Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2012

Agar Pemuda Mau Bercocok Tanam



Pertanian lekat dengan isu ketahanan pangan. Masyarakat yang kelaparan akan menimbulkan kekacauan. Ketahanan pangan berarti ketahanan nasional. Namun sebagian masyarakat masih mendiskreditkan citra petani. Meski demikian, gerakan Indonesia Berkebun yang dicetuskan Ridwan Kamil ternyata mampu menghimpun animo besar besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia.

Semangat inilah yang hendak disusupkan ke dalam jiwa puluhan hingga seratusan pemuda-pemudi yang hadir di Bale Santika Tanginas Waras Binekas UNPAD pada Sabtu (18/02/12) sejak sekitar pukul 08.00 WIB hingga siang. Dengan tajuk “Dengan semangat pemudamu, kembangkan pertanian di daerahmu dan ciptakan inovasi ramah lingkungan”, seminar nasional ini mengawali rangkaian kongres nasional International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS) Indonesia ke-17 yang akan dihelat pada 17-23 Februari 2012

IAAS merupakan organisasi mahasiswa pertanian dari seluruh dunia yang dibentuk di Tunisia pada tahun 1957. Indonesia merupakan satu dari 40 negara yang menjadi anggota organisasi ini. Sejak tahun 1992, IAAS memiliki perwakilan dari Indonesia melalui komite lokal di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Halualeo, Universitas Brawijaya, dan Institut Pertanian Bogor. Mulai tahun ini, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Mataram turut menjadi bagian dari IAAS.

Edwin Mokodompit dari UNESCO Desk Youth mengungkapkan bahwa pertanian bukanlah ranah yang populer di kalangan muda. Sejumlah faktor penyebab adalah keengganan untuk berkotor-kotor, anggapan bahwa bidang ini tidak bergengsi dan kurang menjanjikan secara finansial, identik dengan kemiskinan, serta kurangnya dukungan dari orangtua dan lingkungan. Padahal pertanian tanpa pemuda bagaikan mesin tanpa bahan bakar, begitu menurut pembicara yang pernah tampil dalam kontes menyanyi di TV beberapa tahun silam ini.

Pergerakan pemuda di kota-kota besar di Indonesia yang bergerak di lingkungan hidup ada banyak, namun yang menyorot pertanian sedikit sekali. Pemuda perlu mengubah pola pikir agar bisa menerima pertanian sebagai sesuatu yang signifikan. Moderator Rahyang Nusantara pun menceritakan temannya sesama mahasiswa pertanian UNPAD yang setelah lulus lebih memilih untuk bekerja di bank ketimbang di dunia pertanian.

Pencitraan dibutuhkan agar masyarakat tergugah pada pertanian. Berangkat dari ide mengenai urban farming yang sudah marak dilakukan di luar negeri, Ridwan Kamil selaku salah satu pelopor Indonesia Berkebun memanfaatkan jejaring sosial untuk mewujudkan ide tersebut. Aksi dimulai dengan menyebarkan ide ini di media sosial, berkolaborasi dengan berbagai pihak yang mendukung, mencari tahu apa saja yang perlu disiapkan, hingga mengundang masyarakat untuk berpartisipasi. Buah dari upaya ini adalah Jakarta Berkebun yang berhasil mendatangkan masyarakat ke kawasan Springhill, Kemayoran. Di sana mereka bisa menyebar benih, menyiram, maupun berpose di lahan yang sudah dibuat berlarik-larik dan ditanami sebagian. Tiap larik ditandai dengan nama-nama kota agar lebih menarik.

Pengaruh acara ini ternyata meluas hingga gerakan serupa diselenggarakan di kota-kota lainnya di Indonesia seperti Medan, Surabaya, Tasik, Banten, Bandung, Pontianak, Semarang, Padang, Bogor, dan Solo. Pada tahun 2011, Indonesia Berkebun dianugrahi Google Chrome Web Hero dan Indonesia Green Award. Tidak hanya itu, berbagai instansi pendidikan seperti perguruan tinggi dan SD juga ingin berkecimpung dalam kegiatan ini. Pada pagi yang sama dengan hari berlangsungnya seminar ini, SD Pardomuan Bandung melakukan panen raya sebagai hasil dari kegiatan Bandung Berkebun.

Menurut arsitek yang akrab dipanggil Kang Emil ini, suatu gerakan lahir dari adanya permasalahan, isu, atau visi. Ketiganya kemudian membentuk ide sehingga lahirlah inisiatif. Kita tidak akan bisa mewujudkannya jika tidak berkolaborasi. Kita mungkin hanya punya ide, waktu, atau jaringan, namun tiada modal. Padahal keempatnya adalah dasar untuk membuat perubahan. Maka libatkanlah orang lain, komunitas, bahkan masyarakat lantas kemas kegiatan dalam bentuk yang mudah dan menyenangkan. Pada mulanya ini sekadar menjadi tren, lalu gerakan, namun ini diharapkan pula dapat menjadi budaya. Oleh karena itu partisipasi anak-anak sebagai investasi bagi masa depan sebaiknya tidak dilewatkan.

Gerakan Indonesia Berkebun yang umumnya diselenggarakan di kota-kota besar justru melibatkan orang-orang yang awam dalam pertanian. Namun efek media sosial berhasil menerbitkan semangat mereka untuk berpartisipasi kendati mereka tidak memahami benar apa yang mereka lakukan. Justru di sinilah peran kaum muda—mahasiswa pertanian khususnya—untuk menerangi masyarakat dengan pengetahuan yang mereka timba dari kampus. Dengan demikian, lambat laun tidak ada lagi P pada singkatan dengan “Pertanian” di dalamnya dipelesetkan kepanjangannya jadi “Perbankan”.***

Senin, 10 Oktober 2011

Temu Perdana Sukarelawan Biennale Jogja XI

Technical meeting Biennale Jogja XI diadakan di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Sabtu, 8 Oktober 2011. Acara ini diadakan untuk memberi gambaran teknis bagi para sukarelawan yang akan berpartisipasi dalam perhelatan Biennale Jogja XI, 26 November 2011 – 8 Januari 2012 mendatang.

Biennale Jogja merupakan ajang pameran seni rupa dua tahunan di Yogyakarta. Pada tahun ini, Biennale Jogja mempertemukan karya seniman Indonesia dan seniman India dalam tema “Religiositas, Spiritualitas, dan Keberagaman” dengan lokasi utama di Jogja National Museum dan Taman Budaya Yogyakarta.

Perekrutan sukarelawan, yang dibuka sejak Mei hingga pertengahan Agustus 2011, menjaring 98 sukarelawan yang umumnya pelajar dan mahasiswa dari 300-an pendaftar. Pengumuman dan undangan disampaikan melalui laman, sms, dan surel.

Technical meeting yang dihadiri 60-an peserta ini berlangsung sekitar pukul 16.30 – 18.30 WIB. Gambaran teknis yang diberikan meliputi gambaran kerja masing-masing divisi dan beberapa acara yang memerlukan keterlibatan massal.

Para sukarelawan dikelompokkan menjadi beberapa divisi berdasar persyaratan yang mereka kumpulkan untuk panitia seperti formulir, foto, dan CV. Beberapa divisi tersebut antara lain marketing/PR, Festival Equator, pameran, dan sekretariat.

Para sukarelawan yang menjadi asisten seniman India akan membantu dan menemani seniman India selama pembuatan karyanya seperti memasang mata dewa atau meronce cabai. Pemandu pameran di Jogja National Museum tidak hanya bertugas menjaga pintu tetapi juga memberi informasi bagi pengunjung. Mereka yang ditempatkan di marketing/PR akan menjadi wartawan amatir yang kegiatannya antara lain membuat publisitas mengenai setiap acara Biennale Jogja XI.

Beberapa acara yang dimaksud antara lain Family Day dan Bollywood Km 0 yang masing-masing akan diadakan tanggal 11 dan 25 Desember 2011. Dalam Family Day, beberapa lomba seperti lomba membuat ornamen dan lomba merancang kostum akan diselenggarakan di amfiteater TBY. Bollywood Km 0 akan melibatkan 500 orang untuk menari Bollywood secara massal di titik 0 km mulai pukul 6.00 WIB.

Para sukarelawan diminta untuk aktif mengecek laman Biennale Jogja dan e-mail. Setiap pemberitahuan akan disampaikan melalui media tersebut. Pemberitahuan lewat sms akan dilakukan bila mendesak.

Rabu, 26 Mei 2010

Daur Ulang Sampah Tambakboyo, Bentuk Kemitraan Pemerintah dengan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

Sampah adalah anak-anak kehidupan. Sampah ada karena kita hidup.

Masyarakat Indonesia masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan. Ke mana air mengalir sampai jauh, di situlah mereka membuang limbahnya. Limbah adalah hasil perbuatan yang tidak pernah diakui. Ini adalah suatu hal yang tak akan mereka dapatkan di luar negeri, negara-negara maju khususnya. Pengelolaan sampah seharusnya kembali pada produsen sampah itu sendiri. Namun di lapangan, 70% produsen berlaku sesuai dengan seleranya masing-masing. Yang dapat dilakukan pemerintah adalah memberi stimulan kepada yang mandiri. Yang harus ada dalam diri masyarakat adalah kesadaran.

Anggaran untuk sosialisasi pengelolaan sampah secara mandiri sudah dibuat pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 1996. Pada tahun 2010, anggaran tersebut baru digunakan di 20 dari 92 lokasi yang menjadi target. Target yang diarah adalah masyarakat dan sekolah (untuk tingkat apapun). Sosialisasi yang dilakukan mendapat respon rata-rata 6 bulan setelah sosialisasi dan paling cepat 3 bulan. Sebagian besar masyarakat lebih memilih pelayanan kendati pemerintah berani memberi stimulan sebanyak 2 juta rupiah/RW jika masyarakat memilih mengelola sampahnya secara mandiri. Sukunan adalah contoh lokasi di DIY yang berhasil mengelola sampahnya secara mandiri hingga mendapat funding dari Australia.

Pelayanan pengambilan sampah merupakan salah satu pra sarana dasar perkotaan. Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan dua macam pelayanan, yaitu pelayanan langsung dan pelayanan tidak langsung. Pelayanan langsung adalah mendatangi langsung pemukiman yang akan dilayani. Pelayanan tidak langsung adalah membuat kemitraan dengan swasta seperti yang terdapat di Daur Ulang Sampah (DUS) Tambakboyo.





DUS Tambakboyo berlokasi di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman dan merupakan hasil kerja sama Pemda DATI II Sleman Provinsi DIY dan DIT. TPLN, BPP. Teknologi. Sebelum dijadikan tempat daur ulang, lokasi ini berupa Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jika TPA tersebut terus dipertahankan, maka air yang diminum oleh warga Kotamadya Yogyakarta adalah air yang sudah terkontaminasi sampah karena topografi Sleman yang berupa lereng. Kini satu-satunya TPA di DIY berada di Piyungan, Bantul. Kendati demikian, kehadiran tempat ini mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA Piyungan. Biaya yang dikeluarkan untuk itu pun menjadi lebih rendah. TPA Piyungan tidak hanya menampung sampah dari Sleman, tetapi juga dari Bantul sendiri dan kotamadya.

Pekerja DUS Tambakboyo adalah murni masyarakat di sekitar lokasi, bukan pekerja dinas. Hasil dari pendaurulangan sampah bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Secara finansial, hasil yang mereka dapatkan setiap bulannya sudah sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Terjadi koordinasi yang saling menguntungkan antara masyarakat dan pekerja dinas. Masyarakat bertugas memilah sampah yang masuk sedangkan pekerja dinas yang membuangnya ke TPA Piyungan.

Kriteria dalam pemilihan lokasi TPA antara lain adalah keadaan tanah tidak boleh mudah merembeskan air, luas minimum lahan 10 hektar, dan merupakan zona bebas yang jauh dari pemukiman.

Keberadaan DUS Tambakboyo yang dekat dengan pemukiman bukan kesengajaan dari pihak pendiri. TPA yang kemudian menjadi tempat daur ulang ini sudah lebih dahulu ada, yaitu sejak tahun ’80-an. Pemukiman di sekitarnya baru berdiri sekitar tahun 2000-an. Untuk menuju TPA, dibutuhkan akses jalan yang baik. Akses jalan ini kemudian biasanya dimanfaatkan investor untuk mengembangkan pembangunan di sekitarnya, selain karena harga tanah di sekitar TPA yang murah.


Pengomposan di Daur Ulang Sampah Tambakboyo

Sampah di DUS Tambakboyo berasal dari wilayah Sleman dan dibawa menggunakan bermacam-macam kendaraan, mulai dari gerobak, motor bak, maupun mobil bak. Sampah yang dibawa dari DUS bisa mencapai 2-3 truk sehari atau 16-17 truk seminggu. Satu truk dapat memuat 10 m3 sampah. Pekerja di DUS memilah sampah sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Mereka bekerja dari Senin hingga Jumat.

Sampah organik dipisahkan. Di bawah bangunan terbuka beratap seng, hasil pemisahan tersebut dibagi menjadi beberapa gundukan. Gundukan ini masih bercampur dengan sampah plastik berukuran kecil. Gundukan disiram air secara kontinyu agar selalu lembap dan mempercepat proses pembusukan. Seminggu sekali gundukan dibalik. Jika terlihat kering, gundukan disiram air. Air tidak boleh dibiarkan mengalir sebab dalam air tersebut terkandung sari kompos. Proses pengomposan ini memakan waktu 2 bulan.






Untuk memisahkan kompos yang sudah jadi dari sampah plastik, dilakukan pengayakan. Pengayakan dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin. Pengayakan secara manual menggunakan ayakan bambu dengan target produksi 4 ton/bulan. Pengayakan dengan mesin menggunakan sarfas. Kompos yang masih bercampur dengan sampah plastik dimasukkan ke dalam sarfas. Mesin sarfas dinyalakan sehingga alat tersebut berputar. Partikel kompos akan ke luar melalui celah-celah sarfas sementara sampah plastik terkurung di dalam. Sarfas yang dimiliki DUS Tambakboyo masih baru sehingga belum ditentukan target produksinya. Selain sarfas untuk memisahkan kompos dari sampah plastik, DUS Tambakboyo juga memiliki sarfas untuk mencacah daun.

Sampah plastik dari hasil pengayakan dikirim ke TPA Piyungan. Tidak ada perlakuan lagi terhadap sampah plastik ini ketika sudah sampai tempat pembuangan akhir.

Kompos yang sudah jadi kemudian dikemas. Oleh pemerintah, kompos ini digunakan untuk memupuki taman kota. Pekerja DUS dapat pula memanfaatkan kompos tersebut jika mereka memerlukannya, misalnya untuk dijual.

Narasumber: Pak Puji (Pemkab Sleman), Pak Budi dan Pak Irwan (DUS Tambakboyo)

Jumat, 05 Maret 2010

Bersama Pro-U Media Membentuk Peradaban Islami

Kemampuan public speaking perlu dimiliki oleh penulis agar bukunya cepat laku. Memang tidak ada hubungan antara kemampuan menulis dengan kemampuan berbicara, akan tetapi penulis yang memiliki kemampuan public speaking yang baik dapat menjual lebih banyak buku karyanya saat acara bedah buku dibandingkan penulis yang tidak memiliki kemampuan public speaking yang baik. Perlu diadakan training public speaking bagi penulis. Penulis yang mampu menjual bukunya sendiri lebih disenangi penerbit, demikian disampaikan Mas Eko, karyawan Pro-U Media dari bagian distribusi dan pemasaran, dalam acara kunjungan forum fiksi FLP Yogyakarta ke Penerbit Pro-U Media, Kamis, 4 Maret 2010.

Kunjungan ke penerbit merupakan salah satu agenda forum fiksi yang bertujuan untuk mengenalkan lebih jauh penerbit yang dikunjungi kepada peserta forum, mengetahui karakter penerbitan (baik karya maupun manajemen penerbitan), dan memberikan suplemen motivasi kepada peserta. Karena keterbatasan ruang di kantor Pro-U Media, acara diselenggarakan di teras Masjid Jogokariyan secara lesehan sebagaimana acara forum biasanya. Acara dimulai selepas ashar dan diakhiri sekitar pukul 5 sore, lewat setengah jam dari yang dijadwalkan berakhir.

Karyawan Pro-U Media sendiri berjumlah 16 orang yang terdiri dari redaksi (terdiri dari kepala editor dan editor serta proofreader), tim kreatif (mengerjakan disain cover dan layout), distribusi dan promosi, administrasi, dan gudang.

Mas Farid, editor Pro U Media, menyampaikan mengenai prosedur penerimaan naskah di Pro-U Media, khususnya untuk karya fiksi. Pro U Media hanya menerima naskah fiksi dalam bentuk novel. Novel memiliki prospek yang lebih besar dibandingkan puisi maupun cerpen. Novel-novel yang diterbitkan oleh Pro-U Media umumnya berlatar belakang sejarah (contoh: Tembang Ilalang), atau bertema menggugah (contoh: The Gate of Heaven) dengan porsi percintaan tidak mendominasi. Semesta merupakan lini sastra Pro-U Media yang menerbitkan novel-novel semacam ini. “Novel dengan latar belakang sejarah lagi diminati. Tiga juara lomba novel menggugah kemarin adalah novel-novel berlatar belakang sejarah,” kata Mas Farid.

Pro-U Media menerima naskah yang tidak hanya sekedar laku, melainkan juga memiliki visi dan misi. Ini sesuai dengan misi Pro-U Media sebagai penerbit yang ikut membangun peradaban islami. Naskah yang dapat menginspirasi orang untuk berbuat yang tidak baik tidak akan diterbitkan.

Naskah fiksi yang bisa diterbitkan oleh Pro-U Media harus bertema islami, unik, orisinil, bahasa renyah dan mengalir, tegas dalam sikap keislaman, dan plot tidak klise dan monoton. Jumlah halaman minimal 150, diketik pada kertas A4 (kwarto), spasi 2, font Times New Roman/Garamond, dan semua margin 3 cm. Naskah dikirim ke alamat Pro-U Media di Jalan Jogokariyan 35 Yogyakarta 55143 (telepon dan faks 0274 376301, sms 0274 74472222). Naskah juga dapat dikirim melalui alamat e-mail proumedia@gmail.com. Naskah dalam bentuk print out lebih disukai.

Pro U Media belum menerima naskah cerita anak. Pun belum ada naskah terjemahan yang masuk ke meja penerbit.

Waktu untuk menunggu konfirmasi naskah maksimal 2 bulan. Setiap bulan, naskah yang masuk ke meja Pro-U Media bisa mencapai sekitar 30 naskah. Namun berdasarkan pertimbangan pasar, Pro-U Media hanya menargetkan 4 buku untuk diterbitkan. Dengan demikian, penerbit memiliki banyak stok naskah. Naskah stok baru akan dikeluarkan saat ada momentum yang tepat. Misalnya saat mendekati UAN, Pro-U mengeluarkan judul “Funtastic Learning” yang merupakan buku motivasi bagi para remaja yang akan menghadapi UAN.

Pro-U Media tidak menggunakan sistem beli putus karena akan menzalimi penulis. Royalti dibayarkan pada penulis setiap kali buku cetak ulang (sekali cetak 3000 eksemplar). Besarnya berkisar antara 7-10% dari harga buku, tergantung pada bobot naskah dan jaringan yang dimiliki penulis.

Setelah naskah diterima, editing dilakukan. Editor mengecek kebahasaan dan rasionalitas alur. Pada novel berlatar belakang sejarah misalnya, editor akan mengecek apakah tanggal-tanggal di dalamnya sudah valid atau belum. Jika terjadi kesalahan, editor akan memberikan referensi yang benar kepada penulis. Jika ada adegan kurang syar’i dalam naskah yang potensial namun penulis menghendakinya tetap begitu, maka naskah tersebut tidak akan diterbitkan. Editor memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi penulis. Penulis adalah aset. Jika penulis berkembang, maka penerbit juga yang akan mendapatkan keuntungannya, apalagi jika penulis tersebut loyal kepada penerbit.

Naskah yang sudah melalui editing kemudian di-layout lalu dicetak. Hasilnya dibaca oleh proofreader. Setelah dua kali menggunakan jasa proofreader, naskah di-layout lagi kemudian “difilmkan” (dibuat disain cetaknya) lalu dibawa ke percetakan. Hasil cetakan disortir lagi (mengecek halaman kosong atau terlipat), diplastiki, lalu didistribusikan.

Tidak ada yang secara pasti dapat menjamin sebuah novel yang dipasarkan akan menjadi best seller atau tidak. Ada novel yang sudah dipasarkan sebaik-baiknya, namun penjualannya tetap lambat. Ada pula buku non novel, yang isinya biasa saja, tapi penjualannya cepat. Untuk mensiasati buku yang kurang laku, penerbit biasanya mengganti cover atau menonjolkan sisi lain dari buku tersebut.

Penulis ingin bukunya ada di setiap toko. Penerbit sudah berusaha mendistribusikan bukunya ke setiap agen, lapak, toko buku kecil, maupun toko buku besar, baik di kota besar maupun di daerah. Banyak pula toko buku yang melobi agar penerbit memasukkan bukunya ke sana. Namun penerbit sering terkendala oleh masalah administrasi, pembayaran, dan lain-lain. Sering ada toko buku yang tidak amanah, tidak membayarkan uang penjualan buku yang laku kepada penerbit.

Penerbit juga melakukan promosi. Bentuk promosi yang dilakukan adalah promosi di dunia maya, mengadakan acara road show/bedah buku, dan resensi.

Pro-U Media telah memiliki blog (proumedia.blogspot.com). Informasi mengenai buku-buku yang diterbitkan, syarat naskah yang diterima, maupun acara penerbit, dapat diakses melalui blog ini. Selain blog, Pro-U Media juga berpromosi lewat milis dan sedang menganggarkan pembuatan website.

Banyak orang yang mengenal buku-buku Pro-U Media karena acara road show/bedah buku. Banyak lembaga (organisasi kampus, masjid, dan lain-lain) yang justru datang sendiri menawarkan ke penerbit untuk mengadakan acara bedah buku Pro-U Media.

Penulis resensi buku Pro-U Media yang karyanya dimuat di media massa akan diapreasiasi penerbit. Penerbit akan memberikan buku Pro-U Media kepada penulis secara cuma-cuma.

Buku Pro-U Media sudah dikenal sampai ke Malaysia. Penerbit Malaysia sudah ada yang menawarkan diri untuk menerbitkan buku Pro-U Media. “Sewaktu kita kedatangan tamu para pelajar dari Malaysia, mereka membeli buku-buku kita dan membawanya pulang. Buku-buku itu dibaca oleh orangtua mereka, bahkan ada yang sampai menjadikannya sebagai bahan untuk training motivasi,” ungkap Mas Eko.

Sesi penjelasan dari Mas Farid dan Mas Eko disambung dengan sesi diskusi. Hanya beberapa pertanyaan yang dapat dijawab dikarenakan waktu yang semakin ngaret dari yang dijadwalkan berakhir. Bagi peserta maupun pembaca tulisan ini yang berminat untuk bertanya-tanya lebih jauh lagi mengenai Pro-U Media, dapat melayangkan pertanyaannya ke kontak penerbit yang telah dicantumkan di atas maupun langsung ke Mas Farid di farid_asbani@yahoo.com.

Jumat, 05 Februari 2010

JOGJA CLOTHING ATTACK 2010: Angkat Eksistensi Merek Lokal


JOGJA, PANDAWA – Jumat (5/2), Jogja Clothing Attack 2010 mulai dihelat EO Indie Pro di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) hingga Minggu (7/2). Acara yang dimulai dari pukul 10.00–22.00 WIB ini dibuat untuk mengenalkan merek-merek clothing lokal kepada kaum muda.

Acara yang didukung Pemerintah Kota Yogyakarta ini baru pertama kali diadakan. Berbeda dengan Kickfest, yang sudah beberapa kali diadakan, acara ini bertujuan mengangkat merek-merek lokal. Dari 33 stand, hanya 3 yang mengusung merek luar. Salah satunya adalah Trix dari Jakarta. Merek-merek lokal yang ditemui antara lain Blackstar, Whyzein, Huit, Fel & CO, Routing, dan Deth Aparell.

Nandi, salah seorang panitia, mengatakan bahwa yang menjadi parameter keberhasilan acara ini bukanlah banyak atau tidaknya pengunjung. Ia berharap acara ini bisa memfasilitasi para pemilik merek lokal untuk membentuk asosiasi.

Awalnya ia pesimis. Sementara acara clothing lain umumnya mengusung merek-merek besar, acara ini malah memainkan kekuatan merek lokal yang belum banyak dikenal. Ia khawatir kaum muda Jogja sudah ter-mindset untuk lebih membeli merek-merek luar.

Hingga sekitar pukul 7 malam, saat PANDAWA berkunjung, sudah 4000-an tiket masuk yang terjual. Satu lembar tiket dihargai 5000 rupiah. Menurutnya, ini sudah relatif bagus. Kendalanya adalah cuaca yang tidak menentu. Sejak Jumatan hingga sekitar Maghrib, hujan turun sehingga lokasi cukup lengang. Namun sekitar Isya, tampak muda-mudi mulai memadati lokasi.

Isna, pelajar SMK 5 yang magang di Blackstar, mengungkapkan bahwa stand-nya termasuk yang ramai dikunjungi sejak acara dimulai. Umumnya pengunjung tertarik dengan kaos berkarakter monster. Dengan kisaran harga 45.000–200.000 rupiah, pengunjung sudah bisa mendapatkan barang yang diinginkan.

Menurut Fe, salah seorang pengunjung yang sering menyambangi acara semacam ini, kualitas merek luar masih lebih bagus daripada merek lokal. Ia mengaku biasa menghabiskan 100.000–200.000 rupiah sekali belanja. “Ada beberapa yang sablonannya kurang bagus. Desainnya monoton. Over all sudah bagus tapi masih harus diperbaiki,” ujarnya yang diamini temannya, Karen. (DSA/RAM)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain