Dokumenter berdurasi sekitar 3/4 jam ini mengikuti dua orang Jepang yang kesepian, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki suka memiara hewan, mengalami masalah dalam pekerjaan hingga dipecat, kemudian mendaftar untuk memperoleh tunjangan karena tidak ada anggota keluarga yang dapat menopangnya. Yang perempuan suka bermain musik, lalu bertemu kawan perempuan, dan ujungnya tampil di konser kecil. Keduanya pengguna layanan A Place for You, suatu tempat curhat, tapi ada petugas betulan yang membalas chat mereka alih-alih AI bot. Selain itu, di Jepang ada kementerian yang menangani masalah kesepian, seperti di Inggris.
Tidakkah mengherankan, orang sebegitu banyak, laki-perempuan pada melajang, masing-masing, seperti muspra bagi sesama, padahal tidak juga. Menurut pendeta Buddha yang kerap didatangi si lelaki dalam dokumenter ini, sebetulnya kita tetap saling terhubung. Nyatanya, apa-apa yang kita pakai adalah hasil jerih payah orang lain, jadi secara tidak langsung kita berguna bagi satu sama lain. Meski demikian, kerap kali kita juga tidak merasa terhubung dengan orang lain. Seakan-akan rasa keterhubungan itu harus kita hidupkan sendiri, barangkali dengan apresiasi dan imajinasi bahwa di balik setiap hal kecil yang kita pakai, ada seseorang.
Selama menonton, saya bertanya-tanya mengenai proses pemfilmannya. Apa mereka sebetulnya aktor dengan skrip? Bagaimana si pembuat film mengetahui akhirannya akan seperti itu dan mendapatkan alurnya? Atau ia hanya mengikuti kehidupan dua orang yang punya problem sampai memperoleh suatu alur, seperti satu kiat dalam buku mengenai teknik menulis nonfiksi kreatif, You Can't Make This Up?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar