Kamis, 09 April 2026

Randa Bengsrat (spoiler Roman Sunda)

Randa Bengsrat, menurut kamus SundaDigi, artinya janda perawan. Janda kok perawan? Rupanya, setelah dinikahkan dengan Udi, Esih tidak mau bercampur, karena terganjal oleh pemikiran bahwa pernikahan hanya sebentuk penindasan kepada perempuan. Ia tidak mau terkungkung di rumah dan diperintah laki-laki. 

Udi yang padahal pria baik-baik dan berpunya itu tidak bisa memaksakan. Ia pulang ke rumah orang tuanya, sementara Esih merantau ke ibukota, pengin jadi career woman. Esih menumpang di rumah sepupunya, seorang single mother yang telah berperan dalam menjejali kepala Esih dengan ide-ide kesetaraan gender dan women empowerment

Esih pun bekerja untuk bos chindo. Tapi di tempat kerjanya itu ada om gadun yang menginginkan dia jadi ani-ani. Esih pun resign. Mau cari kerja lagi, tidak dapat-dapat. Esih malah berkenalan dengan seorang pria Manado yang sudah mah ganteng, old money pewaris perusahaan pula. Esih merasa klik dengan pria tersebut. Lagi jobless, ada yang mengajak pelesir ke sana kemari, membayari ini itu. Enak juga ya ternyata kalau ada yang mengasihi, tidak mesti punya uang sendiri.

Menikah tidak mau, seks bebas hayuk. Esih hamidun, lantas menuntut pertanggungjawaban Kohar, kekasihnya itu. Namun Kohar tidak mau buru-buru menikah. Sebabnya, dia ternyata nonis dan tidak hendak menikah pakai hukum Islam mengikuti kepercayaan Esih. Karena Esih malu terus menumpang hidup sama saudaranya--sudah mah tidak berkontribusi secara finansial, lama-lama bakal melendung pula--setidaknya Kohar mau menyediakan tempat tinggal. Mereka pun living together sementara Esih yang telah menyadari dosa-dosanya seketika menjadi "ustazah" yang mendakwahkan ajaran Islam kepada Kohar. 

Esih pulang kampung sendirian, kepayahan menanggung akibat dari polah tingkahnya sendiri. Syukurlah pada akhirnya Kohar mendapatkan hidayah, log in, dan mau menikahi Esih. Happy ending.

Roman Sunda karangan Yus Rusamsi ini mula-mula diterbitkan dalam Mingguan Sunda pada 1965. 

Seru, karena pemikiran-pemikiran Esih yang feminis abis itu masih marak di media sosial kiwari. Malah tampaknya makin banyak Esih-Esih baru bermunculan, yakni wanita-wanita muda yang lebih mementingkan jadi independen daripada menikah. Sepertinya karena perkembangan zaman juga yang sudah lain daripada 60 tahun lalu (zamannya Esih). Sekarang lapangan pekerjaan bagi perempuan sudah makin terbuka lebar. Malah katanya perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada laki-laki. Dan, bagi banyak perempuan, bekerja mencari uang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan, keterpaksaan, karena tidak bisa semata-mata mengandalkan laki-laki di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lagian, Esih, sama saja, mau jadi karyawan bakal diperintah atasan, mau jadi pengusaha harus menyesuaikan dengan keinginan pelanggan, mau hidup semaunya saja pun ternyata lagi diperbudak hawa nafsu. Kemerdekaan apa yang kau cari, Esih??? Bukankah kita semua hanya terombang-ambing dalam permainan tipu daya dunia?!??!

Lucu, karena gagasan-gagasan feminisme yang semula menggebu-gebu melalui sudut pandang Esih ditutup oleh pernyataan yang mengukuhkan patriarki, diucapkan oleh tokoh yang sama-sama perempuan tapi usianya jauh lebih tua, "... dawuhan Pangeran oge awewe mah kudu dipingpin ku lalaki." Sebelum itu pun, malah sedari awal cerita, tokoh-tokoh yang mengonfrontasi pandangan Esih adalah sesama perempuan tapi lebih tua, seakan-akan, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kebijaksanaan perempuan ditandai dengan penyerahan diri kepada laki-laki.

Sekiranya tokoh utama adalah perempuan yang seumur hidupnya benar-benar menderita karena patriarki dan sampai akhir cerita teguh menjaga harga diri di hadapan laki-laki mau seganteng-sekaya-sepemurah apa pun, gagasan-gagasan feminisme itu akan lebih wajar. Sedangkan Esih hanyalah wanita yang dari segi usia belum begitu banyak makan asam garam, betul-betul cantik, dan latar keluarganya berkecukupan, sehingga ada keleluasaan bagi dia untuk mengeksplorasi paham-paham dan pilah-pilih laki-laki. Memang gagasan-gagasan feminisme itu dikuatkan oleh kenyataan yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Tapi, dengan posisinya yang lain daripada perempuan-perempuan itu, bisa jadi Esih mendapatkan pengalaman yang beruntung bahkan memanfaatkan privilesenya untuk membantu mengangkat derajat mereka, alih-alih terjerembap jadi serbasusah. Sungguh Esih banyak terpengaruh oleh prasangkanya tapi tak kuasa mengingkari fitrah untuk menjadi penerima nafkah. Di awal saja garang, ujungnya luluh juga sama pria pujaan. Pengarang seakan-akan memahami benar gejolak jiwa perempuan muda semacam Esih, sebelum kemudian meledeknya.

Selain itu, love interest Esih adalah pria tampan serbaada yang pengasih lagi penyayang dan mau jadi muslim taat, perempuan mana yang tidak memasrahkan diri sama pria begitu! Coba lelakinya yang tipe Karnadi di Rasiah Goreng Patut, wajarlah kalau Esih pilih jadi independent woman. Malah istri Karnadi saja masih bela-belain jual ayam ke tetangga supaya bisa kasih uang ke suami yang padahal lagi menipunya.

Randa Bengsrat dapat diakses di iPusnas (versi Balai Pustaka yang dilengkapi dengan ringkasan cerita dalam bahasa Indonesia) juga disimak di kanal YouTube Mang Cecep Gorbachev (dibacakan dari terbitan Kiblat). Karangan ini saya rasa layak untuk diangkat, selain karena isunya senantiasa relevan, ada unsur wishful thinking-nya pula. Memancing pemikiran sekaligus menghibur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain