Tampilkan postingan dengan label tontonan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tontonan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

Lawatan YouTube Mei 2026

Business Insider


Masih tentang usaha pengolahan limbah, kali ini bukan cuma di India, melainkan juga Sierra Leone, Argentina, dan Indonesia. Mungkin saja kelak ketika yang kita punya kebanyakan tinggal limbah dan pengangguran, akan bermunculan banyak usaha kecil pengolahan limbah agar kembali dapat digunakan, dan melibatkan banyak pekerja.


Baru tahu ada yang namanya curling. Itu sejenis olahraga yang masuk ke olimpiade. Sepenglihatan di video sih, cara mainnya yaitu dengan memegangi batu yang meluncur, lalu batu itu disundul-sundul pakai tongkat, malah ada juga yang seperti menyikat-nyikat di depannya(?). Yah, ada video lain yang menerangkan cara bermainnya, tapi tetap saja ada komentar-komentar yang mengatakan bahwa ini sport yang weird dan stupid.


Wasabi, semacam lobak hijau asli Jepang, ternyata punya syarat tumbuh yang sangat khusus sehingga sulit dibudidayakan. Persisnya, tumbuhan ini cocok di tempat teduh berbatu-batu yang dialiri air. Sudah mah rasanya tidak enak, menumbuhkannya sulit, pemanfaatannya tidak tahan lama pula, wkwkwk. Setelah diparut, wasabi harus langsung dikonsumsi atau cita rasanya bakal berubah. Tapi, katanya wasabi yang asli rasanya beda daripada yang buatan--yang umumnya beredar karena lebih mudah diproduksi. Wasabi yang asli lebih bisa dinikmati kali ya, katanya sih ada manis-manisnya.


Kerja tambang sulfur di Kawah Ijen ini sepertinya sudah banyak yang meliput di YT. Ini pekerjaan yang sangat berisiko tapi bayarannya relatif lebih tinggi daripada pekerjaan-pekerjaan lain yang tersedia, makanya ada saja orang yang mau melakoninya. Membaca komentar-komentar, banyak yang bersimpati, tapi ada juga yang menyayangkan karena sebetulnya bisa saja dibikin cara yang efisien untuk menambang dan mengangkut sulfur tanpa harus menggunakan tenaga manusia yang mengorbankan diri mereka sendiri. Apalagi narasi di video pun bilang bahwa kebanyakan sulfur bisa diekstrak dari hasil tambang lainnya dengan cara yang lebih aman, sehingga praktik ala Kawah Ijen ini tidak perlu dilanjutkan. Perusahaan yang mempekerjakan mereka juga menolak untuk diwawancara.

Mungkin, karena SDM di Pulau Jawa melimpah, maka praktik ini kendati berbahaya tetap saja ada yang mau melakukannya, asal bayarannya sepadan. Kalau segala harus dibikin serba efisien, dengan peralatan canggih sampai kecerdasan buatan, kelimpahan SDM ini mau diberdayakan bagaimana? Biarlah itu kerja yang berbahaya atau tidak efisien sekalipun, asal kerja, asal menunjukkan guna sebagai manusia. Berani mati, takut lapar, kata penambang yang diwawancara di video. Adakah yang berani mati akibat kelaparan?

Film Dracula: Dead and Lovin' It


Lucu-lucu horor, cuma agak saru karena banyak "balon" dan desahan. Lega ketika pada akhirnya si Dracula mati. Seperti film Leslie Nielsen lainnya, Naked Gun 2 1/2, di puncak masalahnya terselesaikan secara tak terduga dan "bodoh"--saking bodohnya sampai-sampai menggelikan.

Seputar Afrika Barat dan Sahara


Dokumenter ini saya sudah pernah menonton sebelumnya, mungkin empat tahun lalu ketika baru keluarnya--mungkin karena YouTube jadi suka merekomendasikan untuk menonton ulang setelah empat tahun. Bagaimanapun, saya menyukai dokumenter ini. Isinya tentang bagaimana pekerjaan, cara hidup, ilmu pengetahuan, dan tradisi diwariskan dari generasi tua ke generasi muda, hingga saya berpikiran pantas kalau dahulu orang tua sangat dihormati, karena orang tua menjadi sumber pengetahuan yang utama tentang cara bertahan hidup termasuk cara bersenang-senang, sebagaimana ditunjukkan melalui lomba balap unta dan lomba-lomba lainnya di ujung video. Di video ini pun tidak tampak perangkat elektronik, yang bagi anak muda perkotaan zaman sekarang telah menjadi sumber informasi utama, dan orang tua menjadi pihak yang inferior karena cenderung lambat menguasai teknologi terbaru, sehingga anak menjadi lebih tahu dan bersikap superior, kurang penghormatan kepada orang tua. Tapi, saya mencatat tentang video ini sambil menimbang-nimbang apakah perlu membeli tablet baru, dan lagi pula saya bisa menonton itu juga kan lewat tablet. Ah, bagai buah simalakama.


"Tenere", kata yang saya kenal dari judul lagu Tinariwen, "Amassakoul 'N Tenere", artinya kurang lebih kekosongan karena di kawasan Sahara bagian situ benar-benar tidak ada apa-apa, padahal tidak juga. Ada lukisan dinding kuno sebagaimana ditunjukkan di dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Karena lukisan itu menampakkan gambar hewan-hewan yang tinggal di kawasan Afrika yang lebih hijau, mungkin juga ada bukti-bukti lain, maka konon Sahara dulunya merupakan kawasan hijau. 

Kawasan yang "kosong" itu juga nyatanya "jalan tol" bagi karavan yang bisa terdiri dari ratusan ekor unta dalam barisan panjang, berpapasan dengan satu sama lain, demikian dokumenter ini ditutup.

Touareg adalah nama suku yang menguasai kawasan itu. Kalau ingin melintasi Sahara, baiknya minta ditemani oleh mereka. Kalau tidak, bisa-bisa dianggap melanggar wilayah dan dibantai; kejadian ini pernah menimpa rombongan ekspedisi Perancis-Aljazair pada 1880. Tinariwen adalah grup musik Touareg.

Jadi dokumenter ini isinya kurang lebih mirip dengan dokumenter sebelumnya ("Sahara: Wilayah Para Jin"). Ada bule minta ditemani warga lokal melintas Sahara. Warloknya saleh, yang dalam perjalanan tidak lupa salat. Bedanya, di dokumenter kali ini tidak melibatkan jin, dan warloknya bukan cuma satu orang. Malah dalam dokumenter ini mereka rombongan agak banyak dengan beberapa mobil jip. Sedangkan di dokumenter sebelumnya berdua saja pakai unta. 


Setelah menonton sedikitnya tiga dokumenter tentang kehidupan di Sahara, saya merasa isinya secara pokok kurang lebih persis: melintasi padang yang sejauh mata memandang kebanyakan hanya pasir, panas, kering, dan ekstrem, bersama unta hewan ajaib yang tahan tidak minum sampai lama, sanggup membawa beban berat juga. Di tengah perjalanan ada lukisan dinding gambar jerapah dan hewan-hewan lainnya. Di ujung akhirnya bertemu "peradaban" lagi--kawasan hunian manusia.

Bedanya, di dokumenter kali ini, tidak ada bule yang menemani, atau mereka mungkin hanya memfilmkan tapi tidak ikut tampil di depan kamera. Dokumenter ini lebih berfokus pada segi-segi kehidupan Touareg yang meliputi persiapan melepas karavan, mulai dari bekal apa saja yang harus dibawa, festival pelepasan, jenis-jenis pekerjaan lainnya dalam masyarakat Touareg yang masih berkaitan dengan perjalanan karavan (contoh: pandai besi untuk membuat senjata, penggali sumur untuk persediaan air), serta cara hidup wanita-wanitanya yang saling bantu, bekerja secara berkelompok, mulai dari mengolah makanan sampai mendirikan rumah yang berpindah-pindah, dan memasang tempat tidur portabel. Wanita sangat dihormati dalam masyarakat Touareg yang monogami. Jika bercerai, harta benda jadi milik istri. Yang menutupi wajah justru pria--sedangkan wanita hanya mengenakan kerudung--tapi sepertinya ini lebih untuk perlindungan dari cuaca terik sementara mereka pergi jauh sih. Umumnya orang Touareg muslim, menunaikan salat dan menghafal Al-Qur'an, tapi juga masih ada kepercayaan lama.

Persamaan video kedua dan ketiga adalah sama-sama mengikuti perjalanan karavan ke Bilma, tempat penghasil garam. Di sana mereka bertukar komoditi. Timbangan tidak ada, sehingga untuk menakar mereka menggunakan mangkok yang diisi penuh-penuh. Sangat sederhana. Air begitu terbatas. Listrik juga tidak pakai sepertinya. Namun mereka mampu bertahan sebegitu lama hidup di kawasan itu, tidak kebat-kebit bila mati listrik. Dan, apakah mereka mandi? 

Video ketiga ini tampak lebih lengkap menyajikan kehidupan masyarakat Touareg, sedangkan kedua video sebelumnya lebih kayak menemani bule penasaran jalan-jalan melintasi Sahara.

Buku Audio Days at the Morisaki Bookshop


Ceritanya tampak sederhana, tipe slice of life? Pada awalnya cukup menikmati. Saya lumayan relate karena pernah bantu-bantu di toko buku kecil yang juga menjual buku-buku bekas, dan yang berkunjung kadang hanya untuk mengobrol, juga penting untuk selalu bersikap baik, ramah, dan mengenal sebanyak-banyaknya orang. 

Cerita dimulai dengan si tokoh utama putus hubungan dari pacarnya sampai resign kerja karena mereka sekantor. Selagi depresi dan menganggur, dia ditawari bekerja di toko buku milik keluarga yang dikelola oleh pamannya. Dia ambil tawaran itu. Setelah bekerja di toko buku, dia mulai membangun hubungan-hubungan baru, walaupun belum untuk menggantikan hubungan cinta kepada kekasih. Dalam bagian pertama cerita ini dia banyak bercerita tentang pamannya yang sempat mempunyai istri, tapi istrinya kabur. Si tokoh utama tidak seterusnya bekerja di toko buku. Dia melamar pekerjaan lain, diterima, dan pindah.

Di bagian kedua, istri si paman kembali. Si tokoh utama menyempatkan untuk mampir ke toko buku. Selain membangun hubungan dengan istri si paman, dia juga menyambung hubungan dengan tokoh-tokoh lain yang telah muncul di bagian pertama. Di bagian ini, saya sudah kurang menikmati cerita. 

Entahlah, rasanya cheesy? corny? jasukey? Cerita ini mungkin dimaksudkan untuk memberikan perasaan enak dan tenang bagi yang membaca, dengan menempatkan diri dalam posisi si tokoh utama, yang setelah mengalami kejadian pahit, lantas mengambil jeda untuk tidur, membaca buku sebanyak-banyaknya, menjalin hubungan kasual dengan orang-orang, serta berjalan-jalan ke alam--kesempatan yang mungkin tidak dapat dialami setiap orang yang kepengin karena kehidupannya penuh tuntutan, sehingga sedikitnya mencicipi lewat novel.

Saya juga merasa aneh dengan cara para tokoh menunjukkan afeksinya. Pertama, ketika si paman bilang "I love you" ke tokoh utama sembari minum minuman beralkohol, berdua saja di kamar. Otak saya mungkin sudah banyak kemasukan berita-berita akhir zaman, sehingga adegan ini terasa rada-rada. Lalu, ada adegan ketika si tokoh utama dengan istri pamannya itu berpelukan sambil telanjang di pemandian air panas. Yah, di Jepang mandi bugil bersama mungkin biasa saja, termasuk sambil pelukan dengan sesama jenis. Tapi di budaya saya tidak ada yang begitu. 

Kalau saya baca sendiri buku ini sampai tuntas, mungkin saya kasih bintang satu atau dua di Goodreads.

Trio NPD


Bila konten Kak Kev muncul di Instagram, muncul dilema: enggak ditonton, penasaran, setelah ditonton, kok geli. Lalu entah bagaimana dia berkolaborasi sama sepupu Raisa bikin trio yang lagunya memuja-muja diri. Ketika mereka tampil di acara yang tidak biasanya saya tonton, saya klik. Acara ini pecahnya di ujung, ketika Andre berusaha mengimbangi kegaulan Mario dengan celetukan-celetukan Inggris yang enggak nyambung.

Lagu MBG


Biasanya saya tidak suka yang AI-AI, tapi sepertinya satu Indonesia lagi kejangkitan wabah terngiang-ngiang sama lagu ini. (*menulis ini sambil terdengar anak-anak lewat jalan depan rumah menyanyikannya)

Kamis, 07 Mei 2026

Video-video Panjang yang Tamat Disimak Selama April 2026

Dengan adanya Instagram, menamatkan video panjang di YouTube jadi memerlukan ketabahan sebagaimana dalam menamatkan buku, kecuali kalau isinya benar-benar menarik/mengalir, atau lagi ada energi lebih untuk fokus sampai tuntas. Sebagaimana waktu membaca buku, kadang-kadang pikiran dengan sendirinya merumuskan isi video dan timbul kesan-kesan tertentu.

Film King of Comedy


Dari cuplikan-cuplikan Shaolin of Soccer, jadi menonton satu film full Stephen Chow, King of Comedy. Dari segi alur cerita, film ini banyak naik-turunnya; kayak, dikira setelah ini situasi tokohnya bakal membaik, ternyata enggak jadi, terus membaik lagi, begitu seterusnya. Romance berlangsung terlalu cepat dengan pemeran perempuan yang sangat cantik sekali banget. Yah, namanya juga film: durasi terbatas, harus menjual visual, sekaligus relatable bagi banyak pejuang kehidupan.

Dokumenter Sahara: Wilayah Para Jin


Menonton ini atas rekomendasi seseorang. Sepanjang menonton, saya bertanya-tanya, Mana penampakan jinnya? Jin itu sepertinya mewujud dalam kepercayaan warga lokal yang akan menemani si pembuat dokumenter melintasi Sahara. Kendati rajin salat dan berzikir, anak-anaknya pun penghafal Al-Quran, ia membawa si pembuat film ke "orang pintar" untuk meminta semacam pelindung sebelum memulai perjalanan.

Dokumenter ini lebih merupakan rekaman perjalanan melintasi Sahara, persisnya rute yang hampir-hampir tidak pernah dilalui manusia. Sebenarnya ada satu perhentian di mana mereka menemukan jejak manusia berupa lukisan gua. 

Dokumenter ini juga mengenai keajaiban unta yang di samping kerelaannya melayani manusia menanggung banyak beban berat dalam perjalanan panjang, juga bisa mencari makan sendiri dan tahan tidak minum sampai sebulan lebih. 

Tentunya dokumenter ini membawa kita mengalami (meski secara virtual saja) suasana di gurun pasir yang betapa luas tetapi juga serba terbatas dan sering amat sangat panas. Panorama di sekitar Ka'bah boleh jadi berubah-ubah seiring dengan waktu bertambah-tambah mewah, tapi di gurun pasir serupa ini, agaknya begitu-begitu saja sedari masa nabi-nabi (enggak tahu deh waktu Sahara katanya pernah berupa hutan)--tempat mereka menerima wahyu dari Penguasa Semesta Alam. Dalam kekosongan yang mahaluas di gurun pasir, Yang Maha Esa mengumumkan keberadaan diri-Nya; sedangkan dalam hutan tropis yang rimbun penuh distraksi aneka rupa flora dan suara satwa, tumbuh kepercayaan terhadap berbagai entitas gaib. Yang di gurun mengangankan surga sebagaimana alam tropis, sedangkan yang di kawasan tropis mesti menempuh perjalanan sebegitu jauh dan mahal untuk sampai ke titik syiar wakil-wakil Yang Maha Esa.

Perjalanan di kawasan gurun ini membuat saya ingin mendengarkan lagi lagu-lagu dari album Putumayo Presents Mali. Sedikitnya ada dua lagu favorit saya dari album tersebut, yaitu 

"Bana" (Issa Bagayogo) 


dan "Amassakoul 'N'Tenere" (Tinariwen). 


Kedua lagu ini vibe ngegurunnya kerasa banget, membawa seolah-olah lagi naik jip melintasi perkampungan di Afrika, persisnya Mali kali ya. 

Kebetulan saya lagi membaca buku Mansa Musa: The Most Famous African Traveler to Mecca, sambil googling-googling karena sedikitnya yang saya ketahui mengenai peradaban yang pernah ada di sana. Ternyata kawasan tersebut tidak hanya memiliki raja paling kaya, tetapi juga pernah menjadi pusat keilmuan paling maju, dan sampai sekarang masih ada beberapa penyalin yang berusaha melestarikan naskah-naskah kuno dari masa kejayaan Islam itu.


Dokumenter Business Insider


Berbagai produk makanan yang beredar di pasaran, contohnya madu, vanila, wasabi, sirup mapel, keju, kaviar, dan lain-lain, ternyata banyak yang bukan 100% asli. Soalnya, produk-produk tersebut sulit dihasilkan dalam skala besar, antara lain karena sumber dayanya dari alam kurang, sementara permintaan banyak, maka dibikinlah produk buatan yang kadar keasliannya cuma sekian persen.


Masih terkait sumber daya alam sebagai bahan baku produk-produk keperluan manusia, dokumenter dari seri World Wide Waste ini meliput berbagai usaha pengolahan sampah di India menjadi produk baru, walaupun tampaknya sampah sumbernya itu mengandung racun atau logam berat berbahaya, contohnya: dupa dari limbah bunga yang disemprot pestisida, boneka yang kapas isiannya dari bekas puntung rokok, dan seterusnya. Di satu sisi, ini riskan. Di sisi lain, ini tampak sebagai solusi sementara atas permasalahan sampah sekaligus membuka lapangan pekerjaan; lagi pula, kalau bahan baku harus 100% baru dan aman, sebagaimana yang ditunjukkan pada dokumenter pertama, ketersediaannya di alam mungkin terbatas, atau dapat menjadi eksploitasi baru sementara alam yang tersisa mungkin tinggal yang harus dipreservasi saja. Jadi, manfaatkan yang ada dulu, risikonya tanggung sendiri-sendiri nanti-nanti 🫤

Novel Bentang Lapangan


Melihat dari kovernya saja, saya menduga ini novel untuk anak remaja, mungkin tentang anak remaja yang berbakat bermain sepak bola kemudian menjadi juara, semacam Kapten Tsubasa versi Sunda. Ternyata, memang di dalamnya ada tokoh anak remaja berbakat, tapi bukan dia tokoh utamanya. Naratornya sudah bapak-bapak, adapun tokoh utamanya sepertinya adalah Basri yang usianya sudah sekitar seperempat abad, mempunyai istri, dan bekerja di kantor, sedangkan bermain sepak bola profesional adalah sampingan. Rupanya novel ini menceritakan dunia sepak bola profesional dan pengarangnya sendiri--yakni Rachmatullah Ading Affandie-- berpengalaman menjadi komentator siaran sepak bola di RRI serta Ketua Komisi Teknik Persib. Ceritanya, selain kental dengan sudut pandang dan istilah persepakbolaan, juga menyoroti kejiwaan para pemain, seperti kepercayaan diri, kemampuan bekerja sebagai tim, kesombongan, hingga integritas, yang sepertinya bisa ditarik ke ranah apa saja. Itu kondisi-kondisi yang mungkin berkembang dalam jiwa setiap manusia di mana pun ia berkiprah.

Banyak lagi video yang diputar sampai selesai, tapi hanya didengar sambil mengerjakan hal lain, terputus-putus, dengan konsentrasi timbul tenggelam, dan tidak selalu mengenai topik yang benar-benar diminati atau dipahami, sehingga tidak terumuskan isinya juga kurang menimbulkan kesan tertentu.

Senin, 06 April 2026

Loneliness in Japan (spoiler Dokumenter Aljazeera)



Dokumenter berdurasi sekitar 3/4 jam ini mengikuti dua orang Jepang yang kesepian, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki suka memiara hewan, mengalami masalah dalam pekerjaan hingga dipecat, kemudian mendaftar untuk memperoleh tunjangan karena tidak ada anggota keluarga yang dapat menopangnya. Yang perempuan suka bermain musik, lalu bertemu kawan perempuan, dan ujungnya tampil di konser kecil. Keduanya pengguna layanan A Place for You, suatu tempat curhat, tapi ada petugas betulan yang membalas chat mereka alih-alih AI bot. Selain itu, di Jepang ada kementerian yang menangani masalah kesepian, seperti di Inggris. 

Tidakkah mengherankan, orang sebegitu banyak, laki-perempuan pada melajang, masing-masing, seperti muspra bagi sesama, padahal tidak juga. Menurut pendeta Buddha yang kerap didatangi si lelaki dalam dokumenter ini, sebetulnya kita tetap saling terhubung. Nyatanya, apa-apa yang kita pakai adalah hasil jerih payah orang lain, jadi secara tidak langsung kita berguna bagi satu sama lain. Meski demikian, kerap kali kita juga tidak merasa terhubung dengan orang lain. Seakan-akan rasa keterhubungan itu harus kita hidupkan sendiri, barangkali dengan apresiasi dan imajinasi bahwa di balik setiap hal kecil yang kita pakai, ada seseorang. 

Selama menonton, saya bertanya-tanya mengenai proses pemfilmannya. Apa mereka sebetulnya aktor dengan skrip? Bagaimana si pembuat film mengetahui akhirannya akan seperti itu dan mendapatkan alurnya? Atau ia hanya mengikuti kehidupan dua orang yang punya problem sampai memperoleh suatu alur, seperti satu kiat dalam buku mengenai teknik menulis nonfiksi kreatif, You Can't Make This Up?

Sabtu, 18 November 2023

Investasi yang Paling Berharga Adalah Keluarga

Sebagaimana yang terekam di blog ini, sejak pandemi, sudah tidak menonton bioskop sendiri lagi. Juga ada kesadaran mengalokasikan uang untuk suatu kepentingan. Tapi kalau ada teman yang mengajak, hayuk saja, filmnya pun menurut pilihan dia. Ada satu film yang kami tonton begitu pandemi reda. Film itu katanya diadaptasi dari cerita di suatu platform kepenulisan, tokoh utamanya diperankan oleh aktor kesukaan dia tapi saya lebih suka sama pemeran antagonisnya(?). Film itu saya tidak ingat amat judulnya, bikin saya ketawa-ketawa sendiri di ruang bioskop--maksudnya, itu bukan film komedi tapi teen romance action atau apalah istilahnya yang karena beberapa hal saya jadi literally ketawa sendiri--dan malas mencatat pengalaman itu di blog ini sesudahnya.

Teman itu baru-baru ini memilihkan film lain yang saya lagi-lagi ikut saja. Tanpa ekspektasi apa-apa. Tidak berdaya juga ketika kami dapat bangku di baris kedua dari depan. Memang itu hari pertama film tersebut ditayangkan di bioskop. Cukup banyak yang mengantre. Sebanyak inikah orang yang gabut pada Kamis siang? Akan jadi apa negara ini??

Kali ini si teman memilihkan film yang tepat buat saya. Di samping bikin tidak mengeluh karena mesti mendongak menontonnya, juga sekarang saya ketawa-ketawa tidak sendirian lagi tapi serempak bareng banyak penonton lain. Ketawa tulus karena terhibur oleh joke-joke yang mulus, bukan karena jiwa yang sok mau jadi snob. Film itu adalah Gampang Cuan, yang setelahnya saya berpikiran ini layak ditonton berkali-kali untuk ditelaah sembari mencari landasannya di buku-buku teori komedi. Memang dari segi komedi menurut saya film ini pol pisan somehow, tidak asal lucu. 

Gambar dari Media Indonesia.

Salah satu adegan mengibuli orang tua.
Gambar dari KUY!
Ini juga film keluarga dengan pesan moral yang sangat kuat. Sedikitnya ada dua poin yang saya tangkap yaitu konsekuensi dari berbohong kepada orang tua sekalipun untuk berbakti, di sisi lain posisi tokoh utama sebagai kepala keluarga yang ingin menjaga ketenteraman keluarga menjadi motifnya untuk berbuat demikian. Secara personal, ini kena bagi saya--mengingatkan pada kepala di keluarga saya sendiri yang kadang-kadang bikin saya menitikkan air mata diam-diam mengingat perbuatan-perbuatannya yang bercampur antara baik dan buruk, kasih sayangnya kepada keluarga yang kadang-kadang membuatnya seperti tidak ada rasa bersalah untuk begini-begitu, yah, sebagaimana si kepala keluarga dalam film ini lah. Film ini mestilah membuat kita mesti lebih mengapresiasi kepala di keluarga masing-masing, terutama jika ia sungguh-sungguh menyatakan tanggung jawabnya, dan tentu saja, kebersamaan dalam keluarga itu sendiri, yang mana nilai-nilai ini kian hari kian luntur; banyak manusia yang sudah tidak paham lagi pentingnya membangun keluarga, akibat tuntutan yang entah dari mana asal-muasalnya agar mementingkan diri sendiri dan mengurus segalanya sendiri-sendiri tidak perlu lagi saling berbagi. 

Di samping komedi keluarga, ini juga film edukasi saham--atau pada pokoknya mengenai cara meraih dan mengelola cuan. Dasarnya, saya tidak ada ketertarikan pada permainan ini. Namun sepanjang perjalanan hidup saya sejauh ini (yang padahal belum juga paruh baya--sedikit lagi :p), ada beberapa referensi tentang dunia itu yang mampir. Yang langsung teringat yaitu:

1. Buku tentang kehidupan jurnalis pasar modal, yang sudah saya ulas di blog ini (tautan tersemat), dan;

2. Video Jaya Setiabudi.

Preferensi saya pribadi dalam hal ini masih lebih ke cara spiritual-tradisional seperti menabung emas (walaupun lama sekali baru bisa terkumpul hanya untuk membeli batang terkecil produk Antam wakakaka), bersedekah dan semacam itulah--yang tampak lebih "simpel" sekaligus berorientasi jangka paling panjang (sampai ke akhirat).

Harus pakai kostum bagus untuk
mengikuti permainan orang kaya.
Gambar dari TEMPO.co.
Begitulah maka dari film ini pun siratan yang tertangkap oleh saya: pada akhirnya dari main saham keluarga kelas bawah ini tidak mendapatkan untung apa-apa, selain mendalami arti keutuhan keluarga dan menghargai peran kepala keluarga. Keluarga adalah benteng pertahanan, menegaskan ungkapan klise tapi nyata menjadi ujian banyak orang untuk dibuktikan: "harta yang paling berharga". Dari dialog tokoh Robert Winoto, terkesan bahwa saham itu permainan orang kaya yang sudah kebanyakan duit dan ingin mencapai tujuan-tujuan finansial yang lebih tinggi alih-alih cara cepat cari cuan bagi yang kepepet. Pun, sebagaimana dinyatakan lewat tokoh Evan, main saham tanpa hitung-hitungan menjelimet ("anal-isis", dia bilang, ini karakter memang ass-hole) alias cuma tebak-tebakan itu sama saja kayak judi. Dan, kita tahu, menurut sang kesatria bergitar ....

Setelah menyajikan suatu gambaran akan jatuh-bangunnya pontang-pantingnya pergulatannya orang bawah menuruti permainan orang atas, film ini menyerahkan pilihan kepada pemirsa. Pilihannya pun bukan cuma saham, melainkan ada pula reksadana, deposito, surat utang negara, dan seterusnya, yang dijelaskan sesederhana mungkin menggunakan perumpamaan ternak ayam. Tapi, jangan lupa, investasi yang paling berharga mungkin ada pada kualitas hubungan dengan keluarga khususnya dalam masa terpuruk.

Sekilas info: Parkiran BIP diskriminatif karena tidak menampung sepeda di basement, lain dengan BEC dan Kings yang menyediakan palang parkir sepeda searea dengan motor di dalam gedung. Parkirlah di GGM; selain orang-orangnya ramah, saya mendapat fasilitas valet parking segala--gratis! Tersedia keran juga dekat situ buat cuci tangan habis pegang setang sepeda yang masih ada bekas oli dari bengkel.

Selasa, 20 Juni 2023

Sudahkah kamu menangis pagi ini?












Tiap kali makan gorengan (dari kelapa sawit) atau pakai perangkat listrik (dari batu bara), ingatlah kezaliman yang secara tidak langsung tanpa disadari telah kita perbuat pada orangutan di menit 2:59 - 3:06 video ini.


Ini baru satu contoh.

Gambar diambil dari situs Hati Senang.

Did you ever stop to noticeAll the blood we've shed before?Did you ever stop to noticeThis crying Earth, these weeping shores?

(Salah satu video klip yang bikin mewek.
Tidak pernah tahan menontonnya sampai selesai.)

Masih senang hidup di muka bumi ini? Masih mau terus mengonsumsi tanpa menelusuri potensi kerusakan yang ditimbulkan sepanjang rantai produksi dan distribusinya? Masih mau menambah kerusakan dengan tidak mengambil tanggung jawab atas sisa konsumsi? 

Terasa beratnya beban sebagai rahmatan lil alamin.

Gambar dari situs Brainly.

Gambar dari Facebook.

Gambar dari Flickr.

Selasa, 25 Agustus 2020

Mau Jadi SJW? Tonton Dulu Film Ini!

Sepintas saya melihat cuplikan thumbnail film ini di layar HP. Biasanya saya abaikan saja rekomendasi dari YouTube itu. Tapi, kemudian sebuah pesan datang dari teman chat saya di AS. Dia berbagi sebuah link, yang dia peroleh dari teman chat-nya yang lain dari Indonesia. Teman chat-nya itu tinggal di Wonogiri dan bilang bahwa film itu menggambarkan kehidupan di tempatnya, khususnya budaya menjenguk orang yang sakit.

Teman chat saya membocorkan bahwa film ini dimulai dengan pergosipan, suatu topik yang pernah kami bicarakan dan dia ingat bahwa saya tidak menyukainya. Untuk menghargai teman chat saya itu, saya pun mengeklik link tersebut dan terbukalah film ini di YouTube.  Wow, tak kusangka rupanya berjodoh dengan yang tadinya cuma terlihat sambil lalu dan tertepikan. Malah, akhirnya saya membagikan link film ini ke beberapa teman lain.


Film ini menjadi istimewa buat saya karena beberapa hal berikut:

Latarnya di Jogja, sehingga nostalgia

Dialog yang hampir semuanya berbahasa Jawa, plat truk yang ternyata AB, pelang yang menunjukkan bahwa mereka baru keluar dari Bantul, dan detail lainnya, membangkitkan suasana yang pernah familier buat saya. Maklum saja, dulu saya kuliah di Jogja.

Sudah begitu, tampang tokoh-tokoh utamanya sendiri entah kenapa kok mirip dengan beberapa orang yang saya kenal di kampus. Akting mereka pun terasa natural, meyakinkan.

Genrenya yang komedi satire, kesukaan saya

Sepanjang cerita, ada saja hal yang bikin saya ketawa. Seiring dengan bergulirnya dialog, saya merasakan bahwa film ini bukan sekadar hiburan melainkan potret perilaku manusia. Kemasannya sih sederhana. Peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak begitu luar biasa, malah mungkin sangat akrab bagi masyarakat dari latar tertentu. Dialog yang lebih banyak bermain dengan tajamnya, membungkus konflik yang sesungguhnya pelik.

Rumusnya: Lucu, tapi menyentil. Sederhana, tapi pelik. 

Apanya yang menyentil sekaligus pelik?

Seperti yang telah dibocorkan teman chat saya, film ini dibuka dengan pergosipan. Sekelompok ibu-ibu berjilbab sedang dalam perjalanan di atas truk untuk menengok Bu Lurah yang dirawat di rumah sakit. Dalam situasi itu, si tokoh "jahat", sebut saja Bu Tejo karena memang demikian nama perannya, mengisi waktu dengan menggosipkan Dian--kembang di kampung mereka. Seorang ibu-ibu lain, Yu Ning, tampak gerah mendengarnya. Berkali-kali Yu Ning menimpali agar Bu Tejo tidak asal membicarakan orang, karena bisa saja itu fitnah.

Jilbab termasuk ucapan-ucapan religius yang menyelip di percakapan mereka menunjukkan bahwa mereka umat Islam. Seorang muslim yang cukup belajar agama tentu tahu bahwa gibah dan fitnah merupakan dosa. Maka sikap Yu Ning terhadap Bu Tejo bisa dianggap merupakan amar ma'ruf nahi munkar (: menyuruh kepada kebaikan, dan mengajak menjauhi keburukan).

Tapi kemudian terkupas bahwa tiap-tiap karakter itu mungkin punya motif tersembunyi. 

AWAS SPOILER!!!

Suami Bu Tejo rupanya hendak mengajukan diri sebagai lurah. Mungkin dia menjelek-jelekkan Dian--yang notabene punya hubungan dengan Bu Lurah--untuk menyingkirkan pesaing.

Yu Ning sendiri rupanya masih bersaudara jauh dengan Dian. Jadi, apakah dia murni ber-amar ma'ruf nahi munkar atau sekadar menyelamatkan muka keluarganya?

Truk yang mereka tumpangi pun akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. Mereka disambut oleh Dian, yang dari tadi jadi bahan gosip itu. Selain itu, ada Fikri--anak Bu Lurah. 

Dian dan Fikri lalu menjelaskan bahwa Ibu Lurah belum bisa dijenguk karena masih dirawat di ruang ICU.

Ibu-ibu pun pada kecewa.

Yu Ning merasa bersalah karena dia lah yang mengusulkan untuk menjenguk Bu Lurah.

Untuk mengobati kekecewaan ibu-ibu, Bu Tejo mengajak agar mereka sekalian jalan-jalan ke Pasar Beringharjo.

Ibu-ibu pun pergi. Namun cerita belum berakhir. Film ditutup dengan adegan singkat yang menunjukkan bahwa ... Dian memang seperti yang digosipkan oleh Bu Tejo itu.

Akhir yang menghentak, menurut saya. Seketika, timbul di pikiran saya, jangan-jangan film ini beramanat agar:

JANGAN JADI SJW.

SJW atau Social Justice Warrior adalah istilah yang kerap saya temukan di internet belakangan ini. Istilah ini merujuk pada orang-orang yang doyan "membela kebenaran dan keadilan", eh, maksudnya, mendesakkan standar moral mereka kepada orang lain. Dalam film ini, tokoh Yu Ning bertindak sebagai SJW dengan berkali-kali menegur Bu Tejo yang demikian asyik bergosip. Belum cukup, setelah truk mereka sempat mogok, Yu Ning menyinggung Bu Tejo yang tidak ikut mendorong kendaraan bersama ibu-ibu lain. Bagi yang memahami kacamata Yu Ning, tentu mudah mengklaim Bu Tejo sebagai tokoh antagonis yang kerap didentikkan dengan sifat jahat. 

Namun cerita malah diakhiri dengan memberikan kemenangan kepada Bu Tejo, baik yang disadari maupun tidak. 

Yang disadari adalah ketika ternyata Yu Ning juga termasuk pemberi kabar yang "enggak jelas", seperti menjilat ludah sendiri. Maksudnya, tidak jelas apakah Bu Lurah yang sakit itu sudah bisa dijenguk atau belum. Semestinya Yu Ning mengonfirmasikan terlebih dahulu bahwa Bu Lurah memang sudah siap untuk dijenguk. Tapi, yah, HP-nya juga kehabisan baterai dalam perjalanan. Apes. Kemenangan itu ditegaskan Bu Tejo dengan memanfaatkan situasi, mengambil hati ibu-ibu lewat usul jalan-jalan ke Pasar Beringharjo.

Yang tidak disadari, yaitu bahwa Dian memang berkencan dengan laki-laki yang jauh lebih tua. Seandainya Bu Tejo tahu, tentu dia jauh lebih senang lagi--merasakan kemenangan ganda.

Kaitan dengan bacaan

23 Agustus tampaknya hari adab amar ma'ruf nahi munkar sedunia. Paginya, saya membaca tafsir Quran Surat Al-Baqarah ayat 44. Siangnya, saya membaca The Daily Stoic: 366 Meditations on Wisdom, Perseverance, and the Art of Living (Ryan Holiday dan Stephen Hanselman, Portfolio, 2016) entri 23 Agustus. Malamnya, saya menonton film ini. Semuanya ternyata berkaitan.

Al-Baqarah ayat 44 berbunyi sebagai berikut:
"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?"
Saya membaca tafsirnya di aplikasi yang memuat versi Kemenag RI dan Ibnu Katsir. Tafsir tersebut menjelaskan latar belakang turunnya ayat ini, yaitu mengecam perilaku beberapa orang Yahudi yang menasihati keluarga dan kerabatnya agar tetap memeluk agama Islam, namun mereka sendiri tidak mengamalkannya. Dengan begitu mereka telah merugikan diri sendiri. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa mereka seolah-olah tidak berakal. Sebab, masakkah orang berakal tidak mengamalkan ilmu pengetahuannya? Ayat ini agar menjadi pelajaran bagi setiap bangsa, bukan hanya Bani Israil yang pembaca Taurat.

Lebih jauh, tafsir Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan perintah amar ma'ruf nahi munkar. Menyuruh kepada kebaikan dan mengajak menjauhi keburukan merupakan kewajiban bagi setiap orang yang berilmu, tapi lebih wajib lagi bagi dia untuk mengamalkannya.

Selanjutnya, seperti biasa, pembacaan tafsir jadi membingungkan karena ditampilkan berbagai pendapat ulama, di antaranya:
Malik ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'id ibnu Jubair berkata, "Seandainya seseorang tidak melakukan amar ma'ruf, tidak nahi munkar karena diharuskan baginya bersih dari hal tersebut, niscaya tidak seorang pun yang melakukan amar ma'ruf, tidak pula nahi munkar." Malik berkata, "Dan memang benar, siapakah orangnya yang bersih dari kesalahan?"
Masuk akal memang.

Tapi sepertinya itu menunjukkan kealiman yang belum paripurna. Namanya orang berilmu, mestinya dia mengetahui akibat dari meninggalkan ketaatan dan mengerjakan kemaksiatan. Orang cerdas mana yang mau merugikan diri sendiri? Tafsir ini secara keseluruhan cenderung pada pendapat bahwa amar ma'ruf nahi munkar wajib dilakukan dengan juga mengamalkannya secara pribadi.

Selanjutnya ditambahkan hadis-hadis yang menggambarkan kejamnya siksaan di akhirat terhadap para tukang ceramah di dunia yang tidak mengamalkan seruannya sendiri, padahal mereka membaca Quran!

Lewat Quran, Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca dan berpikir--menyempurnakan akal. Dengan begitu, manusia dapat memperoleh ilmu yang dapat menghindarkan dirinya dari kerugian. The Daily Stoic seperti motivasi harian untuk menjalankan ibadah itu, khususnya untuk entri 23 Agustus yang seperti perpanjangan dari Al-Baqarah ayat 44.

Entri ini berjudul "IT'S IN YOUR SELF-INTEREST", yang kalau boleh saya terjemahkan secara bebas, berarti "DEMI KEPENTINGANMU SENDIRI". Entri ini mengilhamkan bahwa dalam melakukan "amar ma'ruf nahi munkar" (tentu saja mereka tidak menggunakan istilah itu), daripada menceramahi atau mengkhotbahi atau menguliahi atau menggurui (meski ada juga sih orang-orang yang senang mendengarkannya), mengatakan bahwa "itu dosa" atau "buruk", berkoar-koar soal moral ... lebih baik jelaskan akibat, dampak, konsekuensi dari perbuatan tersebut, bagaimana itu akan merugikan kepentingan mereka sendiri pada akhirnya.
And what happens when you apply this way of thinking to your own behavior?
Nah, pada akhirnya, kembali pada diri sendiri terlebih dahulu. Keburukan-keburukan apakah yang masih kita lakukan? Apakah akibat, dampak, konsekuensinya di kemudian hari? Bacalah, pikirkanlah, jadilah orang berilmu yang dapat menghindarkan diri dari akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan itu, dan sampaikanlah dengan cara yang "aman". Rumusnya:
  1. Amalkan sendiri terlebih dahulu selama beberapa waktu.
  2. Amati, resapi, dan renungkan yang dialami.
  3. Bagikan pengalaman tersebut kepada orang lain, dengan nada bercerita dan reflektif alih-alih menasihati. Kita tidak menyeru dia agar harus begini atau jangan begitu, tidak. Kita hanya "curhat", atau menceritakan pengalaman seseorang yang sebut saja namanya Mawar supaya tidak dikira membongkar aib sendiri. Biar orang itu sendiri yang menarik pelajaran tersirat. Biarkan dia sendiri yang memberdayakan akalnya. Itu tanggung jawabnya sebagai manusia.
Kembali kepada Yu Ning

Film ini tidak menunjukkan apakah Yu Ning pernah menghadiri pengajian yang membahas tafsir Al-Baqarah ayat 44, juga tidak ada adegan dirinya membaca The Daily Stoic entri 23 Agustus. Malah, kita tidak bisa yakin apakah Yu Ning memang amar ma'ruf nahi munkar dengan menghardik orang bergibah, karena terungkap bahwa dia ternyata masih saudara jauh Dian.

Bagaimanapun juga, seandainya Yu Ning memang punya niat tulus, murni, ikhlas, sekadar hendak amar ma'ruf nahi munkar, film ini menunjukkan contoh pengamalannya yang tidak efektif.

Ketidakefektifan ini bukan murni kesalahan Yu Ning. Bukan karena dia tidak membaca The Daily Stoic, melainkan ada faktor-faktor lainnya seperti latar sosial (oke, bagaimana sekelompok ibu-ibu yang ditunjukkan "ndeso" itu bisa menalar akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan dari bergibah?) dan faktor X--keXilafan (ih, maksa).

Kata peribahasa: sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga.

Bagaimanapun kita berusaha untuk menjadi SJW yang efektif, akan ada kemungkinan suatu saat baterai HP kita mati di perjalanan sehingga tidak bisa dihubungi untuk mengklarifikasi kabar.

Di samping Stoikisme, sepertinya Absurdisme menarik juga untuk ditilik.

Senin, 30 Maret 2020

Krisis Lepasnya Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Muda

Adrien Brody sebagai guru
yang selalu bertampang sedih.
Gambar dari Wikipedia.
Teman chat saya di New York memberi tahu bahwa dia baru saja menonton sebuah film yang dia nikmati. Judulnya Detachment dan film tersebut bisa ditonton gratis di YouTube

Ini baru namanya rekomendasi!

Saya pun mencari informasi tentang film tersebut di Wikipedia.

Boleh juga.

Di YouTube memang tersedia filmnya--full movie. Tapi, film tersebut sudah dilengkapi dengan subtitle bahasa Turki yang tidak bisa dihilangkan. Adapun subtitle yang bahasa Inggris auto generated saja. Not bad lah, daripada enggak ada.

Saya pun menanyai dia apakah memang video itu yang dia maksud. Dia memberikan link ke YouTube yang sepertinya tanpa subtitle bahasa Turki. Tapi sayang, saya tidak bisa membukanya.

Maka saya pun menonton yang ada saja. Dia bilang mudah-mudahan yang saya tonton itu audionya berbahasa Inggris. Ya iyalah, kata saya, yang bahasa Turki subtitle-nya doang dan enggak di-dubbling. Oke deh.

Detachment menceritakan tentang kehidupan seorang tokoh yang diperankan Adrien Brody, selama menjadi guru pengganti di sebuah SMA di New York. SMA tersebut bermasalah. Banyak muridnya yang pembangkang atau bikin ulah, entahkah dengan melempar tas guru atau pakai baju super minim. Guru-guru tidak dihormati, mulai dari diabaikan sampai diludahi.

Diperlihatkan secara sekilas-sekilas bagaimana Adrien Brody--eh, nama tokohnya Henry Barthes--serta beberapa rekan guru di sekolahnya dalam mengatasi para murid bengal itu.

Dalam hal ini, sepertinya sudah ada beberapa film yang semacam, misalnya saja Freedom Writers dengan Hillary Swank serta Dangerous Minds (yeah, "Gangsta Paradise"!) dengan Michelle Pfeiffer. Tapi, sebenarnya saya belum menonton kedua film itu jadi tidak bisa membandingkan. (Terus, kenapa disebut-sebut? :v)

Di film ini sendiri, Adrien Brody, eh, Henry Barthes cenderung menggunakan pendekatan yang to the point dan emphatic. Semacam, yah, yah, gue tahu lu punya masalah, gue juga punya, semua orang punya, jadi, nih sekarang gue kasih lu kertas sama pulpen, dan kerjain aja tugasnya, enggak usah banyak cincong lay. 

Salah satu tugas yang diberikannya yaitu menulis pikiran atau perasaan orang yang ditinggalkan apabila si penulis telah mati. Ada yang membuat tulisannya secara asal-asalan sehingga mengundang tawa, ada pula yang tampaknya serius dengan menyiratkan bahwa ia hendak mati bunuh diri. Tulisan itu dibuat tanpa nama.

Para guru lain punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi masalahnya. Ada guru yang sepertinya sama sekali enggak bisa berkutik, dan menyalurkan frustrasinya dengan mendorong-dorong pagar. Ada guru yang meminum suatu obat supaya bisa tenang dalam menghadapi murid. Ada guru yang balik marah-marah pada muridnya.

Untuk adegan yang belakangan ini, yang dibawakan oleh Lucy Liu, saya merasakan betapa dalam sesungguhnya kekhawatiran seorang guru pada generasi muda yang benar-benar cuek pada masa depannya. Kayak ngegampangin gitu. Mereka enggak tahu dunia nyata di luar sana, dan enggak mau mendengarkan orang-orang yang berusaha membimbing mereka. Tapi, jangan-jangan, sikap acuh tak acuh ini sekadar hasil dari pola asuh orang tuanya.

Memang tema yang mengemuka dalam film ini, yang saya tangkap, adalah ketidakhadiran orang tua. Hal ini secara jelas tapi implisit (eh, gimana, gimana?) ditunjukkan dalam adegan ketika sekolah tersebut mengadakan acara POMG (alias Pertemuan Orang-tua Murid dan Guru, kalau ada yang belum tahu), dan tidak ada satu pun orang tua yang datang.

Ketidakhadiran orang tua ini juga justru dialami oleh si tokoh utama sendiri, si guru pengganti Henry Barthes. Persoalannya di sekolah silih berganti dengan persoalan pribadinya: hubungan dia dengan kakeknya yang sakit-sakitan di panti jompo, serta cuplikan-cuplikan kenangan akan ibunya yang telah mati bunuh diri. Si kakek tampaknya sangat terpengaruh oleh kematian si ibu, penuh rasa bersalah.

Perhatian: bagian berikutnya mengandung bocoran yang bertubi-tubi.

Sedikit-sedikit diungkapkan fakta-fakta cerita, yang menimbulkan asumsi pada saya, bahwa jangan-jangan si kakek itu sebenarnya ayah Henry. Henry bercerita bahwa ayahnya telah pergi lama sekali, sehingga yang dia ingat dari masa kecilnya hanyalah di rumah selalu hanya ada mereka bertiga: dia, si kakek, dan si ibu. Dan, tiap malam, si ibu menyuruh Henry mengunci pintu kamarnya.

Teman chat saya di New York, oke, sebut saja dia dengan inisialnya, E, tidak sampai berpikir begitu. Menurut dia, si kakek sekadar melakukan pelecehan seksual kepada si ibu.

Mungkin saja mereka orang tua dan anak betulan. Lagi pula, kasus inses ada saja kejadiannya di dunia nyata.

Yang menjadi petunjuk bagi saya bahwa si kakek dan si ibu tidak mesti berhubungan darah, tapi sekadar pria lebih tua dan wanita lebih muda yang tinggal serumah, adalah subplot lainnya dalam film ini, di mana Henry membolehkan seorang pelacur remaja tinggal di rumahnya dan merawat gadis itu. Sebelumnya, gadis itu kerap dilecehkan pria-pria. Tapi Henry memperlakukan dia dengan baik sehingga timbul perasaan khusus pada si gadis.

Henry mau mengajak si gadis tinggal di rumahnya.
Gambar dari blog John Markham.

Kemudian, ada adegan ketika Henry mengobrol dengan kakeknya yang semacam berhalusinasi melihat si ibu. Henry pun berpura-pura menjadi ibunya, dan memanggil si kakek dengan "daddy". Sepintasnya sih begitu. Tapi, jangan-jangan, sebetulnya Henry bersungguh-sungguh ketika menyebut si kakek sebagai "daddy", alih-alih karena bermain peran sebagai ibunya.

Sementara itu, sensitivitas Henry rupanya juga memikat salah seorang siswi di sekolahnya. Ketika siswi yang berjiwa nyeni itu mendekati dia, timbullah kesadaran Henry bahwa dia bisa saja berakhir seperti kakeknya dan ibunya--sebagai pria yang lebih tua menjalin hubungan tertemu dengan wanita yang lebih muda dan seterusnya. Ia tidak mau hal itu sampai berulang, sehingga ia pun menolak siswi tersebut dan menyerahkan si gadis yang tinggal di rumahnya itu kepada panti sosial.

Pak guru sedang didekati siswinya.
Gambar dari The Case for Global Film.

Penolakan itu agaknya memicu angst (?) terpendam siswi tersebut. Sepertinya dialah yang menyiratkan akan bunuh diri pada tugas menulis soal kematian itu. Dalam suatu acara sekolah, ia telah menyiapkan kue-kue. Salah satu kue rupanya mengandung racun, yang dimakannya sendiri sehingga ia seketika tewas terkapar di antara orang-orang lainnya di sekolah.

Setelah menonton film berdurasi sekitar satu setengah jam ini, beberapa orang berkomentar bahwa nuansanya begitu depresif.

Saya sendiri jadi penasaran untuk mengonfirmasikannya pada E, seberapa dekat isi film ini dengan kenyataan yang ada di negaranya. Apalagi, saya baca di salah satu komentar, bahwa SMA yang dipakai dalam film ini berada di New York--tempat si E lahir dan dibesarkan, katanya sih.

Berikut ini "wawancara" saya dengan E, yang sudah ditata dan dibahasaindonesiakan.

S adalah saya, dan E adalah dia.

S: Baru selesai nonton Detachment. Ada yang pengin saya tanyain nih.

E: Nanya apa?

S: Film ini benar-benar menggambarkan kenyataan di sana?

E: Sedikit.

S: Cuma sedikit?

E: Pengalaman saya waktu SMA sih, murid-murid emang enggak baik sama gurunya. Enggak menghormati, gitu. Orang tua bener-bener manjain anaknya, dan menyalahkan guru apa pun kesalahannya. Film ini menunjukkan kenyataan itu dalam situasi yang paling ekstremnya.

S: Paling ekstrem, ya. Biar dramatis, ya, kayaknya, biar menarik.

E: Iya, tapi emang betulan ada sih, hehe.

S: Terus saya baca di komen katanya sekolah di film ini ada di New York?

E: Iya.

S: Ada yang enggak akuratnya, enggak sih (terlepas dari dramatisasinya)?

E: Kalau ada murid yang meludah atau berbuat kekerasan sama guru, bisa dipanggil polisi tuh. Terus biasanya sih enggak ada yang bunuh diri di sekolah. Kemungkinannya orang bunuh diri di rumah, yang jelas enggak di sekolah. Udah gitu, kalau ada murid yang bunuh hewan (ada adegan menonjoki kucing sampai mati di film ini), langsung dibawa ke psikiater.

S: Di sana emang banyak remaja bunuh diri, ya?

E: Di New York? Sejujurnya, enggak juga sih. Sekolah-sekolah yang jelek di New York, kebanyakan muridnya minoritas. Di sini, anggapannya biasanya orang kulit putih yang banyak bunuh diri. Maksudnya, stereotipenya, orang kulit putih yang bunuh diri, kalau minoritas mah enggak. Jadi karena stereotipe itulah, enggak banyak minoritas yang bunuh diri.

S: Tapi itu kan "stereotipenya". Kenyataannya gimana?

E: Di Amerika Serikat, 70% dari yang bunuh diri itu laki-laki kulit putih.

S: Oh, gitu. Jadi, gimana pendapat kamu soal film itu?

E: Saya menikmati. Film itu menunjukkan anggapan umum bahwa guru-guru di Amerika Serikat itu kurang dihargai oleh murid dan orang tua.

S: Saya mendapat kesan bahwa peran orang tua itu kurang. Ada adegan ketika enggak ada orang tua yang datang buat pertemuan dengan guru.

E: Itu juga bener banget.

S: Kamu pernah enggak kepikiran jadi guru?

E: Enggak tuh, hehe. Ngajar itu kayaknya pekerjaan yang sulit dan kurang dihargai.

S: Kecuali kalau guru PNS kali, ya, hehe (seenggaknya di negara saya mereka lumayan lah).

E: Di sini, jadi guru kadang-kadang memuaskan, kadang-kadang enggak. Tergantung juga sih.

S: Oooh.

Demikianlah "wawancara" saya dengan E.

Beberapa orang di sekitar saya berprofesi sebagai guru atau paling tidak punya pengalaman mengajar di berbagai tempat. Kadang-kadang saya mendengar cerita mereka. Keluhan yang terdengar biasanya soal gaji, katrol nilai, dan semacam itu, sedangkan mengenai kekurangajaran murid sepertinya tidak sampai separah seperti yang ditunjukkan dalam film ini.

Selain itu, remaja yang bunuh diri juga merupakan fenomena menarik. Di negara kita pun ada saja kasusnya. Memang saya tidak mengetahui latar belakang setiap pelaku, betapa tidak tertahankannya penderitaan mereka. Hanya saja, sementara ini saya berpikir, sungguh sayang bahwa masa-masa remaja dan dewasa muda yang rawan itu--masa-masa "tumbuh gigi", kalau orang bilang--terhenti begitu saja. Padahal, siapa tahu, seiring dengan bertambahnya umur, akan muncul ketegaran dan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan buruk apa pun.

Di sisi lain, saya menginsafi bahwa tidak adanya dukungan--apa pun bentuknya--bisa menjadi salah satu penyebab keputusasaan yang bisa mendorong pada putusnya nyawa itu. Kalau bukan orang tua sendiri yang memberikan dukungan, siapa lagi? Tidak ada orang tua, guru yang diserahi tanggung jawab. Tapi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam film ini, guru pun bisa jadi tidak berdaya.

Saya kira, film ini bukannya mengajak hopeless sama sekali. Akhir ceritanya tampak cenderung "membahagiakan", menyiratkan harapan. Henry mengunjungi si gadis--yang tadinya tinggal di rumahnya itu--di panti sosial. Keduanya tampak senang, berpelukan. Entah apakah Henry bakal mengajak gadis itu kembali tinggal di rumahnya, kemudian menjalani hubungan seperti si kakek dan ibunya; menjadi sosok orang tua sekaligus kekasih.

Lagu lawas berikut ini sesuai dengan situasi keduanya:


Situasi ini seolah-olah menunjukkan bahwa kalau tidak ada orang tua, tidak ada guru, yang dapat mengarahkan seorang anak, bagaimanapun juga kemungkinannya dia akan menemukan sosok lain--bahkan seorang asing--sebagai pengganti. Syukur-syukur kalau orangnya baik, kalau enggak?

Rabu, 26 Februari 2020

Tren Baru: dari TV ke Bioskop

Pekan film Jepang oleh Kine Klub Jakarta menyuguhkan film-film baru yang mencerminkan kehidupan sehari-hari, dan datang dari para sutradara yang sudah jenuh dengan TV dan video.

KETIGA penculik yang masih remaja itu memutuskan meminta 50 juta yen sebagai tebusan untuk nenek usia 82 tahun itu. Nyonya Yanagawa, pemilik tanah kaya raya yang menjadi korban penculikan itu, memelototkan matanya mendengar jumlah tersebut. Ia pun membentak, "Kalian tidak tahu siapa diriku! Mintakan 10 miliar yen. Tidak kurang!" 

Itulah Daiyukai (Anak-anak Pelangi) karya Kihachi Okamoto, sebuah film komedi yang segar, lincah, dan menyenangkan, satu dari tujuh film dalam Pekan Film Jepang Terbaru di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki, pekan ini. Film-film produksi tahun 1990-1991 ini sudah mengikuti festival-festival internasional, dan hampir semuanya berkisah tentang anak-anak atau remaja Jepang.

Anak-anak Pelangi adalah kisah tentang anak-anak jalanan yang biasa hidup dari mencuri atau mencopet dan tiba-tiba suatu hari mendapatkan ide untuk menjadi kaya mendadak: menculik Nyonya Yanagawa, nenek terkaya di kawasan pegunungan Semenanjung Kii di Jepang Tengah.

Tapi, seperti tersirat di awal tulisan ini, suatu kejutan yang kocak terjadi. Akhirnya para penculik remaja yang lugu dan amatiran itu malah menjadi "anak buah" Nyonya Yanagawa. Soalnya, sang nyonya, yang belakangan ini merasa telah tua dan sia-sia, seperti mendapat penyegaran dalam hidupnya karena diculik. Ia merasa, penculikan dirinya adalah sebuah petualangan yang merangsang.

Penculikan ini pun dimanfaatkan oleh Nyonya Yanagawa untuk menguji keempat anaknya, apakah mereka akan bersedia bersusah payah mengumpulkan uang tebusan 10 miliar untuk ibunya. Inilah film yang karikatural, kocak, dan penuh kejutan.

Yanagawa (diperankan dengan baik oleh aktris teater terkenal Tanie Kitabayashi), nenek baik hati yang kesepian, menjelma menjadi seorang wanita perkasa yang kaya strategi. Pada akhirnya, Sutradara Okamoto bukan menceritakan kejahatan dan keserakahan. Uang 10 miliar yen yang dikirimkan dalam karung itu pada akhirnya tak bernilai apa-apa bagi para penculik. Tanpa khotbah moral apa pun, mereka bertiga malah menjadi "orang baik-baik".

Satu-satunya film dalam acara Pekan Film ini yang tidak mempersoalkan remaja dan anak-anak hanyalah Shi no Toge (Duri Kematian) karya Kohei Oguri. Inilah film terbaik dari semua film yang diputar dalam acara tersebut. Toshio (Kazunori Kishibe), komandan muda angkatan laut di masa Perang Dunia II, hidup bahagia bersama istrinya, Miho (Keiko Matsuzaka), dan dua anaknya. Kebahagiaan itu runtuh ketika keterlibatannya dengan wanita lain, Kuniko (Midori Kiuchi) terungkap. Sejak itu rumah tangganya menjadi neraka yang terbentuk dari pertengkaran, kecemburuan, dan kecurigaan. Meski Toshio telah memutuskan hubungannya dengan Kuniko dan bersumpah setia pada Miho, ia tak bisa mengembalikan kepercayaan istrinya.

Kisah sederhana ini menjadi sebuah drama yang getir dan mencekam. Sang suami diteror terus-menerus oleh dua pihak: istri yang terluka hatinya, dan sang kekasih yang masih mencintainya. Yang membuat film ini lebih kelabu, Sutradara Oguri hanya menggunakan tiga orang aktor (ditambah dua pemain kecil) hingga fokus cerita terpusat pada perubahan karakter Miho yang semula lembut dan penurut menjelma menjadi destruktif dan agresif. Film yang ditutup dengan Miho, istri yang malang, dirawat di rumah sakit jiwa itu mendapatkan penghargaan Grand Prix Festival Film Cannes, Prancis, tahun 1991.

Dibandingkan dengan Shi no Toge, film yang lain, Batashi Kingyo (Ikan Tak Bersirip) karya Joji Matsuoka, Torajiro No Kyujitsu (Tora-san Ambil Cuti), dan Tsugumi karya Jun Ichikawa yang menceritakan persoalan-persoalan remaja Jepang adalah film-film yang jauh lebih ringan. Namun, film-film yang sudah dikirim ke berbagai festival film internasional ini digarap dengan kedalaman dan kesungguhan, jauh di atas rata-rata film-film remaja Indonesia yang populer di tahun 1980-an. Benar, sinematografi ketiga film ini tidak istimewa. Tapi karakterisasi para tokoh dan bagaimana mereka menghadapi persoalan masing-masing digarap dengan sungguh-sungguh. Bataashi Kingyo, yang berkisah tentang seorang anak lelaki yang gigih untuk mendapatkan cinta seorang wanita di sekolahnya. Tsugumi adalah cerita seorang gadis berpenyakit jantung yang sangat temperamental dan hanya berpikir tentang kematian. Torajiro No Kyujitsu adalah serial Tora-san, seorang tokoh "Kabayan" Jepang, yang mencoba membantu masalah yang dihadapi oleh keponakan dan kekasihnya yang berasal dari keluarga yang berantakan. 

Dalam sejarah perfilman Jepang, film-film dalam festival ini merupakan trend baru: para sutradaranya mula-mula berkecimpung dalam film untuk televisi atau video, dan film iklan. Mereka tak puas dengan film layar kecil, melangkahlah mereka ke layar bioskop. Menurut kritikus film Jepang, Kyoichiro Murayama, ciri para sutradara yang bertolak dari layar kecil itu: menyuguhkan tokoh-tokoh cerita yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dan kabarnya, film yang menyajikan tokoh yang "realistis" itulah yang kini digemari di Jepang. Suatu potensi yang bisa saja mengembalikan kejayaan perfilman Jepang, yang sejak 1960-an mengalami masa surut tersaingi oleh televisi dan kemudian video.

Leila S. Chudori



Film Jepang terbaru

Tujuh film Jepang terbaru akan diputar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, atas kerja sama Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta dan Pusat Kebudayaan Jepang. Di antara film-film produksi tahun 1990-1991 yang akan disajikan itu ada Shi No Toge (Duri Kematian), yang memperoleh penghargaan Grand Prix pada Festival Film Cannes 1991. Karya Sutradara Kohei Oguri itu mengisahkan kemelut rumah tangga dan konflik kejiwaan seorang wanita setelah Perang Dunia I. Film lainnya adalah Shonen Jidai (Masa Kecil), karya Masahiro Shinoda, tentang pengungsian massal pada masa Perang Dunia II yang menumbuhkan persahabatan di antara dua anak lelaki; Otoko Wa Tsurai Yo: Torajiro No Kyujitsu (Tora-san Ambil Cuti), film komedi situasi seri terbaru dari sutradara senior Yoji Yamada; Daiyukai (Anak-anak Pelangi), film komedi suspense tentang penculikan seorang wanita tuan tanah makmur, yang disutradarai Kihachi Okamoto; Bataashi No Kingyo (Ikan Tak Bersirip), disutradarai Joji Matsuoka, yang bertemakan cinta segitiga antar-anak remaja; lalu film Tsugumi, karya Jun Ichikawa, yang mengisahkan liburan musim panas seorang gadis manja berpenyakit jantung ke Teluk Izu; serta Harukanaru Koshien (Seruan Penonton), kisah perjuangan anak-anak tunarungu melawan keterbatasannya.

Film-film tersebut, dilengkapi teks bahasa Indonesia, diputar di Teater Tertutup, 11 sampai 18 Januari ini. Dua kali pertunjukan setiap harinya, pukul 17.00 dan 19.30 WIB. Tanda masuk bisa diperoleh secara cuma-cuma di Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta atau di Pusat Kebudayaan Jepang.



Sumber: Tempo Nomor 46 Tahun XXIII - 15 Januari 1994

Senin, 03 Februari 2020

[#90anBanget] (Baru TV, Belum YouTube, Netflix, dan Seterusnya)

[Kontak Pembaca]

Rektor ITB dan RCTI


Sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), saya sangat kecewa melihat penampilan Rektor ITB dalam tayangan "iklan" pada televisi swasta, RCTI Bandung. Tayangan itu dalam sebuah wawancara. Tapi, karena cara penayangannya (sebuah potongan pendek yang ditayangkan dalam satu paket corporate image RCTI, dipilih pendapat rektor yang bernada positif, ditayangkan berulang-ulang), wawancara itu tak ubahnya seperti sebuah iklan.


Saya tak tahu apakah RCTI telah meminta izin lebih dulu kepada yang bersangkutan untuk penayangan itu. Bila belum, sangatlah tidak etis dilihat dari sisi hak dan kepentingan pribadi figur yang digunakan.

Selain masalah etika, saya juga menyayangkan pernyataan Rektor ITB bahwa RCTI sangat bermanfaat karena memberikan informasi untuk mahasiswa ITB. Itu merupakan pernyataan yang tidak kritis. Kita bisa mempertanyakan: Apa kriteria dari "manfaat"? Bagaimana kaitannya dalam konteks mahasiswa?

Sebagian besar acara RCTI lebih bersifat hiburan. Bahkan, nilai hiburannya itu sendiri masih bisa dipertanyakan: Berapa banyak yang bermutu?

Karena itu, saya sebagai seorang penonton dan mahasiswa ITB mengimbau pada Rektor ITB dan RCTI untuk tidak menayangkan kembali pesan itu.


ARIEF ADITYAWAN S.
Mahasiswa FSRD-ITB
Bandung

[Duniasiana]


Keracunan Siaran TV di Amerika

SEBUAH serial film kartun di layar kaca bikin sewot penduduk Amerika Serikat. Sebab, di Morraine, Negara Bagian Ohio, ada kejadian seorang anak berusia lima tahun membakar rumahnya, sampai menghanguskan adik perempuannya. Si bocah tenang saja mengaku bahwa apa yang dilakukanya disebabkan oleh menyimak tayangan film kartun itu. Seantero Amerika pun geger.

"Anak itu bilang, dia membakar rumah setelah menonton film kartun Beavis & Butt-head," kata Harold Sigler, kepala pemadam kebakaran di kota itu. Ucapan Sigler segera menghiasi hampir semua koran di AS. Sebab, film kartun yang ditayangkan MTV sejak tahun silam ini memang tengah jadi pembicaraan publik. Bahkan, majalah Newsweek edisi lokal mengangkatnya sebagai laporan utama pertengahan Oktober lampau.

Beavis dan Butt-head adalah nama dua remaja pelakon film kartun tersebut. Keduanya berperangai brutal. Suka memaki, membakar, dan gemar menganiaya hewan. Misalnya, mereka berandai-andai menaruh petasan di pantat kucing. "Apa yang bakal kejadian jika sumbunya disulut?" kata mereka.

Lima hari kemudian ternyata ada pemirsa yang keracunan obrolan tokoh kartun itu, yakni di Kota Santa Cruz, California, dan membinasakan seekor kucing yang tidak berdosa. Ini mengundang banyak protes. Yang paling serius datang dari Dick Zimmermann, manajer stasiun TV yang pensiun setelah menang lotre 10 juta dolar AS lima tahun silam.

"Yang membuat saya kesal, Beavis & Butt-head mempromosikan perbuatan kriminal, dan saya khawatir dampaknya bagi anak-anak," ujarnya kepada Bambang Harymurti dari TEMPO. Ia mengaku membuka nomor telepon khusus untuk melakukan kampanye antiserial kartun yang satu ini sejak tiga bulan lalu. "Sejak itu kami telah menerima 6.000 keluhan dari orang tua di seluruh dunia," tuturnya.

Sementara itu, pihak MTV menyatakan tak bertanggung jawab atas kejadian nahas tadi. "Film kartun itu dirancang untuk remaja dan pemuda yang jadi pemirsa utama kami," kata Carole Robinson, Senior Vice President MTV. Ia menyesalkan tragedi di Morainne itu dan berjanji menghapuskan adegan yang menyebut-nyebut soal api.

Ini jelas suatu kemenangan bagi Zimmermann. "Tapi jangan keliru, saya tetap mendukung amandemen pertama konstitusi, jadi tidak ingin adanya sensor," katanya. Yang diinginkannya ialah kesadaran pemirsa akan bahaya film ini buat anak-anak. "Sebab, penayangannya tiap pukul tujuh malam, selain pukul 11 malam dan pukul dua pagi," katanya.

Dan begitu tahu bahwa siaran MTV kadang-kadang ditayangkan pula di Indonesia, Zimmermann menggeleng-geleng. "Saya prihatin mendengarnya," katanya.

Sepersepuluh Warga Dunia Sakit Jiwa

AKIBAT pengaruh film serial TV atau lantaran musabab lain, sedikitnya 500 juta orang kini dilanda penyakit jiwa di seantero dunia. Laporan WHO (Badan Kesehatan Dunia PBB) dari markas besarnya di Jenewa, Swiss, itu menjelaskan rinciannya sebagai berikut.

Sekitar 155 juta jiwa mengidap neurosis. Gejalanya termasuk berupa kecemasan yang tidak berkeruncingan dan selalu dalam perasaan tertekan. Sekitar 120 juta jiwa dirundung keterbelakangan mental. Seperti disiarkan koran The Philippine Star, yang mengutip Associated Press, awal Oktober lampau, lebih jauh disebutkan bahwa sedikitnya 50 juta penduduk dunia dilanda sakit jiwa dahsyat, termasuk skizofrenia alias gila berat. Sementara itu, 100 juta lainnya dihadang aneka problem emosional.

Ini memang gawat. Jika hitungan penduduk dunia kini sekitar 5 miliar jiwa, berarti sedikitnya satu dari sepuluh orang di sekitar kita tidak beres kondisinya. Jadi, jangan heran kalau di bawah kolong langit ini keadaannya rusuh melulu. 

Ed Zoelverdi




Sumber: Tempo, Nomor 35 Tahun XXIII - 30 Oktober 1993

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain