Tampilkan postingan dengan label aktivitas lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktivitas lain. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2024

Diskusi Buku DUNIA REVOLUSI: Perspektif dan Dinamika Lokal pada Masa Perang Kemerdekaan Indonesia, 1945 - 1949

Buku Dunia Revolusi adalah bunga rampai hasil dari proyek kerja sama Indonesia - Belanda dalam penelitian sejarah mengenai suatu periode setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, yaitu dari 1945 sampai 1949. Dieditori oleh dosen-dosen dari Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, kontributor buku ini adalah peneliti sejarah dari kedua negara. Untuk peneliti dari Indonesia, instansinya bermacam-macam tidak hanya dari UGM. Proyek ini dikerjakan selama 2017 - 2022, sempat tersendat oleh pandemi COVID-19. Terdapat berbagai tantangan lain di antaranya tradisi historiografi yang berbeda antara peneliti Indonesia dan peneliti Belanda, serta tanggapan yang kurang mendukung dari masyarakat sejarah sendiri. 

Dalam pelajaran Sejarah semasa sekolah, periode ini dikenal sebagai masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama itu terjadi konferensi-konferensi (di antaranya Linggarjati, Renville, dan Meja Bundar) diselingi dua kali Agresi Militer Belanda. Selama pemerintahan masih diproses di meja-meja konferensi itu, rupanya terjadi banyak konflik lokal bahkan kekerasan. Sebagaimana yang diungkapkan dalam buku ini, sebagian dari kekerasan itu menyasar kalangan minoritas seperti Tionghoa dan India khususnya di separuh atas Sumatera. 

Pelajaran Sejarah di sekolah pun, seingat saya, tidak menyebutkan tentang "Periode Bersiap" berkenaan dengan masa itu. Informasi tentang "Periode Bersiap" saya dapatkan sendiri secara tidak sengaja, ketika pada 2018 silam hendak mencari tahu mengenai sesuai hal dan bertemulah dengan artikel yang menerangkan tentang hal ini. Yang saya ketahui sebatas pada masa ini rakyat lokal seperti melakukan balas dendam atas penjajahan berabad-abad dengan membunuhi warga sipil Belanda, dan mungkin pula bangsa Eropa lainnya asal menyerupai Belanda.

Saya duga sisi kelam dari bangsa sendiri inilah yang membuat proyek ini kurang mendapat tanggapan positif. Sikap sungkan tampak dari tim editor selama acara bedah buku ini. Seakan-akan mereka dihadapkan pada suatu reaksi: sudahlah, yang lalu apalagi kalau buruk tidak usah dikorek-korek; janganlah membuka aib sendiri. Apalagi kalau ada uang yang terlibat, dibiayai pemerintah bekas negara penjajah untuk menggiring opini masyarakat, misalnya, bahwa orang-orang yang selama ini kita elu-elukan sebagai pahlawan pejuang tidaklah seheroik itu, ada pula kejahatan yang dibuatnya. 

Karena pada dasarnya kurang mendalami sejarah dan tidak pula mengikuti keramaian di media perkara proyek ini, saya dan teman mewakili masyarakat awam selaku peserta acara ini pun agak kebingungan memahaminya. Kami sekadar menunjukkan bahwa informasi mengenai periode yang berkabut ini kurang tersebar luas di masyarakat.

Kalau boleh saya refleksikan secara pribadi, agaknya bagian dari pendewasaan adalah mau berkaca dan mengakui kesalahan sendiri, menerima bahwa diri ini tidak selalu berada di pihak yang harus dibela, dianggap baik tanpa pernah berdosa. Setelah keburukan itu diakui, maka dipikirkan cara untuk memperbaikinya yang tentu saja perlu disusul dengan tindakan nyata yang berkelanjutan. Walaupun, menurut Pak Bambang Purwanto selaku kepala editor buku ini, dalam sejarah tidak segala hal mesti berkelanjutan; ada pula yang hilang, takkan berulang. Inginnya yang buruk itu yang takkan berulang.

Versi bahasa Inggris buku ini berjudul Revolutionary Worlds, bisa dicari di internet dan diunduh secara cuma-cuma. Namun versi ini diedit secara lebih ketat, sehingga tidak seautentik atau seutuh versi bahasa Indonesia yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, 2023.

Rabu, 18 Maret 2020

Sudah "Hijau"-kah Pemikiranmu?

Pertanyaan itu tersiratkan dalam acara bertajuk "Think Green" yang diselenggarakan Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Sabtu lalu (14 Maret 2020) di Greko Creative Hub. Acara ini terdiri dari dua sesi, yaitu talkshow dan workshop.

Sembari menunggu talkshow dimulai (sekaligus para peserta datang), ada band yang bermain di pojok kiri depan ruangan. Lagu-lagu yang dibawakan band ini sepertinya sengaja dipilih agar berhubungan dengan tema acara. Beberapa lagu yang saya ketahui terkenal dibawakan oleh Michael Jackson, yaitu "Heal the World" serta "Earth Song".

Tiket masuk diperoleh setelah mendaftar
lewat scan barcode pada gambar informasi acara.
Merchandise mini untuk ditempelkan di punggung gadget.
Bangku penonton yang berdesain unik.
Penampilan band.

I. TALKSHOW

Ada tiga orang pembicara yang masing-masing mewakili Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Parongpong RAW Management, dan Greeneration Foundation.

Yayasan Konservasi Alam Nusantara

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) ada sejak 1991 dan berafiliasi dengan The Nature Conservancy sejak tiga tahun belakangan.

Sally Kailola dari YKAN, atau akrab dipanggil Mbak Usi, membuka sesinya dengan bertanya kepada para peserta mengenai maksud dari "Think Green" yang menjadi tajuk acara. Dalam bahasa saya sendiri sih, "Think Green" itu kurang lebih berarti suatu pola pikir agar aktivitas seseorang sebagai manusia dapat menahan laju kerusakan lingkungan hidup.

Mbak Usi kemudian memaparkan persoalan-persoalan lingkungan hidup dewasa ini. Dengan populasi dunia yang telah mencapai 7,7 miliar, manusia dewasa ini memiliki dampak yang begitu besar terhadap lingkungan hidup melalui aktivitas-aktivitas berikut (atau disebut juga dengan "antropogenik"):
  • reproduksi
  • konsumsi berlebihan
  • eksploitasi berlebihan
  • polusi
  • deforestasi
Semua ini terjadi sejak Revolusi Industri (1760-1840). Pada awalnya revolusi ini terjadi untuk mengatasi tiga masalah utama umat manusia, yaitu kelaparan, peperangan, serta pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan dan sandang.

Akan tetapi, Revolusi Industri kemudian berlangsung secara tidak terkendali sehingga mengakibatkan berbagai masalah. Di antaranya adalah problem "overshoot". Istilah tersebut kurang lebih berarti pemakaian sumber daya melampaui jatah, sehingga tidak menyisakan cukup cadangan bagi generasi selanjutnya. 

Yang menarik, Indonesia sebagai negara keempat berpopulasi terbesar di dunia rupanya termasuk yang tingkat overshoot-nya paling belakang. Apakah karena cara hidup kita yang tidak terlalu boros energi, ataukah karena sumber daya negara kita yang demikian melimpah itu lebih banyak dimanfaatkan oleh negara-negara lain? 

Gambar dari Earth Overshoot Day.

Dari keterangan ini pula saya menarik kesimpulan (yang mungkin saja gegabah ) bahwa tinggal di negara maju itu--walaupun terkesan wah, keren, apalah--belum tentu lebih baik, kalau akibatnya gaya hidup kita menjadi lebih boros sumber daya. (Dan, masukkan lagu itu, "Lebih baik di sini ... rumah kita sendiri ....")

Mbak Usi mengajukan saran kepada para peserta--sebagai generasi muda yang lekat dengan gadget dan media sosial--agar menginspirasi orang lain untuk mulai "think green" lewat status/postingan

Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang Yayasan Konservasi Alam Nusantara, bisa cek media sosial mereka, di antaranya Instagram (@id_nature) dan website (http://www.sayasigap.org/).

Parongpong RAW Management

Pada sesi ini tampil Gadis, yang bertahun-tahun lampau pernah saya lihat di suatu acara tentang ruang publik di Common Room. Gadis tidak berbicara banyak, karena ia akan punya banyak waktu lagi nanti pada saat workshop. Ia hanya meminta para peserta untuk menutup mata dan membayangkan pengalaman paling indah juga yang paling buruk yang pernah diperoleh. Selain itu, ia memperkenalkan konsep Jawa, "memayu hayuning bawana", yang berarti "memperindah keindahan dunia"--hal yang sepertinya berkebalikan dengan kelakuan manusia pada umumnya.

Greeneration Foundation

Greeneration pertama kali saya kenal pada waktu kuliah, dari seorang teman yang mahasiswi Teknik Lingkungan ITB angkatan 2007. Memang kelompok ini diinisiasi oleh seorang mahasiswa dari jurusan yang itu juga pada 2006, dan awalnya hanya berupa gerakan kampus. Lama berselang, kini Greeneration telah menjadi organisasi legal.

Mewakili Greeneration, Saiful (--mudah-mudahan benar penulisannya--) menjelaskan mengenai organisasinya, program-program mereka, dan seterusnya.

Ada beberapa hal menarik atau baru saya dengar dari pemaparannya, yaitu istilah "circular economy" serta situs http://www.bebassampah.id/.

Circular economy menggunakan sumber daya dengan sebaik mungkin, alih-alih sebanyak mungkin. Sistem perekonomian ini berarti menghasilkan produk yang tidak menghasilkan sampah. Limbah yang dihasilkan mesti dapat diolah kembali sehingga memiliki nilai guna.

Adapun situs http://www.bebassampah.id/ atau Portal Informasi dan Wadah Kolaborasi Persampahan Nasional merupakan semacam pemetaan yang memberikan informasi mengenai tempat-tempat untuk menyalurkan dan mengolah sampah, misalnya saja: bank sampah, jasa reparasi, galeri craft, dan semacamnya. Seketika mendengar tentang itu, saya pun langsung mencoba mengaksesnya di gadget saya. Memang keluar informasi seperti jumlah bank sampah, pengepul, TPS, dan semacamnya, tapi ketika saya klik, tidak muncul apa-apa. Ketika saya tanyakan kepada Saiful seusai acara, dia bilang bahwa pengakses mesti mendaftar terlebih dahulu. Diharapkan, yang mengakses bisa sekaligus menambahkan data.

Ide website ini hampir-hampir seperti aplikasi mySmash, yang khusus mendata bank sampah. Tapi, terakhir kali menginstalnya, aplikasi tersebut kurang up to date.

Pemandangan dari bangku paling atas tepat di tengah.
Dari kiri ke kanan: pembawa acara (baju biru), Saiful (baju pink),
Gadis (baju batik), dan Mbak Usi (baju putih).

Diskusi

Dalam sesi ini berseliweran pertanyaan-pertanyaan maupun pengalaman-pengalaman.

Karena kebanyakan peserta yang hadir merupakan anak muda, muncul pertanyaan: bagaimana supaya didengarkan? Apalagi oleh orang tua sendiri. Anak muda cenderung lebih peka terhadap isu lingkungan hidup, tapi orang tua telah terbiasa melakukan cara-cara yang tidak lestari dan sulit sekali memberitahukannya.

Beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:
  • Memperlihatkan. Saiful menceritakan pengalamannya saat membeli makanan di suatu warung dan menolak diberikan plastik. Ia prihatin ketika ibu penjaga warung mengatakan bahwa kalau tidak diberikan plastik, maka kesannya kurang sopan. Tapi ia kukuh dengan pendiriannya, sampai-sampai ibu penjaga warung itu yang akhirnya secara tidak langsung "menyosialisasikan" perilakunya tersebut kepada para pelanggan lain.
  • Mengajak. Cara ini dilakukan oleh Mbak Usi yang memang kerap menjadi pembicara. Ia suka mengajak para keponakannya serta agar bisa turut mendengar pesan-pesan yang disampaikannya.
  • Berkolaborasi. Terus terang saya kurang menangkap tentang cara yang satu ini. Kalau boleh saya kira-kira, ini berarti turut aktif dalam gerakan-gerakan kampanye lingkungan hidup.
Seorang peserta menambahkan dengan berbagi pengalamannya dalam mengajari anak. Caranya yaitu dengan memberikan penjelasan dalam bahasa yang mudah dimengerti berikut contoh perbuatan.

Selanjutnya, beberapa peserta mengangkat isu yang dekat dengan diri mereka. Ada yang mempersoalkan stainless steel sebagai pengganti plastik, sebab ia mendengar bahwa bahan tersebut justru mempunyai dampak lingkungan yang lebih besar. Ada juga yang menanyakan tentang tempat menyalurkan sampah yang sudah dipisah yang ada di Bandung.

Salah seorang peserta mempertanyakan keterlibatan LSM dengan masyarakat kecil, misalnya saja lewat Karang Taruna. Biasanya masyarakat cenderung menyalahkan pemerintah. Contohnya, ibu si peserta mengeluh karena sudah membayar iuran sampah, tapi sampah tidak terangkut juga. Meski begitu, di tempatnya tinggal, sudah dilakukan inovasi untuk mengatasi persoalan sampah. Contohnya, pada waktu Idul Kurban kemarin, plastik pembungkus daging diganti dengan besek dan daun pisang.

Saiful menjelaskan bahwa pemerintah bukannya tidak berupaya, namun daya mereka terbatas. LSM berfungsi sebagai kolaborator pemerintah. Tapi tiap LSM punya lingkup kerjanya masing-masing. Misalnya saja, program-program Greeneration cenderung pada edukasi. Ada lagi LSM Waste4Change yang fokusnya lebih praktis, yaitu pada waste management. Selain itu, setelah ditanyakan, rupanya iuran sampah yang dibayarkan sangatlah kecil, sekitar Rp 3.000-5.000 per rumah, sementara ekspektasi terhadap petugas sampah begitu tinggi: tidak hanya mengangkut sampah, tapi juga membersihkan got dan sebagainya.

Acara ini disudahi sekitar pukul 12. Begitu keluar ruangan, satu per satu peserta diberikan santap siang dalam besek yang diikat dengan pita. Di dalamnya ada nasi, tempe bacem bulat, ayam kecap, lalap, sambal, kerupuk, dan pisang 

II. WORKSHOP

Usai santap siang, kami kembali ke ruangan. Acara kali ini sepenuhnya milik Gadis. Ia meminta para peserta untuk memperkenalkan diri: di samping menyebutkan nama, juga komitmen yang sedang ataupun ingin dilakukan untuk mengatasi problem lingkungan. Beraneka jawaban para peserta lain sementara saya menyusun daftar saya sendiri:
  • Membuat ecobrick
  • Menolak kantung plastik (atau membawa sendiri dari rumah)
  • Membawa wadah sendiri untuk membeli makanan
  • Membuat kompos
  • Membuat ecoenzyme
  • Menggunakan pembalut buatan sendiri dari pakaian bekas
  • Mengurangi belanja pakaian baru
Dan seterusnya.

Setiap peserta yang telah memperkenalkan diri berikut menyatakan komitmennya, oleh Gadis diberikan selembar sticky note biru bertuliskan nama benda. Saya sendiri dan orang di sebelah kanan saya mendapat "KERTAS FOLIO BEKAS". Teman di sebelah kiri saya mendapat "KERTAS BON ABU".

Setelah lebih banyak peserta kembali dan mendapatkan giliran masing-masing, Gadis pun memulai presentasi. 

Ia memperkenalkan tentang usahanya, yaitu Parongpong RAW Management (IG @parong.pong dan website https://www.parongpong.com/) yang punya tujuan antara lain menormalisasi pilihan untuk zero waste. Mereka tampaknya punya macam-macam usaha, mulai dari menjual komposter, mengolah sampah, sampai membuat rumah mini.

Selanjutnya ia menerangkan tentang pengertian sampah, macam-macam sampah, serta persoalan seputar sampah yang melanda dunia sekarang. Sampah atau waste diartikan sebagai hasil dari segala aktivitas manusia yang menggunakan sumber daya tetapi tidak memiliki nilai (value) lagi. Di Parongpong RAW Management, sampah tidak disebut sebagai "sampah". Mereka menyebut tempatnya sebagai material recovery center.

Gadis menunjukkan cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi bahkan meniadakan sampah lewat gambar-gambar sebagai berikut.

Gambar dari BioEnergy Consult.
Gambar dari Greenworks.
Gambar dari Michigan State University.
Petunjuk ini akan jauh lebih mudah dilakukan
kalau kamu memang tidak punya banyak uang! Hahaha ....

Dari gambar-gambar di atas agaknya kita bisa menarik pesan bahwa gaya hidup sederhana dengan menggunakan sumber daya sesedikit mungkin adalah koentji, dan sebisa mungkin tidak ada yang sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA). 

Gadis pun mengungkit tentang insiden-insiden yang pernah terjadi baik pada petugas sampah maupun warga di sekitar TPA. Ia mendengar cerita bahwa ada petugas yang kena tetanus dan akhirnya mati akibat tertusuk oleh sampah tajam dan lalu terkontiminasi oleh sampah kotor (popok bekas). Dalam skala luar biasa, pada 2005, pernah terjadi tragedi TPA Leuwigajah. Sampah-sampah yang telah menggunung di TPA tersebut sekonyong-konyong meledak sehingga menimbun pemukiman di dekatnya. Banyak korban jiwa yang meninggal dunia, belum lagi rumah yang rusak. Gila, bukan? Gunung sampah itu mungkin meledak akibat timbunan gas metana yang dihasilkan oleh sampah organik (: sisa makanan dan sebagainya) yang membusuk.

Kalau mau sedikit saja berempati kepada mereka--entahkah petugas sampah maupun warga di sekitar TPA--yang nyawanya terancam oleh hasil buangan itu, maka mengurangi bahwa meniadakan sampah menjadi keharusan.

Gadis menganjurkan agar kita memiliki alasan personal untuk memulai hidup hijau. Misalnya saja, tidak mau mengambil jatah sumber daya untuk anak cucu. Kalau bagi saya pribadi, tampaknya supaya ringan beban pertanggungjawaban di akhirat. (Kejauhan mikirnya, ya.)

Selanjutnya, masuk ke sesi workshop walaupun hanya berupa simulasi. 

Gadis mengerucutkan uraiannya menjadi satu solusi, yaitu membuat kompos. Masalah yang biasanya timbul dalam membuat kompos, sehingga orang malas melakukannya, antara lain karena bau dan memunculkan ulat-ulat kecil. Padahal masalah tersebut bisa diatasi jika memerhatikan komposisi sampah yang dimasukkan ke komposter, yaitu 3 sampah hijau : 4 sampah cokelat

Yang dimaksud dengan sampah hijau adalah sampah organik yang cepat membusuk, seperti sisa sayuran dan buah. Sedangkan sampah cokelat adalah sampah organik yang tidak lekas terurai dan semestinya dicacah dulu sebelum dimasukkan ke komposter, contohnya kertas bekas dan kulit telur.

Kedua sampah tersebut dimasukkan secara berlapis-lapis dengan memerhatikan rasionya. Setelah itu, tentu saja sampah perlu tetap diaduk sesekali supaya tercampur baik.

Dengan sticky note biru bertulisan nama benda di tangan masing-masing, para peserta diminta untuk membentuk kelompok-kelompok berdasarkan pada komposisi yang tepat di dalam komposter itu.

Terbentuklah lima kelompok. Meski begitu, satu kelompok merupakan pengecualian karena terdiri dari sampah residu. Residu adalah jenis sampah yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, misalnya saja pecahan beling. Sampah ini hanya akan ditumpuk begitu saja di TPA. Mengingat acara lainnya yang baru-baru ini saya hadiri, jangan-jangan ada di antara sampah residu itu yang sebetulnya dapat dimanfaatkan menjadi barang dekoratif dengan teknik mix media 

Dari tiap-tiap kelompok, diambil satu pemimpin yang maju untuk membacakan bahan-bahan yang terkumpul. Dari lima kelompok, rupanya tiga di antaranya salah memasukkan bahan, sedangkan dua lagi (termasuk kelompok sampah residu) kekurangan bahan. Di sinilah terungkap bahwa kita tidak bisa sembarang memasukkan bahan, terutama kertas bekas, ke dalam komposter.

Para pemimpin membacakan perolehan masing-masing kelompoknya.

Kertas ada banyak macamnya. Yang bisa dimasukkan ke komposter hanyalah kertas yang tidak mengandung bahan lain yang dapat mengganggu proses pengomposan. Bahan lain yang "haram" masuk itu adalah plastik, lilin, minyak, dan semacamnya. 

Bahan lain yang juga "menjebak" adalah tulang, apalagi yang ada sisa daging.

Untuk membantu proses pengomposan, kita dapat menggunakan cairan MOL (mikroorganisme lokal) atau EM4. Kita juga bisa membuatnya sendiri dengan air bekas cucian beras atau air kelapa.

Simpulan

Sepintas, acara ini seperti acara lainnya tentang sosialisasi permasalahan lingkungan hidup yang pernah kami ikuti. Selain itu, wawasan ini sudah tersebar di mana-mana, khususnya media sosial. Tapi, boleh jadi itu karena kami sudah punya sedikit kepedulian terhadap persoalan ini, sedangkan bagi banyak orang lainnya belum.

Di samping menguatkan pengetahuan yang sudah ada, acara ini memberitahukan saya beberapa istilah baru. Juga, selama ini upaya pengomposan saya masih asal-asalan. Simulasi pada workshop mengingatkan saya agar memerhatikan lagi bahan yang dimasukkan untuk mengompos. (Yang lebih malas lagi yaitu mengaduk-ngaduknya!)

Jumat, 13 Maret 2020

Dekorasi dari Barang Bekas dengan Teknik Mix Media

Yang saya tahu, acara ini akan tentang pengolahan barang bekas menjadi dekorasi. Informasinya hanya berupa teks di grup, tanpa gambar contoh barang. Saya pun asal datang saja pada Rabu (11 Maret 2020) pagi menjelang siang itu (pukul 9.30 WIB), karena cukup tertarik pada daur ulang. Lagi pula, tempatnya yang berada di Gedung Dekranasda Provinsi Jawa Barat cukup dekat atau sekitar setengah jam bersepeda dari rumah saya.

Ketika saya tiba, hampir-hampir tidak ada seraut wajah pun yang saya kenal. Saya pun sekadar celingukan, terutama memerhatikan botol-botol hitam polos yang tergeletak di atas meja-meja yang telah diatur. Saya merasa agak familier; kemungkinan saya sudah pernah melihatnya di suatu acara temu komunitas DIY di Click Square kira-kira tahun lalu. Sedikit yang saya tahu: botol yang bagus atau berbentuk estetis biasanya bekas minuman keras, yang setelah dicat akan dihias.

Sebelumnya, saya sudah mengontak nomor yang tersedia. Katanya, acara ini gratis kalau cuma lihat-lihat, dan bayar kalau hendak praktik. Tentu saja saya memilih untuk sekadar lihat-lihat, huehuehue (ketawa ala orang Brasil). Rupanya, bukan cuma saya yang hendak sekadar menjadi pengamat. Sadar diri, kami duduk di kursi-kursi yang diletakkan di pinggir.

Acara pun dibuka. Tampaknya workshop semacam ini merupakan acara rutin Dekranasda Jabar (IG: @jabardekranasda) dengan tajuk "Rabu Ngelmu!". Jargonnya: "mencari ilmu, berbagi ilmu, dan menebarkan kebaikan".

Dekorasi dengan teknik mix media yang akan diajarkan dalam kesempatan ini tentunya memiliki nilai jual. Kalaupun sekiranya semua peserta hendak menjual barang yang serupa, rezeki sudah ada yang mengatur. Demikian kata-kata yang saya dengar.

Pemandunya Teh Icha, yang memiliki usaha lokal ZeRouNisa Craft (IG: @zerounisaartcraft). Beliau menjelaskan seputar "mix media" yang--menurut penangkapan saya--pada dasarnya menempelkan pernak-pernik macam apa pun pada barang yang hendak dihias, asalkan hasilnya terlihat artistik.

Teh Icha sedang menjelaskan seputar teknik mix media.

Apa-apa serba ditempel!
Seorang ibu-ibu sesama pengamat yang duduk di samping saya mengambilkan contoh dekorasi yang sudah jadi, berupa sebuah kotak berhiasan. Katanya itu kotak bekas wadah ponsel. Saya memerhatikan hiasannya, yang di antaranya terdiri dari: potongan kardus, sekrup, kunci, mur, sampai kasa. Sepintas, tampaknya benda-benda renik apa pun bisa dimanfaatkan. Persoalannya tinggal bisa menatanya sehingga terlihat cantik atau tidak!

Teh Icha bilang, teknik mix media ini aslinya menggunakan bahan-bahan yang mahal. Tapi, agaknya karena sehubungan dengan isu persampahan yang sedang digalakkan oleh pemerintah, maka yang dikedepankan adalah barang-barang bekas atau yang mudah didapatkan di rumah. Contohnya saja, untuk mengecat botol tidak digunakan cat enamel yang katanya mahal, tapi Pylox. Selain itu, seperti yang sudah saya sebutkan pada paragraf sebelumnya, benda-benda renik yang kerap tercecer di lantai bahkan tersapu ke pembuangan ternyata bisa dijadikan berharga dalam kerajinan ini.

Sepertinya karena menggunakan barang-barang bekas itulah maka gaya yang hendak dipakai adalah "vintage". Bukannya saya tahu ada gaya apa saja sih. Saya hanya mencatat yang terdengar, hehehe. Tampaknya gaya vintage ini yang paling simpel. Soalnya ada contoh prakarya yang tampaknya menggunakan bahan dan cetakan khusus sehingga tentulah lebih rumit.

Walaupun yang digunakan adalah barang-barang bekas, nilai jualnya bisa besar. Katanya sih satu botol yang telah dihias bisa dihargai Rp 150.000.

Contoh produk-produk lainnya yang dibawa Teh Icha.
Ada yang sudah jadi, maupun belum.

Barang-barang baru berlabel "Victory".
Nyatanya, dalam workshop ini banyak juga barang baru yang digunakan. Saya memerhatikan di meja depan ada plastik berisi pernak-pernik yang masih terbungkus rapi berikut labelnya. Pernak-pernik tersebut berupa aksesori bunga-bungaan, adapun labelnya menunjukkan Toko Victory yang berlokasi di Jalan Asia Afrika 68. Para ibu-ibu di sekitar saya mengimbuhkan bahwa aksesori semacam ini bisa juga didapatkan di Dunia Baru Otista dan WK Pasar Baru.

Keseluruhan perlengkapan di meja depan (tampak belakang).

Kelihatannya sih seperti yang sekadar tempel sana-sini. Ternyata, dalam praktiknya tidaklah begitu mudah. Biarpun hanya pengamat, saya memerhatikan bahwa ada berbagai teknik yang mesti dikuasai agar hasilnya tidak asal-asalan, mulai dari cara mengecat, menempel, sampai mewarnai.

Mari kita mulai ....

Cat Gesso yang khusus untuk kayu.
Untuk mengecat botol, misalnya. Apabila tidak menggunakan cat yang disemprot seperti Pylox, misalnya cat enamel, untuk membubuhkannya tidaklah dengan kuas tapi spons. Caranya bukan dengan diusap, melainkan ditepuk-tepuk. Cat enamel pun kualitasnya ada bermacam-macam. Semakin bagus kualitasnya, semakin bagus pula hasilnya. Ada pula cat Gesso yang khusus untuk kayu agar pori-porinya tertutup.

Seorang ibu-ibu menggunakan spons
untuk meratakan cat pada permukaan botol.

Sebagian dari aneka kuas dan peralatan.
Meskipun begitu, kuas tetap digunakan. Malah, kuasnya pun bermacam-macam baik menurut bentuk maupun ukuran--demikian yang saya perhatikan di meja depan.  Untuk apa? Saya pikir salah satu kegunaan kuas adalah untuk mewarnai aksesoris, misalnya saja yang berbentuk bunga-bungaan itu. Sayang sekali saya kurang memerhatikan kegunaan lain dari kuas, serta apakah aksesoris diwarnai sebelum atau sesudah ditempelkan pada botol.

Di samping memberikan warna, sepertinya cat juga berfungsi untuk mengeraskan pernak-pernik yang berbahan lemas, misalkan saja kelopak bunga-bungaan tadi.

Cara menempelkan renda pada botol,
rupanya ada tekniknya sendiri.
Untuk menempelkan pernak-pernik pada botol, digunakan lem tembak. Ini pun ada tekniknya sendiri. Yang diberikan lem bukan botol, melainkan pernak-pernik. Contohnya saja, apabila hiasan yang digunakan adalah renda, tentu bahannya lebih mudah menyerap daripada botol. Untuk mengelem renda, bubuhkan pada bagian yang tebal.

Dalam menempel, kemungkinan akan timbul bekas lem yang serupa benang laba-laba sehingga disebut "spider". Untuk membersihkan dekorasi dari spider, tunggu sampai lem benar-benar kering, baru cabuti. Apabila sulit dicabut, spider bisa ditutupi oleh cat.

Pasir Bali juga bisa digunakan sebagai bahan hiasan. Di samping itu, ada sebuah wadah plastik berisi cairan putih berbau menyengat yang mengundang penasaran. Tutup wadahnya sih bertulisan "Doff". Tadinya saya mengira Doff ini lem untuk melekatkan Pasir Bali. Setelah saya telusuri sekilas, sepertinya Doff itu sejenis cat alih-alih lem. Jadi bagaimana cara menempelkan Pasir Bali dan kapan Doff digunakan. Sayang sekali, saya tidak sempat menanyakannya lebih lanjut.

Pasir Bali dan Doff yang mengundang penasaran.

Semula botol dan pernak-pernik dicat dalam satu warna, yaitu hitam. Pada tahap terakhir, barulah digunakan warna yang bermacam-macam. Teh Icha memberikan contoh cara memberikan warna dengan jari. Memang sejak awal beliau sudah mewanti-wanti, dalam membuat kerajinan ini, "Jangan takut kotor!"

Teh Icha menunjukkan cara menghias dengan cat dan jari,
dan ketika salah seorang peserta mempraktikkannya.

Aneka cat yang digunakan
untuk memperindah.
Cat yang digunakan untuk menghias adalah akrilik dengan nuansa metalik sehingga menghasilkan efek mengilat. Cat Duco untuk kendaraan pun boleh saja dipakai.

Di antara kebanyakan peserta ibu-ibu, ada juga beberapa orang mas-mas yang datang. Sepasang jauh-jauh dari Cililin, sedangkan sepasang lagi sudah saya kenal dari acara Dispora. Yang sepasang dari Cililin itu tahu-tahu saja menghilang, ketika yang sepasang lagi diberikan kesempatan untuk turut mencoba secara cuma-cuma. Mereka diberikan sebuah botol berikut pernak-pernik dan lem. Karena mereka satu-satunya (atau dua-duanya) wajah yang sudah saya kenal, maka sering kali saya menongkrong dekat keduanya sehingga lebih leluasa untuk mengamati dari dekat bahkan mencampuri, hehehe.

Mas-mas bekerja sama mempercantik botol.

Di samping itu, saya juga kejatuhan peran sebagai juru foto dadakan. Ada saja ibu-ibu yang minta tolong dipotret bersama botol yang dihiasnya 

Hasil karya peserta yang sudah jadi.
Yang sebelah kiri (botol ceper) karya ibu-ibu,
yang sebelah kanan (botol bundar) karya mas-mas.

Setelah mengamati caranya, terkesan bahwa mendekorasi barang dengan teknik mix media itu gampang-gampang susah, ya. Kalau memang tersedia alat dan bahannya di rumah, yang selama ini tidak termanfaatkan, kenapa tidak mencoba membuatnya? Lagi pula, benda ini tidak mesti sekadar jadi dekorasi penadah debu, tapi juga dapat bernilai fungsional. Apabila menggunakan botol sebagai media, tinggal buka saja penutupnya. Masukkan sedikit air dan beberapa tangkai bunga, jadilah vas yang cantik!

Kalau punya produk layak jual, apalagi berkarakter kejawabaratan,
boleh lo diajukan ke Dekranasda Jabar. Mereka akan melakukan kurasi
lalu memberitahukan apakah produkmu bisa dipajang di ruangan ini.



Penataan foto-foto dalam tulisan ini terbantu berkat sebuah artikel tentang cara menggabungkan foto di Paint; petunjuknya sangat mudah dipraktikkan!

Jumat, 07 Februari 2020

Jagalah Kesehatan Mentalmu Sendiri!

Siang 2 Februari 2020, di Auditorium Rosada Balai Kota Bandung, ada acara talkshow bertajuk "How to Take Care Our Mental Health" yang diselenggarakan Pemuda Peduli Kesejahteraan Sosial Dewan Pimpinan Cabang Bandung. Sembari menunggu acara dimulai, pada layar di depan diputarkan sebuah film yang memotret penderita depresi. Benar saja, film tersebut dapat saya temukan di Youtube.


Film ini menarik sejak awal, karena si penderita depresi bangun tidur dengan riasan yang cukup tebal. Mungkin, saking depresi, ia sampai lupa atau terlalu malas untuk copot bulu mata sebelum tidur.

MC memeriahkan suasana dengan mengajak peserta berbagi pengetahuan mereka soal kesehatan mental. Ada yang berpendapat bahwa masalah kesehatan mental yang marak belakangan ini di antaranya disebabkan oleh media sosial. Ada juga yang menceritakan tentang temannya yang "depresian banget", mudah galau hanya karena hal kecil. Ketika ia berkunjung ke rumah temannya itu, rupanya keluarganya juga sama-sama "sensitif" dalam pengertian suka main bentak. Ia pun mencoba membawa si teman ke lingkungan yang positif, seperti komunitas.

Tujuan acara ini sendiri--menurut MC yang coba saya kemas dalam bahasa sendiri--yaitu hendak mensosialisasikan kepada para pemuda cara-cara untuk mengatasi permasalahan diri berikut upaya preventif terhadap gangguan mental. Memang tampaknya semua peserta yang hadir di ruangan yang hampir penuh ini berusia muda, mahasiswa atau pelajar. Memang pemuda lah yang rentan terkena penyakit mental. Dengar-dengar, kebanyakan orang yang bunuh diri berusia 15-29 tahun. Kesehatan mental itu sendiri diartikan sebagai ketenteraman batin sehingga dapat beraktivitas dengan baik.

Ketiga pembicara mewakili bidang yang berlainan tapi sama-sama mendukung kesehatan mental: 
  • Dr. Sri Maslihah, M.Psi, psikolog
  • Dorang Luhpuri, SIP, Ph.D, pekerja sosial profesional dan dosen, serta 
  • Nur Hikmah Maulidyah, pegiat komunitas ISmile4You
Jadi, sesungguhnya kesehatan mental itu bukan cuma urusan psikologi dan psikiatri, melainkan berbagai bidang seperti kesejahteraan sosial. Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial atau Politeknik Kesejahteraan Sosial--yang rupanya merupakan perguruan tinggi kedinasan berlokasi di Dago--seolah-olah menjadi "sponsor" acara ini. Ibu Dorang selaku salah satu pembicara adalah dosen di kampus tersebut. Demikian juga dengan mas moderator, yang ternyata duta mahasiswa kampus itu #ehem.

Dari sudut pandang psikologi

Pembicara pertama, Ibu Sri, yang notabene dosen Psikologi UPI, memberikan kuliah berjudul "Kesehatan Mental: Pengertian, Upaya Preventif dan Kuratif Berbasis Masyarakat". Beliau membuka dengan memutar cuplikan film yang cukup menghebohkan belum lama ini, Joker. Alhamdulillah, video tersebut juga bisa saya temukan di Youtube. 


Beliau lalu memaparkan tentang permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia, contohnya yaitu banyaknya penderita skizofrenia yang tidak tertampung di rumah sakit jiwa.

Kemudian ada pengertian-pengertian. 

"Mental" diartikan sebagai cara berpikir dan berperasaan menurut nurani yang tecermin pada perilaku. Dalam dunia Islam, urusan "mental" ini agaknya menyangkut soal "hati". Kalau dalam istilah Aa Gym, sepertinya kesehatan mental berarti manajemen kalbu. 

Penggunaan kata "jiwa" masih banyak digunakan dalam urusan kesehatan mental. Misalkan, kesehatan mental disamakan dengan kesehatan jiwa, psikiater disebut sebagai dokter ahli jiwa, dan seterusnya. Ibu Sri menerangkan bahwa dalam dunia psikologi sendiri istilah "jiwa" sudah tidak digunakan, sebab rupanya "mental" tidak sama dengan "jiwa". 

Bagaimanakah orang yang sehat mental atau "normal" itu? Menurut WHO, yang diadaptasi ke dalam undang-undang atau peraturan pemerintah kita, kurang lebih berarti: dapat menyadari kemampuan sendiri, mengelola stres kehidupan yang wajar, bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan dalam komunitas. Dikutip juga pendapat Assagioli (: psikiater Italia yang baru saja saya googling), yang menyatakan bahwa sehat mental berarti memiliki integritas kepribadian, keselarasan jati diri, pertumbuhan ke arah realitas diri, serta hubungan sehat dengan orang lain.

Sebetulnya ada banyak poin menarik lainnya yang hendak dijabarkan, apalagi yang bersifat praktis, seperti upaya keluarga/masyarakat, upaya pencegahan individual, cara yang tepat maupun yang tidak tepat dalam menangani, langkah-langkah untuk membantu, dan sebagainya. Sayang, saya tidak sempat mencatat semuanya. Satu yang paling saya ingat dari upaya pencegahan individual ialah dengan tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan serta melakukan aktivitas yang disenangi.

Dari sudut pandang kesejahteraan sosial

Kalau Ibu Sri cenderung menyorot kesehatan mental secara umum, Ibu Dorang agaknya mengkhususkan pada contoh kasus yang berat, yaitu skizofrenia. Skizofrenia bisa dibilang sebagai jenis penyakit mental paling berat. Penderitanya kerap mendapat julukan "orang gila". Belakangan, pemerintah tampak mulai mensosialisasikan sebutan yang menghaluskan, yaitu Orang dengan Skizofrenia (ODS) atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Sebelum Ibu Dorang memperkenalkan istilah tersebut kepada peserta acara ini, saya sudah pernah mendengar iklan layanan masyarakat di radio mengenai hal itu.

Siapa pun bisa menjadi ODGJ, akibat gaya hidup jaman now yang semakin sulit, sarat akan tekanan dan persaingan. Awalnya cemas, yang bila parah menjadi depresi, kemudian timbul halusinasi, dan akhirnya menderita skizofrenia; dari Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) menjadi ODGJ. Karena itu, Ibu Dorang bilang, unek-unek sekecil apa pun mesti dibuang secara ikhlas--seperti yang kita lakukan kala duduk atau jongkok di kloset. Ya, Ibu Dorang mengibaratkannya kurang lebih begitu--yang dalam tulisan ini saya kemas dalam bahasa sendiri. Memang penampilan pembicara satu ini sangat kocak, bak stand-up comedian.

Seperti yang sudah diangkat sedikit oleh Ibu Sri, banyak ODGJ yang tidak tertampung di rumah sakit jiwa (RSJ). Ada batas waktu mereka boleh berada di sana. Lewat dari itu, mereka dipulangkan ke keluarga masing-masing. Perawatan di RSJ mungkin kondusif bagi si penderita. Tapi, begitu kembali ke keluarga dan lingkungannya semula, kemungkinan ia kambuh. Sebab, boleh jadi penyebab dia mengidap gangguan tersebut adalah keluarga dan lingkungannya sendiri. Apabila keluarga dan lingkungannya tidak berubah, maka kesembuhannya pun sulit diharapkan.

Satu ODGJ dapat melumpuhkan tiga-empat anggota lainnya dalam keluarga. Tidak mungkin seorang ODGJ dapat pergi berobat sendiri, sehingga dia mesti diantarkan oleh anggota keluarganya, katakanlah ibunya. Jika ibunya mesti pergi mengantar si ODGJ, apabila mereka punya anak kecil, siapakah yang mengurusnya? Maka anggota keluarga yang lain mungkin mesti tidak masuk kerja agar bisa mengurus si anak kecil. Kira-kira begitu.

Dengan keadaan begitu, apabila dalam setiap desa terdapat 20-30 ODGJ, bisa dibayangkan dampaknya. Karena itulah, sesungguhnya gangguan mental merupakan fenomena gawat yang mengancam kesejahteraan bangsa.

Kalau psikiater memberikan obat, sedangkan psikolog terapi, maka pekerja sosial ambil bagian dalam aspek sosiologinya. Sayangnya, pekerjaan tersebut tidak dideskripsikan secara terperinci. Saya hanya bisa membayangkan mereka turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan, meninjau lingkungan, dan sebagainya, di samping berhubungan langsung dengan penyintas beserta perawat ODGJ yang memiliki komunitas tersendiri.

Ibu Dorang mencontohkan cara menangani ODGJ secara tepat, menurut yang diberitahukan oleh seorang penyintas kepada beliau. Yang pertama, kita harus memberikan mereka sentuhan, misalkan di bahu. Sentuhan tersebut untuk menyadarkan mereka pada kenyataan. Kita juga perlu memahami dunianya. Menurut penyintas, ODGJ melihat halusinasi berupa sosok-sosok yang mengoceh tidak keruan. Kita bisa berpura-pura ikut melihat halusinasi tersebut, dengan menyuruh sosok-sosok itu pergi atau berhenti mengganggu si ODGJ. Selain itu, kita mesti memastikan ODGJ patuh minum obat. Sering kali terjadi, di bawah kolong tempat tidur ODGJ ditemukan obat-obat yang tidak terminum. Padahal obat itu krusial sekali bagi pengidap skizofrenia, seperti insulin pada penderita diabetes.

Ibu Dorang juga memberikan langkah-langkah praktis lainnya, sebagai berikut:
  • Menjadi pendengar yang baik.
  • Menghindari stres, dengan selalu mengekspresikan perasaan kita kepada orang yang tepat.
  • Menemui orang yang tepat dan mencari bantuan apabila merasa ada tanda-tanda "tidak beres".
  • Memahami karakteristik ODGJ.
  • Menghindari stigma, yang sepertinya berarti tidak memberikan label negatif terhadap gangguan tersebut ataupun penderitanya.
  • Memberikan dukungan dan memenuhi hak penderita secara terkendali.
Dari sudut pandang komunitas

Pembicara berikutnya punya panggilan akrab Teh Umi. Ia pegiat komunitas ISmile4You, yang salah satu misinya (CMIIW) adalah membawa senyum sebagai perubahan positif. Komunitas ini memiliki tim pendengar (listener), yang merupakan orang-orang pilihan. Tim tersebut punya prinsip hear to listen, not listen to answer. Yang saya tangkap, "listen" berarti "memvalidasi emosi". Misalkan, ada orang yang curhat sama kita. Memvalidasi emosi dia berarti kita mengatakan bahwa kita memahami perasaannya, "tapi" ... kita mesti dapat menyertakan saran yang konstruktif.

Apabila ada orang yang mengatakan hendak bunuh diri, kita juga perlu mengenali penyebabnya. Soalnya, bunuh diri itu bisa dikarenakan beberapa faktor, yaitu biologis (yang berarti hormon serotonin di otaknya sedang turun atau tidak ada), psikologis, atau sosial. Dengan mengenai penyebab tersebut, sepertinya kita bisa memikirkan cara penanganan yang tepat. Misal, apabila penyebabnya biologis, boleh jadi dia perlu diberi zat tertentu yang mengandung hormon serotonin dan oleh karena itu membawanya ke psikiater mungkin tindakan yang tepat. Apabila penyebabnya psikologis, psikolog mungkin dapat menjadi sarana yang pas. Apabila penyebabnya sosial, mungkin kita perlu membawa dia ke lingkungan lain yang positif.

Menurut Teh Umi, yang katanya bersumber dari WHO, hanya perlu 40 detik untuk mengalihkan emosi. Misalkan, ada orang yang bilang hendak bunuh diri kepada kita. Dalam 40 detik itu, apabila diberikan cara yang efektif, dia dapat berubah pikiran.

Tidak banyak yang saya catat pada segmen ini, di samping tidak ada slide. Setelah saya googling, tampaknya sudah ada cukup banyak informasi tentang komunitas ISmile4You ini apabila masih penasaran.

Sesi tanya jawab

Bagaimana cara menangani teman yang punya masalah mental sementara teman-teman lain sudah pada menyerah dengan dia?

Kalau mau menyelamatkan orang lain, kita mesti terlebih dahulu melihat keadaan diri sendiri. Jangan sampai kesehatan mental kita sendiri terancam. Kalau masalahnya serius, sebaiknya langsung saja mendatangi pihak yang profesional. Cuma psikiater yang dapat mendiagnosis apakah seseorang memang mengalami depresi.

Kampus tertentu seperti Universitas Padjajaran (Unpad) dan Politeknik Kesejahteraan Sosial menyediakan layanan konseling. Untuk Unpad yang berada di Jatinangor, layanannya khusus untuk mahasiswa dan tidak berbayar. Layanan dari Unpad yang berbayar tampaknya bisa diakses masyarakat umum, letaknya di Dago, dekat Hotel Jayakarta. Apabila memerlukan psikiater (berbayar), bisa mendatangi Grha Atma di Jalan Riau 11.

Apakah dibentak-bentak dalam masa orientasi siswa baru dapat memengaruhi kualitas mental?

Menurut Teh Umi, tidak ada penelitian bahwa bentakan dapat memberikan manfaat.

Adakah cara coping yang bukan dengan menghindari, melainkan menyelesaikan?

Ada berbagai cara untuk coping, dari mulai berkompromi sampai menarik diri. Bahkan memaafkan pun termasuk cara coping. Satu cara yang baik dicoba adalah assertive training, yang berarti meraih kemampuan untuk menyampaikan secara apa adanya namun proposional dan santun, tanpa merendahkan orang lain ataupun diri sendiri.

Simpulan dan kaitan dengan pengalaman pribadi

Kesehatan mental merupakan isu yang menarik buat saya pribadi. Sebelum isu tersebut ramai di media, saya sudah penasaran untuk mendatangi pihak yang profesional. Ketika saya benar-benar mengalami suatu masalah yang tidak dapat saya tanggung lagi sendiri, saya pun mencoba mencari informasi.

Singkat cerita, dalam kurun waktu tertentu, saya mendatangi dua tempat. Di satu tempat, saya menemui seorang psikolog sampai beberapa kali. Tempat yang lain yaitu Jalan Riau 11. Sewaktu saya masih kecil, lokasi yang kedua ini kerap menjadi bahan olokan anak-anak karena identik dengan "rumah sakit jiwa". Memang, kalau tidak salah, Grha Atma merupakan nama baru untuk menghaluskan stigma yang kurang enak itu.

Di Grha Atma, saya menemui psikiater beberapa kali dan psikolog satu kali. Terus terang, saya tidak meneruskan datang di samping karena keterbatasan biaya, juga karena meragukan efektivitasnya. Sebenarnya, biaya untuk psikiater dan obatnya cukup murah. Obat yang mahal paling-paling yang sejenis mood stabilizer, tapi dalam kunjungan berikutnya resep saya diganti sehingga tidak perlu membelinya lagi. Yang lebih mahal justru psikolognya, untuk terapi, tes, dan segala macam.

Meski begitu, pengalaman tersebut bukan berarti tidak berharga sama sekali. Sedikitnya, saya jadi mendapatkan gambaran akan cara kerja mereka. Saya juga mengamati dan menguping percakapan atau gerak-gerik pasien lain yang cukup "unik". Ada yang bicara sendiri, seolah-olah ada makhluk kecil di depannya. Ada yang sedikit-sedikit meledak sambil memaki-maki. Ada yang mengaku kembali mendengarkan suara-suara setelah lama tidak, dan ia menyebutnya sebagai "suara Tuhan".

Selain itu, obat-obatan yang diberikan psikiater agaknya memang memiliki efek tertentu yang walaupun tidak sesuai dengan harapan, namun secara tidak langsung memberikan hasil yang di luar dugaan. Bingung? Intinya kurang lebih, setelah sekitar dua bulan saya berhenti minum begitu saja, mengalami efek yang luar biasa, sehingga menimbulkan perubahan tertentu dalam hidup saya.

Setelah menceritakan pengalaman ini secara garis besar kepada teman-teman, tidak disangka, ada beberapa di antara mereka yang kemudian bertanya lebih lanjut. Tampaknya diam-diam mereka juga memiliki masalah dan penasaran ingin meminta penjelasan atau bantuan dari pihak lain. Saya hanya bisa memberitahukan tentang tempat-tempat yang pernah saya datangi, serta saran untuk mengunjungi psikolog terlebih dahulu alih-alih langsung ke psikiater. Kepada psikolog, barulah kita bisa menanyakan apakah masalah kita perlu sampai dikontrol oleh obat. Soalnya, kemungkinan psikiater pasti akan memberikan obat yang belum tentu cocok untuk kita. Saya sendiri sempat mengalami semacam efek samping sehingga memeriksakan diri lagi ke puskesmas dan diberikan obat lainnya.

Selain itu, mendatangi pihak yang profesional sudah pasti membutuhkan biaya. Kemungkinan masalah kita tidak akan terpecahkan hanya dengan sekali kunjungan. Boleh jadi mereka akan menganjurkan kunjungan berkelanjutan, yang berarti pengeluaran terus-terusan. Meski begitu, kalau ada rezeki, bisa saja kita coba datang barang sekali-dua kali sekadar untuk memupus penasaran. Hanya saja, persiapkanlah mental yang kuat kalau-kalau tanggapan dari mereka justru malah semakin menjatuhkan alih-alih mengangkat. Aneh, bukan? Kita mendatangi mereka karena merasa mental kita bermasalah, tapi untuk mendatangi mereka kita perlu mental yang kuat.

Nah, pengalaman pribadi saya tersebut adakalanya relevan dengan yang diungkit dalam talkshow ini. Misalnya, ketika Ibu Dorang mengungkapkan bahwa banyak pasien yang tidak berobat karena berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Pihak yang profesional pun tidak memiliki kesempatan untuk mengulik permasalahan kita sampai ke akarnya. Padahal, bisa jadi yang bermasalah itu bukan hanya si penderita, melainkan juga lingkungannya (dan di sinilah peran pekerja sosial).

Atas kenyataan itulah, penting untuk bisa menjaga kesehatan mental pribadi. Tapi, bukan berarti kita hanya mengurus diri sendiri. Secara langsung atau tidak langsung, boleh jadi kita sendiri berperan terhadap kesehatan mental orang lain. Mungkin saja, tanpa disadari, kita memiliki perilaku yang menjadi sumber tekanan batin bagi orang lain. Para pembicara talk show ini pun berpesan agar tidak meninggalkan mereka yang tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri, sebab kitalah harapan mereka. Jadi, sepertinya kita perlu saling menjaga.

Selasa, 28 Januari 2020

Sehari bagi Bumi: (Sesi 3) Sekelumit Antroposofi dan (Sesi Tambahan) Lebih Lanjut Soal Eco Enzyme

SESI 3

Pada sesi ini, Dr. Joean kembali menjadi pembicara. Beliau memulai ceritanya dari tahun 2010. Pada waktu itu, Dr. Joean sedang berada di titik balik lainnya: sebagai seorang dokter, beliau tidak bisa menyembuhkan pasiennya. Beliau dilatih hanya untuk memberi pasien obat, yang padahal hanya menghentikan gejala.

Dalam keadaan itu, seorang teman menyarankan beliau agar mengikuti acara Anthroposophy Medical Training di Taiwan. Beliau pun mendapatkan pencerahan, tapi merasa tidak puas.

Singkat cerita, beliau mendapatkan tawaran untuk mengadakan acara serupa bagi masyarakat umum di Malaysia bersama Ibu Callie. Tapi, syaratnya, mereka harus bisa mengumpulkan 1.000 orang peserta. Diceritakanlah bagaimana mereka pontang-panting mencari dana hingga mengumpulkan seluruh peserta. Hampir saja Dr. Joean hendak menjual rumah satu-satunya. Bak keajaiban, acara bertajuk Kolisko Conference itu pun terwujud sebagaimana dikehendaki. Malah, mereka mendapatkan surplus dana yang kemudian digunakan untuk mengongkosi peserta dari tempat jauh. 

Baru kali ini saya mendengar istilah "antroposofi" dan "Kolisko", yang rupanya berhubungan. Sesi ini tidak menjelaskan secara terperinci mengenai asal-usul ataupun hubungan keduanya, tapi hanya memberikan gambaran kasar seputar subjek tersebut.

Misalnya saja, tentang sakit. Orang yang sakit tidak hanya perlu mengubah pola hidup atau berdiet, tapi juga pikirannya. Sakit itu ada bukan untuk membuat kita menderita, melainkan supaya kita berubah karena ada yang tidak seimbang dalam hidup kita. "You are sick first then have cancer, not you have cancer then sick," begitu kata Dr. Joean.

Antroposofi juga mengajarkan cara-cara untuk merawat diri sendiri. Misalkan, ketika anak demam, biasanya akan diberi parasetamol. Dalam antroposofi, keadaan atau lingkungan di sekitarnyalah yang mesti diubah agar anak dapat menurunkan sendiri demamnya.

Cara alami juga digunakan. Misalnya, batuk dapat diatasi dengan kompres kentang. Caranya: kukus dua buah kentang, bungkus dalam kain, hancurkan, kemudian taruh di dada sekitar 15 menit.

Dr. Joean lalu menjelaskan bahwa hidup ini tidaklah berbentuk garis lurus, tapi sebuah kurva. Yang terjadi pada seseorang dalam usia 0-7 tahun akan memengaruhinya dalam usia 60-70 tahun; 7-14 tahun pada usia 50-60 tahun; 14-21 tahun pada usia 40-50 tahun.

Sebagai contoh, usia 0-7 tahun merupakan waktu berkembangnya saraf dan indra (penglihatan, pendengaran, pengecapan). Apabila tidak berkembang dengan baik, pada masa tua akan terjadi masalah-masalah yang berhubungan dengan fungsi tersebut. Misalkan, kalau masalahnya pada saraf, maka saat tua akan mengalami demensia, Parkinson, dan sebagainya. Pada usia 0-7 tahun ini pula anak mesti belajar untuk mengikuti instruksi.

Adapun usia 7-14 tahun merupakan masa berkembangnya sistem pernapasan, peredaran darah, dan sebagainya, sehingga diperlukan banyak aktivitas luaruang. Pada masa ini anak harus dapat memilih, meskipun keputusannya ditentukan oleh orang tua.

Pada usia 14-21 tahun giliran tungkai (tangan, kaki), metabolisme, pencernaan, dan reproduksi (pubertas) yang berkembang. Pada masa ini, anak harus dapat membuat keputusan sendiri.

Apabila pada tahun-tahun perkembangan tersebut seseorang mendapatkan pendidikan yang baik, usia 22-40 tahun akan menjadi masa puncak baginya ketika matahari sedang terang-terangnya. Ia akan dapat menghadapi tantangan apa pun dan pantang menyerah. Pada masa ini pula ia telah dewasa dan bertanggung jawab. Memang tugas utama orang tua adalah melatih anak agar bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Anak mesti dibiarkan menjadi diri mereka sendiri.

Terus terang, bagian tentang kurva perkembangan ini cukup menohok, seperti mencetuskan agar merenungi proses perkembangan diri sendiri. Art therapy sepertinya solusi yang menarik untuk dipelajari dan dipraktikkan. Dalam foto-foto tentang Kolisko Conference yang telah diadakan di Malaysia ditunjukkan tentang cara ini, berupa praktik menggambar di tempat terbuka. Art therapy digunakan khususnya bagi pasien psikosomatik agar dapat mengenali dan menemukan dirinya yang sejati.

Ada beberapa pernyataan lain yang saya catat.
Kebebasan adalah tidak memiliki rasa takut, berani mencoba, tahu yang kita lakukan, dan dalam perjalanan itu, kita belajar untuk memerdekakan diri. 
Pendidikan mainstream membuat orang jadi spesialis.
Selebihnya, tidak banyak yang bisa saya catat. Bisa dibilang, sesi ini sekadar memberikan sugesti untuk menelusuri sendiri tentang antroposofi, Kolisko, dan seterusnya.

***

Demikianlah satu hari yang sangat membuka mata sekaligus cukup melelahkan, haha! Seperti biasanya, acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan. Bersama Dr. Joean dan Ibu Callie Tai, ada juga dua wanita lainnya yang telah berjuang bersama-sama mereka.

Kenang-kenangan untuk Dr. Joean (kiri) dan Ibu Callie Tai (kanan). 
Foto oleh @aktivasi_anis.

Selanjutnya ada acara bincang santai bersama para pembicara. Tapi saat itu sudah selewat magrib, sehingga tentu saja kami hendak langsung pulang, tidak mengikuti acara tersebut.

Suasana di sekitar lokasi sebelum pulang. 
Malam Minggu, banyak anak muda berkumpul.
Foto oleh @aktivasi_anis.

Seusai acara, atas permintaan para peserta, grup di WhatsApp tidak jadi dibubarkan. Grup ini lalu menjadi ajang berbagi soal teori dan praktik pembuatan eco enzyme. Malah, kadang-kadang pembicaraan melebar ke berbagai hal yang tapinya masih berhubungan dengan usaha menjaga bumi, misalnya saja cara membuat sabun sendiri.

Berikut beberapa pengetahuan tambahan yang saya dapatkan dari grup ini:


Di samping itu, semua anggota dijadikan admin supaya bisa mengundang siapa saja untuk bergabung dan menimba pengetahuan. Kalau begitu, bolehlah saya bagikan tautan untuk masuk ke grup kalau-kalau ada pembaca seri tulisan ini yang tertarik: https://chat.whatsapp.com/HTPTRPT4gjK315AzvxCghS. Hanya saja, sampai waktu saya menulis ini, grup ini masih sangat aktif. Jadi, siap-siap saja kebanjiran notifikasi dari grup ini yang bisa sampai ratusan pesan baru dalam sehari!

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain