman yang tidak ada, yaitu halaman 89.)

Kamis, 05 Oktober 2023

Contoh The Gift Economy dalam Cerpen Anak

(Posting ini untuk penyimpanan sementara supaya mudah ditemukan, kapan-kapan mungkin dipindahkan ke blog lain.)


Tak Usah Kau Takut

Oleh Ny Widya Suwarna

Bobo No. 47/XXIX/02

 

Marta bergegas pulang ke rumahnya. Ia baru saja belajar bersama di rumah Sisi. “Apakah hari ini lemet buatan Mama laku terjual?” pikir Marta gelisah. Rumah Marta adalah sebuah penginapan kecil. Namun akhir-akhir ini jarang ada tamu menginap. Padahal penghasilan Mama berasal dari tamu-tamu itu. Ayah Marta sudah meninggal. Hari ini Mama baru akan mencoba menjual lemet atau ketimus. Makanan kecil ini terbuat dari singkong, diberi gula merah dan kelapa, dibungkus daun pisang dan kemudian dikukus.

Ketika Marta masuk ke rumah, tampak Mama dan Mbak Eni sedang duduk di kursi meja makan. Mama bertopang dagu, sementara Mbak Eni duduk membisu. Di atas nampan di meja masih ada tumpukan lemet.

“Halo, Ma, Marta sudah pulang. Lo, kok lemetnya masih banyak?” tanya Marta, lalu duduk di sisi Mama. Mbak Eni menghela napas.

“Tadi Mbak bawa 50 bungkus. Mbak sudah keliling kompleks, tapi hanya laku 25 buah. Masih ada 25 buah lagi. Banyak orang tak mampu beli kue. Mungkin mereka bikin sendiri!” kata Mbak Eni.

“Yaaa, baru jualan satu hari, kok hasilnya payah!” seru Marta kecewa.

Mama tersenyum dan berkata, “Sudah, tak usah kecewa. Kita mengucap syukur pada Tuhan karena sudah 25 buah lemet laku. Mbak Eni pergi ke warung saja dan beli beras 1 kg. Nanti kalau ada tukang sayur kita beli bayam dan jagung. Besok kita masak bubur!”

Kemudian Mama menyanyi pelan-pelan, “Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”

Marta ikut menyanyi. Ada perasaan hangat mengalir di hatinya. Tuhan selalu menolong kalau Marta, Mbak Eni, dan Mama menghadapi kesulitan.

Selesai menyanyi, Marta dan Mama saling berpandangan dan tersenyum. Mama bangkit dan mengambil lemet serta memisah-misahkannya di meja.

“Marta, tolong antarkan 5 buah pada Ibu Sakri. Dan 5 buah lagi untuk Tante Ina. Yang 5 buah terserah kamu mau berikan pada siapa. Yang 10 buah akan kita makan sendiri!” kata Mama. Marta pergi ke dapur, mengambil kantung-kantung plastik dan memasukkan lemet-lemet tadi.

Marta berjalan ke luar rumah sambil berpikir-pikir. Mula-mula lemet yang 5 buah akan diberikannya pada kawannya, Evi, yang tinggal di ujung jalan. Tapi, kemudian diurungkan niatnya. Belum tentu Evi suka singkong. Mungkin lebih baik ia berikan pada tukang-tukang ojek yang mangkal di ujung kompleks. Tapi ah, siapa tahu ada orang lain yang lebih cocok untuk menerima lemet itu.

Marta menyelesaikan tugasnya mengantar lemet pada Bu Sakri dan Tante Ina. Marta terharu ketika anak-anak Bu Sakri menyambutnya gembira. Mereka berseru, “Horeee, ada kueee!” lalu mereka segera memakan lemet bawaannya.

Tante Ina lain lagi. Ia berkata, “Wah, lagi krismon bagi-bagi kue! Ini bukan untuk dijual?”

“Maunya sih dijual, tapi cuma laku sebagian!” kata Marta. Kemudian Tante Ina memberikan 5 bungkus mi instant.

Ketika berjalan pulang Marta masih bingung. Lemet yang 5 buah itu mau diberikan pada siapa? Ah, akhirnya Marta ingat tukang tambal ban, Pak Amin. Ia pun belok ke kanan. Di bawah pohon besar di ujung jalan, di sanalah tempat Pak Amin mangkal.

“Hei, nona kecil, sini dulu!” tiba-tiba terdengar suara dari arah kanan. Oom Martin yang gemuk pendek melambai-lambaikan tangan. Marta masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk memberikan lemet itu pada Oom Martin.

“Ini untuk Oom!” katanya sambil memberikan bungkusan berisi lemet.

“Terima kasih, terima kasih. Kamu tahu saja Oom lagi lapar. Beta baru pulang memancing dan Tante belum pulang dari kantor!” kata Oom Martin.

“Duduklah dulu. Oom mau makan kue ini!” kata Oom Martin. Marta duduk di teras dan Oom Martin segera melahap lemetnya. Satu buah, dua buah, tiga buah … dan Marta berseru,

“Sisakan untuk Tante, Oom!”

Oom Martin tertawa terkekeh-kekeh. “Beta sedang lapar. Tuhan baik kirim nona kecil bawa lemet. Bilang sama mamamu, besok Oom pesan 20 lemet untuk Tante. He he he, biar dia tidak marah. Marta, tolong ambilkan Oom minum. Ambil sebotol air kulkas dan gelasnya!” kata Oom Martin dengan riang. Marta menurut. Dalam hati ia merasa geli. Oom Martin ini lucu.

Sesudah Oom Martin kenyang makan dan minum ia berkata, “Tadinya Oom panggil kamu mau suruh masak supermi. Tapi, sekarang Oom sudah kenyang. Terima kasih, ya. Tunggu sebentar, Oom mau ambil ikan untuk mamamu!”

Oom Martin masuk ke dalam. Kemudian ia keluar membawa seekor ikan tenggiri yang diikat dengan tali rafia.

“Terima kasih, Oom, Mama pasti senang!” kata Marta sambil menerima ikan itu. Marta lalu pamitan. Namun saat Marta berjalan keluar halaman. “Marta! Hei nona kecil … sini dulu!” panggil Oom Martin. Marta yang sudah di jalan kembali lagi. Ada apa, pikir Marta.

“Ini uang untuk bayar lemet 20 buah. Kirim besok siang, ya!” Oom Martin memberikan uang Rp 10.000.

“Kembalinya besok, ya Oom!” kata Marta.

“Ah, kembalinya untukmu sajalah. Oom tahu kamu anak Mama yang baik!” kata Oom Martin. Marta mengucapkan terima kasih.

Di jalan menuju rumah, tak putus-putus Marta bersyukur pada Tuhan. Siapa sangka ia bertemu Oom Martin yang baru pulang mancing ikan. Siapa sangka Oom Martin pesan lemet dan Tante Ina memberikan mi instant. Siapa sangka anak-anak Bu Sakri menyambut pemberian sederhana itu dengan riang. Sungguh Tuhan amat baik. Dalam hati Marta kembali menyanyi dengan riang,

“Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”




BONUS: BAHASA JAKSEL KID 2000-AN

(Dari majalah yang sama, sebelum sampai pada cerpen di atas, ada artikel menarik.)

Kamis, 27 Juli 2023

Persoalan-persoalan dalam Belajar Bahasa Sunda dari Sudut Pandang Orang Bandung yang Bukan Asli Sunda

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa itu ada benarnya. Jika kita pindah mukim ke suatu wilayah, untuk dapat berbaur baik-baik dengan warga setempat, kita perlu mempelajari bahasa dan budaya mereka serta mempraktikkannya dalam kesempatan bersama mereka. Namun, apakah hal itu berlaku di Kota Bandung yang aslinya merupakan wilayah berbahasa Sunda? Nyatanya, selama hidup di Kota Bandung, mulai dari lahir, TK, SD, SMP, SMA, sampai setelah lulus dari kuliah, saya dapat bergaul tanpa perlu menguasai bahasa Sunda. 

Saya bukan orang Sunda. Kakek-nenek saya dari pihak ibu berasal dari Jawa Timur, sedangkan bapak dari Jawa Tengah. Di lingkungan keluarga di Bandung, bahasa Indonesia yang digunakan. Dalam pergaulan dengan teman-teman, mulai dari di sekitar rumah sampai di sekolah, bahasa Indonesia pula yang digunakan. Baru ketika saya SMP, ada seorang teman yang cukup nyunda, tetapi dia sendiri yang kemudian repot harus menjelaskan arti kata-kata yang dia gunakan, sebab dalam kelompok pergaulannya di kelas tidak ada yang mengerti; kebanyakan dari kami keturunan Jawa dan ada pula yang Sumatra. Di SMA malah saya tidak mendapatkan pelajaran Bahasa Sunda sama sekali. Tetap bahasa Indonesia yang digunakan dalam pergaulan. Kawan-kawan sekelas saya lebih majemuk lagi, berasal dari berbagai daerah dan pulau demi bersekolah di SMA itu. 

Kemudian saya kuliah di Jogja. Untuk mengatasi rasa kangen terhadap "kampung halaman", saya mendengarkan lagu-lagu Sunda dan Cangehgar. Aneh kan. Saya menganggap Bandung sebagai "kampung halaman" semata-mata karena saya lahir dan besar di sana. Orang tua saya pun masih tinggal di sana, ke mana pada akhirnya saya akan berpulang. Padahal, dari segi keturunan, saya sudah berada di kampung halaman yang sebenarnya, yaitu wilayah berbahasa Jawa dan memang banyak dari keluarga besar saya yang tinggal di Jogja dan kota-kota sekitarnya.

Baru lama kemudian, kesadaran akan bahasa daerah kembali mengemuka ketika saya mengikuti Klub Buku Laswi. Dalam beberapa bulan ke belakang, klub ini mengadakan pertemuan yang membahas buku fiksi berbahasa Sunda. Dengan sendirinya, terangkat masalah-masalah yang menyangkut pemakaian bahasa Sunda di masyarakat dewasa ini.

Dalam pertemuan kemarin (Rabu, 26 Juli 2023), ada kurang lebih sembilan orang yang duduk. Sebagian yang hadir adalah orang Sunda asli. Yang saya kenal merupakan keturunan Jawa hanya dua orang, itu pun cuma saya yang berdarah murni (saya tidak tahu jika ternyata saya ada campuran). Di antara mereka yang memang orang Sunda, terungkap persoalan-persoalan di kalangan mereka sendiri sehingga bahasa Sunda yang baik dan benar kurang memasyarakat.

Pertemuan Klub Buku Laswi yang 
saya hadiri kemarin. Informasi 
mengenai klub ini bisa dilihat di 
Instagram biblioforum atau 
lawangbuku. Catatan pembacaan saya 
mengenai buku yang dibahas dalam 
pertemuan ini bisa dilihat di 
Yang pertama, orang tua tidak membesarkan anak-anaknya dalam bahasa Sunda. Bahkan kepada pasangan yang sesama orang Sunda pun mereka belum tentu berbahasa Sunda. Akibatnya, anak menganggap dirinya lebih sebagai orang Bandung ketimbang orang Sunda. Seakan-akan Bandung tidaklah identik dengan Sunda.* Anak-anak pun belajar bahasa Sunda melalui pergaulan dengan anak-anak sekitarnya, tanpa mengindahkan mana kata-kata yang baik diucapkan dan mana yang tidak.

Yang kedua, bahasa Sunda memiliki banyak variasi. Beda wilayah, beda lagi kata yang digunakan untuk merujuk satu hal yang sama. Bahasa Sunda yang digunakan orang Bandung dan sekitarnya lain dengan bahasa Sunda orang Sukabumi, Purwakarta, Banten, apalagi Cirebon. Hal ini bisa jadi membingungkan bahkan di antara sesama pemakai bahasa Sunda sendiri.

Yang ketiga, dari kalangan pemuda Sunda kurang ada kesadaran untuk mempelajari bahasanya lebih lanjut. Ada di antara peserta klub kemarin yang mengatakan bahwa walaupun ia asli Sunda, ketika membaca cerpen berbahasa Sunda, ternyata menemukan kata-kata yang ia sendiri tidak paham.

Yang keempat, orang Sunda sendiri kadang kesulitan ketika menjelaskan pengertian suatu kata. Kalau sudah begini, saya pikir, baru dengan hidup cukup lama atau bergaul intens di lingkungan yang kental berbahasa Sunda, orang dapat benar-benar memahami bahasa Sunda sampai merasuk di kalbunya tanpa perlu pengertian lewat kata-kata. 

Ketika kemarin saya mengajukan usul agar dibuat buku dwibahasa Sunda-Indonesia untuk mempermudah pembelajaran bahasa Sunda, ada yang mengatakan bahwa teks dalam bahasa Sunda tidak bisa diterjemahkan per kata paling-paling seperti menyadur. Saya sendiri sebetulnya ada pikiran untuk belajar bahasa Sunda dengan cara menerjemahkan cerita, sebagaimana yang selama ini saya lakukan dengan bahasa Inggris. Namun, ketika membaca buku fiksi berbahasa Sunda, setiap kali tidak mengerti suatu kata, mencarinya di kamus atau di internet tapi tidak menemukannya, saya jadi mengurungkan ide tersebut. Belum lagi struktur kalimatnya yang ketika saya coba menerjemahkan ke struktur kalimat bahasa Indonesia dalam pikiran malah bikin pusing sendiri. 

Tampak bahasa Inggris masih lebih mudah dipelajari--mudah ditemukan artinya baik di kamus maupun di internet, mudah diterjemahkan ke struktur kalimat bahasa Indonesia, mudah dipraktikkan juga dalam pergaulan sehari-hari melalui aplikasi chatting dengan orang asing. Sekiranya orang Sunda merasa penting agar sesamanya begitu pula orang luar yang tinggal di wilayahnya turut melestarikan bahasa mereka, bisakah sarana-sarana pembelajarannya dibuat sepraktis atau seatraktif belajar bahasa Inggris?



*) Kenyataannya memang sudah demikian banyak pendatang sebagaimana yang saya temukan sendiri selama puluhan tahun hidup di Bandung. Kebanyakan kawan saya adalah keturunan dari suku lain sebagaimana saya sendiri, dan hanya beberapa di antaranya yang orang Sunda asli. Ada pakde saya alias kakak dari bapak yang aslinya orang Jawa tetapi dapat berbahasa Sunda tanpa kedengaran masih ada aksen Jawa. Beliau menikah dengan orang Garut dan bermukim di sana sepanjang sisa hidupnya. Sementara ini saya hanya dapat menduga bahwa di Garut masyarakatnya tidak semajemuk di Bandung kota, sehingga pakde saya bisa fasih berbahasa Sunda.

Kamis, 13 Juli 2023

Atikan Basa Sunda Jilid 1C Pikeun Murid SD Kelas 1 Caturwulan 3

Penyusun : Drs. Yahya Sudarya, Drs. Ano Karsana
Cetakan kedua, Mei 1996 (Edisi Revisi)
Penerbit : PT. Sarana Panca Karya, Bandung

Seperti di buku-buku sebelumnya, ada empat pelajaran dalam buku ini. Tema dari keempat pelajaran itu pada umumnya menyangkut lingkungan. Pelajaran pertama mengenai lingkungan tempat belajar, yakni sekolah. Pelajaran kedua, lingkungan tetangga. Pelajaran ketiga, menyayangi satwa (lingkungan alam). Pelajaran keempat, memelihara kesehatan yang secara otomatis berkaitan dengan merawat kebersihan lingkungan walaupun dalam buku ini lingkungannya adalah lingkungan mikro yang berupa mulut, tepatnya gigi.

Pelajaran 1

Dalam pelajaran ini ada pengenalan kosakata menyangkut kekebunan, yaitu:

kebon = lahan pikeun pepelakan (lahan untuk tanam-tanaman)
leunca = buah buleud jiga kaleci (buah yang bulat seperti kelereng)
bawang = bawang beureum, keur samara (bawang merah penuh gairah)
lembok = hejo, subur (hijau, subur)
ngurus = miara (mengurus sama dengan memelihara)
taman = lahan pikeun melak kekembangan (lahan untuk menanam bunga-bungaan)

Sepintas, "kebun" dan "taman" seperti memiliki pengertian yang sama. Namun dari pelajaran kosakata di atas, juga setelah saya mengecek pengertian dalam bahasa Indonesia di aplikasi KBBI V, rupanya kebun cenderung pada produksi tanaman pangan sedangkan taman untuk keindahan.

Kemudian ada pengenalan istilah waktu seperti:

burit = sore-sore, deukeut ka magrib (sudah mendekati waktu magrib)
isuk-isuk = mimiti bray beurang (ketika hari mulai terang)
tengah poe = panon poe keur aya di tengah (matahari sedang tinggi-tingginya)
teungah peuting = geus deukeut ka janari (sudah mendekati waktu subuh)
subuh = memeh bray beurang (sebelum hari mulai terang)

Dalam pelajaran ini juga ada contoh puisi berbahasa Sunda dengan judul "TUJUH BELAS AGUSTUS" serta lagu "EUNDEUK-EUNDEUKAN".


Pelajaran 2

Dalam pelajaran ini ada kosakata mengenai perhubungan sehari-hari serta nama-nama alat tajam.

peso raut = peso paranti ngaraut (pisau untuk meraut)
peso dapur = peso paranti saksak-siksik di dapur (pisau untuk mengupas, mengiris, dan sebagainya yang biasa digunakan di dapur)
peso rajang = peso paranti ngeureut bako (pisau untuk memotong)
bedog = paranti ngadeh (alat yang biasa digunakan untuk memangkas tanaman, misalnya di hutan)
arit = paranti ngala jukut (alat untuk memotong rumput)
silet = paranti ngurud janggot (untuk mencukur jenggot)

Kemudian diajarkan permainan tradisional "PACIWIT-CIWIT LUTUNG" yang diiringi dengan lagu.


Pelajaran 3

Pelajaran ini memperkenalkan nama-nama satwa berikut habitatnya (hutan dan desa) serta kepedulian terhadap ancaman kelestariannya, di antaranya burung (halaman 26-27). 

Bangsa manuk mah geus langka,
aya oge piit, galejra, jeung bondol.
Kitu oge kari saeutik,
da eta sok diboro jeung dibedilan.
Padahal sato teh loba mangpaatna
keur kahirupan jalma.
Lamun kabeh sato geus beak,
jalma oge bakal susah. 

Jenis burung sudah langka, 
ada juga burung pipit dan burung gereja.
Itu pun tinggal sedikit,
karena sering diburu dan ditembaki.
Padahal satwa banyak manfaatnya
bagi kehidupan manusia.
Kalau semua satwa sudah habis, 
manusia juga yang akan susah.

Kemudian ada pengajaran istilah yang berkaitan dengan satwa, pastinya. Di antara istilah tersebut ada yang berupa onomatope, yang menirukan suara atau gerakan satwa yang bersangkutan. 

anjing ngagogog
hayam jago kongkorongok
maung ngagaur
kukupu gegeleberan
embe ngaberele
kuda ngabret
manuk hiber
oray ngaleor

Kemudian diajarkan lagu berbahasa Sunda, "TRANG TRANG KOLENTRANG".


Pelajaran 4

Dalam pelajaran ini ada kosakata aktivitas, benda, dan keadaan yang berkaitan dengan merawat kebersihan gigi. Ada pula pengenalan beberapa anggota badan.

huntu = gigi
pipi = pipi
letah = lidah
ceuli = telinga

Pelajaran ini ditutup dengan lirik pupuh "magatru".

Kamis, 29 Juni 2023

Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, dalam Pembahasan Klub Buku Laswi

Menyambung pembacaan Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, buku ini telah dibahas di klub.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan
Klub Buku Laswi dapat dilihat di Instagram
biblioforum atau lawangbuku.

Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk memperjelas hal-hal yang tidak jelas bagi saya ketika membaca sendiri kumpulan cerpen berbahasa Sunda tersebut, dengan menanyakan langsung kepada yang membahas.

Yang membahas, Erlangga, adalah mahasiswa jurusan Bahasa Sunda UPI. Ia tidak mengalami kendala bahasa dalam membaca kumpulan cerpen ini. Yang menjadi kendalanya hanyalah memahami logika pengarang cerpen yang kadang-kadang ajaib, misalkan ada serabut akar pohon yang dapat berbicara. Mengetahui itu, berarti saya sendiri mengalami dua kendala: 1) bahasa, 2) logika.

Dalam tulisan ini, saya akan mengangkat beberapa cerpen yang tadinya tidak jelas bagi saya tapi sekarang menjadi jelas atau sudah cukup jelas lalu menjadi makin jelas. Sayangnya, saya akan membocorkan jalan cerita karena untuk sambil dipikirkan maksudnya.

Katumbiri (Mangle, April 1959)

Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya dapat tangkap dari cerita ini adalah mengenai kenangan akan masa kecil yang awalnya suci tetapi mulai berdosa sejak mengintip bidadari waktu turun mandi. Ia mengintip bidadari dengan maksud mencuri kainnya. Terpengaruh oleh dongeng yang diceritakan padanya, ia percaya bidadari bisa terbang dan dengan begitu ia bisa minta diambilkan layangan putus sebagai syarat mengembalikan kain. 

Karena pemahaman yang terbatas, saya kira ceritanya cuma itu. Ia merenungkan perbuatan itu yang dijadikannya rahasia, sedang yang ditampakkannya kepada orang lain yang baik-baik saja. (Bagian ini terasa menyindir perilaku manusia pada umumnya).

Setelah dijelaskan Erlangga, ternyata konsekuensi dari perbuatan si tokoh utama sangatlah serius. Yang dianggapnya sebagai bidadari sebenarnya merupakan manusia perempuan biasa yang lagi mandi di kali. Ketika ada banjir, teman-temannya segera beranjak dari kali. Namun perempuan itu tidak bisa pergi karena kebingungan mencari kain penutup tubuhnya. Akibatnya, ia pun keburu terbawa hanyut oleh air bah. 

Mengetahui ceritanya ternyata seperti itu, saya sendiri jadi terkejut. Bisa dibayangkan dampak kejiwaan yang dialami si tokoh utama setelah menyadari perbuatannya itu setelah ia dewasa. Bisa dikatakan, secara tidak langsung, ia telah menghilangkan nyawa orang sekalipun pada waktu itu ia masih kecil--belum mengerti bahwa perbuatannya dapat mengakibatkan konsekuensi tertentu bahkan fatal.

Kawung Ratu (Mangle, Mei 1963)

Secara keseluruhan, alur cerpen ini dapat saya tangkap. Namun ada beberapa hal yang terlewatkan oleh saya karena kendala bahasa itu. 

Yang pertama menyangkut kepercayaan. Sewaktu menanam kawung, orang mesti hafal melakukannya sambil menghadap ke mana dan arah tersebut mesti selalu jadi patokannya ketika merawat tumbuhan itu. Kemudian jimat yang diberikan menak kepada si Aki kemudian ia masukkan ke dalam batang kawungnya.

Yang kedua menyangkut latar cerita yang sempat menjadi topik di antara pembahas dan teman-temannya sesama mahasiswa Bahasa Sunda. Cerita ini diperkirakan terjadi dari sebelum sampai sesudah Kemerdekaan. Ketika ada menak yang meminta produk kawung Aki, kemungkinan peristiwa itu terjadi sebelum Kemerdekaan. Namun setelah Kemerdekaan, pemimpin Aki bukan cuma sang menak melainkan ada pula dari Desa. Ketika keduanya sama-sama meminta Aki melakukan hal yang berbeda pada kawungnya, ia menjadi bingung dan tidak bisa memutuskan mana yang harus dituruti sehingga memutuskan untuk menggantung diri saja.

Dari cerpen ini juga kita dapat mempelajari sebentuk kearifan lokal. Aki memperlakukan kawungnya sebagai bukan sekadar komoditas untuk dimanfaatkan, melainkan sebagai sesama makhluk yang juga patut dihargai.

Dehem (Mangle, Februari 1964)

Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya tangkap cuma ada lelaki yang mau ke dukun beranak karena istrinya akan melahirkan sehingga ia harus melewati hutan bambu pakai obor. Tahu-tahu ada kekasihnya dahulu yang kini sudah jadi janda sehingga tebersit CLBK tetapi sepanjang jalan mereka cuma saling berdeham.

Rupanya dukun beranak itulah mantan kekasih si suami. Karena istrinya akan segera melahirkan, si lelaki mencari dukun beranak. Kebetulan dukun beranak yang ditemukannya itu adalah mantan kekasihnya. Ketika ia hendak mengantar pulang sang dukun, keduanya melewati hutan bambu yang dahulu menjadi tempat pacaran mereka sehingga teringatlah segala kenangan bersama tetapi hanya dapat mengutarakannya dengan berbalas deham ... =_=;

Kuncen (Wangsit, 1966)

Cerita ini dapat saya ikuti, tapi memang ada yang kurang jelas mengenai "kandil emas". 

Rupanya Aki Ja'i sang kuncen "menjual" kepercayaan mengenai berkat berupa "kandil emas". Saya kira triknya seperti undian berhadiah. Dengan pergi ke makam dan melakukan berbagai ritual, para peziarah seperti sedang mengajukan undian. Barangsiapa yang beruntung akan memenangkan lotre berupa "kandil emas" yang berarti kesuksesan hidup atau sebagainya.

Nu Pararegat (Mangle, 8 Januari 1976)

Cerpen ini sepertinya yang paling sulit dimengerti karena terkesan absurd, sureal. Cerita ini menampilkan serabut akar yang dapat berbicara, mau turun menembus tanah tapi tidak bisa karena tanahnya telah dilapisi. Kemudian ada orang yang saudaranya kekurangan darah sehingga mengajukan pinjaman uang kepada atasan tapi yang turun tidak seberapa. Akar berserabut lalu menangis dan ada kakek-kakek naik tangga mau bertemu dengan bapak "Duka Wastana" yang dalam bahasa Sunda berarti "tidak tahu namanya" tapi orang-orang lain menganggap bahwa memang itulah namanya. 

Dalam pembahasan, timbul kesimpulan bahwa cerpen ini merupakan satire simbolik yang menggambarkan jarak menyusahkan berupa birokrasi yang menjadi penghalang bagi bertemunya penguasa dengan bawahan. Pararegat sendiri berasal dari kata pegat yang artinya putus.

.

Usai Erlangga menyarikan isi sebagian besar cerpen dalam buku ini, satu topik yang otomatis menjadi pembahasan kami adalah mengenai kurangnya minat membaca Sastra Sunda. Yang asli keturunan Sunda saja belum tentu suka membaca. Kalaupun mau membaca, ada banyak kosakata yang tidak digunakan dalam percakapan sehari-sehari sehingga mesti rela sambil membuka kamus. Karena itulah, membaca karya berbahasa Sunda tampak kurang memiliki manfaat praktis di dunia nyata. 

Lain halnya dengan membaca karya berbahasa Inggris. Soalnya, memang bahasa Inggris menggempur di mana-mana. Konten-konten serba berbahasa Inggris, bahkan yang mestinya berbahasa Indonesia pun dicampur-adukkan dengan istilah-istilah berbahasa Inggris. Kalau ingin meluaskan pergaulan, meningkatkan karier, dan semacamnya, kemampuan berbahasa Inggris akan sangat bermanfaat. Bahasa Inggris dianggap lebih menjual, contoh saja: banyak novel yang judulnya bahasa Inggris tapi isinya bahasa Indonesia.

Rasanya mengherankan, mengetahui bahwa penyusun kamus bahasa Sunda yang pertama-tama justru orang Belanda. Mengapa bukan orang Sunda sendiri? Mengapa orang Belanda menganggap penting pengetahuan mengenai satu bahasa dari sekian banyak bahasa lain dari suku-suku yang ada di Nusantara? Apakah mereka melakukan hal yang sama terhadap bahasa-bahasa lainnya juga? Pembahasan akan terlalu melebar kalau begitu. 

Diduga, ada kepentingan ekonomi dan politik di balik minat mereka. Toh tanah Sunda sangatlah subur. Namun, mengapa masih ada rakyatnya yang miskin dan kelaparan? Rupanya banyak tanah yang dikuasai menak, dijadikan hutan yang terlarang untuk dimasuki sesiapa, sekadar untuk menjadi tempat hiburan yang eksklusif bagi mereka sendiri. Di sinilah timbul dilema. Jika hutan itu bebas dimanfaatkan oleh siapa saja, kemungkinan akan dibuka untuk dijadikan entah apa saja. Memang dengan begitu dapat menghidupi sekian banyak manusia, tapi bagaimana dengan keanekaragaman hayati di dalamnya? Bukankah mereka juga berhak hidup dan dihargai sebagaimana kawung si Aki? Bingung, tapi tak usahlah ikut gantung diri.

Memang tampaknya tak ada manfaat praktis dari membaca sastra Sunda, bahkan sastra pada umumnya mau dalam bahasa apa pun. Paling tidak, ada prinsip dulce et utile--kesenangan yang bermanfaat. Ada kesenangan dari menyimak sebuah cerita. Apalagi jika cerita tersebut menyembunyikan banyak hal, entahkah itu namanya "amanat", "makna", "simbol", "pesan moral", dan seterusnya, yang bagaikan permainan berburu harta karun bagi peminatnya. Apalagi jika ada di antara hal tersebut yang bisa dikaitkan dengan pengalaman sendiri, menjadi bahan perenungan diri. 

Memang kendala bahasa mengurangi keasyikan membaca. Namun, dengan pengetahuan bahasa yang sekadarnya itu, tetap ada "harta karun" yang dapat diambil. Paling tidak, kita bisa mempelajari cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan ide-idenya yang beragam itu. Ada cerpen-cerpen yang realis apa adanya saja menceritakan kenyataan seperti "Ngabeca" dan "Bi Empat". Ada cerpen-cerpen yang tampak mengandung amanat dalam hubungan suami istri atau kehidupan rumah tangga seperti "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun" dan "Kawin Emasna Dahim". Ada cerpen-cerpen yang mengangkat kearifan lokal dan mistikisme seperti "Kawung Aki" dan "Kuncen". Ada cerpen-cerpen yang menggunakan twist---teknik untuk mengecoh pembaca--seperti "Halimun" dan "Aki Warung". Ada cerpen-cerpen yang menunjukkan caranya mengeksplorasi keresahan dalam suatu momen seperti "Dehem", "Cipanon", serta "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun". Belum lagi yang absurd-surealis macam "Nu Pararegat", serta cerpen-cerpen lain yang dapat memantik renungan seputar berbagai hal sebagaimana yang sudah saya utarakan dalam catatan pembacaan sebelumnya.

Rabu, 21 Juni 2023

Hiji Tanggal nu Dipasinikeun

Gambar di-screenshot 
dari Ipusnas.
Pengarang : Wahyu Wibisana
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Bandung, bekerja sama dengan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda
Cetakan kesatu, Oktober 2017
ISBN : 978-979-419-479-9
Edisi Elektronik, 2018
ISBN : 978-979-419-669-4

Buku ini saya baca karena katanya akan dibahas di klub yang saya ikuti. Buku ini dapat diakses di Ipusnas. Menurut mahasiswa Bahasa Sunda UPI yang hendak membahas buku ini di klub, Wahyu Wibisana (l. 1935 - w. 2014) merupakan pengarang Sunda kenamaan. Cerpennya termasuk ke dalam buku kumpulan 10 cerpen terbaik Sunda yang kini sulit ditemukan. Menurut pengantar dalam buku ini (oleh Abdullah Mustappa serta Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda), Wahyu Wibisana berkarya selama lebih dari setengah abad. Total jumlah cerpen ada 80-an sejak dari tahun 1950-an, yang tersebar di banyak terbitan berbahasa Sunda. Yang dimuat di Mangle (yang paling saya kenal tapi tidak pernah betul-betul membacanya) saja ada 40-an cerpen. Wahyu Wibisana adalah contoh cerpenis yang bagus dan produktif dalam khasanah kesusastraan Sunda. Untuk kumpulan ini, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda memilihkan 16 cerpen saja. 

Setelah membaca secara keseluruhan, saya mendapati sendiri bahwa cerpen dalam kumpulan ini pada pernah dimuat sebelumnya di Warga, Wangsit, atau Mangle dalam kurun 1950-1980-an. Beberapa cerpen awal, yang terbit tahun 1950-an, tampaknya merujuk ke peristiwa bersejarah seperti DI/TII ("Halimun", "Sora") dan revolusi Jogja ("Dua Gagang Kembang Radiul"). Terdapat istilah-istilah yang sudah "kuno" atau peninggalan zaman Belanda seperti "Sekolah Rakyat", "Ilmu Pasti", "Ilmu Hayat", dan "bronfiets" (dalam cerpen "Ngabeca"--ongkos becak pun masih 5 rupiah!).  Malah ada yang masih menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu ("Dua Gagang Kembang Radiul"). Cerpen yang terbit pada tahun '80-an ("Dawuh") mengangkat tren masa itu yaitu memberikan piring cantik sebagai hadiah pernikahan (yang juga dialami ibu saya). Banyak cerpennya yang mengandung renungan spiritual seperti tentang ketuhanan ("Sora"), kematian, ("Dua Gagang Kembang Radiul", "Bulan Tanggal Tilu"), perbuatan dosa ("Sora", "Katumbiri"), dan kemerdekaan ("Dawuh").

Seperti dalam pembacaan buku fiksi berbahasa Sunda yang sebelumnya, saya kurang menikmati karena terbatasnya pemahaman tapi sedikit-sedikit masih dapat menangkap beberapa bagian yang menarik. Walau begitu, saya bersyukur. Kalau tidak memaksakan diri membaca buku kumpulan ini, saya tidak akan menemukan cerpen-cerpen bagus yang kapan-kapan bisa saja saya terjemahkan sebagai bahan belajar bahasa Sunda sekalian menulis kreatif. Kapan-kapan itu mungkin kalau saya sudah menuntaskan lebih banyak literatur berbahasa Sunda sehingga sudah akrab dengan kosakatanya :v

Di sini saya akan mencatat beberapa cerpen dalam kumpulan ini yang benar-benar menarik buat saya. Peringatan: saya mungkin membocorkan jalan ceritanya. 

Ngabeca (Warga, 15 September 1955)
Cerpen ini berisi curhat seorang tukang becak, menggunakan sudut pandang orang pertama. Penuturannya rada bodor, tapi dasarnya bikin terenyuh seperti dalam cerpen-cerpen Ahmad Tohari yang suka mengangkat nasib mengenaskan rakyat kecil. 

Katanya, sewaktu kecil ia hidup enak, turunan bangsawan sehingga dinamai Raden. Namun kenapa sekarang jadi begini? Tidak dijelaskan. Untung ia punya istri setia. Ia mengeluhkan susahnya menjalankan kewajiban sebagai seorang lelaki kepala keluarga. Cerita ini juga mengandung amanat agar tidak menertawakan kadar (nasib) orang lain, demikian menurut pepatah Cina yang diulang-ulangnya.
"Keur leutik dipiara ku asih, di sakola rada keras jeung di masarakat leuwih beurat." (halaman 55)
Bi Empat (Warga, 30 April 1956)
Ini cerita yang mengharukan, walaupun yang kena buat saya cuma bagian akhirnya heuheuheu. Endang diasuh sejak jabang bayi oleh Bi Empat sampai berusia sekitar 7 tahun. Anak itu mau dikembalikan kepada orang tua kandungnya. Namun di antara Endang dan Bi Empat sudah ada ikatan. Kenapa juga dahulu Endang diberikan kepada Bi Empat? Itu saya tidak mengerti. 
"Kuring geus nyaksian kaagungan anjeun, ya Maha Kawasa. Nantung di dieu, karasa sagala asa leutik. Sabenerna kuring keur ngaji. Ngulik tauhid dina kanyataan." (halaman 56)
Kawung Ratu (Mangle, Mei 1963)
Dari cerpen ini sepertinya bisa ditarik pelajaran mengenai kepercayaan dan penghidupan orang zaman dahulu, serta relasi sosial dalam masyarakat semisal rakyat dengan menak yang harus dituruti apa pun kemauannya (seperti dalam novel Baruang ka nu Ngarora). Kepercayaannya bercampur antara Islam dan animisme. Aki si tokoh utama dalam cerita ini percaya bahwa kawung yang jadi pendongkrak derajatnya itu titisan dewi atau semacam itu, sehingga disukai menak dan menjadi sumber penghidupan dia untuk seterusnya, sampai-sampai memilih untuk mengorbankan diri sendiri ketimbang tumbuhan tersebut. Kepercayaan itu meliputi uang pemberian menak, yang bukan untuk dibelanjakan melainkan dijadikan sebagai jimat. Cerpen ini yang katanya termasuk ke dalam kumpulan 10 cerpen Sunda terbaik. 
"... sagala pagawean oge kudu tamat. Hartina kudu jucung meureun, ulah satengah-satengah." (halaman 115)
Kuncen (Wangsit, 1966)
Bukan hanya menarik, cerita ini secara tidak langsung lagi kocak mengajarkan ilmu dagang/entrepreneurship sekalian menyelami dunia kepercayaan klenik.

Ceritanya mengenai Aki Ja'i yang kuncen sudah turunan, memikirkan pewaris profesinya. Ia menghendaki anaknya yang sulung, yang ternyata punya passion bukan untuk menjadi kuncen melainkan dagang dan main kecapi (enggak jauh beda lah ya sama muda-mudi jaman now yang pengin jadi entrepreneur tapi juga doyan main musik). Aki Ja'i saking sayangnya sama si anak jadilah mencoba sendiri mencari berkah di kuburan yang selama ini dijaganya. Sampai mati, tak ia dapat apa-apa. Otomatis anak tersebut lah yang menggantikan dia sebagai kuncen. Bisnis klenik ini justru berkembang karena si anak memang pintar dagang sehingga mengadakan sejumlah inovasi untuk memikat lebih banyak pelanggan, ataukah justru berkahnya itu baru terkabul belakangan? Ini soal kepercayaan, tapi menggelitik lah. Saya pikir cerita ini juga mengandung sindiran, kalimat terakhirnya seperti menyatakan bahwa tradisi ini membodohi orang.
"Umurna nu karek nincak tujuh taun, jiwana memang aya dina mangsa transisi antara fantasi budak jeung alam kanyataan." (halaman 121)
Cipanon (Mangle, 5 Mei 1969)
Ada seorang perempuan mendapat pertanda-pertanda buruk sehingga menyusul suaminya ke sawah sembari diguyur hujan. Sudah bertemu di saung, suaminya disuruh pulang. Baru jalan, saungnya disambar petir. Apakah maksudnya firasat istri lebih kuat daripada  suami? Soalnya, suami lama di sawah karena ia juga mendapat pertanda baik (dari mengamati perbintangan) untuk mulai menggarap.

Hiji Tanggal nu Dipasinikeun (Mangle, 23 November 1972)
Cerpen yang menjadi judul buku kumpulan ini ternyata kocak dan ... romantis? Ada sepasang suami istri yang menunggu 20 tahun untuk melaksanakan janji mereka, yaitu si istri mau menyisirkan rambut suaminya. Masalahnya, suaminya sudah botak sehingga akhirnya ia menggunakan ... wig.

Sebetulnya ada beberapa cerpen lainnya yang cukup menarik. Namun karena keterbatasan waktu, saya cukupkan sampai sekian.

Jumat, 19 Mei 2023

Atikan Basa Sunda Jilid 1B Pikeun Murid SD Kelas 1 Caturwulan 2

Penyusun :  Drs. Yahya Sudarya, Drs. Ano Karsana
Cetakan kedua, Mei 1996 (Edisi Revisi) 
Penerbit : PT. Sarana Panca Karya, Bandung

Dalam buku ini ada 4 Pangajaran, masing-masingnya terdapat aktivitas:
- maca,
- nulis,
- nyarita,
- ngaregepkeun (= mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh).


PANGAJARAN 1
Tema: Lingkungan di Jero Imah jeung di Luar Imah
Bab ini mengajarkan perilaku menjaga kebersihan di lingkungan sekitar rumah, nama peralatan kebersihan dalam bahasa Sunda. Ada juga pengenalan antara bahasa hormat dan tidak hormat, serta dongeng kuya balap jeung monyet duanana maké peci.


Bagian harti kecap mengajarkan kata-kata bersinonim dalam bahasa Sunda. Namun tidak ada keterangan apakah yang satu lebih halus daripada yang lain, ataukah keduanya sama saja. Contohnya sebagai berikut.

pakarangan = buruan
tutuwuhan = tatangkalan
runtah = babala
beberesih = ngaberesihan
getol = rajin

PANGAJARAN 2
Tema: Lingkungan Tempat Diajar (Sakola)
Isi pelajarannya tentang menjaga kebersihan kelas dan sekolah, perabotan di kelas, serta macam-macam minuman. 

Di halaman 23 ada latihan menggunakan imbuhan -ar, tanpa ada penjelasan lebih lanjut mengenai fungsinya. Yah, namanya juga buku pelajaran buat kelas 1 SD; yang penting tahu cara pakainya :v Saya tebak-tebak imbuhan ini untuk menyatakan subjek jamak.

Misal, 
dariuk kecap asalna diuk (= duduk)
narulis kecap asalna nulis (= menulis)
maraca kecap asalna maca (= membaca)
arulin kecap asalna ulin (= bermain)
arindit kecap asalna indit (= pergi)

Sebatas pengetahuan saya, dariuk, misalnya, digunakan ketika yang duduk ada banyak orang. Contoh: barudak keur dariuk. Artinya, anak-anak lagi pada duduk. Barudak keur narulis. Anak-anak lagi pada menulis. Kalau dalam bahasa Indonesia, biasanya saya menggunakan kata "pada" sebelum kata kerja untuk menyatakan pelakunya ada banyak. Menurut KBBI, "pada" di antaranya merupakan kata cakapan yang berarti "sama-sama (untuk menyatakan bahwa yang melakukan banyak)". Jadi, dalam bahasa Sunda, "pada" itu digantikan dengan menyelipkan imbuhan -ar pada kata.

PANGAJARAN 3
Tema: Lingkungan Tatangga
Bab ini mengajarkan istilah-istilah di sekitar tempat tinggal berkenaan dengan lingkungan sosial. Di bacaan awal ada cerita tentang tetangga baru yang memiliki anak yang membutuhkan teman, sehingga sebaiknya mengajak dia ikut bermain. Karunya mun teu geuwat (= cepat-cepat, lekas) diwawuhan ....

Ada nama-nama permainan dan latihannya menyuruh sebutkan 5 nama teman bermain. Saya menyebutkan 2 dari lingkungan rumah (mereka tinggal di RT sebelah) dan 3 dari sekolah. Tentu sekarang saya sudah tidak berkontak lagi dengan kelima orang itu, hehehe :v Nama-nama permainannya adalah yang dilakukan bersama-sama di luar rumah (kecuali untuk layangan bisa dilakukan sendiri, soalnya gambarnya anak yang lagi sendirian wkwk). Entah apakah buku semacam ini pada zaman sekarang akan menyertakan permainan gadget yang dilakukan sendirian di dalam rumah. Misalkan, ketimbang ucing-ucingan, sondah, kaléci, yang disebutkan malah Mobile Legend, TikTok, dan entah apalagi kaulinan nu dipikaresep barudak jaman now.

Kemudian ada nama-nama benda dan kegiatan di pekarangan. Ada beberapa yang saya tidak tahu seperti nyeuseup, bangbara, surawung, landong, iuh. Yeah, saatnya memanfaatkan kamus.

bangbara = kumbang hitam
surawung = kemangi
landong = obat
iuh = teduh

Nyeuseup saya tidak menemukannya di keempat kamus Sunda yang tersedia di rumah. Dari konteks kalimatnya, bangabara keur nyeuseup kembang, tampaknya itu berarti mengisap.

Kemudian ada latihan menceritakan isi gambar serta dongeng cukup panjang lagi-lagi tentang kuya jeung monyet tapi kali ini mereka tidak pakai peci. Dongeng tersebut sejak dini (karena ini buku pelajaran untuk anak kelas 1 SD) sudah mengajarkan tentang kejamnya dunia, bahwa ada saja pihak yang tak dapat dipercaya karena hendak menjerumuskan pihak lainnya ke dalam petaka. Ya, saya masih bisa menangkap garis besar cerita walau tidak setiap kata saya mengerti. 

PANGAJARAN 4
Tema: Mikanyaah Sasatoan
Bab ini diawali dengan bacaan ringan mengenai kunjungan Dani dkk ke kebun binatang. Kemudian ada pengertian istilah-istilah yang terdapat dalam bacaan, nama-nama hewan dalam bahasa Sunda, latihan menulis (menyalin kata), ragam sapaan dan basa-basi, ditutup dengan kawih "Prangpring", berlanjut ke "ULANGAN UMUM CAWU 2".

Ada berbagai versi "Prangpring" di YouTube yang liriknya lain dengan yang terdapat dalam buku ini. Saya sematkan saja satu video yang disertai penjelasan panjang di deskripsinya mengenai pengertian nyanyian ini. 


Tidak seperti dengan bahasa-bahasa lain, saya merasa mudah alamiah mengucapkan kata-kata bahasa Sunda seperti ketika menggunakan bahasa Indonesia saja (malah tepatnya, bahasa Indonesia saya berdialek Sunda) walau enggak setiap kata saya paham artinya. Untuk bahasa Jawa, saya kurang medhok alias tidak alamiah mengucapkannya, mungkin sebagaimana orang Jawa juga kurang bisa menghilangkan medhok-nya ketika berbahasa Indonesia. 

Senin, 27 Maret 2023

Atikan Basa Sunda Jilid 1A Pikeun Murid SD Kelas 1 Caturwulan 1

Penyusun : Drs. Yahya Sudarya, Drs. Ano Karsana
Cetakan kedua, Mei 1996 (Edisi Revisi)
Penerbit : PT. Sarana Panca Karya, Bandung 
 
Saya dibesarkan di keluarga yang tidak berbahasa Sunda. Keluarga saya dari kedua belah pihak adalah keturunan Jawa yang sudah cukup lama bermukim di Bandung. Percakapan di keluarga menggunakan bahasa Indonesia. Karena tinggal di daerah yang berbahasa Sunda, bahasa Indonesia saya beraksen Sunda. 

Pada akhirnya, saya kurang mengerti baik bahasa Jawa maupun bahasa Sunda. Saya mungkin paham sedikit ketika mendengarkan, tapi tidak semua kata saya ketahui artinya dan saya juga kagok mau berbicara dalam kedua bahasa itu. Apalagi kedua bahasa ini ada hierarkinya, sehingga bagi yang kurang menguasai sepertinya lebih aman menggunakan bahasa persatuan--bahasa Indonesia. Nyatanya dalam pergaulan sehari-hari di kota besar dengan teman dan kenalan dari beragam latar belakang memang menggunakan bahasa Indonesia saja sudah cukup.

Belakangan saya terpikir untuk kembali mencoba belajar kedua bahasa ini lagi sedikit-sedikit. Saya menginsafi bahwa ternyata saya masih lebih mengerti bacaan dalam bahasa Inggris ketimbang dalam kedua bahasa itu 😅 Untuk bahasa Sunda, selain menyimak video terkait di YouTube, saya membaca lagi buku pelajaran sewaktu sekolah mulai dari kelas 1 SD caturwulan 1.


Buku ini sepenuhnya berbahasa Sunda. Tidak ada definisi kata ke dalam bahasa Indonesia, adanya dari Sunda ke Sunda lagi misalkan dari bahasa akrab (loma) ke bahasa halus (lemes). Saya sendiri menemukan di dalam buku ini banyak tulisan tangan ibu saya memberi arti kata-kata dalam bahasa Indonesia. 

Tebal buku ini hanya 46 halaman. Di dalamnya ada empat pelajaran. Tiap pelajaran umumnya berisi aktivitas:
- maca (membaca),
- nulis (menulis) termasuk nulis ngantet (menulis huruf sambung),
- nyarita,
- ngaregepkeun.

Saya dengar anak-anak jaman now baru masuk SD harus sudah pandai calistung? Karena ini buku pelajaran untuk anak kelas 1 SD medio '90-an, maka masih ada pengenalan huruf serta latihan membaca dan menulis. Saya perhatikan bahwa ada perbedaan dalam aksara Sunda, jumlah hurufnya lebih banyak. Ada konsonan ng, ny, dan untuk vokal ada eu serta huruf e yang di atasnya ada garis itu. 

Di aktivitas maca terdapat pengenalan dan pengertian kosakata dalam bahasa Sunda. Di pelajaran pertama terdapat pancakaki (anggota keluarga). Di pelajaran kedua, benda-benda di kelas serta makanan dan minuman. Di pelajaran ketiga, aktivitas sehari-hari oleh anggota keluarga serta anggota badan. Di pelajaran ini mulai diperkenalkan penggunaan kata halus untuk orang yang lebih tua. Di pelajaran keempat, kosakata yang berkaitan dengan kesehatan dan kembali tentang makanan (mungkin karena penyakit itu timbulnya bisa karena makanan). 

Nyarita seperti pelajaran membaca lagi, ada yang untuk didialogkan.

Ngaregepkeun seperti pelajaran menyanyi karena ada lirik lagu "Cingcangkeling" dan "Tokecang", tapi ada juga yang berupa pemahaman bacaan (teks disertai pertanyaan-pertanyaan).

Buku ini ditutup dengan soal untuk ulangan umum cawu 1.

Memang buku ini untuk anak-anak dengan bimbingan guru serta orang tua. Tanpa bimbingan dari siapa-siapa, saya yang sudah agak besar ini perlu mencerna sendiri maksudnya kata mana yang halus dan mana yang akrab sambil sedikit-sedikit buka kamus atau googling. 

Minggu, 09 Oktober 2022

Buku Penunjang Belajar Bahasa Jepang Bersama Kawan-kawan :D


Pintar Jepang untuk Anak SD

Penulis: Muryani J. Semita

Penerbit: Kaktus, Yogyakarta

ISBN: 978-602-XXX-XXX-X (Versi Elektronik: XXXX)


Di buku ini saya mendapat penjelasan tentang cara membaca hiragana yang mungkin sebetulnya ada di Duolingo. Tapi saya malas membaca materi yang ada di Duolingo dan pengin langsung ke latihan huruf saja, wkwk. Lagian sepertinya sebelum langsung ke pengajaran cara baca, saya merasa lebih suka jika mengenal terlebih dahulu semua huruf tersebut sebagai suatu overview atau gambaran menyeluruh mengenai apa yang bakal dipelajari ke depan. 

Sebelumnya dikira cara mengucapkan bahasa Jepang itu gampang, enggak kayak bahasa Inggris. Tapi buku ini menerangkan bahwa ternyata cara mengucapkan bahasa Jepang tidak seperti yang tertulis juga. Ada huruf yang tidak dibaca dan ada pula yang ditambahkan. Misalkan "enpitsu" (pensil) dibaca "empitsu", "desu" dibaca "des", dan seterusnya.

Ada 26 pelajaran dalam buku ini. Kalau ditinjau sepintas, tiap bab kurang lebih berisi perulangan cara yang itu-itu saja: ada pengenalan kosakata menurut topik tertentu serta latihan menulis huruf. Kadang-kadang ada latihan membaca kalimat juga, tanpa mesti memahami tata bahasa terlebih dahulu. Tampaknya buku ini memang untuk dibaca sedikit-sedikit, misalnya 1 pelajaran per hari atau per minggu, tapi selama itu benar-benar sembari menghafalkan kata, kalimat, dan huruf yang diberikan berikut cara menuliskannya berulang-ulang. Dengan begitu, isi buku ini dapat dikuasai dalam sebulan sampai setengah tahun :v 

Kalau belajar sendiri, enak pakai Duolingo. Kalau ada guru apalagi teman-teman lain, sepertinya buku ini sangat memadai untuk digunakan sebagai buku penunjang pembelajaran. Kalau untuk anak SMP, sepertinya bisa ditambahkan sedikit pelajaran mengenai tata kalimat sederhana dan kanji. 

Yang kurang dari buku ini paling-paling kurang warna dan ilustrasi. Selain itu, menurut blurb di sampul belakang, ada "latihan menulis kata-kata dengan huruf kanji dalam lembar latihan unik", tapi saya tidak menemukannya di versi yang disediakan Ipusnas ini. Lagian di pendahuluan, bukannya disebutkan bahwa buku ini enggak sampai memperkenalkan kanji. Jadi bingung saya, wkwkwk.

Kamis, 11 Agustus 2022

Buku Aktivitas Belajar Bahasa Jepang untuk Anak 6-10 Tahun

Wono Weenie Have Fun with Japanese

Penyusun: Denis Toruan dan Tim Kesaint Blanc

Penerbit Kesaint Blanc, Jakarta

Cetakan kesatu, April 2014

48 halaman

ISBN 978-979-593-679-4


Buku ini merupakan buku aktivitas sekalian belajar bahasa Jepang yang diperuntukkan bagi anak usia 6-10 tahun. Melalui buku ini, anak didorong untuk berlatih dalam membaca, menulis, menggambar, mewarnai, dan berbagai permainan lain seperti menarik garis dan menemukan kata. 

Pelajaran bahasa Jepang di dalamnya berfokus pada pengenalan kosakata sehari-hari, misalnya nama-nama anggota keluarga, anggota badan, angka, bagian-bagian rumah, usia, warna, cuaca, makanan, buah-buahan, minuman, hari, bulan, musim, hewan, sampai hobi. Petunjuk dan pertanyaannya dalam bahasa Indonesia, tetapi anak dituntun agar menjawab dalam bahasa Jepang yaitu kosakata yang sedang dipelajari menurut topik tertentu. 

Buku ini juga mengajarkan kalimat-kalimat dasar seperti pertanyaan-pertanyaan umum menyangkut nama, umur, jenis kelamin, jumlah barang, dan seterusnya berikut cara menjawabnya, sapaan, ucapan selamat tahun, dan sebagainya, tetapi belum sampai ke tata bahasa. Anak sekadar melengkapi kalimat-kalimat itu dengan kosakata yang disediakan. 

Sebagai reward, orang tua bisa membacakan kata-kata penyemangat dalam bahasa Jepang sebagaimana yang tertera di bawah halaman setiap bab. Contohnya seperti, "Sugoi!" ("Hebat sekali!"), "Ii desu ne!" ("Bagus sekali!"), "Oishii!" ("Enak sekali!"), "Kakkoii!" ("Keren!"), "Umai!" ("Kamu sangat jago!"), "Jyouzo desu ne!" ("Sangat pintar!), "Seikou!" ("Berhasil!"), "Hontou ni tanoshii!" ("Menyenangkan sekali!"), "Tsutzukimashou!" ("Yuk teruskan!"), "Subarashii!" ("Hebat sekali!"), "Ganbatte!" ("Semangat!"), "Kawaii!" ("Sangat imut!"), "Yoi!" ("Bagus sekali!") .... 

Kata-kata berbahasa Jepang itu ditulis dalam aksara Jepang. Namun buku ini belum sampai mengenalkan aksara Jepang yang bermacam-macam lagi banyak banget itu *nanti anaknya muntah duluan.

Selain itu, di akhir buku ada sertifikat yang bisa diisi sendiri lo! Tentu saja kamu baru boleh mengisinya setelah mengerjakan semua aktivitas di buku ini! *orang tua strict mode: on

Sepertinya buku ini menyediakan fitur-fitur tambahan seperti digital pen dan stiker. Namun karena saya cuma pinjam di Ipusnas, saya tidak memperolehnya :v

Jumat, 01 Maret 2019

Belajar Perubahan Kata Kerja dalam Bahasa Perancis Lewat Lagu yang Adalah Kita

"Petrol Pop" merupakan soundtrack film Perancis produksi 1972 Moi Y' En A Vouloir Des Sous. Karena saya bukan penggila film dan malas berburu sampai ke situs bajak laut belum lagi cari subtitle yang bagus pembahasan film bisa makan satu entri tersendiri, maka baiklah kita lewati itu dan langsung pada pelajaran yang bisa kita dapatkan dari mendengarkan lagu ini saja.

Lagu ini bisa diakses di Youtube. Sejak diunggah pada 10 Desember 2008 oleh tuberider1976, lagu ini baru diakses sekitar 100.000 kali pada saat entri ini dibuat (Maret 2019). So, it's not that song everyone listens to. Hm, feels so edgy, rrright? Check it out, then!




Ada juga versi yang lebih modern, yang baru ditonton oleh jauh lebih sedikit orang.



Saya pribadi lebih suka yang lawas, rasanya somehow lebih epik or something like that lah, wkwkwk.

Lirik lagu ini sederhana saja, seperti yang dengan baik hati dicantumkan komentator Isaac Escargot sebagai berikut ...

Le pétrole, oh... 


Moi, moi j'aime le pétrole 
Tu aimes le pétrole 
Il aime le pétrole 
Nous aimons le pétrole 
Vous aimez le pétrole 
Ils aiment le pétrole 


J'aime ça le pétrole
Je ferais n'importe quoi pour du pétrole 


Moi, moi j'aime le pétrole 
Tu aimes le pétrole 
Il aime le pétrole 
Nous aimons le pétrole 
Vous aimez le pétrole 
Ils aiment le pétrole 


Je suis capable de tout pour du pétrole 


Moi, j'aimerai le pétrole 
Tu aimeras le pétrole 
Il aimera le pétrole 
Nous aimerons le pétrole 
Vous aimerez le pétrole 
Tu aimeras ton prochain comme toi-même 


Pour un homme qui a du pétrole, je flanche... je fonds... je consume... j'explose... je fioule... 
[Choeur] Pééééétrole ! (x5)
... sekalian dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris:

english : pétrole = oil/petroleum. 


I love oil 
You love oil 
He loves oil 
We love oil 
You love oil (plural) 
They love oil 


Oil, I'm loving it 
I would do anything for oil 


I love oil 
(...) 


I'm capable of all for oil


I will love oil 
You will love oil 
(...) 
You shall love your neighbor as yourself 


For a man who has oil, I flag... I melt... I burn... I explode... I fuel 
(choir : petroooooleum)
Seperti yang bisa kita lihat, pada dasarnya lagu ini menunjukkan perubahan kata kerja dalam bahasa Perancis dengan pola kalimat sederhana:


Subjek 
(pronomina Aku, Kamu, Dia, Kita, Kalian, Mereka) 
+
Predikat 
(verba Cinta) 
+
Objek 
(nomina Petrol)

Tentu saja, dengan menyimak lagu ini baik-baik sekalian membaca liriknya, kita juga bisa belajar cara mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Perancis tersebut, yang ternyata, sepertinya, ... tidak serada mudah bahasa Jerman

Melalui lagu ini juga kita dapat belajar untuk mengucapkan: 
Le pétrole, oh... 
dan
J'aime ça le pétrole
dan
Je ferais n'importe quoi pour du pétrole 
dan
Je suis capable de tout pour du pétrole 
dan
Pour un homme qui a du pétrole, je flanche... je fonds... je consume... j'explose... je fioule... 
dengan seksi ...

... mendesah parau-parau gimana gitu.

Tentu saja, kalau ditilik lebih lanjut, lagu ini lebih daripada sekadar pelajaran bahasa Perancis mengenai perubahan kata kerja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, petrol adalah bahan bakar yang terbuat dari campuran gas alam dan petroleum atau disebut juga bensin. Bahan bakar jenis ini digunakan begitu banyak manusia di seluruh muka bumi untuk mendukung kegiatannya sehari-hari. Lagu ini merefleksikan ketergantungan tersebut, yang, boleh dibilang, sudah sampai taraf adiktif, enggak sih? (Coba deh baca artikel ini: "Addiction to industrialisation"). Maksudnya, bisakah seseorang yang terbiasa bepergian dengan sepeda motor atau mobil membayangkan seterusnya beralih kepada sepeda, jalan kaki, naik delman atau unta saja, begitu? Bahkan, sekalipun kita bukan pengguna kendaraan bermotor, barang-barang dalam kemasan plastik yang kita peroleh dari toko-toko itu diantar dengan mobil-mobil berkontainer, bukan? Mungkinkah kita hidup tanpa bensin sama sekali, memperoleh barang kebutuhan sehari-hari hanya dari pekarangan sendiri? Ada yang bilang, tidak ada yang mustahil. Bisa saja, asal kita pindah ke hutan. Bisa saja, kalau kita tidak kemudian digusur karena hutannya hendak dijadikan lahan produksi bahan bakar jenis lain ... katakanlah minyak kelapa sawit. Sepertinya akan terlalu luas kalau kita menyinggung juga tentang ketergantungan kita pada minyak kelapa sawit. Belum lagi jika kita bicara tentang sifat petrol yang tidak dapat diperbarui serta dampaknya terhadap lingkungan hidup seperti polusi. Jadi, kenapa kita bergantung kepada sesuatu yang pada akhirnya malahan merusak diri kita sendiri?

Bagian lagu ini yang dibawakan dengan kor seakan-akan merefleksikan banyaknya orang yang bergantung kepada petrol. Adapun bagian lainnya seolah-olah mengesankan bahwa ketergantungan terhadap petrol itu seksi. Coba, mana yang lebih seksi di antara dua ini: turun dari mobil ber-AC yang berbahan bakar petrol dengan riasan dan pakaian trendi (yang didistribusikan melalui ... tahulah) atau dari sepeda seken yang berbahan bakar singkong rebus dalam keadaan kucel oleh debu dan keringat?

Dari baik bentuk maupun isi lirik (oh, andai saya pakar linguistik dalam membedah lirik!) hingga penyampaian, lagu ini menyampaikan kenyataan tentang aku, kamu, dia, kita, kalian, dan mereka. Lagu ini adalah tentang kita semua. Lagu ini adalah kita.
J'aime ça le pétrole
Je ferais n'importe quoi pour du pétrole 

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain