Business Insider
Ruang
Sabtu, 06 Juni 2026
Lawatan YouTube Mei 2026
Kamis, 07 Mei 2026
Video-video Panjang yang Tamat Disimak Selama April 2026
Dari cuplikan-cuplikan Shaolin of Soccer, jadi menonton satu film full Stephen Chow, King of Comedy. Dari segi alur cerita, film ini banyak naik-turunnya; kayak, dikira setelah ini situasi tokohnya bakal membaik, ternyata enggak jadi, terus membaik lagi, begitu seterusnya. Romance berlangsung terlalu cepat dengan pemeran perempuan yang sangat cantik sekali banget. Yah, namanya juga film: durasi terbatas, harus menjual visual, sekaligus relatable bagi banyak pejuang kehidupan.
Senin, 06 April 2026
Loneliness in Japan (spoiler Dokumenter Aljazeera)
Dokumenter berdurasi sekitar 3/4 jam ini mengikuti dua orang Jepang yang kesepian, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki suka memiara hewan, mengalami masalah dalam pekerjaan hingga dipecat, kemudian mendaftar untuk memperoleh tunjangan karena tidak ada anggota keluarga yang dapat menopangnya. Yang perempuan suka bermain musik, lalu bertemu kawan perempuan, dan ujungnya tampil di konser kecil. Keduanya pengguna layanan A Place for You, suatu tempat curhat, tapi ada petugas betulan yang membalas chat mereka alih-alih AI bot. Selain itu, di Jepang ada kementerian yang menangani masalah kesepian, seperti di Inggris.
Tidakkah mengherankan, orang sebegitu banyak, laki-perempuan pada melajang, masing-masing, seperti muspra bagi sesama, padahal tidak juga. Menurut pendeta Buddha yang kerap didatangi si lelaki dalam dokumenter ini, sebetulnya kita tetap saling terhubung. Nyatanya, apa-apa yang kita pakai adalah hasil jerih payah orang lain, jadi secara tidak langsung kita berguna bagi satu sama lain. Meski demikian, kerap kali kita juga tidak merasa terhubung dengan orang lain. Seakan-akan rasa keterhubungan itu harus kita hidupkan sendiri, barangkali dengan apresiasi dan imajinasi bahwa di balik setiap hal kecil yang kita pakai, ada seseorang.
Selama menonton, saya bertanya-tanya mengenai proses pemfilmannya. Apa mereka sebetulnya aktor dengan skrip? Bagaimana si pembuat film mengetahui akhirannya akan seperti itu dan mendapatkan alurnya? Atau ia hanya mengikuti kehidupan dua orang yang punya problem sampai memperoleh suatu alur, seperti satu kiat dalam buku mengenai teknik menulis nonfiksi kreatif, You Can't Make This Up?
Sabtu, 18 November 2023
Investasi yang Paling Berharga Adalah Keluarga
Sebagaimana yang terekam di blog ini, sejak pandemi, sudah tidak menonton bioskop sendiri lagi. Juga ada kesadaran mengalokasikan uang untuk suatu kepentingan. Tapi kalau ada teman yang mengajak, hayuk saja, filmnya pun menurut pilihan dia. Ada satu film yang kami tonton begitu pandemi reda. Film itu katanya diadaptasi dari cerita di suatu platform kepenulisan, tokoh utamanya diperankan oleh aktor kesukaan dia tapi saya lebih suka sama pemeran antagonisnya(?). Film itu saya tidak ingat amat judulnya, bikin saya ketawa-ketawa sendiri di ruang bioskop--maksudnya, itu bukan film komedi tapi teen romance action atau apalah istilahnya yang karena beberapa hal saya jadi literally ketawa sendiri--dan malas mencatat pengalaman itu di blog ini sesudahnya.
Teman itu baru-baru ini memilihkan film lain yang saya lagi-lagi ikut saja. Tanpa ekspektasi apa-apa. Tidak berdaya juga ketika kami dapat bangku di baris kedua dari depan. Memang itu hari pertama film tersebut ditayangkan di bioskop. Cukup banyak yang mengantre. Sebanyak inikah orang yang gabut pada Kamis siang? Akan jadi apa negara ini??
Kali ini si teman memilihkan film yang tepat buat saya. Di samping bikin tidak mengeluh karena mesti mendongak menontonnya, juga sekarang saya ketawa-ketawa tidak sendirian lagi tapi serempak bareng banyak penonton lain. Ketawa tulus karena terhibur oleh joke-joke yang mulus, bukan karena jiwa yang sok mau jadi snob. Film itu adalah Gampang Cuan, yang setelahnya saya berpikiran ini layak ditonton berkali-kali untuk ditelaah sembari mencari landasannya di buku-buku teori komedi. Memang dari segi komedi menurut saya film ini pol pisan somehow, tidak asal lucu.
| Gambar dari Media Indonesia. |
![]() |
| Salah satu adegan mengibuli orang tua. Gambar dari KUY! |
Di samping komedi keluarga, ini juga film edukasi saham--atau pada pokoknya mengenai cara meraih dan mengelola cuan. Dasarnya, saya tidak ada ketertarikan pada permainan ini. Namun sepanjang perjalanan hidup saya sejauh ini (yang padahal belum juga paruh baya--sedikit lagi :p), ada beberapa referensi tentang dunia itu yang mampir. Yang langsung teringat yaitu:
1. Buku tentang kehidupan jurnalis pasar modal, yang sudah saya ulas di blog ini (tautan tersemat), dan;
2. Video Jaya Setiabudi.
Preferensi saya pribadi dalam hal ini masih lebih ke cara spiritual-tradisional seperti menabung emas (walaupun lama sekali baru bisa terkumpul hanya untuk membeli batang terkecil produk Antam wakakaka), bersedekah dan semacam itulah--yang tampak lebih "simpel" sekaligus berorientasi jangka paling panjang (sampai ke akhirat).
![]() |
| Harus pakai kostum bagus untuk mengikuti permainan orang kaya. Gambar dari TEMPO.co. |
Setelah menyajikan suatu gambaran akan jatuh-bangunnya pontang-pantingnya pergulatannya orang bawah menuruti permainan orang atas, film ini menyerahkan pilihan kepada pemirsa. Pilihannya pun bukan cuma saham, melainkan ada pula reksadana, deposito, surat utang negara, dan seterusnya, yang dijelaskan sesederhana mungkin menggunakan perumpamaan ternak ayam. Tapi, jangan lupa, investasi yang paling berharga mungkin ada pada kualitas hubungan dengan keluarga khususnya dalam masa terpuruk.
Sekilas info: Parkiran BIP diskriminatif karena tidak menampung sepeda di basement, lain dengan BEC dan Kings yang menyediakan palang parkir sepeda searea dengan motor di dalam gedung. Parkirlah di GGM; selain orang-orangnya ramah, saya mendapat fasilitas valet parking segala--gratis! Tersedia keran juga dekat situ buat cuci tangan habis pegang setang sepeda yang masih ada bekas oli dari bengkel.
Selasa, 20 Juni 2023
Sudahkah kamu menangis pagi ini?
![]() |
| Gambar diambil dari situs Hati Senang. |
All the blood we've shed before?
Did you ever stop to notice
This crying Earth, these weeping shores?
![]() |
| Gambar dari situs Brainly. |
![]() |
| Gambar dari Facebook. |
![]() |
| Gambar dari Flickr. |
Selasa, 25 Agustus 2020
Mau Jadi SJW? Tonton Dulu Film Ini!
Teman chat saya membocorkan bahwa film ini dimulai dengan pergosipan, suatu topik yang pernah kami bicarakan dan dia ingat bahwa saya tidak menyukainya. Untuk menghargai teman chat saya itu, saya pun mengeklik link tersebut dan terbukalah film ini di YouTube. Wow, tak kusangka rupanya berjodoh dengan yang tadinya cuma terlihat sambil lalu dan tertepikan. Malah, akhirnya saya membagikan link film ini ke beberapa teman lain.
Kaitan dengan bacaan
23 Agustus tampaknya hari adab amar ma'ruf nahi munkar sedunia. Paginya, saya membaca tafsir Quran Surat Al-Baqarah ayat 44. Siangnya, saya membaca The Daily Stoic: 366 Meditations on Wisdom, Perseverance, and the Art of Living (Ryan Holiday dan Stephen Hanselman, Portfolio, 2016) entri 23 Agustus. Malamnya, saya menonton film ini. Semuanya ternyata berkaitan.
Al-Baqarah ayat 44 berbunyi sebagai berikut:
"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?"Saya membaca tafsirnya di aplikasi yang memuat versi Kemenag RI dan Ibnu Katsir. Tafsir tersebut menjelaskan latar belakang turunnya ayat ini, yaitu mengecam perilaku beberapa orang Yahudi yang menasihati keluarga dan kerabatnya agar tetap memeluk agama Islam, namun mereka sendiri tidak mengamalkannya. Dengan begitu mereka telah merugikan diri sendiri. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa mereka seolah-olah tidak berakal. Sebab, masakkah orang berakal tidak mengamalkan ilmu pengetahuannya? Ayat ini agar menjadi pelajaran bagi setiap bangsa, bukan hanya Bani Israil yang pembaca Taurat.
Lebih jauh, tafsir Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan perintah amar ma'ruf nahi munkar. Menyuruh kepada kebaikan dan mengajak menjauhi keburukan merupakan kewajiban bagi setiap orang yang berilmu, tapi lebih wajib lagi bagi dia untuk mengamalkannya.
Selanjutnya, seperti biasa, pembacaan tafsir jadi membingungkan karena ditampilkan berbagai pendapat ulama, di antaranya:
Malik ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'id ibnu Jubair berkata, "Seandainya seseorang tidak melakukan amar ma'ruf, tidak nahi munkar karena diharuskan baginya bersih dari hal tersebut, niscaya tidak seorang pun yang melakukan amar ma'ruf, tidak pula nahi munkar." Malik berkata, "Dan memang benar, siapakah orangnya yang bersih dari kesalahan?"Masuk akal memang.
Tapi sepertinya itu menunjukkan kealiman yang belum paripurna. Namanya orang berilmu, mestinya dia mengetahui akibat dari meninggalkan ketaatan dan mengerjakan kemaksiatan. Orang cerdas mana yang mau merugikan diri sendiri? Tafsir ini secara keseluruhan cenderung pada pendapat bahwa amar ma'ruf nahi munkar wajib dilakukan dengan juga mengamalkannya secara pribadi.
Selanjutnya ditambahkan hadis-hadis yang menggambarkan kejamnya siksaan di akhirat terhadap para tukang ceramah di dunia yang tidak mengamalkan seruannya sendiri, padahal mereka membaca Quran!
Lewat Quran, Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca dan berpikir--menyempurnakan akal. Dengan begitu, manusia dapat memperoleh ilmu yang dapat menghindarkan dirinya dari kerugian. The Daily Stoic seperti motivasi harian untuk menjalankan ibadah itu, khususnya untuk entri 23 Agustus yang seperti perpanjangan dari Al-Baqarah ayat 44.
Entri ini berjudul "IT'S IN YOUR SELF-INTEREST", yang kalau boleh saya terjemahkan secara bebas, berarti "DEMI KEPENTINGANMU SENDIRI". Entri ini mengilhamkan bahwa dalam melakukan "amar ma'ruf nahi munkar" (tentu saja mereka tidak menggunakan istilah itu), daripada menceramahi atau mengkhotbahi atau menguliahi atau menggurui (meski ada juga sih orang-orang yang senang mendengarkannya), mengatakan bahwa "itu dosa" atau "buruk", berkoar-koar soal moral ... lebih baik jelaskan akibat, dampak, konsekuensi dari perbuatan tersebut, bagaimana itu akan merugikan kepentingan mereka sendiri pada akhirnya.
And what happens when you apply this way of thinking to your own behavior?Nah, pada akhirnya, kembali pada diri sendiri terlebih dahulu. Keburukan-keburukan apakah yang masih kita lakukan? Apakah akibat, dampak, konsekuensinya di kemudian hari? Bacalah, pikirkanlah, jadilah orang berilmu yang dapat menghindarkan diri dari akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan itu, dan sampaikanlah dengan cara yang "aman". Rumusnya:
- Amalkan sendiri terlebih dahulu selama beberapa waktu.
- Amati, resapi, dan renungkan yang dialami.
- Bagikan pengalaman tersebut kepada orang lain, dengan nada bercerita dan reflektif alih-alih menasihati. Kita tidak menyeru dia agar harus begini atau jangan begitu, tidak. Kita hanya "curhat", atau menceritakan pengalaman seseorang yang sebut saja namanya Mawar supaya tidak dikira membongkar aib sendiri. Biar orang itu sendiri yang menarik pelajaran tersirat. Biarkan dia sendiri yang memberdayakan akalnya. Itu tanggung jawabnya sebagai manusia.
Film ini tidak menunjukkan apakah Yu Ning pernah menghadiri pengajian yang membahas tafsir Al-Baqarah ayat 44, juga tidak ada adegan dirinya membaca The Daily Stoic entri 23 Agustus. Malah, kita tidak bisa yakin apakah Yu Ning memang amar ma'ruf nahi munkar dengan menghardik orang bergibah, karena terungkap bahwa dia ternyata masih saudara jauh Dian.
Bagaimanapun juga, seandainya Yu Ning memang punya niat tulus, murni, ikhlas, sekadar hendak amar ma'ruf nahi munkar, film ini menunjukkan contoh pengamalannya yang tidak efektif.
Ketidakefektifan ini bukan murni kesalahan Yu Ning. Bukan karena dia tidak membaca The Daily Stoic, melainkan ada faktor-faktor lainnya seperti latar sosial (oke, bagaimana sekelompok ibu-ibu yang ditunjukkan "ndeso" itu bisa menalar akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan dari bergibah?) dan faktor X--keXilafan (ih, maksa).
Kata peribahasa: sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga.
Bagaimanapun kita berusaha untuk menjadi SJW yang efektif, akan ada kemungkinan suatu saat baterai HP kita mati di perjalanan sehingga tidak bisa dihubungi untuk mengklarifikasi kabar.
Di samping Stoikisme, sepertinya Absurdisme menarik juga untuk ditilik.
Senin, 30 Maret 2020
Krisis Lepasnya Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Muda
![]() |
| Adrien Brody sebagai guru yang selalu bertampang sedih. Gambar dari Wikipedia. |
Ini baru namanya rekomendasi!
Saya pun mencari informasi tentang film tersebut di Wikipedia.
Boleh juga.
Di YouTube memang tersedia filmnya--full movie. Tapi, film tersebut sudah dilengkapi dengan subtitle bahasa Turki yang tidak bisa dihilangkan. Adapun subtitle yang bahasa Inggris auto generated saja. Not bad lah, daripada enggak ada.
Saya pun menanyai dia apakah memang video itu yang dia maksud. Dia memberikan link ke YouTube yang sepertinya tanpa subtitle bahasa Turki. Tapi sayang, saya tidak bisa membukanya.
Maka saya pun menonton yang ada saja. Dia bilang mudah-mudahan yang saya tonton itu audionya berbahasa Inggris. Ya iyalah, kata saya, yang bahasa Turki subtitle-nya doang dan enggak di-dubbling. Oke deh.
Detachment menceritakan tentang kehidupan seorang tokoh yang diperankan Adrien Brody, selama menjadi guru pengganti di sebuah SMA di New York. SMA tersebut bermasalah. Banyak muridnya yang pembangkang atau bikin ulah, entahkah dengan melempar tas guru atau pakai baju super minim. Guru-guru tidak dihormati, mulai dari diabaikan sampai diludahi.
Diperlihatkan secara sekilas-sekilas bagaimana Adrien Brody--eh, nama tokohnya Henry Barthes--serta beberapa rekan guru di sekolahnya dalam mengatasi para murid bengal itu.
Dalam hal ini, sepertinya sudah ada beberapa film yang semacam, misalnya saja Freedom Writers dengan Hillary Swank serta Dangerous Minds (yeah, "Gangsta Paradise"!) dengan Michelle Pfeiffer. Tapi, sebenarnya saya belum menonton kedua film itu jadi tidak bisa membandingkan. (Terus, kenapa disebut-sebut? :v)
Di film ini sendiri, Adrien Brody, eh, Henry Barthes cenderung menggunakan pendekatan yang to the point dan emphatic. Semacam, yah, yah, gue tahu lu punya masalah, gue juga punya, semua orang punya, jadi, nih sekarang gue kasih lu kertas sama pulpen, dan kerjain aja tugasnya, enggak usah banyak cincong lay.
Salah satu tugas yang diberikannya yaitu menulis pikiran atau perasaan orang yang ditinggalkan apabila si penulis telah mati. Ada yang membuat tulisannya secara asal-asalan sehingga mengundang tawa, ada pula yang tampaknya serius dengan menyiratkan bahwa ia hendak mati bunuh diri. Tulisan itu dibuat tanpa nama.
Para guru lain punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi masalahnya. Ada guru yang sepertinya sama sekali enggak bisa berkutik, dan menyalurkan frustrasinya dengan mendorong-dorong pagar. Ada guru yang meminum suatu obat supaya bisa tenang dalam menghadapi murid. Ada guru yang balik marah-marah pada muridnya.
Untuk adegan yang belakangan ini, yang dibawakan oleh Lucy Liu, saya merasakan betapa dalam sesungguhnya kekhawatiran seorang guru pada generasi muda yang benar-benar cuek pada masa depannya. Kayak ngegampangin gitu. Mereka enggak tahu dunia nyata di luar sana, dan enggak mau mendengarkan orang-orang yang berusaha membimbing mereka. Tapi, jangan-jangan, sikap acuh tak acuh ini sekadar hasil dari pola asuh orang tuanya.
Memang tema yang mengemuka dalam film ini, yang saya tangkap, adalah ketidakhadiran orang tua. Hal ini secara jelas tapi implisit (eh, gimana, gimana?) ditunjukkan dalam adegan ketika sekolah tersebut mengadakan acara POMG (alias Pertemuan Orang-tua Murid dan Guru, kalau ada yang belum tahu), dan tidak ada satu pun orang tua yang datang.
Ketidakhadiran orang tua ini juga justru dialami oleh si tokoh utama sendiri, si guru pengganti Henry Barthes. Persoalannya di sekolah silih berganti dengan persoalan pribadinya: hubungan dia dengan kakeknya yang sakit-sakitan di panti jompo, serta cuplikan-cuplikan kenangan akan ibunya yang telah mati bunuh diri. Si kakek tampaknya sangat terpengaruh oleh kematian si ibu, penuh rasa bersalah.
Perhatian: bagian berikutnya mengandung bocoran yang bertubi-tubi.
Sedikit-sedikit diungkapkan fakta-fakta cerita, yang menimbulkan asumsi pada saya, bahwa jangan-jangan si kakek itu sebenarnya ayah Henry. Henry bercerita bahwa ayahnya telah pergi lama sekali, sehingga yang dia ingat dari masa kecilnya hanyalah di rumah selalu hanya ada mereka bertiga: dia, si kakek, dan si ibu. Dan, tiap malam, si ibu menyuruh Henry mengunci pintu kamarnya.
Teman chat saya di New York, oke, sebut saja dia dengan inisialnya, E, tidak sampai berpikir begitu. Menurut dia, si kakek sekadar melakukan pelecehan seksual kepada si ibu.
Mungkin saja mereka orang tua dan anak betulan. Lagi pula, kasus inses ada saja kejadiannya di dunia nyata.
Yang menjadi petunjuk bagi saya bahwa si kakek dan si ibu tidak mesti berhubungan darah, tapi sekadar pria lebih tua dan wanita lebih muda yang tinggal serumah, adalah subplot lainnya dalam film ini, di mana Henry membolehkan seorang pelacur remaja tinggal di rumahnya dan merawat gadis itu. Sebelumnya, gadis itu kerap dilecehkan pria-pria. Tapi Henry memperlakukan dia dengan baik sehingga timbul perasaan khusus pada si gadis.
![]() |
| Henry mau mengajak si gadis tinggal di rumahnya. Gambar dari blog John Markham. |
Kemudian, ada adegan ketika Henry mengobrol dengan kakeknya yang semacam berhalusinasi melihat si ibu. Henry pun berpura-pura menjadi ibunya, dan memanggil si kakek dengan "daddy". Sepintasnya sih begitu. Tapi, jangan-jangan, sebetulnya Henry bersungguh-sungguh ketika menyebut si kakek sebagai "daddy", alih-alih karena bermain peran sebagai ibunya.
Sementara itu, sensitivitas Henry rupanya juga memikat salah seorang siswi di sekolahnya. Ketika siswi yang berjiwa nyeni itu mendekati dia, timbullah kesadaran Henry bahwa dia bisa saja berakhir seperti kakeknya dan ibunya--sebagai pria yang lebih tua menjalin hubungan tertemu dengan wanita yang lebih muda dan seterusnya. Ia tidak mau hal itu sampai berulang, sehingga ia pun menolak siswi tersebut dan menyerahkan si gadis yang tinggal di rumahnya itu kepada panti sosial.
![]() |
| Pak guru sedang didekati siswinya. Gambar dari The Case for Global Film. |
Penolakan itu agaknya memicu angst (?) terpendam siswi tersebut. Sepertinya dialah yang menyiratkan akan bunuh diri pada tugas menulis soal kematian itu. Dalam suatu acara sekolah, ia telah menyiapkan kue-kue. Salah satu kue rupanya mengandung racun, yang dimakannya sendiri sehingga ia seketika tewas terkapar di antara orang-orang lainnya di sekolah.
Setelah menonton film berdurasi sekitar satu setengah jam ini, beberapa orang berkomentar bahwa nuansanya begitu depresif.
Saya sendiri jadi penasaran untuk mengonfirmasikannya pada E, seberapa dekat isi film ini dengan kenyataan yang ada di negaranya. Apalagi, saya baca di salah satu komentar, bahwa SMA yang dipakai dalam film ini berada di New York--tempat si E lahir dan dibesarkan, katanya sih.
Berikut ini "wawancara" saya dengan E, yang sudah ditata dan dibahasaindonesiakan.
S: Baru selesai nonton Detachment. Ada yang pengin saya tanyain nih.
E: Nanya apa?
S: Film ini benar-benar menggambarkan kenyataan di sana?
E: Sedikit.
S: Cuma sedikit?
E: Pengalaman saya waktu SMA sih, murid-murid emang enggak baik sama gurunya. Enggak menghormati, gitu. Orang tua bener-bener manjain anaknya, dan menyalahkan guru apa pun kesalahannya. Film ini menunjukkan kenyataan itu dalam situasi yang paling ekstremnya.
S: Paling ekstrem, ya. Biar dramatis, ya, kayaknya, biar menarik.
E: Iya, tapi emang betulan ada sih, hehe.
S: Terus saya baca di komen katanya sekolah di film ini ada di New York?
E: Iya.
S: Ada yang enggak akuratnya, enggak sih (terlepas dari dramatisasinya)?
E: Kalau ada murid yang meludah atau berbuat kekerasan sama guru, bisa dipanggil polisi tuh. Terus biasanya sih enggak ada yang bunuh diri di sekolah. Kemungkinannya orang bunuh diri di rumah, yang jelas enggak di sekolah. Udah gitu, kalau ada murid yang bunuh hewan (ada adegan menonjoki kucing sampai mati di film ini), langsung dibawa ke psikiater.
S: Di sana emang banyak remaja bunuh diri, ya?
E: Di New York? Sejujurnya, enggak juga sih. Sekolah-sekolah yang jelek di New York, kebanyakan muridnya minoritas. Di sini, anggapannya biasanya orang kulit putih yang banyak bunuh diri. Maksudnya, stereotipenya, orang kulit putih yang bunuh diri, kalau minoritas mah enggak. Jadi karena stereotipe itulah, enggak banyak minoritas yang bunuh diri.
S: Tapi itu kan "stereotipenya". Kenyataannya gimana?
E: Di Amerika Serikat, 70% dari yang bunuh diri itu laki-laki kulit putih.
S: Oh, gitu. Jadi, gimana pendapat kamu soal film itu?
E: Saya menikmati. Film itu menunjukkan anggapan umum bahwa guru-guru di Amerika Serikat itu kurang dihargai oleh murid dan orang tua.
S: Saya mendapat kesan bahwa peran orang tua itu kurang. Ada adegan ketika enggak ada orang tua yang datang buat pertemuan dengan guru.
E: Itu juga bener banget.
S: Kamu pernah enggak kepikiran jadi guru?
E: Enggak tuh, hehe. Ngajar itu kayaknya pekerjaan yang sulit dan kurang dihargai.
S: Kecuali kalau guru PNS kali, ya, hehe (seenggaknya di negara saya mereka lumayan lah).
E: Di sini, jadi guru kadang-kadang memuaskan, kadang-kadang enggak. Tergantung juga sih.
S: Oooh.
Demikianlah "wawancara" saya dengan E.
Beberapa orang di sekitar saya berprofesi sebagai guru atau paling tidak punya pengalaman mengajar di berbagai tempat. Kadang-kadang saya mendengar cerita mereka. Keluhan yang terdengar biasanya soal gaji, katrol nilai, dan semacam itu, sedangkan mengenai kekurangajaran murid sepertinya tidak sampai separah seperti yang ditunjukkan dalam film ini.
Selain itu, remaja yang bunuh diri juga merupakan fenomena menarik. Di negara kita pun ada saja kasusnya. Memang saya tidak mengetahui latar belakang setiap pelaku, betapa tidak tertahankannya penderitaan mereka. Hanya saja, sementara ini saya berpikir, sungguh sayang bahwa masa-masa remaja dan dewasa muda yang rawan itu--masa-masa "tumbuh gigi", kalau orang bilang--terhenti begitu saja. Padahal, siapa tahu, seiring dengan bertambahnya umur, akan muncul ketegaran dan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan buruk apa pun.
Di sisi lain, saya menginsafi bahwa tidak adanya dukungan--apa pun bentuknya--bisa menjadi salah satu penyebab keputusasaan yang bisa mendorong pada putusnya nyawa itu. Kalau bukan orang tua sendiri yang memberikan dukungan, siapa lagi? Tidak ada orang tua, guru yang diserahi tanggung jawab. Tapi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam film ini, guru pun bisa jadi tidak berdaya.
Saya kira, film ini bukannya mengajak hopeless sama sekali. Akhir ceritanya tampak cenderung "membahagiakan", menyiratkan harapan. Henry mengunjungi si gadis--yang tadinya tinggal di rumahnya itu--di panti sosial. Keduanya tampak senang, berpelukan. Entah apakah Henry bakal mengajak gadis itu kembali tinggal di rumahnya, kemudian menjalani hubungan seperti si kakek dan ibunya; menjadi sosok orang tua sekaligus kekasih.
Lagu lawas berikut ini sesuai dengan situasi keduanya:
Rabu, 26 Februari 2020
Tren Baru: dari TV ke Bioskop
Satu-satunya film dalam acara Pekan Film ini yang tidak mempersoalkan remaja dan anak-anak hanyalah Shi no Toge (Duri Kematian) karya Kohei Oguri. Inilah film terbaik dari semua film yang diputar dalam acara tersebut. Toshio (Kazunori Kishibe), komandan muda angkatan laut di masa Perang Dunia II, hidup bahagia bersama istrinya, Miho (Keiko Matsuzaka), dan dua anaknya. Kebahagiaan itu runtuh ketika keterlibatannya dengan wanita lain, Kuniko (Midori Kiuchi) terungkap. Sejak itu rumah tangganya menjadi neraka yang terbentuk dari pertengkaran, kecemburuan, dan kecurigaan. Meski Toshio telah memutuskan hubungannya dengan Kuniko dan bersumpah setia pada Miho, ia tak bisa mengembalikan kepercayaan istrinya.Film Jepang terbaru
Tujuh film Jepang terbaru akan diputar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, atas kerja sama Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta dan Pusat Kebudayaan Jepang. Di antara film-film produksi tahun 1990-1991 yang akan disajikan itu ada Shi No Toge (Duri Kematian), yang memperoleh penghargaan Grand Prix pada Festival Film Cannes 1991. Karya Sutradara Kohei Oguri itu mengisahkan kemelut rumah tangga dan konflik kejiwaan seorang wanita setelah Perang Dunia I. Film lainnya adalah Shonen Jidai (Masa Kecil), karya Masahiro Shinoda, tentang pengungsian massal pada masa Perang Dunia II yang menumbuhkan persahabatan di antara dua anak lelaki; Otoko Wa Tsurai Yo: Torajiro No Kyujitsu (Tora-san Ambil Cuti), film komedi situasi seri terbaru dari sutradara senior Yoji Yamada; Daiyukai (Anak-anak Pelangi), film komedi suspense tentang penculikan seorang wanita tuan tanah makmur, yang disutradarai Kihachi Okamoto; Bataashi No Kingyo (Ikan Tak Bersirip), disutradarai Joji Matsuoka, yang bertemakan cinta segitiga antar-anak remaja; lalu film Tsugumi, karya Jun Ichikawa, yang mengisahkan liburan musim panas seorang gadis manja berpenyakit jantung ke Teluk Izu; serta Harukanaru Koshien (Seruan Penonton), kisah perjuangan anak-anak tunarungu melawan keterbatasannya.
Film-film tersebut, dilengkapi teks bahasa Indonesia, diputar di Teater Tertutup, 11 sampai 18 Januari ini. Dua kali pertunjukan setiap harinya, pukul 17.00 dan 19.30 WIB. Tanda masuk bisa diperoleh secara cuma-cuma di Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta atau di Pusat Kebudayaan Jepang.
Sumber: Tempo Nomor 46 Tahun XXIII - 15 Januari 1994
Senin, 03 Februari 2020
[#90anBanget] (Baru TV, Belum YouTube, Netflix, dan Seterusnya)
Rektor ITB dan RCTI
Sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), saya sangat kecewa melihat penampilan Rektor ITB dalam tayangan "iklan" pada televisi swasta, RCTI Bandung. Tayangan itu dalam sebuah wawancara. Tapi, karena cara penayangannya (sebuah potongan pendek yang ditayangkan dalam satu paket corporate image RCTI, dipilih pendapat rektor yang bernada positif, ditayangkan berulang-ulang), wawancara itu tak ubahnya seperti sebuah iklan.
Saya tak tahu apakah RCTI telah meminta izin lebih dulu kepada yang bersangkutan untuk penayangan itu. Bila belum, sangatlah tidak etis dilihat dari sisi hak dan kepentingan pribadi figur yang digunakan.
Selain masalah etika, saya juga menyayangkan pernyataan Rektor ITB bahwa RCTI sangat bermanfaat karena memberikan informasi untuk mahasiswa ITB. Itu merupakan pernyataan yang tidak kritis. Kita bisa mempertanyakan: Apa kriteria dari "manfaat"? Bagaimana kaitannya dalam konteks mahasiswa?
Sebagian besar acara RCTI lebih bersifat hiburan. Bahkan, nilai hiburannya itu sendiri masih bisa dipertanyakan: Berapa banyak yang bermutu?
Karena itu, saya sebagai seorang penonton dan mahasiswa ITB mengimbau pada Rektor ITB dan RCTI untuk tidak menayangkan kembali pesan itu.
Sekitar 155 juta jiwa mengidap neurosis. Gejalanya termasuk berupa kecemasan yang tidak berkeruncingan dan selalu dalam perasaan tertekan. Sekitar 120 juta jiwa dirundung keterbelakangan mental. Seperti disiarkan koran The Philippine Star, yang mengutip Associated Press, awal Oktober lampau, lebih jauh disebutkan bahwa sedikitnya 50 juta penduduk dunia dilanda sakit jiwa dahsyat, termasuk skizofrenia alias gila berat. Sementara itu, 100 juta lainnya dihadang aneka problem emosional.Banyak Dibuka
-
Penulis : Gol A Gong Penerbit : Gong Publishing, Banten ISBN : 978-602-9117-24-0 (kover), 978-602-9117-25-7 (KDT) Cetakan pertama dan kedua,...
-
“ Du ” (“ You ” dalam bahasa Inggris) adalah lagu yang dibawakan oleh Peter Maffay, seorang musisi Jerman. Lagu ini menjadi hit terbesar d...
-
jika mana jutaan orang memenuhi selatan kraton masing-masing menggenggam kitiran mengacungkannya menghunjamkannya kuat-kuat dengan karet ke ...
-
Judul : Olenka Pengarang : Budi Darma Penerbit : Balai Pustaka, 2009 Paragraf pertama dalam kata pengantar novel peraih SEA Write A...
-
Tersebutlah kisah sepasang suami istri. Sang suami dikenal sebagai seorang suami yang berperasaan. Dia mau membantu istrinya mengerjakan ...
-
Baru-baru ini saya dikenalkan oleh adik saya dengan acara Horrible Histories di saluran Discovery Kids. Format acara ini semacam kumpulan s...
-
Sudah lebih dari seminggu sejak aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Pekerjaan pertamaku dan satu-satunya yang datang padaku tanpa aku me...
-
( i believe in the kingdom come/ then all the colors will bleed into one/ bleed into one, but yes i’m still running/ you broke the bonds and...
-
Ini adalah pengalamanku saat libur kenaikan kelas ke 5 SD. Seperti biasa, kalau sudah waktunya liburan, orangtuaku pasti menawarkanku untuk ...
-
Kali ini penjelajahan saya diwarnai oleh Juhe. Dia adalah teman sekelas saya di SMA. Dia orang penting di BEM UNPAD dan belum termotivasi un...
Pembaruan Blog Lain
-
Rasiah Nu Goreng Patut (1 - 2) (Soekria/Joehana, 1927) - Pada suatu pagi, gunung-gunung di sekeliling Kota Bandung tampak diselimuti kabut hingga keputih-putihan, sungguh membuat haru, membangkitkan perasaan pe...1 minggu yang lalu
-
Yentl - Oleh Isaac Bashevis Singer ISAAC BASHEVIS SINGER, pemenang Nobel Sastra 1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di… Read more Yentl10 bulan yang lalu
-
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan - Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan berle...6 tahun yang lalu














.jpeg)

.jpeg)



