Ruang
Kamis, 09 April 2026
Randa Bengsrat (spoiler Roman Sunda)
Rabu, 04 Maret 2026
Sepintas tentang Beberapa Cerita Samsoedi
Minggu, 26 November 2023
Pelajaran Mengarang Cerpen dari Us Tiarsa
![]() |
| Gambar screenshot dari Instagram. |
Beliau bermukim di komplek perumahan wartawan yang ada di Baleendah. Kami bertolak dari Perpustakaan Ajip Rosidi selepas zuhur, merayap dalam kemacetan selama sekitar 1,5 jam; katanya hari itu ada 7 universitas sedang menyelenggarakan wisuda, salah satunya Telkom University yang berlokasi kurang lebih di tengah-tengah perjalanan. Tiba menjelang pukul 2 siang, kami baru kembali dari sana setelah azan magrib. Acara utamanya sendiri hanya sekitar 2 jam, setelah itu keramahan tuan rumah menjamu kami dengan yamin manis.
Acara berlangsung dalam bahasa Sunda, yang secara umum masih bisa saya pahami walau adakalanya menanyakan arti kata kepada teman di sebelah. Dalam 2 jam itu, tentu banyak poin yang disampaikan oleh Abah Us Tiarsa; beberapa di antaranya dipantik oleh pertanyaan dari kawan-kawan peserta. Kami mendengar tentang riwayat kepenulisan/kewartawanan beliau, proses di balik buku-bukunya, perkara bahasa jurnalistik, anekdot mengenai tokoh-tokoh yang dikenal, masukan dalam menulis, dan sebagainya.
Poin yang paling menarik bagi saya adalah proses kreatif di balik Halis Pasir, kumpulan cerpen yang sudah dibaca-tuntas-dan-ulas itu. Kebetulan, saya sendiri dalam pergulatan untuk menulis cerpen (atau karangan fiksi apapun) lagi. Berikut beberapa masukan beliau yang tercatat.
Ketika penulis menganggap karyanya yang terdahulu jelek tapi toh diakui media, itu berarti ia telah mengalami kemajuan.
Cerpen-cerpen di Halis Pasir pernah dimuat di Mangle dan mendapat penghargaan. Namun, dengan menyatakan yang di atas itu, apakah beliau punya anggapan sendiri mengenai cerpen-cerpennya itu? Sepertinya saya kurang menangkap penjelasan beliau soal ini. Kalau boleh saya kaitkan dengan pengalaman saya sendiri, selama saya masih menganggap karangan-karangan yang terdahulu rada-rada lumayan, itu berarti saya masih mandek atau bahkan mengalami kemunduran XD
Cerita yang isinya kebetulan belaka tidak bernilai sastra.
Beliau mencontohkan dengan menceritakan suatu kejadian yang menimpa seorang pedagang di pinggir jalan. Pedagang itu diminta pindah lapak ke tanah kosong, karena tempatnya semula dianggap dapat membahayakan. Namun, setelah pindah ke tanah kosong itu, pedagang tersebut malah tewas ditabrak kendaraan yang entah bagaimana menyelonong ke sana. Itu suatu kejadian menarik, tapi berunsur kebetulan yang jika dituliskan menjadi cerpen menurut Abah Tiarsa teu nyastra.
Masukkan elemen kejutan (plot twist).
Dapat dilihat contohnya dalam Halis Pasir, banyak cerpen beliau dalam buku tersebut yang mengandung unsur kejutan.
Setiap unsur dalam cerita harus ada alasannya.
Kamis, 19 Oktober 2023
Bahasa Indonesia, Bahasa Kita: Akan Diganti dengan Bahasa Inggris? -- Sekumpulan Pandangan dan Pendapat
![]() |
| Gambar di-screeshot dari Ipusnas. |
- bahasa daerah,
- bahasa nasional (Indonesia),
- bahasa asing (di antaranya Inggris, yang paling mendominasi).
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Instagram. |
Kamis, 05 Oktober 2023
Contoh The Gift Economy dalam Cerpen Anak
Tak Usah Kau Takut
Oleh Ny Widya Suwarna
Bobo No. 47/XXIX/02
Marta bergegas pulang ke
rumahnya. Ia baru saja belajar bersama di rumah Sisi. “Apakah hari ini lemet
buatan Mama laku terjual?” pikir Marta gelisah. Rumah Marta adalah sebuah
penginapan kecil. Namun akhir-akhir ini jarang ada tamu menginap. Padahal
penghasilan Mama berasal dari tamu-tamu itu. Ayah Marta sudah meninggal. Hari
ini Mama baru akan mencoba menjual lemet atau ketimus. Makanan kecil ini
terbuat dari singkong, diberi gula merah dan kelapa, dibungkus daun pisang dan kemudian
dikukus.
Ketika Marta masuk ke rumah,
tampak Mama dan Mbak Eni sedang duduk di kursi meja makan. Mama bertopang dagu,
sementara Mbak Eni duduk membisu. Di atas nampan di meja masih ada tumpukan
lemet.
“Halo, Ma, Marta sudah
pulang. Lo, kok lemetnya masih banyak?” tanya Marta, lalu duduk di sisi Mama.
Mbak Eni menghela napas.
“Tadi Mbak bawa 50 bungkus.
Mbak sudah keliling kompleks, tapi hanya laku 25 buah. Masih ada 25 buah lagi.
Banyak orang tak mampu beli kue. Mungkin mereka bikin sendiri!” kata Mbak Eni.
“Yaaa, baru jualan satu hari,
kok hasilnya payah!” seru Marta kecewa.
Mama tersenyum dan berkata, “Sudah,
tak usah kecewa. Kita mengucap syukur pada Tuhan karena sudah 25 buah lemet
laku. Mbak Eni pergi ke warung saja dan beli beras 1 kg. Nanti kalau ada tukang
sayur kita beli bayam dan jagung. Besok kita masak bubur!”
Kemudian Mama menyanyi
pelan-pelan, “Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”
Marta ikut menyanyi. Ada
perasaan hangat mengalir di hatinya. Tuhan selalu menolong kalau Marta, Mbak
Eni, dan Mama menghadapi kesulitan.
Selesai menyanyi, Marta dan
Mama saling berpandangan dan tersenyum. Mama bangkit dan mengambil lemet serta
memisah-misahkannya di meja.
“Marta, tolong antarkan 5
buah pada Ibu Sakri. Dan 5 buah lagi untuk Tante Ina. Yang 5 buah terserah kamu
mau berikan pada siapa. Yang 10 buah akan kita makan sendiri!” kata Mama. Marta
pergi ke dapur, mengambil kantung-kantung plastik dan memasukkan lemet-lemet
tadi.
Marta berjalan ke luar rumah
sambil berpikir-pikir. Mula-mula lemet yang 5 buah akan diberikannya pada
kawannya, Evi, yang tinggal di ujung jalan. Tapi, kemudian diurungkan niatnya.
Belum tentu Evi suka singkong. Mungkin lebih baik ia berikan pada tukang-tukang
ojek yang mangkal di ujung kompleks. Tapi ah, siapa tahu ada orang lain yang
lebih cocok untuk menerima lemet itu.
Marta menyelesaikan tugasnya
mengantar lemet pada Bu Sakri dan Tante Ina. Marta terharu ketika anak-anak Bu
Sakri menyambutnya gembira. Mereka berseru, “Horeee, ada kueee!” lalu mereka
segera memakan lemet bawaannya.
Tante Ina lain lagi. Ia
berkata, “Wah, lagi krismon bagi-bagi kue! Ini bukan untuk dijual?”
“Maunya sih dijual, tapi cuma
laku sebagian!” kata Marta. Kemudian Tante Ina memberikan 5 bungkus mi instant.
Ketika berjalan pulang Marta
masih bingung. Lemet yang 5 buah itu mau diberikan pada siapa? Ah, akhirnya
Marta ingat tukang tambal ban, Pak Amin. Ia pun belok ke kanan. Di bawah pohon
besar di ujung jalan, di sanalah tempat Pak Amin mangkal.
“Hei, nona kecil, sini dulu!”
tiba-tiba terdengar suara dari arah kanan. Oom Martin yang gemuk pendek
melambai-lambaikan tangan. Marta masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba saja hatinya
tergerak untuk memberikan lemet itu pada Oom Martin.
“Ini untuk Oom!” katanya
sambil memberikan bungkusan berisi lemet.
“Terima kasih, terima kasih.
Kamu tahu saja Oom lagi lapar. Beta baru pulang memancing dan Tante belum
pulang dari kantor!” kata Oom Martin.
“Duduklah dulu. Oom mau makan
kue ini!” kata Oom Martin. Marta duduk di teras dan Oom Martin segera melahap
lemetnya. Satu buah, dua buah, tiga buah … dan Marta berseru,
“Sisakan untuk Tante, Oom!”
Oom Martin tertawa
terkekeh-kekeh. “Beta sedang lapar. Tuhan baik kirim nona kecil bawa lemet.
Bilang sama mamamu, besok Oom pesan 20 lemet untuk Tante. He he he, biar dia tidak
marah. Marta, tolong ambilkan Oom minum. Ambil sebotol air kulkas dan gelasnya!”
kata Oom Martin dengan riang. Marta menurut. Dalam hati ia merasa geli. Oom
Martin ini lucu.
Sesudah Oom Martin kenyang
makan dan minum ia berkata, “Tadinya Oom panggil kamu mau suruh masak supermi.
Tapi, sekarang Oom sudah kenyang. Terima kasih, ya. Tunggu sebentar, Oom mau
ambil ikan untuk mamamu!”
Oom Martin masuk ke dalam.
Kemudian ia keluar membawa seekor ikan tenggiri yang diikat dengan tali rafia.
“Terima kasih, Oom, Mama pasti
senang!” kata Marta sambil menerima ikan itu. Marta lalu pamitan. Namun saat
Marta berjalan keluar halaman. “Marta! Hei nona kecil … sini dulu!” panggil Oom
Martin. Marta yang sudah di jalan kembali lagi. Ada apa, pikir Marta.
“Ini uang untuk bayar lemet
20 buah. Kirim besok siang, ya!” Oom Martin memberikan uang Rp 10.000.
“Kembalinya besok, ya Oom!”
kata Marta.
“Ah, kembalinya untukmu
sajalah. Oom tahu kamu anak Mama yang baik!” kata Oom Martin. Marta mengucapkan
terima kasih.
Di jalan menuju rumah, tak
putus-putus Marta bersyukur pada Tuhan. Siapa sangka ia bertemu Oom Martin yang
baru pulang mancing ikan. Siapa sangka Oom Martin pesan lemet dan Tante Ina
memberikan mi instant. Siapa sangka anak-anak Bu Sakri menyambut pemberian
sederhana itu dengan riang. Sungguh Tuhan amat baik. Dalam hati Marta kembali
menyanyi dengan riang,
“Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”
BONUS: BAHASA JAKSEL KID 2000-AN
(Dari majalah yang sama, sebelum sampai pada cerpen di atas, ada artikel menarik.)
Kamis, 27 Juli 2023
Persoalan-persoalan dalam Belajar Bahasa Sunda dari Sudut Pandang Orang Bandung yang Bukan Asli Sunda
Kamis, 13 Juli 2023
Atikan Basa Sunda Jilid 1C Pikeun Murid SD Kelas 1 Caturwulan 3
Kamis, 29 Juni 2023
Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, dalam Pembahasan Klub Buku Laswi
Menyambung pembacaan Hiji Tanggal nu Dipasinikeun, buku ini telah dibahas di klub.
![]() |
| Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Klub Buku Laswi dapat dilihat di Instagram biblioforum atau lawangbuku. |
Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk memperjelas hal-hal yang tidak jelas bagi saya ketika membaca sendiri kumpulan cerpen berbahasa Sunda tersebut, dengan menanyakan langsung kepada yang membahas.
Yang membahas, Erlangga, adalah mahasiswa jurusan Bahasa Sunda UPI. Ia tidak mengalami kendala bahasa dalam membaca kumpulan cerpen ini. Yang menjadi kendalanya hanyalah memahami logika pengarang cerpen yang kadang-kadang ajaib, misalkan ada serabut akar pohon yang dapat berbicara. Mengetahui itu, berarti saya sendiri mengalami dua kendala: 1) bahasa, 2) logika.
Dalam tulisan ini, saya akan mengangkat beberapa cerpen yang tadinya tidak jelas bagi saya tapi sekarang menjadi jelas atau sudah cukup jelas lalu menjadi makin jelas. Sayangnya, saya akan membocorkan jalan cerita karena untuk sambil dipikirkan maksudnya.
Katumbiri (Mangle, April 1959)
Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya dapat tangkap dari cerita ini adalah mengenai kenangan akan masa kecil yang awalnya suci tetapi mulai berdosa sejak mengintip bidadari waktu turun mandi. Ia mengintip bidadari dengan maksud mencuri kainnya. Terpengaruh oleh dongeng yang diceritakan padanya, ia percaya bidadari bisa terbang dan dengan begitu ia bisa minta diambilkan layangan putus sebagai syarat mengembalikan kain.
Karena pemahaman yang terbatas, saya kira ceritanya cuma itu. Ia merenungkan perbuatan itu yang dijadikannya rahasia, sedang yang ditampakkannya kepada orang lain yang baik-baik saja. (Bagian ini terasa menyindir perilaku manusia pada umumnya).
Setelah dijelaskan Erlangga, ternyata konsekuensi dari perbuatan si tokoh utama sangatlah serius. Yang dianggapnya sebagai bidadari sebenarnya merupakan manusia perempuan biasa yang lagi mandi di kali. Ketika ada banjir, teman-temannya segera beranjak dari kali. Namun perempuan itu tidak bisa pergi karena kebingungan mencari kain penutup tubuhnya. Akibatnya, ia pun keburu terbawa hanyut oleh air bah.
Mengetahui ceritanya ternyata seperti itu, saya sendiri jadi terkejut. Bisa dibayangkan dampak kejiwaan yang dialami si tokoh utama setelah menyadari perbuatannya itu setelah ia dewasa. Bisa dikatakan, secara tidak langsung, ia telah menghilangkan nyawa orang sekalipun pada waktu itu ia masih kecil--belum mengerti bahwa perbuatannya dapat mengakibatkan konsekuensi tertentu bahkan fatal.
Kawung Ratu (Mangle, Mei 1963)
Secara keseluruhan, alur cerpen ini dapat saya tangkap. Namun ada beberapa hal yang terlewatkan oleh saya karena kendala bahasa itu.
Yang pertama menyangkut kepercayaan. Sewaktu menanam kawung, orang mesti hafal melakukannya sambil menghadap ke mana dan arah tersebut mesti selalu jadi patokannya ketika merawat tumbuhan itu. Kemudian jimat yang diberikan menak kepada si Aki kemudian ia masukkan ke dalam batang kawungnya.
Yang kedua menyangkut latar cerita yang sempat menjadi topik di antara pembahas dan teman-temannya sesama mahasiswa Bahasa Sunda. Cerita ini diperkirakan terjadi dari sebelum sampai sesudah Kemerdekaan. Ketika ada menak yang meminta produk kawung Aki, kemungkinan peristiwa itu terjadi sebelum Kemerdekaan. Namun setelah Kemerdekaan, pemimpin Aki bukan cuma sang menak melainkan ada pula dari Desa. Ketika keduanya sama-sama meminta Aki melakukan hal yang berbeda pada kawungnya, ia menjadi bingung dan tidak bisa memutuskan mana yang harus dituruti sehingga memutuskan untuk menggantung diri saja.
Dari cerpen ini juga kita dapat mempelajari sebentuk kearifan lokal. Aki memperlakukan kawungnya sebagai bukan sekadar komoditas untuk dimanfaatkan, melainkan sebagai sesama makhluk yang juga patut dihargai.
Dehem (Mangle, Februari 1964)
Dalam pembacaan saya sendiri, yang saya tangkap cuma ada lelaki yang mau ke dukun beranak karena istrinya akan melahirkan sehingga ia harus melewati hutan bambu pakai obor. Tahu-tahu ada kekasihnya dahulu yang kini sudah jadi janda sehingga tebersit CLBK tetapi sepanjang jalan mereka cuma saling berdeham.
Rupanya dukun beranak itulah mantan kekasih si suami. Karena istrinya akan segera melahirkan, si lelaki mencari dukun beranak. Kebetulan dukun beranak yang ditemukannya itu adalah mantan kekasihnya. Ketika ia hendak mengantar pulang sang dukun, keduanya melewati hutan bambu yang dahulu menjadi tempat pacaran mereka sehingga teringatlah segala kenangan bersama tetapi hanya dapat mengutarakannya dengan berbalas deham ... =_=;
Kuncen (Wangsit, 1966)
Cerita ini dapat saya ikuti, tapi memang ada yang kurang jelas mengenai "kandil emas".
Rupanya Aki Ja'i sang kuncen "menjual" kepercayaan mengenai berkat berupa "kandil emas". Saya kira triknya seperti undian berhadiah. Dengan pergi ke makam dan melakukan berbagai ritual, para peziarah seperti sedang mengajukan undian. Barangsiapa yang beruntung akan memenangkan lotre berupa "kandil emas" yang berarti kesuksesan hidup atau sebagainya.
Nu Pararegat (Mangle, 8 Januari 1976)
Cerpen ini sepertinya yang paling sulit dimengerti karena terkesan absurd, sureal. Cerita ini menampilkan serabut akar yang dapat berbicara, mau turun menembus tanah tapi tidak bisa karena tanahnya telah dilapisi. Kemudian ada orang yang saudaranya kekurangan darah sehingga mengajukan pinjaman uang kepada atasan tapi yang turun tidak seberapa. Akar berserabut lalu menangis dan ada kakek-kakek naik tangga mau bertemu dengan bapak "Duka Wastana" yang dalam bahasa Sunda berarti "tidak tahu namanya" tapi orang-orang lain menganggap bahwa memang itulah namanya.
Dalam pembahasan, timbul kesimpulan bahwa cerpen ini merupakan satire simbolik yang menggambarkan jarak menyusahkan berupa birokrasi yang menjadi penghalang bagi bertemunya penguasa dengan bawahan. Pararegat sendiri berasal dari kata pegat yang artinya putus.
.
Usai Erlangga menyarikan isi sebagian besar cerpen dalam buku ini, satu topik yang otomatis menjadi pembahasan kami adalah mengenai kurangnya minat membaca Sastra Sunda. Yang asli keturunan Sunda saja belum tentu suka membaca. Kalaupun mau membaca, ada banyak kosakata yang tidak digunakan dalam percakapan sehari-sehari sehingga mesti rela sambil membuka kamus. Karena itulah, membaca karya berbahasa Sunda tampak kurang memiliki manfaat praktis di dunia nyata.
Lain halnya dengan membaca karya berbahasa Inggris. Soalnya, memang bahasa Inggris menggempur di mana-mana. Konten-konten serba berbahasa Inggris, bahkan yang mestinya berbahasa Indonesia pun dicampur-adukkan dengan istilah-istilah berbahasa Inggris. Kalau ingin meluaskan pergaulan, meningkatkan karier, dan semacamnya, kemampuan berbahasa Inggris akan sangat bermanfaat. Bahasa Inggris dianggap lebih menjual, contoh saja: banyak novel yang judulnya bahasa Inggris tapi isinya bahasa Indonesia.
Rasanya mengherankan, mengetahui bahwa penyusun kamus bahasa Sunda yang pertama-tama justru orang Belanda. Mengapa bukan orang Sunda sendiri? Mengapa orang Belanda menganggap penting pengetahuan mengenai satu bahasa dari sekian banyak bahasa lain dari suku-suku yang ada di Nusantara? Apakah mereka melakukan hal yang sama terhadap bahasa-bahasa lainnya juga? Pembahasan akan terlalu melebar kalau begitu.
Diduga, ada kepentingan ekonomi dan politik di balik minat mereka. Toh tanah Sunda sangatlah subur. Namun, mengapa masih ada rakyatnya yang miskin dan kelaparan? Rupanya banyak tanah yang dikuasai menak, dijadikan hutan yang terlarang untuk dimasuki sesiapa, sekadar untuk menjadi tempat hiburan yang eksklusif bagi mereka sendiri. Di sinilah timbul dilema. Jika hutan itu bebas dimanfaatkan oleh siapa saja, kemungkinan akan dibuka untuk dijadikan entah apa saja. Memang dengan begitu dapat menghidupi sekian banyak manusia, tapi bagaimana dengan keanekaragaman hayati di dalamnya? Bukankah mereka juga berhak hidup dan dihargai sebagaimana kawung si Aki? Bingung, tapi tak usahlah ikut gantung diri.
Memang tampaknya tak ada manfaat praktis dari membaca sastra Sunda, bahkan sastra pada umumnya mau dalam bahasa apa pun. Paling tidak, ada prinsip dulce et utile--kesenangan yang bermanfaat. Ada kesenangan dari menyimak sebuah cerita. Apalagi jika cerita tersebut menyembunyikan banyak hal, entahkah itu namanya "amanat", "makna", "simbol", "pesan moral", dan seterusnya, yang bagaikan permainan berburu harta karun bagi peminatnya. Apalagi jika ada di antara hal tersebut yang bisa dikaitkan dengan pengalaman sendiri, menjadi bahan perenungan diri.
Memang kendala bahasa mengurangi keasyikan membaca. Namun, dengan pengetahuan bahasa yang sekadarnya itu, tetap ada "harta karun" yang dapat diambil. Paling tidak, kita bisa mempelajari cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan ide-idenya yang beragam itu. Ada cerpen-cerpen yang realis apa adanya saja menceritakan kenyataan seperti "Ngabeca" dan "Bi Empat". Ada cerpen-cerpen yang tampak mengandung amanat dalam hubungan suami istri atau kehidupan rumah tangga seperti "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun" dan "Kawin Emasna Dahim". Ada cerpen-cerpen yang mengangkat kearifan lokal dan mistikisme seperti "Kawung Aki" dan "Kuncen". Ada cerpen-cerpen yang menggunakan twist---teknik untuk mengecoh pembaca--seperti "Halimun" dan "Aki Warung". Ada cerpen-cerpen yang menunjukkan caranya mengeksplorasi keresahan dalam suatu momen seperti "Dehem", "Cipanon", serta "Hiji Tanggal nu Dipasinikeun". Belum lagi yang absurd-surealis macam "Nu Pararegat", serta cerpen-cerpen lain yang dapat memantik renungan seputar berbagai hal sebagaimana yang sudah saya utarakan dalam catatan pembacaan sebelumnya.
Rabu, 21 Juni 2023
Hiji Tanggal nu Dipasinikeun
![]() |
| Gambar di-screenshot dari Ipusnas. |
"Keur leutik dipiara ku asih, di sakola rada keras jeung di masarakat leuwih beurat." (halaman 55)
"Kuring geus nyaksian kaagungan anjeun, ya Maha Kawasa. Nantung di dieu, karasa sagala asa leutik. Sabenerna kuring keur ngaji. Ngulik tauhid dina kanyataan." (halaman 56)
"... sagala pagawean oge kudu tamat. Hartina kudu jucung meureun, ulah satengah-satengah." (halaman 115)
"Umurna nu karek nincak tujuh taun, jiwana memang aya dina mangsa transisi antara fantasi budak jeung alam kanyataan." (halaman 121)
Jumat, 19 Mei 2023
Atikan Basa Sunda Jilid 1B Pikeun Murid SD Kelas 1 Caturwulan 2
Senin, 27 Maret 2023
Atikan Basa Sunda Jilid 1A Pikeun Murid SD Kelas 1 Caturwulan 1
Minggu, 09 Oktober 2022
Buku Penunjang Belajar Bahasa Jepang Bersama Kawan-kawan :D
Penulis: Muryani J. Semita
Penerbit: Kaktus, Yogyakarta
ISBN: 978-602-XXX-XXX-X (Versi Elektronik: XXXX)
Di buku ini saya mendapat penjelasan tentang cara membaca hiragana yang mungkin sebetulnya ada di Duolingo. Tapi saya malas membaca materi yang ada di Duolingo dan pengin langsung ke latihan huruf saja, wkwk. Lagian sepertinya sebelum langsung ke pengajaran cara baca, saya merasa lebih suka jika mengenal terlebih dahulu semua huruf tersebut sebagai suatu overview atau gambaran menyeluruh mengenai apa yang bakal dipelajari ke depan.
Sebelumnya dikira cara mengucapkan bahasa Jepang itu gampang, enggak kayak bahasa Inggris. Tapi buku ini menerangkan bahwa ternyata cara mengucapkan bahasa Jepang tidak seperti yang tertulis juga. Ada huruf yang tidak dibaca dan ada pula yang ditambahkan. Misalkan "enpitsu" (pensil) dibaca "empitsu", "desu" dibaca "des", dan seterusnya.
Ada 26 pelajaran dalam buku ini. Kalau ditinjau sepintas, tiap bab kurang lebih berisi perulangan cara yang itu-itu saja: ada pengenalan kosakata menurut topik tertentu serta latihan menulis huruf. Kadang-kadang ada latihan membaca kalimat juga, tanpa mesti memahami tata bahasa terlebih dahulu. Tampaknya buku ini memang untuk dibaca sedikit-sedikit, misalnya 1 pelajaran per hari atau per minggu, tapi selama itu benar-benar sembari menghafalkan kata, kalimat, dan huruf yang diberikan berikut cara menuliskannya berulang-ulang. Dengan begitu, isi buku ini dapat dikuasai dalam sebulan sampai setengah tahun :v
Kalau belajar sendiri, enak pakai Duolingo. Kalau ada guru apalagi teman-teman lain, sepertinya buku ini sangat memadai untuk digunakan sebagai buku penunjang pembelajaran. Kalau untuk anak SMP, sepertinya bisa ditambahkan sedikit pelajaran mengenai tata kalimat sederhana dan kanji.
Yang kurang dari buku ini paling-paling kurang warna dan ilustrasi. Selain itu, menurut blurb di sampul belakang, ada "latihan menulis kata-kata dengan huruf kanji dalam lembar latihan unik", tapi saya tidak menemukannya di versi yang disediakan Ipusnas ini. Lagian di pendahuluan, bukannya disebutkan bahwa buku ini enggak sampai memperkenalkan kanji. Jadi bingung saya, wkwkwk.
Kamis, 11 Agustus 2022
Buku Aktivitas Belajar Bahasa Jepang untuk Anak 6-10 Tahun
Wono Weenie Have Fun with Japanese
Penyusun: Denis Toruan dan Tim Kesaint Blanc
Penerbit Kesaint Blanc, Jakarta
Cetakan kesatu, April 2014
48 halaman
ISBN 978-979-593-679-4
Buku ini merupakan buku aktivitas sekalian belajar bahasa Jepang yang diperuntukkan bagi anak usia 6-10 tahun. Melalui buku ini, anak didorong untuk berlatih dalam membaca, menulis, menggambar, mewarnai, dan berbagai permainan lain seperti menarik garis dan menemukan kata.
Pelajaran bahasa Jepang di dalamnya berfokus pada pengenalan kosakata sehari-hari, misalnya nama-nama anggota keluarga, anggota badan, angka, bagian-bagian rumah, usia, warna, cuaca, makanan, buah-buahan, minuman, hari, bulan, musim, hewan, sampai hobi. Petunjuk dan pertanyaannya dalam bahasa Indonesia, tetapi anak dituntun agar menjawab dalam bahasa Jepang yaitu kosakata yang sedang dipelajari menurut topik tertentu.
Buku ini juga mengajarkan kalimat-kalimat dasar seperti pertanyaan-pertanyaan umum menyangkut nama, umur, jenis kelamin, jumlah barang, dan seterusnya berikut cara menjawabnya, sapaan, ucapan selamat tahun, dan sebagainya, tetapi belum sampai ke tata bahasa. Anak sekadar melengkapi kalimat-kalimat itu dengan kosakata yang disediakan.
Sebagai reward, orang tua bisa membacakan kata-kata penyemangat dalam bahasa Jepang sebagaimana yang tertera di bawah halaman setiap bab. Contohnya seperti, "Sugoi!" ("Hebat sekali!"), "Ii desu ne!" ("Bagus sekali!"), "Oishii!" ("Enak sekali!"), "Kakkoii!" ("Keren!"), "Umai!" ("Kamu sangat jago!"), "Jyouzo desu ne!" ("Sangat pintar!), "Seikou!" ("Berhasil!"), "Hontou ni tanoshii!" ("Menyenangkan sekali!"), "Tsutzukimashou!" ("Yuk teruskan!"), "Subarashii!" ("Hebat sekali!"), "Ganbatte!" ("Semangat!"), "Kawaii!" ("Sangat imut!"), "Yoi!" ("Bagus sekali!") ....
Kata-kata berbahasa Jepang itu ditulis dalam aksara Jepang. Namun buku ini belum sampai mengenalkan aksara Jepang yang bermacam-macam lagi banyak banget itu *nanti anaknya muntah duluan.
Selain itu, di akhir buku ada sertifikat yang bisa diisi sendiri lo! Tentu saja kamu baru boleh mengisinya setelah mengerjakan semua aktivitas di buku ini! *orang tua strict mode: on.
Sepertinya buku ini menyediakan fitur-fitur tambahan seperti digital pen dan stiker. Namun karena saya cuma pinjam di Ipusnas, saya tidak memperolehnya :v
Jumat, 01 Maret 2019
Belajar Perubahan Kata Kerja dalam Bahasa Perancis Lewat Lagu yang Adalah Kita
Lagu ini bisa diakses di Youtube. Sejak diunggah pada 10 Desember 2008 oleh tuberider1976, lagu ini baru diakses sekitar 100.000 kali pada saat entri ini dibuat (Maret 2019). So, it's not that song everyone listens to. Hm, feels so edgy, rrright? Check it out, then!
Ada juga versi yang lebih modern, yang baru ditonton oleh jauh lebih sedikit orang.
Saya pribadi lebih suka yang lawas, rasanya somehow lebih epik or something like that lah, wkwkwk.
Lirik lagu ini sederhana saja, seperti yang dengan baik hati dicantumkan komentator Isaac Escargot sebagai berikut ...
Le pétrole, oh...
Moi, moi j'aime le pétrole
Tu aimes le pétrole
Il aime le pétrole
Nous aimons le pétrole
Vous aimez le pétrole
Ils aiment le pétrole
J'aime ça le pétrole
Je ferais n'importe quoi pour du pétrole
Moi, moi j'aime le pétrole
Tu aimes le pétrole
Il aime le pétrole
Nous aimons le pétrole
Vous aimez le pétrole
Ils aiment le pétrole
Je suis capable de tout pour du pétrole
Moi, j'aimerai le pétrole
Tu aimeras le pétrole
Il aimera le pétrole
Nous aimerons le pétrole
Vous aimerez le pétrole
Tu aimeras ton prochain comme toi-même
Pour un homme qui a du pétrole, je flanche... je fonds... je consume... j'explose... je fioule...
[Choeur] Pééééétrole ! (x5)... sekalian dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris:
english : pétrole = oil/petroleum.
I love oil
You love oil
He loves oil
We love oil
You love oil (plural)
They love oil
Oil, I'm loving it
I would do anything for oil
I love oil
(...)
I'm capable of all for oil
I will love oil
You will love oil
(...)
You shall love your neighbor as yourself
For a man who has oil, I flag... I melt... I burn... I explode... I fuel
(choir : petroooooleum)Seperti yang bisa kita lihat, pada dasarnya lagu ini menunjukkan perubahan kata kerja dalam bahasa Perancis dengan pola kalimat sederhana:
Le pétrole, oh...
J'aime ça le pétroledan
Je ferais n'importe quoi pour du pétroledan
Je suis capable de tout pour du pétroledan
dengan seksi ...Pour un homme qui a du pétrole, je flanche... je fonds... je consume... j'explose... je fioule...
... mendesah parau-parau gimana gitu.
Tentu saja, kalau ditilik lebih lanjut, lagu ini lebih daripada sekadar pelajaran bahasa Perancis mengenai perubahan kata kerja.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, petrol adalah bahan bakar yang terbuat dari campuran gas alam dan petroleum atau disebut juga bensin. Bahan bakar jenis ini digunakan begitu banyak manusia di seluruh muka bumi untuk mendukung kegiatannya sehari-hari. Lagu ini merefleksikan ketergantungan tersebut, yang, boleh dibilang, sudah sampai taraf adiktif, enggak sih? (Coba deh baca artikel ini: "Addiction to industrialisation"). Maksudnya, bisakah seseorang yang terbiasa bepergian dengan sepeda motor atau mobil membayangkan seterusnya beralih kepada sepeda, jalan kaki, naik delman atau unta saja, begitu? Bahkan, sekalipun kita bukan pengguna kendaraan bermotor, barang-barang dalam kemasan plastik yang kita peroleh dari toko-toko itu diantar dengan mobil-mobil berkontainer, bukan? Mungkinkah kita hidup tanpa bensin sama sekali, memperoleh barang kebutuhan sehari-hari hanya dari pekarangan sendiri? Ada yang bilang, tidak ada yang mustahil. Bisa saja, asal kita pindah ke hutan. Bisa saja, kalau kita tidak kemudian digusur karena hutannya hendak dijadikan lahan produksi bahan bakar jenis lain ... katakanlah minyak kelapa sawit. Sepertinya akan terlalu luas kalau kita menyinggung juga tentang ketergantungan kita pada minyak kelapa sawit. Belum lagi jika kita bicara tentang sifat petrol yang tidak dapat diperbarui serta dampaknya terhadap lingkungan hidup seperti polusi. Jadi, kenapa kita bergantung kepada sesuatu yang pada akhirnya malahan merusak diri kita sendiri?
Bagian lagu ini yang dibawakan dengan kor seakan-akan merefleksikan banyaknya orang yang bergantung kepada petrol. Adapun bagian lainnya seolah-olah mengesankan bahwa ketergantungan terhadap petrol itu seksi. Coba, mana yang lebih seksi di antara dua ini: turun dari mobil ber-AC yang berbahan bakar petrol dengan riasan dan pakaian trendi (yang didistribusikan melalui ... tahulah) atau dari sepeda seken yang berbahan bakar singkong rebus dalam keadaan kucel oleh debu dan keringat?
Dari baik bentuk maupun isi lirik (oh, andai saya pakar linguistik dalam membedah lirik!) hingga penyampaian, lagu ini menyampaikan kenyataan tentang aku, kamu, dia, kita, kalian, dan mereka. Lagu ini adalah tentang kita semua. Lagu ini adalah kita.
J'aime ça le pétrole
Je ferais n'importe quoi pour du pétrole
Banyak Dibuka
-
Penulis : Gol A Gong Penerbit : Gong Publishing, Banten ISBN : 978-602-9117-24-0 (kover), 978-602-9117-25-7 (KDT) Cetakan pertama dan kedua,...
-
“ Du ” (“ You ” dalam bahasa Inggris) adalah lagu yang dibawakan oleh Peter Maffay, seorang musisi Jerman. Lagu ini menjadi hit terbesar d...
-
jika mana jutaan orang memenuhi selatan kraton masing-masing menggenggam kitiran mengacungkannya menghunjamkannya kuat-kuat dengan karet ke ...
-
Judul : Olenka Pengarang : Budi Darma Penerbit : Balai Pustaka, 2009 Paragraf pertama dalam kata pengantar novel peraih SEA Write A...
-
Tersebutlah kisah sepasang suami istri. Sang suami dikenal sebagai seorang suami yang berperasaan. Dia mau membantu istrinya mengerjakan ...
-
Baru-baru ini saya dikenalkan oleh adik saya dengan acara Horrible Histories di saluran Discovery Kids. Format acara ini semacam kumpulan s...
-
Sudah lebih dari seminggu sejak aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Pekerjaan pertamaku dan satu-satunya yang datang padaku tanpa aku me...
-
( i believe in the kingdom come/ then all the colors will bleed into one/ bleed into one, but yes i’m still running/ you broke the bonds and...
-
Ini adalah pengalamanku saat libur kenaikan kelas ke 5 SD. Seperti biasa, kalau sudah waktunya liburan, orangtuaku pasti menawarkanku untuk ...
-
Kali ini penjelajahan saya diwarnai oleh Juhe. Dia adalah teman sekelas saya di SMA. Dia orang penting di BEM UNPAD dan belum termotivasi un...
Pembaruan Blog Lain
-
Rasiah Nu Goreng Patut (1 - 2) (Soekria/Joehana, 1927) - Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan pe...1 minggu yang lalu
-
Yentl - Oleh Isaac Bashevis Singer ISAAC BASHEVIS SINGER, pemenang Nobel Sastra 1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di… Read more Yentl10 bulan yang lalu
-
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan - Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan berle...6 tahun yang lalu









.png)


