Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Oktober 2023

Contoh The Gift Economy dalam Cerpen Anak

(Posting ini untuk penyimpanan sementara supaya mudah ditemukan, kapan-kapan mungkin dipindahkan ke blog lain.)


Tak Usah Kau Takut

Oleh Ny Widya Suwarna

Bobo No. 47/XXIX/02

 

Marta bergegas pulang ke rumahnya. Ia baru saja belajar bersama di rumah Sisi. “Apakah hari ini lemet buatan Mama laku terjual?” pikir Marta gelisah. Rumah Marta adalah sebuah penginapan kecil. Namun akhir-akhir ini jarang ada tamu menginap. Padahal penghasilan Mama berasal dari tamu-tamu itu. Ayah Marta sudah meninggal. Hari ini Mama baru akan mencoba menjual lemet atau ketimus. Makanan kecil ini terbuat dari singkong, diberi gula merah dan kelapa, dibungkus daun pisang dan kemudian dikukus.

Ketika Marta masuk ke rumah, tampak Mama dan Mbak Eni sedang duduk di kursi meja makan. Mama bertopang dagu, sementara Mbak Eni duduk membisu. Di atas nampan di meja masih ada tumpukan lemet.

“Halo, Ma, Marta sudah pulang. Lo, kok lemetnya masih banyak?” tanya Marta, lalu duduk di sisi Mama. Mbak Eni menghela napas.

“Tadi Mbak bawa 50 bungkus. Mbak sudah keliling kompleks, tapi hanya laku 25 buah. Masih ada 25 buah lagi. Banyak orang tak mampu beli kue. Mungkin mereka bikin sendiri!” kata Mbak Eni.

“Yaaa, baru jualan satu hari, kok hasilnya payah!” seru Marta kecewa.

Mama tersenyum dan berkata, “Sudah, tak usah kecewa. Kita mengucap syukur pada Tuhan karena sudah 25 buah lemet laku. Mbak Eni pergi ke warung saja dan beli beras 1 kg. Nanti kalau ada tukang sayur kita beli bayam dan jagung. Besok kita masak bubur!”

Kemudian Mama menyanyi pelan-pelan, “Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”

Marta ikut menyanyi. Ada perasaan hangat mengalir di hatinya. Tuhan selalu menolong kalau Marta, Mbak Eni, dan Mama menghadapi kesulitan.

Selesai menyanyi, Marta dan Mama saling berpandangan dan tersenyum. Mama bangkit dan mengambil lemet serta memisah-misahkannya di meja.

“Marta, tolong antarkan 5 buah pada Ibu Sakri. Dan 5 buah lagi untuk Tante Ina. Yang 5 buah terserah kamu mau berikan pada siapa. Yang 10 buah akan kita makan sendiri!” kata Mama. Marta pergi ke dapur, mengambil kantung-kantung plastik dan memasukkan lemet-lemet tadi.

Marta berjalan ke luar rumah sambil berpikir-pikir. Mula-mula lemet yang 5 buah akan diberikannya pada kawannya, Evi, yang tinggal di ujung jalan. Tapi, kemudian diurungkan niatnya. Belum tentu Evi suka singkong. Mungkin lebih baik ia berikan pada tukang-tukang ojek yang mangkal di ujung kompleks. Tapi ah, siapa tahu ada orang lain yang lebih cocok untuk menerima lemet itu.

Marta menyelesaikan tugasnya mengantar lemet pada Bu Sakri dan Tante Ina. Marta terharu ketika anak-anak Bu Sakri menyambutnya gembira. Mereka berseru, “Horeee, ada kueee!” lalu mereka segera memakan lemet bawaannya.

Tante Ina lain lagi. Ia berkata, “Wah, lagi krismon bagi-bagi kue! Ini bukan untuk dijual?”

“Maunya sih dijual, tapi cuma laku sebagian!” kata Marta. Kemudian Tante Ina memberikan 5 bungkus mi instant.

Ketika berjalan pulang Marta masih bingung. Lemet yang 5 buah itu mau diberikan pada siapa? Ah, akhirnya Marta ingat tukang tambal ban, Pak Amin. Ia pun belok ke kanan. Di bawah pohon besar di ujung jalan, di sanalah tempat Pak Amin mangkal.

“Hei, nona kecil, sini dulu!” tiba-tiba terdengar suara dari arah kanan. Oom Martin yang gemuk pendek melambai-lambaikan tangan. Marta masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk memberikan lemet itu pada Oom Martin.

“Ini untuk Oom!” katanya sambil memberikan bungkusan berisi lemet.

“Terima kasih, terima kasih. Kamu tahu saja Oom lagi lapar. Beta baru pulang memancing dan Tante belum pulang dari kantor!” kata Oom Martin.

“Duduklah dulu. Oom mau makan kue ini!” kata Oom Martin. Marta duduk di teras dan Oom Martin segera melahap lemetnya. Satu buah, dua buah, tiga buah … dan Marta berseru,

“Sisakan untuk Tante, Oom!”

Oom Martin tertawa terkekeh-kekeh. “Beta sedang lapar. Tuhan baik kirim nona kecil bawa lemet. Bilang sama mamamu, besok Oom pesan 20 lemet untuk Tante. He he he, biar dia tidak marah. Marta, tolong ambilkan Oom minum. Ambil sebotol air kulkas dan gelasnya!” kata Oom Martin dengan riang. Marta menurut. Dalam hati ia merasa geli. Oom Martin ini lucu.

Sesudah Oom Martin kenyang makan dan minum ia berkata, “Tadinya Oom panggil kamu mau suruh masak supermi. Tapi, sekarang Oom sudah kenyang. Terima kasih, ya. Tunggu sebentar, Oom mau ambil ikan untuk mamamu!”

Oom Martin masuk ke dalam. Kemudian ia keluar membawa seekor ikan tenggiri yang diikat dengan tali rafia.

“Terima kasih, Oom, Mama pasti senang!” kata Marta sambil menerima ikan itu. Marta lalu pamitan. Namun saat Marta berjalan keluar halaman. “Marta! Hei nona kecil … sini dulu!” panggil Oom Martin. Marta yang sudah di jalan kembali lagi. Ada apa, pikir Marta.

“Ini uang untuk bayar lemet 20 buah. Kirim besok siang, ya!” Oom Martin memberikan uang Rp 10.000.

“Kembalinya besok, ya Oom!” kata Marta.

“Ah, kembalinya untukmu sajalah. Oom tahu kamu anak Mama yang baik!” kata Oom Martin. Marta mengucapkan terima kasih.

Di jalan menuju rumah, tak putus-putus Marta bersyukur pada Tuhan. Siapa sangka ia bertemu Oom Martin yang baru pulang mancing ikan. Siapa sangka Oom Martin pesan lemet dan Tante Ina memberikan mi instant. Siapa sangka anak-anak Bu Sakri menyambut pemberian sederhana itu dengan riang. Sungguh Tuhan amat baik. Dalam hati Marta kembali menyanyi dengan riang,

“Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”




BONUS: BAHASA JAKSEL KID 2000-AN

(Dari majalah yang sama, sebelum sampai pada cerpen di atas, ada artikel menarik.)

Minggu, 18 Juni 2023

The Story of Jam

This story was written in collaboration with a Bottled friend, Sam Pham, 2020. This is published here as it is, as we abandoned this. No grammar editing etc. 

.

Dark clouds fill the sky. A group of people stand next to a coffin. Natalie cries as the coffin lowers into the hole. A group of people fill up the hole and cover the coffin with dirt. That day, Natalie's father was buried. 

Natalie spends the rest of that day sitting alone in her room. Later she begins to mutter to herself. Her mind is blank. Her little brother peeks into her room and gets scared. 

"Mother! Mother! Natalie is going crazy!" He searches after their mothers. But he finds nobody. Any other members of the house is nowhere to be found. Trembling, he goes back to peek into Natalie's room.

Natalie turns her head and stares at her brother. Her brother falls back and runs. 

Ten years pass by. Natalie's brother, Jam, summons a dog. The dog sniffs around. The dog barks. Jam does hand signs and captures the ghost. He traps it in a bottle. 

Then he draws the ghost in the bottle on a canvas with oil paints. He sells the painting to a local art gallery. That's how he makes a living. But it's not a stable job because he doesn't see ghosts frequently. So he needs to find another source of income. He prefers if it fits his ability in supernatural things.

As he walks around the art gallery, he notices someone admiring his painting. Jam walks up to the stranger. The stranger looks at Jam. The stranger says, "Believe it or not, but ghost exist. I wish I could contact the artist because he can apparently see ghosts as well."

Jam hesitated for a second. Jam replied, "Why would you want to contact him for?" 

The stranger says, "Because I would like to hire him to catch more ghosts for me."

Jam says, "I'm the artist, Jam." 

The stranger shakes Jam's hand and says, "I'm Sebastian, your new boss." 

Jam asks more questions. "What would you want to do with the ghosts after you catch them?"

Sebastian says thoughtfully, "My dream is to make a ghosts zoo but normal people can't see ghosts. So it's a useless dream."

"And then?" Jam feels impatient.

"But I don't give up. I have found a formula so normal people can see ghosts. They drink the potion, enter the zoo, and can see the ghost behind bars for about 1 hour. Actually, I have developed the idea so it might be a safari park, where we build a ghost world and the visitors go in by riding a van and they can feed the ghosts as well."

"Awesome …" Jam is speechless for a while. "Well, let's do it then! When are we going to start?"

"I like your enthusiasm, young man. But there's one problem."

"What is that?" Again, Jam feels impatient.

"The problem is that ghosts can possess people. Thus, people may not want to go to this safari park," said Sebastian. 

"How come I didn't get possessed then?" asked Jam. 

"Your soul is stronger than most people," explained Sebastian. "This is why you can see them. Those who need the potion have weaker souls. And if the ghost takes over the host, it will devour the person's soul and become more powerful." 

Jam takes a deep breath. 

"What will we do then?" asked Jam. 

"That's something we need to think about … along the way. For now, let's just catch the ghosts!"

.

Jam met up with Sebastian at a warehouse. 

"First, I need to teach you a few things." said Sebastian. "There are many kind of ghosts. And each one have levels of how strong they are." 

Sebastian pulled out a white board and wrote as he talked. 

"I'm sure you heard of ghost girls. They are usually the ones that pop up in elevators and in the middle of the night when you least expect it. Then there are ex ghosts. These are the annoying ones that hold a grudge on you just because you said Jill was hot. I can keep categorizing them, but there's no reason to. The point is to find out why they are still a ghost. Why won't they move on."

"I see. I never know that there is such categorization. When I see a ghost I just throw my bottle and gotta catch 'em all."

"Yes."

"And how can we find out why they are still a ghost?"

"That's something we need to think about … along the way."

"Okay."

"You have to get to know them. Talk to them. listen to their story and find out what is missing". 

"So I have to be friends with them?" 

"Kind of." 

"Of my gosh. What if someone can't see the ghost and sees me talking to myself?!" 

"Don't worry about that. Everyone talks to themselves." 

Jam hesitates but he doesn't say anything. He is impatient to start. But there seems to be a lot of other things that Sebastian needs to explain.

Jam worries he made the wrong choice of joining Sebastian. Was it too late for him to leave now? Jam decided to try to figure out the consequences by asking questions. Jam asked, "Has another else worked for you?" 

"No. That's why I hire you."

Now Jam really regrets his decision to join Sebastian. He thinks of ways to escape. But rather he pulls out a bottle from his bag, does hands signs, and, unexpectedly, Sebastian is sucked into the bottle.

"Whoa, it must be a very powerful ghost that I didn't know it in the first time."

"You'll regret it, Jam. You need me. There's a great evil coming." 

Jam regrets what he did. 

"What do you mean?" asked Jam. 

"There's something that's eating all the ghosts. That's why I wanted you to find out their problem and solve it so they can be free." 

"Can I believe you?" 

"Of course you can."

"No. I don't believe you."

Jam puts the bottle into his bag and goes home. At home, he paints the ghost--Sebastian--inside the bottle. He is unsure that this painting would be sold well. Sebastian is not an artistic kind of ghost. "Maybe I should just let him lead me to find the artistic kinds of ghosts then my paintings would be more artistic thus sold well and that means more money," thinks Jam.

"Hey, I will release you," says Jam to Sebastian, "in one condition."

"What condition is that?" 

"That you must show me where the ghosts hide." 

"So does that mean you'll work for me?" 

"No, you'll work for me." 

Sebastian stared at Jam. 

"Fine, it is a deal." 

.

Then they begin to hunt the ghosts. They start from a forest which Sebastian says is full of ghosts.

"Help me," cries a woman's voice. 

Jam looks around but cannot find the woman. 

"Help me," cries the woman again. 

"Where are you?" Jam asks. 

"Behind you!" yells the woman with a sinister voice. 

Jam screams hysterically but he stops as he recognizes the face. "Natalie?"

"GAAAHHH!!!" But Natalie doesn't seem to recognize him. Her face is rotten, full of maggots. 

Jam pulls out a bottle from his bag. The bottle sucks the Natalie's ghost. Afterwards, Jam looks into the bottle and he only sees a dark fog. "Enough for today," he thinks. He is curious whether the ghost inside the bottle has something to do about Natalie.

"Can't be Natalie… There's no way. She's not supposed to be here anymore."

Jam paces frantically around the room. 

"There's no way… Natalie is still alive. There's no way. She is too powerful to die." 

Jam observes the ghost in the bottle again. 

He sees Natalie's face and then it disappears. He thinks that he should ask Sebastian.

But he was hesitant because Sebastian may use it against him if he knew how his weakness. He realized he had to investigate secretly. 

He goes to his old house, to see Natalie.

.

Natalie has become a hermit since their father's death. She speaks to no one but herself, mumbling quietly.

Jam wonders why he saw a ghost that looks like Natalie when she was still alive. Jam taps Natalie and asks, "Are you okay? It's been awhile." Natalie turns and looks at Jam. Jam could feel strong, dark aura coming from her. 

"I saw a ghost resembling your face in a forest," says Jam. "Maybe you know something."

Natalie doesn't say anything. Jam waits.

"All right, then," Jam steps back and sits still in a chair, staring at Natalie. He plans to spend some time there, in case Natalie would speak.

The room fills with black, purple fog. Jam nervously looks around. Jam panics and wakes up in his bed. He pats the sides of his bed searching for where he is at. He sits up and looks around. He sweats and breathes heavily. He wonders if it was just a dream. 

He gets up and changes his clothes. He should go seeing Natalie, at any cost. He doesn't forget to bring a bottle with Sebastian inside. Maybe Natalie would react if she sees Sebastian. He runs to his old house.

He makes it to his old house, but the house is gone. All he sees is an empty field of grass. He looks around. He was certain this was the spot. However, he could not find the house. 

He keeps walking around until he stumbles and falls into a hole. It's very long and dark. He can't see anything while falling. Suddenly he pops out of the end of the hole to another similar field of grass and sees his house.

Did Natalie do this? Was she so powerful that she can create dimensions? Jam hated this. He didn't want to admit it, but he was afraid of his sister. 

But he must go to find clarity. He walks into the house and looks for Natalie.

Jam travels through flashbacks of memories. It was too much for his head. Jam cries, "Please stop, Natalie." 

It doesn't stop. Jam grasps his hairs and screams out loud. His knees fall onto the grass and he rolls over. He keeps rolling until he falls again into the hole where he came. Now it's all darkness.

He stops falling. He sees Natalie floating down. 

Natalie says to Jam, "When you're ready for everything to end, come back and kill me. Until then, become strong enough to rule the world." 

Jam wakes up again from his bed. He feels confused. What did Natalie mean? 

He gets out of his bed then reaches for the bottle with Sebastian inside. He unplugs the bottle and lets the ghost out. He means to ask him about Natalie. He hopes to find an answer from Sebastian.

Sebastian clears his throat and tells Jam, "I did not know she was your sister. A couple of years ago, everything was peaceful in the ghost realm. The human realm and the ghost realm used to be separate. But one day, a girl somehow crossed over to the ghost realm. She was scared and crying. We would see her regularly. And we even became friends with her. But then we noticed ghosts started to go missing. Everyone blamed Natalie. Since then, no one saw her. Up until now at least. And she seemed to grow a lot more powerful. This is why I need your help actually. I need you to gather more ghost before Natalie keeps consuming their power. So I ask one last time. Will you help me, Jam?"

Jam thinks for a while and nods. He decides to go back to the forests which Sebastian says is full of ghosts. He brings a lot of bottles with him and also camping gears. He determines that he won't go back home until he saves all the ghosts, temporarily. And then, Sebastian says, he must fight Natalie and kill her.

"No way I would kill my sister!' shouts Jam.

"There's no other way …."

"There must be another way!" Jam insists. "I can't believe you!"

"You must believe me!"

Jam grunts and thinks to himself, "I should look for second advise. But to whom?"

"There's no second advise. There's no one else to whom you could talk about this matter," Sebastian can read Jam's mind.

Jam gasps. "You're dangerous."

"I am not. I am trying to save you and all the innocent ghosts."

"I can't believe you!"

Sebastian sighs. "Then what are you going to do?"

"I'll find another way. Another way to save not just all the ghosts, but my sister too." 

"There's no other way. You have to believe me. I tried."

"What do you mean you've tried?" 

"Forget what I said. Let's just go separate ways." 

Sebastian floats away. Jam stares. 

.

Jam starts to catch as many ghosts as he can.

Even so, Jam does not know what to do with them. Should be try to talk to them and convince them to team up on Natalie? He felt he should not do that since they will try to kill her. He had to think of a solution for everyone. 

He thinks so hard that he feels like forgetting all this matter. He abandons the bottles filled with ghosts and sleeps as much as possible because he is so stressed. He needs an outlet to pour down his negative energy. Since nothing serious has happened, and Sebastian never disturbs him any more, he finds at ease to come back to his old hobby: painting ghosts in the bottles. One ghost after another, he produces artworks and becomes a prolific painter. Sometimes he takes a break, and brings his paintings to the art gallery and sells them. Some paintings sell pretty well that he begins to gain some fortune. He moves to a better apartment, gets a girlfriend, and further his study in Fine Art. He is doing very good. Both Natalie and Sebastian are forgotten. Once in a while, he still goes to the forest to catch ghosts when he needs to find inspiration (and also to pay bills), and he doesn't find any obstacle there.

But Jam suddenly realizes that he is getting stronger. He notices that he can go through walls and float. But how he asks himself. What gave him this power? And how should he use it? 

He becomes a Superman. He also can fly and bend any metal object. He is getting afraid of his own power. 

He started to fly around town when suddenly he started to decline slowly. His flying powers fade. Does this mean his powers are not permanent? If so, how did he even obtain them?

He is so confused.

He decides to draw since drawing helps him think. He reaches for a bottle of ghost he captured earlier. He draws the ghost. He finishes painting the ghost. His body begins to levitate. 

....

Jumat, 10 Juli 2020

Risky dan Gambar Wanita tanpa Baju

Dari belakang, Risky terlihat sibuk: lengannya bergerak-gerak, seperti yang sedang mengotret soal. Kalau ditelongok, rupanya memang dia sedang menggambar bangun-bangun geometri.  Tapi, ia bukannya sedang berkutat dengan matematika, alih-alih ia mencoba membuat sketsa secara proporsional. Berhati-hati sekali ia menarik garis-garis sehingga membentuk lekukan-lekukan tegas tapi halus. Bersyukur tangannya masih tahu caranya sejak terakhir kali menggambar beginian sewaktu SMA. Belakangan paling-paling yang ia buat hanya robot, kesatria baja hitam, atau Power Ranger untuk menyenangkan adiknya.

Set-set-set—uwah! Risky mematut-matut hasil karyanya, mengerutkan kening dan mencibir. Memang ia tidak pernah hendak mengklaim diri sebagai seniman. Yang penting … cukuplah!

Ia memisahkan lembar A3 itu dari buku gambar secara berhati-hati, lalu menempelkannya di atas kepala tempat tidur. Dengan begini, begitu Mama membuka pintu kamarnya nanti pagi—tinggal beberapa jam lagi—akan langsung terpampang gambar itu. Risky menyeringai.

.

Hobinya bermula di SMA. Dilanda bosan sementara guru berceloteh di depan kelas, Risky mencoret-coret bagian belakang buku tulis. Awalnya tidak ada bayangan, tapi lamat-lamat ia tahu yang dapat membangkitkan gairahnya. Berkelebat cuplikan-cuplikan gambar dari majalah kepunyaan Shigeo. Orang itu kawannya semasa tinggal di Jepang. Usianya sekitar 3,5 lebih tua daripada Risky, dan kerap mengajak dia bermain ke rumah. Waktu itu Risky masih siswa SMP, sedangkan Shigeo sudah SMA. Masih segar di ingatan Risky kala Shigeo mengangkat kasurnya lantas tampaklah majalah berserakan. Risky mengambil asal saja, melongo hanya dengan melihat kovernya—apalagi dalamnya. Dari membaca cerita-cerita pendek di koleksi itulah, penguasaan bahasa Jepang Risky tambah lumayan. Sejak itu, dunianya tidak pernah sama lagi.

Risky ingin beli sendiri yang begituan di toko dekat rumah, tapi takut ketahuan orang tua. Sepulangnya ke Indonesia seusai tugas belajar Papa di Jepang, mendapatkan yang begituan tambah susah. Kalaupun ada, modelnya masih pada berpenutup barang sehelai-dua helai—dan tetap Risky merasa riskan membawanya pulang. Padahal, Risky baru saja menemukan potensinya, hendak mengeksplorasi sensitivitas artistiknya. Karena itu, ia membutuhkan berbagai contoh gambar untuk bahan belajar. Jadilah, Risky mengandalkan ingatannya saja.

Gambarnya jadi, disusul gambar yang lain. Inginnya sih setiap pose yang masih melekat jelas di ingatannya itu—yang kadang malah sampai bergerak-gerak—bisa ia pindahkan ke kertas. Susah memang, apalagi tanpa menguasai dasar-dasar anatomi. Satu gambar saja membuat meja penuh kotoran penghapus. Garis-garisnya pun tampak kaku sebab ia lebih sering bikin robot. Tapi, Risky tak memusingkan aneka hambatannya itu. Sembari berusaha menghidupkannya di kertas, sekalian menghidupkan gambar itu di dalam kepalanya.

Anak-anak yang duduk di sekitarnya mulai melirik.

“Bisaan gambarnya,” puji mereka.

“Bikinin dong,” ada yang meminta.

Risky menyerahkan gambarnya yang sudah jadi, tanpa keberatan untuk mengulang kesusahan dan kepayahan membikin yang baru, membeli penghapus baru.

Hari-hari di SMA pun menjadi tertahankan, sementara harem meramaikan buku tulisnya.

“Bikinin yang wajahnya mirip si ini dong,” pinta temannya.

Risky pun tersadarkan bahwa semua wanita di haremnya berwajah serupa. Berlatih anatomi itu satu soal, dan mengarang wajah itu soal lain.

Omong-omong soal wajah cewek, sesungguhnya ada satu yang seketika terbayang di benak Risky. Bukan “si ini” yang disebutkan temannya itu, melainkan sebut saja sebagai “si anu”. Memang ide bagus memasangkan wajah si anu dengan salah satu pose favoritnya.

Baru saja Risky bereksperimen dengan wajah si anu, terjadi kehebohan di sekolah. Anak-anak mengerubungi mading. Sebelum datang guru mengamankan barang bukti penyebab keriuhan, masih sempat Risky melihatnya: gambar buatannya.

Anak-anak bubar dan begitu bersitatap dengan dia: cewek-cewek berpaling jijik, cowok-cowok menyengir geli. Setiap cewek yang melewati dia menjaga jarak seraya menyelamatkan muka, seakan-akan kalau berdekatan sedikit saja mereka akan dijadikan objek berikutnya.

Di antara cewek-cewek itu ialah si anu. Sebenarnya, cuma si anu yang Risky lihat, yang seolah-olah mewakili semua cewek yang ada di dunia.

Tidak mengherankan bila kemudian Risky dipanggil ke ruang guru. Pertama, karena gambar yang telah diperlengkapi dengan nama dan kelasnya—yang mestilah diperbuat oleh salah satu anak yang duduk di sekitar bangkunya. Kedua, karena menonjoki anak-anak yang duduk di sekitar bangkunya.

Guru yang menangani dia ada dua orang. Guru yang wanita bersikap keras sekali. Setelah merasa cukup memberikan peringatan, ditinggalkannya Risky bersama guru yang pria.

Beberapa saat lalu, seakan-akan menunggu keadaan lebih kondusif. Guru yang pria bersikap pengertian. “Kalau suka gambar cewek, setidaknya pakaikan baju.”

Risky yang selama itu diam saja perlahan-lahan menatap pak guru; padangannya takjub seakan-akan itu gagasan yang tidak pernah terpikirkan oleh dia.

“Enggak bisa gambar baju, Pak,” sahut Risky pelan.

“Ya, belajar.”

Risky menunduk dan membisu, lalu, “Tapi,” diam lagi.

“Tapi?” dorong pak guru, yang berangsur-angsur jadi desak.

“Tapi,” Risky ragu, “saya enggak cita-cita jadi modiste, Pak.”

“Memangnya cita-cita kamu apa?”

Cita-citaku … apa …?

.

Sejak itu, Risky tidak hendak kembali ke sekolah. Pergi dari rumah saat pagi, ia pakai baju seragam sekolah menuju tempat umum yang ada kamar kecilnya. Di situ ia berganti pakaian bebas, lalu keluyuran ke toko buku, toko mainan, menonton bioskop, bermain dingdong, ke mana saja sampai uangnya bersisa sedikit atau habis sama sekali. Kalau masih belum waktunya pulang sekolah, ia mencari tempat yang nyaman seperti masjid, perpustakaan, atau restoran untuk duduk membaca atau menggambar.

Begitu terus sampai akibat yang tidak terelakkan: ganti orang tuanya dipanggil guru.

Dimarahi saja tidak mengubah sikap Risky. Terpaksa orang tuanya memindahkan dia ke SMA lain, yang mau tidak mau reputasinya kurang. Paling tidak, Risky mau kembali bersekolah.

Tapi, tidak banyak murid sekolah itu yang hendak (atau lebih tepatnya: mampu dalam berbagai hal) melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, sedangkan orang tua Risky berharap si anak dapat menuruti jejak mereka.

Sayang, Risky baru insaf setelah menggagalkan UMPTN.

Untung UMPTN bisa diulang. Risky tidak hendak menyia-nyiakannya lagi. Karena itu, ia mesti menebus waktu belajar yang dulu malah dipakainya untuk “proyek seni” dan membolos. Ia memutuskan untuk belajar sepenuh waktu demi menembus UMPTN selanjutnya.

Semestinya orang tuanya mendukung dia. Tapi, sedikit-sedikit,

“IKIII …!”

Mama membuka pintu kamarnya.

Dan, tanpa tahu bahwa Risky baru saja hendak beristirahat setelah semalaman mempertanyakan apa itu “gradien”, apa itu “absis”, apa maksudnya “gradien garis singgung grafik fungsi y = f(x) adalah y’ = f’ (x) sama dengan dua kali absis P (x, y)”—yang tidak kunjung berujung pemahaman … “Tidur melulu! Katanya mau belajar?!” atau,

“Belajar terus, apa enggak jenuh? Main dulu sana sama Adek,” yang maksudnya adalah menyuapi makan bocah itu, atau,

“Cuci piring dulu gih, biar seger,” atau,

“Mau jajan enggak? Mama sekalian titip bawang merah, bawang putih, tempe, tahu, bayam, garam, cabe ….”

Risky menghitung-hitung: dalam sehari lebih banyak kekerapan Mama masuk ke kamarnya ketimbang jumlah soal yang berhasil dia pecahkan tanpa mengintip pembahasan sama sekali.

Pengalaman telah mengajarkan Risky cara menjauhkan diri dari wanita. Ini saatnya Risky kembali mengasah sensitivitas artistiknya.

“RISKY! APA-APAAN SIH KAMU?!”

Kepala Risky berputar malas, ke arah Mama yang menunjuk-nunjuk gambar di atas kepala tempat tidur. Ia sendiri sedang duduk di meja belajar, berlagak mengerjakan soal padahal sedang merenungkan suramnya nasib. Kepalanya berputar lagi ke depan. Pendengarannya menangkap langkah-langkah Mama; kertas yang direnggut, digumalkan, dan entah.

.

Selagi menggambar yang baru, Risky berpikir-pikir apakah sebaiknya ia memilih jurusan seni  ketimbang teknik. Tapi ia tidak merasa begitu nyeniman. Ia hanya suka mencoba-coba menyatakan yang ada di benaknya dengan cara yang ia bisa—yang menurutnya tak cukup memadai untuk dianggap sebagai bakat—sembari mengkhayalkan kehangatan meruap dari permukaan kertas yang pura-puranya kulit tak berlapis barang sehelai benang pun itu.

Setelah jadi, gambar itu dipasangnya di tempat yang sama. Gambar yang sebelumnya itu hanya pemanasan, masih malu-malu. Gambar yang kali ini tentu saja mulai menantang, sudah menampakkan sedikit bulu.

Cabut saja terus gambarnya, hahaha, dan semakin besar pertimbangan Risky untuk melayap ke jurusan seni sebab teknik sepertinya tak akan tergapai.

Memang Mama tambah panas. Setelah beberapa gambar yang semakin berasap saja, yang cuma ditanggapi Risky dengan mengedikkan bahu seraya mengguratkan angka-angka acak di kertas biar terlihat seperti yang sedang mengerjakan soal, ganti Papa yang masuk ke kamar.

Papa diam saja memandangi sosok dalam gambar itu, yang kini sudah mengangkang selebar-lebarnya. Sisi baiknya, untuk menggambar bagian itu secara mendetail, Risky mau tak mau sekalian membuka buku pelajaran Biologi bab reproduksi. Sisi buruknya, Risky rikuh sendiri karena lamanya Papa mematung dengan mata terpancang pada gambar itu, selayaknya guru Biologi yang sedang mengoreksi kertas jawaban ulangan.

Lalu, kata Papa, “Si Adek suka masuk kamar.”

Memang betul kata Papa. Sekarang pun si Adek, yang tadinya lagi berguling-guling di karpet kamar Risky sembari memainkan robot, ikut-ikutan tegak di samping Papa dengan raut bertanya-tanya.

Cuma itu yang Papa katakan. Tinggal Adek yang memandangi gambar itu, seakan-akan tidak sadar bahwa Papa telah keluar dari kamar.

“Kakak, kenapa itu enggak pake baju?” kata adiknya.

“Biarin,” sahut Risky yang sudah kembali menghadap meja belajar, kali ini telah menemukan soal yang sepertinya cukup mudah.

“Enggak dingin?”

“Enggak.”

“Nanti masuk angin?”

Enggak,” tukas Risky agak menggeram.

Lalu diabaikannya si Adek. Sebab, soal-soal berikutnya lumayan juga. Kalau sudah larut begitu, soal-soal sulit yang biasanya jadi penghambat pun ia loncat saja sampai menemukan soal mudah berikutnya. Sampai-sampai tidak terdengar suara-suara di belakangnya: si Adek disuruh sikat gigi, tidur ….

Konsentrasi Risky baru terpecah oleh aroma hangat yang dia akrabi, yang biasa terhirup olehnya pada waktu-waktu si Adek selesai mandi. Risky menoleh, dan mendapati adiknya menurunkan kaki dari tumpukan bantal di kepala tempat tidur. Botol minyak telon di tangan.

Serta-merta mata Risky berlari pada gambar di atasnya.

BUSET.

Gambar yang sudah menghabiskan setengah penghapus baru yang dia garap demi menjengkelkan Mama itu … kini ….

Risky mencabut gambar itu dari dinding, merenyukkannya sampai jadi bola, lalu menimpukkannya ke kepala si Adek.

Sabtu, 28 Maret 2020

Si Adek Takut Bobok Sendiri

Rumah sudah selesai direnovasi. Sekarang Risky punya kamar yang lebih luas di lantai dua. Kamar Risky yang sebelumnya di lantai bawah pun dijadikan kamar Adek.

Risky masih senang dengan perabotannya yang lama, sehingga pada dipindahkan ke kamar atas. Adek pun dibelikan perabotan baru. Ada meja belajar yang satu set dengan rak-rak dan laci-laci, tempat ditaruhnya koleksi Adek yang belum seberapa: buku-buku aktivitas, mainan-mainan hadiah dari restoran fast food atau produk tertentu, kaset-kaset drama seri TV, dan sebagainya. Ada ranjang spring bed tempat Adek kerap berjempalitan dan melonjak-lonjak sesukanya biarpun sudah diperingati kasurnya bakal jebol. Ada lemari yang sebagiannya malah diisi oleh baju-baju Mama karena pakaian Adek tidak sampai memenuhinya.

Sesenang-senangnya Adek punya kamar sendiri, masih lebih senang ia pada kamar Risky yang baru. Soalnya, segala yang “seru” adanya di kamar si kakak: Nintendo, Sega, tape, komik-komik baru, kaset-kaset yang musiknya asyik …. Jadilah sering-sering Adek naik ke kamar Risky.

Risky memang sudah diberi pesan oleh orang tuanya. Mereka tidak akan membelikan perangkat yang mahal-mahal lagi, khusus untuk Adek. Risky lah yang mesti berbagi miliknya.

Risky terima adiknya boleh ikut menikmati barang-barang miliknya, asalkan tidak dibawa keluar dari kamarnya.

Mama mendukung, walaupun Risky merasa dimanfaatkan. “Semuanya taruh di kamar Kakak, ya. Sambil awasin si Adek. Mainnya jangan kelamaan. Bantuin si Adek belajar.”

Bla bla bla.

Lagi pula, percuma saja Risky mengunci pintu kamarnya. Sebab, si Adek bakal menggedornya atau menendanginya sekuat tenaga, sampai berguling-guling di lantai di depannya sambil berteriak-teriak, sehingga tidak mungkin Risky bisa berkonsentrasi. Adakalanya Mama sampai terpanggil untuk turun tangan. Kadang Mama membela Adek habis-habisan, dengan secara tidak langsung melarang Risky mengunci pintu kamarnya. Kadang juga Mama bisa mengerti kebutuhan Risky, dan membujuk Adek agar bermain di tempat lain. Adek lah yang tidak mau mengerti. Sejak kecil, anak itu sudah menunjukkan pribadinya yang gigih dan berkemauan kuat.

Seringnya, Risky rela saja Adek berada di kamarnya, dan melakukan hal-hal yang sewajarnya sebagai seorang kakak yang jauh lebih besar: bermain bareng, membantu belajar. Kadang-kadang kehadiran si Adek justru menghibur Risky saat suntuk belajar. Ketika Risky menyetel musik tertentu keras-keras, adiknya bakal membuat gerakan-gerakan lucu ditingkahi suara-suara konyol. Risky pun terpingkal-pingkal, malah mengambil handycam untuk merekamnya.

Kadang-kadang Adek ketiduran di kamar Risky. Sewaktu Adek lebih kecil, Risky mau-mau saja tidur sekasur dengan adiknya meski pasti marah-marah bila diompoli. Tapi Adek bertambah besar, dan Risky mulai risi. Ketika Risky mau tidur di ranjangnya, dan sudah keduluan oleh si Adek, ia bakal membangunkan anak itu dan menyuruhnya pindah. Biasanya Adek menurut lalu turun, entahkah ke lantai bawah—kamar orang tua mereka—atau sekadar ke karpet kamar Risky. Mendapati Adek suka tidur di karpet kamar Risky, Mama membelikan kasur gulung serta menambahkan selimut dan bantal untuk ditaruh di situ.

Kemudian, mulailah Adek bersekolah di SD. Mama memberikan pengertian, “Adek kan udah masuk SD, udah punya kamar sendiri. Sekarang Adek belajar tidur sendiri, ya.”

Pada awalnya seperti yang mudah. Adek menyanggupi dengan berani. Mama pun menyiapkan si Adek di tempat tidurnya, lalu mematikan lampu dan menutup pintu kamar. Tidak berapa lama kemudian, Adek menyusul Mama dan Papa yang masih menonton TV di ruang tengah. Adek bilang belum mengantuk, meski beberapa saat kemudian ketiduran. Ketika Mama dan Papa beranjak ke kamar tidur, Adek menyusul. Malam itu Adek kembali tidur di kamar mereka.

Besok-besoknya, Mama terus memberikan pengertian. Adek pun paham bahwa ia sudah tidak diinginkan di kamar orang tuanya.

Maka, setelah minum susu dan gosok gigi malam-malam, Adek pun naik ke kamar Risky.

Sebelumnya, Risky terima saja Adek tidur di kamarnya. Toh Adek masih lebih sering tidur di kamar orang tua mereka. Tapi kini, dengan kebijakan yang baru dari orang tua mereka, benar-benar setiap malam si Adek tidur di kamar Risky. Padahal, adakalanya, pada malam-malam yang hening, Risky hanya ingin sendirian; sebagai seorang lelaki dewasa melakukan hal-hal yang pribadi. Biarpun mata adiknya terpejam rapat, tanpa suara dan gerakan sedikit pun, tetap saja Risky merasa diawasi.

Risky menjadi gelisah; keresahannya tak tersalurkan. Padahal, tujuan dibangunnya kamar di lantai dua ini justru supaya ia punya privasi, mengurangi gangguan dari Mama dan Adek. Mama memang sudah tidak begitu sering menyambangi kamarnya, karena faktor usia membuatnya capek bila mesti naik-turun tangga. Sedangkan si Adek meloncati anak tangga bagaikan terbang saja.

Di puncak frustrasi, Risky memberi tahu adiknya supaya tidur di kamarnya sendiri.

“Enggak mau!”

Adiknya lekas-lekas membungkus diri dengan selimut dan bergeming, seolah-olah langsung tertidur seketika itu juga.

Risky tak berbelas kasih. Sudah cukup lama ia menahan-nahan; malam ini ia harus mendapatkan privasinya kembali. Tanpa sabar, didorong-dorongnya dan digoyang-goyangkannya si Adek. “Turun, heh! Turun!”

Namun si Adek sepertinya telah memilih untuk melawan Risky, daripada orang tua mereka, ataupun “bayangan-bayangan seram” di kamarnya sendiri.

“TURUN!”

“ENGGAK MAU!”

Mereka pun bergelut. Sudah bisa dipastikan siapa yang menang. Tanpa mesti mengerahkan segenap tenaganya, dengan sekali gampar saja Risky dapat menaklukkan adiknya. Kepala anak itu menghantam ujung tempat tidur dari kayu. Meledak tangisnya.

“Kakaaak …! Adeknya diapain sih?” meski teredam, pasti itulah yang diteriakkan Mama dari lantai bawah. Rupanya Mama belum tidur.

Sedang Risky serta-merta terkesiap dan menarik tangan. Suara benturan tadi keras sekali. Masih untung Adek cuma menangis. Bisa saja yang terjadi lebih gawat daripada itu: bocor kepala, gegar otak, Adek tak sadarkan diri lagi …. Buyar segala hasrat Risky yang tadi begitu kuatnya ingin menyepak keluar si Adek.

“Sssh, sssh ….” Risky mengusap-usap kepala si Adek, bagian yang dikiranya terkena tadi. Tapi si Adek menghalaunya, lalu lanjut meraung-raung. Caranya itu seperti yang tengah menyesali keberadaannya di dunia, terlahir sebagai adik seorang Risky yang bila menggampar tak kira-kira.

Tapi, Adek sendiri bila menangis tak kira-kira. Tetangga di ujung jalan pasti dengar, padahal rumah mereka ada di tengah-tengah deretan.

“Dek, Adek, berhenti, ya, nangisnya …. Nanti boleh tidur di atas.”

Tangis adiknya berangsur-angsur mereda. Diiringi sengguk, anak itu memanjat tempat tidur Risky, merangkak ke tengah-tengah, lalu meringkuk di balik guling. Matanya langsung dipejamkan, seperti yang seketika itu juga terlelap, walau sesekali sisa isaknya masih keluar.

Risky memandangi si Adek—bulu matanya yang dilekati air mata, pipi tembamnya yang basah—antara lucu dan kasihan. Terkenang oleh dia momen-momen sebelumnya ketika adiknya menangis sekeras itu, malah lebih keras lagi, setelah ia banting, lempar ke dinding, atau sesuatunya. Kadang Risky memendam tanya yang takjub: apakah tulang adiknya terbuat dari rangka beton?

Risky menyelimuti si Adek dan memutuskan untuk ikut tidur saja. Ia mematikan lampu, lalu membaringkan diri pada kasur yang sudah tergelar di karpet.

Matanya mendapati langit-langit betapa jauhnya. Seketika itu juga, punggungnya merasakan betapa rindunya pada kasur yang sedang direbahi adiknya. Lalu ia bergulir ke kanan, dan betapa dekatnya ia dengan kemasan plastik, renyukan kertas, gumpalan tisu, gelas-gelas berisikan ampas kopi, sampai kulit pisang di bawah mejanya. Ia beralih ke kiri, dan betapa gatal hidungnya yang sepertinya menghirup debu yang bergulung-gulung di kolong tempat tidur. Ia balik menatap langit-langit.

Ia penasaran pada kamarnya yang dulu, yang sudah beberapa lama ini hampir-hampir tidak pernah dimasukinya lagi. Seperti apa rasanya tidur di sana, di kasur baru yang semestinya sedang direbahi adiknya?

Sembari mengawasi adiknya supaya tak terbangun, pelan-pelan Risky menutup pintu kamarnya. Lalu ia menuruni tangga.

“KAKAAAK! KAKAAAAK!” adiknya menjerit panik.

“Hadeh ….”

Kamis, 13 Februari 2020

Awal bertemu Risky

“Kenalan dong.”

Tiba-tiba saja ada yang menjejeri langkahnya. Rosa menyingkap rambut yang melekati sebagian wajah. Barusan ia meninggalkan keran dari mencuci muka.

Tampak seorang cowok berbadan gempal, sedikit lebih tinggi daripada dia; helai-helai acak di antara hidung dan ujung-ujung bibirnya yang berkedut.

Rosa mengembalikan pandang pada aspal yang melandai. Ia mempercepat langkah, namun sepasang kaki di sebelahnya itu menyesuaikan. Kepalanya yang semula sejuk oleh air, kini bertambah dingin merayapi badan.

Cowok itu berdeham. “Namaku Risky. Kamu?”

Dada Rosa menggemuruh. Lari! Lari! Lari!, tapi kakinya berbuat sebaliknya. Apa daya, tertahan oleh selembar kartu yang mencantumkan nama panjang berikut cap gajah duduk.

“R—R—R—Raisa …” cetus Rosa.

“Raisa? Hm …. Boleh aku panggil … Ica?”

“Heh?” Rosa menahan kerling.

Icantiiik …!” Cowok itu tergelak-gelak, Rosa membeku.

“Kamu mahasiswa sini, kan? Jurusan kamu apa?” tanya cowok itu lagi.

“Mmm … Bahasa … Je—Je—Je—Jerman ….” Rosa menggeser kakinya perlahan-lahan, melepaskan diri dari jangkauan cowok itu yang ia tahu percuma saja. Mata cowok itu runcing memakunya.

“Cocok dong kita. Aku Teknik Mesin.” Cowok itu terseret oleh gerakannya.

“Oh.”

Cowok itu terdiam, seperti yang mencari hendak mengatakan apa lagi. Berdeham, lalu, “Minta nomornya dong.”

Seperti yang ditodong pisau, Rosa membuka tas, mencari kertas, lalu menuliskan nomor telepon rumah indekos yang ditempatinya. Dua angka terakhir ia tukar posisinya.

“Makasih, Raisa.” Dua jari tangan cowok itu mengapit kertas yang diberikan Rosa. “Ica.”

Rosa terus memerhatikan cowok itu berjalan mundur beberapa langkah. Setelah berbalik pun, cowok itu tetap menoleh kepada Rosa sembari tersenyum. Rosa kembali menatap aspal di hadapan kakinya. Sekuat tenaga ia menahan gelenyar, kalau-kalau cowok itu masih memandanginya.

.

Cowok itu terlihat lagi di kampus Rosa. Mereka bersitatap. Tapi, alih-alih menghampiri Rosa, cowok itu bergeming. Duduknya di sisi segerombol cowok yang sedang mengobrol. Ada satu orang dalam kawanan itu yang dikenal Rosa karena gedung fakultas mereka berdekatan, sedang yang lainnya tidak.

Cuma tatapan cowok itu saja yang mengikuti Rosa. Begitu lekat dan intens, sampai-sampai seolah-olah menarik sudut-sudut bibirnya hingga menggerenyot. Rosa lekas membalikkan badan. Langkahnya dipercepat, bahkan setelah keluar dari jangkauan pandang cowok itu.

.

Telepon di rumah indekos tidak pernah berdering untuk Rosa, dan ia suka itu. Tiap kali telepon berdering, ia tahu pasti itu bukan untuknya. Ia anteng saja di kamarnya, berlatih menulis huruf-huruf kanji. Saking menghayati tarikan garis demi garis, dering telepon benar-benar tak terdengar lagi. Gedoran di pintu baru menyadarkan setelah diiringi teriakan, “Rosa! Ada telepon!”

“Halo?”

Sambungan diputus. Rosa tidak heran lama-lama. Sekembalinya di kamar, ia larut lagi menatahkan garis-garis pada kertas. Sampai gedoran kembali mengentak.

“Telepon!” nada yang lebih kesal daripada sebelumnya, dari penghuni yang pintu kamarnya tepat di samping telepon.

“Halo?”

“Tut tut tut ….”

Setelah tiga kali lagi dalam satu jam, beberapa orang yang kamarnya di sekitar telepon berkerumun. Lampu ruang depan dinyalakan. Rupanya sudah tengah malam, Rosa juga baru tersadar. Wajah-wajah suntuk merubunginya.

“Siapa sih?”

Rosa menggeleng.

Telepon berdering. Rosa sigap mengangkat.

“Halo?”

“Ada Rosa?” suara lelaki.

“Saya—“

“Tut tut tut ….”

Rosa ditinggalkan bersama gerutuan. Kembali ia ke kamar. Tak lama, dering dan keluhan bersambung hardikan kepada si penelepon.

Satu kali lagi dering itu memecah malam. Tapi semua telah masa bodoh dan menganggapnya sebagai ninabobo. Rosa bergeming mendengarkan dering yang gigih itu, memencarkan garis-garis yang hendak disusunnya di kertas. Suara lelaki itu dipanggilnya ke ingatan, diulang-ulangnya. Pernahnya ia mendengar suara itu sebelumnya?

.

Teror itu berlangsung berkali-kali dalam sehari; berhari-hari lagi. Warga indekos tidak bisa tidak mengacuhkannya karena sebagian ada yang memang menanti telepon. Tapi, begitu ternyata Rosa yang dicari oleh suara lelaki yang itu lagi, makian terlontar.

Mereka menyebut si penelepon gelap sebagai “penggemar” Rosa. Ketika berpapasan dengan Rosa di luar kamar, para penghuni lain nyinyir melapor, “Penggemarmu tadi nelepon tuh!” Mereka juga menganjurkan supaya Rosa pindah ke ruang depan, menjadi resepsionis.

“Dari tiga belas telepon yang masuk hari ini, sebelasnya dari penggemar kamu!” sembur si penghuni yang pintu kamarnya tepat di samping telepon. Pelototannya seperti yang hendak mencelat, membentuk tangan mencekik Rosa. Memang hari-hari itu ia berdiam saja di kamar, menyelesaikan skripsi. Betapapun kerasnya ia mengentak tuts-tuts mesin tik, dering telepon tetap tak terkalahkan.

“Kamu tahu kan orangnya?” tanya penghuni lain yang pintu kamarnya tepat di seberang telepon.

Rosa menggumam tidak yakin.

Tidak bisa membedakan malam dengan siang, si penelepon gelap sungguh biadab. Jangan-jangan ia tidak bisa melihat telepon tanpa memencet nomor rumah indekos ini.

Timbul wacana untuk melapor kepada pemilik rumah supaya menghubungi Telkom dan meminta agar si penelepon gelap diblokir. Tapi, seolah-olah mengetahuinya, si penelepon gelap menghentikan aksinya sampai warga indekos melupakan rencana itu, barulah ia memulai lagi dengan lebih gencar.

Timbul wacana itu lagi, dan si penelepon gelap berhenti lagi lebih lama sampai warga indekos berpikir ia sudah insaf, sebelum kembali membombardir tanpa ampun.

Warga indekos mulai tahu polanya. Ini suatu permainan psikologis yang bikin mereka ragu melangkahkan kaki ke Telkom. Alih-alih, ketika datang lagi musimnya si penelepon gelap, bila telepon berdering, para penghuni lain yang rata-rata lebih senior daripada Rosa meneriakkan namanya agar cepat-cepat mengangkat.

Secara tidak langsung, Rosa terusir dari oasenya. Selama ini, usai kuliah, ia ingin cepat-cepat pulang ke kamarnya untuk belajar menorehkan huruf-huruf kanji sampai lupa waktu. Sekarang, ia memelas agar boleh “lari” sejenak ke rumah temannya. Tapi, tentu tidak nyaman berlama-lama di rumah teman.

Tiba giliran si teman mampir ke rumah indekos Rosa. Telepon berdering, dan penghuni lain berlomba-lomba meneriakkan nama Rosa.

Hanya untuk mendapatkan teror yang itu lagi.

“Kenapa sih?” Temannya membaca ada yang tidak beres, sekembali Rosa ke kamar.

Rosa bercerita. Temannya tertegun.

“Jangan-jangan orang itu lagi?”

“Siapa?”

“Temannya si Ken,” yang adalah teman si teman saat SMA. Belakangan ini, entah kenapa Ken suka menongkrong di kampus mereka, padahal kampusnya sendiri agak jauh di kawasan yang agak bawah. Ken biasa membawa serta temannya,” yang kayak beruang kutub itu.”

Si teman lupa-lupa ingat namanya, yang jelas itu nama pasaran. “Waktu itu, dia lihat aku lagi jalan sama kamu.” Rosa ingat. Saat itu di kejauhan ia melihat cowok itu bersama kawanannya. Rosa ingin cepat pergi, namun temannya malah dipanggil oleh salah seorang dari kawanan itu. Mereka pun berpisah, dan Rosa tidak menengok ke belakang sama sekali. “Dia ngebet banget pengin tahu nama sama nomor telepon kamu. Ken ikut maksa, lagi. Maaf, ya, Cha. Aku enggak nyangka ternyata dia psikopat.”

Rosa diam. Tapi, semakin dipikirkan, ia lebih marah kepada cowok itu ketimbang temannya. Ia tidak bisa kehilangan temannya, sedangkan cowok itu ….

.

Telepon berdering.

“Ada Rosa?” suara itu.

“Hei!” Rosa sudah menanti-nantinya.

Sambungan diputus. Dari seberang sana, Rosa bisa mendengar cekikikan yang berangsur-angsur menjadi kekehan, dan cowok itu pun akhirnya terpingkal-pingkal: puas telah menyalurkan dendamnya.

.

“Itu dia!” Temannya menunjuk kepada cowok-cowok yang duduk di bawah pohon randu kapuk. Baru saja Rosa dan temannya itu keluar dari gedung fakultas mereka. “Biar aku kasih tahu—“

Namun, Rosa menahan temannya. Dengan muka tertekuk dan langkah menggebu, ia menghampiri si cowok dan tawa riang kawanan itu pun seketika surut. Ia serahkan secarik lipatan kertas yang sudah lecek—saking lamanya menunggu kesempatan ini—kepada cowok itu. Tidak segera disambut, ia melemparkannya begitu saja ke pangkuan si cowok. Lantas ia berbalik dan mengajak temannya pergi.

.

“Lu lagi!” Seorang warga indekos membentak kepada gagang telepon. “Dasar maniak!” Dibantingnya gagang telepon.

Dering lagi.

“ROSA!”

Rosa tergopoh-gopoh ke luar kamar.

“Halo?”

“Hai, Rosa.”

Rosa tak menyahut, waspada akan mendengar sambungan diputus seperti biasanya.

“Ketemuan yuk.”

Rosa tercekat.

“Gue tunggu Minggu besok jam delapan di patung badak. Datang, ya. Kalau enggak …” cowok itu sepertinya sengaja menggantung kalimatnya, “gue tahu kosan lu,” dengan nada mengancam yang disusul tawa tertahan.

“Patung badak?” gumam Rosa.

“Yang deket BIP.”

“BIP?”

“BIP!”

“Hah?”

“Enggak tahu BIP?!”

“Eeeh ….”

“Orang mana sih lu?! Pokoknya gue enggak mau tahu!”

Sambungan diputus.

Rosa meletakkan gagang telepon pada tempatnya, yang seketika memunculkan dering.

“Halo?”

“Datangnya sendirian, ya. Awas kalau rame-rame.”

“Tut tut tut ….”

.

Kalau bukan karena ada kuliah, berat benar Rosa bangun sepagi itu. Membayangkan akan bertemu cowok itu membuatnya lebih berat lagi. Terpikir untuk bawa temannya, meminta agar bersembunyi dan mengawasi. Tapi, itu pun terlalu berat untuk dia lakukan. Dengan hati teremas-remas, Rosa membuka tas mencari pakaian yang tersisa. Yang ia temukan hanya selembar baju terusan warna putih kusam dengan kerutan di sana-sini yang modelnya sudah ketinggalan zaman—lungsuran kakaknya. Apa boleh buat, pakaian lainnya yang layak untuk di luar rumah masih pada direndam.

Setelah keramas, mengeringkan rambut sekadarnya, lalu bersisir, Rosa mengenakan baju itu. Ia mengamati wajahnya di cermin. Biasanya juga ia tidak berias bila ke kampus. Tadi ia hanya membasuhnya bersih-bersih dengan air. Lalu ia menjauh dari cermin agar tampak sebagian bajunya yang berlengan panjang dengan rok sebetis itu. Mematut diri. Cukuplah sekadar untuk bertemu cowok itu, tak perlu melebihkan diri. Dibawanya juga tas kecil untuk menyimpan buku bacaan, keduanya pinjaman: satu nomor Candy Candy dari taman bacaan dekat rumah indekos dan satu novel Kawabata Yasunari dalam bahasa asli dari perpustakaan kampus biarpun dia baru hafal sedikit kanji.

Jam dinding di ruang depan rumah indekos menunjukkan pukul setengah delapan lebih sedikit ketika Rosa keluar. Sepertinya ia akan telat. Biarlah. Pasrah sajalah.

Rosa pun naik angkot ke BIP, mengikuti petunjuk yang diberikan temannya. Baru sekali ia main ke mal itu sehingga belum mengakrabinya, apalagi daerah sekitarnya. Terasa lama waktu yang ia habiskan untuk berputar-putar, mencari sendiri patung badak itu, sebelum memberanikan diri untuk bertanya kepada orang di jalan. Rupanya patung itu berada di dalam sebuah taman.

Ketemu!

Celingukan ia mencari sosok itu. Tidak ada. Belum. Sayang sekali ia tidak punya jam tangan. Tapi mestinya sekarang sudah jam delapan lewat banyak.

Terlintas untuk menanyakan pada orang yang memakai jam tangan. Tapi ditahannya.

Terlintas bahwa jangan-jangan ini cuma cara lain cowok itu untuk mengerjainya, membalas tipuannya; dendam tak berkesudahan. Tega. Tidak cukupkah teror telepon itu? Rosa mengingat-ingat tampang dan suara si cowok, kelihatannya memang seperti yang suka usil. Tega, tega. Rasanya ingin menangis saja.

Rosa menenangkan diri dengan mengingat buku bacaan yang telah dibawanya. Bukankah menghabiskan Minggu pagi dengan membaca buku di taman terdengar menyenangkan? Iya, kan? Biarpun tamannya ramai. Ia akan bisa berkonsentrasi di tengah hiruk-pikuk banyak orang. Iya, begitu saja. Tidak ada ruginya kesempatan ini.

Namun kedua tangannya tetap terlipat di depan tas, sedang kepalanya menjulur ke sana kemari.

Ah! Cowok itu benar-benar datang!

Tapi, dia tidak sendirian. Tangannya menggandeng—atau lebih tepatnya menyeret—seorang anak kecil yang sepertinya berusia TK. Wajah anak itu berkerut-kerut: bibir mencebik, pipi menggembung, dan mata memerah.

“Katanya mau bakso …” lirih anak itu.

“Iya, nanti,” tukas cowok itu.

“Mana baksonya enggak ada ….”

“Nanti,” si cowok menggeram, “pagi-pagi belum ada.”

“Mau bakso …. Aku tuh mau bakso!” anak itu mulai menangis.

“Aku mau ketemu orang dulu!”

Kedua tangan yang berkait itu tarik-menarik, tapi tentu saja yang besar yang menang. Anak itu terseret-seret sementara tangisnya berderai. Rosa turun dari undakan dan mendekati keduanya. Tatapan mereka bertemu.

“Hei,” cowok itu menyengir.

Terpantul di wajah Rosa. Tatapan Rosa turun kepada si anak kecil, yang begitu menyadari keberadaannya lantas meneguk tangisnya dalam-dalam. Kali ini, tidak ada perlawanan dari anak itu saat digiring mencari tempat duduk—tidak, sampai,

“Itu ada cuanki! MAU CUANKI!”

Mereka pun duduk di dekat tongkrongan penjaja cuanki.

“Sori ya sambil ngasuh,” cowok itu tersenyum risi, lalu nada berikut raut wajahnya berputar seratus delapan puluh derajat kepada si anak kecil, “Salim.”

Anak itu pun mencium punggung tangan Rosa, yang lalu menjadi agak basah.

Semangkuk cuanki siap dalam sekejap. Cowok itu menerimanya, menaruhnya di antara dia dan si anak kecil, yang lalu mangap lebar-lebar. “Makan sendiri, udah gede, kan,” sepelan mungkin suara si cowok pada anak itu, yang tertangkap juga oleh Rosa. Anak itu tidak memprotes. Dengan garpu, ia mencomot potongan demi potongan sembari mengamati mereka berdua.

Perhatian Rosa pada anak itu pun teralihkan saat cowok itu mengulurkan tangan. “Maaf, ya. Sekarang kita impas kan.”

Rosa menyambutnya. Tangannya dijabat erat.

Setelah itu, mereka berdiam-diaman.

Hingga, “Kak, udah,” kata si anak. Ia mengelap seputar mulutnya yang belepotan oleh kuah dan remah cuanki dengan punggung tangan. “Sekarang bakso.”

“Belum kenyang?”

Anak itu menggeleng seraya mengisap ingus yang sebagian telah telanjur berleleran. “Mau bakso yang deket BIP.”

Cowok itu bersungut-sungut. Namun begitu tertangkap oleh Rosa, tampangnya berubah lagi. “Mau ikut … ngebakso?”

Rosa mengangguk. Matanya kemudian tidak lepas dari kedua orang itu, yang sepanjang jalan bergandengan tangan.

“Kamu tuh kalau kebanyakan ngebakso entar melendung lo,” kata si cowok.

“Aku tuh pengin basonya yang segede bola basket,” kata si anak kecil.

“Mana ada.”

“Aku tuh pengin jadi emang bakso. Entar baksonya aku bikin yang segede bola basket. Terus nanti aku main. Terus nanti kalau udah main, baksonya aku makan.”

“Jorok, udah kena tanah, kali.”

“Tapi kalau yang belinya suka main pingpong mah aku bikinnya yang segede bola pingpong aja ah.”

“Bikin yang segede bola dunia dong.”

“Hah! Bola dunia? Mana ada,” si anak kecil menirukan nada si cowok tadi.

“Aku pesen yang segede planet Jupiter, bikin sana!”

“Planet Jupiter,” si anak mengulang lagi. “Aku mau bikin yang segede matahari.”

“Bisa?”

“Terus nanti tuh bolanya aku taruh di deket mataharinya. Jadi bakso bakar deh.”

Si anak menoleh kepada Rosa di belakang, yang serta-merta tersenyum. Cepat-cepat anak itu berpaling ke depan. Lalu ia menoleh lagi ke belakang, kali ini lambat-lambat dan malu-malu. Cowok itu menyadari, tapi hanya mengusap-usap kepala si anak—mungkin sekalian mengarahkannya agar tidak pecicilan.

.

Sesampai di emang bakso, keduanya terus berdebat. Si anak kecil itu ingin ada sebanyak-banyaknya bakso di mangkuknya, yang dia sebut sebagai bakso papa, bakso mama, bakso kakak, bakso adik, dan seterusnya, sepertinya mencakup tetangga-tetangganya juga. Sepertinya dalam imajinasi anak itu, mangkuk ibarat mobil sedangkan bakso adalah orang, dan ia menghendaki konvoi. Cowok itu membatasi pesanan adiknya sampai dua mangkuk saja, yang sepertinya tidak akan habis sehingga ia sendiri tidak pesan. Rosa memesan menu bakso yang biasa.

Rosa terus mengamati cowok itu membantu si anak kecil memotong-motong bakso besar di salah satu mangkuk dan menuangkan kecap. Ketika si anak minta sambal, si cowok melarang. “Entar mules!”

Barulah perhatian cowok itu kembali pada Rosa yang duduk di hadapannya. Mereka kembali berdiam-diaman dengan canggung. Rosa tidak biasa memulai percakapan. Untung si cowok berusaha, dan kali ini Rosa insaf untuk menjawabnya dengan bersungguh-sungguh.

Mengetahui bahwa sebenarnya Rosa kuliah Pendidikan Bahasa Jepang, cowok itu menegur, “Doro kara kita no?” Asalnya dari mana?

Rosa membelalak. Cowok itu bisa berbahasa Jepang! Sewaktu pertemuan pertama, memang Rosa menghindari wajah itu. Sekarang, kalau dilihat-lihat, dengan mata sipit dan kulit terang begitu, bolehlah dia dimirip-miripkan dengan orang Jepang.

“Karawang,” jawab Rosa.

“Oh. Bukan asli Bandung.”

Rosa mengangguk.

“Sama. Aku juga.”

“Dari Jepang?”

Cowok itu menyengir. “Sempet di sana. Tapi sebelumnya aku tinggal di Jakarta.”

Rosa mengangguk disertai senyum tipis.

Tanya jawab ringan berlanjut.

Shumi wa?” Hobinya apa?

Kanji o manabu.” Belajar kanji.

Suki na tabemono wa?” Makanan kesukaannya apa?

Shiranai.” Enggak tahu.

Begitu lancar, sampai-sampai ketika si anak minta dipotongkan bakso dalam mangkuk satunya, cowok itu cuma menoleh sedikit dan membisik—walaupun masih terdengar oleh Rosa—“potong sendiri, udah gede kan.”

Sampai,

Tsukiatteru hito, iru?” Sudah punya pacar?

Rosa mencerna, lalu tersipu, dan menggeleng. “Iie.” Belum.

Terepashii no chikara, arun da yo.” Aku punya kekuatan telepati lo.

“Eh?”

Baru saja cowok itu hendak mencoba kekuatan telepatinya, sekadar pertanyaan iseng, “Mau jadi pacar aku?” yang sampai ke kepala Rosa malah potongan bakso berikut kuahnya. Cowok itu sendiri terciprat namun refleks mengangkat lengan untuk menghalangi wajahnya.

Rosa mengejap-ngejap sementara poninya mengalirkan tetes-tetes kuah, sebagian meresap ke bagian depan baju putihnya.

Mata cowok itu bolak-balik antara panik pada Rosa dan murka pada si anak kecil, sebelum mencabuti tisu lalu menepuki gadis di depannya, mulai dari poni, wajah, dan lekas-lekas menarik tangannya begitu hampir menyentuh area dada.

“Adek …!” cowok itu mendesis kepada adiknya.

Melihat sorot anak itu yang hampir menangis lagi, dan demi menurunkan nada suara cowok itu, Rosa buru-buru mengucap dengan halus, “Enggak apa-apa.” Ia menarik beberapa lembar tisu untuk lanjut membersihkan bekas bakso.

“Minta maaf!”

“Katanya enggak apa-apa ….”

“Tetep harus minta maaf!”

“Kak Iki enggak mau motongin sih …. Kan susah …. Huaaa ….” Mulut anak itu terbuka lebar-lebar, menyuarakan tangis.

“Udah, udah, enggak apa-apa,” Rosa berusaha meredakan.

“Bilang maaf!”

“Maaf … Haaa ….”

Rosa menyeringai.

Cowok itu menjambret mangkuk anak itu ke dekatnya, memotongi bakso yang tersisa, lalu melahapnya, seraya menjaga pandangannya tetap ke samping—seakan-akan hendak menghindari anak itu dan Rosa. Anak itu menggoyang-goyang lengan cowok itu. “Itu bakso aku ….!” Namun si cowok mengedikkannya, terus mengunyah sampai tidak ada potongan daging yang tersisa dalam mangkuk. Entah kenapa Rosa merasa pemandangan ini sangat lucu. Ia mengulum senyum.

.

Agaknya masih merasa tidak enak dengan kejadian tadi, cowok itu menawarkan untuk mengantar Rosa pulang ke rumah indekos. Rosa mengiyakan. Cowok itu membawa motor. Si anak kecil duduk di depan.

Mereka memasuki daerah Gegerkalong. Rosa terheran ketika cowok itu menanyakan arah. Ia ingat sewaktu di telepon yang terakhir kali itu si cowok mengatakan tahu rumah indekosnya. Karena pernyataan bernada ancaman itulah, mau tidak mau Rosa berangkat pagi itu. Tapi Rosa diam saja, hanya mengarahkan sampai ke muka gang menuju rumah indekosnya.

Setelah Rosa turun dari motor, mereka bertukar senyum. Rosa terkejut ketika tahu-tahu tangan cowok itu menjangkaunya, rambutnya. Sontak matanya terpejam erat, bahunya naik, badannya berjengit agak ke belakang—disergap kewaspadaan yang sama dengan sewaktu pertemuan pertama mereka.

Ia baru membuka mata ketika dirasakannya tangan cowok itu telah terangkat dari rambutnya. Tampak wajah itu menyengir, kedua jari tangannya mengapit sepotong kecil seledri. Rosa mendengus lega, senyumnya melebar.

.

Rosa menceritakan pertemuan Minggu itu kepada temannya. Namun temannya curiga keduanya ternyata bukan kakak beradik.

“Jangan-jangan itu anaknya lagi, tapi diaku adik.”

“Masak sih,” gumam Rosa.

“Iya!” dan temannya pun menceritakan tentang si anu dan si itu yang kebablasan saat berhubungan semasa SMP atau SMA. “Apalagi tampangnya kayak bajingan gitu.”

Rosa meringis.

Enggak mungkin.

Tapi ia diam saja.

.

Sudah berkali-kali Rosa mengucek bajunya. Sudah direndam lama-lama dalam cairan pemutih, noda bekas bakso itu masih membandel juga! Rosa lelah. Dijemurnya pakaian itu, setelah kering diseterikanya.

Setelah membasuh mukanya bersih-bersih dengan air, keramas, mengeringkan rambut sebisanya, dan bersisir, Rosa mengenakan baju itu dan mematut diri di depan cermin.

Padahal waktu itu ia merasa penampilan begini sudah cukup. Tapi sekarang, ia menyadari wajahnya kurang pelembap dan bedak, bibirnya kurang lipgloss. Mungkin semestinya ia ganti sampo juga agar rambutnya terlihat lebih halus dan berkilau.

Lalu ia memerhatikan area dadanya. Ia meraba bekas noda itu: kenang-kenangan dari hujan telepon yang telah reda, mungkin kali ini untuk selamanya, menjadikan rumah indekos tenang kembali.

Terdengar dering telepon, cepat-cepat Rosa keluar kamar. Sudah ada yang mengangkat panggilan itu, yang rupanya bukan untuk dia.

Mungkin memang sebaiknya lain kali, setelah ia pulang ke Karawang dan minta lungsuran pakaian yang lebih baik dari kakaknya.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain