Minggu, 26 November 2023

Pelajaran Mengarang Cerpen dari Us Tiarsa

Gambar screenshot dari Instagram.
"Perkenalan" saya dengan penulis Us Tiarsa ternyata sudah dimulai sejak cukup lama, yaitu ketika mengikuti acara tapak tilas buku Basa Bandung Halimunan. Hampir sepuluh tahun setelah itu, perkenalan baru dilanjutkan dengan membaca sendiri kumpulan cerpen beliau, Halis Pasir, alhamdulillah sampai tuntas dan dapat menangkap isinya secara garis besar sekalipun saya tidak menguasai bahasa Sunda XD Jadi kuat motivasi saya untuk turut beranjangsana ke rumah beliau bersama Klub Buku Laswi. Posternya menampilkan kedua buku tersebut. Versi cetak Halis Pasir masih tersedia di Toko Buku Bandung depan Perpustakaan Ajip Rosidi, sedangkan Basa Buku Halimunan sudah tidak ada; tapi di Ipusnas keduanya bisa ditemukan.

Beliau bermukim di komplek perumahan wartawan yang ada di Baleendah. Kami bertolak dari Perpustakaan Ajip Rosidi selepas zuhur, merayap dalam kemacetan selama sekitar 1,5 jam; katanya hari itu ada 7 universitas sedang menyelenggarakan wisuda, salah satunya Telkom University yang berlokasi kurang lebih di tengah-tengah perjalanan. Tiba menjelang pukul 2 siang, kami baru kembali dari sana setelah azan magrib. Acara utamanya sendiri hanya sekitar 2 jam, setelah itu keramahan tuan rumah menjamu kami dengan yamin manis. 

Acara berlangsung dalam bahasa Sunda, yang secara umum masih bisa saya pahami walau adakalanya menanyakan arti kata kepada teman di sebelah. Dalam 2 jam itu, tentu banyak poin yang disampaikan oleh Abah Us Tiarsa; beberapa di antaranya dipantik oleh pertanyaan dari kawan-kawan peserta. Kami mendengar tentang riwayat kepenulisan/kewartawanan beliau, proses di balik buku-bukunya, perkara bahasa jurnalistik, anekdot mengenai tokoh-tokoh yang dikenal, masukan dalam menulis, dan sebagainya. 

Poin yang paling menarik bagi saya adalah proses kreatif di balik Halis Pasir, kumpulan cerpen yang sudah dibaca-tuntas-dan-ulas itu. Kebetulan, saya sendiri dalam pergulatan untuk menulis cerpen (atau karangan fiksi apapun) lagi. Berikut beberapa masukan beliau yang tercatat.

Ketika penulis menganggap karyanya yang terdahulu jelek tapi toh diakui media, itu berarti ia telah mengalami kemajuan.

Cerpen-cerpen di Halis Pasir pernah dimuat di Mangle dan mendapat penghargaan. Namun, dengan menyatakan yang di atas itu, apakah beliau punya anggapan sendiri mengenai cerpen-cerpennya itu? Sepertinya saya kurang menangkap penjelasan beliau soal ini. Kalau boleh saya kaitkan dengan pengalaman saya sendiri, selama saya masih menganggap karangan-karangan yang terdahulu rada-rada lumayan, itu berarti saya masih mandek atau bahkan mengalami kemunduran XD

Cerita yang isinya kebetulan belaka tidak bernilai sastra.

Beliau mencontohkan dengan menceritakan suatu kejadian yang menimpa seorang pedagang di pinggir jalan. Pedagang itu diminta pindah lapak ke tanah kosong, karena tempatnya semula dianggap dapat membahayakan. Namun, setelah pindah ke tanah kosong itu, pedagang tersebut malah tewas ditabrak kendaraan yang entah bagaimana menyelonong ke sana. Itu suatu kejadian menarik, tapi berunsur kebetulan yang jika dituliskan menjadi cerpen menurut Abah Tiarsa teu nyastra

Masukkan elemen kejutan (plot twist).

Dapat dilihat contohnya dalam Halis Pasir, banyak cerpen beliau dalam buku tersebut yang mengandung unsur kejutan. 

Setiap unsur dalam cerita harus ada alasannya.

Ini pun dapat dilihat contohnya dalam cerpen-cerpen di Halis Pasir. Dalam cerpen pertama yang sekaligus menjadi judul buku tersebut, "Halis Pasir", diceritakan mengenai seorang ibu yang bungkuk. Ibu tersebut bungkuk bukan asal bungkuk, melainkan akibat dari pekerjaannya membuat batu bata; pekerjaan itu pun punya peran yang kuat dalam menentukan jalan cerita. Dalam "Diantos di Sarayevo", tokoh utama bertemu dengan sesosok "hantu". Namun, hantu itu sebetulnya halusinasi belaka, yang kerap dialami orang dari iklim tropis kala pergi ke tempat dengan iklim ekstrem (dalam cerita ini adalah orang Sunda yang sedang ada hajat ke negara Eropa bersalju). 

Mahasiswa bertanya kepada Abah.
Gunakan kata arkais.

Contohnya, dalam cerpen "Incok", terdapat kata "enggah" yang jadi pertanyaan salah satu peserta yang notabene mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Sunda. Kata ini digunakan oleh kalangan menak untuk menyebut "kakek". Kata ini sudah tidak digunakan karena sejak zaman Revolusi sudah tidak ada kaum menak (kurang lebih begitulah yang saya tangkap). Sisi positif dari penggunaan kata arkais adalah untuk menunjukkan dan melestarikan kekayaan bahasa. Pembaca yang berdedikasi akan menelusuri arti kata yang sebetulnya kuno tapi terasa baru itu untuk menambah perbendaharaannya; apalagi kalau ia sekaligus penulis yang berdedikasi, mungkin akan tergerak untuk menggunakan juga kata tersebut dalam karangannya sendiri.

Dalam mengarang tidak harus menggunakan pengalaman pribadi, tapi lebih mengandalkan pengalaman batin.

Yang dimaksud dengan pengalaman batin sepertinya adalah imajinasi. Pengarang tidak harus mengalami sendiri yang ia tuliskan dalam cerpennya. Maka untuk bisa mengarang imajinasi harus kuat dan kaya, yang itulah problem saya sekarang sehingga susah mengarang fiksi lagi XD Ketika imajinasi tidak lagi muncul secara intuitif, bagaimana memulihkannya? Saya mendengar Abah Tiarsa memberi masukan agar terus membaca dan tidak berhenti menulis. Abah Tiarsa sendiri semasa mudanya giat membaca, menjadi anggota berbagai perpustakaan termasuk perpustakaan keliling. Pekerjaannya sebagai wartawan pun menuntut beliau untuk selalu menulis. Malah sejak kelas 4 SD (tahun 1950-an) beliau sudah menjadi "wartawan" dengan melaporkan suatu peristiwa di tempat tinggalnya (tepatnya, kedatangan pengungsi dari Tasikmalaya ke Kebon Kawung) dalam kartu pos ke Pikiran Rakyat, yang setelah itu menurunkan wartawannya sendiri untuk meliput secara langsung. Buku Basa Bandung Halimunan pun dikatakannya bukan merupakan kumpulan esai atau autobiografi, melainkan suatu karya jurnalistik. 

Tidak ada kata ketuaan.

Ini bukan masukan langsung dari Abah Tiarsa, melainkan saya tarik sendiri dari beberapa cerpennya yang dalam buku Halis Pasir bertanda "2007". Jika beliau lahir pada 1943 (yang sebetulnya 1942, ungkap beliau), itu berarti cerpen-cerpen tersebut ditulis ketika beliau sudah berusia 60-an tahun. Enam puluhan tahun dan imajinasi masih mengalir, bagaimana dengan yang usianya baru sekitar separuh usia Abah Tiarsa waktu itu? XD

(Catatan untuk diri sendiri: Untuk membaca, alhamdulillah sudah bertahun-tahun cukup intens dan konsisten dijalankan; insya Allah ingin dipertahankan sampai akhir hayat. Untuk menulis, mengingat pengalaman selama ini, sepertinya tidak cukup dengan catatan harian, ulasan, dan terjemahan tapi perlu ada sesi khusus membangkitkan imajinasi alias menulis yang semata khayalan yang tidak terputus-putus. Ada olah raga, ada pula olah imajinasi. Olah raga yang terputus-putus kurang efektif, begitu pula dengan olah imajinasi. Stay creative!)

Kamis, 23 November 2023

Jiwa Bahari dan Jiwa Pelaut

Kalau kita telusuri nama "Moerwanto" di Ipusnas, akan keluar 5 judul buku. Empat di antaranya mungkin boleh dianggap sebagai satu serial, yang judulnya sama-sama diawali dengan "Jiwa"--The Jiwa Series. Melihat tahun cetakan pertama dan akhir cerita, urutannya kira-kira begini:
  1. Jiwa Bahari, cetakan 1, 1985, 66 halaman,
  2. Jiwa Patriot: Pertempuran Lima Hari di Semarang, cetakan 1, 1992, 130 halaman,
  3. Jiwa Pejuang: Para Pelaut Remaja Membentuk Armada, cetakan 1, 1992, 126 halaman,
  4. Jiwa Pelaut, cetakan 1, 1995, 130 halaman.
Gambar screenshot dari Instagram.
Yang dikupas di Klub Buku Laswi pada 22 November 2023 hanya dua buku, yang pertama dan terakhir, yaitu Jiwa Bahari dan Jiwa Pelaut. Buku-buku ini berisikan kenang-kenangan Anto (nama kecil penulis) kala menjadi pelaut remaja pada masa seputaran proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari masuknya Jepang sampai mempertahankan kemerdekaan dari Belanda. 

Dalam Jiwa Bahari, cerita dimulai dengan peristiwa penyerahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Jepang kemudian mendirikan sekolah-sekolah yang mendidik pemuda untuk membantu angkatan perangnya, di antaranya adalah sekolah pelayaran yang terdiri dari Sekolah Pelayaran Rendah (SPR) dan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT). Siswa SPR berasal dari lulusan Sekolah Dasar. Di SPT ada dua jurusan, yaitu Bagian Dek untuk mendidik calon mualim, serta Bagian Mesin untuk mendidik calon ahli mesin kapal. Siswa Bagian Dek berasal dari lulusan SMP atau MULO (sekolah menengah pada zaman Belanda), sedang Bagian Mesin kebanyakan dari Ambachtschool yaitu sekolah pertukangan pada zaman Belanda. Lama belajarnya hanya 6 bulan karena tuntutan kebutuhan pada masa perang (halaman 8). Sekolah Pelayaran ini rupanya cikal-bakal Angkatan Laut Republik Indonesia, lulusannya banyak yang menjadi tokoh sebut saja Laksamana Martadinata, Letnan Jenderal Marinir Ali Sadikin, Laksamana Sudomo, Letnan Kolonel Slamet Riyadi (kemudian Brigjen Anumerta), dan Yos Sudarso (halaman 9).

Anto sendiri masuk ke SPT. Dalam Jiwa Bahari, masa pendidikannya kira-kira hanya 2 bab sedang selebihnya ia berikut siswa-siswa lainnya langsung diterjunkan ke lapangan--maksudnya, ke lautan--menggunakan kapal kayu sederhana dengan mesin yang juga sederhana menghadapi kapal selam canggih milik musuh Jepang. Selama itu, terdapat kisah-kisah lucu (misalnya ketika mengakali sensei Jepang yang lagi mabuk) dan kisah-kisah tragis (ada di antara rekan mereka yang tewas). Pada akhirnya, para remaja ini menyadari posisi mereka; pekerjaan ini mengorbankan nyawa dan mereka melakukannya pun untuk bangsa lain yang sedang menjajah. Memang sedari awal cerita sudah ditampakkan keengganan tokoh utama dan kawan-kawannya dalam mengikuti aturan Jepang yang sangat keras dan main kasar. Maka terjadilah rapat sembunyi-sembunyi yang berujung pada aksi "pemberontakan" berupa sabotase kapal supaya tidak bisa jalan. Namun ketika pihak Jepang mulai curiga akan adanya sabotase itu dan para awak kapal terutama ahli mesin selalu dibayangi ketakutan, keburu bom atom meledak di Hiroshima dan Nagasaki sehingga mengakhiri perang. 

Entah apa saja yang terjadi dalam Jiwa Patriot dan Jiwa Pejuang, loncat dulu ke Jiwa Pelaut. Dalam buku ini, cerita terjadi pada awal 1946 ketika Indonesia belum lama merdeka. Anto dkk mendapat misi mengantarkan anak-anak Ambon petugas khusus didikan Badan Rahasia Negara (halaman 33) dalam dua buah kapal yang dinamai "Semeru" dan "Sindoro". Kapal ini masih kapal kayu yang sebelumnya dimiliki tentara Jepang, dengan keadaan mesin yang memprihatinkan. Dalam buku ini kembali Anto menunjukkan kecerdikannya yaitu menggunakan ganjalan kayu untuk mengatasi suatu masalah mesin.

Dalam menceritakan perjalanan ini berikut tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa di dalamnya, Jiwa Pelaut menggunakan diorama di Museum Satria Mandala (dulunya Wisma Yaso yang ditempati Bung Karno) sebagai suatu bingkai. Cerita ini seperti hendak mengklarifikasi diorama tersebut, misalnya dengan menerangkan adanya tokoh-tokoh yang juga memiliki peran penting tetapi namanya tidak turut diangkat. Maka buku ini merupakan tribute terhadap para pahlawan yang tak tercatat itu. 

Dalam pembahasan di Klub Buku Laswi, Kang Deni selaku pemantik membuat perbandingan bacaan anak antara dulu dan sekarang dari aspek penulis, tampilan, dan konten. Yang dimaksud dengan dulu ialah masa ketika buku-buku ini diterbitkan pertama kali, sekitar 20-30 tahun lalu. Dari aspek penulis, bacaan anak dulu ditulis oleh orang dewasa sehingga bisa jadi cenderung menggurui sedangkan bacaan anak sekarang ditulis oleh anak-anak sendiri sehingga pastinya lebih mewakili perspektif anak-anak. Dari aspek tampilan, bacaan anak sekarang jelas tampak lebih menarik dengan banyak gambar yang berwarna-warni sedangkan bacaan anak dulu hampir-hampir teks melulu yang sesekali saja disisipi gambar hitam-putih ala kadarnya. Dari aspek konten, bacaan anak dulu pun sepertinya belum mengenal "sensor" yang ketat; mungkin karena ditulis orang dewasa maka sesekali terselip adegan "dewasa" contohnya dalam Jiwa Bahari dan Jiwa Pelaut ini beberapa kali disebutkan adanya tokoh remaja yang mabuk oleh minuman keras juga ada yang merokok kretek. 

Saya sendiri ketika membaca buku-buku ini dalam usia yang tidak boleh disebut anak remaja lagi merasakannya sebagai bacaan yang cukup memusingkan. Alur ceritanya kurang lancar saya ikuti. Nama tokoh-tokoh beserta detail-detail sejarah dan mesin kapal seperti diserakkan penulis begitu saja sembari bercerita, seakan-akan tanpa perhatian bahwa pembaca (apalagi usia anak remaja!) mungkin belum memiliki banyak wawasan sejarah khususnya kemaritiman apalagi soal permesinan.

Untuk tokoh, tidak memungkiri bahwa dalam membaca buku-buku ini membekas kesan beberapa di antaranya. Sebut saja Mursid yang suka bolos jaga mesin dengan alasan mabuk laut, Yos Sudarso yang walau Katolik kerap mengingatkan salat, Anna Luhukay yang satu-satunya perempuan di kapal, lalu ada yang tidak pernah lepas dari kretek dan ada pula yang keturunan Tiongkok, tidak lupa Anto yang cerdik, suka membaca, dan ingin jadi pengarang kelak, dan lain-lainnya. Belum lagi karena tokoh utama dkk pada dasarnya masih remaja adakalanya mereka bertingkah slengean, suka saling mengejek bahkan beberapa suka mangkir tugas. Namun kesan-kesan itu tertangkap secara acak, seiring dengan mengalirnya cerita saja alih-alih melalui perkenalan yang rapi perlahan-lahan.

Mengingat para tokoh yang hampir semuanya lelaki berikut adanya adegan-adegan "dewasa", sepertinya bacaan ini lebih tepat bagi remaja pria atau laki-laki muda yang mulai beranjak dewasa. Terlebih kalau mereka punya minat khusus terhadap sejarah, mesin, kapal, perang, dan sebagainya. Karena sebagai bacaan relatif berat oleh detail-detail yang cenderung segmented itulah, untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, saya setuju andaikan saja buku ini dialihwahanakan, misalnya sebagai film, yang lebih mengedepankan alur, misi, petualangan, pengembangan karakter, diselipi kejadian-kejadian jenaka maupun tragis.

Minggu, 19 November 2023

Mengenal Rumphius di Jante

Gambar screenshot dari Instagram.
Baru pada H-2 saya mengetahui telah terbit terjemahan buku Rumphius oleh Komunitas Bambu yang harganya hampir 800K, dan akan diperbincangkan di Kedai Jante. Bukannya saya tahu benar tentang Rumphius, sebetulnya hanya samar-samar dari bacaan sana-sini bahwa ia seorang penulis alam di suatu kawasan nusantara berabad-abad silam yang mengalami berkali-kali tragedi dalam hidupnya seperti kebutaan dan kebakaran. Samar-samar wawasan itu kiranya saya dapatkan dari buku Kepulauan Nusantara Alfred Russel Wallace yang juga diterbitkan oleh Komunitas Bambu (yang saya sudah baca tapi terhenti dan itu sudah bertahun-tahun lalu entah kapan akan lanjut mungkin bakal mengulang dari awal :v). Rumphius menarik karena saya ada sedikit ketertarikan sama alam; kebetulan pula baru menamatkan Priangan Andries de Wilde. Kalau de Wilde menulis tentang alam Priangan, maka Rumphius mengenai Ambon. Ingin saja meraup khazanah alam nusantara sebelum negara api datang menyerang. Tapi, aduh, harga buku Rumphius itu bisa untuk memberi makan kucing-kucing kelaparan di sekitar rumah selama beberapa bulan, atau menabung 1 batang emas Antam 0,5 gram dan sisanya untuk pecahan yang lebih mungil dari Galeri 24 :')

Karena penasaran, setidaknya datang dahulu ke acara bincang-bincangnya untuk mendapat gambaran mengenai buku itu. Acaranya pada Jumat, 18 November 2023, dari jam 16.00 sampai sekitar magrib WIB. Pembicara utama adalah Pak T. Bachtiar dan Pak JJ Rizal. Pak Bachtiar saya baru "kenal" dari bukunya, Menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon, sedangkan Pak Rizal yang punya Komunitas Bambu.

Gambar dokumentasi Nurul Maria Sisilia.

Sebelum menyoal buku, Pak Bachtiar mengantar dengan membagikan pengalamannya pada 2016 ketika melawat ke Ambon khususnya ke tempat-tempat yang berhubungan dengan Rumphius. Ada foto-foto pemandangan yang sangat cerah sekali. Nantinya beliau bilang bahwa di Indonesia belahan timur sana pada jam-jam tertentu (kalau tidak salah, sekitar siang sampai sore) sinar mataharinya sangat baik menampakkan pemandangan alam yang indah. Beliau juga menerangkan bahwa pembentukan alam di Indonesia timur lebih rumit makanya hasilnya "aneh-aneh", lautnya pun dalam-dalam. Dari pemaparan beliau, saya menangkap bahwa Rumphius bukan hanya menulis tentang flora dan fauna tetapi juga bencana alam yang pernah terjadi seperti gempa dan tsunami. Tulisannya itu mengandung informasi yang dapat dikembangkan untuk mitigasi, agar kelak tidak kaget ketika terjadi lagi lazimnya suatu siklus. Dari Rumphius kita dapat belajar pentingnya mencatat; ia teladan dalam menuliskan kebanggaan alam dan budaya. Tak luput Pak Bachtiar menampilkan serangkaian tragedi yang menimpa Rumphius dalam usahanya itu (disalin dari slide beliau dengan sedikit penyesuaian):

  • Naskah bukunya dicekal untuk terbit oleh VOC karena memuat hal yang dipandang dapat mempengaruhi persaingan dagang.
  • Kapal yang mengirim naskah bukunya ke Belanda ditenggelamkan Perancis pada 1692.
  • Kantong pemukiman orang Belanda terbakar sehingga menghanguskan semua catatan, naskah, dan gambar; ia pun mengulang pekerjaan menulis dan membuat gambar.
  • Terjadi gempa dan tsunami yang dahsyat yang merenggut nyawa istri dan putri bungsunya.
  • Pada usia 43 tahun, matanya terkena glaukoma sehingga pandangannya buram.
Pantaslah buku ini dibanderol begitu mahal, toh baik naskah maupun penulisnya telah mengalami banyak tragedi! 

Penampakan buku 
Rumphius terbitan 
Komunitas Bambu.
Gambar dokumentasi
Nurul Maria Sisilia.
Bagaimana dengan penerbitan buku ini sendiri khususnya untuk terjemahan bahasa Indonesia? Selanjutnya Pak Rizal menceritakan perburuannya mendapatkan buku Rumphius. Beliau mencari ke sana kemari, sampai mendatangi rumah tokoh-tokoh yang katanya punya buku tersebut, dan akhirnya menemukan edisi berbahasa Inggris di museum depan Kebun Raya Bogor sebelum kemudian membeli hak ciptanya. Rupanya buku terjemahan yang diterbitkan Komunitas Bambu ini tidak mencakup semua karya Rumphius karena kalau selengkapnya itu banyak sekali. Buku terjemahan ini saja sudah cukup besar dan tebal dengan harga yang kalau menurut kebanyakan orang "mahal". Kalau boleh saya bandingkan buku ini hampir-hampir seukuran dengan terjemahan The History of Java yang diterbitkan Narasi. 

Pak Rizal menambahkan hal lain yang patut diapresiasi dari Rumphius yaitu sangat menghargai "scientist" lokal. Mereka membantu Rumphius mencarikan bahan dan memberitahukan segala pengetahuan lokal untuk dicatatnya. Karyanya tidak akan jadi tanpa peranan masyarakat setempat, belum lagi orang-orang Belanda yang membantu membuatkan gambar. Rumphius juga punya jaringan yang sangat luas. Ia mengaku diri sebagai amatir dan menganggap kerja sunyi menuliskan sejarah alam ini suatu labour of love, tetapi cintanya ini didukung oleh banyak orang beragam bangsa. Makanya, terlepas dari berbagai tragedi yang menimpa, ia tak putus asa mengulang-ulang pembuatan karya ini. Walaupun berasal dari Jerman, bisa dikatakan ia cuma menumpang lahir di sana tetapi jiwanya anak Ambon. Sikap Rumphius ini tidak seperti naturalis lain contohnya yang disebut-sebut yaitu Junghuhn dan Wallace, yang katanya rasis terhadap pribumi sudah begitu mendukung tanam paksa.

Dalam acara ini saya perhatikan beberapa kali Pak Rizal "diolok" bahwa buku ini tak akan laku. Dilempar pertanyaan seperti, "Pernahkah memikirkan pengaruh nyata buku yang diterbitkan?' Kasarnya kurang lebih kayak: "Memangnya bakal ada yang baca?" Yang saya kagumi dari beliau adalah dengan tegasnya menyatakan, "Tidak memikirkan! Bukan urusan!" Beliau sudah kebal dengan usikan macam itu, termasuk soal pembajakan. Penerbit hanya memproduksi dan ide itu macam punya "kaki" sendiri, setelah dilepas biar saja berjalan-jalan entah ke mana menjadi apa. "Kalau memikirkan entar jadi putus asa. Realitanya bikin gila." Demikian saya kutip sepatah-sepatah dari beliau. Sikap "ikhlas" begini yang saya pribadi lagi berusaha miliki, relevan jika kita punya kebutuhan menulis; kegalauan bakal ada yang baca atau tidak itu tidaklah perlu. Apalagi bila ada cita-cita yang diperjuangkan, yang bagi Pak Rizal berupa kepentingan sains dan budaya.

Pak Rizal mengakui bahwa Komunitas Bambu punya reputasi menerbitkan buku tebal dan enggak laku. Salah satunya buku Kepulauan Nusantara yang katanya baru terjual habis dalam sepuluh tahun (memang itu buku sangat besar dan hard cover). Namun ada juga buku-buku terbitan Komunitas Bambu yang populer, laris (bajakannya), bahkan diadaptasi jadi suatu program, di antaranya Mustikarasa dan Sejarah Rempah. Beliau tidak pesimistis soal minat baca masyarakat, bahkan menemukan bahwa minat baca generasi muda sebetulnya tinggi; akses terhadap bacaan yang tidak selalu mudah. Pak Bachtiar pun di awal sempat mengungkit bahwa beliau melihat di toko buku anak muda membeli buku tebal sehingga optimistis pula soal minat baca masyarakat. Lagi pula ada sebagian masyarakat yang beli sepatu seharga jutaan saja mampu (belum lagi tiket konser dsb you name it), masak untuk pengetahuan yang "cuma" ratusan ribu sungkan? 

Sabtu, 18 November 2023

Investasi yang Paling Berharga Adalah Keluarga

Sebagaimana yang terekam di blog ini, sejak pandemi, sudah tidak menonton bioskop sendiri lagi. Juga ada kesadaran mengalokasikan uang untuk suatu kepentingan. Tapi kalau ada teman yang mengajak, hayuk saja, filmnya pun menurut pilihan dia. Ada satu film yang kami tonton begitu pandemi reda. Film itu katanya diadaptasi dari cerita di suatu platform kepenulisan, tokoh utamanya diperankan oleh aktor kesukaan dia tapi saya lebih suka sama pemeran antagonisnya(?). Film itu saya tidak ingat amat judulnya, bikin saya ketawa-ketawa sendiri di ruang bioskop--maksudnya, itu bukan film komedi tapi teen romance action atau apalah istilahnya yang karena beberapa hal saya jadi literally ketawa sendiri--dan malas mencatat pengalaman itu di blog ini sesudahnya.

Teman itu baru-baru ini memilihkan film lain yang saya lagi-lagi ikut saja. Tanpa ekspektasi apa-apa. Tidak berdaya juga ketika kami dapat bangku di baris kedua dari depan. Memang itu hari pertama film tersebut ditayangkan di bioskop. Cukup banyak yang mengantre. Sebanyak inikah orang yang gabut pada Kamis siang? Akan jadi apa negara ini??

Kali ini si teman memilihkan film yang tepat buat saya. Di samping bikin tidak mengeluh karena mesti mendongak menontonnya, juga sekarang saya ketawa-ketawa tidak sendirian lagi tapi serempak bareng banyak penonton lain. Ketawa tulus karena terhibur oleh joke-joke yang mulus, bukan karena jiwa yang sok mau jadi snob. Film itu adalah Gampang Cuan, yang setelahnya saya berpikiran ini layak ditonton berkali-kali untuk ditelaah sembari mencari landasannya di buku-buku teori komedi. Memang dari segi komedi menurut saya film ini pol pisan somehow, tidak asal lucu. 

Gambar dari Media Indonesia.

Salah satu adegan mengibuli orang tua.
Gambar dari KUY!
Ini juga film keluarga dengan pesan moral yang sangat kuat. Sedikitnya ada dua poin yang saya tangkap yaitu konsekuensi dari berbohong kepada orang tua sekalipun untuk berbakti, di sisi lain posisi tokoh utama sebagai kepala keluarga yang ingin menjaga ketenteraman keluarga menjadi motifnya untuk berbuat demikian. Secara personal, ini kena bagi saya--mengingatkan pada kepala di keluarga saya sendiri yang kadang-kadang bikin saya menitikkan air mata diam-diam mengingat perbuatan-perbuatannya yang bercampur antara baik dan buruk, kasih sayangnya kepada keluarga yang kadang-kadang membuatnya seperti tidak ada rasa bersalah untuk begini-begitu, yah, sebagaimana si kepala keluarga dalam film ini lah. Film ini mestilah membuat kita mesti lebih mengapresiasi kepala di keluarga masing-masing, terutama jika ia sungguh-sungguh menyatakan tanggung jawabnya, dan tentu saja, kebersamaan dalam keluarga itu sendiri, yang mana nilai-nilai ini kian hari kian luntur; banyak manusia yang sudah tidak paham lagi pentingnya membangun keluarga, akibat tuntutan yang entah dari mana asal-muasalnya agar mementingkan diri sendiri dan mengurus segalanya sendiri-sendiri tidak perlu lagi saling berbagi. 

Di samping komedi keluarga, ini juga film edukasi saham--atau pada pokoknya mengenai cara meraih dan mengelola cuan. Dasarnya, saya tidak ada ketertarikan pada permainan ini. Namun sepanjang perjalanan hidup saya sejauh ini (yang padahal belum juga paruh baya--sedikit lagi :p), ada beberapa referensi tentang dunia itu yang mampir. Yang langsung teringat yaitu:

1. Buku tentang kehidupan jurnalis pasar modal, yang sudah saya ulas di blog ini (tautan tersemat), dan;

2. Video Jaya Setiabudi.

Preferensi saya pribadi dalam hal ini masih lebih ke cara spiritual-tradisional seperti menabung emas (walaupun lama sekali baru bisa terkumpul hanya untuk membeli batang terkecil produk Antam wakakaka), bersedekah dan semacam itulah--yang tampak lebih "simpel" sekaligus berorientasi jangka paling panjang (sampai ke akhirat).

Harus pakai kostum bagus untuk
mengikuti permainan orang kaya.
Gambar dari TEMPO.co.
Begitulah maka dari film ini pun siratan yang tertangkap oleh saya: pada akhirnya dari main saham keluarga kelas bawah ini tidak mendapatkan untung apa-apa, selain mendalami arti keutuhan keluarga dan menghargai peran kepala keluarga. Keluarga adalah benteng pertahanan, menegaskan ungkapan klise tapi nyata menjadi ujian banyak orang untuk dibuktikan: "harta yang paling berharga". Dari dialog tokoh Robert Winoto, terkesan bahwa saham itu permainan orang kaya yang sudah kebanyakan duit dan ingin mencapai tujuan-tujuan finansial yang lebih tinggi alih-alih cara cepat cari cuan bagi yang kepepet. Pun, sebagaimana dinyatakan lewat tokoh Evan, main saham tanpa hitung-hitungan menjelimet ("anal-isis", dia bilang, ini karakter memang ass-hole) alias cuma tebak-tebakan itu sama saja kayak judi. Dan, kita tahu, menurut sang kesatria bergitar ....

Setelah menyajikan suatu gambaran akan jatuh-bangunnya pontang-pantingnya pergulatannya orang bawah menuruti permainan orang atas, film ini menyerahkan pilihan kepada pemirsa. Pilihannya pun bukan cuma saham, melainkan ada pula reksadana, deposito, surat utang negara, dan seterusnya, yang dijelaskan sesederhana mungkin menggunakan perumpamaan ternak ayam. Tapi, jangan lupa, investasi yang paling berharga mungkin ada pada kualitas hubungan dengan keluarga khususnya dalam masa terpuruk.

Sekilas info: Parkiran BIP diskriminatif karena tidak menampung sepeda di basement, lain dengan BEC dan Kings yang menyediakan palang parkir sepeda searea dengan motor di dalam gedung. Parkirlah di GGM; selain orang-orangnya ramah, saya mendapat fasilitas valet parking segala--gratis! Tersedia keran juga dekat situ buat cuci tangan habis pegang setang sepeda yang masih ada bekas oli dari bengkel.

Rabu, 08 November 2023

Pohon-pohon Sahabat Kita: Sajak Anak-anak

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : L. K. Ara
ISBN : 979-407-483-7, 978-979-407-483-1
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Cetakan pertama : 1983
Edisi elektronik : 2021

Buku ini isinya pengenalan pohon-pohon yang dikemas dalam bentuk sajak anak-anak. Semuanya ada 20 pohon, yaitu: jengkol, meranti rambai, mara, jabon, mindi, kayu bapa, kedawung, petai, binong, kayu raden, kayu raja, akasia, cempaka, simpur, kenanga, turi, tengkawang kijang, kedondong, bintaro, dan tusam. 

Tiap sajak umumnya mengandung informasi sebagai berikut:
  • fungsi, manfaat,
  • ciri atau karakteristik fiksi yang menonjol atau terkenal,
  • tempat tumbuh/penyebaran,
  • dan pastinya nama pohon, yang diulang-ulang seakan-akan yang baca kemungkinan pelupa :v
Sebagai contoh, saya salinkan satu puisi yang judulnya sama dengan nama daerah di dekat tempat tinggal saya.
BINONG

kalian ingin membuat perahu?
ambillah pohonku
batangku bulat dan lurus amat bagus
namaku?
panggil saja: Binong

kayuku bisa juga 
untuk peti
dan batang korek api

aku ada di Sri Lanka
Muangthai dan India
Malaysia, Sumatra
dan Irian Jaya

aku suka hidup
di tanah liat
atau tanah berpasir
lihatlah diriku berdiri terpaku
di tanah datar
di pinggir sungai
daunku gugur
bila datang musim kemarau
bungaku tumbuh
bila datang musim hujan

aku sendiri hidup senang
biar datang kemarau panjang
Satu lagi deh, jenis yang konon katanya sangat digemari masyarakat Sunda. 
JENGKOL

aku tanaman asli Indonesia
lalu tersebar ke Malaysia
Muangthai, Birma
Laos dan Filipina
jauh juga perjalananku
tapi aku gembira selalu

di tepi hutan aku disenangi 
di tepi sungai aku disukai
di ladang aku disayangi
di kampung aku dicintai

buahku enak dimakan
tapi, wow
baunya sangat tajam

kalian berketombe?
bersihkan pelan-pelan
dengan kulit polongku

kalian belum lupa kan?
Jengkol namaku
Menurut saya, buku ini baik dimiliki orang tua untuk anak berlatih membaca sekalian berkenalan dengan jenis-jenis pohon. Sebagai sajak anak-anak, tentu saja bahasanya sederhana. Halamannya penuh warna-warni, sudah begitu ada ilustrasinya walaupun sayangnya tidak untuk setiap pohon. Bagus lagi apabila membaca sajak sambil mengunjungi tempat pohon yang diterangkannya berada sehingga bisa berkenalan secara langsung, entahkah itu di halaman, pinggir jalan, taman, atau hutan terdekat, sambil meraba-raba permukaan batangnya, mengamati bentuk daun dan bunganya, memunguti buahnya kalau ada, membandingkannya dengan yang tertulis dalam sajak, sembari menghayati kegunaannya--suatu pendidikan literasi alam. 

Bagi saya sendiri, terus terang, banyak pohon dalam buku ini yang masih asing atau cuma tahu nama tapi tidak kenal bentuk-rupanya. Memang saya tumbuh di kota besar dalam lingkungan yang lebih mengakrabkan saya dengan produk-produk rekayasa manusia ketimbang yang langsung dari Sang Maha Pencipta. Memang manusia itu sendiri produk langsung Sang Maha Pencipta, begitu pula kucing-kucing yang berkeliaran di jalanan serta tanaman-tanaman ala kadarnya di halaman. Namun, itu saja tidak cukup, mengerti, kan? Sering kali semua itu sekadar latar. Implikasinya, saya termasuk golongan yang masih lebih tertarik "dicuci-otak" konten-konten digital yang di baliknya ada pembakaran batu bara pencemar udara, ketimbang berusaha mengenali dan memanfaatkan tetumbuhan di sekitar yang dengan itu secara langsung memuji dan mensyukuri kebesaran Yang Maha Kuasa.

Hidup di kota besar bukan berarti tidak ada alam sama sekali. Bisa dimulai dari halaman rumah: taruh ponselmu, keluarlah, dan pegang daun-daun, amati serangga, dan seterusnya, kehidupan yang biasanya seakan-akan tak kasatmata. Saya yakin bukan saya seorang yang perlu begini, dan buku ini pun hanya satu dari sekian banyak buku untuk menginsafkan kita agar menjadi khalifah yang adil di muka bumi, rahmat bagi segenap alam bukan hanya bagi golongannya sendiri. 

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain